14 April 2018

Assalamu'alaykum.



Hidup mahasiswa!
Hidup rakyat Indonesia!
Hidup pendidikan Indonesia!



Pada hari Sabtu, 14 April 2018 saya mengikuti agenda Pra Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Fakultas (PKMF) MIPA di Gedung KH. Hasyim Asy'ari Kampus A UNJ ruang 203-204. Presensi peserta dibuka pukul 12.36.


Acara ini dipandu oleh Kak Mahbub Al-Haqi (Kimia 2016). PKMF MIPA 2018 memiliki tema "FMIPA KITA: Kreatif, Aktif, dan Inisiatif". Sebagaimana acara-acara di UNJ, yang diplesetkan menjadi Universitas Negeri Jargon, acara PKMF MIPA memiliki jargon: "berpikir kreatif, bergerak aktif, kami pemuda inisiatif." Sebuah kalimat yang cukup menggugah bagi saya.


Acara dibuka dengan mengucap lafaz ta'awuz, basmallah, dan sholawat. Selanjutnya tilawah Quran oleh saya sendiri. Kemudian sambutan dari ketua pelaksana PKMF MIPA 2018 oleh Kak Muhammad Fahry Arrasyid (Kimia 2016). Dalam sambutannya, Kak Fahry berharap pada peserta agar mengikuti seluruh rangkaian agenda PKMF. "Memang awalnya akan terasa berat, tapi akan memberikan manfaat selanjutnya," ujar Kak Fahry.


Sebelum masuk ke acara selanjutnya, Kak Mahbub mengajak peserta berinteraksi dengan menyebutkan apa alasan mengikuti PKMF MIPA 2018. Pada sesi ini saya ikut maju menyampaikan. Saya mengatakan bahwa mengikuti PKM FMIPA adalah kebutuhan.


"Pandangan pertama saya akan PKMF adalah ini bukan acara biasa, tetapi sebuah kebutuhan," ungkap saya bersemangat. Karena saya menyadari, dari acara ini banyak sekali muncul orang-orang yang kelak akan pemegang amanah di kampus. 


Pada Pra PKMF ini, terdapat satu materi bertema "Urgensi Kaderisasi". Materi disampaikan oleh Kak Solin Nurdin (Fakultas Ekonomi UNJ) dan dimoderatori oleh Kak Rifani Susanto (Pendidikan Fisika 2016). Sebelum memulai materi, Kak Nurdin mengajak peserta untuk melakukan icebreaking. Beragam permainan konsentrasi diberikan agar menguji konsentrasi peserta.


Materi dibuka dengan sebuah pertanyaan: "Apa itu kaderisasi?" Hampir semua orang yang berkecimpung di organisasi sepertinya mengetahui kata ini. Beberapa orang menyampaikan pendapat mengenai apa itu kaderisasi.


"Kaderisasi adalah suatu proses, cara, perbuatan mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader," jelas Kak Nurdin. "Sedangkan pengertian kader adalah orang-orang yang diharapkan dalam organisasi untuk meneruskan perjuangan."


Landasan dasar dalam kaderisasi adalah surat An-Nisa ayat 9.

"Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 9)


Pimpinan yang hebat akan selalu menyiapkan kader untuk meneruskan amanahnya di suatu organisasi. Bukanlah dia yang menginginkan amanah itu digenggam selama mungkin. Melalui pesan ini, dapat disimpulkan bahwa setiap masa memiliki pimpinannya.


Kak Nurdin menyampaikan, tugas kaderisasi di antaranya adalah pembentukan, penjagaan, pengembangan, dan pewarisan.


Pelatihan-pelatihan seperti PKMF pun termasuk dalam kegiatan kaderisasi. Pelatihan seperti ini berfungsi sebagai pewarisan nilai-nilai organisasi, penjamin keberlangsungan organisasi, dan sarana belajar bagi anggota.


Menjelang akhir penyampaian materi, Kak Solin memberikan pesan bahwa setiap kita adalah seorang pengkader. Keberhasilan dalam pengkader adalah berhasil mengajak orang-orang, minimal untuk mengikuti kegiatan pengkaderan seperti PKMF ini. Tingkat keberhasilan selanjutnya adalah, selain mengajak, kita ikut serta dalam kegiatan itu. Naik ke tingkat tertinggi, yaitu ketika kita menjadi pembicara dan benar-benar serius dalam mengkader.


Kaderisasi bukannya tanpa tantangan dan kendala. Kak Nurdin menyebutkan beberapa tantangan dalam kaderisasi, antara lain: pengkaderan yang monoton dan kurang peka terhadap tantangan zaman, beberapa pengkader belum memahami betul apa itu kaderisasi, kuantitas kader yang menipis atau krisis kader, dan kejenuhan dalam kaderisasi.


Kak Nurdin memberikan pesan bahwa pengkader harus memiliki modal ikhlas. Perannya yang tidak muncul ke permukaan harus disadari sejak awal.


