Mengapa Ingin Menjadi Guru? (Sebuah Refleksi Semester 6)

Hari ini, setidaknya ketika tulisan ini diposting, status saya adalah mahasiswa semester 6 jurusan Pendidikan Kimia Universitas Negeri Jakarta. Status ini, seringkali membawa saya pada obrolan yang cukup sering saya alami.

Orang lain: “Kuliah di mana, Dek?”
Saya: “UNJ, Pak/Bu/Mas/Mbak.”
Orang lain: “Jurusan apa?”
Saya: “Pendidikan Kimia, Pak/Bu/Mas/Mbak.”
Orang lain: “Oh, mau jadi guru ya?”

Kadangkala, percakapan baris kelima punya variasi jawaban seperti ini:

Orang lain: “Oh, berarti bisa ngerakit bom dong? Kan kimia!”

Bagaimana pun pandangan orang lain tentang jurusan Pendidikan Kimia, percayalah, di sinilah saya banyak menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam hidup. Tentang cita-cita menjadi guru.



***

Apakah saya berkeinginan menjadi seorang guru?

Tentu, hal ini sudah saya niatkan sejak SD. Meskipun ada sedikit pergeseran; yang tadinya mau jadi guru matematika, berubah menjadi kimia. Semua perubahan itu pernah saya tulis di postingan berjudul “Kenapa Pendidikan Kimia?”

Semakin hari, semakin saya menyadari bahwa pilihan-pilihan yang diambil dalam hidup adalah hasil penuh pertimbangan. Pertimbangan tersebut datang dari pengalaman-pengalaman, baik diri sendiri maupun orang lain. Saya memilih jalan untuk mengarungi bercita-cita menjadi guru pun penuh dengan latar belakang, bahkan sampai saat ini saya masih sering bertanya pada diri sendiri: beneran nggak sih mau jadi guru? 

Begitu banyak pengalaman-pengalaman yang bercampur, baik pahit dan manis. Mengapa akhirnya saya bercita-cita jadi guru, ada banyak faktornya. 

Pertama, pertemuan dengan guru-guru yang unik.
Titik awalnya mungkin saat saya SD. Ketika saya mengenal seorang guru yang bisa menyederhanakan cinta saya kepada matematika. Semuanya terasa indah. Sampai akhirnya, di ulangan harian pertama, nilai saya paling tinggi di kelas. Saat itu saya, seorang anak yang nggak ikut bimbel, mengalahkan teman-teman saya yang ikut bimbel. Saya mulai jatuh cinta dengan matematika lewat perantara guru saya. Guru saya mengapresiasi. Saya senang saat itu. Jarang sekali mendapat apresiasi, apalagi dari seorang guru. 

Kemudian semuanya menjadi turun drastis, ketika ulangan harian kedua nilai saya jeblok. Guru saya menyebut-nyebut nama saya. “Kenapa, Robby, kok turun nilainya?” Saya sendiri bingung, padahal sudah usaha maksimal. Dari kejadian tersebut, saya jadi terkesima dengan cara beliau menyentuh hati siswanya. 

Meningkat ke SMP, saya kenal dua guru matematika yang karakternya berkebalikan. Yang satu sangat keras, yang satu lagi sangat lembut. Keduanya punya karakter yang, ketika saya renungi—bahkan sampai sekarang—bisa saya adopsi ketika kelak saya menjadi seorang guru.

Barulah ketika di SMA, saya merasa matematika nggak seindah kala pertama bertemu. Saya beralih ke mata pelajaran kimia. Lagi-lagi, karena karakter seorang guru yang bisa dibilang cukup disiplin. Cocok dengan sosok guru yang saya impikan.

Kedua, keluarga.
Sejauh ini, saya memang belum sampai di akhir masa studi. Saya banyak belajar dari apa yang sudah terjadi pada kakak saya.

Saya ingat betul, bagaimana suka citanya keluarga saya ketika tahun 2012. 

