Di Mana Pun Ia Disantap, Nasi Padang Tetaplah Nasi Padang

Setelah selesai UN, praktis fokus gue hanya terpusat pada SBMPTN. Pergi ke bimbel enam hari dalam seminggu membuat gue jadi nggak terbiasa ada di rumah. Satu hari kosong pun tetap gue gunakan untuk pergi keluar rumah. Gelanggang Remaja Jakarta Barat (GRJB), Grogol, menjadi tempat yang akan gue datangi dalam rapat sebuah organisasi.

Seringnya begitu. Berangkat pagi, pulang sore. Pulang ke rumah bawa ranting pohon, nyusun sarang, bertelur. Bentar, itu manusia apa burung dara?

Rencananya gue pergi pukul 12.15. Sambil menunggu datangnya siang, dua jam sebelum pergi, gue ketiduran. Pukul 11.45 gue terbangun, tidak menemukan siapa pun di rumah. Bapak pergi ke TPS dan Mama ngajak jalan-jalan cucunya, yang kebetulan tepat berusia satu tahun hari itu. Perut gue sangat lapar, tetapi nggak ada makanan. Tidak terlalu jadi masalah karena gue sudah terbiasa seharian nggak makan. Gue bergerak cepat untuk siap-siap pergi. Tak lama kemudian bapak gue pulang dari TPS. Segera gue berangkat setelah teman-teman di grup Line melapor sudah tiba, sedangkan gue baru melapor, “Otw.”

Hampir sampai di tempat menyetop angkot, gue ketemu Mama yang sedang menggendong cucunya. Dia juga membawa kantong kresek berwarna merah transparan. Ada banyak bungkusan kertas putih di dalamnya. “Mau ke mana?” tanyanya melihat gue terburu-buru. Gue langsung nutupin muka pake tas dan berbisik, “Pait... pait... pait....”

Ya, gila aja. Bisa-bisa gue dikutuk jadi papan penggilesan kalau beneran begitu.

Gue menjawab, “Mau ke Grogol.”

Wajahnya kebingungan. “Udah mama beliin nasi padang.”

Hal ini membuat gue dilema. Ambil atau nggak?

“Nggak bisa pulang dulu?” tanyanya. “Ya, udah. Bawa aja.” Mama memberi gue sebungkus nasi padang. Padahal gue baru ngomong dalam hati, “Nggak bisa buat sore aja, nih?”, langsung direspons, “Nggak bisa sampe sore. Nanti basi!”

“Tapi, nggak ada plastiknya, nggak papa, ya?” tanyanya lagi.

Gue sedikit tidak enak untuk menolak. Kalau gue terima nasi padang ini tanpa dimasukin plastik, gue takut kuahnya tembus dan tumpah ke dalam tas ngebasahin buku. Nggak mau dong gue, setiap belajar dihantui aroma kuah sayur nangka? Kalau gue tolak, nggak enak udah telanjur dibeliin. Dengan mempertimbangkan pasal berbakti pada orang tua, gue ambil bungkusan itu, lalu gue taruh di atas sweater di dalam tas.

Pikiran gue sepanjang perjalanan menuju halte Transjakarta: nasi padang ini harus habis sebelum sampai di GRJB.

Gue resah menggendong tas ini. Belum pernah gue merasa bersalah membawa nasi padang sebelumnya. Tas juga menjadi berat. Tanggung jawab dan amanah yang gue emban kian berat setelah gue buka tas, aroma sayur nangka ingin mendobrak keluar. Nafsu kian menggelora. Aroma legit, yang gue perkirakan asalnya datang dari rendang, mengguncang hormon pengundang rasa lapar. Beruntung gue mendapat tempat duduk. Bila gue harus berdiri, gue tahu alasan mengapa nantinya nasi padang gue rasanya jadi asem. Bukan karena basi, melainkan sudah terkontaminasi ketek penumpang bus.

