16 April 2019

Cerita Tentang AKA Bogor

Saya masih nggak nyangka, tulisan saya tentang cerita perjuangan semasa SMA bakal banyak berujung pada DM di Instagram. Sedikit menceritakan, pada waktu itu saya punya niat menulis cerita saya tentang kehidupan pra kampus. Tulisan itu niatnya mau saya kumpulkan dan, kalau khilaf, mau saya bukukan. Paling nggak, saya pernah nulis hal besar yang pernah saya alami.



Kali ini saya mau bahas salah satu tulisan, yang menceritakan tentang pengalaman saya ikut tes masuk Politeknik AKA Bogor. Itu adalah tulisan terakhir—hingga saya sekarang sudah semester 4—dan belum dilanjutkan. (Mohon maaf buat kalian yang nunggu ujung dari cerita saya. Hehehe.)

Sepertinya saya butuh mengakhiri cerita itu, tetapi tidak ingin detail. Meskipun sebenarnya beberapa kali saya sudah menyampaikan bahwa saya tidak kuliah di AKA Bogor, saya rasa ini (nggak terlalu) penting (juga sih) untuk disampaikan.

Jadi, Alhamdulillah, di tes masuk AKA Bogor saya lolos. Nggak lama berselang, hasil tes SBMPTN juga diumumkan. Alhamdulillah, saya lolos juga di Pendidikan Kimia UNJ. Karena sejak awal keinginan saya adalah kuliah di UNJ, maka AKA Bogor saya lepas.

Begitulah kira-kira. Kalau sempat, nanti akan saya ceritakan. Sambil nginget-nginget tentunya.
Sebetulnya, tulisan tersebut lahir karena melihat peluang. Dulu, sewaktu mencari informasi kampus, saya jarang sekali menemukan tulisan tentang AKA Bogor di internet. Begitu juga dengan mencari contoh soal tesnya. Sulit sekali. Sampai akhirnya saya bertemu dengan satu blog yang mengupload soal.

Hal ini saya lihat sebagai peluang. Bakal banyak Robby lain yang bernasib sama nih, begitu pikir saya. Maka, muncullah ide untuk membuat tulisan tentang AKA Bogor, khususnya pengalaman ikut tes masuknya. Plus, saya upload juga soalnya. Dan sekarang tulisan tersebut jadi tulisan terbanyak dibaca di blog ini. Di luar dugaan memang. Saya kira, nggak banyak yang pengin baca walaupun sempat optimis karena bicara soal peluang tadi.

Sebenarnya, untuk blog ini, saya punya beberapa post yang nggak kalah banyak jumlah viewsnya dan nangkring di halaman pertama pencarian. Misalnya, ada satu post yang ternyata linknya masuk ke dalam referensi di Wikipedia. Gimana nggak gokil jumlah viewsnya!

Satu lagi, post yang paling banyak dibaca adalah, tulisan fenomenal tentang mengupas lagu “Bad” milik Young Lex dan Awkarin (pembaca lama pasti tau gimana “resenya” saya nulis itu, hehehe).

Balik ke bahasan AKA Bogor.

Hampir dua tahun terakhir, menjelang masa-masa penerimaan mahasiswa baru, saya mendapat pesan yang kurang lebih isinya sama: pertanyaan tentang soal tes AKA Bogor, kelanjutan saya kuliah di mana, dan sampai yang paling keren, laporan kalau dia sedang berjuang buat masuk AKA Bogor. Rata-rata mereka di awal perkenalan bilang, “Saya abis baca blog kakak.”

Pesan-pesan itu bikin saya balik ke masa SMA. Nggak pernah tau informasi tentang AKA Bogor sebelumnya, cuma bermodalkan buku dari guru BK. Itu juga cuma nama dan tempat: sebuah politeknik yang khusus di bidang kimia—bernama AKA Bogor—dan bertempat di .... Bogor. Udah.

Lalu saya bilang ke kakak saya, ada nih pilihan kampus Robby selain di UNJ. Memang saat itu saya pengin banget masuk UNJ. Kemudian ngurus ini-itu di sekolah, nekat ngirim fotokopi rapor semester 1 sampai 5. Kalau ngelihat lagi rapor zaman SMA, berasa nggak sadar diri. Nilai-nilai yang udah sejak lama bikin saya yakin, “Nggak mungkin bisa tembus kampus mana pun.” Benar saja, setelah nggak masuk kuota SNMPTN, tes jalur rapor AKA Bogor pun nggak tembus.

