Percakapan Sebelum Try Out

thumbnail-cadangan
Gue bingung harus ke mana. Setelah turun dari halte Mangga Besar, gue harus tetap ngirit baterai Mifi Bolt—satu-satunya harapan untuk tersambung ke internet—yang tersisa satu batang. Heran. Setiap kali gue butuh benda ini sebagai modal menuju lokasi try out pasti selalu kehabisan baterai. Padahal, gue selalu mengisi baterainya dari malam. Tetapi, kenapa pada pagi harinya baterai tersisa satu batang? Ini masih menjadi misteri.

(Baca juga cerita gue dalam menghadapi kehabisan baterai Bolt habis di sini: Karena Peka Itu Harus)

Satu senjata gue untuk sampai ke lokasi try out adalah Google Maps. Karena untuk membuka aplikasi ini harus menggunakan koneksi internet, gue harus berhati-hati dalam menggunakan Mifi agar tidak cepat habis. Lalu yang gue lakukan adalah seperti ini: jalan 20 meter, nyalain Maps – ingetin bakal belok ke mana – jalan lagi 50 meter - ternyata belokannya udah kelewat.

Hari itu juga menjadi hari bersejarah dalam hidup gue. Selama lebih-kurang 17 tahun 9 bulan, akhirnya gue masuk ke dalam 7-11 (Sevel). Ya, biasa aja seharusnya. Nggak perlu bangga juga. Dalam bayangan gue, tempat ini keren karena sering dipake sebagai markas anak nongkrong ibukota.

Update gosip dan berita

Gayanya sosialita

Uangnya nggak ada.

Cari simpati buka kartu cari status baruu~

Hati-hati zaman sekaraaang~

(Now playing: Panjat Sosial - Roy Ricardo ft. Gaga Muhammad & Lula Lahfah)

Ternyata tidak!

Gue merasa Sevel bukanlah habitat gue. Beda banget sama Indomaret atau Alfamart. Satu-satunya yang membuat gue menyesal ke Sevel adalah di sini nggak ada Aqua. Kesan gue sekarang terhadap Sevel: biasa aja, ah. Masih kalah sama warung deket rumah. Sejauh ini, Sevel hanyalah tempat yang asik buat makan nasi padang.

Gue keluar dari Sevel dengan menaruh kepercayaan besar. Kepercayaan yang sudah gue tanam sejak melihat Jakarta seperti apa. Kepercayaan bahwa... Jakarta masih banyak Indomaret. Selow.

Setelah mendapatkan roti cokelat, Aqua, dan susu kotak, gue melanjutkan perjalanan menuju GOR Lokasari. Menurut aplikasi Maps, jaraknya sudah dekat. Sepertinya, selain beruntung pernah mengenal blog, gue juga beruntung bisa membaca peta dengan lumayan baik. Ini semua berkat main Grand Theft Auto.

Sampai di depan GOR Lokasari, gue bingung ke sana kemari mencari tempat duduk. Gue mengelilingi area depan gedung, tetapi tidak ada tempat kosong. Sebuah mobil satpol pp diparkir nggak jauh dari gedung. Gue ke sana, lalu menyandarkan pantat dengan mempertahankan posisi berdiri. Seorang driver Grabbike basa-basi, “Ini ada acara apa, Mas?”

“Try out SBMPTN, Bang,” jawab gue.

Dia sepertinya kebingungan dengan istilah yang gue katakan tadi. Dia bertanya lagi, “Buat seleksi masuk universitas negeri?”

“Iya, mirip. Tapi masih latihannya,” jawab gue. Penumpangnya, seorang cewek, memberikan uang pecahan kepadanya, lalu memberikan uang kembalian. Dia pun pergi meninggalkan area gedung.

Tidak lama setelah itu, orang yang berada di bangku semen dekat gue pergi. Gue buru-buru mengambil tempat di sana untuk duduk sambil makan roti yang gue beli dari tadi. Di sana ada seorang bapak berjaket kulit. Sedang mengobrol dengan petugas berbaju oranye. Tanpa basa-basi, gue memakan roti. Bapak itu bertanya, “Ikut try out, Mas?”

