Perkuliahan

Hampir tiga minggu gue mulai aktif kuliah. Rasanya masih ringan-ringan aja (atau gue yang ngeringanin?). Maklum gue bilang begitu karena gue belum ketemu yang namanya praktikum. Praktikum, khususnya bagi anak kimia, adalah sebuah santapan istimewa.


Bukan berlebihan, memang praktikum buat anak kimia adalah hal yang rasanya campur aduk antara menyenangkan, menakutkan, membosankan dan misterius. Kami bakal ketemu zat-zat yang jenisnya banyak. Salah penggunaan bisa bikin kulit melepuh. Salah hirup bisa bikin mabuk. Salah tiga nilai tujuh puluh.

Sebelum praktikum, para praktikan—orang yang mengikuti praktikum—disuruh membuat laporan awal. Isinya dari latar belakang sampai ke tabel kosong untuk mencatat data yang diperoleh dari percobaan.

Kemudian dilanjutkan praktikum. Praktikum sendiri durasinya berbeda-beda. Praktikum mata kuliah Fisika Dasar misalnya, butuh waktu 2 jam untuk praktikum saja. Untuk praktikum biologi gue belum tahu. Dan yang paling istimewa adalah praktikum bidang kimia. Bisa sampai 4 jam! Untungnya semester ini cuma kebagian 1 SKS. Untuk semester dua atau tiga, ada praktikum kimia yang bobotnya 2 SKS. Satu SKS durasinya 4 jam, 2 SKS sama dengan 8 jam. Sepertiga hari mengabdi pada laboratorium. Pulang-pulang kepala teleng.

Belum lagi membuat laporan akhir yang konon bikin mahasiswa jadi layaknya jin pekerja Candi Sewu. Semalaman mengerjakan satu proyek yang dikumpulkan paginya.

Itu trailer buat postingan selanjutnya. Sekarang gue mau cerita tentang pengalaman tiga minggu kuliah. Sekalian ngelatih tulisan lagi karena beberapa postingan gue yang terakhir terasa kaku. Gue ngeledek diri sendiri, “Mentang-mentang udah jadi mahasiswa jadi jaim lu, Rob.”


Mencatat
Gue nggak tau sejak kapan gue punya inisiatif mencatat pelajaran. Semenjak kuliah, gue pelan-pelan mulai rajin mencatatat dan merangkum. Sudah jadi kebiasaan sepertinya bagi gue untuk ngebingungin diri sendiri, muncullah sebuah perdebatan yang nggak seharusnya datang:

Mau nyatet di binder atau buku tulis?

Nggak penting banget memang. Tapi pada suatu siang gue sempat merenungkan hal ini.

Kenapa sih, anak kuliah senengnya punya catatan di binder? Kan, buku tulis ukuran 24 x 18 cm aja ada yang tulisannya “Campus”, masa anak kuliah nggak peka kalau itu maksudnya buat anak kampus?

Buku wajib anak kampus (seharusnya)

Akhirnya seorang teman jawab, “Biar gampang dipindahin!”

Ya, segampang itu dijawabnya. Padahal buat munculin pertanyaan butuh merenung segala, lho.

Tapi, gue nggak menerima jawabannya begitu saja. Gue tetap menulis di buku tulis, seperti selama 12 tahun sekolah, lalu sesempatnya gue pindahkan catatan ke binder serapi-rapinya. Secara gak langsung, gue mengulang pelajaran yang diberikan hari ini.

Semoga rajin begini terus.


Lift
Dulu ada keluhan teman di SMA yang gue ingat, bunyinya begini, “Capek banget naik turun tangga. Sekolah nggak mau pasang lift, apa?” Waktu itu kami moving class, yang artinya setiap pindah pelajaran berarti pindah ruang kelas. Nggak jarang, kami bukan hanya pindah ruang, tetapi pindah gedung. SMA gue ada dua gedung yang terpisah.

Denah gedung salah satu SMA

Jadi, terbayang gimana malesinnya kalau ada kelas di lantai 3 gedung A lalu harus pindah ke lantai 3 gedung B.

Gue, yang tadinya biasa-biasa aja menanggapi moving class, jadi ikut-ikutan ngeluh karena. Malas juga kalau naik tangga terus-terusan. Padahal, dulu gue bercita-cita sekolah di sekolah tingkat.

Sampai pada dunia perkuliahan, akhirnya gue ketemu yang namanya lift. Awal masuk kuliah, beberapa kali gue nggak sempat kebagian lift. Niatnya waktu itu untuk mencicipi fasilitas kampus sekaligus gaya-gayaan. Biar kalau ditanya orang di kelas, “Tadi berangkat ke sini naik apa?” gue jawab, “Naik lift dong!” Padahal dari rumah mah naik bus.

