28 December 2016


Tinggal berdua dalam satu rumah adalah hal yang tidak pernah aku inginkan. Apakah ada lelaki, berumur enam belas tahun, yang menginginkan tinggal bersama adiknya, yang baru berumur delapan bulan? Agak gila. Aku seperti gadis belasan tahun yang disetubuhi hingga hamil kemudian ditinggal sang lelaki bajingan.

Aku seringkali membuat penyangkalan, bahwa aku tidak pantas ditempatkan dalam kondisi begini. Tinggal serumah dengan manusia yang tidak bisa membantuku mengerjakan apa pun. Aku seperti hidup sendiri, kemudian diberi beban lagi. Saat diri tidak terkontrol, sepintas aku berpikir ingin menusuk pisau roti ke punggung adikku, sehingga beban di rumah ini berkurang.

Ayahku pergi dua bulan sebelum Herman, adikku, dilahirkan. Ibuku tak kuketahui kabarnya pasca-melahirkan. Aku tak pernah mendapatkan informasi pasti di mana keberadaan kedua orang tuaku. Kerabat terdekatku, Tante Tresna, mengatakan, mereka ada di sebuah kota untuk mencari nafkah, dan kedua anaknya dititipkan pada adik Ayah tersebut.

Hanya bertahan lima bulan Tante Tresna menampung kami. Lamaran pekerjaannya di salah satu bank swasta diterima. Setelahnya, beginilah kondisi keluarga kami: hilang arah tanpa ada nakhoda di dalamnya—yang biasa kami sebut orang tua.

Membagi waktu antara belajar, merawat adik, dan bekerja sangatlah menyusahkan. Jujur saja aku kepayahan menjalaninya. Seperti sore ini, aku sedang menyiapkan bumbu untuk berjualan nasi goreng sambil menjaga adikku. Bahan-bahan yang sudah kubeli siap dihaluskan. Namun, pisau yang biasa kuletakkan di atas meja makan kini tidak pada tempatnya.

“Kulkas.”

Suara itu spontan terdengar. Aku kaget. Siapa yang berkata tadi? Yang ada di rumahku hanyalah aku dan adik. Mustahil Herman yang bicara.

Mungkin suara itu bisa jadi petunjuk. Aku pernah menonton serial kartun Dora The Explorer di televisi. Saat Dora mengajak penontonnya di rumah berinteraksi, aku memberi tahu ke mana dia harus pergi. Padahal, di luar sana, si Dora sialan pasti tidak mendengarku. Akhirnya, dia pergi ke tempat yang aku sebutkan.

Aku mengikuti apa kata suara asing tersebut, seperti Dora mengikuti perintahku.

Aku membuka kulkas. Seketika aku merasa bodoh tidak mendapatkan pisau di sana.

“Atas.” Suara asing itu muncul lagi sama persis. Aku melirik ke adik, dia merangkak sambil menunjuk-nunjuk ke atas kulkas. Aku semakin bingung karena dia sebelumnya belum bisa bicara. Kata pertama yang dia ucap justru kulkas. Seharusnya, kata pertama yang diucap seorang bayi adalah “ibu” atau “ayah”, bukannya kulkas. Atau memang kulkas dia anggap sebagai orang tuanya?

“Atas?” Aku melihat ke atas kulkas dan medapatkan pisau yang kuinginkan. Memotong cabai dan meracik bumbu nasi goreng yang pernah Ibu ajarkan.

Sebelum berangkat sekolah, sepucuk amplop putih diantarkan tetanggaku. Kemarin sore surat ini sampai kepadanya dan dia lupa menyampaikan padaku. Aku membacanya pada jam istirahat pertama di sekolah.
Jati, semoga kamu baik-baik saja. Ini Ibu. Maaf belum bisa berkunjung sampai penghujung tahun berakhir. Kamu belajar yang giat, ya. Ibu janji, saat kita bertemu nanti, Ibu akan memelukmu erat. Kamu harus sekuat pohon jati, itulah filosofi yang diberikan untuk namamu.

Salam sayang,

Ibu.

Surat itu tak begitu berkesan ketika membacanya kali pertama. Sampai di tempat berjualan, di bawah lampu petromaks, aku membaca surat itu. Walau hanya kertas biasa, aku bisa mencium aroma yang tak biasa.

Aroma kerinduan.

Kudekap surat itu. Ibu, aku rindu.

***

Seminggu lagi akan ada Ujian Akhir Semester. Aku mulai mengurangi jam berjualan agar bisa menyisihkan waktu untuk belajar, mengejar materi yang belum mampu aku kuasai. Aku menyadari bahwa akan sangat menyulitkan bila belajar sendiri. Aku membutuhkan pembimbing untuk mengajariku. Aulia, teman sekelasku, membolehkan aku belajar di rumahnya. Kebetulan rumahnya dekat dari tempatku berjualan.

“Jati, mau coba nasi goreng kamu dong.”

“Boleh. Bayar ya.” ucapku setengah bercanda.

“Boleh. Tapi kamu bayar aku juga.”

Aku dan Aulia tertawa.

Setelah selesai belajar, aku melanjutkan berjualan pukul 9 malam. Aku sudah berencana sekitar pukul 12 aku pulang.

“Kok baru datang?” tanya satpam kompleks.

“Biasa, Pak. Habis pacaran dulu tadi,” kataku bercanda.

“Yeh. Kerja dulu yang bener. Kalau udah kaya, baru deh nikah sama anak gue!” Pak Satpam kemudian tertawa.

“Anak bapak cewek, kan?”

“Bukan. Anak gue burung beo!” katanya kesal. “Ya, cewek lah. Nanti gue kenalin deh. Tapi umurnya baru dua tahun.”

Pak Satpam memang sering bercanda denganku. Aku sudah menganggapnya seperti Ayah, yang entah bagaimana rasanya memiliki Ayah seperti apa. Tapi, Pak Satpam punya karisma yang sanggup menggantikan sosok Ayah.

***

Pagi hari sebelum berangkat sekolah, aku kembali mendapat surat.
Jati, hari ini adalah hari pertama kamu UAS. Ibu harap, kamu bisa mengerjakan soal-soal dengan tenang. Tanpa beban pikiran. Percayalah pada Ibu, kamu bisa mendapat nilai bagus. Jangan lupa mengulang pelajaran yang pernah diajarkan di sekolah. Kamu ingat bulan ini ada Hari Ibu? Ibu harap, Ibu bisa bertemu kamu.

Salam rindu,

Ibu
Surat yang justru membuatku tak kuasa menahan tangis di hadapan lembar soal ujian. Aku berulang kali meminta kertas baru kepada pengawas karena tetesan air mataku membasahi kertas. Soal-soal Matematika menjadi terasa sangat sulit.

Ibu, kenapa kau datang membawa kesulitan padaku hari ini? Tapi, aku tetap rindu Ibu.

Semenjak surat itu datang aku tidak pernah konsentrasi mengerjakan apa pun. Aku berhenti berjualan untuk sementara waktu sampai kondisi jiwaku benar-benar stabil. Beberapa kali aku kehilangan keseimbangan. Aku hampir jatuh di jalan karena merasakan pusing yang hebat. Genggaman tanganku, tidak biasanya, menjadi lemah. Lima kali aku menjatuhkan piring dan gelas dalam sehari di rumah.

Saat ini yang kubutuhkan adalah orang yang paling dekat hubungannya denganku. Tetangga memang dekat dari rumah, tapi tidak cukup dekat bila kuceritakan apa saja yang terjadi pada diriku.

UAS selesai dengan banyak sekali kesalahan yang kubuat. Beberapa hafalan dan rumus tiba-tiba memusuhi diriku. Suara lembar soal yang dibuka terdengar mengejekku karena gagal menjawabnya.

Masa-masa seperti ini yang membuatku ingin mengakhiri hidup secepatnya.

Aulia nampaknya khawatir dengan kekacauan yang terjadi pada diriku. “Kamu beda dari biasanya, Jati. Ada masalah?”

“Sedikit.”

“Aku nggak maksa kamu buat cerita.” Aulia mengambil sebuah wafer yang tergeletak di meja kantin. “Mau wafer?”

Aku mengambil dua buah wafer. Mengambil selapis demi selapis untuk dijilati krimnya. Sekolah semakin sepi. Pedagang di kantin mulai memberesi dagangannya.

“Kamu nggak jualan hari ini?”

“Nggak bergairah untuk saat ini. Entahlah,” kataku. “Sepertinya semua kebiasaan yang sudah kubangun sejak tiga bulan terakhir runtuh karena sesuatu.”

***

Aku datang ke depan kompleks, tetapi tidak mendorong gerobak. Aku datang tidak untuk berjualan.

“Mana gerobak lu?” tanya Pak Satpam.

“Nggak jualan dulu, Bos. Hehehe.”

“Terus mau apa ke sini?”

“Berani tanding catur?” ajakku.

“Ayo.”

Semalaman suntuk aku bermain catur dengan Pak Satpam. Tanpa henti hingga bergelas-gelas kopi dan berbutir-buti kacang jatuh ke tenggorokan. Aku benar-benar melepas semua ketegangan yang ada di kepalaku. Aku tak peduli besok ada jadwal sekolah. Aku percaya besok sudah tidak ada kegiatan karena UAS telah selesai.

“Lo tau nggak, Boy? Waktu gue sebesar lo, gue bego banget main catur,” katanya memulai cerita.

“Masa, sih?”

“Menurut gue, raja tuh sebenernya goblok. Nggak bisa apa-apa. Maunya dilindungi doang. Gue malah lebih suka ratu, karena... gue cowok! Ratu kan cewek, gue cowok. Pas!”

Ucapannya mulai aneh. Aku mulai takut dia akan membeberkan rahasia celana dalam istrinya.

Aku tertidur di pos satpam kompleks. Terbangun pada waktu yang tepat saat muazin mengetukkan jari di mikrofon. Jalan sempoyongan setengah sadar saat azan Subuh berkumandang, aku ke masjid untuk menyegarkan diri berwudu dan salat berjamaah. Selesai salat aku kembali tertidur hingga matahari tepat di atas ubun-ubun.

Herman, seperti biasanya, tidak ada di rumah. Dia sedang tidur siang di rumah tetangga. Sejak aku bekerja dia memang aku titipi, kecuali pada hari-hari tertentu saat aku butuh dia untuk menemani di rumah. Aku ingin mengetahui kondisinya dan segera ke rumah tetangga.

“Titipan surat lagi,” kata tetanggaku menyerahkan amplop putih.

“Oh iya? Ada uangnya nggak, Bu?” ledekku.

“Nggak tahu deh. Saya nggak sempat ngintip.”

Aku menggendong pulang Herman yang tertidur pulas dan sepucuk amplop putih.
Jati, tanggal 22 Desember nanti hari pembagian rapor, bukan? Maaf, Ibu tidak bisa mengambilnya, begitu pun ayah. Kamu ambil sendiri saja, ya. Atau bisa meminta bantuan tetangga. Kabar baiknya, Ibu akan menemui kamu sore harinya. Ibu janji. Sore hari, kamu temui Ibu di pasar besar kota seberang. Ibu harap, kamu tidak lupa Hari Ibu.

Semoga nilaimu baik semester ini.

Saat pembagian rapor, tidak ada pilihan lain, aku mengambilnya sendiri. Herman aku titipkan di rumah tetangga. Dengan begitu aku tidak akan mengurusi dia dalam kemampuanku merawat bayi yang teramat payah ini.

Wali kelasku menanyakan tentang orang tuaku. “Kamu kenapa ambil rapor sendiri?” tanyanya. Aku setengah tertunduk menjawabnya, “Saya nggak tahu orang tua saya di mana, Bu.” Aku juga menjelaskan tentang pekerjaanku, supaya aku bisa sedikit membela bila nilaiku buruk dengan alasan sibuk bekerja.

Aku sebenarnya agak takut bila Ibu Arafah, wali kelasku, akan marah karena rapor tidak diambil orang tua. Namun, dia memberi pemakluman dengan alasan yang kuberi tadi. Dia hanya memberi sedikit nasihat dan motivasi belajar kepadaku.

***

Dengan menaiki angkot, aku menuju pasar yang dimaksud di dalam surat itu. Aku tidak membawa apa-apa untuk pertemuan ini: pertemuan yang sudah kurindukan sejak sembilan bulan yang lalu.

Sampai di sana, pasar cukup sepi, bahkan tempat ini tidak layak disebut pasar karena pasar identik dengan keramaian. Sambil menunggu Ibu aku minum es dawet di depan bank yang berada di tengah-tengah pasar. Di seberang jalan, mobil merah berhenti. Turun seorang wanita mengenakan kerudung biru dongker dipadukan gamis dengan warna senada. Dia menoleh ke kanan dan kiri, kemudian melihatku. Dia berjalan mendatangi aku.

“Jati?”

“Iya. Ibu?” tanyaku, setengah ragu.

“Benar, Jati.”

Aku tak sanggup menahan semuanya. Aku langsung memeluk Ibu erat-erat. Dia juga memelukku. Dari sudut matanya mengalir sungai kecil di pipinya. “Aku yang sering mengirim surat untuk kamu.”

Aku tak peduli lagi apa perkataannya, yang penting aku bisa bersamanya. Namun, aku menyadari ada hal berbeda dari wanita yang sedang kupeluk erat ini.

“Jati, kamu harus dengar ini.”

Aku dan Ibu duduk di bangku pinggir jalan.

“Sebenarnya,” kata Ibu menatap wajahku, “aku ibu yang lain dari ayahmu. Aku ibu tirimu.”

Kaget. Denyut nadiku perlahan melambat mendengar perkataan dia.

“Aku ibu tirimu. Ayah kamu menikahi aku dua bulan sebelum ibu kamu melahirkan. Ayah kamu akhirnya nggak sanggup membayar biaya rumah sakit karena uang yang dia miliki habis untuk menikah denganku.”

