Gue mulai rajin beli buku sejak kelas 9 SMP. Dengan kondisi keuangan yang cukup saat itu, gue mulai beli novel. Sampai sekarang, novel yang gue punya di lemari jumlahnya sekitar dua puluhan. Masih sedikit, sih. Tapi gue merasa udah banyak banget untuk kapasitas lemari yang nggak terlalu besar di rumah.

Daripada terlalu lama bertahan di lemari gue, alangkah baiknya buku-buku itu gue berikan ke orang lain yang ingin membacanya, yang dekat hubungannya dengan blog ini, yaitu pembaca blog robbyharyanto.com.

(Basa-basinya gini doang, kok. Maklum, gue amatir dalam membuat giveaway. Baru pertama kali.)

Jadi, gue mengajak kamu yang baca postingan ini, terutama yang sering mampir ke blog robbyharyanto.com, buat ikutan giveaway yang sedang gue adakan. Hadiahnya adalah buku koleksi gue. Jangan salah, walaupun bukunya bekas, gue punya kebiasaan baik merawat buku, kok. Buku gue kebanyakan disampul. Jadi, nggak terlalu jelek-jelek amatlah. Paling warna kertasnya aja yang sedikit menguning, kayak buku yang udah lama pada umumnya.

Nah, jadi bagaimana caranya mengikuti giveaway ini?

Pertama, buat postingan di media menulis online. Tulisan yang baru dan belum dipublikasikan di manapun, juga bukan arsip lama. Terserah mau di Blogger, Wordpress, Tumblr, Medium, Inspirasi.co, Hipwee, Wattpad dan semacamnya. Tema tulisannya adalah “Aku dan Buku”. Kembali lagi, terserah mau nulis dalam bentuk apa. Mau curhat, cerpen, puisi, pamflet iklan, skripsi, tesis, dan lain-lain. Yang penting sesuai tema.

Kedua, kirim link tulisanmu melalui mention Twitter @robby_haryanto. Kalau nggak punya Twitter, kirim link-nya lewat email robbyharyanto1@gmail.com. Kalau nggak punya email gimana? Jangan bercanda! Bikin dulu sana.

Ketiga, tungguin deh pengumumannya.

Untuk persyaratan, gue tidak memberatkan kalian untuk minimal lulus S1 dan berpengalaman kerja 3 tahun. Syarat utamanya adalah... ikutin aja langkah-langkah di atas. Mau nulis panjang silakan, cuma judul silakan. Tapi, nggak akan gue menangin! Hahaha. Gampang banget ya giveaway ini. Makanya buruan ikutan. (lho, maksa.)

Hadiah dari giveaway ini adalah:

Juara 1: The Fault in Our Stars - John Green (Qanita, 2015)


Novel terjemahan dari John Green, penulis bestseller dunia, yang menceritakan tentang kisah cinta sepasang kekasih yang tidak sempurna dalam fisiknya. Siapa, sih, yang nggak tahu buku ini? Bukunya sudah difilmkan!

Juara 2: Romeo Gadungan – Tirta Prayudha aka @romeogadungan (GagasMedia, 2016)


Kumpulan cerita memoar komedi yang menceritakan kisah patah hati Tirta aka @romeogadungan. Dia adalah selebtwit dan selebask yang lumayan rame, juga seorang blogger.

Juara 3: Tetanus – Arya Novrianus (Bukune, 2015)



Buku personal litterature komedi tentang kehidupan seorang Arya Novrianus, seorang stand up comedian dan finalis SUCI 7. Ceritanya dibumbui komedi hingga tragedi yang melibatkan perasaan dan emosi—sedikit mengutip testimoni di buku ini.

Hadiahnya memang nggak mengenyangkan. Anggap saja kamu dapat tema menulis, lalu, kalau beruntung, dapat hadiah.

Periode giveaway ini dimulai tanggal 11 Agustus 2017 berakhir tanggal 11 September 2017. Pemenang gue umumkan tanggal 17 September 2017... lewat kuping. Jadi, gue nyamperin ke rumah para pemenang, lalu gue bisikin, “Gokil! Elo menang!” Bahaha. Nggak gitu. Para pemenang gue umumkan di blog ini.

Selamat mengikuti giveaway sederhana ini. 
Read More »

Karena sebuah kejadian, tertanamlah akar besar yang nantinya menjadi cita-cita gue. Hingga saat ini, gue masih ingat betul bagaimana kejadiannya.

Naik ke kelas 5 SD sebenarnya memberi sedikit ketakutan bagi gue dan beberapa teman sekelas. Kriteria wali kelas yang gue (dan beberapa teman) takuti saat itu adalah wali kelas yang galak. Wali kelas di SD adalah orang yang akan selalu ketemu karena hampir semua mata pelajaran dia yang mengajar. Mendapat wali kelas yang galak, untuk ukuran anak SD tentunya, artinya bakal sering merasa nggak betah di kelas.

Dilihat dari wajahnya, guru gue ini sudah punya modal menjadi guru galak. (Anggap saja ini adalah Robby zaman SD. Waktu itu belum kenal guru killer, cuma tahu guru galak.) Tatapannya tajam. Setiap kali menjelaskan materi di kelas, gue nggak berharap dia melihat gue dan memberi pertanyaan. Ucapannya juga pedas. Pernah sekali gue jadi petugas upacara, dia ngomentarin gue dengan kesarkasannya, “Jalan kamu kayak robot kurang batere!”

Empat tahun gue sekolah SD belum pernah merasakan digalakin begitu. Gue terlalu halus dan terlalu lemah buat diomelin. Bisa dibilang, gue selalu aman di mata guru. Dapat komentar begitu gue koreksi diri di rumah. Apa iya gue kurang batere? Masa harus minta ortu beliin Alkaline?

Pagi itu di kelas kami sedang ada ulangan harian. Biar nggak ada yang saling nyontek, posisi antarkursi diberi jarak 10-15 cm. Kami semua disuruh menggeser sedikit meja dan kursi, agak menjauh dari teman sebangku. Beberapa orang, saking takutnya disontekin, bahkan membuat pagar dengan menegakkan buku di atas meja. Ada teman sebelahnya melirik, dia langsung menutupi meja dengan tubuhnya. “Jangan dilihat!” Padahal lembar jawaban belum dibagi.

Wali kelas menunjuk gue dengan spidolnya. Gue menengok ke belakang, memastikan kepada siapa spidol itu mengarah. Gue menunjuk diri sendiri. “Saya, Bu?” tanya gue lirih.

Beliau tetap mengacungkan spidolnya. “Geser kiri!” perintahnya. Gue melihat lagi ke belakang, masih bertanya-tanya siapa yang beliau maksud. Siapa sebenarnya yang beliau tunjuk.

“KAMU GESER!” Beliau melempar spidol ke gue. Tutupnya terlempar dan terpisah, ujungnya menyoret tangan gue.

Gue berjalan menuju mejanya sambil menundukkan kepala untuk mengembalikan spidol. Gue cuma membatin, “Apa guru harus begini? Menyuruh tanpa sebut nama, no mention begini, lalu melempar spidol ke muridnya. Guru nggak seharusnya begini. Gue bisa lebih baik dari guru ini.” Gue menutup spidol dan mengembalikannya kepada beliau, lalu kembali ke meja untuk menggeser bangku. Hari itu rasanya berat buat melanjutkan ulangan. Kok gue sakit hati, ya?

Sejak saat itu gue punya cita-cita menjadi guru.



^^^

Naik ke kelas 6, tentu saja lepas dari guru galak, ketertarikan gue terhadap Matematika meningkat. Ulangan Matematika pertama di kelas 6, gue mendapat nilai 90. Guru gue bertanya tentang tips gue dalam belajar. Maksudnya, supaya teman-teman di kelas termotivasi. “Kamu belajar berapa jam?” tanyanya. Gue tahu arah dari jawaban ini akan diteruskan ke mana. Gue nggak mau dianggap sebagai role model dengan bilang, “Wah, saya kalau belajar lama banget, Pak. Bisa sampai 15 jam nonstop.” Tapi, gue jawab aja sejujurnya, “Dua jam.” Rasanya dua jam cukup standar bagi anak SD. Malah aslinya itu bukanlah waktu bersih belajar. Dalam dua jam, waktu belajar gue paling cuma 15 menit. Sisanya main game di handphone.

Di ulangan selanjutnya barulah gue sadar bahwa selama ini gue belum kerja keras. Nilai ulangan Matematika turun, dan di rumah gue terus belajar. Rasanya, kemarin, setelah dapat nilai 90, gue sedang sombong-sombongnya. Giliran teman gue, Aulia, yang ditanya. “Kamu belajar berapa jam?”

^^^

Sampai SMP gue masih menyukai Matematika. Setiap ketemu pelajaran Matematika gue selalu bahagia. Nilai-nilai gue selalu memuaskan, meskipun nggak selalu 100. Berkaitan dengan keinginan cita-cita gue dulu ingin jadi guru, mulai saat itu gue berkeinginan jadi guru matematika. Alasannya karena saat itu gue menyukai Matematika.

Masuk jenjang SMA, gue merasakan Matematika menjadi pelajaran yang sangat susah. Masalah masing-masing orang berbeda dalam pelajaran ini. Masalah gue dengan Matematika adalah kurang paham materi yang diajarkan di kelas. Akhirnya berdampak pada PR jarang dikerjain (ini salah gue sendiri sebenarnya) dan ulangan selalu kesulitan. Bahkan pernah sekali ulangan harian Matematika, gue cuma ngisi 3 soal... dari 30.

Reputasi buruk di ulangan Matematika tidak terlalu berdampak pada remedial. Gue bersyukur jarang merasakan namanya remedial pelajaran Matematika. Sekalipun pernah, cuma disuruh mengerjakan ulang soal ulangan semester. Bayangkan kalau guru gue ngasih remedial, dan gue tetap nggak tuntas? Soalnya ada guru gue, mapel lain, yang suka banget minta muridnya untuk remedial. Muridnya mah minta juga. Minta dituntasin aja, remedialnya nolak.

Di kelas, gue sering kepikiran, kenapa gue bisa seturun ini minatnya terhadap Matematika. Suka sih, masih. Matematika masih seperti Matematika yang gue kenal saat 6 SD dulu (ini kesannya kayak cerita nostalgia cinta ya?). Tapi, apa yang salah sebenarnya? Atau Matematika bukanlah minat gue sesungguhnya?

^^^

Sudah sejak bangku sekolah dasar gue ingin jadi guru. Gue harus lanjutin cita-cita itu, tapi keinginan gue waktu SMP adalah jadi guru Matematika, sedangkan sekarang belajar Matematika susahnya setengah mati. Teman gue di kelas 11, sebut saja namanya Papan Tulis [(bukan nama sebenarnya) dan (bukan sebenarnya nama)], pernah nanya, “Rob, lulus SMA mau nerusin ke mana?”

“Nggak tau, nih,” jawab gue. “Yang deket aja. UNJ mungkin.”

“Lu mau jadi guru?”

Gue mengiyakan. “Meskipun gajinya kecil.”

Papan Tulis, bagusnya, mendukung gue. Dia sepertinya tahu gue punya ketertarikan pada pelajaran Kimia, dia langsung menebak, “Mau jadi guru Kimia?”

Gue mengangguk. Kebetulan saat itu kami sedang belajar Kimia di kelas. Kalau saja ketahuan ngobrol sama Bu Iin, guru Kimia, bisa ditegur.

Sambil melihat rapor, gue masih meratapi nilai Matematika yang hanya pas KKM. Itu pun gue yakin berasal dari nilai kasihan. Dulu nilai Matematika gue tidak serendah ini, batin gue.

Bersamaan dengan frustrasinya akan nilai Matematika di rapor, gue belajar menyukai apa yang sepertinya menjadi petunjuk untuk pilihan gue. Melihat rapor, gue seperti mendapat suara-suara alam.