Saat itu, di JI Expo, Kemayoran, kakak saya wisuda sarjana pendidikan. Orang tua saya pasti bangga atas pencapaian kakak saya. Apalagi kalau saya pernah dengar apa alasan kakak saya menjadi guru: “Nggak apa-apa, Ma, kalau gaji guru kecil,” ujar kakak saya. Saya cuma nyimak, belum begitu paham. “Gaji guru itu dobel!” serunya. “Gaji utama dan gaji dari Allah.” Masya Allah.

Baca juga
Saya langsung paham apa maksud perkataan kakak saya. Dia ingin menyampaikan, pekerjaan seorang guru adalah pekerjaan mulia. Mencerdaskan, mendidik, dan mengajarkan orang lain dari tidak tahu menjadi tahu. Kurang mulia apa lagi? Dokter nggak akan jadi dokter tanpa adanya guru. Apa pun profesinya adalah hasil jerih payah dan pengorbanan seorang guru.

Selain itu, latar belakang ekonomi keluarga saya pun menjadi motivasi tambahan.

Saya sering dengar bagaimana mama saya bercerita, tentang pandangan orang lain yang terkagum. Kekaguman itu datang karena anak seorang buruh pabrik pun bisa menjadi sarjana. Ekonomi yang pas-pasan nggak menghalangi untuk sukses. Mama saya selalu berceloteh, “Alhamdulillah, pas-pasan. Pas mau kuliah ada uangnya, pas mau beli motor bisa kebeli.” Yah, saya jadi banyak belajar juga karenanya. Belajar bersyukur, belajar merasa cukup.

Sungguh, pengalaman-pengalaman terdahulu akan saya kenang kalau saja hidup saya mulai hilang arah atau kehabisan semangat.

Ketiga, sebuah obsesi.
Banyak sekali input yang meningkatkan obsesi saya menjadi seorang guru. Ada yang dari buku bacaan, pengalaman pribadi, bahkan hasil ngobrol dengan orang lain. Artinya, kalau saya ceritakan semuanya, bisa jadi lebih dari satu postingan—bahkan menjadi sebuah buku, yang judulnya “Mengapa Menjadi Guru?” 

(Kedengarannya bagus, ya. Mungkin bisa digarap sambil saya menggapai impian menjadi guru.) 

Satu mungkin yang bisa saya ceritakan di sini. 

Satu kesempatan, saya mendengar perkataan senior. Dia bercerita kalau anak muda di sekitarnya nggak bener. Entah bagaimana definisi itu menurut dia. Namun, kalimat setelahnya membuat saya terpikat. “Setelah kita kuliah bertahun-tahun, apa hasilnya setelah lulus nanti? Kita harusnya jadi lebih baik di antara orang-orang sekitar. Di situlah peran kita, memperbaikinya. Menjadi agents of change yang utuh.” Sebagaimana yang dikatakan Nelson Mandela, “pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat Anda gunakan untuk mengubah dunia”. Hasil obrolan hari itu menjadi batu bata penyusun bangunan motivasi. Bangunan yang akan terus disusun, hingga menjadi menara motivasi yang kokoh.

Sebagai mahasiswa jurusan Pendidikan Kimia, sebelum lulus nanti, saya sedang berusaha membentuk bagaimana profil guru “impian” versi saya. Saya berusaha mengenal banyak pendidik, baik di dalam maupun di luar kampus. Saya mulai membaca kisah-kisah orang hebat yang berhasil membawa pencerahan bagi hidup saya. 

Pencerahan itu layaknya energi: tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan, tetapi diubah menjadi suatu semangat yang lain. Pencerahan tersebut menjadi suatu semangat. Semangat yang ingin saya tumbuhkan, yaitu semangat menjadi seorang pendidik. 

Menjadi seorang pendidik. Ya, sebuah semangat yang berusaha saya tumbuhkan. Mulai dari memaknai lagi kuliah-kuliah yang diterima di kelas, mencocokkan dengan pengalaman hidup, mengambil contoh keteladanan tokoh-tokoh hebat, dan masih banyak lainnya. 

