31 December 2017

Menghadapi Pingsan

Kalau tiba-tiba kepala terasa pusing, pandangan kabur, dan keseimbangan mulai goyah, gue sering mengira tubuh gue akan ambruk. Jangan-jangan gue bakal pingsan. Gue pernah tanya ke seseorang yang pernah ngerasain pingsan. Gejalanya persis kayak gitu. Gue tanya, rasanya pingsan kayak gimana, sih? Ya, nggak sadar apa-apa, jawabnya. “Oh, mirip ya, kayak kena gendam?” kata gue dalam hati.

Alhamdulillah, seumur-umur gue nggak pernah mengalami pingsan. Gue kadang penasaran sampai muncul keinginan buat ngerasain pingsan. Agak aneh juga dengan keinginan gue ini. Dikira semua hal di dunia ini harus dicicipi kayak makanan di prasmanan.

Keinginan untuk pingsan harus gue pikir ulang. Soalnya, gue pikir, pingsan itu serem. Bikin orang lain takut juga. Pernah gue ketemu orang pingsan di kampus. Saat itu kelas gue sedang praktikum fisika. Di tengah khusyuknya melakukan pengataman, ada bunyi gubrak yang keras. Fokus semua orang buyar. Ada yang jerit. Ada yang kaget. Ada yang takut. Ada yang tetep ngelihatin alat praktikum. Orang terakhir itu gue.

Sumber


“Fokus dulu, temen-temen,” perintah gue ke teman-teman kelompok. Setelah terlalu asyik pengamatan, gue baru menyesal dengan kejadian tadi. Percobaan gue saat itu sedang mengamati turunnya gelembung di pipa kapiler kaca. Buat nunggu satu gelembung keluar itu lama banget. Menjadi dilema ketika gue harus tetap fokus pada apa yang lagi gue kerjain atau nolongin temen.

Teman gue akhirnya dibawa ke ruangan untuk mengembalikan kesadarannya. Baguslah ada pertolongan pertama. Gue nyeletuk, “Mungkin tadi dia keasyikan ngelihatin pegas naik-turun. Jadi hilang kesadaran.”
“Astagfirullah,” kata Adila, teman sekelompok gue.
“Oh iya,” spontan gue menutup mulut, “astagfirullah.” Sempet-sempetnya bercandain orang yang sedang kena musibah. Manusia macam apa?

Gue sebenarnya bingung. Orang awam kayak gue, ngelihat orang pingsan nggak tau harus apa. Bantuan pertama yang selalu muncul di kepala gue adalah kasih napas buatan. Pingsan disamain sama kelelep.

Padahal, jauh sebelum ini pun gue pernah dihadapkan dengan orang pingsan.

***

Gue pernah jadi ketua kelas selama satu semester di kelas 10. Gue cukup paham bahwa tugas ketua kelas adalah sebagai orang yang bertanggung jawab di kelas. Namun, teman sekelas gue menganggap kalau ketua kelas adalah penanggung beban kelas. Semua urusan di kelas ditimpkan ke ketua kelas.

Siang itu kami berada di kelas, mata pelajaran Prakarya. Pak Edi, guru Prakarya gue, sedang membahas tool aplikasi CorelDraw. Belajar Prakarya seperti ini bagi kami adalah  sesi hiburan. Seisi kelas fokus menatap layar proyektor. Tiba-tiba ada bunyi bruk yang sangat keras. BRUK! Suara benturan kepala dengan benda keras. Jaraknya kurang lebih sekitar 5 meter di belakang kursi gue. Salah satu teman gue, Saras, panik karena teman sebangkunya, Miranda, hilang kesadaran di atas mejanya.

Seisi kelas mendadak gaduh. Pak Edi mencoba menenangkan murid-muridnya. “Kenapa itu?” kata Pak Edi bangun dari kursinya, kemudian menghampiri Miranda.
“Gak tau, Pak. Kayaknya pingsan.” Saras menjawab, panik.
“Waduh.” Muncul raut kepanikan di wajah Pak Edi. Juga di muka gue. “Jangan sampai kenapa-kenapa. Jangan, please. Jangan,” batin gue.
“Coba kasih minyak kayu putih.”

Dalam situasi darurat seperti ini, apa yang dilakukan oleh orang-orang yang bertanggung jawab? Gue bingung. Ini pertama kalinya gue ketemu masalah orang pingsan.

