16 September 2018

5 Keunggulan Sertifikat SSL yang Kamu Harus Tahu


Keamanan adalah salah satu faktor paling penting saat kita surfing di internet. Dari dulu hingga sekarang dunia internet bagaikan pisau bermata dua karena banyak hal positif yang bisa didapatkan melalui internet. Namun, tidak sedikit pula hal negatif bisa didapatkan dari surfing di internet, contohnya yang paling sederhana adalah perangkat terkena virus karena mengunjungi website. Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk berhati-hati ketika berada di internet. Tapi di masa kini anda bisa sedikit santai dalam menanggapi hal ini karena sertifikat SSL hadir menyingkiran masalah tersebut. Dan di artikel ini kami akan membahas lebih lanjut keunggulan sertifikat SSL yang kerap melindungi anda saat berada di internet. Namun sebelumnya, kita akan membahas tentang apa itu sertifikat SSL.

Sertifikat SSL atau singkatan dari Secure Socket Layer merupakan suatu sistem keamanan standar global yang menggunakan enkripsi modern untuk menerima atau mengirim informasi penting di internet, SSL memungkinkan komunikasi anda terenkripsi antara browser dan server web sehingga anda akan terlindungi ketika mengunjungi website tertentu. Informasi seperti apa pun yang melalui jaringan ini dienkripsi di satu end dan didekripsi setelah diterima di end lainnya. Dengan demikian, tidak ada gunanya seorang pengguna menyimpan informasi tersebut karena telah dienkripsi.

Jika anda seorang pemilik website, anda bisa mengaktifkan sertifikat SSL dengan membeli atau mengakusisinya. Dan anda bisa mempelajari cara install sertifikat SSL di sini. Browser web kini mampu mendeteksi sertifikat SSL ini untuk mengenkripsi koneksi tertentu. Pengguna pun bisa mengetahui dengan mudah apakah suatu website menggunakan sertifikat SSL atau tidak dengan melihat gembok kecil yang terletak di sebelah kiri URL nama website. Selain itu, nama website yang menggunakan sertifikat SSL juga akan teridentifikasi menggunakan protokol HTTPS bukan HTTP.

Website yang menggunakan SSL akan berubah dari HTTP menjadi HTTPS
Kini sudah sangat banyak website umum maupun belanja online yang menggunakan sertifikat SSL sebagai pelindung website mereka untuk mengurangi risiko bocornya berbagai informasi sensitif seperti nomor kartu kredit, kata sandi, nomor ponsel, alamat rumah ,email, nomor telepon dan sebagainya. Bahkan menggunakan SSL, kini seperti sebuah hal wajib yang harus dimiliki sebuah website agar mendapat kepercayaan dari pengunjung. Contoh website yang menggunakan sertifikat SSL adalah IDwebhost.

Oleh karena peran dan fungsi yang sangat penting dari sertifikat SSL bagi suatu website, berikut ini akan kami jelaskan keunggulan sertifikat SSL serta alasan mengapa anda harus menggunakan protokol ini.

Keunggulan Sertifikat SSL dan Alasan Mengapa Anda Harus Menggunakanya

1. Dengan SSL, tampilan website Anda akan menjadi terlihat lebih professional
Hampir seluruh website populer di dunia baik lokal maupun internasional, seperti Facebook, Google, Youtube dan website populer lainnya memakai lambang ikonik dari sertifikat SSL yaitu gambar gembok kecil di samping kiri URL website. Bisa kah anda menyebutkan salah satu website populer yang tidak menggunakan lambang sertifikat SSL ini?

Well, para pelaku bisnis dan pemilik website saat ini sudah mengetahui apa yang menjadi kekhawatiran pengunjung website ketika hal tersebut berkaitan dengan privasi digital atau keamanan. Oleh karena itu, dengan memasang sertifikat SSL mereka membuktikan hal tersebut bukanlah masalah dan mereka ingin para pengunjung website merasa terlindungi. Selain fungsi utama untuk melindungi tersebut, sertifikat SSL juga memberikan kesan tampilan website yang professional sehingga pengunjung akan percaya akan kredibilitas website.

Bagi website yang memiliki tipe bisnis seperti E-commerce, keberadaan sertifikat SSL sangat penting. Karena sertifikat SSL akan melindungi berbagai informasi penting dan sensitif seperti rincian kartu kredit. Payment Card Industry (PCI) standard memiliki peraturan bahwa pembayaran online yang melalui sertifikat SSL harus memiliki setidaknya 128 bit enkripsi. Enkripsi ini sebaik mungkin dugunakan untuk mengamankan transaksi online samapi iklan yang sangat baik untuk merek bisnis anda.

2. Enkripsi dan Transmisi informasi akan lebih aman
Keunggulan sertifikat SSL selanjutnya adalah keamanan berlapis sehingga enkripsi dan transmisi informasi dapat dijalankan dengan lebih aman. Alasan utama mengapa menggunakan sertifikat SSL direkomendasikan adalah sertfikat SSL menjamin bahwa setiap paket data yang ditukar antara pengguna browser dengan website yang memiliki sertifikat SSL akan dilindungi dengan teknik enksripsi yang paling canggih. Hal ini bertujuan untuk mencegah tindakan pencurian data yang mungkin dilakukan oleh pihak tak bertanggung jawab. Informasi yang berguna tidak akan terbaca karena teknik canggih enkripsi ini. Oleh sebab itu, pengguna dijamin akan merasa lebih aman saat mengunjungi website yang memiliki sertifikat SSL.


Dengan SSL, kemamanan akan semakin terjamin

3. SEO friendly
Selanjutnya keunggulan sertifikat SSL yang ketiga adalah SEO friendly. Ya tanpa disadari, banyak website perusahaan yang berusaha menjadi nomor 1 perihal SEO (Search Engine Optimization) dengan mengandalkan konten yang mereka buat. Namun ternyata selain faktor konten tersebut, sertifikat SSL ternyata juga memiliki peran penting untuk mencapai SEO. Mengapa bisa begitu? Hal ini berkaitan dengan keunggulan sertifikat SSL nomor 4 berikut.

4. Google sangat suka dengan website yang menggunakan sertifikat SSL
Ya, inilah alasan utama mengapa sertifikat SSL bisa mendukung SEO atau SEO friendly. Sudah sejak dua tahun lalu, Google menyatakan bahwa mendukung penuh sertifikat SSL dan akan memprioritaskan website yang memiliki sertifikat SSL untuk mengatur ranking di halaman hasil pencarian.

Sertifikat SSL akan meningkatkan traffic website anda

Oleh karena itu, sekarang ini akan cukup percuma jika konten yang ada di website anda bagus namun belum memasang sertifikat SSL karena Google akan menaruh website anda pada ranking atau urutan yang cukup belakang pada halaman hasil mesin pencarian. Dengan semakin banyak traffic yang anda dapatkan, anda juga akan meningkatkan peringkat anda di halaman pertama hasil pencarian. Dengan proses yang berkelanjutan dan berputar seperti ini, menggunakan SSL di website anda dapat menjadi awal mula yang efektif karena selain melindungi pengunjung SSL juga akan membuat website anda semakin ramai pengunjung.

5. Mencegah disisipkan iklan oleh ISP
Selanjutnya, keunggulan sertifikat SSL adalah mampu mencegah iklan yang disisipkan oleh ISP. Mungkin anda pernah mengalami hal ini, yaitu ketika sedang browsing dan membuka suatu website tiba-tiba muncul iklan dari provider anda. Well, iklan ini merupakan sisipan dari ISP (Internet Service Provider) yang pastinya sangat merugikan bagi anda kan. Oleh karena itu, keberadaan sertifikat SSL sangat penting dan dibutuhkan karena SSL mampu menghentikan sisipan iklan tersebut dan mengganti protokol anda dari HTTP menjadi HTTPS. Sangat mudah bukan?

