Karena Peka Itu Harus

Hal tersulit bagi gue untuk menulis sebuah cerita adalah saat harus mengingat kembali kejadian secara berurutan. Terutama ketika menghadiri suatu acara tertentu dan ingin menuliskannya. Ini salahnya bila tidak menulis poin-poin terlebih dahulu. Gue mencoba mengingat apa saja yang terjadi. Setelah itu, nyadar... kok malah kebanyakan cerita perjalanan ketimbang acaranya, ya?

Contoh nyata adalah saat kopdar bareng Blogger Jabodetabek.

Seharusnya postingan ini berisi pengalaman gue try out SBMPTN. Bila menemukan lebih banyak cerita perjalanannya, mohon dimaklumi, ya.

***

Perjalanan dimulai dari halte Trasnsjakarta Rawa Buaya. Kemudian bus yang gue naiki kini akan melewati halte Indosiar dan gue turun untuk transit, menaiki bus rute ke Lebak Bulus lalu turun halte Simprug. Tempat gue try out, kampus Universitas Pertamina, ada di sana. Dari halte Simprug, menurut rencana gue, akan disambung menggunakan ojek online. Gue sampai di halte Simprug pukul 6.30, sesuai dengan perkiraan dari rumah. Try out dimulai pukul 7 menurut jadwal. Jadi, gue masih punya waktu 30 menit bersama driver ojek untuk nyasar-nyasaran. Gue juga khawatir bila ternyata kampus Universitas Pertamina jauh dari sini (halte Simprug).

Keluar dari halte gue menyalakan Mifi Bolt. Alat ini adalah nyawa buat menyalakan data di handphone gue. Dia juga yang menggantikan peran kartu GSM yang sekarang kerjaannya cuma buat SMS dan nerima telepon orang tua. Baru lima menit gue membuka aplikasi Grab, ikon Wi-Fi di handphone menghilang. Gue ngecek Bolt ternyata mati. Panik. Gue hidupin berkali-kali tetep nggak nyala. Mampus. Gimana caranya gue tahu perjalanan setelah ini? Gue harus ke mana? Aku butuh peta! Bedebah kamu, Mifi Bolt!

Gue resmi tersesat. Kalau di film, para petualang tersesat di hutan karena kompasnya hilang, maka kali ini Robby Haryanto, si bocah kampung dari Kalideres, tersesat di Simprug karena kehilangan akses internet. Digital itu kenyataan!

TERSESAT

Gue sebenarnya bisa saja kembali ke halte berhubung di sana ada akses internet gratis. Sayangnya koneksi di sana nggak terlalu cepat. Buat buka Facebook Lite saja susahnya bukan main. Bisa juga menggunakan pilihan kedua: kembali ke halte, lalu naik bus rute ke arah rumah. Batal try out deh.

Bukan Robby Haryanto namanya bila menyerah di tengah perjalanan. Kekuatan gue yang sedikit ganteng ini berkata, gue harus melanjutkan perjalanan. Gue memutuskan jalan kaki tanpa arah di bagian timur halte. Gue nggak tahu mau ke mana. Positifnya, siapa tahu dengan cara begini gue bisa menemukan kampus Universitas Pertamina dengan kaki gue sendiri, tanpa aplikasi. Negatifnya, jalan tanpa arah berisiko membawa gue ke Pantai Selatan. Diculik Nyi Roro Kidul yang lagi patroli, diajak party.

Sia-sia sudah uang yang gue pake buat bayar try out, pikir gue. Berjalan tanpa tahu di mana dan ke mana, bingung harus bertanya pada siapa. Hari masih pagi, di jalanan masih sepi. Orang-orang masih di rumah, CFD-an di Monas, atau baru pulang party di Pantai Selatan. Sampai perjalanan tanpa arah ini mempertemukan gue dengan sebuah bundaran. Akhirnya gue menemukan kehidupan di sini. Beberapa orang berkumpul di depan sebuah warteg.

Gue bertanya pada seorang bapak. “Pak, kalo ke Unires--Univertisas Pertamina lewat mana ya?” Gue ngetik bukannya typo. Saking groginya gue ngomong berlibet.

Beliau menunjuk kopaja di depan kami. “Naik itu aja.”

Tak lupa mengucap terima kasih, gue langusng menaiki bus kopaja lalu menghampiri sopir. “Bang, lewat Uni—uniresvitas Permitana nggak?” tanya gue keapda sopir. Saking groginya, gue masih ngomong berlibet. Si sopir menggelengkan kepala dan menarik tuas gas. Gue buru-buru turun sebelum bus ini ngebut. Nanti malah gue disuruh bayar.

