31 December 2015

Asli, liburan yang harusnya bikin gue jadi fresh, malah bikin mati gaya. Hampir nggak ada kegiatan yang beda dari keseharian gue. Padahal ngarep bisa main-main keliling Jakarta, eh malah diisi sama main hape dan nonton TV. Sempet sih, nonton film, tapi nonton sendiri. Rasanya gimana gitu. Nggak bisa tuker cerita pas pulang dari bioskop.

Setiap hari, selama liburan, gue cuma di rumah nonton TV. Lama-lama terasa bosen nonton TV terus. Padahal, dulu waktu sibuk-sibuknya ngrusin tugas pengen banget nonton TV.

Mengenai kebiasaan gue ini, gue pernah denger atau baca di media kalo keseringan nonton TV, bikin daya kreatif bisa menurun. Gue pikir, ini cuma mitos. Tapi kayaknya gue mulai percaya. Gue merasa hidup gue nyaman-nyaman aja kalo udah ada di depan TV. Saking nyamannya kadang sampe ketiduran. Beda kalo udah masuk sekolah, yang hampir semua aibnya gue tulis di blog. 

Baru aja nulis dua paragraf, laptop malah lowbat. Cobaan untuk nge-blog datang malam-malam, dengan kondisi di luar rumah hujan.

Bentar, gue angkat jemuran dulu.

Gue ngelanjutin ngetik di hape. Oke, lanjut.

Selain itu, gue sekarang jadi serba takut untuk nulis. Semua tulisan gue cuma berujung di draf. Misalnya, waktu gue selesai nonton film Relationshit. Waktu itu gue berniat bikin post dengan judul: "Hal yang Gue Inginkan Setelah Nonton Relationshit". Begitu poin-poin udah dapet, eh males ngelanjutin. Dan sampe sekarang nggak pernah gue buka lagi. Mungkin Januari bakal gue lanjutin. Kalo sempet. Hehehe.

Hal itu makin membuat gue khawatir. Sekarang lagi banyak lomba menulis yang mau gue ikuti. Pertama, lomba review handphone; Kedua, lomba nulis esai ilmiah. Nah, keduanya sama-sama belum pernah gue lakukan. Jadi tambah ragu deh.

Terus juga, gue mau nulis curhatan tentang kejadian memalukan yang gue alami. Kejadiannya gini, gue baru aja selesai nonton film Ngenest. Di perjalanan pulang, gue harus naik angkot dua kali. Pertama, angkot M13. Kedua, angkot Cengkareng-Kamal.
Untuk angkot yang kedua, sebenernya kalo dibilang angkot, bukan angkot. Tapi, kalo dibilang bukan angkot, ya... emang bukan angkot. Mungkin lebih tepatnya omprengan. Entah ini maksa jawaban untuk bener atau nggak, tapi realitanya angkot ini statusnya nggak jelas.

Biar gue jelasin lagi. Sepanjang jalan raya Kamal-Cengkareng itu jaraknya jauh banget. Di situ, nggak ada angkot resmi dari pemerintah atau angkot yang biasa kita kenaldengan pelat kuning. Nah, hadirlah angkot Cengkareng-Kamal sebagai media transportasi pengangkut warga sekitar dengan pelat hitamyang layaknya dipake oleh mobil pribadi. 

Kalo masih bingung juga, mungkin berita ini bisa membant. Di situ ada contoh mobilnya.

Kejadian sialnya begini. Setelah gue turun dari angkot M13, gue harus menyambung dengan naik angkot Cengkareng-Kamal. Begitu gue ngeliat, ada dua mobil lagi ngetem. Firasat gue, si sopir bakal ngetem lama banget. Akhirnya gue jalan sebentar, nungguin angkot yang jalan dan nggak ngetem.

Masih dalam keadaan jalan, ada angkot lewat. Kemudian, mobilnya menurunkan kecepatan, seolah mau mengangkut gue. Ternyata salah. Mobil itu jalan pelan karena ngangkut ibu-ibu yang ada nggak jauh di depan gue. Berhubung udah terlanjur berhenti, langsung aja gue deketin menuju pintu belakang. Begitu gue tarik handle pintu mobil, ternyata keras. Nggak busa dibuka. Gue rasa, pintunya dikunci dari dalem sama penumpang. Gue tarik lagi, tetep nggak kebuka. Sampe akhirnya mobil maju, kemudian jalan perlahan. Si sopir nggak nyadar kalo pintu belakang angkotnya lagi berusaha buat dibuka oleh gue. Mau nggak mau, daripada gue tangan gue kebawa, gue nglepasin tangan dari handle itu. 

Orang yang ada di dalem, ngeliatin gue nahan ketawa. Ngeliatin gue berusaha ngebuka pintu mobil. Orang-orang yang ada di pinggir jalan mungkin ngiranya gue lagi mau ngerampas mobil dengan maksa-maksa buka pintu angkot. Mirip aksi-aksi di game GTA.

Terlepas dari itu semua, gue baru aja melaksanakan budaya lama yang sempat gue tinggalkan beberapa tahun, yaitu main bola sampe bedug Magrib. Ya, budaya yang masih bikin gue seneng sampe sekarang. Bedanya cuma tingkat malunya aja. Apa rasanya anak SMA kelas 11 main bola sama anak-anak SD sampe bedug Magrib? Nggak enak diliat tetangga mungkin, ya.

Gue seneng-seneng aja. Dan hal lain yang bikin gue seneng adalah respon mama gue masih sama kayak dulu. Setiap kali gue main bola baru selesai bedug Magrib, dia bilang, "Tuh.. sikatin kakinya!"
Biasalah, pemain kelas mahal mainnya nyeker. Ada tai kucing bodo amat, yang penting sendal nggak putus.

Tadinya, gue mau bikin post dengan judul "Liburan Membosankan". Karena bener-bener masih ragu, jadinya... ya, gitu deh. Gue harus banyak-banyak ngeyakinin diri dulu, nih, sebelum bertempur lagi di 2016.

Oh iya, ini hari terakhir di 2015 dan post terakhir gue di 2015. Jangan ngarep postingan tentang resolusi di blog gue, karena gue nggak ada pikiran bikin gituan. Nanti, gue mau ngelakuin apa aja yang gue anggap seru, tanpa ditarget. Sifatnya dadakan. Kalo target sekolah, udah jelas. Harus naik kelas dengan nilai yang makin baik. Aamiin.

Terakhir, gue mau ngucapin... SELAMAT TAHUN BARU!

Udah, gitu doang. Emang, nggak kreatif.

28 December 2015

Siang itu, gue sedang duduk di depan toko material sambil menunggu Herman mengambil uang kembalian membeli pylox. Ya, sebagai anak yang sering melakukan vandalisme, kami berdua suka mencoret-coret dinding di pinggir jalan. Biasanya coretan itu menunjukkan suara-suara kami yang provokatif, seperti Pelanggan Remedial Was Here, Hapuskan Guru Killer, dan Turunkan Harga Susu Kedelai di Kantin.

Selesai mengambil uang kembalian, kami bergegas pulang dengan menggunakan sepeda mini milik Herman, dengan posisi Herman sebagai pengemudi dan gue menjadi penumpang. Dalam perjalanan, kami melihat kanan-kiri jalan, melirik dinding yang masih bersih untuk di-pylox nanti malam.

Sayangnya, semua dinding yang kami lalui telah diisi oleh coretan lain yang memang udah terkenal di kalangan dinding Jakarta. Semisal, XTC, BOEDOET, dan KENTOET. Terpaksa, kami harus nyari dinding yang lebih jauh.

"Kenapa nggak dinding rumah lu aja yang gue coret," kata gue sambil berada di boncengan Herman.
"Sembarangan," kata Herman dengan nada ketus. "Mendingan lu aja bikin tembok sendiri, baru deh bisa bebas dicoret-coret."
"Oke," kata gue setuju, "tapi sepeda lu gue jual dulu."
"Mending lu yang gue jual."

Rute menuju rumah kami masing-masing harus melewati area geng 2000, yang dikenal sebagai geng penjambret uang dua ribuan. Konon, pernah terjadi korban di sini, tepatnya di minimarket yang berdiri di area tersebut. Ceritanya, ada seorang pengunjung minimarket parkir di sana. Begitu dia keluar, ada lelaki menodong pengunjung tersebut agar segera menyerahkan selembar uang dua ribuan.

"Rob, hati-hati tas lu. Jagain bener-bener," kata Herman sambil mengayuh sepeda.
"Iya, duit dua ribuan udah gue pegang nih," jawab gue sambil mengepal kedua tangan, memegang uang dua ribuan. 
"Bagus."

Begitu masuk area geng 2000, gue mulai merasakan sesuatu yang nggak enak. Tas yang gue gendong menghadap ke belakang, tiba-tiba ada bergerak mencurigakan. Begitu juga dengan suara knalpot bobokan yang mengikuti kami, makin membuat gue cemas. Angin begitu kuat berhembus. Kayuhan sepeda Herman makin cepat. Aroma bangke ayam tiba-tiba tercium.

"Man, lu kentut, ya?" tanya gue.
"Sorry, kelepasan. Hehehe."
"Brengsek."

*NGOEEEENGGGGG*

Tiba-tiba dari arah samping kanan sepeda, melaju motor Satria dengan cepat. Pengendaranya sendiri, berbadan besar, dan hanya memakai kaos kutang. Tubuhnya berkulit gelap. Kepalanya ditutupi helm berwarna hijau. Celananya boxer dengan logo Arsenal.

Motor Satria itu kini sejajar dengan kami posisinya. Abang-abang Berkaos Kutang itu berteriak, "MAU KE MANA LO!"
Sepeda Herman goyah. Bukan karena Herman panik, tapi sepedanya Herman ketakutan digentak Abang-abang Berkaos Kutang.
"Rob, gi-gimana nih?" kata Herman ke gue, suaranya gemetar.
"Buruan ngebut!"
"Mana bisa! Pasti kekejar, bego!"

Tanpa basa-basi, Abang-abang Berkaos Kutang langsung menendang sepeda Herman. Kami berdua terpental cukup jauh. Gue bangun dan lari meninggalkan Herman dan sepedanya.
"Woi, jangan kabur!" teriak Herman. "Sepeda gue gimana."
"Tinggalin aja. Ini urusannya nyawa."
Herman langsung berlari cepat. Kini dia sejajar dengan gue. Sedangkan Abang-abang Berkaos Kutang langsung mengejar kami dengan motornya.

Gue melihat ke kiri ada sebuah kali yang airnya keruh. Gue menepuk pundak Herman, lalu mengacungkan jempol kiri ke arah kali tersebut.
"Maksudnya... ki-kita nyebur?" tanya Herman dengan napas tersengal-sengal
"Buruan. Ini urusannya nyawa," kata gue mantap.
Kami berdua langsung lompat ke kali sesaat sebelum Abang-abang Berkaos Kutang sampai di pinggir kali. Kami menceburkan diri ke kali yang tingginya sedada.

"YES!" teriak gue sambil mengepalkan tangan ke udara, "kita bebas."
"YIHAAA!" Herman nggak kalah heboh. Kemudian tangan gue menantang Abang-abang Berkaos Kutang yang masih berdiri di pinggir kali. Dia mengambil sesuatu dari kantong boxernya. Dia mengeluarkan pistol.

"Mampus! Dia punya pistol."
"Aduh, gimana dong." Herman panik.
"Mau nggak mau, kita--"
"Harus nyelem? Nggak mau, ah," tolak Herman. "Kali di sini airnya bau."

Abang-abang Berkaos Kutang mengarahkan pistol ke arah kami.

"BURUAN SELAMETIN NYAWA LO!!" Herman telah berenang meninggalkan gue.
"Kampret! Tunggu gue."

Abang-abang Berkaos Kutang menembakkan pistolnya ke arah gue. Dia menyeringai.






"ARGHH!" gue menjerit. Gue memegangi perut, kesakitan. "Anjrit, pagi-pagi gini malah kebelet boker."

Mimpi gue semalem nyeremin. Buru-buru ke kamar mandi deh mendingan, menuntaskan hajat.

26 December 2015

Bel berbunyi. Semua siswa berhamburan menuju gerbang sekolah. Namun, ada di antara mereka yang mampir ke kantin. Herman berjalan sendiri menuju kantin. Dia ada janji untuk berduaan dengan gebetannya di depan warung soto. Yap, ibu penjual soto adalah gebetannya.

