02 December 2017

Sudah lama banget gue nggak keliling-keliling ke tempat wisata Jakarta. Gue lupa kapan menaruh label “Robby Bencong” di blog ini. Robby Bencong, perlu diperhatikan, bukanlah sebuah nama sekaligus jati diri, tetapi merupakan akronim dari “Robby Belajar Melancong”. Terakhir kali gue jalan-jalan, efeknya bikin gue kaget naik fly over setelah naik halilintar di Dufan.

Baca di sini: Berfantasi di Dunia Fantasi

Sepertinya gue lebih suka ke tempat wisata yang jenisnya visual. Lihat pemandangan sambil jalan-jalan lucu. Ini bukan berarti gue suka sama wisata-wisata yang menghadirkan setan, penampakan, dan sejenisnya. Makanya, sewaktu ke Dufan gue lebih banyak nontonin dibanding naik wahana, sembari ngasih komentar, “Aduh, itu organ dalamnya pindah nggak ya?”

Tempat wisata seperti itu banyak banget di Jakarta. Mulai dari museum sampai ngelihatin hewan-hewan (oh, ya, gue pernah nekat ikut lomba stand up di Museum Nasional, Jakarta. Ceritanya baca di sini: Lomba Stand up Comedy). Kebun Binatang Ragunan adalah salah satu contohnya. Apalagi dalam acara gathering atau kopi darat, Ragunan sering banget dijadiin usulan. Setidaknya dari 10 orang pertama pengusul acara kumpulan, Ragunan masuk di dalamnya.



Alasan dipilihnya Ragunan karena murah dan tempatnya luas. Kalau nyasar buat ketemunya juga gampang nyarinya.
“Lu lagi di mana?”
“Di kandang macan, nih.”

Tinggal samperin deh. Kalau bisa selamatin. Soalnya dia bilang di (dalam) kandang macan. Bahaya.

Memang, untuk pertemuan banyak orang, tempat kayak gitu paling enak. Misalnya lagi, TMII. Tinggal sebut lagi di anjungan provinsi mana, beres. Sangat nggak disarankan untuk kumpul di tempat yang luas dan nggak ada patokannya, misalnya di dasar laut.

“Lu lagi di mana? Gue di Laut Cina Selatan. Krusty Krab buka cabang.”
“Gue di Samudra Hin—“ Blup blup blup. Ngambang ke permukaan.

Kembali ke Ragunan.

Sesuai dengan judul, dalam tiga minggu terakhir gue pergi ke satu tempat, yaitu Ragunan. Dua kali dengan ceritanya masing-masing. Meskipun sudah dua kali pergi ke sana, tempat yang gue hafal hanyalah pintu loket utara. Itu pun deketan sama halte Transjakarta.

1. Gathering Koordinator
Pertama adalah gathering koordinator mahasiswa Bidikmisi 2017 sekampus. Gue mewakili prodi Pendidikan Kimia pergi dengan jeans dan baju merah, sesuai dresscode yang ditentukan. Awas aja kalau ada yang ngira gue kasir Alfamart. Nanti gue tawarin pulsa.

Gue berangkat sendiri ke Ragunan. Sampai di depan halte, ada orang yang manggil gue. Dia Aulia, koordinator prodi Kimia. Dia sendirian bawa-bawa sekresek gede makanan ringan. Beberapa menit berselang, teman-teman gue dari Fakultas MIPA mulai bermunculan. Namun, sampai acara dimulai, cuma gue cowok dari Fakultas MIPA. Gue hampir diem aja sepanjang acara karena cowok-cowok yang gue kenal memang cuma dari sefakultas.

Kebiasaan dari forum ini adalah “Permainan Kenalan”. Gue nggak ngerti apa namanya, tapi kenal nama di sini jadi sangat penting. Dalam satu lingkaran, orang pertama menyebutkan nama. Orang kedua, sebelum menyebutkan namanya, harus nyebut nama orang pertama, barulah menyebutkan namanya. Orang ketiga begitu juga, harus nyebutin orang pertama dan kedua. Begitu terus sampai orang ketigapuluhenam.

... dan gue orang ketigapuluhenam. Boro-boro hafal 35 orang sebelum gue, sampai orang kesepuluh aja udah bagus.

Akhirnya, orang di sebelah gue ngasih sontekan berupa daftar nama yang dia ketik di notes. Setiap orang nyebut nama dicatet. Jadi, kerjaan gue adalah nyebutin mereka satu-satu. Harusnya gue sebut namanya, baru gue tunjuk namanya. Gue membuat terobosan baru dengan mengabsen mereka satu-satu. “Yang namanya saya sebut, angkat tangan, ya,” kata gue.

Lalu mainan selanjutnya adalah “Tebak Suara Siapa?”. Semua orang dalam keadaan matanya tertutup. Dari kakak-kakak panitia nepuk pundak seseorang buat bilang “halo”, lalu ditunjuk satu orang buat nebak suara siapa yang bilang “halo” tadi. Orang pertama salah nebak. Orang kedua salah nebak dan ketawa-ketawa.

Orang kedua itu gue.

Akhirnya ada empat orang yang pundaknya ditepuk, dijadikan ketua kelompok games. Kami dikelompokkan membuat yel-yel dan jargon. Entahlah, gue nggak ingat gimana yel-yel yang dinyanyikan. Itu adalah yel-yel ter-nggak-bikin-nempel-di-ingatan karena gue sendiri ketawa-ketawa doang.

Gamesnya sendiri cukup keren. Kami dikasih clue untuk dipecahkan bersama seorang kakak panitia. Clue-nya tentang hewan-hewan yang ada di Ragunan, lalu difoto bersama kelompok. Serunya lagi, foto itu harus cepet-cepetan dilaporin ke grup panitia. Akan selalu ada pertanyaan, “Hewan ini udah?” Kalau belum, bakal lari-larian ngejar di mana kandangnya.

