“Mulai dulu aja, lalu bikin yang lebih baik.” – Pandji Pragiwaksono (Juru Bicara World Tour, 2016)

Masih ingat waktu itu, Oktober 2016, dalam acara Bulan Bahasa, gue mengikuti salah satu lomba, yaitu menulis cerpen. Gue dengan keyakinan tinggi, langsung mengajukan diri untuk ikut lomba di grup Line kelas. Akhirnya, gue nggak menang dan merasa ngecewain teman-teman sekelas. Takutnya di pikiran mereka, “Apaan, sih, Robby. Sok berani ngajuin diri, malah gak menang. Tadi mah gue aja yang ikut!”

Lalu, Januari 2017 gue mendapat kabar bahwa naskah ditolak penerbit. Mana waktu itu gue dapat kabar di sekolahan. Sedih banget, mau pulang aja. Mau nangis, tapi ya... MALU LAH ANJIS!

Udah, gue nyadar diri aja mendingan. Belum saatnya gue menang cerpen dan naskah diterbitkan. Yang penting gue udah berani memulai, lalu berharap makin baik lagi, seperti kata Pandji.

Dari kalimat itu juga, membuat gue terpacu untuk membuat sesuatu yang lebih besar lagi. Lebih dari blog. Lebih dari TV, boom.

Maka, berkat ajakan penggagas WIRDY, sang blogger yang dulunya pengin jadi playboy, Yoga Akbar Sholihin, gue dan teman-teman di WIRDY membuat sebuah e-book.

Dengan pertempuran melawan masuk angin, akhirnya lahirlah e-book yang kami tulis. Judulnya Kafe WIRDY. Mantap!

Isi dari e-book ini di antaranya:
1) dua tema tulisan yang pernah ditulis di blog kami masing-masing;
2) tentang Janji;
3) fiksi kilat;
4) dan sebuah tulisan bertemakan “Tribute to Darma”, tulisan yang dipersembahkan untuk Darma Kusumah, anggota WIRDY juga, yang sedang melanjutkan studi di Turki.

E-book ini bisa kamu download GRATIS. Klik gambar di bawah untuk men-download.

http://bit.ly/2jlpbj0


Oh iya, kalau ditanya apa perasaan gue setelah menyelesaikan e-book ini, perasaan gue deg-degan. Kebetulan lagi chattingan sama gebetan. Ehem. Boong deng!

Untuk kamu yang sudah men-download, selamat membaca dan semoga terhibur.

Untuk kamu yang belum download, yakin nih nggak mau download? GRATIS, lho. Ayo doong download.
Read More »

thumbnail-cadangan
Masuk semester akhir kelas 12 menjadi waktu-waktu tersibuk gue. Menit demi menit sangat cepat habis lalu mengantarkan gue pada rasa lelah. Gue kehilangan waktu buat nulis apa pun kayak dulu. Pulang sekolah bawaannya udah ngantuk, mau cepet-cepet tidur biar paginya bisa segar lagi ngadepin pelajaran. Sekalinya berniat mau bergadang, eh malah nggak ngerti mau ngapain. Bergadang jadi sia-sia, di sekolah kepala nempel mulu ke meja atau nyender di pojok kelas.

Mumpung sekarang ada waktu senggang, gue mau cerita tentang apa aja yang sudah terjadi. Karena kalo yang belum terjadi, gue bingung gimana ceritainnya.

Nggak tau temanya apa, yang penting tertulis aja deh.



1.Kamar mandi sekolah
Awal masuk tahun 2017, kepala sekolah—yang kebetulan sekaligus menjadi pembina upacara saat itu, mengumumkan berita menyenangkan, bahwa kamar mandi lelaki telah dipercantik! (Beneran, beliau bilang dipercantik, kemudian dia ralat menjadi diperganteng). Gue antara senang dan sedih. Senang karena ada sesuatu yang baru di sekolah, sedih karena... kenapa pas gue udah kelas tiga baru dipercantik?

Oke, itu cuma toilet. Nggak masalah.

Seminggu pertama gue nggak mau ke sana. Banyak pengakuan dari teman-teman yang nggak mengenakkan. Katanya, di toilet baru, celah atasnya dibuat jadi lebih luas. Kira-kira, inilah yang menjadi ketakutan gue: takut direkam. Jadi, orang iseng bisa dengan mudah merekam orang yang sedang berada di dalam toilet. Ngeri juga, kan, kalau tiba-tiba gue ngelihat badan sendiri tanpa busana ada di grup angkatan.

Jeleknya lagi, setelah gue cicipin itu toilet (kayak ada yang salah?), ada kelemahan lainnya, yaitu nggak ada gantungan. Itu ganggu banget, lho. Kalau celana mau gue sampirin ke atas pintu, rawan bakal diambil. Nah, di sini gue kebingungan. Setidaknya ada paku kek, atau apa. Yang penting celana bisa dicantelin. Kalo udah begini, akhirnya celana dipake di kepala.

Bagusnya, sekarang dindingnya udah dikeramikin. Motifnya bunga-bunga. Rasanya kayak lagi ada di toilet wanita. Maksud gue nuansanya. Bukan tiba-tiba nemu pembalut di selipan pintu.

Kenapa gue jadi paham seluk-beluk kamar mandi cewek?


2. Kuota SNMPTN
Ini nih berita yang jadi buah bibir anak-anak kelas 12. Jatah jalur undangan atau yang biasa disebut SNMPTN, tahun ini berkurang menjadi 50 persen untuk sekolah dengan akreditasi A, yang sebelumnya 75 persen. Gue sudah sejak awal nggak menargetkan masuk lewat jalur itu. Seperti kata seorang alumni, “SNMPTN itu sifatnya dua: kesempatan atau hadiah.” Kalau dapat ya, alhamdulillah. Nggak dapat ya udah, berjuang lewat jalur yang lain.

