Reaksi Dari Dihapusnya Ujian Nasional

Apa yang paling ditakuti pelajar selain guru killer? Kebanyakan orang jawab Ujian Nasional.

Setelah sebuah wacana yang cukup menggemparkan muncul di berbagai media, kini ketakutan itu perlahan menghilang. Sebuah wacana berupa penghapusan Ujian Nasional disambut sukacita bagi mereka yang memperjuangkan itu sejak lama. (Walaupun gue nggak tahu kebenarannya ada atau nggak, yang jelas itu kemerdekaan bagi orang-orang penolak UN.)

Wacana ini memberikan gue kebimbangan luar biasa. Kebanyakan orang senang dengan dihapuskannya Ujian Nasional. Sebagian kecil justru sedih. Mungkin mereka yang sedih adalah bandar kunci jawaban. Ya, maklumlah. Ladang usaha mereka berkurang. Akhirnya mereka beralih jadi bandar Kunci Mas. Alias bandar minyak goreng.

(Pada tahu merek Kunci Mas nggak, sih?)

Bila melihat posisi gue sekarang, antara senang atau sedih, gue nggak berada di sana. Di irisannya pun nggak ada. Gue lebih tepatnya nggak masuk ke dalam masalah ini. Gue berada dalam lingkaran permasalahan lain, yaitu “mana yang lebih dulu: ayam atau telur?”. Jadi, seolah-olah gue merasa asing dengan perdebatan ini.

Halah, bodo amat deh. Mau ada UN atau nggak ada, bagi gue sama saja. Ibaratnya tuh begini:

Ini ada Ujian Nasional


Setelah dihapus...


Ya udah. Begitu doang.

Oke deh. Sementara tinggalkan kebimbangan gue terlebih dahulu, barulah nanti gue timbang-timbang sikap apa yang harus diambil. Kayaknya lebih condong ke pihak senang-UN-dihapus.

Jadi, beberapa hari yang lalu gue iseng nanya-nanya ke following gue di Ask.fm secara anonim. Seperti tujuan utama dibuatnya Ask.fm, gue kepo dan penasaran bagaimana mereka (para following gue) dalam bereaksi.

Gue melempar pertanyaan:
Jika Ujian Nasional dihapus, bagiamana reaksimu?

Oke, kalian nggak salah baca. Sewaktu gue melempar ask, memang sudah typo dari sananya. Gue baru sadar kalau itu typo.

Ada sekitar 11 orang yang gue tanya, 8 orang menjawab. Rata-rata jawaban mereka nadanya serius. Gue cukup heran dan kaget membaca jawaban mereka. Entahlah. Mungkin mereka juga kaget tiba-tiba ada pertanyaan yang lebih cocok ada di ulangan PPKN ketimbang di Ask.fm. Biasanya juga ada ask paling mentok; “follback dong qaqa”, “describe me harus lengkap”, “lagi deket sama siapa sih?”.

Untungnya gue nggak menanyakan kepada Niki Setiawan, seorang bloger yang komentarnya terkenal aduhai. Andai dia menjawab, pasti begini bunyinya:

UN dihapus.
reaksi sy gampang kok
ditulis ulang aja
knp repot2
btw, kok tiang bendera nggak pernah senyum y?

Gue pun senang karena dari jawaban mereka nggak ada yang bilang “off anon pls”. Itu contoh anehnya orang main Ask.fm. Nggak mau ditanya secara anonim tapi ngebolehin penanya anonim.

Oke. Nggak perlu berlama-lama lagi, mari kita baca reaksi para netizen.

@Pramillaaa
Reaksi nya sih ya biasa aja tapi seneng jugasih haha. Tapi kalo menurut pendapat aku pribadi sih sebenernya un buat sd dan smp itu penting karna tujuan sd dan smp itu masuk ke sekolah lanjutannya kan nah dengan adanya un bisa dijadikan parameter buat mereka masuk kesekolah mana sesuai dengan kemampuan dan hasil un karna tiap smp,sma itu gak menyediakan tes,iya mungkin ada tapi hanya beberapa sekolah aja. Sedangkan sma tujuannya itu masuk ke ptn/sekolah dinas. Setiap ptn/sekolah dinas masing2 sudah menyiapkan tes kaya sbmptn atau ujian mandiri. Adasih yang gak pake tes iya itu juga gak pake nilai un tapi pake nilai rapot itu juga dari semester 1 sampe 5 untuk jalur undangan. Dengan tidak adanya un tingkat sma sederajat,jadi bisa lebih memfokuskan untuk soal2 sbm ataupun ujian mandiri yang bisa dibilang soalnya mungkin cukup rumit:".
Maaf ya jawabnya panjang x lebar padahal ditanya nya cuma reaksi doang😂 i just wanna express my opinion:)

Komentar gue: SANGAT SETUJU SISTAH!

Menurut gue UN buat SMA dihapus. Tunggu dulu, jangan karena gue SMA terus setuju UN SMA dihapus. Nggak begitu. Gue setuju UN dihapus, asalkan ngapusnya pakai tip ex. Biar bisa dibenerin. Terus sekarang beneran diganti, kan, namanya. Jadi USBN.


