03 December 2015

Perkembangan Teknologi Dalam Proses Belajar

Pesatnya perkembangan teknologi di Indonesia berdampak ke semua sektor kehidupan selama 10 tahun terakhir. Salah satunya di bidang pendidikan.
Dalam rentang waktu tersebut, gue berstatus sebagai pelajar. Tiap naik satu tingkatan selalu ada perubahan teknologi yang gue rasakan dalam proses belajar.

Awal-awal zaman SD, gue masih mengalami proses belajar "guru menjelaskan, siswa mencatat setelahnya". Proses belajar yang menurut gue dan beberapa teman sangat membosankan. Kadang di saat guru menjelaskan, teman-teman gue ketiduran. Akhirnya, giliran dimintai catatan, malah kena omel guru tersebut. Kasian.

Barulah di kelas 6 gue merasakan adanya teknologi masuk ke proses belajar. Seingat gue, waktu itu di kelas kami ada sebuah proyektor untuk menampilkan gambar-gambar proses fotosintesis. Itulah kali pertama (sekaligus yang terakhir) merasakan adanya teknologi masuk dalam proses belajar.

Sumber: Google Image | Benda canggih yang pernah gue temui di SD
Gue yakin, makin tinggi gue sekolah makin canggih juga teknologi yang dipakai. Karena teknologi sifatnya dinamis, selalu ada perkembangan mengikutinya.

Benar saja, teknologi itu berlanjut di SMP. Hampir setiap dua minggu sekali ada tugas presentasi kelas. Difasilitasi oleh proyektor, memudahkan kami untuk melakukan presentasi. Namun, masih ada beberapa guru yang masih menerapkan cara lama; menjelaskan kemudian mencatat. Sayangnya, nggak selalu membutuhkan proyektor dalam berpresentasi karena minimnya jumlah proyektor.

Tingkat selanjutnya, di SMA, sudah memiliki proyektor di kelas masing-masing. Ya, itu artinya akan ada tugas presentasi yang rutin. Males juga sih, kalo disuruh presentasi terus. Kebanyakan audiens nggak ada yang ngedengerin. #CurhatPelajar

Menurut gue, semakin ke sini semakin banyak varian cara belajar. Mau cara lama? Bisa. Cara modern? Bisa banget.

Kalo cara lama masih diterapkan, gue yakin ada segelintir siswa yang benar-benar menerapkan teknologi dengan baik. Contoh: ketika seorang guru menjelaskan semua materi di papan tulis dan diharuskan mencatat, ini yang terjadi...

Cara cepat mencatat materi di papan tulis
Ya... difoto. Gue yakin orang kayak gini nggak bakal susah move on kalo pacaran. Karena nggak punya kenangan mantan.

"Kok di galeri handphone lu nggak ada foto pacar lu? Malah kebanyakan foto papan tulis?"
"Pacar mah nggak penting. Pentingin dulu pelajaran!"

Cakep!

Dulu, buku cetak sangat dicari para pelajar. Kini, buku cetak posisinya sejajar, bahkan sedikit tergeser, oleh buku elektronik. Buku elektronik bisa memberi alternatif pada siswa yang nggak mau keberatan bawa buku paket yang tebalnya bisa buat alas tidur dan mukul begal sampe amnesia ringan.

Dengan masuknya teknologi ke dalam proses belajar, sangat memberi dampak oleh para pelakunya, baik guru maupun siswa.

Dari sisi positif,
1. Varian cara belajar dari guru
Guru nggak harus ada di depan kelas, ngoceh-ngoceh, sedangkan muridnya tidur di pojokan sambil nutupin muka pake jaket. Nggak harus. Sekarang bisa aja guru ngejelasin lewat video pembelajaran yang diputar, dan bisa divariasikan lebih atraktif lagi.

2. Baik guru maupun siswa, bisa mencari materi dengan cepat
Hampir semua daerah di Indonesia udah bisa dilalui akses internet. Apalagi bagi orang yang tinggal di kota-kota besar. Apa pun materi yang dibutuhkan bisa diakses di internet. Udah banyak, kok, web/blog yang menyediakan. Jadi nggak harus ke pergi jauh-jauh ke perpustakaan buat nyari tau sesuatu. Asal jangan nyari tau info tentang gebetan aja. :p

3. Hemat tempat
Kini, dengan bermodal segenggam smartphone, semua bisa membawa buku yang seharusnya berisi buku sekoper dalam satu folder di handphone. Hanya bermodal smartphone, buku cetak elektronik bisa masuk ke dalamnya. Kecuali kalo yang doyan main TTS, nggak bakal bisa ngisi jawaban di buku elektronik.

Sayangnya, nggak ada sesuatu yang sempurna, begitu juga dengan perkembangan ini. Dalam penerapannya, gue banyak menemukan dampak buruk teknologi yang masuk ke proses belajar.
1. Ada beberapa oknum membuka konten terlarang
Kalau dulu ada orang nonton video porno di warnet, gue sering gregetan. Bawaannya mau ngelapor ke polisi. Tapi, sekarang di lingkungan sekolah aja udah sering ditemui. Malah nontonnya rame-rame. Gue tambah gregetan jadinya. GUE NGGAK DIAJAK NONTON!

Eh. Maap.

(Baca ini: Ditinggal Guru, Siswa-siswi SMP Ini Nonbar Film Porno di Kelas)

Ini merupakan penyalahgunaan teknologi yang menghancurkan moral. Jangan ditiru untuk teman-teman pelajar. Ingat, di sekolah kita telah diberitahu mana yang baik dan mana yang seharusnya dijauhi. Jauhi pornografi demi menyelamatkan moral bangsa.

2. Gadget Membuat Lupa Diri.
Ini yang seringkali terjadi. Karena keasyikan browsing di depan layar komputer/handphone, ternyata udah larut malam. Padahal udah nge-browsing dari subuh. Nggak sadar udah melewatkan banyak waktu yang seharusnya bisa dilalui di kehidupan sosial. Kehidupan di masyarakat itu penting banget, guys. Gue--yang dasarnya seorang pendiam dan penyendiri-- berusaha mau berinteraksi dengan teman-teman. Ngabisin waktu bareng gadget itu bikin merasa dijauhi orang-orang. Toh, kita paling butuh bantuan mereka (masyarakat) di saat gadget nggak bisa nolong. Emang mau, pas kita meninggal nggak ada yang ngubur, kesepian karena jarangnya interaksi sosial? Gadget nggak bisa megang cangkul dan keranda, guys.

3. Biaya Lebih
Ini emang persoalan banget, Semua yang canggih pasti ngeluarin uang lebih. Tapi, kalo emang bisa dimanfaatkan dengan baik teknologi itu, nggak mustahil uang itu terbayar lunas dengan kesuksesan. Betul, kan?

Terakhir, gue mengharapkan pada orangtua untuk selalu mengawasi kegiatan apa yang dilakukan oleh anak-anaknya dalam menggunakan teknologi. Sementara, gue, sebagai pelajar, berharap pada teman-teman untuk nggak menyalahgunakan teknologi.

Bukankah menyenangkan bisa berprestasi dalam berkembangnya teknologi? Ayo, berprestasi di perkembangan teknologi.
10 November 2015

Lomba Stand Up Comedy

Seharusnya, post ini gue tulis paling lambat seminggu setelah acara terjadi. Jadi gini, tanggal 13 September lalu, gue ikut lomba stand up comedy. Hampir sebulan baru bisa gue post. Ceritanya nggak basi-basi amat, kok.

***

Berawal dari akun Twitter @ficocacola atau lebih akrab dikenal dengan Fico, gue mendapat info tentang lomba stand up yang diselenggarakan PMI dalam rangka ulangtahun ke-70. Lomba itu diselenggarakan di Museum Nasional. GRATIS! Gue langsung nyiapin materi buat lomba nanti.
H-1 minggu gue nyiapin segala bahan. Berhubung temanya PMI dan gue nggak tau apa-apa soal PMI, gue tanya sana-sini tentang PMI. Sayangnya, orang-orang yang gue tanya mengenai PMI jawabannya nggak memuasakan.

Berbekal nekat, gue berangkat ke Museum Nasional sendirian. Nyasar bodo amat deh. Orang bijak pernah berkata, "Malu bertanya sesat di jalan". Gue siap nanya mas-mas tukang ojek seandainya gue nyasar.
Ternyata, untuk mencapai Museum Nasional sangatlah mudah. Gue kira, buat ke Museum Nasional harus masuk ke gang-gang, harus ngelewatin banyak belokan, ngelompatin lingkaran api, dan sebagainya. Setelah gue googling, Museum Nasional tepat berada di depan Halte Monas.

Singkat cerita, gue sampai pada hari perlombaan. Sebelum berangkat, gue minjem kartu TJ punya bapak gue. Gue nggak enak mau minta uang ongkos ke orangtua, jadinya gue bawa duit sendiri. Jadilah, gue cuma bawa 7 ribu rupiah. Cuma pas buat naik angkot pergi-pulang masing-masing 3 ribu, sisa seribu. Miris.

Gue langsung ke halte Rawa Buaya. Sekitar 10 menit, bus datang. Karena gue masih belum paham perjalanan ke Monas, gue transit di Harmoni. Seharusnya, gue ngambil jurusan ke arah Pulogadung, nanti bisa turun langsung di Monas. Nah, gue malah transit di Harmoni, yang terkenal dengan antreannya panjang. Ya udah, gue harus ngantre.

