Kebiasaan Buruk Pengunjung Gramedia

Gue merasa ada perubahan dalam diri mengenai minat membaca buku. Walaupun gue cuma baca buku jenis tertentu (pastinya menghindari buku pelajaran), tapi setidaknya ada peningkatan dalam minat baca buku. Dulu, gue nggak tahan baca novel selama 20 menit. Sekarang, gue bisa 30 menit baca novel. 10 menit buat baca, sisanya gue ketiduran.

Peningkatan itu ditandai dengan seringnya gue ke Gramedia. Setiap pulang les, tepatnya hari Minggu (saat kelas 10) atau Sabtu (saat kelas 11), gue sering ke Gramedia buat beli atau sekedar liat-liat cewek cakep buku baru.

Pokoknya, Gramedia tempat ngabisin waktu paling seru~ (Gue nggak tau ini Gramed mana. Sumber: Google)
Karena seringnya gue ke Gramedia, gue jadi tau kebiasaan pengunjung Gramedia. Mungkin nggak cuma di Gramedia, tapi di toko buku lainnya juga hampir mirip kebiasaannya. Berikut adalah kebiasaan buruk yang gue amati di Gramedia dan gue rangkai menjadi sebuah cerita. Mainkaaan~

1. Buka bungkus, tinggal pergi.
Di sebuah Gramedia, ada seorang pemuda yang usianya sekitar 2-3 tahun lebih tua dari gue mendatangi rak buku berkategori Bank Soal. Gue memperhatikan, orang itu melirik sebuah buku Bank Soal UN SMA. Dari awal kedatangannya, dia memang mau membeli buku itu, ditandai dengan sebuah anggukan kecil setelah melihat bagian belakang buku. Karena ragu dengan isi buku, khawatir ada surat teror di dalamnya, dia membuka bungkus dengan lihai tanpa ketauan petugas. Gerakan tangannya cepat, matanya mengawasi sekitar, hidungnya mengendus. Singkat cerita, buku itu lepas dari bungkusnya. Senyum kemenangan timbul di bibirnya. Gue memperhatikan dari jauh dan menggelengkan kepala pertanda nggak setuju dengan perbuatan orang itu. Ya, gimana nggak setuju, buang plastiknya sembarangan, sih.

Orang itu langsung melihat isi buku. Halaman demi halaman dia buka. Gue bergerak mendekati dia, sekitar 5 langkah di samping kanannya. Satu menit kemudian, buku itu ditaruh kembali ke tempat semula sambil mengatakan "Kampret! Buku ini gue udah punya!" Buku itu nggak jadi dibeli. Lu tau gimana rasanya jadi buku yang udah nggak dibungkus dan nggak jadi dibeli? Jadi nggak laku, bro.

2. Baca buku gratisan dan menghalangi jalan
Setelah buku yang nggak jadi dibeli telah dibuka bungkusnya, muncul empat orang yang usianya sepantaran dengan orang tadi dan menghampiri buku tersebut. Hasilnya? Buku itu dibaca mereka. Alhamdulillah, masih ada yang mau baca. Mereka semua duduk di lantai, membentuk lingkaran. Salah satu dari mereka membacakan soal. 
"Seorang anak melempari buah kelapa yang berada tepat di atasnya yang tingginya 100 kilometer dari tanah. Supaya kelapa terkena batu, berapakah minimal besar kecepatan awalnya?"
Suara orang yang membaca soal itu terdengar oleh gue yang nggak jauh dari posisi mereka duduk. Gue sedikit kaget melihat dan mendengar tingkah mereka. "Lo pikir ini kerja kelompok?! Ini Gramedia, tuan-tuan, nyonya-nyonya. Kasian orang-orang yang mau lewat."

3. Baca buku sambil tiduran di lantai
Nggak terasa, mereka semua keasyikan baca dan belajar. Mereka nggak sadar telah merubah posisi membaca mereka dari duduk menjadi tiduran. Yak, tiduran. Emang, sih, niat buat pintar itu nggak boleh dihalangi, tapi harus tau tempat dong. Kalau ketiduran gimana? Kan repot.

4. Naruh buku nggak sesuai kategori
Karena mereka risih dan lelah membaca, mereka akhirnya meninggalkan buku itu. Tentu saja, buku itu masih dalam keadaan belum terjual. Mereka meletakkan buku itu ke rak terdekat dari posisi tiduran mereka. Tapi, anehnya, ada tulisan "Anak-anak" di atas rak. Mungkin karena mereka tiduran sambil berguling, mereka nggak sadar telah berpindah posisi dari buku kategori Bank Soal menjadi Anak-anak.

Mereka nggak sadar telah menaruh buku di kategori yang beda.

***

Segitu aja cerita imajinasi gue. Sekarang masuk ke dunia nyata, yang benar-benar gue alami...

Sejujurnya, gue paling terganggu dengan yang nomor 4. Gimana nggak, saat nyari buku yang benar-benar sulit dicari, lalu kita beli buku yang sejenis, kemudian setelah bayar kita ngeliat buku yang dicari ada di kategori yang nggak ada hubungannya. Kesel, kan? Pastilah. Eh, maaf, kebawa emosi...

Selain itu, gimana kalau seandainya kasus yang di cerita tadi diteruskan dan terjadi di kehidupan nyata? Misalnya, ada anak kecil pergi ke rak buku dengan kategori Buku Anak. Si anak melihat sebuah buku dengan tulisan kover depan "Lulus SMA 100%". Entah tertarik dengan gambar atau warna sampulnya, si anak merengek ke ibunya. "Mama, aku mau beli buku ini," rengek si anak.
Si ibu heran, "Kamu belum pantas buat baca buku ini, Nak,". Karena si anak makin ngeyel, dia memaksa ibunya buat beli buku itu. "Pokoknya, aku nggak mau tau. Mama harus beliin aku buku itu!" Si ibu kesal, lalu memarahi anaknya, "Oke! Nanti ibu belikan buku itu. Sekalian buku Tes TOEFL dan Tes CPNS juga biar mabok kau..."

Sedih, kan, jadi anak kecil. Mereka harusnya baca buku yang sepantasnya mereka baca.

Untuk mengakhiri postingan kali ini, gue akan bercerita sedikit yang benar-benar terjadi. Masih berkaitan dengan salah menempatkan kategori buku.

Minggu siang, sekitar dua minggu yang lalu, gue berada di Gramedia. Gue ngeliat-liat buku  kategori New Arrival. Kemudian, pandangan gue beralih ke buku dengan kategori Fiksi, genre buku yang belum pernah gue baca sebelumnya. Baru baca judulnya aja gue udah geleng-geleng, gue nggak ngerti dan tertarik. Tapi, apa salahnya buat tau judul-judul buku.

Semua buku yang ada di kategori Fiksi gue telusuri. Lalu, pandangan gue terbuyarkan oleh sebuah buku dengan kover yang pernah gue temui sebelumnya. Mungkin, semua orang tau dengan kover buku yang satu ini; ada seorang kakek-kakek memakai peci dan memegang tongkat. Gue yakin, ciri-ciri tadi pasti kalian mengenalinya. IYA! ITU BUKU IQRO'


Gue bertanya-tanya setelah melihat buku itu. "Ini kerjaan siapa coba? Lagian siapa, sih, yang abis ngaji di Gramedia? Kenapa nggak dibalikin ke masjid atau ke kategori yang sepantasnya."

Buku Iqro' ditempatkan di buku Fiksi. Bagaimana pendapatmu? Saya sih lelah dengan ini semua..


41 komentar:

  1. Paling kesel sama nomer 1. Gak berperasaan banget! Iya bener banget, buku yang udah dibuka segelnya bikin gak laku :( kalau nomor 4, itu masih bisa dikembalikan oleh penjaganya. Kalau mereka peka, pasti penjaganya akan mengembalikan sesuai dengan rak semestinya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya buka plastik buku di gramed sah-sah aja kok, gue dulu malah sering minta dibukain sama penjaganya. Soalnya bukunya dibuka emang buat sampel.

      Bukannya tiap kita ke gramedia pasti ada buku yang udah kebuka? dan nyatanya nggak masalah kan. Karena emang buka plastik sampul di gramedia itu nggak masalah. kalo nggak percaya coba aja bilang, pasti dibolehin kok...

      Lagian kadang kita juga butuh ngintip dalemnya dulu buat meyakinkan diri mau beli apa enggak.

      Delete
    2. Setuju sama Bang Edotz. Ada juga buku yang emang sengaja dibuka buat sampel. Tapi malah kebanyakan yang nggak jadi beli. Begitu sih yang sering gue lihat

      Delete
    3. iya sih, kalau digramedia itu pasti ada kok buku sampel yang udah kebuka. bahkan sampai udah kumuh juga ada :v. Yang nggak banget itu udah ada sampel tapi masih buka yang masih kebungkus, padahal bukunya sama.

      Delete
  2. Hahaha masa sih ada yang sampe tiduran. :))
    Iya sih agak nyebelin kalo tempatnya gak sesuai. Jadi ngiranya udah abis ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya bocah yang tiduran~

      Iya, kan jadi kesel juga.

