Meskipun gue nggak terlalu suka dengan fitur timeline yang ada di Line, gue beberapa kali membukanya untuk sekadar baca-baca artikel dari official account atau status dari teman-teman. Status yang di-like teman pun ikut-ikutan muncul di timeline sehingga mau nggak mau ikutan kebaca. Bagus kalau yang muncul kontennya menarik. Bagaimana kalau sebaliknya?

Berarti, kalau begini jadinya, siasatnya adalah: selamat pilih-pilih teman.



Gue terpikirkan dua jenis tulisan berbentuk curhat yang sering muncul di timeline Line. Entah kenapa, curhat ini kebanyakan ditulis oleh akun dengan foto atau nama perempuan. Jenis post itu adalah: 1) Post pelecehan seksual dan 2) Post cerita orang asing minta uang. Untuk yang pertama, gue jarang baca sampai selesai karena baru sampai pertengahan atau saat bagian konflik, gue ngilu bacanya.

Untuk contoh yang kedua, gue beberapa kali nggak terlalu permasalahin. Cuma ada orang tua, entah pura-pura atau sungguhan, minta uang. Jadi, cerita lengkapnya kira-kira begini:

Penulis bercerita sedang dalam perjalanan. Dalam perjalanan dia bertemu seseorang yang tidak dia kenal, lalu orang itu meminta ongkos untuk pulang dengan alasan yang beragam (misalnya, habis dijambret, dicopet, dipalak, digendam).

Sampai pada suatu hari, gue ikut-ikutan menulis seperti orang yang dimaksud.

^^^

Saat itu gue pulang lebih awal dari hari-hari biasanya. Biasanya gue baru keluar dari UNJ setelah Magrib, kali ini gue pulang sekitar pukul 4. Perkiraan sampai di halte tujuan gue terakhir sekitar pukul 6. Dengan begitu gue masih sempat mampir ke masjid untuk salat Magrib.

Agak tanggung sebenarnya untuk pulang berbarengan dengan jam pulang kantor. Di jalan hampir pasti ada kemacetan. Di Jakarta, jarak sedekat apa pun yang akan ditempuh, dalam keadaan macet, akan sama waktunya dengan perjalanan mencapai gelar doktor.

Di jalan sudah pasti macet. Gue khawatir nggak sempat salat Magrib. Maka dari itu, gue agak ragu pulang pada saat jam pulang kantor.

Benar saja. Di sekitar daerah Semanggi jalanan sudah macet. Jalanan dipenuhi kendaraan yang kebasahan kena hujan. Gue di dalam bus kedinginan. Kondisinya mendukung banget buat makan mi rebus. Ditambah pemandangan menghibur dari pengendara yang bingung mau neduh di mana.

(Oh, bukan menghibur ya?)



Waktu azan Magrib sudah hampir dekat. Sedangkan gue tidak kunjung sampai di halte Grogol untuk selanjutnya transit ke halte Rawa Buaya. Sebenarnya di halte Grogol ada tempat kecil untuk salat tanpa perlu tap out kartu. Jadi, nggak usah tap in dan saldo kartu kepotong. Gue harus bisa sampai sana, tapi jalanan masih macet banget dan halte Grogol masih jauh. Daripada nggak kebagian salat Magrib, lebih baik gue turun.

Setelah turun dan keluar dari halte, yang harus gue lakukan adalah: mencari musala atau masjid. Sayangnya, gue nggak tau adanya di mana. Sepanjang jalan gue susuri, melewati jalan-jalan yang gelap sambil nahan rasa takut. Ya, gimana nggak takut. Setiap ada cerita kejahatan yang tersebar di media sosial tempat paling banyak terjadi, ya, di jalan.

Sekitar lima belas menit berjalan di sepanjang trotoar Slipi, akhirnya gue menemukan satu musala. Entahlah, itu tempat perbelanjaan atau bank. Yang penting, gue ketemu musala. Gue merasa sedikit lebih tenang.

^^^

Selepas salat Magrib, gue kembali menyusuri trotoar untuk mencari halte terdekat untuk melanjutkan perjalanan pulang dengan Transjakarta. Langkah kaki gue yang begitu cepat tak terasa mengantarkan gue sedikit lagi menuju sampai halte. Di antara langkah gesit gue, ada suara yang membuat langkah gue melambat.

“Mas, mas.”

Gue melanjutkan jalan sambil menggeleng. Gue sadar waktu ngetik ini, kenapa waktu itu gue ngegeleng ya? Itu spontan gue lakukan.

“Mas, mau tanya,” kata seorang berkemeja merah buah persik. Kemejanya lusuh, khas kemeja para pekerja keras. Gue segera menghampirinya sambil beristigfar. Gue waswas banget di jalan seperti ini diberhentikan seseorang. Kendaraan semuanya ngebut. Jadi, kalau gue diapa-apain, nggak ada yang bisa dengar teriakan gue.

“Mas, kalau mau ke Jawa Barat ke mana ya?”

“Hah?” Jujur, gue bingung. Ini apa, sih, maksud pertanyaan doi?

“Ke Bandung, Mas. Tau arahnya nggak?”

“Hmmmm.”

Ah, gila. Gila. Bener-bener gila. Masalahnya, INI JAKARTA. BARAT PULA. Ngapain nanya yang jelas-jelas jauh? Kedengarannya kayak temen gue lagi bercanda di sekolah, terus nanya, “Kalau mau ke Swedia ke arah mana ya?”

“Ke ... ke ... ya, ke arah sana, Pak.” Gue asal-asalan mengarahkan tangan. Gue nunjukin ke arah dari mana gue berasal. Kira-kira ke “sana” artinya makin ke timur.

“Oh, gini deh.” Si bapak berhenti sejenak bicara. “Adek bisa bantu bapak nggak?”

Gue hanya diam, tapi dia telanjur mengartikannya “bisa”.

“Jadi, boleh anterin saya ke sana nggak?”

Gue masih nggak ngerti orang ini ngomong apa dari tadi. Tadi nanya jalan, sekarang minta antar. Lho, kenapa dia malah manja sama gue? Untuk beberapa saat yang gue lakukan hanya diam, mikir, dan istigfar. Ngeri aja kalau ending-nya gue kena gendam.

“Saya cuma mau dianterin aja, Dek.” Mukanya kini memelas. “Jadi, saya ini dari Bandung. Baru tadi pagi ke sini, mau ketemu saudara di Slipi tapi alamatnya nggak ketemu. Siang tadi, tas saya dicopet di bus yang warna ijo itu, tuh.” Dia mengingat-ingat sesuatu. “Kopaja. Nah, iya.”

“Sudah seharian ini saya cari alamat rumahnya, tapi nggak ketemu. Tas isinya dompet sama surat-surat hilang semua.”

Gue masih menyimak. Masih mencari pola dan maksud dari apa saja yang si bapak omongin. Gue sampai-sampai lupa, halte Transjakarta sudah semakin dekat, begitu juga deadline laporan praktikum semakin mepet.

“Dari kering, basah kena hujan, sampai kering lagi ini, Dek, baju saya. Nggak ketemu-ketemu alamatnya.”

“Terus, Pak?”

“Iya, Dek, nggak ketemu alamatnya. Saya bingung. Saya bingung mau ke mana.”

“Hmmm., gitu ya.”

“Cuma adek yang ada di sini, sekiranya adek bisa nolong saya.”

“Iya, Pak. Ngerti, ngerti.”

Padahal gue bingung dari tadi lagi ngapain di sini sama bapak-bapak kebingungan.

^^^

“Saya bisa bantu apa, Pak?”

Gue harus segera minta kejelasan dari permasalahan ini. Gue malas dengar kalimat-kalimatnya yang membingungkan. Entah bingungin atau karena gue lagi nggak nyambung, pokoknya gue harus cepat pulang.

“Saya mau pulang, Dek. Tapi saya bingung, nggak punya apa-apa lagi. Rumah saudara nggak ketemu-ketemu. Saya harus pulang besok, Dek.”

“Hmmmm.”

Apa yang si bapak ucapkan selama 5 menit terakhir membuat otak gue kesulitan berpikir. Apalagi hal-hal lain yang membuat gue merasa terdesak, membuat gue kebingungan.

“Gini aja deh, Dek,” si bapak mulai mendapat solusi atas masalahnya sendiri. “Kamu tahu nggak dari sini naik apa ke Bandung?”

“Nggak tau.”

Lalu kami sama-sama diam. Gue nggak betah ditahan-tahan begini. Masalah harus segera selesai.

“Saya mau pulang, Dek. Saya harus ke Bandung besok. Karena adek ada di sini, saya mohon adek bisa bantu orang tua kesusahan seperti saya. Coba adek bayangkan, orang tua adek kena musibah seperti saya.”

Skakmat. Kenapa gue mendadak merasa ada di acara renungan malam?

“Saya nggak punya uang,” katanya.

Gue hanya mengangguk, udah nggak mampu berpikir mau melakukan apa. Gue sudah tertahan cukup lama dan sulit keluar dari sini.

“Saya mohon sama adek. Cuma adek yang ada di sini.” Si bapak mukanya semakin memelas. Di pojok matanya ada air yang mau netes, tapi tertahan. “Saya harus pulang. Saya mohon adek mau bantu saya ngasih ongkos pulang. Berapa saja yang penting ikhlas, Insya Allah nanti saya ganti. Saya besok datang ke rumah adek bawa mobil sekeluarga.”

Lho? Hah? Gue makin nggak paham kenapa dia mau ke rumah gue. Tolong, ini gue lagi diapain, sih? Jangan-jangan dia mau ... ngelamar gue?

“Maksud bapak?” tanya gue yang makin kebingungan. “Atau ikut saya dulu aja ke rumah. Tapi rumah saya kecil, cuma kontrakan aja, sih.”

“Nggak, nggak. Bukan gitu maksud saya.” Dia melambaikan tangannya secepat kilat. “Intinya saya malam ini harus pulang, Dek. Tapi saya bingung mau ke mana.” Dia menatap jalanan untuk waktu yang lama, lalu berkata, “Ternyata Jakarta lebih jahat daripada ibu tiri ya, Dek.”

Pak, kalimatnya nggak begitu kalau mau melucu....

Belum sempat gue mau bilang begitu, dia semakin merengek seperti anak kecil. Rengekannya bukan sambil gosek-gosekin kaki ke tanah dan guling-guling. Lebih menyedihkan daripada itu.

“Saya takut, Dek. Saya bingung mau ke mana sekarang.”

“Coba, Pak ... Bapak ke masjid dulu.”

Kalimat ini sering gue keluarkan untuk menenangkan teman-teman di sekolah dulu ketika gelisah mau ulangan. Siapa tau ampuh buat mengurangi kecemasan si bapak.

“Ke masjid mah nggak bakal bisa nyampe ke Bandung, Mas.”

Astagfirullah. Saran gue ditolak mentah-mentah.

“Ya sudah, kalau adek memang nggak mau menolong saya, nggak apa-apa. Saya nggak maksa. Tapi, coba bayangin aja kalau posisi orang tua adek ada seperti pada posisi saya. Kalau saya jadi adek, pasti saya tolong orang tua itu.”

“Gimana ya, Pak? Saya juga bingung ini.”
“Gini aja, Dek. Saya minta uang sedikit aja. Nanti saya ganti, tenang aja. Saya dateng ke rumah adek. Berapa pun, Dek.”
“Sebentar ya, Pak.” Gue membuka tas dan membuka dompet di dalamnya.
“Aduh, saya jadi nggak enak, Dek. Saya kesannya kayak minta-minta gini.”

Gue berikan si bapak dua lembar uang lima ribuan.

“Cuma sepuluh aja, ya, Dek? Saya butuh tiga puluh ribu buat naik bus ke Bandung.”
“Nggak ada lagi, Pak. Beneran deh.” Gantian gue yang memelas. Sukurin lu.
“Ya, tapi gimana ya. Saya harus pulang, Dek.”

“Aduh, saya juga bingung, Pak.” Gue benar-benar bingung saat ini. Kalau gue kasih semua uang yang ada di dompet, gue nggak akan bisa naik angkot nanti. Perjalanan dari halte Rawa Buaya untuk sampai ke rumah masih berjarak 4,5 km lagi dan butuh naik angkot. Mana mungkin gue jalan kaki? Capek.

“Terserah, Dek. Tapi coba dipikir-pikir lagi aja. Masa iya, saya nipu orang, saya lagi kesusahan begini. Saya mohon, Dek. Saya harus pulang ke Bandung, ke Jalan Dago.”

Wait, wait. Gue mau berhenti nulis ini sebentar mumpung masih dalam keadaan bercermin atas kejadian waktu itu.