Ketek gue gerah dan berkeringat selama ngantre. Agak risih juga kalo misalnya orang di sebelah gue tutup hidung terus gara-gara kebauan ketek gue. Kasian dia. 15 menit ngantre, akhirnya gue bisa masuk bus, lebih tepatnya berdiri. Jangan harap bisa dapat tempat duduk setelah ngantre di Harmoni. Pukul 12.00 gue sampai di halte Monas. Keluar dari sana, bencana datang: sendal gue putus! Yak, gue panik setengah mati. Gue mau nyari tukang sol, tapi gue ingat kalo duit gue tinggal 4 ribu, sedangkan 3 ribu buat naik angkot. Fix, nggak ada tukang sol yang mau dibayar dengan seribu rupiah. Oke, karena gue pejuang, gue harus melanjutkan perjalanan.

Gue masuk museum, di sana gue ngeliat ada petugas tiket masuk. Pengunjung lain berdiri di depan loket, lalu ngeluarin duit. Mampus, mereka bayar tiket buat masuk! Gue bingung dengan kondisi duit gue yang cuma bisa buat beli es teh manis doang (itu juga kalo masih dapet seribu!). Panas dingin, mau pingsan aja, tapi ngerepotin pengunjung museum. Biar nggak keliatan mencurigakan, gue nanya ke satpam, "Mas, lomba stand up comedy di mana ya?" Dia langsung ngasih arahan. "Masuk, belok kanan, mentok, di situ".

"Makasih, Mas."

Gue langsung masuk diam-diam. Setelah masuk, nggak ada yang nanyain tiket. Yes! Gue aman.

Setelah nyari di mana tempat lomba dilangsungkan, gue menemui sebuah panggung dengan spanduk besar. Mungkin ini panggungnya.
"Mas, lomba stand up di mana ya?" tanya gue ke seorang berbaju merah dan memegang kamera di tangan kirinya.
"Ini..., lombanya di sini. Nanti daftar ulang jam 1."
"Makasih, mas"

Setelah dapat info yang jelas, selanjutnya gue harus nyari tempat sholat. Gue langsung nyari mushola atau masjid terdekat. Gue nanya petugas. "Mas, masjid deket sini di mana ya?" Dia jawab sambil memperlihatkan gestur seakan mau ngusir, "Musholanya ada di basement."

"Makasih, mas."
Gue ke parkiran. Sholat dzuhur.

Selesai sholat, gue liat-liat koleksi museum. Begonya, gue lupa foto. Kan, kalian ngira gue lagi ngasih berita hoax. Tolong, ya, percaya aja. Gue beneran ikut lomba stand up, kok.

Gue menuju sekitar panggung lagi. Nunggu sekitar 20 menit buat daftar ulang. Setelah tiba waktunya, gue langsung daftar ulang ke panitia. Gue dapat nomor 18, yang berarti gue tampil ke 18. Sebelum duduk, gue dikasih souvenir berupa tas kecil berisi gunting kuku, hand sinitizer, dan tissue. Ada juga satu kotak snack. Lumayan, nih... pulang ah. Udah dapet bingkisan.

Eittts, tujuan gue ke sini mau stand up, bukan nyari bingkisan.

Gue duduk di kursi yang disediakan, bersama peserta lain. Ada orang yang seusia gue duduk di sebelah gue sekitar 5 menit. Datang lagi orang yang lebih besar. Orang yang duduk di sebelah gue nyapa orang yang baru datang. Gue gondok.

"Dari tadi sebelah lo itu orang. 5 menit gue dianggurin aje nggak diajak ngobrol!"

Semua peserta mengisi kursi yang disediakan. Total ada 31 peserta. Kebanyakan anak Jakarta Pusat. Gue sebagai anak Jakarta Barat nggak mau kalah, malah ada yang datang lebih jauh. Dia dari Argentina. Nggak deh, paling jauh dari Depok.

5 peserta maju. Nggak ada yang ngangkat crowd penonton. Padahal ada satu orang yang bagi gue lucu. Tapi, nggak ada yang ketawa. Padahal banyak yang nonton. Kebanyakan anak sekolah lagi lomba PMR. 5 peserta benar-benar bikin anyep suasana. Fico sebagai juri langsung naik panggung, dia ngomong, "Ya, itu tadi 5 sambutan dan kini masuk ke acara lomba sesungguhnya."

Bangke.

Comic keenam perform. Comic keenam bener-bener pecah penampilannya. Katanya, dia anak komunitas Stand up Ciledug. Materinya rapi, act outnya keren. Gue standing applause, dan gue masih kepikiran gimana caranya stand up dengan nyaman kalo sendal gue putus. Beban banget.

Seterusnya, nggak ada yang wow banget. Padahal, materinya udah lumayan bagus, tapi berhubung penontonnya kebanyakan anak SMP, jadi nggak terlalu ditanggepin. Ini yang bikin gue makin nervous

Tiba saatnya gue dipanggil. MC (yang nggak gue kenal namanya) menyebut nama gue. "Wah, anak Kalideres nih. Biasa ngangkutin barang di terminal. Ini dia... Robby Haryanto"

Bangke. Double bangke. Gue kepikiran sendal putus. Gue pengen improvisasi ngomongin sendal putus, tapi udah dipake sama comic sebelumnya... dan gagal. Buang rencana ngomongin sendal.

Bit pertama adalah nyawa. Gue anyep di bit pertama. Bener-bener susah ngangkat ketawa penonton. Fico nggak ngeliatin gue.
Sepanjang penampilan, nggak ada yang ketawa. Udah gitu, gue nge-blank. "Oke, tepuk tangan dulu buat kita semua." 5 menit itu, jadi show tepuk tangan buat gue. Fico nggak ngeliatin gue, sekalinya ngeliat gue malah kayak pengin ngomong "Turun aja, lo, kampret. Lo nggak lucu".

Nggak terasa gue telah menyelesaikan perform selama 5 menit. "Itu si Robby stand up malah pake sendal. Kayak mau kondangan, pake kemeja pula. Pas banget." MC lagi nge-roasting gue.

"Tenang, bro, lu keren," kata abang-abang yang dari tadi duduk di sebelah gue, mencoba menyemangati.
"Iya, bang. Makasih. Duh, nervous banget." Gue duduk, masih merasakan gemetar pada kaki.

Tapi, gue senang bisa nyoba stand up. Biarpun nggak dapat tawa, kesempatan ini bukanlah kesempatan stand up gue yang terkahir. Gue masih akan tetap mencoba dan mencoba. Gagal dan gagal lagi.

Asal jangan sendal gue yang putus. Capek nyari tukang sol.

Bonus foto pas Fico stand up.



08 November 2015

Berobatlah, Jika Engkau Ingin Dapat Surat Izin Dokter

Seminggu yang lalu, gue baru aja ikut acara Science Class yang diadakan di SMAN 94. Awalnya gue nggak ikut acara ini, karena jatah perwakilan dari tiap sekolah cuma 2 orang. Tadinya mau ngirim 4 orang, dan gue ada di dalamnya. Terpaksa gue harus ngalah, ngasih kesempatan buat anak kelas 10.

Kesempatan itu akhirnya kembali datang ke gue setelah anak kelas 10 yang udah ditunjuk ogah-ogahan buat pergi. Jadilah gue dan anak kelas 10 yang pergi.

Tema pada acara itu adalah mengenai elektronika. Gue sangat tertarik pada hal-hal itu. Yang bikin gue makin tertarik dengan acara ini adalah ada kuis nge-tweet tentang acara ini di awal acara. Gue, sebagai manusia doyan nge-tweet, langsung nge-tweet sesuai dengan gaya remaja masa kini: curhat.

Curhatnya sedikit menjilat
Kuis itu diumumkan di akhir acara sebelum penutupan. Gue kaget, nama gue dipanggil sebagai pemenang kuis tersebut. Udah gitu tweet gue dibacain pula.
Gue penasaran, siapa aja yang ikut. Ternyata, cuma gue doang yang ikut. Ada sih peserta dengan hashtag yang sama, cuma lewat Path. Ada yang bener-bener nge-tweet, tapi dari akun ekskul sekolah gue, yang adminnya... gue.


  


Well, gue merasa sebagai pemenang tunggal. Lumayan, lah, dapet hadiah dari panitia acara. Hadiah yang udah lama gue pengen, tapi karena nggak tau namanya makanya nggak pernah beli, dan baru punya sekarang (setelah menang kuis)

Makasih ya atas hadiahnya. Lumayan buat nyatet ide
(atau saat terdesak bisa buat gampar orang)

***

Untuk saat ini, musuh terbesar gue adalah kipas angin. Ya, gue lagi nggak enak badan. Gue sakit. Tiap kali kena embusan angin dari kipas gue langsung merinding. Rasanya ser-seran gitu.

Setelah sekian lama nggak pernah berobat, akhirnya gue kembali berobat ke dokter hari Rabu. Sebenernya, alasan utama gue mau pergi berobat adalah biar dapet surat izin dokter. Udah. Nggak ada niatan suci lainnya.

