thumbnail-cadangan
Ketika menulis post ini, gue masih menahan dan memegangi area organ vital. Jadi ceritanya, gue baru aja pulang sekolah naik angkot. Gue duduk di depan, di sebelah sopir. Berkali-kali angkot berhenti menaiki penumpang. Sampai akhirnya, angkot penuh. Ada lagi penumpang bapak-bapak. Maksa naik duduk di sebelah gue yang dalam posisi terdesak. Mau nggak mau, gue harus sebelahan. baru masuk ke angkot, tiba-tiba...

NYESSSSSS

Ada sesuatu yang menyentuh organ vital gue. Ternyata itu sikut si bapak yang nyasar ke anu gue. Lebih kejam lagi, sikut dari si bapak tertahan dalam posisi yang nggak mengenakkan itu selama 5 detik, sambil berusaha membetulkan posisi duduknya. Padahal cuma 5 detik, tapi terasa sampai 5 jam. Gue nggak nafsu makan setelahnya.

***

Kalau kalian mengira gue adalah seorang yang seru, rame, suka ngelawak, pokoknya anak yang keren, itu adalah salah. Kenyataannya, gue adalah seorang yang pemalu, minderan dan pendiam. Gue akan menuliskan beberapa uneg-uneg yang gue rasakan akhir-akhir ini. Ada yang dari sudut pandang secara luas, ada yang secara pribadi (kebanyakan sih pribadi). Yeah, mulai.
1. Orang-orang pendiam sering dianggap sombong karena jarang mau nyapa teman/kakak kelas. Dalam hati yang terdalam, kami ingin.
Gue pernah diginiin sama seseorang. Ketika itu dia bilang ke gue, "Rob, lu sombong banget sama gue, kalo ketemu nggak pernah nyapa." Bukan mau gue ngediemin lu, tapi gue nggak bisa nyapa duluan. Kesannya, gue dianggap kayak tukang bakso; mau nyamperin kalo dipanggil dulu.
2. Orang pendiam cuma bisa nahan pipis sampai jam istirahat tiba. Malu minta izin ke guru.
Ini berat banget. Sumpah. Itu yang sering gue alami. Kalo ada teman mau ke toilet, gue bakal ngikut, terus yang minta izin ke guru teman gue.
3. Mereka, para pendiam, cuma bisa jadi obat nyamuk di diskusi kelompok. Mau ngasih pendapat, takut salah. Diam saja, pilihan terbaik.
Gue minder dengan pendapat gue sendiri. Bagi gue, pendapat yang ada di benak sulit rasanya direalisasikan di diskusi kelompok. Akhirnya, gue terkesan cuma numpang nama doang di kelompok.
4. Ketika semua orang ngobrol, kerjaan gue cuma satu: diam, sampai teman-temannya yang ngobrol ikutan diam.
Yah... dalam hati, gue mau banget diajak ngobrol. Kalo gue ikutan nimbrung, disangka sok asik. Serba salah.
5. Gue hanya mampu mengamati, nggak berani mengeksekusi.
Misalnya, ketika ada eksperimen, gue nggak berani buat mengeksekusi. Tugas gue cuma mengamati, tapi apa yang terjadi? Gue nggak berani menyampaikan hasil pengamatan.
6. Orang-orang pendiam seringkali dianggap "nggak ada" di dalam kelas.
Ini cuma faktor suara. Suara kami hanya kurang terdengar. Ya, itu memang karena kita jarang bersuara
7. Orang-orang pendiam sering dianggap bermuka dua; seru ketika bersama orang yang dia kenal dan jaim dengan orang yang kurang dia kenal.
Bukan kami pilih-pilih teman, tapi kami malu memulai dengan orang baru. Kami selalu punya ketakutan dicap sebagai orang sok asik.
8. Menjadi penampil, adalah keinginan terbesar dalam dirinya.
Itu cita-cita terbesar gue.

Sejujurnya, menjadi seorang pendiam itu nggak enak. Beruntung gue punya blog, tempat di mana gue bisa menempatkan ide dan mengasah kreativitas.

Begitulah uneg-uneg yang bisa gue sampaikan. Semoga gue bisa menjadi pendiam di kondisi semestinya: diam di saat ada orang yang sedang bergunjing.

PS: UAS MENDEKAT!!! Tanggal 1 Desember gue mulai UAS.
Read More »

Kalo kalian ada yang sering mampir ke blog gue, pasti kalian sering ngeliat di bagian popular post ada post berjudul Stand up Comedy Jakarta Barat. Waktu itu gue benar-benar iseng bikin post, cuma karena gue mengagumi komunitas stand up yang ada di Jakarta Barat ini, daerah tempat gue tinggal. Nggak disangka, banyak banget yang baca. Terakhir kali gue liat di statistik pada 23 November 2015 pukul 20.43, udah 5.700-an viewers, ngalahin popular post nomor dua yang cuma 2300-an.

Efeknya, blog gue dikira info tentang komunitas stand up Jakbar. Sampai ada yang mention di Twitter kayak gini:


Gue pun masih dalam tahap belajar, walau minim open mic. Jangan tanya gue. Akhirnya gue suruh dia tanya ke komika stand up Jakbar.

