thumbnail-cadangan
Benar. Kalau kamu follow blog gue, entri ini akan ada di dasbor Blogger kamu.

Ngomong-ngomong soal blog ini, tepat pada tanggal 30 Juni nanti blog robbyharyanto.com akan berulang tahun yang ketiga. Perasaan gue benar-benar bahagia hingga sekarang masih bisa ngeblog. Walaupun cuma buat media senang-senang, gue merasa beruntung pernah mengenal blog; seperti yang gue tulis di hampir semua media sosial milik gue.

Seputar blog lagi. Nggak nyangka followers blog ini sudah mencapai 100. Gue senang dengan jumlah-jumlah bulat seperti ini, seperti membentuk tahap demi tahap dalam kehidupan bermedia sosial. Contohnya, perasaan mendapat sepuluh followers pertama: senang. Seratus kemudian: bahagia banget. Seribu selanjutnya: songong, sok nyeleb, nyuruh followers selfie ala “bidadari kacamata”.
Hehehe. Sejauh ini belum ada yang sampai seribu. Teman di Facebook aja belum segitu.

Langsung ke poinnya aja. Sepertinya entri ini akan menjadi penutup di bulan Juni 2017 sekaligus penutup di tahun ketiga blog ini berada. Gue akan kembali ngeblog setelah lebaran atau masa-masa kuliah dimulai. Oh iya, kabar gue dalam menuju universitas negeri sangat membahagiakan. Berkat doa dari orang tua, guru, teman-teman dunia nyata maupun dunia maya, alhamdulillah, gue lolos SBMPTN. Sekarang lagi sibuk nyiapin berkas-berkas untuk persiapan masuk. Doakan semoga semuanya lancar, ya!

Gue menulis entri hanya karena ingin mengeluarkan apa yang sedang rame di kepala. Gue seperti mengusir mereka dari kepala gue dengan menulis. Kalau pikiran gue bisa teriak, dia mungkin bakal bilang, “HEI, MINGGIR DULU. KASIH TEMPAT UNTUK TAMU KITA YANG BERNAMA MASA DEPAN UNTUK TINGGAL DI SINI!”

Yeah. Gara-gara lolos SBMPTN, gue jadi gelisah karena mikirin hal-hal remeh. Takutnya malah mengganggu dan merusak hari yang seharusnya bisa dijalani dengan bahagia. Anehnya, pikiran tentang itu malah muncul terus. Yaudah, jadinya gue punya bahan buat ditulis. Hehehe.

1
Gue pernah baca, entah dari mana, ada sebuah kalimat begini: “Bacalah apa yang orang lain tidak baca dan kamu bisa berpikir beda dari orang lain.” Kayaknya itu jadi tepat setelah tahu kebiasaan gue seneng bacain kemasan makanan sejak kecil. Nggak tahu kenapa, setiap selesai makan ciki gue selalu membalik bungkus, lalu bacain komposisinya. Dari kebiasaan itu, gue jadi tahu kalau ciki atau makanan dalam kemasan selalu punya zat pengawet yang namanya natrium benzoat. Beda dengan formalin yang mana merupakan pengawet mayat.

(Hampir-hampir pikiran gue rusak karena pengawet mayat. Jangan-jangan, mayatnya setelah dikasih pengawet, disamain kayak ciki. Dimasukin kemasan, terus dikubur)  

Awas, jangan ketuker.

Takutnya, karena terlalu sering nonton Reportase Investigasi, seorang anak malah lebih tahu formalin sebagai bahan pengawet makanan daripada pengawet mayat. Siapa tahu, profesi dia nantinya menjadi pengusaha kolang-kaling, lalu terinspirasi dari acara tersebut. Nanti kolang-kalingnya dipakein formalin karena dia tahu, penjual makanan yang sering masuk TV adalah penjual (curang) yang masukin formalin ke makanannya.

Hati-hati.


2
Gue jadi takut banget sama petasan. Tahun ini menjadi masa paling kelam antara gue dengan petasan.
Di lingkungan tempat tinggal gue sebelumnya, bocah banyak yang main petasan, tapi jaraknya jauh-jauh dari keramaian. Main di lapangan atau lahan kosong. Sekarang nggak. Di depan gue, di jalan dengan penuh pejalan kaki, anak-anak nyalain petasan dengan bahagia tanpa dosa. Mana megangnya lama banget. Gue khawatir petasannya meledak di tangan.

Terus, ada satu bocah lari-lari nyalain petasan, terus dia lempar ke temennya. Udah gila kali ini anak, pikir gue. Atau, memang begitu caranya main petasan? Maklum, gue dulu nggak berani main petasan. Sampai sekarang, gue masih takut megang kembang api. Serius.


3
Masih tentang petasan. Ada beberapa jenis petasan yang nggak layak disebut petasan: petasan banting, petasan kentut, dan petasan tulis. Petasan tulis yang menurut gue paling layak di dunia perpetasanan. Ini petasan paling aman, sekaligus bikin produktif. Bentuknya panjang, dibakar ujungnya, terus disedot asepnya. Iya, ITU ROKOK.

Setelah ujungnya dibakar, nanti si pemegang petasan (tentunya pemegang saham terbesar karena dia yang modalin) bakal nyoret-nyoret ke tembok atau aspal. Biasanya dulu temen gue nulis namanya sendiri. Katanya, sih, nanti ada bekas tulisannya gitu. Nggak tau deh bener atau nggak. Gara-gara di depan rumah gue ada bocah nyalain petasan tulis, gue jadi pengin nantang diri dengan ikutan main. Nanti gue nulis, nulis, nulis, jadi deh satu draf novel.


4
Baru aja ngerasain sensasi makan ayam di sebuah restoran cepat saji. Sebut saja nama tempatnya “Pabrik kayakeju” bila diterjemahkan. 

Sore itu, gue sedang berada dalam acara buka puasa bersama teman-teman dan adik kelas ekskul KIR. Pemilihan tempat di sini agaknya cukup membuat sebagian orang mengkhawatirkan kesehatan pencernaannya. Sebaliknya, gue malah penasaran dan memang nggak ada tempat lagi. Kata orang-orang, Pabrik Kayakeju ini tempat paling oke... buat nangisin orang. Pedes banget ayamnya.

Dan ini yang menurut gue lucu. Gue diberikan sekotak nasi dan ayam yang entah bumbu apa itu di atasnya. Kayak kecap, tapi kok gue ragu rasanya bakal manis. Seorang teman memberi tahu, “Ini level 3.”

Level? Makanan berlevel? Biar apa?

Setengah perjalanan gue menghabisi ayam dan nasi, muka gue penuh keringat. Banjir. Seperti habis senam pukul 12 siang. Gue menggelengkan kepala, keringatnya muncrat ke mana-mana. Teman-teman gue yang lain nunjukin muka yang sama. Sama-sama kepedesan.
Bisik-bisik gue mendengar, “Si Robby level berapa, tuh?” Gue langsung memperhatikan lama teman-teman gue, lalu salah satu dari mereka nanya, “Rob, lu level berapa itu dah?”

“Hah?”

Mendadak budek.

“Si Robby, makan pedes malah budek,” katanya sambil tertawa. “Punya lu itu level berapa?”

“Hah? Nggak tau deh,” kata gue megap-megap, “katanya level 3.”  Gue menghela napas, “Gue nggak ngerti ginian, level-levelan. Gue mau makan bukan main game.”