Well, itu dia 5 keunggulan sertifikat SSL. Bagaimana apakah sudah tertarik memasang sertifikat SSL?
Dan bagi anda pemilik usaha yang ingin membeli sertifikat SSL namun belum memiliki domain, bisa membeli di IDwebhostcom yang menyediakan berbagai jenis domain murah yang kemudian bisa Anda pasangkan sertifikat SSL.
09 September 2018

Obat yang Ditawarkan Senja

Apa yang mampu mengobati lelah setelah seharian beraktivitas?
Saya pernah mendengar jawaban: "menikmati senja". Tidak ada cara tertentu untuk menikmati senja. Boleh memotret langit, melipir ke tukang buah untuk makan nanas di pinggiran fly over--seperti yang biasa teman saya ceritakan pada saya, atau bahkan semudah menatap langit jingga. Senja adalah waktu yang sibuk bagi orang-orang untuk pulang.

Hari itu saya pulang dari Kebun Raya Bogor (KRB) dalam acara bersama teman-teman. Saya dibonceng seorang teman menggunakan sepeda motor. Kami meninggalkan KRB sekitar pukul 5 sore. Sebelumnya kami harus mengalami "drama parkir motor" selama 30 menit. Gara-gara teman saya parkir bukan di tempat semestinya dan bikin geger penjaga KRB, terpaksa kami pulang lebih sore daripada teman-teman lainnya.

Suara azan Magrib mengangkasa. Teman saya sesering mungkin melihat ke kiri jalan untuk mencari masjid terdekat. Saya merasa aman dan bersyukur dibonceng dia. Teman saya mengerti bahwa secepatnya kita memang harus berhenti dan segera bersujud. Teman saya menyalakan lampu sein kiri tepat di depan sebuah pondok pesantren.

Di akhir sholat berjamaah, saya dibuat terpukau sekaligus terpukul. Mendengar rapinya para jamaah--yang mayoritas diisi oleh santri--berzikir. Mereka tidak terburu-buru. Sangat jauh berbeda dengan saya yang lebih sering ingin keluar lebih cepat setelah shalat.

Tertampar. Itulah kata yang pas menggambarkan perasaan saya saat itu. Terlalu sering saya meminta hal untuk buru-buru diwujudkan, tetapi waktu yang diluangkan untuk mengingat-Nya hanya sedikit. Merasa nggak tau malu juga ketika datang ke rumah-Nya hanya karena ada maunya. Setelah diberi, sudah, selesai semua. Sore itu spontan air mata saya mengalir. Mengingat bagaimana kurang ajarnya saya dalam berhubungan dengan-Nya. Saya sepertinya sedang 'sakit' sehingga kejadian sore itu menjadi obat buat saya. 

Saya jadi rindu wisata-wisata seperti ini. Pergi ke tempat tak terduga yang menjadi obat hati saya untuk selalu mengingat-Nya.

"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 152)

02 August 2018

Menata Diri Lewat Blog

Libur semester kadang membuat saya bingung. Terbiasa di kampus disibukkan dengan segudang aktivitas, sesampainya pada liburan malah kebingungan. True story, pada liburan semester sebelumnya saya sempat sakit karena ... liburan. Tekanan yang sudah terbiasa diterima di kampus menghilang ketika liburan. 

Untuk mengisi liburan, saya ikut beberapa kepanitiaan di kampus. Hal ini cukup membuat saya beberapa kali ke kampus. Saya nggak peduli ada teman saya yang bilang, "Ngapain sih, udah liburan masih aja ke kampus?" Ya, kalau boleh saya jawab, saya belajar dari pengalaman. Hitung-hitung mencegah sakit dan tetap membuat tubuh selalu fit. Halah.

Kebetulan saya hari ini tidak ke kampus. Saya berpikir untuk mencari kesibukan lain. Di rumah, saya bisa bantu-bantu orang tua dan main bareng keponakan yang sekarang berumur 2 tahun. Namun, kangen juga rasanya liburan begini untuk ngeblog. Saya pergi ke warnet dan kembali menulis. Maklum, laptop saya sudah pensiun alias rusak.

Mungkin, hal ini penting saya tulis. 

Ada banyak hal yang mulai saya sadari, yang bagi saya selama ini baik, ternyata tidak.

Pertama, saya mulai menyadari bahwa penting untuk memberikan jamuan terbaik kepada tamu. Saya sudah lama menganggap blog ini sebagai rumah dan pembaca saya adalah teman yang sedang bertamu. Saya mulai berpikir, apakah selama ini jamuan saya sudah baik? Saya nggak tahu jawaban pastinya. Namun, sebuah nasihat pernah saya dapat, yaitu kamu tidak pernah bisa membuat semua orang puas atas apa yang kamu kerjakan. Hal itu yang membuat saya cukup tenang sebenarnya. Suka atau tidak suka, saya tetap akan mengerjakan apa yang saya suka. Bedanya, ke depannya saya akan membuat sedikit, atau bisa dibilang perubahan besar, mengenai konten yang akan saya tulis.

Satu hal yang membuat saya ingin mengubah konten adalah karena saya merasa tiga tahun slengean banget dalam menulis. Pada suatu malam, saya baca ulang tulisan saya periode 2014 sampai 2017 awal. Rasanya ... kok serem banget ya? Serem maksud saya adalah bagaimana ketika tulisan ini dibaca siswa saya kelak. Saya dengan pede bilang 'siswa' karena minimal saya akan mengikuti Praktik Keterampilan Mengajar (PKM) ke sekolah. Sekalipun saya nggak jadi seorang guru, saya akan ketemu siswa kelak.
Kedua, berkaitan dengan poin pertama, saya akan menghapus atau mengedit beberapa tulisan lama. Entah dihapus atau dijadikan kembali ke draf, intinya ada beberapa tulisan yang akan menghilang. Saya mohon maaf bila di dalam tulisan tersebut ternyata banyak menyakiti hati kalian. Karena dengan cara ini, saya berikhtiar untuk menata diri lewat blog.

Ketiga, saya mohon doa dari teman-teman untuk ikhtiar saya ini. Agar nantinya tulisan yang saya buat di blog ini dapat membawa manfaat. 

Terima kasih, teman-teman. Semoga kita selalu menjadi orang yang berkesempatan untuk membenahi diri.
01 August 2018

Membuat Blog Semakin Keren

Blog yang dulu saya kenal ternyata berbeda dengan sekarang. Dulu, saya hanya berpikir sederhana soal ngeblog: tulis aja apa yang mau ditulis. Hal sederhana itu ternyata yang tetap membuat saya tetap ngeblog sampai sekarang—meskipun sekarang semakin sedikit jumlah tulisan yang saya buat. Saya nggak ada beban untuk menulis seperti apa dan bagaimana memulainya. Asalkan aman, saya lanjut terus. Kemudian dihapus dan ditambahkan dalam pengeditan, memastikan layak baca. Sesederhana itu.

Seiring berjalannya waktu, saya menemukan tips dan trik dalam membuat blog yang semakin keren. Hal ini saya ketahui dari pengalaman, rekomendasi teman, dan sedikit baca-baca artikel di internet. Bisa jadi, hal ini adalah langkah awal untuk membuat blog ramai pengunjung, sebelum membahas hal-hal yang lebih jauh.

Ramah pengunjung

Anggap saja kita sedang bertamu ke rumah seorang teman. Kita tahu seperti apa teman kita tersebut. Lalu, sesampai di rumahnya, adik teman kita menjitak kepala kita dari belakang sambil menampilkan wajah judes. Apa respons kita? Mungkin, besok-besok kita jadi ragu untuk main lagi ke rumah teman kita.

Mungkin itu analogi yang ekstrem. Namun, hal yang sama pasti akan terjadi ketika kita mengunjungi sebuah blog atau website yang memperlakukan kurang baik. Kita kurang nyaman. Memang, sih, blog nggak bisa menampilkan wajah judes sambil ngejitak kepala kita, tetapi ada saatnya penampilan blog membuat kita jadi berpikir dua kali untuk kembali ke blognya.