Sistem pengkaderan di UNJ diawali saat MPA. Di sanalah mahasiswa baru diperkenalkan dan diberikan pewarisan nilai-nilai dan kultur di UNJ. Selanjutnya ada PKMP (Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Prodi). Di sini belum dipecah antara materi tentang legislatif dan eksekutif karena badan legislatif tingkat prodi di UNJ belum dimiliki setiap prodi. Maka disepakati bahwa pelatihan legislatif dan eksekutif digabung menjadi satu untuk tingkat prodi.


Untuk tingkat fakultas, konsentrasi antara bidang eksekutif dan legislatif mulai dipecah. Di bidang eksekutif pelatihan pengkaderannya bernama PKMF, sedangkan bidang legislatif disebut PKMF. Untuk tingkat universitas terdapat PKMU dan PLMF.


Kak Nurdin dalam kesempatannya sedikit memberi perbandingan sistem pengkaderan di UNJ dengan beberapa kampus. Misalnya saja, di Kampus X, untuk menjadi anggota BEM tidak perlu melewati tahap pelatihan kepemimpinan. Di Kampus X, pelatihan seperti itu baru didapatkan setelah resmi menjadi anggota BEM.


Kemudian sesi tanya jawab. Salah satu peserta bertanya, "Bagaimana cara menghadapi orang yang apatis?" Kak Nurdin  menjawab, "Dengan menjadi teladan, barulah diberi pencerdasan." Sesi materi telah selesai, acara dijeda sholat Asar.


Setelah selesai sholat  Asar, acara dilanjutkan kembali dengan pembacaan tata tertib selama rangkaian agenda PKMF. Kemudian panitia membagikan kelompok dan memberikan penugasan untuk peserta, baik tugas individu dan kelompok.


Selanjutnya temu kelompok dan pendamping. Saya masuk ke dalam kelompok 5 dengan pendamping Kak Tri Setiyoto (Kimia 2015). Pada sesi temu kelompok ini kami berkenalan dan membahas pemilihan ketua kelompok. Dalam kelompok saya, Sabna Tamara (Pendidikan Fisika 2017) terpilih menjadi ketua kelompok.


Acara diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Gilang Mohammad Iqbal (Kimia 2017).

#PKMFMIPA2018

#FMIPAKITA

#Kreatif_Inisiatif_Aktif

22 February 2018

Sudah 53 hari blog ini nggak ada postingan baru. Setelah postingan terakhir berjudul “Menghadapi Pingsan”, nggak ada lagi update tulisan di blog ini. Mungkin blog ini sengaja gue “pingsankan”. Ini pun sebenarnya masih belum benar-benar sadar karena cuma nyolong waktu-waktu senggang. Memanfaatkan libur semester 1 yang tersisa hingga 28 Februari. Sekaligus ini adalah update blog pertama di tahun 2018.



Saat-saat seperti ini, banyak juga orang-orang yang kayak gue. Setelah lama nggak posting, bingung mau nulis apa. Bingung mau mulai dari mana. Gue pun sedang merasa begitu. Kebiasaan menulis untuk blog pelan-pelan terkikis menjadi kebiasaan membuat broadcast message undangan rapat atau informasi organisasi. Mungkin ke depannya gue mau update blog lagi. Nggak akan sering juga. Ngisi blog biar stamina menulis kembali pulih. Soalnya ke depannya gue butuh ketahanan nulis yang tinggi. Iya, iya, terlalu dini kalau gue bilang skripsi.

Selama vakum, gue sempat mikir perihal stamina itu. Stamina yang terlatih sejak kelas 10 SMA hingga banyak banget menghasilkan tulisan yang banyak juga jumlahnya. Nggak sebentar membentuk itu semua. Meskipun gue tahu, tulisan-tulisan yang terdahulu itu nggak terlalu penting, tapi gue merasa ada hikmahnya, yaitu terbentuknya ketahanan gue menulis.

Gue bisa membandingkan dengan beberapa teman ketika disuruh mengarang. Saat teman-teman gue baru menulis satu halaman, gue bisa mencapai satu setengah halaman. Kebiasaan menulis itu gue dapat dari ngeblog, terutama dulu nulis cerita sehari-hari. Berarti bisa diambil kesimpulan, penulis-penulis yang rajin banget ngeluarin buku, ketahanan nulisnya udah teruji. Pasti mereka juga dulu pernah pada masanya nulis buku harian.

Bicara soal buku harian, ada beberapa buku yang berangkat dari suatu buku harian dan berhasil meninggalkan kesan buat gue. Atau genre yang dulu bener-bener jadi kesukaan gue, yaitu personal literature. Entah itu genre atau merek dagang, tetapi tulisan-tulisan yang menceritakan tentang diri sendiri selalu mengajak gue untuk mengambil hikmah dari setiap cerita. Buku-buku yang diangkat dari buku harian adalah Becoming Che: Karena Mundur adalah Pengkhianatan, Kambingjantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh, dan Catatan Seorang Demonstran.

