09 December 2016

Kontemplasi Akhir Tahun

Dari SD sampai SMA, nggak banyak rumah teman yang pernah gue kunjungi. Gue memang agak segan main ke rumah teman. Banyak faktor yang membuat gue jarang ke rumah teman. Pertama, gue orangnya kaku. Jangankan ke rumah teman, ke rumah saudara saja gue cuma duduk diam atau menonton televisi. Gue takut kejadian itu juga terjadi di rumah teman. Ditanya orang tuanya teman, gue malah cengengesan nggak nyambung.

Kedua (ini alasan yang dibuat-buat), gue takut nggak bisa pulang lagi. Takut nyasar.

Farhan adalah salah satu teman yang rumahnya pernah gue kunjungi. Waktu itu gue lagi deket banget sama dia. Main ke mana-mana bareng. Dan nggak biasanya, Farhan bisa menjadi teman belajar. Sudah terlalu banyak teman gue yang “diajak main ayo, tapi diajak belajar nolak”. Saat itu, cuma Farhan yang mengerti kondisi kita.

Saat itu gue sedang kelas 6. Persiapan UN lagi getol-getolnya.

Selain jarang ke rumah teman, gue juga agak takut mengajak teman-teman ke rumah. Khawatir mereka nggak suka dengan perlakuan keluarga gue. Takut kalau nantinya keburukan keluarga gue mereka ketahui. Takut keluarga atau rumah gue diomongin di belakang. Gue nggak ngerti kenapa sejak dulu gue selalu ingin dilihat sempurna. Padahal sudah menjadi kodratnya bahwa manusia punya kekurangan.

Mama sering bilang, “Kok teman-temanmu nggak pernah main ke sini?” Gue cuma jawab, “Nggak tahu.” Padahal memang karena gue yang nggak pernah mengundang mereka.

Sampai gue kepikiran, andai suatu saat nanti teman-teman gue menikah, mereka akan memberikan undangan kepada gue. Tetapi mereka nggak menemukan alamat gue karena mereka nggak pernah tahu rumah gue. Karena nggak dapat undangan, gue menyesal nggak bisa datang di acara penuh kebahagiaan teman gue.

Lagi-lagi tidak berlaku pada Farhan. Gue cukup yakin kalau Farhan anaknya nggak suka ngomongin orang lain. Gue percaya dia memang sahabat gue, sampai kapan pun.

Siang itu gue menempati musala mes yang gue jadikan tempat belajar. Gue dan Farhan duduk menghadap papan tulis kecil milik gue. Kakak gue mengajari Matematika, pelajaran kesukaan Farhan.

Tetangga gue melihat kami belajar. “Kamu anak Manyar, ya?” tanyanya kepada Farhan.

Farhan menjawab, “Iya.”
“Kamu tinggal di Manyar, sebelah mananya?”
“Dekat pabrik bihun.”
Mama gue mendengar percakapan tersebut, “Jangan-jangan, kamu anaknya Bu Anu (menyebutkan nama ibunya Farhan). Iya?”
“Iya benar.”

Di luar dugaan, Mama kenal dengan ibunya Farhan. Mereka adalah teman mengaji dan mengenal cukup dekat. Di suatu malam, Mama bilang ke gue, “Mamanya Farhan itu temen baik Mama. Sering curhat-curhatan. Nggak nyangka ya, bisa ketemu begini. Mama sama anaknya temenan baik.”

Gue tersenyum.

***

Setelah UN, entah dalam kegiatan apa di sekolah—gue lupa, gue menyempatkan ke rumah Farhan. Jaraknya nggak terlalu jauh dari sekolah. Di rumah Farhan, gue nontonin Farhan main game Bully. Game yang sangat asing tapi gue sering dengar namanya. Di layar televisi ada seorang anak sekolahan main skateboard di jalan raya. Lalu, dia ngeluarin ketapel. Gue bingung ini mainan apa sebenarnya.

“Mau ke sekolah jam berapa?” tanya gue.
“Nanti aja jam 10,” jawab Farhan.

Farhan kembali memainkan stik kontrolernya.

Mamanya Farhan datang menghampiri gue. “Mau berangkat jam berapa?”
“Kata Farhan jam 10.”
“Oh yaudah. Mama Farhan pamit dulu, ya.”

Gue mencium punggung tangan beliau.

Singkatnya, kami satu sekolah lagi di SMP. Namun kami tidak seakrab dulu karena Farhan telah masuk ke dunia “game”. Setiap hari kerjaannya main Point Blank di warnet terus. Gue, karena nggak punya pegangan hidup saat itu, ikut-ikutan menjadi anak warnet, minimal hari Sabtu gue main Point Blank selama lima jam.

Setelah uang gue terhambur banyak, gue menyadari bahwa gue nggak cocok jadi gamers. Dan gue punya pandangan sinis terhadap gamers.