“DASAR WANITA BA—“

“Tunggu dulu.” Dia menunda luapan amarahku. “Kamu tidak sepenuhnya kehilangan ibumu.”

“Cepat! Tolong pertemukan aku dengan ibuku. Kamu bukan ibuku!”

Dia mengajakku menelusuri isi pasar. “Ibu kamu ada di sini.”

Beberapa kios sayur kami lewati. Aroma bumbu rendang tercium dari kejauhan. Bunyi bising pemarut kelapa terdengar. Namun, di mana ibu sebenarnya?

Ibu tiriku membuka pintu kayu yang digembok. Di dalamnya terdapat banyak sekali batok kelapa. Seorang wanita yang kedua kakinya terjepit di antara dua kayu sedang duduk terkulai lemas.

“Itu ibu kamu.”

“Benar? Kenapa ibu ada di sini?” tanyaku tidak percaya.

“Kamu siapa?” katanya sambil menunjuk aku dan ibu tiriku. “Jangan pacaran di sini. Anak saya sekarang sudah jadi Menteri Luar Negeri Portugal! Hahahaha.”

“Ibu kamu jiwanya terganggu, Jati. Sejak ditinggal ayah dan melahirkan, dia jadi murung. Dia nggak kembali lagi ke rumah setelah keluar dari rumah sakit.”

“Ibu....” Aku menjerit dan memeluk Ibu. “Ibu, maafin Jati ya, kalau selama ini Jati banyak dosa sama Ibu. Aku kesepian tanpa Ibu. Herman juga. Ibu jangan begini, Bu.”

Aku mengeluarkan rapor dan memberi tahu Ibu. “Bu, aku nggak bisa kasih apa-apa. Tapi, aku ranking satu di kelas, Bu.”

“Makasih telah melahirkan Jati, Bu. Aku sayang Ibu. Selamat Hari Ibu.”

--

Sumber gambar: https://www.vectorstock.com/royalty-free-vector/envelope-vector-488529

Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway blognya Yoga Akbar Sholihin bertemakan "Ibu".

25 December 2016


Setelah classmeeting kemarin pergelangan tangan gue terkilir, gue merasakan banyak sekali ketidaknyamanan dalam beraktivitas. Mau ngetik rasanya sakit karena tangan bengkak.

Meskipun tangan yang terkilir rasanya sakit banget buat digerakkin, gue tetap maksa ngetik pake satu tangan. Hasilnya, setengah jam cuma dapat 100-an kata. Gue tinggalin Microsoft Word, kemudian berpaling ke Descendants of The Sun. Nggak bisa dibohongi, DOTS adalah obat.

Udah dua postingan terakhir paragraf pertama selalu diisi oleh Descendants of The Sun. Abisnya keren, sih, filmnya. Apakah ini tanda-tanda gue akan menjadi pencinta drama korea? No no no. Terlalu cepat menyimpulkan. Kecuali ada file gratisan, gue mau deh nonton drakor terus-terusan.

Kembali ke tangan. Terkilir, keseleo, sprain, burxulmaq (dalam bahasa Azerbaijan), apa pun itulah bahasanya, memang cukup mengganggu. Gatel tapi nggak bisa digaruk, ngilu cuma bisa ditahan. Tangan rasanya kayak diemut banteng.

Selama terkilir, ada dampak baik dan buruk yang gue terima. Baiknya, gue nggak akan disuruh ngangkat-ngangkat.

Keponakan gue yang pertama masih berumur 8 bulan. Umur segitu, dari kebiasaannya yang gue lihat, lagi seneng-senengnya main karambol merangkak. Dia tinggal bareng gue, Mama, dan Bapak. Orang tuanya tinggal di Bekasi.

Biasanya, di rumah, kalau Mama lagi buatin bubur tim buat keponakan, gue yang ngejaga dia. Sebenarnya kesalahan besar nyuruh gue ngejaga bayi. Kalau nangis, gue nggak bisa netein. Kalau dia minggat dari rumah, gue nggak punya duit buat ngongkosin. Hal ini gue antisipasi dengan naruh beberapa bantal sebagai pagar di pinggiran kasur tipis yang digelar di lantai.

Gue aslinya bisa menggendong. Tetapi dengan tangan gue yang sedang terkilir ini, gue nggak bisa gendong dia.

Ceritanya gue lagi sibuk main handphone. Si keponakan nggak dijagain. Pas gue tengok lagi, dia udah merangkak keluar kasur, dan merangkak di lantai. Untungnya kasur gue tipis dan nggak tinggi, sehingga langsung nempel ke lantai. Gue khawatir dia nanti nggak seimbang lalu jatuh kepalanya terbentuk lantai. Gue panik, dan cuma bisa teriak, “Itu dia mau kabur, Ma! Tangan nggak bisa gendong nih!”

Mama yang lagi nyiapin makan buat dia, langsung ngangkat dia kembali ke kasur. Kehadiran gue terasa sangat useless di rumah ini.

Namun, banyak juga nggak enaknya dari tangan terkilir. Mau pake baju susah. Tangan kanan masuk dengan cepat, tangan kiri butuh setengah menit buat pelan-pelan masuk. Positifnya, gue jadi mengikuti anjuran Rasulullah untuk pake baju dari kanan dulu.

Ledekan dari orang terdekat juga nggak bisa dihindarkan, salah satunya adalah dari bapak sendiri. Betul. Orang yang kita percaya bakal ngasih dukungan ternyata ngeledekin. Dia dengan riangnya, ngeledek gue, “Robby tangannya sengklek! Tangannya sengklek!” kemudian main Fruit Ninja di tablet.

Karena yang terkilir adalah tangan kiri, sudah sangat jelas gue jadi kesusahan untuk cebok. Gue jadi nggak nafsu makan karena pikiran gue, kalau makan terus nanti malah mules. Sedangkan kalau gue boker, gue bingung harus cebok pakai apa.

(Untuk pertama kalinya gue mengetahui ada manusia bingung cara cebok.)

Dan petaka itu akhirnya datang juga. Perut gue mules dan tangan kiri masih susah digerakin. Masih kaku. Kalau pun bisa harus dengan dorongan tangan kanan. Begitu saatnya cebok, gue kebingungan. Naluri manusia gue bekerja. Gue berdiri, nempelin pantat ke tembok, gesek deh.

YA MASA KAYAK GITU. Yang ada abis digesek pantat gue bentuknya abstrak.

Terakhir, gue juga menjadi sensitif. Sewaktu berangkat sekolah, melihat angkot penuh sesak adalah hal yang harus dihindarkan. Temen ngedeketin, gue ngejauhin tangan. Takut sewaktu-waktu tangan gue nggak atau sengaja kesenggol. Terus gue mikir, kelamaan begini gue jadi antisosial dong?

Dari pengalaman-pengalaman di atas, gue menyimpulkan bahwa tangan terkilir memang nggak akan ngenakin. Selama kesakitan itu gue mendapat saran agar tangan yang terkilir bisa sembuh. Karena kondisi tangan gue sudah lebih baik sekarang, gue akan memberi saran dan cara untuk menyembuhkan tangan yang terkilir. Sebenarnya ini hanya meneruskan saran dari orang-orang.



1. Urut
Saran teratas jatuh kepada urut. Banyak sekali yang menyarankan gue untuk urut; orang tua, teman-teman sekolah, dan teman-teman di WIRDY. Tetapi gue punya keyakinan bahwa nggak perlu urut untuk bisa nyembuhin keseleo ini.

Alasannya: gue nggak tahan diraba-raba orang.

Gue orangnya gampang kegelian. Kalau lagi diurut tiba-tiba gue kencing, kan, malu jadinya.

Nilai untuk saran ini: 2/5


2. Beras kencur
Beras adalah bahan pangan yang khasiatnya luar biasa. Keunggulannya sudah teruji turun temurun. Beras dipercaya ampuh mengenyangkan perut orang Indonesia. Beras juga bisa buat alat musik. Dan baru-baru ini, Bang Yoga membuktikan bahwa beras bisa mencegah rusaknya perangkat elektronik miliknya.

Tidak hanya berkarier sendiri, beras dalam bentuk kolaborasi juga tak kalah berkhasiat. Salah satunya beras featuring kencur yang lebih dikenal beras kencur. Yang gue tahu sebelumnya, jenis beras itu ada beras merah, beras hitam, dan beras rojolele. Setelah gue tanya ke Mama, ternyata beras kencur itu adalah beras... dan kencur. Udah. Gue kira sejenis produk pangan terbaru.

Selain untuk jamu, ternyata beras kencur juga bisa untuk menyembuhkan terkilir.

Cara:
Tumbuk halus beras dan kencur bersamaan. Setelah menjadi bubuk tambahkan air dan balut dengan kain tipis. Ikatkan di bagian yang keseleo sebelum tidur dan lepas ikatannya di pagi hari. Jangan terlalu kencang karena bikin nggak nyaman. Pasti ngerti dong gimana rasanya dikekang? Hih.

Nilai untuk saran ini: 3/5


3. Obat merah
Obat merah ini bisa dibeli di apotek dalam bentuk cair. Digunakan dengan cara dioles di bagian bengkak setiap dua-tiga kali sehari. Gue nggak tahu banyak soal obat ini, tapi menurut pengakuan teman gue yang sudah merasakan khasiatnya, obat ini ampuh menyembuhkan bengkak di kakinya. Setelah gue memakainya pun terasa lebih baik. Obat ini aman.

Berikut adalah penampakannya.



Nilai untuk saran ini: 3,5/5


4. Kompres dengan es batu
Es batu banyak banget manfaatnya. Selain bisa menjadi senjata bermain sumpit, es batu juga bisa digunakan untuk mengobati keseleo. Ini yang gue terima ketika dikompres anggota PMR di sekolah.

Mengompres dengan es batu bertujuan untuk ngempesin bengkak. Bengkaknya pelan-pelan mengempes, eh muncul rasa sayang yang tiba-tiba membengkak.

Hah? Apaan, sih?

Cara:
Getok es batu menjadi bagian yang kecil. Kira-kira sebesar biji salak. Terserah mau ngetok pake batu atau kepala. Setelah dirasa cukup banyak es batu yang terkumpul, ambil kain tipis. Mirip dengan penggunaan beras kencur, namun dalam pengompresan harus diperhatikan terus menerus. Nggak bisa ditinggal tidur.

Tempel kain yang berisi es batu di bagian yang masih bengkak. Jangan ditempel begitu saja, sesekali diangkat dan dipindah ke bagian bengkak lainnya. Kalau sudah mencair, getok lagi es batu untuk pengompresan ulang.

Nilai untuk saran ini: 4/5
Nilai untuk anggota PMR: 10/10



5. Balsem
Sebenarnya ini termasuk dalam cara urut. Tapi kalian bisa menggunakannya di rumah dengan tangan sendiri. Kecuali kalau kedua tangan keseleo, nggak bisa dilakukan dengan lidah.

Cara:
Gunakan balsem apa pun sesukamu. Kalau bisa balsem yang sudah menjadi kepercayaan keluarga. Balsem nggak bisa diganti oli.

Balurkan balsem ke bagian yang bengkak. Dipijat perlahan bagian yang bengkak searah menuju jantung (ini tips yang gue dapat dari teman anggota PMR). Arah pijatan dilarang bolak-balik. Jangan cuma dielus saja bagian yang sakit karena hanya menimbulkan efek nyaman. Setelah nyaman, eh ditinggalin.

Ya, namanya juga nasib jadi kucing tetangga.

Nilai untuk saran ini: 4/5


6. Air liur atau ludah
Air liur atau ludah, selain berguna untuk membantu proses pencernaan, berfungsi juga untuk meludahi selingkuhan.

Mungkin terdengar jorok menggunakan ludah sebagai pengobatan. Tapi, kita berusaha kembali lagi ke alam. Biar produk alami yang menyembuhkan rasa sakit.

Cara:
Pergilah pagi-pagi ke tempat umum, usahakan yang ramai, misalnya terminal, stasiun, pasar. Cari seorang lelaki, dekati wajahnya, kemudian acungkan jari tengah dan berkata, “FAKYU!”, maka dia akan meludah untukmu. Tetapi perlu diingat, jangan melakukan ini di Transjakarta karena efeknya akan lebih parah. Sebelum diludahi, kamu akan dipukul lebih dahulu.

Cara yang tadi adalah salah.

Cara (yang bener):
Bangun tidur, ludahin bagian yang bengkak. Kemudian diusap. Beres. Jangan minum atau makan terlebih dahulu setelah bangun tidur.

Nilai untuk saran ini: 3/5


7. Istirahat
Tidak bisa dipungkiri bahwa istirahat adalah cara terbaik untuk menyembuhkan penyakit. Dengan mengistirahatkan diri tentunya kita akan terbebas sejenak kegiatan yang melelahkan. Ini juga berfungsi untuk memulihkan kondisi yang sempat drop.

Jangan maksa terus-terusan kerja keras di saat tangan keseleo. Mending di rumah, tiduran, nonton TV, baca buku, atau nonton Descendants of The Sun.

Nilai untuk saran ini: 5/5



8. Waktu
Kata penyair Tumblr, “Seiring berjalannya waktu, luka dapat menyembuhkan dirinya sendiri.”

Nilai untuk saran ini: 1/5
Nilai untuk quotes: B aja, sih

---

Untuk menuju kesembuhan, banyak jalannya, kan? Jangan patah semangat, jangan punya niatan matahin tangan yang satunya. Ayo, sembuhkan keseleomu!

(Wuih, udah kayak kampanye antinarkoba aja. Tolong angkat saya jadi duta keseleo)

---

Sumber gambar:
http://sidomi.com/451008/keseleo-jangan-diurut-ini-pertolongan-pertamanya/

22 December 2016

Wah wah wah. Udah semingguan gue nggak update blog. Ada banyak hal yang bikin gue jadi males ngetik. Rencana demi rencana sudah disusun, namun kandas oleh dua hal: 1) tangan pegal dan 2) Descendants of The Sun. Yeah, mumpung ada file-nya episode 1-16, gue tonton aja. Sampai tulisan ini sedang diketik gue sudah menonton episode lima.