“Uh, i—iya, Pak.” Gue berhenti mengunyah dan memasukkan roti ke dalam plastik.

Dia bertanya banyak hal mengenai gue. Salah satunya pertanyaan tentang bidang apa yang gue ikuti nanti. “Saya ikut saintek,” jawab gue yakin. Obrolan mulai melebar. Gue pikir, nggak masalah kalau dia mau ngajak ngobrol lebih lama mengingat masih ada waktu lebih kurang tiga puluh menit lagi sebelum try out dimulai. Dari lemparan tanya-jawab itu membuat gue sedikit tahu apa tujuannya ke sini: dia mengantarkan anaknya yang juga ikut try out, mengambil jurusan saintek, sama seperti gue. Dalam hati gue, “Plis, anaknya si bapak itu cewek. Plis.”

Bapak itu bertanya dari mana asal gue. Agar terjadi komunikasi dua arah, seperti yang dilakukan banyak orang, gue melempar pertanyaan serupa kepadanya. Dari pertanyaan itu, gue bisa mengetahui bahwa dia berasal dari Tambun, Bekasi. Mengetahui dia datang dari galaksi lain, gue terperangah. Dari Bekasi ke GOR Lokasari (Jakarta Barat) itu jauh banget, batin gue. Gue bertanya, apa bapak nungguin di sini sampai selesai? Dia ingin menjawab, tapi ragu. “Ya, mau gimana lagi, Mas. Kasihan anak saya,” jawabnya.

Saya juga kasihan, Pak. Kejauhan.

Sambil melanjutkan mengunyah roti, obrolan tetap berlanjut. Dia memandangi ujung rambut gue, lalu ekspresinya seperti teringat akan sesuatu. “Nggak nyoba daftar kepolisian?” tanya dia.

“Hehehe, nggak, Pak,” kata gue, “takut ditonjokin.” Jawaban gue yang blak-blakan membuat bapak itu tertawa. Bila gue memang berniat mencuri hati si bapak maka gue telah memenangkan sisi kejujuran dari jawaban tadi. Selain itu, berkat jawaban gue juga, si bapak bakal mikir-mikir buat ngenalin gue ke anaknya karena gue adalah cowok lemah.

Tapi gue belum tahu anaknya cowok atau cewek.

Lagipula, gue jarang sekali memberi alasan seperti itu sewaktu diberi pertanyaan serupa. Lumayanlah biar obrolan tetap berlanjut. Setelah itu, dia cerita panjang lebar mengenai masa mudanya. Dia dulu ikut kepolisian. Nadanya beberapa kali mengungkapkan penyesalan sewaktu menceritakan umurnya yang kelebihan untuk mendapatkan jabatan tertentu. Gue nggak begitu ngerti sistem di dalamnya. Makanya sewaktu dia ngomong, gue cuma manggut-manggut aja sambil ngunyah roti.

Obrolan merembet ke topik yang cukup berhubungan dengan gue: masa remaja. Bapak itu prihatin dengan pergaulan anak muda masa kini. Dia menyalahkan penggunaan teknologi yang sembarangan. Dia pun khawatir bila anaknya akan menjadi korban pergaulan dari jahatnya teknologi.

“Tau sendiri, Mas. Sekarang anak muda video call-an sama pacarnya banyak yang nggak bener,” ujarnya. Lalu dia menirukan percakapan, yang entah dari mana dia tau atau dikarang-karang aja. “Kayak: ‘Ayo dong, buka daleman kamu.’” Gue mengangguk. Seram juga. Dari mana dia bisa tahu kebiasaan gue?

“Terus, yang pacaran di motor juga... haduh. Parah deh. Iya, kan, Mas?” Gue mengangguk tanda setuju. “Cewek udah deket banget, nempel sama pacarnya kalau boncengan. Nempelin dada ke cowok, pasrah begitu aja. Makanya, saya takut kalau anak saya begitu. Namanya anak cewek, kan, nggak bisa pergi jauh.”

