30 November 2016

Gue nggak ngerti sama diri gue sendiri. Kenapa gampang banget suka sama orang yang, secara fisik, cantik? Apakah karena usia puber membuat gue setiap kali melihat cewek cantik bawaannya mau ngajak kenalan? Sori, ya. Kalau sampai mimisan gue nggak segitunya. Rasanya mimisan aja nggak tahu.

Seperti yang terjadi pagi ini, saat gue berangkat sekolah. Lewat pertemuan yang sebenarnya “nggak banget” bagi orang-orang: di angkot. Emang, sih, cewek ini nggak sempat ngomong, tapi kok gue bisa suka? Aneh. Benar-benar aneh. Kadang rasa suka nggak bisa dijelasin bagaimana sebabnya.

Cewek ini duduk di sebelah gue. Dari kaca jendela gue sudah melihat dia berdiri di pinggir jalan, menenteng goodie bag. Dia mengenakan seragam olahraga. Dia naik ke angkot. Dalam harapan, gue mengucap kata dalam hati, terus-terusan secara cepat: Tolong, kamu duduk di sebelah saya. Berulang-ulang. Kira-kira dia akan duduk, orang yang duduk di hadapan gue—seorang ibu—menggeser tubuhnya ke samping bermaksud memberi tempat untuk cewek itu. Gue hanya diam karena di sebelah gue memang kosong. Cukup muat untuk diduduki tubuhnya yang agak berisi itu. Nggak, dia nggak gendut. Levelnya di atas ideal lebih sedikit.

Sebelum menjatuhkan pantatnya gue sempat melirik dia. Dia balas menatap gue dan memberi senyuman. Astaga. Gue nggak berharap sampai segitunya. Dzawin, seorang komika, pernah berkata dalam bitnya—mengutip perkataan ilmuwan, “Cowok cuma butuh 8 detik untuk jatuh cinta sama cewek.” Maka ini sudah lebih dari 8 detik, ditambah senyumannya, gue mulai jatuh padanya.

Matilah gue. Perjalanan masih panjang, sedangkan perasaan ini menggebu-gebu. Perintah buat ngajak kenalan terus-terusan muncul. Gue melawan. Gue nggak bisa melakukan itu. Aroma parfumnya membuat gue gagal berpikir jernih. Sambil menebak-nebak aroma parfum apa yang dia pakai. Silver. Permen karet. Etil pentanoat. Minyak kayu putih. Balsem geliga. Ah, gue nggak pandai nyebutin aroma parfum. Bahkan gue baru ingat kalau etil pentanoat adalah senyawa ester yang digunakan sebagai aroma apel. Kalau film ada yang berjudul “You Are the Apple of My Eye”. Versi gue, you are the ethyl pentanoate of my nose.

Aroma parfum kian menusuk. Aromanya tidak berlebihan, tapi sanggup membuat gue terus-terusan berpikir: jangan cepat sampai sekolahnya. Kalau perlu macet-macetan saja sampai siang. Tetapi hal itu nggak mungkin karena bisa mengakibatkan gue nggak boleh masuk sekolah.

Sesekali gue melirik dia. Sebenarnya tidak benar-benar melirik. Orang yang di hadapan gue pasti mengira gue melihat ke depan, padahal pandangan gue ke samping. Kemampuan capung dalam melihat tiba-tiba gue praktekkan di sini.

Sampai kini gue belum tahu namanya.

Lagi-lagi gue menebak-nebak siapa namanya. Rambut terurai panjang dijepit di belakang. Bibir merah muda. Badan agak gemuk. Yunita. Lili. Vita. Ah, nama itu tiba-tiba muncul. Gue nggak dapat nama yang cocok.