Jadi, selain faktor yang telah gue sebut di atas, tangan gue baru saja terkilir saat classmeeting kemarin. Itu lho, acara yang biasanya diadain di sekolah setelah ujian akhir yang berisi lomba-lomba antarkelas.
Saat mengetik ini pula, tangan gue masih dalam keadaan bengkak berbalur balsem. Jari-jari gue cukup bisa bergerak mencet keyboard, sehingga jadilah gue ngetik post ini.

Classmeeting ini adalah kesempatan terakhir yang, mungkin, bisa dibilang mengenang, sekaligus menegangkan. Walaupun nggak sampai juara dua kayak tahun kemarin, classmeeting tahun ini punya momen-momen yang nggak akan gue lupakan

Mari merekap perjalanan gue selama classmeeting kemarin.

Jumat, 16 Desember 2016
Di hari pertama classmeeting, gue main di pertandingan futsal melawan kelas 10 MIPA 2. Pertandingan yang kami kira akan berjalan mulus, karena lawannya kelas 10, ternyata... gila, jago juga mereka.

Gol pertama tim kami di classmeeting tahun ini diciptakan oleh pemain berdarah Rusia campuran Kebumen. Siapa lagi kalau bukan Robby Haryanchev.

Gol yang nggak disangka ini tercipta lewat kepala botak gue. Bola tinggi yang dioper Josua, rekan setim, tanpa sengaja gue sundul. Suporter, yang kebanyakan cowok-cowok sejurusan, ngerumuni dan mengelus kepala gue. Wah, gila. Masih terasa antusiasnya. Kepala gue masih terasa anget sampai sekarang.

Akhirnya pertandingan berakhir seri 4-4 setelah sebelumnya kami kalah 1-3. Pertandingan dilanjutkan adu penalti dan dimenangkan tim kami 2-0. Lanjut babak selanjutnya deh.


Senin, 19 Desember 2016
Hari ini ada pertandingan voli dan futsal melawan kelas yang sama, 11 MIPA 3. Seperti opini yang telah berkembang di masyarakat, bahwa anak IPA tidak berminat pada classmeeting, mungkin itulah yang terjadi pada lawan kami. Hasilnya, kami menang dua babak langsung di voli dan membantai 7-2 di laga futsal. Apakah gue mencetak gol? Ya, tentu saja.

Apakah dengan mencetak gol berpengaruh pada elektabilitas? Tetep nggak ngangkat, cees.


Selasa, 20 Desember 2016
Inilah petaka yang memulai segalanya.

Tim futsal kami sudah sampai semifinal. Sudah terpikirkan “yang penting masuk empat besar” membuat tim kami lupa diri. Pemain andalan kami, Josua, nggak masuk. Terpaksa bermain dengan pemain seadanya berujung pada kekalahan tim kami dengan skor 1-7.

Skor yang sangat besar? Ya, tentu saja.

Apakah gue sedih? Ya, tentu saja.

Tapi nggak sedih-sedih amat, yang penting nyetak gol.

(Halah, nyetak gol juga tetep nggak ngangkat. Nggak ada tuh yang mau ngajak foto atau sekadar nanyain “Tadi kakak yang ngegolin ya?”)

Siangnya dilanjut pertandingan voli melawan kelas 11 IPS. Secara materi pemain, tim kami kalah skill. Lawan kami diisi oleh dua orang pemain voli tim sekolah dan dua pemain futsal (pemain futsal selalu bisa main di olahraga apa pun—menurut kepercayaan di sekolah). Sedangan tim kami, ohoho teramat cupu. Untungnya ada Josua, si anak voli, yang telat masuk.

Babak pertama, Tole, rekan setim, mem-passing namun arahnya nggak jelas. Hanya gue yang posisinya memungkinkan mengambil bola. Karena jaraknya sulit membuat gue nggak yakin bila mengambil bola dengan tangan. Gue memanfaatkan skill brutal main voli dengan menggunakan kaki, lalu... salto.

Bola berhasil ketendang, tangan kiri gue salah mendarat.

Ohoho, tentu saja gue menjerit.

Pergelangan tangan kiri gue membengkak dan sakit. Rupanya terkilir. Rasanya udah nggak mungkin main lagi tetapi gue melihat di ujung sana, udah nggak ada lagi stok pemain sisa. Oke, gue tahan hingga beneran nggak kuat. Untungnya masih bisa service berkat tangan kanan.

Begitu melihat Silvi, teman sekelas, gue langsung minta ganti. Nggak apa deh yang ganti cewek, yang penting gue berhenti main.

Pada akhirnya, tim kami kalah. Apakah gue sedih? Ya, tentu saja. Tangan gue gimana? Ya, tentu saja SAKIT BANGKE.


Rabu, 21 Desember 2016
Hari ini adalah hari penentuan juara. Kelas kami yang kalah di semifinal berkesempatan mendapatkan juara ketiga. Sayangnya, pemainnya nggak ada. Gue dari rumah telah berniat nggak ingin main mengingat tangan kiri gue masih sakit. Kemudian sebuah kalimat menghasut gue.

“Udah ayo main aja buat seneng-seneng.”

Buat seneng-seneng, ya tentu saja gue langsung main. Walau gue sudah masuk tim, pemain di tim kami masih kurang. Terpaksa harus mengambil satu pemain dari kelas lain buat bantu-bantu. Ya, minimal bantu oper bola ke gue biar bisa nyetak gol (dan ngangkat nama di sekolah), gitu.

Di sinilah gue. Di tengah lapangan, dengan posisi tangan seperti zombie kidal, siap mencetak gol.

Beberapa menit awal, lawan kami masih terasa seimbang. Skor 1-1 membuat gue yakin bisa menangin pertandingan. Tapi setelah kalah 1-3,...

... gue boleh pulang nggak?

Gue jarang sekali mendapat bola. Pergerakan gue, setelah mencuri bola dari lawan, dijegal lawan, lalu gue kehilangan keseimbangan dan...

Yak. Jatuh. Lagi.

Tangan kiri yang belum sembuh-sembuh amat harus kena lagi. Apakah gue meringis? Ya, tentu saja. Gue langsung menepi dan tiduran di pinggir lapangan.

Atas saran seorang penonton, gue langsung masuk ke ruang UKS. Di dalam UKS ada anak-anak PMR lagi ngumpul-ngumpul lucu di kasur. Begitu gue datang langsung auranya beda.

“Ini nih, tangannya terkilir,” kata temen gue.

Gue langsung mencari-cari kasur untuk rebahan. Anak PMR langsung nyiapin es batu buat bikin es kelapa muda. Ya kagaklah! Buat ngompres tangan gue.

Selayaknya korban kecelakaan, orang-orang yang ada di sekitar gue malah nanya-nanya. “Lu kenapa, Rob?” Ingin gue menjawab, “LU TADI NGGAK LIAT GUE DIJEGAL GITU, HEY?! Tetep ya, jatuh di classmeet nggak ngangkat!”

Plis. Gue butuh pengobatan, bukan pertanyaan.

Nggak deh. Gue nggak sejahat itu. Mereka yang nanya gue jawabin pelan-pelan, sambil ancang-ancang kaki untuk menendang kalau sewaktu-waktu dia mencet tangan kiri gue.

Seorang anak PMR, yang gue kenal wajahnya, menempelkan kain tipis berisi es di pergelangan tangan kiri gue. Gue masih berbaring cuma bisa merasakan ngilu di tangan kena es batu. Mungkin tangan gue nggak dipakein Sensodyne. Halah, apa ini.

“Rob, Rob, jangan mendesah gitu dong. Hahaha,” ledek Tole.

“Ah, ini si kampret kenapa bawa-bawa mendesah, sih? Bikin suasana keruh aja,” batin gue, sambil ancang-ancang menendang.

Selagi tangan gue masih dikompres, gue ngobrol sama Tole yang ada di pinggir kasur, menemani gue. “Seh, mainnya kasar ya,” kata dia.

“Aduh, gue nyesel ikut classmeet tahun ini. Ngancurin badan doang.”

Bengkak di tangan mulai mengempis. Ampuh juga kompresan anak PMR yang berbakti dan keibuan ini. Kalau udah begini, gue jadi pengin jadiin dia... jadi ibu gue.

Suasana di UKS kemudian hening.

Tole ngomong ke gue, “Rob, bengkaknya udah ngempes, tapi yang ‘itu’ jangan ngembang dong. Hahaha.”

“Le, jangan malu-maluin gue di sini...,” ujar gue pasrah.

Bangkai sekali si Tole ini.

Kesimpulan dari classmeeting tahun ini: Jangan menjadikan classmeeting sebagai panjat sosial. Percayalah, cuma yang ganteng dan keren aja. Mau nyetak gol atau patah tulang sekali pun (dan punya blog tentunya) tetap nggak ngangkat.

15 December 2016

Motivasi orang makai domain .com (dot com) berbeda-beda. Tetapi satu yang pasti, orang mau pake domain berbayar karena ingin ngeblognya makin rajin. Yang rajin semakin rajin. Yang jarang nambah rajin. Percaya deh, nggak bakal ada blogger yang kalau ditanyain kenapa pake domain berbayar dengan alasan “lagi iseng, eh nggak sengaja kepencet”.

Emangnya stalking.

Gue memutuskan untuk menggunakan domain berbayar sejak Desember 2014, waktu itu robbyskuit (alamat blog gue sebelumnya) baru umur enam bulan. Alasannya biar gue makin rajin, mengingat bayar domain itu butuh biaya. Lumayan jadi cambukan kalau gue lagi malas nulis. Jadi, gue nggak perlu pacar buat ngingetin ngeblog.

Tahun ini tahun kedua gue perpanjang domain. Awalnya gue bingung harus bayar pake apa karena sepuluh hari menjelang batas akhir pembayaran, uang gue tinggal sepuluh ribu. Itu pun buat nyicil kenang-kenangan kelas 12; buku tahunan dan jaket angkatan.

Bingung, harus bagaimana.

Bersabar dan jangan putus asa.

Bertanyalah pada Mamah Aa’.

Sip. Kalau kalian baca itu dengan nada yang benar, kalian suka bangun pagi nonton Indosiar.

Memang, rezeki datangnya nggak ada yang tahu. Tiba-tiba dapat aja, tuh, uang. Seminggu sebelum deadline, gue siap membayar.



Gue ke bank untuk nabung uang yang gue dapat. Aneh juga. Harusnya gue bisa langsung transfer ke rekening Qwords, jasa penyedia domain gue. Gue malah sempat-sempatnya ngisi rekening sendiri. Maksud gue, biar minimal ada transaksi lah di rekening. Setelah itu barulah gue transfer lewat ATM. Biar transaksinya nggak minus terus.

Ya, mau dibilang gimana pun, tetep aja aneh.

Malamnya, gue pergi ke minimarket buat mentransfer. Dari rumah gue pake kaos putih perpisahan SD, lengkap dengan foto teman-teman sekelas yang mukanya sudah pudar. Celana training hitam dan topi nggak lupa menjadi atribut. Belum lagi gue ke sana menggunakan sepeda. Mbak-mbak kasir bakal ngira gue adalah peserta Tour de France yang mampir ke minimarket.

Gue dengan jumawa memasukkan pin. Kemudian memasukkan nomor rekening yang dituju dan nominalnya. Selesai. Tiba-tiba gue disuruh masukin pin ulang. Gue baru memencet dua tombol, gue ragu. “Pin gue apa ya?!”

Nggak bisa

Gue coba masukin pakai password hape, tetep nggak bisa.

Gue coba lagi,
tetap, nggak bisa. Sampai di layar tertulis “batas salah pin telah habis”. Kira-kira begitu. Duh, kenapa gue jadi kayak maling bodoh yang nyoba nguras ATM korbannya.

Ketika kau punya masalah

Bingung, harus bagaimana.

Bersabar dan jangan putus asa.

Bertanyalah pada Mamah Aa’.

Gue kembali ke rumah untuk menjemput secercah harapan. Mungkin di sana ada jawabnya. Mengapa di tanahku terjadi bencana~

Gue mengambil nasi di rice cooker, menciduk soto dan bihun, dan mengambil sesachet sambal. Ya udah, namanya laper nggak boleh ditahan-tahan. Urusan transfer nanti dulu deh.

Setelah kenyang, gue balik lagi ke minimarket yang sama. Ketika gue memarkirkan sepeda, rantai sepeda gue lepas. “Yah, tanggung lah. Benerin nanti aja. Tanggung,” pikir gue.

Kedatangan gue akan membuat curiga mbak-mbak kasir. “Ah, peserta Tour de France yang mau nguras ATM korbannya, nih.”

Setelah gue coba ternyata tetap nggak bisa. Mungkin ATM di sini yang lagi eror.

Gue harus mencari tempat yang masih ada ATM buka. Mungkin di minimarket sana ada jawabnya. Mengapa ATM-ku terjadi bencana~

Tentunya dengan jari-jari tangan yang kotor, gue berada di depan ATM yang ada di minimarket lain. Gue dengan sepenuh hati menekan tombol untuk memasukkan pin. Berhasil. Nggak ada acara lupa pin lagi. Pelan-pelan gue pencet dengan kelingking nomor rekening tujuan. Dua angka terakhir gue salah ketik. Gue nyari tombol backspace. Nggak ada. Adanya cuma clear, yang artinya harus dari ulang.

Hey, ini ngetiknya penuh perjuangan pake kelingking!

Setelah semua selesai, gue disuruh memasukkan pin kembali. Lho, kayak tadi? Gue tetap mencoba berpikir positif. Kepala gue berusaha berpikir dingin (kebetulan mesin ATM ada di bawah AC). Tetap saja, layar menunjukkan transaksi gagal.




Gue putus asa malam itu. Ada baiknya ditunggu sampai besok aja. Siapa tau baru bisa besok lagi.