Model bus Transjakarta makin bagus

Gue harus menyikapi hal ini secara serius. Gue tidak ingin nantinya di sana ada hal-hal yang membuat gue terganggu. Gue nggak mau tiba-tiba izin cuma buat makan, apalagi gue datang paling terlambat. Meskipun ini bukan pertemuan khusus angkatan gue, tetap gue harus jaga fokus. Gue harus ngabisin ini sebelum ketemu teman-teman di sana. Dengan kata lain, gue nggak mau bagi-bagi.

He he he.

Sampai di halte Sumber Waras, gue langsung mencari tempat di mana bisa gue santap nasi padang ini. Di tangga penyeberangan? Wah, ngalangin orang jalan. Di trotoar? Takut keciduk satpol pp. Di Bukit Stroberi? Jauh banget.

Hal yang saat ini gue butuhkan adalah tempat yang lega dan sepi, tanpa kucing. Gue bertemu dengan sebuah tempat cukup luas. Sebuah lahan kosong berubin hitam, tidak ada siapa pun membuat gue langsung mengambil keputusan amat penting ini. Pelataran 7-11 yang sedang tutup menjadi tempat singgah sementara untuk menyantap nasi padang. Tidak ada sendok, tidak ada kobokan, dan tidak ada izin pemerintah. Lahan kosong, jabanin!

Sebungkus nasi padang mulai dieksekusi. Digelar di atas ubin begitu saja. Nggak pake acara bikin tenda sekalian api unggun (buseh, ini beneran kamping namanya!).

Makan, Bang...

Gue membersihkan tangan dengan air mineral yang gue beli di minimarket sebelumnya. Gue merasa rugi beli air cuma buat cuci tangan. Sambil menggigit rendang, gue teringat momen yang dulu pernah gue alami saat lomba pramuka sewaktu SD. Cara kami makan siang saat itu, sama seperti yang sedang gue lakukan saat ini. Ternyata, cara-cara pramuka masih gue ingat dan tanpa malu gue lakukan kembali setelah enam tahun lamanya.

Juga, tanpa malu gue tulis di blog!

Oke, oke. Ini postingan akan menjadi pertanyaan di luar sana:

Apakah dunia kurang menarik sampai-sampai si Robby nulis di blog tentang pengalaman makan nasi padang di pelataran Sevel?

TULIS CINTA-CINTAAN KAPAN, NIH?!

Hahaha, simpulkan sendiri.

Intinya, di mana pun kamu berada, nasi padang adalah tetaplah nasi padang. Sampai dijadikan judul lagu penyanyi Norwegia, lho! Bukan maeeen.

--

Gue baru aja nyoba kamera laptop. Nggak bagus-bagus amat, sih. Lumayanlah buat nampang di sini.

Kayak robot depan Hoka-hoka Bento



26 komentar:

  1. Yassalaaam makan nasi padang doang. staghfirullah betapa kreatifnya anak muda yang satu ini.

    ReplyDelete
  2. Ini Robby kayaknya lagi nyobain nulis ala food blogger gitu yak. Setelah kemaren nyoba nulis ala blogger playboy, yaitu masukin foto dua cewek tampak dari belakang. Kamu berhasil, Rob. Btw aku liat ini pas menuju makan siang. Jadi pengen makan nasi Padang. Tapi bokek. Belom gajian. Duitnya buat makan mie goreng depan kantor doang :( Kan telek.

    MAKAN NASI PADANG EMANG ENAK DIMAKAN TANPA SENDOK!

    Oh iya, itu ada bonus muka kamu. Itu dipampang itu kayaknya ditujukan buat secr... *keyboard rusak*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo bulan depan bahasannya tentang make up, bisa ditebak arahnya nanti ke mana.

      Apa itu? Jangan diterusin.

