thumbnail-cadangan
Gue shock berat malam ini. Sebelum Magrib gue sudah menanamkan niat mulia bahwa gue harus Tarawih. Setelah sebelum-sebelumnya gue cuma melakukan Tarawih Nabi Daud (sehari Tarawih, sehari nggak), kali ini gue harus Tarawih untuk menghabiskan waktu tersisa di Jakarta, karena nggak lama lagi mau mudik. Kalo udah di kampung, susah buat gue solat Tarawih. Btw, ada gitu Tarawih Nabi Daud?

Namun niat mulia itu terkikis setelah azan Magrib berkumandang. Gue bener-bener banyak masukin makanan dan minuman ke mulut. Sepertinya kelakuan gue ini dilakukan atas dasar balas dendam, karena saat sahur gue lupa minum. Rasanya benar-benar tersiksa. Kejadiannya, gara-gara keasyikan mantengin timeline Twitter, gue nggak sadar pengumuman imsak telah tiba. Nanti-nanti aja deh minumnya, toh masih boleh, pikir gue saat itu. Ya, tetep aja gue kebablasan. Biar kata masih ada 10 menit, gue keasyikan Twitter-an, akhirnya azan Subuh. Asem bener nggak sempet minum.

Mulai dari sini, kita bisa belajar bahwa orang yang nggak sahur lebih mulia dibanding orang-yang-keasyikan-main-Twitter-lalu-lupa-minum. Nggak memanfaatkan waktu sebaiknya. Oke, ini pelajaran berharga bagi gue. Timeline Twitter hanya untuk orang-orang yang udah sahur secara sempurna.

Gue memantapkan diri berangkat ke musola untuk solat Tarawih. Sampai sana, gue melihat jemaah nggak terlalu memenuhi musola. Berarti, sudah saatnya mengeluarkan pernyataan "Seminggu terakhir Ramadhan jemaah berkurang". Gue langsung mengambil shaf kedua di depan. Tapi tetep aja, shaf terdepan memaksa gue untuk maju. Oke lah, gue maju. Kini posisi gue berada tepat di belakang imam.

Dimulai dengan solat Isya. Begitu selesai, orang di sebelah kiri gue mengubah posisi duduknya menjadi menghadap gue sambil duduk sila. Gue berusaha fokus menundukkan kepala, nggak terpengaruh dengan tatapannya. Mata kiri gue melirik, dia masih menatap gue. Orang itu memakai benda hitam di kepalanya. Bukan peci, tapi semacam kain. Dia masih bertahan pada posisinya. Bentar lagi dia menepuk pundak gue, lalu bilang, "Tidur...."

Ternyata RomyRafael. Nggak ding.

Bener aja, dia menepuk pundak gue. Namun nggak nyuruh tidur, melainkan bilang, "Kamu ke belakang."

Gue bingung. Tadi nyuruh maju, sekarang disuruh ke belakang. Masih mempertahankan wajah nggak percaya, gue mundur ke shaf paling belakang. Orang-orang yang duduk di barisan kedua sampai belakang ngeliatin gue dengan tatapan bertanya-tanya. "Kenapa? Kenapa? Kenapa?" Mungkin itu yang ada di benak orang-orang.

Setelah gue pindah kemudian duduk, si Romy Rafael tiba-tiba melakukan gerakan-gerakan aneh. Seperti guru-guru silat yang sedang mentransfer ilmu ke muridnya. Tangannya bergerak-gerak meniru gerakan silat, kemudian menutup mulutnya. Dengan hentakan sempurna, dia mengeluarkan suara dari mulutnya. "HOOEEKK."

Buset, mau muntah sampe segitunya.

Anehnya, mulut dia sibuk komat-kamit. Harusnya jemaah khusyuk berdoa setelah solat, malah sibuk ngeliatin si Romy Rafael. Tatapan mereka berpindah-pindah. Sesekali ke si Romy Rafaelsebagai pusat perhatian, lalu berpindah ke gue. Bedanya, tatapan mereka ke gue lebih jahat, seolah mengatakan, "Lu apain itu orang sampe mual?" Perasaan pas tadi solat gue nggak ngeluarin angin dari pantat, kok ada yang mual segitu parahnya, ya?

Si Romy Rafael langsung berdiri, keluar musola. Masih dengan gerakan-gerakan silatnya, dia terus-terusan bersuara, "HOEEEEKK... HOEEEEKKK." Ajaibnya, nggak ada suara lanjutan seperti, "SHOOORRRR... BRUUUUT... PSSSTTT." Sama sekali nggak ada yang keluar dari dia.

Lalu dia pindah ke kamar mandi. Di sana gue nggak tau dia ngapain aja (ya iyalah, kurang kerjaan amat nyari tau). Sejak merhatiin semua kejadian-kejadian super menakjubkan ini gue cuma bisa menelan ludah. Muka pucat, keringetan ngucur lumayan deras, badan gemeteran. Sumpah, gue nggak ngapa-ngapain dia tapi merasa bersalah banget.

Gue bimbang ingin melanjutkan Tarawih atau pulang aja. Perut rasanya ikut-ikutan nggak enak. Setelah solat ba'diyah, gue langsung keluar musola, pulang. Begitu keluar, ada temen gue nyapa. "Yee, mau ke mana lu? Nggak Tarawih ya? Parah lu."
Dia nggak ngerti keadaan gue. Gue balas sekenanya aja. "Hehehe, iya. Solat Isya aja. Perut gue nggak enak."

Sampai rumah, gue langsung cerita ke bapak gue. Keliatannya dia nggak ngerti apa yang gue ceritain. Nggak lama kemudian, mama gue dateng dari luar rumah. Gue buru-buru cerita ke beliau. Setalah panjang lebar cerita, dia menyimpulkan banyak hal.
"Udah solat di depan, tapi disuruh ke belakang? Jangan-jangan dia kayak Haji Muhidin," ujar Mama seusai gue cerita kejadian di musola tadi. Dia menambahkan, "Biasanya kan Haji Muhidin bilang, 'Gue ini haji dua kali. Ulil Amri. Orang terhormat di kampung ini," katanya sambil menirukan adegan Haji Muhidin.
"Maunya solat di shaf terdepan terus. Saingannya nggak boleh solat di shaf depan," tambahnya.

Gue menggelengkan kepala. Inilah akibat terlalu sering nonton sinetron, sampai menghubungkan ke dunia nyata. Untungnya dia cuma suka nonton sinetron Tukang Bubur Naik Haji, bukan Catatan Hati Seorang Istri. Bisa-bisa dia drama terus ke semua orang, bahkan ke tukang sayur. "Mas Braaaaam, kangkungnya nggak bisa kurang?!"

Saat menulis ini, gue masih kebayang gimana ekspresinya si Romy Rafael. Kasian banget. Gue bertanya-tanya, apa sebenarnya penyebab dia bisa mual-mual begitu. Dalam benak gue, cuma kepikiran, 1) Ada aura negatif; 2) Kebanyakan makan.

Jangan-jangan dia juga lupa minum pas sahur.