Kecewa pasti ada. Kesal apalagi. Tapi di perjalanan menuju pulang, gue menemukan kebahagiaan kecil. Ada suara speaker yang berbunyi “tahu bulat... digorengnya mendadak... lima ratusan.” Malem-malem masih ada aja, dan rame. Nggak tanggung-tanggung, mobil pick up yang membawa dagangannya dikejar sama bocah-bocah SMP.

Mobil itu pelan-pelan jalan.

“Ih, Abang. Jangan jalan dulu,” rengek cewek seumuran SMP. Rengekannya kayak film-film zaman dulu yang punya sebutan “abang-eneng” antara pasangan satu dan yang lainnya.

Si Abang cuma ketawa. Dia masukin beberapa tahu ke plastik. Mobil masih jalan dengan kecepatan tetap.

“Ih, Abang!”

Di sepeda gue ngakak. Kasihan melihat si cewek itu. Kalau mobilnya jalan terus, apa dia mau ngikutin? Kan, bisa aja mobilnya jalan, tau-tau nyampe Sumedang. Terus tahunya udah nggak bulat lagi. Jadi Tahu Sumedang.

Ya, kira-kira begitulah. Kalau sampai blog robbyharyanto.com nggak bisa diakses, ya kembali lagi dengan nama robbyskuit.

Update: Rabu, 14 Desember 2016
Setelah malamnya gue gagal membayar tagihan, gue mencoba kembali setelah pulang sekolah. Gue pergi ke ATM dekat sekolah, hasilnya... tetap nggak bisa.

"Apanya yang nggak bisa, ya?"

Gue stres. Mungkin butuh waktu 24 jam untuk bisa mengakses kembali setelah gagalnya masukin pin semalam.

Sampai di rumah, gue iseng nanya ke grup WhatsApp WIRDY. Bang Yoga dengan cepat menjawab kalau kartu gue sebenarnya terblokir. "Ke bank aja untuk ngurus," jawabnya. Gue sempat browsing tentang kartu ATM terblokir, kemudian pergi ke bank menggunankan sepeda.

"Nggak usah dikunci. Di sini aman," kata bapak tua berbaju biru. Gue nggak meragukan keamanan di sini, tapi gue mengunci sepeda dengan maksud biar nggak bayar parkir. Kan, gue sudah percaya pada kunci ini sebagai pengaman.

Gue mengambil nomor antrean, kemudian duduk bersama para pengantre. Nomor 33, angka yang identik dengan zikir dan nama sekolah gue.
"Nomor 24." Teller memanggil.
"Nomor 25."
"Nggak ada," kata seorang pengantre.
"Ya udah, yang mau ke sini siapa?"
Semuanya diam. Heran, ada apa sebenarnya.
Teller menunjuk seorang ibu, kemudian ibu itu menyebutkan nomor antreannya. Antrean kini dimulai dari nomor 30.
Tiga orang lagi gue maju. Mengingat kembali di blog yang gue baca di rumah, ada beberapa hal yang harus dibawa: KTP, buku tabungan, dan kartu ATM. Gue mengecek ke dalam tas, ada buku tabungan dan kartu ATM.

Ada yang kurang.

Ah, coba di dompet.

Di dompet cuma ada kartu pelajar SMA, kartu bimbel, kartu pelajar SMP, dan foto gue sewaktu SMP.

KTP GUE MANA?!

Mengingat kembali beberapa hari yang lalu, gue memindahkan KTP ke laci. Yang akan gue lakukan selanjutnya mengetahui nggak bawa KTP: kabur. Bisa aja gue menembakkan pistol, tapi gue nggak bawa. Biar nggak kelihatan ada yang terjadi, gue cuma bersikap seperti normal.

Gue menaruh kembali nomor antrean dengan lapang dada. Mengikhlaskan antrean yang sebentar lagi selesai.

Di parkiran, gue ketemu lagi sama tukang parkir. Mukanya udah siap-siap nagih. Gue bilang, "Ada kembalian?" Dia tanya, "Berapa?" Gue jawab, "Lima puluh ribu."
Mukanya setengah nggak ikhlas. "Ya udah, bawa aja."

Gue nggak melanjutkan kembali ke bank. Udah pusing duluan kena air hujan.


Update (lagi): Kamis, 15 Desember 2016
Berhubung kegiatan di sekolah lagi kosong, gue pulang cepat dan menyempatkan ke bank. Gue belajar dari kesalahan. Saking takutnya kejadian terulang lagi, bentar-bentar nengokin tas terus.

Bagaimana akhirnya?

Oh, gue nggak akan membocorkan di sini. Kita tunggu saja setelah tanggal 16 Desember 2016.

Hal yang perlu dibawa untuk mengembalikan pin ATM:
1. Kartu ATM
2. Buku tabungan
3. KTP
4. Uang admin (gue bayar lima ribu rupiah) dan uang parkir (ini bisa nggak berlaku kalau pakai sepeda).

Selamat mengganti pin ATM!

13 December 2016


Kemenangan 2-1 Indonesia atas Vietnam di laga pertama masih terasa euforianya. Menghadapi Vietnam di kandangnya dalam laga away leg kedua AFF Cup 2016, Indonesia siap tampil mati-matian mempertahankan keunggulannya.

BUNG AHAY:
Bagaimana menurut Anda, Bung Valentino?
BUNG VALENTINO:
(sambil mengacungkan jempol) Yamaha semakin di depan!
BUNG AHAY:
Nggak. Bukan Anda. Maksud saya Valentino Simanjuntak.
BUNG VALENTINO S.:
Tentunya kemenangan kemarin menjadi modal berharga bagi Timnas, Bung Ahay.
BUNG AHAY:
Wah, saya tidak sabar menantikan jalannya pertandingan antara Vietnam vs Indonesia. Pemirsa pun sepertinya tidak sabar menunggu, namun ada jeda yang mau lewat. Iya, saya tahu. Itu iklan.

Layar kaca menampilkan iklan handphone merk Vivo. Agnes Monica sebagai pemerannya tampil sangat cantik. Muncul beberapa pose Agnes menggenggam handphone beserta tagline produk.
AGNEZ MO:
Vivo – Omne ovum ex vivo (setiap telur berasal dari makhluk hidup—terjemahan.)*

Kembali ke studio. Di layar kaca pemain telah masuk. Para pemain dari kedua tim mengheningkan cipta untuk menghormati Chapecoense FC.

Stadion My Dinh, Hanoi mulai bergemuruh.

BUNG VALENTINO:
Hai.
BUNG AHAY:
Hmm, tidak biasanya partner saya memanggil seperti itu.
BUNG VALENTINO:
Nggak. Maksud saya tadi itu menyapa.
BUNG AHAY:
Oke, maaf. Sekarang kita lihat para pemain sedang bersiap untuk kick off.

Para pemain melakukan peregangan. Di layar menampilkan formasi kedua tim.
BUNG AHAY:
Sebelumnya, kita belum pernah dipasangkan dalam satu pertandingan. Bukan begitu, Bung Valen?
BUNG VALENTINO:
Ya, betul Bung Ahay. Hmmm, sebenarnya jangan panggil saya dengan nama asli. Saya takut identitas saya diketahui.
BUNG AHAY:
Terlambat! Apa panggilan yang cocok untuk Anda, Bung? Umi? Abi? Bawelkuh? Atau... uwuwuw-ku?
BUNG VALENTINO:
Semuanya menggelikan. Kiranya “Bung Jebret” lebih oke.
BUNG AHAY:
Aaaah! Setuju. Namanya lebih singkat. Anggap saja kita sedang meringankan kerja Robby Haryanchev dalam pengetikan dialog kita ini. Kita sudah saling mengenal, bolehkah kita tukeran nomor WhatsApp?
BUNG JEBRET:
Bung Ahay. Tolong dijaga sikapnya. Nanti saja saat jeda babak kedua.
PENONTON DI RUMAH:
Cium! Cium! Cium!
BUNG JEBRET DAN BUNG AHAY:
Yak, wasit telah meniupkan peluit kick off tanda dimulainya babak pertama. Selamat menyaksikan.

10 menit pertama bola dalam penguasaan kubu Vietnam. Pertahanan Indonesia dibuat kocar-kacir. Kurnia Meiga dibuat kewalahan menahan gempuran pemain-pemain Vietnam.
BUNG AHAY:
Bagaimana menurut Anda sepanjang 10 menit pertama?
BUNG JEBRET:
Cukup menyulitkan bagi Indonesia untuk keluar dari zona pertahanan mereka sendiri. Untuk mengalirkan bola ke sisi tengah lapangan selalu terhambat.
BUNG AHAY:
Kini pemain Vietnam mengoper bola ke sisi kanan. Vietnam kurang variatif dalam serangan. Mereka hanya mengandalkan operan-operan dari kedua sayap.
BUNG JEBRET:
AAAAKKH... JEBREEET!
BUNG AHAY:
AHAAAAY, PEMIRSA! Shooting dari Trangdingdong melebar dari gawang Indonesia.
BUNG JEBRET:
Maaf, namanya Tran. Dinh. Dong. Tran Dinh Dong.
BUNG AHAY:
Serangan tujuh hari tujuh malam, perang gerilya, serangan bawah tanah telah dilancarkan kubu Vietnam, namun belum juga merobek keperawanan Kurnia Meiga. Eh, maksud saya, gawang Kurnia Meiga.
BUNG JEBRET:
Hahaha. Bisa saja Bung Ahay.

Sepanjang 30 menit terakhir Indonesia hanya berkutat pada lini tengah. Vietnam terus-terusan menggempur. Penyelesaian akhir yang kurang efektif menjadikan skor tetap bertahan 0-0.

Indonesia kini dalam penyerangan.
BUNG JEBRET:
Boaz Solossa, Bung. Boaz gocek satu-dua pemain. Aaaah, cantik sekali.
BUNG AHAY:
Boaz menggocek pemain berkostum sama seperti dirinya, Bung.
BUNG JEBRET:
Itu temannya.

Serangan Indonesia kandas di lini tengah. Tidak ada second line yang menjaga Boaz membuat serangan Indonesia tidak sampai melewati garis tengah lapangan.

Tambahan waktu satu menit.
BUNG AHAY:
Tujuh hari tujuh malam, serangan Vietnam selalu gagal.
BUNG JEBRET:
Tujuh hari tujuh malam saya belum makan nasi.
ANAK PRAMUKA:
(menyahut dari kejauhan) Tujuh hari tujuh malam... KAMI TERSESAT DI HUTAN AMAZON! IBUUUU!
BUNG JEBRET:
(berbisik pada Bung Ahay) Istirahat kita mampir ke warung padang depan studio ya.

Peluit tanda berakhirnya babak pertama telah dibunyikan.
BUNG AHAY:
Bagaimana menurut Anda, Bung, mengenai jalannya babak kedua? Kira-kira strategi apa yang akan diterapkan coach Alfred Riedl?
BUNG JEBRET:
Sulit untuk mengetahui. Tetapi Alfred Riedl akan menerapkan strategi bertahan. Bertahan satu C.I.N.T.A.
BUNG AHAY:
Hmm, cukup galau rupanya. Sadarkah Anda bahwa Robby Haryanchev selaku penulis skrip menerapkan formula yang sama?
BUNG JEBRET:
Iya. Setiap satu-dua percakapan, pasti ada kalimat yang (berusaha untuk) lucu.
BUNG AHAY:
Memang lah. Itu strateginya si Haryanto dari Rusia. Sial, Haryanchev! 

Peluit babak kedua telah dibunyikan. Vietnam masih saja belum tobat dalam usahanya menyerang pertahanan Timnas. Apakah kegagalan tidak membuat mereka merefleksikan diri? Jangan-jangan mereka selama ini kurang sedekah. Bisa jadi itulah penyebab dari susahnya gol tercipta.
BUNG AHAY:
Boaz Solossa menyerang dari sisi kiri pertahanan. Dia memberi umpan lambung... antisipasi buruk dari Tran Dinh Dong..., aaaaaaah, bola tanggung di mulut gawang Vietnam...
BUNG JEBRET:
MONCROT! Stefano Lilipaly menyoncrot bola.
BUNG AHAY DAN BUNG VALENTINO:
GOL! Golgologolgologol. Kemelut berhasil dimanfaatkan Lilipaly untuk memberi keunggulan bagi Timnas. 1-0 untuk Indonesia.
PENONTON DI RUMAH:
(sujud syukur) GOAAAAL! 
PENONTON DI WARKOP:
(gebrak meja) Aduh, sakit.

Setelah tertinggal, Vietnam menjadi lebih beringas.
BUNG JEBRET:
Setidaknya satu gol bisa membuat pemain Timnas bernafas lega, Bung.
BUNG AHAY:
Benar. Tetapi satu gol yang membuat kita di sini deg-degan melihat serangan Vietnam.

Sebuah kemelut di kotak penalti Vietnam terjadi. Kiper Vietnam tiba-tiba di kartu merah.
BUNG AHAY:
Apa yang terjadi saudara-saudara?
BUNG JEBRET:
Entahlah, Bung. Sepertinya ada protes berlebihan dari kiper Vietnam.
BUNG AHAY:
Protes dalam bentuk penolakan kenaikan BBM sepertinya, Bung.
BUNG JEBRET:
Kiper Vietnam, dikartu merah! Manh Tran harus keluar dari lapangan.
BUNG AHAY:
... dan tentunya, keluar dari ingatan.

BUNG JEBRET:

Itu mantan, Bung. Yang ini Manh Tran.
BUNG AHAY:
Pergantian pemain mereka sudah habis, maka salah satu pemain Vietnam harus bersedia menjadi kiper.
BUNG JEBRET:
Hahaha, sedih juga, Bung. Pemain ini harus diapresiasi karena mau merangkap jadi kiper. Harusnya dia dapat kenaikan gaji.