Akhirnya, setelah malam itu, gue kepikiran satu hal: Kalau gue berhasil ngabisin level 3, gue boleh naik ke level selanjutnya dong? Abis itu lawan raja terakhir. Kalau nggak kuat? Game over pencernaan.

---

Masih banyak sebenernya yang mau gue tulis, seperti perjalanan gue selama persiapan SBMPTN mau banget gue tulis. Paling tidak, gue bakal baca lagi ketika suatu saat nanti gue sedang down di dunia perkuliahan, gue bisa berkaca kepada tulisan sendiri. Tapi, nantilah kapan-kapan. Rencananya mau gue bikin ke dalam bagian-bagian terpisah. Kalau sekalian ditulis dalam satu entri, bakalan capek bacanya. Demi kebaikan gue juga.

Terakhir, gue mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri. Semoga tahun depan bisa bertemu kembali dengan Ramadan dan tahun ini ibadah Ramadan kita diterima Allah swt. Aamiin.
Read More »

Alasan gue mau masuk IPA adalah karena gue penasaran dengan Biologi.

Wah, alasan yang sungguh ilmiah. Padahal, nggak gitu-gitu amat, sih.

Waktu kecil, teman-teman gue, selain manusia, adalah tumbuh-tumbuhan. Nggak cuma itu, gue juga suka main apa aja yang ada di luar rumah. Di mes, tempat tinggal gue dulu, kebetulan selalu ada orang bakar sampah setiap sore. Nah, di situ gue suka main. Memang, bukannya main layangan atau kelereng, gue malah sibuk ketemu asap. Sekarang jadi takut sama asap.

Gue biasanya ngelelehin sedotan, main masak-masakan, dan nyirem-nyirem thinner ke api biar nyalanya besar. Nggak jelas banget permainan gue dulu. Yang paling gue inget pas main masak-masakan adalah masak pasir. Jadi, tutup kaleng bekas di atasnya ada pasir, dipanasin. Terus, setelah pasir cukup panas, wadah tadi gue jadikan alas di kurungan ayam-ayam kecil. Alhasil ayam-ayam itu lompat-lompat kepanasan sambil kaget, “ORANG! ORANG! ORANG!”

(Perhatian: Kebanyakan nonton acara sulap The Master dapat mengikis rasa kasih sayang terhadap makhluk hidup. Siapa suruh ngejagoin Limbad.)

Karena merasa dekat dengan alam (baru sebatas itu aja, belum sampai naik-naik gunung atau ekspedisi ke gurun pasir), membuat gue senang belajar Biologi. Senang dalam artian: gue cuma senang dengarin aja. Belajarnya nggak mau. Apalagi kalau pelajaran tentang organ-organ hewan atau manusia, gue nyerah. Ketertarikan gue paling mengarah ke tumbuh-tumbuhan. Gue senang nyari tahu tentang cara mencangkok, kultur jaringan, dan hidroponik. Lingkungan-lingkungan gitu gue suka.

Bagi gue, ngedengarin seseorang menjelaskan tentang tumbuh-tumbuhan serasa nonton Animal Planet.

(Nah, kalau Animal Planet, kan, khusus hewan. Kalau tumbuhan apa? Bantu jawab, ya!)

Mata pelajaran khusus Biologi baru gue dapatkan di SMA. Bukannya jadi siswa paling pintar di kelas karena sudah senang Biologi sejak kecil, gue malah jadi siswa paling bahagia. Kayaknya, sih, begitu. Gue nggak peduli jadi pintar atau nggak, yang penting senang dengerin orang jelasin materi, entah guru atau teman. Makanya, hal yang sering gue lakukan saat di kelas Biologi adalah hanya mencatat. Mencatat apa yang nggak seharusnya dicatat.



Baru-baru ini gue nemuin satu buku catatan mirip diari. Sebuah halaman di dalamnya terdapat catatan bertinta merah. Gue membaca catatan itu sambil bergumam, “Kok gue sempet-sempetnya nyatet hal nggak penting ini?”

Kalau direka ulang saat itu, gue lagi bosen-bosennya belajar. Walaupun merasa senang dengarin orang jelasin materi, rasa bosan akhirnya hinggap juga. Di kelas, sambil dengerin guru Biologi ngomong di muka kelas, gue malah nyoret-nyoret buku, nyatet hal-hal nggak penting. Mirip-mirip sama tipe orang yang seneng gambar saat bosan belajar di kelas. Karena nggak bisa menggambar, gue lebih milih nulis-nulis hal nggak penting di belakang buku.

Guru Biologi menjelaskan soal teori seleksi alam yang dikemukakan Lamarck.

Beliau menjelaskan, menurut Lamarck, pada zaman dahulu di dunia ini hanya ada jerapah berleher pendek. Kita tahu, sekarang jerapah lehernya panjang. Mungkin karena sering bohong pas beli gorengan; bilangnya dua biji ngambilnya dua karung. Tenggorokannya kena azab.

Lanjutnya, leher jerapah bisa panjang karena dedaunan yang ada dalam jangkauan lama-lama menjadi habis. Akibatnya, yang tersisa di pohon hanyalah daun-daun tinggi, kemudian memaksa jerapah untuk mendongak agar mendapatkan daun yang lebih tinggi (makanannya). Secara alami, leher-leher itu menjadi panjang dengan sendirinya, hingga keturunannya sekarang.

Bukan penjelasan itu yang gue catat di buku diari, melainkan sebuah ilustrasi kasus, yang tiba-tiba kepikiran, dari apa yang dijelaskan tadi oleh guru Biologi.

Tertulis di buku itu: “Kalau saja manusia mengalami hal serupa, seharusnya kaki manusia semakin ke sini menjadi lebih kuat karena kami (manusia) berjalan lebih jauh mencari warteg (sumber makanan) yang murah.”

Harusnya gue kasih contoh itu ke guru Biologi. Apa reaksinya, ya, kira-kira? Hehehe.

Masih pada halaman dan hari yang sama, gue mencatat sebuah momen ketika guru Biologi gue membicarakan soal tinggi badan.

“Padahal, adik dan kakak saya tinggi-tinggi,” ujar guru Biologi, jujur. Posturnya memang tidak tinggi, sekitar 150 sentimeter. “Ya, meskipun bedanya paling cuma 10 senti.”

Guru Biologi gue, wanita, orangnya jarang ngasih lelucon atau, bisa dikatakan, sepanjang pelajaran selalu serius. Tipikal ibu-ibu yang nggak suka bercanda. Tapi, beliau bukan orang yang suka marah-marah. Wajahnya penuh welas asih sehingga kita, muridnya, menjadi hormat padanya.

“Kalau saya lebih tinggi, 10 sentimeter saja, mungkin saya nggak di sini (sekolah—mengajar).”

Hening cukup panjang. Memang, kebiasaan di kelas Biologi seperti ini. Nggak ada yang berani menjawab. Sayup-sayup gue mendengar ada suara, “Jadi polisi!”

Beliau berkata, “Jadi model majalah.”

Temen-temen gue terdiam. Beberapa ada yang manggut-manggut. Gue malah antusias sendiri dalam hati sambil senyum-senyum, “Wih, keren! Gokil! Aseeek dah!”

Beliau menambahkan, “... majalah Trubus.”

Suasana kelas semakin sunyi. Gue malah ketawa bersama orang-orang yang ngerti apa itu majalah Trubus.