***

Jangan mengira cuma cewek-cewek aja yang suka mengingat-ingat tanggal penting dalam sebuah hubungan (misal: tanggal jadian, tanggal pertama kali nonton bareng, tanggal kematian pasangan), cowok juga begitu. Contohnya gue, yang sangat antusias begitu ingat tanggal 30 Juni. Karena tepat pada tanggal ini, blog gue berulang tahun. Terhitung sudah dua tahun gue curhat di sini. Dari hal remeh, jatuh cinta, patah hati, nyeseknya remedial pernah gue tulis. Gila ya, kalo gue kumpulin semua tulisan di blog dijadiin satu, tebelnya udah ngalahin buku Biologi.

Tidak ada kalimat istimewa untuk tahun ini, cuma banyak-banyak makasih aja. :)

(Makna Tahun Kedua)
Read More »

thumbnail-cadangan
... ketika duitnya kurang.

Gimana nggak salut, bisa menahan malu di antara pembeli yang udah ngantre di belakang. Mereka pasti kesel. Udah lama-lama nunggu, ternyata orang di depannya kekurangan duit. "Ah, kampret. Duit kurang pake segala belanja di sini. Dasar miskin!"

Selain itu, nahan malu di depan kasirnya. Kita cuma bisa liat mbak-mbak Indomaret (gak tau kenapa, gue seneng aja milih "mbak-mbak Indomaret" dibanding "mas-mas Indomaret") senyum-senyum, seolah nggak ada hal buruk terjadi. Padahal, si pembeli nahan malu setengah mati. Setelah pergi, hal busuk terjadi. Mbak-mbak Indomaret bakal ngomongin orang tadi dengan pembeli yang lain sambil ngakak sama-sama. "Hahahaha, ih, lagian sok-sokan mau belanja di Indomaret. Gayanya selangit, ih. Paling cuma ngadem sambil nontonin TV."

Tau, kan, TV yang ada di Indomaret? Itu TV bener-bener bersih tayangannya. Nggak ada acara pembodohan. Ya iyalah, CCTV!

Satu-satunya cara dalam menghadapi kondisi genting seperti ini adalah dengan mengembalikan sebagian barang. Tapi, agak gimana gitu. Kita udah milih lama-lama, waktu tau kenyataan bahwa duit kurang harus dikembaliin. Makanya, setiap kali ke Indomaret gue selalu merhatiin harga, kemudian menghitung kasar jumlah total seluruh barang yang gue ambil. Meleset-meleset dikit paling lebihnya dua ribu. Lebih bijak lagi kayak kakak gue saat masih kecil. Dia benar-benar "menghitung" barang yang dia bawa. Dia udah nenteng kalkulator dari rumah.

Jadi, bisa aja pas dia mau bayar ke kasir, dia bilang, "Cukup!" sambil menempelkan telunjuk ke bibir penjaga kasir. "Semuanya Rp25.450. Ini uangnya," kakak gue mengeluarkan selembar dua puluh ribu, selembar lima ribuan, dan satu keping lima ratus, "kembalian Rp50 nggak usah dikasih. Donasi aja. Ikhlaass."

Kita butuh mengantisipasi hal-hal buruk yang akan terjadi. Kantong aman, nggak malu-maluin amat.

Temen gue pernah kekurangan uang saat di meja kasir. Bedanya dia belanja di Alfamart tapi versi Midi. Ceritanya, dia beli es krim (gue lupa apa rasanya) yang keliatannya enak. Selain itu, dia beli satu makanan. Mungkin atas dasar "asal comot", dia nggak itung-itungan dulu kayak yang gue dan kakak gue lakukan. Lalu, saat dia bawa dua barang itu ke meja kasir, temen gue ini kebingungan. Dia panik. Mendengar kenyataan kalo uangnya kurang seribu kayak menghadapi vonis hakim.
"Kamu dipenjara 12 tahun."
"Buset, itu dipenjara atau wajib belajar?"
Meja kasir sama beratnya kayak meja pengadilan.

Apa yang dia lakukan selanjutnya?

Minjem duit.

Ya, emang anak sekarang mau gaul serba maksa. Demi nyicipin es krim dia rela minjem duit.

#RobbySirik #NggakDibagiEsKrim

Begitulah kenyataannya.

Sampai akhirnya gue ngerasain kekurangan duit pada pembayaran di meja kasir.

Gue selalu beli pulsa Bolt di Indomaret. Belakangan ini, konsumsi gue akan internet membengkak. Berkat propaganda "Youtube lebih dari TV" gue jadi seneng Youtube-an. Seneng-seneng nonton video, tau-tau zero quota. Kuota abis, gue nangis. Nggak punya duit buat beli paket, nggak tega minta duit ke orang tua.

Sampai akhirnya, gue menemukan Rp60.000 terakhir di dompet. "Ah, ini dia harta terakhirku! Bismillah... menuju Indomaret." Kemudian gue memasukkan selembar sepuluh ribuan dan selembar lima puluh ribu ke kantong celana. Gue kayuh sepeda menuju Indomaret dengan berapi-api. Perjuanganku membeli pulsa akan terus berlanjut hingga anak cucuku yang meneruskan tongkat kekuasaan Pemerintahan Rusia.

Di sana, gue nggak banyak basa-basi. Gue sadar tujuan gue cuma beli pulsa, nggak yang lain. Nggak mungkin gue bukain freezer, nyicipin vodka, terus gue pulangin lagi nggak dibeli. Gue langsung menuju meja kasir. Setelah mengantre di belakang satu orang, giliran gue melakukan transaksi.

"Pulsa Bolt," kata gue dengan mantap, lalu menyerahkan kertas berisi nomor tujuan. Sebenernya cara ini bisa aja dipake buat modusin kasir. Tinggal bilang, "Ini, mbak, nomornya. Eh, bener nggak ya? Coba miscall-in dong, mbak." Akhirnya dia miscall, dapet deh nomor mbak-mbak Indomaret. Sayangnya, ini nomor Bolt.

"Yang berapa, mas?"
"50 ribu, mbak." Gue mengeluarkan selembar lima puluh ribuan. Baru aja siap-siap membayar dengan uang itu, mbak-mbak kasir bilang, "Lima puluh ribu lima ratus."
"APAAAAAAA??!" gue kaget. Padahal, gue ingat, 9 hari yang lalu gue beli di tempat yang sama masih lima puluh ribu. Gue nanya untuk memastikan. "Oh, naik lima ratus, ya?"
"Iya, mas." Tampak senyum di wajah mbak-mbak kasir. Dalam benaknya, "Sukurin lu kurang gopek. Dapet duit dari mana coba? Hahaha."
Gue stres, lalu muter otak, dari mana gue bisa membayar kekurangan ini. Muncul opsi di kepala gue:

1) Jadi tukang parkir dadakan
Berhubung di depan Indomaret nggak ada tukang parkir, bisa aja gue bilang ke mbak-mbak kasir, "Mbak," gue menatap matanya dalam, "izinkan saya menjadi tukang parkir sementara di depan sana. Saya mohon. Satu motor saja demi menutupi kekurangan ini."

2. Jual celana
Saat itu, gue pake celana training panjang. Lumayan kalo gue jual celana ini ke kasir dengan harga miring. Yang penting, kekurangan ini tertutupi. Untungnya saat itu gue nggak cuma pake celana pendek. Nanti yang ada, kekurangan uang tertutupi, tapi area pinggang sampe bawah terbuka.