1. Becoming Che: Karena Mundur adalah Pengkhianatan
Pernah dengar Ernesto Guevara? Gue cuma pernah dengar namanya, tapi nggak banyak tau. Dari buku itu, ternyata dugaan gue kalau dia orang Kuba adalah salah. Dia adalah orang Argentina. Guevara juga seorang penjelajah Amerika Latin. Di buku itu, dia menjelajahi Argentina, Bolivia, Ekuador, dan Peru bersama Carlos Ferrer, sahabat sekaligus yang menjadi narator dalam buku tersebut.

Buku ini ditulis oleh Calica (panggilan dari Carlos Ferrer). Beberapa kali Calica mengutip apa-apa yang ada di dalam buku pribadi maupun surat yang ditulis Guevara kepada keluarganya sebagai pendukung jalannya cerita. Dari beberapa tulisan di buku pribadinya Guevara, terlihat dia sering menceritakan keresahannya seputar kepemerintahan yang ada di negara-negara Amerika Latin. Kediktatoran terutama yang membuat Guevara gerah. Membandingkan kondisi Guevara dengan gue, di buku harian gue paling-paling gerah karena mati listrik. Kipas nggak bisa nyala.
Meskipun nggak diceritakan langsung oleh Guevara, jalan cerita di buku ini terasa dekat dengan Guevara. Hal itu mungkin dikarenakan ditulis oleh sahabatnya sendiri. Lain kali mungkin gue akan membahas buku ini di postingan terpisah.

2. Kambingjantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh
Bisa dibilang Kambingjantan adalah buku yang banyak menginspirasi orang untuk menulis diari komedi di internet. Salah satunya gue. Apalagi waktu itu gue sedang duduk di bangku SMA, masa yang kata orang indah dan banyak gejolak. Halah gejolak.

Kambingjantan yang dibuat berformat benar-benar seperti buku harian, membuat gue membacanya seperti sedang tukeran diari, meskipun gue nggak pernah melakukan itu. Gue inget waktu itu baca Kambingjantan kelas 9 SMP. Lagi stres-stresnya mau UN, gue malah baca buku yang bikin stres ketawa.

Walaupun ejaan yang dipakai di buku ini nggak baku dan banyak bahasa slangnya, gue belajar nulis dari buku ini. Bukan belajar ejaannya mungkin, tapi belajar semangat menulisnya. Susah, lho, kalau mau nulis nggak bermodalkan semangat. Mau sejago apa pun kita nulis, pemahaman soal ejaan kita udah hebat, tapi semangatnya kurang, gue kira suatu tulisan nggak akan sampai selesai.


3. Catatan Seorang Demonstran
Buku ini sebenarnya belum selesai gue baca. Gue masih baca buku ini pelan-pelan. Karena banyak hal yang bikin ngantuk, misalnya kalau buku ini sedang bahas soal filsafat. Buku ini diambil dari catatan harian milik seorang mahasiswa bernama Soe Hok Gie. Sosok yang begitu dikenal, terutama di kalangan mahasiswa, karena sangat lantang mengkritik pemerintahan saat itu.

Buku ini formatnya mirip Kambingjantan—benar-benar dibuat mirip buku harian. Dari beberapa bagian yang gue baca, buku ini banyak mengungkapkan protes terhadap pemerintah, kepesimisan hidup, dan hal-hal filsafat. Soe Hok Gie juga menunjukkan betapa pentingnya manusia belajar sejarah.

Meskipun bahasan di buku ini terdengar serius, ada juga cerita-cerita anak sekolah pada masanya. Misalnya, ketika Gie berdebat dengan gurunya mengenai lamanya kepemerintahan Ken Arok. Gue seakan-akan sedang berada di kelas itu, duduk di pojokan, nontonin mereka berdua adu argumen.
Di antara cerita anak-anak sekolah yang pernah gue baca di buku ini, gue sempat ngakak di bagian Gie menceritakan temannya madol alias bolos. Entah kenapa gue bisa ketawa gara-gara baca kata “madol”. Tulisan itu ditulis tahun 1960-an dan sampai gue SMA, gue masih dengar kata “madol”. Ternyata “madol” emang udah lama banget dilestarikan.

Satu bagian yang menggelitik adalah saat Gie merasa miris.
 “... aku bertemu dengan seorang (bukan pengemis) yang tengah memakan kulit mangga. Rupanya ia kelaparan. Inilah salah satu gejala yang mulai nampak di ibukota. Dan kuberikan Rp2,50 dari uangku...
Ya, dua kilometer dari pemakan kulit “paduka” kita mungkin lagi tertawa-tawa, makan-makan dengan istri-istrinya yang cantik.”

Bahkan sampai sekarang, hal semacam itu masih terjadi. Orang-orang yang berkuasa sedang gembira, orang yang kesulitan sedang menaggung lara.

Buku harian bagi beberapa orang menjadi hal tabu untuk diketahui orang banyak. Namun, menulis buku harian bisa sebagai sarana melatih kelancaran menulis. Siapa tahu, cerita kita yang ditulis di buku harian bisa jadi lahan ide untuk lahirnya suatu karya.