Kekuatan Timnas yang sempurna terus-terusan digempur oleh Vietnam yang bermain dengan sepuluh pemain.
BUNG JEBRET:
Kendali permainan dipegang Vietnam. Beringas sekali serangan Vietnam seperti mantan yang ngajak balikan menjelang Valentine. Oaaaaaah, satu shoot dari pemain Vietnam, entahlah itu siapa namanya.
BUNG AHAY:
Sebuah set piece yang cantik dari pemain-pemain Vietnam. Inilah yang menjadi ketakutan anak-anak Indonesia. Mereka kurang antisipasi serangan Vietnam yang datang bertubi-tubi seperti mantan yang ngajak bisnis MLM.

Di layar kaca skor menunjukkan 1-1 menit 80-an.
BUNG AHAY:
Menit-menit krusial, Bung. Beberapa menit lagi pertandingan usai.

Menjelang peluit berakhirnya pertandingan berbunyi, serangan Vietnam semakin hebat. Pertahanan Timnas kepayahan menghadapinya.
BUNG AHAY:
AAAAAHAAAY. GOL UNTUK VIETNAM! Serangan tujuh hari tujuh malam mergokin pacar selingkuh membuahkan gol oleh... oleh pemain Vietnam tentunya. Maaf, saya lupa namanya.
BUNG JEBRET:
Bung, kenapa Anda keluarkan teriakan itu untuk Vietnam? Tahan untuk nanti seharusnya.
BUNG AHAY:
Saya pesimis Indonesia bisa mencetak gol. Makanya saya keluarin. Feeling saya ini gol terakhir di pertandingan ini. Selanjutnya adu penalti.
BUNG JEBRET:
Ah, kenapa harus adu penalti? Indonesia punya kenangan buruk dengan adu penalti.
BUNG AHAY:
Seperti kenangan mantan?
BUNG JEBRET:
Cukup.

Babak 2 x 45 menit menghasilkan skor 2-1 untuk kemenangan Vietnam. Pertandingan dilanjutkan dengan babak extra time.
BUNG JEBRET:
Benar. Pertahanan Indonesia sangatlah rapuh. Penyerangan Indonesia kurang efektif. Serangan yang sudah sedemikian cantik harus pupus oleh minimnya kesetiaan.
BUNG AHAY:
Ah, kenapa kita ada di kondisi seperti ini?
BUNG JEBRET: Itulah. Perbuatan si Haryanchev kampret itu!

Babak perpanjangan waktu telah dimulai. Indonesia bermain lebih terbuka dengan keunggulan jumlah pemain.
BUNG AHAY:
Indonesia. Gocek-gocek bola sendirian dia.
BUNG JEBRET:
AH! Bagus sekali pergerakan dari Okto Maniani.
BUNG AHAY:
Bukan. Okto nggak masuk tim tahun ini. Dia Ferdinand Sinaga.
BUNG JEBRET:
Ferdinand membawa bola, mengelabui kiper jadi-jadian, dan...
BUNG AHAY:
AHAY! Ferdinand Sinaga dijatuhkan oleh Ngoc Hai. Penalti untuk Indonesia.
BUNG JEBRET:
Penalti akah diambil oleh Manahati.
BUNG AHAY:
(memegang dadanya) Di sini, Bung.
BUNG JEBRET:
Bukan mana hati. Lagi pula, bagaimana penonton di rumah tahu kalau Anda sedang memegang da—
BUNG AHAY:
AHAAAAAAY! GOGOGOL! GOOOOOL! GROGOOOOOOL!
BUNG JEBRET:
Sebuah eksekusi penalti yang sangat memikat gadis SMA berhasil menggetarkan gawang Vietnam. Skor 2-2 untuk Indonesia.

Sampai babak kedua perpanjangan waktu berakhir, tidak ada lagi gol tercipta. Skor 2-2 bertahan hingga laga usai. Dengan hasil ini Indonesia berhasil melaju ke final untuk berhadapan antara Myanmar atau Thailand (belakangan kita ketahui bahwa Thailand pemenangnya). Babak final akan digelar tanggal 14 Desember 2016 dengan sistem home away.

BUNG AHAY:
Terima kasih untuk Bung Jebret atas malam yang menegangkan... sekaligus melow ini. Usai sudah perjumpaan kita kali ini. SALAM OLAHRAGA. SALAM SETIA!
BUNG JEBRET:
Maaf, Anda pembina Pramuka, ya?
---

*terlalu banyak belajar Biologi

09 December 2016

Dari SD sampai SMA, nggak banyak rumah teman yang pernah gue kunjungi. Gue memang agak segan main ke rumah teman. Banyak faktor yang membuat gue jarang ke rumah teman. Pertama, gue orangnya kaku. Jangankan ke rumah teman, ke rumah saudara saja gue cuma duduk diam atau menonton televisi. Gue takut kejadian itu juga terjadi di rumah teman. Ditanya orang tuanya teman, gue malah cengengesan nggak nyambung.

Kedua (ini alasan yang dibuat-buat), gue takut nggak bisa pulang lagi. Takut nyasar.

Farhan adalah salah satu teman yang rumahnya pernah gue kunjungi. Waktu itu gue lagi deket banget sama dia. Main ke mana-mana bareng. Dan nggak biasanya, Farhan bisa menjadi teman belajar. Sudah terlalu banyak teman gue yang “diajak main ayo, tapi diajak belajar nolak”. Saat itu, cuma Farhan yang mengerti kondisi kita.

Saat itu gue sedang kelas 6. Persiapan UN lagi getol-getolnya.

Selain jarang ke rumah teman, gue juga agak takut mengajak teman-teman ke rumah. Khawatir mereka nggak suka dengan perlakuan keluarga gue. Takut kalau nantinya keburukan keluarga gue mereka ketahui. Takut keluarga atau rumah gue diomongin di belakang. Gue nggak ngerti kenapa sejak dulu gue selalu ingin dilihat sempurna. Padahal sudah menjadi kodratnya bahwa manusia punya kekurangan.

Mama sering bilang, “Kok teman-temanmu nggak pernah main ke sini?” Gue cuma jawab, “Nggak tahu.” Padahal memang karena gue yang nggak pernah mengundang mereka.

Sampai gue kepikiran, andai suatu saat nanti teman-teman gue menikah, mereka akan memberikan undangan kepada gue. Tetapi mereka nggak menemukan alamat gue karena mereka nggak pernah tahu rumah gue. Karena nggak dapat undangan, gue menyesal nggak bisa datang di acara penuh kebahagiaan teman gue.

Lagi-lagi tidak berlaku pada Farhan. Gue cukup yakin kalau Farhan anaknya nggak suka ngomongin orang lain. Gue percaya dia memang sahabat gue, sampai kapan pun.

Siang itu gue menempati musala mes yang gue jadikan tempat belajar. Gue dan Farhan duduk menghadap papan tulis kecil milik gue. Kakak gue mengajari Matematika, pelajaran kesukaan Farhan.

Tetangga gue melihat kami belajar. “Kamu anak Manyar, ya?” tanyanya kepada Farhan.

Farhan menjawab, “Iya.”
“Kamu tinggal di Manyar, sebelah mananya?”
“Dekat pabrik bihun.”
Mama gue mendengar percakapan tersebut, “Jangan-jangan, kamu anaknya Bu Anu (menyebutkan nama ibunya Farhan). Iya?”
“Iya benar.”

Di luar dugaan, Mama kenal dengan ibunya Farhan. Mereka adalah teman mengaji dan mengenal cukup dekat. Di suatu malam, Mama bilang ke gue, “Mamanya Farhan itu temen baik Mama. Sering curhat-curhatan. Nggak nyangka ya, bisa ketemu begini. Mama sama anaknya temenan baik.”

Gue tersenyum.

***

Setelah UN, entah dalam kegiatan apa di sekolah—gue lupa, gue menyempatkan ke rumah Farhan. Jaraknya nggak terlalu jauh dari sekolah. Di rumah Farhan, gue nontonin Farhan main game Bully. Game yang sangat asing tapi gue sering dengar namanya. Di layar televisi ada seorang anak sekolahan main skateboard di jalan raya. Lalu, dia ngeluarin ketapel. Gue bingung ini mainan apa sebenarnya.

“Mau ke sekolah jam berapa?” tanya gue.
“Nanti aja jam 10,” jawab Farhan.

Farhan kembali memainkan stik kontrolernya.

Mamanya Farhan datang menghampiri gue. “Mau berangkat jam berapa?”
“Kata Farhan jam 10.”
“Oh yaudah. Mama Farhan pamit dulu, ya.”

Gue mencium punggung tangan beliau.

Singkatnya, kami satu sekolah lagi di SMP. Namun kami tidak seakrab dulu karena Farhan telah masuk ke dunia “game”. Setiap hari kerjaannya main Point Blank di warnet terus. Gue, karena nggak punya pegangan hidup saat itu, ikut-ikutan menjadi anak warnet, minimal hari Sabtu gue main Point Blank selama lima jam.

Setelah uang gue terhambur banyak, gue menyadari bahwa gue nggak cocok jadi gamers. Dan gue punya pandangan sinis terhadap gamers.

Karena itu mungkin, gue agak jauh darinya. Farhan bukanlah orang yang gue kenal seperti saat SD dulu. Tapi gue nggak putus hubungan dengan dia. Farhan tetaplah sahabat. Meskipun gue yang memutuskan menjauh darinya. Lebih tepatnya, karena kebiasaannyalah yang membuat gue jauh darinya.

***

Terakhir kali ketemu Farhan saat buka puasa bersama tahun ini. Teman-teman seangkatan SMP berkumpul di sana. Gue berharap teman-teman yang dekat dengan gue datang. Untungnya Farhan datang. Gue cerita banya tentang kehidupan sekolah.

“Gue nggak tahu deh, kalau nggak karena nilai kasihan dari guru, nasib gue udah kayak gimana,” ujar gue.
“Apalagi gue, Bi. Belajar aja nggak pernah.”

Kemudian kita tertawa. Kita saling menertawai nasib di SMA yang kehidupannya lebih keras daripada di SMP. Tawa yang gue rindukan.

Suatu malam dalam perjalanan pulang dari minimarket, gue melihat Farhan di pinggir jalan raya. Dia duduk di atas motor memainkan handphone-nya. Raut wajahnya terlihat seperti menunggu seseorang. Gue hendak memanggil, tetapi sadar bahwa kondisi jalan sedang macet, nggak mungkin gue teriak. Bisa-bisa digetok pengendara motor. Gue lanjut mengayuh sepeda.

Enam tahun gue tidak pernah mengunjungi rumahnya, malam Minggu kemarin gue ke rumahnya. Tiga minggu setelah gue gagal menyapanya.

Gue memarkirkan sepeda fixie merah di depan rumahnya. Ada dua orang bapak yang sedang duduk di kursi hijau.

“Bi.”

“Bi.”

“Bi.”

Tiga panggilan itu membuat gue menoleh ke belakang. Ada Farhan di sana, di depan gerbang kayu rumahnya.

Rumah yang enam tahun tidak gue kunjungi, kini lebih ramai. Nggak banyak perubahan dari susunannya. Warna dinding dengan cat krem masih dipertahankan. Tanaman di sampinya pun masih sama. Mungkin ada satu-dua perubahan di sana.

Farhan tatapannya beda. Tidak seperti Farhan yang biasanya. Tidak seperti Farhan ketika antusias mengerjakan soal Matematika dulu. Tidak seperti Farhan yang gue kenal.

Tatapannya nggak ceria.

“Mama lu udah tahu?” tanyanya.

Gue menangguk.

“Ya udah, masuk. Yang lain udah di dalam.”

Gue duduk di teras rumah Farhan. Ada dua teman SMP di sana. Kacang dihidangkan di atas piring. Orang-orang, yang nampaknya saudara Farhan, membawa tumpukan buku Yasin.

Gue di sini, tidak untuk menonton Farhan main Bully.

Melainkan,
hadir dalam acara tiga harian meninggalnya ibunya Farhan.

Kata terakhir yang pernah gue dengar “Mama Farhan pamit dulu, ya” menjadi kata terakhir, sekaligus kata yang benar-benar menggambarkan keadaan sekarang. Beliau benar-benar pamit. Meskipun nggak mengenal begitu dekat, gue jelas sedih mendengar meninggalnya beliau. Apalagi Mama yang sudah menganggapnya sebagai sahabat.

***

Pasca datang ke rumah Farhan, gue kembali takut.

Takut.

Takut.

Benar-benar takut.

Gue takut akan kenyataan, bahwa kita memang nggak akan selamanya di dunia ini.

Apa pun yang kita miliki rasanya sangat berharga bila ditinggalkan begitu saja. Teman-teman, saudara, sahabat, guru-guru akan kita tinggalkan kelak. Betapa nikmatnya kehidupan di dunia ini membuat gue terlena, hingga lupa bahwa kita akan berakhir dengan kematian. Ambisi, kecewa, bahagia, dan semuanya menutupi kenyataan yang ada.

Kematian memang ada.

Nonton video, baca novel kesukaan, mengerjakan soal-soal hingga tengah malam seperti menjadi tipuan yang kita buat sendiri untuk menghilangkan kenyataan itu. Kenyataan yang kalau kita ingat secara artian lain membuat kita segan untuk merasa hidup.

Gue jadi mikir, bagaimana bila nanti nggak mendapat tempat terbaik di alam akhirat nanti, seperti yang telah dijanjikan-Nya?

Mungkin aku tak pantas menjadi penghuni Surga Firdaus. Namun, aku tidak kuat dengan panasnya api Neraka Jahim.

Terjemahan dari salawat yang akhir-akhir ini sering gue baca menggambarkan keadaan jiwa saat ini. Surga tempat yang tak pantas bagi pendosa seperti gue, tetapi tak sanggup bila ditempatkan di neraka-Nya.

Kemudian gue menemukan titik terang. Manusia memang tempatnya salah dan dosa tak dapat dihindarkan. Perbanyak amal ibadah adalah salah satu cara mengimbangi ketimpangan itu.