Karena itu mungkin, gue agak jauh darinya. Farhan bukanlah orang yang gue kenal seperti saat SD dulu. Tapi gue nggak putus hubungan dengan dia. Farhan tetaplah sahabat. Meskipun gue yang memutuskan menjauh darinya. Lebih tepatnya, karena kebiasaannyalah yang membuat gue jauh darinya.

***

Terakhir kali ketemu Farhan saat buka puasa bersama tahun ini. Teman-teman seangkatan SMP berkumpul di sana. Gue berharap teman-teman yang dekat dengan gue datang. Untungnya Farhan datang. Gue cerita banya tentang kehidupan sekolah.

“Gue nggak tahu deh, kalau nggak karena nilai kasihan dari guru, nasib gue udah kayak gimana,” ujar gue.
“Apalagi gue, Bi. Belajar aja nggak pernah.”

Kemudian kita tertawa. Kita saling menertawai nasib di SMA yang kehidupannya lebih keras daripada di SMP. Tawa yang gue rindukan.

Suatu malam dalam perjalanan pulang dari minimarket, gue melihat Farhan di pinggir jalan raya. Dia duduk di atas motor memainkan handphone-nya. Raut wajahnya terlihat seperti menunggu seseorang. Gue hendak memanggil, tetapi sadar bahwa kondisi jalan sedang macet, nggak mungkin gue teriak. Bisa-bisa digetok pengendara motor. Gue lanjut mengayuh sepeda.

Enam tahun gue tidak pernah mengunjungi rumahnya, malam Minggu kemarin gue ke rumahnya. Tiga minggu setelah gue gagal menyapanya.

Gue memarkirkan sepeda fixie merah di depan rumahnya. Ada dua orang bapak yang sedang duduk di kursi hijau.

“Bi.”

“Bi.”

“Bi.”

Tiga panggilan itu membuat gue menoleh ke belakang. Ada Farhan di sana, di depan gerbang kayu rumahnya.

Rumah yang enam tahun tidak gue kunjungi, kini lebih ramai. Nggak banyak perubahan dari susunannya. Warna dinding dengan cat krem masih dipertahankan. Tanaman di sampinya pun masih sama. Mungkin ada satu-dua perubahan di sana.

Farhan tatapannya beda. Tidak seperti Farhan yang biasanya. Tidak seperti Farhan ketika antusias mengerjakan soal Matematika dulu. Tidak seperti Farhan yang gue kenal.

Tatapannya nggak ceria.

“Mama lu udah tahu?” tanyanya.

Gue menangguk.

“Ya udah, masuk. Yang lain udah di dalam.”

Gue duduk di teras rumah Farhan. Ada dua teman SMP di sana. Kacang dihidangkan di atas piring. Orang-orang, yang nampaknya saudara Farhan, membawa tumpukan buku Yasin.

Gue di sini, tidak untuk menonton Farhan main Bully.

Melainkan,
hadir dalam acara tiga harian meninggalnya ibunya Farhan.

Kata terakhir yang pernah gue dengar “Mama Farhan pamit dulu, ya” menjadi kata terakhir, sekaligus kata yang benar-benar menggambarkan keadaan sekarang. Beliau benar-benar pamit. Meskipun nggak mengenal begitu dekat, gue jelas sedih mendengar meninggalnya beliau. Apalagi Mama yang sudah menganggapnya sebagai sahabat.

***

Pasca datang ke rumah Farhan, gue kembali takut.

Takut.

Takut.

Benar-benar takut.

Gue takut akan kenyataan, bahwa kita memang nggak akan selamanya di dunia ini.

Apa pun yang kita miliki rasanya sangat berharga bila ditinggalkan begitu saja. Teman-teman, saudara, sahabat, guru-guru akan kita tinggalkan kelak. Betapa nikmatnya kehidupan di dunia ini membuat gue terlena, hingga lupa bahwa kita akan berakhir dengan kematian. Ambisi, kecewa, bahagia, dan semuanya menutupi kenyataan yang ada.

Kematian memang ada.

Nonton video, baca novel kesukaan, mengerjakan soal-soal hingga tengah malam seperti menjadi tipuan yang kita buat sendiri untuk menghilangkan kenyataan itu. Kenyataan yang kalau kita ingat secara artian lain membuat kita segan untuk merasa hidup.

Gue jadi mikir, bagaimana bila nanti nggak mendapat tempat terbaik di alam akhirat nanti, seperti yang telah dijanjikan-Nya?

Mungkin aku tak pantas menjadi penghuni Surga Firdaus. Namun, aku tidak kuat dengan panasnya api Neraka Jahim.

Terjemahan dari salawat yang akhir-akhir ini sering gue baca menggambarkan keadaan jiwa saat ini. Surga tempat yang tak pantas bagi pendosa seperti gue, tetapi tak sanggup bila ditempatkan di neraka-Nya.