Gue langsung ke klinik ditemani mama gue. Sampai di sana, gue mendapati tiga orang sedang mengantre. Satu ibu-ibu, suami dari si ibu-ibu, dan bapak-bapak berjaket. Ibu-ibu itu menyuruh gue masuk. Dia baru aja keluar dari ruang periksa dan lagi nungguin obatnya keluar. Nggak lama kemudian, orang dari dalam ruang periksa memanggil. "Ya. Selanjutnya, mas." Bapak-bapak berjaket masuk.

Bapak-bapak berjaket telah keluar dari ruang periksa. Kemudian giliran gue masuk. Mama ikutan masuk.
Begitu masuk ke ruang periksa, ada seorang cewek Chinese, masih muda. Gue rasa, umurnya masih kepala 2. Lalu, timbul pertanyaan,

"Yakin ini dokternya? Gue kira dia lebih pantes jadi personel Cherrybelle."

Cantik banget.

"Ini siapa yang sakit? Mas-nya?" Dokter itu bertanya sambil mengarahkan telunjuk ke arah gue lalu ke arah mama gue.
"Ini, dok, anak saya." Mama gue memegang kedua pundak gue.
"Oh. Silakan duduk."

Gue duduk. Kemudian gue ditanya banyak hal oleh Bu Dokter.

"Namanya siapa, mas?"
"Robby"
"Umurnya berapa?"
"Enam belas"
"Sekarang kelas berapa?"
"Kelas sebelas, dok"

Gue merasa lagi di intervew kerja. Cuma kurang kemeja sama bawa map aja nih.

Dari tadi gue nungguin dia ngasih pertanyaan "Udah punya pacar belum?" Kalo aja dia nanya gitu, langsung gue jawab, "Belum, dok. Kalo dokter aja yang jadi pacar saya gimana?"
Tapi gue sadar kalo seorang dokter nggak boleh pacaran dengan jarum suntik.

"Apa yang dirasain sakit?" Bu Dokter itu kembali nanya, sambil mengambil alat pengukur tensi darah (kita sebut saja tensimeter, karena gue nggak tau nama tepatnya)
"Uhuk."
"Oh, batuk"
"...." tanpa menjawab, Bu Dokter udah tau.
"Terus apa lagi?" Bu Dokter makein tensimeter di tangan gue.
Gue menjelaskan semua rasa sakit yang gue rasa. Bu Dokter masih sibuk memencet bagian tensimeter yang berbentuk balon. Kemudian dia copot dari tangan gue. Lalu beralih sibuk mencatat.

"Oke, coba naik ke kasur buat periksa."
Gue naik ke kasur.
"Coba buka mulutnya," pinta Bu Dokter.
Gue membuka mulut lebar-lebar. Bu Dokter menyalakan senter kecil, kemudian mengarahkan ke mulut gue.
"Coba, bilang 'A' yang panjang"
"AAAAAA....I LOV YUUUU"

Bercanda.

"AAAAA"
"Oh iya, ini radang."

Semua pemeriksaan selesai. Dokter bilang, mungkin gue kecapekan. Emang bener deh, sejak acara Science Class minggu lalu, gue merasa capek banget. Diperparah dengan pola makan gue yang nggak beres. Makan telat, makan makanan berminyak, dan kurang minum.

Yah, mungkin saatnya gue mengistirahatkan diri dengan: tidur seharian di hari Minggu. Plus, batalin semua kerja kelompok. Huehehehehe.

Bukannya biasanya juga begitu, Rob?
Ya, intinya tetap jaga pola hidup sehat. Gue janji setelah pulih nanti akan rajin olahraga. Nggak telat makan dan makan gorengan sesuai porsinya.

Petugas klinik ngasih surat dokter. Gue baca di situ, cuma dikasih libur satu hari. Yah.. tambah jadi tiga hari dong. Penonton kecewa.
31 August 2015

Pelajaran Dari Sepeda

Seminggu ini, gue lagi sering banget naik sepeda. Berangkat-pulang sekolah naik sepeda. Berangkat-pulang les juga naik sepeda. Cuma berangkat umroh aja nggak naik sepeda. Belum ada uangnya, coy.

Karena kebiasaan gue yang baru ini, banyak teman yang bertanya, "Emang nggak capek naik sepeda?" Jujur aja, masalah capek naik sepeda itu pasti ada, tapi mau gimana lagi, udah terlanjur cinta banget sama sepeda. For your information, jarak rumah gue ke sekolah sekitar 3 atau 4 kilometer. Dan, itu nggak terlalu jauh bagi gue. Kenapa harus ada pertanyaan "Emangnya nggak capek?"

Gue baru bisa naik sepeda kelas 6 SD. Payah? Emang, payah banget. Ketika teman gue udah ada yang naik motor Scoopy saat itu, gue baru belajar sepeda. Yang lain udah naik motor kopling, gue baru bisa naik sepeda mini (sampe sekarang gue nggak paham dengan konsep penamaan sepeda mini. Padahal ukurannya besar). Mungkin ketika gue baru bisa naik motor, teman gue yang super tajir udah bisa naik awan.

Dulu, ketika tahap-tahap belajar sepeda, gue pernah mimpi bisa naik sepeda sebanyak dua kali. Pertama, gue naik sepeda sendiri. Kedua, keliling kota naik sepeda. Udah gitu, boncengan sama cewek pula. Asik banget, kan. Gue yakin ini adalah petunjuk. Ya, mimpi yang pertama udah kesampaian, cuma yang kedua aja belum.

Mungkn lewat mimpi itu yang membuat gue suka bersepeda.
---

Ketika naik sepeda, mata gue nggak bisa selalu memandang ke depan. Bahkan, gue lebih sering memandangi kanan-kiri jalan daripada memandang ke depan. Nggak jarang juga, gue nyanyi sambil naik sepeda. (Ada satu video di Instagram gue yang nunjukin kalau gue suka nyanyi sambil naik sepeda. Coba aja dicek @robby_haryanto. Promo dikit boleh yak!)

Satu hal yang paling sering gue lakukan ketika naik sepeda, yaitu melamun. Memang, sih, agak berisiko kalau tiba-tiba ada motor ngebut kemudian gue kaget, lalu mental dari sepeda. Apalagi, gue bersepeda malam hari yang hawanya sejuk bawaannya mau ngegelar tikar di trotoar. Ngantuk banget pasti.

Dalam lamunan itu, banyak hal yang gue pikirkan. Awas, gue nggak ngelamun jorok, kok. Dalam lamunan juga gue sering membayangkan banyak hal. Makanya, dari melamun sambil naik sepeda itu yang jadi ide tulisan gue di blog. Keliatannya melamun itu tanda orang malas, tapi bagi gue melamun adalah proses produktif. Mungkin, hampir semua post di blog gue ini bersumber ketika gue naik sepeda. Terimakasih sepeda.

Dari sepeda, gue belajar sedikit tentang kehidupan. Dalam kehidupan, kita dituntut untuk terus bergerak agar bisa maju. Maksud gue, kita harus terus bergerak agar kita bisa maju, tapi perlu diperhatikan juga ketika kita bergerak. Jangan sampe gerakan itu cuma menjadikan kita diam di tempat. Lepaslah standar sepeda, bergeraklah maju.

Sepeda juga mengajarkan untuk menikmati proses. Ketika gue belajar sepeda, nggak jarang gue ditertawai oleh ibu-ibu. "Ah, Robby udah kelas 6 nggak bisa naik sepeda, kalah sama si anu (menyebutkan anak kecil berusia 4 tahun)" Karena gue punya keinginan yang kuat, gue tutup kuping sama omongan orang itu. Gue tau, itu cuma kata-kata penciut semangat.
Berkali-kali gue jatuh, gue tetap belajar lagi. Gue nggak mau kalau kejadian ketika kelas 1 SD terulang. Gue cukup belajar dari pengalaman.
Jadi ceritanya, gue dulu pernah punya sepeda kelas 1 SD. Ketika itu, gue selalu semangat buat belajar sepeda. Suatu hari, gue naik sepeda roda empat, di belokan pertama kali yang gue hadapi saat belajar sepeda, gue jatuh. Sejak itu, gue kapok dan nggak pernah lagi nyentuh sepeda.

Naik sepeda mengajarkan untuk mengambil keputusan secara cepat dan tepat. Sepeda adalah kendaraan yang paling enak buat selap-selip, selain motor mio. Tapi karena ukurannya yang kecil, pesepeda suka ragu ketika menghadapi celah kecil di antara angkot. Makanya, ketika ada sedikit celah pesepeda dituntut buat langsung ngambil tindakan; nyelip. Kalau telat atau timing-nya nggak pas, bisa ketabrak truk atau taksi yang ngebut. Serem, kan?

Paling penting, sepeda mengajarkan seseorang untuk seimbang. Ketika kita sedang naik sepeda tiba-tiba ada kendaraan--yang lebih besar dari sepeda, misalnya; motor, truk, atau tank-- melintas dengan cepat, otomatis orang yang naik sepeda akan kena hempasan anginnya. Bagi orang yang nggak fokus, bisa goyah keseimbangannya.
Begitu juga dengan hidup. Selagi kita berjalan ke depan, kita pun harus siap menghadapi hempasan masalah yang siap melintas. Jika kita kokoh, kita tetap melaju ke depan. Tapi, jika kita lemah, kita bisa terjatuh.... lalu ditertawai tukang pecel lele pinggir jalan.