Contohnya, ketika blog terlalu dipenuhi iklan. Bagi saya, blog seperti itu kurang ramah pengunjung. Saya pribadi kalau ketemu blog atau website seperti itu langsung saya close tab. Takut ada hal-hal nggak enak bakal terjadi di handphone atau laptop saya. Toh, informasi nggak cuma dari sana saja. Masih banyak informasi bertebaran di tempat lain.


Kekayaan konten
sumber: Indoim

Konten adalah raja. Begitulah menurut ahli-ahli blogger. Saya sendiri setuju dengan kalimat tersebut. Karena konten akan memengaruhi kepuasaan pengunjung. Namun, sebenarnya seperti apa konten yang dapat memuaskan pengunjung?

Menurut saya, jawabannya dapat berbeda-beda.

Orang yang lebih suka atau lebih dulu menulis konten dengan banyak teks, lebih cepat membuat puas pembaca yang menyukai banyak teks. Begitu juga dengan blogger yang lebih memperkaya kontennya dengan gambar cenderung disukai orang-orang yang menyukai keindahan visual. Kita nggak pernah bisa memuaskan semua jenis pengunjung.

Saya termasuk jenis orang yang pertama. Sah-sah saja bila ada orang yang kurang menyukai blog saya karena kurang cakep penampilannya. (Ya, bebas deh, mau penampilan blog atau penulisnya)

Hosting

Bila bingung dengan apa itu hosting, anggapan sederhananya, menurut Hostinger Indonesia, adalah menganggap nama domain sebagai alamat dan web hosting adalah bangunan fisiknya. By the way, Hostinger sendiri adalah salah satu jasa penyedia hosting di Indonesia.

web hosting murah Hostinger
Hostinger

Fungsi hosting sendiri adalah menyimpan data-data dari blog. Kita semacam punya tanah sendiri atas rumah yang kita bangun. Berbeda dengan ketika kita menumpang di blogspot, misalnya. Apa yang telah kita bangun, nasibnya akan tergantung pada tempat kita bernaung. Sedih pasti ketika apa yang sudah lama kita bangun, tiba-tiba menghilang atau dihapus.

Agar lebih optimal fungsinya, sesuatu hal biasanya membutuhkan modal. Kebanyakan jasa penyedia hosting dengan kualitas oke sudah mematok harga tertentu. Hostinger punya harga yang relatif terjangkau dan kualitas benar-benar oke. Terbukti dari 29 juta lebih klien sudah mempercayai Hostinger sebagai jasa penyedia hosting mereka.

paket web hostinger



Lebih dari itu, tips dan trik tadi bisa saja berbeda versi bagi setiap orang. Kembali ke tujuan awal ngeblog, atau bahkan tujuan menulis itu sendiri: Menulis untuk berbagi. Selamat membuat blogmu semakin keren!



19 July 2018

Jembatan Antara Cemas dan Tenang

Perasaan ini semakin menguat. Baru kali ini saya merasa secampur aduk ini.

Tentang rindu. Membuat saya bingung, cemas, sedih.

"Emang nggak kangen?" ujar wanita itu pada suatu malam.
"Kangen sih, tapi gimana lagi ya." Saya cuma senyum, berusaha mengobati momen-momen yang hilang di antara kami.

Bukan hal yang biasa bagi kami. Sudah terlalu lama kami tidak bertukar senyum. Saya hampir lupa rasanya deg-degan untuk mengawali cerita atau berkeluh kesah sejenak. Untuk hal sesederhana minum teh bareng, kami pun tak sempat. Terlalu sering saya meninggalkannya dengan senyum. Entah, rasanya seperti senyum yang berat karena harus menahan suatu beban.

Wanita itu adalah ibu saya.

Mungkin, kalau saya boleh membandingkan, lebih kangen lagi teman-teman saya yang berasal dari luar kota, yang jaraknya lebih jauh dari saya. Jarak rumah saya ke tempat menimba ilmu ini hanya 25 km. Naik bus Transjakarta, transit sekali, dilanjut naik angkot, jalan sebentar, sampai. Terbayang teman-teman saya yang asalnya dari luar Jawa. Harus menunggu berbulan-bulan untuk menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Saya, bahkan bisa setiap hari nginjek-nginjek tanah depan kontrakan.

Pertanyaannya, bagaimana mereka bisa sekuat itu menahan rindu?

Malam tak pernah sanggup memberi ruangnya untuk saya menuntaskan rindu. Selalu saja berakhir di kasur, tertidur, lalu paginya--hal yang sangat memberatkan--harus berangkat lagi.

Seorang kakak di kampus pernah berkata kepada saya, "Kalau kondisinya kita lagi jarang di rumah, pastiin kita tetap yakin. Allah yang jaga mereka (keluarga)."

Saya sedikit tenang. Apalagi setelah saya tahu, berkabar adalah obat dari rasa cemas itu sendiri. Saya akan dengan mudah bercerita tentang apa saja kesibukan di kampus dan beberapa kesulitannya. Alhamdulillah, dukungan dari mereka selalu menemani saya.

"Intinya, kamu yakin aja. Inget Allah. Jangan tinggalin salat. Kepercayaan ini jangan disalahgunakan buat melakukan hal-hal gak bermanfaat," nasihat ibu saya.


***

(Dalam rangka ingin mengisi blog sambil menumpangi bus Transjakarta rute TUGAS - Grogol)

16 June 2018

Akrab dengan Kimia

Saya menyukai kimia.

Mungkin sebelum melanjutkan bacaan hingga kata terakhir, ada baiknya saya mengatakan, bahwa postingan ini tetap bisa dinikmati semua orang. Bukan hanya untuk orang-orang yang sedang dan/atau pernah mempelajari ilmu kimia.

Bagi saya, kimia adalah mata pelajaran yang cara mendapatkan nilai bagus bisa diraih relatif mudah. Bayangkan, 60 persen soal berupa hitungan sederhana. Tinggal masuk ke rumus, voila, hasilnya ketemu. Bahkan ada soal hitungan yang nggak perlu pake rumus! Menyenangkan bukan?

Bagaimana dengan 40 persennya? Sisanya cuma berupa hafalan kok. Pahit-pahitnya, bisa pake cara "ngitung kancing". Soal pilihan ganda mempermudah segalanya.

Namun, semuanya berubah sejak saya masuk perkuliahan. Jangan harap ada soal pilihan ganda. Soal yang bermodalkan hafalan juga jarang. Lagipula berat kalau mau ngafalin semua materi sebuku. Soal hitungan sedikit banget. Sekalinya ada, angkanya nggak ada yang sebagus soal kimia SMA.

Hal ini cukup bikin saya resah.

Saya curhat ke seorang teman di kantin kampus. Saya khawatir. Kelak ketika saya menjadi guru, saya takut menyampaikan ilmu yang salah. Teman saya sudah mulai ngajar sebagai guru privat. Setidaknya dia punya satu langkah di depan saya yang belum punya pengalaman mengajar. Dari jawabannya, saya menangkap satu poin penting: semuanya bisa kalau sudah terbiasa. Sambil belajar terus tentunya.
"Menurut lu, gue cocok jadi guru apa?" tanya saya, usil. Pertanyaan nggak penting sebenarnya.
"Guru SD!" jawab dia cepat.

Lagi galau di jurusan sendiri, dikasih jawaban kayak gitu. Malah memunculkan niat buat pindah jurusan. Lagi pula anak SD belum dapat pelajaran kimia. Yang ada, kalau ditanya apa itu atom, nanti jawabannya, "Itu jenis kacang?"

Pada suatu siang di tengah libur lebaran, saya tergelitik dengan satu judul artikel di blog Pak Urip. Beliau adalah guru kimia yang... punya blog. Apa bedanya dengan guru kimia yang punya blog lainnya? Nggak tau! Saya nggak pandai mendeskripsikan seseorang.