“Matematika memang bukan jalanmu. Cobalah lihat dua kolom di bawah Matematika. Ada Kimia, yang sepertinya cocok denganmu. Meskipun kamu tidak tahu kenapa nilai sebagus itu bisa ada di rapor kamu, coba saja kamu pelajari dan nikmati setiap bab yang ada. Buktikan pada gurumu bahwa kamu layak mendapat nilai setinggi itu.”

^^^

Telanjur menyukai Kimia, gue melanjutkan untuk bercita-cita menjadi guru kimia dan suatu saat, gue kuliah akan mengambil program studi Pendidikan Kimia. Gue percaya, untuk mengambil jurusan kuliah nanti, gue harus memilihnya dari apa yang gue suka dan minati. Saat itu, gue belum mengenal Gita Savitri, youtuber yang pernah kuliah Kimia di Jerman. Jadi, keputusan gue ini belum terpengaruh dengan kariernya sebagai mahasiswi jurusan Kimia.

Setelah tahu jurusan apa yang gue incar, selanjutnya gue harus punya kampus tujuan. Itu pasti. Tentunya, yang menyediakan program studi Pendidikan Kimia. Gue sudah punya beberapa nama universitas, termasuk yang berada di kota tempat gue tinggal. Tidak cukup satu, gue mencari kampus lain yang punya prodi sesuai dengan incaran.

Saat masih semester awal kelas 12, gue sempat tergoda dengan jurusan lain. Namanya masih dalam proses pencarian, gue mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang jurusan apa saja yang berkaitan dengan Kimia.

“Lulusan Teknik Kimia gede gajinya, By,” kata kakak gue. Selain Teknik Kimia, gue juga sempat tertarik dengan Kehutanan, Peternakan, bahkan Ilmu Gizi. Kimia Murni juga sempat membuat gue tambah pusing dengan menambahnya daftar jurusan kuliah incaran. Tapi gue mengingat lagi apa cita-cita gue sejak kecil.

Dalam sebuah peringatan hari nasional, di sekolah gue saat itu ada perlombaan menghias kelas. Kelas dibuat warna-warni dengan banyak ornamen. Salah satu ornamen di kelas gue adalah logo-logo perguruan tinggi di Indonesia. Logo-logo itu nantinya akan digantungkan di langit-langit kelas. Maknanya, biar antara kami dengan kampus impian nggak jauh banget dan bisa digapai dari dalam kelas. Nggak tahu, sih, siapa yang memberi arti seperti itu. Gue sendiri asal-asalan aja ngetik barusan.

“Eh, gue mau nempel itu dong!” kata gue ke seorang teman, menunjuk sebuah logo universitas yang sudah ditempeli tali. Tali itu berfungsi agar logo bisa menggantung di langit-langit kelas. Sebuah logo Universitas Negeri Jakarta (UNJ), universitas impian gue, gue pegang untuk ditempel di langit-langit kelas. Sejak pertama masuk kelas 12, saat disuruh menuliskan harapan ingin berkuliah di mana, gue memang sudah menuliskan “Pendidikan Kimia – UNJ” sebagai pilihan pertama.

Gue berdiri di atas meja lalu menempelkannya di langit-langit sekolah, yang tepat di bawahnya adalah meja guru. Maknanya, karena UNJ banyak menghasilkan guru-guru terbaik, dan semoga gue bisa menjadi seperti mereka. Belakangan gue sadari ternyata gue sebenarnya nggak sopan. Meja yang gue injek untuk tempat berdiri adalah meja guru.

“Nah, cocok di sini,” gue berkata sendiri. Gue turun dari meja lalu melihatnya dari bawah. Logo itu bergoyang-goyang tertiup AC. Gue memandangi logo yang tergantung, sebuah harapan yang jaraknya masih dalam dunia gue, di kelas. Dan mulai dari sini, di dalam kelas, harapan itu mulai gue kejar.

Mengutip sebuah peribahasa dan merombaknya, “Gantungkanlah logo universitas impianmu setinggi langit-langit kelas.”


--
Cerita ini masih melanjutkan cerita gue sebelumnya. Kalau terlewat silakan baca:
How I Meet Chemistry (cerita tentang kenapa gue suka pelajaran Kimia)

--
Sumber gambar: https://pixabay.com/en/boys-school-teacher-education-asia-1782427/
Read More »

Hilang... ragaku melayang... jauh tak terbayang, ke angkasa ku akan terbang.

Tumben-tumbenan sopir angkot nyetel lagu band Kotak. Lagu itu rasanya jadi dekat maknanya buat gue dalam menjalani hari ini.

Turun dari angkot, kami bertiga—gue, kakak gue dan istrinya—melanjutkan perjalanan ke Ancol naik Metromini. Ini adalah pengalaman kedua gue naik Metromini bernomor 84, sekaligus pengalaman kesekian kalinya naik Metromini. Agak kaget sekaligus tambah percaya dengan pengalaman beberapa teman yang mengatakan sopir Metromini suka kebut-kebutan. NGERI BANGET ANJER! Belum ngerasain wahana di Dufan, udah dikasih dosis rendahnya duluan.

Metromini = dosis rendah halilintar.

Ini bukan wahana


Singkat cerita kami telah sampai di depan pintu barat Dunia Fantasi (Dufan). Tempat yang dulunya gue anggap hanya orang kaya (dan bernyali besar) saja yang bisa berlibur ke sini, akhirnya hari itu kesampaian juga menginjakkan kaki di Dufan. Ada rolling door-nya, wah, bisa muter. Gila, gila, gila. Dari jauh kedengaran suara orang teriak-teriak, kayak lagi disiksa di dalam kubur. Gila, gila, gila. Keren banget tempat ini. Mau sujud syukur tapi kok malu ya?

Kami di sana bertemu Rian dan omnya (gue lupa kenalan). Rian adalah adik dari istrinya kakak gue. Jadi, gue punya kakak, dia udah nikah. Nah, istrinya itu punya adik namanya Rian. Nah, kalau kayak begitu, antara gue dengan Rian apa namanya dalam silsilah? AAAAH, MUMET!

Melihat wahana dan suara teriakan berbarengan dengan mesin-mesin yang bekerja membuat muka gue pucat. Sudah dari awal gue nggak berniat berlibur ke sini. Satu-satunya alasan yang membuat gue tetap pergi ke Dufan adalah karena tiketnya gratis dari kakak gue. Sekalian pengalaman berharga seumur hidup (udah kayak naik haji aja!).

“Mau ke mana dulu?”

“Terserah.”

“Udah masuk Zuhur,” kata omnya Rian, “Salat aja dulu.”

Alhamdulillah. Gue bisa berdoa lebih lama buat menghadapi wahana-wahana di Dufan.

^^^

Setelah salat Zuhur, kami langsung masuk ke wahana Arung Jeram. Agak salah sebenarnya dalam penyusunan daftar urutan wahana yang ingin dicoba. Karena wahana ini bakalan membuat basah, menaruh wahana ini di awal berarti harus siap-siap kebasahan selama main wahana lain.

Wahananya sendiri lumayan seru. Kami mengarungi sungai buatan dengan perahu bulat bermuatan delapan orang. Jalannya berkelok-kelok dengan pemandangan gelombang air yang menggulung. Gulungan itu menghantam badan perahu, lalu menciprat ke dalam. Gue kebagian cipratan lumayan banyak. Untungnya hanya basah sedikit.

Muka gue harus begitu ya? Pengin banget kena kamera.


Level ketegangan: 5/10

Selepas bermain di Arung Jeram, kami makan siang untuk mengisi tenaga. Kecuali gue, yang entah kenapa nggak pengin makan, malah ngelihatin wahana Halilintar. Wahananya keren, banyak orang teriak-teriak, dan memancing gue untuk belajar Fisika. Ah, jangan belajar dulu. Ini waktunya liburan.

“Mau main itu, By?”

“Ah, nggg... nggak deh,” tolak gue, cepat. “Hehehe, takut.”

“Udah, nggak apa-apa. Bareng Rian situ.”

“Iya, sekalian ngeringin baju,” tambah omnya Rian. Wah, ngeringin baju mah nggak gini, Om, caranya, batin gue.

Gue mulai mempertimbangkannya. Selagi ada temannya gue masih berani. Oke, Halilintar. Gue siap dan gue nggak takut!

Tanpa perlu mengantre—karena sedang sepi, gue dan Rian langsung masuk ke kereta halilintar. Gue sangat yakin akan sukses melewati wahana ini (ya, kalau nggak sukses status hidup gue dipertanyakan). Mulai sekarang lupakan semua ketakutan demi Halilintar.

“Udah pernah main ini?” tanya Rian.

“Belum,” gue menggeleng, lalu menelan ludah. “Baru pertama.”

Saat itu juga gue mulai mengatur napas. Pengaman mulai dipasang, gue mulai membaca surat Al-fatihah. Kereta mulai berjalan. Di belakang gue, sekumpulan remaja 20-an tahun berteriak-teriak, “KITA PASTI BISA!” Gue mempercepat bacaan zikir.

KITA PASTI BISA!

KITA PASTI BISA!

Kereta mulai melaju pada jalur lurus, lalu masuk ke lintasan menanjak. Orang-orang di belakang gue teriak-teriak lagi. “KITA PASTI BISA! WOHOOO! KITA PASTI BISA!”

Gue ikut-ikutan semangat dalam hati,

KITA PASTI BISA! HAHAHA, INI SAMA AJA KAYAK LAGI DI ATAS MOTOR NAIK FLY OVER! HAHAHA.

Kini kereta berada di titik tertinggi, mulai masuk ke lintasan menurun. Orang di belakang gue teriak histeris, “AAAAAAAK.” Rian ikut-ikutan teriak. Gue masih diem. Kereta turun begitu cepat. Tidak ingin ketinggalan momen, gue ikutan teriak, “AAAAAAAK!” sambil menahan mulut agar kata-kata kotor tidak keluar.

ANJER! ANJER! TURUNNYA TAJEM AMAT! FLY OVER NGGAK KAYAK GINI!

Kereta mulai melaju dengan liar. Gue cuma bisa pegangan ke penahan tubuh saja, nggak berani teriak. Masih takut ngeluarin kata-kata kotor, dan nggak ada yang tahu, di depan ada bentuk lintasan seram macam apa lagi, dan gue jatuh, meninggal dalam keadaan ngomong kotor. Tidak, tidak. Gue cuma menutup mata sepanjang perjalanan. Yang gue ingat, gue merasakan kepala gue sudah dekat banget dengan tanah.

Kereta sampai lagi di tempat awal. “Udah ini?” tanya gue ke Rian. Dia menjawab, sudah. “Astagfirullah!” Maksud ingin mengucap syukur, tapi mulut mengucap istigfar. Bisa segitunya efek naik halilintar. Gue memegang bagian baju yang basah, sekarang sudah sedikit mengering. Keluar dari kereta, gue nggak sanggup berdiri. Kaki gue gemeteran.

Hilang... ragaku melayang... jauh tak terbayang, ke angkasa ku akan terbang.

Level ketegangan: 9.9/10

Gak ada hubungannya sama wahana Halilintar, sih. Cuma mau naruh foto di sini aja.

Setelah halilintar, gue berjanji pada diri gue sendiri untuk tidak naik Tornado, Hysteria, dan wahana lain yang bikin badan benyek. Dengar orang lain jerit-jerit gue merasa ngilu duluan.

Wahana selanjutnya nggak terlalu seru, tapi cocok buat orang-orang kayak gue. Wahana Perang Bintang jadi selingan untuk mengurangi ketegangan. Wahananya cuma masuk ke dalam ruangan gelap, naik ke semacam kendaraan, lalu (ceritanya) menembaki lawan yang menempel di dinding dengan pistol mainan. Walaupun sudah ditembak berkali-kali, gue nggak melihat ada perubahan pada lawan gue. YA, TERUS PISTOLNYA BUAT APAAN DEH KALAU NGGAK NGARUH?!