Tapi, agak sedih juga mendengarnya. Teman-teman gue yang nilainya lebih bagus dari gue (tentu), banyak yang menyayangkan. Gue pun ikut prihatin. Padahal, gue berharap mereka bisa dengan mudah masuk perguruan tinggi lewat jalur SNMPTN. Biar mudah masuk PTN dan nggak perlu repot-repot belajar buat SBMPTN. Mereka senang, gue juga bangga ngelihatnya. Syukur-syukur cepat lulus dan punya pekerjaan bagus. Kalau mereka sukses, siapa tau gue kebagian.


3. Kucing Liar
Teori abiogenesis dari Aristoteles menjelaskan bahwa, makhluk hidup berasal dari benda tidak hidup, atau dengan kata lain makhluk hidup ada dengan sendirinya. Dalam percobaannya, Aristoteles merendam tanah dalam air, kemudian akan muncul cacing.

Secara ajaib, teori abiogenesis terjadi juga di dalam kelas, saat jam istirahat. Waktu yang tepat untuk orang-orang di kelas membuka dan memakan bekalnya masing-masing. Karena adanya bau makanan, tiba-tiba muncul seekor kucing hitam.

Setiap jam istirahat, kucing ini selalu minta jatah. Tapi kucing ini nggak minta jatah kayak “jatah mantan”. Tanpa rasa takut, dia langsung lompat ke atas meja tanpa aba-aba sehingga bikin cewek-cewek ngejerit. Pokoknya kalau kucing ini udah datang, kelas jadi gempar.

Kucing ini mendadak jadi artis di lingkungan kelas 12 IPA yang berada di lantai bawah. Setiap jam istirahat, dia akan blusukan ke kelas-kelas untuk nyari makan. Atau kalau lagi pengin, dia akan nyari perhatian di dalam kelas dengan membuat semua orang sibuk main salah-salahan: “LAGIAN, SIH, PINTUNYA NGGAK DITUTUP!” Akhirnya dia dibopong keluar kelas.

Herannya, kucing ini mau dipindahin sejauh apa pun, pasti akan kembali lagi. Persis kayak mantan yang udah dijauhin, eh tiba-tiba balik lagi.

Loh, ini maksudnya gimana? Minta dibopong?

Atau, jangan-jangan dia adalah setan atau siluman yang suka gentayangin orang makan. Ah, tapi sejauh ini teori abiogenesis adalah nyata! Sudah terbukti juga, kan, di tenda pecel lele?
Read More »

Sumber: Pixabay.com
Aroma makanan dari dapur selalu membuat gue penasaran: Kira-kira bumbu apa saja yang dipakai untuk membuat makanan seenak itu? Kebanyakan, makanan yang aromanya sedap pasti rasanya sedaaap.

Gue pernah nanya Mama tentang bumbu sayur asem. “Kalo masak sayur asem nggak usah pake jeruk nipis, kan, Ma?” Tanpa perlu mendengar jawaban Mama, gue sudah merasa salah bertanya. Ralat. Pertanyaan gue yang nggak kritis.

Paling sering, gue menanyakan tentang gorengan. “Kenapa, sih, Ma, kok gorengan yang dijual tukang lebih keras? Yang Mama bikin loyo dan lebih lemes.”

Dengan tatapan keibuan, Mama memberi tahu sebuah informasi mahapenting. “Dia gorengnya pake minyak yang sekaligus banyak.” Seolah nggak mau kalah dari tukang gorengan, dia bilang, “Mama bisa aja bikin kayak gitu, tapi sayang minyaknya nanti jadi jelantah doang. Mubazir.”

Sedangkan Bapak gue, yang komentarnya terhadap masakan lebih pedes daripada Chef Juna, berkata, “Tempe apaan keras begini. Gorengnya pake semen!”

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini gue rasa perlu ditanyakan ketika berhadapan dengan orang yang ngerti masak. Minimal, mereka yang paham di bidangnya. Gue kalau nanya soal makanan paling sering ke Mama. Pokoknya jauh-jauh dari Bapak deh. Apa yang Mama masak, sering gue tanya apa rahasianya bisa bikin makanan enak.

Tapi, pernah nggak, sih, kita nanya resep rahasia ke pedagangnya langsung? Misalnya, di Krusty Krab, gitu.

***

Dulu, di SD, gue kenal penjual bakso tusuk terenak di sekolah. Bukan terenak juga sebenarnya, tapi karena emang cuma dia yang dagang bakso tusuk. Penjualnya gendut, kulitnya cokelat gelap, rambutnya agak ngembang. Kalo dia di-make up-in dengan niat, dia cocok jadi pemeran Buto Ijo. Sebut saja Budi.

Cerita antara pedagang dan pembeli ini bisa membuka wawasan gue di kemudian hari.

Ricky, teman gue yang juga langganannya, pernah iseng nanya ke Budi, “Bang, lo bikin bakso bahannya apa?”

Budi orangnya memang asal jeplak kalo ngomong. Dia jawab, “Ikan sapu-sapu.”

Ricky cerita ke gue tentang bakso Budi. Gue nggak ngerti kenapa mukanya gelisah begitu. Padahal cuma ikan sapu-sapu. Apa bedanya dengan ikan yang lain?

“Emang kenapa kalo ikan sapu-sapu?”tanya gue polos.

“Beracun, bego!”

“Ah, masa?” Gue masih belum percaya. “Tapi enak, sih.”

Sampai beberapa minggu kemudian, gue terpaksa nurut aja dengan kepercayaan yang ada bahwa “bakso Budi pake ikan sapu-sapu”. Setelah diberi tahu Ricky gue mengurangi jumlah bakso yang gue makan. Minimal beli dua sehari.