Majalah Trubus adalah majalah khusus tentang tanaman-tanaman dan pertanian. Gue memang belum pernah baca, tapi mendengar kata “Trubus” yang sudah identik dengan toko tanaman di daerah gue, gue nggak bisa berhenti ngelupain jokes “mau jadi model majalah Trubus”.

Hah, bisa-bisanya. Di balik wajahnya yang serius, bisa bercanda juga si Ibu.

Kalau lagi bete sama pelajaran, kira-kira apa yang kalian lakukan?
Read More »

Hingga saat ini, setelah lulus SMA, kepala gue masih dihujani pertanyaan: Mau lanjut ke mana setelah ini?

Lulus SMA bukanlah suatu hal yang bisa membuat gue tenang begitu saja. Setiap bangun pagi gue harus mengakrabkan diri pada kejenuhan. Tidak ada lagi uang saku, tidak ada lagi main-main. Semakin sadar bahwa semua tindakan harus dipikirkan matang-matang. Salah satunya adalah perihal pilihan jurusan kuliah.

Kata orang, salah jurusan berarti salah pilihan hidup. Hal itu menjadi salah satu alasan ketakutan bagi anak kelas 12. Bingung mau melangkah ke mana. Mau kerja, tapi nggak punya kemampuan khusus, terutama anak SMA yang memang belum punya keahlian seperti anak SMK. Menjadi anak kelas 12 berarti sering dihadapkan dengan ujian batin.

Pikiran gue mentok saat itu. Dalam pikiran gue, dibumbui rasa frustrasi, hanya orang yang pintar Matematika saja yang bisa sukses. Gue melihat nilai rapor dari semester satu sampai lima, hati gue berbisik, “Astagfirullah...”

Mata pelajaran yang perlu hitung-hitungan menjadi kelemahan. Padahal menurut cerita yang berkembang di masyarakat, sukses tidak melulu harus bisa pelajaran Matematika. Yang paling terpenting kita harus tahu apa potensi diri.

Sayangnya, selama ini gue nggak tahu apa potensi sendiri.

Dalam kondisi seperti ini, biasanya rapor dijadikan acuan. Lima semester di rapor gue, menurut dugaan, adalah hasil dari “nilai kasihan”. Rapor pun tidak memberi pencerahan atas masalah gue.

Sepetinya gue nggak sendirian. Banyak anak kelas 12 yang masih samar-samar akan potensi diri sebelum tahu apa jurusan kuliah pilihannya. Gue curiga, mungkin zaman dulu ada seorang anak SMA pintar, tetapi dia nakal dan suka ngomong kasar, lalu dikutuk Dewa, “Terkutuklah anak-anak kelas 12! Kalian semua akan buta potensi kalian!”

Lalu hingga saat ini, anak-anak kelas 12 lari ke guru BK untuk minta pertolongan.

Alih-alih mendapatkan jawaban atas kegelisahan, guru BK seringkali kurang optimal dalam memfasilitasi siswanya untuk menyelesaikan permasalahan. Alasan paling masuk akal adalah guru BK sudah lebih dahulu terbagi fokusnya. Bayangkan saja, misalnya, satu hari seorang guru BK melayani konsultasi sepuluh siswa. Belum lagi harus naik-turun tangga—kalau sekolahnya tingkat—untuk mengajar di kelas. Akhirnya yang terjadi adalah hilang fokus dan masalah nggak benar-benar terjawab.

Teman sekelas gue, Josua, pernah terkena imbasnya. Waktu itu, menjelang dibukanya jalur undangan masuk perguruan tinggi (SNMPTN), Josua menemui guru BK untuk konsultasi atas kegalauannya. Dia bingung dalam memilih jurusan. Kalau digambarkan secara personal, Josua adalah sosok yang ganteng, pintar, dan digilai banyak cewek. Sekalipun salah pilih jurusan, dia masih punya kesempatan buat jadi selebgram. Dia bingung mau pilih jurusan apa karena “kepinteran”, saking banyaknya pilihan. Kebalikannya dari Josua: gue nggak ganteng, nggak pinter-pinter amat, dan sering dikatain “gila” sama cewek-cewek.

Setelah dari ruang BK, gue tanya ke dia, “Gimana, Jo?” Maksud gue tanya begitu, gue mau tahu apa pilihan terbaik buat dia.

Dengan wajah kecewa, walaupun tetap ganteng, Josua mengadegankan konsultasinya tadi:

Josua: “Bu,” kata Josua, “saya mau konsul jurusan.”
Guru BK: “Iya, silakan.”

Josua cerita panjang lebar mengenai kegalauannya di depan guru BK. Lalu dia kembali pada ceritanya,

Josua: “Jadi, gimana, Bu, pilihannya buat saya?”
Guru BK: “Ya... yang sesuai aja sama kemampuan kamu.”

Sudah cerita panjang lebar hanya ditanggapi seperti itu. Josua mengakhiri ceritanya dengan bilang ke gue, “Nyesel, Rob.” Dia menambahkan, “Bukan itu jawaban yang gue harapkan.”

Gue sepertinya memaklumi guru BK itu. Bisa saja seharian ini dia sudah banyak melayani banyak siswa. Di lain sisi, Josua ingin mendapat jawaban yang cepat karena sebentar lagi pemilihan jurusan SNMPTN akan dimulai.

Kegelisahan akan pilihan jurusan kuliah sering menjadi percakapan seru buat gue dan Anezka, seorang teman blog. Kami sering bertukar pendapat dan cerita mengenai dunia kuliah dan potensi diri lewat WhatsApp. Dia sendiri, bilang, mau kuliah di Universitas Indonesia. Yang dekat-dekat aja, katanya.

Suatu hari, Anez, begitu nama panggilannya, mengenalkan gue pada sebuah website yang tidak pernah gue lupa sampai saat ini. Website yang sangat-sangat berguna bagi gue, dan orang-orang yang sedang bingung mencari potensi diri. Nama website itu adalah Youthmanual.

Youthmanual adalah start up yang bergerak di bidang pendidikan dan karier. Platform ini fokus sebagai konsultan persiapan kuliah dan karier dalam membantu pelajar dalam merencanakan dan merancang masa depan.



Awalnya gue tidak begitu mengerti dengan fitur-fitur yang dimiliki Youthmanual. Hanya berbekal peta perjalanan yang ada di tampilan awal setelah login, gue menelusuri semuanya yang ada di dalam Youthmanual.

Dalam peta perjalanan, terdapat banyak fitur yang tersedia. Kita diharuskan menyelesaikan secara berurutan sesuai nomor.

Kalau hijau artinya sudah dikerjakan. Lihat peta gue. Rajin, kan? Hehehe.

Fitur-fitur yang ada, saking kerennya, lebih baik kamu yang coba sendiri. Hehehe. Gue cuma mau ngejelasin hal-hal keren yang ada di Youthmanual, di antaranya:


1. Modul-modul yang keren
Modul kepribadian
Pada bagian ini, Youthmanual membantu mengenali kepribadianmu. Ini adalah langkah awal untuk Youthmanual mengarahkan kamu dalam perencanaan kuliah dan profesi. Kuncinya, isi modul kepribadian dengan jujur agar hasilnya sesuai dengan kepribadianmu. Bila kamu telah mengisi bagian maka sudah otomatis tersimpan.

Modul minat
Modul ini akan mengarahkan kamu pada minatmu di bidang apa. Kamu hanya perlu mengisi apa-apa saja kegiatan yang dapat kamu lakukan dengan baik, topik apa yang kamu minati, dan profesi yang diminati. Setelah itu kamu juga perlu mengisi modul tentang pelajaran yang dipahami dan sulit dipahami di sekolah.