(Kalau tanggal 19 November 2017 kamu ngelihat ada orang lari-lari di Ragunan, patut curiga kamu bertemu saya.)

Jari telunjuknya mana?

Selanjutnya sesi makan-makan. Gue makan rujak bareng teman yang baru gue kenal saat itu juga. Namanya Fauzi. Dia anak Teknik Mesin. Dia cerita seputar kehidupan di prodinya.
“Wah, kalau nggak bisa jawab, bisa-bisa disuruh push up,” akunya. “Saya pernah kena sekali.”
Anak teknik memang beda, kata gue dalam hati.

Satu hal yang membuat gue nyambung dengan dia adalah obrolan kimia. Dia pun belajar kimia mengenai bahan-bahan keteknikan. Kalau dia ngomongin “besi”, “mol”, “aluminium”, sedikit-sedikit gue ngerti. Inilah yang dimaksud Chemistry menyatukan chemistry.

Di akhir acara ada sharing tentang permasalahan yang dialami mahasiswa Bidikmisi di prodi masing-masing. Karena di prodi gue cuma ada satu masalah aja, gue jadi nggak banyak omong. Lalu dilanjut dengan sesi tukar kado. Sesi tukar kado ini bikin gue susah nahan ketawa, sekaligus bikin gue takut ketawa juga. Karena banyak di antara mereka yang anak kos, kado di dalamnya isinya cukup out of the box; makanan ringan, permen karet dan uang lima ribu, dan mi instan lima bungkus beserta kertas bertuliskan “tolong isiin pulsa ya”. Gue dapat botol minum, dari hadiah gue yang cuma ngasih notes kecil. Tapi, jangan dikira notes itu udah gue isiin puisi-puisi romantis. Paling kalau niat, gue bikin tabel periodik di kover depannya.

Sekampus

Di perjalanan pulang beramai-ramai, Aulia nanya ke gue, “Robby, lu ngeblog ya?” Pertanyaan yang menjebak. Di satu sisi, gue agak malu kalau ketahuan suka curhat nggak jelas di blog. Di sisi yang lain, gue SENENG BANGET DONG akhirnya blog gue bisa menjangkau prodi lain. Nggak cuma di kelas aja.
“Kirain Robby Haryanto siapa. Pas dilihat blognya, ‘Oh, ini orang ngeblog’.”

Gue cuma cengengesan. Niat untuk nggak malu, malah jadinya malu-maluin.

Akhirnya, dari semua kegiatan ini, gue jadi kenal sama banyak orang di kampus. Meskipun kemungkinan besar setelah acara ini gue lupa nama mereka (diikuti dengan momen mengernyitkan dahi dan berkata: “aaah, pernah ketemu dan kayak kenal, tapi siapa namanya ya?). Dunia nggak sekecil kelas, prodi, dan fakultas. Masih ada lagi dari orang-orang di kampus yang bisa memperkaya pengetahuan gue.


2. Observasi
Dua minggu berselang, tepat pada hari pertama di bulan Desember 2017, gue dan teman-teman sekelas di Pendidikan Kimia B 2017 jalan-jalan ke Ragunan. Sebenarnya bukan disebut jalan-jalan. Lebih tepatnya observasi dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Biologi Umum.

Berbeda dari sebelumnya, kali ini gue pergi ke Ragunan bareng Farhan dan Azis, dua teman yang sebelumnya bersama gue ikut mabit di kampus B. Acara mabit masih berlangsung, kami bertiga meninggalkan acara lebih dulu. Udah janjian sama temen-temen buat datang pagi soalnya.

Sampai di sana baru ada tiga orang, dan masih pukul 7.30. Orang mana lagi yang wisata ke Ragunan sepagi ini? Pegawainya juga belum tentu udah datang semua di dalam.

Sambil menunggu teman-teman yang lain, gue iseng memotret kucing liar di sekitar halte dan memberinya roti.

APA NEH FOTO-FOTO?!
Kami semua masuk sekitar pukul 8.30. Fokus pertama adalah nyelesain tugas observasi lebih dulu. Kelompok gue kebagian mengamati hewan primata. Kalau memang boleh, menurut gue, kenapa nggak ngamatin manusia aja ya? Manusia, kan, termasuk kelompok primata. Nanti bisa-bisa gue malah ngamatin tingkah laku manusia di media sosial, dengan judul “Gaya Favorit Remaja dan Variasinya dalam Boomerang”.



Nggak perlu ke Ragunan deh.

Gue ngelihat di depan gue, ada primata—entah monyet entah kera. Gue bersiap mengambil pulpen di tas untuk mencatat. Jari tengah kanan gue merasa tertusuk di dalam tas. Mungkin cuma kena jangka. Tiga detik kemudian, darah ngucur sepanjang 1 cm. Setelah gue lihat di dalam tas, ternyata silet tajam penyebabnya. Gue lupa, mungkin waktu itu saat praktik biologi lupa menutupnya kembali. Darahnya terus mengucur. Bagusnya, gue nggak nangis.

Pindah ke kandang sebelah, gue tetap mengamati mereka. Lucu-lucu. Ada owa, lutung, dan jenis-jenis monyet. Sewaktu sosialisasi organisasi di kampus, gue pernah jawab tentang “perbedaan kera dan monyet”. Jadi, gue sebut monyet karena hewan yang gue lihat memiliki ekor. Kesimpulannya: kalau ada orang dikatain “MONYET!”, coba periksa dulu di bawah pinggangnya.