Segitu aja sih dari gue selama naik sepeda sambil merenung. Mungkin, ada yang mau nambahin atau berbagi pengalaman tentang bersepeda?  Oh iya, post ini mendapat ide ketika gue bersepeda. Jadi, buat kalian yang suka nulis lalu tapi kekeringan ide, cobalah bersepeda. Bagi gue sih, tip ini ngebantu banget.

Jangan lupa, kalo lagi naik sepeda, pastikan kondisi jalan lagi nggak ada hajatan. Kalo ada hajatan repot mau selap-selip.
14 August 2015

Kebiasaan Buruk Pengunjung Gramedia

Gue merasa ada perubahan dalam diri mengenai minat membaca buku. Walaupun gue cuma baca buku jenis tertentu (pastinya menghindari buku pelajaran), tapi setidaknya ada peningkatan dalam minat baca buku. Dulu, gue nggak tahan baca novel selama 20 menit. Sekarang, gue bisa 30 menit baca novel. 10 menit buat baca, sisanya gue ketiduran.

Peningkatan itu ditandai dengan seringnya gue ke Gramedia. Setiap pulang les, tepatnya hari Minggu (saat kelas 10) atau Sabtu (saat kelas 11), gue sering ke Gramedia buat beli atau sekedar liat-liat cewek cakep buku baru.

Pokoknya, Gramedia tempat ngabisin waktu paling seru~ (Gue nggak tau ini Gramed mana. Sumber: Google)
Karena seringnya gue ke Gramedia, gue jadi tau kebiasaan pengunjung Gramedia. Mungkin nggak cuma di Gramedia, tapi di toko buku lainnya juga hampir mirip kebiasaannya. Berikut adalah kebiasaan buruk yang gue amati di Gramedia dan gue rangkai menjadi sebuah cerita. Mainkaaan~

1. Buka bungkus, tinggal pergi.
Di sebuah Gramedia, ada seorang pemuda yang usianya sekitar 2-3 tahun lebih tua dari gue mendatangi rak buku berkategori Bank Soal. Gue memperhatikan, orang itu melirik sebuah buku Bank Soal UN SMA. Dari awal kedatangannya, dia memang mau membeli buku itu, ditandai dengan sebuah anggukan kecil setelah melihat bagian belakang buku. Karena ragu dengan isi buku, khawatir ada surat teror di dalamnya, dia membuka bungkus dengan lihai tanpa ketauan petugas. Gerakan tangannya cepat, matanya mengawasi sekitar, hidungnya mengendus. Singkat cerita, buku itu lepas dari bungkusnya. Senyum kemenangan timbul di bibirnya. Gue memperhatikan dari jauh dan menggelengkan kepala pertanda nggak setuju dengan perbuatan orang itu. Ya, gimana nggak setuju, buang plastiknya sembarangan, sih.

Orang itu langsung melihat isi buku. Halaman demi halaman dia buka. Gue bergerak mendekati dia, sekitar 5 langkah di samping kanannya. Satu menit kemudian, buku itu ditaruh kembali ke tempat semula sambil mengatakan "Kampret! Buku ini gue udah punya!" Buku itu nggak jadi dibeli. Lu tau gimana rasanya jadi buku yang udah nggak dibungkus dan nggak jadi dibeli? Jadi nggak laku, bro.

2. Baca buku gratisan dan menghalangi jalan
Setelah buku yang nggak jadi dibeli telah dibuka bungkusnya, muncul empat orang yang usianya sepantaran dengan orang tadi dan menghampiri buku tersebut. Hasilnya? Buku itu dibaca mereka. Alhamdulillah, masih ada yang mau baca. Mereka semua duduk di lantai, membentuk lingkaran. Salah satu dari mereka membacakan soal. 
"Seorang anak melempari buah kelapa yang berada tepat di atasnya yang tingginya 100 kilometer dari tanah. Supaya kelapa terkena batu, berapakah minimal besar kecepatan awalnya?"
Suara orang yang membaca soal itu terdengar oleh gue yang nggak jauh dari posisi mereka duduk. Gue sedikit kaget melihat dan mendengar tingkah mereka. "Lo pikir ini kerja kelompok?! Ini Gramedia, tuan-tuan, nyonya-nyonya. Kasian orang-orang yang mau lewat."

3. Baca buku sambil tiduran di lantai
Nggak terasa, mereka semua keasyikan baca dan belajar. Mereka nggak sadar telah merubah posisi membaca mereka dari duduk menjadi tiduran. Yak, tiduran. Emang, sih, niat buat pintar itu nggak boleh dihalangi, tapi harus tau tempat dong. Kalau ketiduran gimana? Kan repot.

4. Naruh buku nggak sesuai kategori
Karena mereka risih dan lelah membaca, mereka akhirnya meninggalkan buku itu. Tentu saja, buku itu masih dalam keadaan belum terjual. Mereka meletakkan buku itu ke rak terdekat dari posisi tiduran mereka. Tapi, anehnya, ada tulisan "Anak-anak" di atas rak. Mungkin karena mereka tiduran sambil berguling, mereka nggak sadar telah berpindah posisi dari buku kategori Bank Soal menjadi Anak-anak.

Mereka nggak sadar telah menaruh buku di kategori yang beda.

***

Segitu aja cerita imajinasi gue. Sekarang masuk ke dunia nyata, yang benar-benar gue alami...

Sejujurnya, gue paling terganggu dengan yang nomor 4. Gimana nggak, saat nyari buku yang benar-benar sulit dicari, lalu kita beli buku yang sejenis, kemudian setelah bayar kita ngeliat buku yang dicari ada di kategori yang nggak ada hubungannya. Kesel, kan? Pastilah. Eh, maaf, kebawa emosi...

Selain itu, gimana kalau seandainya kasus yang di cerita tadi diteruskan dan terjadi di kehidupan nyata? Misalnya, ada anak kecil pergi ke rak buku dengan kategori Buku Anak. Si anak melihat sebuah buku dengan tulisan kover depan "Lulus SMA 100%". Entah tertarik dengan gambar atau warna sampulnya, si anak merengek ke ibunya. "Mama, aku mau beli buku ini," rengek si anak.
Si ibu heran, "Kamu belum pantas buat baca buku ini, Nak,". Karena si anak makin ngeyel, dia memaksa ibunya buat beli buku itu. "Pokoknya, aku nggak mau tau. Mama harus beliin aku buku itu!" Si ibu kesal, lalu memarahi anaknya, "Oke! Nanti ibu belikan buku itu. Sekalian buku Tes TOEFL dan Tes CPNS juga biar mabok kau..."

Sedih, kan, jadi anak kecil. Mereka harusnya baca buku yang sepantasnya mereka baca.

Untuk mengakhiri postingan kali ini, gue akan bercerita sedikit yang benar-benar terjadi. Masih berkaitan dengan salah menempatkan kategori buku.

Minggu siang, sekitar dua minggu yang lalu, gue berada di Gramedia. Gue ngeliat-liat buku  kategori New Arrival. Kemudian, pandangan gue beralih ke buku dengan kategori Fiksi, genre buku yang belum pernah gue baca sebelumnya. Baru baca judulnya aja gue udah geleng-geleng, gue nggak ngerti dan tertarik. Tapi, apa salahnya buat tau judul-judul buku.

Semua buku yang ada di kategori Fiksi gue telusuri. Lalu, pandangan gue terbuyarkan oleh sebuah buku dengan kover yang pernah gue temui sebelumnya. Mungkin, semua orang tau dengan kover buku yang satu ini; ada seorang kakek-kakek memakai peci dan memegang tongkat. Gue yakin, ciri-ciri tadi pasti kalian mengenalinya. IYA! ITU BUKU IQRO'


Gue bertanya-tanya setelah melihat buku itu. "Ini kerjaan siapa coba? Lagian siapa, sih, yang abis ngaji di Gramedia? Kenapa nggak dibalikin ke masjid atau ke kategori yang sepantasnya."

Buku Iqro' ditempatkan di buku Fiksi. Bagaimana pendapatmu? Saya sih lelah dengan ini semua..
29 July 2015

Jadi Ketua Kelas (Lagi)

Kadang gue berpikir, kriteria seperti apa yang cocok untuk menjadi seorang pemimpin. Bisa berbicara di depan umum, punya attitude yang baik agar bisa dicontoh oleh orang lain, dan masih banyak lagi. Begitu juga seorang ketua kelas, yang notabene jadi pemimpin di kelas.

Sewaktu kelas 10, gue pernah jadi ketua kelas. Banyak yang udah dibahas di blog gue (Bisa baca di sini, di sini, dan di sini). Lalu, apakah gue termasuk orang yang punya kriteria yang udah gue sebutin di atas? Jawabannya: Nggak.

Semakin ke sini, gue berpikir ada satu kriteria ketua kelas dan gue punya kriteria itu, yaitu gampang disuruh-suruh. Gue termasuk orang yang penurut. Apapun perintah yang bersumber dari orang yang lebih tua dari gue, gue menurutinya. Ya, nggak semua perintah gue turuti sih. Kalau gue disuruh terjun dari lantai tiga sekolah, gue nggak bakal mau.

Banyak teman-teman kelas 10 yang sekarang berbeda kelas dengan gue bilang, "Kelas 11 jadi ketua kelas aja lagi, Rob.". Gue berpikir, jangan-jangan teman gue mau ngeliat kelas gue hancur dan merasa saingan kelasnya berkurang. Gue cuma bilang ke mereka, "Nanti liat aja. Semoga nggak ada yang milih gue."

