28 December 2016

Surat Dari Ibu


Tinggal berdua dalam satu rumah adalah hal yang tidak pernah aku inginkan. Apakah ada lelaki, berumur enam belas tahun, yang menginginkan tinggal bersama adiknya, yang baru berumur delapan bulan? Agak gila. Aku seperti gadis belasan tahun yang disetubuhi hingga hamil kemudian ditinggal sang lelaki bajingan.

Aku seringkali membuat penyangkalan, bahwa aku tidak pantas ditempatkan dalam kondisi begini. Tinggal serumah dengan manusia yang tidak bisa membantuku mengerjakan apa pun. Aku seperti hidup sendiri, kemudian diberi beban lagi. Saat diri tidak terkontrol, sepintas aku berpikir ingin menusuk pisau roti ke punggung adikku, sehingga beban di rumah ini berkurang.

Ayahku pergi dua bulan sebelum Herman, adikku, dilahirkan. Ibuku tak kuketahui kabarnya pasca-melahirkan. Aku tak pernah mendapatkan informasi pasti di mana keberadaan kedua orang tuaku. Kerabat terdekatku, Tante Tresna, mengatakan, mereka ada di sebuah kota untuk mencari nafkah, dan kedua anaknya dititipkan pada adik Ayah tersebut.

Hanya bertahan lima bulan Tante Tresna menampung kami. Lamaran pekerjaannya di salah satu bank swasta diterima. Setelahnya, beginilah kondisi keluarga kami: hilang arah tanpa ada nakhoda di dalamnya—yang biasa kami sebut orang tua.

Membagi waktu antara belajar, merawat adik, dan bekerja sangatlah menyusahkan. Jujur saja aku kepayahan menjalaninya. Seperti sore ini, aku sedang menyiapkan bumbu untuk berjualan nasi goreng sambil menjaga adikku. Bahan-bahan yang sudah kubeli siap dihaluskan. Namun, pisau yang biasa kuletakkan di atas meja makan kini tidak pada tempatnya.

“Kulkas.”

Suara itu spontan terdengar. Aku kaget. Siapa yang berkata tadi? Yang ada di rumahku hanyalah aku dan adik. Mustahil Herman yang bicara.

Mungkin suara itu bisa jadi petunjuk. Aku pernah menonton serial kartun Dora The Explorer di televisi. Saat Dora mengajak penontonnya di rumah berinteraksi, aku memberi tahu ke mana dia harus pergi. Padahal, di luar sana, si Dora sialan pasti tidak mendengarku. Akhirnya, dia pergi ke tempat yang aku sebutkan.

Aku mengikuti apa kata suara asing tersebut, seperti Dora mengikuti perintahku.

Aku membuka kulkas. Seketika aku merasa bodoh tidak mendapatkan pisau di sana.

“Atas.” Suara asing itu muncul lagi sama persis. Aku melirik ke adik, dia merangkak sambil menunjuk-nunjuk ke atas kulkas. Aku semakin bingung karena dia sebelumnya belum bisa bicara. Kata pertama yang dia ucap justru kulkas. Seharusnya, kata pertama yang diucap seorang bayi adalah “ibu” atau “ayah”, bukannya kulkas. Atau memang kulkas dia anggap sebagai orang tuanya?

“Atas?” Aku melihat ke atas kulkas dan medapatkan pisau yang kuinginkan. Memotong cabai dan meracik bumbu nasi goreng yang pernah Ibu ajarkan.

Sebelum berangkat sekolah, sepucuk amplop putih diantarkan tetanggaku. Kemarin sore surat ini sampai kepadanya dan dia lupa menyampaikan padaku. Aku membacanya pada jam istirahat pertama di sekolah.
Jati, semoga kamu baik-baik saja. Ini Ibu. Maaf belum bisa berkunjung sampai penghujung tahun berakhir. Kamu belajar yang giat, ya. Ibu janji, saat kita bertemu nanti, Ibu akan memelukmu erat. Kamu harus sekuat pohon jati, itulah filosofi yang diberikan untuk namamu.

Salam sayang,

Ibu.

Surat itu tak begitu berkesan ketika membacanya kali pertama. Sampai di tempat berjualan, di bawah lampu petromaks, aku membaca surat itu. Walau hanya kertas biasa, aku bisa mencium aroma yang tak biasa.

Aroma kerinduan.

Kudekap surat itu. Ibu, aku rindu.