Selain goodie bag (yang kini dia dipeluk), dia juga membawa tas pianika. Di sampingnya tertulis “Putri N R”. Jangan-jangan dia pemiliknya? Kalau dia pemiliknya, syukurlah akhirnya gue tahu nama dia. Putri. Sederhana, tapi berkesan. Dia memang pantas seperti putri kerajaan yang kebetulan lagi naik angkot. Beda dengan gue, seorang rakyat biasa yang memang harus naik angkot.

Tetapi, bagaimana kalau ternyata pianika itu bukan milik dia? Misalnya, dia punya kakak atau adik yang bernama Putri. Nggak, gue nggak akan terpengaruh. Mulai sekarang gue akan menyebut dia sebagai Putri.

Kemudian, pertanyaan selanjutnya: siapa nama panjang si Putri?

Hal ini penting agar gue bisa stalking dia di Facebook. Gue percaya, orang seperti dia pasti menggunakan nama aslinya sebagai nama akun Facebook. Beda kalau ternyata dia seorang Beliebers sejati. Pastinya dia akan menggunakan nama “Poetry Belieberz Auwouwo”, “Putrie Beliberz Xezathe”.

Putri N R. Gue masih terus-terusan menerka apa makna N R tersebut. Kemungkinan itu adalah inisal nama lengkapnya. Tapi, apa yang cocok? Nadia Rahmadani. Nilam Rezeki. Kembali lagi, gue nggak ngerti dengan tebak-tebakan yang menyusahkan gue. Sementara ini, gue membuat khayalan sendiri. Putri N R. Putri n Robby. Sebuah jawaban atas kesusahan ini.

Gue nggak berani untuk membayangkan apa agamanya. Kalau saja dia berbeda, gue berharap dia hanya sebagai teman. Bagaimana kalau seiman? Gue ingin kenal dia lebih jauh lagi. Atau yang lebih bagus: mengharapkan dia untuk dipertemukan di masa depan.

Untuk cewek secantik dia, sekolah di SMK adalah sesuatu yang nggak mengagetkan. Kebetulan gue tahu benar dari seragam olahraga yang dia pakai. SMK negeri yang setiap kali lewat depan sekolahnya gue selalu menongolkan kepala di jendela angkot. Banyak cewek cantik di sana. Kecuali siswanya, mereka adalah pengecualian.

Walaupun gue juga berkemungkinan berada dalam lingkungan cewek cantik, tapi tetaplah cewek IPA kalah cantik dibanding cewek SMK (bukan SMK yang teknik itu. Yang SMEA). Setidaknya ini menurut pengamatan gue sampai sekarang. Beberapa pengecualian masih berlaku. Sifatnya masih relatif.

Kenapa gue bilang begitu? Karena secantik-cantiknya cewek IPA, pasti akan bedah organ hewan juga. Ngeri. Gue yang sejak kecil mainannya nggak karuan tetap saja ngeri ngelihat kodok mejret kakinya buntung.

Apakah semua ini hanya sekadar perumpamaan “rumput tetangga lebih hijau dari rumput futsal”? Gue terus-terusan memuji hal yang di luar lingkungan gue. Pada kenyataannya, gue pun sering terjebak pada ganti-ganti orang yang gue suka. Bisa dibilang playboy perasaan. Kondisi seseorang yang suka berganti-ganti orang yang dia sukai. Hari ini bilang dia, hari ini bilang kamu. Pokoknya rasa itu nggak lebih dari sebulan. Dan nggak pernah diungkapkan.

Terutama di sekolah. Adik kelas, kakak kelas, teman seangkatan banyak yang pernah gue sukai. Sayangnya, rasa itu nggak lebih dari sebulan. Putri apalagi. Itu cuma suka dalam hitungan menit. Cewek-cewek yang naik angkot sebelumnya juga merasakan hal sama.

Apakah tiap-tiap orang yang puber merasakan hal yang kayak gue rasakan? Kalau gue lihat mereka (teman-teman) biasa-biasa saja. Mungkin gue yang berlebihan. Tetapi, perasaan orang siapa yang tahu.