Pertanyaan untuk diri pribadi: Nggak jadi vakum ngeblog, Rob?

31 December 2017

Kalau tiba-tiba kepala terasa pusing, pandangan kabur, dan keseimbangan mulai goyah, gue sering mengira tubuh gue akan ambruk. Jangan-jangan gue bakal pingsan. Gue pernah tanya ke seseorang yang pernah ngerasain pingsan. Gejalanya persis kayak gitu. Gue tanya, rasanya pingsan kayak gimana, sih? Ya, nggak sadar apa-apa, jawabnya. “Oh, mirip ya, kayak kena gendam?” kata gue dalam hati.

Alhamdulillah, seumur-umur gue nggak pernah mengalami pingsan. Gue kadang penasaran sampai muncul keinginan buat ngerasain pingsan. Agak aneh juga dengan keinginan gue ini. Dikira semua hal di dunia ini harus dicicipi kayak makanan di prasmanan.

Keinginan untuk pingsan harus gue pikir ulang. Soalnya, gue pikir, pingsan itu serem. Bikin orang lain takut juga. Pernah gue ketemu orang pingsan di kampus. Saat itu kelas gue sedang praktikum fisika. Di tengah khusyuknya melakukan pengataman, ada bunyi gubrak yang keras. Fokus semua orang buyar. Ada yang jerit. Ada yang kaget. Ada yang takut. Ada yang tetep ngelihatin alat praktikum. Orang terakhir itu gue.

Sumber


“Fokus dulu, temen-temen,” perintah gue ke teman-teman kelompok. Setelah terlalu asyik pengamatan, gue baru menyesal dengan kejadian tadi. Percobaan gue saat itu sedang mengamati turunnya gelembung di pipa kapiler kaca. Buat nunggu satu gelembung keluar itu lama banget. Menjadi dilema ketika gue harus tetap fokus pada apa yang lagi gue kerjain atau nolongin temen.

Teman gue akhirnya dibawa ke ruangan untuk mengembalikan kesadarannya. Baguslah ada pertolongan pertama. Gue nyeletuk, “Mungkin tadi dia keasyikan ngelihatin pegas naik-turun. Jadi hilang kesadaran.”
“Astagfirullah,” kata Adila, teman sekelompok gue.
“Oh iya,” spontan gue menutup mulut, “astagfirullah.” Sempet-sempetnya bercandain orang yang sedang kena musibah. Manusia macam apa?

Gue sebenarnya bingung. Orang awam kayak gue, ngelihat orang pingsan nggak tau harus apa. Bantuan pertama yang selalu muncul di kepala gue adalah kasih napas buatan. Pingsan disamain sama kelelep.

Padahal, jauh sebelum ini pun gue pernah dihadapkan dengan orang pingsan.

***

Gue pernah jadi ketua kelas selama satu semester di kelas 10. Gue cukup paham bahwa tugas ketua kelas adalah sebagai orang yang bertanggung jawab di kelas. Namun, teman sekelas gue menganggap kalau ketua kelas adalah penanggung beban kelas. Semua urusan di kelas ditimpkan ke ketua kelas.

Siang itu kami berada di kelas, mata pelajaran Prakarya. Pak Edi, guru Prakarya gue, sedang membahas tool aplikasi CorelDraw. Belajar Prakarya seperti ini bagi kami adalah  sesi hiburan. Seisi kelas fokus menatap layar proyektor. Tiba-tiba ada bunyi bruk yang sangat keras. BRUK! Suara benturan kepala dengan benda keras. Jaraknya kurang lebih sekitar 5 meter di belakang kursi gue. Salah satu teman gue, Saras, panik karena teman sebangkunya, Miranda, hilang kesadaran di atas mejanya.

Seisi kelas mendadak gaduh. Pak Edi mencoba menenangkan murid-muridnya. “Kenapa itu?” kata Pak Edi bangun dari kursinya, kemudian menghampiri Miranda.
“Gak tau, Pak. Kayaknya pingsan.” Saras menjawab, panik.
“Waduh.” Muncul raut kepanikan di wajah Pak Edi. Juga di muka gue. “Jangan sampai kenapa-kenapa. Jangan, please. Jangan,” batin gue.
“Coba kasih minyak kayu putih.”

Dalam situasi darurat seperti ini, apa yang dilakukan oleh orang-orang yang bertanggung jawab? Gue bingung. Ini pertama kalinya gue ketemu masalah orang pingsan.

Sebenarnya gue pengin nolongin, minimal ngasih napas buatan. Tapi dia cewek. Bisa-bisa gue dikeluarin karena dituduh mesum. Gue pengin ngangkat Miranda ke UKS di lantai satu sendirian, tapi itu kayaknya nggak mungkin. Mengingat berat badan Miranda yang hampir kayak hasil panen satu desa dan ruang kelas saat itu berada di lantai tiga. Nggak akan kuat. Pengin banget saat-saat begini, ada Dilan bilang ke gue, “Miranda berat. Kamu nggak  akan kuat. Biar aku saja.”

