31 December 2017

Kalau tiba-tiba kepala terasa pusing, pandangan kabur, dan keseimbangan mulai goyah, gue sering mengira tubuh gue akan ambruk. Jangan-jangan gue bakal pingsan. Gue pernah tanya ke seseorang yang pernah ngerasain pingsan. Gejalanya persis kayak gitu. Gue tanya, rasanya pingsan kayak gimana, sih? Ya, nggak sadar apa-apa, jawabnya. “Oh, mirip ya, kayak kena gendam?” kata gue dalam hati.

Alhamdulillah, seumur-umur gue nggak pernah mengalami pingsan. Gue kadang penasaran sampai muncul keinginan buat ngerasain pingsan. Agak aneh juga dengan keinginan gue ini. Dikira semua hal di dunia ini harus dicicipi kayak makanan di prasmanan.

Keinginan untuk pingsan harus gue pikir ulang. Soalnya, gue pikir, pingsan itu serem. Bikin orang lain takut juga. Pernah gue ketemu orang pingsan di kampus. Saat itu kelas gue sedang praktikum fisika. Di tengah khusyuknya melakukan pengataman, ada bunyi gubrak yang keras. Fokus semua orang buyar. Ada yang jerit. Ada yang kaget. Ada yang takut. Ada yang tetep ngelihatin alat praktikum. Orang terakhir itu gue.

Sumber


“Fokus dulu, temen-temen,” perintah gue ke teman-teman kelompok. Setelah terlalu asyik pengamatan, gue baru menyesal dengan kejadian tadi. Percobaan gue saat itu sedang mengamati turunnya gelembung di pipa kapiler kaca. Buat nunggu satu gelembung keluar itu lama banget. Menjadi dilema ketika gue harus tetap fokus pada apa yang lagi gue kerjain atau nolongin temen.

Teman gue akhirnya dibawa ke ruangan untuk mengembalikan kesadarannya. Baguslah ada pertolongan pertama. Gue nyeletuk, “Mungkin tadi dia keasyikan ngelihatin pegas naik-turun. Jadi hilang kesadaran.”
“Astagfirullah,” kata Adila, teman sekelompok gue.
“Oh iya,” spontan gue menutup mulut, “astagfirullah.” Sempet-sempetnya bercandain orang yang sedang kena musibah. Manusia macam apa?

Gue sebenarnya bingung. Orang awam kayak gue, ngelihat orang pingsan nggak tau harus apa. Bantuan pertama yang selalu muncul di kepala gue adalah kasih napas buatan. Pingsan disamain sama kelelep.

Padahal, jauh sebelum ini pun gue pernah dihadapkan dengan orang pingsan.

***

Gue pernah jadi ketua kelas selama satu semester di kelas 10. Gue cukup paham bahwa tugas ketua kelas adalah sebagai orang yang bertanggung jawab di kelas. Namun, teman sekelas gue menganggap kalau ketua kelas adalah penanggung beban kelas. Semua urusan di kelas ditimpkan ke ketua kelas.

Siang itu kami berada di kelas, mata pelajaran Prakarya. Pak Edi, guru Prakarya gue, sedang membahas tool aplikasi CorelDraw. Belajar Prakarya seperti ini bagi kami adalah  sesi hiburan. Seisi kelas fokus menatap layar proyektor. Tiba-tiba ada bunyi bruk yang sangat keras. BRUK! Suara benturan kepala dengan benda keras. Jaraknya kurang lebih sekitar 5 meter di belakang kursi gue. Salah satu teman gue, Saras, panik karena teman sebangkunya, Miranda, hilang kesadaran di atas mejanya.

Seisi kelas mendadak gaduh. Pak Edi mencoba menenangkan murid-muridnya. “Kenapa itu?” kata Pak Edi bangun dari kursinya, kemudian menghampiri Miranda.
“Gak tau, Pak. Kayaknya pingsan.” Saras menjawab, panik.
“Waduh.” Muncul raut kepanikan di wajah Pak Edi. Juga di muka gue. “Jangan sampai kenapa-kenapa. Jangan, please. Jangan,” batin gue.
“Coba kasih minyak kayu putih.”

Dalam situasi darurat seperti ini, apa yang dilakukan oleh orang-orang yang bertanggung jawab? Gue bingung. Ini pertama kalinya gue ketemu masalah orang pingsan.

Sebenarnya gue pengin nolongin, minimal ngasih napas buatan. Tapi dia cewek. Bisa-bisa gue dikeluarin karena dituduh mesum. Gue pengin ngangkat Miranda ke UKS di lantai satu sendirian, tapi itu kayaknya nggak mungkin. Mengingat berat badan Miranda yang hampir kayak hasil panen satu desa dan ruang kelas saat itu berada di lantai tiga. Nggak akan kuat. Pengin banget saat-saat begini, ada Dilan bilang ke gue, “Miranda berat. Kamu nggak  akan kuat. Biar aku saja.”

Biarlah gue kabur dulu dalam situasi ini. Mengingat pelajaran selanjutnya adalah Bahasa Inggris. Miss Devi paling nggak suka kalau jam pelajarannya terpotong dengan alasan apa pun. Pokoknya, kalau udah masuk jam pelajaran beliau, nggak boleh ada acara telat masuk. Selain itu, ketua kelas harus ingetin kalau udah masuk waktu pelajarannya.

Bel pergantian jam berbunyi. Seharusnya kelas kami pindah ke lantai satu. Gue makin dilema dan bingung harus berbuat apa.  Kalau gue bantu Miranda, nanti nggak ada yang ingetin Miss Devi, lalu gue kena omel beliau.
“Robby, lo bantuin Cindana, kek,” kata Dian emosi.
“Ya ... udah. Lu bantuin aja dulu. Gue mau ingetin Miss Devi masuk kelas,” kata gue, dengan nada kebingungan. “Nanti kalo nggak masuk kelas terus dia ngambek, siapa yang kena? Gue juga.”
“Gimana, sih?!” Nada bicaranya meninggi. “Lu, kan, ketua kelas. Tolongin dulu, kek!”

Gue cengok. Gue harus ketemu Miss Devi! Tapi kalau gue ketemu Miss Devi, nanti gue dianggap sebagai ketua kelas egois yang mentingin urusan pribadi. Bodo amat deh. Gue mending manggil Miss Devi demi nilai rapor gue aman. Egois, sih. Gue baru sadar, kenapa gue nggak minta tolong teman laki-laki yang lain aja?
“Suruh cowok yang lain aja.” Gue lari menuruni tangga menuju lantai bawah, ke ruang guru.

Sampai di depan kelas, yang nantinya akan gue tempati, gue melirik ke ruang guru dari jendela luar. Miss Devi udah keluar dari ruang guru. Gue nitip pesan ke seorang teman untuk menunda kelas karena sedang ada yang pingsan. Gue berlari ke lantai tiga, memastikan nggak ada keadaan lebih buruk terjadi, misalnya Miranda berubah jadi Naruto.

Begitu sampai di kelas lantai tiga, gue mendapati kenyataan buruk lainnya: Miranda udah nggak ada.
Maksud gue, dia nggak ada di kelas. Dia dibawa ke UKS. Ngapain gue ke sini?

Beberapa saat dia di UKS, alhamdulillah Miranda sadar. Menurut pengakuannya beberapa hari kemudian, penyebab utamanya pingsan adalah karena rasa takut berlebih sebelum maju presentasi Bahasa Inggris. Entah karena nggak siap atau karena apa, dia sepertinya menghindar.

***

Semua orang di sekolah pasti tau, bleep test selalu dijadikan ajang buat dicap “sehat”. Bleep test adalah tes kebugaran berupa lari bolak-balik berlevel berjarak 20 meter. Hampir semua orang, terutama di kalangan lelaki yang persaingan dan gengsinya begitu besar, pasti mati-matian ngedapetin level tinggi. Semakin tinggi levelnya, semakin lama larinya, dan semakin bagus nilainya. Padahal, kata guru gue, semakin tinggi levelnya berarti boleh dikategorikan sehat. Dengan catatan, setelah melakukan tes tubuhnya tetap bugar. Jangan setelah ikut tes, kaki kena osteoporosis.

Waktu itu ada pengambilan nilai bleep test. Semua orang di kelas ikut, termasuk Miranda yang maksa ikut tes. Dia punya riwayat penyakit berat. Kami semua khawatir akan ada sesuatu yang terjadi.
Sambil menunggu giliran, gue bercanda sama teman-teman yang juga nunggu giliran tes. Kami duduk di pinggir lapangan. Lagi seru-serunya ketawa, pandangan gue teralihkan pada benda biru, persis warna kaos olahraga gue, berukuran besar, dan tergeletak di lapangan.

Gue menunjuk ke benda itu. “Eh, eh, lihat tuh di lapangan.”
“Kenapa..., kenapa?” tanya Oky menghentikan tawanya.
“Itu ... kan ... Miranda. Ngapain dia? Lagi tidur ya? Kan lagi tes, kok dia malah tidur?” kata gue, polos.
“Bukan tidur, geblek!” Oky malah sewot. “ITU PINGSAN!”
“BANTUIN WOY!”


***
Catatan: tulisan ini adalah salah satu bab dari naskah buku yang gagal terbit (edit coret) pernah gue tulis dengan tambahan kejadian yang gue alami akhir-akhir ini. Gue ingat betul, di bulan ini, dua tahun lalu, gue ngirim naskah ke satu penerbit dan sampai sekarang nggak dikabarin bagaimana kabar naskah gue (diterima atau ditolak). Semoga nasibmu tidak dijadikan kertas daur ulang, Wahai Naskahku.

Dibakar aja nggak apa-apa.

Oh iya, selamat datang 2018! Mau bikin rewind-rewind gitu, nggak sempet terus. Huhuhu. Semoga hidupnya kita selalu membawa manfaat bagi orang banyak.

14 December 2017

Gagal di seleksi nilai rapor AKA Bogor, gue tetap semangat untuk ikut tes tulisnya. Alasan gue bersemangat adalah: 1) Tahun ini gue harus kuliah di bidang kimia, 2) Tes tulisnya nggak bayar. Jadi, saat seleksi rapor sebelumnya gue sudah membayar 100 ribu. Orang-orang yang nggak lolos seleksi rapor masih bisa ikut tes tulis. Lumayan, kan, membuka peluang untuk kuliah.

Pilihan gue masih sama seperti saat seleksi rapor: pilihan pertama Analisis Kimia dan pilihan kedua Penjaminan Mutu Industri Pangan. Masih ada jeda sekitar sebulan setelah pengumuman seleksi rapor, sekaligus sebulan pula waktu gue menghadapi SBMPTN.


Gue mengatur strategi untuk membuat semua yang gue pelajari jadi efisien dalam waktu sebulan. Setiap hari, gue mengerjakan soal-soal latihan. Mata pelajaran seperti Fisika dan Matematika lebih dulu ditendang. Gue fokus belajar mata pelajaran yang lebih mungkin buat gue kerjakan, seperti Tes Potensi Akademik (TPA), Bahasa Indonesia, dan Kimia. Sesekali kalau mood lagi bagus, gue belajar Bahasa Inggris dan Biologi. Matematika dan Fisika hampir pasti gue ikhlaskan di SBMPTN nanti.

Menjelang SBMPTN gue benar-benar menggembleng diri. Kerjaan gue cuma ngerjain soal, tidur, ngerjain soal lagi, dan tidur. Kebetulan saat itu sekolah pun sudah hampir selesai, tinggal nunggu hasil UN. Di angkot, menuju bimbel, gue nyempetin ngerjain soal TPA. Hampir ke mana-mana gue ngerjain soal TPA karena ngerjainnya nggak perlu mikir keras.

