14 December 2017

Tes Politeknik AKA Bogor dan SBMPTN

Gagal di seleksi nilai rapor AKA Bogor, gue tetap semangat untuk ikut tes tulisnya. Alasan gue bersemangat adalah: 1) Tahun ini gue harus kuliah di bidang kimia, 2) Tes tulisnya nggak bayar. Jadi, saat seleksi rapor sebelumnya gue sudah membayar 100 ribu. Orang-orang yang nggak lolos seleksi rapor masih bisa ikut tes tulis. Lumayan, kan, membuka peluang untuk kuliah.

Pilihan gue masih sama seperti saat seleksi rapor: pilihan pertama Analisis Kimia dan pilihan kedua Penjaminan Mutu Industri Pangan. Masih ada jeda sekitar sebulan setelah pengumuman seleksi rapor, sekaligus sebulan pula waktu gue menghadapi SBMPTN.


Gue mengatur strategi untuk membuat semua yang gue pelajari jadi efisien dalam waktu sebulan. Setiap hari, gue mengerjakan soal-soal latihan. Mata pelajaran seperti Fisika dan Matematika lebih dulu ditendang. Gue fokus belajar mata pelajaran yang lebih mungkin buat gue kerjakan, seperti Tes Potensi Akademik (TPA), Bahasa Indonesia, dan Kimia. Sesekali kalau mood lagi bagus, gue belajar Bahasa Inggris dan Biologi. Matematika dan Fisika hampir pasti gue ikhlaskan di SBMPTN nanti.

Menjelang SBMPTN gue benar-benar menggembleng diri. Kerjaan gue cuma ngerjain soal, tidur, ngerjain soal lagi, dan tidur. Kebetulan saat itu sekolah pun sudah hampir selesai, tinggal nunggu hasil UN. Di angkot, menuju bimbel, gue nyempetin ngerjain soal TPA. Hampir ke mana-mana gue ngerjain soal TPA karena ngerjainnya nggak perlu mikir keras.

Hasilnya, dari try out ke try out, skor TPA gue terus meningkat. Jumlah soal yang bisa gue kerjakan (dan benar) juga menunjukkan kemajuan yang bagus. Saking gilanya belajar TPA, gue pernah bikin postingan di Instagram soal bilangan deret, yang mana itu termasuk di tipe soal TPA.

Sayangnya, hal itu nggak diimbangi dengan porsi belajar Matematika dan Fisika. Untuk keduanya, pola belajar gue sedikit berbeda. Pertama, gue nonton video pembahasan soal dari CD pembelajaran. Gue pahami betul cara nyelesain soalnya, lalu gue coba soal sejenis. Gue menghitung dan nyontek mentah-mentah cara yang dijelasin di CD. Lima menit ngotak-atik satu soal, gue ketiduran. Kerennnya, kejadian begini selalu terjadi.

Saat pendaftaran pilihan jurusan di SBMPTN, gue nggak merasa kesulitan, bahkan nggak pernah pusing-pusing kayak teman-teman gue. Dalam hati, “Nanti gimana nih kalau gue nggak bingung jurusan? Nanti gue nggak bisa cerita apa-apa.” Heran gue juga. Pilihan udah mantap malah pengin ikut-ikutan bingung kayak orang lain.

Teman-teman yang lain gue perhatikan masih bingung dengan pilihannya. Rata-rata mereka sudah punya pilihan pertama, namun bingung memilih jurusan apa di dua slot tersisa. Gue, karena pengin banget Pendidikan Kimia, nggak banyak mikir panjang buat milih prodi itu di dua dari tiga pilihan yang dikasih.

Pilihan gue di SBMPTN:
1) Pendidikan Kimia – UNJ
2) Pendidikan Kimia – UNY
3) Kimia - UNJ

Hati gue masih mantap dengan tiga pilihan itu. Sampai pada suatu hari, gue bilang ke Dede, teman gue yang sudah masuk ITB, tentang pilihan jurusan gue.
“Itu bukannya passing grade-nya tipis banget ya?”
“Iya, bener. Tipis banget,” jawab gue.
“Nggak kebalik?”