Belum sampai di warung soto, Herman melihat cewek berambut panjang dan memakai tas hitam dengan sedikit warna merah di tali bawahnya, sedang duduk di meja panjang menutupi wajah dengan tangannya. Herman buru-buru mendekati cewek itu, dia mengenalinya. Namanya Laksmi, teman sekelasnya.

"Laksmi," panggil Herman, "ngapain lo di sini sendirian? Pake nutup-nutupin muka lagi."
Laksmi buru-buru membuka wajah dari tangannya. Mengusap air mata yang tersisa di pipinya.
"Nggak... ngg.. cuma duduk aja di sini," jawab Laksmi terbata-bata.
"Pasti lu ada masalah, ya? Cerita ke gue, siapa tau gue bisa ngasih solusi."
"Gue malu."
"Jangan bilang lu gak mau cerita karena lu abis dipasung di kamar mandi. Nggak, kan?"
"Nggak, lah, gila!" Laksmi buru-buru membantah.

Herman duduk di kursi panjang seberang, berhadapan dengan Laksmi. Dia menunggu Laksmi bercerita, tapi Laksmi nggak kunjung mau bercerita. Herman lupa apa tujuan awalnya ke kantin.

"Laksmi, cerita dong. Gue kepo nih," paksa Herman. "Gue rela deh ngedengerin semuanya."
Dengan nada mengancam, Laksmi mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Herman. "Tapi, jangan bilang ke semua orang," tatapannya makin tajam, "terutama ke orang sekelas."
"Iya." Herman menjawab ketakutan. Bicaranya seperti anak yang udah nggak bayar SPP tiga bulan.

Laksmi menarik nafas panjang. Dia terbatuk sekali. Sedangkan Herman mukanya makin penasaran.

"Gini... lu tau kan tadi kita baru aja ulangan harian Matematika?" tanya Laksmi.
"Iya, emang kenapa?" Herman menanya balik.
"Lu tau kan nilai-nilai orang di kelas gimana?"
"Ancur."
'Nah... karena itu," jeda, "gue nangis di sini."

Memang, pagi tadi ulangan Matematika di kelas 11 MIPA 7 sangat ancur. Nggak ada yang mendapat nilai tuntas.

"Lu tau kan gimana sakit hatinya gue?"
"Nggak tau."
"Ish, lu mah nggak ngerti!"
"Kenapa sih emang?"
"Selama gue sekolah 11 tahun, gue nggak pernah dapet nilai jelek ulangan Matema–."
"Tunggu," Herman memotong cerita Laksmi. "Berarti,... lu nggak pernah TK dong?"
"Nggak!" jawab Laksmi cepat. "Ini apaan sih? Masalah gue bukan itu!"
"Oke, lanjut..."
"Sebentar." Laksmi mengambil handphone dari dalam tasnya.

Sambil menunggu Laksmi melanjutkan cerita, Herman memainkan handphone-nya. Mengetik pesan yang dikirim untuk seseorang. Tertulis di layar: My lovely.

My lovely: Sayang, kamu kok asik banget, sih, ceritanya sama temen kamu? Aku merhatiin loh dari jauh.
Herman: Iya, sebentar ya. 15 menit lagi aku ke warung kamu.
My lovely: Bener ya? 15 menit kamu nggak ke warung aku, kamu nggak boleh makan di warung aku 5 tahun.
Herman: Tapi, setahun lagi aku lulus
My Lovely: :(

"Udah sms-annya?"
"Eh, u–udah kok." Herman langsung menaruh handphone di saku celananya. "Ayo, lanjut ceritanya."
"Susah ya, punya gebetan yang posesif. Udah gitu, lebih tua lagi. Hahaha."
"Udah deh, ayo lanjut.

Laksmi memasukkan handphonenya. Tiba-tiba raut wajahnya berubah. Matanya menjadi lebih basah.

"Gini, Man. Ada yang bikin gue tambah dilema." Laksmi mulai bicara dengan wajah serius. "Barusan bapak gue sms... nanyain nilai ulangan Matematika."

Herman menelan ludah. Laksmi melanjutkan ceritanya. Katanya, sewaktu bapaknya Laksmi masih sekolah dulu, beliau punya pengalaman buruk sama Matematika.
Bapaknya Laksmi pernah dapat nilai ulangan harian Matematika paling buruk berturut-turut dari awal masuk SMA hingga lulus sekolah. Nggak tanggung-tanggung, paling buruk satu angkatan. Padahal, zaman SMP, bapaknya Laksmi selalu paling atas kalau urusan nilai Matematika. Minimal peringkat tiga seangkatan.

"Buset, bapak lu jago juga ya, Mi." Mata Herman berbinar-binar. "makannya apa sih, gue juga mau kayak gitu."
"Makan mah biasa," jawab Laksmi. "Makanya, jangan makan kuah soto mulu. Hahaha."
"Jangan bahas ke situ dulu. Please."

Bapaknya Laksmi sering diejek oleh teman-temannya yang dapat nilai lebih bagus. Dibilang pinternya udah kadaluarsa, pinternya cuma nyampe SMP doang, dan kemampuan otaknya melemah. Itu membuat bapaknya Laksmi stres. Pelajaran Matematika seolah menjadi musuh besar yang siap memangsanya kapan pun. Setiap kali mendengar rumus-rumus, dia langsung pergi menjauh. Setiap kali mau nyebrang, dia tengok kanan-kiri.

Herman mengangguk. Kini tangannya mengusap daun telinga, kemudian jari kelingkingnya masuk, mengorek telinga bagian dalamnya.

"Gue harus gimana, Man? Gue takut ngecewain bapak gue karena nilai ulangan hari ini."
Herman diam, berusaha mencari jalan keluar dari permasalahan ini. Tiba-tiba Laksmi menangis. Dia menutup mukanya dengan tangan kembali.
"Eh, eh, kok lu nangis? Jangan nangis dong."
"Gue malu, Man. Gue takut diomelin bapak gue. Hiksss~"

 Herman cemas dan bingung. Belum pernah dia menghadapi cewek nangis. Sama sekali.

"Jangan nangis, Mi." Herman menggoyangkan kedua pundak Laksmi. Kemudian meraih tangan Laksmi yang menutupi wajahnya.
"Jangan nangis lagi dong,"
"Tapi nilai gue,"
Herman semakin panik. Dia mengusap air yang keluar deras dari hidung Laksmi menggunakan dasi abu-abunya.
"HERMAN!"
"Ya, sorry deh. Gue nggak ngerti cara nenangin cewek nangis."

Laksmi menghentikan tangisannya. Hidungnya masih kesulitan bernapas.

"Saran buat gue dong, Man. Gue takuut."
"Apa ya, Gue juga bingung." Jawaban Herman makin menyudutkan Laksmi. "Lu kan tau sendiri kalo nilai gue selalu suram, nggak cuma Matematika. Tapi semua pelajaran."
"Kalo gitu... KOK LU BISA NAIK KELAS SIH?!" Laksmi mulai sewot.
"Ya, mana gue tau. Orangtua gue nyogok kepala sekolah kali."

Herman menggaruk-garuk jidatnya. Ada satu jerawat yang kena garuk. Berdarah.

"Gini aja deh, bilang ke bapak lu kalau nggak selamanya orang bisa dapat nilai bagus. Ada saatnya dapet nilai yang nggak memuaskan buat lu, buat bapak lu."
Sambungnya, "Hidup itu harus ada variasi. Nggak melulu bisa dapet apa yang kita mau. Siapa tau, dengan nilai lu yang nggak bagus bisa bahan pelajaran. Mungkin waktu itu lu lengah, lu kurang persiapan."

Laksmi cuma diam.

"Emang nilai lu berapa sih?" tanya Herman.
"60."
"Segitu mah nggak jelek, woy!" kata Herman setengah marah. "Lu cuma nggak beruntung buat mencapai tuntas. Liat nilai gue," Herman mengeluarkan kertas hasil ulangannya, "Cuma 45. Biasa aja. Gue lebih ngambil hikmahnya, berarti rejeki gue bukan di Matematika."

Handphone Laksmi bunyi. Ada sms masuk di handphone-nya. Dia membaca dan mengetik cukup lama, kemudian menaruh kembali handphone ke dalam tas.
"Makasih, ya, Man, udah mau dengerin curhatan gue, plus ngasih solusi. Gue mau pulang dulu, udah dijemput." Laksmi segera berdiri dari tempat duduk.
"Oke, hati-hati, ya. Kalo lu diomelin bapak lu, kasih tau apa yang gue omongin tadi."
"Oke." Laksmi mengacungkan jempolnya ke Herman. Dia jalan menuju pintu gerbang belakang sekolah, kemudian tangannya melambai ke Herman.

Herman masih duduk di kursi panjang sambil senyum-senyum sendiri. Tiba-tiba ibu-ibu berdaster ungun dengan motif bunga warna putih datang menghampiri Herman,
"Oh gitu ya sekarang, udah dapet cewek baru. Kita putus!"
"Kita... KITA BELUM PACARAN, BU!"
"Jadi kamu anggap aku apa?"
"Cuma sekedar pelanggan dan penjual aja, kok. Nggak lebih."
"Jangan pernah beli soto di aku lagi." Herman buru-buru lari.

Sejak saat itu, Herman memutuskan untuk nggak pernah ke kantin lagi hingga dia lulus. Ya, dia takut badannya dicincang untuk dicampurin ke kuah ibu penjual soto.
"Duh, gue kapok deh ke kantin lagi."
"Kenapa lu?"
"Nanti aja. Gue trauma sama penjualnya."
"Hahaha, segitunya amat nge-php-in ibu soto."
"Jadi lu tau ceritanya?"
"Semua orang yang ngeliat poster pagi ini, pasti tau."

Herman langsung pucat wajahnya. Nggak bisa berkata-kata lagi.

"Eh, kemarin gue bilang ke bapak gue semua yang lu omongin ke gue," kata Laksmi.
"Terus kata bapak lu apa?" tanya Herman.
"Lu disuruh nemuin dia. Mau diceramahin kayaknya."
"Mampus gue..." Herman menepuk jidatnya. Empat jerawat pecah, kemudian berdarah.

21 December 2015

Gue yakin, nggak ada satu pun orang yang mengaku dirinya sebagai orang mesum. Kalau pun ada orang lain yang mencap sebagai orang mesum, pasti sekuat tenaga membela dengan mengatakan "nggak, gue nggak mesum".

Gue mau bilang: GUE. NGGAK. MESUM.

Walau kadang pendiam, gue orangnya suka bercanda. Sayangnya, di pergaulan, banyak bercandaan yang nyerempet ke hal-hal kotor. Mending kalo bercandanya beda-beda, lha ini? Gitu-gitu aja. Udah sering gue denger. Kayak waktu itu, gue lagi chatting sama temen gue. Sebut saja namanya Mbledos.

Gue meminta Mbledos untuk membawa buku yang akan gue pinjam. Karena di sekolah nggak ada kegiatan apa-apa, Mbledos berniat nggak mau bawa tas ke sekolah. Lalu, gimana cara dia membawa buku yang mau gue pinjam?

"Nanti ingetin gue lagi, ya. Gue lagi nggak mau bawa tas," kata Mbledos di chat.
"Ck, sekarang aja masukin bukunya ke tas," jawab gue cepat.
"Lagi nonton TV ini. Tanggung. Bentar lagi pemeran utamanya ituan."

Gue tau, ini orang lagi mancing-mancing bercandaan jorok dengan kata "ituan".

"Ituan ngapain?"
"Naik mobil. Ye, mikirnya jorok lu. Hahahaha."

See? Itu nggak lucu sama sekali. Saat gue serius, dia malah bercanda. Nggak lucu pula.

"Buruan lah, masukin. Lama lu. Nanti gue lupa ngingetin lagi."
"Dih, ambigu."
"Ambigu apanya, sial?!"

Sampai sini, gue geram. Kalo emang mau mancing bercanda dengan kalimat "masukin", harusnya pada saat nggak ada konteks yang jelas. Sedangkan, dari tadi gue lagi ngomongin buku.
Singkat cerita sesampainya di sekolah, si Mbledos nggak bawa buku yang minta. Rasanya mau gue pasung di kamar mandi. Ngomong doang banyak, tapi nggak dijalanin.