Sebenarnya, untuk menjadi ketua kelas, gue udah nggak berminat lagi (Lah, pede banget. Emang ada yang mau milih lu?). Tapi, seandainya gue bisa terpilih jadi ketua kelas lagi, gue pasti siap. Tapi ada satu hal yang membuat gue mikir lagi buat jadi ketua kelas, yaitu bertemu dengan orang baru nggak selalu mudah buat berinteraksi.

Suasana di hari kedua sekolah masih sama seperti hari pertama: canggung. Itu karena kelas diacak di kelas 11. Bertemu dengan orang baru yang sebelumnya belum saling kenal, apalagi ngobrol dan menegur jadi alasan yang gue dapatkan dari kecanggungan kelas baru. Tapi, gue yakin, suasana kayak gini cuma sampai seminggu atau paling lama dua minggu. Liat aja kalau udah sebulan. Pasti udah nggk jaim-jaiman lagi. Pokoknya, kalau udah dibentuk kelompok belajar pasti langsung membaur. Percaya sama gue.

Hari itu, wali kelas gue masuk. Gue nggak asing lagi dengan orang ini. Beliau adalah wali kelas gue di kelas 10. Namanya Pak Pras. Pak Pras masuk ke kelas, lalu mengucap salam "Assalamualaikum".

Seisi kelas menjawab salam.

"Ayo, siapkan berdoa." kata Pak Pras di depan kelas. Kemudian, teman-teman gue yang duduk di depan saling melirik ke temannya. Seakan nyuruh buat nyiapin kelas. Ada di antara mereka yang benar-benar main suruh-suruhan. "Si anu aja... si anu aja," Gue diam, berharap nggak ada yang nyuruh gue (Lah, pede banget lu).

Ketakutan gue terjadi. Teman-teman yang dulu pernah sekelas dengan gue di kelas 10 langsung melirik ke gue seakan berkata, "Rob... siapin doa gih," Berhubung gue peka dengan tatapan mereka dan gue termasuk orang yang gampang disuruh-suruh, gue menyiapkan kelas,

"Siap."
"Berdoa."
"Memberi salam."

Orang-orang yang duduk di depan tatapannya langsung tertuju ke gue. Tatapannya mirip kayak orang yang nuduh temennya kentut, "SIAPA NIH PELAKUNYA??!" Gue sumringah.

Setiap kelas pasti ada pengurus kelas. Di hari kedua, pemilihan pengurus kelas dilakukan. Sama seperti di kelas 10, pemilihan dilakukan dengan menulis nama calon. Boleh menulis nama sendiri. Cara yang udah pernah gue rasakan sebelumnya.

Gue menulis nama Mubarok, orang yang jadi wakil gue di kelas 10.

Semua kertas berisi nama calon pengurus kelas sudah terkumpul. Penghitungan suara dimulai. Satu per satu nama disebutkan lalu ditulis di papan tulis. Mirip pemilihan kepada daerah, ya.

Nama Syaiful disebutkan 3 kali oleh Bunga. Lalu, nama Rizky disebutkan sekali. Sejauh ini, gue aman. Belum ada tanda-tanda kehancuran hidup.

Nggak lama kemudian,

"Robby." Bunga menyebutkan nama gue, lalu ditulis di papan tulis.
"Kampret! Siapa nih yang milih gue??!" gerutu gue. Gue mencoba tetap tenang dan berpikir jernih. "Untung cuma satu, mungkin ada orang iseng." pikir gue.

Kemudian nama Syaiful disebutkan lagi sekali. Disusul Rizky sekali. Lalu,
"Robby"

"2 suara??! Siapa lagi nih yang milih gue??!" teriak gue dalam hati. Gue mulai nggak tenang. Kemungkinan terburuk masih bisa terjadi. Seburuk-buruknya, gue jadi bendahara.

Setelah itu, malapetaka mulai datang. Entah ini kerjaan siapa yang milih gue, nama gue disebutin 3 kali berturut-turut. Jumlah suara gue sama kuat dengan Syaiful. Ya ampun, gue mau mati. *lebay

Mungkin karena ini kelas baru, orang-orang yang memilih gue bingung mau memilih siapa. Mungkin, seharusnya mereka menulis nama Syaiful, tapi karena typo jadi menulis nama Robby. Iya, gue tau itu typo maksa banget.

Sampai ketika jumlah suara gue udah berjumlah 10, orang-orang yang duduk di depan gue langsung melirik cowok-gembel-duduk-di-belakang. Yak, mereka ngeliatin gue. Seakan tatapannya berbicara, "ANAK MANA NIH. BISA DAPET 10 SUARA. MAIN DUKUN NIH PASTI,"

Sumpah, gue nggak main dukun.

Mereka kaget melihat nama gue bisa dapat suara sampai segitu banyak. Kalau ada yang curiga gue main money politic, gue bakal membantahnya. Sumpah, gue nggak main curang demi jadi ketua kelas. Gue cuma sebagai underdog (baca: di bawah anjing) dalam pengurus kelas. Gue layaknya sebagai kuda hitam, adalah orang yang nggak diunggulkan.

Setelah selesai, semua suara calon pengurus kelas dijumlah. Gue mendapat 13 suara mengalahkan Syaiful dengan 6 suara. Gue heran kenapa bisa sampai dapat 13 suara. Gue bertanya-tanya siapa aja orang yang merelakan hidupnya untuk menjadikan gue sebagai ketua kelas. Secara kepopuleran, gue sama sekali nggak dikenal di sekolah. Lalu, bagaimana bisa gue mendapat 13 suara?

Logikanya, di kelas gue, ada 8 orang yang kelas 10 MIA 3 (kelas gue dulu) yang notabene pernah merasakan gue jadi ketua kelas. Dikurang satu suara karena gue nggak milih nama gue. Jadi, ada 6 orang yang belum kenal gue yang memilih gue. Itu juga teman-teman yang dulu sekelas belum tentu milih gue. Harusnya mereka menyesal memilih orang yang sesat seperti gue.

Setelah ditentukan dan dipilih jadi ketua kelas, Pak Pras menghampiri gue, lalu bertanya, "Robby siap jadi ketua kelas?"
Gue jawab dengan mantap, "Siap, pak!".

Siap, pak!
Setelah itu, Pak Pras kembali ke tempat duduk. Gue memikirkan hal buruk apa yang selanjutnya bakal terjadi pada gue. YAK, PIDATO! Saat gue jadi ketua kelas 10 MIA 3, gue disuruh pidato. Saat itu, gue benar-benar mau ngomong apa karena belum ada persiapan sama sekali.

"Ummm..., terimakasih telah memilih saya." kata gue grogi.

Lalu, Pak Pras memotong pidato gue, "Jangan berterimakasih kepada teman kamu, tapi sampaikan apa yang akan kamu lakukan nanti ketika jadi ketua kelas."
 
Saat itu, gue ingin menjawab, "Saya ingin sekolah diliburkan dan hanya masuk sekolah dua hari dalam seminggu," tapi, gue sadar kalau permintaan itu bertentangan dan pasti gue bisa masuk penjara. Gue bingung memikirkan mau menjawab apa, tapi teman-teman gue malah tertawa. Gue makin grogi. Gue mulai bersuara, "Nanti saat saya jadi ketua kelas, saya akan mengadakan piket pagi," kata gue dengan jumawa. "Nah, belum pernah ada kan program kayak gitu ha ha ha..." gue makin yakin.

Nyatanya, piket pagi yang dijanjikan itu cuma mitos. Miris.

Tidak mau jatuh ke lubang yang sama, gue menyiapkan kata-kata untuk pidato nanti. Gue siapkan kata-kata yang membuat hati teman-teman gue luluh. Kesannya biar bisa dipercaya gitu. Istilahnya "Buatlah kesan yang baik dalam pertemuan pertama. Setelah itu, barulah timbul malapetaka".

"Terimakasih, telah mempercayai saya sebagai ketua kelas. Sungguh ini adalah pengalaman saya yang sangat berarti. Mungkin dengan terpilihnya saya sebagai ketua kelas, merupakan sebagai batu loncatan untuk kepemimpinan yang lebih besar luang lingkupnya. Misalnya, jadi presiden Maroko..."

Wuih, kalian yang baca pasti luluh, kan, dengan kata-kata gue. Gue berlatih pidato dalam hati, berharap bisa pede saat berpidato nanti. Gue membayangkan nantinya gue mendapat tepuk tangan dari teman-teman dan wali kelas. Lalu, ada kepala sekolah yang nggak sengaja lewat kelas gue dan melihat gue berpidato. Beliau pun ikut tepuk tangan dan menganggap pidato gue sebagai... ajakan dari sebuah aliran sesat.

Nyatanya, Pak Pras nggak nyuruh gue pidato. Miris.

Itulah akibatnya kalau terlalu pede.

Terakhir, doakan gue, ya, semoga kuat dalam menjalani tugas sebagai ketua kelas. Dan, semoga nggak ada hal-hal buruk yang menyerang. Aamiin.
06 July 2015

Rasanya Jadi Ketua Kelas

Tahun ini, gue baru pertama kali ngerasain yang namanya libur sebulan. Ini terjadi karena libur semester dua berbarengan dengan libur lebaran. Mirip zamannya Presiden Gus Dur gitu deh. 