3. Ngemis
Ya udahlah, ini langkah pasrah. Tinggal pulang lagi, ngambil gopekan, selesai deh. Ngapain harus melakukan hal hina seperti ini.

Kemudian gue merogoh kantong. Gue merasakan ada kertas. Oh iya! Gue bawa uang lebih ke sini. Gue serahkan uang itu. Tertutup sudah kekurangan yang ada.

Pelajaran yang dapat dipetik adalah (gila, sok ngasih pesan moral), bawa uang lebih saat belanja ke Indomaret itu penting. Tapi, jangan mentang-mentang bawa uang lebih bisa ngambil barang lebih banyak. Ambil sebutuhnya. <-- Nasehat menjelang lebaran. Asik dah.

Btw, mengenai post sebelumnya, gue mau meralat. Di situ tertulis, "nggak update blog 4 hari, waktu yang terlalu lama nggak update blog." Sekarang gue ralat ya. Gue takut ini malah jadi beban. Karena, bisa aja nanti saat aktif sekolah gue nggak update blog seminggu. Ya, gue berharap tetep bisa update minimal seminggu sekali. Semoga.

Oke, saatnya kita ubah menjadi: "nggak update blog setahun, waku yang terlalu lama nggak update blog."
Read More »

Gue kira bulan Ramadhan ini gue bisa banyak menulis. Kenyataannya gue lebih banyak beribadah di siang hari (baca: tidur siang). Malemnya, sama susahnya. Mau nulis di buku, males. Ngetik di laptop juga sama. Padahal gue udah di depan laptop, tapi nggak langsung nulis. Rasanya ogah ngebuka Word atau nulis langsung di Blogger. Alhasil, daripada terlanjur nyala begitu aja, gue buka Corel Draw. Beginilah jadinya...

Peribahasa.
Di handphone pun begitu. Biasanya untuk di handphone gue nulis diary atau lelucon singkat. Btw, masih ada nggak ya zaman sekarang lelaki nulis diary?

Tapi rasanya emang berat banget. Buka media sosial juga nggak lama-lama. Ini sebenarnya usaha gue dalam mengurangi dan mencoba betah buka browser, nyari-nyari materi UN. Baca pelajaran yang udah lalu, mencoba mengingat kembali. Dan, ternyata susah, lho, buat mengingat materi seabreg gitu. Harus diulang-ulang setiap hari kayaknya.

Jelas, rutinitas begini bikin suntuk. Kalo begini jadinya, biasanya gue bakal ngobrol sama temen. Nah, ini lagi nggak sekolah, otomatis nggak ada temen. Paling, obat dari kesuntukan itu adalah chattingan. Itu pun kalo ada yang sudi. Namun, seorang teman di Facebook ngechat gue siang hari. "Update blog dong.. nggak ada yang dibaca nih."

Astagfirullah... bukannya baca Al Quran, malah nunggu blog yang tak berfaedah ini.

Namun, efeknya jelas pada diri gue. Secara ajaib, gue jadi pengen nulis. Seperti diberi pencerahan dalam hidup. Seolah ada yang membisiki gue, "Pada akhirnya kamu harus menulis. Atau kamu akan dicambuk rasa gelisah teramat besar."

Wow.

Lalu gue lihat terakhir kali update blog. Itu sekitar 4 hari yang lalu. Waktu yang terlalu lama untuk nggak update blog.
Tapi, gue bingung mau nulis apa. Nggak sekolah mematikan ide gue. Tulisan-tulisan dengan ide dasar yang gue anggap emas selalu berasal dari rutinitas sekolah. Nah, sekarang lagi libur, ya seadanya aja deh.

Waduh, kepanjangan nih intronya. Padahal gue cuma mau bilang gue naik kelas 12. Hahaha. *minta digampar*


Hari ini ada pembagian rapor semester genap. Seperti biasa, mama gue yang ngambil rapor. Banyak alasan kenapa gue lebih percaya Mama daripada Bapak untuk ngambil rapor. Salah satunya adalah, mama gue selalu menyampaikan apa yang dikatakan wali kelas dengan benar dan dapat dipercaya. Beda sama bapak gue yang kadang-kadang nyeleneh.

"Kata wali kelasnya, 'Tuh, si Robby pernah ikut tawuran'," kata Bapak kepada gue seusai pengambilan rapor SMP.
Lalu gue membentuk huruf O dengan jari sambil bilang, "O AZA YA KAN."


Buset, lagian ngeri banget kalo wali kelas gue bilang gitu. Kenal juga nggak (iya, ini sakit, lho, nggak dikenal wali kelas). Megang silet aja takut, gimana mau tawuran.

Gue liat rapor gue yang sekarang. Kemudian membandingkannya dengan semester ganjil. Rata-rata nilai gue banyak berubah. Yang naik ada, yang turun banyak. Contoh aja, pelajaran Agama dan PKN. Kedua nilai ini turun. Berarti bisa disimpulkan bahwa, selama semester genap gue menjadi anak nggak bermoral.

Bagi kalian yang nggak tau gimana Robby aslinya, bisa diliat dari post gue selama satu semester ini. Udah berapa kali gue nyerempet nulis ke arah kemesuman. Kalo ternyata apa yang kita tulis menunjukkan bagaimana diri kita, ya kayaknya hampir benar penyataan itu.

Paling disayangkan adalah nilai Bahasa Indonesia gue yang turun 11 poin, dari 91 menjadi 80. Sakit banget ini. Setiap hari belajar EYD agar semakin berkembang tapi nilai di rapor malah turun. Huhuhu. Sekarang gue harus percaya bahwa nilai rapor nggak sepenuhnya bisa menilai proses belajar. Karena, materi EYD di kelas nggak begitu ditekankan. Paling penting, pengetahuan gue tentang EYD semakin berkembang. Btw, apa ya istilahnya EYD yang sekarang? Pernah baca di blognya Darma Kusumah ada nama lainnya gitu.

Untuk pelajaran lu-mati-gua-nikah alias Matematika, sangaaat mengecewakan. Nilai pas KKM. Udah pasti ini mah nilai kasihan dari guru. Kalo aja nilai gue nggak diselametin, duh, nggak naik kelas kayaknya. Masalahnya, nilai Matematika gue keduanya kompakan.

(Untuk yang bener-bener nggak tau, di Kurikulum 2013 ada dua Matematika, Matematika Peminatan dan Matematika Wajib.)

Dari semua nilai-nilai gue yang turun, gue berterima kasih kepada Albert Einsein dan orang-orang sukses yang pernah gagal. Karena berkat mereka, semua anak yang diomelin karena nilai rapor bisa membela diri. "Tenang, Ma. Aku akan mengikuti jejak Einstein. Nilai rapor nggak akan menentukan masa depan."


Selain teori relativitasnya yang dikagumi, cerita kegagalannya sering jadi senjata pembelaan.