Biarlah gue kabur dulu dalam situasi ini. Mengingat pelajaran selanjutnya adalah Bahasa Inggris. Miss Devi paling nggak suka kalau jam pelajarannya terpotong dengan alasan apa pun. Pokoknya, kalau udah masuk jam pelajaran beliau, nggak boleh ada acara telat masuk. Selain itu, ketua kelas harus ingetin kalau udah masuk waktu pelajarannya.

Bel pergantian jam berbunyi. Seharusnya kelas kami pindah ke lantai satu. Gue makin dilema dan bingung harus berbuat apa.  Kalau gue bantu Miranda, nanti nggak ada yang ingetin Miss Devi, lalu gue kena omel beliau.
“Robby, lo bantuin Cindana, kek,” kata Dian emosi.
“Ya ... udah. Lu bantuin aja dulu. Gue mau ingetin Miss Devi masuk kelas,” kata gue, dengan nada kebingungan. “Nanti kalo nggak masuk kelas terus dia ngambek, siapa yang kena? Gue juga.”
“Gimana, sih?!” Nada bicaranya meninggi. “Lu, kan, ketua kelas. Tolongin dulu, kek!”

Gue cengok. Gue harus ketemu Miss Devi! Tapi kalau gue ketemu Miss Devi, nanti gue dianggap sebagai ketua kelas egois yang mentingin urusan pribadi. Bodo amat deh. Gue mending manggil Miss Devi demi nilai rapor gue aman. Egois, sih. Gue baru sadar, kenapa gue nggak minta tolong teman laki-laki yang lain aja?
“Suruh cowok yang lain aja.” Gue lari menuruni tangga menuju lantai bawah, ke ruang guru.

Sampai di depan kelas, yang nantinya akan gue tempati, gue melirik ke ruang guru dari jendela luar. Miss Devi udah keluar dari ruang guru. Gue nitip pesan ke seorang teman untuk menunda kelas karena sedang ada yang pingsan. Gue berlari ke lantai tiga, memastikan nggak ada keadaan lebih buruk terjadi, misalnya Miranda berubah jadi Naruto.

Begitu sampai di kelas lantai tiga, gue mendapati kenyataan buruk lainnya: Miranda udah nggak ada.
Maksud gue, dia nggak ada di kelas. Dia dibawa ke UKS. Ngapain gue ke sini?

Beberapa saat dia di UKS, alhamdulillah Miranda sadar. Menurut pengakuannya beberapa hari kemudian, penyebab utamanya pingsan adalah karena rasa takut berlebih sebelum maju presentasi Bahasa Inggris. Entah karena nggak siap atau karena apa, dia sepertinya menghindar.

***

Semua orang di sekolah pasti tau, bleep test selalu dijadikan ajang buat dicap “sehat”. Bleep test adalah tes kebugaran berupa lari bolak-balik berlevel berjarak 20 meter. Hampir semua orang, terutama di kalangan lelaki yang persaingan dan gengsinya begitu besar, pasti mati-matian ngedapetin level tinggi. Semakin tinggi levelnya, semakin lama larinya, dan semakin bagus nilainya. Padahal, kata guru gue, semakin tinggi levelnya berarti boleh dikategorikan sehat. Dengan catatan, setelah melakukan tes tubuhnya tetap bugar. Jangan setelah ikut tes, kaki kena osteoporosis.

Waktu itu ada pengambilan nilai bleep test. Semua orang di kelas ikut, termasuk Miranda yang maksa ikut tes. Dia punya riwayat penyakit berat. Kami semua khawatir akan ada sesuatu yang terjadi.
Sambil menunggu giliran, gue bercanda sama teman-teman yang juga nunggu giliran tes. Kami duduk di pinggir lapangan. Lagi seru-serunya ketawa, pandangan gue teralihkan pada benda biru, persis warna kaos olahraga gue, berukuran besar, dan tergeletak di lapangan.

Gue menunjuk ke benda itu. “Eh, eh, lihat tuh di lapangan.”
“Kenapa..., kenapa?” tanya Oky menghentikan tawanya.
“Itu ... kan ... Miranda. Ngapain dia? Lagi tidur ya? Kan lagi tes, kok dia malah tidur?” kata gue, polos.
“Bukan tidur, geblek!” Oky malah sewot. “ITU PINGSAN!”
“BANTUIN WOY!”


***
Catatan: tulisan ini adalah salah satu bab dari naskah buku yang gagal terbit (edit coret) pernah gue tulis dengan tambahan kejadian yang gue alami akhir-akhir ini. Gue ingat betul, di bulan ini, dua tahun lalu, gue ngirim naskah ke satu penerbit dan sampai sekarang nggak dikabarin bagaimana kabar naskah gue (diterima atau ditolak). Semoga nasibmu tidak dijadikan kertas daur ulang, Wahai Naskahku.

Dibakar aja nggak apa-apa.

