18 November 2017

Untuk masa-masa seperti sekarang, gairah dan semangat sedang tinggi-tingginya, momen yang gue suka adalah waktu antara Subuh hingga matahari mulai terbit. Dibanding sore yang menenangkan—tentunya diiringi lagu-lagu Payung Teduh, gue menyukai pagi karena memberikan rasa semangat. Mungkin nggak hanya gue yang menyukai pagi. Orang-orang yang bekerja pun suka. Meskipun dalam benaknya, entahlah, sedikit muncul pikiran, “Yah elah, udah pagi lagi. Waktu terasa pendek.”



Sebagai orang yang sering memulai hari dari pagi-pagi gelap, gue bisa melihat manusia dan interaksinya lebih banyak dibanding orang-orang yang bangun siang. Pemandangan “lomba lari di jembatan penyeberang orang (JPO)” sudah biasa gue lihat, bahkan gue suka “nantang” diri sendiri buat ngebalap siapa aja yang ada di depan gue. Mirip kayak Viru Sahastrebuddhe, dosen killer di film 3 Idiots yang nggak pernah mau ada yang ngedahuluin dia. Pokoknya harus selalu terdepan.

Lalu di tangga JPO. Seringkali gue ngelihat dua orang yang jalannya lambat banget, menuhin lorong. Bukan karena mereka pacaran, tapi mereka menghalangi jalan gue. Gue harus nahan-nahan diri buat bilang “Air panas, air panas!” biar mereka mau minggir.

Pindah ke angkot. Gue hampir selalu menemukan satu orang ini. Orang yang gue maksud ini nggak selalu gue lihat. Tapi, sekalinya gue lihat lagi orang ini, gue benar-benar kagum.

Dia adalah seorang ibu penjual makanan—entah kue, entah ikan mentah. Ibu ini membawa dagangannya dalam bak plastik, lalu ditaruh di atas kepala. Ya, kepalanya sendiri! Bukan kepala suku. Kepalanya dililit kain berlapis buat menopang bak—yang gue yakin ada isinya. Nggak mungkin kosong. Lagian kalau kosong, kurang kerjaan amat yak!

Kerennya, dia jalan biasa aja. Nggak goyah. Meskipun gue nggak bisa jamin, kalau gue senggol atau gue kelitikin pinggangnya, baknya masih bisa bertahan atau nggak. Gue kagum ... sekaligus ngilu.
Dulu pun gue pernah ngelihat orang seperti itu sewaktu TK. Pertanyaan gue selalu sama: apa kepalanya nggak sakit? Apa nggak merasa oleng? Secara, ini kepala, lho. Petinju aja kena tampol di kepala bisa teleng. Nah, ini ada ibu-ibu bawa makanan di bak di atas kepalanya. Gue bangun tidur kena salah bantal aja ngeluhnya sepanjang hari.

Itulah kekuatan yang telah Allah kasih kepada hamba-hamba-Nya. Masya Allah.

Pindah lagi ke objek lain.

Setiap kali gue berangkat ke kampus, dekat halte Transjakarta gue selalu menemukan pemandangan yang selalu sama. Salah satunya adalah pemandangan matahari mulai terbit. Selain itu, gue juga melihat pemandangan yang nggak kalah keren dan bikin gue geleng-geleng. Saking takjubnya. Pemandangan itu adalah seorang bapak yang mengatur lalu lintas, sambil sesekali merokok, dan berkaos dengan sablon tulisan “GOOD PEOPLE DRINK GOOD BEER” di bagian depannya. Yang membuat gue takjub adalah ... kaosnya itu lagi, itu lagi.

Mungkin dia cuek. Tapi gue, yang sering merhatiin sepele kayak gini, selalu memperhatikan hal ini. Kaos yang sama. Aktivitas yang sama. Respons dari gue yang sama: “Bau kaosnya kayak apa ya?”
Astagfirullah ngomongin orang.

Lanjut.

Gue berlari untuk dapat antrean bus paling depan. Niatnya biar bisa dapat tempat duduk lalu tidur. Walaupun sudah berlari dengan gesit, menghindari orang-orang, tetap saja ketika masuk bus harus berdiri. Itu sama rasanya kayak Messi gocek bola sana-sini, ngelewatin lawan (nggak pake permisi tentunya), udah di depan gawang, mau nge-shoot bolanya kempes.

Bagusnya setelah transit gue selalu dapat tempat duduk. Tapi, gue nggak langsung tidur. Pertama, baca buku dulu biar semua orang di bus ngasih pemakluman: “Oh, lagi belajar. Gak papa deh duduk.” Setelah satu halte dilewati, baru deh gue tidur. Orang-orang di bus, setelah gue bangun, pandangannya jadi beda: “Si kampret bohongan ternyata!”

Sampai di kampus, gue mampir sebentar ke perpus buat nulis laporan sekalian ketemu temen-temen. Sambil mengerjakan laporan, satu pesan WhatsApp masuk membuat konsentrasi gue hilang. Gue sempatkan untuk melihatnya sebentar.



Hanya berselang satu menit, ada pesan balasan.