28 November 2016

Bagi gue internet sangatlah penting. Beda dengan manusia pada umumnya, kebutuhan gue ada empat, yaitu sandang, pangan, papan, dan internet. Karena internet gue bisa melakukan banyak hal; mengerjakan tugas sekolah, tahu berita terbaru, dan yang nggak kalah penting... ngeblog. Manfaat internet benar-benar gue rasakan. Sehingga bila ada kendala dalam koneksi gue cukup kesulitan dalam melakukan sesuatu.

Gue pernah dalam kondisi itu. Saat itu gue benar-benar kepepet buat ngerjain tugas yang mengharuskan adanya koneksi internet. Karena benar-benar nggak tahu harus bagaimana, gue akhirnya nyerah dan ngerjain tugas seadanya. Sisanya nyalin punya teman.

Sebagai pelajar yang butuh banyak sumber, nyari banyak materi pelajaran dan contoh-contoh pembahasan soal adalah penting hukumnya. Agar bisa terakses, gue mempercayai Bolt karena kecepatannya nggak diragukan lagi. Buat browsing cihuy. Nonton video YouTube juga oke. Sayangnya, kalau buat YouTube-an terus-terusan, dompet gue yang nggak oke. Tekor, bos!

Bebeknya numpang WiFi-an
Namun, saking serunya internetan, gue suka nggak ingat waktu. Waktu itu pas banget awal bulan, kuota internet gue habis. Gue ingat-ingat dosa apa saja yang telah membuat kuota gue cepat habis. Beberapa hari belakangan gue emang lagi doyan-doyannya nyari game. Install game ukuran besar, main sampai bosan. Setelah bosan, uninstall. Lebih nyakitin lagi install game ukuran besar, tapi pas dimainin hape gue nge-lag. Rugi bandar ini namanya. Ini cukup jadi pelajaran, bila mau install game atau file-file besar, mending minta tethering teman aja. Asli, ini cukup manjur.

Berhubung uang cukup buat beli pulsa, gue langsung pergi ke minimarket terdekat. Di sana gue sering beli pulsa Bolt. Namun, tidak untuk malam itu. Di depan kasir, mbaknya bilang, “Yah, Boltnya lagi nggak bisa, Kak.” Gue tertunduk lemas setelah ngantre di belakang lima orang sebelumnya, begitu sampai depan kasir nggak bisa isi pulsa. Niat dari rumah ngeluarin uang buat beli pulsa, atau nggak ngeluarin uang sama sekali, eh sampai sana harus bayar parkir sepeda. Tahu begitu mending gue ke sini naik sepatu roda atau otopet, deh. Bisa cepat sampai tanpa perlu bayar parkir.

Gue, sih, berharap di konter-konter dekat rumah tersedia pulsa Bolt. Biar saat di minimarket nggak bisa, gue bisa beli di konter. Namun, kenyataannya nggak tersedia. Atau, jangan-jangan selama ini gue nyari di konter... strike. Mana ada yang jual pulsa Bolt di Counter Strike?

Sampai tengah malam, gue kerepotan karena nggak ada sumber lain buat belajar. Cukup sedihlah malam itu.

Pada suatu malam, gue sedang iseng buka Tokopedia. Biasalah, cuci mata. Sekadar nyari motivasi ngumpulin uang. Sambil melihat-lihat gue ketemu sebuah menu bertuliskan “Pulsa”. Gue klik laman tersebut, berisi banyak gambar di sana. Salah satunya logo Bolt. Satu hal yang terlintas di benak gue saat itu juga: pasti bisa beli pulsa Bolt di Tokopedia. Aaaaak, gila. Enak banget kalau beneran bisa.

Pasti tahu Tokopedia, kan? Tokopedia bukan singkatan dari "ke toko sepeda bareng dia". Bukan itu. Tokopedia adalah wadah bagi para penjual online. Bisa belanja secara online di sana. Pasti banyak yang tahu karena iklannya saja sudah ada di televisi. Hehehe.