Oh iya, selamat datang 2018! Mau bikin rewind-rewind gitu, nggak sempet terus. Huhuhu. Semoga hidupnya kita selalu membawa manfaat bagi orang banyak.

14 December 2017

Gagal di seleksi nilai rapor AKA Bogor, gue tetap semangat untuk ikut tes tulisnya. Alasan gue bersemangat adalah: 1) Tahun ini gue harus kuliah di bidang kimia, 2) Tes tulisnya nggak bayar. Jadi, saat seleksi rapor sebelumnya gue sudah membayar 100 ribu. Orang-orang yang nggak lolos seleksi rapor masih bisa ikut tes tulis. Lumayan, kan, membuka peluang untuk kuliah.

Pilihan gue masih sama seperti saat seleksi rapor: pilihan pertama Analisis Kimia dan pilihan kedua Penjaminan Mutu Industri Pangan. Masih ada jeda sekitar sebulan setelah pengumuman seleksi rapor, sekaligus sebulan pula waktu gue menghadapi SBMPTN.


Gue mengatur strategi untuk membuat semua yang gue pelajari jadi efisien dalam waktu sebulan. Setiap hari, gue mengerjakan soal-soal latihan. Mata pelajaran seperti Fisika dan Matematika lebih dulu ditendang. Gue fokus belajar mata pelajaran yang lebih mungkin buat gue kerjakan, seperti Tes Potensi Akademik (TPA), Bahasa Indonesia, dan Kimia. Sesekali kalau mood lagi bagus, gue belajar Bahasa Inggris dan Biologi. Matematika dan Fisika hampir pasti gue ikhlaskan di SBMPTN nanti.

Menjelang SBMPTN gue benar-benar menggembleng diri. Kerjaan gue cuma ngerjain soal, tidur, ngerjain soal lagi, dan tidur. Kebetulan saat itu sekolah pun sudah hampir selesai, tinggal nunggu hasil UN. Di angkot, menuju bimbel, gue nyempetin ngerjain soal TPA. Hampir ke mana-mana gue ngerjain soal TPA karena ngerjainnya nggak perlu mikir keras.

Hasilnya, dari try out ke try out, skor TPA gue terus meningkat. Jumlah soal yang bisa gue kerjakan (dan benar) juga menunjukkan kemajuan yang bagus. Saking gilanya belajar TPA, gue pernah bikin postingan di Instagram soal bilangan deret, yang mana itu termasuk di tipe soal TPA.

Sayangnya, hal itu nggak diimbangi dengan porsi belajar Matematika dan Fisika. Untuk keduanya, pola belajar gue sedikit berbeda. Pertama, gue nonton video pembahasan soal dari CD pembelajaran. Gue pahami betul cara nyelesain soalnya, lalu gue coba soal sejenis. Gue menghitung dan nyontek mentah-mentah cara yang dijelasin di CD. Lima menit ngotak-atik satu soal, gue ketiduran. Kerennnya, kejadian begini selalu terjadi.

Saat pendaftaran pilihan jurusan di SBMPTN, gue nggak merasa kesulitan, bahkan nggak pernah pusing-pusing kayak teman-teman gue. Dalam hati, “Nanti gimana nih kalau gue nggak bingung jurusan? Nanti gue nggak bisa cerita apa-apa.” Heran gue juga. Pilihan udah mantap malah pengin ikut-ikutan bingung kayak orang lain.

Teman-teman yang lain gue perhatikan masih bingung dengan pilihannya. Rata-rata mereka sudah punya pilihan pertama, namun bingung memilih jurusan apa di dua slot tersisa. Gue, karena pengin banget Pendidikan Kimia, nggak banyak mikir panjang buat milih prodi itu di dua dari tiga pilihan yang dikasih.

Pilihan gue di SBMPTN:
1) Pendidikan Kimia – UNJ
2) Pendidikan Kimia – UNY
3) Kimia - UNJ

Hati gue masih mantap dengan tiga pilihan itu. Sampai pada suatu hari, gue bilang ke Dede, teman gue yang sudah masuk ITB, tentang pilihan jurusan gue.
“Itu bukannya passing grade-nya tipis banget ya?”
“Iya, bener. Tipis banget,” jawab gue.
“Nggak kebalik?”

Gue diam. Deg. Oh, iya, ya. Gimana kalau salah nempatin urutan jurusan?

***

Kalau memang pilihan gue ketuker posisinya, maka hampir pasti gue cuma punya satu pilihan di SBMPTN.

Gue berangkat agak siang ke SMAN 6 Jakarta, tempat gue akan tes SBMPTN nanti. Tujuan gue ke sini bukanlah mencari dedek-dedek gemes, melainkan untuk survei tempat ujian. Melihat anak-anak di sini, gue membandingkan dengan apa yang ada di SMA gue. Di sekolah ini siswanya bebas-bebas aja pakai sepatu warna selain hitam. Sekolah gue, warna hitam adalah warna mutlak untuk sepatu. Kalau kata orang-orang, SMA 6 itu sekolah hits Jakarta. Jadi wajar.