Untung lagi di perpus. Kalau di luar, bisa-bisa gue ketawa, marah, nangis, dan guling-guling secara
bersamaan.

Jangan-jangan, orang ini baca judul postingan gue yang “Kamu Mau Nikah?”. Padahal itu, kan, tentang lagu “Akad”-nya Payung Teduh. Oh iya, ngomongin Payung Teduh, kaget juga karena vokalisnya keluar. Ditambah kaget setelah baca ini.

Kira-kira begitulah potret kehidupan pagi yang gue temui. Masih banyak hal-hal yang bisa ditulis sebenarnya. Bagi gue, pagi hari adalah langkah awal buat ngejalanin aktivitas seharian. Kalau hal buruk dianggap buruk padahal waktu masih pagi, patut dipertanyakan beberapa jam ke depan kayak gimana cara ngejalanin aktivitasnya.

14 November 2017

Halo, apa kabar?

Gue kangen membuka postingan seperti itu. Hal yang sama sebelumnya dikatakan Yoga Akbar di grup WhatsApp WIRDY. Setelah gue sadari, apakah perubahan ini menuju ke arah bagus atau jelek? Nggak tau deh.

Gue juga kangen membuka postingan dengan bilang, "aduh mau cerita banyak nih. Kalau kalian nggak mau baca lama-lama mending close tab aja". Makin ke sini gue nggak pernah bilang-bilang dulu kalau mau cerita panjang.

Gue juga kangen, memulai cerita dengan paragraf yang gak penting dulu. Nah, sekarang gue mulai cerita. Tapi mulai dari mana? Oh iya, bagian "bingung mau mulai dari mana" termasuk hal yang gue kangenin.

Begini...

Gue nggak pernah ikut OSIS. Namun, gue pernah ikut LDKS--yang biasanya jadi syarat masuk OSIS. Kelanjutannya gimana? Ya, tentu gue nggak lolos seleksi OSIS setelah LDKS.

Waktu itu, kelas 7, gue cuma nulis nama dan ekskul yang gue ikuti. Semua orang di kelas pun melakukan hal yang sama. Beberapa hari kemudian, secara acak, gue masuk dalam daftar orang yang ikut LDKS. Entah apa pertimbangannya, gue tiba-tiba ikutan LDKS. Yang makin bikin gue bingung waktu itu, GUE NGGAK TAU LDKS ITU APAAN.

Saat LDKS, lebih tepatnya LDKS jilid I karena ada jilid selanjutnya, gue ngelakuin apa aja yang dibilang senior. Disuruh jalan jongkok, hayuk. Makan permen dicelup garem, hayuk. Abis itu permennya digilir dari mulut ke mulut, hayuk! Saking polos dan nurutnya, gue dulu nggak ngerti jijik. 

Seiring dengan perkembangan otak, gue mengingat lagi kegiatan itu dan gue mikir, itu adalah acara aneh yang pernah ada. Nggak jelas dan kejam. Ada satu momen yang rasanya nggak akan pernah gue lupakan. Ketika itu, kelompok gue habis lari. Di ujung gang sudah ada kakak kelas lelaki berbaju batik sekolah. Dia nawarin sebotol air dalam botol 1,5 liter. “Kalian haus?”

“Iya, Kak.”

“Nih.” Dia nyodorin ke gue sambil senyum-senyum. Rasa haus telah menguasai diri, gue tenggak banyak sekali air itu, yang ternyata AIR GARAM! Ini percobaan pembunuhan gue rasa. Tenggorokan gue kena radang seminggu. 

Hah, terkutuk!

Astagfirullah.

Dan LDKS, bagi gue, selalu bikin orang nangis. Hal itu gue simpulkan setelah kakak-kakak OSIS (pura-pura) berantem. Gue hanyut dalam drama mereka. Ikutan nangis deh. Cengeng memang.

Masuk ke SMA, gue pelan-pelan ngerti maksud dan tujuan LDKS. Sesuai dengan namanya, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa, LDKS bertujuan untuk pelatihan kepemimpinan. Namun, di SMA pun gue nggak ikutan karena ... kegiatan tidur di kelas lebih enak.

Di dunia perkuliahan barulah gue merasa selama SMA kegiatan gue kosong. Nggak banyak modal kehidupan yang gue punya. Gue merasa sekolah begitu-begitu aja: datang, ngobrol, dengerin guru, tidur, pulang. Beda banget sama teman gue yang OSIS, misalnya Diki. Dia adalah ketua OSIS pada masanya. Pulangnya selalu Magrib. Hidupnya di sekolah nggak ngebosenin. Keren aja ngelihat dia.

Beberapa hari lalu gue ikut pelatihan kepemimpinan dari prodi di kampus. Salah satu alasan gue untuk ikut adalah banyak temen gue yang ikut. Hahaha. 

Foto-foto seperti ini harus nyelip di blog pribadi

Wajar, tahap-tahap maba masih harus bareng temen dulu.