Hasilnya, dari try out ke try out, skor TPA gue terus meningkat. Jumlah soal yang bisa gue kerjakan (dan benar) juga menunjukkan kemajuan yang bagus. Saking gilanya belajar TPA, gue pernah bikin postingan di Instagram soal bilangan deret, yang mana itu termasuk di tipe soal TPA.

Sayangnya, hal itu nggak diimbangi dengan porsi belajar Matematika dan Fisika. Untuk keduanya, pola belajar gue sedikit berbeda. Pertama, gue nonton video pembahasan soal dari CD pembelajaran. Gue pahami betul cara nyelesain soalnya, lalu gue coba soal sejenis. Gue menghitung dan nyontek mentah-mentah cara yang dijelasin di CD. Lima menit ngotak-atik satu soal, gue ketiduran. Kerennnya, kejadian begini selalu terjadi.

Saat pendaftaran pilihan jurusan di SBMPTN, gue nggak merasa kesulitan, bahkan nggak pernah pusing-pusing kayak teman-teman gue. Dalam hati, “Nanti gimana nih kalau gue nggak bingung jurusan? Nanti gue nggak bisa cerita apa-apa.” Heran gue juga. Pilihan udah mantap malah pengin ikut-ikutan bingung kayak orang lain.

Teman-teman yang lain gue perhatikan masih bingung dengan pilihannya. Rata-rata mereka sudah punya pilihan pertama, namun bingung memilih jurusan apa di dua slot tersisa. Gue, karena pengin banget Pendidikan Kimia, nggak banyak mikir panjang buat milih prodi itu di dua dari tiga pilihan yang dikasih.

Pilihan gue di SBMPTN:
1) Pendidikan Kimia – UNJ
2) Pendidikan Kimia – UNY
3) Kimia - UNJ

Hati gue masih mantap dengan tiga pilihan itu. Sampai pada suatu hari, gue bilang ke Dede, teman gue yang sudah masuk ITB, tentang pilihan jurusan gue.
“Itu bukannya passing grade-nya tipis banget ya?”
“Iya, bener. Tipis banget,” jawab gue.
“Nggak kebalik?”

Gue diam. Deg. Oh, iya, ya. Gimana kalau salah nempatin urutan jurusan?

***

Kalau memang pilihan gue ketuker posisinya, maka hampir pasti gue cuma punya satu pilihan di SBMPTN.

Gue berangkat agak siang ke SMAN 6 Jakarta, tempat gue akan tes SBMPTN nanti. Tujuan gue ke sini bukanlah mencari dedek-dedek gemes, melainkan untuk survei tempat ujian. Melihat anak-anak di sini, gue membandingkan dengan apa yang ada di SMA gue. Di sekolah ini siswanya bebas-bebas aja pakai sepatu warna selain hitam. Sekolah gue, warna hitam adalah warna mutlak untuk sepatu. Kalau kata orang-orang, SMA 6 itu sekolah hits Jakarta. Jadi wajar.

Teman sekelas gue, Nurul, ternyata tes di tempat yang sama. Gue bilang, “Nanti janjian dong, ketemu di sana.” Maksud gue bilang begitu biar kayak orang-orang. Lebih enak aja waktu istirahat ketemu temen sekelas buat saling dukung. Atau dengan kata lain gue pengin ngembat jatah makanannya.
Tanggal 10 Mei, gue pergi ke Bekasi untuk berangkat ke Politeknik AKA Bogor dari sana.

Sejujurnya gue nggak tahu di mana lokasi kampusnya. Gue sempat baca di sebuah blog, katanya, orang-orang Bogor pun ada yang nggak tau di mana AKA Bogor berada. Gimana gue, ya, anak Jakarta yang ke mana-mana nggak ngerti arah di kota sendiri?

Dari Bekasi, gue diantar kakak gue dan istrinya. Kami bertiga berangkat naik kereta dengan kondisi nahan ngantuk. Tes bakal dimulai dua jam lagi. Badan gue penginnya rebahan aja di kasur. Turun dari kereta, perjalanan dilanjutkan dengan Grabcar.

Gue sampai di kampus Politeknik AKA Bogor setelah jalan kaki sekitar 100 meter karena jalan menuju kampus macet, tepat 15 menit menjelang tes dimulai. Kesan gue ke kampus AKA Bogor nggak jelek-jelek amat. Waktu gue ke sana, gue tetap masih merasakan kearifan lokal yang ada di Jakarta: macet dan panas. Kalau memang nantinya gue kuliah di sini, ikhlas deh jadi anak kos. Tapi, tes aja belum, gue udah ngebayangin bakal kuliah di sini. Tes rapor aja nggak lolos, gimana tes tulisnya ya?

***

“Waktunya 3 jam?”

Gue hampir nggak percaya melihat durasi tesnya yang, menurut gue, kelamaan. Bagus, sih. Jadinya gue nggak perlu buru-buru. Hitungannya pun lumayan ribet, apalagi nggak diperbolehkan pakai kalkulator. Gue akan tetap mempertahankan kecepatan ngerjain soal SBMPTN yang sering gue lakukan selama ini.

Dalam tes ini gue menemukan hal-hal nggak terduga. Di antaranya:
Pertama, soal tes potensi akademiknya sangat-sangat wadaw. Istilah sinonim dan antonimnya mengenai istilah kimia dan fisika. Gue, kan, nggak paham jadinya.

Kedua, ternyata soal tesnya nggak ada soal Matematika. Gue kira akan ada adegan pergelutan hebat dengan soal matematika selama berjam-jam. Begitu juga dengan Fisika. Alhamdulillah ternyata nggak ada.

Ketiga, gue lupa pakai deodoran hari itu.

Dalam waktu dua jam, 100 butir soal tes masuk Politeknik AKA Bogor gue selesaikan tanpa mengalami rasa pusing. Keren. Tapi, gue malah jadi takut nggak lolos dengan begini. Ujung-ujungnya malah pusing mikirin ketakutan setelah ujian.

Pikiran selepas tes itu terbawa sampai di kereta dalam perjalanan pulang. Gimana kalau nggak lolos juga di tes tulis? Kalau SBMPTN bisa lolos mah nggak apa-apa. Kalau dua-duanya nggak lolos? AKA Bogor masih ada tes tulis gelombang II. SBMPTN? Ada, tapi nunggu setahun.

(Bonus: soal ujiannya disuruh bawa pulang. Gue scan aja dan di-upload ke sini. Siapa tau ada yang pengin belajar soalnya juga. Soal Ujian Masuk Gelombang I Politeknik AKA Bogor 2017)

 

***

Tiga hari berikutnya gue tes SBMPTN. Pukul 5 pagi gue naik bus Transjakarta. Di sana, gue malah ketemu Rohim, teman sekelas gue. Lokasi tes kami berbeda. Seperti dua orang yang akan bertarung di ring tinju, kami sama-sama saling menyemangati. Muka kami sama-sama ikhlas buat ngerjain soal nantinya.

Sampai di lokasi tes, gue langsung mencari tempat duduk ternyaman untuk menyantap roti dan susu cokelat. Gue menelpon orang tua di rumah.

“Halo. Ma, Robby udah di lokasi tes. Doain ya, Ma.”

Entah suara gue bisa sampai ke telinganya atau nggak, speaker handphone gue bermasalah saat itu. Agar meyakinkannya, gue mengirim SMS. Hal sederhana yang membuat gue setidaknya bisa lebih tenang.

Sesi pertama adalah soal Saintek. Soal-soal Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi masing-masing 15 soal dihadapi dalam waktu 2 jam. Mengikuti strategi yang sudah gue susun, gue langsung menuju soal-soal Kimia karena gue tahu kekuatan gue di situ. Sudah terbiasa mengikuti try out, gue cukup pede untuk meninggalkan soal Matematika IPA dan Fisika. Meminjam istilah dalam judi pertandingan bola: “Biar dapat poin dulu.”

Nomor-nomor awal soal Kimia masih mudah. Nomor kelima dan seterusnya nggak terlalu susah, tetapi gue nggak langsung dapat jawabannya. Nggak biasanya bentuk soal seperti ini. Gue loncat ke nomor lain. Selalu begini: baru ngerjain setengah jalan langsung stuck. Cengok. Lalu ingat pesan motivasi yang gue buat sendiri, “Jangan diem aja kalau ngadepin soal. Waktu lu habis buat bengong.”
Bosan dengan soal Kimia, gue pindah ke soal Biologi. Belajar dari try out sebelumnya, kekuatan kedua gue ada di Biologi. Dapat satu soal yang gue yakin benar, gue pindah lagi ke Kimia. Penting memang buat dapetin satu soal benar.

Di Kimia gue merasa nggak bisa jawab apa-apa lagi. Dari 15 soal Kimia, gue sudah menjawab 9 soal, yang mana bagi gue bukanlah sesuai target. Target gue untuk soal Kimia adalah menjawab 12 soal benar. Setiap soal benar mendapat poin 4. Bila semuanya benar, artinya: 12 x 4 = 48 poin yang gue dapat hanya dari Kimia. Tapi, hal ini sulit terjadi.

Fokus gue pindah ke soal Fisika, yang masih nyerempet dikit sama Kimia. Kelimabelas soal nggak ada yang bisa gue jawab. Lutut gue lemas. Kemudian pindah ke soal Matematika IPA. Soal Matematika pun nggak jauh beda dengan soal Fisika. Mau gue pulangin aja soalnya ke pengawas.
Gue harus ngerjain apa lagi? Ngintip lembar jawaban orang lain, kertasnya berkilat kena pantulan cahaya yang mengenai hitaman pensil 2B.

Kemudian sesi kedua, yaitu Tes Kemampuan Potensi dan Akademik (TKPA). Di sini terdiri dari soal tes potensi akademik (TPA), Bahasa Indonesia, Matematika Dasar, dan Bahasa Inggris. Harusnya, sesi ini kita, sebagai peserta, harus cepat dan tepat ngerjain soal karena soalnya relatif lebih mudah dibanding Saintek. Namun, ketika bel dimulainya pengerjaan soal dibunyikan, di ruangan gue masih banyak yang ngisi biodata dan sebagainya akibat dari terlambatnya pembagian lembar jawaban. Alhasil, banyak banget yang kesel sendiri. Gue sendiri contohnya.

Bagaimanapun juga, sesi ini cukup mengobati patah hati gue nggak ngerjain banyak soal di sesi Saintek. Soal TPA bisa gue kerjain 35 dari 45 soal, Bahasa Indonesia 10 dari 15, Bahasa Inggris dan Matdas 4 dari 15.

Pada akhirnya gue nggak ketemu Nurul. Dia juga udah pulang duluan diantar orang tuanya. Gue naik bus Transjakarta. Lalu di halte, gue ketemu Rohim (lagi).
Gue nanya, “Gimana tadi?”
“Ya, begitulah,” jawab Rohim.

Lalu kami bercerita tentang soal SBMPTN dengan nada kesedihan.

***

Hari itu juga, lembaga bimbel gue bikin quick count untuk memprediksi lolos atau nggaknya peserta SBMPTN, dengan cara memasukkan jumlah jawaban benar dan salah di sistem buatan mereka. Mereka menyediakan kunci jawaban yang soalnya telah dibahas di websitenya. Soal didapat dari murid-murid bimbel tersebut. Namun, hanya soal Saintek aja yang bisa dibawa pulang. Isu yang beredar, soal-soal TKPA dikumpulkan dan dibakar.

Gue menunggu kunci jawaban kode soal gue. Belum muncul juga di websitenya. Malam harinya barulah ada dan langsung ngecek jawaban gue.