Sebenarnya gue pengin nolongin, minimal ngasih napas buatan. Tapi dia cewek. Bisa-bisa gue dikeluarin karena dituduh mesum. Gue pengin ngangkat Miranda ke UKS di lantai satu sendirian, tapi itu kayaknya nggak mungkin. Mengingat berat badan Miranda yang hampir kayak hasil panen satu desa dan ruang kelas saat itu berada di lantai tiga. Nggak akan kuat. Pengin banget saat-saat begini, ada Dilan bilang ke gue, “Miranda berat. Kamu nggak  akan kuat. Biar aku saja.”

Biarlah gue kabur dulu dalam situasi ini. Mengingat pelajaran selanjutnya adalah Bahasa Inggris. Miss Devi paling nggak suka kalau jam pelajarannya terpotong dengan alasan apa pun. Pokoknya, kalau udah masuk jam pelajaran beliau, nggak boleh ada acara telat masuk. Selain itu, ketua kelas harus ingetin kalau udah masuk waktu pelajarannya.

Bel pergantian jam berbunyi. Seharusnya kelas kami pindah ke lantai satu. Gue makin dilema dan bingung harus berbuat apa.  Kalau gue bantu Miranda, nanti nggak ada yang ingetin Miss Devi, lalu gue kena omel beliau.
“Robby, lo bantuin Cindana, kek,” kata Dian emosi.
“Ya ... udah. Lu bantuin aja dulu. Gue mau ingetin Miss Devi masuk kelas,” kata gue, dengan nada kebingungan. “Nanti kalo nggak masuk kelas terus dia ngambek, siapa yang kena? Gue juga.”
“Gimana, sih?!” Nada bicaranya meninggi. “Lu, kan, ketua kelas. Tolongin dulu, kek!”

Gue cengok. Gue harus ketemu Miss Devi! Tapi kalau gue ketemu Miss Devi, nanti gue dianggap sebagai ketua kelas egois yang mentingin urusan pribadi. Bodo amat deh. Gue mending manggil Miss Devi demi nilai rapor gue aman. Egois, sih. Gue baru sadar, kenapa gue nggak minta tolong teman laki-laki yang lain aja?
“Suruh cowok yang lain aja.” Gue lari menuruni tangga menuju lantai bawah, ke ruang guru.

Sampai di depan kelas, yang nantinya akan gue tempati, gue melirik ke ruang guru dari jendela luar. Miss Devi udah keluar dari ruang guru. Gue nitip pesan ke seorang teman untuk menunda kelas karena sedang ada yang pingsan. Gue berlari ke lantai tiga, memastikan nggak ada keadaan lebih buruk terjadi, misalnya Miranda berubah jadi Naruto.

Begitu sampai di kelas lantai tiga, gue mendapati kenyataan buruk lainnya: Miranda udah nggak ada.
Maksud gue, dia nggak ada di kelas. Dia dibawa ke UKS. Ngapain gue ke sini?

Beberapa saat dia di UKS, alhamdulillah Miranda sadar. Menurut pengakuannya beberapa hari kemudian, penyebab utamanya pingsan adalah karena rasa takut berlebih sebelum maju presentasi Bahasa Inggris. Entah karena nggak siap atau karena apa, dia sepertinya menghindar.

***

Semua orang di sekolah pasti tau, bleep test selalu dijadikan ajang buat dicap “sehat”. Bleep test adalah tes kebugaran berupa lari bolak-balik berlevel berjarak 20 meter. Hampir semua orang, terutama di kalangan lelaki yang persaingan dan gengsinya begitu besar, pasti mati-matian ngedapetin level tinggi. Semakin tinggi levelnya, semakin lama larinya, dan semakin bagus nilainya. Padahal, kata guru gue, semakin tinggi levelnya berarti boleh dikategorikan sehat. Dengan catatan, setelah melakukan tes tubuhnya tetap bugar. Jangan setelah ikut tes, kaki kena osteoporosis.

Waktu itu ada pengambilan nilai bleep test. Semua orang di kelas ikut, termasuk Miranda yang maksa ikut tes. Dia punya riwayat penyakit berat. Kami semua khawatir akan ada sesuatu yang terjadi.
Sambil menunggu giliran, gue bercanda sama teman-teman yang juga nunggu giliran tes. Kami duduk di pinggir lapangan. Lagi seru-serunya ketawa, pandangan gue teralihkan pada benda biru, persis warna kaos olahraga gue, berukuran besar, dan tergeletak di lapangan.

Gue menunjuk ke benda itu. “Eh, eh, lihat tuh di lapangan.”
“Kenapa..., kenapa?” tanya Oky menghentikan tawanya.
“Itu ... kan ... Miranda. Ngapain dia? Lagi tidur ya? Kan lagi tes, kok dia malah tidur?” kata gue, polos.
“Bukan tidur, geblek!” Oky malah sewot. “ITU PINGSAN!”
“BANTUIN WOY!”


***
Catatan: tulisan ini adalah salah satu bab dari naskah buku yang gagal terbit (edit coret) pernah gue tulis dengan tambahan kejadian yang gue alami akhir-akhir ini. Gue ingat betul, di bulan ini, dua tahun lalu, gue ngirim naskah ke satu penerbit dan sampai sekarang nggak dikabarin bagaimana kabar naskah gue (diterima atau ditolak). Semoga nasibmu tidak dijadikan kertas daur ulang, Wahai Naskahku.

Dibakar aja nggak apa-apa.

Oh iya, selamat datang 2018! Mau bikin rewind-rewind gitu, nggak sempet terus. Huhuhu. Semoga hidupnya kita selalu membawa manfaat bagi orang banyak.

11 comments:

  1. Hai, Rob. Baru main lagi nih kesini..he
    Btw, ganti tampilan lagi nih baju blog ini :)

    Aku sendiri kok berasa belum pernah pingsan ya, atau akunya nggak berasa :(
    Bedanya aku jadi ketua kelas waktu kelas 11. Jadi kamu adek kelasku dulu ya..haha

    Btw, sepertinya lihat postingan di IG, lagi sibuk kuliah ya, awal-awal banyak kegiatan dan hal-hal baru ya, Rob. Good luck ya kuliahnya, semoga di tahun ini doa serta cita-citanya tercapai satu persatu..aamiin..

    ReplyDelete
  2. Kok sama, dari dulu gue juga penasaran sama pingsan. Pernah hampir pingsan tapi ngga jadi malah jadi kecewa,"Kok ngga pingsan aja."

    Tapi, setelah gue observasi pingsan itu ngga enak, apalagi disekolah. Kalau cowok pasti dikatain banci, kalo cewek pasti jadi bahan para cowok~

    ReplyDelete
  3. Temenku pingsan trus dikasih minyak kayu putih bukannya siuman malah makin pingsan. Wakakakakkk 😂😂😂

    Aku pernah pingsan pas tenggelem di kolam renang dulu, Rob. Emang iya sik gak sadar apa apa 😐

    ReplyDelete
  4. Ini Miranda badannya bongsor gitu, ya? dan kenapa kamu segitu selownya sih? kagak ada khawatir2nya ama org pingsan. biasany klo ada yg pingsan, gurunya kan memaklumi, nggak bakal dimarahin. masa iya guru sampe disangka sekejam itu?

    perkara pingsan, saya pernah ngalamin yg lebih parah. bukan saya yg pingsan, tapi temen kelas. pas lagi naik motor. dan saya yg boncengin.

    jadi seabis silaturahim ke rumah temen yg jauh, saya yang awalnya naik motor sendirian diminta untuk membonceng Tina karena yg membonceng dia awalnya takut. Tinanya mendadak skait kayak demam gitu. saya gatau kalo sebelumnya dgn gejala seperti itu TIna bakal pingsan. Itu sengaja banget temennya ngerasahasiain biar saynya nggak nolak buat boncengin dengan perkiraan dan harapan Tinanya nggak smape pingsan.

    tapi harapan tinggal harapan, setengah perjalanan pulang, Tina yang awalnya ngajakin ngobrol ketika dibonceng mendadak kepalanya menubruk punggung. saya tanyain, nggak nyaut. eh tiba2 badannya miring. Dia pingsan. Lagi dibonceng dan miring gitu, ya saya panik. bisa2 jatoh. sialnya temen lainnya udah lumayan jauh di depan. jadi mau gamau saya menepi sambil jaga badan biar Tinanya nggak roboh. lalu buka jaket dan lengan jaketnya saya ikatkan melewati punggung dia dan perut saya. syukurnya si Tinanya jatuh ke depan, jadi bersandar ke punggung, gampang ngiketnya. kalo ke belakang, bisa gawat.

    saya mempercepat laju motor sambil tangan kiri saya menahan badannya takut miring ke samping. jadi kayak nahan galon kalo lagi beli galon sendirian dan galonnya di taro di belakang. pas temen2 udah kesusul (mereka berenti karena saya lama) saya menyarankan untuk singgah di rumah temen siapa aja satu sekolah yg dilewati ampe dia siuman.

    kata temen yg awalnya boncengin dia "dia emang sering pingsan begitu klo gejala penyakitnya kambuh, makanya aku gak berani boncengin". sering begitu tapi nggak ngasih tau. kamperrrr.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anjir. Baca ini aku bersyukur nggak pernah pingsan di motor. Paling banter ketiduran 😂

      Delete
  5. Sempat-sempatnya ada Dilan masuk di sini. Ahahahahaah.