Pokoknya, dengan kejadian (langka) ini, ngga ada alasan buat ngga punya baju baru, apalagi anak yang baru lulus atau masuk sekolah.
"Baju baru lebaran buat aku udah beli kan, Ma?"
"Udah dong, sayang. Spesial buat tahun ini, baju lebaran kamu ada logo osisnya.."
"...."

Setidaknya, orang tua masih bisa beliin baju buat anaknya. Bersyukurlah sobat.

Libur sebulan emang bikin terlena. Biasanya tiap pagi gue harus sekolah, sekarang gue gak tau waktu. Yang mana pagi, yang mana siang. Pokoknya, kalau gue udah bangun tidur, itu berarti masih pagi. Padahal, udah jam 1 siang.
 
Gue menghabiskan waktu libur dengan hal-hal membosankan. Buka twitter jarang ada notifikasi. Main facebook cuma ngarep ada yang inbox "RL-an yuk..". Ask.fm juga sepi dari pertanyaan. Line dan BBM isinya cuma ajakan bukber yang ujungnya nyakitin. Bukan nyakitin karena gak jadi, tapi keadaan finansial gak mendukung. Buka Instagram sempet dibikin seneng gara-gara nonton videonya Kevin Anggara, Chandra Liow, Aulion dan sekutunya (siapa nih maksudnya?). Tapi, suatu malam, gue baru buka Instagram dan langsung disuguhkan foto yang diupload mantan tentang "doi"-nya. Dan perihnya, GUE TAP DUA KALI GAMBARNYAA. TAP DUA KALI... DUA KALI. DUA KALI BIAR AZEK. AAAAA... RAJUNGAN. Lalu, terdengar nyanyian di kepala gue,

Kau hancurkan aku dengan sikapmu
Tak sadarkah kau telah menyakitiku
Lelah hati ini meyakinkanmu
Cinta ini, membunuhku.

Seketika, dunia lebih gelap dari pada biasanya. Iya lah gelap, gue main hape-nya malem.

Untuk melupakan insiden stalking barusan, gue buru-buru memandangi langit (mungkin bisa dicoba buat korban stalking). Tiba-tiba, gue terpikirkan untuk nulis post ini. Terciptalah sebuah ide mencuri kolak untuk menceritakan "suka-duka gue jadi ketua kelas". Entah kenapa, setiap selesai nge-stalk dan berakhir nyesek, gue selalu dapat ide nge-blog yang brilian. Terimakasih mantan untuk segalanya. Kau berikan lagi, ide brilian. (dibaca dengan nada lagu Terimakasih cinta - Afgan).

Gue ingat, 6 bulan sebelumnya gue diangkat jadi ketua kelas yang meneruskan kekuasaan Ricardo, ketua kelas sebelumnya. Kalau di sebuah film aksi, gue adalah calon pemimpin perang yang datang dari keluarga tidak mampu, bahkan tidak dianggap di sebuah desa. Lalu, gue datang dengan gagah mencalonkan diri, menang di pemilihan, dan berakhir dengan kepala dipenggal karena kepemimpinan yang buruk. Suram.

Setiap pengalaman, banyak suka duka yang bisa dirasakan. Gue pun begitu, selama jadi ketua kelas, gue banyak merasakan manis dan pahit. Tapi, manis dan pahit adalah sebuah kombinasi yang menjadikan suatu hal lebih kaya rasa tanpa ada yang lebih dominan di keduanya. Hidup itu butuh keseimbangan, sob.


Biar kayak minum jamu, gue sebutkan pengalaman yang pahit dulu. Ayo semua, tundukkan kepala.

Ketua kelas juga siswa biasa.
Sebagai ketua kelas, gue merasa dikastakan oleh teman-teman gue. Gue juga manusia biasa. Kadang ada yang bilang gini, "Rob, lu kan ketua kelas. Masa gak ngasih contoh yang baik." Ada kalanya, ketua kelas juga pengen nakal.
Lebih parah lagi, ada yang bilang gini, "Rob, gue tadi ngeliat lu main bola. Gue kagum banget. Tendangan lu keren, apalagi saltonya. Mirip Jackie Chan..". Yoih, dunia (binatang) mengakuinya bwehehe.

Sesekali jadi orang yang hina.
Kadang ada perintah guru yang gak mengenakan teman-teman. Gue mau gak mau harus menyampaikan perintah itu ke mereka. Lalu, respon mereka... menghina dan mencaci gue. Kit ati akuh.

Mereka yang gak seneng, langsung minta yang nggak-nggak ke gue. Mau gak mau, gue harus nolak mereka. Lalu, respon mereka... menghina dan mencaci. Kit ati akuh.

Banyak yang nanya
Gue adalah tipe orang yang suka ditanya. Makanya, gue paling senang kalau lagu di jalan, terus ditanya jalan sama pengendara motor yang lewat di depan gue. Tapi, perlahan kebiasaan itu hilang setelah GPS muncul. Jadi gue jarang ditanya lagi.

Tapi, setelah gue jadi ketua kelas, gue lumayan sering ditanya teman-teman. Bukan sekedar pertanyaan "Robby udah makan belum" atau "Robby udah sunat berapa kali", tapi lebih penting dari itu. Karena ketua kelas adalah sumber info paling akurat yang langsung diturunkan oleh guru.

Kebiasaan sering ditanya membuat gue jengah. Gue mulai gak suka ditanya setelah mendapat pertanyaan super gak penting. 

Misalnya, waktu itu ada tugas membuat presentasi dari Pak Roy-- guru Agama gue. Beliau udah memerintahkan pengumpulan tugas dikirim ke alamat email-nya. Tapi, ada salah satu teman sekelas gue nanya di BBM, "Rob, emang tugas Agama kalo udah selesai kirim ke pak roy?"


Respon gue saat itu: Ini pertanyaan  yang gak perlu dijawab.

Kenapa gue bilang gitu? Pertama, udah jelas harus dikirim. Kedua, jelas-jelas guru Agama adalah Pak Roy. Ketiga, pengin gue katain tuh orang, "Bukan. Bukan kirim ke Pak Roy. Tapi kirim ke kantor pos, terus ditujukan ke alamat rumah lu..., biar lu baca sendiri tuh tugas.."

Lagian, ini kan file. Mana bisa kirim via kantor pos. Jadi ketua kelas emang harus punya kesabaran yang tinggi.

Pahitnya udah, kita ke bagian yang manis.

Enaknya jadi ketua kelas adalah..
.
.
.
.
.
.
.
Enaknya coba sendiri deh. Nggak deh, bercanda. Yang bener gini, nih:

Seketika jadi suami-nya anak-anak.

Sering di kelas gue gak ada guru masuk. Makanya, teman-teman sekelas bakal bertingkah liar. Pasti ada aja teman yang izin ke kamar mandi. Karena gak ada guru, mereka bakal izin ke orang yang udah ditanggung jawabkan. Siapa? GUEH.
"Rob, izin ke kamar mandi, ya."
"Rob, gue ke toilet ya."
"Rob, ngapain lu nungging di meja guru? Di belakang lu ada guru tuh.."
Pokoknya, semua bakal izin ke gue. Semua gue anggap sebagai istri dan gue suaminya karena mereka istri harus izin ke suami. Surga kalian berada pada ridho gue nyiahahaha.

Dapat info lebih cepat
Tiap ada info dari guru, siapa yang paling dulu dicari? Iye, KETUA KELAS. Misalnya, ada info ulangan. 
Ketua kelas adalah orang yang pertama tau kapan ada ulangan dan kebenarannya 100%. Jadi, kalau udah dikasih info ulangan, gue bisa belajar lebih dulu dibanding teman yang lain. Istilahnya, nyolong start.

Lihat dong hasilnya... gue tetep remedial


Ngumpulin tugas semaunya.
Salah satu tugas ketua kelas adalah mengumpulkan tugas ke guru. Jadi, gue sering disuruh ngumpulin tugas ke meja guru setiap ada tugas. Dengan ini, gue punya keuntungan, antara lain: 1) Gue yang akan ngumpulin tugas, berarti terserah gue mau ngumpulin tugas kapan karena ujung-ujungnya gue yang ngumpulin tugas. 2) Berarti, gue bebas mau ngerjain tugas kapan pun, karena gue yang ngumpulin tugas.

Terakhir gue ngelakuin hal itu, gue diomelin teman-teman sekelas.


Mungkin segitu aja cerita gue. Ada yang pernah jadi ketua kelas? Kalau ada bisa share cerita tentang ketua kelas di kolom komentar.
01 May 2015

Kenangan Sebelum Naik Kelas

Memasuki bulan April, sekolah gue mengadakan berbagai lomba dalam rangka memperingati hari Bumi. banyak lomba yang diadakan. Ada lomba kebersihan kelas, menghias tempat sampah, dan membuat slogan. Padahal gue mengharapkan ada lomba balap kelomang. Atau lomba panjat pinang, tapi pinangnya dibelah dua. Karena gak ada hubungannya dengan hari Bumi, makanya ditiadakan.

Sebagai ketua kelas, gue diwanti-wanti oleh guru penyelenggara lomba buat merencanakan lomba secara serius. Karena gue orangnya juga suka dengan hal-hal serius, akhirnya gue nikah dengan guru tersebut.

