Berprasangka Baik kepada Allah? Bisa!

Kesulitan dan kemudahan dalam kehidupan pasti selalu datang. Semuanya tergantung bagaimana kita menyikapi hal yang datang kepada kita. Setidaknya begitulah yang pernah saya simpulkan ketika mendengar cerita penuh nasihat dalam suatu majelis ilmu.

Cerita ini saya pernah dengar dua kali. Karena sangat berkesan, saya cari cerita tersebut di Google untuk kelak saya bagikan kepada orang lain, dan semoga kita sama-sama mendapatkan hikmah dari cerita tersebut. Ternyata, cerita itu pernah ditulis Ust. Salim A. Fillah dalam bukunya Dalam Dekapan Ukhuwah.

Beginilah ceritanya.

***



Cerita ini ada pada masa ‘Abbasiyah. Ada seorang budak yang diberikan libur pada hari Jumat. Hari libur itu dia gunakan untuk bekerja, mengumpulkan uang untuk menebus dirinya pada majikannya. Dia bercita-cita menjadi orang yang merdeka.

Suatu hari, setelah uangnya terkumpul, dia meminta izin kepada majikannya. Gayung bersambut, majikannya mengizinkan sang budak untuk menebus diri. Luar biasanya lagi, sang majikan hanya mengambil separuh harga yang diberikan oleh sang budak. “Gunakanlah ini untuk memulai kehidupan barumu sebagai orang yang merdeka.”

Sang budak sangat bersyukur, tapi juga disergap rasa khawatir. Dia pamit. “Aku tidak tahu, wahai Tuanku,” ucapnya, “apakah kebebasanku ini rahmat ataukah musibah. Aku hanya berbaik sangka kepada Allah.”

Waktu terus begulir, dia menikah dan dikarunia seorang anak laki-laki. Ketika anaknya berusia 2 tahun, sang istri meninggal. Dirawatnya sendiri putra satu-satunya tersebut dengan pemahaman agama, serta bersikap merdeka.

“Anakku,” katanya, “Ayahmu ini adalah seorang budak. Aku selalu menjaga dan kehormatanku. Berkat itu, Allah membebaskanku.” Dia menambahkan, “Jadilah kita orang yang merdeka. Ketahuilah, orang yang merdeka adalah dia yang bisa memilih caranya untuk mati dan menghadap Ilahi.”

Kemudian, sang ayah mengajak anaknya ke pasar untuk membeli kuda. Kuda itu kondisinya sangat bagus, hebat, dan gagah. Kuda itu adalah kuda terbaik yang akan dipersiapkan sebagai amunisi perang. Hingga kedatangan kuda mereka membuat penasaran tetangga untuk datang. Para tetangga kagum, hingga akhirnya bertanya, “Berapa uang yang kalian habiskan untuk membeli kuda yang luar biasa ini?”

Sang anak dan bapaknya tersenyum. Itu adalah simpanan yang dikumpulkan seumur hidup.
Para tetangga kaget. “Kalian sudah gila ya? Uang sebanyak itu cuma buat beli kuda? Rumah kalian reyot begini, buat makan besok juga belum tentu ada!” Mereka semua mencemooh keluarga tersebut. Mereka berkata, “Kami tak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.”

Para tetangga pulang. Ayah dan anak itu merawat kudanya sepenuh hati. Selalu diberikannya kuda itu dengan asupan terbaik dan latihan. Perlakuan terbaik untuk kuda terbaik.

Satu pekan berlalu, sang ayah menengok kandang. Tidak seperti biasanya, kudanya tidak ada di sana. Kuda itu hilang. Hal ini ternyata mengundang kehadiran para tetangga lagi. Mereka menyayangkan kejadian ini. “Kalian memang tidak beruntung. Kuda itu cuma buat memuaskan ambisi kalian.” Bahkan ada yang menyindir, “Aduh, kasihan banget. Sudah dirawat baik-baik dan penuh perhatian, eh malah kudanya kabur.”

Sang ayah hanya tersenyum sambil mengelus kepala anaknya. “Kami tak tahu,” ucapnya serempak, “ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah.”

Mereka pasrah, menghitung-hitung kapan mereka bisa memiliki kuda sebagus itu lagi. Mereka tetap bekerja dengan tekun seperti sediakala.

Beberapa hari kemudian, kandang kuda yang sudah sepi tiba-tiba berisik. Suara ringkikan membuatnya gaduh. Suaranya sangat mereka kenali. Segera bapak dan anak itu mengecek kandang kudanya. Jangan-jangan, kuda itu telah kembali.



Benar! Itu adalah kuda kesayangan mereka. Namun, yang mengejutkan adalah kuda mereka hadir bersama kuda-kuda lain! Lagi-lagi, para tetangga hadir dan takjub. “Wah, luar biasa! Kuda itu pergi untuk memanggil kawan-kawannya.” Beberapa dari mereka juga mengucapkan selamat. “Kuda-kuda kalian jadi banyak. Selamat ya, kalian jadi orang terkaya di kampung ini.” Tapi si pemilik hanya tersenyum. “Kami tak tahu, ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah.”

