31 August 2015

Pelajaran Dari Sepeda

Seminggu ini, gue lagi sering banget naik sepeda. Berangkat-pulang sekolah naik sepeda. Berangkat-pulang les juga naik sepeda. Cuma berangkat umroh aja nggak naik sepeda. Belum ada uangnya, coy.

Karena kebiasaan gue yang baru ini, banyak teman yang bertanya, "Emang nggak capek naik sepeda?" Jujur aja, masalah capek naik sepeda itu pasti ada, tapi mau gimana lagi, udah terlanjur cinta banget sama sepeda. For your information, jarak rumah gue ke sekolah sekitar 3 atau 4 kilometer. Dan, itu nggak terlalu jauh bagi gue. Kenapa harus ada pertanyaan "Emangnya nggak capek?"

Gue baru bisa naik sepeda kelas 6 SD. Payah? Emang, payah banget. Ketika teman gue udah ada yang naik motor Scoopy saat itu, gue baru belajar sepeda. Yang lain udah naik motor kopling, gue baru bisa naik sepeda mini (sampe sekarang gue nggak paham dengan konsep penamaan sepeda mini. Padahal ukurannya besar). Mungkin ketika gue baru bisa naik motor, teman gue yang super tajir udah bisa naik awan.

Dulu, ketika tahap-tahap belajar sepeda, gue pernah mimpi bisa naik sepeda sebanyak dua kali. Pertama, gue naik sepeda sendiri. Kedua, keliling kota naik sepeda. Udah gitu, boncengan sama cewek pula. Asik banget, kan. Gue yakin ini adalah petunjuk. Ya, mimpi yang pertama udah kesampaian, cuma yang kedua aja belum.

Mungkn lewat mimpi itu yang membuat gue suka bersepeda.
---

Ketika naik sepeda, mata gue nggak bisa selalu memandang ke depan. Bahkan, gue lebih sering memandangi kanan-kiri jalan daripada memandang ke depan. Nggak jarang juga, gue nyanyi sambil naik sepeda. (Ada satu video di Instagram gue yang nunjukin kalau gue suka nyanyi sambil naik sepeda. Coba aja dicek @robby_haryanto. Promo dikit boleh yak!)

Satu hal yang paling sering gue lakukan ketika naik sepeda, yaitu melamun. Memang, sih, agak berisiko kalau tiba-tiba ada motor ngebut kemudian gue kaget, lalu mental dari sepeda. Apalagi, gue bersepeda malam hari yang hawanya sejuk bawaannya mau ngegelar tikar di trotoar. Ngantuk banget pasti.

Dalam lamunan itu, banyak hal yang gue pikirkan. Awas, gue nggak ngelamun jorok, kok. Dalam lamunan juga gue sering membayangkan banyak hal. Makanya, dari melamun sambil naik sepeda itu yang jadi ide tulisan gue di blog. Keliatannya melamun itu tanda orang malas, tapi bagi gue melamun adalah proses produktif. Mungkin, hampir semua post di blog gue ini bersumber ketika gue naik sepeda. Terimakasih sepeda.

Dari sepeda, gue belajar sedikit tentang kehidupan. Dalam kehidupan, kita dituntut untuk terus bergerak agar bisa maju. Maksud gue, kita harus terus bergerak agar kita bisa maju, tapi perlu diperhatikan juga ketika kita bergerak. Jangan sampe gerakan itu cuma menjadikan kita diam di tempat. Lepaslah standar sepeda, bergeraklah maju.

Sepeda juga mengajarkan untuk menikmati proses. Ketika gue belajar sepeda, nggak jarang gue ditertawai oleh ibu-ibu. "Ah, Robby udah kelas 6 nggak bisa naik sepeda, kalah sama si anu (menyebutkan anak kecil berusia 4 tahun)" Karena gue punya keinginan yang kuat, gue tutup kuping sama omongan orang itu. Gue tau, itu cuma kata-kata penciut semangat.
Berkali-kali gue jatuh, gue tetap belajar lagi. Gue nggak mau kalau kejadian ketika kelas 1 SD terulang. Gue cukup belajar dari pengalaman.
Jadi ceritanya, gue dulu pernah punya sepeda kelas 1 SD. Ketika itu, gue selalu semangat buat belajar sepeda. Suatu hari, gue naik sepeda roda empat, di belokan pertama kali yang gue hadapi saat belajar sepeda, gue jatuh. Sejak itu, gue kapok dan nggak pernah lagi nyentuh sepeda.