Bukan hanya itu. Alasan paling mendasar adalah buat lebih tahu gimana caranya menata diri. Gue merasa, setiap kali ada banyak tekanan, gue nggak bisa nyelesain dengan baik. Akhirnya, gue malah kabur dari masalah itu lalu makin kepikiran terus. 

Lokasi acaranya ada di daerah Puncak. Jujur saja, ini baru pengalaman pertama gue ke Puncak. Selama ini, seperti yang gue tahu dari berita, gue taunya Puncak cuma daerah yang sering macet. Sekarang, lebih dari itu. Gue tau Puncak itu ... dingin! Keren juga lagi. Di balik kaca jendela bus, gue terkagum-kagum melihat pemandangan di luar yang isinya vila, pohon, dan kaleng kaca berisi asinan. “Wah, gila. Kenapa gue baru tahu sekarang, ya, kerennya Puncak?” batin gue. Sekaligus sebagai pengakuan kalau gue gagal jadi anak ibukota yang terkenal sering bikin macet Puncak.

Acaranya sendiri padet banget. Bangun sekitar pukul 2.30 pagi untuk salat Tahajud. Karena berada di daerah yang dingin, pertama kali berwudu badan gue langsung gemeteran. Udara dingin bikin gue pengin meluk magic com. Semua dilakukan sambil nahan-nahan ngantuk.

Pelatihan kepemimpinan mahasiswa (PKM), seperti namanya, isinya nggak jauh-jauh dari kepemimpinan, manajemen diri, dan organisasi. Buat gue, hal ini bisa jadi modal buat menghadapi dunia perkuliahan yang ada aja rintangannya. Pelatihan ini adalah ilmu yang aplikatif buat kehidupan sehari-hari. Beda dengan LDKS yang gue ikuti waktu SMP, saat ini gue lebih siap dan lebih ngerti apa makna yang didapat. Nggak sekadar asal dipilih dan ikutan.

---

Hari itu hari Minggu. Pulang dari PKM, di bus, gue mendapat satu pesan dari kakak gue. 

“Ke Puncak ada acara apa, Bi?”

“Pelatihan kepemimpinan, Mas,” jawab gue. 

“Ada tugas nggak buat Senin?”

DUAAARRR!

Sebenarnya gue sudah nyelesain tugas untuk hari Senin. Hanya ada beberapa laporan praktikum saja yang belum di-print. Gue berniat ngeprint di kampus. Denger-denger dari teman, di sana ada tempat ngeprint yang murah. Tapi entahlah. Gue malah ragu buat bisa ngeprint di kampus. Jadwal kuliah mulai dari pukul 7 sampai 9.40, lalu tugas laporan Fisika dikumpul pukul 10. Sepertinya nggak akan keburu ngeprint.

“Ada. Udah selesai, kok.”

Sampai di rumah, gue langsung mindahin file ke flashdisk kemudian pergi ngeprint ke warnet pukul 22.30. Jam-jam segini adalah hal biasa bagi gue untuk ngeprint. Bagusnya, di sana masih buka. Satu laporan telah tuntas. Masih ada satu laporan lagi yang belum dirapiin dan di-print. Nggak apa, kalau besok harus telat, maka telatlah.

Tugas laporan gue belum berhenti sampai di situ. Besok dua laporan praktikum Kimia harus dikumpul. Masih ada sedikit lagi bagian yang belum selesai. Gue membuat rencana bakal bangun tengah malam, sekitar pukul 2, seperti yang biasa dilakukan saat PKM, buat ngerjain laporan. Alarm sudah disetel. Nggak cuma satu, tapi ada tiga alarm dengan jeda masing-masing 15 menit. Gue tidur dengan nyenyak.

... sampai pukul 4.30. 

TUGAS GUE GIMANA DONG?! 

Mau nggak mau gue harus ngerjain di kampus atau di bus. Pukul segitu gue harus siap-siap berangkat. 

Gue mencoba berpikir tenang. Di kelas, gue nggak mau dosen lagi ngejelasin tapi gue malah asyik nulis laporan. Kalau kata pembicara sewaktu Kuliah Umum beberapa waktu lalu, itu namanya nggak here and now. Atau, kata guru Bahasa Inggris di SMP nyebutnya “lagi selingkuh”. Biar nanti aja ngebut ngerjain setelah praktik Fisika sebelum praktik Kimia lalu dikumpulkan.

Rencana gue gagal karena selesai praktikum pukul 12 lewat karena suatu hal (oh tentu, ini adalah bagian yang sensitif buat ditulis di blog muahaha). Praktikum selanjutnya, praktik Kimia, kelas gue harus pindah ke kampus B yang jaraknya sekitar 1,5 km. Butuh waktu paling cepat 15 menit kalau jalan kaki. Keluar dari lab gue berlari di pinggir jalan Rawamangun di antara teriknya panas matahari. Teman gue, Septi, memanggil dari jauh, “Sini bareng aja (sekelas) naik (angkutan). Pakai uang kas.” Gue hanya menggeleng dan terus berlari.

