28 December 2016

Surat Dari Ibu


Tinggal berdua dalam satu rumah adalah hal yang tidak pernah aku inginkan. Apakah ada lelaki, berumur enam belas tahun, yang menginginkan tinggal bersama adiknya, yang baru berumur delapan bulan? Agak gila. Aku seperti gadis belasan tahun yang disetubuhi hingga hamil kemudian ditinggal sang lelaki bajingan.

Aku seringkali membuat penyangkalan, bahwa aku tidak pantas ditempatkan dalam kondisi begini. Tinggal serumah dengan manusia yang tidak bisa membantuku mengerjakan apa pun. Aku seperti hidup sendiri, kemudian diberi beban lagi. Saat diri tidak terkontrol, sepintas aku berpikir ingin menusuk pisau roti ke punggung adikku, sehingga beban di rumah ini berkurang.

Ayahku pergi dua bulan sebelum Herman, adikku, dilahirkan. Ibuku tak kuketahui kabarnya pasca-melahirkan. Aku tak pernah mendapatkan informasi pasti di mana keberadaan kedua orang tuaku. Kerabat terdekatku, Tante Tresna, mengatakan, mereka ada di sebuah kota untuk mencari nafkah, dan kedua anaknya dititipkan pada adik Ayah tersebut.

Hanya bertahan lima bulan Tante Tresna menampung kami. Lamaran pekerjaannya di salah satu bank swasta diterima. Setelahnya, beginilah kondisi keluarga kami: hilang arah tanpa ada nakhoda di dalamnya—yang biasa kami sebut orang tua.

Membagi waktu antara belajar, merawat adik, dan bekerja sangatlah menyusahkan. Jujur saja aku kepayahan menjalaninya. Seperti sore ini, aku sedang menyiapkan bumbu untuk berjualan nasi goreng sambil menjaga adikku. Bahan-bahan yang sudah kubeli siap dihaluskan. Namun, pisau yang biasa kuletakkan di atas meja makan kini tidak pada tempatnya.

“Kulkas.”

Suara itu spontan terdengar. Aku kaget. Siapa yang berkata tadi? Yang ada di rumahku hanyalah aku dan adik. Mustahil Herman yang bicara.

Mungkin suara itu bisa jadi petunjuk. Aku pernah menonton serial kartun Dora The Explorer di televisi. Saat Dora mengajak penontonnya di rumah berinteraksi, aku memberi tahu ke mana dia harus pergi. Padahal, di luar sana, si Dora sialan pasti tidak mendengarku. Akhirnya, dia pergi ke tempat yang aku sebutkan.

Aku mengikuti apa kata suara asing tersebut, seperti Dora mengikuti perintahku.

Aku membuka kulkas. Seketika aku merasa bodoh tidak mendapatkan pisau di sana.

“Atas.” Suara asing itu muncul lagi sama persis. Aku melirik ke adik, dia merangkak sambil menunjuk-nunjuk ke atas kulkas. Aku semakin bingung karena dia sebelumnya belum bisa bicara. Kata pertama yang dia ucap justru kulkas. Seharusnya, kata pertama yang diucap seorang bayi adalah “ibu” atau “ayah”, bukannya kulkas. Atau memang kulkas dia anggap sebagai orang tuanya?

“Atas?” Aku melihat ke atas kulkas dan medapatkan pisau yang kuinginkan. Memotong cabai dan meracik bumbu nasi goreng yang pernah Ibu ajarkan.

Sebelum berangkat sekolah, sepucuk amplop putih diantarkan tetanggaku. Kemarin sore surat ini sampai kepadanya dan dia lupa menyampaikan padaku. Aku membacanya pada jam istirahat pertama di sekolah.
Jati, semoga kamu baik-baik saja. Ini Ibu. Maaf belum bisa berkunjung sampai penghujung tahun berakhir. Kamu belajar yang giat, ya. Ibu janji, saat kita bertemu nanti, Ibu akan memelukmu erat. Kamu harus sekuat pohon jati, itulah filosofi yang diberikan untuk namamu.

Salam sayang,

Ibu.

Surat itu tak begitu berkesan ketika membacanya kali pertama. Sampai di tempat berjualan, di bawah lampu petromaks, aku membaca surat itu. Walau hanya kertas biasa, aku bisa mencium aroma yang tak biasa.

Aroma kerinduan.

Kudekap surat itu. Ibu, aku rindu.

***

Seminggu lagi akan ada Ujian Akhir Semester. Aku mulai mengurangi jam berjualan agar bisa menyisihkan waktu untuk belajar, mengejar materi yang belum mampu aku kuasai. Aku menyadari bahwa akan sangat menyulitkan bila belajar sendiri. Aku membutuhkan pembimbing untuk mengajariku. Aulia, teman sekelasku, membolehkan aku belajar di rumahnya. Kebetulan rumahnya dekat dari tempatku berjualan.

“Jati, mau coba nasi goreng kamu dong.”

“Boleh. Bayar ya.” ucapku setengah bercanda.

“Boleh. Tapi kamu bayar aku juga.”

Aku dan Aulia tertawa.

Setelah selesai belajar, aku melanjutkan berjualan pukul 9 malam. Aku sudah berencana sekitar pukul 12 aku pulang.

“Kok baru datang?” tanya satpam kompleks.

“Biasa, Pak. Habis pacaran dulu tadi,” kataku bercanda.

“Yeh. Kerja dulu yang bener. Kalau udah kaya, baru deh nikah sama anak gue!” Pak Satpam kemudian tertawa.

“Anak bapak cewek, kan?”

“Bukan. Anak gue burung beo!” katanya kesal. “Ya, cewek lah. Nanti gue kenalin deh. Tapi umurnya baru dua tahun.”

Pak Satpam memang sering bercanda denganku. Aku sudah menganggapnya seperti Ayah, yang entah bagaimana rasanya memiliki Ayah seperti apa. Tapi, Pak Satpam punya karisma yang sanggup menggantikan sosok Ayah.

***

Pagi hari sebelum berangkat sekolah, aku kembali mendapat surat.
Jati, hari ini adalah hari pertama kamu UAS. Ibu harap, kamu bisa mengerjakan soal-soal dengan tenang. Tanpa beban pikiran. Percayalah pada Ibu, kamu bisa mendapat nilai bagus. Jangan lupa mengulang pelajaran yang pernah diajarkan di sekolah. Kamu ingat bulan ini ada Hari Ibu? Ibu harap, Ibu bisa bertemu kamu.

Salam rindu,

Ibu
Surat yang justru membuatku tak kuasa menahan tangis di hadapan lembar soal ujian. Aku berulang kali meminta kertas baru kepada pengawas karena tetesan air mataku membasahi kertas. Soal-soal Matematika menjadi terasa sangat sulit.

Ibu, kenapa kau datang membawa kesulitan padaku hari ini? Tapi, aku tetap rindu Ibu.

Semenjak surat itu datang aku tidak pernah konsentrasi mengerjakan apa pun. Aku berhenti berjualan untuk sementara waktu sampai kondisi jiwaku benar-benar stabil. Beberapa kali aku kehilangan keseimbangan. Aku hampir jatuh di jalan karena merasakan pusing yang hebat. Genggaman tanganku, tidak biasanya, menjadi lemah. Lima kali aku menjatuhkan piring dan gelas dalam sehari di rumah.

Saat ini yang kubutuhkan adalah orang yang paling dekat hubungannya denganku. Tetangga memang dekat dari rumah, tapi tidak cukup dekat bila kuceritakan apa saja yang terjadi pada diriku.

UAS selesai dengan banyak sekali kesalahan yang kubuat. Beberapa hafalan dan rumus tiba-tiba memusuhi diriku. Suara lembar soal yang dibuka terdengar mengejekku karena gagal menjawabnya.

Masa-masa seperti ini yang membuatku ingin mengakhiri hidup secepatnya.

Aulia nampaknya khawatir dengan kekacauan yang terjadi pada diriku. “Kamu beda dari biasanya, Jati. Ada masalah?”

“Sedikit.”

“Aku nggak maksa kamu buat cerita.” Aulia mengambil sebuah wafer yang tergeletak di meja kantin. “Mau wafer?”

Aku mengambil dua buah wafer. Mengambil selapis demi selapis untuk dijilati krimnya. Sekolah semakin sepi. Pedagang di kantin mulai memberesi dagangannya.

“Kamu nggak jualan hari ini?”

“Nggak bergairah untuk saat ini. Entahlah,” kataku. “Sepertinya semua kebiasaan yang sudah kubangun sejak tiga bulan terakhir runtuh karena sesuatu.”

***

Aku datang ke depan kompleks, tetapi tidak mendorong gerobak. Aku datang tidak untuk berjualan.

“Mana gerobak lu?” tanya Pak Satpam.

“Nggak jualan dulu, Bos. Hehehe.”

“Terus mau apa ke sini?”

“Berani tanding catur?” ajakku.

“Ayo.”