Gue koreksi soal Kimia.
Benar: 6 salah: 4.

Bagus, masih ada poin plusnya.

Beralih ke Biologi.
Benar: 1 salah: 2

Yak, mulai mengkhawatirkan.

Kemudian Fisika
Benar: 0 salah: 1

Kena minus.

Terakhir, Matematika IPA
Benar: 0 salah: 1

UDAH DUA PELAJARAN DONG KENA MINUS?

Gue pernah dengar dari seseorang di bimbel, “Yang penting jangan kena minus di dua pelajaran. Otomatis nggak lolos kayak gitu.”

Malam yang membuat gue muram.

Karena soal TKPA nggak dibawa pulang, jadinya gue nggak bisa nyocokin jawaban. Gue mengira-ngira berapa poin maksimal yang gue dapat di sesi TKPA. Setelah memasukkan jumlah benar dan salah di setiap mata pelajaran, baik TKPA dan Saintek, beserta pilihan jurusan, gue mengklik “lihat hasil”. Hasilnya:

“Anda tidak diterima di mana pun.”

02 December 2017

Sudah lama banget gue nggak keliling-keliling ke tempat wisata Jakarta. Gue lupa kapan menaruh label “Robby Bencong” di blog ini. Robby Bencong, perlu diperhatikan, bukanlah sebuah nama sekaligus jati diri, tetapi merupakan akronim dari “Robby Belajar Melancong”. Terakhir kali gue jalan-jalan, efeknya bikin gue kaget naik fly over setelah naik halilintar di Dufan.

Baca di sini: Berfantasi di Dunia Fantasi

Sepertinya gue lebih suka ke tempat wisata yang jenisnya visual. Lihat pemandangan sambil jalan-jalan lucu. Ini bukan berarti gue suka sama wisata-wisata yang menghadirkan setan, penampakan, dan sejenisnya. Makanya, sewaktu ke Dufan gue lebih banyak nontonin dibanding naik wahana, sembari ngasih komentar, “Aduh, itu organ dalamnya pindah nggak ya?”

Tempat wisata seperti itu banyak banget di Jakarta. Mulai dari museum sampai ngelihatin hewan-hewan (oh, ya, gue pernah nekat ikut lomba stand up di Museum Nasional, Jakarta. Ceritanya baca di sini: Lomba Stand up Comedy). Kebun Binatang Ragunan adalah salah satu contohnya. Apalagi dalam acara gathering atau kopi darat, Ragunan sering banget dijadiin usulan. Setidaknya dari 10 orang pertama pengusul acara kumpulan, Ragunan masuk di dalamnya.



Alasan dipilihnya Ragunan karena murah dan tempatnya luas. Kalau nyasar buat ketemunya juga gampang nyarinya.
“Lu lagi di mana?”
“Di kandang macan, nih.”

Tinggal samperin deh. Kalau bisa selamatin. Soalnya dia bilang di (dalam) kandang macan. Bahaya.

Memang, untuk pertemuan banyak orang, tempat kayak gitu paling enak. Misalnya lagi, TMII. Tinggal sebut lagi di anjungan provinsi mana, beres. Sangat nggak disarankan untuk kumpul di tempat yang luas dan nggak ada patokannya, misalnya di dasar laut.

“Lu lagi di mana? Gue di Laut Cina Selatan. Krusty Krab buka cabang.”
“Gue di Samudra Hin—“ Blup blup blup. Ngambang ke permukaan.

Kembali ke Ragunan.

Sesuai dengan judul, dalam tiga minggu terakhir gue pergi ke satu tempat, yaitu Ragunan. Dua kali dengan ceritanya masing-masing. Meskipun sudah dua kali pergi ke sana, tempat yang gue hafal hanyalah pintu loket utara. Itu pun deketan sama halte Transjakarta.

1. Gathering Koordinator
Pertama adalah gathering koordinator mahasiswa Bidikmisi 2017 sekampus. Gue mewakili prodi Pendidikan Kimia pergi dengan jeans dan baju merah, sesuai dresscode yang ditentukan. Awas aja kalau ada yang ngira gue kasir Alfamart. Nanti gue tawarin pulsa.

Gue berangkat sendiri ke Ragunan. Sampai di depan halte, ada orang yang manggil gue. Dia Aulia, koordinator prodi Kimia. Dia sendirian bawa-bawa sekresek gede makanan ringan. Beberapa menit berselang, teman-teman gue dari Fakultas MIPA mulai bermunculan. Namun, sampai acara dimulai, cuma gue cowok dari Fakultas MIPA. Gue hampir diem aja sepanjang acara karena cowok-cowok yang gue kenal memang cuma dari sefakultas.

Kebiasaan dari forum ini adalah “Permainan Kenalan”. Gue nggak ngerti apa namanya, tapi kenal nama di sini jadi sangat penting. Dalam satu lingkaran, orang pertama menyebutkan nama. Orang kedua, sebelum menyebutkan namanya, harus nyebut nama orang pertama, barulah menyebutkan namanya. Orang ketiga begitu juga, harus nyebutin orang pertama dan kedua. Begitu terus sampai orang ketigapuluhenam.

... dan gue orang ketigapuluhenam. Boro-boro hafal 35 orang sebelum gue, sampai orang kesepuluh aja udah bagus.

Akhirnya, orang di sebelah gue ngasih sontekan berupa daftar nama yang dia ketik di notes. Setiap orang nyebut nama dicatet. Jadi, kerjaan gue adalah nyebutin mereka satu-satu. Harusnya gue sebut namanya, baru gue tunjuk namanya. Gue membuat terobosan baru dengan mengabsen mereka satu-satu. “Yang namanya saya sebut, angkat tangan, ya,” kata gue.

Lalu mainan selanjutnya adalah “Tebak Suara Siapa?”. Semua orang dalam keadaan matanya tertutup. Dari kakak-kakak panitia nepuk pundak seseorang buat bilang “halo”, lalu ditunjuk satu orang buat nebak suara siapa yang bilang “halo” tadi. Orang pertama salah nebak. Orang kedua salah nebak dan ketawa-ketawa.

Orang kedua itu gue.

Akhirnya ada empat orang yang pundaknya ditepuk, dijadikan ketua kelompok games. Kami dikelompokkan membuat yel-yel dan jargon. Entahlah, gue nggak ingat gimana yel-yel yang dinyanyikan. Itu adalah yel-yel ter-nggak-bikin-nempel-di-ingatan karena gue sendiri ketawa-ketawa doang.

Gamesnya sendiri cukup keren. Kami dikasih clue untuk dipecahkan bersama seorang kakak panitia. Clue-nya tentang hewan-hewan yang ada di Ragunan, lalu difoto bersama kelompok. Serunya lagi, foto itu harus cepet-cepetan dilaporin ke grup panitia. Akan selalu ada pertanyaan, “Hewan ini udah?” Kalau belum, bakal lari-larian ngejar di mana kandangnya.

(Kalau tanggal 19 November 2017 kamu ngelihat ada orang lari-lari di Ragunan, patut curiga kamu bertemu saya.)

Jari telunjuknya mana?

Selanjutnya sesi makan-makan. Gue makan rujak bareng teman yang baru gue kenal saat itu juga. Namanya Fauzi. Dia anak Teknik Mesin. Dia cerita seputar kehidupan di prodinya.
“Wah, kalau nggak bisa jawab, bisa-bisa disuruh push up,” akunya. “Saya pernah kena sekali.”
Anak teknik memang beda, kata gue dalam hati.

Satu hal yang membuat gue nyambung dengan dia adalah obrolan kimia. Dia pun belajar kimia mengenai bahan-bahan keteknikan. Kalau dia ngomongin “besi”, “mol”, “aluminium”, sedikit-sedikit gue ngerti. Inilah yang dimaksud Chemistry menyatukan chemistry.

Di akhir acara ada sharing tentang permasalahan yang dialami mahasiswa Bidikmisi di prodi masing-masing. Karena di prodi gue cuma ada satu masalah aja, gue jadi nggak banyak omong. Lalu dilanjut dengan sesi tukar kado. Sesi tukar kado ini bikin gue susah nahan ketawa, sekaligus bikin gue takut ketawa juga. Karena banyak di antara mereka yang anak kos, kado di dalamnya isinya cukup out of the box; makanan ringan, permen karet dan uang lima ribu, dan mi instan lima bungkus beserta kertas bertuliskan “tolong isiin pulsa ya”. Gue dapat botol minum, dari hadiah gue yang cuma ngasih notes kecil. Tapi, jangan dikira notes itu udah gue isiin puisi-puisi romantis. Paling kalau niat, gue bikin tabel periodik di kover depannya.

Sekampus

Di perjalanan pulang beramai-ramai, Aulia nanya ke gue, “Robby, lu ngeblog ya?” Pertanyaan yang menjebak. Di satu sisi, gue agak malu kalau ketahuan suka curhat nggak jelas di blog. Di sisi yang lain, gue SENENG BANGET DONG akhirnya blog gue bisa menjangkau prodi lain. Nggak cuma di kelas aja.
“Kirain Robby Haryanto siapa. Pas dilihat blognya, ‘Oh, ini orang ngeblog’.”

Gue cuma cengengesan. Niat untuk nggak malu, malah jadinya malu-maluin.

Akhirnya, dari semua kegiatan ini, gue jadi kenal sama banyak orang di kampus. Meskipun kemungkinan besar setelah acara ini gue lupa nama mereka (diikuti dengan momen mengernyitkan dahi dan berkata: “aaah, pernah ketemu dan kayak kenal, tapi siapa namanya ya?). Dunia nggak sekecil kelas, prodi, dan fakultas. Masih ada lagi dari orang-orang di kampus yang bisa memperkaya pengetahuan gue.


2. Observasi
Dua minggu berselang, tepat pada hari pertama di bulan Desember 2017, gue dan teman-teman sekelas di Pendidikan Kimia B 2017 jalan-jalan ke Ragunan. Sebenarnya bukan disebut jalan-jalan. Lebih tepatnya observasi dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Biologi Umum.

Berbeda dari sebelumnya, kali ini gue pergi ke Ragunan bareng Farhan dan Azis, dua teman yang sebelumnya bersama gue ikut mabit di kampus B. Acara mabit masih berlangsung, kami bertiga meninggalkan acara lebih dulu. Udah janjian sama temen-temen buat datang pagi soalnya.

Sampai di sana baru ada tiga orang, dan masih pukul 7.30. Orang mana lagi yang wisata ke Ragunan sepagi ini? Pegawainya juga belum tentu udah datang semua di dalam.

Sambil menunggu teman-teman yang lain, gue iseng memotret kucing liar di sekitar halte dan memberinya roti.

APA NEH FOTO-FOTO?!
Kami semua masuk sekitar pukul 8.30. Fokus pertama adalah nyelesain tugas observasi lebih dulu. Kelompok gue kebagian mengamati hewan primata. Kalau memang boleh, menurut gue, kenapa nggak ngamatin manusia aja ya? Manusia, kan, termasuk kelompok primata. Nanti bisa-bisa gue malah ngamatin tingkah laku manusia di media sosial, dengan judul “Gaya Favorit Remaja dan Variasinya dalam Boomerang”.



Nggak perlu ke Ragunan deh.

Gue ngelihat di depan gue, ada primata—entah monyet entah kera. Gue bersiap mengambil pulpen di tas untuk mencatat. Jari tengah kanan gue merasa tertusuk di dalam tas. Mungkin cuma kena jangka. Tiga detik kemudian, darah ngucur sepanjang 1 cm. Setelah gue lihat di dalam tas, ternyata silet tajam penyebabnya. Gue lupa, mungkin waktu itu saat praktik biologi lupa menutupnya kembali. Darahnya terus mengucur. Bagusnya, gue nggak nangis.