***

Udah jadi keinginan lama gue mau jadi gemuk. Minimal berisi lah. Nggak enak aja gitu, kalo punya badan kurus. Tiap kali tangan gue kepentok meja, bunyinya kenceng banget. Saking nggak ada daging. Lebih bahaya lagi kalo kalo gue jadi pemain smackdown. Pas The Rock mau niban gue, The Rock malah kesakitan karena abis nubruk tulang.
Gue heran, padahal kerjaan gue cuma satu: males-malesan. Gue nggak ngelakuin kegiatan yang benar-benar nguras tenaga, apalagi pada hari Minggu.
Makan - nonton TV - ketiduran - bangun - nyari toples - makan kue sampai ketiduran. 
Gitu-gitu aja kerjaan tiap hari Minggu.
Yang jadi masalah adalah setiap kali toples yang gue buka ternyata nggak ada isinya, gue bakal menggila dalam keadaan ini. Gimana nggak, gue mau gemuk, tapi nggak ada camilan yang bisa dimakan. Otomatis, sifat kebinatangan gue muncul: memakan segalanya yang ada di hadapan.

Mungkin kalian berpikiran bahwa gue akan memakan batu, daun kering, pot, tikus, kecoa, uang rakyat. Bukan seperti itu yang gue makan. Atau ngubek-ngubek tempat sampah untuk nyari makanan sisa. Itu bukan gue banget. Gue cenderung buka lemari dan tempat-tempat tersembunyi lainnya yang sekiranya ada makanan di situ. Apa aja yang bisa gue dapatkan di sana? Berikut ini yang akan membuat gue brutal jika menemui mereka..

1. Sambal
Orang Indonesia mayoritas maniak sambal, termasuk gue. Tapi setiap kali mama gue bikin sambal, pasti nyisa. Sisa sambal itu disimpan sampai 3 hari di meja makan, setelahnya baru dibuang. Karena setelah 3 hari, sambal itu kemungkinan besar basi. Nggak enak aja kalo misalnya gue lagi nyocol gorengan ke sambal, tiba-tiba gue keracunan.

"Seorang Pemuda Keracunan Sambal. Mulutnya Berbusa Sambil Mangap-mangap berteriak, "MANA AIR!!! MANA AIR! AIR! AIR! PEDES BEGO!"

Gue akan gila jika ada sambal. Apa pun yang bisa gue colek pake sambal, pasti gue makan. Kerupuk, gorengan, bahkan roti pun gue pakein sambal. Kalo benar-benar nggak ada bahan yang bisa dicolek, gue nyolek sambel pake tangan, terus diemut. Nggak sampe ketelen, kok.

2. Gula merah
Makanan manis adalah makanan yang paling aman dalam dunia kuliner. Kalo pun ada yang manis berlebihan, pasti dibilang, "Kamu terlalu manis buat aku."

Lalu nyanyi lagu Slank - Terlalu Manis.

Apa ini? Skip.

Dari pengamatan yang gue lakukan waktu kecil, banyak anak-anak seusia gue saat itu suka ngemutin gula merah di tongkrongan. Main gundu, ngemut gula merah. Main tamiya, ngemut gula merah. Cuma pas makan nasi uduk aja nggak sambil ngemut gula merah.

Kebiasaan itu terbawa sampai gue sekarang. Gue seringkali ngemutin gula merah tengah malam, pas nggak ada makanan dan lapar kronis. Gue takut kalau gue menjadi maniak gula merah. Tiap kali main ke rumah teman, kebetulan tuan rumah nyediain klepon, lalu gue teriak dengan semangat 45 ngorek-ngorek isi klepon. "Tenang, sayang. Kamu selamat di tanganku. Akan kumakan kau secara terpisah."
3. Mi instan
Mi instan. Makanan murah meriah bikin sakit parah. Udah banyak studi kasus yang menyatakan kalo mi instan nggak bagus buat kesehatan. Yang katanya bikin radang usus, hipertensi, kesemutan, jomblo menahun, itu semua bikin kita nggak pernah takut untuk mengkonsumsinya.

Gue pun begitu. Di saat lapar, lalu gue menemui mi instan, gue akan bertindak kreatif.  Yang ada di otak gue saat megang sebungkus mi instan adalah:

"Enaknya direbus atau diremekin?"

Walaupun murahan, harus tetep ada varian. Akhirnya gue remekin dengan alasan biar makannya lama. Setelah itu, gue kena panas dalam.

4. Bumbu penyedap
Setuju nggak kalo bumbu itu penting dalam masakan? Kalo nggak ada rasanya pasti hambar, kan? Ibarat pelajar, kalo nggak pernah kena getok guru rasanya gimana gitu.

Biasanya bumbu-bumbu penyedap bakal ada di toples kecil. Gue, dalam kondisi brutal, langsung nyamperin toples-toples itu. Gue buka, lalu gue tempeli jari telunjuk gue di dalamnya. Rasanya.... ughhhh... kaldu ayam.

Kemudian, gue sariawan.

5. Mentega
Gue pernah nonton acara kartun Little Krishna. Di suatu episode, si Krishna ngerecokin warga yang bawa sekendi mentega. Dia makan mentega itu yang lagi ditinggal sama si warga itu. Eh, karena keenakan, si Krishna ngabisin.

Kalo nggak salah gitu deh ceritanya. Pokoknya Krishna makanin mentega rakyat.

Gara-gara itu, gue ikut-ikutan makan

***

Segitu aja yang sering gue makan. Ada yang punya bahan makanan lain? Gue kekurangan refrensi nih. Bantu gue biar nggak lapar :(
Read More »

Salah satu cara untuk meringankan beban pikiran adalah dengan main game. Bagi sebagian orang, game yang seru adalah game yang punya jalan cerita, tamatnya lama, dan harus mikir keras. Contohnya Grand Theft Auto San Andreas (kecuali kalo main berdua. Paling cuma ngincer ciuman doang antar player).
Sedangkan, sebagian orang beranggapan bahwa game yang seru adalah game yang langsung selesai, bikin penasaran nggak perlu lama-lama buat nyelesain jalan cerita, misalnya Flappy Bird.