Awalnya si bapak nanya jalan, nah sekarang KENAPA JADI MALAK YA? Udah dikasih sepuluh ribu malah minta tambah.

“Sebentar, Pak.” Gue mengambil uang tiga ribu dan memberikannya ke si bapak. Itulah uang terakhir gue di dompet. Pupus sudah untuk naik angkot. Mau nggak mau jadinya jalan kaki deh.

“Ini masih kurang sebenarnya, Dek. Saya butuh tiga puluh ribu.”


BODO AMAT!

^^^

Akhirnya, gue berhasil pergi dari si bapak. Nggak tau kenapa, gue masih nggak ikhlas dan mulai kepikiran kalau dia itu menipu. Dari cerita-cerita yang pernah gue baca di timeline Line, kebanyakan modus-modus “minta ongkos pulang” sudah banyak tersebar. Tapi setelah di bus, gue pelan-pelan mulai berusaha berpikiran positif. Bagaimana kalau beneran dia kecopetan? Bagaimana kalau ternyata dia beneran tersesat? Pikiran negatif gue usir jauh-jauh.

Sembari duduk di dalam bus, gue nanya ke teman-teman di grup kelas. Rata-rata teman gue bilang mereka pernah ketemu dengan hal serupa. Namun, sesuatu hal yang aneh muncul dalam kepala gue. Setelah curhat di grup kelas, gue mulai mikir ... eh iya, nyesek juga ya duit abis begini? Mana harus pulang jalan kaki pula.

LAH INI GUE DIHIPNOTIS BUKAN, SIH?! Kalau bukan, kenapa gue dari tadi nggak sadar? Kalau benar dihipnotis, kenapa gue masih ingat percakapan-percakapannya?

Gue mulai mikir negatif lagi sepanjang trotoar di perjalanan pulang. Asem bener, lah.

^^^

Sampai rumah, gue langsung cerita ke Mama.

“Ya udah, ikhlasin aja. Di mes (rumah gue yang dulu) juga pernah ada kayak gitu. Mama ngasih aja. Pas di pabrik ada temen yang cerita, ternyata orangnya sama dan ngomongnya sama.”

Gue harus segera merasa biasa saja. Nggak usah menyesali banget. Kalau benar nyasar, bagus (lho, kenapa malah bagus?). Kalau bohong, anggap saja gue sedang bayar pembicara buat Renungan on The Road sekaligus drama. Biaya pembuatan naskah itu mahal.

Sumber gambar:
https://giphy.com/gifs/romy-monkey-bus-famous-8yyJH4yzqgx0Y
http://houzbuzz.com/2789-2/
https://tenor.com/search/angry-gifs
Read More »

“Lihat ke depan deh.”
“Ibunya tidur?” tanya gue menunjuk seorang guru.
“Iya.” Teman gue mengangguk. “Kata mama gue, orang yang capek bisa tidur di mana aja kalau ada kesempatannya.”

Percakapan itu kira-kira membentuk sebuah pola pikir baru di kepala gue: Sibuk artinya bisa tidur di mana saja. Seandainya gue seperti ibu guru tadi, orang-orang ngelihat gue penuh rasa kagum, dan pasti mengira gue adalah orang sibuk ketika melihat gue tertidur di emperan toko, sekaligus bakal melapor satpol pp.

Pola pikir itu akhirnya benar-benar terwujud saat SMA. Sudah beberapa kali gue menceritakan di blog kalau gue sering tidur tidak hanya di kasur rumah saja. Sekadar mengingatkan kembali, sewaktu SMA gue sering tidur di angkot, di masjid, di bangku yang dipepetkan, dan di lantai beralaskan jaket. Bangun-bangun langsung terasa kayak dilumurin ulet bulu. Gatel.

Gue pernah merenungi suatu hal tentang kebiasaan itu.

Rasanya gue sering banget tidur sewaktu SMA. Harusnya, sesuai dengan pola pikir yang terbentuk, gue adalah orang yang super sibuk. Ya, nggak? Masalahnya, setelah gue lulus SMA, gue dulu nyibukin apa aja, sih, sampai suka tidur di tempat sembarangan? Belajar nggak, ngerjain PR nggak, membantu nenek menyeberang jalan juga nggak. Kalau biar dianggap blogger sejati, gue bisa pakai alasan “sibuk ngeblog”. Kenyataannya, nggak juga. Heran juga, dulu gue ngapain aja, ya.

Makanya, gue pengin benar-benar memahami pola pikir itu dengan aksi nyata. Artinya, gue harus sibuk biar bisa tidur sembarangan. Bravo! (ini biar apa, sih?)

Selama kuliah barulah gue merasakan yang namanya tidur sembarangan. Seringnya di angkot. Kalau tidur sambil jalan, alhamdulillah belum pernah.

Berjemur, dulu...
Pertama, waktu ospek. Hari itu ospek cuma sampai siang. Sesiang-siangnya gue keluar dari kampus, tetap saja sampai di rumah sore hari. Badan gue sakit gara-gara masuk angin. Di perjalanan pulang gue ketiduran di angkot, kelewatan dua gang.

Semakin ke sini, rasanya kebiasaan gue tidur di bus semakin ekstrem. Hampir dipastikan, setiap kali gue naik bus dan dapat tempat duduk, pasti gue tertidur. Gue padahal sudah bertekad untuk tidak tidur di bus, apalagi setelah tahu banyak banget kejahatan yang terjadi di bus. Mirisnya, gue sering banget dapat tempat duduk. Mau nggak mau gue harus manfaatkan ini. Serba salah. Mau ngasih tempat duduk ke orang tua, tapi mikir-mikir lagi. Emang dasar anak muda yang nggak punya kepekaan sosial.

Sore itu, gue benar-benar bertekad untuk nggak tidur. Tekad yang rasanya semakin semangat untuk diwujudkan karena gue ingin belajar untuk praktikum keesokan harinya. Gue mengeluarkan buku panduan praktikum Biologi dari tas. Sungguh menyenangkan belajar di dalam bus. Halaman pertama dilahap dengan keceriaan. Gue senyum-senyum sendiri.

Entah kenapa, tangan ini sulit untuk membalikkan ke halaman berikutnya. Ah, nggak apalah baca dari atas lagi, biar makin paham, batin gue. Gue baca ulang dari paragraf pertama, sampai di pertengahan, gue nggak ingat apa-apa setelahnya.

BUKAN KENA HIPNOTIS WOY!

Gue ketiduran.

Gue cuma sadar selama tidur tadi mulut gue terbuka. Kebiasaan tidur dengan gaya seperti itu sudah pasti membuat gue tertidur pulas. Benar saja, gue sadar cukup lama gue tertidur. Buku yang tadi gue baca masih berada di halaman pertama. Bersamaan dengan bus berhenti, gue melihat ke luar jendela.

“INI DI MANA?” tanya gue dalam hati.

Gue segera bangun dari kursi, lalu keluar bus buat transit ke rute selanjutnya. Agak pusing rasanya kalau diingat kejadiannya. Lagu anak-anak juga jadi berubah karena gue: Bangun tidur kulangsung transit.

Keesokannya, gue mengikuti praktikum Biologi. Sebelum praktikum, kami harus melewati tahap pre-test. Pre-test adalah rintangan pertama sebelum praktikum. Bila lancar dalam pre-test, semua lancar jaya tanpa perlu mikir yang namanya post-test. Nah, post-test adalah kesempatan kedua bagi mereka yang nggak mencapai KKM di pre-test.

Asisten laboratorium atau aslab bersiap membacakan soal pre-test. “Siapkan selembar kertas di atas meja,” kata seorang aslab.

Gue cuma bawa sebatang pulpen. Tidak ada persiapan sama sekali.

“Agung, bagi kertas dong.” Agung langsung mengambil kertas dari bindernya. Agung, entah kenapa, selalu jadi penolong di setiap tulisan gue akhir-akhir ini.

Aslab selesai membacakan lima buah soal. Rata-rata soalnya gampang karena cuma disuruh menyebutkan. Berbekal belajar kemarin di bus dan sedikit pada malam harinya, gue merasa aman-aman saja melewatinya.

“Kerjakan ya.”

AH, TAK SABAR.

“... waktunya lima menit.”

Mau nangis darah rasanya.

Lima soal tadi yang harusnya mudah tiba-tiba jadi sulit. Timbul banyak keraguan dalam mengerjakannya. Otak jadi blank. Gue ngisi sebisa gue.

“Sembilan... delapan... tujuh.”

Gue masih nungguin sampai dia nyebut tiga.

“Lima... masih nggak ada yang mau ngumpulin, nih?”

Gue ngelihat dua soal belum diisi. Aduh, apa ya? Apa ya?! Tujuan dalam penggunaan mikroskop apa, ya ampun?! Lima detik ini gue harus menjawab apa?!

“Untuk mengamati remah-remah hati yang sukses dipatahkan.”

KENAPA SEMPET MIKIR KE SANA?! Kalau aslab ngoreksi ini, kemungkinan responsnya ada dua: 1) Dia ikutan baper, 2) Gue ditolol-tololin.

Gue isi cuma satu tujuan, padahal yang diminta lebih banyak dari itu. Masih nyisa satu soal lagi. Pasrah saja.

***

Selama praktikum harusnya teman-teman gue waswas melihat keadaan gue (mau banget diperhatiin?).

Gue ngeluh ke teman di sekitar gue, tentunya dengan nada kepasrahan. Biar diperhatiin. “Gue cuma ngisi empat. Satu soal cuma ngisi dikit banget.”

“Sama gue juga,” jawab seorang teman. Sedikit ada kelegaan karena punya teman senasib. “Gue satu soal ngisi sedikit banget. Tapi ngerjain semuanya, sih.”

“Itu mah aman namanya, bangkai,” batin gue.

Benar, harusnya mereka perhatian ke gue. Selama praktikum, benda yang gue pegang adalah silet. Jadi, mereka nggak ada rasa khawatir apa ke gue?

Praktikum hari itu tentang mengamati sel tumbuhan. Dalam kelompok, gue kebagian membuat preparat atau bahan yang akan diamati. Preparat yang digunakan adalah sayatan tipis daun adam hawa (Rhoeo discolor). Menyayat daun ini butuh keterampilan khusus buat mendapatkan hasil setipis mungkin. Salah-salah menyayat, jari bisa-bisa kesilet.

Kalau kata Pangeran Wortel, "F5, dulu..."

Sepanjang praktikum gue jarang mencoba mengamati lewat mikroskop. Beberapa kali mengamati dan make mikroskop, biar kelihatan ikutan kerja.

***

Selesai praktikum, aslab ngasih hasil pre-test. “Tenang aja, yang post-test cuma tiga orang kok.” Aslab itu membuka-buka lembaran kertas jawaban tadi. “Yang pre-test adalah...”

Meskipun cuma ngisi empat, gue masih bisa berharap untuk tuntas.

“... Robby.”

Ah elah.

***

Post-test sendiri ternyata tetap diuji oleh aslab, yang juga seorang mahasiswa. Gue dari awal sudah takut post-test bakal diuji dosen. Post-testnya berjalan dengan banyak ketawa. Ya, aslabnya yang ketawa. Gue mah gugup, karena banyak nggak taunya.

“Tadi kamu ikutan praktikum nggak?”

“Ikut, Kak.”

“Apa aja yang kamu amati?”

“Dinding sel. Udah, itu aja.”

“Masa nggak ada lagi?”

“Saya nggak tau nama-nama bagiannya, Kak.”

Abis bilang begitu, gue khawatir bakal dikasih surat pengembalian mahasiswa kembali ke SMA.

Ya, pokoknya pada akhirnya gue malu karena nggak ngerti-ngerti bagian di dalam sel. Padahal selama SMA udah sering diajarin.

Gue keluar laboratorium dengan lesu. Sedikit nyesel juga karena belajar kurang lama dan kurang pahamin semua materi. Tapi, dengan kejadian kayak begini gue punya peringatan buat diri sendiri. Di luar laboratorium, masih ada teman-teman yang tadi tuntas pre-test. Mereka semua ngasih ucapan semangat.

Oh, ternyata... mereka peduli. Silet di dalam kantong gue simpan baik-baik deh.


***

Pulang dari kampus, gue berniat untuk tidur di dalam bus. Gue tipikal orang yang mudah sedih, dan sedihnya mudah hilang setelah tidur. Jadi, untuk melepas rasa sedih ini gue ingin tidur di bus. Nggak apa deh walaupun nggak bisa nyenderin kepala ke bahu, dan kepala harus membentur kaca jendela terus-terusan, yang penting nggak sedih lagi.

