Ingatlah Hari Ini saat Pulih Nanti: Mengasingkan Diri

Saat tulisan ini diketik, pandemi covid-19 sudah memasuki pekan ketiga. Kondisi semakin mengerikan. Angka-angka kasus positif semakin meningkat hari ke hari. Semoga pandemi ini segera usai.

Selama tiga pekan pula saya masih terus di rumah aja. Nggak banyak keluar rumah. Aktivitas harian di luar rumah jadi berkurang. Waktu-waktu yang membosankan di jalan berganti menjadi waktu-waktu rebahan di rumah. Mengasingkan diri. Alhamdulillah, disyukuri aja.

Baca juga:

Sesekali saya kangen dunia luar, seperti yang diungkapkan teman-teman di media sosial saya. Postingan tentang masa SMA, aktivitas kampus, dan jalan-jalan ke puncak. Saya kangen semuanya! Saya nggak posting bukan berarti nggak kangen. Saya nahan aja.

Saya juga kangen dunia yang penuh keramaian, yang penuh mobilitas tinggi, dan banyak bergerak. Masa-masa itu sedang menjadi satu hal berharga yang kelak akan saya kenang dalam hidup saya. Betapa berkesannya masa-masa demikian.

Ya, untuk saat ini bersabar menjadi kunci.

Di antara rasa kangen yang bersliweran, saya juga terpikirkan kondisi bumi selama social distancing ini. Pembatasan aktivitas di luar rumah bisa membuat bumi lebih “istirahat”. Bumi jadi nggak begitu banyak mengonsumsi polusi. Begitulah yang muncul di berita-berita. Kualitas udara di satu kota semakin membaik. Sambil berdoa juga kondisi kota saya, Jakarta, ikut membaik.

Seperti bumi, dengan adanya social distancing, kita pun sedang diminta untuk sedikit istirahat. Bukan istirahat total. Makanya kata “rebahan” jadi begitu akrab di telinga kita. Kita istirahat sejenak, mengambil jeda dari aktivitas-aktivitas kurang bermakna, menggantinya dengan kegiatan yang selalu kita dalihkan “nggak ada waktu” dan “nggak sempat” beberapa waktu lalu. Berapa kali kegiatan membaca Alquran, menambah hafalan, sholat Tahajud, dan amalan harian kita lewati dengan alasan “nggak ada waktu” dan “nggak sempat”? Semoga menjadi perbaikan pula untuk diri saya pribadi.

Melihat hal tersebut, sebenarnya kita sedang dihadapi dengan banyaknya keluangan sebagian waktu. Ya, meskipun hanyak sebagian waktu—bahkan sebagian kecil waktu, yang sedang diuji kepada kita. Untuk apa “sebagian kecil waktu” itu digunakan.

Apabila social distancing ini bisa menjadi sarana beristirahat dari kepenatan rutinitas, beristirahlah. Menepi dan menyepi, mendekatkan diri kepada-Nya.

Baca juga:


***

Pada suatu malam, saya mendapatkan sebuah pertanyaan dari seorang teman. Teman saya ini bertanya untuk sebuah soal tugas kuliah. Dia meminta pendapat saya untuk mengaitkan fenomena pandemi Covid-19 dengan Surat Al-Alaq ayat 1-5.

Baca juga

Dalam hati saya, keren juga dosennya. Segala fenomena alam dan sosial dikembalikan lagi ke Al-Qur’an dan diambil pelajarannya. Tapi hati saya ikut berkata kemudian: saya harus jawab apa?
Saya baca soalnya. Soalnya singkat, hanya itu saja. Apa kaitan covid-19 dengan surat Al-Alaq ayat 1-5. Ilustrasi fenomenanya yang panjang. Semuanya menjelaskan kondisi wilayah terdampak corona. 

Sambil berpikir, kata saya dalam hati, “Apa ya kaitannya?” Saya nggak tau mau jawab apa. Selintas saya coba ingat artinya. Setahu saya, surat Al-Alaq 1-5 artinya tentang perintah membaca. Ayat tersebut adalah wahyu pertama Rasulullah SAW. ketika berada di Gua Hira.

