Berwisata ke Kota Tua Jakarta dengan Teman Lama

Mendapat kabar dari teman yang sudah lama nggak ketemu memberikan rasa deg-degan luar biasa. Begitulah yang gue rasakan setelah Alvin, teman SD gue, mengirim pesan. Seingat gue, kami bertemu terakhir kali saat SMP. Dia pulang dari pesantren, lalu mampir ke rumah gue, dan kita berdua ke rumah Andika, teman SD yang lain. Ngomongin kehidupan setelah lulus SD dan nanya kabar teman-teman seangkatan.

Akhir tahun 2016 Alvin kembali datang ke Jakarta setelah mendapat libur di pondok pesantrennya. Saat itu gue lagi sibuk bolak-balik aplikasi media sosial, Alvin mengirim pesan via Facebook.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Lu lagi di Jakarta?” tanya gue.

“Lagi di Monas, nih.”

Mendengar kabar Alvin di Jakarta, gue langsung pengin ketemu dia. Sekadar mengetahui kabarnya dan mengeratkan tali silaturahmi.

Gue dengan cepat membalas, “Gue pengin main bareng lu.” Kalimat itu terasa seperti cowok yang kangen sama pacar LDR-nya.

“Ayo aja gue mah.”

Diputuskanlah pergi ke Kota Tua, Jakarta. Alasan gue memilih tempat itu adalah tempatnya nggak terlalu jauh. Pokoknya jaraknya nggak lebih jauh ke Vietnam.

Selain Alvin, gue mengajak teman-teman SD yang lain. Awalnya gue agak pesimis karena teman-teman SD gue punya kesibukan sendiri-sendiri. Pada akhirnya, mereka memang sibuk. Entah sibuk atau gue yang ngajak terlalu mendadak. Sepertinya untuk ketemu teman SD, dalam daftar keinginan ada di nomor terakhir, bahkan ada di bawah keinginan “nyicipin es krim pake sambal ABC”.

Ya udah. Nggak apa. Jalan-jalan berdua nggak masalah. Yang penting gue bisa ketemu teman jauh.

Gue dan Alvin berangkat dari halte Transjakarta Rawa Buaya, naik jurusan Kalideres-Harmoni. Turun di Harmoni, kami transit ke koridor jurusan Blok M-Kota. Masuk di bus kedua, Alvin bilang, “Sepi amat ya.”

“Nggak biasanya begini,” kata gue, yang memosisikan diri sebagai tour guide hari ini.

Turun di halte Kota, kami harus melewati jalan yang cukup jauh untuk sampai ke alun-alun. Sejujurnya, gue nggak tahu apa-apa soal Kota. Setahu gue, di Kota punya tempat mainstream untuk foto-foto. Kalau yang gue lihat di Instagram teman-teman, di foto itu ada gedung-gedung berwarna putih, ramai banyak orang, dan sepeda berkeliaran. Gue harus ke sana. Tapi, nama tempat itu pun gue nggak tahu. Gue ikuti saja langkah pengunjung lainnya.

Jeleknya di sekitaran Kota adalah pejalan kaki kurang difasilitasi. Untuk menuju tempat itu, kita harus melewati jalan raya yang ramai dilalui Transjakarta dan kendaraan lain. Jelas ini memakan korban. Ban motor yang ada di belakang mencium tumit kaki gue. Untung nggak sakit.

Semoga ini bukan jalan satu-satunya. Atau memang ada jalan lain? Entahlah.

Di sepanjang jalan menuju alun-alun, ada banyak sekali model-model di sana. Mereka semacam cosplay kemudian diajak foto dan dibayar. Model pertama ada tentara, lengkap dengan senjatanya dan warna serba hijau. Ada juga yang berpenampilan seperti wanita Belanda dengan make up yang sangat niat. Yang paling mencuri perhatian adalah model yang menyilakan kakinya sambil memegang tongkat, namun melayang. Posisinya duduk, tapi nggak ada apa-apa di bawah pantatnya. Alvin nanya ke gue, “Triknya gimana ya?” Gue nggak bisa menjawab. Cuma penasaran apakah di sekelilingnya ada tali atau nggak. Sampai sekarang gue sendiri bingung.

Pengunjung bisa foto-foto bersama mereka dengan membayarnya sebagai upah. Mungkin upah make up kali, ya.