Kemudian gue menemukan titik terang. Manusia memang tempatnya salah dan dosa tak dapat dihindarkan. Perbanyak amal ibadah adalah salah satu cara mengimbangi ketimpangan itu.

Ada perkataan yang berbunyi seperti ini: “Orang yang cerdas adalah orang yang senatiasa mengingat kematian.”

Sebelum ruh tak lagi bersama badan, marilah kita perbanyak amal ibadah dalam rangka menutup akhir tahun. Jadikan momen akhir tahun ini sebagai media perenungan apa saja yang telah kita perbuat sepanjang tahun.
03 December 2016

Reaksi Dari Dihapusnya Ujian Nasional

Apa yang paling ditakuti pelajar selain guru killer? Kebanyakan orang jawab Ujian Nasional.

Setelah sebuah wacana yang cukup menggemparkan muncul di berbagai media, kini ketakutan itu perlahan menghilang. Sebuah wacana berupa penghapusan Ujian Nasional disambut sukacita bagi mereka yang memperjuangkan itu sejak lama. (Walaupun gue nggak tahu kebenarannya ada atau nggak, yang jelas itu kemerdekaan bagi orang-orang penolak UN.)

Wacana ini memberikan gue kebimbangan luar biasa. Kebanyakan orang senang dengan dihapuskannya Ujian Nasional. Sebagian kecil justru sedih. Mungkin mereka yang sedih adalah bandar kunci jawaban. Ya, maklumlah. Ladang usaha mereka berkurang. Akhirnya mereka beralih jadi bandar Kunci Mas. Alias bandar minyak goreng.

(Pada tahu merek Kunci Mas nggak, sih?)

Bila melihat posisi gue sekarang, antara senang atau sedih, gue nggak berada di sana. Di irisannya pun nggak ada. Gue lebih tepatnya nggak masuk ke dalam masalah ini. Gue berada dalam lingkaran permasalahan lain, yaitu “mana yang lebih dulu: ayam atau telur?”. Jadi, seolah-olah gue merasa asing dengan perdebatan ini.

Halah, bodo amat deh. Mau ada UN atau nggak ada, bagi gue sama saja. Ibaratnya tuh begini:

Ini ada Ujian Nasional


Setelah dihapus...


Ya udah. Begitu doang.

Oke deh. Sementara tinggalkan kebimbangan gue terlebih dahulu, barulah nanti gue timbang-timbang sikap apa yang harus diambil. Kayaknya lebih condong ke pihak senang-UN-dihapus.

Jadi, beberapa hari yang lalu gue iseng nanya-nanya ke following gue di Ask.fm secara anonim. Seperti tujuan utama dibuatnya Ask.fm, gue kepo dan penasaran bagaimana mereka (para following gue) dalam bereaksi.

Gue melempar pertanyaan:
Jika Ujian Nasional dihapus, bagiamana reaksimu?

Oke, kalian nggak salah baca. Sewaktu gue melempar ask, memang sudah typo dari sananya. Gue baru sadar kalau itu typo.

Ada sekitar 11 orang yang gue tanya, 8 orang menjawab. Rata-rata jawaban mereka nadanya serius. Gue cukup heran dan kaget membaca jawaban mereka. Entahlah. Mungkin mereka juga kaget tiba-tiba ada pertanyaan yang lebih cocok ada di ulangan PPKN ketimbang di Ask.fm. Biasanya juga ada ask paling mentok; “follback dong qaqa”, “describe me harus lengkap”, “lagi deket sama siapa sih?”.

Untungnya gue nggak menanyakan kepada Niki Setiawan, seorang bloger yang komentarnya terkenal aduhai. Andai dia menjawab, pasti begini bunyinya:

UN dihapus.
reaksi sy gampang kok
ditulis ulang aja
knp repot2
btw, kok tiang bendera nggak pernah senyum y?

Gue pun senang karena dari jawaban mereka nggak ada yang bilang “off anon pls”. Itu contoh anehnya orang main Ask.fm. Nggak mau ditanya secara anonim tapi ngebolehin penanya anonim.

Oke. Nggak perlu berlama-lama lagi, mari kita baca reaksi para netizen.