Nilai-nilai gue terdengar kacau, ya. Beberapa pelajaran, alhamdulillah, nilainya naik. Mata pelajaran peminatan (pelajaran yang ada di jurusan), misalnya Kimia, Fisika, dan Biologi nilainya naik. Meski naiknya nggak seberapa, tetep bisa dibilang naik. Kata wali kelas gue, lumayan bisa bantu jalur undangan atau SNMPTN.

Dari yang penting dan terpenting adalah, gue naik kelas. Tahun pelajaran 2016/2017 gue akan duduk di bangku kelas 12. Kelas yang sibuk dengan ujian ini-itu. Kelas yang harusnya menjadi panutan. Kelas yang suka melabrak adik-adik kelasnya.

Kalo udah begini, gue udah boleh bilang, "Minggir kalian, junior..." ke anak-anak kelas 10 dan 11.
Read More »

thumbnail-cadangan
Kamu kelas 9 SMP ingin melanjutkan pendidikan ke SMA? Kamu mau masuk jurusan IPA?

Bila jawabannya ya, SELAMAT DATANG DI DUNIA SIHIR, SOBAT!

Hal ini baru gue sadari menjelang akhir kelas 11. Setelah dua tahun belajar di SMA di jurusan IPA, gue banyak menemui keajaiban di jurusan ini. Keajaiban-keajaiban yang, mungkin, nggak akan ditemui di SMP. Jadi bagi kamu yang akan melanjutkan ke jurusan IPA, bersiaplah menghadapi keajaiban yang tak tertandingi!

Sebagai seorang siswa yang selalu mengambil hikmah dari segala kegagalan dan remedial, gue akan menjelaskan bagaimana ajaibnya sekolah di jurusan IPA. Mungkin kamu bisa baca jika ingin tau apa itu keajaibannya.

Matematika
Anggaplah Matematika termasuk bagian dalam jurusan IPA, walaupun di IPS pun ada. Karena dalam Kurikulum 2013, anak-anak jurusan IPA mendapat dua pelajaran Matematika, Matematika Wajib dan Matematika Peminatan. Matematika Wajib semua jurusan mendapatkan, sedangkan Matematika Peminatan khusus bagi anak IPA. Istilahnya, Matematika Peminatan belajar lebih mendalam.

Tapi secara keseluruhan, SAMA AJA! Bikin stres. Ya, namanya juga Matematika, pasti bikin kesel kalo udah capek-capek ngitung ternyata hasilnya nggak ada di option. Ibarat udah lama pedekate, terus nembak, "Kamu mau nggak jadi pacar aku?" Dia jawab, "Dipikir-pikir dulu, ya."

WOY! KAMPRET! "DIPIKIR-PIKIR" NGGAK ADA DI OPTION!

Namun, jangan khawatir. Karena akan ada saatnya soal yang ketemu jawabannya bakal dibahas oleh guru. Guru musik. Ya kagaklah!

Saat guru menjelaskan cara yang dipakai dalam mengerjakan soal, kita cuma bisa nepok jidat, sambil mengumpat, "SIALAN! GUE TAU RUMUS INI!" Begitu guru sudah selesai membahas soal di papan tulis, beliau bilang, "Begini jawabannya. Gitu aja gak bisa," diiringi dengan mengetuk spidol di papan tulis. Kalo yang ucapannya sarkas, "Anak saya yang masih TK juga bisa ngerjain soal kayak gitu."

Sedangkan gue, duduk di barisan belakang, cuma bisa tepuk tangan sambil terkagum-kagum. Seperti menonton aksi pertunjukan Joe Sandy.

Fisika
Beda lagi dengan Fisika yang lebih pelan menghanyukan gue dalam teather of mind. Untuk mengerjakan soal-soal Fisika, kita perlu menganalisis kasus, baru memasukkan rumus yang tepat. Membayangkan bila ilustrasi benar-benar ada. Coba baca soal di bawah.

Sebuah apel terjatuh dari ketinggian 10 meter, menimpa kepala Robby. Massa dari apel tersebut sebesar 500 g. Tentukan energi potensial dari buah apel tersebut?


Kita harus pelan-pelan membaca kalimat demi kalimat. Dalam bayangan kita, apel jatuh menimpa kepala. Cari energi potensialnya. Selesai. Ini tingkatannya masih mudah. Bila ketemu soal yang lebih rumit, kamu harus lebih kritis lagi. Coba baca soal yang kedua.

Sebuah apel terjatuh dari ketinggian 10 meter, menimpa kepala Robby lalu Sabina. (Anggap Robby dan Sabina adalah sepasang kekasih yang sedang makan bakso semangkok berdua.) Massa dari apel tersebut sebesar 1 kg. Coba tentukan:
a. energi potensial dari apel
b. berapa selang waktu teriakan antara Robby dan Sabina
c. berapa desibel suara teriakan keduanya
d. berapa peluang mereka untuk baikan, putus, dan balikan.

Fisika: makin rumit ilustrasinya makin sinting ngerjainnya.

Kesalahan paling sering dialami dalam mengerjakan soal Fisika adalah terlalu rumitnya ilustrasi yang ada, kemudian salah menafsirkan ke dalam rumus. Belum lagi pikiran-pikiran kita yang suudzon membuat bayangan tambah rumit.

"Kalo si Robby sama Sabina pake helm harusnya mereka nggak teriak. Tapi sekarang harga helm lagi naik. Terus, harusnya si Robby beli bakso semangkok lagi, biar efek marahannya menurun. Tapi kalo Robby beli bakso, otomatis duitnya abis. Ini yang seringkali menimbulkan kriminalitas. Ini cuma menimbulkan angka kriminalitas yang membengkak."

Oke, sip... pikiran gue kejauhan. Mungkin, sekarang ini gue terlalu termakan omongan "Coba dong berpikir jauh." Nah, saking jauhnya jadi sering mikir kejauhan (baca: suudzon). Hmmm.

Biologi
Sejujurnya gue nggak ngerti di mana bagian sihir dalam pelajaran Biologi. Tapi, bisa dikatakan bahwa Biologi termasuk pelajaran yang paling sulit. Serajin-rajinnya kamu belajar Biologi, untuk mendapat nilai 9 di ulangan akhir akan sangat sulit. Ibarat sihir, ini adalah mata pelajaran sihir tingkat tinggi. Sulit dikuasai. Kalo ada orang yang bisa tuntas ulangan Biologi, mulai sekarang panggil dia master.

Sihir paling sakti dalam pelajaran Biologi adalah sanggup membuat orang tertawa. Terutama saat materi Sistem Reproduksi. Pelajaran mana lagi yang bisa bikin murid ketawa? Cuma materi ini kayaknya.

Tapi sayangnya, selama tiga tahun sekolah, kamu hanya akan ketawa dalam dua-tiga minggu pertemuan. Sistem Reproduksi harus cepet-cepet diselesain. Takutnya ada praktek-praktek liar.


Dibanding Sistem Reproduksi, momen paling seru dalam belajar Biologi adalah saat membedah hewan. Jangan salah, itu juga butuh sihir. Nggak akan bisa kalo nggak ada mantra-mantra sihir. Anehnya, mantra itu harus diucapkan bersama.

"Lu aja."
"Ih, lu aja ah."
"AH, LAMA LU. Sini kasih gue."

KRAUUKK! Nggak sempet dibedah malah dikunyah, ditelen.