Naik sepeda mengajarkan untuk mengambil keputusan secara cepat dan tepat. Sepeda adalah kendaraan yang paling enak buat selap-selip, selain motor mio. Tapi karena ukurannya yang kecil, pesepeda suka ragu ketika menghadapi celah kecil di antara angkot. Makanya, ketika ada sedikit celah pesepeda dituntut buat langsung ngambil tindakan; nyelip. Kalau telat atau timing-nya nggak pas, bisa ketabrak truk atau taksi yang ngebut. Serem, kan?

Paling penting, sepeda mengajarkan seseorang untuk seimbang. Ketika kita sedang naik sepeda tiba-tiba ada kendaraan--yang lebih besar dari sepeda, misalnya; motor, truk, atau tank-- melintas dengan cepat, otomatis orang yang naik sepeda akan kena hempasan anginnya. Bagi orang yang nggak fokus, bisa goyah keseimbangannya.
Begitu juga dengan hidup. Selagi kita berjalan ke depan, kita pun harus siap menghadapi hempasan masalah yang siap melintas. Jika kita kokoh, kita tetap melaju ke depan. Tapi, jika kita lemah, kita bisa terjatuh.... lalu ditertawai tukang pecel lele pinggir jalan.

Segitu aja sih dari gue selama naik sepeda sambil merenung. Mungkin, ada yang mau nambahin atau berbagi pengalaman tentang bersepeda?  Oh iya, post ini mendapat ide ketika gue bersepeda. Jadi, buat kalian yang suka nulis lalu tapi kekeringan ide, cobalah bersepeda. Bagi gue sih, tip ini ngebantu banget.

Jangan lupa, kalo lagi naik sepeda, pastikan kondisi jalan lagi nggak ada hajatan. Kalo ada hajatan repot mau selap-selip.
14 August 2015

Kebiasaan Buruk Pengunjung Gramedia

Gue merasa ada perubahan dalam diri mengenai minat membaca buku. Walaupun gue cuma baca buku jenis tertentu (pastinya menghindari buku pelajaran), tapi setidaknya ada peningkatan dalam minat baca buku. Dulu, gue nggak tahan baca novel selama 20 menit. Sekarang, gue bisa 30 menit baca novel. 10 menit buat baca, sisanya gue ketiduran.

Peningkatan itu ditandai dengan seringnya gue ke Gramedia. Setiap pulang les, tepatnya hari Minggu (saat kelas 10) atau Sabtu (saat kelas 11), gue sering ke Gramedia buat beli atau sekedar liat-liat cewek cakep buku baru.

Pokoknya, Gramedia tempat ngabisin waktu paling seru~ (Gue nggak tau ini Gramed mana. Sumber: Google)
Karena seringnya gue ke Gramedia, gue jadi tau kebiasaan pengunjung Gramedia. Mungkin nggak cuma di Gramedia, tapi di toko buku lainnya juga hampir mirip kebiasaannya. Berikut adalah kebiasaan buruk yang gue amati di Gramedia dan gue rangkai menjadi sebuah cerita. Mainkaaan~

1. Buka bungkus, tinggal pergi.
Di sebuah Gramedia, ada seorang pemuda yang usianya sekitar 2-3 tahun lebih tua dari gue mendatangi rak buku berkategori Bank Soal. Gue memperhatikan, orang itu melirik sebuah buku Bank Soal UN SMA. Dari awal kedatangannya, dia memang mau membeli buku itu, ditandai dengan sebuah anggukan kecil setelah melihat bagian belakang buku. Karena ragu dengan isi buku, khawatir ada surat teror di dalamnya, dia membuka bungkus dengan lihai tanpa ketauan petugas. Gerakan tangannya cepat, matanya mengawasi sekitar, hidungnya mengendus. Singkat cerita, buku itu lepas dari bungkusnya. Senyum kemenangan timbul di bibirnya. Gue memperhatikan dari jauh dan menggelengkan kepala pertanda nggak setuju dengan perbuatan orang itu. Ya, gimana nggak setuju, buang plastiknya sembarangan, sih.

Orang itu langsung melihat isi buku. Halaman demi halaman dia buka. Gue bergerak mendekati dia, sekitar 5 langkah di samping kanannya. Satu menit kemudian, buku itu ditaruh kembali ke tempat semula sambil mengatakan "Kampret! Buku ini gue udah punya!" Buku itu nggak jadi dibeli. Lu tau gimana rasanya jadi buku yang udah nggak dibungkus dan nggak jadi dibeli? Jadi nggak laku, bro.