Gue mendapati kesimpulan dari percakapan panjang ini.

Anaknya si bapak CEWEK. Uhuy. Kalau udah begini saatnya berpantun

Potong tahu dengan kapak.
Boleh kutahu siapa nama bapak?

Cakep.

“Masnya udah punya pacar?”

Jeger!

Pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut si bapak. Oke, sudah terlalu banyak dugaan-dugaan. Pilihannya dua: 1) Dia mau jodohin gue sama anaknya; 2) Dia mau gue jadi pacarnya. Yang pertama masih bisa, yang kedua... amit-amit.

Dia hanya tertawa melihat muka panik gue, kewalahan mau menjawab pertanyaannya. Padahal, simpel aja sebenarnya. Gue cuma harus bilang “nggak”. Gue malah bersikap kayak sopir angkot yang udah mepet di belakang pohon sambil buka resleting celana, terus ditanya orang lewat “Mas kencing ya?”, dia berusaha ngelak sekuat tenaga. Asli, gue paling nggak tahan kalau ditanya itu. Salah tingkah terus. Padahal, apaan, sih, yang ditutupi dari gue? Pacar juga emang nggak punya. Heran.

Satu hal yang gue pelajari adalah caranya ngajak interaksi membuat gue kagum. Padahal dia orang asing, tapi kenapa bisa membuat gue terpikat? Atau, apakah karena dia seorang bapak sehingga membuat dia mengerti perasaan seorang anak, khususnya remaja? Sepertinya dia mengerti cara mengakrabkan orang.

Atau, ini mah karena gue aja tipe orang yang demen banget dipancing ngobrol duluan?

“Ke sini bareng temen?” tanya si bapak.

Gue menunduk cengengesan. Sepertinya bapak itu memerhatikan sekitar banyak sekali remaja yang datang bergerombol. Sedangkan, di depannya, seorang lelaki bernama Robby Haryanto, datang sendirian sambil asyik makan roti cokelat tanpa nawar-nawarin orang di sekitarnya. “Nggak, Pak. Saya sendiri.” Kemudian gue berpikir untuk mencari kalimat tambahan agar suasana tetap santai. Keluarlah dari mulut gue, “Abisnya saya males kalo ramean. Tunggu-tungguan, malesin.”

“Hahaha, pantes,” jawabnya, “kamu lugu, kayak anak saya.”

Lah?

Dari tadi dia cerita anaknya terus. Dari ceritanya, dia memberi tahu anaknya adalah seorang anak SMK keperawatan. Mau kuliah di kedokteran, tetapi ibunya menyarankan di keperawatan saja. Di sekolahnya, si anak ini tinggal di asrama. Sembari ngedengerin cerita tentang anaknya, yang ada di kepala gue cuma, “Sebutkan nama anakmu, Pak! Agar kucari di Instagram dan kufollow akunnya [bila menarik].”

Gue melihat gerombolan teman SMA di depan pintu masuk. Sudah waktunya gue bergabung dengan mereka. Sebelum pergi, gue pamit dan mencium tangan si bapak. Nggak tahu kenapa, tiba-tiba gue refleks aja salim ke dia.


23 komentar:

  1. hahaha... walo digadang-gadang bakal jadi calon playboy, kayaknya itu masih jauh deh, Rob... baru ngobrol ama bapak nggak dikenal aja ngarepnya udah jauh banget... tapi namanya usaha, pasti selalu ada jalan. teruslah berusaha, Nak!

    kalo tentang salim, aku juga pernah kejadian. reflek, keinget ama paman juga soalnya ketika dengerin bapak2 stranger yg ngajak bercerita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak tau ya, anaknya emang gampang ngarep deh. :')

      Hahaha, pernah salim juga. Berasa paman sendiri ya.

      Delete
  2. Itu si bapanya orang asing
    Lancar y bahasa Indonesianya

    Tanya dong
    Si bapak udah berapa lama tinggal ddi Indonesia?
    Si bapak asalnya dari negara mana, rob?
    Trus kenapa g dipotoin anaknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo difotoin nanti di-save sama Bang Niki.