Selain model-model jalanan, ada juga jasa membaca garis tangan. MEMBACA. GARIS. TANGAN. Gue kira ini bercanda, ternyata sungguhan ada!

Daebak!

Sepanjang jalan gue perhatikan, lapak itu nggak laku. YA SIAPA SURUH BUKA JASA BACA GARIS TANGAN. Kalo jasa baca puisi masih mending deh. Apa dia sebelumnya nggak baca garis tangannya sendiri?

“Ada garis melengkung di lima milimeter garis utama. Hari ini jasa ramal garis tangan gak laku.”

Yang membuat gue kagum adalah jasa piercing dan tato. Gue nggak tahu tato yang mereka buat menggunakan jarum sungguhan atau digambar biasa. Yang jelas tato itu nggak didapat dari chiki atau permen yosan.

Gue bukannya kagum pengin nato tubuh sendiri. Lagian percuma juga. Semua tinta nggak ada yang masuk ke kulit hitam. Setelah jadi, digosok, gambarnya jadi daki doang.

Gue kagum sama penjualnya. Mereka mau nato orang, dan mereka juga punya tato. Itu lebih bagus daripada penjual baju bola tapi dia cuma pake singlet. Itu kan meragukan pembelinya.

“Ya iyalah. Biar meyakinkan, Bi. Masa abangnya nggak pake tato. Nanti pembelinya nggak percaya,” kata Alvin setelah mendengar rasa kagum gue.

Sampai di alun-alun, kami langsung disuguhkan pemandangan yang amat biasa dari tempat wisata pada umumnya. Para pengunjung mengeluarkan gadget-nya untuk berfoto. Anak-anak dan remaja bermain sepeda sewaan. Gue dan Alvin kebingungan: mau ngapain di sini?

Museum Seni Rupa dan Keramik


Beruntung di sini ada museum. Kami masuk ke Museum Seni Rupa dan Keramik. Melihat beberapa karya lukisan dan gerabah. Lorong satu dan yang lainnya menyajikan sesuatu yang beda berdasarkan perkembangan seni di eranya. Salah satu lukisan yang berhasil gue ambil gambarnya.


Lampu di sini kurang terang sehingga tidak cocok untuk foto-foto, tapi cukup memberikan nuansa hangat.

Berhubung berada di tempat terang, gue menyempatkan untuk berfoto

Telanjangin deh. Mirip pasti.

Setelah puas di dalam Museum Seni Rupa dan Keramik, kami ngobrol di pohon besar depan museum. Alvin bercerita tentang pengalamannya di Banyuwangi, kota pesantrennya. Sesekali gue membandingkan dengan kehidupan di Jakarta.

Azan Zuhur berkumandang kami bergegas mencari musala terdekat, yang ternyata ada di dalam area museum tadi. Selesai mengambil air wudu, kami mendapati musala yang sangat kecil. Hanya ada satu pintu di sana, tempat keluar masuknya. Kalau begini, kemungkinan batal wudu sangat besar.

Kami berdua mencari tempat lain. Masjid dekat Stasiun Kota kami singgahi jaraknya cukup jauh dari musala. “Yang tadi itu, anggap aja cuci muka,” kata gue, setelah di jalan sempat kentut.

Selesai salat dan makan ketoprak deket Stasiun Kota, kami pergi ke Museum Kantor Gubernur. Dengan harga tiket lima ribu rupiah kita bisa masuk ke dalam. Isinya ada beberapa benda bersejarah, seperti lukisan, lemari, dan lain-lain. Dalam suat ruangan, gue menemui sebuah batu besar. Lebih tinggi daripada gue. Nggak jauh dari sana ada penjelasan judulnya padrao. Setahu gue, padrao adalah sebuah penanda yang diciptakan orang Portugis sewaktu kali pertama datang ke Nusantara. Kalau benar itu namanya padrao, keren juga ternyata. Beda dengan yang ada di buku Sejarah gue.

Untung dulu belum ada pylox. Pasti orang Portugis nulisnya bukan di batu, tapi di tembok. Ditulis gede-gede ala grafiti: “Portuguese was here – by: rame2 basis Lisbon”. Walaupun kemungkinan besar grafiti itu bisa ditiban oleh grafiti Belanda di kemudian hari.

Yeah, yeah, setelah bolak-balik museum, kami akhirnya pulang. Ada sebuah tips untuk semua orang yang ingin naik Transjakarta di halte Kota: harus sabar dan kuat jalan.