Lulus dari SD gue masih megang kepercayaan itu. Sayang, gue dan Budi nggak pernah ketemu lagi.

Senin pertama di tahun 2017, gue masih ingat ada liputan yang ditayangkan Kompas TV mengenai ikan sapu-sapu.

Dalam liputan, Aiman Wicaksono, host acara tersebut, mengikuti serangkaian kegiatan yang dilakukan nelayan. Ikan sapu-sapu ditangkap dari sungai-sungai di Jakarta. Ajaib. Gue kira sungai di Jakarta isinya cuma... sejarah. Ya, kan, malu juga kalau gue bilang “isinya cuma sampah”.

Menurut pengakuan nelayan, ikan sapu-sapu ini diolah menjadi panganan. “Jadi bakso bisa. Pempek bisa. Cilok bisa. Pokoknya yang ada rasa-rasa ikan bisa,” akunya.

Seperti pada acara investigasi pada umumnya, sampel bakso berdaging sapu-sapu dibawa ke laboratorium salah satu universitas terkenal. Setelah diteliti, ikan sapu-sapu punya kandungan logam berat yang tinggi. Singkat kata: beracun.

Oke, kepercayaan itu semakin gue pegang. Gue mulai takut sekarang .Tapi, percaya deh. Bakso tusuk Budi enak kok walau (seandainya benar) pake daging ikan sapu-sapu.

***

Rahasia selajutnya datang dari cerita Bang Yoga. Sewaktu kopdar Blogger Jabodetabek bulan Desember 2016, dia cerita kalau sebuah warung mi rebus laku karena ada “sesuatunya”.

“Lu tau nggak, tempat itu kenapa laku?” Kita semua yang mendengar penasaran, menatap serius mukanya. “Karena diludahin jin!”

“Hah? Jin? Ngeludah?” pikir gue kagum. Wow, gimana, ya, cara mereka saat ngeludah?

Apakah ada ancang-ancangnya seperti sopir angkot?

Atau, ngeludah biasa kayak ngeludahin selingkuhan?

Yang ada di bayangan gue perkiraan nomor satu. Kebayang jin lagi ngadepin dandang. Kepalanya mendongak, biar reaknya ikutan keluar. Satu tarikan napas, “HOEEEEEEKKK” lalu dengan cepat mengeluarkan isi mulut ke dandang.

Najis. Jangan dibayangin.

Tapi, emang beneran, ya, ludah jin segitu bermanfaatnya? Kalau beneran iya, gue mau coba dong. Ludahin blog gue, siapa tau viewers-nya banyak.

Cukup sudah bahas-bahas jin.

***

Lompat ke cerita yang lain. Sama seperti cerita pertama, tentang bakso.

Istri kakak gue pernah makan bakso di bilangan kota Jakarta. Menurutnya, kedai bakso itu laris manis. Nggak ngerti apa rahasianya sampai bisa rame kayak gitu. Setelah beberapa minggu, kedai itu digerebek polisi karena menggunakan daging tikus. 

Kasus seperti ini memang sejak dulu (bahkan sampai sekarang) sudah ramai. Nggak cuma daging tikus aja sebenarnya, daging celeng juga. 

Ikan sapu-sapu. Jin. Daging tikus.

Bahan-bahan makanan yang ternyata nggak lazim sudah masuk ke bisnis kuliner.

Makin aneh aja.

Masuknya benda-benda aneh ke dalam makanan juga datang dari cerita Mama. Cerita ini diceritakan dari temannya, kemudian diceritakan ulang pada sebuah malam. Detail ceritanya gue nggak ingat, tapi intinya nggak hilang

Rosa (nama samaran), pergi ke sebuah kedai bakso bersama temannya. Dia mesan bakso yang jadi menu andalan di kedai tersebut. Entah karena Rosa tipe orang-yang-ngabisin-kuah-duluan atau bagaimana, Rosa minta tambah kuah di mangkoknya.

Kemudian, Rosa meminta kuah kepada pelayan kedai, tetapi nggak dilayani karena sibuk. Di depan dandang nggak ada orang, hal itu dimanfaatkan Rosa untuk ngambil kuah sendiri. Dia sudah nggak sabar karena kuahnya, bisa jadi, enak banget.

Rosa menciduk kuah dengan menggunakan sendok kuah. Saat sendok menyentuh kuah, di luar dugaan, sendok tadi menyentuh benda agak keras namun lembut. Seperti babat yang belum dipotong-potong. Begitu dia angkat, Rosa mendapatkan CELANA DALAM di kuah tersebut.

Wow. Celana. Dalam. Di. Dandang.

CELANA DALAM GITU, WOY! NGERI BETUL.

Di rumah, semua yang mendengar cerita Mama tersebut responsnya sama. Cerita tadi cukup menghasilkan reflek tawa.

Pikiran gue, sih, si penjual lupa masukin kolornya ke dalam ember cucian. Eh, malah dimasukin ke dandang. Oh, mungkin biar celana dalamnya punya rasa. Jadi, kalau dia ke restoran lain nraktir temannya, lalu ngerasa makanannya kurang bumbu, dia bakal ngelepas sempak, terus dikibas-kibasin ke makanan. Dengan iming-iming, “Tenang. Rasanya kayak pake masako.”

--

Semakin anehnya makanan yang ada, kok gue malah jadi takut ya? Dulu, sempat ada gorengan plastik. Ada lagi beras plastik. Di Korea malah ada operasi plastik. Lama-lama lambung kita dikresekin.

Ternyata rahasia dapur sama mengerikannya dengan rahasia Ilahi. Kita tak pernah tahu.