      Delete
  3. uhuk robby... si bapak nanya namamu tidak hey? siap-siap untuk disasarin jadi... :'D

    btw gue juga salut sama si bapaknya. kan try out itu nggak sejam 2 jam. bisa nyampe sore. atau biar nggak digoda sama kamu kalo ya Rob wkwk haduh becanda kokkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue juga nggak tau nama anaknya, hey. :'D

      Delete
  4. "Kamu lugu kayak anak saya." Itu kode, Rob. KODE!

    ReplyDelete
  5. ((kamu lugu kayak anak saya)) hati-hati diadopsi itu serem. Hahaha. \;p/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi diadopsi jadi hewan peliharaan.

      Delete
  6. Rob lu pernah ngagetin sopir angkot mau kencing di bawah pohon ya ? wkwkwk kok lu tau sih responnya..

    Berharap saat diajak ngobrol sama bapak - bapak terus bakal dikenalin ke anaknya, kok kayanya gua juga begitu ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kan abang yang jadi sopirnya. :))

      Hmmm, udah terlalu lama sendiri juga nampaknya. Hehehe.

      Delete
  7. Gila. Emang ada yak yang pacaran terus video call sampai buka daleman gitu? Gue taunya yang kayak gitu Bigo. Ditonton rame-rame itu, sih. Itu gue juga dari temen taunya dan gak pernah coba install. Kacau juga anak sekolah di zaman digital kayak sekarang. Gunain teknologi emang kudu bijak.

    Jangan terlalu ngarep, Rob. Kadang pas udah dibuat senang kalo anaknya perempuan, eh lu semakin penasaran tuh. Misalkan udah dapet akun IG-nya, taunya dia udah punya pacar diem-diem tanpa sepengetahuan bapaknya.

    Semesta cuma ngajak bercanda. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak tau tuh, si bapak asing. Gue juga belum pernah nemuin.

      Hahaha, asem. Semesta ngomong kepada gue, "Hehehe. Cnd."

      Delete
  8. tjakep, taklukkan bapaknya dapatkan anaknya dan berikan pantunnya. Gue sendiri ssejujurnya sih juga muales kalau ke sevel. Lebih doyan indo atau alfamart..

    ReplyDelete
  9. Kok aku baca lirik lagu panjat sosial sambil nyanyi sih Hahaha

    Pantunnya mantap djiwa!!!

    Sayang ya ga ketemu langsung sama anak bapaknya, mungkin itu suatu pertanda bahwa semesta tidak mengizinkan kwkwkw

    ReplyDelete
  10. Waktu bapaknya bilang, "kamu lugu, kayak anak saya", langsung datangin ke rumah Rob..he
    Sepertinya bapaknya asik itu diajak ngobrol, buktinya pas jawab aja bapaknya ketawa..haha

    ReplyDelete
  11. Rajin ya rob ikut-ikut try out sebelum sbm, dulu gua ikut cuma sekali dan udah kapok. Pusing euy ga ilang-ilang.

    Ini bapaknya tipe-tipe yang cepet akrab sama orang ya? Kadang kalau emang lg sangking asiknya terus kalau udahan suka reflek salim, berasa lagi ngobrol sama keluarga :"

    ReplyDelete
  12. Ini kenapa aku juga jadi penasaran sama anak cewek yang lugu juga itu??

    Bapaknya enak banget deket sama orang asing kayaknya friendly banget!!

    Kalo aku refleknya banyakan ibu ibu sampe umur 40an panggilnya "mba". Soalnya banyak sepupuku umur segitu juga ehehe

    ReplyDelete
  13. hahhaa jadi gmnaa dapat nama anak perempuan si bapaak? pensaraan eh siapa tau berjodoh samaa kamu. hehehhe

    ReplyDelete
  14. Pas pulang, bapanya cerita ke anak perempuannya abis ketemu anak laki2 lugu. Terus langsunglah anaknya kepikiran siapakah lelaki itu, adakah akun medsos nya, mau difollow (bila menarik) :P

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.