      Delete
  3. Aih, lebih dari sekedar "Nasi Padang tetaplah Nasi Padang", tapi cinta ibu yang kamu berani tunjukkan di blog kamu. Ibu mana sih yang ga sedih kalau anaknya nolak dibawain makanan hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uwuwuw, bener juga ya. Pasti dia sedih kalo gak diambil.

      Delete
  4. Dek jadi mahasiswa yang keren ya. Sono belajar yang tekun, trus ntar tembus luar negeri, foto di depan menara Pisa. Bawa hape layarnya header blog gue ahahahaha.

    Kalo ketemu orang ga suka rendang kamu apain dek?
    Sini biar aku yang makan sayur nangkanya.

    Kamu kreatif loh. Ini cerita memang patut dituliskan. Siapa tahu ada presiden mampir kan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lah, jauh-jauh ke Itali buat promoin blog orang? BLOG SAYA JUGA DONG. :D

      Siapa tahu diajak makan siang di Istana Negara. Hehe.

      Delete
  5. ihh gilaaa barusan banget nih kemaren gue nyari resep gulai ayam padang karena saking kepengennya makan padang, tau tau pas blog walking adaaaa aja yg bahas nasi padang, kejam sekali memang :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahaha, nikmatilah bayang-bayang aroma sayur daun singkong. Rasakaaan.

      Delete
  6. Wikk jd mendadak lapaar tengah malam BW dan baca postingan nasi padang. Wkwkkww iyaa sepakaat dimanapun dimakan nasi padang ttp nasi padang. Enak dan mengenyangkaan.tp seringkali khawatir dengan kolesterol yg pasti akan naik setelah makan. Wkwkwkw salam kenaal ya 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak usah khawatir soal itu. Asal jangan jadiin nasi padang buat camilan, aman-aman aja. O iya, salam kenal juga!

      Delete
  7. haha, pagi ini jadi seger baca postingan ini, kalau diingat-ingat pernah sih ngalamin bawa nasi bungkus di dalam tas ya ampuuuun bener kepikiran terus

    selamat deh buat nasi padang yang sempet buuuumiiiing haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uhuy. Nasi padang dalam tas bikin tasnya semriwing.

      Delete
  8. Jadi pengen aku nih, Rob. Biasanya kalau makan nasi padang itu siang hari. Tapi aku sendiri ada dimana waktu-waktu tertentu pengen banget makan nasi padang. Gak tau kenapa, dan pernah juga dikecewain karena warung nasi padangnya tutup.. haha

    Jadi inget lagunya kang Kvitland, yang judulnya nasi padang. Baca ini pengen jadinya, tapi harus aku stop dulu, sariawan eung :)

    Dan itu cocok banget, makan nasi padang, minumnya air yang dingin. Beuh, manthap :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya cuma dikecewain tukang bakso, Mas. Abangnya dipanggil gak nengok. :(

      Emang mantap, Mas. Nasi padang yahud plus minuman dingin emang jos!

      Delete
  9. bangkai baca ini malah jadi pengen nasi padang :((

    ReplyDelete
  10. Wadaw. Ini anak mulai pamer mulu, ya. Kemarinan tulisannya pamer habis motret 2 cewek. Sekarang pamer makan nasi padang dan kamera laptop (yang mungkin aja laptop baru).

    Tulisan cinta-cintaan mulai males nulisnya, sih, kalo gue. Paling jadi pemanis di cerpen. Wqwq. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Laptop lama ini. Apaan, kan ini semua diajarin L. :D

      Delete
  11. wakakaka nasi padang bekel orang tua apalagi Mas, enak banget pasti haha

    ReplyDelete
  12. Huahahaha keren mas robbb! Salut sama mental kocak, nekad, ga perduli, ga tau malunya hahaha. Kalo malu sih mungkin malu yaa tapi ya mau gimana lagi daripada nasinya kebuang sia sia kan sedih.

    Wkwkwk kompor meleduk lahhh

    willynana.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, urusan perut tidak bisa dikalahkan. Muahaha.

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.