03 January 2017

Berwisata ke Kota Tua Jakarta dengan Teman Lama

Mendapat kabar dari teman yang sudah lama nggak ketemu memberikan rasa deg-degan luar biasa. Begitulah yang gue rasakan setelah Alvin, teman SD gue, mengirim pesan. Seingat gue, kami bertemu terakhir kali saat SMP. Dia pulang dari pesantren, lalu mampir ke rumah gue, dan kita berdua ke rumah Andika, teman SD yang lain. Ngomongin kehidupan setelah lulus SD dan nanya kabar teman-teman seangkatan.

Akhir tahun 2016 Alvin kembali datang ke Jakarta setelah mendapat libur di pondok pesantrennya. Saat itu gue lagi sibuk bolak-balik aplikasi media sosial, Alvin mengirim pesan via Facebook.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Lu lagi di Jakarta?” tanya gue.

“Lagi di Monas, nih.”

Mendengar kabar Alvin di Jakarta, gue langsung pengin ketemu dia. Sekadar mengetahui kabarnya dan mengeratkan tali silaturahmi.

Gue dengan cepat membalas, “Gue pengin main bareng lu.” Kalimat itu terasa seperti cowok yang kangen sama pacar LDR-nya.

“Ayo aja gue mah.”

Diputuskanlah pergi ke Kota Tua, Jakarta. Alasan gue memilih tempat itu adalah tempatnya nggak terlalu jauh. Pokoknya jaraknya nggak lebih jauh ke Vietnam.

Selain Alvin, gue mengajak teman-teman SD yang lain. Awalnya gue agak pesimis karena teman-teman SD gue punya kesibukan sendiri-sendiri. Pada akhirnya, mereka memang sibuk. Entah sibuk atau gue yang ngajak terlalu mendadak. Sepertinya untuk ketemu teman SD, dalam daftar keinginan ada di nomor terakhir, bahkan ada di bawah keinginan “nyicipin es krim pake sambal ABC”.

Ya udah. Nggak apa. Jalan-jalan berdua nggak masalah. Yang penting gue bisa ketemu teman jauh.

Gue dan Alvin berangkat dari halte Transjakarta Rawa Buaya, naik jurusan Kalideres-Harmoni. Turun di Harmoni, kami transit ke koridor jurusan Blok M-Kota. Masuk di bus kedua, Alvin bilang, “Sepi amat ya.”

“Nggak biasanya begini,” kata gue, yang memosisikan diri sebagai tour guide hari ini.

Turun di halte Kota, kami harus melewati jalan yang cukup jauh untuk sampai ke alun-alun. Sejujurnya, gue nggak tahu apa-apa soal Kota. Setahu gue, di Kota punya tempat mainstream untuk foto-foto. Kalau yang gue lihat di Instagram teman-teman, di foto itu ada gedung-gedung berwarna putih, ramai banyak orang, dan sepeda berkeliaran. Gue harus ke sana. Tapi, nama tempat itu pun gue nggak tahu. Gue ikuti saja langkah pengunjung lainnya.

Jeleknya di sekitaran Kota adalah pejalan kaki kurang difasilitasi. Untuk menuju tempat itu, kita harus melewati jalan raya yang ramai dilalui Transjakarta dan kendaraan lain. Jelas ini memakan korban. Ban motor yang ada di belakang mencium tumit kaki gue. Untung nggak sakit.

Semoga ini bukan jalan satu-satunya. Atau memang ada jalan lain? Entahlah.

Di sepanjang jalan menuju alun-alun, ada banyak sekali model-model di sana. Mereka semacam cosplay kemudian diajak foto dan dibayar. Model pertama ada tentara, lengkap dengan senjatanya dan warna serba hijau. Ada juga yang berpenampilan seperti wanita Belanda dengan make up yang sangat niat. Yang paling mencuri perhatian adalah model yang menyilakan kakinya sambil memegang tongkat, namun melayang. Posisinya duduk, tapi nggak ada apa-apa di bawah pantatnya. Alvin nanya ke gue, “Triknya gimana ya?” Gue nggak bisa menjawab. Cuma penasaran apakah di sekelilingnya ada tali atau nggak. Sampai sekarang gue sendiri bingung.

Pengunjung bisa foto-foto bersama mereka dengan membayarnya sebagai upah. Mungkin upah make up kali, ya.

Selain model-model jalanan, ada juga jasa membaca garis tangan. MEMBACA. GARIS. TANGAN. Gue kira ini bercanda, ternyata sungguhan ada!

Daebak!

Sepanjang jalan gue perhatikan, lapak itu nggak laku. YA SIAPA SURUH BUKA JASA BACA GARIS TANGAN. Kalo jasa baca puisi masih mending deh. Apa dia sebelumnya nggak baca garis tangannya sendiri?

“Ada garis melengkung di lima milimeter garis utama. Hari ini jasa ramal garis tangan gak laku.”