Padahal gue ngarep ada hadiah di ujung rel setelah mengalahkan banyak musuh. Ternyata tidak ada.

Level ketegangan: 1/10. Satu-satunya yang bikin tegang adalah tempat ini gelap. Udah. Tapi cocoklah buat gue yang nggak suka wahana ekstrem.

Sebelumnya ada wahana yang membuat kami penasaran. Kami langsung masuk ke dalam antrean wahana itu, namanya Ice Age. Di dalamnya, kita diajak masuk ke dalam sebuah cerita seekor tupai di kartun Ice Age (gue nggak tau siapa namanya). Yang gue ingat, menjelang permainan selesai ada suara yang menyuruh kami segera keluar karena tempat ini (ceritanya) akan musnah. Lintasan menanjak setinggi empat meter sudah siap di depan. Seperti menaiki halilintar, gue kira wahana ini cuma kayak naik fly over biasa. Ternyata, turunnya kenceng banget! Gue ngerasa ada sesuatu yang menarik gue dan membujuk, “Ayolah, mati suri dulu.”

Sampai di bawah airnya menciprat para penumpang. Gue duduk paling depan, kebagian air banyak banget kayak habis mandi. Gue menoleh ke belakang, seseorang tertawa, “Wahaha, yang depan kayak mandi.” Gue teriak seraya melihat dia, “Wohooo!” Nggak ada maksudnya memang.

Level ketegangan: 8/10.


Sebetulnya masih banyak wahana yang belum gue coba. Namun karena keterbatasan keberanian, gue jadi selektif terhadap wahana yang mau gue coba. Di dekat pintu keluar wahana Ice Age ada Tornado. Lebih dekat lagi, ada Bianglala. Atas dasar keberanian yang ada, gue mengusulkan naik Bianglala saja.

Di atas Bianglala, TERNYATA SAMA AJA SEREMNYA!

Ceritanya motret ke bawah. Ini aja takut banget hapenya bakalan jatuh.

Nggak seram sebenarnya kalau gue tidak takut ketinggian. Lha, gue di sekolah aja, di lantai tiga, ngeri ngelihat ke bawah. Menutupi rasa takut ini, gue cuma memandang ke depan. Nggak peduli ada sebuah pepatah “Hidup harus sering melihat ke bawah”. Di atas Bianglala nggak bisa begitu, Pak!

Level ketegangan: 7.8/10.

Sehabis naik Bianglala, kami sempat mengantre untuk naik bom-bom car (di Dufan nama wahananya Baku Toki), kecuali omnya Rian yang ngejagain tas. Namun, di tengah perjalanan mengantre, hanya gue dan Rian saja yang melanjutkan antrean untuk main bom-bom car. Emang dasarnya nggak pernah nyetir, gue kayaknya paling cocok sama wahana ini. Sifat urakan gue tunjukkan, seolah-olah wahana ini menganjurkan untuk mengeluarkan perilaku pengendara selepas mabuk, dengan nabrak-nabrakin mobil ke pengendara lain. Ya, memang begitu tujuannya.

Agak susah memang awalnya untuk main di wahana Baku Toki. Apalagi secara pengalaman gue belum pernah nyetir mobil. SIM juga nggak punya. Akhirnya semua berjalan alami tanpa paksaan. Gue tabrak-tabrakin mobil ke mobil orang lain. Meskipun wahana ini tujuannya memang untuk main tabrak-tabrakan, gue nggak habis pikir dan sulit menahan tawa, setelah melihat ada orang yang sengaja nggak mau nabrakin mobilnya ke mobil orang lain. DIA MALAH BELAJAR NYETIR! Setiap kali mau ditabrak dan menabrak, dia menghindar. Gak apalah. Setiap orang punya alasan sendiri untuk bersenang-senang.

Level ketegangan: 4/10

Puas nabrakin orang tanpa perlu diminta pertanggungjawaban, gue dan Rian melanjutkan ke wahana Niagara-gara. Wahananya mirip-mirip di Ice Age, tapi yang ini outdoor dan tidak terlalu menonjolkan jalan cerita. Pertama, perahu berjalan tenang, sampai kemudian menaiki tanjakan lagi. Di dalam perahu ini, ada gue, Rian, dan dua anak kecil yang duduk di depan gue dan Rian.

Satu di antara anak kecil itu melihat gue. Gue sok-sokan menasihati, “Pegangan, Dek.” Perahu mulai masuk ke lintasan menanjak, air di dalam perahu mengalir ke bawah semua membasahi celana Rian yang duduk paling belakang. Sampai di puncak berjalan perlahan, lalu WUUUUSSSSHH perahu meluncur dengan cepat di bawah rel. “AAAAAAAK!” gue menjerit. Seperti sebelumnya, sama sekali beda dengan naik fly over. Di bawah, perahu menabrak air dan menciprat masuk ke dalam perahu. Anak kecil tadi terlihat lebih bahagia daripada gue yang masih ketakutan.

Wahana Niagara-gara, bagi gue, lebih cocok disebut "Ni nyari gara-gara".

Sebuah usaha menutupi ketakutan

Level ketegangan: 8/10

Langit sudah mulai gelap, petang hampir tiba. Kami masih sempat masuk ke wahana. Wahananya nggak ekstrim, sih. Cuma masuk ke semacam labirin yang di dalamnya berdinding kaca. Kami sempat tersesat, namun Rian berpisah. Keluar dari labirin itu, Rian sudah ada di bawah pohon bermain handphone. Dari mana dia keluar?

Meskipun cuma dari tiket gratisan, akhirnya gue bisa ngerasain juga main di Dufan. Bakal jadi pengalaman tak terlupakan jerit-jerit di Halilintar sampai mata nggak berani buat melek. Tidak perlu main ke wahana Hysteria, Tornado, dan semacamnya, semuanya sudah terangkum lewat Halilintar.

Wahana Istana Boneka. Satu yang terlewatkan.

Jalan-jalan ke Dufan setidaknya sedikit memberi energi baru. Energi berupa kepercayaan diri untuk berani menghadapi rintangan. Gue jadi lebih tahu bentuk bersenang-senang banyak sekali macamnya. Meskipun, beberapa wahana membuat gue hampir mau pingsan, tapi secara keseluruhan gue senang.

Salah satunya karena tiket gratis.

Gue pulang naik bus Transjakarta. Bus mulai berjalan menanjak di fly over. Gue deg-degan, kemudian bus mulai berjalan menurun, gue refleks meraih mencengkram erat pegangan. Efek Halilintar memang luar biasa.
Read More »

thumbnail-cadangan
Sepertinya benar kata A. S. Laksana yang dikutip dari salah satu blogpost-nya Kresnoadi: cerita tidak akan mengancam pikiran.

Cerita, bagi kami berdua saat ini, adalah cara yang paling nyaman dan paling kami tunggu satu sama lain sebelum tidur. Dibanding harus berbalas opini, kami lebih suka bertukar cerita.

Tidak seperti sesi chatting biasanya, gue dan dia tidak saling bercerita. Dia berusaha menutup-nutupi apa yang sedang dia rasakan sekarang, sampai akhirnya pada waktu yang tepat, dia berani jujur mengungkapkan keluhannya. Membaca pesannya, otak gue menangkap arah angin yang berbeda.

Membalas pesannya, gue tidak bercerita, melainkan mengeluarkan semua yang gue pendam sampai saat ini. Bendungan yang selama ini menahan keluhan tentang dia akhirnya jebol.

Setelah jari-jari ini mengetik yang semuanya telah diperintahkan otak, pesan terkirim. Satu pesan yang panjang, dan hanya dibalas “Maaf” olehnya. Gue bingung, kenapa dia minta maaf.

Karena masih terbawa suasana, gue mengetikkan pesan yang lebih pendek, namun tetap bisa dikatakan panjang. Pesan pertama tidak sepanjang apa yang biasa gue tulis di blog. Paling hanya lima-enam paragraf, per paragraf ada empat sampai enam baris, dengan ukuran font sedang. Hitung saja seberapa panjangnya, namun setelah gue baca lagi tidak terlalu panjang. Gue nggak mikirin siapa yang sedang gue chat. Yang ada di kepala hanyalah gue ingin bebas.

Semua unek-unek gue tumpahkan lewat jari-jari dengan lincah ke sana kemari mengetikkan kata demi kata. Balasan dia hanya “Maaf”. Tidak seperti biasanya, karena merasa mendapatkan kebebasan, gue terus mengeluarkan apa yang selama ini menjadi sampah di kepala gue. Gue sampaikan kepada dia secara sporadis. Seperti petinju yang terus menerus diberi pukulan jab, dia akhirnya menyerah dan berusaha menyudahi gue.

“Kamu nggak punya pendirian apa gimana?” tanya gue, menyindir. Sebuah pertanyaan yang diketik tanpa berpikir berkali-kali. Kalimat yang akhirnya gue sadari terlalu kasar setelah dia bilang, “Kok nyesek ya waktu kamu bilang itu?”

Mati gue. Seenaknya ngetik, ngeluarin isi kepala, sampai melukai perasaan seseorang. Gue ngerasa telah berbuat jahat.

Di sebuah mimbar curhat, tepatnya di grup WIRDY, Kak Icha pernah bilang, “COWOK PLEGMATIS MEMANG SUSAH DIMENGERTI!” Gue bingung. Bisa-bisanya dia bilang gue plegmatis, sebuah istilah yang GUE NGGAK TAU ITU APA ARTINYA, HEY!

Kalau ada yang kayak gue nggak tau apa artinya plegmatis, silakan baca di sini.

Agak menyedihkan sebenarnya. Gue panik, kenapa gue bisa selancar itu bertanya dengan nada kasar?

Gue jadi berpikir ke hal lain. Hal yang lebih buruk daripada apa yang gue lakukan tadi. Setidaknya gue ingin merasa di atas angin. Masih teguh pendirian “gue melakukan hal yang benar!” Gue mencari hal yang lebih buruk daripada gue saat ini. Tiba-tiba, kok gue kepikiran istilah netizen? Tepatnya netizen yang suka nulis komentar seenaknya.

Apakah netizen nggak merasakan apa yang gue rasakan ya? Gue sekarang jadi serba takut buat menilai ini dan itu, karena untuk hal satu lawan satu seperti ini saja, gue sudah kalah. Gue merasa bersalah. Gue nggak bisa memenangkan perdebatan dengan kepala dingin. Atau paling tidak, mengambil jalan seri agar tidak dalam posisi “menang sendiri”.

Gue kembali termenung memikirkan apa yang baru saja terketik tadi. Memikirkan orang yang lebih buruk daripada gue adalah kesalahan dalam masa pemenungan. Harusnya gue mengoreksi diri sendiri, bukan mengoreksi orang lain.

Mungkin ini yang salah, mungkin itu yang salah. Padahal, gue hanya ingin terus terang, padahal gue cuma mau jujur. Padahal, gue mau ada yang lebih baik dari hubungan ini. Kenapa jari-jari gue nggak tertahankan, dengan ngetik kalimat yang nadanya, setelah gue baca lagi, nggak mengenakkan? Di era serba canggih ini, dengan segala apa pun bisa diedit dan dikontrol, kenapa gue tidak sempat memikirkan perasaan orang lain?
Read More »

Di sekolah, kita pasti kenal dengan anak yang minimal menyukai satu pelajaran bahkan sampai menguasainya. Untuk beberapa guru, mereka akan memanfaatkan kemampuan muridnya untuk disuruh-suruh.

Sandro, teman di SMA, paling sering disuruh maju mengerjakan soal Matematika di papan tulis. Teman gue yang lain, Silvi, sering diminta mencontohkan bagaimana cara men-dribble bola basket yang baik saat mata pelajaran Penjaskes.

Keahlian gue saat itu hanyalah di pelajaran kosong.