Pindah ke kandang sebelah, gue tetap mengamati mereka. Lucu-lucu. Ada owa, lutung, dan jenis-jenis monyet. Sewaktu sosialisasi organisasi di kampus, gue pernah jawab tentang “perbedaan kera dan monyet”. Jadi, gue sebut monyet karena hewan yang gue lihat memiliki ekor. Kesimpulannya: kalau ada orang dikatain “MONYET!”, coba periksa dulu di bawah pinggangnya.

Kemudian gue melihat primata ini. Gue nggak sempat mencatat namanya. Dia tampak sekeluarga. Tiba-tiba muncul hewan sejenisnya yang lebih kecil melompat-lompat, seperti seorang anak yang bahagia karena kedatangan tukang cukur (ya, gue juga nggak tau kenapa tukang cukur). Dia melompat-lompat, masuk ke dalam tong, melompat lagi, nyantol di pagar, ndusel di badan indukannya, lalu dikeplak. Kasihan dia.

Keluarga sederhana
Ada satu momen yang membuat gue melamun. Bukan melamun jorok tentunya, tetapi melamun sambil mikir. Gue sedang berada di depan kandang gajah. Ekor-ekor mereka berayunan harmonis, persis seperti saat gue praktikum fisika menggunakan tali dan bandul. Di tengah rintik gerimis, kepala ditutupi jaket, dan bau kotoran gajah, pikiran gue mengawang. Dalam momen ini, muncul potongan-potongan film dokumenter gajah yang pernah gue tonton di TV. Gajah jadi langka. Sedih rasanya, hewan selucu itu banyak diburu hanya untuk kepentingan pribadi. Muncul juga film Thailand tentang gajah. Momen begini cocok banget disetelin lagu “Desember”-Efek Rumah Kaca dan “Gajah”-Tulus.

Sambil jalan, gue merenung. Kasihan hewan-hewan di sini geraknya terbatas. Nggak seperti kucing yang gue foto dan makan roti coklat. Nggak seperti burung merpati yang pernah gue pelihara lalu terbang jauh dan nggak balik lagi ke kandang. Nggak seperti manusia, makhluk kelas animalia yang paling dinamis dan berakal. Di sini mereka jadi tontonan; semakin membuat gue kasihan. Bagusnya mereka di sini dirawat. Semoga selalu begitu. Semoga nggak ada kejadian serupa di kebun binatang di Surabaya.

Pengamatan selesai dibarengi dengan selesainya kelompok lain juga. Gue akhirnya ketemu lagi bareng temen-temen cowok di kelas. Di kampus kami sering kumpul bareng, makan bareng, kuliah bareng (yaiyalah!). Kali ini, kami harus foto bareng, meskipun minus satu orang.

Pejantan di kelas
Di kandang macan, ide-ide liar kami tersalurkan. Udah di sini ngayalnya ngawur-ngawur semua. Tapi semuanya seru-seru aja, biar memancing ide-ide kreatif. Ide gue hanya sebatas “gimana ya, kalau semua hewan di Ragunan ini masuk di kandang macan? Jadi arena gladiator, gitu”.
“Eh, ayo lihat merak, yuk,” ajak Rama. Sepertinya Rama pengin ngelihat mekaran sempurna ekor merak yang sempat dikirim kelompok lain dalam pengamatannya.
“Jauh,” jawab gue.
Kemudian kami semua hening. “Di mana emang?” tanya Rama.
“Di pelabuhan. Banten,” jawab gue.
Kerah baju gue hampir aja jadi inceran. Dan hampir saja mereka melempar gue ke kandang macan.

***

Setelah Jumatan, beberapa dari kami terpisah menjadi tiga kelompok. Ada yang main sepeda, ada yang masuk ke Pusat Primata Schmutzer, dan ada yang pulang. Gue masuk ke kelompok kedua.
Padahal gue bilang, “Gue nggak ada duit.” Namun, seseorang yang berbaik hati telah bayarin tiket masuk ke sana. “Udah, ikut aja,” ajak Yusuf. Yang tadinya gue lesu (dompet juga hehehe), berubah jadi semangat. Siapa yang bisa nolak kalau dibayarin?

(Credit: Makasih yang udah bayarin.)

Sekelas minus beberapa orang
Di Schmutzer banyak primata dan spot-spot foto yang seru. Teman-teman gue langsung ngeluarin handphone mereka buat mengambil gambar di setiap tempat yang melewati. Sedangkan gue cuma motoin karpet dan lumut. Entah apa tujuannya.

Dan satu foto ini maksudnya adalah persahabatan yang selalu bersinergi dan nggak ada putusnya.


Selain moto karpet, gue banyak foto bareng orang ini. Namanya Yusuf.

Mau foto tapi malu. Akhirnya cuma bisa memandang dari kejauhan uwuwuw.
 Selanjutnya dengan tema foto "Terserah Lu Aja Deh".


Foto berikutnya sebenarnya gue maksudkan sebagai apresiasi kepada Yusuf yang pernah ke kampus dalam keadaan salah bantal. Tapi kepala gue malah lebih-lebihin salah bantal.

Apresiasi besar untuk Yusuf yang pernah salah bantal tapi tetep ke kampus.

Tempat ini dibuat dengan kondisi dibuat mirip gua: gelap dan lembap. Sewaktu gue lihat ke atas, “Wah, ternyata gua modern. Ada AC Panasonic-nya.” Pantesan adem. Bawaannya mau tidur aja di sini.

Sewaktu kecil gue pernah ke sini bareng mama gue. Seingat gue, di tempat ini ada kran yang airnya bisa langsung diminum. Kebetulan botol minum gue kosong. Sesampainya di kran yang dimaksud, gue ambil botol minum dan me-refill-nya. Setidaknya gue nggak minum dari botol sisaan punya orang lain.

Waktu sudah sore, kami memutuskan untuk pulang. Gue naik bus Transjakarta rute Ragunan-Monas.

“Mas, mas, halte tujuan akhir, Mas,” ujar seorang penumpang sambil menepuk pundak gue.



Oke. Ketiduran di bus lagi.

--

Semoga dengan jalan-jalan ini pertemanan di antara kami akan terus solid. 

25 November 2017

Gue sebenarnya introvert.

Eh, sebentar....


Apakah orang-orang introvert itu ngaku dirinya introvert? Kata orang, introvert itu malu buat nunjukin siapa dirinya. Apakah karakternya itu benar-benar layak disebut sebagai introvert? Halah, ini pembukaan malah bikin diri sendiri bingung.

Lewatin aja, lewatin.

Apa ya, cara nyebutnya? Mungkin gue lebih pantas disebut textrovert: orang-orang yang bawel di ketikan. Di antara sela-sela keyboard, banyak banget omongan yang mau gue sampaikan. Dari ketikan pula, gue sedikit-sedikit bisa menjadi orang yang keluar dari zona lama gue sebagai anak yang pendiam. Namun, beberapa kondisi membuat gue tetap menjadi seorang pendiam kembali. Misalnya, kalau lagi ziarah. YA MASA GUE HARUS ORASI!

Dari ketikan, gue belajar gimana caranya kenalan. Sewaktu main, ehem, ... Omegle, gue suka banget nyapa orang duluan. Begini:
“Hi.”
“Hi.”
“Asl.”

Iya, sih. Nggak bakal kepake juga di dunia nyata “asl” itu.

Bukan di Omegle mungkin yang kultur kenalan pake “asl”-nya begitu kuat, melainkan di Skout atau di, ehem, ... Tinder (GUE AHLI BANGET SOAL APLIKASI STRANGER CHATTING YA. HUAHAHA). Skout atau Tinder nggak bikin gue lebih asing karena antara gue dan lawan chat bisa ngelihat foto masing-masing. Meskipun itu cuma foto kartun atau artis, gue sedikit bisa menebak ke mana arah pembicaran seharusnya. Belum lagi adanya fitur profil yang ngasih referensi topik apa yang bakal siap dibicarakan.

Misalnya, bio si lawan chat ada keterangan “anime”. Kurang lebih, gue harus tau dunia anime itu kayak apa. Karena gue nggak ngerti anime-anime-an, mentok-mentok gue cuma nanya, “Kamu jagoin Hyuga atau Tsubasa?”



Satu kali gue pernah ketemu orang Spanyol di Skout. Nggak biasanya gue bisa sampai balas-balasan tiga kali dengan orang luar, tentunya dengan bahasa Inggris seadanya. Chat hanya berputar pada pertanyaan “Where are you come from?”, “What are you doing?”, dan “Don’t smoking”. Yang ketiga nggak deh.

Ketika gue tanya umurnya, dia baru 12 tahun. Gokil juga. Apa karena anak ini nggak punya temen main di lingkungan rumah makanya main Skout?

Lalu, ada lagi orang Thailand. Agak mengejutkan sewaktu dia membalas bukan dengan bahasanya, dan dia langsung bisa menebak gue adalah orang Indonesia. Apa jangan-jangan orang Indonesia yang main Skout itu tujuannya sama, ya, makanya bisa terciri?

“Foto kamu ngingetin aku sama orang sebelum kamu,” jawabnya dengana bahasa Inggris, sewaktu gue tanya kenapa bisa tahu kalau gue orang Indonesia. Keren juga orang ini. Berarti muka gue Indonesia banget di mata dia.

Ekspresi gue:



Karena sudah dianggap ahli dalam kenalan lewat ketikan, gue nyoba menantang diri untuk nerapin ke dunia nyata ketika menjadi maba. Namun, nggak seperti Tinder dan Skout, kenalan dengan sesama maba lebih mirip Omegle. Gue nggak pernah tau gimana isi “bio”-nya. Hanya ada wajah saja. Mustahil gue ketemu orang langsung bilang “Asl?”. Dikira gue lagi kumur-kumur. Maka gue mencoba pertanyaan, “Asalnya dari mana?”

Dan gue selalu tertarik ketika melempar pertanyaan itu.

Gue pernah ketemu sesama maba sewaktu pendaftaran ulang di kampus. Dia bertopi, tasnya besar dan penuh, berjaket hitam. Gue kira dia abis turun dari gunung.

“Permisi,” sapanya ke gue. “Kalau mau daftar ulang di mana, ya, Bang?”
Oke. Untuk ke sekian kalinya, gue nggak pernah bisa terima dipanggil “Bang”, “Pak”, atau “Pakde”.
“Nanti lurus, belok kanan, nah, belok kiri deh,” jelas gue. “Nanti bareng saya aja, Mas. Sama-sama maba, kok.”

Dia lalu mengikuti gue. Dia cerita, asalnya dari Sidoarjo. Di sini tinggal ngekos dan belum tau banyak soal Jakarta. Sekalinya tau Jakarta, dia malah ngobrol sama gue—orang Jakarta yang nggak tau-tau amat soal Jakarta.
“Lho, kalau gitu, kenapa nggak ngambil kampus yang di daerahnya aja, Mas?” tanya gue sambil jalan menuju lokasi.
“Mau sekalian yang jauh, Mas,” jawabnya.

Beda banget deh sama alasan gue kuliah di UNJ. Berbeda juga dengan teman-teman gue yang merantau ke luar Jakarta.  Alasan “mencari sesuatu yang jauh”, bagi gue, cuma bisa dilakukan lewat dunia maya. Kenalan di Skout, Tinder, atau Omegle. Hanya itu yang bisa gue lakukan. Begitu pun dalam berteman. Karena selama koneksi internet masih ada, sejauh apa pun gue dengan orang lain, akan terus nyambung.