Kenapa gue jadi antagonis gini? Ya Allah, udah mau tahun baru masih nggak bisa ngontrol emosi. Ampuni aku, Ya Allah.

Tapi, itu semua di pergaulan yang sesungguhnya. Bagaimana dengan blog, yang gue jadikan pergaulan kedua setelah kehidupan nyata?

Nyatanya, statistik menunjukkan, blog gue adalah blog yang mesum.

Berawal dari keisengan gue mantau statistik blog, gue terkejut oleh kenyataan pahit yang harus gue terima.


Sampai sini, statistik masih aman-aman aja.

Begitu gue scroll down, rasanya mau ngeludah ke layar laptop...


Dari 10 kata kunci yang ada, 4 di antaranya merujuk kepada konten berbau dewasa. (Liat nomor untuk panduan selanjutnya).

Gue nggak bisa berkata apa-apa setelah ngeliat itu semua. "Dosa apa aku, Ya Allah, telah menghasilkan artikel yang membuat kata kunci itu merujuk pada blogku?"

Dulu, gue pernah baca artikel di blog lain, katanya, agar blog ramai dikunjungi, maka buatlah keyword yang nggak biasa, tapu sering dicari orang lain. Nah, gue pernah memasukkan keyword "chat sex" pada post ini. Sekarang gue bisa membuktikan, kalau perkataan dari blog itu memang benar.

Tapi, kenapa orang-orang nyari chat sex? Gue curiga nantinya akan jadi tren sex dan prostitusi baru. Semoga nggak. Eh, tapi kalo makin banyak yang penasaran sama chat sex, artinya... BLOG GUE MAKIN SERING DIKUNJUNGI! Entah gue harus bersyukur atau merasa berdosa atas artikel itu.

Masalahnya, di post itu gue cuma nyeritain tentang gue ngerjain strangers (lawan chat di Omegle, sifatnya anonim) --yang mengaku sebagai cowok--, ngajak gue chat sex, lalu gue pura-pura jadi cewek. Sumpah, teman-teman gue yang baca post itu ngakak dan menganggap gue cerdas (wuidih). Tapi, semua berubah setelah keyword itu dicari banyak orang. Gue takut orang-orang jadi bertambah pengetahuannya tentang chat sex dan melakukan tindakan yang nggak diinginkan. Ya, tapi ada untungnya juga buat orang yang iseng kayak gue: bisa ikutan ngerjain strangers

Sekarang, biar gue klarifikasi poin-poin yang ada di statistik (lihat gambar kedua).

Poin pertama. baca chat sex.

Seperti yang gue bilang sebelumnya, gue pernah menulis postingan dengan keyword tersebut. Mungkin dia mau nyari contoh chat sex yang benar, tapi malah nyasar ke blog gue, yang memberi contoh yang salah. Untung gue kasih contoh yang salah, kalo bener? Nggak ngerti mau ngomong apa lagi, yang jelas blog gue makin dicap sebagai blog mesum.

Poin kedua: bapak akan kawin apakah nanti akan a....

Gue nggak ngerti sama orang yang nyari keyword dengan kata sepanjang itu. Sebenarnya itu masih ada sambungannya, tapi di statistik yang terbaca cuma segitu. Mungkin sambungannya:

"bapak akan kawin apakah nanti akan ada gempa bumi?"

Pada poin ini, gue nggak tau maksudnya apa, tapi feeling gue mengatakan kalo keyword ini berbau konten dewasa.

Ah, sudahlah. Biarkan bapak kawin. Eh,.... ah... lupakan.

Poin ketiga: cerita sex dengan guru saat remedial

Buat orang yang pernah masukin keyword ini di kolom pencarian, satu kata buat lu: BAJINGAN!

Gimana nggak bajingan, gue nggak pernah bikin cerita sex, apalagi ditambah dengan guru saat remedial. Kan, pencemaran nama baik jadinya. Gue udah belasan kali ikut remedial, nggak pernah kepikiran buat bikin post begitu, eh si kampret malah enak-enaknya nulis keyword itu di kolom pencarian. Google juga parah nih, MASA KEYWORD ITU MERUJUK KE BLOG GUE SIH??!  Nggak ngerti lagi.

Gue sebagai orang yang berpengalaman dalam remedial, merasa malu atas keyword sesat ini.

Poin keempat: cerita yang bisa buat orang sange

Gue mau jujur-jujuran aja sama kalian. Kalo bisa kasih tanggapan di komentar. Menurut kalian, postingan gue bikin sange nggak, sih? Gue selaku penulis, nggak pernah ada niatan bikin orang sange. Serius. Demi Allah.

tapi... kenapa mesin pencari merujuk keyword ini ke BLOG GUE?!! Parah.

Gue coba ngetes nyari Google dengan keyword itu. Hasil memunculkan kalau blog gue nggak ada sampe page 3.  Bahkan blog gue kalah dengan postingan milik @shitlicious yang ini. Beneran. Coba aja cari sendiri.

Setelah gue ngetes pada poin keempat, gue yakin semua keyword itu nggak mutlak langsung merujuk ke blog gue. Makanya, jangan anggap blog gue sebagai blog mesum. Sekali lagi, jangan berpikiran begitu.

Udah cukup ya, buka-bukaan soal isi statistik blog. Masih emosi nih sama statistik blog. Kalo ada yang pernah dapat kesan buruk sama statistik blog, coba tulis pengalamannya di kolom komentar. Siapa tau lucu. Atau... ngenes kayak gue.

*maaf ya atas segala ketidaksopanan gue di post kali ini. Daripada ditutup-tutupin, toh, pembaca juga tau maksudnya gue ngomong apa.

Peace. Hehehe. Gue nggak mesum. Blog gue juga.

17 December 2015

Gue percaya, setiap kejadian yang pernah kita lalui di masa lalu akan kembali diingat pada masa mendatang. Berhubung gue orangnya agak lupaan, maka gue harus menulis kejadian yang pernah gue lalui biar bisa dibaca kembali dan gue ceritakan pada orang banyak. Oke, gue mau cerita banyak di post ini.

Jangan di-close dulu, bentar lagi mulai.

Here we go..

UAS udah selesai. Rasanya semua beban rontok begitu aja setelah hari terakhir ujian, padahal masih ada pekan remedial. Setelah pekan remedial usai barulah semuanya benar-benar lega. Nah, biasanya setelah itu ada kegiatan yang paling seru sebelum ngambil rapor, yaitu classmeeting.

Sekolah gue ngadain tiga lomba di classmeeting, yaitu futsal, voli, dan tarik tambang. Kelas gue ikut semua lomba, dengan orang yang hampir itu-itu aja. Gue nggak ngerti kenapa bisa begini, entah dasarnya anak MIPA nggak doyan acara beginian atau emang mereka merasa nggak diajak. Bodo amat, yang penting gue main.

Untuk lomba voli, kelas gue udah kalah di pertandingan pertama lawan kelas 10 IPS 2 (kalo nggak salah). Parah, ya, masa kalah sama kelas 10. Udah gitu pemain lawan make dua orang cewek di timnya. Belakangan gue baru tahu, ternyata dua orang itu anak voli.  Pantes gue kalah.

Senasib dengan voli, lomba tarik tambang juga kalah di pertandingan pertama lawab kelas 10 MIPA 2. Parah, ya, masa kalah sama kelas 10? Kenapa dari tadi gue ngomong "parah, ya, masa kalah sama kelas 10"? karena udah jadi gengsi anak sekolah nggak boleh kalah lawan adik kelas. Bagi adik kelas, yang bisa ngalahin kakak kelas, saatnya mereka ngeledek kakak kelasnya.
Untuk laga voli dan tarik tambang selanjutnya, gue cuma jadi penonton.

Ah, masa cuma jadi penonton. Harus jadi pemain juga dong. Gue datang ke sekolah sebagai pemain, bukan penonton. Setelahnya gue bakal cerita sebagai pemain. Pemain futsal.

Pertandingan futsal pertama kelas gue melawan kelas 11 BB, atau lebih dikenal dengan jurusan Bahasa. Gue nggak tau "B" yang satunya apalagi, entah Bahasa Betawi atau Bahasa Belanda. Kayaknya Budaya dan Bahasa.

Pertandingan pada pagi itu berjalan canggung bagi gue karena udah lama nggak main futsal. Apalagi untuk laga bergengsi sekelas classmeeting, grogi gue makin parah. Makin parah setelah ngeliatin orang-orang yang nonton rame banget. Gue tau, mereka semua bukan suporter kelas gue, tapi mereka dari kelas lain yang iseng nonton futsal karena nggak dibolehin pulang sama satpam. Kalian pasti tau nggak semua orang suka futsal dan classmeeting. Keduanya beralasan sama: sama-sama buang waktu.

Beberapa kali kegrogian gue menimbulkan kerugian tim. Gue sering gagal menahan bola, penjagaan gue ke striker lawan sering lepas. Selain grogi, ada faktor lain yang nggak enak buat diceritain. Dari faktor internal, celana boxer gue sering melorot. True story, tiap kali gue lari boxer gue mau lepas. Untung gue pake celana training. Semenit-dua menit gue naikkin celana. Bentar-bentar, megangin celana. Kalo ada orang yang ngeliat mungkin mengira gue lagi nahan boker di lapangan.
Beruntung, pertandingan itu diakhiri dengan skor 3-2 untuk kemenangan kelas gue. Kelas gue main lagi sore hari.
Masih hari yang sama, pertandingan selanjutnya adalah antara kelas gue melawan 11 IPS 2. Karena main sore, jadinya kelamaan nunggu mengingat kami semua datang dari pagi. Kalo pulang dulu bisa aja sebenernya, tapi takut ketiduran.
Itu yang terjadi pada tim lawan. Mereka kekurangan pemain pada saat pertandingan seharusnya dimulai. Setelah berunding, mereka main hanya dengan 4 orang.

Kelas gue berhasil menang 2-0 sebelum peluit babak pertama bunyi. Beberapa menit sebelum babak pertama beakhir, satu orang dari tim lawan hadir. Setelah mereka main dengan lengkap, skor jadi imbang. Gue mulai takut kalah.
Setelah balas-balasan hingga 3-3, kelas gue mencetak dua gol tambahan. Di pertandingan ini, gue nyetak satu gol. Hahaha lumayan, buat ngebanggain diri. Kali aja ada tukang ojek nanyain gue di jalan, "Dek, berapa gol yang kamu cetak di perjalanan karir futsalmu?" Lalu gue menjawab sambil mengangkat kerah, "Sudah banyak gol yang saya cetak ke gawang lawan. Satu yang saya ingat adalah satu gol ke gawang 11 IPS 2." Kemudian gue dibonceng touring ke Lombok. Wuidih, keren kali, ya.
Skor akhir pertandingan sore hari itu adalah 5-3 untuk kemenangan kelas gue. Kelas 10 IPS 1 telah menunggu besok di perempat final.

Keesokannya, gue melawan 10 IPS 2. Karena hujan turun dan lapangan jadi basah, terpaksa pertandingan terus-terusan diundur. Seharusnya bisa main jam 10, tapi kegeser terus waktunya. Jam 1 siang bisa main, tapi hujan turun. Akhirnya, baru main jam 5 setelah nunggu dari pagi. Ah, rasanya pengen jadi pawang hujan biar bisa menangkal hujan. Eh iya, hujan itu, kan, rahmat. Kedatangannya nggak harus disyukuri dan nggak boleh dicegah. #EdisiBener

Biarpun kelas 10, tapi mereka gue takuti. Soalnya gue pernah main lawan kelas itu, kelas gue kalah. Makanya gue agak ngeri. Tapi semangat teman-teman yang membawa gue untuk berani meneruskan perjuangan hingga sini. Gue harus maju,... maju, mundur, mundur, cantik... cantik.

"Sebelum memulai pertandingan, marilah kita berdoa agar pulang membawa kemenangan," kata Wahyu. "Berdoa mulai."
"Selesai."
Kemudian Ikhsan memberi yel-yel penyemangat, "Sebelas MIPA satu..."
"WOYY... WOYY... WOY... WOWOYY." teriak kami semua.

Itulah ritual awal pertandingan dari kelas gue. Entah kenapa, teriakan itu membuat kegrogian gue rontok, keluar bersama teriakan yang menggema ke seluruh penjuru sekolah. Cuma itu yang bisa jadi peningkat semangat gue setelah teman-teman sekelas nggak ada di pinggir lapangan untuk mendukung. Sedih ya, punya temen sekelas nggak ngedukung.