***

Seminggu lagi akan ada Ujian Akhir Semester. Aku mulai mengurangi jam berjualan agar bisa menyisihkan waktu untuk belajar, mengejar materi yang belum mampu aku kuasai. Aku menyadari bahwa akan sangat menyulitkan bila belajar sendiri. Aku membutuhkan pembimbing untuk mengajariku. Aulia, teman sekelasku, membolehkan aku belajar di rumahnya. Kebetulan rumahnya dekat dari tempatku berjualan.

“Jati, mau coba nasi goreng kamu dong.”

“Boleh. Bayar ya.” ucapku setengah bercanda.

“Boleh. Tapi kamu bayar aku juga.”

Aku dan Aulia tertawa.

Setelah selesai belajar, aku melanjutkan berjualan pukul 9 malam. Aku sudah berencana sekitar pukul 12 aku pulang.

“Kok baru datang?” tanya satpam kompleks.

“Biasa, Pak. Habis pacaran dulu tadi,” kataku bercanda.

“Yeh. Kerja dulu yang bener. Kalau udah kaya, baru deh nikah sama anak gue!” Pak Satpam kemudian tertawa.

“Anak bapak cewek, kan?”

“Bukan. Anak gue burung beo!” katanya kesal. “Ya, cewek lah. Nanti gue kenalin deh. Tapi umurnya baru dua tahun.”

Pak Satpam memang sering bercanda denganku. Aku sudah menganggapnya seperti Ayah, yang entah bagaimana rasanya memiliki Ayah seperti apa. Tapi, Pak Satpam punya karisma yang sanggup menggantikan sosok Ayah.

***

Pagi hari sebelum berangkat sekolah, aku kembali mendapat surat.
Jati, hari ini adalah hari pertama kamu UAS. Ibu harap, kamu bisa mengerjakan soal-soal dengan tenang. Tanpa beban pikiran. Percayalah pada Ibu, kamu bisa mendapat nilai bagus. Jangan lupa mengulang pelajaran yang pernah diajarkan di sekolah. Kamu ingat bulan ini ada Hari Ibu? Ibu harap, Ibu bisa bertemu kamu.

Salam rindu,

Ibu
Surat yang justru membuatku tak kuasa menahan tangis di hadapan lembar soal ujian. Aku berulang kali meminta kertas baru kepada pengawas karena tetesan air mataku membasahi kertas. Soal-soal Matematika menjadi terasa sangat sulit.

Ibu, kenapa kau datang membawa kesulitan padaku hari ini? Tapi, aku tetap rindu Ibu.

Semenjak surat itu datang aku tidak pernah konsentrasi mengerjakan apa pun. Aku berhenti berjualan untuk sementara waktu sampai kondisi jiwaku benar-benar stabil. Beberapa kali aku kehilangan keseimbangan. Aku hampir jatuh di jalan karena merasakan pusing yang hebat. Genggaman tanganku, tidak biasanya, menjadi lemah. Lima kali aku menjatuhkan piring dan gelas dalam sehari di rumah.

Saat ini yang kubutuhkan adalah orang yang paling dekat hubungannya denganku. Tetangga memang dekat dari rumah, tapi tidak cukup dekat bila kuceritakan apa saja yang terjadi pada diriku.

UAS selesai dengan banyak sekali kesalahan yang kubuat. Beberapa hafalan dan rumus tiba-tiba memusuhi diriku. Suara lembar soal yang dibuka terdengar mengejekku karena gagal menjawabnya.

Masa-masa seperti ini yang membuatku ingin mengakhiri hidup secepatnya.

Aulia nampaknya khawatir dengan kekacauan yang terjadi pada diriku. “Kamu beda dari biasanya, Jati. Ada masalah?”

“Sedikit.”

“Aku nggak maksa kamu buat cerita.” Aulia mengambil sebuah wafer yang tergeletak di meja kantin. “Mau wafer?”

Aku mengambil dua buah wafer. Mengambil selapis demi selapis untuk dijilati krimnya. Sekolah semakin sepi. Pedagang di kantin mulai memberesi dagangannya.

“Kamu nggak jualan hari ini?”

“Nggak bergairah untuk saat ini. Entahlah,” kataku. “Sepertinya semua kebiasaan yang sudah kubangun sejak tiga bulan terakhir runtuh karena sesuatu.”

***

Aku datang ke depan kompleks, tetapi tidak mendorong gerobak. Aku datang tidak untuk berjualan.

“Mana gerobak lu?” tanya Pak Satpam.