Di kampus B, gue datang lebih dulu daripada teman-teman yang naik Transjakarta atau angkutan lainnya. Dilanjutkan dengan salat Zuhur, kemudian gue ambil kertas laporan yang sudah gue cicil beberapa hari yang lalu. Plastik fotokopian di tas gue keluarkan untuk mengambil laporan dan melanjutkannya. Lembaran-lembaran kertas gue buka satu per satu, ternyata nggak gue bawa.

AAAARRRGH!

Akhirnya gue ngerjain laporan sejadi-jadinya. Nggak tanggung-tanggung, dua laporan gue kerjain dengan ngasal. Analisis dari laporan akhir gue tulis sedikit aja. Kesimpulan dari praktikum minggu kemarin gue tulis cuma tiga poin. Untuk hal paling gampang, yaitu cara kerja, gue lupa menulisnya. Ngaco banget pokoknya.

Namun, pada akhirnya, gue malah mendapat pelajaran paling penting dari PKM kemarin. Bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa memimpin dirinya sendiri terlebih dahulu, barulah bisa memimpin orang lain dan memengaruhinya. Dalam kasus gue, untuk memimpin diri sendiri aja gue masih belum maksimal. Laporan nggak selesai, kelabakan nggak jelas, dan tentunya manajemen waktu yang payah, mengingat beberapa hari yang lalu gue lebih milih main game daripada nulis laporan. Dodol emang.

Harapan gue setelah PKM adalah salah satunya biar bisa ngatur diri lebih baik lagi.  Yah, namanya juga belajar. Kayaknya, Nelson Mandela, pemimpin pergerakan Afrika Selatan, bakal bilang begitu kalau denger cerita gue.  

05 November 2017

Kata orang-orang bijak, sebuah rencana harus punya rencana cadangan biar seandainya gagal masih punya harapan. Begitu juga dengan memilih jurusan kuliah, yang nggak ada habis-habisnya disampaikan guru BK di kelas, “Kamu boleh fokus dengan satu jurusan. Tapi, nggak kalah penting buat punya rencana cadangan.” Begitu kira-kira yang dibilang.

Mengenai mencari rencana cadangan kuliah, gue masih bingung mau kuliah di jurusan apa selain Pendidikan Kimia. Jurusan itu masih jadi satu-satunya yang gue yakin bakal meraihnya. Tapi, kalau semuanya gagal, gue harus bagaimana? Setiap kali melihat grup-grup sharing tentang masuk kuliah, banyak banget orang yang cerita tentang kegagalannya berkali-kali buat masuk PTN. Rasa takut mulai menghantui gue. Apalagi setelah tau kalau gue nggak dapat jatah kuota jalur undangan.

Disuruh SBMPTN. 

Saya sudah mencoba SBMPTN (tes tulis) tahun kemarin. Hasilnya gagal. Saya pernah coba jalur undangan gagal juga. Ini tahun terakhir saya punya kesempatan ikut jalur tes masuk PTN. Kalau gagal juga ... saya berjuang di arena Benteng Takeshi aja deh. :(

Ungkapan itu seringkali punya dua makna buat gue: 1) Memotivasi gue buat terus berjuang, 2) KOK NAKUTIN YA?

Mungkin orang itu nggak bisa masuk PTN, tapi nunggu setahun, mengisi waktu dengan bekerja. Gue sendiri sadar, gue nggak punya keahlian apa-apa. Kalau gue maksa untuk kerja, gue bakalan sering nggak betah karena keinginan gue tetap mau kuliah.

Ketika itu, Yoga Akbar nanya gue untuk sedikit diskusi di motornya yang sedang melaju. “Menurut lu, setelah lulus SMA itu bagusnya langsung kuliah atau jeda dulu kuliahnya?”

Obrolan ini mengingatkan gue sebelumnya pada salah satu episode di Podcast Awal Minggu. Adriano Qalbi, host-nya, ngomongin soal kuliah versus kerja dulu. Diberi pertanyaan begini, gue merasa lagi ngepodcast bareng Yoga Akbar di motor.

“Kalau menurut gue, sih, lebih baik langsung. Soalnya ilmunya masih inget. Kalau dijeda dulu takut lupa-lupa,” jawab gue.

Gue memang lebih memilih kuliah daripada kerja. Hal yang juga didukung oleh Mas Arif, kakak gue.

“Masuk swasta aja kalau nggak dapat negeri. Ngapain kerja dulu, nanti lupa kuliah kalau udah kenal duit.”
“Tapi, kan, mahal.”
“Cari yang murah.”

Setiap inget perkataan “cari yang murah”, gue selalu ingat brosur-brosur kampus swasta yang nggak bisa gue bedain dengan brosur cicilan motor.

***

Kakak gue adalah seorang guru. Dia peduli banget sama pendidikan gue. Waktu SMP, dia mau gue masuk SMP yang bagus. Beranjak ke SMA, gue ditekan terus untuk masuk SMA favorit. Untuk kasus di SMA, gue malah sependapat karena SMA itu juga jadi incaran gue. Tapi, untuk kuliah, entah kenapa dia suka ngasih saran yang nggak pernah satu tujuan sama gue.