Baca juga

Sekalipun kelak saya nggak berprofesi sebagai guru, saya bisa menggunakan ilmu tersebut untuk menjadi guru bagi anak-anak saya kelak. 

Bagi saya, menjadi guru berarti bersiap untuk membentuk seseorang. Jauh sebelum itu, sang guru pun harus sudah siap dan berdamai dengan dirinya sendiri. Mereka harus siap pula berproses dan tetap mau belajar. Setelah saya renungi, begitu banyak pengaruh guru terhadap kehidupan saya. Begitu pun juga ketika mendengar cerita teman-teman. Maka menjadi guru yang dapat teladan adalah satu hal yang harus saya tumbuhkan. Dari apa yang mulai saya tumbuhkan itu, kelak buahnya bisa dapat terlihat berupa karakter seorang guru.

Jadilah guru yang mendidik. Berawal dari semangat itu, ia akan terus selalu mengingatkan kita pada tujuan besar pendidikan: membentuk manusia yang beradab.

20 comments:

  1. Saya dari kecil ingin sekali jadi guru, sempat kuliah di kependidikan, tapi karena kondisi ekonomi akhirnya luntur, sebelum aku ditolak berbagai tingkat sekolah karena izajahku masih SMA dan aku masih kuliah. Aku hilang arah akhirnya mencari kerja di bimbel. Alhadmuliillah, udah bisa beli dua motor untuk aku bekerja dan untuk adik yang sudah lulus SMA dan mau bekerja.
    --
    Tapi kemalangan datang lagi, bimbel tempat aku mencari pundi-pundi kehidupan akhirnya tutup karena pemiliknya pulang ke kota asal. Dan saya dititipkan dengan 'oramg dalam' oleh kepala cabang ke sebuah perguruan tinggi swasta. Sebagai akademik.
    --
    Untuk itu aku kuliah lagi di bidang teknik informatika, untuk menggenapkan posisiku yang mungkin saja sementara. Kebayang capenya jadi karyawan dan jadi mahasiswa, di usia yang tidak lagi muda.
    ---
    kayaknya kalau dibikin cerpen seru kali ya? - Dapat ide nih.

    ReplyDelete
  2. Bener banget. AKu yang kuliah di Univ Pendidikan Indonesia (UPI) aja sering ditanya "mau jadu guru ya?". Padahal aku jurusannya non pendidikan alias Ilmu komunikasi wkwkkw. Ga ada yang salah, tapi engga semua orang yg masuk pendidikan mau jadi guru yha wkkwkwwkkw. Wah pendidikan kimia sama kayak adik aku haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi nama kampusnya ada kata "pendidikan"-nya ya

      Delete
  3. Wah mas Robby mau jadi guru kimia? :D saya jadi ingat, dulu jaman sekolah, nilai kimia dan biologi saya selalu terjun bebas :)) padahal nilai matematika dan fisika saya bagus sekali (sombong ceritanyah) ~ dan gara-gara nilai kimia dan biologi saya yang jelek plus hobi remidial, sampai wali kelas saya waktu grade 10 bingung mau memasukkan saya ke jurusan IPA / IPS saja. Wali kelas kawatir saya nggak survive di jurusan IPA dengan nilai biologi dan kimia saya yang tengkurap :D

    However, saya ended up masuk jurusan IPA karena guru matematika dan fisika saya kekeuh request di-rapat penjurusan kalau saya harus masuk IPA :)) sepertinya saya memang payah soal mengingat dan menghapal, mungkin juga karena sudah menyerah untuk memahami pelajaran yang banyak hurufnya daripada angkanya. Alhasil, setiap ujian biologi dan kimia pasti remidial karena nilainya di bawah 5. Tapi habis remidial, nilainya justru lebih jelek lagi bisa di bawah 3 (bukannya naik jadi 7 atau 8) :"D begitulah suka duka saya (kebanyakan dukanya sih) pada pelajaran biologi dan kimia. So, saya selalu salut sama teman-teman dan orang-orang yang memang mendedikasikan dirinya pada ilmu biologi dan kimia karena menurut saya itu nggak mudah :D