Tenang, semua soalnya tinggal pilih dan klik. Kamu nggak perlu pusing-pusing mikirin jawaban dan takut bentuk soalnya essay.

Sebagai tambahan, modul minat akan berguna di bagian selanjutnya, seperti ekslplorasi profesi dan jurusan.


Modul kemampuan
Modul ini akan menentukan kecocokan untuk ke fitur Eksplor Jurusan. Sekilas mirip dengan tes-tes psikologi yang ada di sekolah. Namun, yang membedakan adalah modul Youthmanual ini bisa dikerjakan tidak sekaligus. Misalnya, kamu baru saja menyelesaikan modul minat. Kamu tidak harus sekaligus menyelesaikan modul kemampuan juga seperti yang biasanya dilakukan pada psikotes. Bisa dijeda beberapa waktu, asalkan jangan kelamaan. Ya, kalau kelamaan, kapan kamu bisa tahu hasil dari tes ini? Hehehe.



Itu adalah salah satu tes yang terdapat dalam modul kemampuan. Mirip dengan psikotes yang biasanya, kan?

Kunci dari menyelesaikan modul ini adalah dengan mengisi dengan serius dan jujur. Modul ini akan sangat berguna dalam menyarankan jurusan dan profesi apa yang nanti akan kamu pilih. Modul ini hanya dapat diisi sekali.


2. Cari jurusan keren jadi gampang
Mencari informasi tentang jurusan impian bisa lebih mudah dengan fitur Eksplorasi Jurusan. Fitur ini membantu calon mahasiswa dalam memilih jurusan, mengetahui prospek jurusan, dan informasi lainnya seputar jurusan. Di sini ada segudang informasi umum tentang sebuah jurusan.



Selain yang telah disebutkan di gambar, ada pula informasi pada fitur ini, di antaranya:

Karakter terkait: menjelaskan karakter seperti apa yang cocok dalam suatu jurusan
Artikel terkait: berisi artikel-artikel ringan tentang jurusan terkait. Isinya berupa pengalaman, informasi, sampai kiat-kiat.



Kerennya lagi, dalam fitur ini kita akan mendapat saran-saran untuk tetap mengambil suatu jurusan lewat kecocokan sesuai kemampuan, kecocokan sesuai minat, dan kecocokan jurusan sesuai keseluruhan yang isinya kesimpulan dari dua kecocokan sebelumnya. Youthmanual memberi saran tidak asal-asalan. Semuanya berdasarkan pengerjaan pada modul kemampuan.


3. Cari info profesi dengan cara keren
Di fitur Eksplorasi Jurusan kita bisa melihat kecocokan profesi berdasarkan minat dan bakat. Di dalamnya tersedia banyak informasi dari ratusan profesi.


Gue mengambil contoh dari profesi Creative Content Writer.



Youthmanual akan memberikan laporan berupa kecocokan profesi sesuai minat, kecocokan profesi sesuai kemampuan, dan kecocokan profesi secara keseluruhan berdasarkan modul kemampuan. Bagian itu akan menjadi acuan kamu dalam memilih profesi apa kelak.

Dalam fitur ini banyak banget profesi yang tersedia. Kita bisa tahu kecocokan sebuah profesi dengan kepribadian kita hanya dalam satu halaman. Selain itu, kita juga dijelaskan kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan yang dibutuhkan dalam suatu profesi. Fitur ini sangat membantu kita dalam proses pencarian kerja dan memulai karier.


4. Jalan-jalan di kampus seluruh Indonesia!
Dari semua fitur yang ada di Youthmanual, gue paling suka fitur Eksplorasi Kampus. Informasinya lengkap dibanding harus googling kampus satu per satu, tanya-tanya orang, atau harus ngedatengin ke kampusnya langsung. Dari Aceh ke Papua. Wow, mahal banget, kan.

Tinggal cari kampus apa yang kita mau.

Karena gue penasaran dengan salah satu kampus, bisa disebut kampus angan-angan, gue langsung kepoin informasi tentang kampus tersebut lewat fitur Eksplor Kampus di Youthmanual.

ITB: Inginku, anganku.

Kemudian ada informasi di dalam kampus.



Kalau kamu pernah merasakan pergi ke sebuah pameran kampus, nah, seperti itu rasanya. Tinggal klak-klik-klak-klik, kita bisa tahu informasi tentang kampus hingga informasi tentang mahasiswa dan alumninya.

Gue pernah punya pengalaman nggak mengenakkan ketika pergi ke sebuah pameran kampus di kota gue. Pada kesempatan itu, gue tidak menemukan kampus incaran gue. Gue tidak melihat stand dengan logo kampus idaman gue di sana. Alhasil, gue kecewa dan akhirnya pergi ke stand kampus lain. Ngambilin suvenir.

Sekarang, nggak perlu lagi jauh-jauh pergi ke pameran. Cukup dengan fitur Eksplorasi Jurusan, semua jurusan tereksplorasi.


5. Tahu gambaran diri
Seperti tes psikologi lainnya, Youthmanual juga memberikan laporan hasil tes-tes kamu dari modul sebelumnya. Dalam Personal value dijelaskan tiga nilai kehidupan yang ada dalam diri kita. Nilai-nilai itu adalah gambaran diri sesuai dari apa yang kita isi pada bagian Personal value. Selain bisa jadi tahu bagaimana gue selama ini, gue jadi punya semangat untuk mempertahankan nilai-nilai hasil analisis tim Youthmanual.



Lalu, ada fitur yang menjelaskan bagaimana gaya belajar yang pas untuk membantu kamu belajar lebih efektif. Fitur ini terdapat pada peta perjalanan yang berikon kotak harta karun. Bila ikon itu diklik maka akan muncul seperti apa gaya belajar yang sesuai dengan karakter kamu.

Bila kamu lihat lagi di peta perjalanan, ada dua ikon yang digembok. Itu bukannya lagi dikunci sama yang punya rumah (ya masa begitu?), tapi itu adalah fitur “Tanya Youthmanual” dan “Keterampilan 21st Century” yang memang belum dirilis. Fitur Tanya Youthmanual adalah fitur yang memungkinkan kita untuk bertanya sepuasnya mengenai persiapan kuliah, sedangkan Keterampilan 21st Century adalah fitur yang mempersiapkan kita menghadapi abad 21—era yang serba dikerjakan oleh robot.

Kabarnya, kedua fitur ini akan hadir bulan Juni 2017. Hanya dengan menggunakan Youthmanual Premium seharga Rp79.000,00, kamu bisa mendapatkan pelayanan terbaik. Rasanya seperti punya konsultan karier pribadi, deh.

Mantap!

Kabar gembira (lagi): kamu bisa mendapatkan potongan harga 10 persen bila memasukkan kode referral KEJARMIMPI10 untuk mendapatkan akses ke paket Explorer. Harganya terjangkau bagi pelajar dan kualitas superkeren bikin Youthmanual nggak diragukan lagi buat ngasih informasi perencanaan kuliahmu. Mengenal diri dan mengejar mimpi jadi terbantu oleh adanya Youthmanual.

Mantap part dua!

Ada hal yang sama pentingnya selain perencanaan kuliah, yaitu persiapan alat tempur dalam dunia perkuliahan. Berdasarkan pengalaman selama SMA, gue merasa sangat terbantu dengan adanya laptop. Apalagi nanti saat masuk dunia perkuliahan, tugas-tugas seperti membuat presentasi, makalah, hingga skripsi harus cepat diselesaikan. Semuanya akan lebih mudah dikerjakan dengan komputer.