Gue diam. Deg. Oh, iya, ya. Gimana kalau salah nempatin urutan jurusan?

***

Kalau memang pilihan gue ketuker posisinya, maka hampir pasti gue cuma punya satu pilihan di SBMPTN.

Gue berangkat agak siang ke SMAN 6 Jakarta, tempat gue akan tes SBMPTN nanti. Tujuan gue ke sini bukanlah mencari dedek-dedek gemes, melainkan untuk survei tempat ujian. Melihat anak-anak di sini, gue membandingkan dengan apa yang ada di SMA gue. Di sekolah ini siswanya bebas-bebas aja pakai sepatu warna selain hitam. Sekolah gue, warna hitam adalah warna mutlak untuk sepatu. Kalau kata orang-orang, SMA 6 itu sekolah hits Jakarta. Jadi wajar.

Teman sekelas gue, Nurul, ternyata tes di tempat yang sama. Gue bilang, “Nanti janjian dong, ketemu di sana.” Maksud gue bilang begitu biar kayak orang-orang. Lebih enak aja waktu istirahat ketemu temen sekelas buat saling dukung. Atau dengan kata lain gue pengin ngembat jatah makanannya.
Tanggal 10 Mei, gue pergi ke Bekasi untuk berangkat ke Politeknik AKA Bogor dari sana.

Sejujurnya gue nggak tahu di mana lokasi kampusnya. Gue sempat baca di sebuah blog, katanya, orang-orang Bogor pun ada yang nggak tau di mana AKA Bogor berada. Gimana gue, ya, anak Jakarta yang ke mana-mana nggak ngerti arah di kota sendiri?

Dari Bekasi, gue diantar kakak gue dan istrinya. Kami bertiga berangkat naik kereta dengan kondisi nahan ngantuk. Tes bakal dimulai dua jam lagi. Badan gue penginnya rebahan aja di kasur. Turun dari kereta, perjalanan dilanjutkan dengan Grabcar.

Gue sampai di kampus Politeknik AKA Bogor setelah jalan kaki sekitar 100 meter karena jalan menuju kampus macet, tepat 15 menit menjelang tes dimulai. Kesan gue ke kampus AKA Bogor nggak jelek-jelek amat. Waktu gue ke sana, gue tetap masih merasakan kearifan lokal yang ada di Jakarta: macet dan panas. Kalau memang nantinya gue kuliah di sini, ikhlas deh jadi anak kos. Tapi, tes aja belum, gue udah ngebayangin bakal kuliah di sini. Tes rapor aja nggak lolos, gimana tes tulisnya ya?

***

“Waktunya 3 jam?”

Gue hampir nggak percaya melihat durasi tesnya yang, menurut gue, kelamaan. Bagus, sih. Jadinya gue nggak perlu buru-buru. Hitungannya pun lumayan ribet, apalagi nggak diperbolehkan pakai kalkulator. Gue akan tetap mempertahankan kecepatan ngerjain soal SBMPTN yang sering gue lakukan selama ini.

Dalam tes ini gue menemukan hal-hal nggak terduga. Di antaranya:
Pertama, soal tes potensi akademiknya sangat-sangat wadaw. Istilah sinonim dan antonimnya mengenai istilah kimia dan fisika. Gue, kan, nggak paham jadinya.

Kedua, ternyata soal tesnya nggak ada soal Matematika. Gue kira akan ada adegan pergelutan hebat dengan soal matematika selama berjam-jam. Begitu juga dengan Fisika. Alhamdulillah ternyata nggak ada.

Ketiga, gue lupa pakai deodoran hari itu.

Dalam waktu dua jam, 100 butir soal tes masuk Politeknik AKA Bogor gue selesaikan tanpa mengalami rasa pusing. Keren. Tapi, gue malah jadi takut nggak lolos dengan begini. Ujung-ujungnya malah pusing mikirin ketakutan setelah ujian.

Pikiran selepas tes itu terbawa sampai di kereta dalam perjalanan pulang. Gimana kalau nggak lolos juga di tes tulis? Kalau SBMPTN bisa lolos mah nggak apa-apa. Kalau dua-duanya nggak lolos? AKA Bogor masih ada tes tulis gelombang II. SBMPTN? Ada, tapi nunggu setahun.