Dengan hadirnya kuda-kuda liar itu, sang anak mencoba menaiki salah satu di antaranya. Dia bahagia sekali menunggangi kuda tersebut. Suatu ketika, kuda liar itu kaget ketika berpapasan dengan seekor lembu yang lepas dari kandang. Sang anak terbanting dan kakinya patah.

Para tetangga menjenguk. Mereka merasa kasihan pada anak itu. “Kami turut prihatin,” kata mereka. “Kuda itu ternyata membawa musibah. Lebih beruntung anak-anak kami yang tak punya kuda, tetapi kakinya masih sehat.”

Tuan rumah hanya tersenyum. “Kami tak tahu, ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah.”

Hari berikutnya, kepala pasukan kerajaan berkeliling negeri. Dia mengumumkan, sebentar lagi akan
ada sebuah peperangan. Pemuda-pemuda yang sehat dipersiapkan untuk menjadi bagian dalam pasukan. Perang ini hebat sekali, tetapi merugikan kaum Muslim. Musuh yang akan menjadi lawan adalah saudara sesama Muslim. Sang ayah berkata kepada anaknya, “Nak, semoga Allah menjaga kita dari pertumpahan darah sesama Muslim. Allah Maha Tahu, kita ingin berjihad di jalan-Nya. Kita sama sekali tak hendak beradu senjata dengan orang-orang beriman. Semoga Allah membebaskan diri kita dari beban itu.”

Ketika rumah sang pemilik kuda liar dan anaknya didatangi pihak kerajaan, petugas kerajaan tersebut bertanya setelah melihat kondisi sang anak. “Ada apa dengannya?”

“Dia terjatuh ketika latihan kuda,” jawabnya. “Padahal, begitu ingin dia membela negeri ini.”

“Sayang sekali. Aku tak bisa membawanya ke medan perang,” ujar sang petugas. “Kulihat dia begitu gagah. Pasti kelak dia akan menjadi seorang prajurit tangguh." Di waktu yang bersamaan, petugas tersebut melihat anak-anak para tetangga yang sehat. Mereka dibawa bersama petugas kerajaan.
“Ah, nasib!” kata mereka. “Kami kehilangan anak-anak kami. Begitu beruntungnya kalian. Anakmu tetap bisa di rumah karena patah kakinya.”

Kali ini, ayah dan anak itu tidak tersenyum. Ucapan mereka lebih menggema, “Kami tak tahu, ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah.”

Sebulan kemudian, datang kabar dari medan perang. Semua pemuda yang berangkat bulan lalu tewas di medan tempur. Seluruh penduduk menyikapi peristiwa tersebut dengan belajar dari keluarga pemilik kuda: “Kami tak tahu, ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah.”

Beberapa waktu kemudia, panggilan perjuangan yang sesungguhnya datang. Ayah dan anak itu ingat akan janjinya dulu untuk berjuang di jalan Allah. Akhirnya, mereka mendapatkan cita-cita mereka sebagai orang yang merdeka.

Dalam perjalanannya, sang anak pernah tertangkap pasukan Mongol dan dijual sebagai budak. Dia berpindah-pindah tangan hingga kepemilikannya jatuh pada al-Kamil, seorang Sultan Ayyubiyah di Kairo. Ketika pemerintahan Mamluk menggantikan bangsa Ayyubiyah di Mesir, kariernya menanjak cepat hingga menjadi panglima pasukan, lalu pemimpin wilayah. Terakhir, setelah wafatnya az-Zahir Ruknuddin Baibars, dia diangkat menjadi Sultan. Namanya al-Manshur Saifuddin Qolawun. 

Inilah sekelumit kisah tentangnya. Dia adalah Qolawun, sosok yang berani berprasangka baik dalam segala keterhijaban. Qolawun yang berani berkata, “Kami tak tahu ini rahmat atau musibah. Tapi kami selalu berprasangka baik kepada Allah.” 

-------
Sumber gambar:
https://www.deviantart.com/horses-of-hillevia

1 comment:

  1. Berprasangka baik kepada Allah, pernah kubaca entah berapa tahun yang lalu.

    Kemudian awal tahun ini terjadi berbagai jungkir balik penuh spektrum warna.

    Yang mengantarkan pada pikiran menuju buntu. Kosong, gelap.

    Sampai seorang teman dan dia berkata, husnudzon sama Allah.

    Rasanya saat itu juga ada ribuan senter yang mengarah ke hidupku. seperti, "selama ini Allaah kamu kemanain?!?!"

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.

Follow by Email

Halo!

Robby Haryanto
Memanen hikmah dalam setiap kisah. 

Blog Archive

Teman-teman hebat

Jumlah Tayangan