Ada perkataan yang berbunyi seperti ini: “Orang yang cerdas adalah orang yang senatiasa mengingat kematian.”

Sebelum ruh tak lagi bersama badan, marilah kita perbanyak amal ibadah dalam rangka menutup akhir tahun. Jadikan momen akhir tahun ini sebagai media perenungan apa saja yang telah kita perbuat sepanjang tahun.

05 December 2016

Obrolan tentang penghapusan UN emang nggak ada habisnya. Obrolan ini bisa jadi “pemecah” keheningan. Kalau kebetulan lagi ngumpul tapi tiba-tiba sepi, keluarin aja obrolan penghapusan UN.

“Seru ya, kalau UN dihapus. Tapi nggak seru kalau diganti USBN.”

“Iya.”

Hening.

“Gue nggak setuju deh kalau UN diganti USBN.”

“Iya.”

Hening.

“GUE BENER-BENER NGGAK SETUJU UN DIHAPUS, YA!”

“Heh, jangan ngelawan kebijakan gue lu!”

Menterinya diajakin ngobrol.

Di bimbel pun obrolannya nggak jauh-jauh. Penghapusan UN lagi. Agak bosen, tapi..., ya, mau gimana lagi. Namanya pelajar pasti ngomongin apa yang kita hadapi sekarang. Gue justru heran sama anak sekolah yang dikit-dikit ngomongin “future husband”. Mereka ngomongin hal-hal yang cowok keren punya, dan gue nggak.

“Weh ayolah, kita demo. Belum ada, kan, demo pelajar,” kata seseorang di bimbel. Dia mau ngajak demo buat protes adanya USBN. Gue diam aja, sekaligus ketawa dalam hati. Nolak tunda ulangan harian di kelas aja dicuekin sama guru, lah ini mau nolak USBN.

Nggak cuma di obrolan sehari-hari, di grup Line juga. Isinya pesan nyuruh tanda tangan petisi tolak USBN. Ya, ampun. Lama-lama gue jadi pengin ngomongin future husband bareng cewek-cewek deh. Eh, gue, kan cowok.

Kalau dibilang nggak ada reaksi, ya gue emang begitu. Malas ah, mikirin yang kayak begituan. Mending mikirin kamu yang dengan gampangnya nyangkut ke cowok lain.

Yaelah.

Oke, cukup sudah. Sebenarnya bukan ini yang mau gue omongin. Niatnya cuma buat pembukaan. Tapi kok... udah 200 kata aja. Buseh.

Maklumi gue sedang stres menghadapi UAS. Bawaannya mau cerita dan ngeluarin unek-unek aja sekalian ngerileksin tangan.

Oh iya, masalah ganti-ganti nama ujian, gue lebih dulu bingung dengan nama ujian di sekolah gue. Judulnya tetap aja UAS, cuma beda nama menjadi Penilaian Akhir Semester (PAS). Apa cuma di sekolah gue yang namanya diganti? Agak bingung juga kalau gue ditanyain teman.

“Rob, lu besok UAS?”

“Iya, gue...” gue mikir lagi, sekarang namanya bukan lagi UAS. “Gue UAS.” Nggak mungkin kalau gue bilang, “Iya, gue lagi PAS.” Akan menjadi pertanyaan lanjutan: “Pas apanya? Dompetnya atau berat badannya?”

Lupakan soal nama. Gue tetap mengakui UAS. Hidup UAS!

Di hari pertama ini, ada empat mata pelajaran yang diujikan; Matematika, Bahasa Inggris, Pendidikan Agama Islam, dan Ekonomi. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan gue saat ini: mblenger.

Agak sadis juga. Biasanya paling banyak dalam sehari ada tiga mata pelajaran. Ini sampai empat. Dengan total semuanya 170 soal. 170 soal dalam sehari. 170 kali gue menghitamkan lembar jawaban. 170 kali gue mengucap “Kapan pulang?!”

Nggak papa deh. Anggap aja latihan buat SBMPTN nanti.

Pagi hari dimulai dengan mata pelajaran Matematika. Cuacanya sangat-sangat nggak mendukung buat ngerjain soal. Hujan dan lembap. Bikin gue pengin tidur di atas meja.

Gue tahu, pasti saat ngerjain soal nanti gue akan mengalami kebosanan luar biasa. Kalau begitu, hal yang gue lakukan biasanya mainin rambut. Rambut dijabrik-jabrikin atau memilin cambang. Untuk mengatasinya, gue memangkas semua rambut, alias botak. Ya ya, usaha setiap orang emang aneh-aneh. Ini dimaksudkan juga agar gue nggak cepat garuk-garuk kepala.

Dengan botaknya kepala gue, otomatis menjadi bahan ledekan teman. Dari yang paling iseng ngatain “Botak!”, sampai ada yang kelewat jahat: “Nanti lu ngerjain soal agama Buddha, ya. Lu, kan, biksu. Hehehe.”

Parah.

Kalau mereka semakin kelewatan tinggal gue sundul mereka.

Balik lagi ke ulangan Matematika.

Soalnya cukup membuat gue mengernyitkan dahi. Langkah pertama yang gue lakukan adalah lihat-lihat soal, apakah sama dengan contoh paket soal yang gue pelajari semalam. Ternyata beda. Oke. Keselamatan nilai di semester lima semakin mengkhawatirkan.

Jadikan ini sebagai DP BBM-mu.

Gue memulai mengerjakan soal. Tentang Persamaan Linear Dua Variabel. Masih terbilang gampang karena pernah dipelajari di SMP. Ada soal tentang total jabat tangan dalam sebuah pertemuan. Kemudian gue berkhayal, “Gimana kalau ada di antara mereka ada yang mengatupkan tangannya di dada? Siapa tahu belum muhrim gitu. Nggak dihitung jabat tangan dong?”

Duh, random abis. Sempet-sempetnya mikir ke sana.

Mulai ke soal yang paling susah, yang rata-rata pelajaran kelas 10.

Tentang titik balik parabola.

ITU GIMANA CARANYA, YA?!

Setelah gue baca soal itu, gue cuma bolak-balik lembaran soal.

Titik belok.

Ini titik apa lagi, hey!

Titik belok ini kalau lagi belok kiri ngasih seinnya ke kiri atau ke kanan? Apa perlu aba-aba “belok kiri langkah tegak maju jalan”? Halah. Makin ngawur.

Gue melirik jam dinding, tersisa lima menit lagi. Soal yang belum terjawab tinggal dua. Untungnya setelah gue kerjakan soal-soal lainnya termasuk mudah. Tinggal masukin angka, nyocokin ke jawaban, ada jawabannya, beres. Dua soal itu gue sisakan di menit-menit terakhir buat dikerjakan secara tang-ting-tung.

“Tang-ting-tung mana jawabannya. Aaaaah! C. Titikin dulu ah biar nggak lupa.” Gue langsung loncat ke soal selanjutnya. “Kalau yang tadi C, di bawahnya jawabannya D, berarti yang ini E. Ngikutin pola aja. Titikin!"

Selesai sudah 25 soal. Pengawas mengumumkan waktu tinggal dua menit lagi. Gue membalik lembar soal bermaksud agar menutup lembar jawaban. Di halaman terakhir kertas soal, gue menemukan kenyataan pahit di sana.

26.

27.

28.

29.

30.

Setan! SIAPA YANG NAMBAHIN LIMA SOAL DI SINI! WAKTUNYA TINGGAL DUA MENIT LAGI, HEY!

Matilah gue. Lima soal tentang Limit Fungsi. Gue nggak punya kekatan super buat menjawabnya. Buat tang-ting-tung aja nggak cukup waktunya. Dua menit cuma buat dua soal. Lah ini masih nyisa lima soal.

Untungnya, soal itu bisa dikerjakan dengan cara cepat. Lima soal selesai. Ah, lega. Dua menit lima soal terselesaikan. Ibarat final Liga Champions, barusan adalah laga Liverpool vs AC Milan tahun 2005. Dengan kata lain, secara kuliner, ibarat makan nasi uduk, kerupuknya sempat kemakan di lima suapan terakhir.

Wah, gila. Gue nggak pernah sebahagia ini mengerjakan soal Matematika. Benar atau salah itu urusan belakangan deh.

03 December 2016

Apa yang paling ditakuti pelajar selain guru killer? Kebanyakan orang jawab Ujian Nasional.

Setelah sebuah wacana yang cukup menggemparkan muncul di berbagai media, kini ketakutan itu perlahan menghilang. Sebuah wacana berupa penghapusan Ujian Nasional disambut sukacita bagi mereka yang memperjuangkan itu sejak lama. (Walaupun gue nggak tahu kebenarannya ada atau nggak, yang jelas itu kemerdekaan bagi orang-orang penolak UN.)

Wacana ini memberikan gue kebimbangan luar biasa. Kebanyakan orang senang dengan dihapuskannya Ujian Nasional. Sebagian kecil justru sedih. Mungkin mereka yang sedih adalah bandar kunci jawaban. Ya, maklumlah. Ladang usaha mereka berkurang. Akhirnya mereka beralih jadi bandar Kunci Mas. Alias bandar minyak goreng.

(Pada tahu merek Kunci Mas nggak, sih?)

Bila melihat posisi gue sekarang, antara senang atau sedih, gue nggak berada di sana. Di irisannya pun nggak ada. Gue lebih tepatnya nggak masuk ke dalam masalah ini. Gue berada dalam lingkaran permasalahan lain, yaitu “mana yang lebih dulu: ayam atau telur?”. Jadi, seolah-olah gue merasa asing dengan perdebatan ini.

Halah, bodo amat deh. Mau ada UN atau nggak ada, bagi gue sama saja. Ibaratnya tuh begini:

Ini ada Ujian Nasional


Setelah dihapus...


Ya udah. Begitu doang.

Oke deh. Sementara tinggalkan kebimbangan gue terlebih dahulu, barulah nanti gue timbang-timbang sikap apa yang harus diambil. Kayaknya lebih condong ke pihak senang-UN-dihapus.

Jadi, beberapa hari yang lalu gue iseng nanya-nanya ke following gue di Ask.fm secara anonim. Seperti tujuan utama dibuatnya Ask.fm, gue kepo dan penasaran bagaimana mereka (para following gue) dalam bereaksi.

Gue melempar pertanyaan:
Jika Ujian Nasional dihapus, bagiamana reaksimu?

Oke, kalian nggak salah baca. Sewaktu gue melempar ask, memang sudah typo dari sananya. Gue baru sadar kalau itu typo.

Ada sekitar 11 orang yang gue tanya, 8 orang menjawab. Rata-rata jawaban mereka nadanya serius. Gue cukup heran dan kaget membaca jawaban mereka. Entahlah. Mungkin mereka juga kaget tiba-tiba ada pertanyaan yang lebih cocok ada di ulangan PPKN ketimbang di Ask.fm. Biasanya juga ada ask paling mentok; “follback dong qaqa”, “describe me harus lengkap”, “lagi deket sama siapa sih?”.

Untungnya gue nggak menanyakan kepada Niki Setiawan, seorang bloger yang komentarnya terkenal aduhai. Andai dia menjawab, pasti begini bunyinya:

UN dihapus.
reaksi sy gampang kok
ditulis ulang aja
knp repot2
btw, kok tiang bendera nggak pernah senyum y?

Gue pun senang karena dari jawaban mereka nggak ada yang bilang “off anon pls”. Itu contoh anehnya orang main Ask.fm. Nggak mau ditanya secara anonim tapi ngebolehin penanya anonim.

Oke. Nggak perlu berlama-lama lagi, mari kita baca reaksi para netizen.

@Pramillaaa
Reaksi nya sih ya biasa aja tapi seneng jugasih haha. Tapi kalo menurut pendapat aku pribadi sih sebenernya un buat sd dan smp itu penting karna tujuan sd dan smp itu masuk ke sekolah lanjutannya kan nah dengan adanya un bisa dijadikan parameter buat mereka masuk kesekolah mana sesuai dengan kemampuan dan hasil un karna tiap smp,sma itu gak menyediakan tes,iya mungkin ada tapi hanya beberapa sekolah aja. Sedangkan sma tujuannya itu masuk ke ptn/sekolah dinas. Setiap ptn/sekolah dinas masing2 sudah menyiapkan tes kaya sbmptn atau ujian mandiri. Adasih yang gak pake tes iya itu juga gak pake nilai un tapi pake nilai rapot itu juga dari semester 1 sampe 5 untuk jalur undangan. Dengan tidak adanya un tingkat sma sederajat,jadi bisa lebih memfokuskan untuk soal2 sbm ataupun ujian mandiri yang bisa dibilang soalnya mungkin cukup rumit:".
Maaf ya jawabnya panjang x lebar padahal ditanya nya cuma reaksi doang😂 i just wanna express my opinion:)

Komentar gue: SANGAT SETUJU SISTAH!

Menurut gue UN buat SMA dihapus. Tunggu dulu, jangan karena gue SMA terus setuju UN SMA dihapus. Nggak begitu. Gue setuju UN dihapus, asalkan ngapusnya pakai tip ex. Biar bisa dibenerin. Terus sekarang beneran diganti, kan, namanya. Jadi USBN.


Halah, ketularan Niki Setiawankinton Purbasariwangistroberi.

@Mayangsr88

seneng2 aja sih. ga ribet2 mantengin komputer 2jam selama 6hr.
secara disekolah gw kalo jadi UNBK di hari H nanti bakal dibagi 3 ship. pagi siang sore.
mager bgt dah kalo kebagiannya jam sore

Sebagai mantan anak warnet, gue nggak sependapat dengan Mayang. Mantengin komputer dua jam selama enam hari itu bagi gue masih biasa. Soalnya pernah pengalaman main warnet dua jam selama enam hari berturut-turut buat naikin pangkat di Point Blank. Pas ada event pula. Hadiahnya menarik.

Terus, masalah ship (maksudnya shift). Benar banget, kebagian sore itu nggak enak. Sayuran aja yang dijual pagi sampai sore udah nggak bagus, kan? Jadi layu. Pikiran kita pun jadi layu. Udah mikir ke mana-mana. Bukannya mikirin ujian, malah mikirin sayuran layu. Lho, lho, ini gimana maksudnya? Pikiran gue mulai layu, nih.

@Leviani_

Seneng, bersyukur, speechless😂

Yha. Saya juga begitu kok. Next. 

@mitasr
b aja... wkwk paling ganti nama doang. cape diphpin sm gtgtan:( wkwk

...

Ya, gue paham deh sama yang kayak ginian. Terbiasa dikecewakan mah begitu. Bilangnya nggak pake saos, tetep aja dituang. Dasar, kang somay!


***

Terus, gue kepikiran gimana kalau nantinya UN benar-benar dihapus. Pastilah ada hal-hal yang hilang dalam tradisi yang telah mendarah daging.

Berkurangnya orang puasa
Orang-orang yang berpuasa, puasa Senin-Kamis terutama, biasanya punya nazar tertentu sebelum menghadapi UN. Nah, gimana kalau UN nggak ada?

“Lu puasa?”
“Puasa. Nazar UN.”
“Tapi UN dihapus.”
“Gorengan tadi masih ada nggak? Minta.”

Semoga kita tetap berpuasa walaupun UN dihapus dan diganti USBN.


Broadcast message musnah
Pastinya menjelang ujian akan ada orang yang mengirim broadcast minta maaf. Lalu, kalau UN dihapus apakah broadcast message tetap ada? Belum tentu. Tetapi, pesan seperti ini akan selalu ada walaupun UN dihapus:

“Maaf, pulsa Anda tidak mencukupi untuk sms.”

Namanya juga minta maaf.


Makin banyak orang yang berstatus pacaran
Dan terakhir, berbahagialah bila kamu yang punya gebetan saat kelas 12. Mau nembak tapi takut ditolak? Nggak perlu lagi takut ditolak dengan alasan “fokus UN”. Takis sekarang. Sebelum dia punya alasan “fokus USBN”. Tetapi, kalau masih ditolak, berarti tandanya kamu harus “fokus membenahi diri”.

Kata orang-orang, sih, gitu.

Yeah, gue jadi tertarik melibatkan following di Ask.fm. Lucu aja, biasanya seseorang melibatkan followers. Lah gue malah melibatkan following. Ya, karena di Ask.fm kita nggak tahu siapa yang mem-follow kita. Karena gue cuma tahu siapa yang gue follow, ya libatkan saja mereka. Daripada nggak tergerak, gue aja deh yang bergerak. Akhirnya, jadi deh pergerakan iseng ini. Hehehe.

Lebih tepatnya kurang kerjaan.

Apa kesimpulan yang bisa kita dapat dari tulisan ini?

Ya, Robby nggak mau capek. Makanya manfaatin jawaban di Ask.fm buat dimasukin tulisannya biar kelihatan banyak.
 

30 November 2016

Gue nggak ngerti sama diri gue sendiri. Kenapa gampang banget suka sama orang yang, secara fisik, cantik? Apakah karena usia puber membuat gue setiap kali melihat cewek cantik bawaannya mau ngajak kenalan? Sori, ya. Kalau sampai mimisan gue nggak segitunya. Rasanya mimisan aja nggak tahu.

Seperti yang terjadi pagi ini, saat gue berangkat sekolah. Lewat pertemuan yang sebenarnya “nggak banget” bagi orang-orang: di angkot. Emang, sih, cewek ini nggak sempat ngomong, tapi kok gue bisa suka? Aneh. Benar-benar aneh. Kadang rasa suka nggak bisa dijelasin bagaimana sebabnya.

Cewek ini duduk di sebelah gue. Dari kaca jendela gue sudah melihat dia berdiri di pinggir jalan, menenteng goodie bag. Dia mengenakan seragam olahraga. Dia naik ke angkot. Dalam harapan, gue mengucap kata dalam hati, terus-terusan secara cepat: Tolong, kamu duduk di sebelah saya. Berulang-ulang. Kira-kira dia akan duduk, orang yang duduk di hadapan gue—seorang ibu—menggeser tubuhnya ke samping bermaksud memberi tempat untuk cewek itu. Gue hanya diam karena di sebelah gue memang kosong. Cukup muat untuk diduduki tubuhnya yang agak berisi itu. Nggak, dia nggak gendut. Levelnya di atas ideal lebih sedikit.

Sebelum menjatuhkan pantatnya gue sempat melirik dia. Dia balas menatap gue dan memberi senyuman. Astaga. Gue nggak berharap sampai segitunya. Dzawin, seorang komika, pernah berkata dalam bitnya—mengutip perkataan ilmuwan, “Cowok cuma butuh 8 detik untuk jatuh cinta sama cewek.” Maka ini sudah lebih dari 8 detik, ditambah senyumannya, gue mulai jatuh padanya.

Matilah gue. Perjalanan masih panjang, sedangkan perasaan ini menggebu-gebu. Perintah buat ngajak kenalan terus-terusan muncul. Gue melawan. Gue nggak bisa melakukan itu. Aroma parfumnya membuat gue gagal berpikir jernih. Sambil menebak-nebak aroma parfum apa yang dia pakai. Silver. Permen karet. Etil pentanoat. Minyak kayu putih. Balsem geliga. Ah, gue nggak pandai nyebutin aroma parfum. Bahkan gue baru ingat kalau etil pentanoat adalah senyawa ester yang digunakan sebagai aroma apel. Kalau film ada yang berjudul “You Are the Apple of My Eye”. Versi gue, you are the ethyl pentanoate of my nose.

Aroma parfum kian menusuk. Aromanya tidak berlebihan, tapi sanggup membuat gue terus-terusan berpikir: jangan cepat sampai sekolahnya. Kalau perlu macet-macetan saja sampai siang. Tetapi hal itu nggak mungkin karena bisa mengakibatkan gue nggak boleh masuk sekolah.

Sesekali gue melirik dia. Sebenarnya tidak benar-benar melirik. Orang yang di hadapan gue pasti mengira gue melihat ke depan, padahal pandangan gue ke samping. Kemampuan capung dalam melihat tiba-tiba gue praktekkan di sini.

Sampai kini gue belum tahu namanya.

Lagi-lagi gue menebak-nebak siapa namanya. Rambut terurai panjang dijepit di belakang. Bibir merah muda. Badan agak gemuk. Yunita. Lili. Vita. Ah, nama itu tiba-tiba muncul. Gue nggak dapat nama yang cocok.

Selain goodie bag (yang kini dia dipeluk), dia juga membawa tas pianika. Di sampingnya tertulis “Putri N R”. Jangan-jangan dia pemiliknya? Kalau dia pemiliknya, syukurlah akhirnya gue tahu nama dia. Putri. Sederhana, tapi berkesan. Dia memang pantas seperti putri kerajaan yang kebetulan lagi naik angkot. Beda dengan gue, seorang rakyat biasa yang memang harus naik angkot.

Tetapi, bagaimana kalau ternyata pianika itu bukan milik dia? Misalnya, dia punya kakak atau adik yang bernama Putri. Nggak, gue nggak akan terpengaruh. Mulai sekarang gue akan menyebut dia sebagai Putri.

Kemudian, pertanyaan selanjutnya: siapa nama panjang si Putri?

Hal ini penting agar gue bisa stalking dia di Facebook. Gue percaya, orang seperti dia pasti menggunakan nama aslinya sebagai nama akun Facebook. Beda kalau ternyata dia seorang Beliebers sejati. Pastinya dia akan menggunakan nama “Poetry Belieberz Auwouwo”, “Putrie Beliberz Xezathe”.

Putri N R. Gue masih terus-terusan menerka apa makna N R tersebut. Kemungkinan itu adalah inisal nama lengkapnya. Tapi, apa yang cocok? Nadia Rahmadani. Nilam Rezeki. Kembali lagi, gue nggak ngerti dengan tebak-tebakan yang menyusahkan gue. Sementara ini, gue membuat khayalan sendiri. Putri N R. Putri n Robby. Sebuah jawaban atas kesusahan ini.

Gue nggak berani untuk membayangkan apa agamanya. Kalau saja dia berbeda, gue berharap dia hanya sebagai teman. Bagaimana kalau seiman? Gue ingin kenal dia lebih jauh lagi. Atau yang lebih bagus: mengharapkan dia untuk dipertemukan di masa depan.

Untuk cewek secantik dia, sekolah di SMK adalah sesuatu yang nggak mengagetkan. Kebetulan gue tahu benar dari seragam olahraga yang dia pakai. SMK negeri yang setiap kali lewat depan sekolahnya gue selalu menongolkan kepala di jendela angkot. Banyak cewek cantik di sana. Kecuali siswanya, mereka adalah pengecualian.

Walaupun gue juga berkemungkinan berada dalam lingkungan cewek cantik, tapi tetaplah cewek IPA kalah cantik dibanding cewek SMK (bukan SMK yang teknik itu. Yang SMEA). Setidaknya ini menurut pengamatan gue sampai sekarang. Beberapa pengecualian masih berlaku. Sifatnya masih relatif.

Kenapa gue bilang begitu? Karena secantik-cantiknya cewek IPA, pasti akan bedah organ hewan juga. Ngeri. Gue yang sejak kecil mainannya nggak karuan tetap saja ngeri ngelihat kodok mejret kakinya buntung.

Apakah semua ini hanya sekadar perumpamaan “rumput tetangga lebih hijau dari rumput futsal”? Gue terus-terusan memuji hal yang di luar lingkungan gue. Pada kenyataannya, gue pun sering terjebak pada ganti-ganti orang yang gue suka. Bisa dibilang playboy perasaan. Kondisi seseorang yang suka berganti-ganti orang yang dia sukai. Hari ini bilang dia, hari ini bilang kamu. Pokoknya rasa itu nggak lebih dari sebulan. Dan nggak pernah diungkapkan.

Terutama di sekolah. Adik kelas, kakak kelas, teman seangkatan banyak yang pernah gue sukai. Sayangnya, rasa itu nggak lebih dari sebulan. Putri apalagi. Itu cuma suka dalam hitungan menit. Cewek-cewek yang naik angkot sebelumnya juga merasakan hal sama.

Apakah tiap-tiap orang yang puber merasakan hal yang kayak gue rasakan? Kalau gue lihat mereka (teman-teman) biasa-biasa saja. Mungkin gue yang berlebihan. Tetapi, perasaan orang siapa yang tahu.

28 November 2016

Bagi gue internet sangatlah penting. Beda dengan manusia pada umumnya, kebutuhan gue ada empat, yaitu sandang, pangan, papan, dan internet. Karena internet gue bisa melakukan banyak hal; mengerjakan tugas sekolah, tahu berita terbaru, dan yang nggak kalah penting... ngeblog. Manfaat internet benar-benar gue rasakan. Sehingga bila ada kendala dalam koneksi gue cukup kesulitan dalam melakukan sesuatu.

Gue pernah dalam kondisi itu. Saat itu gue benar-benar kepepet buat ngerjain tugas yang mengharuskan adanya koneksi internet. Karena benar-benar nggak tahu harus bagaimana, gue akhirnya nyerah dan ngerjain tugas seadanya. Sisanya nyalin punya teman.

Sebagai pelajar yang butuh banyak sumber, nyari banyak materi pelajaran dan contoh-contoh pembahasan soal adalah penting hukumnya. Agar bisa terakses, gue mempercayai Bolt karena kecepatannya nggak diragukan lagi. Buat browsing cihuy. Nonton video YouTube juga oke. Sayangnya, kalau buat YouTube-an terus-terusan, dompet gue yang nggak oke. Tekor, bos!

Bebeknya numpang WiFi-an
Namun, saking serunya internetan, gue suka nggak ingat waktu. Waktu itu pas banget awal bulan, kuota internet gue habis. Gue ingat-ingat dosa apa saja yang telah membuat kuota gue cepat habis. Beberapa hari belakangan gue emang lagi doyan-doyannya nyari game. Install game ukuran besar, main sampai bosan. Setelah bosan, uninstall. Lebih nyakitin lagi install game ukuran besar, tapi pas dimainin hape gue nge-lag. Rugi bandar ini namanya. Ini cukup jadi pelajaran, bila mau install game atau file-file besar, mending minta tethering teman aja. Asli, ini cukup manjur.

Berhubung uang cukup buat beli pulsa, gue langsung pergi ke minimarket terdekat. Di sana gue sering beli pulsa Bolt. Namun, tidak untuk malam itu. Di depan kasir, mbaknya bilang, “Yah, Boltnya lagi nggak bisa, Kak.” Gue tertunduk lemas setelah ngantre di belakang lima orang sebelumnya, begitu sampai depan kasir nggak bisa isi pulsa. Niat dari rumah ngeluarin uang buat beli pulsa, atau nggak ngeluarin uang sama sekali, eh sampai sana harus bayar parkir sepeda. Tahu begitu mending gue ke sini naik sepatu roda atau otopet, deh. Bisa cepat sampai tanpa perlu bayar parkir.

Gue, sih, berharap di konter-konter dekat rumah tersedia pulsa Bolt. Biar saat di minimarket nggak bisa, gue bisa beli di konter. Namun, kenyataannya nggak tersedia. Atau, jangan-jangan selama ini gue nyari di konter... strike. Mana ada yang jual pulsa Bolt di Counter Strike?

Sampai tengah malam, gue kerepotan karena nggak ada sumber lain buat belajar. Cukup sedihlah malam itu.

Pada suatu malam, gue sedang iseng buka Tokopedia. Biasalah, cuci mata. Sekadar nyari motivasi ngumpulin uang. Sambil melihat-lihat gue ketemu sebuah menu bertuliskan “Pulsa”. Gue klik laman tersebut, berisi banyak gambar di sana. Salah satunya logo Bolt. Satu hal yang terlintas di benak gue saat itu juga: pasti bisa beli pulsa Bolt di Tokopedia. Aaaaak, gila. Enak banget kalau beneran bisa.