Kemudian seisi kelas muntah berjamaah.

Kimia
Kimia. Oh, ini dia pelajaran yang gue suka. Salahdua alasan gue cinta Kimia terdengar konyol. Pertama, karena gue menaruh rasa hormat yang teramat besar pada guru Kimia kelas 10. Kedua, hanya di dalam Kimia reaksi jatuh cinta bisa dijelaskan secara logis. Jatuh cinta itu proses reaksi kimiawi, katanya. Yang gue baca di internet sih gitu. Kalo di buku pelajaran nggak diajarin.

Sihir-sihir dalam reaksi kimia membuat kita takjub. Yang paling membekas semester ini, adalah dalam percobaa titrasi asam-basa. Ketika larutan natrium hidroksida (NaOH) setetes demi setetes merubah warna fenolftalein (PP)--yang dasarnya berwarna bening-- menjadi merah atau merah muda. Ibarat seseorang, bila terus-terusan diberi perhatian maka warna indikatornya berubah. Dari biasa aja kemudian menaruh rasa. Perhatian-perhatian yang menciptakan kebutuhan itu telah mengubah segalanya.

Buset, baper.

Ya, begitulah sekelumit kesan gue terhadap jurusan IPA. Mungkin di jurusan lain ada juga baper-baperannya. Semisal, "Cinta kita nggak akan lapuk meskipun terhempas erosi pantai. Karena ada hutan bakau yang melindunginya."

Yhaaa, itu hati jadi sarang yuyu kalo begitu mah.

Nggak, maksud gue yang memberi daya tarik dalam jurusan tersebut. Coba kalo ada yang punya kesan selama sekolah di jurusan masing-masing, bolehlah berbagi di komentar.


Oh iya, selamat untuk kelas 9 yang akan memasuki jenjang sekolah lebih tinggi. Hidupmu akan lebih berwarna, kawan, dengan tugas-tugas dan waktu sekolah yang lebih lama. Semakin berkuranglah waktu main kalian. Hahaha, sukurin!
Read More »

thumbnail-cadangan
Untuk remaja yang masih bersekolah SMA kayak gue gini, nggak akan mungkin dapet pertanyaan "kapan nikah?", "kapan nyusul?", dan "kapan punya momongan?". Paling sereceh-recehnya ditanya "kapan punya pacar?". Padahal, untuk saat ini ada satu pertanyaan yang ngeganjel di kepala gue,

"Gimana kalo hidup sendiri nanti? Tanpa orang tua, menyusun hidup penuh kemandirian. Sanggup?"

Jeger.

Pertanyaan itu sering ditanyakan kalo suasana di rumah lagi santai. Mama lagi nonton TV sambil ngelipetin pakaian. Sedangkan gue lagi seru main hape.

"Bi, gimana nanti kalo tinggal sendiri, jauh dari Mama sama Bapak?"
"Ya... begitu," jawab gue sekenanya.
"Jih, gimana tuh?" tanyanya heran.
Gue nggak menjawab lagi. Tangan gue mulai memijit bahunya mengisyaratkan "udah, tenang aja".

Gue orangnya emang nggak mau dibikin pusing. Kalo kenyataan emang gue harus ngekos dan jauh dari orang tua, ya mau nggak mau harus bisa survive. Paling masalahnya cuma ada di kasih sayang dan perhatian aja yang bakal berkurang. Urusan menyambung hidup, harusnya gue bisa mengatasinya.

Ngomongnya enak banget. Ngejalanin aja belum pernah. Huuuuu.

Karena mama gue tau kalo anak bungsunya ini anak yang males ngerjain kerjaan rumah tangga, misalnya nyapu, ngepel, nyuci. Dibilang nggak pernah, hampir iya. Tapi gue pernah kok ngerjain itu semua. Cuma sesekali. Akhirnya jadi nggak lihai karena minimnya jam terbang.

Sebenernya mah males.

Gue rasa kekhawatiran beliau ada di situ. Takut segalanya nggak terurus. Hidup berantakan. Akhirnya frustasi dan bunuh diri dengan benturin kepala ke kran WC.

Akhir-akhir ini Mama sering mengajukan pertanyaan mengenai kemandirian. Yang gue tangkap dari pandangan Mama akan kemandirian adalah bisa nyuci, masak, beres-beres rumah sendiri. Bahkan gue ingat apa aja pertanyaan-pertanyaan darinya, yang gue jawab dengan seenaknya.

1. Kalo nggak bisa nyuci, nanti nyiapin bajunya gimana?
Jawaban gue: Nyuci baju gampang. Rendem aja, terus dijemur.

Kenyataannya, nggak segampang itu. Nyuci itu harus ngelewatin proses ngucek yang bikin emosi terkuras. Belum lagi air sabun yang kadang nyiprat mata. Kalo nggak sabaran, bisa jadi nenggak pemutih tanpa sadar.

2. Masa udah kelas 2 SMA nggak bisa gosok baju. Gimana tuh nanti kalo mau berangkat sekolah bajunya lecek?
Jawaban gue: Gampang itu mah. Taro aja di bawah bantal, nanti juga lurus lagi.

Ditelaah ke masa lalu, mama gue emang pernah ngajarin cara ini. Semisal baju buat besok belum digosok, akhirnya baju itu ditaro di bawah bantal. Katanya, takut paginya mati lampu.

Masalahnya, kalo baju gue selemari, berapa banyak bantal yang harus gue punya? Atau begini: gue tidur di atas tumpukan baju, kemudian gue jadiin kasur.

3. Beneran nggak bisa masak? Nanti kalo laper mau makannya gimana?
Jawaban gue: Warteg banyak, Ma.

Seperti yang gue bilang, gue pernah melakukan semuanya, walaupun jam terbangnya nggak banyak. Sekadar masak air, udah cukup fasih lah. Masak nasi juga udah bisa. Lauknya? Nyalain aja kompor, masak deh mi instan. Kalo pengen ngemil, bikin aja ager.

Bisa disimpulkan, masakan yang gue kuasai cuma nasi, mi instan, agar-agar, aer anget. Santapan malam yang menghambat nafsu makan.

4. Mau nikah usia berapa?
Jawaban gue: 35.

Walaupun nggak termasuk ke dalam pertanyaan mengenai kemandirian, pertanyaan ini sering gue dengar. Emang sih, biasanya buat bercandaan aja. Makanya gue jawab segitu karena bercanda juga. Atau mungkin beliau mau punya cucu lagi? Ah, entahlah.

5. Nikahnya mau sama orang mana?
Jawaban gue: Kazakhstan.

Iya, ini juga. Males deh nanggepinnya.

Ya, mungkin gue nggak terampil dalam urusan rumah tangga. Tapi gue janji akan berubah seiring berjalannya waktu. Karena gue sadar kalo gue nggak berubah, nggak akan ada cewek yang mau sama gue. Hahaha.

(Menjelang 17 tahun begini amat tulisan gue...)

Kalo pengartian dari anak zaman sekarang cenderung ke arah negatif, sepertinya gue layak disebut sebagai anak zaman sekarang.