Kemudian, gimana akhirnya saya dipaksa buat terus maju buat ikut tes tulisnya. Alhamdulillah, dibantu banget sama kakak saya. Inget banget, pagi-pagi naik kereta dari Bekasi ke Bogor, nyambung naik grabcar. Dateng 15 menit sebelum tesnya dimulai, ngerjain 100 soal dalam waktu 2 jam dari 3 jam yang disediakan.

“Alhamudulillah lolos,” ujar saya di atas kasur setelah melihat pengumuman. Kaget. Nggak pernah terbayang bakal lolos. Sebenarnya antara pengin dan nggak pengin lolos di sana. Pengin ... karena belum jelas mau kuliah di mana. Nggak pengin ... karena hati masih berharap UNJ.

Dulu-dulu juga nggak pernah nyari strategi ngerjain soal. Semua soal saya jawab. Nggak pernah tau peraturan penilaiannya. Nggak kayak SBMPTN saat itu, benar-benar tertulis aturan penilaiannya. Ini pula yang pernah  ditanyakan di DM. Saya bilang, “Jawab aja semua.”

Semoga dengan saya tuliskannya cerita ini bisa memotivasi orang-orang yang mau ikut tes AKA Bogor. Siapa tau ada tulisan lain yang bermunculan.
26 March 2019

Di Antara Waktu Pulang

Kakinya melangkah mantap, seperti tidak sabar untuk mengantarkan diri pada senyum terindah yang tersimpan di rumah. Tangannya mengambil permen rasa stroberi dari saku kemejanya. Manis di mulutnya sejenak menenangkan diri dari gundah. Bus tidak kunjung datang dan kantuk kian menyerang.

Hari telah gelap, tetapi langit bercampur warna jingga. Pengendara motor mulai menepikan kendaraannya, lalu mengambil jas hujan. Syukur, hujan segera turun saat dia sudah mulai duduk nyaman di bus. Kemudian di sanalah cerita kembali dimulai, dari balik kaca jendela bus, pikirannya menerawang.

Sumber: Pixabay

Orang yang duduk di sebelahnya pasti mengira dia sedang melamun menatap jalan Matraman-Senen yang macet. Sebenarnya bukan itu yang ada dalam pandangannya. Jauh dari sini, dia memilih menonton ulang film berisi kejadian satu hari ini sambil menyelami makna setiap peristiwa. Dia tampilkan semuanya di kaca jendela, seolah dia punya televisi berbahan dasar lamunan. Orang itu kembali membetulkan posisi duduknya dan mulai mendengarkan lagu lewat earphone-nya.

Dia masih saja fokus pada putaran film karyanya sendiri. Kadang dia senyum sendiri mengingat lelucon garing keluar dari mulutnya. Momen itu begitu membekas, saat hanya dia sendiri yang tertawa ketika lontaran lelucon itu keluar. Sambil mengingat lagi, bagaimana kesalnya wajah teman-temannya, senyumnya kian lebar. Berbarengan dengan hujan yang semakin deras.

Tidak jarang juga dia menampakkan wajah datar. Entah apa yang sedang dia lihat, tetapi sepertinya hal serius. Keningnya berkerut, napasnya teratur. Filmnya mulai kabur karena dibasahi hujan. Tetesan air mengganggu kelanjutan ceritanya.

Dia berpindah bus untuk transit. Hujan masih turun deras. Di beberapa titik, kepulan asap datang dari tenda warung kopi. Sedangkan kepalanya, masih saja dikepung oleh rasa bersalah. Entahlah. Matanya terus menerus mencari sosok.

Posisi yang sama berhasil didapatinya: duduk di pojok dekat kaca jendela. Kini tetesan air tidak hanya mengalir di kaca, tetapi di pipinya juga. Mungkin ini hasil dari raut wajahnya 15 menit terakhir. Untung saja bus tengah sepi penumpang. Dia tutup wajahnya dengan tas sambil menahan air mata agar tidak kian deras mengalir.