Letaknya ada di dekat Stasiun Kota. Harus masuk lorong penyeberangan, di basement-nya ada pasar. Lumayan rame, dan jalan cukup jauh. Kalau nggak sabaran kayak gue, bisa-bisa motong jalan karena nggak mau muter dengan manjat pagar. Kalau diingat-ingat, hal ini sudah lama nggak kami lakukan bersama. Terakhir kali begini waktu kabur keluar sekolah, manjat tembok yang di atasnya berkawat. Turun dari tembok ketahuan guru Olahraga, gue dijewer.

Turun dari Transjakarta, kami berjalan sebentar menghindari angkot yang ngetem. Ini sengaja agar nggak lama-lama nunggu. Lebih baik nyari yang udah jalan ketimbang naik mobil yang berhenti, apalagi penumpangnya masih sedikit.

Sampai di tujuan, Alvin turun lebih dulu. Dia menjabat tangan gue sebelum turun angkot. “Bi, gue pulang duluan. Kapan-kapan ketemu lagi. Makasih ya!” katanya antusias.

“Aamiin,” ucap gue dalam hati.


37 komentar:

  1. Lah, dari tahun ke tahun cosplay-nya itu-itu lagi? Buseh dah. Kreatif dikit apa. Cosplay jadi Dajjal gitu.

    Gue, sih, gak kaget sama yang baca garis tangan. Temen gue juga ada yang bisa. Dan gratis pula. Ehehehe.

    Museum Keramik, ya. Terakhir ke situ tahun 2013. Sejauh ini kalau ke KoTu cuma di luarnya aja. Entahlah, gue juga mulai merasa kurang tertarik motret di sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue malah ngarepin ada cosplay jadi museum. Gagah pasti.

      Buat gue yang belum pernah sama sekali, seru-seru aja. Ehehe.

      Delete
  2. Itu ngapain ngobrol di depan pohon besar?
    Minta sama si mbah y?
    Wah gimana tuh ban bisa nyium kaki? Ban kan g punya bibir?
    Wah iya tuh kalo ditelanjangin pasti bikin orang2 heboh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lho, saya kira kamu yang jadi pohon besar, Bang. Ternyata bukan ya..

      Delete
  3. wkwkwk anjir udah kayak anak SMA habis pengumuman UN pake pylox segala. tapi betul juga untung zaman dlu belum pnya pylox. Hahaha

    ReplyDelete
  4. Bromance ini mah. Ati-ati kebablasan rob :D

    Bener kata lu yg jasa baca garis tangan itu, emangnya dia gak cek sendiri nasibnya bakal baik apa enggak dgn buka jasa itu. Hahaha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Astagfirullah. Dia baik kok. Eh tapi...

      Lebih baik buka jasa vector, kan, Bang? Ehehe

      Delete
    2. Jasa dengerin curhat terus dibayar coba aja ada. :D

      Delete
    3. Tapi yang lebih laku, sih, jasaraharja.

      Delete
  5. so sweat ya reuniannya mas, hehe
    garis tangan gak laku, sekarang udah ada gugel xixix
    btw saya gak begitu suka ke Jekardah tapi enggak nolak kalo ke sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lho, domisilinya bukan Jakarta toh? Tak kira orang Jakarta..

      Wehehe, bener juga yak. Gugel menjawab keraguan. :D

      Delete
  6. Replies
    1. Kasihan kalau kebanyakan. Nanti dikira Instagram.

      Delete
  7. Waktu ke kota Tua, sempet mampir juga ke museum BI, di sana ada koin uang yang kecil banget. kayak jagung pipih. aku yakin, koin itu diciptakan di zaman manusia sebelum mengenal kerokan.

    aku jadi terkenang gini ama kota tua... walo dua kali ke sana, tapi berkesan gegara yg menemani. :D

    Eh iya, moga dirimu dan alvin makin erat dan makin akrab, Rob. bisa saling mengisi dan menemani sepanjang hidup. dikarunia anak yg lucu-lucu~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi ini terkenang sama kota tuanya atau sama yang nemenin bang?

      Delete
    2. Yang nemani, UL. yang nemani masih muda soalnya. aku sukanya ama yg muda-muda~

      Delete
    3. Bang Haw: Lho, nyesel nggak ke sana. Kampretos lah. Tapi, untungnya deket. Masih ada waktu lagi. Hehehe. Dan, apa itu dikarunia anak yang lucu-lucu. Saya tidak begitu paham. :(

      Kakak Wulan: Selanjutnya kamu yang jadi targetnya Bang Haw. Percaya deh.