Bus datang. Di dalamnya, tempat duduk tidak ada yang kosong. Terpaksa gue harus berdiri. Karena sudah diniatkan, gue malah benar-benar ngantuk. Sambil berdiri memegang hand grip, gue sempat tertidur. Untung gue cepat tersadar setelah bus ngerem mendadak. Nggak jadi deh tidur sambil berdiri. Tidur di tempat sembarangan boleh, posisi yang sembarangan jangan.

Setelah menunggu lama, akhirnya gue dapat tempat duduk yang kosong. Gue segera menyambar bangku kosong itu dan memejamkan mata. Nggak perlu waktu lama, gue langsung tertidur. Saat kesadaran gue berkurang, ada yang menepuk bahu gue. Gue tersadar. Aduh, kenapa ini? Gue melihat seisi bus. Cuma gue yang masih duduk.

“Mas, udah di tujuan terakhir, Mas.”

Gue langsung keluar bus. Juga, bangun dan keluar dari kegagalan praktikum pertama.

--
Sumber gambar:
https://twitter.com/idpatrickstar/status/263623501305495553
https://www.tripadvisor.co.uk/TravelersChoice-Beaches-cTop-g1
https://www.aryanto.id/artikel/id/651/mengenal-khasiat-dan-manfaat-daun-adam-hawa-bagi-kesehatan
Read More »

Maaf, motonya pake flash kamera belakang.
Andai saja ada kata yang benar-benar bisa menggantikan judul postingan ini, mungkin gue nggak akan menulis ratusan atau ribuan kata ke depan nanti.

Ini seperti ingin mengatakan "Bu, ulangannya ditunda dulu dong, please" kepada guru Fisika dulu.

Butuh hening yang lama. Butuh kertas buram untuk menulis salinan rumus. Butuh waktu untuk berpikir sedemikian rupa, sampai akhirnya gue benar-benar bisa mulai untuk menuliskan ini.

Andai saja postingan ini dites menggunakan Turnitin, percayalah, tulisan ini akan dicap plagiat. Dari judul dan tiga paragraf sudah menunjukkan penjiplakan.

Maaf untuk keputusan ini.

^^^

Entahlah, gue masih belum habis pikir harus memulai pembicaraan ini dari mana. Padahal guru mengaji selalu berpesan untuk memulai pengajian diawali taawuz dan basmalah. Gue masih sulit untuk mengeluarkan unek-unek pada tulisan ini.

Apa yang membuat gue begitu sulit untuk bicara?

Gue sadar beberapa hari ini. Mungkin beberapa orang ada yang merasa tulisan gue jadi lebih berbeda rasanya. Gue pun sama, merasakan ada sesuatu yang berbeda dari tulisan gue di blog. Gue menulis tidak seperti biasanya dengan gaya bahasa yang berbeda. Semua itu hanya alibi gue untuk tetap bisa menjadi konsisten.

Gue tidak menemukan sentuhan ngeblog seperti dulu yang begitu lepas bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Padahal gue sudah mencoba memeras ide mentah menjadi sebuah cerita yang patut untuk dipertimbangkan. Namun setelah selesai, gue tidak sanggup mem-publish-nya dan lebih memilih untuk menghapus.

Memang sampai paragraf ini, kalian bingung dengan apa yang gue katakan. Gue masih berusaha menyalin teks asli dari postingan referensi “blogger minta maaf” di blog milik Heru Arya, yang berjudul “Maaf untuk Keputusan Ini”.

^^^

Kini gue tidak terlalu ingin bercerita tentang keseharian. Sangat berbanding terbalik sebagai seorang personal blogger dengan subpeminatan curhat (Halah, dikira mata kuliah pake peminatan peminatan segala!). Waktu gue tidak banyak untuk mengetik cerita-cerita gue yang garing. Gue seperti mengalami fase saat semua hal yang telah gue lakukan hanya berbuah sia-sia.

Ketika gue mengetik postingan di dalam bus, gue tetap tidak sanggup melanjutkannya, apalagi saat kaki terjepit pintu bus. Benar. Itu sakit.

Gue lebih memilih untuk menjalani dunia kuliah dengan senang hati. Tidak seperti dulu yang banyak ngeluhnya, menuliskannya di blog, dan menyelipkan reflek tawa yang membuat perut tergelitik.

Gue hanya ingin berkata kalau gue sedang dipadatkan kegiatan perkuliahan.

Dari sibuknya kuliah, gue senang bisa banyak melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat ketimbang gegoleran di kasur sambil skip-skip Instastories. Aksi di feeds juga begitu terpengaruh. Dibanding dulu, gue lebih jarang tap-tap foto orang. Sekarang lebih sering tap kartu di mesin tap out Transjakarta.



Padahal, gue dulu sudah bertekad untuk tidak terlalu banyak mengikuti agenda di kampus. Namun, di sisi lain, gue harus membuka mata. Banyak agenda di sini yang bakal menyelamatkan gue suatu saat nanti. Penyelamat itu bernama pengalaman. Gue tidak akan kaget saat masuk dunia kerja. Biarlah kaget sekarang saat menjadi mahasiswa baru.

Istilahnya “kupu-kupu”: kuliah pulang-kuliah pulang. Begitulah yang gue bayangkan saat SMA tentang kuliah. Nyatanya, kuliah dan sekolah sangatlah berbeda. Di perkuliahan jam belajar di kelas sangatlah sedikit. Bahkan ada dalam satu hari, gue belajar di kelas hanya 150 menit. Lebih lama perjalanan berangkat dari rumah ke kampus dibanding belajar di kelas.

Dunia kampus dan sekolah benar-benar beda. Sudah sebulan gue belum sepenuhnya masuk ke dunia perkuliahan.

^^^

Ada sedikit rasa ingin balas dendam, berbarengan saat gue menonton parade unit kegiatan mahasiswa (UKM) di kampus. UKM di kampus ternyata jauh lebih keren dibandingkan ekstrakurikuler di SMA dulu. Sehingga membuat gue yang dulunya nggak banyak aktif kegiatan di SMA memiliki tekad untuk aktif di banyak organisasi.

Namun, kenyataannya tidak semulus demikian.

Sudah minggu keempat kuliah, gue belum menemukan arah untuk menyeimbangkan antara kuliah dan organisasi, meskipun semuanya belum dimulai. Gue sudah ketakutan duluan.

Di acara parade UKM itu, ada satu yang menarik gue untuk tercebur ke dalamnya. Tidak terlalu memikat penampilannya, tetapi dari namanya sudah membuat gue tertarik. Ibarat orang jatuh cinta, gue jatuh cinta hanya lewat mencium parfumnya saja. Tanpa perlu dilihat, gue ingin masuk ke organisasi itu.

Kata teman, jangan sibuk-sibuk di kampus. Kamu udah kurus, nanti tambah kurus. Apa hubungannya? Justru dengan gue sibuk bisa jadi malah tambah gemuk karena rezeki datangnya dari mana saja. Ikut organisasi, berarti ketemu banyak orang. Makin sering ditawarin makan dong? Ditawarin aja sebenarnya, buat basa-basi.

UKM impian gue ini seringkali muncul dari broadcast message-nya di grup kelas. Isinya tentang ajakan mengikuti UKM tersebut. Pelan-pelan broadcast message itu berhasil menggoda gue untuk ikut. Jujur saja, dari awal memang gue sudah tertarik dengan UKM yang konsentrasi kegiatannya ke penelitian. Niat gue ikut UKM tersebut adalah agar gue bisa belajar meneliti.

Pada Selasa pagi gue memberanikan diri ke sekretariat UKM penelitian. Sambil membawa formulir, dengan langkah suka cita gue mengetuk pintu gedung tersebut. Seorang perempuan menghampiri dan menerima formulir dari gue. Gue memandangi markas UKM itu banyak sekali orang-orang duduk di depan laptopnya masing-masing. Entah mereka sedang menulis jurnal ilmiah atau menulis JURNAL PEMBALIK.

Header blog kesukaan kita: robbyharyanto.com

Jauh setelah gue berikan formulir tadi, gue bertanya-tanya, apa gue kuat buat ikut UKM ini? Tugas kuliah udah seabrek, ditambah penelitian bikin makalah dan karya ilmiah. Belum lagi nanti praktikum. Ah, kok rasanya sulit ya?

Gue berusaha berpikir positif. Anak jurusan MIPA memang seperti ini bidangnya; meneliti. Hitung-hitung biar terbiasa saat nanti menyusun skripsi.

Sebenarnya, rasa cemas gue lebih besar. Mengingat perjalanan pulang memakan waktu yang lama, gue takut nggak bisa mengimbangi antara kuliah dan UKM. Takut berat sebelah. Apalagi gue sebelumnya sudah daftar di organisasi lain setingkat fakultas. Apakah seperti ini rasanya poligami? Eh, bukan. Ini poliorganisasi.

Beberapa hari kemudian, gue resmi masuk menjadi anggota UKM penelitian. Gue disambut baik di grup WhatsApp. Kalau ini di dunia nyata, harusnya gue dikalungin bunga. Tapi, ini hanya di WhatsApp. Cukup dengan kalimat “selamat datang”, gue sudah merasa disambut baik.

Setelah gue masuk, seorang admin mengirimkan banyak file berformat pdf dan ppt. Isinya kebanyakan tentang pengenalan penelitian. Lalu, ada file berjudul “Panduan Laporan Penulisan”. Admin juga bilang kalau anggota baru harus menyusun karya ilmiah sampai bab III secara kelompok.

Gue nggak tau harus berbuat apa.

Gue belum banyak pengalaman tentang meneliti. Untuk proses menulis, gue sudah berpengalaman menulis di blog pribadi. Tapi, ini adalah tulisan serius. Sedangkan yang gue tulis di blog adalah hal ringan. Rasanya gue nggak sanggup buat ngerjain tugas itu. Gue memikirkan ke depannya juga, bagaimana sibuknya kegiatan ini.

Gue mulai mempertimbangkan keberadaan gue di grup ini.

“Kak, saya izin keluar karena nggak sanggup buat ngikutin kegiatan ini.”

Pesan terkirim. Pesannya berceklis dua. Gue langsung keluar dari grup.



Ini bukan jalan gue.

... karena ini Jalan Malioboro.

Ya, mungkin gue saat ini belum sanggup untuk masuk ke ranah yang serius seperti masuk UKM penelitian. Bagi gue butuh dedikasi waktu yang tinggi untuk meneliti. Toh, gue pun bisa belajar dari sumber lain. Jadi, nggak ada ceritanya gue nggak bisa belajar meneliti.

Selain gue, masih ada blogger lain yang minta maaf atas keputusannya.
1. Haris Firmansyah
2. Yogaesce
3. Firman
4. Febri Dwi C.
5. Icha Hairunnisa



Sumber gambar:
https://en.wikipedia.org/wiki/Jalan_Malioboro
https://soulofjakarta.com/mobile/index.php?modul=17-agustus-2016-uji-coba-sistem-tap-out-transjakarta-.html&id=MTEwMTk=

Daftar pustaka:
Arya, Heru. 2016. "Maaf untuk Keputusan Ini", https://tulisanwortel.com/maaf-untuk-keputusan-ini/, diakses pada 29 September 2017 pukul 19.48.
Read More »

sumber:instagram.com/ilookisee - Sunrise di Punthuk Setumbu 
Setiap pulang ke kampung halaman Bapak, gue selalu bertanya-tanya kota-kota apa saja yang akan dilewati. Hal itu sudah gue lakukan sejak kecil. Itu semua dipengaruhi oleh kesukaan gue melihat jalan dari balik jendela, lalu melihat spanduk yang biasanya dipasang di depan warung.

“Abis Semarang, nanti ke mana, Pak?”

Bapak gue mengingat-ingat. “Batang."

Batang yang beliau maksud adalah kota di Jawa Tengah. Bukan salah satu bagian tumbuhan.

Berbeda dengan bapak gue, mama gue adalah orang yang nggak terlalu suka menjawab pertanyaan, apalagi yang datangnya berentetan.

“Ma, katanya dulu di sini (Alas Roban—daerah perhutanan di Jawa Tengah) sepi, nyeremin, ya?”
“Iya.”
“Lah, kok sekarang banyak lampu? Dulu perasaan gelap. Kenapa sekarang jadi rame?” tanya gue penuh rasa penasaran.
Mama gue menjawab, “Nggak tau. Tanya aja orang sini!”
Gue merengut dan bungkam. Gue kembali ngelihatin jalan dengan menyisakan pertanyaan tak terjawab tadi.