(Bonus: soal ujiannya disuruh bawa pulang. Gue scan aja dan di-upload ke sini. Siapa tau ada yang pengin belajar soalnya juga. Soal Ujian Masuk Gelombang I Politeknik AKA Bogor 2017)

 

***

Tiga hari berikutnya gue tes SBMPTN. Pukul 5 pagi gue naik bus Transjakarta. Di sana, gue malah ketemu Rohim, teman sekelas gue. Lokasi tes kami berbeda. Seperti dua orang yang akan bertarung di ring tinju, kami sama-sama saling menyemangati. Muka kami sama-sama ikhlas buat ngerjain soal nantinya.

Sampai di lokasi tes, gue langsung mencari tempat duduk ternyaman untuk menyantap roti dan susu cokelat. Gue menelpon orang tua di rumah.

“Halo. Ma, Robby udah di lokasi tes. Doain ya, Ma.”

Entah suara gue bisa sampai ke telinganya atau nggak, speaker handphone gue bermasalah saat itu. Agar meyakinkannya, gue mengirim SMS. Hal sederhana yang membuat gue setidaknya bisa lebih tenang.

Sesi pertama adalah soal Saintek. Soal-soal Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi masing-masing 15 soal dihadapi dalam waktu 2 jam. Mengikuti strategi yang sudah gue susun, gue langsung menuju soal-soal Kimia karena gue tahu kekuatan gue di situ. Sudah terbiasa mengikuti try out, gue cukup pede untuk meninggalkan soal Matematika IPA dan Fisika. Meminjam istilah dalam judi pertandingan bola: “Biar dapat poin dulu.”

Nomor-nomor awal soal Kimia masih mudah. Nomor kelima dan seterusnya nggak terlalu susah, tetapi gue nggak langsung dapat jawabannya. Nggak biasanya bentuk soal seperti ini. Gue loncat ke nomor lain. Selalu begini: baru ngerjain setengah jalan langsung stuck. Cengok. Lalu ingat pesan motivasi yang gue buat sendiri, “Jangan diem aja kalau ngadepin soal. Waktu lu habis buat bengong.”
Bosan dengan soal Kimia, gue pindah ke soal Biologi. Belajar dari try out sebelumnya, kekuatan kedua gue ada di Biologi. Dapat satu soal yang gue yakin benar, gue pindah lagi ke Kimia. Penting memang buat dapetin satu soal benar.

Di Kimia gue merasa nggak bisa jawab apa-apa lagi. Dari 15 soal Kimia, gue sudah menjawab 9 soal, yang mana bagi gue bukanlah sesuai target. Target gue untuk soal Kimia adalah menjawab 12 soal benar. Setiap soal benar mendapat poin 4. Bila semuanya benar, artinya: 12 x 4 = 48 poin yang gue dapat hanya dari Kimia. Tapi, hal ini sulit terjadi.

Fokus gue pindah ke soal Fisika, yang masih nyerempet dikit sama Kimia. Kelimabelas soal nggak ada yang bisa gue jawab. Lutut gue lemas. Kemudian pindah ke soal Matematika IPA. Soal Matematika pun nggak jauh beda dengan soal Fisika. Mau gue pulangin aja soalnya ke pengawas.
Gue harus ngerjain apa lagi? Ngintip lembar jawaban orang lain, kertasnya berkilat kena pantulan cahaya yang mengenai hitaman pensil 2B.

Kemudian sesi kedua, yaitu Tes Kemampuan Potensi dan Akademik (TKPA). Di sini terdiri dari soal tes potensi akademik (TPA), Bahasa Indonesia, Matematika Dasar, dan Bahasa Inggris. Harusnya, sesi ini kita, sebagai peserta, harus cepat dan tepat ngerjain soal karena soalnya relatif lebih mudah dibanding Saintek. Namun, ketika bel dimulainya pengerjaan soal dibunyikan, di ruangan gue masih banyak yang ngisi biodata dan sebagainya akibat dari terlambatnya pembagian lembar jawaban. Alhasil, banyak banget yang kesel sendiri. Gue sendiri contohnya.