Karena komputer nggak bisa dibawa ke mana-mana, pilihan gue jatuh pada notebook atau laptop. Gue dikasih trik dalam membeli produk: pilihlah merek yang sudah banyak penggunanya dan punya kesan bagus. Kayak kenalan sama seseorang, kita jadi semakin nyaman bila sudah banyak omongan “Si itu orangnya baik, lho” tentang orang tersebut. Maka, Acer bisa menjadi pilihan sebagai penunjang kuliah.

Gue sendiri berimpian punya notebook. Alasannya: gue nggak butuh fitur yang ribet-ribet banget. Buat gaming, programming, hacking, rice cooking, dan segala macamnya. Cukup untuk ngetik, bikin presentasi, dan browsing. Lagipula, notebook lebih ringan daripada laptop.

Acer sendiri punya notebook yang keren banget buat anak kuliahan. Namanya Acer Aspire E5-473.



Notebook ini punya desain yang stylish dengan enam pilihan warna, seperti cotton white, charcoal gray, ocean blue, denim blue, coral pink, dan. Selain pilihan warna yang keren-keren, Aspire E5-473 punya performa tangguh buat mendukung aktivitas kuliah hingga hiburan. Dilengkapi prosesor Intel 5th Gen (Broadwell) yang lengkap, mulai dari Core i3, Core i5 dan Core i7.

Gue juga pengin punya notebook yang tangguh untuk keperluan desain. Meskipun gue nggak ngerti desain, tetapi gue butuh software-software untuk membuat gambar pelengkap tulisan di blog. Notebook ini bisa jadi jawaban atas keinginan gue. Karena Acer juga menyematkan NVIDIA GeForce 920M/940M dengan dedicated memory sebesar 2GB DDR3 yang menjadikan desain lebih keren dan mendukung kinerja grafis lebih baik.

Kerennya lagi dari notebook ini adalah adanya Acer Bluelight Shield, yaitu teknologi terbaru dari Acer untuk mengurangi emisi cahaya biru dari layar LCD yang menyebabkan risiko Computer Vision Syndrome, seperti mata cepat lelah dan mata kering. Kini, gue nggak perlu khawatir mata jadi rusak karena kelamaan menatap layar dalam jangka waktu yang lama. Mau ngerjain tugas atau nulis blog lama-lama? Hayuklah!

Acer Aspire E5-473 cocok menjadi senjata andalan menghadapi dunia perkuliahan. Ngerjain tugas sekarang terbantu dengan adanya Acer Aspire E5-473, notebook-nya anak kuliahan. Juga mengenai potensi diri tidak perlu bingung. Tidak kenal potensi bukan lagi kutukan bersama Youthmanual.
Read More »

Adanya asap membuat kita tahu akan kondisi di sebuah tempat. Asap yang membumbung tinggi di langit menandakan adanya kebakaran (atau orang bakar sampah?). Asap yang disertai kumpulan orang beramai-ramai juga salah satu tandanya. Lain halnya bila ada asap, orang ramai-ramai, ditambah ada aroma sedap... itu orang lagi nyate.

Gue paling payah ketika ketemu asap. Di angkot, kalau ada orang yang ngerokok, gue menyelamatkan diri dengan cara nongolin kepala ke jendela. Sama halnya sewaktu dibonceng motor, pas di depan gue ada bus metromini atau kopaja. Gue bakal bengek-bengek. Ada kalanya gue ngerasain takut berlebih ketika berhadapan dengan asap. Apakah ada nama phobia terhadap asap?

Sampai pada suatu hari, gue berhasil melawan ketakutan gue akan asap.

Tidak bisa dimungkiri, nggak jarang anak jurusan IPA melakukan kegiatan di laboratorium. Gue, sebagai anak IPA yang nggak IPA-IPA banget, sebenarnya suka berada dalam ruangan ini. Berada di laboratorium membuat gue merasa keren. Cita-cita yang selama ini cuma bisa gue tonton di film akhirnya tercapai. Yes! Akhirnya bisa pake jas laboratorium, pikir gue.

Di laboratorium, sudah pasti kita akan bertemu bahan-bahan kimia. Saat praktikum mata pelajaran Kimia, kita akan dihadapkan dengan larutan-larutan yang sifatnya beragam. Ada yang efeknya cuma sebatas bikin kulit gatel, sampai ada yang bikin kulit terkelupas. Meskipun banyak hal-hal berbahaya, gue tetap senang berada di laboratorium.



Ekstrakurikuler pilihan gue juga nggak jauh-jauh dari praktikum, yaitu Kelompok Ilmiah Remaja (KIR). KIR sendiri adalah ekskul yang di mata anak SMA sebagai ekskul “anak IPA banget” karena kerjaannya penelitian mulu. Padahal, nggak selalu. Teman-teman gue di KIR malah lebih banyak yang anak IPS. Lebih jauh lagi, organisasi yang gue ikuti di luar sekolah, KIR Jakarta Barat (Kibar), punya ketua yang juara lomba karya tulis datangnya dari anak IPS. Jadi, “ekskul KIR adalah ekskulnya anak IPA” adalah anggapan yang keliru. Malah, anak IPA banyak yang nggak milih ekskul, kok.

Kembali lagi pada kehidupan di laboratorium.

Sayangnya, rasa tertarik gue terhadap dunia laboratorium sedikit bertolak belakang dengan pengetahuan gue akan bahan-bahan kimia. Gue nggak kenal betul dengan bahan-bahan kimia makanya nggak banyak ikut campur setiap ada praktikum. Kegiatan bermain-main dengan larutan dan pencampuran seperti ini jarang gue lakukan dengan tepat sendirian. Terakhir kali ngelakuin di rumah, gue bikin kopi item jadinya pahit banget.

Gue nggak hafal bahan atau larutan apa saja yang sifatnya korosif, eksplosif, primitif. Karena ketakutan itulah membuat gue ragu untuk melakukan percobaan dengan bahan-bahan kimia. Kalau sedang ada praktikum, gue paling bersyukur kalau praktiknya kelompokan. Kalau sendiri, gue nyerah.

Suatu hari gue mengikuti ekskul, saat gue kelas 11. Jadwal hari itu adalah eksperimen sederhana, yang kita tiru dari internet. Maka, kami semua, kelas 10 dan kelas 11, beramai-ramai ke laboratorium. Eksperimen di kelas sangatlah nggak mungkin. Bisa-bisa merusak fasilitas kelas. Nggak enak aja kalau praktikum di kelas, besoknya ada anak murid ngelapor ke gurunya, “Bu, kok ada bau gosong nggak ilang-ilang, ya?”

Asyiknya (dan curangnya) jadi anak kelas 11 di ekskul adalah kita nggak terlalu aktif buat ngejalanin kegiatan. Hampir semua kegiatan dilakukan oleh kelas 10. Kelas 11, karena kelas 12 sudah sibuk persiapan UN, cuma ngarahin adik kelasnya. Bila pengertiannya seperti itu, bagi gue menjadi: “ngarahin adik kelas” artinya sama dengan “nyuruh-nyuruh sambil mandorin”.

Teman-teman gue sedang memantau anak kelas 10. Gue duduk sendirian di lantai yang lebih tinggi dari permukaan ruangan ini, main hape. Kehadiran gue semakin memperjelas bahwa anak kelas 11 songong-songong. Bukannya bantuin atau apa, gue cuma komenin.