Halah, ketularan Niki Setiawankinton Purbasariwangistroberi.

@Mayangsr88

seneng2 aja sih. ga ribet2 mantengin komputer 2jam selama 6hr.
secara disekolah gw kalo jadi UNBK di hari H nanti bakal dibagi 3 ship. pagi siang sore.
mager bgt dah kalo kebagiannya jam sore

Sebagai mantan anak warnet, gue nggak sependapat dengan Mayang. Mantengin komputer dua jam selama enam hari itu bagi gue masih biasa. Soalnya pernah pengalaman main warnet dua jam selama enam hari berturut-turut buat naikin pangkat di Point Blank. Pas ada event pula. Hadiahnya menarik.

Terus, masalah ship (maksudnya shift). Benar banget, kebagian sore itu nggak enak. Sayuran aja yang dijual pagi sampai sore udah nggak bagus, kan? Jadi layu. Pikiran kita pun jadi layu. Udah mikir ke mana-mana. Bukannya mikirin ujian, malah mikirin sayuran layu. Lho, lho, ini gimana maksudnya? Pikiran gue mulai layu, nih.

@Leviani_

Seneng, bersyukur, speechless😂

Yha. Saya juga begitu kok. Next. 

@mitasr
b aja... wkwk paling ganti nama doang. cape diphpin sm gtgtan:( wkwk

...

Ya, gue paham deh sama yang kayak ginian. Terbiasa dikecewakan mah begitu. Bilangnya nggak pake saos, tetep aja dituang. Dasar, kang somay!


***

Terus, gue kepikiran gimana kalau nantinya UN benar-benar dihapus. Pastilah ada hal-hal yang hilang dalam tradisi yang telah mendarah daging.

Berkurangnya orang puasa
Orang-orang yang berpuasa, puasa Senin-Kamis terutama, biasanya punya nazar tertentu sebelum menghadapi UN. Nah, gimana kalau UN nggak ada?

“Lu puasa?”
“Puasa. Nazar UN.”
“Tapi UN dihapus.”
“Gorengan tadi masih ada nggak? Minta.”

Semoga kita tetap berpuasa walaupun UN dihapus dan diganti USBN.


Broadcast message musnah
Pastinya menjelang ujian akan ada orang yang mengirim broadcast minta maaf. Lalu, kalau UN dihapus apakah broadcast message tetap ada? Belum tentu. Tetapi, pesan seperti ini akan selalu ada walaupun UN dihapus:

“Maaf, pulsa Anda tidak mencukupi untuk sms.”

Namanya juga minta maaf.


Makin banyak orang yang berstatus pacaran
Dan terakhir, berbahagialah bila kamu yang punya gebetan saat kelas 12. Mau nembak tapi takut ditolak? Nggak perlu lagi takut ditolak dengan alasan “fokus UN”. Takis sekarang. Sebelum dia punya alasan “fokus USBN”. Tetapi, kalau masih ditolak, berarti tandanya kamu harus “fokus membenahi diri”.

Kata orang-orang, sih, gitu.

Yeah, gue jadi tertarik melibatkan following di Ask.fm. Lucu aja, biasanya seseorang melibatkan followers. Lah gue malah melibatkan following. Ya, karena di Ask.fm kita nggak tahu siapa yang mem-follow kita. Karena gue cuma tahu siapa yang gue follow, ya libatkan saja mereka. Daripada nggak tergerak, gue aja deh yang bergerak. Akhirnya, jadi deh pergerakan iseng ini. Hehehe.

Lebih tepatnya kurang kerjaan.

Apa kesimpulan yang bisa kita dapat dari tulisan ini?

Ya, Robby nggak mau capek. Makanya manfaatin jawaban di Ask.fm buat dimasukin tulisannya biar kelihatan banyak.
 


27 komentar:

  1. Semoga puasanya niat karena Allah ya,, bukan karena UN.. hehe
    Jadi dihapus atau tidak puasa tetap jalan :)

    Benar juga ya, dulu rata2 ketika aku sekolah, bananyak yang putus gara-gara mau UN, fokus UN, fokus belajar. Tapi kalau aku merasakan wacana ini dulu mungkin akan senang, tapi jika UN digantikan dengan nilai sehari-hari biasa saja :)

    Ahh, jadi kangen masa putih abu-abu nih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamin. Semoga begitu, ya, Kang.

      Sekolah lagi, Kang, biar terobati kangennya. :))

      Delete
  2. Itu jawabannya @mitasr apa banget dah:((

    Tahun ini UN beneran udah resmi dihapus ya? Wuah, asique! Tapi (bisa jadi) saat UN udah dihapus, semangat belajar siswa malah makin menurun. Padahal UN itu tantangan yang bisa bikin siswa buat giat belajar siswa, siang-malem berhadapan sama buku blahblah. Intinya, pasti ada pro kontra / positif negatifnya sih. Fiuh, ambil positifnya ajalah (?)