Kemudian gue melihat primata ini. Gue nggak sempat mencatat namanya. Dia tampak sekeluarga. Tiba-tiba muncul hewan sejenisnya yang lebih kecil melompat-lompat, seperti seorang anak yang bahagia karena kedatangan tukang cukur (ya, gue juga nggak tau kenapa tukang cukur). Dia melompat-lompat, masuk ke dalam tong, melompat lagi, nyantol di pagar, ndusel di badan indukannya, lalu dikeplak. Kasihan dia.

Keluarga sederhana
Ada satu momen yang membuat gue melamun. Bukan melamun jorok tentunya, tetapi melamun sambil mikir. Gue sedang berada di depan kandang gajah. Ekor-ekor mereka berayunan harmonis, persis seperti saat gue praktikum fisika menggunakan tali dan bandul. Di tengah rintik gerimis, kepala ditutupi jaket, dan bau kotoran gajah, pikiran gue mengawang. Dalam momen ini, muncul potongan-potongan film dokumenter gajah yang pernah gue tonton di TV. Gajah jadi langka. Sedih rasanya, hewan selucu itu banyak diburu hanya untuk kepentingan pribadi. Muncul juga film Thailand tentang gajah. Momen begini cocok banget disetelin lagu “Desember”-Efek Rumah Kaca dan “Gajah”-Tulus.

Sambil jalan, gue merenung. Kasihan hewan-hewan di sini geraknya terbatas. Nggak seperti kucing yang gue foto dan makan roti coklat. Nggak seperti burung merpati yang pernah gue pelihara lalu terbang jauh dan nggak balik lagi ke kandang. Nggak seperti manusia, makhluk kelas animalia yang paling dinamis dan berakal. Di sini mereka jadi tontonan; semakin membuat gue kasihan. Bagusnya mereka di sini dirawat. Semoga selalu begitu. Semoga nggak ada kejadian serupa di kebun binatang di Surabaya.

Pengamatan selesai dibarengi dengan selesainya kelompok lain juga. Gue akhirnya ketemu lagi bareng temen-temen cowok di kelas. Di kampus kami sering kumpul bareng, makan bareng, kuliah bareng (yaiyalah!). Kali ini, kami harus foto bareng, meskipun minus satu orang.

Pejantan di kelas
Di kandang macan, ide-ide liar kami tersalurkan. Udah di sini ngayalnya ngawur-ngawur semua. Tapi semuanya seru-seru aja, biar memancing ide-ide kreatif. Ide gue hanya sebatas “gimana ya, kalau semua hewan di Ragunan ini masuk di kandang macan? Jadi arena gladiator, gitu”.
“Eh, ayo lihat merak, yuk,” ajak Rama. Sepertinya Rama pengin ngelihat mekaran sempurna ekor merak yang sempat dikirim kelompok lain dalam pengamatannya.
“Jauh,” jawab gue.
Kemudian kami semua hening. “Di mana emang?” tanya Rama.
“Di pelabuhan. Banten,” jawab gue.
Kerah baju gue hampir aja jadi inceran. Dan hampir saja mereka melempar gue ke kandang macan.

***

Setelah Jumatan, beberapa dari kami terpisah menjadi tiga kelompok. Ada yang main sepeda, ada yang masuk ke Pusat Primata Schmutzer, dan ada yang pulang. Gue masuk ke kelompok kedua.
Padahal gue bilang, “Gue nggak ada duit.” Namun, seseorang yang berbaik hati telah bayarin tiket masuk ke sana. “Udah, ikut aja,” ajak Yusuf. Yang tadinya gue lesu (dompet juga hehehe), berubah jadi semangat. Siapa yang bisa nolak kalau dibayarin?

(Credit: Makasih yang udah bayarin.)

Sekelas minus beberapa orang
Di Schmutzer banyak primata dan spot-spot foto yang seru. Teman-teman gue langsung ngeluarin handphone mereka buat mengambil gambar di setiap tempat yang melewati. Sedangkan gue cuma motoin karpet dan lumut. Entah apa tujuannya.

Dan satu foto ini maksudnya adalah persahabatan yang selalu bersinergi dan nggak ada putusnya.


Selain moto karpet, gue banyak foto bareng orang ini. Namanya Yusuf.

Mau foto tapi malu. Akhirnya cuma bisa memandang dari kejauhan uwuwuw.
 Selanjutnya dengan tema foto "Terserah Lu Aja Deh".


Foto berikutnya sebenarnya gue maksudkan sebagai apresiasi kepada Yusuf yang pernah ke kampus dalam keadaan salah bantal. Tapi kepala gue malah lebih-lebihin salah bantal.

Apresiasi besar untuk Yusuf yang pernah salah bantal tapi tetep ke kampus.

Tempat ini dibuat dengan kondisi dibuat mirip gua: gelap dan lembap. Sewaktu gue lihat ke atas, “Wah, ternyata gua modern. Ada AC Panasonic-nya.” Pantesan adem. Bawaannya mau tidur aja di sini.

Sewaktu kecil gue pernah ke sini bareng mama gue. Seingat gue, di tempat ini ada kran yang airnya bisa langsung diminum. Kebetulan botol minum gue kosong. Sesampainya di kran yang dimaksud, gue ambil botol minum dan me-refill-nya. Setidaknya gue nggak minum dari botol sisaan punya orang lain.

Waktu sudah sore, kami memutuskan untuk pulang. Gue naik bus Transjakarta rute Ragunan-Monas.

“Mas, mas, halte tujuan akhir, Mas,” ujar seorang penumpang sambil menepuk pundak gue.



Oke. Ketiduran di bus lagi.

--

Semoga dengan jalan-jalan ini pertemanan di antara kami akan terus solid. 

25 November 2017

Gue sebenarnya introvert.

Eh, sebentar....