“Lu kenapa nggak nyoba STAN? Noh, Mas Itu (menyebut nama saudara) aja bisa masuk STAN.”
“Nggak ah. Mau jadi guru,” jawab gue, yakin.
“Jadi guru mah gajinya kecil.” Sepertinya dia lupa kalau profesinya adalah seorang guru. Gue kabur setiap dia bilang kayak gitu. Bahkan sampai-sampai gue lari ke kamar mandi karena nggak tahan dengan penilaiannya dengan cita-cita menjadi guru. Di kamar mandi, gue ngeguyur kepala sesering-seringnya, sambil nahan suara biar nggak ketahuan sedang nangis. Memang cengeng.

Omongannya itu pelan-pelan membuat gue mikir ulang buat nyari jurusan kuliah yang lain. Pernah satu kali gue bilang, “Mau Pertanian!” setelah dia tanya “Mau masuk jurusan apa?”—yang ke sekian kalinya. Dia cuma jawab, “Ngapain? Nggak bisa kerja di kota.”
“Tapi, kan...”
“Teknik Kimia aja. Bagus, nih,” katanya sambil scrolling di laptop gue. Dia membaca artikel “Jurusan Potensial Kimia”.
“Nggak bisa Fisika, Mas,” kata gue.
“Ya udah, STAN aja, STAN.”

Gue kabur lagi ke kamar mandi.

***

Menjelang tes-tes perguruan tinggi banyak orang yang jadi doyan bahas dan tanya soal. Gue bukannya nggak suka, tapi kesel aja waktu temen gue nanya, “Tadi soal ulangan gimana?” saat gue mau takbiratul ihram. Ini mau solat, lho, padahal.

Orang-orang bukannya istirahat malah ngisi buku soal latihan. Gue mau berusaha ngikutin gaya mereka, tapi nggak sanggup dan lebih milih baca buku Sherlock Holmes yang disimpan di loker kelas. Baru dua halaman baca, gue gelar karpet di belakang kelas. Tidur. Rasanya emang paling enak siang-siang tidur di kelas nungguin guru masuk.

Kebiasaan di lingkungan gue yang begitu aneh ini membuat gue sedikit terpengaruh. Gue jadi ikut-ikutan doyan ngerjain soal latihan buat UN. Untuk persiapan SBMPTN sendiri, paling yang gue kerjakan cuma latihan soal-soal Tes Potensi Akademik (TPA). Artinya, gue juga aneh dong? Bodo amat deh.

Lingkungan juga memengaruhi gue untuk ikut-ikutan mau coba STAN. Apalagi setelah dua teman sekelas, Rohim dan Diki, bilang mau nyoba daftar STAN. Saat itu, kondisi gue sangat tidak ada minat ke STAN.
“Ayolah, coba aja, By,” hasut Diki
“Iya. Coba aja dulu yuk.” Rohim ikutan menghasut.
“Gue bingung, nih. Gue tetep mau perjuangin pilihan sejak lama.”

Yang gue maksud adalah Pendidikan Kimia.

Diki mengatakan nasihat bijaknya sebagai mantan ketua OSIS. “Coba aja semuanya yang bisa dimasukin. Nggak ada yang tahu nanti kita masuk mana.”

Meskipun kalimatnya agak ambigu, perkataannya benar adanya ketika gue ingat lagi salah satu event di game Harvest Moon Back To Nature. Event itu adalah lomba balap kuda. Kita sebagai pemain hanya dapat bertaruh di event tersebut dan bebas memilih mana saja tanpa batasan. Semua kuda bisa dipertaruhkan, tapi yang membedakan adalah kuda itu akan membawa keuntungan yang beda-beda—harga menangnya berbeda.

Gue melihat hal ini sebagai salah satu jalan buat menghindari nganggur, eh buat kuliah. Coba dulu aja deh, biar nggak penasaran.

***

Pada suatu kelas pelajaran BK, di hadapan gue ada buku fotokopian yang di halamannya ada banyak banget nama-nama perguruan tinggi, baik negeri maupun kedinasan. Semua yang ada di buku tersebut tetap nggak ada yang menarik hati gue. Waktu itu keinginan gue masih mantap mau masuk Pendidikan Kimia. Jadi, setelah lihat semua jurusan yang ada, gue nggak tertarik lagi. Lagipula, sebelumnya gue sudah googling mengenai kampus yang punya program studi Pendidikan Kimia, utamanya Pendidikan Kimia UNJ.

Sembari menghabiskan waktu, gue membuka lembar-lembar berikutnya. Lembar itu isinya daftar perguruan tinggi kedinasan. Tertulis paling atas “Akademi Kimia Analisis”.

Kedinasan bidang kimia? Demi apa ada yang kayak gini? batin gue.

Pulang sekolah gue segera mencari informasi mengenai Akademi Kimia Analisis (AKA) yang letaknya ada di Bogor. Setelah gue cari tahu, AKA Bogor bukanlah perguruan tinggi kedinasan, melainkan perguruan tinggi yang berada di bawah naungan Kementerian Perindustrian. Entah benar atau nggak apa yang gue tahu saat itu, gue mulai tertarik mencoba daftar hanya karena ada kimia-nya. Di website-nya, masih ada jalur rapor untuk masuk. Cukup SNMPTN saja yang menutup kesempatan gue kuliah lewat jalur rapor, AKA Bogor jangan.