Tidak ingin hanya menguasai pelajaran kosong, gue bertekad untuk dapat menguasai minimal satu mata pelajaran di SMA. Gue berkaca pada sembilan tahun sebelumnya selama bersekolah, lalu muncul sebuah pertanyaan: pelajaran apa yang gue kuasai selama ini? Maksud dari pertanyaan itu agar gue tinggal melanjutkan dan meneruskan mapel kesukaan sampai lulus SMA bahkan kuliah.

Sewaktu SMP gue paling suka Matematika dan IPA. Gue berpikir bakal selamanya seperti begitu. Kenyataannya enggak. Menjalani satu bulan pertama di SMA, gue sudah punya firasat nggak akan sanggup menyukai dan menguasai Matematika karena SUSAH BANGET, BANG!

Gue ingat kali pertama belajar Matematika di SMA. Sangat susah melawan rasa kantuk karena AC di kelas dihidupkan. Padahal, semangat untuk belajar Matematika waktu itu sangat menggebu, apalagi gue sedang bersekolah di sekolah yang lumayan favorit. Pastinya gue sudah membayangkan serunya belajar Matematika di sini. Nggak nyangka, karena AC setitik rusak niat belajar Matematika.

Sedangkan IPA, di SMA sudah nggak ketemu lagi dengan pelajaran IPA, melainkan sudah menjadi sebuah jurusan. Yang ada hanyalah pecahan dari IPA, yaitu Fisika, Biologi, dan Kimia. Kenyataan semakin suram setelah tahu ketiga pelajaran itu punya kesusahan yang beda-beda: Fisika susah pada analisis, Biologi pada hafalan, dan Kimia susah pada keduanya. Kebanyakan orang bilang, Kimia adalah pelajaran paling sulit di SMA.



Inilah yang membuat gue merasa salah jurusan di IPA. Matematika susah nangkep, pelajaran jurusan (Fisika, Biologi dan Kimia) nggak ngerti. Kesulitan itu terus melekat hingga semester satu selesai. Nilai rapor yang kebanyakan pas KKM menambah frustrasi.

Namun, ada yang menarik perhatian gue. Di rapor, nilai Kimia-lah satu-satunya pelajaran di jurusan yang mendapat nilai 8. Padahal, selama satu semester gue nggak ngerti apa aja yang gue pelajari di Kimia. Satu semester sudah habis, dan gue nggak ngerti apa-apa.

Seolah mendapat pencerahan, gue jadi percaya ini adalah pertanda gue harus serius di mata pelajaran ini, walaupun gue nggak pernah tahu kenapa Kimia bisa dapat nilai 8 di rapor. Kebetulan gue nggak punya pelajaran favorit lagi setelah tahu Matematika jadi menyebalkan.

Semester dua gue mulai ikut bimbel. Sama seperti belajar di sekolah, Fisika, Matematika, dan Biologi tetap sulit dimengerti. Sedikit timbul rasa minder berada di jurusan IPA. Gue bertanya dalam hati, “Apa gue masih layak ada di jurusan ini?” Apa yang gue ambil dulu harusnya sudah gue pertimbangkan bagaimana risikonya. Karena sudah telanjur mengambil jurusan IPA, gue harus terus menjalani semuanya di sini. Toh, perjalanan masih panjang buat menemukan minat gue terhadap mata pelajaran.

Namun, kegundahan itu sedikit terkikis dengan keyakinan gue pada satu mapel. Kimia membuat gue punya harapan. Belajar Kimia di bimbel lebih menyenangkan lagi. Semangat gue untuk belajar jadi naik. Waktu itu gue memang belum menguasai, tapi gue punya modal awal buat bisa bertahan, yaitu minat.



Kesukaan gue terhadap Kimia semakin tumbuh saat kelas 11. Sambil ikut bimbel, gue selalu serius mengikuti pelajaran di kelas. Kadang gue malah sengaja mencari tempat duduk paling depan di pelajaran Kimia. Duduk bareng cewek-cewek bikin gue nggak ngobrol dan serius menyimak penjelasan guru. Tapi seringnya cewek-cewek itu duduk bareng teman sekelompoknya. Gue nggak kebagian tempat, akhirnya duduk di belakang. Sedih memang, tapi nggak mengurangi semangat gue belajar Kimia.

Selain karena nilai rapor, pengaruh besar dalam minat gue terhadap Kimia adalah karena seorang guru.

Waktu itu, di kelas 11, kami sedang belajar tentang tata nama senyawa hidrokarbon. Guru gue, Bu Iin, yang pindahan dari sekolah tetangga, melempar pertanyaan ke muridnya, setelah sebelumnya dia menampilkan gambar struktur molekul di layar proyektor. “Ada yang tahu apa namanya?” tanya Bu Iin kepada muridnya.

Banyak teman-teman gue yang angkat tangan. Gue memberanikan diri ikutan, padahal deg-degan setengah mati, seperti kebiasaan orang-orang gugup.

Bu Iin menunjuk teman gue yang duduk di barisan tengah. Gue yang duduk di hadapan Bu Iin merasa kalah. "Mungkin lain waktu", batin gue, kecewa.

Teman gue yang ditunjuk lalu menjawab. Jawabannya dia salah. Lalu Bu Iin menunjuk gue.

“Kamu apa?”

Gue deg-degan waktu Bu Iin menunjuk gue. Dengan hati-hati gue menjawabnya, mengucapkan pelan-pelan nama senyawa tersebut, seperti seorang lelaki yang sedang mengikrarkan akad nikah. Di luar dugaan jawaban gue benar. Dia bertanya ke gue, “Siapa nama kamu?”

“Robby, Bu. Absen 28.”

Sepertinya nama gue ditandai untuk dapat nilai plus. Gue girang bukan main. Senangnya masih terasa sampai sekarang. Alasannya: karena itulah kali pertama dan terakhir gue menjawab pertanyaan di kelas Kimia. Selebihnya tidak pernah.

Karena Bu Iin juga, gue jadi semakin tertarik dengan Kimia. Beliau tipikal guru yang disiplin. Nggak jarang, kedisiplinannya bikin kami deg-degan, takut kena semprot. Teman-teman gue yang sering diomelin waktu praktikum, cuma ketawa-ketawa aja setelah belajar Kimia. Untungnya, gue nggak pernah diomelin.

Peringkat gue di kelas 11 masuk dalam sepuluh besar terbawah, tetapi satu nilai Kimia di atas 80 membuat gue senang. Berapa nilai yang gue dapat sebanding dengan apa yang gue dapat di kelas. Dari sekian banyaknya nilai kasihan di rapor, rasanya Kimia-lah satu-satunya pelajaran yang berani gue pertanggungjawabkan nilainya karena gue yakin gue mampu.

^^^

Mendekati Ujian Nasional, semua orang di kelas sibuk dan pusing pilih-pilih mapel apa yang mau diambil saat UN. Di luar Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, anak kelas 12 harus pilih satu mapel di jurusan buat UN nanti.

Gue tanpa ragu memilih Kimia. Setelah semua anak sudah memilih mapel, gue mendapat kabar dari seorang teman.

“Rob, UN yang milih Kimia di kelas cuma lu doang.”

Hah?

Hal unik seringkali gue rasakan ketika try out berbasis komputer. Karena saat itu jadwalnya sesuai mata pelajaran yang kami pilih, seorang guru mendata mata pelajaran apa yang diambil para siswa.

“Coba angkat tangan yang pilih UN Fisika.”

Yang angkat tangan belasan orang.

“Yang UN Biologi?”

Yang angkat tangan lebih banyak dari sebelumnya.

“Yang UN Kimia?”

Teman-teman gue bisik-bisik mulai tertawa. Gue cuma tersenyum sambil mengangkat tangan dengan percaya diri. Hanya gue seorang di kelas itu yang mengangkat tangan.

“Sendirian?” tanyanya. Gue mengiyakan dari bangku barisan belakang. “Kasihan.”

“....”

Pada akhirnya, satu angkatan di jurusan IPA yang berisi empat kelas, siswa yang memilih UN Kimia sebagai mapel pilihan hanya ada 10 orang. Bebas, itu pilihan.

UN menghitung hari, ayo kerjain soal lebih banyak! Latihan lebih sering lagi.

---

Tulisan ini adalah sebuah kilas balik selama SMA. Kalau sempat, gue bakal lanjutin terus ceritanya sampai SBMPTN, meskipun pembaca lama udah tahu gimana endingnya. Hehehe. Insya Allah bakal gue lengkapin ceritanya seperti apa.
Read More »

Sepertinya ada yang aneh dengan selera musik gue. Namun, apakah selera seseorang terhadap musik bisa disalahkan? Seperti orang yang sedang jatuh cinta, nggak perlu banyak alasan untuk jatuh ke dalam alunan sebuah lagu. Kalau dirasa sudah “klik”, gue bisa suka banget sama satu lagu atau band dan penyanyinya sekalian. Untuk beberapa kasus, kesukaan gue terhadap Kangen Band adalah contoh nyata. Hidup Juminten! Lambang pelajar Indonesia di luar negeri.

Entah kenapa, gue kembali suka dengan lagu tema tentang pernikahan. Mungkin di pikiran kalian, “Ini anak udah mau cepet-cepet nikah atau gimana?” Nggak begitu, kok. Tenang dulu. Kuping gue memang sering merasa “klik” dengan tema-tema tertentu dalam waktu terbatas. Misalnya, minggu ini tema pernikahan, minggu depan tema perjuangan (setiap hari nyanyi lagu Maju Tak Gentar), dan lain-lain. Ada kalanya tema itu balik lagi seperti semula.

Lalu, kenapa gue dengerin lagu tentang pernikahan? Gue juga nggak tau! Menurut gue, lagu-lagu tentang pernikahan punya lirik yang dalam. Dan gue tipe orang yang mudah terkesan dengan suatu lagu dari menyelami makna liriknya. Itulah alasan gue terkesan dengan lagu-lagu tema pernikahan.

Kesukaan gue terhadap lagu tema pernikahan bukan saat ini saja. Semuanya sudah dimulai sejak SMP. Karena sering banget diputar di SCTV, grup Yovie and Nuno saat itu bikin gue suka sama lagu-lagu mereka. Jauh sebelum kenal Kahitna, gue lebih dulu kenal dengan grup ini. Salah satu lagunya yang gue suka sampai sekarang adalah “Janji Suci”, lagu tema pernikahan pertama yang gue tahu dan sukai.

Jangan kau tolak dan buat ku hancur
Ku tak akan mengulang ‘tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu

Masih di SMP, kemudian gue kenal Kahitna. Lagu yang paling gue suka berjudul “Untukku”. Semakin suka dengan Kahitna mempertemukan gue dengan lagu lain. Ketemulah lagu “Tak Sebebas Merpati”, lagu yang cocoknya buat orang-orang yang mau menikah. Terlepas dari target penikmat lagu tersebut, gue tetap naksir lagunya.

Bahagia... meski mungkin tak sebebas merpati

Kebetulan waktu itu gue lagi senang melihara burung merpati.

Meskipun jatuh cinta sama lagu-lagu itu, gue nggak berani nyanyi dekat teman-teman gue. Salah satu alasannya adalah karena nggak sesuai umur. Bisa-bisa gue diledekin, “Kawin aja sono, kawin!” Gue nyanyi lagu ini diem-diem, seperti halnya gue menyanyikan lagu Kangen Band. Pokoknya dulu pengetahuan lagu gue “enggak banget” di pergaulan. Mereka kebanyakan dengar lagu Punk Rock Jalanan atau lagu-lagu yang ada scream-nya.