Makanya, gue lebih sering bertanya kepada Bapak untuk hal-hal berbau geografi dan politik. Kadang-kadang juga bertanya pada Bapak buat apa berlapar-lapar puasa.

Bapak gue memang sumber ilmu bidang IPS paling terdepan deh pokoknya. Sekali waktu gue bertanya, “Pak, kalau Magelang itu masuk DIY atau Jawa Tengah?” Karena seringkali kota ini bikin gue bingung terdapat di provinsi mana. Beberapa versi (kebanyakan dari teman seumuran) bilang Magelang ada di Jawa Tengah, sebagian lagi di DIY, dan sebagian sangat kecil bilang di Jawa Timur (jangan salah, ada yang ngira gitu, lho).

“Magelang mah di Jawa Tengah. Tempatnya Candi Borobudur itu.”

Gue berusaha meyakinkan jawaban beliau. Beberapa sumber gue baca, mulai dari baca atlas sampai RPUL (waktu itu belum kenal internet). Ternyata benar jawaban beliau setelah gue mengumpulkan informasi yang ada. Gue curiga, bapak gue emang rajin baca RPUL.

Mendengar nama Magelang, destinasi tempat wisata pertama yang terbayang tentu saja Candi Borobudur. Apalagi tempat itu dinobatkan sebagai candi terbesar di Asia Tenggara dan menjadi warisan dunia yang dijaga oleh pemerintah dan juga PBB. Nama Borobudur membuat Magelang ikut mendunia, gue ikut bangga.

Namun, kalau dijelajahi lebih jauh lagi, sebenarnya Magelang tak hanya punya Candi Borobudur saja sebagai tempat wisata. Ada banyak destinasi wisata lainnya yang nggak kalah seru dan keren di kota militer ini.


1. Gardu Pandang Silancur

Dari sini, pemandangan Gunung Sumbing yang megah nampak amat mengagumkan. Puncaknya terlihat jelas, dengan bukit-bukit hijau menghampar yang membuat mata terpana atas keindahannya.

Berlokasi di Mangli, Kaliangkrik, Gardu Pandang Silancur bisa jadi destinasi pilihan buat kamu yang ingin jalan-jalan sambil merasakan udara sejuk di bawah kaki Gunung Sumbing.


2. Gereja Ayam

sumber:pikiran-rakyat.com
Coba datang ke Gereja Ayam ketika menjelang matahari terbit. Dari puncak bangunan gereja yang tak terpakai ini, kamu akan melihat pemandangan pagi di Magelang yang menakjubkan. Lokasinya berada di Bukit Rhema, Desa Kembanglimus, Kecamatan Borobudur. Dari puncak gereja, kamu bisa melihat Candi Borobudur dari kejauhan. Kalau beruntung, kamu bisa melihat jodohmu dari sini.


3. Punthuk Mongkrong

Pesona matahari terbit yang muncul di balik pegunungan bisa terlihat dengan cantiknya. Beberapa waktu belakangan, Punthuk Mongkrong menjadi salah satu tempat liburan ngehits di Magelang, khususnya di pagi hari.


4. Pemandian Air Hangat Candi Umbul

Kolam ini dulunya adalah pemandian para puteri raja, dengan air yang selalu hangat sepanjang waktu. Karena airnya yang hangat, pemandian di Candi Umbul ini selalu ramai dengan pengunjung yang ingin menikmati mandi ala puteri raja.


5. Candi Selogriyo

sumber:specialpengetahuan.blogspot.com

Dibandingkan dengan Candi Borobudur, ukuran Candi Selogriyo memang lebih kecil. Namun pamandangan di sekitar candi ini indah, dengan taman-taman yang ditata rapi. Terletak di Kecamatan Windusari, Candi Selogriyo bisa menjadi alternatif liburanmu di Magelang.


6. Punthuk Setumbu

Bukit ini memang terkenal dengan pemandangan alamnya yang indah di pagi hari. Dari kejauhan, Candi Borobudur nampak megah ketika matahari baru terbit di ufuk Timur.

Namun sebenarnya Punthuk Setumbu juga memiliki keindahan lain di sore dan malam hari. Ketika matahari sudah terbenam, Punthuk Setumbu memberimu pemandangan Borobudur yang megah dan lampu-lampu kota mulai menyala di kejauhan. Menakjubkan.


7. Ketep Pass

sumber:piknikasik.com
Dari kawasan ini, puncak Merapi nampak dengan jelas dan indah. Tak heran kalau Ketep Pass menjadi salah satu tempat wisata favorit di Magelang, Selain rutenya yang mudah dijangkau, pemandangan di Ketep Pass pun sangat menakjubkan, terutama ketika matahari baru terbit atau akan tenggelam.



8. Candi Borobudur

Tempat wisata yang satu ini tentu saja nggak boleh dilewatkan bagi kamu yang ingin berwisata ke Magelang. Jelajahilah warisan budaya yang masih berdiri dengan tegak ini. Setelah berkeliling Borobudur, pasti kamu bakal merasa selalu bersyukur dan ingin ikut melestarikan bangunan yang sudah berdiri selama ratusan tahun itu.

Borobudur dibangun dengan tenaga manual manusia pada ratusan tahun silam. Hebatnya, hingga saat ini Candi Borobudur masih berdiri dengan megahnya, dan tentu saja mendapatkan perawatan dan pemeliharaan dari pemerintah dan juga PBB.

Yang namanya tenaga manual gitu, lho. Pastinya keren banget karena bangunannya masih berdiri megah. Bangunan yang gue buat dengan tenaga manual paling lama bertahan 10 menit; bikin istana dari pasir.

Sudah sejak bertahun-tahun lalu Candi Borobudur masuk ke dalam daftar warisan budaya dunia. Tak heran kalau Candi megah ini menjadi kebanggaan masyarakat Magelang, dan semua warga Negara Indonesia.

Masih banyak daerah wisata di Magelang yang mungkin belum terekspos. Coba telusuri dan kumpulkan informasi tempat wisata di negeri kita agar selalu merasa beruntung menjadi warga negara Indonesia. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Main ke Magelang yuk!
Read More »

Hampir tiga minggu gue mulai aktif kuliah. Rasanya masih ringan-ringan aja (atau gue yang ngeringanin?). Maklum gue bilang begitu karena gue belum ketemu yang namanya praktikum. Praktikum, khususnya bagi anak kimia, adalah sebuah santapan istimewa.


Bukan berlebihan, memang praktikum buat anak kimia adalah hal yang rasanya campur aduk antara menyenangkan, menakutkan, membosankan dan misterius. Kami bakal ketemu zat-zat yang jenisnya banyak. Salah penggunaan bisa bikin kulit melepuh. Salah hirup bisa bikin mabuk. Salah tiga nilai tujuh puluh.

Sebelum praktikum, para praktikan—orang yang mengikuti praktikum—disuruh membuat laporan awal. Isinya dari latar belakang sampai ke tabel kosong untuk mencatat data yang diperoleh dari percobaan.

Kemudian dilanjutkan praktikum. Praktikum sendiri durasinya berbeda-beda. Praktikum mata kuliah Fisika Dasar misalnya, butuh waktu 2 jam untuk praktikum saja. Untuk praktikum biologi gue belum tahu. Dan yang paling istimewa adalah praktikum bidang kimia. Bisa sampai 4 jam! Untungnya semester ini cuma kebagian 1 SKS. Untuk semester dua atau tiga, ada praktikum kimia yang bobotnya 2 SKS. Satu SKS durasinya 4 jam, 2 SKS sama dengan 8 jam. Sepertiga hari mengabdi pada laboratorium. Pulang-pulang kepala teleng.

Belum lagi membuat laporan akhir yang konon bikin mahasiswa jadi layaknya jin pekerja Candi Sewu. Semalaman mengerjakan satu proyek yang dikumpulkan paginya.

Itu trailer buat postingan selanjutnya. Sekarang gue mau cerita tentang pengalaman tiga minggu kuliah. Sekalian ngelatih tulisan lagi karena beberapa postingan gue yang terakhir terasa kaku. Gue ngeledek diri sendiri, “Mentang-mentang udah jadi mahasiswa jadi jaim lu, Rob.”


Mencatat
Gue nggak tau sejak kapan gue punya inisiatif mencatat pelajaran. Semenjak kuliah, gue pelan-pelan mulai rajin mencatatat dan merangkum. Sudah jadi kebiasaan sepertinya bagi gue untuk ngebingungin diri sendiri, muncullah sebuah perdebatan yang nggak seharusnya datang:

Mau nyatet di binder atau buku tulis?

Nggak penting banget memang. Tapi pada suatu siang gue sempat merenungkan hal ini.

Kenapa sih, anak kuliah senengnya punya catatan di binder? Kan, buku tulis ukuran 24 x 18 cm aja ada yang tulisannya “Campus”, masa anak kuliah nggak peka kalau itu maksudnya buat anak kampus?

Buku wajib anak kampus (seharusnya)

Akhirnya seorang teman jawab, “Biar gampang dipindahin!”

Ya, segampang itu dijawabnya. Padahal buat munculin pertanyaan butuh merenung segala, lho.

Tapi, gue nggak menerima jawabannya begitu saja. Gue tetap menulis di buku tulis, seperti selama 12 tahun sekolah, lalu sesempatnya gue pindahkan catatan ke binder serapi-rapinya. Secara gak langsung, gue mengulang pelajaran yang diberikan hari ini.

Semoga rajin begini terus.


Lift
Dulu ada keluhan teman di SMA yang gue ingat, bunyinya begini, “Capek banget naik turun tangga. Sekolah nggak mau pasang lift, apa?” Waktu itu kami moving class, yang artinya setiap pindah pelajaran berarti pindah ruang kelas. Nggak jarang, kami bukan hanya pindah ruang, tetapi pindah gedung. SMA gue ada dua gedung yang terpisah.

Denah gedung salah satu SMA

Jadi, terbayang gimana malesinnya kalau ada kelas di lantai 3 gedung A lalu harus pindah ke lantai 3 gedung B.

Gue, yang tadinya biasa-biasa aja menanggapi moving class, jadi ikut-ikutan ngeluh karena. Malas juga kalau naik tangga terus-terusan. Padahal, dulu gue bercita-cita sekolah di sekolah tingkat.

Sampai pada dunia perkuliahan, akhirnya gue ketemu yang namanya lift. Awal masuk kuliah, beberapa kali gue nggak sempat kebagian lift. Niatnya waktu itu untuk mencicipi fasilitas kampus sekaligus gaya-gayaan. Biar kalau ditanya orang di kelas, “Tadi berangkat ke sini naik apa?” gue jawab, “Naik lift dong!” Padahal dari rumah mah naik bus.

Malas ngantre lift, gue mencoba jalan terakhir. Untuk mengurangi kemungkinan telat masuk kelas, akhirnya gue harus naik tangga karena antrean panjang. Sialnya, waktu itu kelas gue ada di lantai 7. Sampai di kelas, kaki gue gemeteran.

Naik lift bagi gue ada enak dan nggak enaknya. Enaknya sudah pasti, tinggal berdiri di dalam lalu sampai. Nggak enaknya... saat ketemu orang yang resek.

Pernah sekali gue satu lift dengan teman-teman cowok sekelas selepas mata kuliah. Kami masuk lift bareng berombongan dan mau turun ke lantai 1. Saat itu kami ada di lantai 4. Agung, teman gue yang baik hati (ceritanya pernah gue tulis di sini), mengambil inisiatif dengan menekan angka “10”. Akhirnya lift naik terus sampai ke lantai teratas gedung ini.

Teman-teman gue protes. “KENAPA LO PENCET?!”

“Gue bayar UKT (uang kuliah tunggal)—uang semesteran—mahal nih. Harus manfaatin fasilitas.”

Bener, sih. Namanya udah bayar segala yang ada harus dimanfaatkan. Toh, nanti akhirnya memang turun lagi ke lantai 1. Tapi, setelah di lantai 1, kok gue merasa mual? Kayaknya kena jet lag deh.


Lupa
Ceritanya, Salsa adalah seorang teman yang satu dosen pembimbing bareng gue. Niatnya, dia mau minta tanda tangan dosen pembimbing buat lomba karya tulis, sedangkan gue mau minta tanda tangan kartu rancangan studi (KRS). Kebetulan, gue adalah penanggung jawabnya, otomatis gue sudah ada kontak dengan sang dosen pembimbing.

Gue samperin dia di kursi barisan belakang. “Eh, nanti mau ketemu Pak Agung?”

Pak Agung adalah dosen pembimbing kami. Bukan, bukan Agung yang suka mencetin angka 10 di lift.