Tapi gue bingung dengan konsep game yang butuh mikir keras. Tujuan nge-game adalah biar pikiran santai, eh ada banyak orang yang main game jenis itu. Gue juga males main game yang langsung selesai. Yang pertama kali timbul di benak gue adalah "Apaan nih game, langsung selesai. Gini aja?".

Bosen dengan game yang itu-itu aja, gue mendapat saran dari seorang teman.
"Ayok, Bi. Main inian," kata teman sambil menunjukkan layar handphone-nya.
"Apaan tuh?"
"Duel Otak. Ayolah."
"Oke, dah," kata gue mengangguk. "Tapi..."
"Nggak ada kuota buat install?"
"Nah... itu."

Duel Otak harus dimainkan dengan internet. Jadi kalo nggak ada kuota internet, ya, mending beli dulu deh. Kalo nggak ada duit beli kuota, beli buku TTS aja. Sama-sama ngasah otak, kok.
Akhirnya gue dikasih file game Duel Otak. Tinggal gue install, gue coba main deh. Sebenarnya, gue masih ada kuota, tapi emang dasar gue yang pelit buat ng-install.

"Anjir, seru juga nih game."

Begitulah kata-kata yang keluar dari mulut gue setelah menang melawan teman gue. Baru nyoba main aja langsung menang. Gue mulai kecanduan dengan game ini.
Sampai akhirnya...

"Kampret! Kalah tipis!" Gue refleks melempar handphone ke bantal. Untung masih nyala.

Iya, gue kalah. Tapi tetap nggak membuat gue kapok main. Gue terus-terusan main, sampai ada pemberitahuan kalau game ini ada batasan duel. Hanya versi premium yang nggak ada batasan mainnya. Teman gue menyarankan gue untuk install ulang. Kemudian dia ngasih file yang katanya merupakan Duel Otak Premium. Gue nggak tau dia dapat dari mana, yang penting gue bisa main versi premium dan tanpa batasan berduel. Yiahahaha~

Begitu tau nggak ada batasan duel, tiap sejam sekali gue ngecek hape. Bawaannya pengen ngejawab soal di Duel Otak. Giliran ketemu soal ujian sungguhan, bawaannya pengen ngerobek soal kecil-kecil.

Promo username Duel Otak gencar gue lakukan. Semuanya sama; "Lawan gue ya di Duel Otak. Usernamenya: robby_h". Untung ini cuma Duel Otak, bukan Duel Otot di kehidupan nyata. Bisa-bisa gue dibikin bonyok sama preman.

Kayaknya Duel Otak telah membuat gue kecanduan dengannya. Tiba-tiba gue merasa kalo game ini adalah perpaduan antara game GTA San Andreas dan Flappy Bird; butuh mikir dan ngetes kesabaran.

Permainan Duel Otak bisa nambah wawasan gue--yang hanya setingkat dengan udang. Apalagi kalo main game dengan kategori Jelajah Ilmu. Ada beberapa materi pelajaran yang muncul di pertanyaan Duel Otak. Makanya, sekarang gue jadi rajin nyatet apa yang dibilang guru. Buat antisipasi sewaktu-waktu muncul di Duel Otak. Kan sayang banget kalo nggak kejawab. Gue juga takut kalo ternyata soal yang pernah muncul di Duel Otak dikeluarin lagi di Ujian Akhir Semester nanti.

Dari keseruannya, tiba-tiba gue merasa permainan Duel Otak menjadi menakutkan. Gue merasa Duel Otak berubah genre menjadi game fighting strategy. Kalo main kurang pake strategi, pasti ada "fight" setelahnya.

Gue nggak menyangka, kalau game Duel Otak bisa bikin orang main sindir-sindiran. Ada beberapa teman gue setelah main Duel Otak langsung ngeledek satu sama lain. Tapi, mereka masih nyindir dengan santai dan bercanda. Misalnya "Lu pasti belum belajar ya sebelum lawan gue.", "Lu kurang minum nih.". Berbeda dengan sindiran yang gue terima.


Ini salah satu duel yang terparah selama gue main Duel Otak. Ceritanya, gue duel dengan orang secara acak, dan gue kalah telak. Nggak lama kemudian, si lawan nge-chat gue. (Kebetulan, di Duel Otak ada yang namanya fitur chat).

APA BENAR, YA ALLAH??

Setelah membaca berita dan melihat track record gue di Duel Otak, gue merasa menjadi manusia payah. (Beritanya gue baca di sini Para Netter Ini Justru Sukses Setelah Di-PHK)

Ya, pokoknya gue lagi doyan main Duel Otak. Kalo mau lawan, cari aja "robby_h". Jangan lupa, mode klasik, karena mode taktis nggak seru. Hahahaha.

PS: semua hal menakutkan akan datang di akhir tahun. Awal Desember gue akan UAS. Dua minggu kemudian, domain gue harus diperpanjang dan uang gue masih kurang banyak.
Doakan gue bisa melewati semua ini dengan baik.
Read More »

Hari Kamis minggu ini, gue baru kali pertama ngecek golongan darah. Ya, kali pertama. Sebelumnya gue nggak pernah ngecek golongan darah.

"Berarti lu belum pernah sakit, ya, Bi?" tanya seorang teman setelah gue bilang belum pernah periksa golongan darah.
"Udah pernah lah, gila! Masa manusia nggak pernah sakit," jawab gue penuh kekesalan.
"Maksudnya sakit parah gitu."
"Belum pernah, sih. Palingan cuma masuk angin sama badan panas."
"Cemen banget lu!"