    Sama kayak Haw, aku heran kok kamu bisa segitu selownya sama orang yang pingsan. Untung kita nggak sekelas (laah mana bisa juga sekelas njiiir). Soalnya aku kayak Miranda tuh, langganan pingsan di sekolah. Waktu SMP sih. Pas upacara pingsan, pas di kelas pingsan, sampe dulu aku ingat ada teman sekelas yang ngintilin aku sampe ke toilet mastiin kalau aku nggak pingsan. Hahaha lemah banget. Terus pernah pingsan di pasar pas belanja baju buat Lebaran. Pernah juga pingsan di supermarket, bangun-bangun udah di kursi roda katanya kursi roda itu punya pihak supermarket. Nyaris pingsan juga waktu ngantri di KFC. Terus pingsan di Kampung Kajang sampe ditolongin keluarga yang lagi piknik. Kemarin pingsan di pasar pas sama Mama. Upaya jadi anak berbaktinya tida mulus. Huhu

    Dan ini aku nggak masuk kerja gara-gara pingsan kemarin. Mama takut aku pingsan di jalan menuju kantor. Ini gimana aku mau mewujudkan resolusiku sebagai The Next Anastasia Steele pecinta BDSM kalau lemah begini? 😭

    ReplyDelete
  6. Gue juga pingin ngerasain pingsan, biar semua orang noleh ke gue, jadi ToA. Top of Attention. Gila, ini mah caper banget.

    Nggak, kan mendayu aja kalau pingsan terus ditolongin banyak orang....dikhawatirin. Haelah lemah amat. Nggak.

    Nggak jadi pingin ngerasain pingsan, soalnya jadi gak bisa ngapa2in. Kata umik yang dulu sering pingsan, pingsan itu (personal experience ya wkwkw) masih bisa ngerasain apa yang terjadi di sekitar. Cuma ya itu, gakbisa ngapa2in. Jadi defenseless. It's no way lah.

    ReplyDelete
  7. Kayaknya banyak banget yang belum pernah pingsan tapi kepengen ngerasain pingsan? Ha ha ha.
    Kebetulan juga cerita di atas sama seperti kejadian saya kelas 1 SMP yang lalu, dapet temen sekelas yang sering pingsan. Alhasil, karena ketua kelas, semua dibebankan ke saya.

    Diakhirnya kocak banget.
    “Itu ... kan ... Miranda. Ngapain dia? Lagi tidur ya? Kan lagi tes, kok dia malah tidur?” kata gue, polos."

    ReplyDelete
  8. Hampir pingsan pernah beberapa kali. Apalagi sewaktu SMK sempet darah rendah. Syukurnya baru keliyengan dan jongkok. Belum sempat tidak sadarkan diri.

    Hm, akhir ceritanya mendadak lebih menyedihkan dari ketua kelas yang egois, bukannya nolongin temen malah mikirin nilai. Naskah oh naskah. Terbitin sendiri saja~ :(

    ReplyDelete
  9. Belum pernah pingsan sama sekali. Dan semoga jangan.

    Bleep test emang sering dijadikan parameter kesehatan seseorang ya. Disini saya jadi tau alasannya apa. Thanks, Rob.

    Baca tentang naskah yang di akhir emang nyesek ya. Beberapa teman blogger mengalami hal seperti ini. Ada juga yang kemarin memenangkan kompetisi gitu, tapi sampai sekarang nggak ada kejelasannya kayak gimana. Apakah kita, blogger dianggap sebagai blogger-bloggeran doang? Mengapa blogger bisa menjadi pekerjaan utama, sementara blogger jarang? Mengapa penulis buku sekarang banyak yang terbit dari vlogger dengan followers jutaan dan bukan blogger dengan tulisan berkualitas? Saya heran.

    ReplyDelete
  10. Anjir pingsan gara-gara mau presentasi. :)))

    Temen gue malah ada yang cerita pernah begitu tapi pura-pura doang. Pas digotong langsung bangun dan kongkalingkong. :))

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.