Apakah orang-orang introvert itu ngaku dirinya introvert? Kata orang, introvert itu malu buat nunjukin siapa dirinya. Apakah karakternya itu benar-benar layak disebut sebagai introvert? Halah, ini pembukaan malah bikin diri sendiri bingung.

Lewatin aja, lewatin.

Apa ya, cara nyebutnya? Mungkin gue lebih pantas disebut textrovert: orang-orang yang bawel di ketikan. Di antara sela-sela keyboard, banyak banget omongan yang mau gue sampaikan. Dari ketikan pula, gue sedikit-sedikit bisa menjadi orang yang keluar dari zona lama gue sebagai anak yang pendiam. Namun, beberapa kondisi membuat gue tetap menjadi seorang pendiam kembali. Misalnya, kalau lagi ziarah. YA MASA GUE HARUS ORASI!

Dari ketikan, gue belajar gimana caranya kenalan. Sewaktu main, ehem, ... Omegle, gue suka banget nyapa orang duluan. Begini:
“Hi.”
“Hi.”
“Asl.”

Iya, sih. Nggak bakal kepake juga di dunia nyata “asl” itu.

Bukan di Omegle mungkin yang kultur kenalan pake “asl”-nya begitu kuat, melainkan di Skout atau di, ehem, ... Tinder (GUE AHLI BANGET SOAL APLIKASI STRANGER CHATTING YA. HUAHAHA). Skout atau Tinder nggak bikin gue lebih asing karena antara gue dan lawan chat bisa ngelihat foto masing-masing. Meskipun itu cuma foto kartun atau artis, gue sedikit bisa menebak ke mana arah pembicaran seharusnya. Belum lagi adanya fitur profil yang ngasih referensi topik apa yang bakal siap dibicarakan.

Misalnya, bio si lawan chat ada keterangan “anime”. Kurang lebih, gue harus tau dunia anime itu kayak apa. Karena gue nggak ngerti anime-anime-an, mentok-mentok gue cuma nanya, “Kamu jagoin Hyuga atau Tsubasa?”



Satu kali gue pernah ketemu orang Spanyol di Skout. Nggak biasanya gue bisa sampai balas-balasan tiga kali dengan orang luar, tentunya dengan bahasa Inggris seadanya. Chat hanya berputar pada pertanyaan “Where are you come from?”, “What are you doing?”, dan “Don’t smoking”. Yang ketiga nggak deh.

Ketika gue tanya umurnya, dia baru 12 tahun. Gokil juga. Apa karena anak ini nggak punya temen main di lingkungan rumah makanya main Skout?

Lalu, ada lagi orang Thailand. Agak mengejutkan sewaktu dia membalas bukan dengan bahasanya, dan dia langsung bisa menebak gue adalah orang Indonesia. Apa jangan-jangan orang Indonesia yang main Skout itu tujuannya sama, ya, makanya bisa terciri?

“Foto kamu ngingetin aku sama orang sebelum kamu,” jawabnya dengana bahasa Inggris, sewaktu gue tanya kenapa bisa tahu kalau gue orang Indonesia. Keren juga orang ini. Berarti muka gue Indonesia banget di mata dia.

Ekspresi gue:



Karena sudah dianggap ahli dalam kenalan lewat ketikan, gue nyoba menantang diri untuk nerapin ke dunia nyata ketika menjadi maba. Namun, nggak seperti Tinder dan Skout, kenalan dengan sesama maba lebih mirip Omegle. Gue nggak pernah tau gimana isi “bio”-nya. Hanya ada wajah saja. Mustahil gue ketemu orang langsung bilang “Asl?”. Dikira gue lagi kumur-kumur. Maka gue mencoba pertanyaan, “Asalnya dari mana?”

Dan gue selalu tertarik ketika melempar pertanyaan itu.

Gue pernah ketemu sesama maba sewaktu pendaftaran ulang di kampus. Dia bertopi, tasnya besar dan penuh, berjaket hitam. Gue kira dia abis turun dari gunung.

“Permisi,” sapanya ke gue. “Kalau mau daftar ulang di mana, ya, Bang?”
Oke. Untuk ke sekian kalinya, gue nggak pernah bisa terima dipanggil “Bang”, “Pak”, atau “Pakde”.
“Nanti lurus, belok kanan, nah, belok kiri deh,” jelas gue. “Nanti bareng saya aja, Mas. Sama-sama maba, kok.”

Dia lalu mengikuti gue. Dia cerita, asalnya dari Sidoarjo. Di sini tinggal ngekos dan belum tau banyak soal Jakarta. Sekalinya tau Jakarta, dia malah ngobrol sama gue—orang Jakarta yang nggak tau-tau amat soal Jakarta.
“Lho, kalau gitu, kenapa nggak ngambil kampus yang di daerahnya aja, Mas?” tanya gue sambil jalan menuju lokasi.
“Mau sekalian yang jauh, Mas,” jawabnya.

Beda banget deh sama alasan gue kuliah di UNJ. Berbeda juga dengan teman-teman gue yang merantau ke luar Jakarta.  Alasan “mencari sesuatu yang jauh”, bagi gue, cuma bisa dilakukan lewat dunia maya. Kenalan di Skout, Tinder, atau Omegle. Hanya itu yang bisa gue lakukan. Begitu pun dalam berteman. Karena selama koneksi internet masih ada, sejauh apa pun gue dengan orang lain, akan terus nyambung.

(Kalimat yang bagus, kan, buat jadi iklan provider?)

***

Banyak teman gue yang tahu apa itu WIRDY. Dua orang. Ya, senggaknya lebih dari satu, kan, disebutnya banyak. Rata-rata mereka nanya, “WIRDY itu siapa?” Lalu gue jelaskan pelan-pelan apa itu WIRDY. Dari pertanyaan dan jawaban itu, hampir selalu berakhir dengan kalimat: “Wah, bisa kenal gitu, ya.”