“Nggak, harusnya begitu.”

“Tambahin dikit airnya biar bereaksi.”

“Woy, siapa, nih, yang kentut!?”

Anak kelas 10 layak protes terhadap sikap gue ini.

Sedangkan di sana, anak kelas 10 sedang asyik melakukan percobaan “pasta gigi gajah” Untuk yang belum tahu seperti apa percobaannya, kira-kira begini.


Setelah selesai praktikum, seorang adik kelas bilang, “Bau apa, ya?”

Khasnya dari laboratorium adalah nuansa pengap. Nggak tau ini cuma di sekolah gue atau memang semua begitu. Semakin diperparah karena kipas angin tidak menyala. Gerah. Bau yang baru muncul membuat suasana seperti di ruang spa, tapi tanpa aromamaterapi, melainkan bau menyengat. Bau itu semakin lama semakin kuat, hingga seseorang dari kami menyadari ada asap muncul dari kotak tanpa tutup yang berisi botol-botol larutan kimia. Kami semua penasaran dicampur khawatir untuk mengetahui asap apa sebenarnya itu. Apakah ada jin baru saja keluar dari botol itu?

Asap yang kami hirup sedikit-banyak mengurangi tingkat kecerdasan masing-masing. Orang-orang yang sedang praktikum, karena kebanyakan cewek, jadi semakin panik. Paniknya diperparah dengan nada-nada kecemasan, “Ih, itu apa? Itu apa?!” Sudah bisa ditebak: cewek melihat asap = PANIK!

Bisa juga: cewek melihat asap = Terhipnotis. Itu di acaranya Uya Kuya.

Tiba-tiba ada yang merasuki diri gue. Jiwa pemadam kebakaran gue terpanggil. Gue yang sejak pagi belum beraksi, mengambil langkah ke depan. Dengan gagah berani gue samperin kotak itu. Teman gue, Syaiful, yang juga ketua ekskul, entah pergi ke mana. Kampret memang. Tidak banyak lelaki di ruangan ini. Cuma empat, dan tiga di antaranya panik. Sepertinya cewek-cewek di sini sudah mendukung penuh para lelaki untuk bertindak.

Gue langsung mengangkat dan memindahkan botol-botol sendirian. Karena tersulut emosi, gue marah-marah sendiri, “Woy, ini nggak ada yang bantuin gue apa?!”

Temen-temen gue pada keluar ruangan. Bijik!

Gue masih sibuk mindah-mindahin botol, mencari sebab utama munculnya asap. Secara akal sehat, munculnya asap karena ada api. Dan, kalau ada api, apalagi ini banyak bahan-bahan mudah terbakar, berpeluang besar terjadinya kebakaran. Oh, gue harus apa lagi? Tiba-tiba pundak gue merasa ditepuk guru Kimia, sekaligus pengawas lab, yang sudah pensiun tahun lalu, sambil berbisik, “Nak, kamulah harapan kita satu-satunya.”

Rasanya semakin panas. Tanpa memakai pelindung apa pun, hanya baju seragam koko saja, gue tetap memindahkan botol-botol itu ke tempat yang aman. Saat ini gue masih bersyukur karena baju gue berlengan panjang. Tapi, ini kenapa udah nyampe pergelangan aja, ya, baju gue? Anjir, jadi kekecilan. Kenapa sempet-sempetnya mikirin baju yang makin mengecil? Selamatkan nasib lab ini!

Botol-botol berbahan plastik sudah terpisah dari kotak. Tinggal satu lagi, yaitu botol kaca. Botol itu berada di ujung, dekat sumber di mana asap itu berasal, susah banget ngambilnya. Gue juga harus hati-hati buat memindahkannya. Asap semakin mengepul, sebagiannya masuk ke tenggorokan gue. Karena semakin panik, gue teriak-teriak minta pertolongan, “KAYU! CARIIN KAYU!”

Kayu berhasil didapatkan. Ternyata masih ada yang peduli. Dia, cowok, adik kelas gue, ikut bantuin gue. Sedangkan temen-temen gue? Nggak tau deh masih peduli atau nggak di luar.

Kotak kayu itu sebagian sisinya hangus. Entahlah karena apa. Padahal, nggak ada api di sana. Menurut dugaan gue, ada larutan kimia yang tadi dipakai lupa ditutup rapat, lalu tumpah ke kotak berbahan kayu. Kebetulan, larutan yang tumpah itu bisa bikin kayu hangus dan menimbulkan asap. Dari mana gue tahu? Ya, nebak-nebak aja. Gue mana ngerti larutan kimia, sih!

Kotak tadi akhirnya disiram untuk meredakan asapnya. Hanya sedikit gosong di bagian belakang sampai bawah. Gue masih bersyukur botol-botol larutan tadi bisa selamat. Jika saja semua botol rusak dan larutannya tumpah, bisa-bisa kami disuruh ganti dan harganya pasti mahal.

Gue mencari udara segar di luar lab. Teman-teman gue kembali ke lab sambil ketawa-ketawa.

Awas kalian!

---


P.S: Cerita ini gue tulis saat lagi kangen-kangennya sekolah dan kegiatan lain di dalamnya. Sambil ngeliat foto-fotonya di laptop, gue nemu foto ini. Diambil pas pengumuman kelulusan, terus ditambah keisengan, gue edit-edit sampai nggak tidur sebelum sahur. Hehehe.


Read More »

"Aku suka BDSM: beribadah, dakwah, salat, mengaji; apalagi ketika bulan puasa."

Kalimat itu muncul dari Icha Hairunnisa di grup chat WIRDY. Tentunya gue ngangguk-ngangguk setelah bacanya, sambil bergumam, “Ngomong apaan, sih, ini orang?”

Dia bilang BDSM punya arti yang sebenarnya, yaitu... SILAKAN GOOGLING SENDIRI. Muahaha. Gue ragu buat nyari tau. Berdasarkan pengalaman selama kenal dia, apa-apa yang dia tau itu aneh-aneh. Kalau gue nekat buat nyari tahu, tetep aja nggak akan ngerti. Salah satu contohnya adalah rekomendasi film yang gue nggak paham. Huhuhu.

Coba cari, ya. Kalau udah tau, tulis di kolom komentar.


Itu BDSM versi dia. Kalau versi gue, mengingat kini sudah masuk bulan Ramadan, artinya berubah: Berbahagia Dan Sangat Menantikan.

(Agak maksa, sih. Emangnya “dan” itu boleh ditulis kapital [huruf besar] selain di awal kalimat? Hehehe.)

Kita pasti punya alasan kenapa sangat menantikan Ramadan.

Ada yang senang karena bisa ketemu banyak makanan enak. Ada yang senang karena bisa ketemu keluarga. Dan masih banyak alasan yang berbeda-beda.

Sejak kecil, gue sudah terbiasa untuk—minimal—bahagia dalam menyambut Ramadan. Gue berusaha menumbuhkan kebahagiaan sekecil apa pun dalam hati ini. Meskipun kebahagiaan itu bentuknya sangat sederhana, sesederhana dibayarin main Winning Eleven di rental PS2. Walaupun, pulang-pulang puasa gue batal karena nggak sengaja makan buah markisa.

Buahnya nggak terlalu besar. Kecil. Cuma segede kemiri. Sekarang, setelah mengerti sedikit tentang buah-buahan, gue benar-benar merasa kotor karena makan buah yang belum matang itu. Sampai di rumah gue cerita ke Mama. Mengetahui sebab gue batal puasa, Mama ngomel, “Ih, itu, kan, makanan ulet. Kenapa batal cuma karena makanan kecil, apalagi itu bukan makanan manusia?!”