Oke, kembali lagi. Setelah gue telusuri, ternyata selain Bolt, bisa juga isi pulsa provider lain. Ngisi token listrik, bayar tagihan listrik PLN, sampai iuran BPJS juga bisa di Tokopedia Pulsa. Buat gamers bisa beli voucher game online di sini. Kalau bayar SPP sekolah mantan belum ada kayaknya. Pokoknya, banyak bisanya dari Tokopedia.

Tampilan saat mau isi pulsa

Keuntungan lain dari beli pulsa di Tokopedia adalah kita bisa bayar belanjaan yang mau kita beli di Tokopedia sekalian beli pulsa. Mau beli baju atau sepatu tapi malas ke toko, bisa cari barangnya di Tokopedia. Nggak cuma di minimarket aja yang bisa belanja sambil beli pulsa, di Tokopedia juga bisa. Tapi ingat, jangan beli barang-barang yang di luar kekuatan ekonomi kita. Misalnya, mau beli handphone baru tapi uang di kantong cuma cukup beli air mineral. Jangan dipaksa begitu.

Kalau beli pulsa di Tokopedia bayarnya gimana? Masukin uangnya ke botol, lempar ke selokan. Bukan, bukan begitu.

Kita bisa bayar pulsanya di tempat-tempat yang ditunjuk Tokopedia, misalnya Indomaret. Atau, kalau kamu punya saldo lebih dan cukup untuk membayar pulsa, maka saldo kamu otomatis terpotong. Enak, kan? Nggak perlu lagi ngantre, dan pulsa sudah terisi hanya bermodal gadget. Keunggulan lainnya adalah pulsa tersedia 24 jam. Selalu always lah kalau kata guru gue. Tentunya, nggak perlu ditagih uang parkir.

Jadi, tertarik untuk beli pulsa di Tokopedia?

25 November 2016

Seorang komika Indonesia, Pandji Pragiwaksono, pernah nge-tweet (seingat gue) begini: Hal yang paling sia-sia adalah memperdebatkan selera. Gue sepakat dengan tweet tersebut. Sudah banyak buktinya. Perdebatan selera telah menjadikan calon menantu gagal meminang anaknya.

“Ayahku sukanya Beng-beng langsung.”
“Tapi aku sukanya Beng-beng dingin.”
“Gue sukanya Beng-beng gratis. BAGI SINI DAH. RIBET LU PADA!”

Untuk berani jujur, kita perlu tahan terhadap cibiran. Gue, secara terang-terangan, suka Kangen Band. Kalau setelah ini gue dicibir, nggak peduli. Selera adalah hak individu, Jenderal. Kalau orang-orang mencibir, nanti lo gue rujak karena gue bukan buah-buahan, tapi jadi buah bibir.

Hmmm, kayak tahu lirik lagu siapa. O aja ya kan.

Formasi Kangen Band terdahulu

Gue suka Kangen Band dari musik dan lagu-lagunya. Kalau ditelaah, lagu-lagu Kangen Band mudah dicerna baik lirik maupun musiknya. Meskipun liriknya sering dicap lebay, kita jujur-jujuran aja, kalau lagi sedih karena cinta pasti kamu pernah dengar lagu Kangen Band, terus bilang, “Anjrit. Ini gue banget!” Ngaku aja deh. Yang bisa gue simpulkan: lagu-lagu Kangen Band adalah wujud sesungguhnya dari diri kita ketika norak.

Mencap band alay tapi dengar lagu-lagunya langsung melow. Dasar lemah!

Sampai di tingkat kefanatikan tertinggi, gue sering mantau posisi Kangen Band di chart Inbox, sebuah acara musik pagi. “Wah, lagu Yolanda ada di posisi keenam.” Gue ngomong begitu langsung ditinggal teman-teman di pergaulan. Selera gue nggak diakui.