WIRDY bagi gue adalah kelompok kecil terenak buat bahas soal blog dan lika-likunya. Orang-orang di dalamnya seneng curhat, jadi buat gue tempat ini cocok. Kenal cuma lewat blog, belum pernah ada meet up semua orangnya. Beberapa orang ada yang pernah saling ketemu. Pernah ngobrol rame-rame sewaktu vidcall-an.

WIRDY cuma tempat ngobrol biasa di grup WhatsApp (Line juga ada, tapi jarang dipake). Nggak beda jauh sama grup-grup chat lainnya. Jadi, kalau kamu mau masuk grup ini, ya ... bakalan sama aja kayak grup WhatsApp-mu. Lagipula nggak ada sistem perekrutan di sini. Emangnya grup kepanitiaan, pake perekrutan segala.

Sampai saat gue mengetik tulisan ini, gue tiba-tiba kangen Jamban Blogger, terutama forumnya. Saat itu gue masih kelas 10, masa-masa nyari komunitas blogger biar kenal banyak orang. Gue inget banget momennya: Gue online, membuka forum, di saat bersamaan, gue nelantarin PR. Suram banget masa itu.

Gue ngelihatin orang-orang, mau ikutan nimbrung malu. Mau komen, “Bw balik, Gan” takut dikira salah forum. Itu, kan, bahasanya Kuskus, eh Kaskus.

Memang dunia blog sekarang nggak serame dulu. Gue ngelihat ramenya dunia blog lewat Jamban Blogger. Tapi bukan berarti dunia blog sudah mati. WIRDY, gue akui, nggak serame beberapa bulan lalu. Sebelum namanya jadi WIRDY—dulu WIDY—grup ini rame banget dengan cerbungnya. Setelah jadi WIRDY, kebetulan gue anak baru di sini, kami rame-rame bikin e-book. Di grup WhatsApp beberapa kali muncul pertanyaan: “Udah berapa yang download?”. Wah, gue kangen betul itu. Hehehe.

WIRDY adalah teman-teman jauh gue. Gue di Kalideres, Jakbar. Cuma Bang Yoga aja yang paling deket di Palmerah, Jakbar. Selebihnya, Kakak Icha di Samarinda, Kakak Wulan di Pekanbaru, dan yang paling jauh Bang Darma di Turki. Usia pun cukup jauh. Cuma gue yang belum masuk usia kepala dua (meskipun sering dibilang mahasiswa semester lima).

Meskipun jauh, tapi gue merasa dekat. Rasa-rasanya kayak lagu Zivilia. Dekat dalam artian ada banyak lingkaran yang bikin gue dan mereka ada di dalamnya. Atau, antara masing-masing orang, minimal ada satu persamaannya, yaitu sama-sama ngeblog.

Misalnya, antara gue dengan Bang Yoga yang tinggalnya di Jakbar. Mungkin gue orang yang paling histeris ketika denger Jakbar. Ketika Stand up Indo Jakbar ikut LKS Kompas TV, gue girang bukan main. Padahal bukan bagian dari mereka. Paling sering, saat ketemu orang nyebutin dia tinggal di Jakbar, jantung gue bakal terpacu lebih cepat buat kenal lebih jauh sama orang itu.

Di kampus apalagi. Bagi gue, orang Jakbar kuliah di Jaktim dan sanggup pergi-pulang adalah orang tangguh. Ketemu orang Jakbar, gue langsung nyambut, “AH, SERIUS? JAKBARNYA MANA?!” Beberapa orang penting di kampus ada yang tinggal di Jakbar. Motivasi gue jadi makin nambah ... buat nyari temen dari Jakbar. Siapa tau aja, kalau gue ditakdirkan lanjut kuliah di luar negeri, gue ketemu orang Jakbar juga. Nggak ada yang tahu.

Lalu Bang Darma. Dia satu almamater sama gue di UNJ. Bedanya, dia udah lulus, gue masih maba. Beberapa kali dia nanyain atau ngomongin soal kehidupan kampus di grup atau personal chat. Mungkin naluriah sebagai senior, pengin tau mantan kampusnya.

Kalau kedua wanita di grup ini nggak tau apa kesamaannya. Hahaha. Paling itu tadi, sama-sama ngeblog.

Seandainya kami bisa ketemu berlima, gue mungkin yang paling diem. Ini dibuktikan sewaktu beberapa bulan lalu, saat ada voice call segrup. Handphone gue yang kebetulan lagi rusak saat itu nggak bisa ngeluarin suara dengan jernih. Gue coba online di laptop, mendengarkan lewat earphone, tetap nggak bisa. Mau ikutan ngomong, tapi suara gue nggak nyampe. Nyari-nyari lubang masuknya suara. Deketin mulut ke speaker, nggak bisa. Deketin ke kabel juga nggak bisa. Akhirnya gue jadi yang paling diem.

Gue mengambil kesimpulan dengan menganalogikan pertemanan ini dengan susunan tim Program Kreativitas Mahasiswa atau PKM.

Dalam sebuah kesempatan, gue pernah dengar seorang pembicara berkata bahwa sebuah tim PKM yang ideal adalah tim yang isinya (anggotanya) berasal dari berbeda-beda jurusan, fakultas, dan angkatan. Dengan begitu saling melengkapi ilmunya, kesempatannya, dan pembagian tugasnya. Kalau senior lagi sibuk, juniornya bisa bantu ngeprint proposal. Begitu juga sebaliknya.

Gue ngelihat WIRDY sebagai “tim PKM”. Kami berbeda-beda umur, daerah tinggal, dan latar belakang pekerjaan. Entah sampai kapan begini. Tapi, cuma makasih yang bisa gue ucapkan kepada kalian karena gue bisa ngerasain punya teman yang jauh jaraknya.