Teman sekelas gue, Nurul, ternyata tes di tempat yang sama. Gue bilang, “Nanti janjian dong, ketemu di sana.” Maksud gue bilang begitu biar kayak orang-orang. Lebih enak aja waktu istirahat ketemu temen sekelas buat saling dukung. Atau dengan kata lain gue pengin ngembat jatah makanannya.
Tanggal 10 Mei, gue pergi ke Bekasi untuk berangkat ke Politeknik AKA Bogor dari sana.

Sejujurnya gue nggak tahu di mana lokasi kampusnya. Gue sempat baca di sebuah blog, katanya, orang-orang Bogor pun ada yang nggak tau di mana AKA Bogor berada. Gimana gue, ya, anak Jakarta yang ke mana-mana nggak ngerti arah di kota sendiri?

Dari Bekasi, gue diantar kakak gue dan istrinya. Kami bertiga berangkat naik kereta dengan kondisi nahan ngantuk. Tes bakal dimulai dua jam lagi. Badan gue penginnya rebahan aja di kasur. Turun dari kereta, perjalanan dilanjutkan dengan Grabcar.

Gue sampai di kampus Politeknik AKA Bogor setelah jalan kaki sekitar 100 meter karena jalan menuju kampus macet, tepat 15 menit menjelang tes dimulai. Kesan gue ke kampus AKA Bogor nggak jelek-jelek amat. Waktu gue ke sana, gue tetap masih merasakan kearifan lokal yang ada di Jakarta: macet dan panas. Kalau memang nantinya gue kuliah di sini, ikhlas deh jadi anak kos. Tapi, tes aja belum, gue udah ngebayangin bakal kuliah di sini. Tes rapor aja nggak lolos, gimana tes tulisnya ya?

***

“Waktunya 3 jam?”

Gue hampir nggak percaya melihat durasi tesnya yang, menurut gue, kelamaan. Bagus, sih. Jadinya gue nggak perlu buru-buru. Hitungannya pun lumayan ribet, apalagi nggak diperbolehkan pakai kalkulator. Gue akan tetap mempertahankan kecepatan ngerjain soal SBMPTN yang sering gue lakukan selama ini.

Dalam tes ini gue menemukan hal-hal nggak terduga. Di antaranya:
Pertama, soal tes potensi akademiknya sangat-sangat wadaw. Istilah sinonim dan antonimnya mengenai istilah kimia dan fisika. Gue, kan, nggak paham jadinya.

Kedua, ternyata soal tesnya nggak ada soal Matematika. Gue kira akan ada adegan pergelutan hebat dengan soal matematika selama berjam-jam. Begitu juga dengan Fisika. Alhamdulillah ternyata nggak ada.

Ketiga, gue lupa pakai deodoran hari itu.

Dalam waktu dua jam, 100 butir soal tes masuk Politeknik AKA Bogor gue selesaikan tanpa mengalami rasa pusing. Keren. Tapi, gue malah jadi takut nggak lolos dengan begini. Ujung-ujungnya malah pusing mikirin ketakutan setelah ujian.

Pikiran selepas tes itu terbawa sampai di kereta dalam perjalanan pulang. Gimana kalau nggak lolos juga di tes tulis? Kalau SBMPTN bisa lolos mah nggak apa-apa. Kalau dua-duanya nggak lolos? AKA Bogor masih ada tes tulis gelombang II. SBMPTN? Ada, tapi nunggu setahun.

(Bonus: soal ujiannya disuruh bawa pulang. Gue scan aja dan di-upload ke sini. Siapa tau ada yang pengin belajar soalnya juga. Soal Ujian Masuk Gelombang I Politeknik AKA Bogor 2017)

 

***

Tiga hari berikutnya gue tes SBMPTN. Pukul 5 pagi gue naik bus Transjakarta. Di sana, gue malah ketemu Rohim, teman sekelas gue. Lokasi tes kami berbeda. Seperti dua orang yang akan bertarung di ring tinju, kami sama-sama saling menyemangati. Muka kami sama-sama ikhlas buat ngerjain soal nantinya.

Sampai di lokasi tes, gue langsung mencari tempat duduk ternyaman untuk menyantap roti dan susu cokelat. Gue menelpon orang tua di rumah.

“Halo. Ma, Robby udah di lokasi tes. Doain ya, Ma.”

Entah suara gue bisa sampai ke telinganya atau nggak, speaker handphone gue bermasalah saat itu. Agar meyakinkannya, gue mengirim SMS. Hal sederhana yang membuat gue setidaknya bisa lebih tenang.

Sesi pertama adalah soal Saintek. Soal-soal Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi masing-masing 15 soal dihadapi dalam waktu 2 jam. Mengikuti strategi yang sudah gue susun, gue langsung menuju soal-soal Kimia karena gue tahu kekuatan gue di situ. Sudah terbiasa mengikuti try out, gue cukup pede untuk meninggalkan soal Matematika IPA dan Fisika. Meminjam istilah dalam judi pertandingan bola: “Biar dapat poin dulu.”