Gue marah-marah sendiri di sepanjang trotoar. Menyesali setiap hal terlewati. Padahal, Mifi udah di-charge sejak tadi malam, tapi kenapa pas gue pake pagi hari malah abis? Mesakke tenan.

Masih dalam amarah tak terkontrol, di ujung trotoar sana, ada dua orang berjilbab dengan celana jins dan menggendong tas. Mata gue berbinar-binar. Bukan karena mereka cantik (ya iyalah, cuma dilihat dari belakang!), tetapi gue langsung menyangka mereka adalah jawaban atas segala kegundahan hati ini sejak lama.

Asik.

Gue mempercepat kecepatan langkah kaki. Gue semakin bergairah setelah melihat salah satu di antara mereka membawa papan ujian. Inikah orang yang kau titipkan untukku, Ya Allah? Mereka adalah jawaban atas marah-marahku tadi di trotoar. Gue menaruh dugaan, mereka adalah peserta try out, sama seperti gue. Gue hampir mendekati mereka. Mereka beberapa kali menoleh ke belakang, seperti mencurigai ada yang mengikutinya. Lalu gue memperlambat langkah agar tetap memberi jarak pada dua orang penyelamat. Tiba-tiba mereka hilang, berbelok ke kiri. Gue mempercepat langkah biar nggak kehilangan langkah. Gue mendapati wujud mereka lagi. Gue melihat ke atas ada sebuah gapura bertuliskan “Universitas Pertamina”.

Yes! Nggak jadi batal try out. Yes, mereka adalah penyelamat dalam kesesatan ini. Yes, terima kasih, cinta!

Berhubung sudah telanjur gue ceritakan di sini, mereka harus diberi hadiah. Untuk kamu yang diem-diem saya ikutin, inilah hadiah untukmu.



Karena kalian adalah dua orang yang hanya tampak dari belakang saja.



***

Di dalam gelanggang, di bagian tribun penonton, gue menajatuhkan pantat dengan senyum lebar. Tribun masih kosong. Pelaksanaan ngaret hingga pukul 9.00. Pilihan gue duduk di sini, di tribun yang sepi, bukannya tanpa alasan. Gue sudah memprediksi akan ada dua sampai tiga cewek duduk di sebelah gue. Lalu diam-diam gue akan mengintip kertas ujiannya, mengetahui nama panjangnya, dan gue follow Instagramnya. Kenalan deh.

Nyatanya, sebelah kanan-kiri gue cowok.

Selesai try out, secara mengejutkan gue memutuskan pergi ke Pusat Grosir Cililitan (PGC). Karena dapat info di Facebook sedang ada promo buku di sana. Perjalanan satu jam lebih gue tempuh. Gue celingak-celinguk mencari di mana tempat promo itu. Berkali-kali lewat gerai handphone, disambut dengan pertanyaan: “Mau cari apa, Mas?” atau “Tanya aja, Bang”, yang mana kalau gue sahutin mereka, akan gue tanya, “Temen kamu suka nyebut tempat makan dengan sebutan ‘lestoran’ nggak, sih?”

Gue tidak mendapati apa yang gue bayangkan. Tidak seperti di Matraman beberapa minggu yang lalu, di sini hanya ada buku dari beberapa penerbit saja. Gue mengobati rasa kecewa dengan minum cappucino cincau.

(Sorry, lupa difoto. Udah haus banget soalnya)

Pulang dari perjalanan, deket bak sampah berbahan semen dekat rumah, dua orang berboncengan motor matic berhenti di depan gue. Kondisinya gelap, membuat gue agak khawatir. Yang mengendarai motor bertanya ke gue. “Konter hape deket sini di mana ya?”

“Ke sana. Belok kiri. Ikutin jalan, terus belok kiri lagi,” ucap gue cepat sambil mengarahkan dengan gerakan tangan. Gue tidak mau berlama-lama di sini dengan mereka.

“Terima hape batangan nggak ya?”

“Hah?” Gue nggak nangkep apa ucapan mereka.

“Bisa jual hape nggak? Saya mau jual hape.” Dia memukul pelan pahanya, menunjukkan di mana handphone-nya disimpan.

“Kurang tau. Biasanya di konter gede.”

Dia merogoh kantung celana jins pendeknya. “Mau bayarin hape saya nggak?”

“Nggak, Mas.” Gue melambaikan tangan, dalam hati, “YA KALI NAWARIN HAPE KAYAK NAWARIN MAKAN!”

“Makan, Bang....”



Ini Yonglek ngapain tiba-tiba muncul?

Buru-buru gue berlari. Mumpung rumah tinggal beberapa meter lagi, kalau dia memaksa atau melakukan tindak kriminal bakal gue laporin tetangga.