Saya kemudian mencari referensi yang bisa membantu saya menjelaskan kaitan tersebut. Apakah hubungannya antara membaca dengan corona? Apakah dengan adanya corona kita jadi bisa punya banyak waktu membaca? Bisa jadi, tetapi saya ragu.

Saya ketemu dengan satu tulisan di buku Tafsir Fii Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthb. Di situ dijelaskan kisah Rasulullah dalam menerima wahyu pertama. Seperti yang kita ketahui, wahyu pertama yang datang kepada Rasulullah ketika beliau berada di Gua Hira. “Beliau biasa menyepi dan ber-tahannuts di Gua Hira,” begitu tulis Sayyid Quthb

Saya belum cukup berani ngetik jawaban ke teman saya itu. Saya ketik kata demi kata di WhatsApp, kemudian hapus lagi. Ketik lagi, hapus lagi. Hapus sampai benar-benar kosong kembali. Saya pencet ikon kirim, kok nggak ada apa-apa. Oh iya, kan chatnya dihapus. Belum diketik lagi.

Kemudian saya tersentak, aha! Teringat saya pernah iseng menulis intisari satu kisah di buku yang pernah saya baca. Saat itu saya baca buku Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. “Keputusan Rasulullah ini adalah ketentuan Allah atas diri beliau,” tulis Syaikh Mubarakfuri, “dalam rangka persiapan untuk menerima utusan besar yang siap menantinya.”

Tambahnya, “Ruh manusia yang realitas hidupnya akan disusupi suatu pengaruh dan dibawa ke arah lain, maka ruh itu harus kosong dan mengasingkan diri untuk beberapa saat, dipisahkan dari berbagi kesibukan duniawi, dan gejolak kehidupan serta kebisingan yang membuat manusia sibuk pada kehidupan.”

Kisah tersebut membuat saya merenung lagi. Dalam kondisi seperti ini, kondisi yang seolah rasanya akrab sekali dengan keterasingan dan kesepian, jangan-jangan memang inilah waktunya untuk menyiapkan diri kita. Memaknai momen ini sebagai masa-masa persiapan, artinya akan ada hal yang lebih besar. Persiapan sebelum kematian.

Bisa juga menyepi sementara ini berarti: memaknai masa-masa emas, ketika riuh ramai dunia sedikit berkurang, lalu menggantinya dengan aktivitas mendekatkan diri kepada-Nya.

***

Baca juga:


Teruntuk saudara-saudara saya, sedikit pesan dari saya untuk kalian. Mengutip bagian blurb buku Dalam Dekapan Ukhuwah karya Ust. Salim A. Fillah

mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja
menjadi kepompong dan menyendiri
berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam
bertafakkur bersaman iman yang menerangi hati
hinggat iba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari
melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia

lalu dengan rindu kita kembali ke dalam dekapan ukhuwah
mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi
dengan persaudaraan suci; sebening prasangka, selembut nurani
sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji

12 comments:

  1. Terimakasih sudah menulis tulisan ini , bermanfaat sekali

    ReplyDelete
  2. baca ini makin adem rasanya, beneran kalau liat postingan di time line hati dan pikiran makin ancur rasanya. Alhamdulillah gusti lg ngasih nikmat sakit ke aku, jd lumayan bisa nerima ikhlas dan legowo kl emg bener2 kudu di rumah, huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah jadi bisa lebih banyak istirahat kak

      Delete
  3. Jalani masa pengasingan diri dengan terus berkarya di rumah, semacam ngeblog supaya otak tidak beku hehe

    ReplyDelete
  4. Mz Robby sekarang sunggu dewasa sekali.

    hormat, mz.

    ReplyDelete
  5. *langsung nyanyi* jika tua nanti kita t'lah hidup masing-masing, INGATLAH HARI INIIII...

    Salam kenal, mas! :D

    ReplyDelete

Terima kasih sudah membaca. Mari berbagi bersama di kolom komentar.
Untuk dapat info tulisan terbaru, yuk berlangganan dengan cara masukkan emailmu di kolom "Berlangganan Gratis".

Berlangganan gratis

Halo!

Robby Haryanto
Memanen hikmah dalam setiap kisah. 

Arsip Blog

Kawan-kawan