Kata orang-orang, periksa darah itu harus disuntik terlebih dahulu. Selama ini, gue dikira takut jarum suntik karena belum pernah periksa goldar. Sebenarnya gue berani disuntik, cuma nggak pernah ada kesempatan aja. Ketusuk jarum pentul aja gue cuma teriak 2 detik doang.

Setelah selesai ngecek goldar masing-masing, anak-anak di kelas langsung keranjingan ngomongin golongan darah. Sebelum ngobrol, wajib hukumnya foto hasil periksa goldar. Gue nggak mau kalah dong.

(O)-h, ya udah
 
"Eh, kalo A itu begitu, lho. Harus hati-hati. Begini... begini.. begini," kata seorang teman yang gue duga dia pemilik akun official Golongan Darah di LINE.
Gue cuma nyimak pembicaraan mereka.
"Kalo rhesus-nya minus, kemungkinan anak kedua untuk hidup itu sulit."

Ini orang sotoy amat. Garis kematian itu ada di tangan Allah, kok dia yang ngatur-ngatur? Gue mulai kesel dengan orang-orang yang ngomongin goldar. Gue kesel, tiba-tiba nimpali sekumpulan teman-teman yang lagi asyik ngobrolin goldar.

"Kalo goldar lu B, berarti..."
"...." teman-teman serius memperhatikan gue.
"BAPAK LO COWOK!"
"Bodo amat!"

Gue diusir.

Belum ditambah lagi dengan teman-teman gue yang suka nyampah di timeline LINE. Seperti yang kita ketahui semua para pengguna LINE, ada satu akun official namanya Golongan Darah. Jadi, akun ini sering bikin status tentang kepribadian orang-orang golongan darah, mirip ramalan zodiak. Akun ini sering banget muncul di timeline gue, padahal gue nggak nge-add.

Misalnya dengan status yang baru gue cek pagi ini.
#AB lagi demen sama satu lagu yang artinya baru dapet dicerna. Daritadi kaga ganti lagu, mendalam ya?
Sotoy amat~ Siapa tau dia nggak ganti lagu karena emang cuma punya satu lagu?

Pada lain hari, gue pernah baca statusnya begini:
Golongan darah #A kalo nonton TV cuma buat hiburan.
Ya iyalah, kampret! Orang yang nggak punya darah sekali pun pasti kalo ditanya "Apa tujuan lo nonton TV?" pasti dia bakal jawab cuma buat hiburan. Nggak ada yang jawab, "Gue sedang mengejar passion dari nonton TV."

Kalo bikin status yang normal-normal aja, lah.

Waduh, kok gue jadi kesel gini, ya? Untuk fans dari Golongan Darah, maafkan gue. Gue cuma sedang mengeksploitasi idola kalian. Maaf...

Untuk itu, gue membuat tandingan di status LINE.
Goldar #A
Kayaknya kecapekan adalah faktor utama badan nge-drop. Kurang-kurangin kegiatan nguras laut ya.

Goldar #O
Hari ini kamu butuh istirahat. Temukanlah variasi istirahat, seperti tidur sambil bergantung layaknya kelelawar
Udah oke, kan, gue jadi admin akun Golongan Darah?

Balik lagi ke keheranan gue dengan apa serunya ngomongin goldar. Gue masih nggak ngerti dengan obrolan tentang goldar. Biasanya mereka ngobrolin kepribadian orang yang dihubung-hubungkan dengan goldarnya. Dan gue, nggak pernah tertarik dengan obrolan macem itu.

Bagi gue, kepribadian seseorang itu bisa diliat dari seberapa sering kita bertemu dengan orang itu. Jangan mentang-mentang modal nanya "Golongan darah lu apa?", terus tiba-tiba kita nge-judge dia dengan kesotoyan. "Oh, goldar lu A, berarti lu seorang penculik." Nggak bisa begitu.

Btw, kalo goldar O itu orangnya sotoy nggak sih? Daritadi gue merasa sotoy ngomongin goldar, sedangkan... gue nggak tau apa-apa soal goldar. Ah, ya sudahlah.

PS: Gue seneng banget, ada orang bermodel rambut sama seperti gue, kini merambah layar kaca. Pasti kita semua tau Raditya Dika. Benar, kini rambut dia botak. Yeah, orang yang memiliki 12 juta follower Twitter kini berpihak pada gue. Akhirnya, gue bisa dapat pembelaan ketika ada yang ngejek kepala gue.
"Hahaha botak. Mana rambut lu?"
"Tenang, gue nggak sendirian. Ada Raditya Dika yang juga botak."
"Iya, pantes. Lu ada persamaannya kayak dia."
"Apa?"
"ALAY! HAHAHAHA."

Tapi, banyak buangeeeeet perbedaannya

Kiri: dikerumuni cewek | Kanan: dikerumuni semut rangrang

Jelas bedanya.

Demi apa pun, gue lagi random banget hari ini.
Read More »

Seharusnya, post ini gue tulis paling lambat seminggu setelah acara terjadi. Jadi gini, tanggal 13 September lalu, gue ikut lomba stand up comedy. Hampir sebulan baru bisa gue post. Ceritanya nggak basi-basi amat, kok.

***

Berawal dari akun Twitter @ficocacola atau lebih akrab dikenal dengan Fico, gue mendapat info tentang lomba stand up yang diselenggarakan PMI dalam rangka ulangtahun ke-70. Lomba itu diselenggarakan di Museum Nasional. GRATIS! Gue langsung nyiapin materi buat lomba nanti.
H-1 minggu gue nyiapin segala bahan. Berhubung temanya PMI dan gue nggak tau apa-apa soal PMI, gue tanya sana-sini tentang PMI. Sayangnya, orang-orang yang gue tanya mengenai PMI jawabannya nggak memuasakan.