Masuk SMA pengetahuan gue akan musik sedikit meningkat. Lagu-lagu berbahasa Inggris semakin banyak yang gue tahu, tidak hanya “My Heart Will Go On”-nya Celine Dion. Di kelas 10 gue pernah dikasih tugas praktik nyanyi lagu bahasa Inggris. Waktu itu gue baru tahu grup Westlife, dan salah satu lagunya yang berjudul “I Wanna Grow Old With You” gue bawain saat praktik. Sebuah keberanian yang besar setelah tahu lagu ini merupakan rekomendasi teratas untuk lagu pernikahan. Akhirnya bisa ditebak: gue sukses diciye-ciyein di kelas.

Beberapa hari terakhir, gue menemukan metode dengerin lagu yang keren. Sebenarnya nggak “wah” banget, tapi gue aja yang norak baru tahu hal ini. Metode itu adalah: dengerin lagu di Soundcloud.

Udah, gitu aja. Nggak keren, kan? YA EMANG!

Ini semua dikarenakan gagal login Spotify di laptop, entah karena lupa atau gue salah ketik password. Saat itu gue penasaran dengan NDX AKA. Ke Spotify nggak bisa masuk, gue langsung lari ke Soundcloud, mengingat nggak memungkinkannya dengerin lagu di Youtube karena boros.

Setelah sudah cukup puas dengerin lagu “Kimcil Kepolen”, gue bingung mau dengar lagu apa lagi. Anehnya, gue malah buka playlist di Winamp (oke, ini kesannya jadul banget) buat nyari judul lagu untuk didengarkan di Soundcloud. Harusnya, kan, dari Winamp bisa tinggal klik “play”. Ini ngapain nyetel lagunya ke Soundcloud, Abon!

Berhubung sedang suka lagu-lagunya Payung Teduh (ini adalah sebuah kebiasaan gue: suka sama penyanyi dua sampai lima tahun setelah orang lain bosen dengernya), gue langsung mendengarkan lagu “Untuk Perempuan yang Berada dalam Pelukan”. Tidak puas sampai di situ, gue mengetikkan “Payung Teduh” di kolom pencarian. Namun, sebelum di-enter, gue melihat hasil pencarian: “payung teduh akad”.


Lho, emang ada lagunya yang berjudul “Akad”? Sejauh ini, bermodalkan koleksi lagu hasil download, gue belum pernah denger lagunya yang itu. Mumpung masih punya kuota, gue telusuri hasil pencarian itu. Pemilik akunnya sendiri baru meng-upload sebulan yang lalu—kira-kira di-upload bulan Juni 2017. Berarti ini adalah lagu baru dari Payung Teduh. Gue mengklik ikon play. Ternyata, lagunya....

ENAK BANGET, YA ALLAH.

Lagu tentang pernikahan (lagi).

Di Youtube sendiri sudah ada video lirik lagu di akun official Payung Teduh.

(UPDATE: Sebelumnya ada video lirik lagu "Akad" di channel resmi Payung Teduh. Setelah gue cek lagi, video itu sudah hilang. Sebagai gantinya, gue masukkan video klip "Akad" yang sudah di-upload beberapa hari yang lalu. Link ada di bawah.)



Sedangkan, di lain video, yang diunggah bulan April 2017, lagu ini sudah dimainkan dalam sebuah acara. Uniknya, di acara tersebut para personel Payung Teduh tampil memakai pakaian kondangan, dan salah satu personelnya memakai pakaian pengantin pria. Katanya, sih, itu nikahan Comi, pemegang contra bass-nya.



Lagunya sendiri, ya seperti judulnya “Akad (Menikahlah)”, seolah-olah mengajak pendengarnya, khususnya laki-laki, untuk cepat-cepat menikah. Eh, nggak begitu juga, sih. Lagunya lebih ke ungkapan perasaan lelaki dalam meyakinkan pihak wanita untuk menikah pada saat yang telah tiba. Ini adalah potongan lirik lagu “Akad”:

Namun bila kau ingin sendiri
cepat-cepatlah sampaikan kepadaku
Agar ku tak berharap
dan buat kau bersedih

Bila nanti saatnya t’lah tiba
Kuingin kau menjadi istriku
berjalan bersamamu dalam teriknya hujan
berlarian ke sana kemari dan tertawa

Memang bukan sebuah lagu yang cocok untuk gue saat ini, tetapi, sekali lagi, lagu ini enak banget. Berkali-kali gue dengerin lagu ini, sampai ke warnet juga dengerin. Saking seringnya denger lagu ini, gue jadi ingat salah satu episode di kartun Spongebob Squarepants.


Dalam episode itu diceritakan bahwa Spongebob kena earworm setelah mendengarkan lagu “Musical Doodle”. Mulutnya nggak berhenti-berhenti menyanyikan lagi itu. Awalnya memang menyenangkan, tetapi Spongebob lama-kelamaan menjadi terganggu bahkan susah tidur. Efeknya bagi gue masih sekadar sering nyanyi pelan-pelan di kamar.

Pernah sekali gue nyanyi sambil mencari barang di bawah rak TV. Sambil mencari benda di sana, gue nyanyi, “Bila nanti saatnya telah tiba, kuingin kau menjadi—“

“Istriku?” potong mama gue.

Kok... beliau bisa tahu?

Gue pelan-pelan balik ke kamar meninggalkan potongan lagu yang belum diselesaikan. Kenapa Mama tau lagu ini? Padahal baru kali ini beliau denger gue nyanyi. Di dalam hatinya, mungkin bertanya-tanya, “Kamu mau nikah?”

--
Sumber gambar:
http://weheartit.com/entry/35339848
Read More »

"Elo dari fakultas apa? Jurusan apa?”

Kalimat itu sering muncul ketika gue datang ke sana, calon kampus. Selama gue melewati orang-orang kalimat itu terus menerus muncul. Gue mau ikutin cara mereka buat nyari kenalan, tapi gue nggak berani memulai. Padahal, gampang aja sebenarnya buat melakukannya. Tinggal cari orang duduk atau berdiri sendiri, kalau kebetulan cakep, tanyain deh, “Elo dari fakultas apa?” Kalau iseng, bisikin, “I love you.”

Dalam perjalanan menuju calon kampus gue bertemu seorang cewek yang—tanpa sengaja gue lihat—wallpaper handphone-nya berupa screen capture bertulis “RUTE KE UNJ”. Kalau tahu begini, harusnya gue bisa nunjukin jalan tanpa harus membuat dia sering-sering buka handphone. Selagi masih dalam pandangan, gue mau ikutin dia... bakal nyasar atau enggak.

Kalau nyasar gue ketawain.

Turun dari angkot gue mengetahui ternyata dia berangkat bareng bapaknya. Berkumis dan pake sepatu olahraga membuat bapak itu terkesan galak. Feeling gue beliau anak bela diri. Atau paling tidak, pernah ikut tes masuk militer sehingga punya fisik yang tangguh. Seandainya ending-nya dia nyasar dan tahu gue ngetawain anaknya, bisa-bisa sepatunya yang gede itu mendarat ke muka gue.

Turun di halte Harmoni gue melihat mereka berdiri di depan koridor yang berbeda dengan gue. Dalam hati, "Ayo kita buktikan siapa yang tercepat."

Sampai di kampus gue belum melihat mereka. Di kampus yang katanya nggak luas-luas amat ini, gue nggak tahu harus lewat mana. Salah gue juga nggak nanya satpam atau orang di kampus buat nunjukin gedung yang mau gue tuju. Gue malah keliling-keliling kampus. Berhubung kata kakak gue kampus UNJ nggak terlalu luas, gue nggak ragu buat ngelilingin. Malah ketemu calon maba juga yang lagi nyari gedung. Di antara gue yang tersesat, tetap ada yang tersesat. Ralat, maksud gue, GUE YANG NGIKUTIN ORANG INI DI BELAKANGNYA. Nyasar bareng-bareng deh.

“Mau ke mana, Mas?” tanya bapaknya si calon maba. “Eh, masnya mahasiswa bukan?”

Gue buru-buru menjelaskan sebelum dikira yang aneh-aneh. “Iya, Pak. Mau lapor diri.”

“Nah, tuh sama,” ujar bapak itu pada anaknya. Anaknya tampak risi dan malu-malu. “Ya udah, Mas, bareng aja.”

Iye, nyasar bareng.

Akhirnya kesesatan ini berujung pada kerumunan calon mahasiswa baru yang sudah berkumpul. Nggak nyasar terlalu jauh deh.

Aku calon maba. Berarti aku calon lucu~

Gue jalan ke sana kemari mencari informasi kapan loket pengumpulan berkas dibuka. Sejauh ini belum ada yang mengantre di belakang loket. Seorang satpam berbicara lewat pengeras suara, menyuruh calon mahasiswa baru untuk berbaris mengambil nomor antrean. Antrean mengular panjang sekali. Gue kebagian nomor 183.

Selesai mendapatkan nomor antrean, gue mendengar suara bernada kepanikan, “Di mana mau ngambil nomor antreannya?” Gue melirik ke sumber suara, wajahnya gue nggak kenal. Tapi tasnya gue ingat, bahwa dia orang yang tadi pagi ketemu di angkot. Aha! Gue duluan yang sampai ke sini. Gue menang!

Sembari menunggu giliran masuk ke loket, gue duduk-duduk bingung di belakang tanaman. Celingak-celinguk nggak ada yang gue kenal. Seperti sesuatu yang pernah dialami. Apakah ini rasanya... dihipnotis?

“Misi, boleh numpang duduk?”

Suara halus itu memaksa gue menoleh ke arahnya. Bukan cewek, tapi seorang cowok berkemeja hitam. Orangnya mungil, begitu menurut pengakuannya sendiri di grup WhatsApp setelah gue kenalan dengannya.

“Dari fakultas apa? Jurusan apa?”

NAH, INI YANG DITUNGGUIN.

“FMIPA. Pendidikan Kimia,” jawab gue singkat. Agar terkesan akrab, gue menanya balik ke dia.

Tips: Penting untuk kamu saat bertemu orang asing lalu ditanya-tanya. Jawablah dengan singkat, tanpa perlu curhat (soalnya kalau langsung curhat males dengerinnya). Kemudian tanya dia balik.

“Oh, FMIPA juga?” ujarnya terkejut. “Aku Biologi.”

Kemudian kami saling diam. Nungguin siapa duluan yang nanya biar mulai obrolan.

Beberapa menit kemudian, dia nanya, “Namanya siapa?”

“Robby,” jawab gue. “Elu?” Iya, saking kagetnya gue cuma ngomong “elu?” doang. Semoga dia ngerti dalam konteks apa kita sedang ngobrol.

“Bani.”

“Oooooh.” Gue teringat sesuatu. “Yang ada di grup WhatsApp ya?”

“Iya, betul.” Dia mengiyakan. “Kok kamu nggak pernah muncul di grup?”

Sebenarnya gue pernah muncul sekali untuk nanya. Hari-hari berikutnya gue nggak pernah muncul lagi.

“Hehehe, iya. Abisnya penuh terus chat-nya.”

Di tempat ramai seperti saat ini, pasti dapat ditemui beberapa orang berjualan. Di tempat lapor diri ini, misalnya, ada bapak-bapak yang keliling menjual map kertas. Sudah lama gue perhatikan bapak itu menawari setiap orang yang dilewatinya. Sambil nyodorin map, dia bilang, “Mapnya, mapnya. Yang SBMPTN warna biru.” Dalam hati, untung gue udah beli dari rumah warna biru.

Kebanyakan dari calon maba cuek aja. Paling beberapa orang aja yang nyetopin bapak itu untuk nanya harga. Nggak beli. Namun, semua berubah karena adanya strategi pemasaran....

“Pengumuman. Untuk calon mahasiswa baru diharapkan menyiapkan map warna biru untuk mengumpulkan berkas.”

Pengumuman dari satpam itu langsung membuat bapak penjual map kewalahan. Para calon maba langsung mengerumuni bapak itu kayak semut ketemu astor yang jatuh ke lantai. Baju si bapak udah nggak kelihatan lagi karena tertutup kerumuman calon maba. Dari jauh, gue mendengar sayup-sayup suara bapak penjual map, “Sabar, ya, sabar.”