---

WIRDY lagi ulang tahun yang kedua, bertepatan sama Hari Guru. Ada yang mau disampaikan?

Sumber gambar:
https://pixabay.com/en/notebook-pen-eyewear-article-note-2672467/
https://www.duniaku.net/2015/06/06/captain-tsubasa-hyuga-final-liga-champions/
http://popkey.co/m/DDeM-happy-spongebob-cartoon-lol-shy-lolz

18 November 2017

Untuk masa-masa seperti sekarang, gairah dan semangat sedang tinggi-tingginya, momen yang gue suka adalah waktu antara Subuh hingga matahari mulai terbit. Dibanding sore yang menenangkan—tentunya diiringi lagu-lagu Payung Teduh, gue menyukai pagi karena memberikan rasa semangat. Mungkin nggak hanya gue yang menyukai pagi. Orang-orang yang bekerja pun suka. Meskipun dalam benaknya, entahlah, sedikit muncul pikiran, “Yah elah, udah pagi lagi. Waktu terasa pendek.”



Sebagai orang yang sering memulai hari dari pagi-pagi gelap, gue bisa melihat manusia dan interaksinya lebih banyak dibanding orang-orang yang bangun siang. Pemandangan “lomba lari di jembatan penyeberang orang (JPO)” sudah biasa gue lihat, bahkan gue suka “nantang” diri sendiri buat ngebalap siapa aja yang ada di depan gue. Mirip kayak Viru Sahastrebuddhe, dosen killer di film 3 Idiots yang nggak pernah mau ada yang ngedahuluin dia. Pokoknya harus selalu terdepan.

Lalu di tangga JPO. Seringkali gue ngelihat dua orang yang jalannya lambat banget, menuhin lorong. Bukan karena mereka pacaran, tapi mereka menghalangi jalan gue. Gue harus nahan-nahan diri buat bilang “Air panas, air panas!” biar mereka mau minggir.

Pindah ke angkot. Gue hampir selalu menemukan satu orang ini. Orang yang gue maksud ini nggak selalu gue lihat. Tapi, sekalinya gue lihat lagi orang ini, gue benar-benar kagum.

Dia adalah seorang ibu penjual makanan—entah kue, entah ikan mentah. Ibu ini membawa dagangannya dalam bak plastik, lalu ditaruh di atas kepala. Ya, kepalanya sendiri! Bukan kepala suku. Kepalanya dililit kain berlapis buat menopang bak—yang gue yakin ada isinya. Nggak mungkin kosong. Lagian kalau kosong, kurang kerjaan amat yak!

Kerennya, dia jalan biasa aja. Nggak goyah. Meskipun gue nggak bisa jamin, kalau gue senggol atau gue kelitikin pinggangnya, baknya masih bisa bertahan atau nggak. Gue kagum ... sekaligus ngilu.
Dulu pun gue pernah ngelihat orang seperti itu sewaktu TK. Pertanyaan gue selalu sama: apa kepalanya nggak sakit? Apa nggak merasa oleng? Secara, ini kepala, lho. Petinju aja kena tampol di kepala bisa teleng. Nah, ini ada ibu-ibu bawa makanan di bak di atas kepalanya. Gue bangun tidur kena salah bantal aja ngeluhnya sepanjang hari.

Itulah kekuatan yang telah Allah kasih kepada hamba-hamba-Nya. Masya Allah.

Pindah lagi ke objek lain.

Setiap kali gue berangkat ke kampus, dekat halte Transjakarta gue selalu menemukan pemandangan yang selalu sama. Salah satunya adalah pemandangan matahari mulai terbit. Selain itu, gue juga melihat pemandangan yang nggak kalah keren dan bikin gue geleng-geleng. Saking takjubnya. Pemandangan itu adalah seorang bapak yang mengatur lalu lintas, sambil sesekali merokok, dan berkaos dengan sablon tulisan “GOOD PEOPLE DRINK GOOD BEER” di bagian depannya. Yang membuat gue takjub adalah ... kaosnya itu lagi, itu lagi.

Mungkin dia cuek. Tapi gue, yang sering merhatiin sepele kayak gini, selalu memperhatikan hal ini. Kaos yang sama. Aktivitas yang sama. Respons dari gue yang sama: “Bau kaosnya kayak apa ya?”
Astagfirullah ngomongin orang.

Lanjut.

Gue berlari untuk dapat antrean bus paling depan. Niatnya biar bisa dapat tempat duduk lalu tidur. Walaupun sudah berlari dengan gesit, menghindari orang-orang, tetap saja ketika masuk bus harus berdiri. Itu sama rasanya kayak Messi gocek bola sana-sini, ngelewatin lawan (nggak pake permisi tentunya), udah di depan gawang, mau nge-shoot bolanya kempes.

Bagusnya setelah transit gue selalu dapat tempat duduk. Tapi, gue nggak langsung tidur. Pertama, baca buku dulu biar semua orang di bus ngasih pemakluman: “Oh, lagi belajar. Gak papa deh duduk.” Setelah satu halte dilewati, baru deh gue tidur. Orang-orang di bus, setelah gue bangun, pandangannya jadi beda: “Si kampret bohongan ternyata!”

Sampai di kampus, gue mampir sebentar ke perpus buat nulis laporan sekalian ketemu temen-temen. Sambil mengerjakan laporan, satu pesan WhatsApp masuk membuat konsentrasi gue hilang. Gue sempatkan untuk melihatnya sebentar.



Hanya berselang satu menit, ada pesan balasan.



Untung lagi di perpus. Kalau di luar, bisa-bisa gue ketawa, marah, nangis, dan guling-guling secara
bersamaan.