Sesampainya di rumah, dia dapati senyum awal yang ada di bayangannya sejak awal. Dia tata lagi pikiran yang mulai kusut, lalu menyerah pada rasa lelah untuk siap membuatnya istirahat dari aktivitas. Sebelum menutup hari, dia hampiri seorang yang paling dicintainya di rumah, lalu berbisik, “Maaf.”

Setidaknya membuat dia lega untuk menyambut hari esok.

Bincang Malam dengan Anggota Tubuh

sumber: Pixabay

Kenapa ya, akhir-akhir ini mata jauh lebih peka daripada telinga?

Bukan karena saya tipe orang yang belajar dominan melalui visual, tapi entah kenapa mata seolah punya bahasanya sendiri dalam menghadapi sebuah peristiwa.

Misalnya, nggak jauh dari saya berdiri saat itu, ada orang yang sedang kesusahan dengan barang bawaannya. Jatuh berserakan tanpa dipedulikan sekitar. Dalam hal ini, mata tampaknya lebih cekatan untuk akhirnya menyampaikan sinyal ke otak untuk diteruskan ke kaki dan tangan; menjemput orang tersebut dan menolongnya. Ajaib. Dari mata turun ke hati. Apakah kejadian ini yang lebih layak dikatakan dengan ungkapan tersebut?

Bukan bermaksud membuat telinga cemburu, tetapi pada momen tertentu mata memang lebih cepat menyampaikan.

Namun, terkadang telinga bisa menjadi yang paling lembut dan sabar menangkap informasi tertentu.
Telinga akhirnya yang mampu menenangkan sahabat di kala berkeluh. Di kala mata malah tidak fokus entah ke mana, telinga sudah siap di kanan dan kiri untuk menampung resah saudara. Telinga mampu membawa pesan untuk mengetuk nurani.Bahkan sering pula telingalah yang akhirnya membuat mata menjadi menangis karena mendengar kisah haru lagi menggetarkan.

Dua anugerah ini yang siap membuat pribadi perlahan menjadi lebih baik. Keduanya berkolaborasi, menyampaikan pesan kebaikan kepada otak, dan mohon izinkanlah, tangan dan kaki selalu menjadi eksekutor karya kebaikan.


sumber gambar: https://pixabay.com/id/photos/kota-tempat-parkir-orang-pria-1487891/
26 February 2019

Kebersamaan dalam Perjalanan

Pernah melihat sekumpulan anak-anak menumpang mobil bak terbuka? Biasanya seumuran anak sekolah. Di Jakarta hal ini dikenal dengan berani mati (BM). Di lain kalangan, istilah BM malah diartikan dengan “keinginan kuat akan suatu hal”. Jadi, kalau dua kalangan itu bergabung dan mengatakan “BM BM”, mungkin artinya: pengin cepet-cepet mati.

Nggak gitu deh kayaknya.

Saya cuma pengin bahas BM yang pertama. BM pada zaman itu dianggap sebagai lambang lelaki sejati. Tentu di kalangan anak SMP saat itu dianggap keren dan macho. Bayangkan, sekumpulan anak muda beramai-ramai di pinggir jalanan, nunjuk-nunjukin kayu atau besi dari pinggir jalan, menyetop mobil yang melintas, lalu secara kompak naik ke atasnya. Prinsip kerja samanya kental, solid, dan berani.

Pemandangan seperti itu hampir setiap hari saya lihat setiap pulang sekolah. Tentunya bukan sebagai pelaku, tetapi sebagai pengamat. Mengamati mereka sambil bersepeda dan nyanyi lagu-lagu JKT48, terutama “Aitakatta”. Kenapa lagu yang itu? Karena ada “ku kayuh sepeda” di dalam liriknya. Entahlah.

Saya kepo dengan mereka. Bagaimana caranya mereka bisa semudah itu buat bisa nyetopin mobil-mobil? Saya pernah dapat jawaban dari seorang teman, “Kan rame-rame.” Ya, benar sih. Namun, tetap mengerikan bila mobil itu malah melaju kencang dan nabrak mereka semua.
Saya juga pernah tanya, “Biasanya kalau BM gitu ke mana aja?”
Pada satu kesempatan, saya mendapat jawaban, “Bebas. Terserah sopirnya mau bawa ke mana.” Ngeri juga, kata saya. Kalau mobilnya benar-benar sampai ke pabrik entah berantah, apa mereka bisa balik lagi? Gimana kalau mereka malah diculik, terus jadi pekerja di situ?
Perjalanan BM-an seperti ini adalah perjalanan yang nggak menentu tujuannya. Bisa jadi kita diturunkan di tempat yang nggak pernah kita tahu sebelumnya. Kalau lagi beruntung, kata teman saya, bisa nyampe deket rumah langsung turun sepulang sekolah. Keuntungannya adalah gratis. Kerugiannya lebih banyak.