    Hahahah, ngakak sekaligus setuju sama poin-poin hilangnya tradisi-tradisi menjelang ujian, terutama poin terakhir. Udah gak ada lagi alasan "Maaf, aku mau fokus UN dulu." xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa tiap komen, kuselalu typo sih. Hah!-_____-

      Delete
    2. Iya. Setuju banget. Contoh kecilnya aja kalau ulangan harian dihapus, malamnya mana mau belajar. xD

      Wahaha, nggak apa, Kak Novi. Typo berarti manusiawi, dan komentarnya bukan dari robot. (ini ceritanya nyindir commenters spam, lho.)

      Delete
  3. Un dihapus trus jadi usbn?
    Ini di mana diapusnya?
    Ini sih ditambain, kalo un dihapus tuh jadi sb
    .
    Kalo menurut saya sih
    Un diapus atau engga
    Saya masih bisa makan
    Udah gitu j

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Niki Setiawankinton Purbasariwangistroberi.

      Delete
  4. Wkakakaka bangke ya. Copy jawaban dr askfm, trus di paste ke sini.

    Etapi aku setuju juga sih kalo UN dihapus.
    Ngomong-ngomong tentang mutusin pacar pake alasan 'mau fokus UN' aku pernah. HAHAHAHHAHAA

    Eh gataunya, besoknya aku pacaran sama orang lain.
    Mau fokus UN ndasmu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Muahaha, siapa pun yang udah jenuh menjelang UN, pasti pake alasan itu. :D

      Curiga, nih, pacaran sama pengawas ujian. Hmmmm.

      Delete
  5. UN dihapus tapi semua mata pelajaran diujikan, kabarnya gitu, gatau hoax apa engga :/

    Tapi kalo gue liat2 kasian juga anak2 sma sekarang, semenjak terakhir gue lulus (ujian 5 paket) kebijakan soal kelulusan ini ganyi2 mulu. .__.)/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, begitu. Lagi banyak petisi yang di-share di grup-grup kelas. Muahaha.

      Ho-oh. Pengin cepat-cepat lulus aja. Kebijakannya itu lho labil.

      Delete
  6. Jijik banget gue liat foto terakhir lo, hahahaha

    ReplyDelete
  7. Palingan ntar kalau ganti menteri, ganti kebijakan lagi. HIhiih
    Padahal banyak yang setuju kan UN dihapus :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iya, 2019 pemilu lagi. Hadeeeh. Ganti menteri lagi deh. :(

      Delete
  8. UN dihapus tapi diganti USBN itu sama aja gak sih? Mending jangan dihapus deh. Biar tetep ada generasi bangsa yang religius.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju! Biar banyak yang puasa senin-kamis. :))

      Delete
  9. TOLONG NIKI SETIAWANNYA DIKONDISIKAAAAAAN!!!!!!

    Makin aja makin lucu aja nih adik kecilku satu ini. Cukup banyak kalimatnya yang bikin ngakak. Hahahaha. Btw itu yang jawab di ask.fm cewek semua ya? Ah Robby kayaknya cuma modus aja deh nanya soal reaksi UN dihapus. Padahal mah maksudnya pengen ngobrol sama cewek kan? Ngaku deh.

    Nggg.... menurutku sih nggak usah dihapus. Supaya kalian bisa merasakan apa yang kami (yang udah tua ini) dulu rasakan. Deg-degannya itu lho huhuhu. Mhuahahahahahaha aku jahat banget ya 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah, modusku belum cukup alus, ya? Kudu belajar sama masternya nih. Ketangkep basah deh. :(

      Halah. Mau balas dendam atau gimana nih niatnya?

      Delete
  10. UN dihapus tapi terbit yang USBN
    yaelah sama aja, selama masih ada kata ujian bagiku itu belum sepenuhnya tentram

    ReplyDelete
  11. Niki salah apa? Dia kan punya hak untuk menjawab juga, Rob.

    Kalau UN dihapus, ya udah gak apa-apa. Mungkin aja emang UN itu salah bagi sebagian orang. Karena sebagian orang itu maunya NU (Nadhatul Ulama). Apaan!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, iya. Saya lupa ini kan negara demokrasi. Maafkan. :(

      APAAN NEH MAKSUDNYE!

      Delete
  12. dedek emesh Robby, kakak kangen nih X)

    njay Niki Setiawan komennya bikin pengen gaplok soalnya gemes :')

    sebagai guru sih, aku nggak setuju kalau dihapus total. UN kan sebagai acuan assesment hasil pembelajaran siswa secara komprehensif, kalau dihapus-pus-pus, kayaknya bakal ngaruh juga sama standardisasi pendidikan. denger-denger kan bukan dihapus, tapi diganti dengan ujian lain yg validitasnya lebih terpercaya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku jugaa, kak. aaaaaa~

      ketika guru bicara, siswanya cuma manggut-manggut aja. hehehe. hehe. he. h.

      Delete
  13. Kalo di luar sih gak pake un-un-an...
    akhir semester suruh bikin project.
    pendidikan sini ketinggalan sekian tahun :/
    trus pas masuk tingkat sekolah selanjutnya ada tes masuk.
    laaah...sama aja ujian.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.