Semalaman suntuk aku bermain catur dengan Pak Satpam. Tanpa henti hingga bergelas-gelas kopi dan berbutir-buti kacang jatuh ke tenggorokan. Aku benar-benar melepas semua ketegangan yang ada di kepalaku. Aku tak peduli besok ada jadwal sekolah. Aku percaya besok sudah tidak ada kegiatan karena UAS telah selesai.

“Lo tau nggak, Boy? Waktu gue sebesar lo, gue bego banget main catur,” katanya memulai cerita.

“Masa, sih?”

“Menurut gue, raja tuh sebenernya goblok. Nggak bisa apa-apa. Maunya dilindungi doang. Gue malah lebih suka ratu, karena... gue cowok! Ratu kan cewek, gue cowok. Pas!”

Ucapannya mulai aneh. Aku mulai takut dia akan membeberkan rahasia celana dalam istrinya.

Aku tertidur di pos satpam kompleks. Terbangun pada waktu yang tepat saat muazin mengetukkan jari di mikrofon. Jalan sempoyongan setengah sadar saat azan Subuh berkumandang, aku ke masjid untuk menyegarkan diri berwudu dan salat berjamaah. Selesai salat aku kembali tertidur hingga matahari tepat di atas ubun-ubun.

Herman, seperti biasanya, tidak ada di rumah. Dia sedang tidur siang di rumah tetangga. Sejak aku bekerja dia memang aku titipi, kecuali pada hari-hari tertentu saat aku butuh dia untuk menemani di rumah. Aku ingin mengetahui kondisinya dan segera ke rumah tetangga.

“Titipan surat lagi,” kata tetanggaku menyerahkan amplop putih.

“Oh iya? Ada uangnya nggak, Bu?” ledekku.

“Nggak tahu deh. Saya nggak sempat ngintip.”

Aku menggendong pulang Herman yang tertidur pulas dan sepucuk amplop putih.
Jati, tanggal 22 Desember nanti hari pembagian rapor, bukan? Maaf, Ibu tidak bisa mengambilnya, begitu pun ayah. Kamu ambil sendiri saja, ya. Atau bisa meminta bantuan tetangga. Kabar baiknya, Ibu akan menemui kamu sore harinya. Ibu janji. Sore hari, kamu temui Ibu di pasar besar kota seberang. Ibu harap, kamu tidak lupa Hari Ibu.

Semoga nilaimu baik semester ini.

Saat pembagian rapor, tidak ada pilihan lain, aku mengambilnya sendiri. Herman aku titipkan di rumah tetangga. Dengan begitu aku tidak akan mengurusi dia dalam kemampuanku merawat bayi yang teramat payah ini.

Wali kelasku menanyakan tentang orang tuaku. “Kamu kenapa ambil rapor sendiri?” tanyanya. Aku setengah tertunduk menjawabnya, “Saya nggak tahu orang tua saya di mana, Bu.” Aku juga menjelaskan tentang pekerjaanku, supaya aku bisa sedikit membela bila nilaiku buruk dengan alasan sibuk bekerja.

Aku sebenarnya agak takut bila Ibu Arafah, wali kelasku, akan marah karena rapor tidak diambil orang tua. Namun, dia memberi pemakluman dengan alasan yang kuberi tadi. Dia hanya memberi sedikit nasihat dan motivasi belajar kepadaku.

***

Dengan menaiki angkot, aku menuju pasar yang dimaksud di dalam surat itu. Aku tidak membawa apa-apa untuk pertemuan ini: pertemuan yang sudah kurindukan sejak sembilan bulan yang lalu.

Sampai di sana, pasar cukup sepi, bahkan tempat ini tidak layak disebut pasar karena pasar identik dengan keramaian. Sambil menunggu Ibu aku minum es dawet di depan bank yang berada di tengah-tengah pasar. Di seberang jalan, mobil merah berhenti. Turun seorang wanita mengenakan kerudung biru dongker dipadukan gamis dengan warna senada. Dia menoleh ke kanan dan kiri, kemudian melihatku. Dia berjalan mendatangi aku.

“Jati?”

“Iya. Ibu?” tanyaku, setengah ragu.

“Benar, Jati.”

Aku tak sanggup menahan semuanya. Aku langsung memeluk Ibu erat-erat. Dia juga memelukku. Dari sudut matanya mengalir sungai kecil di pipinya. “Aku yang sering mengirim surat untuk kamu.”

Aku tak peduli lagi apa perkataannya, yang penting aku bisa bersamanya. Namun, aku menyadari ada hal berbeda dari wanita yang sedang kupeluk erat ini.

“Jati, kamu harus dengar ini.”

Aku dan Ibu duduk di bangku pinggir jalan.

“Sebenarnya,” kata Ibu menatap wajahku, “aku ibu yang lain dari ayahmu. Aku ibu tirimu.”

Kaget. Denyut nadiku perlahan melambat mendengar perkataan dia.

“Aku ibu tirimu. Ayah kamu menikahi aku dua bulan sebelum ibu kamu melahirkan. Ayah kamu akhirnya nggak sanggup membayar biaya rumah sakit karena uang yang dia miliki habis untuk menikah denganku.”

“DASAR WANITA BA—“

“Tunggu dulu.” Dia menunda luapan amarahku. “Kamu tidak sepenuhnya kehilangan ibumu.”

“Cepat! Tolong pertemukan aku dengan ibuku. Kamu bukan ibuku!”

Dia mengajakku menelusuri isi pasar. “Ibu kamu ada di sini.”

Beberapa kios sayur kami lewati. Aroma bumbu rendang tercium dari kejauhan. Bunyi bising pemarut kelapa terdengar. Namun, di mana ibu sebenarnya?

Ibu tiriku membuka pintu kayu yang digembok. Di dalamnya terdapat banyak sekali batok kelapa. Seorang wanita yang kedua kakinya terjepit di antara dua kayu sedang duduk terkulai lemas.

“Itu ibu kamu.”

“Benar? Kenapa ibu ada di sini?” tanyaku tidak percaya.

“Kamu siapa?” katanya sambil menunjuk aku dan ibu tiriku. “Jangan pacaran di sini. Anak saya sekarang sudah jadi Menteri Luar Negeri Portugal! Hahahaha.”

“Ibu kamu jiwanya terganggu, Jati. Sejak ditinggal ayah dan melahirkan, dia jadi murung. Dia nggak kembali lagi ke rumah setelah keluar dari rumah sakit.”

“Ibu....” Aku menjerit dan memeluk Ibu. “Ibu, maafin Jati ya, kalau selama ini Jati banyak dosa sama Ibu. Aku kesepian tanpa Ibu. Herman juga. Ibu jangan begini, Bu.”

Aku mengeluarkan rapor dan memberi tahu Ibu. “Bu, aku nggak bisa kasih apa-apa. Tapi, aku ranking satu di kelas, Bu.”

“Makasih telah melahirkan Jati, Bu. Aku sayang Ibu. Selamat Hari Ibu.”

--

Sumber gambar: https://www.vectorstock.com/royalty-free-vector/envelope-vector-488529

Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway blognya Yoga Akbar Sholihin bertemakan "Ibu".
09 December 2016

Kontemplasi Akhir Tahun

Dari SD sampai SMA, nggak banyak rumah teman yang pernah gue kunjungi. Gue memang agak segan main ke rumah teman. Banyak faktor yang membuat gue jarang ke rumah teman. Pertama, gue orangnya kaku. Jangankan ke rumah teman, ke rumah saudara saja gue cuma duduk diam atau menonton televisi. Gue takut kejadian itu juga terjadi di rumah teman. Ditanya orang tuanya teman, gue malah cengengesan nggak nyambung.

Kedua (ini alasan yang dibuat-buat), gue takut nggak bisa pulang lagi. Takut nyasar.

Farhan adalah salah satu teman yang rumahnya pernah gue kunjungi. Waktu itu gue lagi deket banget sama dia. Main ke mana-mana bareng. Dan nggak biasanya, Farhan bisa menjadi teman belajar. Sudah terlalu banyak teman gue yang “diajak main ayo, tapi diajak belajar nolak”. Saat itu, cuma Farhan yang mengerti kondisi kita.

Saat itu gue sedang kelas 6. Persiapan UN lagi getol-getolnya.

Selain jarang ke rumah teman, gue juga agak takut mengajak teman-teman ke rumah. Khawatir mereka nggak suka dengan perlakuan keluarga gue. Takut kalau nantinya keburukan keluarga gue mereka ketahui. Takut keluarga atau rumah gue diomongin di belakang. Gue nggak ngerti kenapa sejak dulu gue selalu ingin dilihat sempurna. Padahal sudah menjadi kodratnya bahwa manusia punya kekurangan.

Mama sering bilang, “Kok teman-temanmu nggak pernah main ke sini?” Gue cuma jawab, “Nggak tahu.” Padahal memang karena gue yang nggak pernah mengundang mereka.

Sampai gue kepikiran, andai suatu saat nanti teman-teman gue menikah, mereka akan memberikan undangan kepada gue. Tetapi mereka nggak menemukan alamat gue karena mereka nggak pernah tahu rumah gue. Karena nggak dapat undangan, gue menyesal nggak bisa datang di acara penuh kebahagiaan teman gue.