Oke, kita kesampingkan dulu segala hal tentang musik Kangen Band (yang dibilang norak dan kampungan).

Seniman hebat banyak yang memiliki latar belakang ekonomi kurang mampu. Personel Kangen Band, seperti yang diceritakan di film mereka—Aku Memang Kampungan—, disebut-sebut datang dari ekonomi rendah. Andhika seorang penjual es cendol. Dodhy tukang tambal ban.

Young Lex karyawan bioskop. Juga office boy.

Tetapi mereka hebat. Datang dari kaum melarat, berkarya tanpa rasa penat, kemudian kesuksesan mereka dapat.

Keunikan dari lagu Kangen Band adalah liriknya yang gampang banget masuk otak. Liriknya dekat dengan kita. Namun, pernah nggak, sih, ketemu lagu yang bagus tapi nggak tahu liriknya? Ini agak rese sebenarnya. Ibarat suka sama orang, tapi nggak tahu namanya. Contoh aja satu lagu.

“Coba kau pikirkan, coba kau renungkan. Apa yang kau inginkan telah aku lakukan.”

Kalau orang awam, apakah tahu judulnya? Ooh, tentu tidak mungkin! Pastilah menebak-nebak judul dari lirik lagu yang ada.

“Mikir, merenung. Apa, ya? Kamu ingin, aku telah lakukan. Aaaah, mungkin judulnya... Majikan.”

Gue orangnya gampang penasaran. Maka dari itu gue cari aja judulnya dengan memasukkan lirik di kolom pencarian Google. Tuh, ini baru ngefans level nyari-lagu-bajakan yang mandiri. Kalau nggak ngeluarin duit buat beli albumnya, minimal jangan nanya link download ke penyanyinya.

Dari sekian banyak lagu Kangen Band (yang dibilang norak dan kampungan), ada lima lagu yang gue jadikan favorit.

5. Penantian yang Tertunda
Masalah yang diangkat dalam lagu ini sangatlah berat, tetapi gue suka lagunya. Masalah restu orang tua, sepertinya.

Kumohon kau mengerti. Cobalah kau tabahkan hati.
Tabahkanlah hatimu, oleh siksa orang tuamu. Kuyakin kita mampu bila kita saling menunggu.

Lagu yang tentunya bukan porsi gue. Jelas, kalau berhubungan tapi tersiksa orang tua, bukanlah masalahnya anak SMA. Masalah anak SMA yang terkendala orang tua adalah nggak dibolehin kerja kelompok.

Namun, nggak tahu kenapa lagu ini cukup sering gue dengar dulu, di mana pun. Maknanya nggak ada yang secara khusus “benar-benar gue”.

Terus, si lelaki dalam lagu termasuk tipe cowok yang, kalau kata cewek, uwuwuw banget. Mau nunggu walau sebagai simpanan. Mau menanti walau takkan pernah dimiliki. Tetap menunggu walau hanya sebagai kekasih gelap. Beberapa cewek mungkin akan terhasut dengan ucapan manis tersebut.

Kembali lagi, secara khusus nggak ada keistimewaan lagu ini buat gue. Hanya saja semakin sering lagu ini didengar jadi kedengar enak. Lumayan buat ngerileksin badan.


4. Kembali Pulang
Dalam lagu ini, Dodhy, sang penulis lirik, banyak menggunakan majas personifikasi. Di setiap liriknya pula Dodhy memberi rima, sehingga bunyi akhir dari lirik sama. Liriknya nggak ada hubungannya dengan kisah gue. Makna lagu ini adalah tentang pasangan yang senang setelah balikan.

Kekasih yang dulu hilang, kini dia telah kembali pulang. Akan kubawa dia terbang, damai bersama bintang.