“Nggak jualan dulu, Bos. Hehehe.”

“Terus mau apa ke sini?”

“Berani tanding catur?” ajakku.

“Ayo.”

Semalaman suntuk aku bermain catur dengan Pak Satpam. Tanpa henti hingga bergelas-gelas kopi dan berbutir-buti kacang jatuh ke tenggorokan. Aku benar-benar melepas semua ketegangan yang ada di kepalaku. Aku tak peduli besok ada jadwal sekolah. Aku percaya besok sudah tidak ada kegiatan karena UAS telah selesai.

“Lo tau nggak, Boy? Waktu gue sebesar lo, gue bego banget main catur,” katanya memulai cerita.

“Masa, sih?”

“Menurut gue, raja tuh sebenernya goblok. Nggak bisa apa-apa. Maunya dilindungi doang. Gue malah lebih suka ratu, karena... gue cowok! Ratu kan cewek, gue cowok. Pas!”

Ucapannya mulai aneh. Aku mulai takut dia akan membeberkan rahasia celana dalam istrinya.

Aku tertidur di pos satpam kompleks. Terbangun pada waktu yang tepat saat muazin mengetukkan jari di mikrofon. Jalan sempoyongan setengah sadar saat azan Subuh berkumandang, aku ke masjid untuk menyegarkan diri berwudu dan salat berjamaah. Selesai salat aku kembali tertidur hingga matahari tepat di atas ubun-ubun.

Herman, seperti biasanya, tidak ada di rumah. Dia sedang tidur siang di rumah tetangga. Sejak aku bekerja dia memang aku titipi, kecuali pada hari-hari tertentu saat aku butuh dia untuk menemani di rumah. Aku ingin mengetahui kondisinya dan segera ke rumah tetangga.

“Titipan surat lagi,” kata tetanggaku menyerahkan amplop putih.

“Oh iya? Ada uangnya nggak, Bu?” ledekku.

“Nggak tahu deh. Saya nggak sempat ngintip.”

Aku menggendong pulang Herman yang tertidur pulas dan sepucuk amplop putih.
Jati, tanggal 22 Desember nanti hari pembagian rapor, bukan? Maaf, Ibu tidak bisa mengambilnya, begitu pun ayah. Kamu ambil sendiri saja, ya. Atau bisa meminta bantuan tetangga. Kabar baiknya, Ibu akan menemui kamu sore harinya. Ibu janji. Sore hari, kamu temui Ibu di pasar besar kota seberang. Ibu harap, kamu tidak lupa Hari Ibu.

Semoga nilaimu baik semester ini.

Saat pembagian rapor, tidak ada pilihan lain, aku mengambilnya sendiri. Herman aku titipkan di rumah tetangga. Dengan begitu aku tidak akan mengurusi dia dalam kemampuanku merawat bayi yang teramat payah ini.

Wali kelasku menanyakan tentang orang tuaku. “Kamu kenapa ambil rapor sendiri?” tanyanya. Aku setengah tertunduk menjawabnya, “Saya nggak tahu orang tua saya di mana, Bu.” Aku juga menjelaskan tentang pekerjaanku, supaya aku bisa sedikit membela bila nilaiku buruk dengan alasan sibuk bekerja.

Aku sebenarnya agak takut bila Ibu Arafah, wali kelasku, akan marah karena rapor tidak diambil orang tua. Namun, dia memberi pemakluman dengan alasan yang kuberi tadi. Dia hanya memberi sedikit nasihat dan motivasi belajar kepadaku.

***

Dengan menaiki angkot, aku menuju pasar yang dimaksud di dalam surat itu. Aku tidak membawa apa-apa untuk pertemuan ini: pertemuan yang sudah kurindukan sejak sembilan bulan yang lalu.

Sampai di sana, pasar cukup sepi, bahkan tempat ini tidak layak disebut pasar karena pasar identik dengan keramaian. Sambil menunggu Ibu aku minum es dawet di depan bank yang berada di tengah-tengah pasar. Di seberang jalan, mobil merah berhenti. Turun seorang wanita mengenakan kerudung biru dongker dipadukan gamis dengan warna senada. Dia menoleh ke kanan dan kiri, kemudian melihatku. Dia berjalan mendatangi aku.

“Jati?”

“Iya. Ibu?” tanyaku, setengah ragu.

“Benar, Jati.”