Judulnya adalah "Membumikan Kimia". Sebagai mahasiswa yang sering terlibat dalam istilah-istilah kimia, saya penasaran pastinya dengan judul tersebut. Apanya yang dibumikan? Atau kimia lebih baik dikebumikan karena... Oke, nggak perlu dilanjutkan.

Bicara soal judul post tersebut, saya jadi ingat satu sesi kuliah kimia. Dosen saya bingung melihat fakta tentang kimia yang berkembang di masyarakat. Intinya, menurut beliau, kimia masih terlalu dianggap ilmu yang melangit. 

Yang ada di pikiran banyak orang, kimia... ya cuma bahan pembuat bom. Teman-teman saya pernah bercerita, sering kedapatan percakapan seperti ini:
"Kuliah jurusan apa?"
"Kimia."
"Oh, berarti bisa bikin bom dong?"

Saya nggak tau itu jenis tanggapan yang bercanda atau bukan. Kalau itu bercanda, saya juga punya tanggapan bercanda. Seandainya saya berada dalam percakapan yang sama....
"Kuliah di jurusan apa?"
"Pendidikan Kimia."
"Oh, berarti bisa bikin bom dong?"
"Bukan saya yang bikin. Saya cuma ngajarin."

Ah, nanti malah keciduk. Hehehe.

Kembali ke topik. Sebenarnya dunia kimia sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Saat mandi, kita pakai sabun, pasta gigi, sampo. Itu semua melibatkan bahan kimia. Ketika lapar, asam lambung terasa naik ke kerongkongan. Bayangkan, asam lambung adanya di tubuh kita. Lalu, kenapa kita masih jauh-jauh mikir kimia adalah bom?

Di kalangan anak sekolah kejadiannya mirip. Kalau anak sekolah ditanya "apa saja contoh garam?", anak sekolah, bahkan mahasiswa, kebanyakan jawab natrium klorida (NaCl) atau garam dapur. Padahal, masih banyak contoh-contoh garam yang ada di kehidupan sehari-hari. Kapur termasuk garam. Sabun pun termasuk garam. Ada lelucon yang dosen saya sampaikan. "Orang-orang kimia bisa-bisa darah tinggi karena contoh garam yang dia tahu cuma garam dapur." Rupanya, selain kekurangan stok garam, kita juga kekurangan contoh garam.

Mengutip tulisan tersebut, "Karena siswa sendiri tidak diakrabkan dengan dunia nyata dalam pelajaran kimia itu sendiri." Kalau diingat-ingat lagi zaman SMA, apa yang saya pelajari tentang kimia adalah hal-hal yang sifatnya abstrak. Nah, bisa jadi, teman-teman saya yang menganggap kimia sebagai mata pelajaran paling nyebelin adalah karena terasa kurang aplikatif di kehidupan sehari-hari. Untuk apa belajar teori atom sampai pusing membayangkan teorinya Rutherford bila dia bercita-cita sebagai seorang ekonom? Dosen saya sempat menyinggung hal ini. "Lebih baik kita kenalkan tentang manfaat serta bahaya-bahaya bahan kimia. Semua orang nggak perlu tau soal teori atom, kok, dan semua orang nggak mau jadi ahli kimia. Kalau kita kenalkan kimia tentang hal-hal tadi, mau dia bekerja sebagai akuntan atau pengacara, ilmu kimia jadi lebih aplikatif." Hal itu yang sepertinya menjadi PR untuk para guru, termasuk saya seorang calon guru kimia.

Tambahnya lagi, "Anak SMA kalau udah bisa hitung-hitungan kimia, udah deh, merasa jadi ahli kimia." Saya ketawa ngakak dalam hati. Saya nggak berani ketawa secara langsung karena saya duduk persis di depannya. Saya cuma tersenyum. Saya kayak lagi dihadapkan dengan cermin besar. Ini saya banget!
"Yang paling penting itu konsep. Hitung-hitungan cuma dipakai sebagai metode pengambilan keputusan," tambahnya. Kemudian saya tulis kalimat tadi di binder saya. Segala keputusan butuh perhitungan. Siap.

Saya jadi sedih setelah mengetahui hal yang sudah terjadi (contoh terdekat: diri saya sendiri). Kasihan juga anak-anak SMA yang semangat belajar kimia hanya karena merasa mendapat kemudahan dari hitung-hitungan kimia, tetapi melupakan konsep. Apalagi konsep kimia di SMA menurut dosen-dosen saya ada banyak kekeliruan. Nah, jadi serba salah ya.

Lagi-lagi itu saya sadari setelah saya belajar kimia di perkuliahan. Konsep-konsep yang sudah saya pahami sejak SMA buyar begitu saja ketika diberikan konsep yang lebih masuk akal. Rupanya, guru-guru SMA seringkali salah tangkap mengenai konsep dan salah juga penyampaiannya. Atau bisa juga terjadi seperti ini: konsep dan penyampaian dari guru sudah oke, tetapi siswa salah mengartikan. Kalau nggak salah, hal ini disebut miskonsepsi.

Rasanya, benar kata teman saya. Kita harus terbiasa. Terbiasa sekaligus membiasakan dunia kimia akrab dalam kehidupan sehari-hari. Bukan berarti biar tahu suatu larutan termasuk asam atau basa kita selalu bawa kertas lakmus ke mana-mana.

Di malam takbiran, saya sejenak keluar rumah. Letupan kembang api mengangkasa dan ledakannya bersahutan. Saya takjub dan kembali teringat sesi perkuliahan, pada sebuah pertanyaan.

"Petasan itu terbuat dari apa?"

Apa yang selanjutnya terjadi?

Sunyi.

Memang, sepertinya kita butuh lebih kenal dunia agar kimia terasa lebih dekat. Peringatan juga untuk saya agar terus belajar dan meningkatkan pemahaman.

(Tambahan: saat saya sedang kepikiran menulis tulisan ini, saya menemukan sebungkus deterjen. Barangkali itulah satu-satunya "bom" yang saya tahu. Ya, merek deterjen.)
14 June 2018

Memulai Lagi?

Gue kira, gue akan benar-benar berhenti menulis.

Kenyataannya, meski nggak pernah menambahkan entri baru di blog ini, gue nggak pernah terlepas dari kegiatan menulis. Baik menulis hal ringan, misalnya nulis status dan nulis pesan, maupun hal yang perlu 'mikir', misalnya nulis laporan. Ternyata manusia memang nggak akan pernah berhenti menulis. Tinggal memilih di media mana dia akan menampilkan tulisannya. Kemudian membiasakan diri sehingga menulis bukan lagi suatu kegiatan yang berat.

Sewaktu masa-masa kejayaan gue ngeblog (standar gue sendiri adalah ketika bisa membuat post lebih dari empat dalam waktu sebulan), gue sering menemui blog-blog dengan domain dot com (.com) yang mulai kehilangan gairahnya. "Sayang banget nih blog dot com, tapi nggak ada postnya lagi," kata gue saat itu. Sampai akhirnya, gue merasakan sendiri hal itu. Jelas rugi banget kalau uang untuk bayar domain terus keluar, tapi nggak ada tulisan baru yang keluar. Agak sedih juga mengingat bulan Desember 2017 lalu, gue baru aja memperpanjang domain blog ini. 

Bersamaan dengan itu gue malah berhenti untuk waktu yang lumayan lama dalam mengisi blog ini.
Meskipun cukup lama gue nggak nulis kembali, blog tetap membuat gue sering senyum-senyum sendiri. Dulu, di depan handphone, semuanya bisa terjadi sesederhana membaca ulang post-post terdahulu. Beberapa bulan lalu, gue ngerasain hal yang beda. Karena blog, gue bisa senyum-senyum sendiri di depan display ATM.

(Mungkin sebagian orang paham maksud paragraf di atas)

Ya, lagi-lagi bicara soal medianya.