Gue belum pernah begitu. Pernah, sih, dulu putus, lalu tiga hari kemudian balikan. Nggak terasa apa-apa. Belum sampai pada tahap susah-susahnya usaha buat move on, kayak yang dikeluhin orang yang abis putus.

Sama kayak Penantian yang Tertunda, lagu ini juga nggak terlalu punya makna khusus. Cuma karena lagunya menye-menye dan enak, jadilah gue suka lagu ini.


3. Pujaan Hati
Lagu ini cukup membekas bagi gue saat kelas 10. Ceritanya, dulu gue baru saja putus (ya, gue pernah punya pacar). Lalu, beberapa hari kemudian ada pengambilan nilai menyanyi lagu pop di kelas. Gue stres banget nyari lagu apa yang gampang. Nyanyi lagu Slank takut ada yang ngibarin bendera. Nyanyi lagu Depapepe nggak tahu liriknya. Nyanyi lagu Abang Tukang Bakso, nanti ada yang main tenis meja.

Lho, kok gitu?

Iya, bakso bulat seperti bola pingpong.

Sekelebat memori gue memunculkan lagu yang sangat membekas zaman SMP. Pujaan Hati. Ya, ini lagu yang muncul, kemudian menjadi pilihan gue. Alasannya: lagu ini benar-benar nyambung dengan kondisi gue saat itu.

Mengapa kau tak membalas cintaku. Mengapa engkau abaikan rasaku.

Alasan lainnya adalah lagu ini benar-benar gampang.

GAMPANG DIHINA.

Benar saja, gue dicemooh karena pakai lagu ini buat penilaian. Bukan karena selera musik gue yang cemen (sekali lagi, nggak ada selera yang cemen). Gue dibilang aneh sama seorang teman. “Nyari lagu yang bagusan dikit, kenapa. Parah lu mah.”

Padahal, gue nyari jalan aman. Gue nggak punya suara yang bagus. Nah, salah satu yang gue miliki adalah semangat. Bila gue memilih lagu yang semangat, maka suara gue akan terlalu semangat dan jadinya ngawur banget. Kalau nantinya tetap dikatain, “Suara lu jelek, Rob!”, gue tinggal jawab, “Gue hanya mengikuti suara aslinya.”

Ehehehe, maaf. Andhika suaranya bagus kok. Dibanding boyband dan girlband yang nyanyinya bagus kalau rekaman doang. Kalau manggung cuma gerak mulut doang.


2. Tentang Aku, Kau, dan Dia
Hal yang gue suka dari lagu ini adalah kedekatan makna lagu dengan kehidupan gue. Tentang seorang cewek yang pernah membuat gue berpaling hanya kepadanya. Karena dia, pernah membuat gue nggak sedih lagi. Pokoknya pengin terus bareng dia.

Selayaknya engkau tahu, betapa ku mencintaimu. Kau terangkanku dari mimpi burukku.

Kalau sudah cinta, ngelihat dia sama yang lain agak sakit rasanya, apalagi kalau sampai cerita-cerita soal percintaannya dengan orang lain. Herannya, dia juga ngungkapin kesedihan ”orang lain” itu yang nggak peka kepadanya, ke kita. Ungkapan tersebut menggambarkan lirik berikut, yang juga gue alami.

Jangan kau menangis lagi, tak sanggup aku melihatnya. Namun, kumencoba tegar menghadapinya.

Sekarang kau pilih diriku atau dirinya.

Akhirnya, jadi nggak ingin berharap lagi. Gue mundur dan pelan-pelan menjauh.

Sudah usai sudah, cerita engkau dan aku. Kuanggap sebagai bingkisan kalbu.


1. Bintang 14 Hari
Lagu ini menurut gue yang terbagus dari banyaknya lagu Kangen Band. Kekuatan dari lagu ini adalah lirik dan penyanyinya. Dalam lagu Bintang 14 Hari, ada bagian lirik yang dinyanyikan backing vocal Kangen Band, Eren. Dalam liriknya, Eren, sebagai wanita, menggambarkan perjuangannya mencari kekasihnya. Wah, gue kalau sudah dengar cerita-cerita tentang perjuangan wanita begitu langsung luluh.