(Kalimat yang bagus, kan, buat jadi iklan provider?)

***

Banyak teman gue yang tahu apa itu WIRDY. Dua orang. Ya, senggaknya lebih dari satu, kan, disebutnya banyak. Rata-rata mereka nanya, “WIRDY itu siapa?” Lalu gue jelaskan pelan-pelan apa itu WIRDY. Dari pertanyaan dan jawaban itu, hampir selalu berakhir dengan kalimat: “Wah, bisa kenal gitu, ya.”

WIRDY bagi gue adalah kelompok kecil terenak buat bahas soal blog dan lika-likunya. Orang-orang di dalamnya seneng curhat, jadi buat gue tempat ini cocok. Kenal cuma lewat blog, belum pernah ada meet up semua orangnya. Beberapa orang ada yang pernah saling ketemu. Pernah ngobrol rame-rame sewaktu vidcall-an.

WIRDY cuma tempat ngobrol biasa di grup WhatsApp (Line juga ada, tapi jarang dipake). Nggak beda jauh sama grup-grup chat lainnya. Jadi, kalau kamu mau masuk grup ini, ya ... bakalan sama aja kayak grup WhatsApp-mu. Lagipula nggak ada sistem perekrutan di sini. Emangnya grup kepanitiaan, pake perekrutan segala.

Sampai saat gue mengetik tulisan ini, gue tiba-tiba kangen Jamban Blogger, terutama forumnya. Saat itu gue masih kelas 10, masa-masa nyari komunitas blogger biar kenal banyak orang. Gue inget banget momennya: Gue online, membuka forum, di saat bersamaan, gue nelantarin PR. Suram banget masa itu.

Gue ngelihatin orang-orang, mau ikutan nimbrung malu. Mau komen, “Bw balik, Gan” takut dikira salah forum. Itu, kan, bahasanya Kuskus, eh Kaskus.

Memang dunia blog sekarang nggak serame dulu. Gue ngelihat ramenya dunia blog lewat Jamban Blogger. Tapi bukan berarti dunia blog sudah mati. WIRDY, gue akui, nggak serame beberapa bulan lalu. Sebelum namanya jadi WIRDY—dulu WIDY—grup ini rame banget dengan cerbungnya. Setelah jadi WIRDY, kebetulan gue anak baru di sini, kami rame-rame bikin e-book. Di grup WhatsApp beberapa kali muncul pertanyaan: “Udah berapa yang download?”. Wah, gue kangen betul itu. Hehehe.

WIRDY adalah teman-teman jauh gue. Gue di Kalideres, Jakbar. Cuma Bang Yoga aja yang paling deket di Palmerah, Jakbar. Selebihnya, Kakak Icha di Samarinda, Kakak Wulan di Pekanbaru, dan yang paling jauh Bang Darma di Turki. Usia pun cukup jauh. Cuma gue yang belum masuk usia kepala dua (meskipun sering dibilang mahasiswa semester lima).

Meskipun jauh, tapi gue merasa dekat. Rasa-rasanya kayak lagu Zivilia. Dekat dalam artian ada banyak lingkaran yang bikin gue dan mereka ada di dalamnya. Atau, antara masing-masing orang, minimal ada satu persamaannya, yaitu sama-sama ngeblog.

Misalnya, antara gue dengan Bang Yoga yang tinggalnya di Jakbar. Mungkin gue orang yang paling histeris ketika denger Jakbar. Ketika Stand up Indo Jakbar ikut LKS Kompas TV, gue girang bukan main. Padahal bukan bagian dari mereka. Paling sering, saat ketemu orang nyebutin dia tinggal di Jakbar, jantung gue bakal terpacu lebih cepat buat kenal lebih jauh sama orang itu.

Di kampus apalagi. Bagi gue, orang Jakbar kuliah di Jaktim dan sanggup pergi-pulang adalah orang tangguh. Ketemu orang Jakbar, gue langsung nyambut, “AH, SERIUS? JAKBARNYA MANA?!” Beberapa orang penting di kampus ada yang tinggal di Jakbar. Motivasi gue jadi makin nambah ... buat nyari temen dari Jakbar. Siapa tau aja, kalau gue ditakdirkan lanjut kuliah di luar negeri, gue ketemu orang Jakbar juga. Nggak ada yang tahu.

Lalu Bang Darma. Dia satu almamater sama gue di UNJ. Bedanya, dia udah lulus, gue masih maba. Beberapa kali dia nanyain atau ngomongin soal kehidupan kampus di grup atau personal chat. Mungkin naluriah sebagai senior, pengin tau mantan kampusnya.

Kalau kedua wanita di grup ini nggak tau apa kesamaannya. Hahaha. Paling itu tadi, sama-sama ngeblog.

Seandainya kami bisa ketemu berlima, gue mungkin yang paling diem. Ini dibuktikan sewaktu beberapa bulan lalu, saat ada voice call segrup. Handphone gue yang kebetulan lagi rusak saat itu nggak bisa ngeluarin suara dengan jernih. Gue coba online di laptop, mendengarkan lewat earphone, tetap nggak bisa. Mau ikutan ngomong, tapi suara gue nggak nyampe. Nyari-nyari lubang masuknya suara. Deketin mulut ke speaker, nggak bisa. Deketin ke kabel juga nggak bisa. Akhirnya gue jadi yang paling diem.

Gue mengambil kesimpulan dengan menganalogikan pertemanan ini dengan susunan tim Program Kreativitas Mahasiswa atau PKM.

Dalam sebuah kesempatan, gue pernah dengar seorang pembicara berkata bahwa sebuah tim PKM yang ideal adalah tim yang isinya (anggotanya) berasal dari berbeda-beda jurusan, fakultas, dan angkatan. Dengan begitu saling melengkapi ilmunya, kesempatannya, dan pembagian tugasnya. Kalau senior lagi sibuk, juniornya bisa bantu ngeprint proposal. Begitu juga sebaliknya.

Gue ngelihat WIRDY sebagai “tim PKM”. Kami berbeda-beda umur, daerah tinggal, dan latar belakang pekerjaan. Entah sampai kapan begini. Tapi, cuma makasih yang bisa gue ucapkan kepada kalian karena gue bisa ngerasain punya teman yang jauh jaraknya.

---

WIRDY lagi ulang tahun yang kedua, bertepatan sama Hari Guru. Ada yang mau disampaikan?

Sumber gambar:
https://pixabay.com/en/notebook-pen-eyewear-article-note-2672467/
https://www.duniaku.net/2015/06/06/captain-tsubasa-hyuga-final-liga-champions/
http://popkey.co/m/DDeM-happy-spongebob-cartoon-lol-shy-lolz

18 November 2017

Untuk masa-masa seperti sekarang, gairah dan semangat sedang tinggi-tingginya, momen yang gue suka adalah waktu antara Subuh hingga matahari mulai terbit. Dibanding sore yang menenangkan—tentunya diiringi lagu-lagu Payung Teduh, gue menyukai pagi karena memberikan rasa semangat. Mungkin nggak hanya gue yang menyukai pagi. Orang-orang yang bekerja pun suka. Meskipun dalam benaknya, entahlah, sedikit muncul pikiran, “Yah elah, udah pagi lagi. Waktu terasa pendek.”



Sebagai orang yang sering memulai hari dari pagi-pagi gelap, gue bisa melihat manusia dan interaksinya lebih banyak dibanding orang-orang yang bangun siang. Pemandangan “lomba lari di jembatan penyeberang orang (JPO)” sudah biasa gue lihat, bahkan gue suka “nantang” diri sendiri buat ngebalap siapa aja yang ada di depan gue. Mirip kayak Viru Sahastrebuddhe, dosen killer di film 3 Idiots yang nggak pernah mau ada yang ngedahuluin dia. Pokoknya harus selalu terdepan.

Lalu di tangga JPO. Seringkali gue ngelihat dua orang yang jalannya lambat banget, menuhin lorong. Bukan karena mereka pacaran, tapi mereka menghalangi jalan gue. Gue harus nahan-nahan diri buat bilang “Air panas, air panas!” biar mereka mau minggir.

Pindah ke angkot. Gue hampir selalu menemukan satu orang ini. Orang yang gue maksud ini nggak selalu gue lihat. Tapi, sekalinya gue lihat lagi orang ini, gue benar-benar kagum.

Dia adalah seorang ibu penjual makanan—entah kue, entah ikan mentah. Ibu ini membawa dagangannya dalam bak plastik, lalu ditaruh di atas kepala. Ya, kepalanya sendiri! Bukan kepala suku. Kepalanya dililit kain berlapis buat menopang bak—yang gue yakin ada isinya. Nggak mungkin kosong. Lagian kalau kosong, kurang kerjaan amat yak!

Kerennya, dia jalan biasa aja. Nggak goyah. Meskipun gue nggak bisa jamin, kalau gue senggol atau gue kelitikin pinggangnya, baknya masih bisa bertahan atau nggak. Gue kagum ... sekaligus ngilu.
Dulu pun gue pernah ngelihat orang seperti itu sewaktu TK. Pertanyaan gue selalu sama: apa kepalanya nggak sakit? Apa nggak merasa oleng? Secara, ini kepala, lho. Petinju aja kena tampol di kepala bisa teleng. Nah, ini ada ibu-ibu bawa makanan di bak di atas kepalanya. Gue bangun tidur kena salah bantal aja ngeluhnya sepanjang hari.

Itulah kekuatan yang telah Allah kasih kepada hamba-hamba-Nya. Masya Allah.

Pindah lagi ke objek lain.

Setiap kali gue berangkat ke kampus, dekat halte Transjakarta gue selalu menemukan pemandangan yang selalu sama. Salah satunya adalah pemandangan matahari mulai terbit. Selain itu, gue juga melihat pemandangan yang nggak kalah keren dan bikin gue geleng-geleng. Saking takjubnya. Pemandangan itu adalah seorang bapak yang mengatur lalu lintas, sambil sesekali merokok, dan berkaos dengan sablon tulisan “GOOD PEOPLE DRINK GOOD BEER” di bagian depannya. Yang membuat gue takjub adalah ... kaosnya itu lagi, itu lagi.

Mungkin dia cuek. Tapi gue, yang sering merhatiin sepele kayak gini, selalu memperhatikan hal ini. Kaos yang sama. Aktivitas yang sama. Respons dari gue yang sama: “Bau kaosnya kayak apa ya?”
Astagfirullah ngomongin orang.

Lanjut.

Gue berlari untuk dapat antrean bus paling depan. Niatnya biar bisa dapat tempat duduk lalu tidur. Walaupun sudah berlari dengan gesit, menghindari orang-orang, tetap saja ketika masuk bus harus berdiri. Itu sama rasanya kayak Messi gocek bola sana-sini, ngelewatin lawan (nggak pake permisi tentunya), udah di depan gawang, mau nge-shoot bolanya kempes.

Bagusnya setelah transit gue selalu dapat tempat duduk. Tapi, gue nggak langsung tidur. Pertama, baca buku dulu biar semua orang di bus ngasih pemakluman: “Oh, lagi belajar. Gak papa deh duduk.” Setelah satu halte dilewati, baru deh gue tidur. Orang-orang di bus, setelah gue bangun, pandangannya jadi beda: “Si kampret bohongan ternyata!”

Sampai di kampus, gue mampir sebentar ke perpus buat nulis laporan sekalian ketemu temen-temen. Sambil mengerjakan laporan, satu pesan WhatsApp masuk membuat konsentrasi gue hilang. Gue sempatkan untuk melihatnya sebentar.



Hanya berselang satu menit, ada pesan balasan.



