10 November 2015

Lomba Stand Up Comedy

Seharusnya, post ini gue tulis paling lambat seminggu setelah acara terjadi. Jadi gini, tanggal 13 September lalu, gue ikut lomba stand up comedy. Hampir sebulan baru bisa gue post. Ceritanya nggak basi-basi amat, kok.

***

Berawal dari akun Twitter @ficocacola atau lebih akrab dikenal dengan Fico, gue mendapat info tentang lomba stand up yang diselenggarakan PMI dalam rangka ulangtahun ke-70. Lomba itu diselenggarakan di Museum Nasional. GRATIS! Gue langsung nyiapin materi buat lomba nanti.
H-1 minggu gue nyiapin segala bahan. Berhubung temanya PMI dan gue nggak tau apa-apa soal PMI, gue tanya sana-sini tentang PMI. Sayangnya, orang-orang yang gue tanya mengenai PMI jawabannya nggak memuasakan.

Berbekal nekat, gue berangkat ke Museum Nasional sendirian. Nyasar bodo amat deh. Orang bijak pernah berkata, "Malu bertanya sesat di jalan". Gue siap nanya mas-mas tukang ojek seandainya gue nyasar.
Ternyata, untuk mencapai Museum Nasional sangatlah mudah. Gue kira, buat ke Museum Nasional harus masuk ke gang-gang, harus ngelewatin banyak belokan, ngelompatin lingkaran api, dan sebagainya. Setelah gue googling, Museum Nasional tepat berada di depan Halte Monas.

Singkat cerita, gue sampai pada hari perlombaan. Sebelum berangkat, gue minjem kartu TJ punya bapak gue. Gue nggak enak mau minta uang ongkos ke orangtua, jadinya gue bawa duit sendiri. Jadilah, gue cuma bawa 7 ribu rupiah. Cuma pas buat naik angkot pergi-pulang masing-masing 3 ribu, sisa seribu. Miris.

Gue langsung ke halte Rawa Buaya. Sekitar 10 menit, bus datang. Karena gue masih belum paham perjalanan ke Monas, gue transit di Harmoni. Seharusnya, gue ngambil jurusan ke arah Pulogadung, nanti bisa turun langsung di Monas. Nah, gue malah transit di Harmoni, yang terkenal dengan antreannya panjang. Ya udah, gue harus ngantre.

Ketek gue gerah dan berkeringat selama ngantre. Agak risih juga kalo misalnya orang di sebelah gue tutup hidung terus gara-gara kebauan ketek gue. Kasian dia. 15 menit ngantre, akhirnya gue bisa masuk bus, lebih tepatnya berdiri. Jangan harap bisa dapat tempat duduk setelah ngantre di Harmoni. Pukul 12.00 gue sampai di halte Monas. Keluar dari sana, bencana datang: sendal gue putus! Yak, gue panik setengah mati. Gue mau nyari tukang sol, tapi gue ingat kalo duit gue tinggal 4 ribu, sedangkan 3 ribu buat naik angkot. Fix, nggak ada tukang sol yang mau dibayar dengan seribu rupiah. Oke, karena gue pejuang, gue harus melanjutkan perjalanan.

Gue masuk museum, di sana gue ngeliat ada petugas tiket masuk. Pengunjung lain berdiri di depan loket, lalu ngeluarin duit. Mampus, mereka bayar tiket buat masuk! Gue bingung dengan kondisi duit gue yang cuma bisa buat beli es teh manis doang (itu juga kalo masih dapet seribu!). Panas dingin, mau pingsan aja, tapi ngerepotin pengunjung museum. Biar nggak keliatan mencurigakan, gue nanya ke satpam, "Mas, lomba stand up comedy di mana ya?" Dia langsung ngasih arahan. "Masuk, belok kanan, mentok, di situ".

"Makasih, Mas."

Gue langsung masuk diam-diam. Setelah masuk, nggak ada yang nanyain tiket. Yes! Gue aman.

Setelah nyari di mana tempat lomba dilangsungkan, gue menemui sebuah panggung dengan spanduk besar. Mungkin ini panggungnya.
"Mas, lomba stand up di mana ya?" tanya gue ke seorang berbaju merah dan memegang kamera di tangan kirinya.
"Ini..., lombanya di sini. Nanti daftar ulang jam 1."
"Makasih, mas"

Setelah dapat info yang jelas, selanjutnya gue harus nyari tempat sholat. Gue langsung nyari mushola atau masjid terdekat. Gue nanya petugas. "Mas, masjid deket sini di mana ya?" Dia jawab sambil memperlihatkan gestur seakan mau ngusir, "Musholanya ada di basement."

"Makasih, mas."
Gue ke parkiran. Sholat dzuhur.

Selesai sholat, gue liat-liat koleksi museum. Begonya, gue lupa foto. Kan, kalian ngira gue lagi ngasih berita hoax. Tolong, ya, percaya aja. Gue beneran ikut lomba stand up, kok.