Tugas gue simpel. Gue hanya terus menempel pergerakan lawan-yang-make-celana-boxer-hitam. Setiap ke mana pun dia bergerak, gue ikuti. Bahkan, gue rela nggak dioper demi terus mengikuti. Bukan karena dia jago, tapi gue takut kalo ngikut nyerang nanti gue jatuh karena lapangan masih licin. Lawan-yang-make-celana-boxer-hitam sempat emosi ketika gue pegang lengannya. Ya, mungkin dia takut kalo gue apa-apain di tengah lapangan.

Nggak, kejadiannya nggak kayak yang kalian bayangin kok. Sumpah, gue nggak nafsu sama orang itu.

Licinnya lapangan nggak menghalangi usaha kami. Satu gol tunggal dari Wahyu membawa kelas gue melaju ke semifinal yang dilaksanakan Kamis.

Kamis pagi, langit terlihat mendung ketika gue berangkat sekolah. "Paling cuma mendung, hujannya nanti siang," pikir gue. Sekitar jam setengah 7 gerimis turun, membuat lapangan becek. Kemudian hujan turun nggak lama. Lapangan harus diburu-buru dikeringkan karena nanti jam 8 akan ada acara lain di sekolah gue.

Setelah lapangan hanya tersisa sedikit genangan air, barulah semifinal pertama dimulai antara 11 MIPA 1 lawan 12 MIPA 4.  Lawan kami ini adalah kelas yang biasa jadi lawan kami saat jam pelajaran olahraga, dan hasilnya selalu kalah. Gue agak ciut ngadepin kenyataan itu.

Seperti biasa, tugas gue hanya terus menempel pemain lawan. Giyats membuka gol untuk tim gue. Selanjutnya dibalas tim lawan. Kejar-kejaran skor hingga 2-2, hingga akhirnya Giyats mencetak gol terakhir menutup kemenangan untuk tim kami. Nggak disangka, kelas gue masuk final!

Selanjutnya semifinal kedua, yan menandingkan derby 12 IPS, antara 12 IPS 1 vs 12 IPS 1. Pertandingan ini pasti bakal sengit, soalnya kedua kelas punya pemain-pemain yang masuk tim futsal sekolah. Kalo dibandingin sama kelas gue, cuma Wahyu yang masuk tim sekolah. Gue sih, cuma masuk kantin sekolah aja udah bangga. Hehehe.
Pertandingan ini dimenangkan 12 IPS 1, yang akan jadi lawan kami di final. Ekstrim, nih, kelas. Isinya anak futsal semua.

Mengetahui kenyataan berat itu, mental gue jadi turun. Apalagi di hari sebelumnya kelas 12 IPS 1 baru aja menang 10-0 lawan kelas 11 MIPA 2, yang merupakan kelas tetangga gue. Gue makin takut setelah lapangan kembali diguyur hujan. Bikin gue takut lari-larian ngejar pemain kelas 12 yang lincah-lincah.

Pertandingan final diawali dengan foto bersama. "Anjrit, gue belum pernah ngerasain ini semua," kata gue dalam hati. Ternyata ini yang namanya final. Ditonton banyak orang, semua mata tertuju ke lapangan. Untung hari ini celana gue udah ganti.

"Pokoknya jangan takut. Skill bakal kalah sama semangat," kata Wahyu memberi suntikan semangat.
"Ayok," kata Ikhsan, menaruh tangannya di bawah, kemudian disusul tangan kami di atasnya, "Sebelas MIPA satu... WOYY... WOYY... WOY... WOWOYY."

Teriakan itu kembali berefek positif pada gue. Pendukung 12 IPS 1 lebih siap untuk ngasih semangat. Mereka ada yang bawa tam-tam. Gue nggak tau namanya, pokoknya alat musik yang dipukul dan biasanya ada di stadion. Cuma lebih kecil.

Kick off dari tim lawan. Kami langsung cepat menempel satu per satu tim lawan. Sampai sini, strategi itu masih works. Gerimis turun membuat gue terpacu untuk tampil terbaik. Kalo pun harus jatuh-jatuhan, gue rela. Demi juara 1.

Wahyu berada di sisi kanan pertahanan lawan. Melihat gue longgar penjagaan, dia langsung mengoper ke gue. Di depan gue ada Yuda, pemain lawan yang paling jago. Dia gagal mencegah bola, kemudian bola berhasil ada di kaki gue. Gue menggiring sedikit ke kanan, langsung gue tembak,

GOLLLLL

Teriakan komentator membuat gue nggak percaya. Gue nyetak gol di partai final. Gue reflek mencium jari telunjuk kanan, lalu mengangkat kedua jari telunjuk ke udara, mengikuti selebrasi dari pemain favorit gue, Ricardo Kaka.

Pemain idola gue
Gue langsung membayangkan karir gue selanjutnya. Gue dikontrak Real Madrid, kemudian cedera 8 bulan. Kasian.

Gol itu membuat lawan makin ngotot. Serangan demi serangan terus diberikan ke tim gue. Beberapa kali Eza menyelamatkan gawang. Sampai akhirnya, bola mengenai tangan Giyats di kotak penalti. Tendangan penalti diberi untuk tim lawan. Dan... gol. Skor 1-1. Mental gue turun drastis, seperti gerimis yang nggak kunjung berhenti.

Nggak lama kemudian, tim lawan mencetak gol kedua. Gol terakhir untuk babak pertama yang berakhir dengan skor 1-2 untuk tim lawan.

"Semangat terus. Cuma beda satu gol." Wahyu kembali menyemangati.

Sayangnya, kata-kata itu nggak mempengaruhi gue lagi. Gue jadi makin loyo, nggak bisa ngejar pemain yang lawan yang gerakannya lebih lincah. Dua gol bertambah ke gawang Eza. Skor 1-4 untuk tim lawan.

Peluang 12 IPS 1 makin banyak. Ketika pemain lawan tinggal satu lawan satu melawan Eza, pemain lawan memberi plesing ke pojok kanan gawang. Beruntung bola itu tertahan Eza dan pantulannya menuju keluar. Gue yang sedang lari dari belakang panik ingin cepat membuang bola ke arah corner. Kemudian gue tendang,.... dan..., MASUK KE GAWANG SENDIRI!
Saat-saat ketinggalan jauh begini gue malah nyetak gol ke gawang sendiri. Gue kesal, menepuk genangan air lalu airnya menyiprat ke muka gue. Gue lemas.

Dua gol lagi dicetak tim lawan. Gue udah nggak berani ngeliat papan skor. Begitu gue lari mendekati papan skor, gue diam. Gue teringat dengan perempat final Liga Champions 2006/2007.

Gue yang AS ROMA
Pertandingan berakhir. Semua pemain saling tos-tosan. Ini momen yang paling keren bagi gue. Tanpa alasan jelas, ini keren banget.

Wahyu yang dari tadi paling semangat tiba-tiba jadi lesu. "Ya udah, nggak papa. Yang penting juara 2."

Well, semua kerja keras dan keyakinan ini membawa tim ke final. Gue pengen menambahkan kata-kata yang pernah Wahyu bilang.
"Skill bakal kalah sama semangat." Seharusnya ditambah menjadi, ".... semangat juga bisa kalah kalau mental udah turun."

Yeah, gue udah selesai nih ceritanya. Terimakasih telah membaca curhatan gue ini.

PS: Besok hari pengambilan rapor. Persiapan gue cuma satu: baik-baikin orangtua biar efek marahnya berkurang sampai besok.

UPDATE!!!

Foto gue pas pertandingan pertama. Baju AC Milan hitam.



14 December 2015

Seperti kata pepatah: ujian telah berlalu, remedial ikut menerjang. Setelah tanggal 1 Desember - 8 Desember gue menjalani UAS, tibalah saatnya menikmati hasil dari sistem kebut semalam yang gue kerjakan selama seminggu itu. Beberapa nilai matpel udah keluar. Hasilnya bervariasi.

Yang paling menyakitkan adalah mata pelajaran Sejarah Indonesia. Padahal persiapan gue udah cukup keren: piknik sambil nge-blog. (kalo ada yang belum baca ceritanya, klik ini). Gue nggak nyangka, terlalu santainya gue membawa pada bencana besar, yaitu REMEDIAL.

Sebenarnya KKM untuk Sejarah Indonesia udah dikurangin. Begitu tau KKM dikurangin dari 75 menjadi 70, gue optimis nilai gue bisa tuntas. Mengingat betapa mudahnya ujian hari itu.

"Coba liat dong nilai Sejarah," pinta gue ke Laksmi (nama disamarkan)
Laksmi ngasih liat gue foto nilai Sejarah yang dikasih guru gue. Mata gue langsung menuju nomor absen gue, nomor 28. Ada angka 68 dengan tinta hitam di sebelah nama gue. Gue nggak sanggup melihatnya lagi.
"Kampret! Bener satu soal tuntas, tuh!" Gue menonjok telapak tangan kiri dengan tangan kanan, gregetan.

Mau nggak mau, terpaksa gue harus remedial biar nilainya nggak jelek-jelek amat di rapor. Untung remedialnya nggak susah-susah amat, cuma ngerjain 5 butir soal essay yang harus dikirim ke email guru gue. Selalu ada cara besyukur saat tertimpa musibah. Masih sempat bilang "untung".

Agar mempermudah pengetikan di rumah nanti, gue mengerjakan soal itu di buku tulis. Lagi asyik mikirin jawaban, tiba-tiba Karjo datang.
"Kok lu rajin banget, Rob? UAS udah selesai masih aja ngerjain tugas," kata Karjo (nama disamarkan)
"Diem aja deh. Gue tau nilai lu tuntas, tapi nggak usah ngeledek gue. Gue remedial, kampret!"

Sebegitu sensinya gue saat remedial. #AwasPelajarGalak

Hari sebelumnya, gue juga ikut remedial Biologi. Sebagaimana anak MIPA,  seharusnya nilai Biologi gue tuntas karena termasuk pelajaran wajib di jurusan. Tiba-tiba gue mikir, kayaknya gue anak MIPA gadungan gara-gara nggak pernah tuntas nilai Biologi. (FYI, gue selalu nggak tuntas nilai ujian Biologi. Selalu. Sejak kelas 10)

Sekitar jam 1 siang gue masuk ke ruang Auditorium, tempat dilaksanakannya remedial Biologi. Remedial kali ini digabung dengan kelas MIPA lainnya. Setelah ada di dalam Auditorium, gue melihat banyak banget orang duduk berbaju batik seragam sekolah. Tempat duduk dari depan hingga belakang penuh. Orang-orang ini gue kenal, seperti teman sejurusan. Gue tanya ke Feri (nama disamarkan),

"Ini ada seminar apaan?"
"Ini remed Biologi, Robby," katanya menahan tawa.
"Oh,... remed... Biologi?" tanya gue ragu, "Buset, rame amat."

Kumpulan manusia berseragam-batik-sekolah itu adalah peserta remedial. Gue perkirakan, dari empat kelas 4 MIPA, yang tuntas bisa dihitung jari per kelas. Saking banyaknya yang remedial. Ternyata, nggak gue doang yang payah. KITA SEMUA PAYAH! KITA SOLID! Bego sejurusan!

(Semoga gue nggak dikeroyok temen sejurusan gara-gara post ini)

Sejarah Indonesia udah. Biologi udah. Sebenarnya masih ada lagi mata pelajaran yang nggak tuntas  dan harus remedial yang nggak bisa gue ceritakan. Dengan alasan memperbaiki citra diri, gue nggak mau nyeritain di blog. Intinya, Matematika tetep remed. #JaimItuPerlu

Yang lain ngeluh soal remedial, gue biasa aja. Mungkin karena gue udah terlalu sering mengalami nilai nggak tuntas, lalu ngejar-ngejar guru minta remedial. Nama blog gue aja udah mencerminkan diri gue: Pelanggan Remedial. So, gue udah kebal remedial.


PS: Demi keamanan, gue menyamarkan nama teman-teman gue karena mereka nggak mau diomongin di sini. Temen-temen gue, yang  ternyata diam-diam baca blog gue, nyalah-nyalahin gue ketika namanya pernah terang-terangan ditulis di blog gue.