Andai saya boleh ambil pesan positif dari fenomena tersebut, saya katakan kalau kebersamaan akan selalu menyenangkan. Kalau mereka saat itu nggak punya tujuan jelas, sekarang, saya—yang kian dewasa—bisa mengevaluasi agar setiap kebersamaan yang saya jalin di perjalanan ini membuahkan tujuan yang jelas. Tujuan yang sudah Allah janjikan, “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S Ali ’Imran: 103)

Kebersamaan itu juga lebih menyenangkan. Dibanding saya yang asyik dengan sepedaan sendiri sambil nyanyi. Menurut saya lebih seru rame-rame di pinggir jalan panas-panasan seperti mereka. Hanya saja, saya nggak bilang nodongin benda tumpul itu hal yang baik.
Saya pernah dengar sebuah nasihat, “Jika kau ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Namun, bila kau ingin berjalan lebih lama, berjalanlah bersama.”

Oke. Inilah waktunya.

02 February 2019

Dari Comdev Turun ke Hati (Part 1)


“Mau ikut apa aja nih Robby?” tanya seorang kakak sewaktu masa-masa pengenalan kampus.
Saya bersemangat menjawab, “Saya mau ikut komunitas berkebun kak!”
Satu alasan mengapa saya ingin ikut komunitas berkebun karena berkebun adalah hobi dan obsesi saya. Berkebun adalah kegiatan kesukaan saya selain bermain air di kolam pembuangan (alias comberan) sewaktu tinggal di rumah lama. Hobi yang nggak pantas disebut hobi.

Hobi berkebun terasa semakin menyenangkan lewat kegiatan rutin yang dilakukan bapak saya setiap sore: merapikan lahan pembuangan sampah dan menyulapnya menjadi kebun singkong. Hasilnya luar biasa. Beberapa kali keluarga kami makan hasil dari sana.

Bisa dibilang orang tua saya sangat menyukai kegiatan menanam. Mama saya pernah punya satu pot tanaman cabai dan buahnya banyak (sebelum akhirnya lenyap dipetik tetangga). Bapak saya, seperti yang telah diceritakan, berhasil memberi manfaat dari tempat yang tidak terurus menjadi sepetak sumber makanan. Selain kedua orang terdekat di rumah, orang terdekat di samping rumah alias tetangga saya pun menyukai tanam-menanam. Tetangga saya memiliki beberapa tanaman obat.
Selama itu, ketika saya kecil, hanya satu yang sedang saya tanam: kejujuran.

Oke, yang ini nggak terlihat hijau.

Melihat jurusan kuliah saya masih punya hubungan dengan alam, saya melihat potensi saya dapat kembali diasah. Meskipun bukan kuliah di kampus pertanian, tidak membuat niat saya kendor untuk melanjutkan hobi berkebun.

Sejak awal kuliah saya menanti organisasi itu membuka pendaftaran anggota. Saya hanya ingin ikut ini. Titik. Tekad saya bulat. Walaupun dulu sewaktu pengenalan kehidupan kampus banyak sekali organisasi yang memikat hati saya, tetapi belum sekuat ini rasanya.

***

Sampai tiba suatu momen yang akhirnya membawa saya ke sebuah perjalanan panjang...

Pada sebuah perkenalan ormawa:

“Kalau community development tau nggak?”
“Hmmm,” saya berusaha berpikir, “Pengembangan komunitas.” Akhirnya hanya itu yang bisa saya katakan. Terjemahannya saja.