Lagi-lagi tidak berlaku pada Farhan. Gue cukup yakin kalau Farhan anaknya nggak suka ngomongin orang lain. Gue percaya dia memang sahabat gue, sampai kapan pun.

Siang itu gue menempati musala mes yang gue jadikan tempat belajar. Gue dan Farhan duduk menghadap papan tulis kecil milik gue. Kakak gue mengajari Matematika, pelajaran kesukaan Farhan.

Tetangga gue melihat kami belajar. “Kamu anak Manyar, ya?” tanyanya kepada Farhan.

Farhan menjawab, “Iya.”
“Kamu tinggal di Manyar, sebelah mananya?”
“Dekat pabrik bihun.”
Mama gue mendengar percakapan tersebut, “Jangan-jangan, kamu anaknya Bu Anu (menyebutkan nama ibunya Farhan). Iya?”
“Iya benar.”

Di luar dugaan, Mama kenal dengan ibunya Farhan. Mereka adalah teman mengaji dan mengenal cukup dekat. Di suatu malam, Mama bilang ke gue, “Mamanya Farhan itu temen baik Mama. Sering curhat-curhatan. Nggak nyangka ya, bisa ketemu begini. Mama sama anaknya temenan baik.”

Gue tersenyum.

***

Setelah UN, entah dalam kegiatan apa di sekolah—gue lupa, gue menyempatkan ke rumah Farhan. Jaraknya nggak terlalu jauh dari sekolah. Di rumah Farhan, gue nontonin Farhan main game Bully. Game yang sangat asing tapi gue sering dengar namanya. Di layar televisi ada seorang anak sekolahan main skateboard di jalan raya. Lalu, dia ngeluarin ketapel. Gue bingung ini mainan apa sebenarnya.

“Mau ke sekolah jam berapa?” tanya gue.
“Nanti aja jam 10,” jawab Farhan.

Farhan kembali memainkan stik kontrolernya.

Mamanya Farhan datang menghampiri gue. “Mau berangkat jam berapa?”
“Kata Farhan jam 10.”
“Oh yaudah. Mama Farhan pamit dulu, ya.”

Gue mencium punggung tangan beliau.

Singkatnya, kami satu sekolah lagi di SMP. Namun kami tidak seakrab dulu karena Farhan telah masuk ke dunia “game”. Setiap hari kerjaannya main Point Blank di warnet terus. Gue, karena nggak punya pegangan hidup saat itu, ikut-ikutan menjadi anak warnet, minimal hari Sabtu gue main Point Blank selama lima jam.

Setelah uang gue terhambur banyak, gue menyadari bahwa gue nggak cocok jadi gamers. Dan gue punya pandangan sinis terhadap gamers.

Karena itu mungkin, gue agak jauh darinya. Farhan bukanlah orang yang gue kenal seperti saat SD dulu. Tapi gue nggak putus hubungan dengan dia. Farhan tetaplah sahabat. Meskipun gue yang memutuskan menjauh darinya. Lebih tepatnya, karena kebiasaannyalah yang membuat gue jauh darinya.

***

Terakhir kali ketemu Farhan saat buka puasa bersama tahun ini. Teman-teman seangkatan SMP berkumpul di sana. Gue berharap teman-teman yang dekat dengan gue datang. Untungnya Farhan datang. Gue cerita banya tentang kehidupan sekolah.

“Gue nggak tahu deh, kalau nggak karena nilai kasihan dari guru, nasib gue udah kayak gimana,” ujar gue.
“Apalagi gue, Bi. Belajar aja nggak pernah.”

Kemudian kita tertawa. Kita saling menertawai nasib di SMA yang kehidupannya lebih keras daripada di SMP. Tawa yang gue rindukan.

Suatu malam dalam perjalanan pulang dari minimarket, gue melihat Farhan di pinggir jalan raya. Dia duduk di atas motor memainkan handphone-nya. Raut wajahnya terlihat seperti menunggu seseorang. Gue hendak memanggil, tetapi sadar bahwa kondisi jalan sedang macet, nggak mungkin gue teriak. Bisa-bisa digetok pengendara motor. Gue lanjut mengayuh sepeda.

Enam tahun gue tidak pernah mengunjungi rumahnya, malam Minggu kemarin gue ke rumahnya. Tiga minggu setelah gue gagal menyapanya.

Gue memarkirkan sepeda fixie merah di depan rumahnya. Ada dua orang bapak yang sedang duduk di kursi hijau.

“Bi.”

“Bi.”

“Bi.”

Tiga panggilan itu membuat gue menoleh ke belakang. Ada Farhan di sana, di depan gerbang kayu rumahnya.

Rumah yang enam tahun tidak gue kunjungi, kini lebih ramai. Nggak banyak perubahan dari susunannya. Warna dinding dengan cat krem masih dipertahankan. Tanaman di sampinya pun masih sama. Mungkin ada satu-dua perubahan di sana.

Farhan tatapannya beda. Tidak seperti Farhan yang biasanya. Tidak seperti Farhan ketika antusias mengerjakan soal Matematika dulu. Tidak seperti Farhan yang gue kenal.

Tatapannya nggak ceria.

“Mama lu udah tahu?” tanyanya.

Gue menangguk.

“Ya udah, masuk. Yang lain udah di dalam.”

Gue duduk di teras rumah Farhan. Ada dua teman SMP di sana. Kacang dihidangkan di atas piring. Orang-orang, yang nampaknya saudara Farhan, membawa tumpukan buku Yasin.

Gue di sini, tidak untuk menonton Farhan main Bully.

Melainkan,
hadir dalam acara tiga harian meninggalnya ibunya Farhan.

Kata terakhir yang pernah gue dengar “Mama Farhan pamit dulu, ya” menjadi kata terakhir, sekaligus kata yang benar-benar menggambarkan keadaan sekarang. Beliau benar-benar pamit. Meskipun nggak mengenal begitu dekat, gue jelas sedih mendengar meninggalnya beliau. Apalagi Mama yang sudah menganggapnya sebagai sahabat.

***

Pasca datang ke rumah Farhan, gue kembali takut.

Takut.

Takut.

Benar-benar takut.

Gue takut akan kenyataan, bahwa kita memang nggak akan selamanya di dunia ini.

Apa pun yang kita miliki rasanya sangat berharga bila ditinggalkan begitu saja. Teman-teman, saudara, sahabat, guru-guru akan kita tinggalkan kelak. Betapa nikmatnya kehidupan di dunia ini membuat gue terlena, hingga lupa bahwa kita akan berakhir dengan kematian. Ambisi, kecewa, bahagia, dan semuanya menutupi kenyataan yang ada.

Kematian memang ada.

Nonton video, baca novel kesukaan, mengerjakan soal-soal hingga tengah malam seperti menjadi tipuan yang kita buat sendiri untuk menghilangkan kenyataan itu. Kenyataan yang kalau kita ingat secara artian lain membuat kita segan untuk merasa hidup.

Gue jadi mikir, bagaimana bila nanti nggak mendapat tempat terbaik di alam akhirat nanti, seperti yang telah dijanjikan-Nya?

Mungkin aku tak pantas menjadi penghuni Surga Firdaus. Namun, aku tidak kuat dengan panasnya api Neraka Jahim.

Terjemahan dari salawat yang akhir-akhir ini sering gue baca menggambarkan keadaan jiwa saat ini. Surga tempat yang tak pantas bagi pendosa seperti gue, tetapi tak sanggup bila ditempatkan di neraka-Nya.

Kemudian gue menemukan titik terang. Manusia memang tempatnya salah dan dosa tak dapat dihindarkan. Perbanyak amal ibadah adalah salah satu cara mengimbangi ketimpangan itu.

Ada perkataan yang berbunyi seperti ini: “Orang yang cerdas adalah orang yang senatiasa mengingat kematian.”

Sebelum ruh tak lagi bersama badan, marilah kita perbanyak amal ibadah dalam rangka menutup akhir tahun. Jadikan momen akhir tahun ini sebagai media perenungan apa saja yang telah kita perbuat sepanjang tahun.
03 December 2016

Reaksi Dari Dihapusnya Ujian Nasional

Apa yang paling ditakuti pelajar selain guru killer? Kebanyakan orang jawab Ujian Nasional.

Setelah sebuah wacana yang cukup menggemparkan muncul di berbagai media, kini ketakutan itu perlahan menghilang. Sebuah wacana berupa penghapusan Ujian Nasional disambut sukacita bagi mereka yang memperjuangkan itu sejak lama. (Walaupun gue nggak tahu kebenarannya ada atau nggak, yang jelas itu kemerdekaan bagi orang-orang penolak UN.)

Wacana ini memberikan gue kebimbangan luar biasa. Kebanyakan orang senang dengan dihapuskannya Ujian Nasional. Sebagian kecil justru sedih. Mungkin mereka yang sedih adalah bandar kunci jawaban. Ya, maklumlah. Ladang usaha mereka berkurang. Akhirnya mereka beralih jadi bandar Kunci Mas. Alias bandar minyak goreng.