Aku tak sanggup menahan semuanya. Aku langsung memeluk Ibu erat-erat. Dia juga memelukku. Dari sudut matanya mengalir sungai kecil di pipinya. “Aku yang sering mengirim surat untuk kamu.”

Aku tak peduli lagi apa perkataannya, yang penting aku bisa bersamanya. Namun, aku menyadari ada hal berbeda dari wanita yang sedang kupeluk erat ini.

“Jati, kamu harus dengar ini.”

Aku dan Ibu duduk di bangku pinggir jalan.

“Sebenarnya,” kata Ibu menatap wajahku, “aku ibu yang lain dari ayahmu. Aku ibu tirimu.”

Kaget. Denyut nadiku perlahan melambat mendengar perkataan dia.

“Aku ibu tirimu. Ayah kamu menikahi aku dua bulan sebelum ibu kamu melahirkan. Ayah kamu akhirnya nggak sanggup membayar biaya rumah sakit karena uang yang dia miliki habis untuk menikah denganku.”

“DASAR WANITA BA—“

“Tunggu dulu.” Dia menunda luapan amarahku. “Kamu tidak sepenuhnya kehilangan ibumu.”

“Cepat! Tolong pertemukan aku dengan ibuku. Kamu bukan ibuku!”

Dia mengajakku menelusuri isi pasar. “Ibu kamu ada di sini.”

Beberapa kios sayur kami lewati. Aroma bumbu rendang tercium dari kejauhan. Bunyi bising pemarut kelapa terdengar. Namun, di mana ibu sebenarnya?

Ibu tiriku membuka pintu kayu yang digembok. Di dalamnya terdapat banyak sekali batok kelapa. Seorang wanita yang kedua kakinya terjepit di antara dua kayu sedang duduk terkulai lemas.

“Itu ibu kamu.”

“Benar? Kenapa ibu ada di sini?” tanyaku tidak percaya.

“Kamu siapa?” katanya sambil menunjuk aku dan ibu tiriku. “Jangan pacaran di sini. Anak saya sekarang sudah jadi Menteri Luar Negeri Portugal! Hahahaha.”

“Ibu kamu jiwanya terganggu, Jati. Sejak ditinggal ayah dan melahirkan, dia jadi murung. Dia nggak kembali lagi ke rumah setelah keluar dari rumah sakit.”

“Ibu....” Aku menjerit dan memeluk Ibu. “Ibu, maafin Jati ya, kalau selama ini Jati banyak dosa sama Ibu. Aku kesepian tanpa Ibu. Herman juga. Ibu jangan begini, Bu.”

Aku mengeluarkan rapor dan memberi tahu Ibu. “Bu, aku nggak bisa kasih apa-apa. Tapi, aku ranking satu di kelas, Bu.”

“Makasih telah melahirkan Jati, Bu. Aku sayang Ibu. Selamat Hari Ibu.”

--

Sumber gambar: https://www.vectorstock.com/royalty-free-vector/envelope-vector-488529

Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway blognya Yoga Akbar Sholihin bertemakan "Ibu".
09 December 2016

Kontemplasi Akhir Tahun

Dari SD sampai SMA, nggak banyak rumah teman yang pernah gue kunjungi. Gue memang agak segan main ke rumah teman. Banyak faktor yang membuat gue jarang ke rumah teman. Pertama, gue orangnya kaku. Jangankan ke rumah teman, ke rumah saudara saja gue cuma duduk diam atau menonton televisi. Gue takut kejadian itu juga terjadi di rumah teman. Ditanya orang tuanya teman, gue malah cengengesan nggak nyambung.

Kedua (ini alasan yang dibuat-buat), gue takut nggak bisa pulang lagi. Takut nyasar.

Farhan adalah salah satu teman yang rumahnya pernah gue kunjungi. Waktu itu gue lagi deket banget sama dia. Main ke mana-mana bareng. Dan nggak biasanya, Farhan bisa menjadi teman belajar. Sudah terlalu banyak teman gue yang “diajak main ayo, tapi diajak belajar nolak”. Saat itu, cuma Farhan yang mengerti kondisi kita.

Saat itu gue sedang kelas 6. Persiapan UN lagi getol-getolnya.

Selain jarang ke rumah teman, gue juga agak takut mengajak teman-teman ke rumah. Khawatir mereka nggak suka dengan perlakuan keluarga gue. Takut kalau nantinya keburukan keluarga gue mereka ketahui. Takut keluarga atau rumah gue diomongin di belakang. Gue nggak ngerti kenapa sejak dulu gue selalu ingin dilihat sempurna. Padahal sudah menjadi kodratnya bahwa manusia punya kekurangan.