Yaelah, serius amat bacanya. Gue gak serius nikah sama guru itu.

Nah, ketauan deh kalau gue orangnya gak serius.

Oke, sekarang baru serius.

Jadi, setelah upacara (gue lupa tanggalnya), penyelenggara lomba memberikan info tentang apa aja yang dilombakan (udah gue sebutin di atas). Gue lebih memfokuskan untuk lomba menghias tempat sampah karena lomba yang lain cuma butuh waktu yang singkat. Saat ada jam pelajaran kosong, gue langsung mencari orang yang kira-kira mau dan ada waktu buat nge-cat tempat sampah. Karena gue gak mau nyari orang yang ogah-ogahan, gak niat, dan males buat ikutan. Malah jadi beban nantinya. Gue gak mau aja terjadi kejadian kayak gini:

'Rob, gue males ikutan ngehias tempat sampah. Pala gue pusing, mual-mual, sakit perut'
'Oh..... LU HAMIL???'
'IYAAAA, ROB. INI BENIHH KAMUUU. CEPAT TANGGUNG JAWAB!!! NIKAHI AKU SEKARANG JUGA!!!'
'TAAAAPI, AKU GAK KENAL SAMA KAMU. DASAR TUKANG CAKWE GILA!


Sungguh fantastis, dari ekspektasi gue yang cuma ngarep ada 15-an orang yang ikut, ternyata gue mendapati 26 dari 36 orang yang mau ikut ngehias tempat sampah. Setelah mendapatkan nama yang berniat tulus ikut serta, gue langsung mendiskusikan kira-kira konsep apa yang bagus buat menghias tempat sampah. Gue juga belum kepikiran saat itu.

'Gini. kan lomba menghias tempat sampah nantinya ada dua tempat sampah, sampah organik dan anorganik, kira-kira bagusnya kayak apa tempat sampahnya?' 'Cari hal yang sepasang'
'Itu aja, air dan api. Kan itu sepasang'
'Hmmm.. boleh juga' 'Ada yang lain?'
'
'Kalau gue sih, mending ondel-ondel aja. Kan sepasang tuh, sekalian kita membawa budaya di tempat sampah' 'Bukan berarti ondel-ondel itu tempat sampah'

Ternyata mimpi gue malam sebelumnya punya pertanda dalam pemberian ide ini. Di mimpi gue, gue dikejar dua ondel-ondel dan salah satunya gue kenal. Akhirnya, gue lari dengan membuka celana, barulah dua ondel-ondel itu pergi karena melihat gue yang menjijikan. Mantap!

'Nah iya, tuh, Rob. Gue setuju'
'Setuju'
'Haaah... setuju apa?'

Hening

Akhirnya disepakati kalau kita akan menggambar ondel-ondel di tempat sampah kita.

Langkah selanjutnya, cari tempat sampah yang seukuran pinggang orang dewasa. Gue gak tau mau cari itu dimana. Gue coba tanya ke orang-orang yang gue kenal di mana tempat beli tempat sampah yang seukuran itu. Hasilnya, banyak yang menjawab: di pasar. Sisanya: gak tau.
Gue sempet bingung kenapa mereka jawab di pasar. Gue lebih setuju kalau tempat sampah dijual di toko. Bener gak, sih?

Gue sempet males juga beli tempat sampah itu. Di hari Selasa, gue ngajak Mubarok, temen sekelas sekaligus wakil ketua kelas buat beli. Tapi menurut dia terlalu sore mengingat kita berdua ada lintas minat saat itu. Akhirnya, kita sepakat beli di hari Rabu.
Sesuai yang dijanjikan sebelumnya, gue mau beli tempat sampah usai pulang sekolah. Tapi apa mau dikata, semesta tak merestui. Hari itu hujan dari siang sampai sore. Rencana dipindahkan ke hari Kamis.

Singkat cerita, di hari Kamis gue udah bersiap membawa uang yang bendahara kelas kasih ke gue. Gue harap gak ada lagi hambatan hari ini. Gue tunggu Mubarok lintas minat sampai pukul 15.30 karena gue udah gak ada jam pelajaran lagi. Selesai sholat Ashar, kita pergi ke pasar.

Di pasar A (gue lupa namanya), kita cari-cari toko yang jualan tempat sampah. Setelah keliling pasar sampai seisi pasar kenal kita berdua, ternyata hasilnya gak ada. Kita memutuskan buat nyari ke pasar B, pasar yang gue yakini ada penjual tempat sampah.
Di pasar B, gue sempet bingung mau cari kemana. Soalnya, terkahir kali gue ke pasar ini setahun yang lalu. Pasar yang setahun lalu dengan yang sekarang jauh berbeda. Sekarang lebih rapi dan tentunya lebih baru tampilannya.
Setelah gue masuk ke dalamnya, ternyata gak ada yang beda. Beda cuma di luar aja, kalau dalamnya masih sama. Masih ada toko baju langganan mama gue, masih ada tukang es krim woody di pinggiran toko, dan masih ada koruptor merajalela di negeri ini. Cihuuuy!

****

Yang gue kesel kalau ke pasar ini (mungkin di pasar lain juga sama) adalah saat kita jalan di depan toko, pasti ada mbak-mbak yang bilang 'Boleh, kak. Masuk aja. Cari apa, ya?'. Masih enak kalau yang ditawari orang baik, coba kalau yang digituin orang jahat.

'Boleh, kak. Masuk aja. Cari apa, ya?'
'Bener nih? Gak ada orang kan?'
'Iya, kak. Masuk aja. Cari apa, ya?'
'Cari apa? Saya cari kepuasan HUAHAAHAHA. Akhirnya aku bisa menikmati tubuhmu, manis'
'Ohhh, jangan mas. Jangan apa-apain saya. Cakwe saya belum laku sama sekali di rumah'

Oh, ternyata tukang cakwe ini yang gila karena diperkosa.

****

Barusan adalah sepenggal cerita karangan, biar gak bosen gitu. Oke, balik lagi ke dunia nyata.
Gue masuk ke lantai satu pasar gak nemu toko yang jual tempat sampah. Gue nyaris pesimis saat itu.

'Gimana, nih. Gak ada tokonya yang jual tempat sampah?'
'Iya, gak ada. Lu mau cari pasar lain?'
'Yaudah deh. Cari aja di pasar lain'

Akhirnya kita jalan menuju keluar pasar. Karena Mubarok gak paham pasar ini dan gue udah lupa jalan keluar lewat mana, terpaksa kita nyasar sebentar. Gue baru inget kata mama gue saat gue kelas 4. Mama gue bilang 'Kalau mau makan, jangan lupa piringnya yang biasa aja. Jangan pake piringan hitam'. (Oke, gak ada hubungannya).
Kita berdua jalan terus ke sisi Timur pasar. Dan seketika, kita nemu tangga buat turun. Setelah menuruni tangga, kita dikejutkan oleh suatu hal. Bukan, tukang cakwe gila itu dateng terus kentut di depan muka gue, tapi kita dihadapkan oleh sebuah toko.... yang ada tempat sampah di sana. Ngapain naik ke lantai satu kalau ternyata di lantai dasar ada, batin gue.
Tanpa pikir panjang, gue dan Mubarok langsung ke toko tu. Singkat cerita, demi ketikan yang gak terlalu panjang, gue membawa dua tempat sampah yang diinginkan. Polos dan setinggi pinggang.

Karena gue ketua kelas jujur dan terbuka, akan gue laporkan berapa uang yang dikelurakan buat beli tempat sampah ini, biar temen sekelas gue gak penasaran ataupun menaruh curiga.
Teruntuk warga kelas X MIA 3, harga dari dua tempat sampah adalah Rp 130.000,00 (Seratus tiga puluh ribu rupiah). Gue rasa cukup.

Singkat cerita, sampai di hari Sabtu, hari dimana menghias tempat sampah. Gue udah janjian sama orang terpilih dan yang mau merelakan waktu buat menghias tempat sampah di sekolah. Semua bahan siap  dan pola gambar ondel-ondel di gambar oleh Laras, orang yang gue percayai punya sentuhan dalam menggambar. Tapi sangat disayangkan, ternyata Laras lebih mirip gambar muka gue daripada gambar ondel-ondel.
Karena gue ada les, gue gak bisa ikutan ngehias tempat sampah bareng mereka. Semua kerjaan yang gue tinggalkan, gue percayakan kepada Owi, sang maestro X MIA 3.

***

Setelah pulang les, gue ke belakang sekolah buat ngeliat apa masih ada orang disana. Setelah gue liat, ternyata masih ada dan hampir selesai. Setelah selesai, gue angkat tempat sampahnya dan bergumam, 'Kok, mirip gue dalam ukuran mini'
Lalu, setelah dirasa cukup kering, gue titipkan tempat sampah (yang mirip gue) ke sekolah karena gak mungkin dibawa pulang ke rumah.
Gue yang baju warna biru. Ada di belakang
Keliatan pala doang

Lagi

Sekitar 3 minggu kemudian.....

Sekitar 3 minggu berlalu, tepatnya di tanggal 21 April kemarin, diadakan apel memperingati hari Kartini sekaligus penilaian dan pengumuman pemenang lomba. Gue udah pesimis dengan lomba slogan. Karena slogan dari kelas gue 'gak banget'. Cuma kertas dengan tulisan 'Sampah jadi polusi, bersih jadi solusi'. Gue gak yakin kayak gitu bisa menang.