(Pada tahu merek Kunci Mas nggak, sih?)

Bila melihat posisi gue sekarang, antara senang atau sedih, gue nggak berada di sana. Di irisannya pun nggak ada. Gue lebih tepatnya nggak masuk ke dalam masalah ini. Gue berada dalam lingkaran permasalahan lain, yaitu “mana yang lebih dulu: ayam atau telur?”. Jadi, seolah-olah gue merasa asing dengan perdebatan ini.

Halah, bodo amat deh. Mau ada UN atau nggak ada, bagi gue sama saja. Ibaratnya tuh begini:

Ini ada Ujian Nasional


Setelah dihapus...


Ya udah. Begitu doang.

Oke deh. Sementara tinggalkan kebimbangan gue terlebih dahulu, barulah nanti gue timbang-timbang sikap apa yang harus diambil. Kayaknya lebih condong ke pihak senang-UN-dihapus.

Jadi, beberapa hari yang lalu gue iseng nanya-nanya ke following gue di Ask.fm secara anonim. Seperti tujuan utama dibuatnya Ask.fm, gue kepo dan penasaran bagaimana mereka (para following gue) dalam bereaksi.

Gue melempar pertanyaan:
Jika Ujian Nasional dihapus, bagiamana reaksimu?

Oke, kalian nggak salah baca. Sewaktu gue melempar ask, memang sudah typo dari sananya. Gue baru sadar kalau itu typo.

Ada sekitar 11 orang yang gue tanya, 8 orang menjawab. Rata-rata jawaban mereka nadanya serius. Gue cukup heran dan kaget membaca jawaban mereka. Entahlah. Mungkin mereka juga kaget tiba-tiba ada pertanyaan yang lebih cocok ada di ulangan PPKN ketimbang di Ask.fm. Biasanya juga ada ask paling mentok; “follback dong qaqa”, “describe me harus lengkap”, “lagi deket sama siapa sih?”.

Untungnya gue nggak menanyakan kepada Niki Setiawan, seorang bloger yang komentarnya terkenal aduhai. Andai dia menjawab, pasti begini bunyinya:

UN dihapus.
reaksi sy gampang kok
ditulis ulang aja
knp repot2
btw, kok tiang bendera nggak pernah senyum y?

Gue pun senang karena dari jawaban mereka nggak ada yang bilang “off anon pls”. Itu contoh anehnya orang main Ask.fm. Nggak mau ditanya secara anonim tapi ngebolehin penanya anonim.

Oke. Nggak perlu berlama-lama lagi, mari kita baca reaksi para netizen.

@Pramillaaa
Reaksi nya sih ya biasa aja tapi seneng jugasih haha. Tapi kalo menurut pendapat aku pribadi sih sebenernya un buat sd dan smp itu penting karna tujuan sd dan smp itu masuk ke sekolah lanjutannya kan nah dengan adanya un bisa dijadikan parameter buat mereka masuk kesekolah mana sesuai dengan kemampuan dan hasil un karna tiap smp,sma itu gak menyediakan tes,iya mungkin ada tapi hanya beberapa sekolah aja. Sedangkan sma tujuannya itu masuk ke ptn/sekolah dinas. Setiap ptn/sekolah dinas masing2 sudah menyiapkan tes kaya sbmptn atau ujian mandiri. Adasih yang gak pake tes iya itu juga gak pake nilai un tapi pake nilai rapot itu juga dari semester 1 sampe 5 untuk jalur undangan. Dengan tidak adanya un tingkat sma sederajat,jadi bisa lebih memfokuskan untuk soal2 sbm ataupun ujian mandiri yang bisa dibilang soalnya mungkin cukup rumit:".
Maaf ya jawabnya panjang x lebar padahal ditanya nya cuma reaksi doang😂 i just wanna express my opinion:)

Komentar gue: SANGAT SETUJU SISTAH!

Menurut gue UN buat SMA dihapus. Tunggu dulu, jangan karena gue SMA terus setuju UN SMA dihapus. Nggak begitu. Gue setuju UN dihapus, asalkan ngapusnya pakai tip ex. Biar bisa dibenerin. Terus sekarang beneran diganti, kan, namanya. Jadi USBN.


Halah, ketularan Niki Setiawankinton Purbasariwangistroberi.

@Mayangsr88

seneng2 aja sih. ga ribet2 mantengin komputer 2jam selama 6hr.
secara disekolah gw kalo jadi UNBK di hari H nanti bakal dibagi 3 ship. pagi siang sore.
mager bgt dah kalo kebagiannya jam sore

Sebagai mantan anak warnet, gue nggak sependapat dengan Mayang. Mantengin komputer dua jam selama enam hari itu bagi gue masih biasa. Soalnya pernah pengalaman main warnet dua jam selama enam hari berturut-turut buat naikin pangkat di Point Blank. Pas ada event pula. Hadiahnya menarik.

Terus, masalah ship (maksudnya shift). Benar banget, kebagian sore itu nggak enak. Sayuran aja yang dijual pagi sampai sore udah nggak bagus, kan? Jadi layu. Pikiran kita pun jadi layu. Udah mikir ke mana-mana. Bukannya mikirin ujian, malah mikirin sayuran layu. Lho, lho, ini gimana maksudnya? Pikiran gue mulai layu, nih.

@Leviani_

Seneng, bersyukur, speechless😂

Yha. Saya juga begitu kok. Next. 

@mitasr
b aja... wkwk paling ganti nama doang. cape diphpin sm gtgtan:( wkwk

...

Ya, gue paham deh sama yang kayak ginian. Terbiasa dikecewakan mah begitu. Bilangnya nggak pake saos, tetep aja dituang. Dasar, kang somay!


***

Terus, gue kepikiran gimana kalau nantinya UN benar-benar dihapus. Pastilah ada hal-hal yang hilang dalam tradisi yang telah mendarah daging.

Berkurangnya orang puasa
Orang-orang yang berpuasa, puasa Senin-Kamis terutama, biasanya punya nazar tertentu sebelum menghadapi UN. Nah, gimana kalau UN nggak ada?

“Lu puasa?”
“Puasa. Nazar UN.”
“Tapi UN dihapus.”
“Gorengan tadi masih ada nggak? Minta.”

Semoga kita tetap berpuasa walaupun UN dihapus dan diganti USBN.


Broadcast message musnah
Pastinya menjelang ujian akan ada orang yang mengirim broadcast minta maaf. Lalu, kalau UN dihapus apakah broadcast message tetap ada? Belum tentu. Tetapi, pesan seperti ini akan selalu ada walaupun UN dihapus:

“Maaf, pulsa Anda tidak mencukupi untuk sms.”

Namanya juga minta maaf.


Makin banyak orang yang berstatus pacaran
Dan terakhir, berbahagialah bila kamu yang punya gebetan saat kelas 12. Mau nembak tapi takut ditolak? Nggak perlu lagi takut ditolak dengan alasan “fokus UN”. Takis sekarang. Sebelum dia punya alasan “fokus USBN”. Tetapi, kalau masih ditolak, berarti tandanya kamu harus “fokus membenahi diri”.

Kata orang-orang, sih, gitu.

Yeah, gue jadi tertarik melibatkan following di Ask.fm. Lucu aja, biasanya seseorang melibatkan followers. Lah gue malah melibatkan following. Ya, karena di Ask.fm kita nggak tahu siapa yang mem-follow kita. Karena gue cuma tahu siapa yang gue follow, ya libatkan saja mereka. Daripada nggak tergerak, gue aja deh yang bergerak. Akhirnya, jadi deh pergerakan iseng ini. Hehehe.

Lebih tepatnya kurang kerjaan.

Apa kesimpulan yang bisa kita dapat dari tulisan ini?

Ya, Robby nggak mau capek. Makanya manfaatin jawaban di Ask.fm buat dimasukin tulisannya biar kelihatan banyak.
15 August 2016

Susahnya Ngelamar Kerja di Nyunyu

Minggu malam, gue mengeluh soal kondisi laptop yang nggak bisa dicas ke Rani, temen curhat gue yang paling setia. Gue berharap dapat saran terbaik darinya.

Gue: Laptop gue baterenya nggak nambah pas dicas
Rani: Yaudah buang laptopnya

Oke, saran yang bagus. Hampir aja gue melakukannya saat itu juga.

Kabar baik gue dapat beberapa jam kemudian. Setelah berkali-kali mengutak-atik akhirnya baterai di laptop gue bisa bertambah saat dicas. Mungkin karena sebelumnya bener-bener kosong, jadinya butuh waktu lama buat keliatan baterenya nambah.

Oke, bukan itu bahasan utamanya. Dikhawatirkan laptop gue bakal kenapa-kenapa nantinya (atau gue mengikuti saran Rani), gue harus segera nulis ini. By the way, udah cukup lama, ya, gue nggak ngomongin kegiatan di sekolah. Uuuuh, gue juga kangen. (Silakan keluar rumah untuk muntah.)