“Dosen pembimbing gue bukan Pak Agung.”
“Lho?” Gue kaget. Sejak kapan dia ganti dosen pembimbing?
“Gue mah sama Bu Maria,” ujarnya.
“Kok? Bukannya bareng gue?”
“Apaan, sih?”

Mukanya kebingungan setelah gue samperin. Apa dia kaget tiba-tiba gue samperin? Gue mulai mikir, jangan-jangan ada yang nggak beres. Perasaan tadi pagi nggak lupa pake deodoran deh.

“Lu Salsa bukan?” tanya gue.
“Bukan.” Mukanya menolak tegas. Pertanyaan tadi kayak pertanyaan “kamu maling ya?”
“Wah, parah lu nggak inget temen sekelas,” tambahnya, sambil mengacungkan telunjuk. Kemudian anak cewek yang duduk di depannya menoleh ke gue dan tertawa. Gue ngelihat di pojokan, dekat colokan ada orang paling sibuk di situ.

Itu Salsa beneran.

Parah banget, parah. Udah ketemu tiga minggu ditambah waktu MPA masih aja belum kenal teman sekelas.

Untuk satu hal ini, gue benar-benar sadar gue saat ini sedang kena culture shock. Harus disadari, manusia di kampus banyak banget! Apalagi waktu MPA diumumkan jumlah mahasiswa baru 2017 ada 5.000 orang lebih. Salah manggil orang adalah hal pemakluman.

Dulu di SMA teman satu angkatan cuma ada 200-300 orang. Itu pun masih banyak yang nggak gue kenal, padahal satu jurusan. Di perkuliahan, teman satu jurusan memang kurang dari 115 orang, tapi entah kenapa mereka sulit dikenali satu-satu mukanya. Terutama cewek.

Lain cerita. Suatu kali, gue sedang jalan menuju kampus. Dua orang cewek membawa binder berdiri di depan gedung. Satu di antara mereka memanggil nama seseorang sesaat setelah gue melewati mereka. Gue menoleh. Satu orang di antara mereka menutup mulut, diiringi kalimat, “Eh, salah orang.”

Nah, lho. Emang susah deh ngenalin orang di kampus.


Banyak mau
Menjadi mahasiswa baru ternyata bagi gue bisa menjadi sebuah langkah awal untuk mencoba hal baru yang nggak pernah gue temui di sekolah dulu. Satu di antaranya adalah ikut organisasi.

... lebih dari satu.

Waktu sosialisasi yang diadakan fakultas, mahasiswa baru dikenali banyak organisasi. Ada yang kerohanian, ada yang ilmiah banget (karena memang basisnya di Fakultas MIPA), ada yang kerjaannya berkebun, ada yang lucu-lucu karena kegiatannya main sama anak kecil, sampai organisasi yang dipandang militan karena bergerak di bidang sosial-politik.

... dan kepengin semuanya.

Dasar maruk.

Gairah ini muncul karena sebuah tuntutan dari program beasiswa yang gue dapat. Dalam salah satu syaratnya disebutkan bahwa beswan harus aktif di organisasi. Maka dari itu, gue jadi kepengin buat aktif di organisasi. Tapi, alasan tadi nggak jadi mentah-mentah bikin gue banyak mau ikut organisasi. Justru, gue mau belajar dari bergabung dalam organisasi. Sekalian dengan alasan minta uang saku tambahan tentunya. Kan enak, tinggal bilang, "Ma, bakal pulang malem, nih."

Karena merasa nggak akan sanggup, pelan-pelan gue coret organisasi yang sekiranya cuma punya alasan “pengin ikut aja” buat ngikutinnya.


Selebihnya, perkuliahan gue berjalan aman-aman aja. Banyakan waktu di perjalanan soalnya. Lari ngejar bus, berdiri di pintu paling depan biar dapat tempat duduk, tidur di bus. Begitu terus. Berusaha menikmati perjalanan Kalideres sampai Rawamangun.

---

Penting buat peringatan pribadi, gue nggak akan membawa predikat "langganan remedial" lagi. Takutnya kebawa di perkuliahan. Karena "remedial" akan berarti mengulang satu semester lagi. Males amat tua di kampus.

Sumber gambar:
https://www.tokopedia.com/toserbarep/buku-tulis-campus
Read More »

Sekarang bentuk komedi sebagai media hiburan di internet sudah dikemas dalam beragam bentuk. Bentuk lelucon yang sedang kekinian setahu gue adalah meme. Tapi entah kenapa, gue tidak terlalu tertarik dengan meme. Bagi gue meme hanya sekadar lucu, nggak terlalu meninggalkan kesan. Apalagi kalau meme itu udah jadi bahan lawakan orang-orang di sekitar.

Gue lebih tertarik dengan cerita seseorang, entah dia sengaja atau tidak menambahkan bumbu komedi di dalam ceritanya. Lebih unik, lebih punya kesan. Baca blog personal rasanya kayak duduk sama seseorang di taman, lalu dengerin sepuasnya dia bercerita sambil ditemani pemain debus. Kan biar berkesan gitu.

Dari awal gue suka bacain blog orang lain, gue ketemu dengan blog-blog yang keren di bawah ini.

1. dijehtheory.blogspot.com
Blog milik Doni Jaelani ini rajin bikin gue ketawa. Bentuk postingannya kebanyakan berupa listicle ala-ala Hipwee, tapi lucunya ngalahin Hamtaro yang berlari di roda kehidupan. Banyak juga tulisannya yang berupa sebuah set stand up. Beberapa kali juga dia pernah cerita soal pengalamannya ikut open mic. Oh iya, di blognya juga ada ebook yang isinya nggak jauh-jauh bentuknya seperti di blognya.


2. howhaw.com
Dalam lingkaran pertemanan blogger yang ada gue di dalamnya, sepertinya sosok Hawadis adalah orang yang paling sering dibicarakan. Bagaimana nggak, blognya sering menjadi topik pembicaraan. Apalagi di grup WIRDY. Gue termasuk yang suka ngomongin juga.

Sebuah rahasia grup WIRDY baru saja gue bongkar. Hahaha. Sebagai anak baru di grup tersebut, gue merasa songong.

Pantaslah blognya Bang Haw sering dibahas. Meskipun blognya adalah pengecualian dari blog catatan lepas, jenis blog kesukaan gue. Blognya lucu, apalagi kalau udah bahas sesuatu yang sempat-sempatnya diselipin konsep fisika. Bikin kita mikir, “Kok bisa nyambung ke sana ya?” Guru fisika harus baca blognya biar nggak dianggap kaku.


3. yogaesce.com
Blog yang dulunya beralamat di silumancapung.blogspot.com ini baru gue kenal dari sebuah grup bernama WPS. Blogwalking yang membawa gue ke blog jenaka ini.

((blog jenaka))

Blog yang banyak diisi cerita sehari-hari dan kebanyakan ceritanya apes ini menjadi blog yang digandrungi masyarakat Lampung. Salah satunya adalah pemuda bernama Attar, yang mengaku sampai terinspirasi karena blognya.



Pemilik blognya, Yoga C. Putra, yang juga seorang sarjana ekonomi ini sudah pernah melahirkan sebuah buku berjudul Senior High Stress. Icha (2017) mengatakan bahwa Yoga suka membeberkan jati dirinya sebagai pengabdi fake taxi.


4. keriba-keribo.com
Gue lupa ketemu blog ini dari mana. Kemungkinannya: gue masuk ke sebuah komunitas blogger, mencari blog lain di kolom komentar, bertemulah dengan blog ini.

Gue berani jamin, orang yang sekali baca blognya bakal ketagihan buat baca lagi. Sambil memperbanyak istigfar karena kebanyakan ketawa ngakak. Mulai dari cerita sehari-hari sampai opini serius, blog ini rasanya bisa jadi kayak sahabat. Sahabat dalam artian angan-angan seseorang yang sering gue dengar dari teman-teman: “Gue pengin punya sahabat yang bisa serius banget, tapi lucu banget kalau lagi melucu.”


5. mycocolatos.blogspot.com
Blog yang dikuasai Niki Setiawan ini selalu membahas hal yang remeh. Selalu. Ceritanya banyak yang nggak tahu apa alasannya kenapa ditulis. Herannya, gue ketawa. Bayangin aja, saat gue terakhir buka blognya, ada satu judul postingan teratas “Cara Membuat Api Rebus”. Udah bisa dibayangkan bagaimana reseknya tulisan itu. Gue nggak berani buka, takut kepala tiba-tiba pusing.

Di luar ngaconya blog Niki Setiawan tersebut, banyak keajaiban yang bisa dipetik dari perenungan tulisan seaneh itu. Ya, mengajarkan bagaimana hidup ini sebenarnya gue rasa. Asik.

Selain blog-blog keren dan lucu di atas, gue juga akan membuat daftar blog keren lainnya. Hal itu gue predikatkan karena blog-blog di bawah ini adalah blog yang ikutan giveaway blog robbyharyanto.com sebulan lalu.


Setelah satu bulan lamanya, sekarang waktunya gue mengumumkan pemenang dari giveaway berhadiah buku. Harusnya gue umumin tanggal 17 September kemarin. Berhubung ada kegiatan di luar kota, gue baru bisa umumin sekarang di postingan ini.

Pemenangnya adalah Mbak Mayang Dwinta sebagai juara ketiga, Kakak Icha Hairunnisa sebagai juara kedua, dan Bang Hawadis sebagai juara pertama. Hadiahnya sesuai dengan ketentuan yang gue buat di beberapa postingan yang lalu. Mungkin dalam pengirimannya akan ada sedikit penundaan karena gue masih bingung kapan ke jasa pengiriman barang. Maklum, mahasiswa baru senengnya cari-cari kesibukan. Tapi, nggak sampai bulan depan gue kirim, kok.

Tulisan ini dibuat dalam rangka meramaikan tulisan bertema dari grup WIRDY. Seseorang bertanya tentang siapa blog favorit mereka, maka inilah blog-blog yang gue favoritkan. Sebenarnya masih banyak blog keren lainnya. Salah satunya gue buat di blog ini daftarnya di navbar “Teman” dari blog ini (posisinya di bawah gambar header).

Itu adalah blog pilihan gue, lain halnya dengan menurut Yoga Akbar, Icha Hairunnisa, Rahayu Wulandari, dan Darma Kusumah. Coba buka di blog mereka masing-masing, siapa blog favoritnya.
Read More »

Setelah Ujian Nasional, gue menjadi try out maniac. Mengetahui ada informasi try out SBMPTN di mana saja, selama ada di Jakarta, gue ikutin. Gue percaya, selama ada di Jakarta masih banyak akses untuk menuju ke lokasi tertentu. Akan beda cerita bila gue sotoy, lalu kena batunya hingga menemukan tugu bertuliskan "SELAMAT DATANG DI KOTA CIREBON".

Jauh sebelumnya gue sudah dua kali mengikuti try out online yang diadakan akun-akun di LINE. Dilihat dari hasil-hasilnya yang nggak pernah mencapai target, gue sedikit ragu sama diri gue sendiri. Masalahnya, hampir semua try out yang gue ikuti berbayar. Sudah sering ikut try out, tapi nilainya nggak pernah mencapai target program studi incaran. Lama-lama bikin kesal, uang habis tanpa menghasilkan progres. Nilai try out gue konsisten. Konsisten nggak mencapai target.

Nilai try out nggak pernah memuaskan, sedangkan SBMPTN tinggal menghitung hari. Gue, yang pengin banget masuk PTN, apa kabar?

^^^

Sudah dua minggu terakhir gue pergi untuk ikut try out SBMPTN. Tanggal 16 April, tiga hari setelah Ujian Nasional selesai, gue mengikuti try out di Universitas Pertamina, walaupun sempat takut nyasar karena internet mati di tengah jalan dan berimbas nggak bisa buka Google Maps. Syukurnya, gue dapat menemukan lokasi bermodalkan kepekaan melihat penumpang ojek online.

(Ceritanya pernah gue tulis di sini: Karena Peka Itu Harus)

Seminggu setelahnya, gue mengikuti try out di GOR Lokasari, Jakarta Barat, dan di sini terjadilah percakapan sebelum try out yang cukup lama antara gue dengan seorang bapak yang mengantar anaknya try out. Mereka berasal dari Bekasi. Gue membayangkan dari Bekasi ke Jakarta Barat hanya untuk try out SBMPTN, rasanya mental petualang gue dalam dunia try out belum sampai segitunya. Kalau ada try out di Portugal, gue... hmmm... nggak deh. Lain kali aja.