Bagaimanapun juga, sesi ini cukup mengobati patah hati gue nggak ngerjain banyak soal di sesi Saintek. Soal TPA bisa gue kerjain 35 dari 45 soal, Bahasa Indonesia 10 dari 15, Bahasa Inggris dan Matdas 4 dari 15.

Pada akhirnya gue nggak ketemu Nurul. Dia juga udah pulang duluan diantar orang tuanya. Gue naik bus Transjakarta. Lalu di halte, gue ketemu Rohim (lagi).
Gue nanya, “Gimana tadi?”
“Ya, begitulah,” jawab Rohim.

Lalu kami bercerita tentang soal SBMPTN dengan nada kesedihan.

***

Hari itu juga, lembaga bimbel gue bikin quick count untuk memprediksi lolos atau nggaknya peserta SBMPTN, dengan cara memasukkan jumlah jawaban benar dan salah di sistem buatan mereka. Mereka menyediakan kunci jawaban yang soalnya telah dibahas di websitenya. Soal didapat dari murid-murid bimbel tersebut. Namun, hanya soal Saintek aja yang bisa dibawa pulang. Isu yang beredar, soal-soal TKPA dikumpulkan dan dibakar.

Gue menunggu kunci jawaban kode soal gue. Belum muncul juga di websitenya. Malam harinya barulah ada dan langsung ngecek jawaban gue.

Gue koreksi soal Kimia.
Benar: 6 salah: 4.

Bagus, masih ada poin plusnya.

Beralih ke Biologi.
Benar: 1 salah: 2

Yak, mulai mengkhawatirkan.

Kemudian Fisika
Benar: 0 salah: 1

Kena minus.

Terakhir, Matematika IPA
Benar: 0 salah: 1

UDAH DUA PELAJARAN DONG KENA MINUS?

Gue pernah dengar dari seseorang di bimbel, “Yang penting jangan kena minus di dua pelajaran. Otomatis nggak lolos kayak gitu.”

Malam yang membuat gue muram.

Karena soal TKPA nggak dibawa pulang, jadinya gue nggak bisa nyocokin jawaban. Gue mengira-ngira berapa poin maksimal yang gue dapat di sesi TKPA. Setelah memasukkan jumlah benar dan salah di setiap mata pelajaran, baik TKPA dan Saintek, beserta pilihan jurusan, gue mengklik “lihat hasil”. Hasilnya:

“Anda tidak diterima di mana pun.”

29 comments:

  1. Ealah, Rob, kok endingnya? :") GANTUUUUNG BANGSAAAAAATTTTT :D

    Tapi berhubung gua tau lu diterima dimana jadinya ngehhh, ini sengaja biar pembaca lanjutin ke episode 2... dasar otak sinetron.

    Lah, Rob padahal kalo ke Pendidikan Kimia UNY kita bisa satu almamater.

    Turut berduka cita dengan AKA Bogor, btw, gua juga orang yang gagal SBMPTN, kok. Tapi ada anak yang gak ikut SBMPTN mereka nyesel katanya. Merasakan SBMPTN is one step ahead above them, apalagi kebagian jatah gagalnya keresahannya sama dengan anak-anak lain di Indonesia. Bisa jadi saling curcol.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan episode 2,sebelumnya udah ada lagi episodenya. Hahaha. :D

      Enak, ya. Modal tes aja bisa punya cerita dan pengalaman. Tapi udah cukuplah SBMPTN-nya. Nggak mau pindah. :p

      Delete
  2. Perjuangan lanjut kuliah segila itu yah. Gue masih dilema dengan jurusan kuliah walaupun tes aja belum.

    Endingnya perih sekali. Kayak mantan ngajak balikan, seyelah kita iyain dia bilang,"april mop."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baca-baca dulu aja yang ada di sini buat nambah pengalaman. Hehehe.

      Nyeseknya lagi, ternyata itu bulan Januari.