Sebelum gue cerita lebih jauh. biar gue buka pengetahuan kalian tentang Nyunyu. Nyunyu adalah sebuah website yang isinya artikel bertemakan anak muda. Alamat website-nya nyunyu.com. Ya, kurang lebih gitu deh.

Sumber di sini


Waktu seneng-senengnya ngepoin website ini, gue pernah punya pikiran, "Kerja di Nyunyu seru ya."

Kebetulan hari ini gue diberi tugas membuat lamaran pekerjaan di sekolah. Sebelum membuat surat, terlebih dahulu temen-temen gue menjelaskan materinya dalam bentuk presentasi. Merasa ada kekurangan dalam penyampaian, Bu Juna membenarkan bahasan-bahasan teman gue yang keliru. Gue bener-bener nyimak setiap poin penting dalam penulisan lamaran pekerjaan. Lumayan, ilmunya bisa kepake di masa mendatang.

Setelah presentasi, guru Bahasa Indonesia, Bu Juna (nama disamarkan) memerintahkan membuat surat lamaran kerja. Gue anggap ini sebagai latihan awal membuat lamaran kerja. Seolah gue benar-benar akan melamar di Nyunyu, gue membuat sepenuh hati dan penuh pengharapan. Benar-benar gue masukin kalimat permohonan buat gabung Nyunyu seolah gue butuh banget duit buat menyambung hidup.

Selesai menulis surat dengan pensil, gue mengajak Diki, teman sebangku, untuk ngumpulin lembar pekerjaan ke meja Bu Juna. Diki, tampak pede, jalan di depan gue yang nggak kalah pedenya. Gue sangat optimis mendapat pujian dari Bu Juna. Minimal, "Yaaa, kamu mah udah layak banget deh dapat kerjaan."

Diki lebih dulu menyerahkan ke Bu Juna, kemudian beliau mengoreksi hasil kerja Diki. Bu Juna perhatikan detail kalimat di kertas Diki. "Masih salah. Ini harusnya begini... begini... begini." Bu Juna mengembalikannya ke Diki, lalu balik ke tempat duduk. Tinggal gue sendiri.

Gue menyerahkan selembar kertas berisi contoh lamaran kerja yang gue tulis dengan keoptimisan tinggi. Bu Juna menatap kertas gue dengan tatapan biasa. Tanpa komentar. 5 detik kemudian...
"SALAH SEMUA!" katanya dengan aksen betawi. Sebagian teman yang duduk di depan ketawa. Dengan tatapan kosong, gue menerima kertas itu dari Bu Juna.
"Sa-saya... salah di mana, Bu? tanya gue gagap.
"SALAH SEMUA! Balik lagi, balik." Lamaran kerja gue ditolak.
Gue kembali ke tempat duduk, tertunduk lemas. Dia nggak jelasin apa salah gue.

Salahku apa, Ya Allah?

Gue kembali berpikir, "Di mana kesalahannya?"

Mikir lagi.

Nggak ada yang lebih sulit dari dicap salah tanpa kita tau apa kesalahan kita. Bukannya nggak peka, tapi bener-bener nggak tau. Perasaan udah dikerjain sesuai dengan apa yang Bu Juna jelaskan. Apa emang sekadar perasaan aja. Entahlah.

Selembar kertas yang udah kena stempel lisan "SALAH SEMUA!" ini gue ratapi. Gue melihat orang lain penuh kehati-hatian menyelesaikannya. Beberapa ada yang benar menurut Bu Juna, bahagia wajah mereka. Gue, masih tetep ngeliatin sekeliling layaknya pengangguran. Nggak punya kerjaan. Kerjaan ada, tapi cuma meratapi kegagalan.

Untung ini cuma latihan. Ya, anggap aja ini nggak ada apa-apanya dibanding terjun di lapangan. Biar mentalku terlatih. Kayak lagu Terlatih Patah Hati-nya The Rain feat Endank Soekamti:

Bertepuk sebelah tangan, sudah biasa.
Disalahkan tanpa alasan, sudah biasa.

Yang kedua itu liriknya diganti sesuai kebutuhan.

Ehm, kalo ngelamar kerja aja ditolak, gimana bisa ngelamar kamu? (Oke, ini ending yang receh)
01 July 2016

Pencerahan Setelah Menonton Rudy Habibie

Orang-orang yang masih berstatus pelajar kayak gue, butuh banget sosok inspirasi. Walaupun nggak terlalu berpengaruh dalam hidupnya, senggaknya ada seseorang yang bisa dijadikan panutan. Jujur, gue belum punya sosok itu. Beberapa tokoh mulai gue masukkan ke dalam opsi, seperti Albert Einstein, Steve Jobs, dan Mark Zuckerberg. Setelah gue simpulkan, gue mengidolai orang-orang yang gagal di sekolah. Oke, no problem.



Ceritanya tanggal 30 Juni, gue nonton Rudy Habibie. Sebelumnya gue nggak tau kalau ada film ini. Nonton trailernya aja nggak. Baru tau saat pagi di hari pertama rilis bioskop, ya pas tanggal 30 itu. Mumpung masih ada duit di dompet, langsung aja gue ke Mal Daan Mogot, dan kebetulan harga tiket weekday lebih murah. Takut besok-besok nggak sempet nonton, akhirnya gue nonton sendirian. Sebenernya strategi biar duit gue masih ada saat nonton film Indonesia yang lain. Lebaran ini banyak film Indonesia yang bagus. Harus malakin bocah-bocah yang abis dapet persenan ini mah.


Walau baru tau ada film ini, gue nggak pikir-pikir lagi buat nonton. Karena gue pengen banget nonton aktingnya Reza Rahadian yang udah terkenal sukses memerankan Rudy di film Habibie & Ainun. Di film Habibie & Ainun yang pertama gue udah nonton, walaupun di TV.

Film ini diangkat dari kisah nyata Presiden Republik Indonesia ketiga, Bapak B. J. Habibie. Dimulai dari cerita Rudy yang sejak kecil mulai tertarik dengan pesawat dan ingin tahu seluk-beluk tentang pesawat terbang. Papinya (Donny Damara) sering menjelaskan pada Rudy tentang pesawat. Papinya juga pernah memberi contoh sesuatu yang bisa terbang lainnya, yaitu balon. Hingga ada adegan yang memorable di sini, bikin satu studio ngakak. Lucu banget kepolosan si Rudy kecil di adegan itu.

Hingga saat itu, ia bercita-cita untuk membuat pesawat. Ini jelas berbeda dengan gue semasa kecil yang kalo liat pesawat bakal menebak-nebak.
"Eh, eh, bunyi pesawat udah deket. Menurut lu pesawat apa yang lewat?"
"Garuda."
"Kata gue Lion."
Kemudian pesawat melintas di atas kita. Pesawat yang lewat Sriwijaya air.

Nasihat Papinya yang paling Rudy ingat hingga dewasa adalah: Jadilah mata air, apabila kita baik maka sekelilingnya akan baik. Walaupun nggak mudah menjadi mata air yang jernih karena ia akan selalu muncul dari tanah yang bergejolak. Selama kalimat itu keluar, gue cuma manggut-manggut. 

Rudy melanjutkan studi di RWTH, Aachen, Jerman. Seperti kebanyakan anak Indonesia yang merantau di luar negeri, pasti ketemu teman senegara. Di sana dia ketemu Liem Keng Kie (Ernest Prakasa), Peter (Pandji Pragiwaksono), Poltak (Boris Bokir), dan lain-lain. Di antara mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Jerman, hanya Rudy yang biaya kuliahnya bukan berasal dari beasiswa Negara. Namun, Rudy berteman baik dengan mereka.

Di Jerman, Rudy juga mengenal Illona Ianovska (Chelsea Islan), gadis Jerman berdarah Polandia yang mengenal dan mulai mencintai budaya dan bahasa Indonesia. Dia menjadi cinta pertama Rudy di Jerman. Kisah mereka berdua di film ini nggak kalah bikin baper dengan kisah Rudy dengan Ainun. Gemes-gemes gimana gitu ngeliatnya.

Kalo film ini dibilang melulu tentang politik dan nasionalisme, tenang aja, bakal disuguhin cerita cinta juga. Paket komplit deh pokoknya.

Sumber: id.bookmyshow.com

Rudy benar-benar menginginkan Indonesia agar maju. Dia memikirkan untuk merencanakan pembangunan industri dirgantara di Indonesia. Namun, pemikiran emasnya ini bertentangan dengan pelajar-pelajar yang mendapat beasiswa dari organisasi Laskar Pelajar. Walaupun masih berstatus sebagai mahasiswa, dia terpikir untuk membawa Indonesia lebih maju. Punya harapan yang tinggi.

Iya, jelas beda banget sama gue yang cuma punya harapan semoga besok nggak ada PR. Udah.