    Good luck mas, semoga kelak bisa jadi guru kimia yang menyenangkan bagi siswa-siswanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, terima kasih mbak. :)

      Pengalamannya bisa jadi referensi saya juga buat ningkatin percaya diri hehehe

      Delete
  4. Aku rasa memang percakapan itu kadang ada ya. Jika kita ambil kuliah jurusan itu maka orang tahunya hafal semua jurusan itu. Misalnya jurusan sastra Jawa, dikira orang malah bisa ilmu Jawa atau kejawen gitu, padahal itu kan dua hal yang berbeda.πŸ˜‚

    Tertarik jadi guru karena inspirasi dari para guru ya mas Robby. Aku dulu rasanya juga pengin jadi guru, sepertinya keren gitu jadi guru, mengajar di depan murid-murid, tapi malah jadinya cuma kuli saja.πŸ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya gak tau kejawen mas. Tapi sekilas saya kira itu hal yang sama :D

      Gapapa mas, semua profesi baik kalau diniatin untuk hal baik ��

      Delete
  5. Masya Allah tulisannya menyentuh sekali. Calon guru masa depan. Iyap sepakat kalo guru itu gajinya double, ada gaji bonus yang tak ternilai harganya. Bayangkan kalau kita ngajar Al-Fatihah ke anak kecil, dan ia membaca surah yang kita ajari di setiap sholatnya, berapa banyak pahala yang mengalir. Semangat terus, sungguh ini cita-cita yang mulia. Saya kagum sekali sama orang yang bangga dengan pilihannya sebagai seorang guru, tanpa malu menceritakan alasannya duh itu luar biasa sekaliπŸ˜ƒ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah saya termasuk yang emang niatin diri pengin jadi guru hehe. Semoga bisa menginspirasi temen-temen yang merasa "kecemplung" di jurusan pendidikan

      Delete
  6. Betul juga si, karakter guru bnyak berpengaruh suka tidaknya dengan apa yg ia ajarkan. Aku pribadi merasa kurang mencintai pelajaran kimia karna gurunya pernah mengabaikan saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, semoga bisa jadi guru yang menyenangkan~

      Delete
  7. Semoga apa yang dicita-citakan terwujud ya, Mas. Memang benar, guru adalah profesi yang mulia. Insya Allah ilmu yang diamalkan bisa menjadi pahala sebagai bekal di akhirat kelak.. Aamiin.

    ReplyDelete
  8. Kalo jadi guru nanti yg amanah dan sabar yo mas?soale ngedidik anak mulai dr jmn sd tu susaah minta ampyuun, ngadepin berbagai sifat anak murid, tpi sy yakin mas bakalan amanah, keliatan dr ati nulisnya 😊 ,sy dulu msk jurusan ips krna ga kuat ngitung" wk wk, jadi nilai sy selalu besar klo ngapal pelajaran, yah apapun itu ada plus minusnya... Smg sukses calon guru..

    ReplyDelete
  9. Wah ternyata dari keluarga lo juga backgroundnya pendidikan gitu ya rob. Semangat cuuy! Semoga jadi guru yang mantap! Huehehe. Udah KKN ngajar gitu belum sih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kakak aja bang yang kuliah pendidikan. Ngikutin aja huehehe

      Belom mulai bang. Insya Allah semester 7

      Delete
  10. Kereeeeen. Mulia banget cita2nya yaa.. Sedari kecil aku nggak ada kepikiran jd guru, eh lah malah sekarang jd guru beneran. Wkwkwk
    Semangat terus, :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, mohon doanya kak. Hehehe

      Saya harus belajar banyak nih sepertinya :))

      Delete

Terima kasih sudah membaca. Mari berbagi bersama di kolom komentar.
Untuk dapat info tulisan terbaru, yuk berlangganan dengan cara masukkan emailmu di kolom "Berlangganan Gratis".

Berlangganan gratis

Halo!

Robby Haryanto
Memanen hikmah dalam setiap kisah. 

Arsip Blog

Kawan-kawan