Nomor-nomor awal soal Kimia masih mudah. Nomor kelima dan seterusnya nggak terlalu susah, tetapi gue nggak langsung dapat jawabannya. Nggak biasanya bentuk soal seperti ini. Gue loncat ke nomor lain. Selalu begini: baru ngerjain setengah jalan langsung stuck. Cengok. Lalu ingat pesan motivasi yang gue buat sendiri, “Jangan diem aja kalau ngadepin soal. Waktu lu habis buat bengong.”
Bosan dengan soal Kimia, gue pindah ke soal Biologi. Belajar dari try out sebelumnya, kekuatan kedua gue ada di Biologi. Dapat satu soal yang gue yakin benar, gue pindah lagi ke Kimia. Penting memang buat dapetin satu soal benar.

Di Kimia gue merasa nggak bisa jawab apa-apa lagi. Dari 15 soal Kimia, gue sudah menjawab 9 soal, yang mana bagi gue bukanlah sesuai target. Target gue untuk soal Kimia adalah menjawab 12 soal benar. Setiap soal benar mendapat poin 4. Bila semuanya benar, artinya: 12 x 4 = 48 poin yang gue dapat hanya dari Kimia. Tapi, hal ini sulit terjadi.

Fokus gue pindah ke soal Fisika, yang masih nyerempet dikit sama Kimia. Kelimabelas soal nggak ada yang bisa gue jawab. Lutut gue lemas. Kemudian pindah ke soal Matematika IPA. Soal Matematika pun nggak jauh beda dengan soal Fisika. Mau gue pulangin aja soalnya ke pengawas.
Gue harus ngerjain apa lagi? Ngintip lembar jawaban orang lain, kertasnya berkilat kena pantulan cahaya yang mengenai hitaman pensil 2B.

Kemudian sesi kedua, yaitu Tes Kemampuan Potensi dan Akademik (TKPA). Di sini terdiri dari soal tes potensi akademik (TPA), Bahasa Indonesia, Matematika Dasar, dan Bahasa Inggris. Harusnya, sesi ini kita, sebagai peserta, harus cepat dan tepat ngerjain soal karena soalnya relatif lebih mudah dibanding Saintek. Namun, ketika bel dimulainya pengerjaan soal dibunyikan, di ruangan gue masih banyak yang ngisi biodata dan sebagainya akibat dari terlambatnya pembagian lembar jawaban. Alhasil, banyak banget yang kesel sendiri. Gue sendiri contohnya.

Bagaimanapun juga, sesi ini cukup mengobati patah hati gue nggak ngerjain banyak soal di sesi Saintek. Soal TPA bisa gue kerjain 35 dari 45 soal, Bahasa Indonesia 10 dari 15, Bahasa Inggris dan Matdas 4 dari 15.

Pada akhirnya gue nggak ketemu Nurul. Dia juga udah pulang duluan diantar orang tuanya. Gue naik bus Transjakarta. Lalu di halte, gue ketemu Rohim (lagi).
Gue nanya, “Gimana tadi?”
“Ya, begitulah,” jawab Rohim.

Lalu kami bercerita tentang soal SBMPTN dengan nada kesedihan.

***

Hari itu juga, lembaga bimbel gue bikin quick count untuk memprediksi lolos atau nggaknya peserta SBMPTN, dengan cara memasukkan jumlah jawaban benar dan salah di sistem buatan mereka. Mereka menyediakan kunci jawaban yang soalnya telah dibahas di websitenya. Soal didapat dari murid-murid bimbel tersebut. Namun, hanya soal Saintek aja yang bisa dibawa pulang. Isu yang beredar, soal-soal TKPA dikumpulkan dan dibakar.

Gue menunggu kunci jawaban kode soal gue. Belum muncul juga di websitenya. Malam harinya barulah ada dan langsung ngecek jawaban gue.

Gue koreksi soal Kimia.
Benar: 6 salah: 4.

Bagus, masih ada poin plusnya.

Beralih ke Biologi.
Benar: 1 salah: 2

Yak, mulai mengkhawatirkan.

Kemudian Fisika
Benar: 0 salah: 1

Kena minus.

Terakhir, Matematika IPA
Benar: 0 salah: 1

UDAH DUA PELAJARAN DONG KENA MINUS?

Gue pernah dengar dari seseorang di bimbel, “Yang penting jangan kena minus di dua pelajaran. Otomatis nggak lolos kayak gitu.”

Malam yang membuat gue muram.

Karena soal TKPA nggak dibawa pulang, jadinya gue nggak bisa nyocokin jawaban. Gue mengira-ngira berapa poin maksimal yang gue dapat di sesi TKPA. Setelah memasukkan jumlah benar dan salah di setiap mata pelajaran, baik TKPA dan Saintek, beserta pilihan jurusan, gue mengklik “lihat hasil”. Hasilnya:

“Anda tidak diterima di mana pun.”