Dari film ini banyak banget pesan yang ingin disampaikan khususnya untuk para pelajar yang punya cita-cita sama seperti Pak B. J. Habibie. Nggak cuma "Jadilah orang yang baik". Itu mah jawaban standar anak-anak sekolah yang dikasih tugas Bahasa Indonesia. Nggak cuma itu.

Menurut gue, sasaran film ini mengarah kepada pemuda dan para pelajar Indonesia, baik yang menimba ilmu di luar maupun dalam negeri, terbilang sukses. Contoh dekatnya dari diri gue sendiri, yang tersentuh dengan film ini. Ada keinginan dalam diri ini untuk mengubah nasib keluarga lewat pendidikan. Kenapa gue bisa bilang gitu? Tahun depan gue UN. Sekolah harus bener-bener lah.


Dan, mengutip kalimat dalam film ini yang masih gue ingat: Saya cinta Indonesia. Saya percaya Indonesia. Sebenernya masih ada lanjutannya, cuma gue lupa.

Setelah nonton film berdurasi 142 menit ini, gue tau siapa orang yang pantas dijadikan sosok inspirasi. Nggak usah jauh-jauh, datangnya dari negeri sendiri. Mantap, kan?

By the way, bakal ada Habibie & Ainun yang ketiga. Entah kapan. Siap-siap nonton (sendiri) lagi deh.
28 May 2016

Kicauan Lelaki Tua Bersarung

Aku, lelaki berumur setengah abad, sedang menikmati kopi hitam, hanya mengenakan sarung. Duduk di bangku panjang di depan rumah, memperhatikan tetangga yang sedang menyapu. Sesekali teman-temanku lewat menyapa, sedang mengantarkan anaknya ke sekolah. Sedangkan anakku, sudah berangkat 30 menit yang lalu.

Aku mengambil koran di meja kemudian membacanya. Aku lihat tanggal terbitnya, ah, ini koran sebulan yang lalu. Mungkin itu terakhir kalinya aku membeli koran, dan itu terakhir kalinya aku pulang kerja.

Karena, sebulan yang lalu aku dipecat.

Pulang ke rumah dengan langkah gontai, menemui penjual koran langganan. “Mas, ini mungkin terakhir kalinya saya beli koran di tempat, Mas.”

“Memang kenapa, Pak?” tanya penjual koran kepadaku.

“Nggak papa. Mungkin saya akan beli di tempat lain atau membaca berita online. Ini, kan, era digital. Hehehe,” kataku berdalih. Padahal aku samasekali nggak punya handphone.

Aku menyeruput kopi yang mulai mendingin. Ah, rasanya terlalu pahit. Sejak dipecat dari pabrik tempatku berkerja, otomatis kopi yang aku minum terasa pahit. Wajarlah, untuk membeli gula butuh banyak pertimbangan. Lebih baik uangnya dibelikan sebungkus nasi. Tapi tak apa, kopi ini adalah sisa dari persediaan tiga bulan. Memang, aku selalu membeli kopi untuk stok tiga bulan. Biar nggak bolak-balik ke pasar.

Merenung. Mengapa semua terjadi secara mendadak. Di saat keluargaku dalam keadaan baik-baik saja, kenapa pemecatan itu bisa datang? Apakah ini semua adalah balasan dari kebiasaan burukku selama lima tahun terakhir?

Entahlah, tapi aku merasa ini teguran dari Tuhan.

Lima tahun lalu adalah kali pertama aku keluar malam untuk bergadang di poskamling. Sampai larut malam, tak henti-hentinya aku membawa uang banyak, lalu pulang dengan kekecewaan. Berjudi. Melempar dan mengocok kartu. Kalah. Semuanya sudah diketahui keluargaku.

Rasanya malu bila anakku yang sudah berseragam putih abu-abu ditanyai gurunya. “Bapak kamu kerjanya apa?” Anakku menjawab, “Di pabrik. Tapi kalau malam berjudi.”

Sudah puluhan kali aku mendapati anakku menangis di sudut kamarnya. Kutanya kenapa ia menangis, jawabannya, “Aku malu ditertawakan teman-temanku karena aku anak penjudi.”

Malu. Sangat malu.

Dengan dipecatnya aku, berarti segala urusan yang harus mengeluarkan uang harus berhenti. Aku bersyukur akhirnya bisa berhenti berjudi. Aku akan malu bila melihat keluargaku sedang menahan lapar, sedangkan aku menanggung kekalahan di poskamling.

Beruntung aku memiliki istri yang penyabar. Mungkin jika istriku bukan dia, aku sudah ditinggal pergi ke rumah orang tuanya. Dia rela mencari pekerjaan sambilan untuk mencukupi kebutuhan, bahkan untuk sebulan ini dia lah yang menjadi tulang punggung keluarga.

Menjadi seorang suami sekaligus ayah, aku layak mendapat rapor merah.

Latar pendidikan yang rendah membuatku minder untuk mencari pekerjaan. Untuk sekarang ini, minimal pendidikan terakhir untuk mendapat perkerjaan adalah SMA sederajat. Aku hanyalah tamatan SD. Andai saja dulu orang tuaku memiliki uang untuk menyekolahkanku, aku ingin melanjutkan hingga bangku kuliah. Sayang sekali, uang penjualan sawah orang tuaku telah digunakan membayar hutang-hutang kakakku.

Aku bingung dari mana keluargaku bisa mendapatkan uang untuk biaya hidup. Bisa saja sebenarnya bekerja serabutan, tapi belum cukup untuk membayar biaya sekolah ketiga anakku. Beginilah aku, lelaki sarungan yang sedang bingung bagaimana caranya melanjutkan hidup.

Malam hari yang biasanya diisi oleh tawa hangat keluarga, berubah jadi malam perenungan. Masing-masing orang di rumah merenung bagaimana caranya memperbaiki kualitas hidup. Istriku berkata, jangan dibawa pusing, Pak. Lebih baik dibawa senang dan diambil hikmahnya.

Aku melihat anak sulungku sedang belajar. Setahun lagi dia akan mengikuti Ujian Nasional. Hanya semangat dan motivasi yang bisa membuatnya mengubah nasib keluarga ini. “Belajar yang rajin, Nak. Jangan kayak Bapak, yang nasibnya nggak seberuntung kamu. Nggak bisa sekolah, masa tuanya luntang-lantung. Kalau urusan pendidikan, Bapak akan dukung kamu. Terserah kamu mau jadi apa, yang jelas kamu harus jadi orang yang berguna dan bisa membanggakan orang tua kamu. Kamu nggak usah mikirin gimana susahnya keluarga kita, fokus aja ke belajar.”

Aku mengusap kepalanya sambil menahan air mata. Harapanku ada pada anak-anakku.
02 May 2016

Dariku, Untuk Bapak/Ibu Guru

(Tulisan di bawah akan menjadi post yang "nggak banget")

Tepat hari ini, 2 Mei 2016, kami sebagai pelaku pendidikan di Indonesia mengucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional. Semoga dengan pendidikan generasi penerus bangsa bisa melanjutkan cita-cita para pahlawan di masa lalu dan mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju. Minimal bisa ikut World Cup, deh.

Oke, cukup basa-basinya. Saya cukup pusing mikir dan memilih kata-kata yang tepat. Ini pun harus nyari refrensi dari pembina upacara tadi pagi.

Saya, selaku perwakilan siswa yang selalu membuang sampah pada tempatnya dan tidak suka menempel upil di bawah meja, ingin menyampaikan aspirasi dalam bentuk surat terbuka untuk aspek utama pelopor pembangunan bangsa, pilar penting pendidikan Indonesia, yaitu bapak/ibu guru di seluruh Indonesia.

Judulnya: "Aib di Antara Kita".

Ehm, izinkan saya memperkenalkan diri kembali. Karena ada pepatah Slovenia yang berbunyi, "Tak kenal maka tak sayang. Bila sudah kenal jangan langsung menggerayang." 
Saya Robby Haryanto, pelajar Jakarta yang paling berpresatsi dalam bidang mencemarkan nama baik sekolah. Saya cinta damai, anti narkoba, dan tidak suka makan beling. Saya menulis ini karena ada hasrat pribadi untuk mengungkapkan segala sesuatu dengan jujur dan terbuka. Percayalah, ini akan membuat bapak/ibu kaget dan seketika mengelus dada seraya menyebut doa-doa penenang.

Mari kita mulai.

Sadar atau tidak, kami selaku murid suka menjadikan segala tentangmu sebagai bahan guyonan, terutama kekuranganmu. Kebiasaan jelekmu saat mengajar, logat dan gaya berbicaramu yang aduhai, dan cara berjalanmu yang kadang lunglai, membuat kami puas tertawa saat jam istirahat atau waktu senggang sepulang sekolah. Tak jarang kami bisa sampai sakit perut karena mentertawakan kekurangan-kekuranganmu itu. Sungguh, kami tidak layak disebut sebagai siswa. 