Berbekal nekat, gue berangkat ke Museum Nasional sendirian. Nyasar bodo amat deh. Orang bijak pernah berkata, "Malu bertanya sesat di jalan". Gue siap nanya mas-mas tukang ojek seandainya gue nyasar.
Ternyata, untuk mencapai Museum Nasional sangatlah mudah. Gue kira, buat ke Museum Nasional harus masuk ke gang-gang, harus ngelewatin banyak belokan, ngelompatin lingkaran api, dan sebagainya. Setelah gue googling, Museum Nasional tepat berada di depan Halte Monas.

Singkat cerita, gue sampai pada hari perlombaan. Sebelum berangkat, gue minjem kartu TJ punya bapak gue. Gue nggak enak mau minta uang ongkos ke orangtua, jadinya gue bawa duit sendiri. Jadilah, gue cuma bawa 7 ribu rupiah. Cuma pas buat naik angkot pergi-pulang masing-masing 3 ribu, sisa seribu. Miris.

Gue langsung ke halte Rawa Buaya. Sekitar 10 menit, bus datang. Karena gue masih belum paham perjalanan ke Monas, gue transit di Harmoni. Seharusnya, gue ngambil jurusan ke arah Pulogadung, nanti bisa turun langsung di Monas. Nah, gue malah transit di Harmoni, yang terkenal dengan antreannya panjang. Ya udah, gue harus ngantre.

Ketek gue gerah dan berkeringat selama ngantre. Agak risih juga kalo misalnya orang di sebelah gue tutup hidung terus gara-gara kebauan ketek gue. Kasian dia. 15 menit ngantre, akhirnya gue bisa masuk bus, lebih tepatnya berdiri. Jangan harap bisa dapat tempat duduk setelah ngantre di Harmoni. Pukul 12.00 gue sampai di halte Monas. Keluar dari sana, bencana datang: sendal gue putus! Yak, gue panik setengah mati. Gue mau nyari tukang sol, tapi gue ingat kalo duit gue tinggal 4 ribu, sedangkan 3 ribu buat naik angkot. Fix, nggak ada tukang sol yang mau dibayar dengan seribu rupiah. Oke, karena gue pejuang, gue harus melanjutkan perjalanan.

Gue masuk museum, di sana gue ngeliat ada petugas tiket masuk. Pengunjung lain berdiri di depan loket, lalu ngeluarin duit. Mampus, mereka bayar tiket buat masuk! Gue bingung dengan kondisi duit gue yang cuma bisa buat beli es teh manis doang (itu juga kalo masih dapet seribu!). Panas dingin, mau pingsan aja, tapi ngerepotin pengunjung museum. Biar nggak keliatan mencurigakan, gue nanya ke satpam, "Mas, lomba stand up comedy di mana ya?" Dia langsung ngasih arahan. "Masuk, belok kanan, mentok, di situ".

"Makasih, Mas."

Gue langsung masuk diam-diam. Setelah masuk, nggak ada yang nanyain tiket. Yes! Gue aman.

Setelah nyari di mana tempat lomba dilangsungkan, gue menemui sebuah panggung dengan spanduk besar. Mungkin ini panggungnya.
"Mas, lomba stand up di mana ya?" tanya gue ke seorang berbaju merah dan memegang kamera di tangan kirinya.
"Ini..., lombanya di sini. Nanti daftar ulang jam 1."
"Makasih, mas"

Setelah dapat info yang jelas, selanjutnya gue harus nyari tempat sholat. Gue langsung nyari mushola atau masjid terdekat. Gue nanya petugas. "Mas, masjid deket sini di mana ya?" Dia jawab sambil memperlihatkan gestur seakan mau ngusir, "Musholanya ada di basement."

"Makasih, mas."
Gue ke parkiran. Sholat dzuhur.

Selesai sholat, gue liat-liat koleksi museum. Begonya, gue lupa foto. Kan, kalian ngira gue lagi ngasih berita hoax. Tolong, ya, percaya aja. Gue beneran ikut lomba stand up, kok.

Gue menuju sekitar panggung lagi. Nunggu sekitar 20 menit buat daftar ulang. Setelah tiba waktunya, gue langsung daftar ulang ke panitia. Gue dapat nomor 18, yang berarti gue tampil ke 18. Sebelum duduk, gue dikasih souvenir berupa tas kecil berisi gunting kuku, hand sinitizer, dan tissue. Ada juga satu kotak snack. Lumayan, nih... pulang ah. Udah dapet bingkisan.

Eittts, tujuan gue ke sini mau stand up, bukan nyari bingkisan.

Gue duduk di kursi yang disediakan, bersama peserta lain. Ada orang yang seusia gue duduk di sebelah gue sekitar 5 menit. Datang lagi orang yang lebih besar. Orang yang duduk di sebelah gue nyapa orang yang baru datang. Gue gondok.

"Dari tadi sebelah lo itu orang. 5 menit gue dianggurin aje nggak diajak ngobrol!"

Semua peserta mengisi kursi yang disediakan. Total ada 31 peserta. Kebanyakan anak Jakarta Pusat. Gue sebagai anak Jakarta Barat nggak mau kalah, malah ada yang datang lebih jauh. Dia dari Argentina. Nggak deh, paling jauh dari Depok.

5 peserta maju. Nggak ada yang ngangkat crowd penonton. Padahal ada satu orang yang bagi gue lucu. Tapi, nggak ada yang ketawa. Padahal banyak yang nonton. Kebanyakan anak sekolah lagi lomba PMR. 5 peserta benar-benar bikin anyep suasana. Fico sebagai juri langsung naik panggung, dia ngomong, "Ya, itu tadi 5 sambutan dan kini masuk ke acara lomba sesungguhnya."