      Delete
  3. ehaha pengen coba g no 1 tapi takut ketauan terus wkwk

    ReplyDelete
  4. Untung ya itu hanya imajinasi. Gak bisa bayangin gmn jadinya klo orang tiduran di lantai Gramedia hny utk baca buku. Haduuuwww

    Miris jg sih klo liat kelakuan yg nomer 1, buka bungkus lalu pergi. Udah gak sopan. Merusak pula huhuhj

    Apalgi yg naruh buku ga ssuai kategori hmmm
    Btw itu buku iqro fenomenal bgt. Q jg pny hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari akar masalahnya bener kejadian, cuma ditambahin imajinasi aja.

      Yoi, dengan buku itu semua orang bisa baca Al-Qur'an :)

      Delete
  5. nomer 1 itu yg paling ngselin...
    kalo sempet ketahuan sama gue udah gue seret ke kasir tu buat bayarin buku yg udah dia rusak :@

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, sesuai dengan kalimat "membuka berarti membeli"

      Delete
  6. gue kira ke empat poin itu beneran kejadian nyata... ternyata hanya imajinasi.. tapi ngga menutup kemungkinan klo yg seperti itu bkalan kejadian.. mudah2an jangan sampe dah...

    gue ngga pernah tau situasi didalam gramedia tuh kaya gmna.. soalnya ngga ada gramedia di tempat gue.. haha... cuma toko buku biasa.. itu pun jarang gue kunjungi..

    Keterlaluan sekali itu buku iqro malah msuk kategori fiksi... hadeh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yak, setuju. Semoga jangan ada kejadian yang gue ceritakan.

      Yaah, ketauan jarang baca buku nih. Tapi baca Iqro' pernah kan?

      Delete
  7. Udah pernah liat semuanya kecuali no 1, kirain kalo udah buka segel itu petugasnya yang buka buat sampel, ternyata malah pengunjungnya ya, ah sok banget, gemes sendiri, itu sama aja pemerkosaan buku :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. (((Pemerkosaan buku)))) Wow, bahasanya eksotis :p

      Delete
  8. malah gue seneng tipe nomer 1, jadi bisa baca buku tanpa membeli tuh haha

    Elah seriusan itu ada yang naro buku iqra di tempat fiksi? astgafirullah, kakek kakek yang ada di belakang buku iqranya, nangis kali yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, ini nih... yang setipe sama gue. Pembaca gratisan hehehe~ Tapi gue baca yang udah dibuka kok.

      Nggak tau juga deh dengan nasib buku Iqro' itu. Semoga ditempatkan ke tempat sewajarnya.

      Delete
  9. kalau yang buka bungkus langsung pergi mah.. BIASA.... sering banget kayak gitu. gue mah kasian sama penulis bukunya, capek2 ngetik naskah.. eh bukunya dibaca secara gratis. nggak ada ketegasan gitu dari pihak toko sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju dengangmu, Jev. Semoga aja buku lu nanti nggak bernasib dengan cerita gue :))

      Delete
  10. Wih greget banget tuh yang baca sambil tiduran pasti besoknya dia bawa kasur sofa dan tv ke gramedia, mau ngekost disana. Heheh

    Aku jarang sih ke toko buku jadinya gak terlalu tau apa aja hal yang ngeselin disana. Cuma yang nomer satu bisa memberikan sedikit kemudahan bagi pembeli, kan takutnya pas ngeliat covernya bagus tapi isinya nggak bagus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha itu mah niat banget nggak mau bayar kost :D

      Ada benarnya juga. Tapi nggak semua buku harus dibuka ya.

      Delete
  11. Yang no 4 itu gua yang ngajarin :v

    ReplyDelete
  12. Kalau aku paling kesal sama nomor 1
    Tapi kadang kadang kepikiran juga sih, itu kan juga perilaku yang biasanya kejadian di perpustakaan. Mungkin emang kita butuh perpustakaan yang bukunya up to date biar kalo ke toko buku nggak ada yang gegoleran gitu di sana, karena kalau mau sekedar baca aja, ada perpusnya. Etapi ... kalo ada perpustakaan super up to date, toko buku sepi dong, mending minjem. *absurd

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dah, iya. Perpustakan super up to date... ide cemerlang nih buat usaha.

      Delete
  13. Itu poin 3 kalau beneran tahu, pasti langsung aku sepak tuh ;D lagian, ngapain juga gitu lo sampai tiduran -_-, hahaha, yang poin 2 tuh aku banget, bahkan karena jalannya terhalangi, ada yang lewat bukunya pada jatuh, karena sempit jalannya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. btw, aku baru mampir ke sini nih...kalau mampir polo polo blog ya :D

      Delete
    2. Injek aja kalo bisa, jangan cuma disepak :D

      Delete
  14. Sebagai manusia yang jarang ke gramed (karna di pmk gak ada) maka gw mengaku awam soal ini. Tapiiiii.. Yg kerja klompok di buat lingkaran gw ngakak :vv

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayang sekali nggak bisa ngeliat kisah aneh di Gramed. Sekarang jadi tau kan? :p

      Delete
  15. Betul juga analisanya memang itu terjadi. Sebetulnya kebanyakan mereka tidak membaca terlebih dahulu sinopsis dan review buku tersebut. Karena penasaran merekapun membuka.

    Karena boleh jadi mereka belum kenal dengan siapa penulisnya dan bagaimana kualitas tulisannya.

    Kalau tips saya sih baca dulu review sebelumum membeli dan juga ada contoh isi yang tersedia di google buku. Umumnya itu yang lebih efektif jadi pas masuk toko buku pasti udah yakin beli soale udah tau tentang apa yang dibahas dalam buku tersebut.

    Saya sendiri berjualan di google play dan google buku buat meningkatkan penjualan karena ada juga yang senang dengan format digital. Tapi tetap enggak bisa dipindahkan karena terbatas pada lisensi dan ini juga saya suka.

    Jadi sebelum membeli buku kita harus tahu seluk beluknya buku sehingga bisa memprediksi kualitas buku. Apalagi pernah saya temui isi buku tersebut sama tapi judul dan penulis berbeda. Inilah kurang selektif pada penerbit.

    Salam kenal dari saya mas. Salah seorang dari Penulis Buku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Om. Harusnya mereka baca review dulu dibanding buka bungkus buku.

      Oh iya, ada tip-nya juga tuh. Baca, ya, gais.

      Ternyata penulis buku, toh. Kasih hormat dulu. Salam kenal, Om!

      Delete
  16. seumur-umur belum pernah tuh ngeliat yang no 3
    kalau yang lain pernah, mungkin udah jadi pelaku juga tuh yang baca gratisan di sana ckckckc

    yang gk sesuai tempat juga udah pernah kuliht dan pernah uga tuh lihat.
    cewek-cewek smp baca buku tentang menyusui sambil ketawa-ketawa lihat gambar payu**ra yang ada di gambar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sabar, coba sering-sering ke Gramed. Pasti nemuin kok :))

      Beuh, kenapa harus buku gituan coba? -__-

      Delete
  17. iye emang gitu kelakuan pengunjung gramed....suka seenaknya dan gak nyadar....
    gue pernah nemuin yang nyobek pembungkus bukunya terus dibuka semenit, dan...ditinggal pergi....nyaaaw

    dan kalo gue? suka baca2 buku yang udah kesobek pembungkusnya :D XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Idiiih, sadis banget. Kan kasian kalo bukunya jadi nggak laku :(

      Delete
  18. Gue salah satu org yg hobi banget mampir ke gramed, klo ke msk ke gramed udah dah.. Kluar2 udh ubanan kali saking lamanya gue semedi di gramed. wkwk. Kdang lama dinyari2 bukunya, kdang klamaan ngiter pdhal gak beli apa2-_-

    Tp klo yg buka plastik buku mah gue gaberani, tkut ktauan ptugas, klopun gak ada ptugasnya jg gue gak brani buka sih.. Sykur2 klo emg udh ada yg kbuka ya gue baca, klopun baca jg gak smuanya lah, pas awalnya doang, yakali gue baca smuanya bsa2 nginep dsana._.

    Itu yg pngunjung ampe tdran, gue gak prnah nemu sih yg kek bgtu. wkwk. Tp klo yg ngedeprok banyak.. Gue heran, di gramed itu knp ga disediain bangku gtu ya? drpda ngedeprok ngalangin jalan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi, kadang gue juga gitu.

      Wah, berarti gue beruntung pernah ketemu pengunjung yang tiduran. Selama ini jarang ditemui~ Hehehe

      Delete
  19. Kelakuan yang nomer 1 pernah gua temuin tuh di Gramed. Paling miris itu liat orang buka plastik pembungkus buku padahal ada buku sampel yang disediain, dengan judul yang sama. Heran jadinya. Kalo masalah naro buku bukan di rak kategori yang sesuai, mungkin mereka mikir petugasnya yang bakal ngembaliin ke tempat sesuai, padahal ga ada susahnya naro sendiri. Sayang, budaya sederhana kayak begini yang masih belom mengakar kuat di benak mereka.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.