Manusia memang tak pernah luput dari kesalahan. Begitu juga seorang guru yang yang perkataannya tidak selalu benar dan sempurna dalam penyampaiannya. Kadang, kesalahanmu berbicara sewaktu mengajar membuat kami terpingkal-pingkal. Di sela dirimu bicara, kami suka menceletukimu dengan sebutan-sebutan aneh. Si kumis tebel, Si celana melorot, Si penguin pidato. Ya, begitulah. Mungkin bisa lebih sadis lagi.

Lagi, kekuranganmu menjadi bahan candaan kami sampai sepulang sekolah. 

Tak ketinggalan, kelebihanmu kadang kami tertawakan bersama di tongkrongan. Cara mengajarmu yang kadang terlalu halus membuat kami kadang mempertanyakan kebenaranamu menjadi seorang guru. Bahkan, kami suka meninggikan derajat melebihimu. Bagi kami, Anda yang paling tepat di-bully daripada anak lelaki yang belum disunat di kelas 10. Saking rendahnya, kami tidak ingin mencium tanganmu saat bertemu di koridor sekolah, tapi tos-tosan ala anak tongkrongan futsal. Namun sejujurnya, bila cara mengajarmu berubah sungguh sangat menakutkan. Kami tak ingin bila bapak/ibu guru kehilangan cara mengajar yang lembut dan sabar.

Bila bapak/ibu menyuruh kami mengerjakan tugas, kami suka meminta keringanan. Sesungguhnya, itu berarti kami malas berhadapan dengan tugas yang Anda berikan. Kami cuma berharap agar terus tertunda, tertunda, tertunda, sampai akhirnya bapak/ibu bilang, "Ya udah. Nggak usah dikumpul. Nilai rapor semua aman."

Seisi kelas standing applause.

Ketika waktunya pengumpulan tugas, kami selalu punya dalih untuk tetap tidak mengumpulkan. Alasan ketinggalan mungkin sudah biasa bagimu, namun kami sebagai anak muda punya seribu alasan licik lainnya. Misalnya, dengan beralasan, "Tugas saya dimakan anjing sewaktu berangkat ke sekolah."

Mungkin naluri anak muda, kami akan sangat bahagia bila tak diawasi. Contoh nyatanya bila tak ada guru di dalam kelas. Apalagi jika saat itu tak ada guru yang mondar-mandir mengawasi. Kami akan sangat bahagia, Menonton film di laptop teman, menggendang-gendang meja, menyalakan jangwe di dalam kelas, merupakan bentuk perayaan kekosongan hadirmu.

Padahal kau sedang berbaring di rumah sakit, dalam waktu yang lama. Sakit cukup parah.

Sungguh, kami tak layak disebut sebagai generasi penerus bangsa.

Demikian sekelumit aib yang kami lakukan di belakangmu. Semoga bapak/ibu guru tetap bertahan dan ikhlas mengajar kami yang nakal tak tertolong Kak Seto. Kami mohon maaf atas semua kesalahan.

Selamat Hari Pendidikan Nasional.

Dari siswa paling gembel,

Robby Haryanto.
11 March 2016

Kepada Orang yang Remedial

Kalau dihitung sejak awal masuk SMA, entah berapa kali gue mengalami remedial. Artinya, gue sering mengalami kesakitan karena nilai ujian nggak tuntas. Itulah sebabnya, gue jadi terbiasa dengan kesakitan ini. Namun, teman-teman gue terlalu pusing ketika remedial. Andai mereka tau, gue pun sama sakitnya dengan mereka. Tapi gue berusaha mencari hikmah di dalamnya. Karena, gue sudah terbiasa remedial. Padahal, gue mau banget tuntas ujian semua mata pelajaran.

Untuk kalian yang sering, atau minimal pernah remedial, duduklah bersamaku di sini.

***

Kepada orang yang remedial,
kuatkanlah dirimu
dari segala celaan
entah dari guru, lawan, maupun temanmu berikan.

Kepada orang yang remedial,
meratapi nilai yang tak tuntas hanya akan mengiris perasaan
semua keyakinan, tiba-tiba sirna begitu melihat nilai yang ada.
Tak puas, tak terima. Namun begitu nyatanya.

Kepada orang yang remedial,
biasakanlah dirimu
menghadapi sulitnya proses.
Proses yang nantinya membuatmu lebih dewasa dalam menyikapi nilai ujian.

Kepada orang yang remedial,
jadikan nilaimu sebagai cermin
atas segala proses belajar yang telah dilalui
apakah kamu sudah menguasai, atau belum samasekali

Kepada orang yang remedial,
lihatlah dirimu, betapa tidak beruntungnya
padahal kau belajar hingga larut malam
sampai kantung mata mulai menghitam

Kepada orang yang remedial,
tetaplah yakin pada dirimu sendiri
jangan menilai kau tak akan mampu lagi
menghadapi rimba sekolah yang keras

Kepada orang yang remedial,
jangan putus asa, sesungguhnya nilaimu akan tuntas di rapor.

*ditulis ketika meratapi nilai UTS Kimia dan Bahasa Inggris yang kacau abis.
16 January 2016

Ngomongin Blog di Kelas

Hwoaaah, minggu ketiga tahun 2016 jadi minggu yang sangat campur aduk bagi gue. Kenapa gue bilang campur aduk? Soalnya hari Senin gue praktek Kimia nyampurin larutan kimia ke botol minum temen.

Bukan. Maksudnya bukan begitu. Gini maksudnya...

Pertama, pada hari Jumat, gue harus presentasi Bahasa Inggris untuk kali kedua. Untuk minggu ini cuma mengulang materi minggu sebelumnya. Apa yang gue ucapin minggu lalu, sama persis dengan minggu ini.

Setelah semua materi selesai, kelompok gue nampilin video contoh dari bentuk-bentuk conditional sentence. Bagi gue, video yang kami buat itu sangat bagus (lebih tepatnya, editan dan kameranya yang bagus). Sayangnya, video itu sempat dinodai oleh suara yang amat berengsek. Yaitu, dalam adegan, ada dua temen gue ngobrol di kelas. Kebetulan, saat take videonya, ada gue lagi main game perang di belakang kedua temen gue. Berhubung gue anaknya norak, pas kena tembak, gue langsung teriak-teriak, "GOBLOK.. GOBLOK!" yang secara nggak sengaja terekam. Untungnya di video itu nggak keliatan muka gue. Jadi nggak ketauan banget kalo gue yang abis ngomong.

Masih dalam video yang sama. Di bagian selanjutnya, diceritakan ada seorang cewek yang mau ngasih duit ke pengemis. Berhubung waktu take video nggak ada pengemis, secara sukarela gue beradegan jadi pengemis. Berbekal muka melas, celana ngatung pinjaman teman, kaki nyeker, dan perut lapar, gue sukses... mempermalukan diri sendiri di depan teman-teman sekelas. Seisi kelas pecah, ngetawain adegan tanpa dialog gue yang dimelas-melasin gitu.

Seharusnya gue bisa melihat ini sebagai peluang kerja setelah lulus. Bukan, maksudnya bukan jadi pengemis, tapi jadi aktor. Keren, kan. Nanti gue bakal menang penghargaan "Pemeran Tanpa Dialog Terbaik".

***

Selama ini, nggak banyak yang tau gue punya blog. Kalo dulu kelas 10, gue rajin banget nyampah di BBM nyebarin link. Sekarang gue nggak pake BBM lagi, otomatis gue cuma nyebar di media sosial lain.

Di kelas 11, gue nggak yakin ada yang tau kalo gue punya blog. Kalo pun ada yang tau, paling dari status Line yang tertulis "robbyharyanto.com" di bawah foto profil gue. Itu juga kalo ada yang merhatiin. Yang ada di pikiran gue, mereka mengira gue adalah cuma anak sekolah yang jarang ngomong, suka cengengesan, dan mojok di kelas. Plis, jangan salah fokus pada kata "mojok". Maksudnya suka duduk di pojok, mepet ke tembok.

Selama aktif ngeblog, gue jarang promosi blog ke temen-temen secara langsung, termasuk selama kelas 11 yang nggak pernah sama sekali. Dari sekian banyak orang yang gue promoin secara langsung, kebanyakan yang nolak. Semua penolakan pernah gue terima. Dari penolakan halus sampe meludah ke muka. Hmmm... yang meludah belum pernah deh.

Yang paling sering nerima cuma temen deket. Makin lama, temen deket mulai sering baca. Makin luas lagi, temen kelas 10 banyak yang tau. Kemudian kakak gue secara nggak sengaja juga pernah baca. Sekarang... guru gue ikut-ikutan tau kalo gue ngeblog! Masalah gue timbul: abis deh bahan buat ngomongin mereka di blog. Kalo ketauan, pasti diomongin di dunia nyata. Apalagi kalo ketauan ngomongin guru, bisa-bisa nilai rapor gue cuma pas KKM

Makanya, mulai sekarang gue mau nulis yang baik-baik tentang guru. Nyiahahaha, pencitraan dimulai.

Contoh kejadiannya pada hari Jumat, setelah pelajaran Bahasa Inggris.