Hmmm... guru BK mana, nih. Butuh bimbingan.
Read More »

thumbnail-cadangan
Mungkin sudah jadi kepercayaan jemaah di musola deket rumah gue, bahwa semakin muda imam solat Tarawih maka semakin cepet selesainya. Paling cepet pukul 8 selesai. Karena itu, musola deket rumah gue jadi pilihan pertama orang-orang. Lain halnya bila gue pulang solat pukul 8.30, orang di rumah langsung bilang, "Imamnya pasti bukan yang biasanya."

Kayak misalnya beberapa hari yang lalu. Gue pulang solat Tarawih pukul 8.30. Padahal yang menjadi imam itu masih muda. Kenapa bisa begitu?

Setelah solat Tarawih selesai, dan ingin melanjutkan ke solat Witir, seorang lelaki berumur sekitar 60-an, akrab disebut Pak Haji, berdiri di sebelah imam menggenggam mic. Dia ngomong panjang lebar kayak ceramah. "Bagaimana kalo kita solat Tasbih dulu 4 rakaat? Mau nggak?"
Jemaah nggak ada yang jawab. Bisa jadi, mereka tau kemungkinan terburuknya: pulang lebih lama. Karena pulang lebih lama akan menunda waktu makan yang udah direncanakan sebelumnya.

"MAU!" jawab gue penuh semangat di barisan paling depan.
"Ya udah," kata Pak Haji. Lalu dia menyebutkan petunjuk tentang solat Tasbih. Dia memberitahu gimana urutan dan bacaan yang harus dibaca nanti, persis seperti pramugari yang menjelaskan tentang perangkat keamanan di pesawat. Cuma jangan dibayangin aja gimana bentuknya. Pak Haji dengan postur tinggi, bedak yang tebel, dan rok yang aduhai.

Setelah itu, kami semua solat Tasbih. Kali ini imamnya berganti menjadi Pak Haji. Di bulan penuh berkah ini, gue sangat antusias berbuat kebaikan. Ini kali pertama gue solat Tasbih. Yuhuuu!

Solat Tasbih berjalan tanpa masalah. Salam pertama selesai. Kemudian disambung ke salam kedua. Di rakaat terakhir menjelang tahiyat, Pak Haji sangat lama dalam melakukan sujud. Samar-samar gue mendengar suara bising di belakang. Dalam batin gue, "Mungkin karena ini rakaat terakhir jadi diperlama sujudnya." Guru gue di sekolah juga pernah bilang begitu.
Gue berada di shaf paling depan, masih dalam posisi sujud, melirik ke kanan. Ternyata orang di sebelah kanan masih sujud. Di sebelah kiri pun begitu. Gue berada di antara dua orang yang masih sujud. Sampai keduanya bangun dari sujud, gue ikut bangun. Baru saja gue bangun, tiba-tiba,

"Assalamualaikum wa rahmatullah.."

Gue baru aja bangun.

KENAPA UDAH SELESAI?!

Sesuai perhitungan, jelas meleset perbedaan waktu antara gue bangun dari sujud dan imam mengucap salam.

Keluar dari musola, seorang anak SD sekaligus tetangga gue menegur, "Mas, kok tadi sujudnya lama banget? Yang lain udah bangun, kok Mas Robby masih sujud? Hahaha."

Ternyata gue keasyikan sujud. Nggak denger suara speaker dari imam.

Nggak cuma gue, dua orang di sebelah gue juga.

Jadilah kita, Trio Khusyuk Sujud.

(Kalo aja ada yang namanya buku agenda Ramadhan online, gue bakal rajin nulis kegiatan gue di blog. Percayalah!)
Read More »

thumbnail-cadangan
"Udah masuk bulan Ramadan lagi. Tahun kemarin gue ngapain aja, ya?" Begitu seterusnya setiap bulan Ramadan datang. Yang paling diingat, ya, cuma kegiatannya aja. Ngisi buku laporan, main perang sarung, ngisengin temen lagi tidur (mulutnya dimasukin garem), dan lain-lain.


Tapi, kita tidak pernah mengingat bagaimana peningkatan ibadah kita.

Jujur, gue nggak pernah melakukan kegiatan-kegiatan nggak bermanfaat yang gue sebut di atas. Apakah selama Ramadan gue memperbanyak ibadah? Ya, nggak juga. Peningkatannya paling cuma nambah solat Tarawih aja, itu pun jarang. Amalan yang lain terlewat.

Udah, cukup. Ibadah adalah urusan privasi. Kalo udah Ramadan begini, pasti ada beberapa momen yang selalu hadir. Makanya gue selalu ingat.

Kecelakaan
Pernah suatu hari, setelah pulang solat Tarawih, ada bunyi GEBRUKKKK. Bunyinya keras banget, kayak bunyi benturan besi dengan benda keras lainnya. Apakah itu benturan kepala dengan panci happycall, entahlah. Gue, yang masih sibuk menciduk kolak dari panci, segera meninggalkan kolak dan lari ke luar rumah menuju jalan raya. Di situ banyak orang berkerumun, ada yang nanya-nanya, "Ada apa itu?"

Ternyata pengendara motor jatuh. Kata seorang lelaki tua, si pengendara menghindari lubang yang cukup dalam. Si pengendara hilang kendali, terus jatuh deh. Mendapati korban lagi kesakitan di jalan, gue balik lagi ke rumah. Sambil jalan menuju rumah, gue menggerutu, "Halah, paling itu orang nggak solat Tarawih, makanya jatuh dari motor."

Batal makan kolak bikin gue suuzon.

Ini mungkin jadi jenis kecelakaan paling populer di lingkungan rumah gue, tapi gue baru sekali menyaksikan langsung "pengendara motor menghindar dari lubang terus jatuh". Sekali untuk sampai saat ini.

Waktu itu gue lagi jalan, di arus yang lain ada pengendara motor ngebut. Pas di depannya, ada lubang besar. Ban depan langsung membentur ujung lubang, kemudian pengendara, yang nampaknya ibu-ibu, langsung terpental. GUBRAAAAAAK.

Gue menoleh ke belakang, melihat motor tergeletak di jalan. "Oh, gitu doang. Nggak ada seru-serunya" Begitu reaksi gue, kemudian lanjut jalan. Nggak ada rasa simpati sama sekali.

Jalan raya di depan mes emang sering memakan korban. Lampu jalan kadang mati sendiri dan jalan yang berlubang ditambah pohon beringin di sisi jalan bikin suasana semakin menyeramkan. 

Gue lupa kecelakaan ini terjadi saat Ramadan atau bukan, jadi pernah ada lelaki jatuh karena lubang jalan. Orangnya tergeletak, motornya dibawa ke klinik. Ya nggak lah.
Gue nggak sempet jadi saksi, cuma kebagian sisa-sisanya aja. Kaca spion pecah, sampai pecahannya tersebar di jalan. Berdiri di sebelah gue bapak-bapak yang juga tetangga gue. Dia mendekat agak ke jalan, tiba-tiba berposisi ruku'. Dia mengambil sesuatu di bawah, kini di genggamannya ada benda kotak. Ternyata hape cina. Saat itu emang lagi populer hape cina karena ada TV-nya, eh dia ambil. Sial, dia dapet warisan.