@Pramillaaa
Reaksi nya sih ya biasa aja tapi seneng jugasih haha. Tapi kalo menurut pendapat aku pribadi sih sebenernya un buat sd dan smp itu penting karna tujuan sd dan smp itu masuk ke sekolah lanjutannya kan nah dengan adanya un bisa dijadikan parameter buat mereka masuk kesekolah mana sesuai dengan kemampuan dan hasil un karna tiap smp,sma itu gak menyediakan tes,iya mungkin ada tapi hanya beberapa sekolah aja. Sedangkan sma tujuannya itu masuk ke ptn/sekolah dinas. Setiap ptn/sekolah dinas masing2 sudah menyiapkan tes kaya sbmptn atau ujian mandiri. Adasih yang gak pake tes iya itu juga gak pake nilai un tapi pake nilai rapot itu juga dari semester 1 sampe 5 untuk jalur undangan. Dengan tidak adanya un tingkat sma sederajat,jadi bisa lebih memfokuskan untuk soal2 sbm ataupun ujian mandiri yang bisa dibilang soalnya mungkin cukup rumit:".
Maaf ya jawabnya panjang x lebar padahal ditanya nya cuma reaksi doang😂 i just wanna express my opinion:)

Komentar gue: SANGAT SETUJU SISTAH!

Menurut gue UN buat SMA dihapus. Tunggu dulu, jangan karena gue SMA terus setuju UN SMA dihapus. Nggak begitu. Gue setuju UN dihapus, asalkan ngapusnya pakai tip ex. Biar bisa dibenerin. Terus sekarang beneran diganti, kan, namanya. Jadi USBN.


Halah, ketularan Niki Setiawankinton Purbasariwangistroberi.

@Mayangsr88

seneng2 aja sih. ga ribet2 mantengin komputer 2jam selama 6hr.
secara disekolah gw kalo jadi UNBK di hari H nanti bakal dibagi 3 ship. pagi siang sore.
mager bgt dah kalo kebagiannya jam sore

Sebagai mantan anak warnet, gue nggak sependapat dengan Mayang. Mantengin komputer dua jam selama enam hari itu bagi gue masih biasa. Soalnya pernah pengalaman main warnet dua jam selama enam hari berturut-turut buat naikin pangkat di Point Blank. Pas ada event pula. Hadiahnya menarik.

Terus, masalah ship (maksudnya shift). Benar banget, kebagian sore itu nggak enak. Sayuran aja yang dijual pagi sampai sore udah nggak bagus, kan? Jadi layu. Pikiran kita pun jadi layu. Udah mikir ke mana-mana. Bukannya mikirin ujian, malah mikirin sayuran layu. Lho, lho, ini gimana maksudnya? Pikiran gue mulai layu, nih.

@Leviani_

Seneng, bersyukur, speechless😂

Yha. Saya juga begitu kok. Next. 

@mitasr
b aja... wkwk paling ganti nama doang. cape diphpin sm gtgtan:( wkwk

...

Ya, gue paham deh sama yang kayak ginian. Terbiasa dikecewakan mah begitu. Bilangnya nggak pake saos, tetep aja dituang. Dasar, kang somay!


***

Terus, gue kepikiran gimana kalau nantinya UN benar-benar dihapus. Pastilah ada hal-hal yang hilang dalam tradisi yang telah mendarah daging.

Berkurangnya orang puasa
Orang-orang yang berpuasa, puasa Senin-Kamis terutama, biasanya punya nazar tertentu sebelum menghadapi UN. Nah, gimana kalau UN nggak ada?

“Lu puasa?”
“Puasa. Nazar UN.”
“Tapi UN dihapus.”
“Gorengan tadi masih ada nggak? Minta.”

Semoga kita tetap berpuasa walaupun UN dihapus dan diganti USBN.


Broadcast message musnah
Pastinya menjelang ujian akan ada orang yang mengirim broadcast minta maaf. Lalu, kalau UN dihapus apakah broadcast message tetap ada? Belum tentu. Tetapi, pesan seperti ini akan selalu ada walaupun UN dihapus:

“Maaf, pulsa Anda tidak mencukupi untuk sms.”

Namanya juga minta maaf.


Makin banyak orang yang berstatus pacaran
Dan terakhir, berbahagialah bila kamu yang punya gebetan saat kelas 12. Mau nembak tapi takut ditolak? Nggak perlu lagi takut ditolak dengan alasan “fokus UN”. Takis sekarang. Sebelum dia punya alasan “fokus USBN”. Tetapi, kalau masih ditolak, berarti tandanya kamu harus “fokus membenahi diri”.

Kata orang-orang, sih, gitu.

Yeah, gue jadi tertarik melibatkan following di Ask.fm. Lucu aja, biasanya seseorang melibatkan followers. Lah gue malah melibatkan following. Ya, karena di Ask.fm kita nggak tahu siapa yang mem-follow kita. Karena gue cuma tahu siapa yang gue follow, ya libatkan saja mereka. Daripada nggak tergerak, gue aja deh yang bergerak. Akhirnya, jadi deh pergerakan iseng ini. Hehehe.

Lebih tepatnya kurang kerjaan.

Apa kesimpulan yang bisa kita dapat dari tulisan ini?

Ya, Robby nggak mau capek. Makanya manfaatin jawaban di Ask.fm buat dimasukin tulisannya biar kelihatan banyak.