Gue dan Bani, yang sejak tadi sepertinya melihat objek yang sama, tertawa ngakak melihat ramainya kerumunan. “Gila, sekali diumumin langsung rame,” Bani kagum.

“Gue curiga tuh, satpam sama bapak-bapaknya udah janjian.”

“Hahaha, iya, ya. Bisa jadi.”

Di saat yang lain sedang mengantre untuk mendapatkan map, gue malah ngeracunin teman baru dengan kecurigaan cenderung suuzon. Kalau ada kakak tingkat yang tau gue lagi ngomongin satpam dan bapak itu, dan gue bilang mereka sudah janjian, gue takut bakal ditanya, “Elo fakultas apa? Jurusan apa?!”

--
Sumber gambar; http://newteknoes.com/gambar-dp-dan-meme-lucu-mahasiswa-baru/
Read More »

Beberapa orang bingung bagaimana caranya mengucapkan “Aku cinta kamu” atau “I love you”. Kemudian orang-orang ini akan mencari referensi sebanyak-banyaknya untuk melepaskan kegundahannya. Film menjadi salah satu solusi atas permasalahan tersebut. Terlebih lagi film jenis romansa bisa menjadi pilihan, mengingat akan sangat bertebaran kalimat "I love you" di dalamnya.

Gue bilang ke seorang teman lewat WhatsApp, “Besok ada ILY From 38.000 Feet di TV. Penasaran.” Dia, katanya, suka banget film romansa itu. Sampai dia menonton ulang, dan kesannya selalu sama: “Gue nonton film itu nangis terus.” Curiga, dia nontonnya sambil diancam pemotongan uang saku oleh ibunya. Gue merasa tertantang. Mau tahu seberapa sedihnya film ini.


Film yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “aku cinta kamu dari 38.000 kaki” ini, awalnya sempat mengundang sebuah pertanyaan:

“Kaki siapa aja yang ada di situ? 38.000 kaki berarti sama dengan jumlah 19.000 orang, 4.750 gurita, dan 3.800 laba-laba. Ngapain aja?!”

Film itu gue tonton di kampung. Lebih tepatnya di televisi nasional film Lebaran. Jauh dari sini, gue meng-SMS teman gue itu untuk laporan bahwa gue sedang nonton film yang bikin dia nangis mulu itu.

ILY From 38.000 Feet bercerita tentang seorang cewek bernama Aletta yang percaya bisa bertemu jodohnya di pesawat. Arga, seorang penumpang keren, meminta lelaki yang duduk di sebelah Aletta untuk pindah. Akhirnya Aletta duduk bersebelahan dengan cowok keren bernama Arga. Aletta penasaran sama si cowok dan membawanya pada pertemuan di sebuah acara televisi. Jeder, jeder, jeder, mereka bisa saling kenal bahkan saling sayang. Cuma, karena si cowok orangnya pendiam, dia nggak mau ungkapin itu semua.

(Abaikan “jeder, jeder, jeder” itu. Gue nggak ngerti cara nyeritain sebuah film.)

Pada sebuah kesempatan, si cowok naik pesawat dalam perjalanan dari Bali ke Jakarta, lalu nulis “I LOVE YOU FROM 38.000 FEET” dari atas pesawat. Dia memfoto dan mengirim foto tersebut ke ceweknya yang udah ngarep-ngarep diucapin “I love you” sama si cowok sejak lama. Terbukti dengan munculnya dialog Aletta yang nempel di kepala gue:


“Aku pikir kamu bakal bilang ‘I love you’.”

Untungnya, si cowok bukan pemilik olshop. Setelah kertasnya difoto, dikasih caption “ready gan”.

Sampai di ending cerita, gue merasa, “Ah, elah. Gue juga bisa kalau kayak gitu.” Tentunya sambil membayangkan ada cewek yang maksa-maksa gue buat ngikutin cara Arga. Sayangnya tidak ada. Sekaligus membuat gue sadar, “Kan, tiket pesawat mahal.”

Jadi, yang gue tangkap di sini:

Film ini menunjukkan bagaimana kerennya ngucapin “I love you” pada kondisi yang tidak biasa. Kita udah bosan dengan cara mengucap “Aku cinta kamu” atau “I love you” di atas jembatan sambil berlutut nyerahin bunga. Bunga Zainal.

Terinspirasi dari film ILY From 38.000 Feet (dalam Satuan Internasional disingkat “ft”), gue akan mencoba membuat sebuah skema cara mengucapkan “I love you” yang tidak biasa.




I Love You From 38.000 derajat Celcius
“Aku pikir kamu bakal bilang ‘I love you’.”

Setelah mendapat alarm seperti itu, segeralah mencari industri baja terdekat. Kamu cari di tungku mana yang suhu perapiannya mencapai 38.000 Celcius.

Memang susah untuk mendapatkan 38.000 Celcius. Dapat setengahnya aja hampir nggak ada. Karena menurut study tour yang gue lakukan di Google, suhu tungku perapian untuk melelehkan besi sekitar 1500-2000 derajat Celcius, lebih panas daripada amarahnya penonton Katakan Putus.

Supaya pacar percaya kamu sudah berada di tempat yang mahakeren, fotolah seluruh bagian di tempat ini. Sedikit meniru film aslinya, tulislah I LOVE YOU FROM 38.000 DERAJAT CELCIUS pada kertas sigaret—kertas yang digunakan untuk membuat rokok lintingan sendiri—kemudian masuk ke tungku perapian. Belum sempat difoto kamu sudah gosong di dalam tungku.



I Love You From 38.000 mAh
Selanjutnya adalah sebuah skema yang tidak memerlukan banyak syarat merepotkan. Cukup power bank 38.000 mAh dan jarak antara pacar harus bersebelahan. Harus banget. Tidak boleh jauh-jauh sebab agak susah dapat momennya. Jarak dekat akan sangat membantu proses terjadinya skema ini.

Yang harus diperhatikan di sini adalah kamu harus menggunakan gaya pacaran anak SMP tahun 2010-2013, yang mana saat itu sangat terkenal dengan gaya pacaran “deket-deketan tapi sms-an”. Karena sudah banyak aplikasi pesan instan, fitur SMS bisa diganti dengan WhatsApp, Line, KakaoTalk, dan aplikasi pesan instan lainnya. Kalau beruntung, pakai Tinder juga bisa.

Kembali lagi, yang harus diperhatikan adalah pancing terus agar baterai handphone-nya cepat terkuras habis. Pada saatnya dia mengirim pesan berbunyi “Aku pikir kamu bakal bilang “I love you”, balaslah dengan, “Aku pikir kamu bakal pinjem power bank.”

Tidak ada satu orang pun yang dapat tenang melihat baterai handphone-nya habis. Maka di situlah dia akan membutuhkan power bank, lalu pinjamkan power bank 38.000 mAh milikmu. Jangan dikasih buat dia. Suruh dia beli sendiri. Atau jadikan power bank 38.000 mAh sebagai kado ulang tahunnya.



I Love You From 380 km/jam
Skema ini akan lebih menyerupai film aslinya.

Yang kamu butuhkan pertama kali adalah mobil. Angkot juga boleh, tapi pastikan jangan ada penumpangnya. Nanti dia minta kembalian, kamu kerepotan. Pokoknya di sini one man show.

Hal yang harus diperhatikan adalah kondisi dari mobil, terutama kondisi speedometer. Bahan bakar harus cukup untuk perjalanan mencari trek lurus. Setelah semuanya cukup baik, pastikan pesan dari pacar harus sampai kepada kamu untuk memulai sebuah aksi nyata.

“Aku pikir kamu bakal bilang ‘I love you’.”

YAK! Segeralah pacu mobilmu dengan semangat juang. Brrmmm... brrrrm... brrrmm. Ngeeeeeenggg.... Lihat jarum speedometermu sudah menunjukkan angka berapa, lalu tahan pada kecepatan konstan dan foto jarum tersebut bersama tulisan “I LOVE YOU FROM 380 KM/JAM BRRRRR”.

Kalau mobil nggak mampu dipacu segitu, silakan bercita-cita menjadi masinis kereta api Maglev Shanghai.

Sebenarnya masih ada tambahan lagi, yaitu I Love You From 38.000 volt. Tapi, pemandu study tour gue menyebutkan manusia bisa mati pada tegangan 220 volt. Jauuuuh banget dari angka 38.000.

Semoga skema-skema di atas bisa memberi gambaran lebih jauh tentang cara mengucapkan “aku cinta kamu”. Walaupun sulit diucapkan, tapi percayalah suka itu kata paling hebat. Janganlah kau merasa malu. Bila kesulitan, teriaklah: Ku suka, dirimu ku suka, sambil berlari sekuat tenaga.

Ungkapkan perasaanmu. Jujurlah dari sekarang juga.
Read More »

Kata Milea di novel Dilan 1990, “Cewek itu nggak suka ditanya.” Gue setuju sama doi. Apalagi kalau ada cewek yang kita nggak kenal, terus kita tanya, “Mbak, suaminya ada berapa?” Dijamin ditinggal kabur.

Tapi, kenapa selebask—sebutan untuk artis Ask.fm—yang gue kenal kebanyakan cewek? Awkarin contohnya. Awkarin sedikit memberi dorongan gue untuk main Ask.fm. Selain bisa kepoin orang-orang yang menarik, alasan gue main Ask.fm adalah biar ditanya-tanyain. Waktu itu, “ditanya-tanyain” adalah sebuah obsesi.

Tiga tahun punya Ask.fm nggak membuat gue jadi selebask. Abisnya nggak ada yang nanya-nanya gue. Syukurlah sekarang Ask.fm udah sepi, jadinya nggak sedih-sedih amat.

Sekarang gue jarang main Ask.fm. Namun, sampai sekarang masih tetep ada yang nanyain gue, tapi bukan di Ask.fm. Bukan pertanyaan seperti “Kalau ke Roxy lewat mana ya, Mas?”, tetapi pertanyaannya lebih seru.



Gue dapat pertanyaan dari empat orang yang berbeda.

Setelah tahu mendapat pertanyaan itu, gue meminta saran ke temen-temen di grup blogger WIRDY agar enaknya diapain pertanyaan itu. Maklum, udah lama nggak dapat pertanyaan, jadinya kaget. Mau dilempar ke regu lawan, nanti gue rugi. Harusnya gue yang dapat poin.

Inti dari saran mereka: jawab aja.

Siap.

Pertanyaan ini bukan gue sendiri yang nanya. Serius. Asli. Ada empat orang yang secara kompak nanyain gue tanpa mau disebut namanya. Mereka juga sepakat kalau pertanyaan dan jawaban itu dimasukin ke blog gue. Berhubung lagi nyantai dan nggak ada bahan buat posting, gue iyain aja deh.

Di bawah ini yang bercetak tebal adalah pertanyaan kiriman. Di bawahnya langsung gue jawab.


Pernah kepikiran buat pacaran sama blogger nggak, Kak? Kalau iya, alasannya apa? Kalau enggak, kenapa? Dan siapa blogger yang bakal kamu pacari seandainya kamu perempuan?

Pertanyaan balik: kenapa harus ngebayangin gue jadi perempuan?

Gini aja deh. Dalam keadaan gue yang sekarang, berjenis kelamin laki-laki, gue tetap bisa kepikiran untuk pacaran sama blogger—cewek. Gue kenal banyak, kok, blogger cewek yang cantik. Coba gue inget-inget dulu blogger cewek yang gue blogwalking-in akhir-akhir ini.

Hmmmm.

Semuanya ibu-ibu.

Okey, sip. Mending kembali ke pertanyaan awal. Sampai mana tadi?

Untuk kepikiran pacaran sama blogger, gue, sih, nggak terlalu mikirin dia blogger atau bukan. Gimana ya? Mungkin saat kenal sama cewek, mau dia blogger atau petani gandum, gue menganggap dia sebagai cewek biasa. Cewek pada umumnya. Nggak melihat dia sebagai inilah-itulah.