"Kok nama gue ditulis diem-diem, Rob? Bodo amat, pokoknya gue nggak terima!"
"Ya, biar nggak ribet nyari nama samaran."
"Gue nggak mau tau, kasih gue royalti!"
"MINTA AJA SAMA SETYA NOVANTO!" kesal gue.

Malesin, kan?

Untuk kali ini aja sih, besok-besok mah tetep gue tulis nama aslinya. Huehehe.

10 December 2015

Sekarang stasiun TV berlomba-lomba ngasih acara komedi ke penontonnya. Yang lagi digandrungi adalah stand up comedy. Menurut gue, sayang aja kalau stasiun TV baru nayangin stand up akhir-akhir ini. Mereka (stasiun TV yang baru nayangin stand up) kalah cepat... dengan mama gue. Mama gue udah nonton stand up comedy sejak SUCI 2.

Waktu itu, kelas 9, TV di rumah belum ada Kompas TV, saluran TV yang mengadakan kompetisi stand up. Setelah kehadiran TV baru, baru muncul tuh Kompas TV. Jadinya, gue cuma sempat nonton acara ulangan SUCI 2 dan 3 yang udah ketauan juranya. Acaranya tayang siang saat itu.

Gue inget banget kejadiannya. Saat itu, gue iseng nonton Kompas TV. Kebetulan, Kemal Palevi lagi perform. Mama gue ikutan nonton.
"Itu maksudnya apaan, Bi? Kok ngomong sendiri di panggung?
"Oh, itu ngelawak. Stand up comedy," jawab gue menjelaskan.
"Apaan tuh?"
"Nonton aja dulu, Ma."

Beberapa bit yang dilontarkan Kemal sukses membuat gue tertawa. Kemal menutup penampilannya dengan bagus, gue tertawa ngakak. Bahkan, gue sempat tepuk tangan (padahal cuma nonton di rumah). Sedangkan Mama memasang wajah kecewa dan berkomentar pedas, "Ah, nggak lucu!"

Kemal Palevi adalah komika paling nggak lucu versi Mama.

Itu terus-terusan terjadi setiap kali gue nonton stand up. Belum lagi bapak gue yang ikut-ikutan protes.
"Jangan nonton ginian lah. Apaan, ngomong sendiri begitu. Lucu juga nggak. Ganti... ganti!"
Gue tak acuh, melanjutkan nonton TV. 

Hidayah itu datang ketika SUCI 4.

Waktu SUCI 4, gue bela-belain bergadang buat nonton SUCI sampai jam 12 malam. Pernah juga waktu sebelum Ujian Nasional, gue diomelin gara-gara bergadang cuma buat nonton stand up.
"Robby tidur! Udah mau ujian masih aja bergadang nonton stand up."
"Tapi, kan ujiannya Senin. Besok masih hari Jumat."
"...."
Akhirnya mama gue yang tidur.

Karena keseringan nonton stand up, mungkin diam-diam Mama iseng ikutan nonton. Kejadiannya waktu itu Dodit tampil. Mama dalam kondisi masih tidur, tiba-tiba terbangun karena Dodit mainin biolanya. Gue masih fokus ke TV, nggak sadar kalo Mama ikutan nonton. Di bagian punchline, gue tertawa. Mama juga ikutan tertawa. Itulah pertama kalinya gue mendengar tawa Mama saat nonton stand up.

Setelahnya, dia ketagihan nonton Dodit. Mentang-mentang ngomongnya medok jawa, dia jadi ngejagoin Dodit. Belum lama dia ngejagoin Dodit, terpaksa Dodit harus close mic. Dia kecewa.

"Yah, kok Dodit keluar sih," kata Mama. Sebelumnya Mama nggak tau istilah close mic. Untung aja dia nggak bilang, "KOK DODIT TERSENGGOL? SMS-NYA KURANG NIH!"

Walaupun Dodit close mic, Mama tetep nonton SUCI 4 bareng gue. Kemudian dia pindah haluan, ngejagoin David. Katanya, "David mah kalo ngelawak suka bener."
"Tapi dia mah nyebelin, kalo ngomong kasar. Apa kata dia? Biji matelu mletak," sambungnya.

Tapi, kadang ada beberapa bit yang bikin dia terus bertanya-tanya soal kebenaran dari diri David. Namanya juga ibu-ibu, suka banget ngepoin orang.

"Bi, beneran nggak sih si David abis lulus narik ojek?" tanyanya ke gue.
"Nggak tau juga. Kayaknya bener deh," jawab gue sekenanya, masih fokus ke TV.
"Terus dia kuliah nggak?"
"Nggak tau."

Gue takut setelah kejadian itu, mama gue bikin forum di gerobak pasar. Temanya: latar belakang komika penarik ojek.

Show demi show, Mama tonton bareng gue sampai David juara. Mama terus-terusan muji David karena hadiah yang dia dapatkan dari juara, dia berangkatkan umroh nyainya.
"Keren, ya, si David. Abis juara ngasih umroh ke nyai-nya," puji Mama.
"Iya, anak sholeh. Hahaha."
"Bi," katanya ke gue, "ikutan stand up dong. Nanti kalo juara berangkatin mama umroh."
"Bisa juga nggak," jawab gue pasrah.

Sekarang Mama jadi sering nonton stand up. Tiap gue nonton TV dan acaranya stand up comedy, pasti dia ikutan duduk di samping gue. Saking seringnya, dia sampai hapal beberapa bit komika. Reaksinya selalu sama: "Ah, udah pernah ini mah."

Berbeda saat David perform, pasti mama gue nggak bakal ngomong kayak gitu. Dia selalu menikmati penampilan David. Setiap nonton SUPER dan David akan tampil, dia selalu bilang, "Bi, buruan sini. Ada David nih."

Waktu itu, giliran mama gue yang lagi tidur, eh David bakal tampil. Gue bangunin, tapi nggak mau bangun. Setelah acara selesai, barulah Mama bangun.
"Mana, Bi, David. Katanya stand up?"
"David yang stand up udah abis. Adanya yang main bola. Tuh, David Beckham."

Dari sekian banyak komika yang pernah dia tonton, Mama tetap menaruh hati pada Bang David. Keren, ya, mama gue. Terharu jadinya.

Belum lama ini, sekolah gue jadi tempat tapping acara Stand Up Everywhere RCTI dengan menghadirkan Rahmet, Dzawin, dan tentu saja idola mama gue, David. Sesampainya di rumah, gue cerita ke mama gue.
"Serius? Keren dong," katanya histeris.
"Yoi, dong."
"Foto bareng nggak?"
"Iya dong. Salaman pula."

Kemudian mama gue pergi ke dapur, motongin cabe. Nggak ada respon apa pun. Entah, kayaknya dia nangis sambil motong bawang karena ngiri sama anaknya udah foto bareng idolanya.

Peace, mom.

"MAK, AKU UDAH FOTO SAMA IDOLAMU!!"
Kanan ke kiri:
David Nurbianto - Ari Junaedi - Sopir mereka berdua

Gue yang paling dikit rambutnya
Ada Dzawin Rangers di sini? Gue juga foto bareng Dzawin, lho...

Kami lagi hompimpa. GUNTING BATU KERTAS.

08 December 2015

Tiba-tiba gue pengen nulis cerpen. Mumpung lagi kepengen dan gue sangat kangen sama sahabat lama, gue dedikasikan kepada sahabat lama gue. (Cerita ini nggak sepenuhnya real, tapi inti ceritanya benar. Nama orang disamarkan, kecuali gue.)

--------

Gue memiliki seorang tetangga sekaligus teman bermain. Namanya Herman. Herman lebih tua dua tahun daripada gue. Badannya kekar, kulitnya hitam, dan betisnya besar. Itu hasil dari seringnya dia main bola. Atau ternyata dia diam-diam selama ini jadi kuli panggul beras di pasar.

Dialah yang sering mengajak gue main bola. Dia juga yang mengajak gue ikut main bola melawan anak gang sebelah, sampai kadang ada perkelahian setelahnya. Bisa dibilang, Herman adalah orang yang bertanggung jawab atas diri gue.

Suatu sore, kami tanding bola lima lawan lima dengan anak Gang Mawar. Di tim kami, semuanya anak kelas 6 SD, cuma gue yang masih kelas 4. Begitu pun dengan tim lawan, yang merupakan anak seusia Herman dan musuh bebuyutan dia dari sekolah sebelah.

Laga berjalan keras. Antara tim kami dengan tim lawan seringkali terjadi benturan. Paling sering mengadu tulang rawan. Pertandingan bola sore itu lebih mirip baku hantam antarkampung.

Kami unggul dengan skor 9-7. Butuh satu gol lagi untuk memenangkan pertandingan, sesuai dengan kesepakatan skor harus mencapai 10. Bola sedang ada dalam penguasaan gue. Gue menyisiri sisi kanan pertahanan lawan. Seorang bek lawan melakukan sliding tackle, beruntung gue bisa berkelit ke arah kanan.

Sambil menggiring, gue berlari menuju ke depan gawang agar tembakan yang akan gue lakukan berbuah gol. Di hadapan gue sekarang, ada pemain betubuh besar dari tim lawan. Gue nggak mungkin meneruskan penguasaan bola. Gue lihat ada Herman nggak jauh dari sebelah kanan gue berteriak, "Bagi gue." Menuruti kata Herman, langsung gue beri ke Herman. Herman berlari ke kanan hingga sekarang dia berada di sisi kiri pertahanan lawan. Herman melakukan crossing, bola itu melambung di atas kepala gue. Gue hebat dalam spesialisasi menyundul, langsung melompat. Di belakang gue ada pemain bertubuh besar tadi ikut melompat. Sikutnya masuk ke pipi sebelah kiri gue.

BRAAAAAKKK

Gue terjatuh terkena sikutan si pemain besar. Kiper lawan tertawa atas kegagalan gue menyundul bola, diikuti teman-temannya. Herman berlari menuju si pemain besar. Tangannya mengepal kuat dan menghantam pelipis kanan si pemain besar.


"WOYYYY, MAINNYA SANTAI DONG! GAK USAH SIKUT-SIKUT SEGALA," teriak Herman.
Si pemain besar terpental jatuh. Pelipisnya dia tutupi, terlihat sedikit darah. Temannya langsung menghampiri Herman, dan mendorong Herman.

"Apa-apan lo, nampol temen gue! Sini kalo berani lawan gue!" tantang pemain lawan yang rambutnya paling rapi.
"NIH," Herman menjambak dan mengusap kasar rambut lawannya, "rambut lo terlalu rapi buat ngelawan gue!"
Si rambut rapi menangis setelah dijambak dan diacak-acak rambutnya. Dia lari meninggalkan lapangan. Diikuti teman-temannya yang mengejar. Dramatis.

"Langsung kabur mereka? Gila, lo, Man," kata gue terkagum-kagum.
Teman-teman Herman langsung menepuk pundak Herman.
"Udah seharusnya gue ngebela temen yang lagi kesakitan." Herman mengajak kami pergi meninggalkan lapangan.

Di dalam lapangan bola, Herman sangar seperti macan. Tapi di luar lapangan, Herman unyu seperti kucing. Ya, dia sangat baik pada siapa pun, bahkan kepada hewan.

Suatu siang setelah pulang sekolah, gue dan Herman udah punya janji untuk makan bareng di sebelah lapangan. Tempatnya teduh, banyak rerumputan, dan ada kolam ikan di sana. Konon, di sini seringkali menjadi tempat favorit pacaran. Kali ini, gue dan Herman akan makan bersama di sana. Semoga nggak ada yang menuduh kami pacaran.

Selalu sama. Pasti kita berdua makan dengan kertas nasi. Kata Herman, "Biar ngerasain kayak mas-mas kuli." Gue paham kenapa waktu itu Herman mukul lawan sampai berdarah. Mental kuli.

Saat sedang asyik menggeroti ayamnya, Herman dikejutkan dengan sentuhan halus di punggungnya.

"Rob, lo nggak meper ke punggung gue, kan?" tanya Herman.
"Nggak. Gue malah lagi ngegaruk punggung sendiri." Gue menjawab sambil merem melek ngegaruk punggung.

Padahal gue lagi makan. Kenapa sempet-sempetnya ngegaruk punggung?
Tiba-tiba ada seekor kucing menghampiri makanan Herman. Gue langsung buru-buru mengusir kucing untuk menjauh dari kertas nasi milik Herman.