Dorongan untuk menulis sebenarnya sering gue dapat. Bukan secara terang-terangan seperti, "Rob, nulis lagi dong!" Dorongan-dorongan itu berupa kejadian yang gue yakin, dengan menulis, bisa menjawab keresahan orang-orang. Bukan berarti ke depannya gue selalu menjawab keresahan orang lain. Bisa jadi sekadar menyampaikan keresahan diri sendiri.

Sejak Januari hingga bulan Juni 2018, ada beberapa orang yang sempat nyasar ke blog ini karena postingan tentang Politeknik AKA Bogor. Waktu itu gue cuma nulis tentang pengalaman tes di sana. Seiring berjalannya waktu, orang-orang yang nyasar itu berlanjut ke DM Instagram. Mereka kebanyakan akan melanjutkan studi di sana. Kebanyakan mereka nanya pengalaman gimana rasanya tes di sana.

Pengalaman gue dengan Politeknik AKA Bogor memang cuma sampai segitu. Hal ini kadang membuat gue heran. Gue bukan kuliah di AKA Bogor aja bisa ditanya begini, gimana kalau gue sering nulis tentang kampus atau jurusan yang gue jalani sekarang? Karena jujur saja, gue ingin menjadi orang yang punya banyak informasi dan menjawab pertanyaan banyak orang.

Ya, beginilah sekarang. Lama nggak bikin tulisan santai, rasanya menulis jadi hal yang asing. Gue masih berusaha mengumpulkan puzzle-puzzle pola menulis gue yang lama hilang. Dengan tulisan ini, gue berharap pola itu kembali terbentuk, lalu kembali menulis dan menjadi blog yang produktif.

Ngomong-ngomong, blog gue akhir bulan ini, tanggal 30 Juni, memasuki usia empat tahun. Belajar nulis dari zaman SMA tahun pertama sampai sekarang udah kuliah semester dua, seneng punya tempat yang jangkauan pembacanya lebih luas daripada media sosial yang gue punya. Sekaligus dikasih banyak tanggapan oleh orang banyak.

Mungkin ke depannya gue bakal tetap nulis di sini. Seperti yang gue sebut sebelumnya, sayang banget udah bayar untuk domain, tapi nggak diisi tulisan baru. Kapan dimulainya? Entah. Sampai waktu yang tidak dapat ditentukan.
07 May 2018

WISGR, Bukti Kreativitas Anak Bangsa

Apa yang membanggakan dari Indonesia? 

Menurut gue, manusianya, terutama kreativitasnya. Banyak banget orang Indonesia yang kreatif. Misalnya, di jalur 3 in 1. Orang-orang kreatif tadi memanfaatkan aturan itu menjadi peluang mencari uang sebagai joki 3 in 1. Oke, kayaknya itu bukan contohnya deh.

Terbukti, kreativitas anak bangsa telah membuahkan hasil—bukan jadi joki 3 in 1 tentunya. Salah satu buktinya adalah dengan munculnya game WISGR.





Game ini dibuat oleh developer game Guklabs. Game ini sudah mulai ramai dibicarakan di banyak forum digital. Ramainya perbincangan mengenai WISGR karena diprediksi game ini akan menjadi game yang dapat sambutan baik di pasar game internasional. Kekuatan WISGR ada pada story dari gameplaynya. WISGR berusaha membawakan cerita yang dapat menyentuh perasaan pemain serta ceritanya pun full original.



WISGR adalah game PC bergenre action adventure. Karakter utama dalam game ini bernama Boghe yang merupakan seorang pemanah dengan arrow dan clever berwarna merah putih. Hal ini membuat WISGR semakin terasa kekentalan rasa Indonesianya. Selain itu dalam cut scene conversation juga banyak dialog-dialog asli khas Indonesia yang ditampilkan. Perihal pembuatan maps, juga akan sangat beragam untuk mencerminkan keragaman budaya tanah air. Keren banget deh pokoknya!



Selain unsur Indonesia yang kental, seperti telah banyak diperbincangkan, WISGR juga sangat menarik dalam twist story-nya. Pemain nggak akan mudah menebak jalan cerita dalam game. Pemain juga nggak bisa dengan mudah mengalahkan musuh. Sebab, menurut produsernya, attacking power saja nggak cukup. Jiwa “player” benar-benar dibutuhkan dalam memainkan game ini. 

WISGR sebelumnya telah mengeluarkan demo version pada Februari lalu sebagai langkah awal untuk melihat respons pasar. Hasilnya didapatkan banyak respons positif, ulasan menarik seperti perbandingan dengan games sejenis lainnya, walaupun juga masih banyak beberapa evaluasi di mana terjadi bug dan eror. Perihal bug, Tim Guklabs saat ini sedang melakukan perbaikan agar WISGR menjadi game yang dapat dimainkan dengan baik secara internasional. Full version dari WISGR akan segera rilis. Untuk sementara, kita bisa main versi demonya, nih. Untuk memainkan versi demo WISGR bisa download gratis di wisgr.guklabs.com.

Dengan adanya WISGR sebagi karya anak bangsa, gue berharap hal ini sebagai pemantik untuk ke depannya akan semakin banyak anak bangsa yang terpengaruh untuk semangat menelurkan karya.


29 April 2018

Backpackeran ke Lombok, Nggak Perlu Tunggu Low-Season Kalau Ada Bus AKAP

foto:img-o.okeinfo.net

Lombok itu jauh, apalagi dari tempat tinggal gue di Jakarta. Karena alasan ini, gue dan banyak orang yang berpikiran sama, jadi mikir-mikir beribu kali untuk backpacker-an ke Lombok, terutama lewat jalur darat. Karena perjalanan sangat panjang, ditambah dengan dua kali penyeberangan laut yang bakal menguji fisik dan kesabaran. Kamu setuju, kan, perjalanan darat itu melelahkan?

Untuk backpacker sejati, perjalanan jauh bukanlah halangan karena mereka memang terlahir untuk suka menghabiskan waktu menikmati perjalanan. Misalnya, kamu berangkat dari Jakarta menuju Lombok dengan bekal selembar tiket bus di tangan. Mampukah kamu menaklukkannya?

Jarak yang sangat jauh, sekitar 1.300 kilometer, itu bisa ditempuh dalam waktu 1 jam 50 menit dengan pesawat terbang. Namun, untuk backpacking dengan menggunakan bus kota, bersiaplah dengan petualangan duduk lebih dari 30 jam duduk di kursi penumpang bus. Karenanya, butuh lebih dari sekadar niat untuk bisa sampai ke salah satu pusat  kota di Nusa Tenggara Barat yang mempunyai daya tarik wisata eksotis ini. Harus banyak hal-hal yang disiapkan pokoknya.

Berikut ada beberapa tips dalam memilih waktu yang tepat untuk backpacking menuju Lombok dengan menggunakan jalur darat dengan naik bus.


Bukan saat Liburan


foto:trover.com


Satu hal yang wajib dicatat untuk pergi ke Lombok via jalur darat adalah pilih waktu perjalanan di luar musim liburan. Tujuannya biar kamu nggak terjebak macet berjam-jam di jalur-jalur yang rawan kemacetan, yang membuat waktu liburanmu terbuang percuma. Nggak mau, kan, kegiatan liburannya berubah jadi duduk di bus sambil macet-macetan?

Selain itu, kursi bus juga bakal lebih sepi karena nggak banyak "saingan" yang juga ingin pergi ke Lombok. Untuk kemudahan pembelian tiket bus, dan merasakan sensasi beli tiket bus "jaman now" sebaiknya beli online via aplikasi Traveloka aja. Iya, Traveloka kini juga melayani pembelian tiket bus, lho. Dari Jakarta, kamu bisa pilih perjalanan langsung menuju Lombok dengan PO Tiara Mas. Selain itu, beli tiket bus di Traveloka juga lebih menguntungkan karena cara pemesanan dan pembayaran yang mudah, bakal menambah semangatmu untuk backpacking! Kabar baiknya, ke depannya bakal semakin banyak PO yang bergabung. Jadi lebih banyak pilihan deh.