Bangke.

Comic keenam perform. Comic keenam bener-bener pecah penampilannya. Katanya, dia anak komunitas Stand up Ciledug. Materinya rapi, act outnya keren. Gue standing applause, dan gue masih kepikiran gimana caranya stand up dengan nyaman kalo sendal gue putus. Beban banget.

Seterusnya, nggak ada yang wow banget. Padahal, materinya udah lumayan bagus, tapi berhubung penontonnya kebanyakan anak SMP, jadi nggak terlalu ditanggepin. Ini yang bikin gue makin nervous

Tiba saatnya gue dipanggil. MC (yang nggak gue kenal namanya) menyebut nama gue. "Wah, anak Kalideres nih. Biasa ngangkutin barang di terminal. Ini dia... Robby Haryanto"

Bangke. Double bangke. Gue kepikiran sendal putus. Gue pengen improvisasi ngomongin sendal putus, tapi udah dipake sama comic sebelumnya... dan gagal. Buang rencana ngomongin sendal.

Bit pertama adalah nyawa. Gue anyep di bit pertama. Bener-bener susah ngangkat ketawa penonton. Fico nggak ngeliatin gue.
Sepanjang penampilan, nggak ada yang ketawa. Udah gitu, gue nge-blank. "Oke, tepuk tangan dulu buat kita semua." 5 menit itu, jadi show tepuk tangan buat gue. Fico nggak ngeliatin gue, sekalinya ngeliat gue malah kayak pengin ngomong "Turun aja, lo, kampret. Lo nggak lucu".

Nggak terasa gue telah menyelesaikan perform selama 5 menit. "Itu si Robby stand up malah pake sendal. Kayak mau kondangan, pake kemeja pula. Pas banget." MC lagi nge-roasting gue.

"Tenang, bro, lu keren," kata abang-abang yang dari tadi duduk di sebelah gue, mencoba menyemangati.
"Iya, bang. Makasih. Duh, nervous banget." Gue duduk, masih merasakan gemetar pada kaki.

Tapi, gue senang bisa nyoba stand up. Biarpun nggak dapat tawa, kesempatan ini bukanlah kesempatan stand up gue yang terkahir. Gue masih akan tetap mencoba dan mencoba. Gagal dan gagal lagi.

Asal jangan sendal gue yang putus. Capek nyari tukang sol.

Bonus foto pas Fico stand up.



Read More »

Seminggu yang lalu, gue baru aja ikut acara Science Class yang diadakan di SMAN 94. Awalnya gue nggak ikut acara ini, karena jatah perwakilan dari tiap sekolah cuma 2 orang. Tadinya mau ngirim 4 orang, dan gue ada di dalamnya. Terpaksa gue harus ngalah, ngasih kesempatan buat anak kelas 10.

Kesempatan itu akhirnya kembali datang ke gue setelah anak kelas 10 yang udah ditunjuk ogah-ogahan buat pergi. Jadilah gue dan anak kelas 10 yang pergi.

Tema pada acara itu adalah mengenai elektronika. Gue sangat tertarik pada hal-hal itu. Yang bikin gue makin tertarik dengan acara ini adalah ada kuis nge-tweet tentang acara ini di awal acara. Gue, sebagai manusia doyan nge-tweet, langsung nge-tweet sesuai dengan gaya remaja masa kini: curhat.

Curhatnya sedikit menjilat
Kuis itu diumumkan di akhir acara sebelum penutupan. Gue kaget, nama gue dipanggil sebagai pemenang kuis tersebut. Udah gitu tweet gue dibacain pula.
Gue penasaran, siapa aja yang ikut. Ternyata, cuma gue doang yang ikut. Ada sih peserta dengan hashtag yang sama, cuma lewat Path. Ada yang bener-bener nge-tweet, tapi dari akun ekskul sekolah gue, yang adminnya... gue.


  


Well, gue merasa sebagai pemenang tunggal. Lumayan, lah, dapet hadiah dari panitia acara. Hadiah yang udah lama gue pengen, tapi karena nggak tau namanya makanya nggak pernah beli, dan baru punya sekarang (setelah menang kuis)

Makasih ya atas hadiahnya. Lumayan buat nyatet ide
(atau saat terdesak bisa buat gampar orang)

***

Untuk saat ini, musuh terbesar gue adalah kipas angin. Ya, gue lagi nggak enak badan. Gue sakit. Tiap kali kena embusan angin dari kipas gue langsung merinding. Rasanya ser-seran gitu.

Setelah sekian lama nggak pernah berobat, akhirnya gue kembali berobat ke dokter hari Rabu. Sebenernya, alasan utama gue mau pergi berobat adalah biar dapet surat izin dokter. Udah. Nggak ada niatan suci lainnya.

Gue langsung ke klinik ditemani mama gue. Sampai di sana, gue mendapati tiga orang sedang mengantre. Satu ibu-ibu, suami dari si ibu-ibu, dan bapak-bapak berjaket. Ibu-ibu itu menyuruh gue masuk. Dia baru aja keluar dari ruang periksa dan lagi nungguin obatnya keluar. Nggak lama kemudian, orang dari dalam ruang periksa memanggil. "Ya. Selanjutnya, mas." Bapak-bapak berjaket masuk.