"Syuhhh... pergi. Ganggu orang makan aja," usir gue.
"Heh, jangan diusir. Biarin aja," bantah Herman.
"Loh, kok?"
"Biarin dia di sini," Herman membuka botol minumnya. "Kucing yang suatu waktu nyamperin ke kita saat makan itu tandanya ada hak rezeki untuk kucing itu. Kita nggak boleh ngusir."
"Tapi, kan..."
"Dia kucing? Sama aja kali. Sama-sama makhluk Allah." Kemudian dia melanjutkan, "Kalo lo pelit sama hewan, apalagi sama manusia yang katanya lebih mulia dari hewan?"
Gue menelan buru-buru kangkung yang gue makan. Nggak nyangka punya teman sekeren Herman. Mungkin sewaktu manggul beras Herman sering dengerin ceramah dari radio.

Herman berbagi tempat dengan kucing itu dia ngebiarin kucing itu makan satu kertas dengannya.

"Lagian kucing ini sering kok makan bareng gue kalo gue ke sini sendiri," katanya.
"Udah lu anggap adek sendiri ya?" tanya gue.
"Kayaknya iya. Malah udah gue kasih nama buat kucing ini. Lu tau nama kucing ini apa?"
"Apa?" gue penasaran.
"Hermandez. Karena nama pemiliknya Herman."
"Terserah lo aja, deh, Man." Gue nyerah.

Selesai makan, kucing itu menjilati pantatnya. Herman pun nggak mau kalah. Herman menjilati pantat kucing itu. Gue pengen muntah ngeliatnya.

"Hehehe, sorry. Kelepasan." Herman nyengir kuda.

Sejak Herman memasuki jenjang SMP, gue udah nggak pernah main bareng dia. Kondisi itu makin parah setelah Herman pindah rumah tanpa gue ketahui rumahnya di mana. Pernah suatu hari, gue melihat Herman sedang dibonceng motor oleh temannya. Ingin gue kejar, tapi gue cuma naik sepeda. Susah buat ngejar motor itu yang jalannya ngebut banget.

Setelah lulus SD, gue masuk SMP Sederhana. Gue agak menyesal masuk sekolah ini. Gue  takut terkena pengaruh dari lingkungan sekolah yang buruk. Sekolah gue terkenal sebagai daerah pemasok narkoba nomor satu se-kecamatan. Konon, belum lama ini ada orang Kuba datang ke lingkungan sekolah gue. Dia menyamar menjadi tukang es potong depan SD dekat sekolah gue.

Suatu hari, pada jam istirahat, gue menyempatkan diri ke lapangan bola. Udah lama gue nggak nonton bola. Semenjak Herman pindah, gue udah nggak pernah main, bahkan nonton bola. Di lapangan, sedang bertanding antara kelas 9 melawan kelas 8. Kata orang-orang, kelas 9 punya jagoan yang gaya mainnya mirip Didier Drogba. Bukan, bukan mirip orangnya. Apalagi dakinya.

Bola dilempar kiper tim kelas 9 ke seorang striker. Penonton menyoraki, "HERMAN!! HERMAN!!" Ada juga yang menyoraki "Ayo, Drogba!"

"Tunggu. Herman? Jangan bilang dia Herman yang pernah gue kenal dulu?" tanya gue dalam hati.

Bola itu ditahan dengan dada oleh orang yang disebut-sebut sebagai Herman. Orang itu langsung bersiap untuk melakukan salto. Tiba-tiba, seorang teman setimnya mengangkat kaki. Kaki itu menghujam perut Herman. Herman langsung tersungkur, bola jatuh tanpa penguasaan.

"BANGSAT! NGAPAIN LO NENDANG PERUT GUE!" teriak Herman sambil memegangi perut.
"Gue kesel sama lo, Man! Tiap main nyetak gol terus, sedangkan gue temen setim lu cuma bisa ngerebut bola doang!"
"TAPI NGGAK GINI CARANYA, ANJ!" Belum selesali teriak, Herman berdiri kemudian memukul temannya. Beberapa pukulan menghantam wajah orang itu. Pukulan paling sering diarahkan ke pelipis. Gue melihat itu, kemudian yakin, ia Herman yang pernah gue kenal. Pukulan Herman yang pernah menolong gue dari sikutan pemain lawan. Gue harus memberhetikan pukulan Herman ke temannya, sebelum temannya mati dengan keadaan bonyok di muka.

"Herman, berhenti, Man!" gue mendorong pundak Herman, kemudian dia tersungkur.
Herman hampir melayangkan pukulan ke arah gue. "Lo nggak usah--," tangan Herman masih melayang, tapi tertahan melihat tangan gue berusaha menutupi wajah. Gue takut keadaan muka gue jadi makin bonyok.

"Robby? Lo Robby?" tanya Herman.
Gue membuka wajah dari tutupan tangan. "Iya, Man. Gue Robby. Temen lo masa kecil."
Herman menelan ludah. Kemudian dia memeluk tubuh gue, menangis di pelukan gue. "Kehidupan gue sekarang hancur banget, Rob," katanya sambil terisak.
"Tenang dulu. Lo jangan nangis di sini. Ini lapangan, tempat kekuasaan lo. Malu diliatin anak satu sekolahan."
"Iya..." Herman menyeka matanya dengan tangan.

Orang-orang yang ada di dalam dan di pinggir lapangan bersorak, "DROGBA CENGENG! HUUUU!" Kemudian sepi.

"Bentar lagi bel masuk, gue mau cerita panjang. Pulang sekolah bisa ketemu gue nggak?"
"Boleh."

Sesuai dengan janji, gue dan Herman ketemuan di warkop yang nggak jauh dari sekolah. Suasana canggung.
"Bang, kopi item satu ya," kata Herman ke mas-mas warkop. "Lu mau apa? Gue bayarin nih."
"Hmm... aqua gelas aja."
"Aqua gelas satu, bang."

Kemudian Herman mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya. Gue kaget. "Buset, sekarang lo ngerokok, Man?"
"Iya. Gue udah kecanduan sejak kelas 7."

Herman bercerita, sejak pindah rumah dia nggak punya lagi kehidupan seperti dulu masa kecil. Nggak ada lagi yang namanya makan-makan bareng kucing. Walaupun masih sering main bola, Herman lebih sering main bareng orang-orang 10 tahun di atasnya. Paling kecil dia sendiri. Tiap kali timnya menang taruhan bola, Herman pasti disuruh ikutan ngerokok.

Herman juga jadi sering berantem. Gue nggak heran dengan kebiasaannya, sejak kecil udah terlihat bakat menjadi atlet UFC. Suatu hari, dia pernah menolak tawaran untuk nggak mau ngerokok. Abang-abang yang nyuruh Herman, merasa tawarannya nggak dihargai. Herman dipukul hingga babak belur. Keesokannya, Herman balas dendam dengan memukuli abang-abang itu ketika tidur. Dia pukuli pelipisnya hingga berdarah. Abang-abang itu melapor ke orang yang lebih tinggi kekuasaannya di gank (tentunya abang-abang juga). Herman dipukuli hingga bonyok. Bahkan, hingga nggak masuk sekolah seminggu.

"Kenapa lo nggak balik lagi ke rumah yang dulu?"
"Maunya begitu. Ini semua karena kondisi keluarga yang nggak mungkin gue ceritain."
"Oh gitu."
"Beruntung gue bisa satu sekolah sama lo, Rob. Gue merasa ada harapan untuk hidup lebih baik."
Gue menyedot air hingga habis.

Bagi Herman, gue adalah cahaya baru yang memberi harapan hidup kelamnya. Sedangkan bagi gue, Herman adalah seseorang yang berani melawan ketidakadilan. Gue belajar untuk nggak menjadi cowok lemah. Kalo lo dipukul cowok, pukul balik, begitulah kata-kata yang pernah gue dengar dari Herman yang terus melekat pada gue.

Ada orang yang paling prihatin dengan perubahan sikap kita di masa dewasa, yaitu sahabat kita masa kecil.

03 December 2015

Pesatnya perkembangan teknologi di Indonesia berdampak ke semua sektor kehidupan selama 10 tahun terakhir. Salah satunya di bidang pendidikan.
Dalam rentang waktu tersebut, gue berstatus sebagai pelajar. Tiap naik satu tingkatan selalu ada perubahan teknologi yang gue rasakan dalam proses belajar.

Awal-awal zaman SD, gue masih mengalami proses belajar "guru menjelaskan, siswa mencatat setelahnya". Proses belajar yang menurut gue dan beberapa teman sangat membosankan. Kadang di saat guru menjelaskan, teman-teman gue ketiduran. Akhirnya, giliran dimintai catatan, malah kena omel guru tersebut. Kasian.

Barulah di kelas 6 gue merasakan adanya teknologi masuk ke proses belajar. Seingat gue, waktu itu di kelas kami ada sebuah proyektor untuk menampilkan gambar-gambar proses fotosintesis. Itulah kali pertama (sekaligus yang terakhir) merasakan adanya teknologi masuk dalam proses belajar.

Sumber: Google Image | Benda canggih yang pernah gue temui di SD
Gue yakin, makin tinggi gue sekolah makin canggih juga teknologi yang dipakai. Karena teknologi sifatnya dinamis, selalu ada perkembangan mengikutinya.

Benar saja, teknologi itu berlanjut di SMP. Hampir setiap dua minggu sekali ada tugas presentasi kelas. Difasilitasi oleh proyektor, memudahkan kami untuk melakukan presentasi. Namun, masih ada beberapa guru yang masih menerapkan cara lama; menjelaskan kemudian mencatat. Sayangnya, nggak selalu membutuhkan proyektor dalam berpresentasi karena minimnya jumlah proyektor.

Tingkat selanjutnya, di SMA, sudah memiliki proyektor di kelas masing-masing. Ya, itu artinya akan ada tugas presentasi yang rutin. Males juga sih, kalo disuruh presentasi terus. Kebanyakan audiens nggak ada yang ngedengerin. #CurhatPelajar

Menurut gue, semakin ke sini semakin banyak varian cara belajar. Mau cara lama? Bisa. Cara modern? Bisa banget.

Kalo cara lama masih diterapkan, gue yakin ada segelintir siswa yang benar-benar menerapkan teknologi dengan baik. Contoh: ketika seorang guru menjelaskan semua materi di papan tulis dan diharuskan mencatat, ini yang terjadi...

Cara cepat mencatat materi di papan tulis
Ya... difoto. Gue yakin orang kayak gini nggak bakal susah move on kalo pacaran. Karena nggak punya kenangan mantan.

"Kok di galeri handphone lu nggak ada foto pacar lu? Malah kebanyakan foto papan tulis?"
"Pacar mah nggak penting. Pentingin dulu pelajaran!"

Cakep!

Dulu, buku cetak sangat dicari para pelajar. Kini, buku cetak posisinya sejajar, bahkan sedikit tergeser, oleh buku elektronik. Buku elektronik bisa memberi alternatif pada siswa yang nggak mau keberatan bawa buku paket yang tebalnya bisa buat alas tidur dan mukul begal sampe amnesia ringan.

Dengan masuknya teknologi ke dalam proses belajar, sangat memberi dampak oleh para pelakunya, baik guru maupun siswa.

Dari sisi positif,
1. Varian cara belajar dari guru
Guru nggak harus ada di depan kelas, ngoceh-ngoceh, sedangkan muridnya tidur di pojokan sambil nutupin muka pake jaket. Nggak harus. Sekarang bisa aja guru ngejelasin lewat video pembelajaran yang diputar, dan bisa divariasikan lebih atraktif lagi.

2. Baik guru maupun siswa, bisa mencari materi dengan cepat
Hampir semua daerah di Indonesia udah bisa dilalui akses internet. Apalagi bagi orang yang tinggal di kota-kota besar. Apa pun materi yang dibutuhkan bisa diakses di internet. Udah banyak, kok, web/blog yang menyediakan. Jadi nggak harus ke pergi jauh-jauh ke perpustakaan buat nyari tau sesuatu. Asal jangan nyari tau info tentang gebetan aja. :p

3. Hemat tempat
Kini, dengan bermodal segenggam smartphone, semua bisa membawa buku yang seharusnya berisi buku sekoper dalam satu folder di handphone. Hanya bermodal smartphone, buku cetak elektronik bisa masuk ke dalamnya. Kecuali kalo yang doyan main TTS, nggak bakal bisa ngisi jawaban di buku elektronik.