Mama sering bilang, “Kok teman-temanmu nggak pernah main ke sini?” Gue cuma jawab, “Nggak tahu.” Padahal memang karena gue yang nggak pernah mengundang mereka.

Sampai gue kepikiran, andai suatu saat nanti teman-teman gue menikah, mereka akan memberikan undangan kepada gue. Tetapi mereka nggak menemukan alamat gue karena mereka nggak pernah tahu rumah gue. Karena nggak dapat undangan, gue menyesal nggak bisa datang di acara penuh kebahagiaan teman gue.

Lagi-lagi tidak berlaku pada Farhan. Gue cukup yakin kalau Farhan anaknya nggak suka ngomongin orang lain. Gue percaya dia memang sahabat gue, sampai kapan pun.

Siang itu gue menempati musala mes yang gue jadikan tempat belajar. Gue dan Farhan duduk menghadap papan tulis kecil milik gue. Kakak gue mengajari Matematika, pelajaran kesukaan Farhan.

Tetangga gue melihat kami belajar. “Kamu anak Manyar, ya?” tanyanya kepada Farhan.

Farhan menjawab, “Iya.”
“Kamu tinggal di Manyar, sebelah mananya?”
“Dekat pabrik bihun.”
Mama gue mendengar percakapan tersebut, “Jangan-jangan, kamu anaknya Bu Anu (menyebutkan nama ibunya Farhan). Iya?”
“Iya benar.”

Di luar dugaan, Mama kenal dengan ibunya Farhan. Mereka adalah teman mengaji dan mengenal cukup dekat. Di suatu malam, Mama bilang ke gue, “Mamanya Farhan itu temen baik Mama. Sering curhat-curhatan. Nggak nyangka ya, bisa ketemu begini. Mama sama anaknya temenan baik.”

Gue tersenyum.

***

Setelah UN, entah dalam kegiatan apa di sekolah—gue lupa, gue menyempatkan ke rumah Farhan. Jaraknya nggak terlalu jauh dari sekolah. Di rumah Farhan, gue nontonin Farhan main game Bully. Game yang sangat asing tapi gue sering dengar namanya. Di layar televisi ada seorang anak sekolahan main skateboard di jalan raya. Lalu, dia ngeluarin ketapel. Gue bingung ini mainan apa sebenarnya.

“Mau ke sekolah jam berapa?” tanya gue.
“Nanti aja jam 10,” jawab Farhan.

Farhan kembali memainkan stik kontrolernya.

Mamanya Farhan datang menghampiri gue. “Mau berangkat jam berapa?”
“Kata Farhan jam 10.”
“Oh yaudah. Mama Farhan pamit dulu, ya.”

Gue mencium punggung tangan beliau.

Singkatnya, kami satu sekolah lagi di SMP. Namun kami tidak seakrab dulu karena Farhan telah masuk ke dunia “game”. Setiap hari kerjaannya main Point Blank di warnet terus. Gue, karena nggak punya pegangan hidup saat itu, ikut-ikutan menjadi anak warnet, minimal hari Sabtu gue main Point Blank selama lima jam.

Setelah uang gue terhambur banyak, gue menyadari bahwa gue nggak cocok jadi gamers. Dan gue punya pandangan sinis terhadap gamers.

Karena itu mungkin, gue agak jauh darinya. Farhan bukanlah orang yang gue kenal seperti saat SD dulu. Tapi gue nggak putus hubungan dengan dia. Farhan tetaplah sahabat. Meskipun gue yang memutuskan menjauh darinya. Lebih tepatnya, karena kebiasaannyalah yang membuat gue jauh darinya.

***

Terakhir kali ketemu Farhan saat buka puasa bersama tahun ini. Teman-teman seangkatan SMP berkumpul di sana. Gue berharap teman-teman yang dekat dengan gue datang. Untungnya Farhan datang. Gue cerita banya tentang kehidupan sekolah.

“Gue nggak tahu deh, kalau nggak karena nilai kasihan dari guru, nasib gue udah kayak gimana,” ujar gue.
“Apalagi gue, Bi. Belajar aja nggak pernah.”

Kemudian kita tertawa. Kita saling menertawai nasib di SMA yang kehidupannya lebih keras daripada di SMP. Tawa yang gue rindukan.