Malas ngantre lift, gue mencoba jalan terakhir. Untuk mengurangi kemungkinan telat masuk kelas, akhirnya gue harus naik tangga karena antrean panjang. Sialnya, waktu itu kelas gue ada di lantai 7. Sampai di kelas, kaki gue gemeteran.

Naik lift bagi gue ada enak dan nggak enaknya. Enaknya sudah pasti, tinggal berdiri di dalam lalu sampai. Nggak enaknya... saat ketemu orang yang resek.

Pernah sekali gue satu lift dengan teman-teman cowok sekelas selepas mata kuliah. Kami masuk lift bareng berombongan dan mau turun ke lantai 1. Saat itu kami ada di lantai 4. Agung, teman gue yang baik hati (ceritanya pernah gue tulis di sini), mengambil inisiatif dengan menekan angka “10”. Akhirnya lift naik terus sampai ke lantai teratas gedung ini.

Teman-teman gue protes. “KENAPA LO PENCET?!”

“Gue bayar UKT (uang kuliah tunggal)—uang semesteran—mahal nih. Harus manfaatin fasilitas.”

Bener, sih. Namanya udah bayar segala yang ada harus dimanfaatkan. Toh, nanti akhirnya memang turun lagi ke lantai 1. Tapi, setelah di lantai 1, kok gue merasa mual? Kayaknya kena jet lag deh.


Lupa
Ceritanya, Salsa adalah seorang teman yang satu dosen pembimbing bareng gue. Niatnya, dia mau minta tanda tangan dosen pembimbing buat lomba karya tulis, sedangkan gue mau minta tanda tangan kartu rancangan studi (KRS). Kebetulan, gue adalah penanggung jawabnya, otomatis gue sudah ada kontak dengan sang dosen pembimbing.

Gue samperin dia di kursi barisan belakang. “Eh, nanti mau ketemu Pak Agung?”

Pak Agung adalah dosen pembimbing kami. Bukan, bukan Agung yang suka mencetin angka 10 di lift.

“Dosen pembimbing gue bukan Pak Agung.”
“Lho?” Gue kaget. Sejak kapan dia ganti dosen pembimbing?
“Gue mah sama Bu Maria,” ujarnya.
“Kok? Bukannya bareng gue?”
“Apaan, sih?”

Mukanya kebingungan setelah gue samperin. Apa dia kaget tiba-tiba gue samperin? Gue mulai mikir, jangan-jangan ada yang nggak beres. Perasaan tadi pagi nggak lupa pake deodoran deh.

“Lu Salsa bukan?” tanya gue.
“Bukan.” Mukanya menolak tegas. Pertanyaan tadi kayak pertanyaan “kamu maling ya?”
“Wah, parah lu nggak inget temen sekelas,” tambahnya, sambil mengacungkan telunjuk. Kemudian anak cewek yang duduk di depannya menoleh ke gue dan tertawa. Gue ngelihat di pojokan, dekat colokan ada orang paling sibuk di situ.

Itu Salsa beneran.

Parah banget, parah. Udah ketemu tiga minggu ditambah waktu MPA masih aja belum kenal teman sekelas.

Untuk satu hal ini, gue benar-benar sadar gue saat ini sedang kena culture shock. Harus disadari, manusia di kampus banyak banget! Apalagi waktu MPA diumumkan jumlah mahasiswa baru 2017 ada 5.000 orang lebih. Salah manggil orang adalah hal pemakluman.

Dulu di SMA teman satu angkatan cuma ada 200-300 orang. Itu pun masih banyak yang nggak gue kenal, padahal satu jurusan. Di perkuliahan, teman satu jurusan memang kurang dari 115 orang, tapi entah kenapa mereka sulit dikenali satu-satu mukanya. Terutama cewek.

Lain cerita. Suatu kali, gue sedang jalan menuju kampus. Dua orang cewek membawa binder berdiri di depan gedung. Satu di antara mereka memanggil nama seseorang sesaat setelah gue melewati mereka. Gue menoleh. Satu orang di antara mereka menutup mulut, diiringi kalimat, “Eh, salah orang.”

Nah, lho. Emang susah deh ngenalin orang di kampus.


Banyak mau
Menjadi mahasiswa baru ternyata bagi gue bisa menjadi sebuah langkah awal untuk mencoba hal baru yang nggak pernah gue temui di sekolah dulu. Satu di antaranya adalah ikut organisasi.

... lebih dari satu.

Waktu sosialisasi yang diadakan fakultas, mahasiswa baru dikenali banyak organisasi. Ada yang kerohanian, ada yang ilmiah banget (karena memang basisnya di Fakultas MIPA), ada yang kerjaannya berkebun, ada yang lucu-lucu karena kegiatannya main sama anak kecil, sampai organisasi yang dipandang militan karena bergerak di bidang sosial-politik.