Sebenernya masih banyak cerita kecelakaan di lingkungan rumah gue. Saking seringnya nggak mungkin semuanya gue tulis di sini. Yang pasti, setiap Ramadan hampir selalu ada yang kecelakaan. Sekarang, sih, jalannya udah bagus.

Penjual takjil
Ini udah pasti ada di mana pun. Mau di Maroko, Lebanon, Semarang, Benhil pasti ada yang namanya penjual takjil.

Mengenai penjual takjil, ada satu cerita dari tetangga mes yang bikin gue ngakak.

Namanya Galih. Saat itu dia kelas 2 SD disuruh mamanya nyari kolak. Keren juga ini anak, batin gue. Biasanya anak umur segitu emang suka banget ke warung, ngabisin duit mamanya. Sedangkan gue nggak. Waktu gue seumur Galih, gue sama sekali nggak berani pergi ke warung atau beli sesuatu. Alasannya takut duitnya jatuh, nggak bisa bayar, terus dijadiin pesuruh sama pemilik warung. Gue, kelas 2 SD dulu, udah punya pikiran sejauh itu.

Galih berangkat dari rumah naik sepeda. Dia keliling-keliling nyari kolak. Namun, dia pulang nggak bawa apa-apa. Mamanya heran, kenapa bisa nggak dapet kolak. "Kamu beli kolak di mana, sih?" tanya mamanya. "Perasaan di pinggir jalan banyak yang jual."

"Emang iya, ya? Abisnya nggak ada tulisan 'jual kolak', sih," jawab Galih polos.

Ada benernya juga. Hampir semua pedagang kolak nggak nyantumin tulisan "Jual kolak". Tapi, emang harus ada tulisan gitu, ya? Buktinya, ada beberapa usaha nggak pake tulisan tetep laku. Contohnya, mbak-mbak pemuas hasrat. Mereka duduk mejeng begitu aja, tapi orang-orang ngerti kalo yang lagi duduk di depan rumah itu... bukan lagi jualan kolak.

Oke, next poin. Takut kebablasan karena #RobbyMauBerubah


Anak-anak main petasan
Biarpun dianggap pemborosan, tetap aja kalo nggak ada suara petasan di bulan Ramadan ibarat kayang tanpa tangan. Kayak ada yang kurang.

Dari hati yang terdalam, gue akan mengungkapkan fakta paling heboh, bahwa gue nggak pernah main petasan. Jangankan buat berhadapan sama petasan yang meledaknya kenceng, megang kembang api aja nggak berani. Bahkan, gue nggak bisa melakukan hal paling sederhana dari main petasan: nyalain korek. Gue nggak cocok minum (-minuman yang manggil pelayan pake korek).

Ada satu petasan yang paling hits dan dianggap paling canggih. Namanya petasan kupu-kupu. Kata temen-temen gue (iya, ini cuma kata temen-temen. Soalnya gue nggak pernah ikut main), petasan kupu-kupu ini bisa ngejar siapa yang nyalain petasan. Begonya, gue percaya aja. Sekarang, mah, udah mikir. Masa iya petasan bisa ngejar gitu? Kalo petasannya udah dimasukin roh halus (yang menyebabkan santet) kemungkinan benar adanya. Seandainya Amerika tau akan petasan kupu-kupu, pasti mereka bikin versi mirip rudal. Ngejar lawan yang dikehendaki majikannya (orang yang nyalain).

Orang bangunin sahur
Tinggal dekat musola membuat gue jadi pemuda yang religius.

Pemuda yang religius.

Nggak percaya gue juga. Wudu aja kadang lupa. "Perasaan udah ngusap tangan, kok ngusap tangan lagi, ya? Oh, iya, yang tadi tangan kiri. Yang kanan belum."
Jadi orang yang tinggal di deket musola banyak keuntungannya. Selain bisa paling cepet dateng solat berjamaah, kita bisa dapet informasi secara cepat dan jelas. Semua orang bakal mengandalkan speaker musola buat mengumumkan sesuatu. Lagi bulan Ramadan, paling sering dipake buat bangunin orang sahur.

Biasanya, yang bangunin sahur itu orangnya udah tua. Suaranya berat dan ketauan kalo dia sendiri masih ngantuk. Di musola deket rumah gue, cara bangunin sahurnya kurang lebih liriknya begini:
Sahur... sahur sahur sahur sahur sahur. 
Sekali lagi, sahur sahur sahur sahur sahur. 
Ibu-ibu, ayo bangun. 
Siap-siap masak buat sahur. 
Sahur... sahur sahur sahur sahur sahur."

Kalo nggak tau gimana intonasinya, coba dengerin gue bangunin sahur di bawah ini.

Kalo nggak bisa di-play, coba di sini: ROBBY HARYANTO BANGUNIN SAHUR

Begitulah 4 hal yang bisa gue ingat dari bulan Ramadan di daerah rumah gue. Harusnya bisa lebih banyak, tapi nggak inget. Dari judul aja udah ketauan: "Hal yang paling diingat", ya cuma segini aja. Hehehe.

Kalo di daerahmu, gimana suasana Ramadan-nya?
Read More »

Musim bagi rapor segera tiba, banyak orang tua yang mulai menjual perhiasan, menjaga pengeluaran, dan berusaha berhemat karena... ngamplopin guru.

Bagi sebagian orang tua, rapor anaknya adalah harta yang menentukan derajat keluarga di masyarakat. Dua kemungkinan akan terjadi; rapor dengan nilai bagus dan rapor yang-mending-dirobek-aja. Sedangkan bagi pelajar, pembagian rapor akan menjadi hal yang paling membuat jantung berdebar, menanti siapa yang akhirnya banting piring duluan di rumah: Ayah atau ibu.

Melihat semua fenomena pembagian rapor yang ada di masyarakat, Suhu Oy datang untuk meramalkan bagaimana rapor seorang siswa menurut ramalan zodiak. Jangan salah sangka, ucapan Suhu Oy kadang mengandung kebenaran. Ketika ditanya seorang sahabat, "Berapa jumlah dari satu ditambah satu?" Suhu Oy menjawab dengan tenang, "Dua." Sahabat itu membuktikannnya dengan kalkulator, ternyata benar! Suhu Oy sangat berkompeten menjadi guru les.

Dengan bersemedi, Suhu Oy akan meramalkan semuanya. Ini salah satu foto Suhu Oy tertangkap oleh masyarakat sekitar, ketika sedang melakukan ritual di trotoar. Begitu mulianya dia...

Mengkampanyekan hidup sehat dengan turun ke jalan

Suhu Oy melakukan SOTR (Sport On The Road).


Yak, kita mulai saja bagi rapornya, eh, ramalannya.

Capricorn
Para capricorn dikenal sebagai makhluk yang suka tidur dengan kondisi mata terpejam. Selain itu, orang-orang berzodiak capricorn dikenal sebagai orang yang ambisius dan ambeien. Memiliki gengsi tinggi dan teguh pendirian. Orang-orang ini layak bekerja sebagai tiang listrik.

Rapor akhir semester mereka bisa dibilang cukup baik. Ada perbaikan nilai, terutama di bagian kehadiran. Itu semua karena capricorn sangat menjaga pola kesehatan, seperti yang dilakukan Suhu Oy.