Gue menuju sekitar panggung lagi. Nunggu sekitar 20 menit buat daftar ulang. Setelah tiba waktunya, gue langsung daftar ulang ke panitia. Gue dapat nomor 18, yang berarti gue tampil ke 18. Sebelum duduk, gue dikasih souvenir berupa tas kecil berisi gunting kuku, hand sinitizer, dan tissue. Ada juga satu kotak snack. Lumayan, nih... pulang ah. Udah dapet bingkisan.

Eittts, tujuan gue ke sini mau stand up, bukan nyari bingkisan.

Gue duduk di kursi yang disediakan, bersama peserta lain. Ada orang yang seusia gue duduk di sebelah gue sekitar 5 menit. Datang lagi orang yang lebih besar. Orang yang duduk di sebelah gue nyapa orang yang baru datang. Gue gondok.

"Dari tadi sebelah lo itu orang. 5 menit gue dianggurin aje nggak diajak ngobrol!"

Semua peserta mengisi kursi yang disediakan. Total ada 31 peserta. Kebanyakan anak Jakarta Pusat. Gue sebagai anak Jakarta Barat nggak mau kalah, malah ada yang datang lebih jauh. Dia dari Argentina. Nggak deh, paling jauh dari Depok.

5 peserta maju. Nggak ada yang ngangkat crowd penonton. Padahal ada satu orang yang bagi gue lucu. Tapi, nggak ada yang ketawa. Padahal banyak yang nonton. Kebanyakan anak sekolah lagi lomba PMR. 5 peserta benar-benar bikin anyep suasana. Fico sebagai juri langsung naik panggung, dia ngomong, "Ya, itu tadi 5 sambutan dan kini masuk ke acara lomba sesungguhnya."

Bangke.

Comic keenam perform. Comic keenam bener-bener pecah penampilannya. Katanya, dia anak komunitas Stand up Ciledug. Materinya rapi, act outnya keren. Gue standing applause, dan gue masih kepikiran gimana caranya stand up dengan nyaman kalo sendal gue putus. Beban banget.

Seterusnya, nggak ada yang wow banget. Padahal, materinya udah lumayan bagus, tapi berhubung penontonnya kebanyakan anak SMP, jadi nggak terlalu ditanggepin. Ini yang bikin gue makin nervous

Tiba saatnya gue dipanggil. MC (yang nggak gue kenal namanya) menyebut nama gue. "Wah, anak Kalideres nih. Biasa ngangkutin barang di terminal. Ini dia... Robby Haryanto"

Bangke. Double bangke. Gue kepikiran sendal putus. Gue pengen improvisasi ngomongin sendal putus, tapi udah dipake sama comic sebelumnya... dan gagal. Buang rencana ngomongin sendal.

Bit pertama adalah nyawa. Gue anyep di bit pertama. Bener-bener susah ngangkat ketawa penonton. Fico nggak ngeliatin gue.
Sepanjang penampilan, nggak ada yang ketawa. Udah gitu, gue nge-blank. "Oke, tepuk tangan dulu buat kita semua." 5 menit itu, jadi show tepuk tangan buat gue. Fico nggak ngeliatin gue, sekalinya ngeliat gue malah kayak pengin ngomong "Turun aja, lo, kampret. Lo nggak lucu".

Nggak terasa gue telah menyelesaikan perform selama 5 menit. "Itu si Robby stand up malah pake sendal. Kayak mau kondangan, pake kemeja pula. Pas banget." MC lagi nge-roasting gue.

"Tenang, bro, lu keren," kata abang-abang yang dari tadi duduk di sebelah gue, mencoba menyemangati.
"Iya, bang. Makasih. Duh, nervous banget." Gue duduk, masih merasakan gemetar pada kaki.

Tapi, gue senang bisa nyoba stand up. Biarpun nggak dapat tawa, kesempatan ini bukanlah kesempatan stand up gue yang terkahir. Gue masih akan tetap mencoba dan mencoba. Gagal dan gagal lagi.

Asal jangan sendal gue yang putus. Capek nyari tukang sol.

Bonus foto pas Fico stand up.



08 November 2015

Berobatlah, Jika Engkau Ingin Dapat Surat Izin Dokter

Seminggu yang lalu, gue baru aja ikut acara Science Class yang diadakan di SMAN 94. Awalnya gue nggak ikut acara ini, karena jatah perwakilan dari tiap sekolah cuma 2 orang. Tadinya mau ngirim 4 orang, dan gue ada di dalamnya. Terpaksa gue harus ngalah, ngasih kesempatan buat anak kelas 10.

Kesempatan itu akhirnya kembali datang ke gue setelah anak kelas 10 yang udah ditunjuk ogah-ogahan buat pergi. Jadilah gue dan anak kelas 10 yang pergi.

Tema pada acara itu adalah mengenai elektronika. Gue sangat tertarik pada hal-hal itu. Yang bikin gue makin tertarik dengan acara ini adalah ada kuis nge-tweet tentang acara ini di awal acara. Gue, sebagai manusia doyan nge-tweet, langsung nge-tweet sesuai dengan gaya remaja masa kini: curhat.