      Delete
  3. Kalo di saya dulu ikutan tesnya setelah pengumuman UN. Jadi itu tes sbmptn adalah tes terakhir yg seabis itu gada tes lagi buat masuk perguruan negeri. Nggak ikut tes sebelum kelulusan ya karena klo gak lulus lebih mau ngulang aja dibanding paket2an.

    Itu beneran pas tes PTA pake istilah fisika kima? anjerlah.. serem itu soal.. xD

    saat pengumuman atau menunggu pengumuman, saya nggak serajin kamu ini, Rob. yg meriksa jawabn bakal bener apa kagak. itu kertas soal saya selipin di lemari dan gatau kemana perginya setelah kebanjiran. pas pengumuman itu yg mendebarkan, sengaja begadang karena emang gabisa tidur. deg degan.

    bahkan saat udah pengumuman dan input kode pun gamau liat hasilnya dulu, tapi tahajud 4 rakaat. xD abis itu baru deh dibuka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. TPA-nya beda, sekaligus bikin ngakak waktu pertama liat soalnya. Abis itu sedih, bingung mau jawab apa. :(

      Masya Allah. Tahajud, dulu....

      Delete
  4. Berat yak. Aku tau-tau perjuangan menuju perkuliahan gini cuma dari tulisan kamu dan sedikit cerita teman-temanku. Adekku orangnya gak terbuka. gak pernah ceritain soal perjuangannya menuju kuliah dulu. Huhuhuhuhu. Btw Robby orangnya ambisius juga, yak. Kalau punya satu tekad, saban hari ngejabanin cara buat ngewujudinnya. Sampe lupa pake deodoran.

    Dan itu aku terharu pas kamu ngehubungin Mama kamu pas udah nyampe. Udah nelpon, terus pake kirim SMS lagi. So sweet. Robby sama Mamanya deket yak~

    ReplyDelete
  5. Melihat skor Fisika yang minus, saya jadi gemas pengen gantiin kamu ngerjain soal-soalnya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga gemas. Bisa-bisanya kena minus. :(

      Delete
  6. LAH ITU KOK SOALNYA BOLEH DIBAWA PULANG SIH SERIUS ITU EMANGNYA BOLEH YA BUKANNYA RAHASIA NEGARA GITU ASTAGADRAGON KOK ENAK?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh dong. Hahaha. Panitia tesnya baik hati.

      Delete
  7. Kamu giat banget ya Rob! Salut banget
    sama perjuangannya sampe diangkotpun belajar.. 😁😁
    Duh, so swit bgt sama Mamanya pake telp dan sms segala..

    Tapi alhamdulillah ya.. Sekarang sudah kuliah, artinya udah diterima 😀😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah sakau parah sama soal kayaknya. :p

      Alhamdulillah. Endingnya bentar lagi nih dari rangkaian cerita ini. Hehehe.

      Delete
  8. Duh. Kupaling bencik Kimia. 😑

    Masak ion aja disuruh setarain? Kan setarain tuh disamain. Siapa jugak yg mau disama-samain? :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hm, nggak gitu kak maksudnya. Hahaha.

      Delete
  9. wah makasih kak soal tes tulisnya udah dishare! aku juga ga lulus nih seleksi rapotnya....

    ReplyDelete
  10. Maaf a sebelum aa ikut tes di aka bogor, ikut TO dlu di AKA nya ngga?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya nggak sempet ikut. Ketinggalan info euy.

      Delete
  11. Makasihhhhh bisa buat pembelajaran. Doakan bulan depan aku tes AKA wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat! Semoga lancar dan sukses ya.

      Delete
  12. hai, kak. kebetulan banget. aku seraching blog yang sharing tentang AKA Bogor, dan nemu ini. makasih ya, kak. kemarin aku ditolak AKA di jalur rapor. tapi karena terlanju cinta jadi bakal kukejar terus sampai dapat, hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo!

      Wah, keren nih. Diperjuangin terus sampe dapet ya? Semangat! Semoga dapet di AKA Bogor.

      Delete
  13. Kaaa aku mau nanya2 dong tentang aka bogorr boleh personal chag ngga

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.