Lagian, pacaran sama blogger emang enak, ya? Belum pernah ngerasain soalnya. Dalam bayangan gue, pacaran sama blogger pasti yang sering diomongin soal blog juga, seperti SEO, kode html, peringkat Alexa, dan pamer-pameran statistik views. Ngambek-ngambeknya paling karena abis nge-date, terus nggak diceritain di blog. Akhirnya nggak dapet backlink.

Kalau gue perempuan dan mau pacaran sama blogger, gue bakal pacarin... Robby Haryanto. Hehehe.



Mau nanya, masa lalu paling kelam seumur hidup kamu apaan rob? Yang mungkin sampai saat ini tiba-tiba teringat, trus jd nyesal.
Apa tujuan kamu ngeblog selain curhat dan bisa kenal banyak temen, Rob? Agar pejwan? Menghasilkan receh. Dan, apa keseruan tersendiri yang kamu dapat dari ngeblog?

Pertanyaannya banyak. Kalau penanya ini seorang guru, mungkin dia dibenci sama muridnya karena punya pertanyaan beranak. Ternak, kok, soal. Kambing tuh diternakin.

Masa-masa paling kelam seumur hidup gue adalah ketika gagal lolos jatah 50 persen jalur undangan PTN (SNMPTN). Itu baru seleksi awalnya, lho. Bikin gue nyesel sampai sekarang: kenapa dulu gue jarang belajar serius. Menjelang UN gue semakin sadar, dulu itu gue sangat malas belajar. Belajar kalau mau ada ulangan doang. Biar nggak sedih-sedih amat, kebetulan waktu itu ada Rocket Rockers ke sekolah, gue nyanyi teriak-teriakan dan loncat-loncatan.

Lalu, tujuan gue ngeblog, selain curhat, hmm... apa lagi, ya? Nggak ada. Hehehe. Tujuan ngeblog hampir semuanya murni untuk curhat.

Ada satu tujuan lebih yang baru kepikiran saat enam bulan pertama ngeblog.

Dulu, tuh, gue lagi ngerasain nggak punya identitas di SMA. Masuk SMA bikin gue pengin dikenal semua orang di sekolah. Jadi pintar susah, jadi berandal nggak mampu. Gue bingung, di sekolah ini mau dikenal jadi apa.

Yang gue tonton di film-film, anak SMA itu mesti banget punya identitas biar dikenal. Anak yang jago basket bisa terkenal dengan sebutan “anak basket”-nya. Anak yang sering ke masjid pasti dikira anak Rohis. (Gue sendiri pernah dibilang anak Rohis, padahal kalau ke masjid gue lebih sering tidur.) Gue sendiri nggak tahu mau mencirikan gue sebagai apa. Karena kebetulan punya blog, yaudah gue pake aja identitas “blogger” di sekolah.

Iya, iya. Busuk.

Kenyataannya, identitas yang berusaha gue bangun malah nggak ngangkat. Sampai lulus.

Yaudah, sejak saat itu gue nggak punya tujuan banyak soal ngeblog. Sempet tujuannya ke uang, tapi udah jauh-jauh aja deh dari tujuan itu. Sekarang lebih lepas aja, sih, ngeblognya. Kalau mau nulis cerpen, gue jadi tahu ke mana harus publikasikan. Nggak harus nungguin guru Bahasa Indonesia ngasih tugas. Nggak harus nungguin cerpen gue nampang di mading biar ada yang baca.

Kalau keseruannya sendiri, BANYAK BANGET.

Alasan yang paling keren, dan baru gue sadari setelah baca buku Juru Bicara karya Pandji Pragiwaksono, adalah dengan memiliki blog dan aktif menulis di sana membuat kita belajar menjadi seorang produsen. Nggak nyangka, lho, walaupun cuma sekadar iseng ngeblog berupa curhatan dan cerita sehari-hari, asalkan disiplin, itu bisa ngelatih alam bawah sadar kita menjadi seorang pembuat.

Nggak nyangka ngeblog bisa segitunya. Fyi, gue aja ngetik ini sambil manggut-manggut. Kebetulan sambil dengerin lagu Young Lex.



Masih pengin nerbitin buku nggak? Atau pakai skala deh, dari angka 1-10 berapa kemauan lu? Seandainya kesampaian nerbitin, tapi kurang peminatnya. Lu ke depannya bakal tetep nerbitin?

Keinginan menerbitkan buku pernah jadi keinginan terbesar gue selain masuk perguruan tinggi negeri. Tapi, cuma pernah aja. Sekarang lebih pengin bisa sering-sering nulis di blog ini. Jadi, untuk saat ini blog adalah salah satu media menyalurkan tulisan selain WC umum.

Skalanya berapa? Mungkin lima. Lima skala richter. Nggak pengin-pengin amat sekarang setelah naskah gue dinilai belum layak terbit. Masih perlu banyak belajar dan belum siap nulis buku yang panjaaaang prosesnya. Nulis blog lebih enak, lebih bebas, dan lebih cepat selesainya. Hehehe.

Untuk pertanyaan terakhir... gue tetep mau nerbitin. Hehehe. Selagi dikasih kesempatan buat memulai apa yang gue inginkan, bahkan gue impikan, lebih baik gue jalani aja. Sekalian belajar bagaimana rasanya menjadi penulis buku sungguhan dan belajar penjualannya.

EH, LU JANGAN SOK IYE DEH, ROB!


Sebagai mantan siswa IPA, saya mau tanya tentang anatomi tubuh manusia. Fungsinya pusar/udel pada perut itu untuk apa?

Ini Ibu yang nanya, ya? Bu, tolong, Bu. Saya belum belajar buat pertanyaan ini, Bu. Tunda dulu, Bu!

Oh iya, latar belakang itu sepertinya kurang lengkap. Seharusnya: sebagai mantan siswa IPA yang sering tidur saat belajar Biologi.

Satu hal yang membuat gue heran adalah kenapa banyak yang minta gue membahas puser. Di Ask.fm gue pernah dapat ask begini:


((Bikin blog tentang seputar puser))

Yang harus digarisbawahi adalah bikin blog, bukan bikin entri atau post. Ini orang gokil juga permintaannya. Ngebayangin ada blog tentang puser, yang pertama kali gue tangkap adalah banner blognya, tentu saja, bergambar puser. Masuk ke niche-nya: misalkan dia beauty blogger, paling sering membahas cotton bud apa yang cocok buat ngebersihin puser.

Sekarang dapet pertanyaan tentang puser. Mumpung gue tahu jawabannya, gue jawab aja di sini.

Kalau ditinjau dari letaknya dalam anatomi tubuh manusia, letak pusar berada di perut. Seperti hidung, jumlah pusar hanya ada satu. Namun, pusar dapat berdiri sendiri di antara luasnya perut. Hal ini yang menjadi inspirasi lain dalam dunia pemasaran. Banyak di antara kita mengenal Blue Ocean Strategy, yaitu strategi dalam dunia pemasaran yang menantang pengusaha untuk menciptakan ruang baru yang belum ada pesaingnya.

Ini yang belum terpikirkan para pemasar. Melihat letaknya yang sendirian di atas perut mengilhami gue untuk menemukan strategi pemasaran serupa Blue Ocean Strategy, yaitu Magnetic Puser Strategy. Sebuah strategi pemasaran yang terinspirasi dari sebuah puser yang dapat menarik perhatian (magnetic) para konsumen.

Bagaimana ini tercetus?

Perut diibaratkan sebuah pasar yang luas. Di sana segala macam produk ada dan tumpah ruah. Kita harus menjadi pusar yang menarik para konsumen. Kita harus menjadi “menggemaskan” agar pusar kita lebih menonjol dibanding pusar orang lain. Langkah awalnya adalah...

Ini jangan diseriusin, ya. Nanti gue digampar pakar pemasaran. Lagian, siapa, sih, yang nanyain kayak ginian? Puser tuh paling enak buat dibersihin pas nonton TV. Sambil nonton iklan, ngebersihin puser, lalu kotorannya di-.... (masukkan kata kerja sesuka kamu di sini).

^^^

Empat pertanyaan sudah terjawab. Sekarang giliran gue yang nanya ke kamu yang baca entri ini.

“Kalau kamu guru, berapa nilai dari soal-soal yang gue jawab dalam entri ini? Skor maksimal untuk satu soal 25”.

Asik, kan? Kasih nilai saya dong, Pak/Bu Guruuuu....

Temen-temen WIRDY juga dapat pertanyaan-pertanyaan yang seru. Kayak apa, ya, mereka jawabnya? Coba deh baca blog mereka masing-masing:
- blognya Yoga Akbar
- blognya Wulan,
- blognya Bung Darma, dan
- blognya Icha.

Gue mau nyontek dulu ah ke blog mereka.
Read More »

Lebaran tahun ini gue sangat bersemangat. Mudik ke kampung Bapak di Grobogan, Jawa Tengah dengan rumah yang baru memberi suntikan semangat buat gue. Walaupun hanya di rumah saja, gue tetap tidak kehabisan cara buat bersenang-senang. Ngetik entri blog termasuk kegiatan gue dalam bersenang-senang di kampung. Sesekali gue melakukan olahraga ringan di sini.

Kameranya emang jelek, tapi itu asli gue kok. Bukan stuntman.

Bukannya pergi keliling untuk bersalam-salaman minta maaf, pulang dari salat Ied, gue langsung buka laptop, lalu ngetik di bangku panjang meja makan. Seorang lelaki berjalan ngelewatin gue keluar lewat pintu belakang, bertanya, “Belajar, Mas?”

Gue menutup laptop. Mau jawab “Garap skripsi!” tapi nyadar ospek aja belum dimulai.

Tanpa mengganti baju koko, gue berkeliling ke rumah-rumah tetangga bersama keluarga. Selesai dari sana kami langsung kembali ke rumah untuk bersiap menyambut tamu. Siapa tahu ada yang ngasih gue uang persenan, meskipun jatuhnya jadi ngarep dot com.

Sekitar 5-10 tahun yang lalu gue masih dapat persenan di kampung. Melihat usia sekarang yang hampir menginjak 18, sangat sulit mendapatkan “selipan” uang saat cium tangan sama orang-orang tua. Itulah alasan gue untuk tidak membawa dompet: nggak ada yang ngasih uang.

(Padahal mah lupa. Sampai-sampai lupa bawa KTP bikin gue gagal naik kereta, padahal tiket udah dibeli dari jauh hari.)

Ada salah satu kalimat yang membuat gue dulu bertanya-tanya pada Mama.

“Ma, kok di sini orang pada minta seribu, sih, tiap lebaran?”

“Hah?” Mama nggak nangkap apa pertanyaan gue.

“Iya, itu orang-orang pada ngomong ‘nyuwun sewu’. Artinya, kan, ‘minta seribu’,” ujar gue. “Nyuwun artinya minta, sewu artinya seribu.”

Mama ngetawain gue. Dia ngejelasin kalau “nyuwun sewu” yang ini maksudnya minta maaf. Aneh. Bahasa Jawa sama susahnya dengan bahasa Meksiko.

Sama susahnya dengan mempelajari silsilah keluarga, yang sampai sekarang gue nggak hafal-hafal.

Salahnya menjadi gue adalah gue jarang ketemu mereka dan lupaan. Padahal, gue sering nanya ke Bapak, “Pak, kalau manggil mas itu apa harusnya?”

“Panggil aja ‘Pakdhe’.”

Seperti yang terjadi di kampung saat hari lebaran kemarin. Gue tahu, tetangga gue ini umurnya hanya setahun lebih tua daripada gue. Itu aja yang gue ingat. Tapi, karena silsilah menentukan segalanya, gue harus manggil dia “Bude”. Entah gimana cara ngejelasinnnya, gue sendiri nggak ngerti. Untungnya gue belum sempat manggil “Kak” atau “Mbak”. Pasti gue diketawain.