Atau jangan-jangan, selama ini, orek di warteg sebelah pake oli samping. Hmmmm.
Read More »

thumbnail-cadangan
Masuk sekolah setelah liburan menjadi ajang kepoin nilai. Tukeran rapor menjadi hal yang biasa. Berbeda dengan anak-anak SD, teman-teman gue nggak lagi kepengin tau siapa nama orang tua temannya. Udah bukan masanya anak SMA lari-lari, teriak di depan muka orang, “JATMIKO!” Yang ada malah ditonjokin sampe bonyok, karena yang diteriakin preman Tanah Abang.

Gue perhatikan, ada dua tipe orang yang nanyain nilai rapor temannya: 1) Dia mantau persaingan; 2) Nyari teman senasib.

Tipe pertama, biasanya terjadi pada orang-orang yang nilainya tinggi. Dia bakal nyari-nyari tau rapor si anak-pinter; berapa nilai rata-ratanya, berapa nilai terendahnya, peringkat berapa dia, dan lain-lain

Sedangkan tipe kedua, biasanya yang nilainya kecil. Kalau ketemu nilai di rapor teman sama kecil dengan rapornya, dia nggak merasa kesepian di dunia ini. Teriakan-teriakan “Kami nggak bego!” akan mereka lantangkan di belakang si anak-pinter.

Selain siswa, guru juga nanyain nilai rapor. Agak aneh sebenarnya. Nilai rapor berasal dari mereka, kenapa tetap nanya juga?

Kebanyakan guru nanya, "Gimana nilainya?" Padahal di rumah, mereka pasrah. "Bakar aja kali, ya? Nggak layak."

Waktu pelajaran Ekonomi, guru gue sempat membahas nilai rapor. Dia melihat nilai-nilai yang kurang dan menyebutkan namanya. Maksud beliau adalah agar siswanya belajar lebih giat lagi. Walaupun terasa agak telat, mengingat waktu belajar tinggal hitungan minggu.

Nilai Ekonomi gue di rapor, terbilang cukup bagus. Hampir mencapai 9, predikatnya B. Sudah rahasia umum bila sebenarnya, nilai gue nggak segitu aslinya.

"Saya bacain, ya, yang nilainya masih B," kata Guru Ekonomi. Beliau mengambil daftar nilai melihatnya dari atas ke bawah. Nama-nama disebutkan.

"Robby Haryanto," panggilnya. Gue mengangkat tangan. "Mana Robby Haryanto?"

"Saya, Bu." Gue mendongakan kepala agar terlihat dari depan. Maklum, gue duduk di belakang.

"Nilai kamu ini yang tertinggi waktu PAS (Penilaian Akhir Semester—nama selain UAS)."

Gue cuma senyum-senyum nanggung. Apa bener gue tertinggi? Gue nggak ingat bener tentang UAS itu.

"Wedeeeh," saut seseorang di depan.

"Hush! Bukan beneran," protes Guru Ekonomi sambil terkekeh, "kebalikannya."

Oke-oke. Senyum gue berubah jadi tawa di mulut, tangis di hati.

Jujur saja, waktu ulangan Ekonomi, gue nggak belajar maksimal. Gue cuma baca-baca catatan dan materi-materi yang ada di internet. Begitu tau soalnya sangat jauh beda, ya jelas gue nangis. Nggak ngerti apa-apa. Akhirnya nilai gue tetep jeblok. Lupa berapa persisnya.

“Ulangan harian remedial. UTS di bawah KKM. Seharusnya kamu C, Rob,” ungkap Guru Ekonomi. Wah, gue kayaknya salah ambil lintas minat, nih, batin gue. Ya.. tapi kenapa baru nyadar pas mau lulus?!

Gue hanya memandang lantai. Rasanya seperti sedang diadili di balai warga karena ketahuan abis nyolong pepaya. Kemudian ditelanjangi, dan nggak ketinggalan, bulu kaki dicabutin.

“Kamu kenapa nilainya bisa begini? Nggak belajar apa gimana?”

“Nggak, Bu,” jawab gue secepat kilat.

“Beneran nggak belajar?”

“Nggg, belajar, Bu. Sedikit-sedikit.”

Menjelang ujian, gue memang cuma baca-baca buku catatan dan materi-materi dari internet. Begitu tau soalnya sangat jauh beda, ya jelas gue nangis. Nggak ngerti apa-apa.

***

Sekitar seminggu setelah PAS mata pelajaran Ekonomi, nilai dibagikan dalam bentuk foto. Gue melihat itu. Nilai mereka bagus-bagus. Kebetulan mereka seruangan dengan gue.

Pengakuan mereka yang gue dengar: “Emang lu nggak tau? Soalnya sama persis kayak di internet. Ada kunci jawabannya juga. Beruntung gue nggak ketahuan.”

Gue, bukannya bego karena nggak mau buka internet.

Karena gue tau, itu cara pecundang.

Andai pertanyaan “Kamu kenapa nilainya bisa begini? Nggak belajar apa gimana?” bisa gue jawab ulang, gue mau jawab, “Maaf, Bu. Saya nggak sempat gugling.”

Entahlah gue yang sok suci atau keliatan bego. Atau kesannya gue yang nyari-nyari kesalahan orang lain. Tapi, apakah dengan mereka googling mereka salah? Gue juga nggak ngerti dengan semua ini.

Harapan gue, tidak sampai jatuh ke jurang yang lebih jauh. Gue juga pernah berbuat curang. Nggak cuma ulangan aja. Seperti kata alumni yang sekarang kuliah di salah satu PTN, “Nggak masalah kalau nilai lu jelek di ulangan, bahkan Ujian Nasional sekalipun. Tapi usaha lu lebih berharga.” Walaupun usaha gue sangatlah sedikit.