Untung lagi di perpus. Kalau di luar, bisa-bisa gue ketawa, marah, nangis, dan guling-guling secara
bersamaan.

Jangan-jangan, orang ini baca judul postingan gue yang “Kamu Mau Nikah?”. Padahal itu, kan, tentang lagu “Akad”-nya Payung Teduh. Oh iya, ngomongin Payung Teduh, kaget juga karena vokalisnya keluar. Ditambah kaget setelah baca ini.

Kira-kira begitulah potret kehidupan pagi yang gue temui. Masih banyak hal-hal yang bisa ditulis sebenarnya. Bagi gue, pagi hari adalah langkah awal buat ngejalanin aktivitas seharian. Kalau hal buruk dianggap buruk padahal waktu masih pagi, patut dipertanyakan beberapa jam ke depan kayak gimana cara ngejalanin aktivitasnya.

14 November 2017

Halo, apa kabar?

Gue kangen membuka postingan seperti itu. Hal yang sama sebelumnya dikatakan Yoga Akbar di grup WhatsApp WIRDY. Setelah gue sadari, apakah perubahan ini menuju ke arah bagus atau jelek? Nggak tau deh.

Gue juga kangen membuka postingan dengan bilang, "aduh mau cerita banyak nih. Kalau kalian nggak mau baca lama-lama mending close tab aja". Makin ke sini gue nggak pernah bilang-bilang dulu kalau mau cerita panjang.

Gue juga kangen, memulai cerita dengan paragraf yang gak penting dulu. Nah, sekarang gue mulai cerita. Tapi mulai dari mana? Oh iya, bagian "bingung mau mulai dari mana" termasuk hal yang gue kangenin.

Begini...

Gue nggak pernah ikut OSIS. Namun, gue pernah ikut LDKS--yang biasanya jadi syarat masuk OSIS. Kelanjutannya gimana? Ya, tentu gue nggak lolos seleksi OSIS setelah LDKS.

Waktu itu, kelas 7, gue cuma nulis nama dan ekskul yang gue ikuti. Semua orang di kelas pun melakukan hal yang sama. Beberapa hari kemudian, secara acak, gue masuk dalam daftar orang yang ikut LDKS. Entah apa pertimbangannya, gue tiba-tiba ikutan LDKS. Yang makin bikin gue bingung waktu itu, GUE NGGAK TAU LDKS ITU APAAN.

Saat LDKS, lebih tepatnya LDKS jilid I karena ada jilid selanjutnya, gue ngelakuin apa aja yang dibilang senior. Disuruh jalan jongkok, hayuk. Makan permen dicelup garem, hayuk. Abis itu permennya digilir dari mulut ke mulut, hayuk! Saking polos dan nurutnya, gue dulu nggak ngerti jijik. 

Seiring dengan perkembangan otak, gue mengingat lagi kegiatan itu dan gue mikir, itu adalah acara aneh yang pernah ada. Nggak jelas dan kejam. Ada satu momen yang rasanya nggak akan pernah gue lupakan. Ketika itu, kelompok gue habis lari. Di ujung gang sudah ada kakak kelas lelaki berbaju batik sekolah. Dia nawarin sebotol air dalam botol 1,5 liter. “Kalian haus?”

“Iya, Kak.”

“Nih.” Dia nyodorin ke gue sambil senyum-senyum. Rasa haus telah menguasai diri, gue tenggak banyak sekali air itu, yang ternyata AIR GARAM! Ini percobaan pembunuhan gue rasa. Tenggorokan gue kena radang seminggu. 

Hah, terkutuk!

Astagfirullah.

Dan LDKS, bagi gue, selalu bikin orang nangis. Hal itu gue simpulkan setelah kakak-kakak OSIS (pura-pura) berantem. Gue hanyut dalam drama mereka. Ikutan nangis deh. Cengeng memang.

Masuk ke SMA, gue pelan-pelan ngerti maksud dan tujuan LDKS. Sesuai dengan namanya, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa, LDKS bertujuan untuk pelatihan kepemimpinan. Namun, di SMA pun gue nggak ikutan karena ... kegiatan tidur di kelas lebih enak.

Di dunia perkuliahan barulah gue merasa selama SMA kegiatan gue kosong. Nggak banyak modal kehidupan yang gue punya. Gue merasa sekolah begitu-begitu aja: datang, ngobrol, dengerin guru, tidur, pulang. Beda banget sama teman gue yang OSIS, misalnya Diki. Dia adalah ketua OSIS pada masanya. Pulangnya selalu Magrib. Hidupnya di sekolah nggak ngebosenin. Keren aja ngelihat dia.

Beberapa hari lalu gue ikut pelatihan kepemimpinan dari prodi di kampus. Salah satu alasan gue untuk ikut adalah banyak temen gue yang ikut. Hahaha. 

Foto-foto seperti ini harus nyelip di blog pribadi

Wajar, tahap-tahap maba masih harus bareng temen dulu.

Bukan hanya itu. Alasan paling mendasar adalah buat lebih tahu gimana caranya menata diri. Gue merasa, setiap kali ada banyak tekanan, gue nggak bisa nyelesain dengan baik. Akhirnya, gue malah kabur dari masalah itu lalu makin kepikiran terus. 

Lokasi acaranya ada di daerah Puncak. Jujur saja, ini baru pengalaman pertama gue ke Puncak. Selama ini, seperti yang gue tahu dari berita, gue taunya Puncak cuma daerah yang sering macet. Sekarang, lebih dari itu. Gue tau Puncak itu ... dingin! Keren juga lagi. Di balik kaca jendela bus, gue terkagum-kagum melihat pemandangan di luar yang isinya vila, pohon, dan kaleng kaca berisi asinan. “Wah, gila. Kenapa gue baru tahu sekarang, ya, kerennya Puncak?” batin gue. Sekaligus sebagai pengakuan kalau gue gagal jadi anak ibukota yang terkenal sering bikin macet Puncak.

Acaranya sendiri padet banget. Bangun sekitar pukul 2.30 pagi untuk salat Tahajud. Karena berada di daerah yang dingin, pertama kali berwudu badan gue langsung gemeteran. Udara dingin bikin gue pengin meluk magic com. Semua dilakukan sambil nahan-nahan ngantuk.

Pelatihan kepemimpinan mahasiswa (PKM), seperti namanya, isinya nggak jauh-jauh dari kepemimpinan, manajemen diri, dan organisasi. Buat gue, hal ini bisa jadi modal buat menghadapi dunia perkuliahan yang ada aja rintangannya. Pelatihan ini adalah ilmu yang aplikatif buat kehidupan sehari-hari. Beda dengan LDKS yang gue ikuti waktu SMP, saat ini gue lebih siap dan lebih ngerti apa makna yang didapat. Nggak sekadar asal dipilih dan ikutan.

---

Hari itu hari Minggu. Pulang dari PKM, di bus, gue mendapat satu pesan dari kakak gue. 

“Ke Puncak ada acara apa, Bi?”

“Pelatihan kepemimpinan, Mas,” jawab gue. 

“Ada tugas nggak buat Senin?”

DUAAARRR!

Sebenarnya gue sudah nyelesain tugas untuk hari Senin. Hanya ada beberapa laporan praktikum saja yang belum di-print. Gue berniat ngeprint di kampus. Denger-denger dari teman, di sana ada tempat ngeprint yang murah. Tapi entahlah. Gue malah ragu buat bisa ngeprint di kampus. Jadwal kuliah mulai dari pukul 7 sampai 9.40, lalu tugas laporan Fisika dikumpul pukul 10. Sepertinya nggak akan keburu ngeprint.

“Ada. Udah selesai, kok.”

Sampai di rumah, gue langsung mindahin file ke flashdisk kemudian pergi ngeprint ke warnet pukul 22.30. Jam-jam segini adalah hal biasa bagi gue untuk ngeprint. Bagusnya, di sana masih buka. Satu laporan telah tuntas. Masih ada satu laporan lagi yang belum dirapiin dan di-print. Nggak apa, kalau besok harus telat, maka telatlah.

Tugas laporan gue belum berhenti sampai di situ. Besok dua laporan praktikum Kimia harus dikumpul. Masih ada sedikit lagi bagian yang belum selesai. Gue membuat rencana bakal bangun tengah malam, sekitar pukul 2, seperti yang biasa dilakukan saat PKM, buat ngerjain laporan. Alarm sudah disetel. Nggak cuma satu, tapi ada tiga alarm dengan jeda masing-masing 15 menit. Gue tidur dengan nyenyak.

... sampai pukul 4.30. 

TUGAS GUE GIMANA DONG?! 

Mau nggak mau gue harus ngerjain di kampus atau di bus. Pukul segitu gue harus siap-siap berangkat. 

Gue mencoba berpikir tenang. Di kelas, gue nggak mau dosen lagi ngejelasin tapi gue malah asyik nulis laporan. Kalau kata pembicara sewaktu Kuliah Umum beberapa waktu lalu, itu namanya nggak here and now. Atau, kata guru Bahasa Inggris di SMP nyebutnya “lagi selingkuh”. Biar nanti aja ngebut ngerjain setelah praktik Fisika sebelum praktik Kimia lalu dikumpulkan.

Rencana gue gagal karena selesai praktikum pukul 12 lewat karena suatu hal (oh tentu, ini adalah bagian yang sensitif buat ditulis di blog muahaha). Praktikum selanjutnya, praktik Kimia, kelas gue harus pindah ke kampus B yang jaraknya sekitar 1,5 km. Butuh waktu paling cepat 15 menit kalau jalan kaki. Keluar dari lab gue berlari di pinggir jalan Rawamangun di antara teriknya panas matahari. Teman gue, Septi, memanggil dari jauh, “Sini bareng aja (sekelas) naik (angkutan). Pakai uang kas.” Gue hanya menggeleng dan terus berlari.

Di kampus B, gue datang lebih dulu daripada teman-teman yang naik Transjakarta atau angkutan lainnya. Dilanjutkan dengan salat Zuhur, kemudian gue ambil kertas laporan yang sudah gue cicil beberapa hari yang lalu. Plastik fotokopian di tas gue keluarkan untuk mengambil laporan dan melanjutkannya. Lembaran-lembaran kertas gue buka satu per satu, ternyata nggak gue bawa.

AAAARRRGH!

Akhirnya gue ngerjain laporan sejadi-jadinya. Nggak tanggung-tanggung, dua laporan gue kerjain dengan ngasal. Analisis dari laporan akhir gue tulis sedikit aja. Kesimpulan dari praktikum minggu kemarin gue tulis cuma tiga poin. Untuk hal paling gampang, yaitu cara kerja, gue lupa menulisnya. Ngaco banget pokoknya.

Namun, pada akhirnya, gue malah mendapat pelajaran paling penting dari PKM kemarin. Bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa memimpin dirinya sendiri terlebih dahulu, barulah bisa memimpin orang lain dan memengaruhinya. Dalam kasus gue, untuk memimpin diri sendiri aja gue masih belum maksimal. Laporan nggak selesai, kelabakan nggak jelas, dan tentunya manajemen waktu yang payah, mengingat beberapa hari yang lalu gue lebih milih main game daripada nulis laporan. Dodol emang.

Harapan gue setelah PKM adalah salah satunya biar bisa ngatur diri lebih baik lagi.  Yah, namanya juga belajar. Kayaknya, Nelson Mandela, pemimpin pergerakan Afrika Selatan, bakal bilang begitu kalau denger cerita gue.  