14 hari ku mencari dirimu. Untuk menanyakan di manakah dirimu.

14 hari kudatangi rumahmu. Agar engkau tahu tertatihku menunggumu.

Cowoknya juga. Dia minta maaf setelah lama menghilang dari kekasihnya.

Maafkanlah aku lari dari kenyataann. Bukan karena aku tak punyai rasa sayang.

Selain lagunya, video klip dari Bintang 14 Hari merupakan kelanjutan dari video klip lagu Kembali Pulang (kalau nggak salah). Ini juga yang menjadi kekuatan Kangen Band dalam memproduksi video klip. Mereka mengonsep video klip lanjutan. Suatu lagu punya video klip, lalu di lagu berikutnya melanjutkan video klip dari lagu sebelumnya.

Masih banyak lagu Kangen Band yang bagus. Mulai dari Doy, Yolanda, dan... aduh, lupa judulnya. Ingat-ingat lirik dulu deh, baru nyari di kolom pencarian.

Sebenarnya ada satu lagu Kangen Band yang memotivasi anak bangsa untuk kuliah di Washington. Tapi tetap saja lagu Juminten nggak masuk ke dalam lima lagu Kangen Band terbaik versi gue.

Gue cuma mau bilang, Kangen Band nggak selamanya cemen, musik rendahan, musik kampung, hina, dan musik kasta rendah. Nggak begitu. Jujur saja, gue merindukan musisi-musisi Tanah Air yang menggunakan majas di lagunya. Yang terdengar jujur dan benar-benar resah.

Terlepas dari noraknya, kalau saja gue belum kenal musisi selain Kangen Band, mungkin saat ini juga gue bisa menggambarkan Kangen Band dengan lirik lagunya yang berjudul “Penantian yang Tertunda”: Kaulah yang terbaik bagiku dan nomor satu.

--

Selain gue, teman-teman WIRDY juga pada kangen Kangen Band. Baca kekangenan mereka di sini:
Wulan: Kangen Band yang Bikin Kangen
Icha: Kangen(in) Band
Darma: Kita yang kangen dia. Dia nggak kangen Kangen Band. :(
Yoga: Duh, Kangen!

23 November 2016

Selama SMA intensitas gue naik angkot meningkat dibanding zaman SMP. Dengan seringnya naik angkot memberi gue banyak pengalaman. Seperti yang kita ketahui, pengalaman bisa didapat dari apa yang kita alami atau dari cerita orang lain. Tentunya, entah dia cerita sungguhan atau bukan, kita tetap bisa jadikan itu sebagai pengalaman. Minimal dapat mendengarkan cerita orang lain adalah pengalaman menyenangkan.

Berkaca pada masa kecil, gue paling suka duduk di sebelah sopir. Semuanya terasa lebih dekat. Tentunya, lebih dekat dengan sopir. Tetapi, gue nggak sefanatik anak-anak lainnya yang maksa harus duduk di sebelah sopir. Yang memaksa ke ibunya harus duduk sebelah sopir. Kalau nggak dituruti guling-guling di jalan. Gue nggak terlalu pengin tapi senang kalau duduk di sebelah sopir.

Menginjak masa SMA gue menemukan kesenangan lain duduk di sebelah sopir, yaitu mendengarkan cerita. Seseorang biasanya hanya mau bercerita ke sahabatnya. Seperti Pak Mario Teguh yang selalu bercerita sambil berkata, "Sahabatku yang super...."

Beberapa sopir membuat gue menjadi “sahabatnya” sepanjang perjalanan.