Guru Ekonomi melanjutkan pelajaran. Beliau bercerita panjang lebar. Di akhir cerita, dia mengatakan sebuah rangkaian kalimat pendek, namun cukup “mengangkat” diri gue. “Tetep harus bersyukur. Kalau punya kekurangan jangan minder. Semangat harus selalu tinggi. Roda pasti berputar.”

Kalimat klise yang akan gue coba pegang teguh.

--
P.S:
- Maaf kalau tulisan ini kesannya sampah (tiap tulisan gitu juga deh perasaan). Lagi kesel emang begini. Bawaan tegang menjelang Ujian Nasional, mungkin.
- Ini 11 Januari, ya? Udah denger lagunya? Hehehe.
Read More »


Jujur saja, selama ini gue punya pandangan buruk mengenai serial drama Korea; menye-menye, banyakan nangis, dan muka pemainnya mirip semua. Tapi setelah gue renungi, jenis film atau tontonan apa lagi selain yang kayak begitu (drama) yang pernah (dan sanggup) gue tonton? Nonton film thriller nggak berani. Film horor apalagi. Paling cuma komedi. Itu juga yang pernah tayang di televisi nggak semuanya gue tonton. Film Spiderman yang langganan tayang di Trans TV juga nggak pernah nonton sampai abis.

Drama adalah jenis tontonan paling aman buat gue. Eh, apa mungkin itu alasan mengapa gue nonton video nangis-nangisnya Awkarin? Tapi, emang beneran sedih, sih, videonya. Coba deh.

Suatu hari, gue bilang ke Fahrul, teman gue, “Tontonan gue cemen banget.”

“Nggak papa,” katanya santai. Kemudian kakinya menginjak persneling. “Namanya selera, kan. Gue juga lebih suka genre-genre begitu.”

Sebuah obrolan jujur baru saja terjadi di atas motor. Tapi, kalau videonya Awkarin kayaknya dia nggak suka deh.

Sebelumnya, di dua post bulan Desember 2016, gue pernah bilang punya file enam belas episode Descendants of the Sun. Liburan kemarin, sering banget gue duduk di depan laptop, bingung mau ngapain. Gue mencoba nonton.



Episode satu: “Nggak terlalu buruk.”

Episode dua: “Lumayan.”

Episode tiga. “BESOK HARUS NONTON LAGI!”

Ketagihan.

Ya, ya, gue telat baru nonton DOTS. Di saat teman-teman gue udah nonton di RCTI, gue malah baru dapat file-nya.

Sedikit gambaran mengenai serialnya, mengisahkan seorang tentara bernama Kapten Yoo Si Jin (diperankan oleh Song Joong-ki) yang bertemu seorang dokter di rumah sakit bernama Kang Mo Yeon (Song Hye-kyo). Mereka saling jatuh cinta.

Untungnya, ini drama korea. Kalau ini FTV, akan bisa diperkirakan begini adegannya:

Kang Mo Yeon pergi ke pasar beli es dawet. Di perjalanan pulang, dia ditabrak tank-nya Kapten Yoo Si Jin. Dokter Kang berdarah-darah sekarat, Kapten Yoo malah hormat. Judulnya: “Cenat-cenut Ketabrak Tank”.

Kisah itu terus berlanjut hingga keduanya ditugaskan di tempat yang sama, sampai akhirnya sang dokter HAMIL DI LUAR NIKAH! WAHAHAHA. Nggak ding. Daripada penasaran kayak gimana sebenarnya, coba tonton aja.

Setelah menonton sampai 10 episode, ada sedikit dorongan yang memengaruhi gue. Tapi jangan salah tangkap, gue nggak pengin operasi plastik kayak orang Korea kebanyakan. Beberapa hal yang memengaruhi gue setelah menonton Descendants of the Sun.


1. Pengin megang senjata

Nonton Descendants of the Sun sudah pasti akan melihat adegan tembak-tembakan. Bukan, maksudnya bukan tembak kayak di acara Katakan Cinta. Itu nembak yang beda lagi.

Keluar peluru. Dari senjata. Begitu.

Gue kira, karena ini serial drama Korea—yang sudah identik dengan menye-menye—para tentara saat nembak senjata, ternyata yang keluar... unek-unek.

“Dengarkan saya. Serahkan senjatamu,” tentara menodongkan pistol di sisi kepala. “Sebenernya sejak lama aku suka sama kamu. Karena kenapa? Pikirkan!”

Hal yang membuat gue kepengin megang senjata adalah sewaktu adegan Kapten Yoo Si Jin membidik sniper, saat pengawasan senjata, ke arah Doker Kang, dengan maksud ngintipin dia lagi cuci muka. Bisaan aja dah. Meskipun jadinya kurang kerjaan.

Kalau gue mau melakukan hal yang sama, satu-satunya cara adalah beli teropong. Siapa tau gue bisa ngeliat alien di bulan lagi nyuci ufo.



2. Ngebayangin jadi tentara


Gue sejak kecil, bahkan sampai sekarang, nggak pernah punya niat untuk menjadi tentara. Tentara yang dalam bayangan anak-anak sangatlah keren: ke mana-mana bawa senjata, tiarap, dan mengabdi pada negara.

Sewaktu nonton DOTS, gue membayangkan bagaimana bila gue jadi tentara. Ah, tentunya nggak akan asyik. Tentara pasti bakal kesulitan jadi personal blogger. Paling, mereka bikin aliran baru: army blogger. Paling gampang jadi blogger tutorial, salah satu tulisannya "Cara Jadi Tentara Tanpa Tes, 100 Juta Langsung masuk. Asal Punya Orang Dalem".

Atau, ternyata tentara jadi kontributor Hipwee. Bikin judul artikel yang superpanjang: “Beginilah Kehidupan Tentara. Pasti Kamu Menyesal Telah Melecehkan Lagu Kebangsaan karena Mengganti Liriknya dengan Kata Kotor. Baca Biar Kamu Nggak Menyesal”.

Itu ngebayangin jadi tentara.

Dulu banget, gue udah dikasih gambaran yang nggak enak tentang tes jadi tentara.

Secara postur, kata banyak orang, gue cocok kalau jadi tentara. Apalagi sekarang gue botak (cie gitu). Tapi, gue ngeri banget ada yang pernah cerita begini: “Tes masuk tentara itu serem. Ditonjokin dan digebukin. SAMPE. MATI.”

Pertanyaannya: Ya kalo udah mati, gimana caranya jadi tentara? Nanti... siapa yang jadi kontributor Hipwee?


3. Sok tegap dan kokoh


Kalau ngebayangin jadi tentara, jauh sebelum nonton Descendants of the Sun gue udah pernah ngalamin. Sewaktu SMP, pada pelajaran Penjaskes, ada materi baris-berbaris. Heran. Gue malah baru tahu ada baris-berbaris di mata pelajaran Penjaskes.

Waktu itu gue nggak ngerti apa-apa soal baris. Alhasil cara jalan gue sewaktu baris jadi kayak robot. Mengetahui anak muridnya melakukan kesalahan, guru gue menghampiri. Dari belakang dia ngeplak gue.

Sadis.

Zaman SMA kelas 10, gue sempat (terpaksa) masuk Paskibra seminggu karena sistemnya perekrutan anggota. Sialnya, gue kepilih, dan langsung dilatih jadi pemimpin upacara. Beuh, keren nggak tuh!

Pas nonton Descendants of the Sun, semangat Paskibra gue kembali membara. Tiba-tiba kepengin lagi setiap hari teriak-teriak, push up, lari-lari, ditonjokin senior. Yang terakhir bohong.
Paskibra seru kok... pada awalnya. Muehehe. Gue nggak sempet diperlakukan secara keras karena cuma seminggu langsung keluar. Itu pun buat pasukan 17 Agustus.

Setelah kelas 12, gue jarang latihan fisik lagi seperti sewaktu di Paskibra. Berbekal nonton DOTS, sewaktu naik Transjakarta, gue sok kuat untuk berdiri sambil memegang pegangan. Baru lewat dua halte, orang yang duduk di depan gue keluar. Tentu saja gue duduk. Lemes.


4. Sedikit tahu bahasa Korea
Bahasa Korea juga sebelumnya sering diucap teman-teman gue yang menyukai budaya Korea. Beda dengan gue, yang lebih suka ngirup lem korea, yang nggak tau apa-apa soal Korea. Gue cuma tau beberapa pemain sepak bola dari Korea, seperti Ahn Jung Hwan, Park Ji Sung, Changhong, Lin Dan, dan Xiao Mi.

Kata-kata yang gue tahu setelah nonton DOTS adalah daebak dan aigoo. Kalau nggak salah, daebak artinya kayak amazing, wow, mantap, keren-banget-anjir, dan semacamnya yang menunjukkan kekaguman. Sementara aigoo, artinya menunjukkan kekecewaan.

Selebihnya gue nggak tau lagi.


5. Muncul soundtrack


Pernah ngerasain nggak, di suatu momen tertentu, kamu ngerasa ada lagu yang tiba-tiba bernyanyi di kepala? Biasanya lagu-lagu yang muter adalah lagu yang sering didengar atau erat kaitannya dengan kenangan bersama lagu tersebut. Misalnya, lagi makan teringat lagunya Duo Maia: “Aku mau makan, kuingat kamu”. Lagi bosen, ada temen mau duduk bangkunya dikasih tip-ex biar nempel di celananya, tiba-tiba di kepala muncul lagu Opick.

“Bagaimanakah bila saatnya....”

Ini juga terjadi pada kebiasaan nonton DOTS. Lagu yang biasanya tiba-tiba muter di kepala gue, bagusnya, adalah lagu-lagu romantis. Kayak waktu itu, gue lagi di suatu tempat tatap-tatapan sama cewek. Tiba-tiba di kepala gue mengalun lagu yang biasa gue dengar. “I love youu, deutgo issnayooo....”

Selain lagu yang judulnya Always – Yoon Mi Rae tadi, lagu lainnya juga sempat tiba-tiba terngiang.

Siang itu, di dalam bus Transjakarta jurusan Harmoni – Kalideres gue dan Alvin mendapat tempat duduk. Sangatlah beruntung mengingat selama jalan-jalan di Kota Tua kita nonstop jalan kaki. Nggak lama setelah duduk, gue bangun dari kursi bus meihat seorang ibu dengan bawaan yang banyak. Gue persilakan dia untuk duduk.

Alvin, seolah nggak mau kalah, ikut-ikutan memersilakan wanita umur 20-an tahun. Wanita itu dengan senang hati menerima kursi dari Alvin. Belum sempat duduk, wanita itu hilang keseimbangan. Tangannya bergerak kacau berusaha menggapai apa pun di dekatnya. Sampailah tangan kanan dia menyasar pada lengan gue yang sedang menggantung di hand grip.

Jeda cukup panjang di antara kami, seiring dengan cengkramannya yang makin menguat. Mata kami menyapa, membuatnya tersenyum kecil. Giginya gingsul mirip Nabilah JKT48, namun versi orang kantoran. Gue bisa merasakan soundtrack DOTS mengalun pelan...

“You are my everything....”



Malah bikin FTV sendiri di Transjakarta.


6. Kesel sendiri
Di zaman serba visual ini, cewek (dan cowok) malah lebih tertarik sama hal-hal yang hampir nggak mungkin dia wujudkan, seperti: “Gue mau nikah sama Sasuke”, “Mau main bola bareng Tsubasa”, “Mau jajan pecel bareng karakter hentai”, dan lain-lain.