05 November 2017

Kata orang-orang bijak, sebuah rencana harus punya rencana cadangan biar seandainya gagal masih punya harapan. Begitu juga dengan memilih jurusan kuliah, yang nggak ada habis-habisnya disampaikan guru BK di kelas, “Kamu boleh fokus dengan satu jurusan. Tapi, nggak kalah penting buat punya rencana cadangan.” Begitu kira-kira yang dibilang.

Mengenai mencari rencana cadangan kuliah, gue masih bingung mau kuliah di jurusan apa selain Pendidikan Kimia. Jurusan itu masih jadi satu-satunya yang gue yakin bakal meraihnya. Tapi, kalau semuanya gagal, gue harus bagaimana? Setiap kali melihat grup-grup sharing tentang masuk kuliah, banyak banget orang yang cerita tentang kegagalannya berkali-kali buat masuk PTN. Rasa takut mulai menghantui gue. Apalagi setelah tau kalau gue nggak dapat jatah kuota jalur undangan.

Disuruh SBMPTN. 

Saya sudah mencoba SBMPTN (tes tulis) tahun kemarin. Hasilnya gagal. Saya pernah coba jalur undangan gagal juga. Ini tahun terakhir saya punya kesempatan ikut jalur tes masuk PTN. Kalau gagal juga ... saya berjuang di arena Benteng Takeshi aja deh. :(

Ungkapan itu seringkali punya dua makna buat gue: 1) Memotivasi gue buat terus berjuang, 2) KOK NAKUTIN YA?

Mungkin orang itu nggak bisa masuk PTN, tapi nunggu setahun, mengisi waktu dengan bekerja. Gue sendiri sadar, gue nggak punya keahlian apa-apa. Kalau gue maksa untuk kerja, gue bakalan sering nggak betah karena keinginan gue tetap mau kuliah.

Ketika itu, Yoga Akbar nanya gue untuk sedikit diskusi di motornya yang sedang melaju. “Menurut lu, setelah lulus SMA itu bagusnya langsung kuliah atau jeda dulu kuliahnya?”

Obrolan ini mengingatkan gue sebelumnya pada salah satu episode di Podcast Awal Minggu. Adriano Qalbi, host-nya, ngomongin soal kuliah versus kerja dulu. Diberi pertanyaan begini, gue merasa lagi ngepodcast bareng Yoga Akbar di motor.

“Kalau menurut gue, sih, lebih baik langsung. Soalnya ilmunya masih inget. Kalau dijeda dulu takut lupa-lupa,” jawab gue.

Gue memang lebih memilih kuliah daripada kerja. Hal yang juga didukung oleh Mas Arif, kakak gue.

“Masuk swasta aja kalau nggak dapat negeri. Ngapain kerja dulu, nanti lupa kuliah kalau udah kenal duit.”
“Tapi, kan, mahal.”
“Cari yang murah.”

Setiap inget perkataan “cari yang murah”, gue selalu ingat brosur-brosur kampus swasta yang nggak bisa gue bedain dengan brosur cicilan motor.

***

Kakak gue adalah seorang guru. Dia peduli banget sama pendidikan gue. Waktu SMP, dia mau gue masuk SMP yang bagus. Beranjak ke SMA, gue ditekan terus untuk masuk SMA favorit. Untuk kasus di SMA, gue malah sependapat karena SMA itu juga jadi incaran gue. Tapi, untuk kuliah, entah kenapa dia suka ngasih saran yang nggak pernah satu tujuan sama gue.

“Lu kenapa nggak nyoba STAN? Noh, Mas Itu (menyebut nama saudara) aja bisa masuk STAN.”
“Nggak ah. Mau jadi guru,” jawab gue, yakin.
“Jadi guru mah gajinya kecil.” Sepertinya dia lupa kalau profesinya adalah seorang guru. Gue kabur setiap dia bilang kayak gitu. Bahkan sampai-sampai gue lari ke kamar mandi karena nggak tahan dengan penilaiannya dengan cita-cita menjadi guru. Di kamar mandi, gue ngeguyur kepala sesering-seringnya, sambil nahan suara biar nggak ketahuan sedang nangis. Memang cengeng.

Omongannya itu pelan-pelan membuat gue mikir ulang buat nyari jurusan kuliah yang lain. Pernah satu kali gue bilang, “Mau Pertanian!” setelah dia tanya “Mau masuk jurusan apa?”—yang ke sekian kalinya. Dia cuma jawab, “Ngapain? Nggak bisa kerja di kota.”
“Tapi, kan...”
“Teknik Kimia aja. Bagus, nih,” katanya sambil scrolling di laptop gue. Dia membaca artikel “Jurusan Potensial Kimia”.
“Nggak bisa Fisika, Mas,” kata gue.
“Ya udah, STAN aja, STAN.”

Gue kabur lagi ke kamar mandi.

***

Menjelang tes-tes perguruan tinggi banyak orang yang jadi doyan bahas dan tanya soal. Gue bukannya nggak suka, tapi kesel aja waktu temen gue nanya, “Tadi soal ulangan gimana?” saat gue mau takbiratul ihram. Ini mau solat, lho, padahal.

Orang-orang bukannya istirahat malah ngisi buku soal latihan. Gue mau berusaha ngikutin gaya mereka, tapi nggak sanggup dan lebih milih baca buku Sherlock Holmes yang disimpan di loker kelas. Baru dua halaman baca, gue gelar karpet di belakang kelas. Tidur. Rasanya emang paling enak siang-siang tidur di kelas nungguin guru masuk.

Kebiasaan di lingkungan gue yang begitu aneh ini membuat gue sedikit terpengaruh. Gue jadi ikut-ikutan doyan ngerjain soal latihan buat UN. Untuk persiapan SBMPTN sendiri, paling yang gue kerjakan cuma latihan soal-soal Tes Potensi Akademik (TPA). Artinya, gue juga aneh dong? Bodo amat deh.

Lingkungan juga memengaruhi gue untuk ikut-ikutan mau coba STAN. Apalagi setelah dua teman sekelas, Rohim dan Diki, bilang mau nyoba daftar STAN. Saat itu, kondisi gue sangat tidak ada minat ke STAN.
“Ayolah, coba aja, By,” hasut Diki
“Iya. Coba aja dulu yuk.” Rohim ikutan menghasut.
“Gue bingung, nih. Gue tetep mau perjuangin pilihan sejak lama.”

Yang gue maksud adalah Pendidikan Kimia.

Diki mengatakan nasihat bijaknya sebagai mantan ketua OSIS. “Coba aja semuanya yang bisa dimasukin. Nggak ada yang tahu nanti kita masuk mana.”

Meskipun kalimatnya agak ambigu, perkataannya benar adanya ketika gue ingat lagi salah satu event di game Harvest Moon Back To Nature. Event itu adalah lomba balap kuda. Kita sebagai pemain hanya dapat bertaruh di event tersebut dan bebas memilih mana saja tanpa batasan. Semua kuda bisa dipertaruhkan, tapi yang membedakan adalah kuda itu akan membawa keuntungan yang beda-beda—harga menangnya berbeda.

Gue melihat hal ini sebagai salah satu jalan buat menghindari nganggur, eh buat kuliah. Coba dulu aja deh, biar nggak penasaran.

***

Pada suatu kelas pelajaran BK, di hadapan gue ada buku fotokopian yang di halamannya ada banyak banget nama-nama perguruan tinggi, baik negeri maupun kedinasan. Semua yang ada di buku tersebut tetap nggak ada yang menarik hati gue. Waktu itu keinginan gue masih mantap mau masuk Pendidikan Kimia. Jadi, setelah lihat semua jurusan yang ada, gue nggak tertarik lagi. Lagipula, sebelumnya gue sudah googling mengenai kampus yang punya program studi Pendidikan Kimia, utamanya Pendidikan Kimia UNJ.

Sembari menghabiskan waktu, gue membuka lembar-lembar berikutnya. Lembar itu isinya daftar perguruan tinggi kedinasan. Tertulis paling atas “Akademi Kimia Analisis”.

Kedinasan bidang kimia? Demi apa ada yang kayak gini? batin gue.

Pulang sekolah gue segera mencari informasi mengenai Akademi Kimia Analisis (AKA) yang letaknya ada di Bogor. Setelah gue cari tahu, AKA Bogor bukanlah perguruan tinggi kedinasan, melainkan perguruan tinggi yang berada di bawah naungan Kementerian Perindustrian. Entah benar atau nggak apa yang gue tahu saat itu, gue mulai tertarik mencoba daftar hanya karena ada kimia-nya. Di website-nya, masih ada jalur rapor untuk masuk. Cukup SNMPTN saja yang menutup kesempatan gue kuliah lewat jalur rapor, AKA Bogor jangan.

Setelah melengkapi pemberkasan dan mengirimnya ke kantor pos, gue masih harus menunggu waktu sekitar 1,5 bulan untuk menanti pengumuman. Kakak gue mendukung apa yang gue lakukan. “Bagus!” serunya. “Kalau masuk situ, lu bisa langsung kerja di Badan POM.”
“Ehm, nggak cuma itu, sih,” sanggah gue. “Paling di pabrik makanan.”

Ketika mendaftar AKA Bogor, gue diharuskan memilih dua pilihan jurusan. Di Politeknik AKA Bogor, hanya ada tiga jurusan, yaitu Analisis Kimia, Penjaminan Mutu Industri Pangan, dan Pengolahan Limbah Industri. Ketiganya adalah program diploma III. Pilihan pertama gue sudah pasti Analisis Kimia. Sekarang gue bingung milih apa di slot kedua.
“Pak, menurut Bapak, Robby pilih apa? Limbah industri atau pangan?” tanya gue kepada Bapak. Dia paling jago ketika dimintain saran. Terutama saran atas pertanyaan paling sering gue tanyakan di rumah: “Pak, sayur tadi pagi boleh dimakan lagi nggak?”

Sejujurnya, gue nggak mau bertanya hal ini. Gue punya kebiasaan nggak akan pernah cerita ke siapa-siapa tentang apa yang sedang gue lakukan dan rencanakan. Di akhirnya, gue tinggal minta izin untuk beraksi. Jadi, bagi gue, izin adalah nomor terakhir. Namun, minta pendapat kali ini rasanya penting.
“Limbah industri malah bahaya. Pangan aja lebih enak. Limbah kan banyak terpapar bahan kimia, gitu.”

Gue mengikuti perkataannya tanpa banyak ngomong “tapi”. Siapa tau, dengan gue mengikuti perkataannya gue bisa masuk sini dan terhindar dari nganggur.

Pilihan pertama: Analisis Kimia
Pilihan kedua: Penjaminan Mutu Industri Pangan.

Kirim deh lewat kantor pos!

***

Sekarang gue sudah punya pilihan untuk kuliah: Pendidikan Kimia, AKA Bogor, dan STAN.
Di antara ketiga itu, sama sekali gue nggak masukin target “Nilai UN rata-rata 9” dalam tujuan jangka pendek. Bagi gue, UN udah nggak ada rasanya lagi karena nggak menentukan kelulusan. Nggak peduli banget pokoknya. Yang ada di pikiran gue hanyalah tiga hal tadi. Bagaimana cara gue buat masuk sana?

Untuk STAN, mengikuti langkah awal teman-teman gue yang lain, gue membeli buku latihan soal masuk STAN di alumni yang berhasil masuk STAN. Setelah buku berhasil didapatkan, gue bersemangat 45 membuka lembar-lembar buku itu. Baunya enak. Jangan-jangan begini baunya parfum anak STAN. Halah, berkhayal kejauhan.

Paket soal pertama gue coba. Gue langsung lompat ke soal Bahasa Indonesia karena gue paham kemampuan Matematika gue tidak sehebat Einstein. Soalnya masih gue mengerti. Lalu gue pindah ke soal hitung-hitungan. Berkali-kali baca soalnya gue nggak ngerti, lalu kabur guyuran ke kamar mandi.