Singkat cerita, ternyata di kampus ini dikenal yang namanya comdev atau community development. Bukan seperti comdev yang dikenal secara umum, comdev di sini adalah ormawa yang bergerak dalam bidang pengembangan masyarakat di suatu daerah dan menjadi wadah mahasiswa dalam pengabdian masyarakat. Kerennya adalah di setiap fakultas punya comdev-nya sendiri. Di FMIPA UNJ, ada namanya Desa Binaan FMIPA UNJ. Kegiatannya seputar pengajaran anak-anak.
Kurang lebih itulah kesan pertama yang saya dapatkan ketika mendapat perkanalan seputar Desa Binaan (lebih akrab disebut DB).

Jauh setelah hari itu, saya pernah bertemu dengan mahasiswa dari kampus lain yang di kampusnya memiliki kegiatan serupa. Di IPB namanya IPB Mengajar, ITB namanya Skhole, dan skala yang lebih luas, ada Indonesia Mengajar. Kurang lebih kegiatannya serupa.

“Saya belum tertarik kak.”

Itulah yang saya katakan untuk DB kepada kakak fasilitator sewaktu perkenalan ormawa. Alasannya sederhana: saya nggak ngerti cara komunikasi sama anak-anak. Misalnya, seorang anak yang diam di pojokan. Saya nggak paham apa yang sedang dia rasakan dan saya nggak pernah punya rasa inisiatif buat nanya dia kenapa. Entah. Saya nggak paham sama sekali! Bahkan ketika saya masih anak-anak, saya jarang ngobrol dengan teman seumuran. Kecuali kalau sudah menyangkut obrolan dan permainan sepak bola, rasanya semua bahasa jadi mudah terjemahkan. Namun, teman-teman saat itu jarang yang mengerti bola. Akhirnya, saya lebih sering ngobrol sama bapak-bapak yang memang paham bola.

Sepertinya DB bukanlah pilihan saya saat itu.

28 January 2019

Pengalaman Berjualan Buku

Sudah saya sadari sejak lama bahwa lemari buku saya semakin penuh dari tahun ke tahun. Terhitung sejak kelas 9 SMP, diawali dengan memiliki buku Marmut Merah Jambu-nya Raditya Dika, hingga kini buku saya sudah mencapai puluhan jumlahnya. Memang belum sampai 40, tapi rasanya sudah saatnya saya harus menyikapi hal ini. Buku-buku itu kebanyakan hanya dibaca sekali (kecuali buku-buku Raditya Dika yang rata-rata minimal 3 kali baca ulang). Mereka berbaris rapi menempati lemari. Lemari saya kepenuhan.

Terinspirasi dari seorang blogger, saya memberanikan diri menjual buku-buku saya. Saya upload ke Tokopedia semua buku yang sudah lama tidak dibaca, dibaca cuma sekali, atau nggak ada keinginan lagi untuk membacanya ulang. Dapat dipastikan, dengan kriteria seperti itu, buku-buku Raditya Dika nggak saya upload. Sayang banget waktu itu (sekarang sudah masuk ke toko virtual saya di sana).
Awalnya saya ragu. Apa iya ada yang mau beli? Kalaupun ada, nunggu sampai kapan? Namanya anak baru, maunya cepet-cepet laku aja.

Dengan kesabaran akhirnya berbuah hasil. Buku koleksi saya yang pertama kali terjual adalah Dilan 1990. Buku yang belum lama sebelum dijual saya tamatkan itu saya banderol Rp30.000. Saya senang bukan main. Dunia seperti mudah. Nyari uang semenyenangkan ini. Barulah beberapa bulan kemudian terasa. "Si anak baru" itu akhirnya tahu bahwa nyari uang terasa sulit.

Toko saya nggak sepi banget, tapi belum bisa dikatakan ramai. Beberapa kali ada yang mengirim pesan nanya kesediaan stok. Kalau udah begini, hati saya langsung merah jambu. Gampang banget seneng kayaknya selama mencoba jualan buku. Sebagai pelayan yang baik, saya balas pesan itu dengan super cepat. Sampai akhirnya, saya tunggu hingga beberapa hari, buku itu nggak kunjung pindah dari lemari saya. Alias nggak jadi beli. Semoga rasanya nggak kayak di-PHP-in.