Sumber ikea.com
Ilustrasi untuk orang yang duduk bersebelahan


Satu
Sopir yang pertama gue temui saat kelas 10. Awal-awalnya masuk SMA, berangkat ke sekolah pukul 5.35. Terlalu pagi bila mengingat jam segitu adalah waktu gue selesai mandi sekarang (kelas 12).

Tidak banyak obrolan berarti yang gue dapat dari sopir ini. Dia curhat sepanjang perjalanan gue menuju sekolah. Ketika itu, gue duduk di sebelah sopir, nggak ada lagi penumpang di dalam angkot. Cuma gue dan sopir berada di dalam angkot.

“Dek, tau nggak? Tadi pagi, jam 5, saya kejar-kejaran sama mobil Avanza gara-gara mobilnya mau nyerempet mobil saya. Saya kesel, saya samperin orangnya.” Nada bicaranya berapi-api.

Dia semakin antusias bercerita. “Ternyata yang bawa mobil cewek. Cantik banget. Masih muda lagi. Kalau saya masih seusia kamu, udah saya jadiin pacar kali tuh.”

Belum sempat gue nanggepin perkataannya, dia nambahin lagi, “Tiba-tiba dia minta maaf sambil ngasih uang seratus ribu.”

“Wah, enak ya. Pagi-pagi dapat seratus ribu,” jawab gue seadanya. Buru-buru gue tanggepin. Siapa tahu setelah ini dia diam. Gue bingung harus nanggepin apa.

Dia beneran diam. Gue kira dia bakal ngelanjutin ngomong, “Kalo nyari uang semudah ini, mending saya rela deh ketabrak berdarah-darah asal dapet uang asuransi rumah sakit.”

“Tapi saya sering kesel kalo ada mobil di depan saya yang bawa anak muda, apalagi cewek. Kalo belok suka mendadak, nggak nyalain lampu sein dulu.”

Seperti yang kita ketahui, biasanya ibu-ibu yang melakukan hal ini. Ternyata, di lain kesaksian, dilakukan pula oleh seorang gadis.


Dua
Sopir kedua gue temui setelah pulang sekolah. Jalanan lagi macet-macetnya. Gue duduk di sebelah sopir karena di belakang penuh. Gue masuk ke angkot, merelakan kepala jatuh perlahan ke sandaran. Enak, nih, buat tidur, pikir gue.

Nyatanya, gue nggak bisa tidur. Sepanjang perjalanan terjebak macet. Bunyi-bunyi klakson membuat gue susah memejamkan mata. Anehnya, setiap angkot yang nyetel musik remix keras-keras gue tetap bisa tidur. Sedangkan ini hanya karena bunyi klakson gue kesulitan tidur.

Beberapa penumpang turun. Tersisa gue dan sopir di angkot. Jalanan lancar. Beberapa meter selanjutnya macet menjebak lagi.

“Sepi banget, ya,” kata sopir angkot. Gue bingung kenapa dia bilang begitu. Padahal beberapa menit yang lalu angkot ini penuh.
“Iya, bang,” balas gue. “Karena macet juga, mungkin.”
Sopir menarik tuas rem seraya berkata, “Sekarang mah penumpang sepi. Nggak kayak tahun 2000-an.”
“Oh, iya ya. Padahal dulu rame banget. Sekarang kebanyakan orang punya motor.”

Seseorang dari pinggir jalan memberi brosur. Isinya daftar harga motor. Di dalamnya berbunyi, “DP murah 300 ribu sampai 19 September.” Tanggal tepatnya gue lupa. Pokoknya di bulan September.

Setelah gue baca, gue menyadari satu hal: hari itu adalah hari terakhir promo selesai. “DP murah, tapi nyisa hari ini. Siapa juga yang mau beli motor tanpa rencana?” tanya gue dalam hati.

Ya, gimana nggak aneh. Hari ini adalah hari terakhir promo. Sedangkan saat itu telah sore hari. Siapa yang kepikiran buat beli motor setelah dikasih brosur? Di awal hari belum ada rencana “beli motor”. