31 August 2015

Seminggu ini, gue lagi sering banget naik sepeda. Berangkat-pulang sekolah naik sepeda. Berangkat-pulang les juga naik sepeda. Cuma berangkat umroh aja nggak naik sepeda. Belum ada uangnya, coy.

Karena kebiasaan gue yang baru ini, banyak teman yang bertanya, "Emang nggak capek naik sepeda?" Jujur aja, masalah capek naik sepeda itu pasti ada, tapi mau gimana lagi, udah terlanjur cinta banget sama sepeda. For your information, jarak rumah gue ke sekolah sekitar 3 atau 4 kilometer. Dan, itu nggak terlalu jauh bagi gue. Kenapa harus ada pertanyaan "Emangnya nggak capek?"

Gue baru bisa naik sepeda kelas 6 SD. Payah? Emang, payah banget. Ketika teman gue udah ada yang naik motor Scoopy saat itu, gue baru belajar sepeda. Yang lain udah naik motor kopling, gue baru bisa naik sepeda mini (sampe sekarang gue nggak paham dengan konsep penamaan sepeda mini. Padahal ukurannya besar). Mungkin ketika gue baru bisa naik motor, teman gue yang super tajir udah bisa naik awan.

Dulu, ketika tahap-tahap belajar sepeda, gue pernah mimpi bisa naik sepeda sebanyak dua kali. Pertama, gue naik sepeda sendiri. Kedua, keliling kota naik sepeda. Udah gitu, boncengan sama cewek pula. Asik banget, kan. Gue yakin ini adalah petunjuk. Ya, mimpi yang pertama udah kesampaian, cuma yang kedua aja belum.

Mungkn lewat mimpi itu yang membuat gue suka bersepeda.
---

Ketika naik sepeda, mata gue nggak bisa selalu memandang ke depan. Bahkan, gue lebih sering memandangi kanan-kiri jalan daripada memandang ke depan. Nggak jarang juga, gue nyanyi sambil naik sepeda. (Ada satu video di Instagram gue yang nunjukin kalau gue suka nyanyi sambil naik sepeda. Coba aja dicek @robby_haryanto. Promo dikit boleh yak!)

Satu hal yang paling sering gue lakukan ketika naik sepeda, yaitu melamun. Memang, sih, agak berisiko kalau tiba-tiba ada motor ngebut kemudian gue kaget, lalu mental dari sepeda. Apalagi, gue bersepeda malam hari yang hawanya sejuk bawaannya mau ngegelar tikar di trotoar. Ngantuk banget pasti.

Dalam lamunan itu, banyak hal yang gue pikirkan. Awas, gue nggak ngelamun jorok, kok. Dalam lamunan juga gue sering membayangkan banyak hal. Makanya, dari melamun sambil naik sepeda itu yang jadi ide tulisan gue di blog. Keliatannya melamun itu tanda orang malas, tapi bagi gue melamun adalah proses produktif. Mungkin, hampir semua post di blog gue ini bersumber ketika gue naik sepeda. Terimakasih sepeda.

Dari sepeda, gue belajar sedikit tentang kehidupan. Dalam kehidupan, kita dituntut untuk terus bergerak agar bisa maju. Maksud gue, kita harus terus bergerak agar kita bisa maju, tapi perlu diperhatikan juga ketika kita bergerak. Jangan sampe gerakan itu cuma menjadikan kita diam di tempat. Lepaslah standar sepeda, bergeraklah maju.

Sepeda juga mengajarkan untuk menikmati proses. Ketika gue belajar sepeda, nggak jarang gue ditertawai oleh ibu-ibu. "Ah, Robby udah kelas 6 nggak bisa naik sepeda, kalah sama si anu (menyebutkan anak kecil berusia 4 tahun)" Karena gue punya keinginan yang kuat, gue tutup kuping sama omongan orang itu. Gue tau, itu cuma kata-kata penciut semangat.
Berkali-kali gue jatuh, gue tetap belajar lagi. Gue nggak mau kalau kejadian ketika kelas 1 SD terulang. Gue cukup belajar dari pengalaman.
Jadi ceritanya, gue dulu pernah punya sepeda kelas 1 SD. Ketika itu, gue selalu semangat buat belajar sepeda. Suatu hari, gue naik sepeda roda empat, di belokan pertama kali yang gue hadapi saat belajar sepeda, gue jatuh. Sejak itu, gue kapok dan nggak pernah lagi nyentuh sepeda.

Naik sepeda mengajarkan untuk mengambil keputusan secara cepat dan tepat. Sepeda adalah kendaraan yang paling enak buat selap-selip, selain motor mio. Tapi karena ukurannya yang kecil, pesepeda suka ragu ketika menghadapi celah kecil di antara angkot. Makanya, ketika ada sedikit celah pesepeda dituntut buat langsung ngambil tindakan; nyelip. Kalau telat atau timing-nya nggak pas, bisa ketabrak truk atau taksi yang ngebut. Serem, kan?

Paling penting, sepeda mengajarkan seseorang untuk seimbang. Ketika kita sedang naik sepeda tiba-tiba ada kendaraan--yang lebih besar dari sepeda, misalnya; motor, truk, atau tank-- melintas dengan cepat, otomatis orang yang naik sepeda akan kena hempasan anginnya. Bagi orang yang nggak fokus, bisa goyah keseimbangannya.
Begitu juga dengan hidup. Selagi kita berjalan ke depan, kita pun harus siap menghadapi hempasan masalah yang siap melintas. Jika kita kokoh, kita tetap melaju ke depan. Tapi, jika kita lemah, kita bisa terjatuh.... lalu ditertawai tukang pecel lele pinggir jalan.

Segitu aja sih dari gue selama naik sepeda sambil merenung. Mungkin, ada yang mau nambahin atau berbagi pengalaman tentang bersepeda?  Oh iya, post ini mendapat ide ketika gue bersepeda. Jadi, buat kalian yang suka nulis lalu tapi kekeringan ide, cobalah bersepeda. Bagi gue sih, tip ini ngebantu banget.

Jangan lupa, kalo lagi naik sepeda, pastikan kondisi jalan lagi nggak ada hajatan. Kalo ada hajatan repot mau selap-selip.

27 August 2015

Gue lupa ini terjadi kapan, tapi tepatnya di bulan Agustus 2015. Ketika itu, sedang berlangsung pelajaran Prakarya. Untuk pelajaran Prakarya di kelas 11, kami akan mencoba berwirausaha di bidang kuliner. Sayang banget, padahal tadinya gue ngarep di bidang ternak. Dari rencana yang dikatakan Bu Nia--guru Prakarya gue-- mau ada ternak lele. Gue, sih, lebih ngarep ternak cabe-cabean. Prospeknya cerah, cuy!

Tentunya, karena di bidang kuliner, seseorang harus bisa masak. Sedangkan gue, nggak punya keahlian masak. Matiin kompor aja tangan gue gemeteran.
Selama gue hidup, sayur sop adalah makanan berkelas yang pernah gue buat. Itu pun dibantu Mama, kerjaan gue... cuma nyalain kompor (tentunya dengan tangan gemetar). Sisanya, gue cuma bisa masak mi instan dan agar-agar. Seandainya gue membuat restoran dengan masakan hasil buatan gue sendiri, menunya cuma itu-itu aja. Makanan utama: mi rebus rasa soto. Dessert-nya: agar-agar.

Kami dibagi ke beberapa kelompok. Satu kelompok berisi empat orang. Gue bergabung di kelompok 2, dan gue satu-satunya cowok. Oke, yang lain cewek pasti jago urusan dapur. Gue cuma bisa bantu doa.

Rencananya, kami akan masak kroket kentang. Hari memasak pun udah ditentukan. Tiba di hari memasak di rumah salah satu teman di kelompok gue.
Seperti yang udah gue katakan, cewek lebih mendominasi di dapur. Sedangkan gue nggak terlalu keliatan kerjanya. Paling di momen krusial tertentu gue campur tangan. Misalnya, ketika semua cewek nggak bisa nyalain kompor, gue memberanikan diri buat nyalain kompor. Hentakan pertama, gagal. Di hentakan kedua berhasil. Ternyata, nggak sia-sia skill nyalain kompor yang udah gue latih selama 4 tahun ini. Setelah sekitar satu jam beres masak, makanan yang kita (lebih tepatnya mereka) buat jadi. Gue senang bukan main bisa terlibat dalam proses masak ini.

Keesokan harinya, tiba saatnya kelompok gue presentasi. Makanan yang udah dibuat dibawa ketika presentasi dan dicicpi oleh teman dan guru Prakarya. Penjualan, pembuatan, modal, untung, bahan semuanya dibahas.
Bu Nia mengambil satu kroket, lalu memberi secuil kroket buatan kami kepada teman-teman yang berperan sebagai pencicip. Beberapa teman di kelas mulai mencicipi. Salah satu pencicip ada yang menunjukkan sikap yang membuat gue down. Gue berdiri di depan, memperhatikan gerak-geriknya. Dia mencium secuil kroket yang udah diberikan Bu Nia, dan mukanya berkata ada sesuatu yang salah. Ketika dia makan kroket kami, dia langsung menunjukan ekspresi mual.


Gue mulai down.

Dia langsung buru-buru keluar, sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan. Gue lihat dia menuju tempat sampah, lalu meludah. Sepertinya makanan yang baru aja dimakan, langsung dibuang. Deg! Mental semangat masak gue runtuh.


Gue merenung. Hingga pulang sekolah gue tetap merenung, merenungi apa yang salah pada gue dan kelompok gue. Apakah gue harus menyalahkan teman gue? Nggak. Karena konsumen adalah raja yang harus dipuaskan. Berarti, usaha kami belum maksimal.

Terutama bagi gue, yang masih terbayang tragedi itu. Mental gue belum kuat melihat kenyataan pahit, yang mungkin rasanya seperti kroket buatan kelompok kami. Eh, kroket buatan kelompok gue rasanya nggak pahit, ya!

Mungkin bisa jadi pelajaran buat orang yang mau berwirausaha, khususnya di bidang kuliner. Nggak cuma di bidang bisnis juga, sih. Di kehidupan sehari-hari juga harus diterapkan. Kritik itu perlu, bahkan harus diterima walaupun pahit. Karena dengan kritik kualitas pada diri kita akan membaik jika ditanggapi dengan positif. Carilah orang yang mau mengkritik karya kita, demi kemajuan karya kita.

Masalah makanan itu gue nggak sakit hati. Ya, namanya juga usaha pertama. Nggak ada yang langsung sempurna, apalagi ini urusan makanan yang artinya selera orang berbeda terhadap makanan.

Daritadi gue ngomongin kritik, gue jadi mau bertanya ke kalian yang sedang membaca blog gue. Jadi, apa kritik kalian tentang blog gue?

22 August 2015

Kemarin malam, ketika gue ngerjain PR sambil nyetel lagu Letto yang berjudul Ruang Rindu, gue mendengar suara aneh. Suara yang jarang gue dengar di rumah gue.

"Di daun yang itu... NGEONG... NGEONG... mengalir lembut... NGEONG... NGEONG... terbawa sungai ke ujung mata" begitulah suara yang gue dengar. Ternyata suara kucing. Gue pikir, suara kucing itu sumbernya dari luar rumah, ternyata suaranya makin terdengar.  Kayaknya, nggak jauh dari tempat tidur gue.

"Ma, kok ada suara kucing di sini, sih?" tanya gue ke Mama.
"Tuh, ada anak kucing di dalem lemari reyot." jawab Mama.
"Ha? Serius?"
"Beneran." Mama meyakinkan gue. "Baru ngelahirin kemarin. Liat aja coba."

Sejujurnya, gue nggak terlalu peduli. Tapi, penasaran gue memuncak malam ini. Gue tengok ke lemari yang Mama sebutkan tadi, dan gue kaget melihatnya.

Jangan berisik. Dedek kecil lagi bobok.

Uuuuuhhhh... lutuna~

Mau deh tidur bareng mereka.
Gue tau indukanya itu. Dia adalah kucing liar yang sering nongkrong di depan pintu rumah gue. Tiap gue duduk di depan rumah dan kebetulan ada kucing itu, dia langsung nyamperin kaki gue. Setau gue sih, kaki gue bau nasi basi. Kok doyan ya? Atau, si kucing emang suka makan nasi basi.

Gue kasian dengan kucing itu. Matanya buta satu, udah gitu nggak punya kartu KJS. Halaah.. pokoknya kasian deh. Gue pun nggak tau kucing itu jenis kelaminnya apa. Sebelumnya, gue nggak ngeliat perutnya membesar, seperti tanda-tanda hamil pada umumnya. Kalau misalnya kucing ini cewek, bisa kali gue gombalin.

"Hei, kucing. Bapak kamu tukang tambal ban, ya?"
"NGEONGGG!"
"Oh, bukan. Berarti, bapak kamu tukang kawin, ya? Makanya anaknya banyak"
"NGEONGG... NGEONGGG!!

Kemudian gue dicakar.

Tapi, kenapa harus di lemari rumah gue? Kenapa nggak nyari tempat yang lain? Atau, jangan-jangan kucing ini aborsi. Eh, nggak mungkin deh kayaknya. Masa iya lemari reyot gue dijadikan tempat praktek aborsi kucing.

Melihat anak-anak kucing itu, gue jadi pengin melihara mereka. Dari dulu, gue ngiri sama orang yang bisa melihara kucing bisa sampai dewasa. Kalau bisa, kucing itu dikuliahin sampai S3. Sedangkan gue, nggak jago melihara hewan. Melihara ikan cupang aja nggak bertahan dua minggu gara-gara sering diadu. Ehm.

Selain ikan cupang, gue pernah melihara burung dara. Waktu itu, gue emang lagi seneng banget sama burung dara. Menurut gue, burung dara itu nggak manja. Kalau mau pulang, tinggal terbang. Nggak perlu dianter, kayak cewek-cewek. Selain itu, dia hafal jalan pulang dan nggak pernah nanya ke mas-mas warkop atau tukang ojek Kan nggak mungkin ada burung dara nanya jalan.

"Kruk... krukk.... kruuuukkk..."
"Ngomong apa sih lu?"
"Kruukkk... kruukkk"
"Pergi lu!" tukang ojek nebar jagung ke jalan raya, lalu ada truk minyak ngebut melintas dan nabrak burung dara. Oke, gue lupa kalau burung dara itu punya sayap.

Gue minta ke Mama untuk memelihara kucing. "Ma, pelihara anak kucing itu, ya?"

"Janganlah, nanti kalo berak gimana? Emang mau tidur dengan aroma tai kucing?" Mama melarang.

Ada benernya juga. Gue nggak mungkin hidup bermalam dengan aroma tai kucing terus-terusan. 

Seandainya kucing ini diusir Mama, gue tetap yakin kalau misalnya anak-anak kucing ini udah besar nanti pasti bakal ke lemari reyot, tempat di mana mereka lahir. Mereka bakal ngelahirin anak-anak merea di lemari ini, dan lemari gue jadi rumah sakit bersalin kucing. Setelah sepuluh tahun, setiap minggunya bakal ada kucing yang lahiran. Kucing di rumah gue banyak, lalu gue jual ke Tiongkok untuk bahan masakan. Jahat, kan, sekarang kucing udah dijadikan makanan? Kalau penasaran, bisa googling deh beritanya.

Begitulah cerita gue malam ini. Inti cerita yang bisa kalian ambil adalah rusakilah lemari kalian biar ada kucing yang mau ngelahirin di lemari kalian. 

Meongg!

(Sorry, dibajak kucing)

17 August 2015

Semakin ke sini, yang namanya media sosial semakin menjamur. Nyaris semua orang punya Facebook. Yang belum punya Facebook, setelah membaca kalimat awal yang gue tulis, langsung ngebet minta buatin ke temannya. Ayolah, sekarang ini udah masuk zaman serba canggih. Masa akun Facebook pun nggak punya. Ketauan deh nggak pernah main Ninja Saga.

Untuk orang yang suka ber-media sosial, berfoto adalah ritual sakral yang harus dilakukan. Apapun kegiatannya, selfie-lah tujuan utamanya.

Misalnya, ada orang yang wisata ke Selandia Baru. Lalu, mereka nggak melupakan ritual utama makhluk (media) sosial. Yak, selfie. Dia upload ke Instagram. Di foto itu, ada satu orang dengan semangkuk bakso di meja dengan caption "Makan bakso kangguru Pakdhe Johnson dulu. Nyam~ - At Selandia Baru".

Seakan-akan dunia harus tau kalau Pakdhe Johnson udah buka kedai bakso di Selandia Baru.

Tadinya, gue agak sinis ngeliat orang yang dikit-dikit selfie. Gue selalu berpikiran "Ih, ini orang sombong banget sih. Tiap minggu upload fotonya pamer harta terus..."
Makin kesini, gue jadi sering upload foto. Kampret memang, gue jadi orang yang kecanduan foto. Untung nggak terlalu parah kecanduannya.

Sayangnya, kebiasaan gue meng-upload foto sering ditanggapi hinaan oleh teman atau followers (yang juga teman gue). Betapa jahatnya mereka menanggapi foto-foto gue. Tolong, kalian renungkan setelah melihat foto dan komentarnya.

HMMMM... SUDAH KUDUGAAH

Lawan dulu, nih, Robby junior.
Ganteng kan.... teman gue.

Perhatikan lingkaran merah. Jangan terkejut!


Versi Facebook

Andai ini Boyband, gue dapat bagian sebagai penonton bayaran.


Dari komentar yang gue dapatkan, gue menyimpulkan kalau gue... jelek. Entah gue yang terlalu sensitif, tapi nada komentar itu sangat-sangat menyakitkan. Sangat menyakitkan. Orang lain boleh pamer harta, gue pamer... duh, kayaknya nggak ada yang layak dipamerin, deh.

Orang-orang selalu memandang kami--orang jelek-- dengan sebelah mata. Kita semua upload foto di socmed bukan mencari pujian, tapi agar mendapat pengakuan. Kita berjuang agar diakui sebagai manusia biasa. Manusia setuhnya. Tolong, bisa bedakan saat gue bercanda dan serius. Asegh.

Gue ingat, seorang Nelson Mandela memperjuangkan kaumnya--kaum kulit hitam-- untuk mendapat perlakuan yang sama dengan kaum kulit putih. Membaca kisahnya di sebuah buku pelajaran Bahasa Indonesia, gue jadi terinspirasi oleh beliau. Gue pun siap memperjuangkan kaum gue--orang jelek yang mau eksis di media sosial-- untuk merdeka dan mendapat perlakuan adil. Gue akan memproklamirkan sebuah pernyataan yang siap dibaca manusia di dunia. By the way, orang Kamerun ngerti nggak ya sama bahasa gue? Ya, semoga aja ngerti deh.

Proklamasi

Kami orang-orang jelek dengan ini menyatakan kemerdekaan. Hal-hal yang mengenai penghinaan di media sosial d.l.l, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.


Jakarta, Kalideres, 17 Agustus 2015
Atas nama orang jelek
Robby 'Brian' Haryanto

Seandainya Nelson Mandela melihat ini, dia pasti terharu dan bangga melihat perjuangan gue.

***

Beberapa hari yang lalu, gue baca di sebuah headline berita "Cowok dengan tampang pas-pasan bisa nikah sama cewek cantik".
Ada lagi, mungkin ada dari kita yang tau bahwa satu komika (sebutan untuk stand up comedian) Indonesia yang terkenal jelek punya pacar yang cantik. Ya benar, dia Yudha Keling. Yudha sering banget diomongin "Kok cewek cantik mau ya sama cowok kayak Yudha gitu?"

Ya..., terus, masalah? Mereka aja yang sirik. Bagi gue, ini sebuah prestasi di antara orang jelek. Akhirnya, ada seorang wakil dari kaum kami yang bisa mengguncang dunia. Merdekaaa!! 
Gue pun bertekad seperti kedua pantuan itu. Gue bakal menikah dengan... Patung Liberty. Eh, nggak deh. 
Kayaknya, cewek-cewek yang merasa cantik langsung menutup hati setelah membaca tulisan gue kali ini. Karena tau ada sebuah pergerakan underground dari orang-orang jelek. Dan akhirnya, orang jelek itu akan terus menjomblo sampai Patung Liberty minta dipijit pundaknya.

By the way, Patung Liberty itu cewek atau cowok ya?

Berbicara kemerdekaan, gue mau mengucapkan selamat ulang tahun ke-70 untuk negaraku tercinta, Indonesia. Semoga korupsi berkurang, kalau bisa musnah dari negeri ini. Dan, untuk orang-orang jelek dapat perlindungan hukum yang tegas. Asli, dikatain dengan sebutan hewan sangat menyakitkan bagi kami. Kita bukannya cengeng, cuma pengin dianggap manusia biasa. Udah itu aja.

Ayo, orang jelek berpartisipasilah dengan berkomentar di bawah. Dukung pergerakan kita untuk mendapat pengakuan di media sosial.

Semoga postingan kali ini nggak masuk hukum pidana...

14 August 2015

Gue merasa ada perubahan dalam diri mengenai minat membaca buku. Walaupun gue cuma baca buku jenis tertentu (pastinya menghindari buku pelajaran), tapi setidaknya ada peningkatan dalam minat baca buku. Dulu, gue nggak tahan baca novel selama 20 menit. Sekarang, gue bisa 30 menit baca novel. 10 menit buat baca, sisanya gue ketiduran.

Peningkatan itu ditandai dengan seringnya gue ke Gramedia. Setiap pulang les, tepatnya hari Minggu (saat kelas 10) atau Sabtu (saat kelas 11), gue sering ke Gramedia buat beli atau sekedar liat-liat cewek cakep buku baru.

Pokoknya, Gramedia tempat ngabisin waktu paling seru~ (Gue nggak tau ini Gramed mana. Sumber: Google)
Karena seringnya gue ke Gramedia, gue jadi tau kebiasaan pengunjung Gramedia. Mungkin nggak cuma di Gramedia, tapi di toko buku lainnya juga hampir mirip kebiasaannya. Berikut adalah kebiasaan buruk yang gue amati di Gramedia dan gue rangkai menjadi sebuah cerita. Mainkaaan~

1. Buka bungkus, tinggal pergi.
Di sebuah Gramedia, ada seorang pemuda yang usianya sekitar 2-3 tahun lebih tua dari gue mendatangi rak buku berkategori Bank Soal. Gue memperhatikan, orang itu melirik sebuah buku Bank Soal UN SMA. Dari awal kedatangannya, dia memang mau membeli buku itu, ditandai dengan sebuah anggukan kecil setelah melihat bagian belakang buku. Karena ragu dengan isi buku, khawatir ada surat teror di dalamnya, dia membuka bungkus dengan lihai tanpa ketauan petugas. Gerakan tangannya cepat, matanya mengawasi sekitar, hidungnya mengendus. Singkat cerita, buku itu lepas dari bungkusnya. Senyum kemenangan timbul di bibirnya. Gue memperhatikan dari jauh dan menggelengkan kepala pertanda nggak setuju dengan perbuatan orang itu. Ya, gimana nggak setuju, buang plastiknya sembarangan, sih.

Orang itu langsung melihat isi buku. Halaman demi halaman dia buka. Gue bergerak mendekati dia, sekitar 5 langkah di samping kanannya. Satu menit kemudian, buku itu ditaruh kembali ke tempat semula sambil mengatakan "Kampret! Buku ini gue udah punya!" Buku itu nggak jadi dibeli. Lu tau gimana rasanya jadi buku yang udah nggak dibungkus dan nggak jadi dibeli? Jadi nggak laku, bro.

2. Baca buku gratisan dan menghalangi jalan
Setelah buku yang nggak jadi dibeli telah dibuka bungkusnya, muncul empat orang yang usianya sepantaran dengan orang tadi dan menghampiri buku tersebut. Hasilnya? Buku itu dibaca mereka. Alhamdulillah, masih ada yang mau baca. Mereka semua duduk di lantai, membentuk lingkaran. Salah satu dari mereka membacakan soal. 
"Seorang anak melempari buah kelapa yang berada tepat di atasnya yang tingginya 100 kilometer dari tanah. Supaya kelapa terkena batu, berapakah minimal besar kecepatan awalnya?"
Suara orang yang membaca soal itu terdengar oleh gue yang nggak jauh dari posisi mereka duduk. Gue sedikit kaget melihat dan mendengar tingkah mereka. "Lo pikir ini kerja kelompok?! Ini Gramedia, tuan-tuan, nyonya-nyonya. Kasian orang-orang yang mau lewat."

3. Baca buku sambil tiduran di lantai
Nggak terasa, mereka semua keasyikan baca dan belajar. Mereka nggak sadar telah merubah posisi membaca mereka dari duduk menjadi tiduran. Yak, tiduran. Emang, sih, niat buat pintar itu nggak boleh dihalangi, tapi harus tau tempat dong. Kalau ketiduran gimana? Kan repot.

4. Naruh buku nggak sesuai kategori
Karena mereka risih dan lelah membaca, mereka akhirnya meninggalkan buku itu. Tentu saja, buku itu masih dalam keadaan belum terjual. Mereka meletakkan buku itu ke rak terdekat dari posisi tiduran mereka. Tapi, anehnya, ada tulisan "Anak-anak" di atas rak. Mungkin karena mereka tiduran sambil berguling, mereka nggak sadar telah berpindah posisi dari buku kategori Bank Soal menjadi Anak-anak.

Mereka nggak sadar telah menaruh buku di kategori yang beda.

***

Segitu aja cerita imajinasi gue. Sekarang masuk ke dunia nyata, yang benar-benar gue alami...

Sejujurnya, gue paling terganggu dengan yang nomor 4. Gimana nggak, saat nyari buku yang benar-benar sulit dicari, lalu kita beli buku yang sejenis, kemudian setelah bayar kita ngeliat buku yang dicari ada di kategori yang nggak ada hubungannya. Kesel, kan? Pastilah. Eh, maaf, kebawa emosi...

Selain itu, gimana kalau seandainya kasus yang di cerita tadi diteruskan dan terjadi di kehidupan nyata? Misalnya, ada anak kecil pergi ke rak buku dengan kategori Buku Anak. Si anak melihat sebuah buku dengan tulisan kover depan "Lulus SMA 100%". Entah tertarik dengan gambar atau warna sampulnya, si anak merengek ke ibunya. "Mama, aku mau beli buku ini," rengek si anak.
Si ibu heran, "Kamu belum pantas buat baca buku ini, Nak,". Karena si anak makin ngeyel, dia memaksa ibunya buat beli buku itu. "Pokoknya, aku nggak mau tau. Mama harus beliin aku buku itu!" Si ibu kesal, lalu memarahi anaknya, "Oke! Nanti ibu belikan buku itu. Sekalian buku Tes TOEFL dan Tes CPNS juga biar mabok kau..."

Sedih, kan, jadi anak kecil. Mereka harusnya baca buku yang sepantasnya mereka baca.

Untuk mengakhiri postingan kali ini, gue akan bercerita sedikit yang benar-benar terjadi. Masih berkaitan dengan salah menempatkan kategori buku.

Minggu siang, sekitar dua minggu yang lalu, gue berada di Gramedia. Gue ngeliat-liat buku  kategori New Arrival. Kemudian, pandangan gue beralih ke buku dengan kategori Fiksi, genre buku yang belum pernah gue baca sebelumnya. Baru baca judulnya aja gue udah geleng-geleng, gue nggak ngerti dan tertarik. Tapi, apa salahnya buat tau judul-judul buku.

Semua buku yang ada di kategori Fiksi gue telusuri. Lalu, pandangan gue terbuyarkan oleh sebuah buku dengan kover yang pernah gue temui sebelumnya. Mungkin, semua orang tau dengan kover buku yang satu ini; ada seorang kakek-kakek memakai peci dan memegang tongkat. Gue yakin, ciri-ciri tadi pasti kalian mengenalinya. IYA! ITU BUKU IQRO'


Gue bertanya-tanya setelah melihat buku itu. "Ini kerjaan siapa coba? Lagian siapa, sih, yang abis ngaji di Gramedia? Kenapa nggak dibalikin ke masjid atau ke kategori yang sepantasnya."

Buku Iqro' ditempatkan di buku Fiksi. Bagaimana pendapatmu? Saya sih lelah dengan ini semua..

10 August 2015

Masuk tahun pelajaran baru, tugas di kelas 11 makin berat. Gue bisa membayangkan bagaimana enaknya orang yang udah lulus, mendapat ijazah, kerja enak, keluarga mapan. Impian hidup semua orang, deh, pokoknya. Ya, walaupun cuma berkhayal, sih.

Belum lagi ditambah les yang memaksa gue pulang jam 19.30 setiap hari Senin dan Rabu. Pusing di sekolah ditambah capeknya pulang malam membuat gue harus benar-benar tabah dalam menjalani kehidupan sekolah. Karena gue percaya, kesabaran dan keuletan akan berbuah manis.

Senin ini, tanggal 10 Agustus, gue pulang les seperti biasanya. Gue pulang les naik angkot bersama Oky. Gue mau buru-buru pulang biar bisa ngerjain tugas yang masih menunggu. Tapi, jangan tanya bagaimana bisa gue nge-blog walaupun PR gue banyak. Pokoknya, jangan.

Angkot carry berwarna merah melintas, lalu berhenti di depan kita berdua. Langsung tanpa pikir panjang, kita naik dan ngobrol di dalam angkot. Beberapa meter kemudian, supir angkot nyetel lagu Fatin yang berjudul Aku Memilih Setia. Beda dari biasanya, lagu Fatin ini dibuat remix. 

"Waduuuh... kasian amat, ya, Fatin. Nyanyi bagus-bagus malah dijadiin lagu dugem begini."

Gue kesal. Seakan-akan gue pengin ikutan joget seperti Si Supir. Si Supir ditemani temannya berjoget ria sambil mendengarkan lagu aneh itu. Nah, begini nih. Kalau bergaya mau dugem, tapi nggak pernah ke diskotik. Cuma nyetel lagu di angkot, terus joget-joget. Ya, lebih baik, sih, daripada joget di depan gerobak gethuk. Nggak elit.

"TONG, LO BERDUA TURUN DI MANA?!" teriak Si Supir berusaha melebihi suara dari tape angkotnya.
"DI BAKTI, BANG(daerah rumah gue)," gue nggak mau kalah dengan suara tape. "Saya di Taman Palem," kata Oky dengan kalem. Nggak teriak-teriak.
Si Supir nggak dengar dengan perkataan kita berdua. "APAAN??! LO TURUN DI MANA??!"
"DI TAMAN PALEM SAMA DI BAKTIII" teriak gue. Pengin gue omelin Si Supir, "MAKANYA KALO NYETEL LAGU YANG BENER!!! LAGU FATIN MALAH DI-REMIX...."

Selain budeg, Si Supir juga ugal-ugalan. Si Supir suka ngebut dan main-mainin klakson seolah nggak pernah main klakson dalam hidupnya. Pokoknya, jalanan udah kayak milik dia seorang. Gue takut, ada pengemudi motor yang mati gara-gara bunyi klakson yang sangat mengganggu itu. Matilah dia mendengar suara klakson. Asli, kasus pembunuhan yang nggak berkelas.

"TIIIIITT.... TIIITTTT.... TIIIIIIIITTTTTTT...". Bunyi klaksonnya nggak bagus. Karena, menurut gue, klakson yang suaranya bagus adalah klakson yang bunyinya sopan. ""TIIIIITT.... TIIITTTT.... TIIIIIIIITTTTTTT...". Suaranya sama, tapi suaranya keluar dari mulut.

Oky turun lebih awal. Si Supir dan satu temannya langsung menaikkan volume tape. "ANJRIIIIIT, KEPALA GUE MAU PECAAAH!" teriak gue dalam hati. Gue tau, kenapa Si Supir nanyain gue mau turun di mana lebih awal dari biasanya, karena biar dia bisa nyetel lagu sekeras-kerasnya dan tau di mana dia harus berhenti. Tolonglah, gue udah pusing dengan urusan sekolah dan les, masak harus ditambah pusing gara-gara lagu Fatin yang di-remix.


Suara tape makin keras. Gue mulai berpikir jahat untuk mencegah perbuatan kriminal ini berlanjut. Gue berencana untuk menghampiri Supir, lalu dari belakang gue akan memukul kepala Supir dengan buku Kimia yang gue bawa saat itu. Biar tau rasanya sakit kepala.

"GEDEBUUUUKKK..." gue pukul Si Supir dengan buku Kimia, kemudian mulutnya mengeluarkan bensin. Ah, berkhayal aja, sih.

Gue menyadari, ternyata Si Supir belum terlalu tua. Pantas aja, jiwa mudanya masih terpancar. Kebut-kebutan dan nyetel lagu keras-keras. Gue perkirakan, Si Supir angkot usianya nggak jauh beda dengan gue. Masih di bawah umur. Ya..., umurnya 4 tahun lah. Nggak, nggak segitu. Sekitar umur belasan.

Ini yang paling nggak enak bagi supir angkot muda. Mereka bakal tetap dibilang "Bang" sama ibu-ibu yang usianya lebih tua dan lebih layak manggil dengan sebutan "Nak". Kira-kira beginilah jadinya,

"Nak..., kiri, Nak. Rumah ibu sudah dekat."

Berasa anak sendiri.

Balik lagi ke cerita. Hampir sampai di tujuan, Si Supir angkot makin menggila. Dia sukses bikin gue istighfar berkali-kali karena sering ngerem mendadak. Ngebuuut, lalu ngerem. Gue cemas. Gue pengin buru-buru turun. Itu semua disebabkan kedatangan angkot lain yang gue tebak adalah teman dari supir angkot yang lagi gue naiki. Anak muda kalau ketemu temannya pasti menggila. Begitu juga dengan Si Supir kampret ini. Si Supir seolah menantang temannya untuk adu cepat. Suasana malam itu, sangat mencekam. Berasa lagi ada sirkuit perlombaan Nascar Rumble.

"TIIIIIIITTTTT.... TIIIIIIITTTTT..." Si Supir membunyikan klakson. Berulang-ulang. Saat mobilnya dipacu dengan kecepatan tinggi dan bersebelahan dengan angkot temannya, Si Supir berteriak, "WOYYYY... MINGGIR DONG JALANNYA HA... HA... HA...."

Gue mulai ngeri. Gimana kalau teman Si Supir orangnya baper. Dia marah, dan ngamuk menabrakan angkotnya ke angkot yang sedang gue naiki. Lalu, meledak. BOOOM! Badan gue jatuh ke ladang gandum, dan jadilah koko krunch.

Akhirnya, gue sampai di depan rumah. Gue bakal mengingat malam ini sebagai malam yang bikin sewot. Catet, ya! 10 Agustus 2015.

Semoga nggak ketemu angkot begitu lagi...

09 August 2015

Manusia adalah makhluk sosial. Kebutuhan kita nggak bakal bisa dipenuhi oleh diri sendiri. Untuk itu, kita harus hidup berkomunitas atau berkumpul. Contoh simpelnya adalah ketika bermain sepak bola. Nggak mungkin, kan, menghadapi keseblasan dengan maju sendiri. Sekalipun itu Cristiano Ronaldo, Ronaldinho, atau Robby Haryanto, gue yakin nggak bakal menang.

Begitupun dengan kehidupan gue nge-blog, gue juga ikut di beberapa komunitas blogger. Tujuannya, sih, biar blog gue ada yang baca. Nggak cukup kalau cuma promo ke teman-teman dekat, mengingat teman gue di dunia nyata yang sedikit. Makanya, gue bergabung komunitas blogger yang ada di Indonesia, walaupun pada akhirnya gue jarang aktif.

Alhamdulillah, gue mulai mendapat teman dan pembaca dari komunitas blogger yang gue ikuti. Tapi, yang namanya manusia selalu nggak pernah puas. Akhirnya gue bergadang buat nyari-nyari komunitas blogger yang lain.

Gue interogasi Mbah Google dengan keyword yang bermacam-macam: Komunitas blogger keren; komunitas blogger gaul; dan komunitas blogger. Isinya sama aja. Semua keyword itu tertuju pada komunitas yang udah gue ikuti. Sampai akhirnya, gue terdampar di blog orang lain, dan melihat sebuah banner dengan gambar tangan mengepal dan menggenggam petir. Wow, gue tertarik! Sepertinya komunitas blogger ini menganjurkan kita untuk rajin minum extra joss.

Gue kira masuk komunitas blogger yang satu ini mudah. Ternyata, ada syaratnya. Gampang, sih, syaratnya, yang penting blogger personal. Cukup. Untung gue termasuk blogger personal, gue gabung deh. (Gue punya postingan saat perkenalan di komunitas blogger keren).

Komunitas ini berbasis di Facebook, dengan mengadakan promo setiap hari. Jadi, kalau ada yang pengin gabung, harus ingat kata sandi Facebook-nya, ya! :p

Tanggal 10 Desember 2014, setelah Magrib, gue mendapat notifikasi Twitter seperti ini.

Apa ini?
Isinya: selamat datang di Blogger Energy. Oh iya, gue baru ingat. Sebulan sebelumnya gue sempat mendaftar menjadi anggota Blogger Energy. Bagi kalian yang bertanya-tanya soal komunitas blogger yang belum gue sebutkan, Blogger Energy adalah jawabannya.
Komunitas ini resmi menerima gue. Komunitas yang membuat viewers blog gue meningkat tajam, setajam parutan kelapa. Dari jamannya blog gue cuma 500 viewers, sampai sekarang yang mencapai 32.000+ viewers. (Asli, nggak maksud buat sombong. Cuma ngasih tau).


9 Agustus 2015
Di awal masuknya gue di Blogger Energy, gue sering banget promo dan sok asik kepada member baru. Tapi, promo di Blogger Energy nggak kayak di komunitas lain. Di sini, gue diajarkan bagaimana cara menghargai orang lain. Saat kita promo link, kita harus komen ke blogger lain yang ikut promo. Istilahnya, kalau post lu mau dikomen, komen juga post orang lain.

Terkadang, keliatannya kebiasaan ini berat. Ya, gue akui. Gue juga suka males buat komen, apalagi dengan post yang panjaaaan banget. Tapi, percayalah, kalau membaca nggak pernah rugi. Bahkan, membaca komposisi makanan kemasan. Duh, jadi ingat kebiasaan masa kecil, nih.

Dari sekian banyak komunitas yang gue temui dan ikuti, mungkin komunitas ini yang paling berarti bagi gue. Walau belum pernah bertatap muka, gue merasa dianggap sebagai keluarga di komunitas ini. Saat gue butuh sesuatu, pasti ada anggota dari komunitas ini mau nolong gue. Hal yang mungkin belum tentu gue temukan di komunitas lainnya, bahkan di kehidupan nyata.
 
Di sini, gue mendapat keluarga baru.

Sampai 3 bulan gue aktif di blog ini, akhirnya gue mulai vakum di bulan keempat, bahkan nama gue jarang muncul di wall promo. Lalu, beberapa teman di Blogger Energy menanyakan kabar gue. "Kenapa jarang muncul lagi?", "Kok sekarang jarang promo, Rob?", "Rob, kamu nggak papa kan remedial Biologi terus-menerus?". Eh, yang terakhir nggak ada deh. Sungguh, kepedulian yang belum pernah gue temui di komunitas blog lain. Gue menanggapi dengan berbagai alasan. Mulai dari koneksi internet gue yang payah, sampai waktu yang sempit gara-gara sibuk ngerjain tugas. Padahal, gue mau banget bisa berinteraksi dengan mereka. 

Quote dari orang ganteng. Percaya, kan?

Sampai saat ini, gue belum juga aktf seperti dulu. Gue memutuskan untuk benar-benar vakum dalam promo sampai tahun ajaran 2014/2015 selesai. Tapi, gue tetap memantau pergerakan anggota baru. Kan lumayan, kalau ada anggota cewek yang seumuran plus cantik, bisa gue sikat :p Maksudnya, sikat kamar mandinya.

Ada yang datang dan ada juga yang pergi. Di antara orang yang pergi, tak jarang ada yang kembali. Begitulah gue, setelah lama pergi, inilah saatnya gue harus kembali. Gue bersiap meramaikan Blogger Energy. Doakan!

Terimalah kepulanganku, Blogger Energy. Dan, Selamat ulang tahun yang ketiga untuk komunitas blog yang memberikan energi positif setiap gue nge-blog. Semoga terus menjadi pelopor blogger personal di Indonesia, dan menjadi wadah bagi mereka--personal blogger-- untuk terus berkarya.

08 August 2015

Malam minggu ini gue menjalani hidup seperti anak sekolah pada umumnya. Ya, gue ngerjain PR yang seabrek-abrek. Daripada ngerjain satu hari sebelum dikumpulkan, lebih baik gue merelakan malam minggu gue untuk ngerjain PR. Hidup pekerja PR!

Setelah capek ngerjain beberapa PR, gue istirahat sejenak pukul 20.30 buat makan malam. Gue makan mi goreng yang Mama masak tadi setelah magrib. Sambil makan mi goreng, gue nonton pertandingan Piala Super Italia antara Juventus vs Lazio bersama Mama dan Bapak. Gue memang bukan seorang Juventini (sebutan untuk fans Juventus) atau Laziale (sebutan untuk fans Lazio), tapi gue emang suka tim-tim Italia. Padahal, ada alasan lain yang masuk akal: gue udah lama nggak nonton bola di tv.

Di sela-sela makan malam, tiba-tiba ada orang mengetuk pintu rumah gue. Suaranya seperti Ibu Aldira (nama disamarkan), tetangga gue. "Mbak Roh (panggilan akrab Mama), itu si Jai ngamuk-ngamuk di depan rumah," Ibu Aldira setengah teriak. Wajahnya panik.

"Ada apa sih?" kata Mama, mencoba menenangkan.

"Itu... itu... si Jai ngamuk-ngamuk di depan rumah. Pulang kerja langsung marah-marah. Nggak ada yang misahin."

Bapak matiin tv. Lalu, Mama dan Bapak langsung bergegas keluar nyamperin Bang Jai. Keduanya panik dan cemas. Takut ada hal yang nggak diinginkan terjadi, misalnya Bang Jai keluar rumah bawa-bawa ulekan, lalu berteriak ke rumah-rumah warga, "SERAHKAN KEPALA KALIAN! AKAN KUULEK KEPALA KALIAN! CEPAT!". Mereka semua keluar rumah, sedangkan gue, masih asik dengan sepiring mi goreng. Ya iyalah, belum abis, nih. Sayang banget kalau ditinggal. Lagian, kenapa sih tv-nya dimatiin?! Sebel deh.

Gue menyalakan tv. Nonton pertandingan bola yang tadinya sedikit terganggu karena ada orang ngamuk. Sambil makan mi goreng, gue menikmati jalannya pertandingan dan mi goreng. Beuh, nikmatnya malam minggu.
Nggak lama setelah Mama dan Bapak keluar, terdengar suara yang sangat berisik dari luar rumah. Mungkin itu karena rumah Bang Jai nggak terlalu jauh dari rumah gue. Gue penasaran dengan apa yang telah terjadi di sana. Apakah Mama bakal diulek? Wah, gue jadi takut.

Gue memutuskan buat nggak mau ikut campur urusan orang dewasa. Gue nggak peduli dengan kejadian itu. Gue memutuskan buat nambah mi goreng. Asli, mi goreng buatan Mama emang paling enak dibanding tukang mi goreng manapun. Agak ngeri juga sih sendirian di rumah. Kalau tiba-tiba Bang Jai ngulek kepala gue buat topping mi goreng, gimana? Gue pasrah.

Sekitar 10 menit kemudian, Bapak balik lagi ke rumah, tanpa bersama Mama. Gue makin takut dengan kecurigaan tadi. Bapak bilang kalau Bang Jai kesurupan. Beneran atau nggak, Bapak juga nggak tau. Tapi, mana ada, sih, orang yang ngaku kalau dirinya lagi kesurupan. "WOI, GUE LAGI KESURUPAN NEHH. JANGAN DEKET-DEKET GUE. NANTI GUE ULEK KEPALA LU!" Nggak mungkin.

Sekitar 5 menit berselang, giliran Mama yang masuk. Dia cerita banyak, seolah reporter yang baru aja dapat kasus. "Katanya, abis pulang kerja. Tiba-tiba marah nggak jelas," kata Mama ke gue. "Kayaknya 'ketempelan' deh."

Ketempelan? Istilah apa ini?

Gue tau, maksud Mama yang sebenarnya adalah "kesurupan". Ya, cuma beda istilah doang, sih.  Nggak mungkin kan kalau "ketempelan" dalam makna sesungguhnya.

Mama melanjutkan cerita dengan bahasa Jawa, seolah menirukan Bang Jai yang sedang kesurupan. "Jangan usir cucuku!" Pokoknya begitulah bahasa Indonesianya. Gue lupa apa aja yang diucapkan Mama.

Mama melanjutkan cerita. Katanya, mungkin Bang Jai "ketempelan" kakeknya. Nah, seperti yang gue bilang tadi, bukan ketempelan dalam arti sesungguhnya. Masa iya, Bang Jai ketempelan kakeknya. Tiap hari, punggungnya selalu berisi kakeknya lagi tidur.  Saat Bang Jai kerja, kakeknya masih juga nempel di punggungnya. Lalu, setelah pulang kerja dia marah-marah. Mungkin itu faktor utama Bang Jai marah-marah.

Balik lagi ke cerita. Katanya, ada kabar bahwa Bang Jai disuruh pindah rumah. Bang Jai adalah seorang perantau. Dia kerja di Jakarta dan tinggal bersama mertuanya. Mungkin, nggak enak juga sih rasanya bagi orang yang udah berumah tangga masih tinggal bersama mertua.

Nah, yang membuat gue heran adalah kenapa Mama bisa menyimpulkan kalau Bang Jai kemasukan arwah kakeknya? Sedangkan, kakeknya tinggal di daerah Jawa Tengah?

Begini maksud gue. Jarak antara Jawa Tengah ke Jakarta itu jaraknya jauh banget. Mana mungkin Bang Jai tiba-tiba kesurupan arwah kakeknya, sedangkan kakeknya lagi ada di Jawa Tengah? Itu mustahil, men. Aewah Kakek Bang Jai harus menempuh perjalanan paling tidak sekitar 10 jam!
Atau, mungkin, arwah Kakek Bang Jai udah lama menetap di Jakarta, lalu nge-kos. Gue sih nggak bisa ngebayangin kalau arwah makan mi instan, apalagi mi goreng.

Beda dengan Mama, gue punya pendapat sendiri mengenai kasus kesurupan Bang Jai. Menurut gue, Bang Jai menolak untuk pindah rumah, lalu memanfaatkan yang namanya kesurupan sebagai media proteksi diri. Bisa jadi begitu. Soalnya, gue pernah degar cerita dari Mama kalau ada temannya di tempat kerja yang pura-pura kesurupan.

Jadi gini, teman Mama itu sangat pelit. Dia nggak mau beli makanan, bahkan buat diri sendiri. Saat jam kerja, entah karena lapar atau belum makan seminggu (intinya belum makan), tiba-tiba dia teriak, "BELIIN SAYA GORENGAN!" menandakan bahwa dia lagi kesurupan. Segala cara dilakukan membuat teman Mama sadar. Ujung-ujungnya, teman Mama malah ketauan kalau lagi pura-pura kesurupan.

Jadi, sekarang gue tau apa itu manfaat dari kesurupan: untuk proteksi diri. Bisa dilakukan saat keadaan genting sekalipun, kecuali saat nahan boker. Tolong, jangan kesurupan ketika nahan boker.
Kesurupanlah pada tempatnya.

Ada yang pernah kesurupan? Atau pernah kesurupan setelah baca blog gue? Silakan komentar di kolom yang udah disediakan, jangan di kolom renang. (Iya, bener. Maksud lu kolam kan?)

Oke, sekian postingan kali ini. Terakhir, gue baru aja dapet salam dari teman SD gue yang sekarang tinggal di Spanyol.


05 August 2015

Gue selalu membayangkan bagaimana masa depan gue nantinya. Mengatur segala urusan rumah tangga tanpa bantuan orangtua, dan benar-benar harus matang dalam perencanaan segala hal. Mulai dari urusan masa depan anak, urusan hidup keluarga, dan yang terpenting urusan finansial.

Bagi gue, mengatur finansial adalah hal yang cukup rumit. Bayangkan, akhir-akhir ini gue sering melakukan pengeluaran. Serba repot ngatur pengeluaran mendadak, apalagi kalau misalnya kena palak preman. Bagaimana nantinya saat gue berumah tangga? Bisa hidup penuh kesengsaraan. Setiap hari cuma bisa ngasih makan anak dengan makanan yang nggak normal: Sup batu kerikil.

Mungkin gue terlalu dini untuk membicarakan masalah ini, tapi gue hanya membayangkan bagaimana masa depan gue nantinya. Karena, hidup adalah sebuah pilihan. Dan, pilihan ada di tangan kita, bukan di tangan kiper.

Lalu, apakah ada di antara kalian yang punya masalah dengan finansial? cermati.com solusinya!

Halaman depan cermati.com

Rob, apaan tuh cermati.com?

Gini, nih, kalau hidup cuma diisi dengan gosip di gerobak sayur, makanya jadi nggak tau perkembangan teknologi. Menurut sumber yang gue baca di website Cermati (sebutan untuk cermati.com) Cermati adalah perusahaan start-up yang bergerak di bidang teknologi finansial. Cermati merupakan situs pembanding produk finansial Indonesia. Dengan motto "Siap membantu masyarakat Indonesia lebih cermat berfinansial".

Website penipuan bukan tuh?

Tenang, Cermati didirikan oleh para teknologis dari Silicon Valley dengan tim yang sudah berpengalaman di perusahaan-perusahaan teknologi global terkemuka seperti Google, LinkedIn, Microsoft dan Oracle. Tim Cermati memiliki pengalaman total lebih dari 12 tahun dalam mengerjakan aplikasi dan situs web yang digunakan lebih dari ratusan juta user di seluruh dunia. Bukankah yang berpengalaman lebih memuaskan service-nya?


Cermati memiliki visi, yaitu menjadikan informasi finansial lebih mudah diakses dan lebih berguna bagi setiap orang dengan menggunakan platform teknologi.
Misi dari Cermati adalah memungkinkan setiap orang untuk mendapatkan kendali atas situasi finansial mereka dan menghemat uang mereka, dengan membuat keputusan finansial yang cermat. 

Udah mulai paham, kan, sekarang apa itu Cermati?

Paham, Rob. Nah, dari Cermati apa aja yang bisa didapat?

Produk-produk Cermati memungkinkan untuk membuat keputusan finansial yang paling tepat dan cermat untuk situasi finansial mereka. Bukankah kesuksesan finansial bermula dari keputusan yang cermat?

Produk-produk yang ditawarkan Cermati sangat beragam. Mulai dari Kartu Kredit, Kredit Tanpa Agunan (KTA), Kredit Multiguna (KMG), tabungan, deposito, kredit mobil dan lain-lain. 
 
Gimana contoh produknya?
 
Misalnya, kalian bingung mencari kredit motor yang masih dalam jangkauan uang kalian. Karena malas sibuk cari refrensi sana-sini, akhirnya batal deh punya motor. Beruntung, gue memperkenalkan Cermati pada kalian. Sekarang, lewat Cermati, kalian bisa cek harga kredit motor di Cermati mengenai cicilan harga yang memungkinkan dengan kondisi uang kalian. Di Cermati, juga disediakan fitur pencarian mengenai harga motor dan merek yang kalian inginkan.
Tinggal pilih kisaran harga, lalu pilih merek. Cari deh!

Kalau ketemu yang cocok, bisa tinggal ajukan deh. 
 
Ihiiiyy! Tenang, Neng, sekarang Abang udah punya motor.
Asik, bukan? Bisa langsung mengajukan kredit motor dengan bermodal duduk di depan komputer! Keren abis!

Selain kredit motor, di Cermati juga tersedia info tentang tabungan. Buat yang bingung mau nabung di bank mana, bisa cek di sini untuk membandingkan kelebihan masing-masing bank.

Tabungan yang ditawarkan Cermati
Kalau udah sreg sama bank yang dipilih, bisa langsung ajukan aplikasi juga, lho! Keren banget deh pokoknya!
Nggak sabar, deh, jadinya

Selain produk yang gue jelaskan di atas, ada juga artikel mengenai finansial yang sangat berguna. Ada tips keuangan, karir dan gaya hidup, dan lain sebagainya.
 
Sebenarnya, masih banyak lagi yang bisa didapat dari Cermati. Pokoknya, segala hal tentang finansial, cermati.com adalah solusi cermat dalam masalah finansial.

Wah... keren juga, ya, Cermati. Kalau gitu gue langsung cari info di Cermati, deh.

Nah, gitu dong. Jangan cuma ngegosip di gerobak sayur~

04 August 2015

Mungkin, di antara kalian yang rutin membaca blog gue, pasti ada yang bertanya-tanya bagaimana dengan nasib gue di kelas baru, kelas yang udah diacak lagi.

Sebelumnya, gue pernah jadi ketua kelas di 11 MIPA 2. Bisa dibaca di sini. Syukur-syukur dibaca, biar nyambung sama ceritanya.

PS: Untuk tahun ini, nama jurusan kembali dirubah. Sebelumnya menggunakan nama MIA, dan sekarang berubah jadi MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam). Gue nggak tau apa perubahan ini dialami seluruh SMA di Indonesia atau tidak. Tapi yang jelas, ini bukan hal yang biasa.

Entah ini dirasakan teman-teman gue atau nggak, gue mengalami perubahan karakter. Mungkin, di kelas 10 gue jadi lelaki-gembel-cengengesan, tapi sejak kelas 11 gue menjadi lelaki-gembel-penyendiri-dan-cengengesan. (Tetep, cengengesan itu perlu!). Iya, gue sekarang lebih jarang ngomong. Apa ini... pertanda 40 hari? 40 hari gue akan... menikah. Jangan. Jangan sampai!

Begitupun dengan yang gue rasakan ketika jadi ketua kelas saat kelas 11. Gue memasang wajah kaku, layaknya kanebo kering. Eh, emang bener sih muka gue mirip kanebo. Gue jarang bicara. Gue pasif. Pokoknya bukan mencirikan ketua pada umumnya deh.

Semua ke-pasif-an gue timbul karena adanya penyakit pada diri gue, yaitu nggak mau ngomong sama orang yang nggak kenal sama sekali. Semua orang di mata gue adalah orang asing yang siap menerkam jika gue berbicara. Penyakit, nih, namanya!

Beruntung, gue pindah kelas. Secara otomatis, gue udah nggak jadi ketua kelas lagi. Kalau dibilang senang, ya, senang. Tapi ada sedihnya juga. Senang karena lepas dari tanggung jawab kelas, sedih karena baru aja gue kehilangan momen langka. Lebih banyak senangnya sih, hehehe.

Di kelas baru pun gue masih jadi orang yang pendiam. Cuma ngobrol sama teman yang gue kenal dari kelas 10. Sisanya, paling ngobrol sama cowok. Tapi, gue pun ngeri juga ngobrol sama cowok. Kalau salah ngomong, leher gue bisa patah.

Gue punya trik tersendiri ketika ngobrol, yaitu basa-basi yang nggak bermanfaat tapi tetap enak buat jadi bahan obrolan. Makanya, gue lebih suka ngobrol sama cowok karena topiknya yang mudah diangkat. Misal, ngomongin bola, ngomongin spongebob, sama ngomongin berbau kamar mandi. Yak, maksudnya adalah kran air. Tapi, gue memperingatkan jangan sampai berbasa-basi dengan topik yang terlalu dangkal. Misal,

"Hai," kata cowok A dengan penampilan kumis tipis, rambut kelimis dan otot kekar.
"Hai juga," kata cowok B yang berpenampilan seperti preman pasar.

(Tapi, KENAPA PREMAN PASAR MAU NYAUTIN, YA?!)

"Hmmmm," terlihat wajah malu-malu si cowok B.
"Enaknya ngobrolin apa, ya?" kata si cowok A. Memecah keheningan.
"Nggak tau deh." jawab cowok B singkat. "Oh iya, gue boleh tanya sesuatu nggak?"
"Mau nanya apa?"
"Lu suka warna apa?" tanya cowok B.

Seketika, tampang preman pasar menjadi tak ada harganya.

"Merah muda." jawab cowok A. Kumis tipisnya bergetar, seakan-akan memprotes, "APA GUNANYA KEHADIRANKU, BANG?! JIKA KAMU SUKA WARNA MERAH MUDA."
"Ih, sama dong."

Mereka mulai akrab, cubit-cubitan, ciuman, dan jadian. Romantis sekali.

Dalam berkenalan, hal terpenting dan yang utama adalah menyebutkan nama. Sama seperti yang diminta Bu Iin--guru Kimia gue-- hari Senin kemarin.

Hari itu adalah pertemuan pertama pelajaran Kimia. Tapi, bagi gue, ini adalah yang kedua setelah gue merasakannya di kelas 11 MIPA 2 (kelas gue sebelum diacak). Bu Iin ingin kenal nama siswa satu per satu. Karena nggak ada absen, jadilah kita semua berkenalan dengan berdiri lalu menyebutkan nama.

Tiba giliran gue untuk menyebutkan nama. Gue berdiri, lalu mengatakan, "Nama saya Robby Haryanto, dipanggil Robby," Sebenarnya gue mau bilang, "Nama saya Robby Haryanto. Saya berkewarganegaraan Maroko. Ya, sebelas-dua belaslah sama Maroane Chamakh. Cita-cita saya mau jadi presiden Maroko," tapi gue urungkan niat itu. Takut disekap lalu dibuang ke Nusakambangan.

Gue bingung dengan orang-orang yang akhir-akhir ini sering ngobrol dengan gue. Pasti mereka semua bilang "Ha?". Entah suara gue yang kecil atau kuping mereka yang kemasukan kapuk bantal. Begitu juga dengan Bu Iin.

"Ha? Coba ulang lagi," kata Bu Iin.
"Nama saya Robby Haryanto. Dipanggilnya Robby."
"Ha? Audi?"

Gue tertawa. Gue tutup mulut menahan tertawa. Bu Iin geleng-geleng. Nama Robby diganti menjadi Audi, rasanya mau makan kapuk bantal sampai gue gemuk.

Mungkin, ini postingan yang nggak terlalu niat. Lumayan lah, buat baca-baca sebelum tidur.

01 August 2015

Mungkin, orang yang pernah sekolah sepakat kalau pelajaran Matematika adalah pelajaran paling sulit. Gue pun begitu. Kadang Matematika sangat mudah dipahami, di lain hari jadi susah dipahami. Mirip sama perasaannya cewek, susah ditebak.

Hari itu, tepatnya hari Jumat, masih tersisa pelajaran Matematika Peminatan sebelum pulang. Pelajaran Matematika Peminatan dimulai dari jam 1 siang. Sampai pukul 13.15, guru gue --Pak Maryana-- belum masuk ke kelas. Ada kabar yang menyebutkan kalau Pak Maryana nggak masuk. Ada juga yang bilang Pak Maryana pulang. Ternyata, kabar itu cuma hoax. Pukul 13.20 beliau masuk ke kelas gue.

Seperti guru-guru yang lain saat pertama kali masuk kelas, Pak Maryana memulai pelajaran dengan memberi ceramah. Setelah mendengar khutbah Jumat, kini gue harus dengar ceramah dari Pak Mar--sapaan dari Pak Maryana--. Bawaannya mau sholat Jumat lagi di kelas.


Sekitar 20 menit memberi ceramah dan motivasi. Topik utamanya adalah seputar kerja sama kelas. Pokoknya, inti dari 20 menit itu adalah jangan pelit berbagi sama teman yang nggak paham materi. Beruntung bagi gue yang kadang nggak ngerti pelajaran Matematika Peminatan. Bersabarlah teman-teman yang nanti gue repotkan dengan pertanyaan-pertanyaan klasik: "Kok bisa dapet segini?", "Ini gimana caranya?", "Bapak kamu tukang tambal ban, ya?" Yang terakhir abaikan saja. Kebiasaan nge-gombal kebawa di blog.

"Baiklah, kita masuk ke materi awal di semester satu di kelas 11," kata Pak Mar. "Kita masuk ke bab Polinomial." Pak Mar menambahkan. Lalu, bertanya ke para murid, "Ada yang tau apa itu Polinomial?"

Seisi kelas hening. Nggak ada yang tau apa itu Polinomial.

"Mungkin kalian tau apa itu poli. Atau pernah mendengar istilah poligami. Poli artinya?"

"Banyak." murid-murid menjawab serentak. Ada yang tertawa mendengar kata poligami. Entah apa yang bikin orang itu ketawa.

"Jadi Polinomial adalah bentuk pangkat suku banyak."

Oh, ternyata Polinomial itu artinya bentuk pangkat suku banyak. Tadinya gue sempat berpikir Polinomial adalah sebuah kata yang terdiri dari beberapa kata yang punya arti berbeda. Inilah Polinomial yang gue maksud,


Poli: banyak
No: tidak
Mi: mi instan
Al: semua (maksudnya all)

Kalau dibalik, jadinya: Semua mi instan tidak banyak. Ah, lupakan.

Pak Mar mulai memberikan contoh bentuk dari Polinomial. Gue mulai tau dan mengenal beberapa bentuk Polinomial. Lalu, Pak memeberi contoh sistem operasi Polinomial, yaitu penjumlahan dan pengurangan. Gue masih paham.
Masuk ke bentuk perkalian, gue mulai keblinger. Kampret, banyak banget nih hitungannya, kata gue. Untung gue duduk di sebelah orang yang benar. Dia adalah Abilio, teman sekelas saat lintas minat Bahasa Inggris. Abil ini orangnya baik. Gue diajarin sampai ngerti sama dia. Untung dia cowok, kalau cewek pasti gue jadiin emak tuh.

Baru kali ini gue bisa lebih dekat dengan Abil. Sebentar, gue ngomong lagi deket sama cowok, kok rasanya jadi kayak orang yang baru memulai karir sebagai homo, ya? Ya, pokoknya jangan jijik atau mengira gue homo, tapi ini yang namanya pertemanan. Tolong, jangan salah paham.

Jam dinding menunjukkan pukul 14.20. Sedangkan di hape gue menunjuk pukul 14.18. Gue iseng buka jam di hape buat membandingkan dengan jam dinding. Tapi, ada satu pemberitahuan yang muncul.

2 panggilan tak terjawab. 021xxxxxxx.

Dua panggilan tak terjawab dari 10 digit nomor. Siapa dia? Nomornya nggak ada di kontak gue. Jangan-jangan dia adalah orang yang menemukan sendal gue yang hilang saat tarawih di Bekasi. Eh, tapi mana mungkin. Di sendal itu nggak ada nomor telepon gue.Nomor itu gue abaikan, nggak gue pikirin.

Pukul 14.40 adalah puncak masalah yang timbul. Kepala gue pusing, mabok kebanyakan ngeliat variabel, pangkat, dan angka. Aneh, gue nggak pernah mabok ketika perjalanan, tapi ketika berhadapan dengan variabel gue merasa mabok. Setidaknya, mabok gue lebih keren.
Sebenarnya, gue mengira bakal pulang jam setengah 3. Tapi, sampai jam setengah 3 belum terdengar bel pulang. Ya, gue harap sih pukul 14.45 udah pulang.

PUSING PALAWIJA

10 menit kemudian, bel pulang belum berbunyi. Gue jadi sering ketawa sendiri gara-gara mabok ngeliat papan tulis yang penuh dengan angka dan variabel. Hati gue berteriak, "Pulangkan kami! Pulangkan kami! Pulangkan saja, aku pada ibuku atau ayahku! (Woy, dangdut!)".

Akhirnya, bel berbunyi, tapi pukul 15.20. Ya, nggak masalah sih, justru gue bersyukur. Setidaknya pelajaran Matematika Peminatan hari ini selesai dan kepala gue terhindar dari ledakan hebat.

Baca sambungannya di sini.

Extra:

Pulang sekolah gue bareng Oky naik angkot. Kita ngobrolin pelajaran di kelas kita masing-masing. Tentu, gue punya topik yang menarik, yaitu problematika Matematika yang gue alami tadi. Saking serunya ngobrol, nggak terasa Oku udah turun duluan dari angkot. Obrolan kita selesai hari itu.

Setelah Oky turun mendahulu gue, gue ngecek hape. Kali aja ada pulsa nyasar ke hape gue. Baru aja buka hape, tiba-tiba nomor yang tadi nelepon gue kembali nelepon. Siapa tau ini rezeki, angkat aja lah, pikir gue.

"Halo, siapa ini"

"bla bla bla bla bla bla" suara dari seberang sana. Nggak jelas, tapi suaranya cewek. Mungkin kalian berpikir "Emang ada cewek yang ngomongnya blablablablabla?" Bukan gitu maksudnya.

"Apakah bapak pemilik email robbyharyanto1@gmail.com?" kata si mbak-mbak-bersuara-blablabla.

Tunggu, kenapa dia beranggapan gue adalah seorang bapak? AKU MASIH SMA KELAS 2, MBAK.

"Iya benar" jawab gue singkat.

"Saya minta waktu bapak sebentar. Sekitar dua sampai tiga menit untuk menanyakan paket Bolt bapak."

Paket bolt? Nah, jadi sejak pertama kali gue paket Bolt 45 hari yang lalu, gue belum pernah beli pulsa. Gue masih memanfaatkan bonus yang dberikan. Lumayan, bro, 8 GB!

"Bolehkah saya tau mengapa bapak belum membeli pulsa?" kata si mbak-mbak.

Gue diam dan bingung. Sebenarnya gue udah menyiapkan banyak jawaban, tapi gue masih di angkot. Ini ruang publik. Gue malu kalau publik tau dengan nasib gue sekarang: belum beli pulsa BOLT.

"Nanti saja mbak. Saya masih di perjalanan pulang." kata gue."

"Oh, lagi di jalan." kata mbak-mbak penagih pulsa dengan nada seorang pacar yang posesif. Lalu dilanjutkan suara yang semakin nggak jelas "bla bla bla bla."

Gue hentikan panggilan.