Sayangnya, nggak ada sesuatu yang sempurna, begitu juga dengan perkembangan ini. Dalam penerapannya, gue banyak menemukan dampak buruk teknologi yang masuk ke proses belajar.
1. Ada beberapa oknum membuka konten terlarang
Kalau dulu ada orang nonton video porno di warnet, gue sering gregetan. Bawaannya mau ngelapor ke polisi. Tapi, sekarang di lingkungan sekolah aja udah sering ditemui. Malah nontonnya rame-rame. Gue tambah gregetan jadinya. GUE NGGAK DIAJAK NONTON!

Eh. Maap.

(Baca ini: Ditinggal Guru, Siswa-siswi SMP Ini Nonbar Film Porno di Kelas)

Ini merupakan penyalahgunaan teknologi yang menghancurkan moral. Jangan ditiru untuk teman-teman pelajar. Ingat, di sekolah kita telah diberitahu mana yang baik dan mana yang seharusnya dijauhi. Jauhi pornografi demi menyelamatkan moral bangsa.

2. Gadget Membuat Lupa Diri.
Ini yang seringkali terjadi. Karena keasyikan browsing di depan layar komputer/handphone, ternyata udah larut malam. Padahal udah nge-browsing dari subuh. Nggak sadar udah melewatkan banyak waktu yang seharusnya bisa dilalui di kehidupan sosial. Kehidupan di masyarakat itu penting banget, guys. Gue--yang dasarnya seorang pendiam dan penyendiri-- berusaha mau berinteraksi dengan teman-teman. Ngabisin waktu bareng gadget itu bikin merasa dijauhi orang-orang. Toh, kita paling butuh bantuan mereka (masyarakat) di saat gadget nggak bisa nolong. Emang mau, pas kita meninggal nggak ada yang ngubur, kesepian karena jarangnya interaksi sosial? Gadget nggak bisa megang cangkul dan keranda, guys.

3. Biaya Lebih
Ini emang persoalan banget, Semua yang canggih pasti ngeluarin uang lebih. Tapi, kalo emang bisa dimanfaatkan dengan baik teknologi itu, nggak mustahil uang itu terbayar lunas dengan kesuksesan. Betul, kan?

Terakhir, gue mengharapkan pada orangtua untuk selalu mengawasi kegiatan apa yang dilakukan oleh anak-anaknya dalam menggunakan teknologi. Sementara, gue, sebagai pelajar, berharap pada teman-teman untuk nggak menyalahgunakan teknologi.

Bukankah menyenangkan bisa berprestasi dalam berkembangnya teknologi? Ayo, berprestasi di perkembangan teknologi.

01 December 2015

Selamat datang Desember. Gue selalu senang dengan bulan ini karena banyak hal yang bisa dilakukan di penghujung bulan (sekaligus penghujung tahun), tepatnya setelah pembagian rapor. Nggak sabar rasanya buat ngelakuin hal-hal yang cuma dilakukan setahun sekali; niup terompet tepat pukul 00.00, bangun tidur jam 2 siang, dan nggak mikirin persoalan sekolah. Setahun sekali, kok.

Bayangan menyenangkan itu hilang setelah muncul bayangan mengerikan yang datang seminggu ini. Ya, UAS! Gue lagi UAS sampai hari Selasa depan.

Agak kurang sesuai dengan ekspektasi, kini gue satu ruangan dengan kelas 12. Berbeda dengan waktu UTS lalu, gue seruangan dengan anak kelas 10 dan duduk di sebelah cewek. Kini, gue harus duduk di sebelah anak kelas 12. Cowok. Jadi nggak semangat.

Halah, mau UAS apa nonton di bioskop. Ngarep duduk di sebelah cewek. Payah, lu, Rob!

Pelajaran yang diujikan di hari kedua adalah Matematika dan Sejarah. Bagi gue, kedua pelajaran ini adalah pelajaran yang baru-baru ini gue sukai kembali. Ya, akhir-akhir ini gue semangat banget sama Matematika setelah dulu cuma jadi kambing congek kalo dihadapkan dengan soal. Sekarang gue lebih nafsu buat ngerjain soal Matematika. Tiap kali main Duel Otak, gue protes kalo nggak ada soal tentang Matriks.

Lain lagi dengan Sejarah. Dulu zaman SD, gue adalah penggemar pelajaran IPS, apalagi pelajaran Sejarah. Gue ingat kali pertama mengeja kepanjangan VOC; Vereenigde Oost Indische Compaigne. Cara membaca Herman Willems Daendels, dan mengetahui bahwa Indonesia pernah dijajah 3,5 abad. Nyedihin.

Semenjak SMP, gue seperti seorang anak yang tidur setelah didongengkan ibunya. Begitulah gue tiap kali belajar Sejarah. Gue sangat menjauhi yang namanya buku Sejarah.

Barulah di SMA, tepatnya kelas 11, lebih tepatnya lagi empat bulan yang lalu, gue mulai doyan baca buku. Tiap naik angkot dan kebetulan gue bawa buku Sejarah, gue sempatkan baca. Tapi, tiap kali gue baca alur pelajaran sejarah, gue selalu memunculkan ekpresi. Gue rasa ini karena gue terlalu sering baca novel atau buku-buku komedi yang mengharuskan gue refleks berekspresi. Misalnya, ketika gue menemui bacaan:

Tugas utama Daendels adalah mempertahankan Jawa agar tidak dikuasai Inggris.

Setelah membaca itu, gue refleks bicara sendiri,

"Hahahah, mampus lu! Tugas lu pasti berat banget. Mertahanin Jawa. Hah, mertahanin hubungan aja nggak bisa. DAENDELS. LO. CUPU. OUT DARI SKUAD BELANDA!"

Segitunya.

Saking haus informasi, buku paket aja nggak cukup buat gue. Makanya, gue nyalain laptop, browsing tentang materi yang besok sekiranya keluar. Sayangnya, ketika mau nyari tentang Belanda, baru masukin satu huruf, pudar semua rencana mulai itu.

HUH, LEMAH!

Gue milih ke pencarian paling atas, yaitu Blogger. Susah ya, kalo nggak buka blog sehari aja. Kayak ada yang kurang dalam hidup. Minimal ngeliat statistik atau baca blog orang yang gue follow.

Nafsu buka blog udah terpuaskan, kini gue bingung mau ngapain. Gue iseng ngecek Line, siapa tau ada teman yang ngebocorin kunci jawaban buat besok. Kan lumayan.
Sesampainya di sana, gue melihat tulisan penuh kepanikan, baik di chat maupun di timeline.
"Gue ngantuk."
"Gue mau nangis nggak ngerti apa-apa."
"BESOK TUGAS DIKUMPULIN? GILA KALI!"

Gue cuma diam. Kenapa mereka semua panik. Ah, nggak seru, nih, orang-orang di Line. Sekarang gue bingung mau ngapain. Lagi.

"MATI! Tujuan utama gue kan mau searching materi Sejarah. Kenapa meleber ke mana-mana gini??! DASAR LEMAH!!!"

Sip. Gue harus nyari materi demi nilai Sejarah yang baik.

Baru selesai memasukkan kata "Zaman Kolonialisme di Indonesia" di kolom pencarian, gue membuka satu tab baru. "Yang ini buat buka materi yang lain," kata gue.

Gue malah buka Blogger.

Labil.

"Kenapa gue nggak nge-blog aja? Ya udah, nulis poin-poin buat besok dikembangin, deh." Benar-benar kebingungan, mata gue seperti mencari-cari sesuatu. Kiri-kanan-kiri-kanan-stop. Mata gue berhenti pada sebuah plastik hitam (orang-orang menyebutnya kresek) berisi kue. Pas! Nge-blog sambil ngemil, berasa piknik!


Di halaman putih kosong, gue melamun. Membandingkan diri gue dengan orang-orang yang tadi ada di Line. Mereka sedang panik menghadapi UAS, sedangkan gue menghadapi sekresek kue, layaknya orang piknik. "Nah, ini bisa ditulis sekarang juga!" Gue tulis semua sampai post ini hampir selesai.
Nggak terasa gue malah nulis kepanjangan gini. Dan, gue happy.

Bagaimana dengan tab yang lain, yang berisi materi sejarah? Udah gue close.

Kadang seru juga, sesekali piknik di antara orang-orang panik. Menikmati hidup dengan menulis sambil makan kue sekresek. Jadi merasa lupa daratan. Nggak sadar, kalau besok UAS masih menerjang.

Sebelum belajar lagi, gue mau ngebayangin enaknya tahun baru.

29 November 2015

Ketika menulis post ini, gue masih menahan dan memegangi area organ vital. Jadi ceritanya, gue baru aja pulang sekolah naik angkot. Gue duduk di depan, di sebelah sopir. Berkali-kali angkot berhenti menaiki penumpang. Sampai akhirnya, angkot penuh. Ada lagi penumpang bapak-bapak. Maksa naik duduk di sebelah gue yang dalam posisi terdesak. Mau nggak mau, gue harus sebelahan. baru masuk ke angkot, tiba-tiba...

NYESSSSSS

Ada sesuatu yang menyentuh organ vital gue. Ternyata itu sikut si bapak yang nyasar ke anu gue. Lebih kejam lagi, sikut dari si bapak tertahan dalam posisi yang nggak mengenakkan itu selama 5 detik, sambil berusaha membetulkan posisi duduknya. Padahal cuma 5 detik, tapi terasa sampai 5 jam. Gue nggak nafsu makan setelahnya.

***

Kalau kalian mengira gue adalah seorang yang seru, rame, suka ngelawak, pokoknya anak yang keren, itu adalah salah. Kenyataannya, gue adalah seorang yang pemalu, minderan dan pendiam. Gue akan menuliskan beberapa uneg-uneg yang gue rasakan akhir-akhir ini. Ada yang dari sudut pandang secara luas, ada yang secara pribadi (kebanyakan sih pribadi). Yeah, mulai.
1. Orang-orang pendiam sering dianggap sombong karena jarang mau nyapa teman/kakak kelas. Dalam hati yang terdalam, kami ingin.
Gue pernah diginiin sama seseorang. Ketika itu dia bilang ke gue, "Rob, lu sombong banget sama gue, kalo ketemu nggak pernah nyapa." Bukan mau gue ngediemin lu, tapi gue nggak bisa nyapa duluan. Kesannya, gue dianggap kayak tukang bakso; mau nyamperin kalo dipanggil dulu.
2. Orang pendiam cuma bisa nahan pipis sampai jam istirahat tiba. Malu minta izin ke guru.
Ini berat banget. Sumpah. Itu yang sering gue alami. Kalo ada teman mau ke toilet, gue bakal ngikut, terus yang minta izin ke guru teman gue.
3. Mereka, para pendiam, cuma bisa jadi obat nyamuk di diskusi kelompok. Mau ngasih pendapat, takut salah. Diam saja, pilihan terbaik.
Gue minder dengan pendapat gue sendiri. Bagi gue, pendapat yang ada di benak sulit rasanya direalisasikan di diskusi kelompok. Akhirnya, gue terkesan cuma numpang nama doang di kelompok.
4. Ketika semua orang ngobrol, kerjaan gue cuma satu: diam, sampai teman-temannya yang ngobrol ikutan diam.
Yah... dalam hati, gue mau banget diajak ngobrol. Kalo gue ikutan nimbrung, disangka sok asik. Serba salah.
5. Gue hanya mampu mengamati, nggak berani mengeksekusi.
Misalnya, ketika ada eksperimen, gue nggak berani buat mengeksekusi. Tugas gue cuma mengamati, tapi apa yang terjadi? Gue nggak berani menyampaikan hasil pengamatan.
6. Orang-orang pendiam seringkali dianggap "nggak ada" di dalam kelas.
Ini cuma faktor suara. Suara kami hanya kurang terdengar. Ya, itu memang karena kita jarang bersuara
7. Orang-orang pendiam sering dianggap bermuka dua; seru ketika bersama orang yang dia kenal dan jaim dengan orang yang kurang dia kenal.
Bukan kami pilih-pilih teman, tapi kami malu memulai dengan orang baru. Kami selalu punya ketakutan dicap sebagai orang sok asik.
8. Menjadi penampil, adalah keinginan terbesar dalam dirinya.
Itu cita-cita terbesar gue.

Sejujurnya, menjadi seorang pendiam itu nggak enak. Beruntung gue punya blog, tempat di mana gue bisa menempatkan ide dan mengasah kreativitas.

Begitulah uneg-uneg yang bisa gue sampaikan. Semoga gue bisa menjadi pendiam di kondisi semestinya: diam di saat ada orang yang sedang bergunjing.

PS: UAS MENDEKAT!!! Tanggal 1 Desember gue mulai UAS.

24 November 2015

Kalo kalian ada yang sering mampir ke blog gue, pasti kalian sering ngeliat di bagian popular post ada post berjudul Stand up Comedy Jakarta Barat. Waktu itu gue benar-benar iseng bikin post, cuma karena gue mengagumi komunitas stand up yang ada di Jakarta Barat ini, daerah tempat gue tinggal. Nggak disangka, banyak banget yang baca. Terakhir kali gue liat di statistik pada 23 November 2015 pukul 20.43, udah 5.700-an viewers, ngalahin popular post nomor dua yang cuma 2300-an.

Efeknya, blog gue dikira info tentang komunitas stand up Jakbar. Sampai ada yang mention di Twitter kayak gini:


Gue pun masih dalam tahap belajar, walau minim open mic. Jangan tanya gue. Akhirnya gue suruh dia tanya ke komika stand up Jakbar.

***

Udah jadi keinginan lama gue mau jadi gemuk. Minimal berisi lah. Nggak enak aja gitu, kalo punya badan kurus. Tiap kali tangan gue kepentok meja, bunyinya kenceng banget. Saking nggak ada daging. Lebih bahaya lagi kalo kalo gue jadi pemain smackdown. Pas The Rock mau niban gue, The Rock malah kesakitan karena abis nubruk tulang.
Gue heran, padahal kerjaan gue cuma satu: males-malesan. Gue nggak ngelakuin kegiatan yang benar-benar nguras tenaga, apalagi pada hari Minggu.
Makan - nonton TV - ketiduran - bangun - nyari toples - makan kue sampai ketiduran. 
Gitu-gitu aja kerjaan tiap hari Minggu.
Yang jadi masalah adalah setiap kali toples yang gue buka ternyata nggak ada isinya, gue bakal menggila dalam keadaan ini. Gimana nggak, gue mau gemuk, tapi nggak ada camilan yang bisa dimakan. Otomatis, sifat kebinatangan gue muncul: memakan segalanya yang ada di hadapan.

Mungkin kalian berpikiran bahwa gue akan memakan batu, daun kering, pot, tikus, kecoa, uang rakyat. Bukan seperti itu yang gue makan. Atau ngubek-ngubek tempat sampah untuk nyari makanan sisa. Itu bukan gue banget. Gue cenderung buka lemari dan tempat-tempat tersembunyi lainnya yang sekiranya ada makanan di situ. Apa aja yang bisa gue dapatkan di sana? Berikut ini yang akan membuat gue brutal jika menemui mereka..

1. Sambal
Orang Indonesia mayoritas maniak sambal, termasuk gue. Tapi setiap kali mama gue bikin sambal, pasti nyisa. Sisa sambal itu disimpan sampai 3 hari di meja makan, setelahnya baru dibuang. Karena setelah 3 hari, sambal itu kemungkinan besar basi. Nggak enak aja kalo misalnya gue lagi nyocol gorengan ke sambal, tiba-tiba gue keracunan.

"Seorang Pemuda Keracunan Sambal. Mulutnya Berbusa Sambil Mangap-mangap berteriak, "MANA AIR!!! MANA AIR! AIR! AIR! PEDES BEGO!"

Gue akan gila jika ada sambal. Apa pun yang bisa gue colek pake sambal, pasti gue makan. Kerupuk, gorengan, bahkan roti pun gue pakein sambal. Kalo benar-benar nggak ada bahan yang bisa dicolek, gue nyolek sambel pake tangan, terus diemut. Nggak sampe ketelen, kok.

2. Gula merah
Makanan manis adalah makanan yang paling aman dalam dunia kuliner. Kalo pun ada yang manis berlebihan, pasti dibilang, "Kamu terlalu manis buat aku."

Lalu nyanyi lagu Slank - Terlalu Manis.

Apa ini? Skip.

Dari pengamatan yang gue lakukan waktu kecil, banyak anak-anak seusia gue saat itu suka ngemutin gula merah di tongkrongan. Main gundu, ngemut gula merah. Main tamiya, ngemut gula merah. Cuma pas makan nasi uduk aja nggak sambil ngemut gula merah.

Kebiasaan itu terbawa sampai gue sekarang. Gue seringkali ngemutin gula merah tengah malam, pas nggak ada makanan dan lapar kronis. Gue takut kalau gue menjadi maniak gula merah. Tiap kali main ke rumah teman, kebetulan tuan rumah nyediain klepon, lalu gue teriak dengan semangat 45 ngorek-ngorek isi klepon. "Tenang, sayang. Kamu selamat di tanganku. Akan kumakan kau secara terpisah."
3. Mi instan
Mi instan. Makanan murah meriah bikin sakit parah. Udah banyak studi kasus yang menyatakan kalo mi instan nggak bagus buat kesehatan. Yang katanya bikin radang usus, hipertensi, kesemutan, jomblo menahun, itu semua bikin kita nggak pernah takut untuk mengkonsumsinya.

Gue pun begitu. Di saat lapar, lalu gue menemui mi instan, gue akan bertindak kreatif.  Yang ada di otak gue saat megang sebungkus mi instan adalah:

"Enaknya direbus atau diremekin?"

Walaupun murahan, harus tetep ada varian. Akhirnya gue remekin dengan alasan biar makannya lama. Setelah itu, gue kena panas dalam.

4. Bumbu penyedap
Setuju nggak kalo bumbu itu penting dalam masakan? Kalo nggak ada rasanya pasti hambar, kan? Ibarat pelajar, kalo nggak pernah kena getok guru rasanya gimana gitu.

Biasanya bumbu-bumbu penyedap bakal ada di toples kecil. Gue, dalam kondisi brutal, langsung nyamperin toples-toples itu. Gue buka, lalu gue tempeli jari telunjuk gue di dalamnya. Rasanya.... ughhhh... kaldu ayam.

Kemudian, gue sariawan.

5. Mentega
Gue pernah nonton acara kartun Little Krishna. Di suatu episode, si Krishna ngerecokin warga yang bawa sekendi mentega. Dia makan mentega itu yang lagi ditinggal sama si warga itu. Eh, karena keenakan, si Krishna ngabisin.

Kalo nggak salah gitu deh ceritanya. Pokoknya Krishna makanin mentega rakyat.

Gara-gara itu, gue ikut-ikutan makan

***

Segitu aja yang sering gue makan. Ada yang punya bahan makanan lain? Gue kekurangan refrensi nih. Bantu gue biar nggak lapar :(

20 November 2015

Salah satu cara untuk meringankan beban pikiran adalah dengan main game. Bagi sebagian orang, game yang seru adalah game yang punya jalan cerita, tamatnya lama, dan harus mikir keras. Contohnya Grand Theft Auto San Andreas (kecuali kalo main berdua. Paling cuma ngincer ciuman doang antar player).
Sedangkan, sebagian orang beranggapan bahwa game yang seru adalah game yang langsung selesai, bikin penasaran nggak perlu lama-lama buat nyelesain jalan cerita, misalnya Flappy Bird.

Tapi gue bingung dengan konsep game yang butuh mikir keras. Tujuan nge-game adalah biar pikiran santai, eh ada banyak orang yang main game jenis itu. Gue juga males main game yang langsung selesai. Yang pertama kali timbul di benak gue adalah "Apaan nih game, langsung selesai. Gini aja?".

Bosen dengan game yang itu-itu aja, gue mendapat saran dari seorang teman.
"Ayok, Bi. Main inian," kata teman sambil menunjukkan layar handphone-nya.
"Apaan tuh?"
"Duel Otak. Ayolah."
"Oke, dah," kata gue mengangguk. "Tapi..."
"Nggak ada kuota buat install?"
"Nah... itu."

Duel Otak harus dimainkan dengan internet. Jadi kalo nggak ada kuota internet, ya, mending beli dulu deh. Kalo nggak ada duit beli kuota, beli buku TTS aja. Sama-sama ngasah otak, kok.
Akhirnya gue dikasih file game Duel Otak. Tinggal gue install, gue coba main deh. Sebenarnya, gue masih ada kuota, tapi emang dasar gue yang pelit buat ng-install.

"Anjir, seru juga nih game."

Begitulah kata-kata yang keluar dari mulut gue setelah menang melawan teman gue. Baru nyoba main aja langsung menang. Gue mulai kecanduan dengan game ini.
Sampai akhirnya...

"Kampret! Kalah tipis!" Gue refleks melempar handphone ke bantal. Untung masih nyala.

Iya, gue kalah. Tapi tetap nggak membuat gue kapok main. Gue terus-terusan main, sampai ada pemberitahuan kalau game ini ada batasan duel. Hanya versi premium yang nggak ada batasan mainnya. Teman gue menyarankan gue untuk install ulang. Kemudian dia ngasih file yang katanya merupakan Duel Otak Premium. Gue nggak tau dia dapat dari mana, yang penting gue bisa main versi premium dan tanpa batasan berduel. Yiahahaha~

Begitu tau nggak ada batasan duel, tiap sejam sekali gue ngecek hape. Bawaannya pengen ngejawab soal di Duel Otak. Giliran ketemu soal ujian sungguhan, bawaannya pengen ngerobek soal kecil-kecil.

Promo username Duel Otak gencar gue lakukan. Semuanya sama; "Lawan gue ya di Duel Otak. Usernamenya: robby_h". Untung ini cuma Duel Otak, bukan Duel Otot di kehidupan nyata. Bisa-bisa gue dibikin bonyok sama preman.

Kayaknya Duel Otak telah membuat gue kecanduan dengannya. Tiba-tiba gue merasa kalo game ini adalah perpaduan antara game GTA San Andreas dan Flappy Bird; butuh mikir dan ngetes kesabaran.

Permainan Duel Otak bisa nambah wawasan gue--yang hanya setingkat dengan udang. Apalagi kalo main game dengan kategori Jelajah Ilmu. Ada beberapa materi pelajaran yang muncul di pertanyaan Duel Otak. Makanya, sekarang gue jadi rajin nyatet apa yang dibilang guru. Buat antisipasi sewaktu-waktu muncul di Duel Otak. Kan sayang banget kalo nggak kejawab. Gue juga takut kalo ternyata soal yang pernah muncul di Duel Otak dikeluarin lagi di Ujian Akhir Semester nanti.

Dari keseruannya, tiba-tiba gue merasa permainan Duel Otak menjadi menakutkan. Gue merasa Duel Otak berubah genre menjadi game fighting strategy. Kalo main kurang pake strategi, pasti ada "fight" setelahnya.

Gue nggak menyangka, kalau game Duel Otak bisa bikin orang main sindir-sindiran. Ada beberapa teman gue setelah main Duel Otak langsung ngeledek satu sama lain. Tapi, mereka masih nyindir dengan santai dan bercanda. Misalnya "Lu pasti belum belajar ya sebelum lawan gue.", "Lu kurang minum nih.". Berbeda dengan sindiran yang gue terima.


Ini salah satu duel yang terparah selama gue main Duel Otak. Ceritanya, gue duel dengan orang secara acak, dan gue kalah telak. Nggak lama kemudian, si lawan nge-chat gue. (Kebetulan, di Duel Otak ada yang namanya fitur chat).

APA BENAR, YA ALLAH??

Setelah membaca berita dan melihat track record gue di Duel Otak, gue merasa menjadi manusia payah. (Beritanya gue baca di sini Para Netter Ini Justru Sukses Setelah Di-PHK)

Ya, pokoknya gue lagi doyan main Duel Otak. Kalo mau lawan, cari aja "robby_h". Jangan lupa, mode klasik, karena mode taktis nggak seru. Hahahaha.

PS: semua hal menakutkan akan datang di akhir tahun. Awal Desember gue akan UAS. Dua minggu kemudian, domain gue harus diperpanjang dan uang gue masih kurang banyak.
Doakan gue bisa melewati semua ini dengan baik.