Gue jadi teringat sebuah istilah. Kalau anak punk bisa disebut “anak acara” karena mereka tahu jadwal konser berada, gue sekarang merasa menjadi “anak try out” karena gue bisa tahu di mana ada try out diselenggarakan. Sampai-sampai gue bilang ke seorang teman, “Lu kalau mau tau ada try out di mana, tanya gue.” Seolah hanya gue yang paling tahu.

^^^

Tiga minggu berturut-turut gue mengikuti try out di luar dan semuanya berbayar. Di bimbel sendiri, setelah dibukanya program intensif pasca-UN, try out diselenggarakan setiap hari Senin sebanyak empat kali dalam sebulan.

Tanggal 30 April gue kembali ikut try out di luar bimbel. Tujuan gue bukan semata-mata hanya untuk try out. Lebih dari itu, gue sedang berkunjung ke calon kampus, perguruan tinggi negeri incaran gue: Universitas Negeri Jakarta.

Beberapa kali gue merasa iri dengan teman-teman SMA yang bisa kesampaian kunjungan ke kampus impiannya. Teman-teman yang mengincar Universitas Indonesia bisa ke kampus impiannya setiap ada acara UI Open House. Gue sudah lama menunggu “UNJ Open House”, namun tidak pernah terdengar kabarnya.

Di pameran kampus juga begitu. Gue pernah ke JCC Senayan, saat itu ada pameran kampus yang diisi banyak sekali universitas negeri maupun swasta di Indonesia, bahkan stand program beasiswa juga ada di sana. Tetapi, gue tidak melihat stand UNJ di sana. Agak sedih sebenarnya. Gue malah berdiri di stand UGM. Motoin orang dari belakang.



^^^

Kembali lagi ke try out di UNJ. Try out ini diadakan bekerja sama dengan sebuah lembaga beasiswa yang ada di Indonesia. Sebelum dibagikan kertas soal dan jawaban, panitia menampilkan video profil kampus UNJ. Sebuah video yang memberikan gue motivasi.

Setelah try out selesai, acara dilanjutkan dengan ishoma. Sebetulnya try out di sana sama saja dengan try out SBMPTN yang gue ikuti sebelumnya di manapun. Aura asli SBMPTN yang khas ada juga di sini: tegang, panik, dan gugup.

Setelah ishoma dilanjutkan acara bedah kampus. Gue nggak tahu bagaimana acaranya berjalan karena gue memutuskan untuk pulang lebih dulu. Dibanding ishoma, gue malah ishobut. Istirahat, sholat, cabut (alias pergi). Gue harus ke sekolah untuk hadir dalam acara lomba yang ekskul gue adakan.

Setelah salat Zuhur di Masjid Alumni (itu nama yang gue lihat di dinding masjid), gue jalan terburu-buru agar segera meninggalkan lokasi. Tidak ada panitia berseragam yang melihat gue. Atau, sebenarnya mereka nggak mengira gue adalah peserta try out, melainkan mahasiswa sini. Semuanya aman sampai ada seorang cewek menghentikan langkah gue. Aduh, siapa dia? Jantung gue semakin cepat berdetak, perpaduan dari dihentikan langkahnya oleh seorang cewek dan kabur dari acara. Sambil menyembunyikan gugup, ia bertanya, “Masjid Alumni di mana, ya, Kak?”

“Kenapa dia manggil ‘Kak’?” tanya gue dalam hati. Gue bergeming. Masih dalam perasaan panik, takut, dan jengkel karena nggak terima dipanggil “Kak”. Agar gue cepat kembali pada tujuan awal, gue segera memberikan arahan menuju tempat yang dia maksud. Dia pergi meninggalkan gue sambil tersenyum. “Makasih, Kak.”

Gue kira, yang mengira gue mahasiswa bukan hanya seseorang di kopdar Blogger Jabodetabek saja. Nah ini, cewek yang ketemu di UNJ manggil gue “Kak”.

Apa dia kira gue mahasiswa sini? Apakah muka gue udah cocok banget jadi mahasiswa? Muka semester-5-padahal-masih-kelas-12 ini sanggup membuat gue dipanggil “Kak”.

Tapi... aminin aja deh. Siapa tahu gue beneran jadi mahasiswa di sini.

--

Ditulis bulan April 2017 dengan sedikit penyempurnaan kronologis.

Baca rangkaian cerita selama menuju PTN di bawah:
1. How I Meet Chemistry
2. Kenapa Pendidikan Kimia?


Read More »

Anak kos itu keren. Memang keren setelah dengar beberapa cerita perjuangan mereka. Bagaimana caranya ngatur uang sampai ngatur waktu, anak kos biasanya punya triknya masing-masing. Beda kamar, beda strategi.

Anak kos lebih akrab dengan mahasiswa. Setelah menjadi mahasiswa, gue pengin merasakan jadi anak kos. Walaupun agak aneh rasanya (tapi tidak menutup kemungkinan) kuliah di kota sendiri harus ngekos.

Sebenarnya masuk akal kalau gue ngekos. Rumah di Jakarta Barat sedangkan kampus di Jakarta Timur. Jaraknya lumayan jauh, apalagi letak kami sama-sama di ujung. Barat ke timur. Kalau berangkat kuliah diartikan sama dengan terbitnya matahari dan pulang diartikan terbenam, artinya selama perjalanan gue kuliah artinya MENUJU KIAMAT!

Jangan deh, jangan. Jangan sampai. Kuliah harus terus menyenangkan.

Apalagi setelah gue hitung jumlah waktu perjalanan dari kampus ke rumah menghabiskan paling cepat tiga jam untuk berangkat dan pulang. Itu paling cepat. Mungkin, waktu paling lama bisa-bisa membuat gue berhasil menuliskan tiga laporan praktikum sekaligus. Sudah pasti gue akrab dengan permen selama perjalanan biar nggak ngantuk dan tidak kecurian. Juga dengan balsem, buat ngobatin nyeri di kaki karena harus berdiri terus di bus Transjakarta.

Selama masa pengenalan akademik (MPA) di kampus, gue ngekos untuk beberapa hari. Hampir disebut begitu, walaupun kenyataannya gue cuma numpang di kosan orang.


Perjalanan

Pukul 19.30 gue masih di rumah. Siap-siap mau ngejilid spiral tugas yang dikasih untuk MPA. Pesan broadcast sudah disebar ke grup WhatsApp, isinya tentang informasi jam kedatangan pukul 5.30. Gue nggak menyangka harus sepagi itu.

Gue panik.

Masalahnya, sepagi itu nggak ada angkutan. Bus Transjakarta yang selama ini jadi andalan juga belum beroperasi. Mau naik ojek online pasti nggak sanggup karena lebih dari 25 kilometer. Masa harus naik taksi? Biayanya pasti mahal. Mati gue, mati, kalau gini caranya. Apalagi ini kegiatan semacam ospek, yang artinya: TELAT = HUKUM SIAP MENANTIKU.

Gue langsung kepikiran sebuah rencana: Nanti tengah malam gue berangkat, naik angkot apa pun. Kalau nggak ada, jalan aja sampai kampus. Tidur di SPBU, mandi di sana, lalu sampai sana tepat waktu.

Sewaktu gue jabarkan rencana itu ke kakak pendamping gue di jurusan, dia malah panik. Dia melarang gue untuk melanjutkan rencana. “Jangan begitu, Rob. Banyak kriminal jam segitu. Kamu cari teman kamu yang ngekos dekat kampus deh.” Lalu dia mengirimkan kontak seseorang. “Nah, coba kamu hubungi Agung.”

Agung adalah teman seprodi gue di Pendidikan Kimia.

Tanpa banyak mikir, gue langsung minta tumpangan malam ini—setidaknya sampai besok pagi. Agung langsung mengiyakan dengan syarat gue harus bawa laptop buat dia ngerjain tugas. Gue ngomong dalam hati, “Gila juga ini anak. Tugas buat besok belum dikerjain.”

Gue lihat di jam dinding rumah, waktu menunjukkan pukul 21.15. MALAM. Benar, malam hari. Gue memastikan semua perlengkapan buat MPA sudah masuk ke tas semua. Sebotol teh manis tak lupa menghangatkan tas gue.

Saat beberapa rute bus mulai ditutup, gue baru berangkat.

Orang-orang masuk ke dalam bus dengan suka cita karena baru saja menyelesaikan rutinitasnya yang membosankan, gue sebaliknya. Gue malah murung sekaligus khawatir karena berangkat semalam ini.

Keluarga mereka sudah siap di rumah menyambut kedatangan anggota keluarganya, sedangkan gue baru saja pamit untuk pergi.

Ya Allah, ini kenapa sedih begini?

Rasanya semua kesedihan itu nggak ada apa-apanya setelah gue ketemu seseorang di halte Grogol.

“Mau ke mana, Mas?” tanya gue. Mungkin atas dasar senasib (karena nunggu bus malam-malam) membuat gue berani sok akrab.

“Mau ke sana.” Dia menyebutkan sebuah tempat. Gue lupa. Nama tempatnya asing bagi gue.

“Baru pulang kerja?”

“Iya,” jawabnya. “Tadinya mau sekalian nginep aja di tempat kerjaan. Pulang jam segini pasti nyampe tengah malam juga.”

Beginilah waktu nunggu bus

Dia bahkan belum tahu kapan sampai rumah. Gue ikutan sedih. Lebih sedih lagi ada seorang wanita yang nunggu bus ke arah BSD, Tangerang. Dia nunggu bus lebih dulu daripada gue, tapi nggak dapat-dapat. Akhirnya dia keluar halte, lalu nunggu taksi sendirian. Saat itu pukul 11 malam.

Gue bisa menyaksikan bagaimana cemasnya orang-orang saat malam hari. Bingung nyari angkutan umum.

Seharusnya, dari halte ini ada satu bus yang bisa langsung mengantarkan ke kampus. Mungkin pukul 11 malam sudah tidak beroperasi lagi. Semakin panik lagi setelah Agung bilang kosannya cuma buka sampai pukul 11.

“Tungguin dulu,” kata gue.

“Buruan sini. Ibu kosan gue udah marah-marah,” balas Agung.

Setelah naik bus seadanya—tidak langsung sampai tujuan—dan bermodalkan uang Rp17.000 untuk naik Gojek, gue berhasil sampai ke kosan Agung pukul 0.20. Bagus. Nggak ada orang bertamu sepagi ini.

Di balik gerbang sudah ada seorang ibu dan anjing di dalam kandang yang menggonggong. “Dari rumah jam berapa kamu?”

“Jam 9, Bu.”

“Ah, iya. Pantas itu. Nggak mungkin dia berangkat jam 8.” Kayaknya si Agung bohong deh bilang gue berangkat jam 8.

“Mau sampai kapan di sini?” tanyanya. Gue paham betul apa maksud dari pertanyaan itu.

“Sampai pagi aja, Bu. Nanti langsung pulang,” jawab gue agar tidak dimintai uang tambahan, seperti yang diterapkan di beberapa tempat kos. Tak lupa gue meminta maaf dan langsung masuk ke kamar Agung. Berdua. Di dalam kos.

***

Di kosan Agung

Di kosan Agung gue cuma ngerjain beberapa tugas yang belum selesai karena pagi nanti semuanya harus dikumpulkan. Bau-bau deadliner sudah tercium dari tubuh gue. Gue sedikit merasakan haus. Gue melihat seisi kosan Agung, tidak ada tanda-tanda kesegaran di sini. Air di botol minum isinya tinggal setengah. Kalau dihabiskan, gue bakal kehausan. Botol gue simpan ke dalam tas, habiskan di kampus, dan nanti minta sama orang-orang dermawan di kampus. Kalau mendesak, botol ini siap menampung air dari keran masjid.

Punggung udah ngerasain sakit ketusuk-tusuk angin malam. Pukul 2 gue masih melek bareng Agung yang masih sibuk ngetik tugas. Dia lebih deadliner daripada gue. Gue tertidur, bangun lagi pukul 4 untuk segera ke kampus mengikuti briefing MPA.

Permasalahan air minum rasanya jadi terselesaikan setelah gue menemukan seorang teman duduk di samping dispenser. Tanpa ragu dia menekan dispenser dan menadahkan air ke botolnya. Gue ikuti cara dia. Botol kosong tadi kini terisi setengah.

Sungguh indah oase di tengah padang pasir. Sungguh menyejukkan dispenser beserta galonnya di tengah masjid.

Briefing MPA selesai sampai sore dan belum masuk ke acara inti. Keluar dari kampus gue ke rumah Agung untuk mengambil barang, seperti pakaian kotor. Gue langsung pulang untuk menyiapkan tenaga untuk MPA hari selanjutnya. Besok masih ada jeda sekitar tiga hari, barulah sampai ke acara MPA.