Sejujurnya, gue mau banget ngejelasin banyak hal. Tapi masalah utamanya adalah "KENAPA MANGGIL GUE DENGAN SEBUTAN BAPAK??! GUE TAU MUKA GUE KELIATAN TUA, TAPI GUE MASIH 16 TAHUUUN!" Kzl. Gue juga takut kalau terlalu nyaman ngejelasin perasaan gue, tiba-tiba gue suka sama si mbak-mbak. Kan repot.

Sampai di rumah, gue berharap mbak-mbak tadi itu nelepon gue lagi. Tapi, sampai gue menulis post ini, gue belum ditelepon kembali. #Ngarep
Bagi sebagian orang, bertemu dengan hal baru rasanya sangat mudah dan cepat untuk menyesuaikan. Beda dengan sebagian lainnya yang harus berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk bisa mengenali kebiasaan lingkungannya. Termasuk gue yang lambat dalam beradaptasi dengan hal baru. Gue baru bisa kenal dengan teman sekelas setelah sebulan bersama. Tapi, gue pernah kena karma akibat dari sifat buruk gue.


Waktu kelas 9, gue pernah mendengar ada seorang cewek yang sekelas dengan gue, bertanya ke temannya. "Robby itu yang mana sih orangnya?" Padahal, kita udah sekelas satu semester. 
Tapi kebiasaan buruk gue berkurang saat SMA. Puncaknya, tahun ini. Tahun ini, gue baru naik ke kelas 11. Semua teman baru, udah hampir semua gue kenal. Paling, ada satu anak yang nggak gue kenal. Namanya Robby Haryanto. Kalau ada yang tau, kasih tau di komentar ya!

Baru kali ini gue merasa yang namanya "pindah dari lingkungan baru itu nggak enak". Ceritanya berawal tadi siang.

Setelah sholat Jumat, masih ada pelajaran Matematika Peminatan. Selama pelajaran Matematika Peminatan berlangsung, ada momen yang berarti begitu dalam. Jadi ceritanya..., biar lebih mendalam, nanti aja gue ceritakan di post selanjutnya hehehe~

Singkat cerita, pelajaran Matematika Peminatan selesai. Setelah keluar kelas, gue nggak langsung pulang, tapi pergi ngikut Owi, teman gue, beli buku Matematika Peminatan yang disuruh Pak Maryana, guru Matematika Peminatan. (Nah, itu bagian dari spoiler).
Gue keluar menuju pintu belakang. Toko buku yang mau dituju jaraknya nggak jauh dari sekolah, dan perjalanan lebih cepat kalau lewat pintu belakang. Entah sihir apa yang dimiliki pintu itu, gue juga nggak tau. Kita ke toko nggak cuma berdua, tapi ada Oky yang udah nunggu sejak kelas gue belum keluar pulang. Niatnya mau ngajak gue pulang, tapi gue diajak mampir ke toko buku sama Owi. Ya, cuma dia yang paling sering ngajak gue pulang bareng. Terpaksa, Oky ngikut kita berdua.

Baru beberapa langkah keluar pintu, gue mendengar pengumuman kalau ekskul yang gue ikuti, KIR; Kelompok Ilmiah Remaja, ada kegiatan dan disuruh ngumpul di ruang 19. Gue yang niat awal mau ngikut Owi beli buku, terpaksa harus masuk lagi. Gue nggak enak kalau harus bolos KIR. Gue izin ke Owi, lalu gue balik lagi masuk ke sekolah.

Sampai di dekat ruang 19, gue melihat jemaah sholat Ashar udah banyak. Mendingan sholat dulu deh, lagian di ruang 19 masih sedikit orangnya, pikir gue. Gue memutuskan buat sholat Ashar terlebih dahulu.
Setelah sholat Ashar, gue melihat Owi dan Oky duduk di depan masjid. Gue tanya ke mereka, "Lu udah beli buku?" Tapi, kayaknya pertanyaan gue kurang tepat setelah melihat tangan Owi nggak membawa apapun. "Nggak ada, Rob." jawabnya singkat. Benar aja, buku yang dicontohkan Pak Maryana nggak ada di toko buku dekat sekolah gue. 

"Rob, lu nggak ngeliat pengumuman kelas? Diacak lagi tuh." kata Owi.
"Hah, emang udah diacak lagi?" gue kaget. "Ayoklah liat dulu." gue ngajak Owi dan Oky ke papan pengumuman kelas itu.
"Ayo." mereka kompak menjawab.

Gue masih dalam keadaan nyeker. Sebelum menuju papan pengumuman (sebenernya bukan papan. Cuma lemari kaca tempat nyimpan piala, terus dijadikan tempat nempelin kertas yang berisi pembagian kelas), gue pake sepatu untuk menghindari kemungkinan buruk yang bakal terjadi; kaki gue nginjek kotoran kucing. Sambil pake sepatu, gue berucap, "Ye ye ye, pindah kelas ini mah".

"Lu pindah kelas?" kata Racka, anak kelas sebelah yang kebetulan lagi duduk di sebelah gue. Dia salah tanggap, gue mengklarifikasi ucapan gue tadi. "Nggak sih. Gue cuma bercanda. Lagian gue juga belum ngeliat."

Sampai di sana, gue ngeliat kerumunan orang. Banyak banget yang ngeliat pembagian kelas. Gue memilih menyingkir sebentar. Gue yakin, kalau gue buka dagangan di situ, gue bisa kaya mendadak. Atau, kalau gue punya niat jahat, gue bisa jadikan ini ladang buat ngepet. Nggak mungkin, ya. Gue orang baik kok.

"Rob, lu sekelas lagi sama gua ha... ha... ha...," kata Giyats sambil tertawa menghampiri gue.
"Hah serius?" gue kaget penasaran.
"Iya, coba liat aja." 

For your information, Giyats adalah teman gue sewaktu kelas 10 dan kita terpisah saat kelas 11. Gue di 11 MIA 2, sedangkan Giyats ada di 11 MIA 3. Makanya, setelah Giyats ngomong begitu, gue kaget.

Gue makin penasaran. Tapi ngeliat kerumunan orang yang ngebet mau ngeliat nasibnya--pindah kelas atau tetap--, gue mengeluh.

"Anjrit, rame banget," kata gue. Lalu, tatapan gue kosong membayangkan hal lain. "Untung tadi gue udah pake sepatu. Kalo nggak pake, kaki gue udah jadi dendeng kali diinjek segitu banyak orang. Eh iya, di sini nggak ada tai kucing kan?" Dalam kondisi rame begini, gue sempet-sempetnya bisa melamun. Melamun jorok pula.

"Ah iya, mending buka grup line." kata Owi membuyarkan lamunan gue.

"Nah iya tuh." gue jawab singkat. Saking nafsunya mau ngeliat.

"Eh iya, kenapa nggak kepikiran dari tadi?" sambar Oky. Biar kesannya berpartisipasi.
 
Ternyata benar, ada yang nge-share foto kertas pembagian kelas di grup line yang isinya satu angkatan. Gue berpikir, buat apa mereka ngeliat di papan kalau ada di line? Cerdas juga pemikiran gue.

Owi mencoba melihat gambarnya. Tapi gambarnya samar. Malah gue nggak melihat sama sekali. "Ah udahlah. Liat di situ aja." kata Owi memerintahkan kita buat ngeliat ke papan. Gue dan Oky cuma bisa bilang, "Kampret! Itu masih rame."

Beruntung, saat kita semua ngeliat pembagian kelas, udah nggak banyak orang yang ngeliat. Gue langsung perhatikan ke papan, dan melihat kejanggalan terjadi. Tatapan gue terfokus ke deret kelas 11 MIA 2. "NGGAK ADA NAMA GUE!" kata gue berteriak. Gue perhatikan lagi, nama gue ada di kelas 11 MIA 1. Ternyata, apa yang Giyats bilang bener. Gue benar-benar pindah kelas. Gue ikutan tertawa.
Sebenarnya, gue agak kesal juga sekaligus menyesalkan kejadian ini. Kenapa omongan bercanda gue jadi benar kejadian begini? Padahal, cuma bercanda. Gue pulang. Gue jadi lupa segalanya. Gue nggak jadi KIR. Gue pulang sambil menggerutu sebagai bentuk protes.

Karena bagi gue, memulai hal yang baru setelah mendapat hal baru sangat nggak mengenakan. Contohnya, gue baru aja seminggu berada di kelas 11 MIA 2. Malah bisa jadi ketua kelas di hari kedua. Udah lumayan kenal sama beberapa teman, walau nggak semua.
Kelas 11 MIA 2 letaknya di lantai dua. Kelasnya menghadap ke arah kantin. Walaupun itu cuma kelas sementara, sebelum ada sistem moving class; pindah ruang kelas setiap berganti pelajaran. Di kelas itu, gue punya kebiasaan baru saat istirahat. Kebiasaan gue saat istirahat adalah menatap ke arah kantin dari besi pembatas, ngeliatin doi. Ibu-ibu kantin maksudnya.

Gue sedih harus melepas semua hal yang baru seminggu gue punya. Harus beda kelas dengan teman yang baru kenal seminggu. Melepas kebiasaan yang membuat gue lupa kalau gue sebenarnya punya phobia ketinggian. Dan masih banyak hal yang lainnya.

Mungkin, gue belum tentu bisa menemukan teman yang sama persis seperti di kelas 11 MIA 2. Kebiasaan-kebiasaan yang gue lakukan, belum tentu sama rasanya jika dilakukan di tempat lain. Bisa jadi, gue malah makin takut ketinggian. Entahlah.

Sekarang, waktunya gue beradaptasi kembali. Bertemu teman baru dan menemukan kebiasaan yang bisa membuat gue lupa phobia, termasuk phobia menerima lingkungan baru.

Anjrit, bisa juga ya gue bergalau-galauan? Jangan keterusan lah, malah nggak seru. Bener nggak? :)