Mungkin di situ kesalahannya: Niat gue mau masuk STAN cuma ikut-ikutan. Selain itu, mungkin gue hanya mau membuktikan ke kakak gue bahwa gue siap (pura-pura) berjuang masuk STAN. Tanpa pikir panjang, gue nggak akan melanjutkan perjuangan untuk masuk STAN. STAN dan kimia sangatlah beda. Gue melihat buku soal bersampul hitam itu—buku soal STAN. Enaknya diapain, ya, ini buku?

***

Dengan menjual buku latihan soal STAN ke seorang teman, gue resmi mundur dari persaingan masuk STAN. Pilihan gue sekarang tinggal AKA Bogor dan Pendidikan Kimia. Pengumuman AKA Bogor pun sudah semakin dekat.

Gue sengaja bangun pagi untuk melihat pengumuman seleksi rapor AKA Bogor. Dengan kecepatan 4G dari Bolt, sangat mudah untuk gue mengetahui pengumuman dari AKA Bogor. Pengumuman dibuat dalam format pdf. Dua file pengumuman program studi D3 Analisis Kimia dan D3 Penjaminan Mutu Industri Pangan gue download. Gue harus melihat nama gue di pilihan pertama: Analisis Kimia.

Scroll.

Scroll.

Halaman kedua.

Scroll.

Halaman ketiga.

Scroll.

Habis.

Nama gue nggak ada. Oke, mungkin di pilihan kedua.

Gue lakukan hal yang sama seperti sebelumnya, hasilnya sama. Nama gue tetap tidak ada. Gue patah hati lagi setelah nggak dapat kuota jalur undangan PTN (SNMPTN). Gue melihat pengumuman lanjutan yang memberikan sedikit harapan:

“Bagi yang belum berhasil dalam jalur rapor, silakan mencoba kembali di tes tertulis pada tanggal 13 Mei 2017 tanpa membayar uang pendaftaran”.

Gue nggak lari lagi ke kamar mandi untuk guyuran.

---

Tulisan ini masih berupa kilas balik beberapa bulan lalu saat gue kelas 12. Cerita yang lain sebelumnya sudah gue tulis di label "Menuju PTN".

28 October 2017

Gue melihat tumbuhan sebagai makhluk yang menyenangkan. Dibanding memelihara hewan, gue lebih jago dalam merawat tumbuhan. Dapat dilihat dari track record, selama memelihara hewan gue lebih sering nyiksa dibanding merawat.

Tetangga gue juga bilang begitu. Dia seringkali mergokin gue sedang nyirem tanaman. Bukan, bukan disiram pake gula merah. Itu mah serabi. Yang ini disiram pakai air sumur.

Seorang tetangga bilang ke Mama sambil memerhatikan gue menyiram tanaman. “Robby ini seneng ngerawat tanaman, ya.” Mama gue cuma mengiyakan. “Ya, begitu deh.”

“Nanti kuliahnya di pertanian aja, tuh. Bagus.”

Waktu itu gue masih kelas 4 SD. Mendengar saran itu dari tetangga, jelas gue sedikit senang sekaligus gondok. Cita-cita gue mau jadi pemain bola!

Belakangan cita-cita itu pudar setelah ngelihat teman yang setiap kali main bola mimisan kegebok bola.

Meskipun nggak bisa gerak ke sana kemari seperti hewan, bagi gue, tumbuhan memberi kesan meneduhkan. Mungkin itu juga alasannya kenapa orang melihara ikan louhan; caranya berenang bikin adem. Coba, apa lagi alasannya kalau bukan yang meneduhkan dan membuat nyaman? Emang pernah denger ada bilang, “Gue melihara louhan biar hubungan keluarga jadi retak dong.”

Dibanding teman-teman seumuran juga, gue termasuk anak yang paling tertarik dengan tumbuhan. Gue pun memikirkan apa sebutan yang cocok untuk hal itu. Mungkin plantosexual. Lho, itu mah orientasi seksual ke tumbuhan dong? Mau kawin sama kaktus?

Bukannya sombong, saat gue merenungkan apa yang pernah gue lakukan saat masa kecil, gue bisa menilai waktu itu gue pencinta tumbuhan banget. Kalau diseriusin mungkin gue bisa jadi aktivis reboisasi. Gue melihat tumbuhan sebagai seorang kawan yang selalu merindukan siraman air sumur dari gue, sedangkan teman-teman gue ngelihat tumbuhan sebagai benda yang layak ditebas, disiksa, dan dipretelin tanpa harus ketakutan bakal melawan.

Padahal, tumbuhan adalah salah satu makhluk yang bisa melawan zombie.

Siap di garda terdepan

Kebetulan rumah gue (dulu) ada sedikit lahan yang diisi berbagai tumbuhan dalam pot. Cabe, pandan, suji, dan daun pecah beling ada di tempat yang gue anggap seperti panti asuhan ini. Tumbuhan-tumbuhan itu berkumpul layaknya anak-anak dalam asuhan gue sebagai kepala pantinya. Halah. Apaan itu.

Beberapa orang juga pernah memanfaatkannya untuk keperluan obat dan masak. Dari situ, gue merasa banyak sekali manfaatnya merawat tumbuhan.

Gue senang bermain-main dengan tumbuhan. Beberapa kali gue membuat eksperimen dari teman-teman gue ini (ya, memang kesannya jahat menjadikan teman sebagai bahan eksperimen).

Beberapa momen yang dengan banyak tumbuhan di lingkungan rumah ada yang masih gue ingat.

Pertama, ilmu menyambung tumbuhan. Gue lupa pernah dapat ilmu ini dari mana. Seingat gue, pada suatu hari gue menonton informasi yang menjelaskan tentang menyambung tumbuhan. Sampai akhirnya gue mengenal metode itu bernama cangkok. 

Guru SD gue saat kelas 6 pernah menyinggung soal mencangkok. “Kan enak ya, kalau kita bisa mencangkok ubi dan padi. Jadi, nanti ada padi yang segede ubi. Bisa sekali makan kenyang.” Mendengar hal itu membuat gue penasaran. Apa lagi waktu itu gue dibilang anaknya polos banget dan gampang percaya. Gue masih ingat betul beliau bilang begini di kelas:

“Kalian tau nggak teroris itu asalnya dari mana? Dari orang-orang yang polos, nanti otaknya dicuci. Nah, di kelas nih kayaknya ada yang begitu.” Dia mencari wajah-wajah muridnya yang sebentar lagi akan lulus SD ini. “Nih, Robby kayaknya, nih.”

Gue jelas nggak terima dibilang polos. Teman-teman gue selalu bilang “Wah, Robby udah nggak polos” sewaktu mereka ngomongin hal-hal jorok. Tuh, kan, teman-teman gue aja bilang begitu. Guru gue salah dong. Tapi waktu itu gue sempet bingung, maksudnya otak dicuci itu kayak gimana.

Rasa penasaran juga semakin memuncak setelah melihat anak sekolah tetangga ujian praktik IPA melakukan cangkok. Sedangkan gue cuma merangkai lampu secara seri dan paralel. Mana lampunya nggak nyala. Gue makin kesel. Setelah UN, gue mencobanya sendiri di rumah. Tentunya dengan modal kesotoyan.

Langkah awal gue adalah: mencari tumbuhan yang (harapannya) bagus kalau dicangkok. Berkat perkataan guru di sekolah, gue langsung mengambil objeknya adalah pohon pepaya. 

Awal yang bagus. 

Setelah itu, gue harus mencari tumbuhan yang kira-kira tumbuhnya cepat. Di antara tumbuhan yang berhasil tumbuh besar dari mulai benih sampai ke pohon yang pernah gue coba adalah pohon jarak. Pohon yang biasanya diambil buahnya buat bahan bakar ini lumayan banyak ditanam di sekitar rumah gue. Gue segera mencari pohon jarak yang sudah setinggi pinggang untuk disambung ke pohon pepaya.

Sampai sini, gue sudah membayangkan pohon pepaya yang tumbuhnya cepat. Atau, sejelek-jeleknya menjadi pohon pepaya yang buahnya jadi bahan bakar. Penemuan besar! Gue akan jadi ahli botani cilik saat itu.

Gue segera memotong pohon pepaya setinggi pinggang. Bagian atasnya gue sambungkan ke pohon jarak yang batang bagian atasnya gue buang. Gue mengambil gulungan solasi bening untuk menyambung keduanya. Namun, sambungan itu malah letoy. Gue coba berkali-kali disangga dengan kayu, tetap saja lemah sambungannya. Tenang, tenang. Ini langkah awal untuk hal besar. Robby Kecil sangat optimis saat itu.

Seminggu kemudian, kedua tanaman itu layu. Gue mendapati keduanya sudah tergeletak di tanah. Semangat gue juga layu. 

Ah, bener. Mending jadi pemain bola aja, batin gue

***

Mungkin waktu di rumah gue yang dulu pohon jarak adalah primadona. Gue seneng dengan pohon ini karena tumbuhnya cepat dan cara nanamnya lebih gampang. Tinggal diambil buahnya, dipendem di tanah, tunggu beberapa hari, tumbuh deh. 

Lalu tebas.



Di mes, gue bersama Sofyan adalah penggerak penanaman pohon jarak. Gue perintahkan dia buat menanam pohon jarak bersama. Biji yang kami tanam didapatkan dari pohon jarak milik Abah. Suatu malam, gue pernah nguping obrolan seputar buah jarak.
“Buah jarak itu bisa dimakan. Enak. Rasanya kayak kacang. Bijinya dibakar dulu, baru dikupas dalamnya.”

Sebuah info yang menarik. Beberapa hari kemudian, di sore hari, gue mencoba hal itu di antara bakaran sampah. Gue tawarkan buah jarak yang sudah dibakar ke Sofyan. “Lu nggak mau coba nih?” Sudah seharusnya seorang aktivis seperti dia menerima itu.
“Nggak deh. Buat lu aja.”

Gue menggetok batu ke biji itu, kemudian dikupas. Di dalamnya ada bagian daging berwarna putih. Benar-benar mirip kacang, batin gue. Gue mencicipinya, ternyata nggak terlalu buruk rasanya. Memang, sih, rasanya nggak mirip kacang. Setidaknya cukup enak buat dimakan.

Kebiasaan itu ternyata memberi efek candu buat gue. Beberapa kali setiap ada pembakaran sampah gue selalu nebeng api dari sana buat ngebakar buah jarak. Sofyan sesekali ikutan makan. 
Gue ingat malam itu. Sepertinya menjadi malam yang paling keren buat gue karena gue sudah menyiapkan empat buah jarak untuk dikonsumsi malam ini. Gue ke pembakaran sampah, lalu melempar buah jarak seperti biasanya. Satu bijinya gue ambil untuk dikupas kulitnya dan dimakan. Daging putih biji jarak gue makan. Kira-kira sudah melewati kerongkongan, gue mulai merasa mual. 

Akhirnya muntah. 

Sambil nyari tahu tentang buah jarak, untungnya nggak ada efek lebih jauh dari makan buah jarak. Gue baca di salah satu artikel, ceritanya persis tentang dia makan buah jarak. Penulisnya sempat ngerasain pusing. Kalau begini caranya, gue belum layak jadi petualang yang sekitarnya tumbuhan semua. 

Jadi pemain bola aja, udah!


Sumber gambar:
http://www.mangyono.com/2014/02/makan-buah-jatropha-curcas-jarak-pagar.html
https://www.bukalapak.com/products/s/buah-tanaman-jarak-pagar