Saat Cuaca Sedang Bagus

foto:banyuwangibagus.com

Apalah artinya kalau perjalanan darat dihabiskan dengan gerimis di musim hujan? Selain nggak bisa lihat pemandangan dengan bebas karena kaca berembun, hawa di luar yang dingin, ditambah dengan angin dari AC bakal bikin temperatur di dalam kabin bis jauh lebih dingin. Wah, nggak asik kalau liburan malah menggigil kedinginan. Makanya, pilih perjalanan di musim kemarau biar petualanganmu lebih ceria dan penuh pengalaman.


Bukan di Akhir Tahun

foto:penamha.blogspot.com

Akhir tahun liburan ke Lombok naik bus? Waduh, sebaiknya lupakan saja kalau kamu nggak bisa menghadapi gelombang yang bikin mabuk laut. Bukan rahasia lagi kalau di setiap akhir tahun perairan di sekitar Bali selalu bergolak. Padahal, kalau naik bus berarti bakal menghadapi dua kali penyeberangan: dari Banyuwangi (Ketapang) ke Bali (Gilimanuk), dilanjut dari Bali (Padang Bai) menuju Lombok (Lembar). Siap nggak perutmu diguncang-guncang oleh ombak?

Liburan ke Lombok dengan bus memang nggak perlu menunggu low season, tapi pertimbangkan banyak hal, seperti faktor cuaca dan ramai-tidaknya kondisi lalu lintas. Pesan tiket bus untuk perjalanan di musim kemarau yang nggak terjebak liburan. Berangkatlah di hari kerja agar perjalanan lancar dan nggak sampai terjebak kemacetan, serta kondisi perairan Bali lebih bersahabat untuk diseberangi.

Selamat mencoba backpacker-an ke Lombok dengan meggunakan bus ya!
28 April 2018

Pemimpin Itu KITA

Sejatinya kita adalah seorang pemimpin; pemimpin untuk banyak orang dan, lebih mendasar lagi, pemimpin untuk diri sendiri. Bila sosok pemimpin masih saja digambarkan sebagai orang-orang yang memangku jabatan di suatu lembaga maupun organisasi, bisa jadi makna pemimpin sebenarnya belum benar-benar kita pahami. Pemimpin yang biasa kita pahami adalah pemimpin secara struktural, bukan secara esensial.

Kepemimpinan sebenarnya bisa tumbuh pada tiap-tiap individu. Karakter-karakter seorang pemimpin akan muncul saat seseorang masuk ke dalam suatu wadah sosial. Sosok pemimpin pastinya memiliki tiga karakter. Pemimpin memiliki sifat kreatif yang mana menjadi modal dalam mengarungi suatu perjalanan. Kreativitas pemimpin akan diuji saat dihadapkan dengan masalah. Ketika dalam menyelesaikan suatu masalah, pemimpin yang kreatif tidak akan kehabisan ide menemukan solusi. Selain dalam menyelesaikan masalah, kreativitas pemimpin juga akan berpengaruh dalam perwujudan impian yang disusun bersama-sama.

Pemimpin juga perlu berinisiatif. Telah banyak contoh yang menunjukkan karakter seorang pemimpin dalam melakukan suatu gebrakan dalam kepemimpinannya saat menghadapi permasalahan. Bagi orang yang memiliki nilai kepemimpinan tinggi, mereka merasa gerah dengan suatu masalah dan masalah itu harus segera diselesaikan. Hatinya bergejolak, raganya tergerak. Dari keresahan tadi, sosok pemimpin perlu memengaruhi orang-orang yang dia pimpin untuk sukarela melakukan hal-hal yang sesuai dengan suatu visi. Cara yang dilakukan adalah mengambil tindakan sebagai percontohan bagi pengikutnya. Maka dari sana diharapkan akan menimbulkan gerakan nurani yang sama dalam hati orang lain.

Pemimpin tidak bisa hanya berdiam diri melihat suatu masalah. Pemimpin dituntut aktif untuk menghampiri permasalahan sekaligus mencari permasalahan. Memang, pemimpin akan sangat akrab dengan permasalahan. Hari-harinya dipenuhi masalah. Setiap jamnya akan dikorbankan untuk memikirkan pencerahan. Pemimpin akan memaksimalkan panca inderanya dalam mengamati masalah hingga tercipta solusi konkret dan optimal.

Permasalahan memang akan terus ada. Tantangan pasti beriringan jalannya dengan langkah-langkah orang berjuang. Akan ditemui orang-orang yang berseberangan dengan usaha yang dilakukan. Ketiga hal tadi dapat diterapkan dalam menyikapi orang-orang yang menentang dan mencegah usaha-usaha dalam berkontribusi.

Bila dilihat lagi seperti apa sejatinya sosok pemimpin itu, dapat dipastikan semua orang akan merasa bahwa dirinya adalah pemimpin. Akan ada hasrat dan gairah untuk berkontribusi. Militansi pun akan terbentuk sebagaimana yang diungkapkan dalam suatu risalah: "Bahkan jikalau keringat, air mata, dan jiwa bisa mencerahkan peradaban negeri ini, maka akan kami antarkan itu semua dengan senyuman yang paling menawan."

PKMF MIPA 1 2018 "Pendidikan Saat Ini"

Assalamu'alaikum.

Hidup mahasiswa!
Hidup rakyat Indonesia!
Hidup pendidikan Indonesia!

Alhamdulillah pada post kali ini saya akan membagikan sedikit gambaran mengenai acara PKMF MIPA 1 2018. Saya hanya dapat memberikan gambaran mengenai jalannya acara karena pada waktu yang bersamaan saya berhalangan hadir. Sebagai referensi dari tulisan ini, saya membaca tulisan milik teman-teman saya.

Acara dilaksanakan pada hari Rabu, 25 April 2018 bertempat di Gedung Dewi Sartika 10.16, Kampus A UNJ. Acara kembali dipandu oleh Kak Mahbub Al-Haqi (Kimia 2016).

Materi II pada hari ini bertemakan "Pendidikan Kontemporer" yang disampaikan oleh Kak Rakha Ramadhana (Kepala Departemen Kominfo BEM UNJ 2018).

Sistem pendidikan Indonesia diatur dalam UU Nomor 20 tahun 2003.  Urgensi dari pendidikan itu sendiri ada beberapa poin yang disampaikan oleh Kak Rakha:
1. Memberikan pengetahuan
Kita dapat mengambil suatu landasan hadits.
"Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)
Allah
2. Karier pekerjaan
Pendidikan yang tinggi memungkinkan seseorang untuk melakukan banyak hal. Tentu dalam hal ini memungkinkan pula untuk memperluas peluang mendapat pekerjaan.
3. Membangun karakter
Dalam proses pendidikan, terjadi interaksi antara siswa dengan pendidik. Di sanalah terbangun karakter-karakter yang diharapkan, baik dari pendidik maupun siswa.
4. Pencerah kehidupan
Pendidikan dipercaya menjadi solusi dalam meningkatkan derajat hidup. Melalui pendidikan, kehidupan seseorang seharusnya lebih bermakna dibanding orang-orang yang tidak tersentuh pendidikan. Karena dalam proses pendidikan banyak sekali pelajaran-pelajaran hidup yang dapat dipetik dan diaplikasikan.
5. Kemajuan bangsa
Setiap bangsa berkembang dan maju melalui pendidikannya. Akar semuanya dari sana; keberhasilan pendidikan. Maka dalam hal ini pendidikan dipercaya sebagai faktor kemajuan suatu bangsa.

Pendidikan di Indonesia saat ini belum bisa dikatakan baik-baik saja. Banyak sekali tantangan yang dihadapi, seperti wilayahnya yang sangat luas, sarana dan prasarana, pemahaman yang kurang, tidak meratanya pendidikan di Indonesia, serta rasa malas.