Jangan-jangan, orang ini baca judul postingan gue yang “Kamu Mau Nikah?”. Padahal itu, kan, tentang lagu “Akad”-nya Payung Teduh. Oh iya, ngomongin Payung Teduh, kaget juga karena vokalisnya keluar. Ditambah kaget setelah baca ini.

Kira-kira begitulah potret kehidupan pagi yang gue temui. Masih banyak hal-hal yang bisa ditulis sebenarnya. Bagi gue, pagi hari adalah langkah awal buat ngejalanin aktivitas seharian. Kalau hal buruk dianggap buruk padahal waktu masih pagi, patut dipertanyakan beberapa jam ke depan kayak gimana cara ngejalanin aktivitasnya.

14 November 2017

Halo, apa kabar?

Gue kangen membuka postingan seperti itu. Hal yang sama sebelumnya dikatakan Yoga Akbar di grup WhatsApp WIRDY. Setelah gue sadari, apakah perubahan ini menuju ke arah bagus atau jelek? Nggak tau deh.

Gue juga kangen membuka postingan dengan bilang, "aduh mau cerita banyak nih. Kalau kalian nggak mau baca lama-lama mending close tab aja". Makin ke sini gue nggak pernah bilang-bilang dulu kalau mau cerita panjang.

Gue juga kangen, memulai cerita dengan paragraf yang gak penting dulu. Nah, sekarang gue mulai cerita. Tapi mulai dari mana? Oh iya, bagian "bingung mau mulai dari mana" termasuk hal yang gue kangenin.

Begini...

Gue nggak pernah ikut OSIS. Namun, gue pernah ikut LDKS--yang biasanya jadi syarat masuk OSIS. Kelanjutannya gimana? Ya, tentu gue nggak lolos seleksi OSIS setelah LDKS.

Waktu itu, kelas 7, gue cuma nulis nama dan ekskul yang gue ikuti. Semua orang di kelas pun melakukan hal yang sama. Beberapa hari kemudian, secara acak, gue masuk dalam daftar orang yang ikut LDKS. Entah apa pertimbangannya, gue tiba-tiba ikutan LDKS. Yang makin bikin gue bingung waktu itu, GUE NGGAK TAU LDKS ITU APAAN.

Saat LDKS, lebih tepatnya LDKS jilid I karena ada jilid selanjutnya, gue ngelakuin apa aja yang dibilang senior. Disuruh jalan jongkok, hayuk. Makan permen dicelup garem, hayuk. Abis itu permennya digilir dari mulut ke mulut, hayuk! Saking polos dan nurutnya, gue dulu nggak ngerti jijik. 

Seiring dengan perkembangan otak, gue mengingat lagi kegiatan itu dan gue mikir, itu adalah acara aneh yang pernah ada. Nggak jelas dan kejam. Ada satu momen yang rasanya nggak akan pernah gue lupakan. Ketika itu, kelompok gue habis lari. Di ujung gang sudah ada kakak kelas lelaki berbaju batik sekolah. Dia nawarin sebotol air dalam botol 1,5 liter. “Kalian haus?”

“Iya, Kak.”

“Nih.” Dia nyodorin ke gue sambil senyum-senyum. Rasa haus telah menguasai diri, gue tenggak banyak sekali air itu, yang ternyata AIR GARAM! Ini percobaan pembunuhan gue rasa. Tenggorokan gue kena radang seminggu. 

Hah, terkutuk!

Astagfirullah.

Dan LDKS, bagi gue, selalu bikin orang nangis. Hal itu gue simpulkan setelah kakak-kakak OSIS (pura-pura) berantem. Gue hanyut dalam drama mereka. Ikutan nangis deh. Cengeng memang.

Masuk ke SMA, gue pelan-pelan ngerti maksud dan tujuan LDKS. Sesuai dengan namanya, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa, LDKS bertujuan untuk pelatihan kepemimpinan. Namun, di SMA pun gue nggak ikutan karena ... kegiatan tidur di kelas lebih enak.

Di dunia perkuliahan barulah gue merasa selama SMA kegiatan gue kosong. Nggak banyak modal kehidupan yang gue punya. Gue merasa sekolah begitu-begitu aja: datang, ngobrol, dengerin guru, tidur, pulang. Beda banget sama teman gue yang OSIS, misalnya Diki. Dia adalah ketua OSIS pada masanya. Pulangnya selalu Magrib. Hidupnya di sekolah nggak ngebosenin. Keren aja ngelihat dia.

Beberapa hari lalu gue ikut pelatihan kepemimpinan dari prodi di kampus. Salah satu alasan gue untuk ikut adalah banyak temen gue yang ikut. Hahaha. 

Foto-foto seperti ini harus nyelip di blog pribadi

Wajar, tahap-tahap maba masih harus bareng temen dulu.

Bukan hanya itu. Alasan paling mendasar adalah buat lebih tahu gimana caranya menata diri. Gue merasa, setiap kali ada banyak tekanan, gue nggak bisa nyelesain dengan baik. Akhirnya, gue malah kabur dari masalah itu lalu makin kepikiran terus. 

Lokasi acaranya ada di daerah Puncak. Jujur saja, ini baru pengalaman pertama gue ke Puncak. Selama ini, seperti yang gue tahu dari berita, gue taunya Puncak cuma daerah yang sering macet. Sekarang, lebih dari itu. Gue tau Puncak itu ... dingin! Keren juga lagi. Di balik kaca jendela bus, gue terkagum-kagum melihat pemandangan di luar yang isinya vila, pohon, dan kaleng kaca berisi asinan. “Wah, gila. Kenapa gue baru tahu sekarang, ya, kerennya Puncak?” batin gue. Sekaligus sebagai pengakuan kalau gue gagal jadi anak ibukota yang terkenal sering bikin macet Puncak.