Setelah melengkapi pemberkasan dan mengirimnya ke kantor pos, gue masih harus menunggu waktu sekitar 1,5 bulan untuk menanti pengumuman. Kakak gue mendukung apa yang gue lakukan. “Bagus!” serunya. “Kalau masuk situ, lu bisa langsung kerja di Badan POM.”
“Ehm, nggak cuma itu, sih,” sanggah gue. “Paling di pabrik makanan.”

Ketika mendaftar AKA Bogor, gue diharuskan memilih dua pilihan jurusan. Di Politeknik AKA Bogor, hanya ada tiga jurusan, yaitu Analisis Kimia, Penjaminan Mutu Industri Pangan, dan Pengolahan Limbah Industri. Ketiganya adalah program diploma III. Pilihan pertama gue sudah pasti Analisis Kimia. Sekarang gue bingung milih apa di slot kedua.
“Pak, menurut Bapak, Robby pilih apa? Limbah industri atau pangan?” tanya gue kepada Bapak. Dia paling jago ketika dimintain saran. Terutama saran atas pertanyaan paling sering gue tanyakan di rumah: “Pak, sayur tadi pagi boleh dimakan lagi nggak?”

Sejujurnya, gue nggak mau bertanya hal ini. Gue punya kebiasaan nggak akan pernah cerita ke siapa-siapa tentang apa yang sedang gue lakukan dan rencanakan. Di akhirnya, gue tinggal minta izin untuk beraksi. Jadi, bagi gue, izin adalah nomor terakhir. Namun, minta pendapat kali ini rasanya penting.
“Limbah industri malah bahaya. Pangan aja lebih enak. Limbah kan banyak terpapar bahan kimia, gitu.”

Gue mengikuti perkataannya tanpa banyak ngomong “tapi”. Siapa tau, dengan gue mengikuti perkataannya gue bisa masuk sini dan terhindar dari nganggur.

Pilihan pertama: Analisis Kimia
Pilihan kedua: Penjaminan Mutu Industri Pangan.

Kirim deh lewat kantor pos!

***

Sekarang gue sudah punya pilihan untuk kuliah: Pendidikan Kimia, AKA Bogor, dan STAN.
Di antara ketiga itu, sama sekali gue nggak masukin target “Nilai UN rata-rata 9” dalam tujuan jangka pendek. Bagi gue, UN udah nggak ada rasanya lagi karena nggak menentukan kelulusan. Nggak peduli banget pokoknya. Yang ada di pikiran gue hanyalah tiga hal tadi. Bagaimana cara gue buat masuk sana?

Untuk STAN, mengikuti langkah awal teman-teman gue yang lain, gue membeli buku latihan soal masuk STAN di alumni yang berhasil masuk STAN. Setelah buku berhasil didapatkan, gue bersemangat 45 membuka lembar-lembar buku itu. Baunya enak. Jangan-jangan begini baunya parfum anak STAN. Halah, berkhayal kejauhan.

Paket soal pertama gue coba. Gue langsung lompat ke soal Bahasa Indonesia karena gue paham kemampuan Matematika gue tidak sehebat Einstein. Soalnya masih gue mengerti. Lalu gue pindah ke soal hitung-hitungan. Berkali-kali baca soalnya gue nggak ngerti, lalu kabur guyuran ke kamar mandi.

Mungkin di situ kesalahannya: Niat gue mau masuk STAN cuma ikut-ikutan. Selain itu, mungkin gue hanya mau membuktikan ke kakak gue bahwa gue siap (pura-pura) berjuang masuk STAN. Tanpa pikir panjang, gue nggak akan melanjutkan perjuangan untuk masuk STAN. STAN dan kimia sangatlah beda. Gue melihat buku soal bersampul hitam itu—buku soal STAN. Enaknya diapain, ya, ini buku?

***

Dengan menjual buku latihan soal STAN ke seorang teman, gue resmi mundur dari persaingan masuk STAN. Pilihan gue sekarang tinggal AKA Bogor dan Pendidikan Kimia. Pengumuman AKA Bogor pun sudah semakin dekat.

Gue sengaja bangun pagi untuk melihat pengumuman seleksi rapor AKA Bogor. Dengan kecepatan 4G dari Bolt, sangat mudah untuk gue mengetahui pengumuman dari AKA Bogor. Pengumuman dibuat dalam format pdf. Dua file pengumuman program studi D3 Analisis Kimia dan D3 Penjaminan Mutu Industri Pangan gue download. Gue harus melihat nama gue di pilihan pertama: Analisis Kimia.

Scroll.

Scroll.

Halaman kedua.

Scroll.

Halaman ketiga.

Scroll.

Habis.

Nama gue nggak ada. Oke, mungkin di pilihan kedua.