Pada masa kini, pendidikan sudah sangat beragam media penyampaiannya. Dahulu kita hanya tahu bila ingin belajar kita harus datang ke sekolah atau perpustakaan, kini dapat diakses di mana saja contohnya dengan e-book.

Demikian tulisan singkat saya mengenai PKM FMIPA 1 2018. Kekurangan informasi datangnya dari saya sendiri, mohon maaf bila ada ketidaksesuaian dengan fakta di lapangan.



#PKMFMIPA2018
#FMIPAKITA
#Kreatif_Inisiatif_Aktif
14 April 2018

Pra PKMF MIPA 2018 "Sehari Belajar Urgensi Kaderisasi"

Assalamu'alaykum.



Hidup mahasiswa!
Hidup rakyat Indonesia!
Hidup pendidikan Indonesia!



Pada hari Sabtu, 14 April 2018 saya mengikuti agenda Pra Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Fakultas (PKMF) MIPA di Gedung KH. Hasyim Asy'ari Kampus A UNJ ruang 203-204. Presensi peserta dibuka pukul 12.36.


Acara ini dipandu oleh Kak Mahbub Al-Haqi (Kimia 2016). PKMF MIPA 2018 memiliki tema "FMIPA KITA: Kreatif, Aktif, dan Inisiatif". Sebagaimana acara-acara di UNJ, yang diplesetkan menjadi Universitas Negeri Jargon, acara PKMF MIPA memiliki jargon: "berpikir kreatif, bergerak aktif, kami pemuda inisiatif." Sebuah kalimat yang cukup menggugah bagi saya.


Acara dibuka dengan mengucap lafaz ta'awuz, basmallah, dan sholawat. Selanjutnya tilawah Quran oleh saya sendiri. Kemudian sambutan dari ketua pelaksana PKMF MIPA 2018 oleh Kak Muhammad Fahry Arrasyid (Kimia 2016). Dalam sambutannya, Kak Fahry berharap pada peserta agar mengikuti seluruh rangkaian agenda PKMF. "Memang awalnya akan terasa berat, tapi akan memberikan manfaat selanjutnya," ujar Kak Fahry.


Sebelum masuk ke acara selanjutnya, Kak Mahbub mengajak peserta berinteraksi dengan menyebutkan apa alasan mengikuti PKMF MIPA 2018. Pada sesi ini saya ikut maju menyampaikan. Saya mengatakan bahwa mengikuti PKM FMIPA adalah kebutuhan.


"Pandangan pertama saya akan PKMF adalah ini bukan acara biasa, tetapi sebuah kebutuhan," ungkap saya bersemangat. Karena saya menyadari, dari acara ini banyak sekali muncul orang-orang yang kelak akan pemegang amanah di kampus. 


Pada Pra PKMF ini, terdapat satu materi bertema "Urgensi Kaderisasi". Materi disampaikan oleh Kak Solin Nurdin (Fakultas Ekonomi UNJ) dan dimoderatori oleh Kak Rifani Susanto (Pendidikan Fisika 2016). Sebelum memulai materi, Kak Nurdin mengajak peserta untuk melakukan icebreaking. Beragam permainan konsentrasi diberikan agar menguji konsentrasi peserta.


Materi dibuka dengan sebuah pertanyaan: "Apa itu kaderisasi?" Hampir semua orang yang berkecimpung di organisasi sepertinya mengetahui kata ini. Beberapa orang menyampaikan pendapat mengenai apa itu kaderisasi.


"Kaderisasi adalah suatu proses, cara, perbuatan mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader," jelas Kak Nurdin. "Sedangkan pengertian kader adalah orang-orang yang diharapkan dalam organisasi untuk meneruskan perjuangan."


Landasan dasar dalam kaderisasi adalah surat An-Nisa ayat 9.

"Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 9)


Pimpinan yang hebat akan selalu menyiapkan kader untuk meneruskan amanahnya di suatu organisasi. Bukanlah dia yang menginginkan amanah itu digenggam selama mungkin. Melalui pesan ini, dapat disimpulkan bahwa setiap masa memiliki pimpinannya.


Kak Nurdin menyampaikan, tugas kaderisasi di antaranya adalah pembentukan, penjagaan, pengembangan, dan pewarisan.


Pelatihan-pelatihan seperti PKMF pun termasuk dalam kegiatan kaderisasi. Pelatihan seperti ini berfungsi sebagai pewarisan nilai-nilai organisasi, penjamin keberlangsungan organisasi, dan sarana belajar bagi anggota.


Menjelang akhir penyampaian materi, Kak Solin memberikan pesan bahwa setiap kita adalah seorang pengkader. Keberhasilan dalam pengkader adalah berhasil mengajak orang-orang, minimal untuk mengikuti kegiatan pengkaderan seperti PKMF ini. Tingkat keberhasilan selanjutnya adalah, selain mengajak, kita ikut serta dalam kegiatan itu. Naik ke tingkat tertinggi, yaitu ketika kita menjadi pembicara dan benar-benar serius dalam mengkader.


Kaderisasi bukannya tanpa tantangan dan kendala. Kak Nurdin menyebutkan beberapa tantangan dalam kaderisasi, antara lain: pengkaderan yang monoton dan kurang peka terhadap tantangan zaman, beberapa pengkader belum memahami betul apa itu kaderisasi, kuantitas kader yang menipis atau krisis kader, dan kejenuhan dalam kaderisasi.


Kak Nurdin memberikan pesan bahwa pengkader harus memiliki modal ikhlas. Perannya yang tidak muncul ke permukaan harus disadari sejak awal.


Sistem pengkaderan di UNJ diawali saat MPA. Di sanalah mahasiswa baru diperkenalkan dan diberikan pewarisan nilai-nilai dan kultur di UNJ. Selanjutnya ada PKMP (Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Prodi). Di sini belum dipecah antara materi tentang legislatif dan eksekutif karena badan legislatif tingkat prodi di UNJ belum dimiliki setiap prodi. Maka disepakati bahwa pelatihan legislatif dan eksekutif digabung menjadi satu untuk tingkat prodi.


Untuk tingkat fakultas, konsentrasi antara bidang eksekutif dan legislatif mulai dipecah. Di bidang eksekutif pelatihan pengkaderannya bernama PKMF, sedangkan bidang legislatif disebut PKMF. Untuk tingkat universitas terdapat PKMU dan PLMF.


Kak Nurdin dalam kesempatannya sedikit memberi perbandingan sistem pengkaderan di UNJ dengan beberapa kampus. Misalnya saja, di Kampus X, untuk menjadi anggota BEM tidak perlu melewati tahap pelatihan kepemimpinan. Di Kampus X, pelatihan seperti itu baru didapatkan setelah resmi menjadi anggota BEM.


Kemudian sesi tanya jawab. Salah satu peserta bertanya, "Bagaimana cara menghadapi orang yang apatis?" Kak Nurdin  menjawab, "Dengan menjadi teladan, barulah diberi pencerdasan." Sesi materi telah selesai, acara dijeda sholat Asar.


Setelah selesai sholat  Asar, acara dilanjutkan kembali dengan pembacaan tata tertib selama rangkaian agenda PKMF. Kemudian panitia membagikan kelompok dan memberikan penugasan untuk peserta, baik tugas individu dan kelompok.


Selanjutnya temu kelompok dan pendamping. Saya masuk ke dalam kelompok 5 dengan pendamping Kak Tri Setiyoto (Kimia 2015). Pada sesi temu kelompok ini kami berkenalan dan membahas pemilihan ketua kelompok. Dalam kelompok saya, Sabna Tamara (Pendidikan Fisika 2017) terpilih menjadi ketua kelompok.


Acara diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Gilang Mohammad Iqbal (Kimia 2017).