Aku hina. Kenyang nggak, puasa batal.

Padahal, itu pun gue nggak sengaja. Teman gue yang membuat gue tergoda untuk ikutan makan. Dedi bilang, “Itu apaan, tuh?” Lalu dia mengendus buah yang baru saja dia petik (jangan membayangkan anjing saat melacak). Dia menjilati buah kecil itu. Ryan, teman gue yang lain, ikut-ikutan metik buah laknat itu. Dia nawarin ke gue, dan tanpa mengingat waktu itu sedang berpuasa gue menerimanya. Memasukannya ke mulut dan merasakan buah itu. Rasanya pahit.

YA LAGIAN BUAH PENTIL GITU DIMAKAN.

Karena kepalang tanggung, gue batalin aja sekalian. Jajan kacang atom di warung dekat rumah. Kata guru ngaji gue nggak apa kalau makan tanpa sadar. Lah, gue malah diterusin batalnya. Emang udah niat kali, yak.

Itu salah satu pengalaman gue batal puasa. Selebihnya: karena laper (biasalah namanya anak-anak) dan sok-sokan main bola siang-siang.

Tetapi, gue janji pada diri gue buat lebih baik tahun depan.

Gue bertekad untuk terus memperbaiki apa yang kurang di Ramadan tahun ini. Bagi gue, Ramadan adalah sarana menempa dan memperbaiki, sekaligus meningkatkan kualitas ibadah kita.

Kilas balik selama satu tahun ini. Gue merasakan periode 2017 adalah masa-masa berat bagi gue. Dimulai dari ketemu hal-hal nggak enak pas kelas 12: ujian, tekanan nilai rapor, takut nggak lulus; ketakutan akan kelanjutan studi selanjutnya; dan kegagalan mendapatkan apa yang gue inginkan di umur 17. Umur yang katanya ambisi dan keinginan sedang membara, tetapi rapuh dan gampang kecewa bila gagal.

Setelah capek sok tegar buat ngadepin sendiri, akhirnya gue kembali sadar pada kodratnya manusia, bahwa kita hanyalah makhluk yang kecil dan lemah. Semakin dewasa, kita semakin sering merasa gagal dan kecewa. Namun, bukan karena itu kita langsung nyerah buat ngejar apa yang kita mau.

Ramadan tahun ini sangat gue harapkan bisa menjadi momen emas untuk memperbaiki diri dan mengevaluasi apa yang kurang dari bulan-bulan sebelumnya. Makanya, gue bahagia dan sangat menantikan datangnya Ramadan untuk mencari keberkahan sebanyak-banyaknya.

--

Entri ini ditulis dalam rangka proyekan WIRDY, yaitu membuka tulisan dengan kalimat “Aku suka BDSM: beribadah, dakwah, salat, mengaji; apalagi ketika bulan puasa”, lalu dikembangkan menjadi tulisan yang sesuka hatinya. Lihat aja gue, cuma kayak tempelan doang. Hahaha.

Baca juga tulisan BDSM lainnya: punya Icha di sini: cerpennya Yoga Gadis Macan; dan kerinduannya Wulan.

Siapa pun bisa ikutan buat ngeramein dasbor blog. Buat yang mau ikutan, silakan baca rulesnya di blognya Yoga Akbar.
Read More »

Saat ini, kegiatan sehari-hari gue habiskan di rumah. Penuh kejenuhan, tanpa pekerjaan yang benar-benar bikin capek. Dulu, semasa sekolah, gue sering dihadapkan dengan aktivitas yang menguras keringat, seperti jalan cepat biar bisa naik bus sekolah, lari biar nggak telat masuk sekolah, ngejar teman terus nepok pundaknya dari belakang, dan nungguin hasil ulangan. Percayalah, kegiatan terakhir itu selalu bikin keringetan dan penasaran, “Minggu ini remedial nggak, ya?” Setelah gue ingat-ingat lagi, ulangan harian gue yang tuntas itu terhitung jari. Parah emang, remedial mulu.

Sekarang hidup gue kayak bintang laut: nempel mulu. Di kasur. Selain itu, kerjaan gue yang lain adalah nyentil kunciran keponakan, bukain kulkas setiap sejam sekali, baca buku, dan latihan soal. Gue kurang gerak. Pokoknya benar-benar kangen masa-masa berkeringat itu.

Agar fungsi organ ekskresi tetap seimbang, gue memutuskan untuk bersepeda sebagai aktivitas berkeringat pengganti olahraga berat. Misalnya, smackdown.

Manggul, Bang.


Sudah rutin setiap sore gue bersepeda selama tiga puluh menit. Setelahnya memang badan gue jadi agak enakan. Kalau lagi beruntung, malamnya gue akan tidur pulas. Sementara, bila sedang bernasib sial—ini paling sering terjadi—mengakibatkan susah tidur karena ngerasain kaki pegel-pegel. Hal ini sering gue lakukan, seperti yang pernah gue ceritakan di e-book Kafe WIRDY.

Sepedaan dengan cara gue sangat menyenangkan. Selama tiga puluh menit, gue bisa paling sedikit menyanyikan empat lagu yang gue hafal. Nyanyi sambil bersepeda itu seru bagi gue. Orang-orang di sekitar nggak ada yang peduli, nggak ada yang merhatiin. Walaupun tidak menutup kemungkinan bila ternyata ada Mas Ahmad Dhani ngintilin gue, dalam proses pencarian bakat untuk ngajak gabung Republik Cinta Management.

“Namu kamu siapa, Dek? Saya denger dari belakang, suara kamu bagus banget. Saya nggak nyangka, kamu sanggup sepedaan sambil nyanyi semua album Dewa 19 dari Jakarta ke Trenggalek.”

Sambil nyanyi, kadang gue merhatiin jalan-jalan yang gue lewati. Terus bergumam, “Indomaret baru, nih. Besok ke sini, ah!” Gue perhatikan setiap tempat baru dan melihat wajah para pengendara di jalan. Dari kebiasaan itulah gue menemukan hal-hal yang sebenarnya biasa, tapi entah kenapa malah gue jadiin postingan blog. Yaudahlah, udah terlanjur ditulis. Hahaha.



Macet
Jakarta dan macet ibarat seperti semen dan pasir laut. Keduanya sama-sama menjadi bahan utama pembangun: semen dan pasir laut adalah bahan pembangun rumah, sedangkan Jakarta dan macet adalah kombinasi dalam membuat ORANG JADI STRES!

sumber gambar: starecat.com

Sebenarnya masalah seperti ini bukan hanya ada di Jakarta, melainkan di kota-kota lain. Dan kita, mau nggak mau emang harus siap. Jadi, gimana caranya kita biar nggak tertekan di jalan karena macet.

Kebiasaan yang sering gue lakukan ketika bersepeda terbukti ampuh dalam menjaga mood di jalan. Menyanyi membuat gue nggak stres-stres amat saat macet, dibandingkan ketika gue mengerjakan soal Fisika sambil sepedaan.

Cuma, yang jadi masalah, kenapa ada tipe knalpot yang ngeluarin asap banyak banget? Sebel banget gue kalo lagi sepedaan, di depan gue ada motor yang asepnya tebel banget, kayak bus kopaja atau metromini. Mumpung lagi deket, kadang gue iseng nutupin knalpotnya pake kaki. Sudah selayaknya kamu mendapatkan ini, Bos!