      Delete
  8. BANGKEK. NULIS GRAFITI PAKE PILOX :'D

    Btw itu yang duduk melayang pake pegang tongkat nggak by?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya pake. Yang nggak tau apa-apa pasti bilang, "Titisan Nabi Musa!"

      Delete
  9. Tato permen yosan. hahahaha! Inget banget buat dapetin tulisan Y-O-S-S-A-N susahnya minta ampun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngumpulin sesusah ngumpulin temen-temen SD buat reuni. Ya begitulah.

      Delete
  10. Alhamdulullah sudah pernah berkunjung ke tempat ini, tempatnya asik banget buat jalan-jalan di sekitar jakarta, apalagi ga perlu mahal-mahal ^_^

    ReplyDelete
  11. Kalo liat cosplay noni belanda, gue pasti kabur. Serem. :))

    Itu yang duduk melayang sama gak sih kayak yang di film PK? Kan kebongkar triknya di film itu :))

    Kota tua setau gue emang mainstream buat hunting foto ala ala gitu :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, L takut cosplay noni belanda? Waduh, siap-siap dibercandain Kakak Icha.

      Film PK? Nggak tau film-filman woy! :')

      Itu tempat Instagram-able.

      Delete
  12. Bikin tato digosok jadi daki.
    Hahahaha... mantap.

    ReplyDelete
  13. Aamiin :)

    Huahaha. Telek lah. Nyobain es krim pake sambel ABC. Aku juga ingin! Btw itu kamu sama Alvin so sweet ya. Kencan di Kota Tua. Btw ini kamu emang jagonya nulis catatan perjalanan, Rob. Aku pengen bisa nulis kayak gini, nulis soal jalan-jalanku ke Tenggarong. Huahaha. Tapi aku nggak bisa. Qucedila.

    Oh iya, aku jadi pengen ngebully Yogaesce habis baca post ini. TERNYATA DIA PHOBIA COSPLAY NONI BELANDA! HUAHAHAHAHAHA! CEMEEEN!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa rasanya cobak makan es krim pake sambel? Sejauh ini cukup teh aja yang aku ceburin sambel. Dan, pisang goreng. Itu enak!

      Kalo nulis jalan-jalan nggak bisa, pasti sepedaan bisa dong. Sama yang itu, tuh. :p

      Bully aja. Biar timeline-ku dipenuhi reflek tawa. :))

      Delete
  14. Mas mau tau gak kenapa patungnya bisa duduk melayang sambil megang tongkat?

    Bocoran nih, lihat tangannya posisi ke tongkat terus kan? Itu didalem bajunya sejalur semua kayunya itu, jadi tongkat itu sejalur sama tempat buat laki-laki itu duduk. Jadi ya bagian tongkat sampai ke bawah bokong si patung itu menyatu gitu melalui tongkat dibawah tangan si lelaki patung. Begitu mas bocorannya. Coba di logisin, bener juga apa engga yah? hehehe

    willynana.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh iya, bisa jadi. Kalo ke sana lagi nanti saya perhatiin bener-bener deh. Mantap penjelasannya!

      Delete
  15. Fuh kudu mantap soul kesabaran naik tije di kotu emang hahhaha, tapi pas nyebrang lorongnya seru sih, kayak museum gitu...e emang bagian dari museum kan ya yang sebelah tasiunnya

    Gue juga sukanya yang parade hantu rob kalo yang di kota tua, unik gitu...gue prnah foto ama yang valak en noni noni belandanya..,ah postingan tentang kota tua jug agaknya belum gue publish huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untungnya ada museum, Mbak. Kalo nggak ada hampa bener deh. Huhuhu.

      Ayo dong di-publish. Kemarin jalan-jalanku masih belum ada apa-apanya, Mbak. Lumayan nambah-nambahin arsip, Mbak. :D

      Delete
  16. Padahal ngarep kamu telanjang beneran di sebelah lukisan telanjang itu #EhGimana

    ReplyDelete
  17. kotu tempatnya emg bagus , tp menurut sy msh kurang terawat. kadang ada beberapa tmpt yg bau pesing-__- padahal udh disediain toilet umum.

    titip link jg ya kalo bth info tmpt wisata bisa liat disini Pariwisata makasih

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.