Lama kelamaan buku saya satu per satu berkurang. Meskipun bukan menjadi ladang mencari uang yang utama, tapi kegiatan ini membuat saya bahagia. Satu hal yang terpikirkan adalah kalau semua buku di lemari sudah abis, saya mau jual buku siapa lagi? Sudah kepalang tanggung senang, sayang kalau nggak dilanjutkan. Akhirnya saya memutuskan mengambil sedikit tabungan untuk membeli buku-buku murah untuk dijual kembali. Buku-buku itu saya dapatkan dari cuci gudang Gramedia. Tentunya dengan insting dan riset yang sudah dilakukan sebelumnya, saya memilih buku yang sekiranya masih laku di pasaran.

Cara ini berbuah hasil. Beberapa kali buku yang saya beli dapat terjual kembali. Saya semakin bahagia, walaupun buku-buku di lemari malah jadi tambah banyak. Namun, kondisi inilah justru yang membuat saya termotivasi: kalau mau punya toko buku, harus akrab dengan banyak buku. Buku-buku saya yang belum laku malah terlihat seperti perpustkaan di rumah. Satu impian saya ketika punya rumah sendiri kelak.

Saking banyaknya buku-buku itu, beberapa buku yang masih disegel kadang akhirnya saya buka sendiri karena geregetan buku yang sedang saya baca sudah selesai. Justru kadang saya suka tertawa sendiri membayangkannya. Ibarat warung sembako, saya adalah penikmat beras yang saya jual sendiri.

Berdekatan dengan sesuatu yang kita suka adalah hal yang membahagiakan bagi saya. Dari berjualan buku, wawasan saya akan judul buku semakin bertambah. Meskipun belum sampai tahap menseriusi kegiatan ini, saya cukup bahagia menjalaninya.

Pengalaman saya masih terlalu singkat. Toh, baru setahun saya memulai ini. Barangkali pembaca tulisan ini punya cerita serupa, bisa dibagikan di kolom komentar.

Atau mau pesan bukunya sekalian, kak? Hehehe.

04 January 2019

Always Listening, Always Understanding

Petang itu perut saya terasa menggelitik. Sedari pagi belum ada apa pun yang masuk ke kerongkongan. Botol minum kesayangan lupa diisi dari rumah. Uang... punya, sih. Rasanya capek banget buat ke mana-mana. Jadi males beli makanan atau minuman. Alhamdulillah, berkat air dari seorang teman kuliah kerongkongan saya basah kembali. Tegukan pertama sejak fajar.

Ingin sekali mulut ini mengunyah sesuatu. Kayaknya ini nih, tanda-tanda kalau manusia nggak ada puasnya. Melihat benda-benda sekitar rasanya nggak mungkin ada yang bisa dimakan: karpet, kertas, dan batu. Dua teman saya sedang sibuk menuliskan kalimat di sticky notes warna warni. “Kalian masih punya makanan nggak?” tanya saya.

“Nggak ada,” jawab mereka bersahutan.

“Hmmm oke.”

Saya membayangkan, saya melangkah pergi keluar masjid untuk mencari makanan. Tinggal pilih. Uang lagi cukup-cukupnya. Namun, kok tubuh ini berat untuk melangkah? Mungkin nanti sembari di perjalanan pulang saya bisa beli sedikit makanan, batin saya.

Untuk sementara ini...

“Minta air lagi ya.”

***

“Nih, ada titipan,” teman saya yang lain datang membawa sebungkus gorengan, lalu pamit pergi, “duluan ya.”

Alhamdulillah. Saya adalah orang pertama yang mengambil gorengan tersebut. Saking laparnya. “Eh, makan nih,” kata saya mengajak dua teman yang sedang sibuk menulis.

Salah satu dari mereka ikut mengambil. Berbarengan ketika tangannya menyambar gorengan, saya refleks bilang, “Allah baik banget ya.”

Teman saya tadi cuma tersenyum. “Iya ya.” Sepertinya dia sadar dan tau ke mana arah pembicaraan yang saya maksud. Belum juga bibir saya kering bicara makanan dan tubuh merasa malas bergerak, saat itu juga Allah jawab dengan sebungkus gorengan lewat perantara seorang teman.

Kadang hal-hal seperti ini yang membuat malu. “Allah udah sebaik ini, kita udah ngelakuin apa aja ya?” kata saya. Teman saya hanya mengangguk-angguk, lalu menggigit Masih merasa belum pantes dikasih. Tapi, kalau udah begini, udah terus-terusan dikasih...

mungkin inilah saatnya untuk mikir, dan berubah.