Kapten Yoo Si Jin digambarkan sebagai lelaki yang tangguh, pelindung wanita dan orang tua, penolong, ganteng, dan humoris. Ini adalah ketamakan! Jarang banget ditemukan hal begini di kehidupan nyata. Semua tipe cowok favorit ada dalam karakternya. Ya, jelas aja cewek-cewek langsung kesemsem.

Untung cuma di film. Kalau ada benerannya langsung diculik dan dibuang ke Nusa Kambangan.

Ah, ini mah paling sindrom awal cowok-cowok suka nonton serial Korea: dengki sama pemeran cowok yang lebih ganteng daripada dia.

Mungkin cuma itu efek setelah nonton Descendants of the Sun. Sebenarnya ada banyak adegan menarik. Misalnya: adegan ciuman di atas truk di episode 9. Terus, masa efeknya bikin gue pengin ciuman. Nggak dong. Paling celana jadi sempit.

Oh iya, gue pake celana zaman SD.

Kalau kamu, gimana efeknya setelah baca post ini? Eh, maksudnya setelah nonton Descendants of the Sun. Kalau udah nonton, bagi-bagi pengalamannya di kolom komentar dong.

--

Sumber gambar:
- Screenshot adegan
- http://www.atimes.com/article/koreas-descendants-of-the-sun-tv-series-rakes-in-chinese-japanese-cash/
- https://www.dramafever.com/drama/4627/Descendants_of_the_Sun/
- https://www.soompi.com/2016/04/07/descendants-of-the-sun-to-be-made-as-a-movie/
- http://officiallykmusic.com/11-reasons-to-start-watching-descendants-of-the-sun-now/
Read More »

Mendapat kabar dari teman yang sudah lama nggak ketemu memberikan rasa deg-degan luar biasa. Begitulah yang gue rasakan setelah Alvin, teman SD gue, mengirim pesan. Seingat gue, kami bertemu terakhir kali saat SMP. Dia pulang dari pesantren, lalu mampir ke rumah gue, dan kita berdua ke rumah Andika, teman SD yang lain. Ngomongin kehidupan setelah lulus SD dan nanya kabar teman-teman seangkatan.

Akhir tahun 2016 Alvin kembali datang ke Jakarta setelah mendapat libur di pondok pesantrennya. Saat itu gue lagi sibuk bolak-balik aplikasi media sosial, Alvin mengirim pesan via Facebook.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Lu lagi di Jakarta?” tanya gue.

“Lagi di Monas, nih.”

Mendengar kabar Alvin di Jakarta, gue langsung pengin ketemu dia. Sekadar mengetahui kabarnya dan mengeratkan tali silaturahmi.

Gue dengan cepat membalas, “Gue pengin main bareng lu.” Kalimat itu terasa seperti cowok yang kangen sama pacar LDR-nya.

“Ayo aja gue mah.”

Diputuskanlah pergi ke Kota Tua, Jakarta. Alasan gue memilih tempat itu adalah tempatnya nggak terlalu jauh. Pokoknya jaraknya nggak lebih jauh ke Vietnam.

Selain Alvin, gue mengajak teman-teman SD yang lain. Awalnya gue agak pesimis karena teman-teman SD gue punya kesibukan sendiri-sendiri. Pada akhirnya, mereka memang sibuk. Entah sibuk atau gue yang ngajak terlalu mendadak. Sepertinya untuk ketemu teman SD, dalam daftar keinginan ada di nomor terakhir, bahkan ada di bawah keinginan “nyicipin es krim pake sambal ABC”.

Ya udah. Nggak apa. Jalan-jalan berdua nggak masalah. Yang penting gue bisa ketemu teman jauh.

Gue dan Alvin berangkat dari halte Transjakarta Rawa Buaya, naik jurusan Kalideres-Harmoni. Turun di Harmoni, kami transit ke koridor jurusan Blok M-Kota. Masuk di bus kedua, Alvin bilang, “Sepi amat ya.”

“Nggak biasanya begini,” kata gue, yang memosisikan diri sebagai tour guide hari ini.

Turun di halte Kota, kami harus melewati jalan yang cukup jauh untuk sampai ke alun-alun. Sejujurnya, gue nggak tahu apa-apa soal Kota. Setahu gue, di Kota punya tempat mainstream untuk foto-foto. Kalau yang gue lihat di Instagram teman-teman, di foto itu ada gedung-gedung berwarna putih, ramai banyak orang, dan sepeda berkeliaran. Gue harus ke sana. Tapi, nama tempat itu pun gue nggak tahu. Gue ikuti saja langkah pengunjung lainnya.

Jeleknya di sekitaran Kota adalah pejalan kaki kurang difasilitasi. Untuk menuju tempat itu, kita harus melewati jalan raya yang ramai dilalui Transjakarta dan kendaraan lain. Jelas ini memakan korban. Ban motor yang ada di belakang mencium tumit kaki gue. Untung nggak sakit.

Semoga ini bukan jalan satu-satunya. Atau memang ada jalan lain? Entahlah.

Di sepanjang jalan menuju alun-alun, ada banyak sekali model-model di sana. Mereka semacam cosplay kemudian diajak foto dan dibayar. Model pertama ada tentara, lengkap dengan senjatanya dan warna serba hijau. Ada juga yang berpenampilan seperti wanita Belanda dengan make up yang sangat niat. Yang paling mencuri perhatian adalah model yang menyilakan kakinya sambil memegang tongkat, namun melayang. Posisinya duduk, tapi nggak ada apa-apa di bawah pantatnya. Alvin nanya ke gue, “Triknya gimana ya?” Gue nggak bisa menjawab. Cuma penasaran apakah di sekelilingnya ada tali atau nggak. Sampai sekarang gue sendiri bingung.