Memang, gue nggak pernah lama nutupin knalpot orang. Paling dua detik. Panas!


Bertemu Orang Lama
Waktu berlalu kian cepat.

Gue sekarang sudah lulus, orang-orang yang gue kenal semakin banyak. Teman-teman yang udah lama banget nggak ketemu, hanya samar-samar gue ingat mukanya. Begitu ketemu orangnya dan melihat mukanya, dalam benak gue, “Perasaan kenal. Siapa ya?”

sumber gambar: giphy.com

Eh, disamber Ibu Susi: “Aduh bodohnya masa nanya lagi. Makanya makan ikan biar pintar.”

Persislah kayak orang pake masker manggil-manggil nama gue. Mau nyapa balik, tapi nggak ngenalin mukanya.

Gue punya kecenderungan mengenal seseorang dari namanya ketimbang wajahnya. Gue nggak inget muka temen TK gue kayak apa dulu, tetapi beberapa waktu yang lalu gue nemu akun Facebook-nya dari mengingat namanya. Bahkan, masih hafal betul nama lengkapnya. Gue melihat fotonya dan mengingat momen-momen dua belas tahun lalu, mengingat mukanya saat itu.

Ah, nggak ingat.

Tapi sore itu, kecenderungan itu nggak benar-benar berlaku. Di jalan yang sedang macet, gue ketemu Erma, adik kelas di SMP. Dulu, waktu awal-awal kenal dan sering chatting, gue belum pernah ketemu dia sebelumnya. Gue hanya kenal dia lewat Blackberry Messenger. Gue kenal dia dari... entahlah. Tiba-tiba nama dia ada di kontak gue.

Zaman itu adalah zaman di saat gue baru punya aplikasi Blackberry Messenger. Karena di kontak nggak banyak nama yang ada, gue suka meng-invite pin-pin yang gue dapat dari broadcast message. Mau kenal atau nggak, gue invite aja. Hahaha.

Cuma foto aja yang bisa mencirikan “Erma itu orangnya yang ini, lho”. Gue nggak pernah benar-benar tau orangnya kayak apa. Itu pun bisa saja, foto yang dia pakai di display picture adalah foto kakaknya.

Dia sedang dibonceng motor. Sebenarnya ini bukan kali pertama gue ketemu dia. Beberapa kali gue ketemu dia hanya sekilas. Lucunya, pertemuan itu selalu terjadi di saat gue bersepeda. Kalau kehidupan gue dijadikan jalan cerita seperti dalam game Harvest Moon yang penuh misteri, karakter gue akan menjadi bahan pembicaraan di forum-forum karena misteri ini.

Petunjuk untuk menemui Erma di jalan: Bersepedalah kamu pada sore hari hingga menjelang Magrib. Maka kamu akan menemukan sesuatu yang ajaib!

Yang jelas ini bukan kali pertama, kedua, dan ketiga gue ketemu dia. Namun, tetap saja gue masih nggak berani negur dia, dan teman-teman lama yang kebetulan bertemu di jalan.



Orang berantem di jalan
Apakah orang-orang yang berantem di jalan adalah efek dari macet?

Sering nggak, sih, nemuin orang-orang yang tanpa mikirin di mana dia saat itu, dengan pedenya, cekcok dengan orang lain di jalan? Uniknya, kasus berantem di jalan paling sering ditemui dalam bentuk “adu bacot”, bukan gulat sumo.

sumber: giphy.com


Contoh kecilnya adalah seperti ilustrasi di bawah ini:

Kamu sedang mengendarai motor, ingin berbelok. Di belakang kamu, seseorang memacu motornya dengan cepat tidak melihat kamu berbelok. Ternyata, lampu sen kamu mati. Orang tadi sangat kesal , lalu membunyikan klakson dengan keras, bahkan mengganggu. Bunyinya “telolet” yang cukup panjang. Setelah adegan sepersekian detik tadi, perjalanan menjadi seperti biasa: kamu berbelok dan orang tadi tetap lurus.

Apa yang terjadi? Kalian sama-sama menggerutu di balik helm dan menoleh satu sama lain, namun sama-sama sudah menjauh.

“Buangsat, klakson ganggu banget!” gusar kamu.

“Goblok, sennya nggak nyala!” katanya jauh di sana.

“Yak, lanjutin aja, lanjutin,” kata gue sambil melet.

Kemudian contoh makronya adalah adu bacot face on face. Paling sering yang gue lihat pelakunya adalah dua orang lawan jenis. Adegannya selalu hampir mirip. Cuma ada beberapa yang membedakan. Propertinya selalu sama: cowok dan cewek, satu motor distandarin, berdiri di pinggir jalan.

Contoh paling baru gue temui kemarin. Gue sedang sepedaan sambil bersenandung dari kejauhan, melihat dua orang lawan jenis adu mulut. Si cowok narik-narik maksa tangan ceweknya. Ceweknya kelihatan mau kabur. Mukanya mau nangis dicampur rasa marah. Namun, si cowok terus menerus mencegat. Karena nggak mungkin sedang main gobak sodor, gue menyimpulkan mereka sedang berantem.

Ada keinginan gue untuk menolong si cewek. Biasalah, naluri lelaki. Selalu ingin dianggap pahlawan.

Dari jauh gue sudah cepat merencanakan strategi membebaskan si cewek dari kekangan cowoknya. Gue pernah lihat ini di adegan Descendants of the Sun. Saat itu Kapten Yoo Si Jin, si jagoan di film ini, berhadapan dengan lawannya yang sedang menyandera pacarnya. Gue lupakan adegan itu karena nggak sedang megang senjata, cuma ada sepeda. Masa iya gue dateng-dateng teriak, “Hei, lelaki bajingan. Berani-beraninya kamu menyakiti wanita. Akan kulempar kamu pake sepeda!”

“Tapi, tunggu dulu,” kata gue menghentikan. “Sebutkan nama-nama ikan.”

Untungnya, gue bukan tipe lelaki yang sering ngumpulin kata-kata romantis. Masa iya gue ujug-ujug teriak, “Hei, lelaki bajingan. Berani-beraninya kamu menyakiti wanita. Akan kuberi kamu... sajak Zarry Hendrik. Tunggu saya stalk Twitternya dulu.”

APAAN. INI MAU NOLONGIN MALAH NGALOR NGIDUL?!

Gue masih ngelihatin si cewek, prihatin dengan nasibnya. Tatapan gue pindah ke cowoknya. Lebih serius dan semakin serius. Dia menatap gue balik. Satu langkah dalam adegan jagoan-nyelametin-sandera sudah dilakukan: tatap-tatapan antara dua lelaki macho.

Sekarang matanya lebih melotot. Makin serem, kayak orang kelaperan.

LAH WOY, GALAKAN DIA!

Gue buru-buru nunduk dan mengayuh pedal dengan cepat. Kabur. Jauh-jauh deh mendingan.

Contoh yang lebih ekstrim dari dua pasangan yang berantem di pinggir jalan juga pernah gue lihat sewaktu di angkot. Gue menengok dari jendela, seorang cewek berusia dua puluhan menjerit-jerit gara-gara si cowoknya... MAU NABRAK-NABRAKIN MOTOR KE DIA.

Sinting. Bener-bener sinting.

--

Di era yang serba mesin ini, apakah kamu masih suka sepedaan sekarang? Kuy sepedaan.
Read More »