2. Baca buku gratisan dan menghalangi jalan
Setelah buku yang nggak jadi dibeli telah dibuka bungkusnya, muncul empat orang yang usianya sepantaran dengan orang tadi dan menghampiri buku tersebut. Hasilnya? Buku itu dibaca mereka. Alhamdulillah, masih ada yang mau baca. Mereka semua duduk di lantai, membentuk lingkaran. Salah satu dari mereka membacakan soal. 
"Seorang anak melempari buah kelapa yang berada tepat di atasnya yang tingginya 100 kilometer dari tanah. Supaya kelapa terkena batu, berapakah minimal besar kecepatan awalnya?"
Suara orang yang membaca soal itu terdengar oleh gue yang nggak jauh dari posisi mereka duduk. Gue sedikit kaget melihat dan mendengar tingkah mereka. "Lo pikir ini kerja kelompok?! Ini Gramedia, tuan-tuan, nyonya-nyonya. Kasian orang-orang yang mau lewat."

3. Baca buku sambil tiduran di lantai
Nggak terasa, mereka semua keasyikan baca dan belajar. Mereka nggak sadar telah merubah posisi membaca mereka dari duduk menjadi tiduran. Yak, tiduran. Emang, sih, niat buat pintar itu nggak boleh dihalangi, tapi harus tau tempat dong. Kalau ketiduran gimana? Kan repot.

4. Naruh buku nggak sesuai kategori
Karena mereka risih dan lelah membaca, mereka akhirnya meninggalkan buku itu. Tentu saja, buku itu masih dalam keadaan belum terjual. Mereka meletakkan buku itu ke rak terdekat dari posisi tiduran mereka. Tapi, anehnya, ada tulisan "Anak-anak" di atas rak. Mungkin karena mereka tiduran sambil berguling, mereka nggak sadar telah berpindah posisi dari buku kategori Bank Soal menjadi Anak-anak.

Mereka nggak sadar telah menaruh buku di kategori yang beda.

***

Segitu aja cerita imajinasi gue. Sekarang masuk ke dunia nyata, yang benar-benar gue alami...

Sejujurnya, gue paling terganggu dengan yang nomor 4. Gimana nggak, saat nyari buku yang benar-benar sulit dicari, lalu kita beli buku yang sejenis, kemudian setelah bayar kita ngeliat buku yang dicari ada di kategori yang nggak ada hubungannya. Kesel, kan? Pastilah. Eh, maaf, kebawa emosi...

Selain itu, gimana kalau seandainya kasus yang di cerita tadi diteruskan dan terjadi di kehidupan nyata? Misalnya, ada anak kecil pergi ke rak buku dengan kategori Buku Anak. Si anak melihat sebuah buku dengan tulisan kover depan "Lulus SMA 100%". Entah tertarik dengan gambar atau warna sampulnya, si anak merengek ke ibunya. "Mama, aku mau beli buku ini," rengek si anak.
Si ibu heran, "Kamu belum pantas buat baca buku ini, Nak,". Karena si anak makin ngeyel, dia memaksa ibunya buat beli buku itu. "Pokoknya, aku nggak mau tau. Mama harus beliin aku buku itu!" Si ibu kesal, lalu memarahi anaknya, "Oke! Nanti ibu belikan buku itu. Sekalian buku Tes TOEFL dan Tes CPNS juga biar mabok kau..."

Sedih, kan, jadi anak kecil. Mereka harusnya baca buku yang sepantasnya mereka baca.

Untuk mengakhiri postingan kali ini, gue akan bercerita sedikit yang benar-benar terjadi. Masih berkaitan dengan salah menempatkan kategori buku.

Minggu siang, sekitar dua minggu yang lalu, gue berada di Gramedia. Gue ngeliat-liat buku  kategori New Arrival. Kemudian, pandangan gue beralih ke buku dengan kategori Fiksi, genre buku yang belum pernah gue baca sebelumnya. Baru baca judulnya aja gue udah geleng-geleng, gue nggak ngerti dan tertarik. Tapi, apa salahnya buat tau judul-judul buku.

Semua buku yang ada di kategori Fiksi gue telusuri. Lalu, pandangan gue terbuyarkan oleh sebuah buku dengan kover yang pernah gue temui sebelumnya. Mungkin, semua orang tau dengan kover buku yang satu ini; ada seorang kakek-kakek memakai peci dan memegang tongkat. Gue yakin, ciri-ciri tadi pasti kalian mengenalinya. IYA! ITU BUKU IQRO'


Gue bertanya-tanya setelah melihat buku itu. "Ini kerjaan siapa coba? Lagian siapa, sih, yang abis ngaji di Gramedia? Kenapa nggak dibalikin ke masjid atau ke kategori yang sepantasnya."

Buku Iqro' ditempatkan di buku Fiksi. Bagaimana pendapatmu? Saya sih lelah dengan ini semua..