Pengunjung bisa foto-foto bersama mereka dengan membayarnya sebagai upah. Mungkin upah make up kali, ya.

Selain model-model jalanan, ada juga jasa membaca garis tangan. MEMBACA. GARIS. TANGAN. Gue kira ini bercanda, ternyata sungguhan ada!

Daebak!

Sepanjang jalan gue perhatikan, lapak itu nggak laku. YA SIAPA SURUH BUKA JASA BACA GARIS TANGAN. Kalo jasa baca puisi masih mending deh. Apa dia sebelumnya nggak baca garis tangannya sendiri?

“Ada garis melengkung di lima milimeter garis utama. Hari ini jasa ramal garis tangan gak laku.”

Yang membuat gue kagum adalah jasa piercing dan tato. Gue nggak tahu tato yang mereka buat menggunakan jarum sungguhan atau digambar biasa. Yang jelas tato itu nggak didapat dari chiki atau permen yosan.

Gue bukannya kagum pengin nato tubuh sendiri. Lagian percuma juga. Semua tinta nggak ada yang masuk ke kulit hitam. Setelah jadi, digosok, gambarnya jadi daki doang.

Gue kagum sama penjualnya. Mereka mau nato orang, dan mereka juga punya tato. Itu lebih bagus daripada penjual baju bola tapi dia cuma pake singlet. Itu kan meragukan pembelinya.

“Ya iyalah. Biar meyakinkan, Bi. Masa abangnya nggak pake tato. Nanti pembelinya nggak percaya,” kata Alvin setelah mendengar rasa kagum gue.

Sampai di alun-alun, kami langsung disuguhkan pemandangan yang amat biasa dari tempat wisata pada umumnya. Para pengunjung mengeluarkan gadget-nya untuk berfoto. Anak-anak dan remaja bermain sepeda sewaan. Gue dan Alvin kebingungan: mau ngapain di sini?

Museum Seni Rupa dan Keramik


Beruntung di sini ada museum. Kami masuk ke Museum Seni Rupa dan Keramik. Melihat beberapa karya lukisan dan gerabah. Lorong satu dan yang lainnya menyajikan sesuatu yang beda berdasarkan perkembangan seni di eranya. Salah satu lukisan yang berhasil gue ambil gambarnya.


Lampu di sini kurang terang sehingga tidak cocok untuk foto-foto, tapi cukup memberikan nuansa hangat.

Berhubung berada di tempat terang, gue menyempatkan untuk berfoto

Telanjangin deh. Mirip pasti.

Setelah puas di dalam Museum Seni Rupa dan Keramik, kami ngobrol di pohon besar depan museum. Alvin bercerita tentang pengalamannya di Banyuwangi, kota pesantrennya. Sesekali gue membandingkan dengan kehidupan di Jakarta.

Azan Zuhur berkumandang kami bergegas mencari musala terdekat, yang ternyata ada di dalam area museum tadi. Selesai mengambil air wudu, kami mendapati musala yang sangat kecil. Hanya ada satu pintu di sana, tempat keluar masuknya. Kalau begini, kemungkinan batal wudu sangat besar.

Kami berdua mencari tempat lain. Masjid dekat Stasiun Kota kami singgahi jaraknya cukup jauh dari musala. “Yang tadi itu, anggap aja cuci muka,” kata gue, setelah di jalan sempat kentut.

Selesai salat dan makan ketoprak deket Stasiun Kota, kami pergi ke Museum Kantor Gubernur. Dengan harga tiket lima ribu rupiah kita bisa masuk ke dalam. Isinya ada beberapa benda bersejarah, seperti lukisan, lemari, dan lain-lain. Dalam suat ruangan, gue menemui sebuah batu besar. Lebih tinggi daripada gue. Nggak jauh dari sana ada penjelasan judulnya padrao. Setahu gue, padrao adalah sebuah penanda yang diciptakan orang Portugis sewaktu kali pertama datang ke Nusantara. Kalau benar itu namanya padrao, keren juga ternyata. Beda dengan yang ada di buku Sejarah gue.

Untung dulu belum ada pylox. Pasti orang Portugis nulisnya bukan di batu, tapi di tembok. Ditulis gede-gede ala grafiti: “Portuguese was here – by: rame2 basis Lisbon”. Walaupun kemungkinan besar grafiti itu bisa ditiban oleh grafiti Belanda di kemudian hari.

Yeah, yeah, setelah bolak-balik museum, kami akhirnya pulang. Ada sebuah tips untuk semua orang yang ingin naik Transjakarta di halte Kota: harus sabar dan kuat jalan.

Letaknya ada di dekat Stasiun Kota. Harus masuk lorong penyeberangan, di basement-nya ada pasar. Lumayan rame, dan jalan cukup jauh. Kalau nggak sabaran kayak gue, bisa-bisa motong jalan karena nggak mau muter dengan manjat pagar. Kalau diingat-ingat, hal ini sudah lama nggak kami lakukan bersama. Terakhir kali begini waktu kabur keluar sekolah, manjat tembok yang di atasnya berkawat. Turun dari tembok ketahuan guru Olahraga, gue dijewer.

Turun dari Transjakarta, kami berjalan sebentar menghindari angkot yang ngetem. Ini sengaja agar nggak lama-lama nunggu. Lebih baik nyari yang udah jalan ketimbang naik mobil yang berhenti, apalagi penumpangnya masih sedikit.

Sampai di tujuan, Alvin turun lebih dulu. Dia menjabat tangan gue sebelum turun angkot. “Bi, gue pulang duluan. Kapan-kapan ketemu lagi. Makasih ya!” katanya antusias.

“Aamiin,” ucap gue dalam hati.
Read More »