Pokoknya, kalau ketemu orang, gue selalu membatin, “Ini orang kalau di silsilah lebih tua daripada gue nggak, ya?” Ketemu orang jadi kayak main kartu remi. Harus nebak-nebak dulu apa “kartu” yang dia punya sebelum ngeluarin kartu sendiri. Apakah itu kartu pelajar, kartu tanda penduduk, atau kartu keluarga.

Selain tebak-tebakan dalam hal menemukan kata sapaan yang tepat, momen lebaran juga berarti harus menebak-nebak “gue harus jabat tangan atau cium tangan?”.

Tebak-menebak itu membuat gue harus nurunin ego buat cium tangan. Waktu masih kecil, gue nggak mikir jauh-jauh tentang hal itu. Ketemu orang yang lebih tua langsung cium tangan. Kalau cuma jabat tangan biasa takut dibilang nggak sopan dan bakal diomongin.

Sekarang, walaupun sudah 18 tahun, gue terkadang masih mempertahankan kebiasaan itu. Hampir selalu cium tangan dengan semua orang yang kira-kira mukanya lebih tua daripada gue. Terlalu cetek bila menilai umur dari muka. Nggak usah jauh-jauh, gue udah ngerasain sendiri dikira mahasiswa semester lima padahal masih kelas 10 SMA saat itu.

Pagi itu banyak sekali tamu yang datang. Rumah gue, karena ada orang yang dituakan, yaitu kakek—gue sebut Mbah, selalu rame didatangi orang dari mana saja. Kebanyakan gue nggak kenal siapa mereka. Saat orang-orang datang menghampiri, gue lebih dulu melihat wajahnya, lalu mencium tangan sebagai tanda menghormati.

Seorang wanita berkacamata berada di barisan ketiga di belakang sepasang suami istri, yang menurut gue ialah orang tuanya, lalu menyalami gue. Sejak rombongan ini masuk, batin gue, muka mereka lebih tua daripada gue. Di kepala gue seperti sudah tercatat apa yang akan dilakukan, dan nantinya kepala gue akan bergerak otomatis. Di kepala gue tercatat: “Tiga orang lebih tua, gue harus cium tangan ketiga-tiganya.”

Cewek yang tadi menjabat tangan gue, lalu gue menundukkan kepala dengan semangat untuk mencium tangannya, seperti perlakuan gue terhadap orang tua lainnya.

BRUK! Tanpa aba-aba dia juga ingin mencium tangan gue. Akhirnya kepala kami saling menyundul. Kami sama-sama gagal mencium tangan. Aroma parfumnya yang kuat membuat kepala gue semakin pusing.

“Aduh,” ucapnya, refleks. “Hehehe.”

Dia cengengesan. Gue juga. Suasana jadi canggung.

“Hehehe.”

Kejadian ini mengingatkan gue dengan kejadian beberapa bulan lalu di halte Transjakarta, saat gue sedang pergi jalan berdua dengan teman gue. Gue duduk bersebelahan dengannya. Karena gregetan dengan perkataannya, tanpa merasa berdosa, gue refleks menyundulnya. Tidak terlalu parah, kepala gue hanya mengenai ujung jilbabnya. Dia tidak merespons dan asyik dengan handphone-nya. Sesampainya di rumah dia bilang di WhatsApp, “Tadi lu nyundul gue?”

Nampaknya sundulan itu baru mulai bereaksi. Momen nyundul-nyundul begini enaknya langsung dikasih soundtrack lagu-lagu cinta yang biasa diputar di FTV.

Anaknya terlalu bersemangat.
Read More »

thumbnail-cadangan
Benar. Kalau kamu follow blog gue, entri ini akan ada di dasbor Blogger kamu.

Ngomong-ngomong soal blog ini, tepat pada tanggal 30 Juni nanti blog robbyharyanto.com akan berulang tahun yang ketiga. Perasaan gue benar-benar bahagia hingga sekarang masih bisa ngeblog. Walaupun cuma buat media senang-senang, gue merasa beruntung pernah mengenal blog; seperti yang gue tulis di hampir semua media sosial milik gue.

Seputar blog lagi. Nggak nyangka followers blog ini sudah mencapai 100. Gue senang dengan jumlah-jumlah bulat seperti ini, seperti membentuk tahap demi tahap dalam kehidupan bermedia sosial. Contohnya, perasaan mendapat sepuluh followers pertama: senang. Seratus kemudian: bahagia banget. Seribu selanjutnya: songong, sok nyeleb, nyuruh followers selfie ala “bidadari kacamata”.
Hehehe. Sejauh ini belum ada yang sampai seribu. Teman di Facebook aja belum segitu.

Langsung ke poinnya aja. Sepertinya entri ini akan menjadi penutup di bulan Juni 2017 sekaligus penutup di tahun ketiga blog ini berada. Gue akan kembali ngeblog setelah lebaran atau masa-masa kuliah dimulai. Oh iya, kabar gue dalam menuju universitas negeri sangat membahagiakan. Berkat doa dari orang tua, guru, teman-teman dunia nyata maupun dunia maya, alhamdulillah, gue lolos SBMPTN. Sekarang lagi sibuk nyiapin berkas-berkas untuk persiapan masuk. Doakan semoga semuanya lancar, ya!

Gue menulis entri hanya karena ingin mengeluarkan apa yang sedang rame di kepala. Gue seperti mengusir mereka dari kepala gue dengan menulis. Kalau pikiran gue bisa teriak, dia mungkin bakal bilang, “HEI, MINGGIR DULU. KASIH TEMPAT UNTUK TAMU KITA YANG BERNAMA MASA DEPAN UNTUK TINGGAL DI SINI!”

Yeah. Gara-gara lolos SBMPTN, gue jadi gelisah karena mikirin hal-hal remeh. Takutnya malah mengganggu dan merusak hari yang seharusnya bisa dijalani dengan bahagia. Anehnya, pikiran tentang itu malah muncul terus. Yaudah, jadinya gue punya bahan buat ditulis. Hehehe.

1
Gue pernah baca, entah dari mana, ada sebuah kalimat begini: “Bacalah apa yang orang lain tidak baca dan kamu bisa berpikir beda dari orang lain.” Kayaknya itu jadi tepat setelah tahu kebiasaan gue seneng bacain kemasan makanan sejak kecil. Nggak tahu kenapa, setiap selesai makan ciki gue selalu membalik bungkus, lalu bacain komposisinya. Dari kebiasaan itu, gue jadi tahu kalau ciki atau makanan dalam kemasan selalu punya zat pengawet yang namanya natrium benzoat. Beda dengan formalin yang mana merupakan pengawet mayat.

(Hampir-hampir pikiran gue rusak karena pengawet mayat. Jangan-jangan, mayatnya setelah dikasih pengawet, disamain kayak ciki. Dimasukin kemasan, terus dikubur)  

Awas, jangan ketuker.

Takutnya, karena terlalu sering nonton Reportase Investigasi, seorang anak malah lebih tahu formalin sebagai bahan pengawet makanan daripada pengawet mayat. Siapa tahu, profesi dia nantinya menjadi pengusaha kolang-kaling, lalu terinspirasi dari acara tersebut. Nanti kolang-kalingnya dipakein formalin karena dia tahu, penjual makanan yang sering masuk TV adalah penjual (curang) yang masukin formalin ke makanannya.

Hati-hati.


2
Gue jadi takut banget sama petasan. Tahun ini menjadi masa paling kelam antara gue dengan petasan.
Di lingkungan tempat tinggal gue sebelumnya, bocah banyak yang main petasan, tapi jaraknya jauh-jauh dari keramaian. Main di lapangan atau lahan kosong. Sekarang nggak. Di depan gue, di jalan dengan penuh pejalan kaki, anak-anak nyalain petasan dengan bahagia tanpa dosa. Mana megangnya lama banget. Gue khawatir petasannya meledak di tangan.

Terus, ada satu bocah lari-lari nyalain petasan, terus dia lempar ke temennya. Udah gila kali ini anak, pikir gue. Atau, memang begitu caranya main petasan? Maklum, gue dulu nggak berani main petasan. Sampai sekarang, gue masih takut megang kembang api. Serius.


3
Masih tentang petasan. Ada beberapa jenis petasan yang nggak layak disebut petasan: petasan banting, petasan kentut, dan petasan tulis. Petasan tulis yang menurut gue paling layak di dunia perpetasanan. Ini petasan paling aman, sekaligus bikin produktif. Bentuknya panjang, dibakar ujungnya, terus disedot asepnya. Iya, ITU ROKOK.

Setelah ujungnya dibakar, nanti si pemegang petasan (tentunya pemegang saham terbesar karena dia yang modalin) bakal nyoret-nyoret ke tembok atau aspal. Biasanya dulu temen gue nulis namanya sendiri. Katanya, sih, nanti ada bekas tulisannya gitu. Nggak tau deh bener atau nggak. Gara-gara di depan rumah gue ada bocah nyalain petasan tulis, gue jadi pengin nantang diri dengan ikutan main. Nanti gue nulis, nulis, nulis, jadi deh satu draf novel.


4
Baru aja ngerasain sensasi makan ayam di sebuah restoran cepat saji. Sebut saja nama tempatnya “Pabrik kayakeju” bila diterjemahkan. 

Sore itu, gue sedang berada dalam acara buka puasa bersama teman-teman dan adik kelas ekskul KIR. Pemilihan tempat di sini agaknya cukup membuat sebagian orang mengkhawatirkan kesehatan pencernaannya. Sebaliknya, gue malah penasaran dan memang nggak ada tempat lagi. Kata orang-orang, Pabrik Kayakeju ini tempat paling oke... buat nangisin orang. Pedes banget ayamnya.

Dan ini yang menurut gue lucu. Gue diberikan sekotak nasi dan ayam yang entah bumbu apa itu di atasnya. Kayak kecap, tapi kok gue ragu rasanya bakal manis. Seorang teman memberi tahu, “Ini level 3.”

Level? Makanan berlevel? Biar apa?

Setengah perjalanan gue menghabisi ayam dan nasi, muka gue penuh keringat. Banjir. Seperti habis senam pukul 12 siang. Gue menggelengkan kepala, keringatnya muncrat ke mana-mana. Teman-teman gue yang lain nunjukin muka yang sama. Sama-sama kepedesan.
Bisik-bisik gue mendengar, “Si Robby level berapa, tuh?” Gue langsung memperhatikan lama teman-teman gue, lalu salah satu dari mereka nanya, “Rob, lu level berapa itu dah?”

“Hah?”

Mendadak budek.

“Si Robby, makan pedes malah budek,” katanya sambil tertawa. “Punya lu itu level berapa?”

“Hah? Nggak tau deh,” kata gue megap-megap, “katanya level 3.”  Gue menghela napas, “Gue nggak ngerti ginian, level-levelan. Gue mau makan bukan main game.”

Akhirnya, setelah malam itu, gue kepikiran satu hal: Kalau gue berhasil ngabisin level 3, gue boleh naik ke level selanjutnya dong? Abis itu lawan raja terakhir. Kalau nggak kuat? Game over pencernaan.

---

Masih banyak sebenernya yang mau gue tulis, seperti perjalanan gue selama persiapan SBMPTN mau banget gue tulis. Paling tidak, gue bakal baca lagi ketika suatu saat nanti gue sedang down di dunia perkuliahan, gue bisa berkaca kepada tulisan sendiri. Tapi, nantilah kapan-kapan. Rencananya mau gue bikin ke dalam bagian-bagian terpisah. Kalau sekalian ditulis dalam satu entri, bakalan capek bacanya. Demi kebaikan gue juga.

Terakhir, gue mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri. Semoga tahun depan bisa bertemu kembali dengan Ramadan dan tahun ini ibadah Ramadan kita diterima Allah swt. Aamiin.
Read More »