Suatu malam dalam perjalanan pulang dari minimarket, gue melihat Farhan di pinggir jalan raya. Dia duduk di atas motor memainkan handphone-nya. Raut wajahnya terlihat seperti menunggu seseorang. Gue hendak memanggil, tetapi sadar bahwa kondisi jalan sedang macet, nggak mungkin gue teriak. Bisa-bisa digetok pengendara motor. Gue lanjut mengayuh sepeda.

Enam tahun gue tidak pernah mengunjungi rumahnya, malam Minggu kemarin gue ke rumahnya. Tiga minggu setelah gue gagal menyapanya.

Gue memarkirkan sepeda fixie merah di depan rumahnya. Ada dua orang bapak yang sedang duduk di kursi hijau.

“Bi.”

“Bi.”

“Bi.”

Tiga panggilan itu membuat gue menoleh ke belakang. Ada Farhan di sana, di depan gerbang kayu rumahnya.

Rumah yang enam tahun tidak gue kunjungi, kini lebih ramai. Nggak banyak perubahan dari susunannya. Warna dinding dengan cat krem masih dipertahankan. Tanaman di sampinya pun masih sama. Mungkin ada satu-dua perubahan di sana.

Farhan tatapannya beda. Tidak seperti Farhan yang biasanya. Tidak seperti Farhan ketika antusias mengerjakan soal Matematika dulu. Tidak seperti Farhan yang gue kenal.

Tatapannya nggak ceria.

“Mama lu udah tahu?” tanyanya.

Gue menangguk.

“Ya udah, masuk. Yang lain udah di dalam.”

Gue duduk di teras rumah Farhan. Ada dua teman SMP di sana. Kacang dihidangkan di atas piring. Orang-orang, yang nampaknya saudara Farhan, membawa tumpukan buku Yasin.

Gue di sini, tidak untuk menonton Farhan main Bully.

Melainkan,
hadir dalam acara tiga harian meninggalnya ibunya Farhan.

Kata terakhir yang pernah gue dengar “Mama Farhan pamit dulu, ya” menjadi kata terakhir, sekaligus kata yang benar-benar menggambarkan keadaan sekarang. Beliau benar-benar pamit. Meskipun nggak mengenal begitu dekat, gue jelas sedih mendengar meninggalnya beliau. Apalagi Mama yang sudah menganggapnya sebagai sahabat.

***

Pasca datang ke rumah Farhan, gue kembali takut.

Takut.

Takut.

Benar-benar takut.

Gue takut akan kenyataan, bahwa kita memang nggak akan selamanya di dunia ini.

Apa pun yang kita miliki rasanya sangat berharga bila ditinggalkan begitu saja. Teman-teman, saudara, sahabat, guru-guru akan kita tinggalkan kelak. Betapa nikmatnya kehidupan di dunia ini membuat gue terlena, hingga lupa bahwa kita akan berakhir dengan kematian. Ambisi, kecewa, bahagia, dan semuanya menutupi kenyataan yang ada.

Kematian memang ada.

Nonton video, baca novel kesukaan, mengerjakan soal-soal hingga tengah malam seperti menjadi tipuan yang kita buat sendiri untuk menghilangkan kenyataan itu. Kenyataan yang kalau kita ingat secara artian lain membuat kita segan untuk merasa hidup.

Gue jadi mikir, bagaimana bila nanti nggak mendapat tempat terbaik di alam akhirat nanti, seperti yang telah dijanjikan-Nya?

Mungkin aku tak pantas menjadi penghuni Surga Firdaus. Namun, aku tidak kuat dengan panasnya api Neraka Jahim.

Terjemahan dari salawat yang akhir-akhir ini sering gue baca menggambarkan keadaan jiwa saat ini. Surga tempat yang tak pantas bagi pendosa seperti gue, tetapi tak sanggup bila ditempatkan di neraka-Nya.

Kemudian gue menemukan titik terang. Manusia memang tempatnya salah dan dosa tak dapat dihindarkan. Perbanyak amal ibadah adalah salah satu cara mengimbangi ketimpangan itu.

Ada perkataan yang berbunyi seperti ini: “Orang yang cerdas adalah orang yang senatiasa mengingat kematian.”

Sebelum ruh tak lagi bersama badan, marilah kita perbanyak amal ibadah dalam rangka menutup akhir tahun. Jadikan momen akhir tahun ini sebagai media perenungan apa saja yang telah kita perbuat sepanjang tahun.
03 December 2016

Reaksi Dari Dihapusnya Ujian Nasional

Apa yang paling ditakuti pelajar selain guru killer? Kebanyakan orang jawab Ujian Nasional.