Gue lakukan hal yang sama seperti sebelumnya, hasilnya sama. Nama gue tetap tidak ada. Gue patah hati lagi setelah nggak dapat kuota jalur undangan PTN (SNMPTN). Gue melihat pengumuman lanjutan yang memberikan sedikit harapan:

“Bagi yang belum berhasil dalam jalur rapor, silakan mencoba kembali di tes tertulis pada tanggal 13 Mei 2017 tanpa membayar uang pendaftaran”.

Gue nggak lari lagi ke kamar mandi untuk guyuran.

---

Tulisan ini masih berupa kilas balik beberapa bulan lalu saat gue kelas 12. Cerita yang lain sebelumnya sudah gue tulis di label "Menuju PTN".

28 October 2017

Gue melihat tumbuhan sebagai makhluk yang menyenangkan. Dibanding memelihara hewan, gue lebih jago dalam merawat tumbuhan. Dapat dilihat dari track record, selama memelihara hewan gue lebih sering nyiksa dibanding merawat.

Tetangga gue juga bilang begitu. Dia seringkali mergokin gue sedang nyirem tanaman. Bukan, bukan disiram pake gula merah. Itu mah serabi. Yang ini disiram pakai air sumur.

Seorang tetangga bilang ke Mama sambil memerhatikan gue menyiram tanaman. “Robby ini seneng ngerawat tanaman, ya.” Mama gue cuma mengiyakan. “Ya, begitu deh.”

“Nanti kuliahnya di pertanian aja, tuh. Bagus.”

Waktu itu gue masih kelas 4 SD. Mendengar saran itu dari tetangga, jelas gue sedikit senang sekaligus gondok. Cita-cita gue mau jadi pemain bola!

Belakangan cita-cita itu pudar setelah ngelihat teman yang setiap kali main bola mimisan kegebok bola.

Meskipun nggak bisa gerak ke sana kemari seperti hewan, bagi gue, tumbuhan memberi kesan meneduhkan. Mungkin itu juga alasannya kenapa orang melihara ikan louhan; caranya berenang bikin adem. Coba, apa lagi alasannya kalau bukan yang meneduhkan dan membuat nyaman? Emang pernah denger ada bilang, “Gue melihara louhan biar hubungan keluarga jadi retak dong.”

Dibanding teman-teman seumuran juga, gue termasuk anak yang paling tertarik dengan tumbuhan. Gue pun memikirkan apa sebutan yang cocok untuk hal itu. Mungkin plantosexual. Lho, itu mah orientasi seksual ke tumbuhan dong? Mau kawin sama kaktus?

Bukannya sombong, saat gue merenungkan apa yang pernah gue lakukan saat masa kecil, gue bisa menilai waktu itu gue pencinta tumbuhan banget. Kalau diseriusin mungkin gue bisa jadi aktivis reboisasi. Gue melihat tumbuhan sebagai seorang kawan yang selalu merindukan siraman air sumur dari gue, sedangkan teman-teman gue ngelihat tumbuhan sebagai benda yang layak ditebas, disiksa, dan dipretelin tanpa harus ketakutan bakal melawan.

Padahal, tumbuhan adalah salah satu makhluk yang bisa melawan zombie.

Siap di garda terdepan

Kebetulan rumah gue (dulu) ada sedikit lahan yang diisi berbagai tumbuhan dalam pot. Cabe, pandan, suji, dan daun pecah beling ada di tempat yang gue anggap seperti panti asuhan ini. Tumbuhan-tumbuhan itu berkumpul layaknya anak-anak dalam asuhan gue sebagai kepala pantinya. Halah. Apaan itu.

Beberapa orang juga pernah memanfaatkannya untuk keperluan obat dan masak. Dari situ, gue merasa banyak sekali manfaatnya merawat tumbuhan.

Gue senang bermain-main dengan tumbuhan. Beberapa kali gue membuat eksperimen dari teman-teman gue ini (ya, memang kesannya jahat menjadikan teman sebagai bahan eksperimen).

Beberapa momen yang dengan banyak tumbuhan di lingkungan rumah ada yang masih gue ingat.

Pertama, ilmu menyambung tumbuhan. Gue lupa pernah dapat ilmu ini dari mana. Seingat gue, pada suatu hari gue menonton informasi yang menjelaskan tentang menyambung tumbuhan. Sampai akhirnya gue mengenal metode itu bernama cangkok. 

Guru SD gue saat kelas 6 pernah menyinggung soal mencangkok. “Kan enak ya, kalau kita bisa mencangkok ubi dan padi. Jadi, nanti ada padi yang segede ubi. Bisa sekali makan kenyang.” Mendengar hal itu membuat gue penasaran. Apa lagi waktu itu gue dibilang anaknya polos banget dan gampang percaya. Gue masih ingat betul beliau bilang begini di kelas:

“Kalian tau nggak teroris itu asalnya dari mana? Dari orang-orang yang polos, nanti otaknya dicuci. Nah, di kelas nih kayaknya ada yang begitu.” Dia mencari wajah-wajah muridnya yang sebentar lagi akan lulus SD ini. “Nih, Robby kayaknya, nih.”