Lain lagi dengan tempat sampah, gue sangat optimis. Ngeliat tempat sampah kelas lain, gue sebenernya sempet jiper dengan tempat sampah dari anak kelas 11 IIS berapa gitu lah, gue lupa. Di tempat sampahnya, bener-bener dilukis kayak di kertas kanvas. Gue udah yakin, pasti yang bikin bukan gue. (Yaiyalah).

Hingga akhirnya, pengumuman dibacakan.

'Juara 2 lomba menghias tempat sampah... kelas X MIA 3'

Sontak temen sekelas teriak-teriak, gue lompat-lompat, tetangga gue sunat, sunatnya teriak-teriak sambil lompat-lompat.
Gue disuruh maju dan menerima hadiah berupa bingkisan dan piagam penghargaan. Untuk foto penyerahan hadiah, gue gak punya. Tapi piagam ini mungkin cukup memberi bukti
Juara 2. Gak apa lah..

Maling kotak amal a.k.a Robby Haryanto

Dan... inilah kenangan kita sebelum naik kelas. Insha Allah kita semua naik kelas. Aamiin

Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing, ingatlah hari ini.
26 March 2015

Koala Kumal dan Kisah Pilu Di dalamnya

Setelah gue punya cetakan pertama buku koala kumal, gue langsung mengincar target untuk mendapat tanda tangan sang penulis karena gue gak bisa beli pre-order yang bertandatangan. Tau sendiri gimana udiknya gue dalam transfer uang yang membuat gue gak bisa beli buku bertandatangan.

Tanggal 26 Februari berikutnya, gue ke Mall Puri Indah bersama teman gue, Fahrul, buat datang meet n greet Raditya Dika dan berharap bisa dapat tanda tangannya. FYI, gue juga sebelumnya pernah ke Mall Puri Indah bareng Fahrul dan gue tulis disini.
Walau saat itu gue sedang UTS dan gak enak badan, tapi gue tetep gak mengurungkan niat mulia ini (ceilaaah). Mumpung gue pulang cepet dan kesempatan terbuka lebar. Kapan lagi coba ketemu penulis idola.

Segala persiapan udah dilakukan. Malamnya gue BBM Fahrul buat memastikan besok jadi atau tidak.

Gue: Bang, besok jadi gak nih?
Fahrul: Jadi dong. Gue udah siapin semua nih. Helm juga udah siap
Gue: Wah, bagus tuh. Gak sabar nih buat besok
Fahrul: Iya, gue juga. Gue udah cuci sepatu nih
Gue: Niat banget cuma mau ketemu Radit
Fahrul: Iyalah, kapanlagi ketemu idola

Betapa niatnya Fahrul untuk ketemu idolanya. Gue salut dan terharu.

Keeesokan harinya pada jam 3, gue langsung menunggu di halte sekolah SMK 42. Gue nunggu lama kedatangan Fahrul yang saat itu masih di sekolah. Sampai gue tunggu 15 menit, datang juga yang dinanti.

'Lu kemana tadi? gue udah nunggu di halte dari tadi. Makanya gue muter lagi barusan'
'Lah, gue daritadi juga udah nunggu disini'
'Pantes aja nunggu disini, gue nunggi di halte depannya'
'Ah, pantes aja gak ketemu'
'Yaudah ayo buruan naik'

Sambil mengendarai motor, Fahrul sedikit ngobrol dengan gue.

'Kira-kira keburu gak ya? Gue takut gak keburu nih. Udah jam 3 lewat 15 menit'
Gue yag gak terlalu denger Fahrul ngomong apa, gue cuma jawab 'Insha Allah'. Semoga dia tetep nyambung dengan jawaban gue.

Selama di perjalanan, gue masih seneng-seneng aja. Tiba-tiba Fahrul berhenti dan masuk ke rumah warga yang berada di pinggir jalan. Dari pengamatan gue, pemilik rumah merangkap sebagai toko kayu.

'Kenapa bang? Kok berhenti?
'Lu gak liat. DI DEPAN ADA POLISI TUH'

Gue bingung apa hubungannya ada polisi dengan keberhentian ini. Biasanya kalau gue dibonceng temen gue naik motor dan ada polisi di depan, temen gue langsung ngebut aja.
  
'Gue takut kena tilang. Nanti motor gue ditahan'
'Kasih uang aja. 20 ribu mau gak?'
'Gak mau. Minimal 50 ribu. Sayang banget kalau dikasih'

Saat gue dan Fahrul numpang neduh dari tilangan, sang pemilik rumah mempersilahkan kita masuk dan kita duduk. Sang pemilik rumah sedang main PS bersama anaknya. Oke, ini gak terlalu penting.

'Santai aja, ini pasti orang Madura. Gue kenal banget dari ciri rumahnya' kata Fahrul. Fahrul adalah orang Madura dan pantas saja saat dia ngobrol dengan pemilik rumah, mereka mengerti bahasa satu sama lain.

'Tapi kita mau tunggu sampai jam berapa disini. Biasanya razia itu sampai sore'
'Kayaknya gak bakal jadi deh ketemu Radit'

Setelah menunggu sampai pukul 15.45, sang pemilik rumah mengatakan kalau polisi sudah tidak ada lagi. Langsung saja kita melanjutkan perjalanan dengan harapan masih ada Radit disana.

Sesampainya disana, gue melihat beberapa anak SMP yang bawa buku koala kumal. 'Wah, udah banyak nih yang dateng' pikir gue. Tapi setelah anak SMP itu membuka bukunya, gue melihat sudah ada tanda tangan disana. Mampus, acara udah mulai dan kita gak tau dimana acaranya dilaksanakan.

Muter-muter nyari dimana tempat acaranya, kita melihat ada orang yang membawa buku koala kumal juga.

'Mending ikutin orang itu aja'
'Ayo'

Kita ikuti orang itu dan sampai pada karpet merah yang gue lihat di twitter saat di rumah tukang kayu tadi.

'Nah ini tempatnya, tapi kok kosong. Cuma ada mbak-mbak pake kaos koala kumal'
'Ini kayaknya udah selesai deh acaranya'
 'Yah iya bener. Ini udah selesai acaranya'
'Acara apaan cuma satu jam. Kampret banget'

Gue melihat orang yang tadi gue ikuti terlihat kecewa karena ketinggalan acara meet n greet, sama kayak perasaan kita berdua. Untuk mengobati ini semua, gue ke gramedia yang ada di lantai satu. Dari atas, gue masih melihat karpet merah yang tadinya ada acara meet n greet dan masih banyak juga orang yang kesana. Terlihat wajah yang sama diantara mereka, wajah yang kecewa.

Gue memutuskan beli buku Radikus Makankakus buat mengobati kecewa ini. Tapi, Fahrul masih terlihat kecewa dengan kenyataan ini.

'Ah, kapok gue kesini lagi. Gak dapet tanda tangan, hampir kena tilang polisi lagi' kesal Fahrul

Gue sih gak terlalu sedih karena gue masih bisa dapet tanda tangan buku koala kumal. Gue ingat saat itu, gue sedang mengikuti giveaway yang diadakan seorang blogger dan berhadiah buku koala kumal bertandatangan. Setidaknya gue gak sesedih mereka. Gue harus move on dari kejadian yang lumayan menyakitkan ini.

***

Gue pun mengirimkan tulisan yang gue ikuti untuk giveaway. Yang mau baca, bisa buka disini. Gue buat tulisan itu dengan penuh pengharapan semoga gue menang. Optimis tinggi dan yakin pasti menang.

Senadainya satu buku itu jadi milik gue

Hari demi hari tibalah saatnya pengumuman pemenang. Gue buka dan gue baca sampai bawah. Setengah gak percaya, gak ada nama gue disitu. Sedih rasanya, karena untuk kesekian kali gue ikutan giveaway, gue belum pernah menang. Gagal lah usaha gue untuk punya buku koala kumal bertandatangan.

Saat gue libur sekolah seminggu kemarin, gue merasa bosan cuma makan, tidur, nonton tv. Gue putuskan buat baca buku. Saat gue membuka lemari buku, gue ambil buku koala kumal. Saat buka lembar pertama, gue sedih. Seandainya di lembar ini ada tanda tangan sang penulis, gue gak akan sesedih ini. Saat gue baca pengumuman lagi buat memastikan ada nama gue atau tidak, ternyata bener-bener gak ada. Tampak wajah orang yang gue ikuti saat di Mall Puri Indah, wajah orang kecewa.

Gue harus bisa move on dari kesedihan ini. Bukan berarti gue harus bakar buku koala kumal milik gue demi melupakan kenangan buruk. Mahal tuh harganya. Tapi susah buat move on dari harapan yang berlebihan. Makanya sekarang gue gak mau berharap lebih. Kalau gagal, cuma bikin sakit hati doang.

Kayaknya gue harus move on deh. Akhirnya, gue coba cari-cari artikel tentang bagaimana untuk bisa move on. Gue menemukan sebuah artikel yang bilang gini: Yang paling utama adalah ikhlas dan terima kenyataan. Oke, itu artinya gue harus ikhlas merelakan kemenangan buku koala kumal untuk orang lain dan menerima kenyataan kalau gue belum berhasil menang.