Setelah sebuah wacana yang cukup menggemparkan muncul di berbagai media, kini ketakutan itu perlahan menghilang. Sebuah wacana berupa penghapusan Ujian Nasional disambut sukacita bagi mereka yang memperjuangkan itu sejak lama. (Walaupun gue nggak tahu kebenarannya ada atau nggak, yang jelas itu kemerdekaan bagi orang-orang penolak UN.)

Wacana ini memberikan gue kebimbangan luar biasa. Kebanyakan orang senang dengan dihapuskannya Ujian Nasional. Sebagian kecil justru sedih. Mungkin mereka yang sedih adalah bandar kunci jawaban. Ya, maklumlah. Ladang usaha mereka berkurang. Akhirnya mereka beralih jadi bandar Kunci Mas. Alias bandar minyak goreng.

(Pada tahu merek Kunci Mas nggak, sih?)

Bila melihat posisi gue sekarang, antara senang atau sedih, gue nggak berada di sana. Di irisannya pun nggak ada. Gue lebih tepatnya nggak masuk ke dalam masalah ini. Gue berada dalam lingkaran permasalahan lain, yaitu “mana yang lebih dulu: ayam atau telur?”. Jadi, seolah-olah gue merasa asing dengan perdebatan ini.

Halah, bodo amat deh. Mau ada UN atau nggak ada, bagi gue sama saja. Ibaratnya tuh begini:

Ini ada Ujian Nasional


Setelah dihapus...


Ya udah. Begitu doang.

Oke deh. Sementara tinggalkan kebimbangan gue terlebih dahulu, barulah nanti gue timbang-timbang sikap apa yang harus diambil. Kayaknya lebih condong ke pihak senang-UN-dihapus.

Jadi, beberapa hari yang lalu gue iseng nanya-nanya ke following gue di Ask.fm secara anonim. Seperti tujuan utama dibuatnya Ask.fm, gue kepo dan penasaran bagaimana mereka (para following gue) dalam bereaksi.

Gue melempar pertanyaan:
Jika Ujian Nasional dihapus, bagiamana reaksimu?

Oke, kalian nggak salah baca. Sewaktu gue melempar ask, memang sudah typo dari sananya. Gue baru sadar kalau itu typo.

Ada sekitar 11 orang yang gue tanya, 8 orang menjawab. Rata-rata jawaban mereka nadanya serius. Gue cukup heran dan kaget membaca jawaban mereka. Entahlah. Mungkin mereka juga kaget tiba-tiba ada pertanyaan yang lebih cocok ada di ulangan PPKN ketimbang di Ask.fm. Biasanya juga ada ask paling mentok; “follback dong qaqa”, “describe me harus lengkap”, “lagi deket sama siapa sih?”.

Untungnya gue nggak menanyakan kepada Niki Setiawan, seorang bloger yang komentarnya terkenal aduhai. Andai dia menjawab, pasti begini bunyinya:

UN dihapus.
reaksi sy gampang kok
ditulis ulang aja
knp repot2
btw, kok tiang bendera nggak pernah senyum y?

Gue pun senang karena dari jawaban mereka nggak ada yang bilang “off anon pls”. Itu contoh anehnya orang main Ask.fm. Nggak mau ditanya secara anonim tapi ngebolehin penanya anonim.

Oke. Nggak perlu berlama-lama lagi, mari kita baca reaksi para netizen.

@Pramillaaa
Reaksi nya sih ya biasa aja tapi seneng jugasih haha. Tapi kalo menurut pendapat aku pribadi sih sebenernya un buat sd dan smp itu penting karna tujuan sd dan smp itu masuk ke sekolah lanjutannya kan nah dengan adanya un bisa dijadikan parameter buat mereka masuk kesekolah mana sesuai dengan kemampuan dan hasil un karna tiap smp,sma itu gak menyediakan tes,iya mungkin ada tapi hanya beberapa sekolah aja. Sedangkan sma tujuannya itu masuk ke ptn/sekolah dinas. Setiap ptn/sekolah dinas masing2 sudah menyiapkan tes kaya sbmptn atau ujian mandiri. Adasih yang gak pake tes iya itu juga gak pake nilai un tapi pake nilai rapot itu juga dari semester 1 sampe 5 untuk jalur undangan. Dengan tidak adanya un tingkat sma sederajat,jadi bisa lebih memfokuskan untuk soal2 sbm ataupun ujian mandiri yang bisa dibilang soalnya mungkin cukup rumit:".
Maaf ya jawabnya panjang x lebar padahal ditanya nya cuma reaksi doang😂 i just wanna express my opinion:)

Komentar gue: SANGAT SETUJU SISTAH!