... dan kepengin semuanya.

Dasar maruk.

Gairah ini muncul karena sebuah tuntutan dari program beasiswa yang gue dapat. Dalam salah satu syaratnya disebutkan bahwa beswan harus aktif di organisasi. Maka dari itu, gue jadi kepengin buat aktif di organisasi. Tapi, alasan tadi nggak jadi mentah-mentah bikin gue banyak mau ikut organisasi. Justru, gue mau belajar dari bergabung dalam organisasi. Sekalian dengan alasan minta uang saku tambahan tentunya. Kan enak, tinggal bilang, "Ma, bakal pulang malem, nih."

Karena merasa nggak akan sanggup, pelan-pelan gue coret organisasi yang sekiranya cuma punya alasan “pengin ikut aja” buat ngikutinnya.


Selebihnya, perkuliahan gue berjalan aman-aman aja. Banyakan waktu di perjalanan soalnya. Lari ngejar bus, berdiri di pintu paling depan biar dapat tempat duduk, tidur di bus. Begitu terus. Berusaha menikmati perjalanan Kalideres sampai Rawamangun.

---

Penting buat peringatan pribadi, gue nggak akan membawa predikat "langganan remedial" lagi. Takutnya kebawa di perkuliahan. Karena "remedial" akan berarti mengulang satu semester lagi. Males amat tua di kampus.

Sumber gambar:
https://www.tokopedia.com/toserbarep/buku-tulis-campus


17 komentar:

  1. Itu gak cape rob, kalideres - rawamangun? Bukan cape fisik sih tapi cape batin?

    Itu Salsa jail banget dah, berarti dia tipe cewek yang berani tega kayanya *loh

    Wedeh, tiga minggu ye beralmet hijau, semangat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lama-lama jadi menikmatinya. :))

      Bukan Salsa yang jail sebenernya...

      Delete
  2. ahahaha... naik lift aja jet lag ya awlooohhh... awal2 emang rajin Rob. tunggu entar kalo udha mulai membuat laporan, seni menyalin drai buku tulis ke binder akan makin berkurang.. hiyaaaa...

    kalo di kampusku Rob, kita malah diwajibkan kenal ama satu angkatan. nggak kenal di push up.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, jangan begitu, jangan begitu, jangan begitu. Harus rajin, harus rajin, harus rajin. :D

      Waduh. Gimana ya, kalau dalam satu angkatan ada yang kembar? :(

      Delete
  3. My hand is jet lag, jadi ingat karate kid. Cerita baru kamu ttg perkuliahan seru Rob. Paling aeru pas salah orang gitu. Lagi dong, lagi~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kasus "salah orang" ini berpotensi ada terus. :')

      Delete
  4. Untung Salsa yang salah dikenali itu nggak bilang, "Jangan sok kenal deh lu! Gue tampol lu, ye~"

    ReplyDelete
  5. Hahaha jadi ini ceritanya diary mahasiswa yooo? Naik lift berasa jet lag? *It's gettin' lonely livin' upside down
    I don't even wanna be in this town
    Tryin' to figure out the time zones makin' me crazy* *nyanyi lagu jet lag eak*

    willynana.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah iya ya? Enak juga jadiin diary begitu. Hahaha. Itu lagu apa? Ku tak tahu. :(

      Delete
  6. Hai Dik Robby pengabdi laboratorium~

    Cita-citamu ampun dah. Dulu ku juga punya cita-cita begitu sih. Soalnya pas SD-nya, sekolahnya nggak bertingkat. Huhuhuhuhuhu. TERUS ITU TOLONG YA KENAPA NAIK LIFT BERASA JET LAG HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA.

    Huahahahaha. Cerita yang salah orang itu lucuk sih. Sering-sering aja salah orang, Rob. Biar jadi kenal sama semuanya. Mungkin itu cara terbaik supaya kamu bisa kenal 5.000 mahasiswa baru kampusmu itu~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekolah tingkat adalah impian, Kak Icha! Hahahaha.

      Butuh salah orang berapa kali buat ngenalin segitu banyaknya? :(

      Delete
  7. praktikum adalah hal yang paling hectic untuk anak IPA. siap-siap aja tangan powel nulis laporan ya, Rob, ya? aku dulu satu semester praktikumnya minimal ada tiga. laporan ditulis tangan dgn batas waktu masing-masing dua hari. kertas hvs, harus digaris pinggir, harus rapi, skema alat bahan harus digambar tangan. tapi saat udah lulus, kangen juga saat-saat nulis sambil ngunyah karena waktu pengumpulan udah mepet. hehe :))

    btw, semoga selalu rajin yaaaa.

    ReplyDelete
  8. terimakasih atas informasinya, dan jangan lupa kunjungi kami di http://aromaessen.com/essen-galatama-ikan-mas/

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.