#PKMFMIPA2018

#FMIPAKITA

#Kreatif_Inisiatif_Aktif

22 February 2018

Diangkat dari Buku Harian

Sudah 53 hari blog ini nggak ada postingan baru. Setelah postingan terakhir berjudul “Menghadapi Pingsan”, nggak ada lagi update tulisan di blog ini. Mungkin blog ini sengaja gue “pingsankan”. Ini pun sebenarnya masih belum benar-benar sadar karena cuma nyolong waktu-waktu senggang. Memanfaatkan libur semester 1 yang tersisa hingga 28 Februari. Sekaligus ini adalah update blog pertama di tahun 2018.



Saat-saat seperti ini, banyak juga orang-orang yang kayak gue. Setelah lama nggak posting, bingung mau nulis apa. Bingung mau mulai dari mana. Gue pun sedang merasa begitu. Kebiasaan menulis untuk blog pelan-pelan terkikis menjadi kebiasaan membuat broadcast message undangan rapat atau informasi organisasi. Mungkin ke depannya gue mau update blog lagi. Nggak akan sering juga. Ngisi blog biar stamina menulis kembali pulih. Soalnya ke depannya gue butuh ketahanan nulis yang tinggi. Iya, iya, terlalu dini kalau gue bilang skripsi.

Selama vakum, gue sempat mikir perihal stamina itu. Stamina yang terlatih sejak kelas 10 SMA hingga banyak banget menghasilkan tulisan yang banyak juga jumlahnya. Nggak sebentar membentuk itu semua. Meskipun gue tahu, tulisan-tulisan yang terdahulu itu nggak terlalu penting, tapi gue merasa ada hikmahnya, yaitu terbentuknya ketahanan gue menulis.

Gue bisa membandingkan dengan beberapa teman ketika disuruh mengarang. Saat teman-teman gue baru menulis satu halaman, gue bisa mencapai satu setengah halaman. Kebiasaan menulis itu gue dapat dari ngeblog, terutama dulu nulis cerita sehari-hari. Berarti bisa diambil kesimpulan, penulis-penulis yang rajin banget ngeluarin buku, ketahanan nulisnya udah teruji. Pasti mereka juga dulu pernah pada masanya nulis buku harian.

Bicara soal buku harian, ada beberapa buku yang berangkat dari suatu buku harian dan berhasil meninggalkan kesan buat gue. Atau genre yang dulu bener-bener jadi kesukaan gue, yaitu personal literature. Entah itu genre atau merek dagang, tetapi tulisan-tulisan yang menceritakan tentang diri sendiri selalu mengajak gue untuk mengambil hikmah dari setiap cerita. Buku-buku yang diangkat dari buku harian adalah Becoming Che: Karena Mundur adalah Pengkhianatan, Kambingjantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh, dan Catatan Seorang Demonstran.

1. Becoming Che: Karena Mundur adalah Pengkhianatan
Pernah dengar Ernesto Guevara? Gue cuma pernah dengar namanya, tapi nggak banyak tau. Dari buku itu, ternyata dugaan gue kalau dia orang Kuba adalah salah. Dia adalah orang Argentina. Guevara juga seorang penjelajah Amerika Latin. Di buku itu, dia menjelajahi Argentina, Bolivia, Ekuador, dan Peru bersama Carlos Ferrer, sahabat sekaligus yang menjadi narator dalam buku tersebut.

Buku ini ditulis oleh Calica (panggilan dari Carlos Ferrer). Beberapa kali Calica mengutip apa-apa yang ada di dalam buku pribadi maupun surat yang ditulis Guevara kepada keluarganya sebagai pendukung jalannya cerita. Dari beberapa tulisan di buku pribadinya Guevara, terlihat dia sering menceritakan keresahannya seputar kepemerintahan yang ada di negara-negara Amerika Latin. Kediktatoran terutama yang membuat Guevara gerah. Membandingkan kondisi Guevara dengan gue, di buku harian gue paling-paling gerah karena mati listrik. Kipas nggak bisa nyala.
Meskipun nggak diceritakan langsung oleh Guevara, jalan cerita di buku ini terasa dekat dengan Guevara. Hal itu mungkin dikarenakan ditulis oleh sahabatnya sendiri. Lain kali mungkin gue akan membahas buku ini di postingan terpisah.

2. Kambingjantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh
Bisa dibilang Kambingjantan adalah buku yang banyak menginspirasi orang untuk menulis diari komedi di internet. Salah satunya gue. Apalagi waktu itu gue sedang duduk di bangku SMA, masa yang kata orang indah dan banyak gejolak. Halah gejolak.

Kambingjantan yang dibuat berformat benar-benar seperti buku harian, membuat gue membacanya seperti sedang tukeran diari, meskipun gue nggak pernah melakukan itu. Gue inget waktu itu baca Kambingjantan kelas 9 SMP. Lagi stres-stresnya mau UN, gue malah baca buku yang bikin stres ketawa.

Walaupun ejaan yang dipakai di buku ini nggak baku dan banyak bahasa slangnya, gue belajar nulis dari buku ini. Bukan belajar ejaannya mungkin, tapi belajar semangat menulisnya. Susah, lho, kalau mau nulis nggak bermodalkan semangat. Mau sejago apa pun kita nulis, pemahaman soal ejaan kita udah hebat, tapi semangatnya kurang, gue kira suatu tulisan nggak akan sampai selesai.


3. Catatan Seorang Demonstran
Buku ini sebenarnya belum selesai gue baca. Gue masih baca buku ini pelan-pelan. Karena banyak hal yang bikin ngantuk, misalnya kalau buku ini sedang bahas soal filsafat. Buku ini diambil dari catatan harian milik seorang mahasiswa bernama Soe Hok Gie. Sosok yang begitu dikenal, terutama di kalangan mahasiswa, karena sangat lantang mengkritik pemerintahan saat itu.

Buku ini formatnya mirip Kambingjantan—benar-benar dibuat mirip buku harian. Dari beberapa bagian yang gue baca, buku ini banyak mengungkapkan protes terhadap pemerintah, kepesimisan hidup, dan hal-hal filsafat. Soe Hok Gie juga menunjukkan betapa pentingnya manusia belajar sejarah.

Meskipun bahasan di buku ini terdengar serius, ada juga cerita-cerita anak sekolah pada masanya. Misalnya, ketika Gie berdebat dengan gurunya mengenai lamanya kepemerintahan Ken Arok. Gue seakan-akan sedang berada di kelas itu, duduk di pojokan, nontonin mereka berdua adu argumen.
Di antara cerita anak-anak sekolah yang pernah gue baca di buku ini, gue sempat ngakak di bagian Gie menceritakan temannya madol alias bolos. Entah kenapa gue bisa ketawa gara-gara baca kata “madol”. Tulisan itu ditulis tahun 1960-an dan sampai gue SMA, gue masih dengar kata “madol”. Ternyata “madol” emang udah lama banget dilestarikan.

Satu bagian yang menggelitik adalah saat Gie merasa miris.
 “... aku bertemu dengan seorang (bukan pengemis) yang tengah memakan kulit mangga. Rupanya ia kelaparan. Inilah salah satu gejala yang mulai nampak di ibukota. Dan kuberikan Rp2,50 dari uangku...
Ya, dua kilometer dari pemakan kulit “paduka” kita mungkin lagi tertawa-tawa, makan-makan dengan istri-istrinya yang cantik.”

Bahkan sampai sekarang, hal semacam itu masih terjadi. Orang-orang yang berkuasa sedang gembira, orang yang kesulitan sedang menaggung lara.

Buku harian bagi beberapa orang menjadi hal tabu untuk diketahui orang banyak. Namun, menulis buku harian bisa sebagai sarana melatih kelancaran menulis. Siapa tahu, cerita kita yang ditulis di buku harian bisa jadi lahan ide untuk lahirnya suatu karya.

Pertanyaan untuk diri pribadi: Nggak jadi vakum ngeblog, Rob?