Hei, para capricorn, rapor kalian aman. No problemo.

Aquarius
Sepertinya orang berzodiak aquarius akan menjadi juara kelas. Otaknya yang jenius membuat dirinya paling unggul ketika nyontek saat ulangan. Saat yang lain nyontek lewat secari kertas, para aquarius hanya bermodal minum Aqua agar mendapat jawaban.

Rapor kalian aman, tapi perut udah kembung tuh.


Pisces
Kalau aquarius menjadi juara kelas, lain halnya dengan pisces yang justru menjadi yang terbawah. Ini semua karena pola makan yang tak terjaga. Pisces sangat meniru hewan yang menjadi simbolnya, yaitu ikan. Kita semua tau, pisces suka makan pelet. Nah, para pisces mengikutinya. Sangat disayangkan.


Untuk nilai rapor, pisces akan kesulitan berbohong kepada orang tua mereka saat melihat nilainya ancur. Solusi yang bisa diambil: 1) Bilang kalau guru kalian salah tulis; 2) Minta ke orang tua buat pindah sekolah (kalo bisa turun tingkatan, dari SMA ke SMP, maupun seterusnya); 3) Makan pelet untuk mengakhiri hidup.
  
Aries
Aries patut bangga dengan nilai Penjaskes mereka. Perilaku yang enerjik bisa membuat aries mendapat nilai 85 atau lebih pada pelajaran Penjaskes. Sayangnya, karena sering dianggap sebagai siswa nggak waras membuat para pisces dipanggil ke ruang BK. Orang tua yang memiliki anak berzodiak pisces akan mendapat nasehat dari wali kelasnya, "Tolong, ya, Pak. Anaknya kalo ke sekolah jangan disuruh jalan mundur."

Tapi tenang saja, masalah rapor semua nilai pasti tuntas... setelah adanya uang sogokan.

Taurus
Untuk masalah pelajaran eksak, taurus jagonya. Itu semua didapat karena mereka suka ngitung utang. Setidaknya, modal paling mendasar telah dia dapati. Nilai rapor nggak membuatnya pusing. Dia udah tau apa yang harus dilakukan kalau nilai rapornya buruk.

Yaitu, dijadiin ganjelan lemari.

Coba bayangkan sejenak. Lemari yang pintunya rusak adalah benda yang paling nggak berharga. Hewan-hewan seperti kecoa, tikus, dan buaya bisa dengan mudah masuk ke lemari yang pintunya rusak. Dengan diganjel rapor, pintu lemari kembali membaik.

Gemini
Gemini emang paling hebat dalam mengelabui lawan bicaranya. Pembagian rapor adalah bulannya para gemini, membuat nilai rapornya adem-adem aja. Tanpa masalah. Mungkin masalah datang pada saat ngamplopin guru. Duitnya udah abis buat traktir temen-temen. Duit orang tuanya juga abis gara-gara syukuran ulang tahun.

Tapi tenaaaang. Ingat, para gemini pandai menutupi kekurangan. Coba bicara pada wali kelas, genggam tangannya sambil menatap dalam-dalam, kemudian bilang sambil memohon, "Pak, bulan ini saya ulang tahun. Mohon mengerti apa yang dimau oleh orang-orang yang ulang tahun."

Kepala sekolah datang dari belakang, melempar telur. "SELAMAT ULANG TAHUN!"


Cancer
Nggak ada yang tau pasti bagaimana nilai rapor para cancer. Di saat ada yang tuker-tukeran rapor, mereka akan buru-buru pulang. Entah nilai mereka bagus atau buruk, mereka pasti akan langsung pulang.

Soalnya ada tamu di rumah.

Menurut penerawangan Suhu Oy, orang yang berzodiak cancer mendapat nilai-nilai yang cukup baik di pelajaran yang berhubungan dengan moral. Nilai Pendidikan Kewarganegaraan menjadi nilai yang tertinggi. Untuk mencoba kebenarannya, berilah mereka studi kasus yang sedang hangat. Sederhananya, tanyakan kepada mereka, "Apakah lagu Tahu Bulat bisa mendorong seseorang melakukan tindak asusila?"
 
Leo
Leo yang sifatnya cenderung suka marah-marah akan menjadi beringas begitu tau rapornya kacau. Ini penting bagi orang tua yang memiliki anak berzodiak leo, agar memperhatikan emosi anaknya. Turuti setiap permintaan anak, hingga dia lupa nilai rapornya. Kalau dia minta cepat dinikahkan, mohon dipertimbangkan. Jangan sampe jadi bahan pergunjingan di gerobak sayur.

Untuk para pelajar berzodiak leo, sekali lagi diingatkan, segera bayar SPP. Marah-marah mulu, nanti nggak dikasih rapor.

Virgo
Sifatnya yang rajin mendapat nilai tambah. Di kolom rapornya, bahkan ditambahkan kebersihan sekolah, karena suka menyapu sekolah. Ini harusnya ditiru oleh setiap siswa. Virgo orangnya selalu ikhlas, kalo ditonjok aja ikhlas.

Rapor kalian cukup membanggakan. Nilai tertinggi didapatkan di pelajaran Tata Boga. Udah naluri jadi tukang nasi goreng, nggak bisa dibohongi.

Libra
Rasa bimbang yang menghantui para libra membuatnya kewalahan di ujian kemarin. Walaupun nilai rapor mereka bagus pun, tetap saja mereka ragu. Jangan-jangan kalian salah ambil rapor. Kebimbangan ini harus dihilangkan. Cobalah berani mengambil keputusan besar, mau dibakar atau dirobek aja itu rapor. Nyempit-nyempitin lemari. Dikiloin nggak dapet piring. 

Scorpio
Semangat kalajengking membuat para scorpio ikut-ikutan nyengat musuhnya pake pantat. Bukan itu maksudnya. Kegigihannya berbuah hasil. Nilai-nilai di rapor harus dipamerkan ke seluruh warga kampung. Kalo ada yang nggak seneng, buruan sengat!

Hei para scorpio, keluarlah dari sarang.

Sagitarius
Sebenarnya Suhu Oy lupa kalau sagitarius itu termasuk di dalam zodiak. Suhu Oy kira, sagitarius temasuk nama peternakan belalang. Oh, ternyata, saya salah. Maafkan saya.
Menurut penerawangan Suhu yang amat ajaib, ternyata didapatkan bahwa sagitarius termasuk orang yang paling mandiri. Yang lain rapornya diambilin orang tua, dia ngisi rapor sendiri atas kemauannya! Saluto!

Bagaimana bisa begitu?

Mudah saja bagimu.

Mudah saja untukmu.

Andai sajaaaa.. cintamu seperti cintaku.

Yak. Begitulah sedikit ramalan nilai rapor menurut zodiak yang didapatkan dari perenungan Suhu Oy. Semoga membantu dan semoga kalian nggak percaya.

Pesan moral dari ramalan ini: Jangan percaya ramalan. Ingat, bulan keberkahan akan datang. Jalankan ibadah dengan tenang.

#RobbyMauBerubah

*kemudian dikasih jari tengah sama Arap*
Read More »