Acaranya sendiri padet banget. Bangun sekitar pukul 2.30 pagi untuk salat Tahajud. Karena berada di daerah yang dingin, pertama kali berwudu badan gue langsung gemeteran. Udara dingin bikin gue pengin meluk magic com. Semua dilakukan sambil nahan-nahan ngantuk.

Pelatihan kepemimpinan mahasiswa (PKM), seperti namanya, isinya nggak jauh-jauh dari kepemimpinan, manajemen diri, dan organisasi. Buat gue, hal ini bisa jadi modal buat menghadapi dunia perkuliahan yang ada aja rintangannya. Pelatihan ini adalah ilmu yang aplikatif buat kehidupan sehari-hari. Beda dengan LDKS yang gue ikuti waktu SMP, saat ini gue lebih siap dan lebih ngerti apa makna yang didapat. Nggak sekadar asal dipilih dan ikutan.

---

Hari itu hari Minggu. Pulang dari PKM, di bus, gue mendapat satu pesan dari kakak gue. 

“Ke Puncak ada acara apa, Bi?”

“Pelatihan kepemimpinan, Mas,” jawab gue. 

“Ada tugas nggak buat Senin?”

DUAAARRR!

Sebenarnya gue sudah nyelesain tugas untuk hari Senin. Hanya ada beberapa laporan praktikum saja yang belum di-print. Gue berniat ngeprint di kampus. Denger-denger dari teman, di sana ada tempat ngeprint yang murah. Tapi entahlah. Gue malah ragu buat bisa ngeprint di kampus. Jadwal kuliah mulai dari pukul 7 sampai 9.40, lalu tugas laporan Fisika dikumpul pukul 10. Sepertinya nggak akan keburu ngeprint.

“Ada. Udah selesai, kok.”

Sampai di rumah, gue langsung mindahin file ke flashdisk kemudian pergi ngeprint ke warnet pukul 22.30. Jam-jam segini adalah hal biasa bagi gue untuk ngeprint. Bagusnya, di sana masih buka. Satu laporan telah tuntas. Masih ada satu laporan lagi yang belum dirapiin dan di-print. Nggak apa, kalau besok harus telat, maka telatlah.

Tugas laporan gue belum berhenti sampai di situ. Besok dua laporan praktikum Kimia harus dikumpul. Masih ada sedikit lagi bagian yang belum selesai. Gue membuat rencana bakal bangun tengah malam, sekitar pukul 2, seperti yang biasa dilakukan saat PKM, buat ngerjain laporan. Alarm sudah disetel. Nggak cuma satu, tapi ada tiga alarm dengan jeda masing-masing 15 menit. Gue tidur dengan nyenyak.

... sampai pukul 4.30. 

TUGAS GUE GIMANA DONG?! 

Mau nggak mau gue harus ngerjain di kampus atau di bus. Pukul segitu gue harus siap-siap berangkat. 

Gue mencoba berpikir tenang. Di kelas, gue nggak mau dosen lagi ngejelasin tapi gue malah asyik nulis laporan. Kalau kata pembicara sewaktu Kuliah Umum beberapa waktu lalu, itu namanya nggak here and now. Atau, kata guru Bahasa Inggris di SMP nyebutnya “lagi selingkuh”. Biar nanti aja ngebut ngerjain setelah praktik Fisika sebelum praktik Kimia lalu dikumpulkan.

Rencana gue gagal karena selesai praktikum pukul 12 lewat karena suatu hal (oh tentu, ini adalah bagian yang sensitif buat ditulis di blog muahaha). Praktikum selanjutnya, praktik Kimia, kelas gue harus pindah ke kampus B yang jaraknya sekitar 1,5 km. Butuh waktu paling cepat 15 menit kalau jalan kaki. Keluar dari lab gue berlari di pinggir jalan Rawamangun di antara teriknya panas matahari. Teman gue, Septi, memanggil dari jauh, “Sini bareng aja (sekelas) naik (angkutan). Pakai uang kas.” Gue hanya menggeleng dan terus berlari.

Di kampus B, gue datang lebih dulu daripada teman-teman yang naik Transjakarta atau angkutan lainnya. Dilanjutkan dengan salat Zuhur, kemudian gue ambil kertas laporan yang sudah gue cicil beberapa hari yang lalu. Plastik fotokopian di tas gue keluarkan untuk mengambil laporan dan melanjutkannya. Lembaran-lembaran kertas gue buka satu per satu, ternyata nggak gue bawa.

AAAARRRGH!

Akhirnya gue ngerjain laporan sejadi-jadinya. Nggak tanggung-tanggung, dua laporan gue kerjain dengan ngasal. Analisis dari laporan akhir gue tulis sedikit aja. Kesimpulan dari praktikum minggu kemarin gue tulis cuma tiga poin. Untuk hal paling gampang, yaitu cara kerja, gue lupa menulisnya. Ngaco banget pokoknya.

Namun, pada akhirnya, gue malah mendapat pelajaran paling penting dari PKM kemarin. Bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa memimpin dirinya sendiri terlebih dahulu, barulah bisa memimpin orang lain dan memengaruhinya. Dalam kasus gue, untuk memimpin diri sendiri aja gue masih belum maksimal. Laporan nggak selesai, kelabakan nggak jelas, dan tentunya manajemen waktu yang payah, mengingat beberapa hari yang lalu gue lebih milih main game daripada nulis laporan. Dodol emang.

Harapan gue setelah PKM adalah salah satunya biar bisa ngatur diri lebih baik lagi.  Yah, namanya juga belajar. Kayaknya, Nelson Mandela, pemimpin pergerakan Afrika Selatan, bakal bilang begitu kalau denger cerita gue.