Ada satu kecurigaan gue:

Kenapa mereka menjual handphone tanpa ada persiapan layaknya orang yang menjual handphone? Tanpa kardus atau aksesoris lain, yang biasanya didapat dalam satu paket pembelian handphone. Kenapa harus ketemu dan nawarin gue? Pas banget gue cuma sedikit, harusnya gue nanya, “Berapaan? Cenggoh dapet?”

Sudahlah. Gue nggak ingin bertemu mereka.

**

Gue peka melihat keadaan sekitar. Tempat gelap, sepi, tanpa siapa pun. Dua orang menawari handphone. Agak mirip kejadiannya ketika gue SD. Suatu siang, seorang lelaki menghampiri gue, yang sedang jalan sendirian, menanyakan jam. Gue menjawab, “Jam 2.” Dia menanyakan lagi, “Tau dari mana, Dek?”

“Tadi dari rumah saya jalan jam setengah dua.”

“Emang nggak ada jam atau handphone gitu.”

DAMN! Ada niat buruk gue cium di sini. Gue buru-buru menjawab tidak ada, padahal gue membawa handphone di dalam tas. Gue lari.

**

Kepekaan bisa datang dari memelajari pola. Sesuatu yang muncul dalam pengamatan dapat membentuk pola. Dari sana, bisa diketahui apa yang sebenarnya akan terjadi. Misalnya, gue yang terus-terusan ngelihat cewek bawa-bawa papan ujian. Juga, driver ojek online yang boncengin penumpang sambil bawa papan ujian. Dari sekian banyak yang bawa papan, gue harus lebih teliti lagi ngebedain mana yang bawa papan ujian dan mana yang bawa papan penggilesan, bahkan talenan. Meskipun bentuknya mirip. Kemudian gue ikuti ke arah mana mereka pergi.

Pengamatan dari kejadian yang terus-terusan terjadi membuat gue banyak memunculkan dugaan, kecurigaan, dan suuzan. Dikit, sih. Sama seperti kecurigaan terhadap kebiasaan diri sendiri yang dikit-dikit jadi suka stalking. Pasti ada apa-apanya. Sama seperti orang yang selalu membuang wajahnya ketika ketahuan curi-curi pandang, dan

Sama seperti pesan masuk yang akhir-akhir ini sering gue terima, dari orang yang sama.


31 komentar:

  1. Kenapa si neng yg dipakai g nengok sih
    Abang kan penasaran MA dua Eneng itu
    Coba rob dipotonya disuruh nengok, bisa g?
    .
    Harusnya mw rob bayarin hape orang itu, siapa tw dapet seribu mah

    ReplyDelete
    Replies
    1. ((neng yg dipakai))

      Sini, hapenya bang Niki saya bayarin seribu.

      Delete
  2. Roby ini anaknya peka banget ya? Pasti pacarnya belum ngomong apa2, lo udah tau dia pengen apaan. Keren. Tapi itu dua ceweknya kenapa nggak disamperin dan ajak kenalan Rob?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahaha, nggak berani. Takut digampar pake papan ujian.

      Delete
  3. pekaan banget!

    coba tadi yang duduk di kiri dan kanan cewek. pasti udah jadi korban kejahilan si Robby. untungnya mereka juga peka ya? 😂😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha, iya mungkin, ya. Hahaha. Nanti mereka kena foto juga.

      Delete
  4. "pesan masuk yang akhir-akhir ini sering gue terima, dari orang yang sama."

    Itu maksudnya pamer nih lagi punya gebetan? Oza ya kan

    ReplyDelete
  5. CURHAT TERSELUBUNG! NULISNYA RADA BANYAK TYPO-NYA GITU SAKING PENGEN NYEMBUNYIIN CURHAT TERANG-TERANGAN! JANDA KAYA RAYA MANA LAGI YANG KIRIM MESSAGE DI FACEBOK KAMU? MANTAP SHOL. KEMAMPUAN ROBBY MENGGAET YANG LEBIH TUA SEMAKIN TERASAH.

    Ahahaha. Sempat deg-degan pas soal kamu 'tersesat' tanpa tau arah jalan menuju Universitas Pertamina. Untungnya ada dua malaikat yang dikirimkan buat jadi penuntun jalanmu. Hohohoho.

    Dan itu serem juga ya nawarin hape. Pas kamu ceritain ke grup, aku pikir itu sales apa gimana. Taunya malah jual hape seenaknya kayak gitu. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Weeey, nggak ada lagi yang kirim-kirim pesan. :(

      Iya, mereka malaikat bercelana jins. :p

      Delete
  6. yang gue masih bingung, kok lu bisa kefikiran buat moto tuh cewe dari belakang ya? kayaknya kalau nnya langsung, bakalan dijawab juga. eh, tapi elu peka gitu sih ya, ga usah nanya udah tau duluan. hahaha. gue nggak sejago itu sih.
    bener juga ya, kayaknya kalo tersesat d kota itu sbnernya mah santai'' aja, selagi ada hape d tangan. tapi klo koneksi internet mati, bakalan bngung juga ya.
    banyak kayaknya yang jualan hape baatangan kayak gitu, rob. gue juga pernah d tawarin.
    duh, kyaknya d jakarta banyak banget diskonan buku'' gitu ya. pgen juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu buat bukti. Nanti dikira hoax lagi. :'D

      Yoi, enak, bang, sekarang mah. Ada alternatif selain baca peta di atlas.