Di kosan Rian

Masih ingat Rian? Dia adalah partner seperjalanan gue di Halilintar sewaktu jalan-jalan ke Dufan. Orang yang masih gue bingung, sebenarnya dalam silsilah keluarga antara gue dengan dia itu apa namanya.

Tidak usahlah mempermasalahkan itu. Intinya, dia adalah saudara yang kebetulan satu kampus. Dan orang yang berbaik hati mau gue tumpangi selama MPA.

Untuk masalah izin, bahkan sampai sekarang gue belum izin ke yang punya kosan tempat Rian tinggal. Licik memang, licik. Demi menghindari dimintai uang tambahan, gue diem-diem aja. Gue masih dihitung tamu, padahal gue numpang di kosan dia sampai tiga hari. Tamu tidak beradab.

MPA dimulai sangat pagi. Pukul 5.00 para maba harus sampai kampus. Masih nggak memungkinkan bila gue berangkat dari rumah untuk sampai pukul segitu. Makanya gue tetap memutuskan untuk menumpang. Kerjaan gue di sini cuma ngerjain tugas dan tidur. Oh iya, di sini enak. Minumnya disediain tuan rumah. Jadi gue nggak perlu pura-pura ke kamar mandi terus ngisi botol pakai air keran.

Satu-satunya masalah adalah asupan. Yang pernah diceritakan kakaknya Rian, sekaligus kakak ipar gue, adalah Rian adalah tipe orang yang pilih-pilih makanan. Gue, selama disediain, nggak pernah pilih-pilih. Paling ada beberapa makanan yang, sekalipun mereka bilang enak, gue nggak akan makan.

Benar saja. Di kosannya, Rian nggak pernah makan. Begitu pun gue. Cocok deh keduanya buat sama-sama kelaparan. Gue mau ke luar nyari makan sendiri, nggak enak. Mau ngajak makan bareng, agak malu karena kami baru banget kenal. Harusnya saat itu gue ajak, sih, biar sekarang akhirnya nggak gue tulis di blog. Lihat sekarang. Jadinya gue ngeluh dan nulis postingan blog. Ah, hidup.

Nggak makan, akhirnya nahan lapar. Nahan nangis juga. Yang ditangisin karena kangen orang-orang di rumah. Heran, meskipun jaraknya nggak jauh-jauh amat—masih satu kota, rasa kangennya jadi dalam banget sewaktu gue menemukan banyak kesulitan di sini. Masih belum bisa tinggal sendiri. Masih selalu harus diingetin makan. Masih ngerasa payah. Abisnya, gue takut kalau nanti semisal sedang sibuk ngerjain tugas, selama nggak ada yang ingetin gue makan, gue tidur dalam keadaan lapar.

Selama gue di kosan dua orang di atas, gue nggak makan nasi. Agak kurang, makanya gue bilang jarang makan. Sebagaimana slogan makan yang berlaku di Indonesia berlaku: Belum disebut makan kalau belum makan nasi.

Begitu selesai rangkaian acara MPA, gue puas-puasin makan di rumah. Terus terang, gue langsung nambah dua kali makan nasi pertama di rumah setelah tiga hari di kosan orang. Setelah makan, Mama nanya ke gue, “Terus jadi mau ngekos?”

Gue menjawab, “Nggak, Ma. Nggak apa-apa deh tua di jalan daripada harus nahan lapar terus.”


Sumber gambar:
http://spongebob.wikia.com/wiki/Rock_Bottom
Read More »

Akhirnya bisa update blog lagi.

Karena kebetulan lagi senggang nungguin info pengisian kartu rencana studi (KRS) kuliah, dan lagi megang laptop juga, gue mau nulis sedikit-sedikit tentang giveaway yang gue buat awal bulan Agustus ini.

Secara singkat aja, benar gue senang akhirnya bisa update blog lagi. Alasannya adalah karena beberapa hari yang lalu gue disibukkan dengan urusan masa pengenalan akademik (MPA) di kampus. Selayaknya mahasiswa baru, gue juga mendapat perpeloncoan.

Kaget?

Oh, jangan dulu. Karena perpeloncoan artinya, di dalam KBBI versi V, adalah:

Perpeloncoan (n) perihal pelonco

Pelonco (v Jw) pengenalan dan penghayatan situasi lingkungan baru dengan mengendapkan tata pikiran yang dimiliki sebelumnya.

Sebenernya ini gue cuma nerusin kata-kata mantan ketua BEM kampus aja, sih. Gue juga awalnya kaget waktu dia bilang, “Kalian semua ini dipelonco!” Padahal kakak tingkatnya baik-baik semua. Dia tambahkan, “Kalau pelonco yang kalian masksud adalah kekerasan, itu beda lagi. Yang itu namanya perundungan (bullying).”

Kalau diselami lebih dalam, makna acara MPA buat mahasiswa baru kayak gue dalem banget. Gue jadi tahu kebiasaan di kampus bagaimana. Sedikit-sedikit tahu budaya anak FMIPA di UNJ seperti apa. Karena sudah terkenal dengan keramahan dan kereligiusannya, jadi gue nggak bisa banyak cerita soal kejadian aneh atau kacau di sini, selayaknya kebiasaan waktu SMA dulu. Bawaannya adem terus ketemu anak FMIPA UNJ.

Cerita soal MPA bisa kapan-kapan lagi deh. Gue mau bahas tentang buku yang gue jadikan hadiah di giveway yang gue adakan.

Untuk yang belum tahu sebelumnya, gue sedang ngadain giveaway berhadiah buku sampai dengan tanggal 11 September, sedangkan dimulainya tanggal 10 Agustus. Durasinya memang lama—sebulan—karena gue sengaja merencanakan itu. Salah satu alasannya adalah karena ada agenda MPA yang bener-bener padat.

Mengenai buku yang gue jadikan hadiah, ada satu cerita unik di dalamnya.

Buku untuk pemenang pertama cuma punya sedikit cerita. Gue beli buku itu saat gencar-gencarnya pengin beli novel terjemahan. Terpilihlah rak bukunya John Green di Gramedia. Pilihannya ada Paper Towns dan The Fault in Our Stars. Gue mengambil buku yang kedua, lalu pergi ke kasir. Di kasir gue ketemu teman kelas 10. Dia bertanya, “Beli buku apa, Rob?” Sebetulnya gue kaget ketemu teman di sini. Jadi, ketemu teman satu sekolah bikin gue nggak siap ngomong. Dia nanya pun hanya gue balas dengan menunjukkan buku yang baru saja gue ambil dari rak.

“Oh, baca John Green juga?”

Gue cuma ngangguk-ngangguk sok paham. Tahu John Green juga baru 10 menit yang lalu.

Hadiah untuk pemenang ketiga adalah buku berjudul Tetanus: Catetan Harian Arya Novrianus yang ditulis oleh Arya Novrianus (ya, dari judul aja udah ketahuan). Mungkin banyak yang belum mengenal orang ini. Dia lebih dikenal sebagai komika dan komikus. Gue beli bukunya karena sebelumnya pernah nonton dia stand up di Stand Up Festival 2015 di Tennis Indoor Senayan. Waktu itu bener-bener gila penampilannya, seperti yang biasanya dia tampilkan saat off air. Materinya banyak blue material.

Bukunya sendiri gue beli secara online. Agak khawatir (sekaligus menaruh harapan) sebenarnya bakal ada hal-hal seperti dalam set stand up-nya. Ternyata tidak ada. Tenang, tapi agak ada kesan, “Yah, kok nggak ada blue material-nya.” Jadi, secara keseluruhan buku ini aman, tidak ada blue material-nya.

Namun, hal yang tidak diharapkan malah gue dapatkan dari buku ini.

Pada pembelian buku ini, gue tidak sempat mengikuti pre-order Tetanus yang diadakan beberapa hari sebelum gue beli. Bonus dari pre-order Tetanus adalah tanda tangan penulisnya. Gue baru kesampaian beli bukunya beberapa hari setelah pre-order ditutup. Tanpa menunggu berhari-hari, buku itu sudah sampai di tangan gue. Betapa terkejutnya gue mendapati di halaman pertama buku itu ditanda-tangani penulisnya.




Sewaktu pemesanan pun nggak ada tulisan “special TTD”. Entah dari mana buku itu malah ditanda-tangani penulisnya. Rezeki kali, ya. Hehehe.

Selain Tetanus, buku Romeo Gadungan juga punya cerita sendiri. Seingat gue, buku yang ditulis Tirta Prayudha alias @romeogadungan ini gue dapatkan dari voucher salah satu e-commerce di Indonesia. Vouchernya sendiri gue dapatkan dari job menulis gue yang kedua di blog, sekaligus yang terakhir. Ya, beratus-ratus tulisan di blog ini baru ada dua yang mendapatkan diganjar materi, baik uang maupun voucher belanja. Voucher belanja senilai Rp200.000 gue belanjakan membeli Romeo Gadungan, dan dua buku soal SBMPTN.

Nah, gue memberi kesempatan pada kamu untuk mendapatkan buku-buku gue dengan ikutan giveaway yang masih gue adakan. Syaratnya sangat gampang. Coba buka di sini buat tau lebih jelas.
Read More »

Gue mulai rajin beli buku sejak kelas 9 SMP. Dengan kondisi keuangan yang cukup saat itu, gue mulai beli novel. Sampai sekarang, novel yang gue punya di lemari jumlahnya sekitar dua puluhan. Masih sedikit, sih. Tapi gue merasa udah banyak banget untuk kapasitas lemari yang nggak terlalu besar di rumah.

Daripada terlalu lama bertahan di lemari gue, alangkah baiknya buku-buku itu gue berikan ke orang lain yang ingin membacanya, yang dekat hubungannya dengan blog ini, yaitu pembaca blog robbyharyanto.com.

(Basa-basinya gini doang, kok. Maklum, gue amatir dalam membuat giveaway. Baru pertama kali.)

Jadi, gue mengajak kamu yang baca postingan ini, terutama yang sering mampir ke blog robbyharyanto.com, buat ikutan giveaway yang sedang gue adakan. Hadiahnya adalah buku koleksi gue. Jangan salah, walaupun bukunya bekas, gue punya kebiasaan baik merawat buku, kok. Buku gue kebanyakan disampul. Jadi, nggak terlalu jelek-jelek amatlah. Paling warna kertasnya aja yang sedikit menguning, kayak buku yang udah lama pada umumnya.

Nah, jadi bagaimana caranya mengikuti giveaway ini?

Pertama, buat postingan di media menulis online. Tulisan yang baru dan belum dipublikasikan di manapun, juga bukan arsip lama. Terserah mau di Blogger, Wordpress, Tumblr, Medium, Inspirasi.co, Hipwee, Wattpad dan semacamnya. Tema tulisannya adalah “Aku dan Buku”. Kembali lagi, terserah mau nulis dalam bentuk apa. Mau curhat, cerpen, puisi, pamflet iklan, skripsi, tesis, dan lain-lain. Yang penting sesuai tema.

Kedua, kirim link tulisanmu melalui mention Twitter @robby_haryanto. Kalau nggak punya Twitter, kirim link-nya lewat email robbyharyanto1@gmail.com. Kalau nggak punya email gimana? Jangan bercanda! Bikin dulu sana.

Ketiga, tungguin deh pengumumannya.

Untuk persyaratan, gue tidak memberatkan kalian untuk minimal lulus S1 dan berpengalaman kerja 3 tahun. Syarat utamanya adalah... ikutin aja langkah-langkah di atas. Mau nulis panjang silakan, cuma judul silakan. Tapi, nggak akan gue menangin! Hahaha. Gampang banget ya giveaway ini. Makanya buruan ikutan. (lho, maksa.)

Hadiah dari giveaway ini adalah:

Juara 1: The Fault in Our Stars - John Green (Qanita, 2015)


Novel terjemahan dari John Green, penulis bestseller dunia, yang menceritakan tentang kisah cinta sepasang kekasih yang tidak sempurna dalam fisiknya. Siapa, sih, yang nggak tahu buku ini? Bukunya sudah difilmkan!

Juara 2: Romeo Gadungan – Tirta Prayudha aka @romeogadungan (GagasMedia, 2016)


Kumpulan cerita memoar komedi yang menceritakan kisah patah hati Tirta aka @romeogadungan. Dia adalah selebtwit dan selebask yang lumayan rame, juga seorang blogger.

Juara 3: Tetanus – Arya Novrianus (Bukune, 2015)



Buku personal litterature komedi tentang kehidupan seorang Arya Novrianus, seorang stand up comedian dan finalis SUCI 7. Ceritanya dibumbui komedi hingga tragedi yang melibatkan perasaan dan emosi—sedikit mengutip testimoni di buku ini.