Gue jelas nggak terima dibilang polos. Teman-teman gue selalu bilang “Wah, Robby udah nggak polos” sewaktu mereka ngomongin hal-hal jorok. Tuh, kan, teman-teman gue aja bilang begitu. Guru gue salah dong. Tapi waktu itu gue sempet bingung, maksudnya otak dicuci itu kayak gimana.

Rasa penasaran juga semakin memuncak setelah melihat anak sekolah tetangga ujian praktik IPA melakukan cangkok. Sedangkan gue cuma merangkai lampu secara seri dan paralel. Mana lampunya nggak nyala. Gue makin kesel. Setelah UN, gue mencobanya sendiri di rumah. Tentunya dengan modal kesotoyan.

Langkah awal gue adalah: mencari tumbuhan yang (harapannya) bagus kalau dicangkok. Berkat perkataan guru di sekolah, gue langsung mengambil objeknya adalah pohon pepaya. 

Awal yang bagus. 

Setelah itu, gue harus mencari tumbuhan yang kira-kira tumbuhnya cepat. Di antara tumbuhan yang berhasil tumbuh besar dari mulai benih sampai ke pohon yang pernah gue coba adalah pohon jarak. Pohon yang biasanya diambil buahnya buat bahan bakar ini lumayan banyak ditanam di sekitar rumah gue. Gue segera mencari pohon jarak yang sudah setinggi pinggang untuk disambung ke pohon pepaya.

Sampai sini, gue sudah membayangkan pohon pepaya yang tumbuhnya cepat. Atau, sejelek-jeleknya menjadi pohon pepaya yang buahnya jadi bahan bakar. Penemuan besar! Gue akan jadi ahli botani cilik saat itu.

Gue segera memotong pohon pepaya setinggi pinggang. Bagian atasnya gue sambungkan ke pohon jarak yang batang bagian atasnya gue buang. Gue mengambil gulungan solasi bening untuk menyambung keduanya. Namun, sambungan itu malah letoy. Gue coba berkali-kali disangga dengan kayu, tetap saja lemah sambungannya. Tenang, tenang. Ini langkah awal untuk hal besar. Robby Kecil sangat optimis saat itu.

Seminggu kemudian, kedua tanaman itu layu. Gue mendapati keduanya sudah tergeletak di tanah. Semangat gue juga layu. 

Ah, bener. Mending jadi pemain bola aja, batin gue

***

Mungkin waktu di rumah gue yang dulu pohon jarak adalah primadona. Gue seneng dengan pohon ini karena tumbuhnya cepat dan cara nanamnya lebih gampang. Tinggal diambil buahnya, dipendem di tanah, tunggu beberapa hari, tumbuh deh. 

Lalu tebas.



Di mes, gue bersama Sofyan adalah penggerak penanaman pohon jarak. Gue perintahkan dia buat menanam pohon jarak bersama. Biji yang kami tanam didapatkan dari pohon jarak milik Abah. Suatu malam, gue pernah nguping obrolan seputar buah jarak.
“Buah jarak itu bisa dimakan. Enak. Rasanya kayak kacang. Bijinya dibakar dulu, baru dikupas dalamnya.”

Sebuah info yang menarik. Beberapa hari kemudian, di sore hari, gue mencoba hal itu di antara bakaran sampah. Gue tawarkan buah jarak yang sudah dibakar ke Sofyan. “Lu nggak mau coba nih?” Sudah seharusnya seorang aktivis seperti dia menerima itu.
“Nggak deh. Buat lu aja.”

Gue menggetok batu ke biji itu, kemudian dikupas. Di dalamnya ada bagian daging berwarna putih. Benar-benar mirip kacang, batin gue. Gue mencicipinya, ternyata nggak terlalu buruk rasanya. Memang, sih, rasanya nggak mirip kacang. Setidaknya cukup enak buat dimakan.

Kebiasaan itu ternyata memberi efek candu buat gue. Beberapa kali setiap ada pembakaran sampah gue selalu nebeng api dari sana buat ngebakar buah jarak. Sofyan sesekali ikutan makan. 
Gue ingat malam itu. Sepertinya menjadi malam yang paling keren buat gue karena gue sudah menyiapkan empat buah jarak untuk dikonsumsi malam ini. Gue ke pembakaran sampah, lalu melempar buah jarak seperti biasanya. Satu bijinya gue ambil untuk dikupas kulitnya dan dimakan. Daging putih biji jarak gue makan. Kira-kira sudah melewati kerongkongan, gue mulai merasa mual. 

Akhirnya muntah. 

Sambil nyari tahu tentang buah jarak, untungnya nggak ada efek lebih jauh dari makan buah jarak. Gue baca di salah satu artikel, ceritanya persis tentang dia makan buah jarak. Penulisnya sempat ngerasain pusing. Kalau begini caranya, gue belum layak jadi petualang yang sekitarnya tumbuhan semua. 

Jadi pemain bola aja, udah!


Sumber gambar:
http://www.mangyono.com/2014/02/makan-buah-jatropha-curcas-jarak-pagar.html
https://www.bukalapak.com/products/s/buah-tanaman-jarak-pagar