Yang membuat gue kagum adalah jasa piercing dan tato. Gue nggak tahu tato yang mereka buat menggunakan jarum sungguhan atau digambar biasa. Yang jelas tato itu nggak didapat dari chiki atau permen yosan.

Gue bukannya kagum pengin nato tubuh sendiri. Lagian percuma juga. Semua tinta nggak ada yang masuk ke kulit hitam. Setelah jadi, digosok, gambarnya jadi daki doang.

Gue kagum sama penjualnya. Mereka mau nato orang, dan mereka juga punya tato. Itu lebih bagus daripada penjual baju bola tapi dia cuma pake singlet. Itu kan meragukan pembelinya.

“Ya iyalah. Biar meyakinkan, Bi. Masa abangnya nggak pake tato. Nanti pembelinya nggak percaya,” kata Alvin setelah mendengar rasa kagum gue.

Sampai di alun-alun, kami langsung disuguhkan pemandangan yang amat biasa dari tempat wisata pada umumnya. Para pengunjung mengeluarkan gadget-nya untuk berfoto. Anak-anak dan remaja bermain sepeda sewaan. Gue dan Alvin kebingungan: mau ngapain di sini?

Museum Seni Rupa dan Keramik


Beruntung di sini ada museum. Kami masuk ke Museum Seni Rupa dan Keramik. Melihat beberapa karya lukisan dan gerabah. Lorong satu dan yang lainnya menyajikan sesuatu yang beda berdasarkan perkembangan seni di eranya. Salah satu lukisan yang berhasil gue ambil gambarnya.


Lampu di sini kurang terang sehingga tidak cocok untuk foto-foto, tapi cukup memberikan nuansa hangat.

Berhubung berada di tempat terang, gue menyempatkan untuk berfoto

Telanjangin deh. Mirip pasti.

Setelah puas di dalam Museum Seni Rupa dan Keramik, kami ngobrol di pohon besar depan museum. Alvin bercerita tentang pengalamannya di Banyuwangi, kota pesantrennya. Sesekali gue membandingkan dengan kehidupan di Jakarta.

Azan Zuhur berkumandang kami bergegas mencari musala terdekat, yang ternyata ada di dalam area museum tadi. Selesai mengambil air wudu, kami mendapati musala yang sangat kecil. Hanya ada satu pintu di sana, tempat keluar masuknya. Kalau begini, kemungkinan batal wudu sangat besar.

Kami berdua mencari tempat lain. Masjid dekat Stasiun Kota kami singgahi jaraknya cukup jauh dari musala. “Yang tadi itu, anggap aja cuci muka,” kata gue, setelah di jalan sempat kentut.

Selesai salat dan makan ketoprak deket Stasiun Kota, kami pergi ke Museum Kantor Gubernur. Dengan harga tiket lima ribu rupiah kita bisa masuk ke dalam. Isinya ada beberapa benda bersejarah, seperti lukisan, lemari, dan lain-lain. Dalam suat ruangan, gue menemui sebuah batu besar. Lebih tinggi daripada gue. Nggak jauh dari sana ada penjelasan judulnya padrao. Setahu gue, padrao adalah sebuah penanda yang diciptakan orang Portugis sewaktu kali pertama datang ke Nusantara. Kalau benar itu namanya padrao, keren juga ternyata. Beda dengan yang ada di buku Sejarah gue.

Untung dulu belum ada pylox. Pasti orang Portugis nulisnya bukan di batu, tapi di tembok. Ditulis gede-gede ala grafiti: “Portuguese was here – by: rame2 basis Lisbon”. Walaupun kemungkinan besar grafiti itu bisa ditiban oleh grafiti Belanda di kemudian hari.

Yeah, yeah, setelah bolak-balik museum, kami akhirnya pulang. Ada sebuah tips untuk semua orang yang ingin naik Transjakarta di halte Kota: harus sabar dan kuat jalan.

Letaknya ada di dekat Stasiun Kota. Harus masuk lorong penyeberangan, di basement-nya ada pasar. Lumayan rame, dan jalan cukup jauh. Kalau nggak sabaran kayak gue, bisa-bisa motong jalan karena nggak mau muter dengan manjat pagar. Kalau diingat-ingat, hal ini sudah lama nggak kami lakukan bersama. Terakhir kali begini waktu kabur keluar sekolah, manjat tembok yang di atasnya berkawat. Turun dari tembok ketahuan guru Olahraga, gue dijewer.

Turun dari Transjakarta, kami berjalan sebentar menghindari angkot yang ngetem. Ini sengaja agar nggak lama-lama nunggu. Lebih baik nyari yang udah jalan ketimbang naik mobil yang berhenti, apalagi penumpangnya masih sedikit.

Sampai di tujuan, Alvin turun lebih dulu. Dia menjabat tangan gue sebelum turun angkot. “Bi, gue pulang duluan. Kapan-kapan ketemu lagi. Makasih ya!” katanya antusias.

“Aamiin,” ucap gue dalam hati.