      Main, bang, ke sini. Abis dari Mesir mampir dulu ke sini. Hehehe.

      Delete
  7. Sedap nih. Kepekaan bisa datang dari mempelajari pola dan mengamati sekitar. Pantas lu udah siap banget kalau ada orang yang mau jahat sama lu. Kayanya sering didatengin orang - orang tidak dikenal ya rob ? haha

    ReplyDelete
  8. suka menuruti naluri. aku juga sering gini sih, Rob. apalagi kalo sendiri keluar kemana-mana.
    njir, horor tuh yang nanya jam berapa, songong banget sih. bukannya bersyukur dikasih tau :'D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena dia belum bersyukur kalau belum dikasih handphone.

      Delete
  9. Wahhh kisahnya seru gak kalah sama kisah petualangan dora the explorer hahaha ternyata dua cewe itu penyelamatmu ya bang! Gue biasanya juga kayak gitu kalo nyasar dijalan, ikutin motor-motor yang jalan ke satu arah tapi serempak gituuu.
    Soal nanya jam, itu nyari waktu pukul berapa atau nyari harta?

    willynana.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru kayak Dora. Boleh jugaaa. :))

      NAH, KAN. Itu setengah malak sebenernya. :(

      Delete
  10. Dari tadi series baca, kenapa tiba-tiba muncul yonglek wakakakkaka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serius maksudmu? Typo gara-gara baca tulisan Robby yang sok typo pasti.

      Delete
  11. kok gue mikir yang nawarin hp itu homo yah ??

    ReplyDelete
  12. Hal tersulit bagi gue untuk menulis sebuah cerita adalah saat harus mengingat kembali kejadian secara berurutan.

    wkakaka kalimat pembukannya udah gue banget nih rob. Makanya waktu selesai trip atau apalah itu, aku selalu bedain folder2 dan kasih tanggal biar sewaktu2 aku lupa bisa liat tatanan folder fotoku itu.
    Misalnya buat nulis cerita tentang traveling.


    Hmm untung ada mbak mbak penunjuk arah ya. Eh kompas kali penunjuk arah mah. Hahahaa

    Aku setuju. Curiga dikit boleh apalagi di tempat tempat yang memang harus membangkitkan kesiagaan kita. Boro boro tempat sepi, di tempat rame pun kejahatan bisa terjadi.

    Seperti, ramai ramai lomba mendapatkan hati seorang cewek. Belum kesampaian, Eh udah ketikung ajaa.
    Jahat kan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya, nih, mbaknya suka banget traveling. Seneng catat-mencatat juga ya. Ceritanya juga lengkap pol-polan sampe ke pengeluaran yang dihabiskan (inget banget pernah ngerjain soal di sana, hahaha).

      Tikung ya? Hmmm, fine.

      Delete
  13. Padahal tinggal tanya aja sama dua cewek itu, Rob. Yaelah. Siapa tau dari depan cakep... kayak Nyi Roro Kidul. Terus diajak party. :)

    Ah, kalau ditanya soal hal yang gue gak tau, macam jual hape batangan gitu. Mending gue jujur aja gak tau terus menjauh dari mereka. Udah waspada duluan pokoknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, gak mungkin. Mereka masih muda dan cantik kaykanya. Mirip-miriplah sama bidadari selfie-nya Zarry Hendrik.

      Awalnya dia nanya konter, sih. Eh, tau-tau ngomongin batangan.

      Delete
  14. awalnya g peka soalnya openingnya panjang bener (walaupun kamu udah ngasih tau kalau cerita perjalannya bakal panjang). tapi pas terakhir-terakhir, baru tercerahkan. btw untung yes bukan kamu yang diculik buat dijual buat mainan tante-tante

    ReplyDelete
    Replies
    1. ((mainan tante-tante))

      Itu, mainan jenis apa ya, Tan?

      Delete
  15. Aseli, absurd benar ceritamu Mas ke sana kemari. Tapi biasanya tipe org dg cerita loncat sana sini adalah orang yg kreatif. Tetap semangat menulisnya ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaaah, loncat sana sini seperti Kera Sakti. Asiiik. Punya toya sakti. \o/

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.