Pasti tahu Tokopedia, kan? Tokopedia bukan singkatan dari "ke toko sepeda bareng dia". Bukan itu. Tokopedia adalah wadah bagi para penjual online. Bisa belanja secara online di sana. Pasti banyak yang tahu karena iklannya saja sudah ada di televisi. Hehehe.

Oke, kembali lagi. Setelah gue telusuri, ternyata selain Bolt, bisa juga isi pulsa provider lain. Ngisi token listrik, bayar tagihan listrik PLN, sampai iuran BPJS juga bisa di Tokopedia Pulsa. Buat gamers bisa beli voucher game online di sini. Kalau bayar SPP sekolah mantan belum ada kayaknya. Pokoknya, banyak bisanya dari Tokopedia.

Tampilan saat mau isi pulsa

Keuntungan lain dari beli pulsa di Tokopedia adalah kita bisa bayar belanjaan yang mau kita beli di Tokopedia sekalian beli pulsa. Mau beli baju atau sepatu tapi malas ke toko, bisa cari barangnya di Tokopedia. Nggak cuma di minimarket aja yang bisa belanja sambil beli pulsa, di Tokopedia juga bisa. Tapi ingat, jangan beli barang-barang yang di luar kekuatan ekonomi kita. Misalnya, mau beli handphone baru tapi uang di kantong cuma cukup beli air mineral. Jangan dipaksa begitu.

Kalau beli pulsa di Tokopedia bayarnya gimana? Masukin uangnya ke botol, lempar ke selokan. Bukan, bukan begitu.

Kita bisa bayar pulsanya di tempat-tempat yang ditunjuk Tokopedia, misalnya Indomaret. Atau, kalau kamu punya saldo lebih dan cukup untuk membayar pulsa, maka saldo kamu otomatis terpotong. Enak, kan? Nggak perlu lagi ngantre, dan pulsa sudah terisi hanya bermodal gadget. Keunggulan lainnya adalah pulsa tersedia 24 jam. Selalu always lah kalau kata guru gue. Tentunya, nggak perlu ditagih uang parkir.

Jadi, tertarik untuk beli pulsa di Tokopedia?

25 November 2016

Seorang komika Indonesia, Pandji Pragiwaksono, pernah nge-tweet (seingat gue) begini: Hal yang paling sia-sia adalah memperdebatkan selera. Gue sepakat dengan tweet tersebut. Sudah banyak buktinya. Perdebatan selera telah menjadikan calon menantu gagal meminang anaknya.

“Ayahku sukanya Beng-beng langsung.”
“Tapi aku sukanya Beng-beng dingin.”
“Gue sukanya Beng-beng gratis. BAGI SINI DAH. RIBET LU PADA!”

Untuk berani jujur, kita perlu tahan terhadap cibiran. Gue, secara terang-terangan, suka Kangen Band. Kalau setelah ini gue dicibir, nggak peduli. Selera adalah hak individu, Jenderal. Kalau orang-orang mencibir, nanti lo gue rujak karena gue bukan buah-buahan, tapi jadi buah bibir.

Hmmm, kayak tahu lirik lagu siapa. O aja ya kan.

Formasi Kangen Band terdahulu

Gue suka Kangen Band dari musik dan lagu-lagunya. Kalau ditelaah, lagu-lagu Kangen Band mudah dicerna baik lirik maupun musiknya. Meskipun liriknya sering dicap lebay, kita jujur-jujuran aja, kalau lagi sedih karena cinta pasti kamu pernah dengar lagu Kangen Band, terus bilang, “Anjrit. Ini gue banget!” Ngaku aja deh. Yang bisa gue simpulkan: lagu-lagu Kangen Band adalah wujud sesungguhnya dari diri kita ketika norak.

Mencap band alay tapi dengar lagu-lagunya langsung melow. Dasar lemah!

Sampai di tingkat kefanatikan tertinggi, gue sering mantau posisi Kangen Band di chart Inbox, sebuah acara musik pagi. “Wah, lagu Yolanda ada di posisi keenam.” Gue ngomong begitu langsung ditinggal teman-teman di pergaulan. Selera gue nggak diakui.

Oke, kita kesampingkan dulu segala hal tentang musik Kangen Band (yang dibilang norak dan kampungan).

Seniman hebat banyak yang memiliki latar belakang ekonomi kurang mampu. Personel Kangen Band, seperti yang diceritakan di film mereka—Aku Memang Kampungan—, disebut-sebut datang dari ekonomi rendah. Andhika seorang penjual es cendol. Dodhy tukang tambal ban.

Young Lex karyawan bioskop. Juga office boy.

Tetapi mereka hebat. Datang dari kaum melarat, berkarya tanpa rasa penat, kemudian kesuksesan mereka dapat.

Keunikan dari lagu Kangen Band adalah liriknya yang gampang banget masuk otak. Liriknya dekat dengan kita. Namun, pernah nggak, sih, ketemu lagu yang bagus tapi nggak tahu liriknya? Ini agak rese sebenarnya. Ibarat suka sama orang, tapi nggak tahu namanya. Contoh aja satu lagu.

“Coba kau pikirkan, coba kau renungkan. Apa yang kau inginkan telah aku lakukan.”

Kalau orang awam, apakah tahu judulnya? Ooh, tentu tidak mungkin! Pastilah menebak-nebak judul dari lirik lagu yang ada.

“Mikir, merenung. Apa, ya? Kamu ingin, aku telah lakukan. Aaaah, mungkin judulnya... Majikan.”

Gue orangnya gampang penasaran. Maka dari itu gue cari aja judulnya dengan memasukkan lirik di kolom pencarian Google. Tuh, ini baru ngefans level nyari-lagu-bajakan yang mandiri. Kalau nggak ngeluarin duit buat beli albumnya, minimal jangan nanya link download ke penyanyinya.

Dari sekian banyak lagu Kangen Band (yang dibilang norak dan kampungan), ada lima lagu yang gue jadikan favorit.

5. Penantian yang Tertunda
Masalah yang diangkat dalam lagu ini sangatlah berat, tetapi gue suka lagunya. Masalah restu orang tua, sepertinya.

Kumohon kau mengerti. Cobalah kau tabahkan hati.
Tabahkanlah hatimu, oleh siksa orang tuamu. Kuyakin kita mampu bila kita saling menunggu.

Lagu yang tentunya bukan porsi gue. Jelas, kalau berhubungan tapi tersiksa orang tua, bukanlah masalahnya anak SMA. Masalah anak SMA yang terkendala orang tua adalah nggak dibolehin kerja kelompok.

Namun, nggak tahu kenapa lagu ini cukup sering gue dengar dulu, di mana pun. Maknanya nggak ada yang secara khusus “benar-benar gue”.

Terus, si lelaki dalam lagu termasuk tipe cowok yang, kalau kata cewek, uwuwuw banget. Mau nunggu walau sebagai simpanan. Mau menanti walau takkan pernah dimiliki. Tetap menunggu walau hanya sebagai kekasih gelap. Beberapa cewek mungkin akan terhasut dengan ucapan manis tersebut.

Kembali lagi, secara khusus nggak ada keistimewaan lagu ini buat gue. Hanya saja semakin sering lagu ini didengar jadi kedengar enak. Lumayan buat ngerileksin badan.


4. Kembali Pulang
Dalam lagu ini, Dodhy, sang penulis lirik, banyak menggunakan majas personifikasi. Di setiap liriknya pula Dodhy memberi rima, sehingga bunyi akhir dari lirik sama. Liriknya nggak ada hubungannya dengan kisah gue. Makna lagu ini adalah tentang pasangan yang senang setelah balikan.

Kekasih yang dulu hilang, kini dia telah kembali pulang. Akan kubawa dia terbang, damai bersama bintang.

Gue belum pernah begitu. Pernah, sih, dulu putus, lalu tiga hari kemudian balikan. Nggak terasa apa-apa. Belum sampai pada tahap susah-susahnya usaha buat move on, kayak yang dikeluhin orang yang abis putus.

Sama kayak Penantian yang Tertunda, lagu ini juga nggak terlalu punya makna khusus. Cuma karena lagunya menye-menye dan enak, jadilah gue suka lagu ini.


3. Pujaan Hati
Lagu ini cukup membekas bagi gue saat kelas 10. Ceritanya, dulu gue baru saja putus (ya, gue pernah punya pacar). Lalu, beberapa hari kemudian ada pengambilan nilai menyanyi lagu pop di kelas. Gue stres banget nyari lagu apa yang gampang. Nyanyi lagu Slank takut ada yang ngibarin bendera. Nyanyi lagu Depapepe nggak tahu liriknya. Nyanyi lagu Abang Tukang Bakso, nanti ada yang main tenis meja.

Lho, kok gitu?

Iya, bakso bulat seperti bola pingpong.

Sekelebat memori gue memunculkan lagu yang sangat membekas zaman SMP. Pujaan Hati. Ya, ini lagu yang muncul, kemudian menjadi pilihan gue. Alasannya: lagu ini benar-benar nyambung dengan kondisi gue saat itu.

Mengapa kau tak membalas cintaku. Mengapa engkau abaikan rasaku.

Alasan lainnya adalah lagu ini benar-benar gampang.

GAMPANG DIHINA.

Benar saja, gue dicemooh karena pakai lagu ini buat penilaian. Bukan karena selera musik gue yang cemen (sekali lagi, nggak ada selera yang cemen). Gue dibilang aneh sama seorang teman. “Nyari lagu yang bagusan dikit, kenapa. Parah lu mah.”

Padahal, gue nyari jalan aman. Gue nggak punya suara yang bagus. Nah, salah satu yang gue miliki adalah semangat. Bila gue memilih lagu yang semangat, maka suara gue akan terlalu semangat dan jadinya ngawur banget. Kalau nantinya tetap dikatain, “Suara lu jelek, Rob!”, gue tinggal jawab, “Gue hanya mengikuti suara aslinya.”

Ehehehe, maaf. Andhika suaranya bagus kok. Dibanding boyband dan girlband yang nyanyinya bagus kalau rekaman doang. Kalau manggung cuma gerak mulut doang.


2. Tentang Aku, Kau, dan Dia
Hal yang gue suka dari lagu ini adalah kedekatan makna lagu dengan kehidupan gue. Tentang seorang cewek yang pernah membuat gue berpaling hanya kepadanya. Karena dia, pernah membuat gue nggak sedih lagi. Pokoknya pengin terus bareng dia.

Selayaknya engkau tahu, betapa ku mencintaimu. Kau terangkanku dari mimpi burukku.

Kalau sudah cinta, ngelihat dia sama yang lain agak sakit rasanya, apalagi kalau sampai cerita-cerita soal percintaannya dengan orang lain. Herannya, dia juga ngungkapin kesedihan ”orang lain” itu yang nggak peka kepadanya, ke kita. Ungkapan tersebut menggambarkan lirik berikut, yang juga gue alami.

Jangan kau menangis lagi, tak sanggup aku melihatnya. Namun, kumencoba tegar menghadapinya.

Sekarang kau pilih diriku atau dirinya.

Akhirnya, jadi nggak ingin berharap lagi. Gue mundur dan pelan-pelan menjauh.

Sudah usai sudah, cerita engkau dan aku. Kuanggap sebagai bingkisan kalbu.


1. Bintang 14 Hari
Lagu ini menurut gue yang terbagus dari banyaknya lagu Kangen Band. Kekuatan dari lagu ini adalah lirik dan penyanyinya. Dalam lagu Bintang 14 Hari, ada bagian lirik yang dinyanyikan backing vocal Kangen Band, Eren. Dalam liriknya, Eren, sebagai wanita, menggambarkan perjuangannya mencari kekasihnya. Wah, gue kalau sudah dengar cerita-cerita tentang perjuangan wanita begitu langsung luluh.

14 hari ku mencari dirimu. Untuk menanyakan di manakah dirimu.

14 hari kudatangi rumahmu. Agar engkau tahu tertatihku menunggumu.

Cowoknya juga. Dia minta maaf setelah lama menghilang dari kekasihnya.

Maafkanlah aku lari dari kenyataann. Bukan karena aku tak punyai rasa sayang.

Selain lagunya, video klip dari Bintang 14 Hari merupakan kelanjutan dari video klip lagu Kembali Pulang (kalau nggak salah). Ini juga yang menjadi kekuatan Kangen Band dalam memproduksi video klip. Mereka mengonsep video klip lanjutan. Suatu lagu punya video klip, lalu di lagu berikutnya melanjutkan video klip dari lagu sebelumnya.

Masih banyak lagu Kangen Band yang bagus. Mulai dari Doy, Yolanda, dan... aduh, lupa judulnya. Ingat-ingat lirik dulu deh, baru nyari di kolom pencarian.

Sebenarnya ada satu lagu Kangen Band yang memotivasi anak bangsa untuk kuliah di Washington. Tapi tetap saja lagu Juminten nggak masuk ke dalam lima lagu Kangen Band terbaik versi gue.

Gue cuma mau bilang, Kangen Band nggak selamanya cemen, musik rendahan, musik kampung, hina, dan musik kasta rendah. Nggak begitu. Jujur saja, gue merindukan musisi-musisi Tanah Air yang menggunakan majas di lagunya. Yang terdengar jujur dan benar-benar resah.

Terlepas dari noraknya, kalau saja gue belum kenal musisi selain Kangen Band, mungkin saat ini juga gue bisa menggambarkan Kangen Band dengan lirik lagunya yang berjudul “Penantian yang Tertunda”: Kaulah yang terbaik bagiku dan nomor satu.

--

Selain gue, teman-teman WIRDY juga pada kangen Kangen Band. Baca kekangenan mereka di sini:
Wulan: Kangen Band yang Bikin Kangen
Icha: Kangen(in) Band
Darma: Kita yang kangen dia. Dia nggak kangen Kangen Band. :(
Yoga: Duh, Kangen!