Menurut gue UN buat SMA dihapus. Tunggu dulu, jangan karena gue SMA terus setuju UN SMA dihapus. Nggak begitu. Gue setuju UN dihapus, asalkan ngapusnya pakai tip ex. Biar bisa dibenerin. Terus sekarang beneran diganti, kan, namanya. Jadi USBN.


Halah, ketularan Niki Setiawankinton Purbasariwangistroberi.

@Mayangsr88

seneng2 aja sih. ga ribet2 mantengin komputer 2jam selama 6hr.
secara disekolah gw kalo jadi UNBK di hari H nanti bakal dibagi 3 ship. pagi siang sore.
mager bgt dah kalo kebagiannya jam sore

Sebagai mantan anak warnet, gue nggak sependapat dengan Mayang. Mantengin komputer dua jam selama enam hari itu bagi gue masih biasa. Soalnya pernah pengalaman main warnet dua jam selama enam hari berturut-turut buat naikin pangkat di Point Blank. Pas ada event pula. Hadiahnya menarik.

Terus, masalah ship (maksudnya shift). Benar banget, kebagian sore itu nggak enak. Sayuran aja yang dijual pagi sampai sore udah nggak bagus, kan? Jadi layu. Pikiran kita pun jadi layu. Udah mikir ke mana-mana. Bukannya mikirin ujian, malah mikirin sayuran layu. Lho, lho, ini gimana maksudnya? Pikiran gue mulai layu, nih.

@Leviani_

Seneng, bersyukur, speechless😂

Yha. Saya juga begitu kok. Next. 

@mitasr
b aja... wkwk paling ganti nama doang. cape diphpin sm gtgtan:( wkwk

...

Ya, gue paham deh sama yang kayak ginian. Terbiasa dikecewakan mah begitu. Bilangnya nggak pake saos, tetep aja dituang. Dasar, kang somay!


***

Terus, gue kepikiran gimana kalau nantinya UN benar-benar dihapus. Pastilah ada hal-hal yang hilang dalam tradisi yang telah mendarah daging.

Berkurangnya orang puasa
Orang-orang yang berpuasa, puasa Senin-Kamis terutama, biasanya punya nazar tertentu sebelum menghadapi UN. Nah, gimana kalau UN nggak ada?

“Lu puasa?”
“Puasa. Nazar UN.”
“Tapi UN dihapus.”
“Gorengan tadi masih ada nggak? Minta.”

Semoga kita tetap berpuasa walaupun UN dihapus dan diganti USBN.


Broadcast message musnah
Pastinya menjelang ujian akan ada orang yang mengirim broadcast minta maaf. Lalu, kalau UN dihapus apakah broadcast message tetap ada? Belum tentu. Tetapi, pesan seperti ini akan selalu ada walaupun UN dihapus:

“Maaf, pulsa Anda tidak mencukupi untuk sms.”

Namanya juga minta maaf.


Makin banyak orang yang berstatus pacaran
Dan terakhir, berbahagialah bila kamu yang punya gebetan saat kelas 12. Mau nembak tapi takut ditolak? Nggak perlu lagi takut ditolak dengan alasan “fokus UN”. Takis sekarang. Sebelum dia punya alasan “fokus USBN”. Tetapi, kalau masih ditolak, berarti tandanya kamu harus “fokus membenahi diri”.

Kata orang-orang, sih, gitu.

Yeah, gue jadi tertarik melibatkan following di Ask.fm. Lucu aja, biasanya seseorang melibatkan followers. Lah gue malah melibatkan following. Ya, karena di Ask.fm kita nggak tahu siapa yang mem-follow kita. Karena gue cuma tahu siapa yang gue follow, ya libatkan saja mereka. Daripada nggak tergerak, gue aja deh yang bergerak. Akhirnya, jadi deh pergerakan iseng ini. Hehehe.

Lebih tepatnya kurang kerjaan.

Apa kesimpulan yang bisa kita dapat dari tulisan ini?

Ya, Robby nggak mau capek. Makanya manfaatin jawaban di Ask.fm buat dimasukin tulisannya biar kelihatan banyak.