Bapak-bapak berjaket telah keluar dari ruang periksa. Kemudian giliran gue masuk. Mama ikutan masuk.
Begitu masuk ke ruang periksa, ada seorang cewek Chinese, masih muda. Gue rasa, umurnya masih kepala 2. Lalu, timbul pertanyaan,

"Yakin ini dokternya? Gue kira dia lebih pantes jadi personel Cherrybelle."

Cantik banget, men.

"Ini siapa yang sakit? Mas-nya?" Dokter itu bertanya sambil mengarahkan telunjuk ke arah gue lalu ke arah mama gue.
"Ini, dok, anak saya." Mama gue memegang kedua pundak gue.
"Oh. Silakan duduk."

Gue duduk. Kemudian gue ditanya banyak hal oleh Bu Dokter.

"Namanya siapa, mas?"
"Robby"
"Umurnya berapa?"
"Enam belas"
"Sekarang kelas berapa?"
"Kelas sebelas, dok"

Gue merasa lagi di intervew kerja. Cuma kurang kemeja sama bawa map aja nih.

Dari tadi gue nungguin dia ngasih pertanyaan "Udah punya pacar belum?" Kalo aja dia nanya gitu, langsung gue jawab, "Belum, dok. Kalo dokter aja yang jadi pacar saya gimana?"
Tapi gue sadar kalo seorang dokter nggak boleh pacaran dengan jarum suntik.

"Apa yang dirasain sakit?" Bu Dokter itu kembali nanya, sambil mengambil alat pengukur tensi darah (kita sebut saja tensimeter, karena gue nggak tau nama tepatnya)
"Uhuk."
"Oh, batuk"
"...." tanpa menjawab, Bu Dokter udah tau.
"Terus apa lagi?" Bu Dokter makein tensimeter di tangan gue.
Gue menjelaskan semua rasa sakit yang gue rasa. Bu Dokter masih sibuk memencet bagian tensimeter yang berbentuk balon. Kemudian dia copot dari tangan gue. Lalu beralih sibuk mencatat.

"Oke, coba naik ke kasur buat periksa."
Gue naik ke kasur.
"Coba buka mulutnya," pinta Bu Dokter.
Gue membuka mulut lebar-lebar. Bu Dokter menyalakan senter kecil, kemudian mengarahkan ke mulut gue.
"WAH TEMBUS NIH! BACAN!"

Nggak, Bu Dokter nggak ngomong gitu. Ya kali Bu Dokter doyan moles batu akik juga.

"Coba, bilang 'A' yang panjang"
"AAAAAA....I LOV YUUUU"
Bercanda.

"AAAAA"
"Oh iya, ini radang."

Semua pemeriksaan selesai. Dokter bilang, mungkin gue kecapekan. Emang bener deh, sejak acara Science Class minggu lalu, gue merasa capek banget. Diperparah dengan pola makan gue yang nggak beres. Makan telat, makan makanan berminyak, dan kurang minum.

Yah, mungkin saatnya gue mengistirahatkan diri dengan: tidur seharian di hari Minggu. Plus, batalin semua kerja kelompok. Huehehehehe.

Bukannya biasanya juga begitu, Rob?
Ya, intinya tetap jaga pola hidup sehat. Gue janji setelah pulih nanti akan rajin olahraga. Nggak telat makan dan makan gorengan sesuai porsinya.

Petugas klinik ngasih surat dokter. Gue baca di situ, cuma dikasih libur satu hari. Yah.. tambah jadi tiga hari dong. Penonton kecewa.
Read More »

Seharusnya, post ini gue publish semalem. Berhubung gue ketiduran, jadilah baru post hari ini. Plus, kondisi tubuh gue yang lagi nggak fit membuat gue nggak sempet nyentuh laptop. Benar sodara-sodara, gue sedang sakit. Makanya, hari ini gue nggak sekolah. Ini aja baru pulang berobat.

Sama seperti nasib post ini, seharusnya gue berobat kemarin siang. Berhubung tidurnya pules banget, gue baru bisa berobat pagi ini. Emang ya, kalo lagi sakit apa aja serba tertunda.


***

Sebelumnya gue pernah bilang kalo gue lagi ada di acara Bulan Bahasa. Klik di sini.

Hari Kamis tanggal 29 Oktober 2015, gue sedang berada di kursi paling belakang acara puncak Bulan Bahasa. Mendengarkan MC sedang mengumumkan pemenang lomba drama. Ngomongin tentang lomba drama, kelas gue juga ikut. Tepatnya 3 hari sebelum acara puncak.

Sejak jauh hari, gue udah menyiapkan konsep untuk drama yang mau ditampilkan nanti setelah gue ditunjuk sebagai penulis naskah drama. Ya, untuk kali ini, gue nyoba jadi penulis naskah drama. Tenang, di sini nggak ada adegan ciuman kok.

Tema drama yang diangkat adalah tentang anti-korupsi. Waduh, gue nggak tau apa-apa soal anti-korupsi.
Untuk memecah kebuntuan, gue nyoba browsing. Kayaknya seru nih kalo gue bikin anti-korupsi di lingkungan sekolah. Lagian gue nggak ngerti soal korupsi yang ada di pemerintahan besar atau perusahaan.

Tema udah gue dapat. Gue langsung konsultasi ke temen-temen yang ikut drama. Semua juga setuju. Saatnya nulis!

Dalam menulis naskah, gue dibantu Wahyu, temen gue yang punya ide liar. Dia yang paling antusias begitu mendengar kalo di drama nanti ada adegan jotos-jotosan

"Lu kan meranin anak bandel, gimana kalo ada adegan pukul-pukulan?"
"Adain dong. Nanti gue yang nonjok kan?"
"Iya"
"Yes"
"...."

Kenapa dia seneng banget? Mau drama atau niat mencelakakan orang lain?