Hadiahnya memang nggak mengenyangkan. Anggap saja kamu dapat tema menulis, lalu, kalau beruntung, dapat hadiah.

Periode giveaway ini dimulai tanggal 11 Agustus 2017 berakhir tanggal 11 September 2017. Pemenang gue umumkan tanggal 17 September 2017... lewat kuping. Jadi, gue nyamperin ke rumah para pemenang, lalu gue bisikin, “Gokil! Elo menang!” Bahaha. Nggak gitu. Para pemenang gue umumkan di blog ini.

Selamat mengikuti giveaway sederhana ini. 
Read More »

Karena sebuah kejadian, tertanamlah akar besar yang nantinya menjadi cita-cita gue. Hingga saat ini, gue masih ingat betul bagaimana kejadiannya.

Naik ke kelas 5 SD sebenarnya memberi sedikit ketakutan bagi gue dan beberapa teman sekelas. Kriteria wali kelas yang gue (dan beberapa teman) takuti saat itu adalah wali kelas yang galak. Wali kelas di SD adalah orang yang akan selalu ketemu karena hampir semua mata pelajaran dia yang mengajar. Mendapat wali kelas yang galak, untuk ukuran anak SD tentunya, artinya bakal sering merasa nggak betah di kelas.

Dilihat dari wajahnya, guru gue ini sudah punya modal menjadi guru galak. (Anggap saja ini adalah Robby zaman SD. Waktu itu belum kenal guru killer, cuma tahu guru galak.) Tatapannya tajam. Setiap kali menjelaskan materi di kelas, gue nggak berharap dia melihat gue dan memberi pertanyaan. Ucapannya juga pedas. Pernah sekali gue jadi petugas upacara, dia ngomentarin gue dengan kesarkasannya, “Jalan kamu kayak robot kurang batere!”

Empat tahun gue sekolah SD belum pernah merasakan digalakin begitu. Gue terlalu halus dan terlalu lemah buat diomelin. Bisa dibilang, gue selalu aman di mata guru. Dapat komentar begitu gue koreksi diri di rumah. Apa iya gue kurang batere? Masa harus minta ortu beliin Alkaline?

Pagi itu di kelas kami sedang ada ulangan harian. Biar nggak ada yang saling nyontek, posisi antarkursi diberi jarak 10-15 cm. Kami semua disuruh menggeser sedikit meja dan kursi, agak menjauh dari teman sebangku. Beberapa orang, saking takutnya disontekin, bahkan membuat pagar dengan menegakkan buku di atas meja. Ada teman sebelahnya melirik, dia langsung menutupi meja dengan tubuhnya. “Jangan dilihat!” Padahal lembar jawaban belum dibagi.

Wali kelas menunjuk gue dengan spidolnya. Gue menengok ke belakang, memastikan kepada siapa spidol itu mengarah. Gue menunjuk diri sendiri. “Saya, Bu?” tanya gue lirih.

Beliau tetap mengacungkan spidolnya. “Geser kiri!” perintahnya. Gue melihat lagi ke belakang, masih bertanya-tanya siapa yang beliau maksud. Siapa sebenarnya yang beliau tunjuk.

“KAMU GESER!” Beliau melempar spidol ke gue. Tutupnya terlempar dan terpisah, ujungnya menyoret tangan gue.

Gue berjalan menuju mejanya sambil menundukkan kepala untuk mengembalikan spidol. Gue cuma membatin, “Apa guru harus begini? Menyuruh tanpa sebut nama, no mention begini, lalu melempar spidol ke muridnya. Guru nggak seharusnya begini. Gue bisa lebih baik dari guru ini.” Gue menutup spidol dan mengembalikannya kepada beliau, lalu kembali ke meja untuk menggeser bangku. Hari itu rasanya berat buat melanjutkan ulangan. Kok gue sakit hati, ya?

Sejak saat itu gue punya cita-cita menjadi guru.



^^^

Naik ke kelas 6, tentu saja lepas dari guru galak, ketertarikan gue terhadap Matematika meningkat. Ulangan Matematika pertama di kelas 6, gue mendapat nilai 90. Guru gue bertanya tentang tips gue dalam belajar. Maksudnya, supaya teman-teman di kelas termotivasi. “Kamu belajar berapa jam?” tanyanya. Gue tahu arah dari jawaban ini akan diteruskan ke mana. Gue nggak mau dianggap sebagai role model dengan bilang, “Wah, saya kalau belajar lama banget, Pak. Bisa sampai 15 jam nonstop.” Tapi, gue jawab aja sejujurnya, “Dua jam.” Rasanya dua jam cukup standar bagi anak SD. Malah aslinya itu bukanlah waktu bersih belajar. Dalam dua jam, waktu belajar gue paling cuma 15 menit. Sisanya main game di handphone.

Di ulangan selanjutnya barulah gue sadar bahwa selama ini gue belum kerja keras. Nilai ulangan Matematika turun, dan di rumah gue terus belajar. Rasanya, kemarin, setelah dapat nilai 90, gue sedang sombong-sombongnya. Giliran teman gue, Aulia, yang ditanya. “Kamu belajar berapa jam?”

^^^

Sampai SMP gue masih menyukai Matematika. Setiap ketemu pelajaran Matematika gue selalu bahagia. Nilai-nilai gue selalu memuaskan, meskipun nggak selalu 100. Berkaitan dengan keinginan cita-cita gue dulu ingin jadi guru, mulai saat itu gue berkeinginan jadi guru matematika. Alasannya karena saat itu gue menyukai Matematika.

Masuk jenjang SMA, gue merasakan Matematika menjadi pelajaran yang sangat susah. Masalah masing-masing orang berbeda dalam pelajaran ini. Masalah gue dengan Matematika adalah kurang paham materi yang diajarkan di kelas. Akhirnya berdampak pada PR jarang dikerjain (ini salah gue sendiri sebenarnya) dan ulangan selalu kesulitan. Bahkan pernah sekali ulangan harian Matematika, gue cuma ngisi 3 soal... dari 30.

Reputasi buruk di ulangan Matematika tidak terlalu berdampak pada remedial. Gue bersyukur jarang merasakan namanya remedial pelajaran Matematika. Sekalipun pernah, cuma disuruh mengerjakan ulang soal ulangan semester. Bayangkan kalau guru gue ngasih remedial, dan gue tetap nggak tuntas? Soalnya ada guru gue, mapel lain, yang suka banget minta muridnya untuk remedial. Muridnya mah minta juga. Minta dituntasin aja, remedialnya nolak.

Di kelas, gue sering kepikiran, kenapa gue bisa seturun ini minatnya terhadap Matematika. Suka sih, masih. Matematika masih seperti Matematika yang gue kenal saat 6 SD dulu (ini kesannya kayak cerita nostalgia cinta ya?). Tapi, apa yang salah sebenarnya? Atau Matematika bukanlah minat gue sesungguhnya?

^^^

Sudah sejak bangku sekolah dasar gue ingin jadi guru. Gue harus lanjutin cita-cita itu, tapi keinginan gue waktu SMP adalah jadi guru Matematika, sedangkan sekarang belajar Matematika susahnya setengah mati. Teman gue di kelas 11, sebut saja namanya Papan Tulis [(bukan nama sebenarnya) dan (bukan sebenarnya nama)], pernah nanya, “Rob, lulus SMA mau nerusin ke mana?”

“Nggak tau, nih,” jawab gue. “Yang deket aja. UNJ mungkin.”

“Lu mau jadi guru?”

Gue mengiyakan. “Meskipun gajinya kecil.”

Papan Tulis, bagusnya, mendukung gue. Dia sepertinya tahu gue punya ketertarikan pada pelajaran Kimia, dia langsung menebak, “Mau jadi guru Kimia?”

Gue mengangguk. Kebetulan saat itu kami sedang belajar Kimia di kelas. Kalau saja ketahuan ngobrol sama Bu Iin, guru Kimia, bisa ditegur.

Sambil melihat rapor, gue masih meratapi nilai Matematika yang hanya pas KKM. Itu pun gue yakin berasal dari nilai kasihan. Dulu nilai Matematika gue tidak serendah ini, batin gue.

Bersamaan dengan frustrasinya akan nilai Matematika di rapor, gue belajar menyukai apa yang sepertinya menjadi petunjuk untuk pilihan gue. Melihat rapor, gue seperti mendapat suara-suara alam.

“Matematika memang bukan jalanmu. Cobalah lihat dua kolom di bawah Matematika. Ada Kimia, yang sepertinya cocok denganmu. Meskipun kamu tidak tahu kenapa nilai sebagus itu bisa ada di rapor kamu, coba saja kamu pelajari dan nikmati setiap bab yang ada. Buktikan pada gurumu bahwa kamu layak mendapat nilai setinggi itu.”

^^^

Telanjur menyukai Kimia, gue melanjutkan untuk bercita-cita menjadi guru kimia dan suatu saat, gue kuliah akan mengambil program studi Pendidikan Kimia. Gue percaya, untuk mengambil jurusan kuliah nanti, gue harus memilihnya dari apa yang gue suka dan minati. Saat itu, gue belum mengenal Gita Savitri, youtuber yang pernah kuliah Kimia di Jerman. Jadi, keputusan gue ini belum terpengaruh dengan kariernya sebagai mahasiswi jurusan Kimia.

Setelah tahu jurusan apa yang gue incar, selanjutnya gue harus punya kampus tujuan. Itu pasti. Tentunya, yang menyediakan program studi Pendidikan Kimia. Gue sudah punya beberapa nama universitas, termasuk yang berada di kota tempat gue tinggal. Tidak cukup satu, gue mencari kampus lain yang punya prodi sesuai dengan incaran.

Saat masih semester awal kelas 12, gue sempat tergoda dengan jurusan lain. Namanya masih dalam proses pencarian, gue mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang jurusan apa saja yang berkaitan dengan Kimia.

“Lulusan Teknik Kimia gede gajinya, By,” kata kakak gue. Selain Teknik Kimia, gue juga sempat tertarik dengan Kehutanan, Peternakan, bahkan Ilmu Gizi. Kimia Murni juga sempat membuat gue tambah pusing dengan menambahnya daftar jurusan kuliah incaran. Tapi gue mengingat lagi apa cita-cita gue sejak kecil.

Dalam sebuah peringatan hari nasional, di sekolah gue saat itu ada perlombaan menghias kelas. Kelas dibuat warna-warni dengan banyak ornamen. Salah satu ornamen di kelas gue adalah logo-logo perguruan tinggi di Indonesia. Logo-logo itu nantinya akan digantungkan di langit-langit kelas. Maknanya, biar antara kami dengan kampus impian nggak jauh banget dan bisa digapai dari dalam kelas. Nggak tahu, sih, siapa yang memberi arti seperti itu. Gue sendiri asal-asalan aja ngetik barusan.

“Eh, gue mau nempel itu dong!” kata gue ke seorang teman, menunjuk sebuah logo universitas yang sudah ditempeli tali. Tali itu berfungsi agar logo bisa menggantung di langit-langit kelas. Sebuah logo Universitas Negeri Jakarta (UNJ), universitas impian gue, gue pegang untuk ditempel di langit-langit kelas. Sejak pertama masuk kelas 12, saat disuruh menuliskan harapan ingin berkuliah di mana, gue memang sudah menuliskan “Pendidikan Kimia – UNJ” sebagai pilihan pertama.

Gue berdiri di atas meja lalu menempelkannya di langit-langit sekolah, yang tepat di bawahnya adalah meja guru. Maknanya, karena UNJ banyak menghasilkan guru-guru terbaik, dan semoga gue bisa menjadi seperti mereka. Belakangan gue sadari ternyata gue sebenarnya nggak sopan. Meja yang gue injek untuk tempat berdiri adalah meja guru.

“Nah, cocok di sini,” gue berkata sendiri. Gue turun dari meja lalu melihatnya dari bawah. Logo itu bergoyang-goyang tertiup AC. Gue memandangi logo yang tergantung, sebuah harapan yang jaraknya masih dalam dunia gue, di kelas. Dan mulai dari sini, di dalam kelas, harapan itu mulai gue kejar.

Mengutip sebuah peribahasa dan merombaknya, “Gantungkanlah logo universitas impianmu setinggi langit-langit kelas.”


--
Cerita ini masih melanjutkan cerita gue sebelumnya. Kalau terlewat silakan baca:
How I Meet Chemistry (cerita tentang kenapa gue suka pelajaran Kimia)

--
Sumber gambar: https://pixabay.com/en/boys-school-teacher-education-asia-1782427/
Read More »