Kejadiannya waktu gue pindah ruang 4 lantai tiga. Sekarang sudah masuk pelajaran Sejarah Indonesia. Guru gue, Pak Hakim, masuk ke kelas dengan bawa laptop (atau netbook, atau notebook. Pokoknya itulah) warna merah bertuliskan Lenovo. Seperti biasa, gue duduk paling depan, di sebelah pojok. Suara seorang teman gue membuat gue penasaran. "Pak, masa ada nama bapak di blognya si Robby."

Waduuh, diaduin nih ceritanya, ucap gue dalam hati. Gue cuma cengengesan dan geleng-geleng kepala. Sedangkan Pak Hakim, dia cuma senyum-senyum aja. Senyumnya persis kayak minggu kemarin (Sebelumnya gue emang pernah nyeritain Pak Hakim di post ini). Nah, ada temen gue yang kebetulan baca, kemudian bilang ke Pak Hakim. Amsyong dah kalo sampe dia tau ada namanya di blog gue.

Gue ngegeletakin hape di atas meja, ngecek apakah hape gue udah melendung atau belum. Tiba-tiba, Pak Hakim menjulurkan tangannya, seolah meminta hape gue. "Coba, Robby, saya mau liat blognya," kata Pak Hakim.
Haduh, gimana, ya? batin gue. Gue buru-buru mikir nyari alasan supaya blog gue nggak dibaca. Apa gue harus ngebuang hape ini? Apa gue harus ngapus blog sekarang juga? Apakah gue harus mengakui kalo gue seorang homo? Ya sudah, hati gue berkata: "Kasih aja hapenya. Kasih liat deh blog lu."

"Bentar, Pak," kata gue sambil membuka blog gue di Opera Mini. Nggak lama kemudian loading blog gue selesai. Langsung gue buka post yang ada nama beliau. Beliau langsung ngambil hape gue, mulai baca-baca. Jempolnya terus men-scroll ke bawah. "Ya Allah, kalo emang nilai Sejarahku harus pas KKM, aku terima, Ya Allah." Gue pasrah kalo misalnya beliau marah saat itu juga. Kemungkinan paling baiknya adalah gue masih dibolehin masuk pelajaran beliau sampai hari ini. Minggu depan? Belum tentu.

Semua dugaan gue salah. Nggak ada reaksi marah dari beliau. Beliau cuma senyum-senyum aja. Persis seperti minggu lalu. Gue aman.

***

Puncak dari taunya guru akan blog gue adalah hari Selasa. Tepatnya pada saat pelajaran Prakarya.

Pelajaran Prakarya siang itu seharusnya presentasi nampilin blog masing-masing kelompok. Blog yang dimiliki tiap kelompok berisi tugas-tugas yang lalu. Kemudian, dipresentasikan tampilannya. Ibu Niaguru Prakarya— nanya, "Denger-denger di sini ada yang punya blog sendiri. Siapa namanya? Rudi atau siapa?"
"Yes, Rudi. Berarti bukan gue." Gue girang karena bukan nama gue yang disebut.
"Robby, bu," kata temen-temen gue kompak.
"Nah, iya, Robby. Coba presentasiin blog kamu."
Gue terperangah.

Gue paling nggak bisa untuk ngomong di depan kelas, apalagi diliatin guru. Biasanya tiap presentasi kelompok, gue yang paling sedikit ngomong. Ngejelasin paling cuma 2-3 slide. Selebihnya gue gugup dan grogi. Kadang lebih ekstrim, keringet ngucur sendiri dengan derasnya.
Setelah ngumpulin keberanian, niat untuk berbagi pengalaman, laptop pinjaman, dan koneksi internet punya teman (iya, gue nggak modal), gue maju untuk presentasi blog.

Gue langsung kebingungan mau mulai bahas dari mana. Mulai dari tampilan atau isi. Ah, gue bingung. Untung ada Ibu Nia yang jadi jembatan antara gue dan teman-teman. Gue bakal ngomong kalo dipancing dulu sama Ibu Nia.

Ibu Nia nyuruh gue ngejelasin apa aja yang ada di home blog gue. Gue sebutin satu per satu, meskipun nggak gue sebutin fungsinya apa aja. Baru kepikiran sekarang, kenapa gue cuma nyebutin aja saat itu. Ketika semua bagian udah gue sebutin, gue bingung lagi. Semua kebingungan gue pecah setelah Ibu Nia bilang, "Ada yang mau nanya tentang blognya Robby?"

Wow. Ada sesi tanya jawab. Apa gue bisa jawab? Untuk saat ini, gue cuma bisa ngelap keringet yang udah ngebasahin jidat.

Seketika suasana kelas jadi terasa kayak seminar dari blogger. Pertanyaan-pertanyaan hadir ditujukan ke gue. Gue masih ragu, apa gue bisa jawab? Secara, ilmu gue masih sedikit.

Tapi selanjutnya, sesi ini yang paling seru menurut gue, ngejawab pertanyaan temen. Mereka kebanyakan nanya tentang pengalaman gue ngeblog. Emang dasarnya suka curhat, pas ditanya-tanya gue malah kayak orang curhat. Malah jadi tenang kalo begini, meskipun keringet tetep ngucur.

Ada beberapa pertanyaan yang menurut gue menarik (dan gue ingat) yang gue tulis di sini.

1. Apa sih tanggapan orang tua dengan seringnya lu nge-blog? Terus, gimana cara ngatur waktunya?
2. Apa tujuan lu nge-blog?
3. Punya haters nggak?
4. Pernah dapet tawaran iklan nggak? Atau pernah ngasilin uang dari blog?
5. Gimana cara narik pembaca buat mau baca blog?
6. Dari mana dapet inspirasi?
7. Ini pertanyaan dari Ibu Nia. Kenapa kamu nggak ngisi blog kamu dengan materi pelajaran?

Gue menjawab pertanyaan saat itu juga. Mereka nanya, gue langsung jawab. Sambil ngelap keringet, gue mikir gimana ngejelasin yang enak didenger. Ingat, jangan ada kata-kata "GOBLOK... GOBLOK!".

1. Tanggapan dari orang tua sebenernya nggak ada, karena orang tua nggak tau kalo gue punya blog. Orang tua taunya cuma "Oh, si Robby lagi di depan laptop, ngetik-ngetik. Paling lagi ngerjain tugas." Akhirnya mereka asik sendiri. Nontin TV misalnya.

Untuk ngatur waktu, jujur sampe sekarang itu masih jadi masalah dalam diri gue. Biasanya kalo lagi mau belajar, ya belajar. Kalo udah jenuh baru deh nulis sampe tengah malem. Yang penting, sehari ada hal yang ditulis. Entah satu paragraf atau nyatet poin-poin penting.

2. Tujuannya buat curhat sekalian ngasah kemampuan nulis.

3. Kalo haters, belum punya. Atau mungkin nggak keliatan. Tapi, yang mencemooh pernah. Dulu ada yang mencemooh secara langsung. Dia ngomong ke gue, "Ah, curhat mulu lu di blog." Gitu deh.

4. Tawaran iklan belum ada. Kalo tawaran yang lain pernah. Jadi ceritanya ada tawaran nge-review pembayarannya via transfer rekening. Karena gue nggak punya rekening, gue nyoba minjem ke ortu. Ternyata mereka nggak ngizinin. Yang ada di pikiran mereka, blog adalah semacam Facebook. Sampe sekarang, mereka tetep nggak tau yang namanya blog.

Kalo ngasilin duit, kayaknya belum dulu deh. Blog gue rame, dan itu tadi.. belum punya rekening. Mungkin nanti gue bakal masang iklan... setelah ada yang nawarin.

5. Sering promosi. Biasanya gue promo di media sosial dengan nyebar link post terbaru. Cara ini yang paling enak. Soalnya tinggal nyebar link, bisa narik pembaca. Tapi, lebih sering dicuekkinnya. Jangan terlalu sering, nanti dikira nyepam. Kesannya ngebet mau nyari pembaca. Terus juga bisa secara langsung. Nyamperin ke orang, "mau baca blog gue nggak?".

Satu lagi, ningkatin kualitas konten.

6. Biasanya dari blog orang lain. Sering juga di kamar mandi, dan di pojokan kelas.

7. Ini masalahnya, bu: saya nggak pinter-pinter amat. Takut salah ngasih pelajaran, nanti malah bikin sesat.

Ada blog gue di layar...
Sebenernya ada lebih dari ini. Banyak banget yang antusias pengen tau tentang blog. Kira-kira ada dua sampe tiga pertanyaan lagi yang gue lupa pertanyaannya, tapi gue inget jawabannya.

Efek dari presentasi blog di kelas: 1) temen-temen gue jadi sering nagih nama mereka untuk ditulis di blog;  2) mereka, yang kebetulan lagi ada di deket gue, bakal bilang, "Tulis, dong, di blog" setelah mengalami suatu kejadian.

Oke, segitu aja cerita gue untuk minggu ini. Selamat malam minggu dan selamat berakhir pekan.

Quote untuk post ini: Ternyata seru juga punya blog!