Curhatnya sedikit menjilat
Kuis itu diumumkan di akhir acara sebelum penutupan. Gue kaget, nama gue dipanggil sebagai pemenang kuis tersebut. Udah gitu tweet gue dibacain pula.
Gue penasaran, siapa aja yang ikut. Ternyata, cuma gue doang yang ikut. Ada sih peserta dengan hashtag yang sama, cuma lewat Path. Ada yang bener-bener nge-tweet, tapi dari akun ekskul sekolah gue, yang adminnya... gue.


  


Well, gue merasa sebagai pemenang tunggal. Lumayan, lah, dapet hadiah dari panitia acara. Hadiah yang udah lama gue pengen, tapi karena nggak tau namanya makanya nggak pernah beli, dan baru punya sekarang (setelah menang kuis)

Makasih ya atas hadiahnya. Lumayan buat nyatet ide
(atau saat terdesak bisa buat gampar orang)

***

Untuk saat ini, musuh terbesar gue adalah kipas angin. Ya, gue lagi nggak enak badan. Gue sakit. Tiap kali kena embusan angin dari kipas gue langsung merinding. Rasanya ser-seran gitu.

Setelah sekian lama nggak pernah berobat, akhirnya gue kembali berobat ke dokter hari Rabu. Sebenernya, alasan utama gue mau pergi berobat adalah biar dapet surat izin dokter. Udah. Nggak ada niatan suci lainnya.

Gue langsung ke klinik ditemani mama gue. Sampai di sana, gue mendapati tiga orang sedang mengantre. Satu ibu-ibu, suami dari si ibu-ibu, dan bapak-bapak berjaket. Ibu-ibu itu menyuruh gue masuk. Dia baru aja keluar dari ruang periksa dan lagi nungguin obatnya keluar. Nggak lama kemudian, orang dari dalam ruang periksa memanggil. "Ya. Selanjutnya, mas." Bapak-bapak berjaket masuk.

Bapak-bapak berjaket telah keluar dari ruang periksa. Kemudian giliran gue masuk. Mama ikutan masuk.
Begitu masuk ke ruang periksa, ada seorang cewek Chinese, masih muda. Gue rasa, umurnya masih kepala 2. Lalu, timbul pertanyaan,

"Yakin ini dokternya? Gue kira dia lebih pantes jadi personel Cherrybelle."

Cantik banget.

"Ini siapa yang sakit? Mas-nya?" Dokter itu bertanya sambil mengarahkan telunjuk ke arah gue lalu ke arah mama gue.
"Ini, dok, anak saya." Mama gue memegang kedua pundak gue.
"Oh. Silakan duduk."

Gue duduk. Kemudian gue ditanya banyak hal oleh Bu Dokter.

"Namanya siapa, mas?"
"Robby"
"Umurnya berapa?"
"Enam belas"
"Sekarang kelas berapa?"
"Kelas sebelas, dok"

Gue merasa lagi di intervew kerja. Cuma kurang kemeja sama bawa map aja nih.

Dari tadi gue nungguin dia ngasih pertanyaan "Udah punya pacar belum?" Kalo aja dia nanya gitu, langsung gue jawab, "Belum, dok. Kalo dokter aja yang jadi pacar saya gimana?"
Tapi gue sadar kalo seorang dokter nggak boleh pacaran dengan jarum suntik.

"Apa yang dirasain sakit?" Bu Dokter itu kembali nanya, sambil mengambil alat pengukur tensi darah (kita sebut saja tensimeter, karena gue nggak tau nama tepatnya)
"Uhuk."
"Oh, batuk"
"...." tanpa menjawab, Bu Dokter udah tau.
"Terus apa lagi?" Bu Dokter makein tensimeter di tangan gue.
Gue menjelaskan semua rasa sakit yang gue rasa. Bu Dokter masih sibuk memencet bagian tensimeter yang berbentuk balon. Kemudian dia copot dari tangan gue. Lalu beralih sibuk mencatat.

"Oke, coba naik ke kasur buat periksa."
Gue naik ke kasur.
"Coba buka mulutnya," pinta Bu Dokter.
Gue membuka mulut lebar-lebar. Bu Dokter menyalakan senter kecil, kemudian mengarahkan ke mulut gue.
"Coba, bilang 'A' yang panjang"
"AAAAAA....I LOV YUUUU"

Bercanda.

"AAAAA"
"Oh iya, ini radang."

Semua pemeriksaan selesai. Dokter bilang, mungkin gue kecapekan. Emang bener deh, sejak acara Science Class minggu lalu, gue merasa capek banget. Diperparah dengan pola makan gue yang nggak beres. Makan telat, makan makanan berminyak, dan kurang minum.

Yah, mungkin saatnya gue mengistirahatkan diri dengan: tidur seharian di hari Minggu. Plus, batalin semua kerja kelompok. Huehehehehe.

Bukannya biasanya juga begitu, Rob?
Ya, intinya tetap jaga pola hidup sehat. Gue janji setelah pulih nanti akan rajin olahraga. Nggak telat makan dan makan gorengan sesuai porsinya.

Petugas klinik ngasih surat dokter. Gue baca di situ, cuma dikasih libur satu hari. Yah.. tambah jadi tiga hari dong. Penonton kecewa.