Setelah naskah selesai, barulah masuk ke latihan pertama (dan terakhir). Walaupun setelah latihan pertama masih ada latihan lagi, gue ngerasa latihan selanjunya nggak serius. Paling calon-calon nggak jadi tampil ini mah.
Biar lebih menjiwai, temen-temen membawa adegan di drama ke kehidupan nyata. Contohnya, ketika gue dan temen-temen ngumpul, Giyats datang ala adegan drama

"Hai, bro." Kemudian Giyats tos-tosan dengan kami. Ini sesuai dengan adegan drama scene 2. Oke, teman-teman gue mulai menganggap sungguhan drama ini.

***

Begitu hari H lomba, kami mulai nggak yakin dengan drama kami. Banyak alasan kami nggak yakin dengan drama ini. Pertama, kami kurang latihan. Kedua, kurang latihan. Ketiga, emang kurang latihan. Intinya, kami minim persiapan dan latihan. Pokoknya, gue nggak mau tampil drama.

Jam 2 ada pengundian nomor tampil. Gue kira, nggak ada yang nomor undian. Ternyata, Seila--teman gue yang ikut drama--udah turun ke bawah ngambil nomor undian.

"Kenapa lu ambil sih," protes gue
"Lagian tadi gue tanyain nggak ada yang jawab"
"Kabur aja mendingan. Belum siap weh"
"Lanjut aja sih. Anak kelas 11 yang ikut drama cuma kelas kita." Seila ngotot buat lanjut terus.

Gila! Satu angkatan kelas 11 cuma kelas gue yang ikut lomba drama. Kelas gue sangat diharapkan oleh angkata kelas 11. Eh, nggak segitunya juga sih.

"Ayolah. Gue nggak enak sama Diki (ketua OSIS yang sekelas sama gue). Masa kelasnya sendiri nggak tampil."
"Tapi, belum siap, Sei."

Perdebatan ini membawa kita sampai pada giliran kita tampil. 2 menit sebelum tampil, Giyats dan Eza masih belum ngumpul. Ini makin membuat kami semua nggak yakin dengan drama ini. Begitu mau masuk ruang Auditorium, barulah dua kampret ini nyamperin kita.

Kami saling meyakinkan satu sama lain. "Intinya kita seneng-seneng aja. Nggak usah mikirin menang. Pasti kita kalah, yang lain propertinya bagus-bagus. Sedangkan kita, nggak pake properti."

Kenyataannya emang bener, kelas lain pake properti yang keren-keren. Ada yang pake baju hakim, ada yang bawa pistol (kayaknya bukan pistol beneran), ada yang pake kemeja. Sedangkan kelas gue, cuma pake seragam putih-putih, seragam biasa hari Senin. Udah. Satu-satunya properti yang nolong adalah topi dan gitar yang Wahyu bawa. Oh iya, plus lipstick yang udah ditempelin di tangan Giyats. Ceritanya sebagai memar sehabis kena pukulan.

Begitu kami tampil, semua terasa lancar. Saking lancarnya, nggak terasa kapan pindah adegan. Seharusnya, di adegan, gue diajak bolos oleh Wahyu. Tapi, malah ditambah dengan dialog-dialog lain. Pokoknya kacau.
Semuanya dilakukan dengan improvisasi. Untungnya dari improv yang kami lakukan masih nyambung jalan ceritanya di skenario.
Adegan berantem yang dilakukan Wahyu melawan Giyats melebihi apa yang gue tulis di skenario. Dia lebih menghayati pukulan. Sedangkan Giyats sebagai orang yang kena pukul sangat natural jatuhnya. Juri menggelengkan kepala. Entah menikmati atau bingung dengan apa yang kami perbuat.

Drama yang kami tampilkan selesai dengan waktu 15 menit. Melebihi 5 menit yang telah disediakan. Padahal sebelumnya gue dapet info tentang lomba drama, waktu yang dikasih adalah 10-15 menit. Artinya, gue udah pas dalam syarat waktu. Tapi, kenapa tiba-tiba dibilang lebih 5 menit? Bodo amat deh. Yang penting gue seneng, tanpa beban nyelesein drama.

***

3 hari kemudian dalam acara puncak Bulan Bahasa, diumumkan pemenang-pemenang lomba, termasuk lomba drama. Kali ini, gue sedang mendengarkan pengumuman lomba drama. Dengerin aja dulu, siapa tau menang, kata gue bercanda.

"Juara 2 diraih oleh... Kelas 11 MIPA 1"

"Anjrit, itu kelas gue!" Gue menepuk paha, kaget. Ternyata candaan gue jadi kenyataan. Di depan sana udah ada Wahyu nerima hadiah. Mantap, lah!

Lalu bagaimana kabarnya dengan kelas yang pake properti super ribet? Ada yang dapet juara, ada yang nggak. Gue malah kasian dengan kelas yang udah pake properti dan capek-capek latihan, ternyata harus menerima kenyataan kalah dengan kelas yang jarang latihan dan tanpa properti. Iya, kelas gue. Tapi, nggak papa untuk kelas yang belum menang. Kalian tetep hebat, kok. Cuma belum efektif aja usaha kalian :p

Biar dikira nggak hoax, gue kasih fotonya deh.

3 bulan ke depan rambut ini tidak akan tumbuh
PS: Mungkin untuk ke depannya di setiap post akan diawali dengan bahasan singkat, cerita singkat, atau kejadian sebelum post ditulis. Barulah masuk ke bahasan utama. Ini karena gue mulai sering menemukan kejadian singkat yang sayang kalo nggak ditulis. Kayak awalan di post ini...

GWS-in dong :(
Read More »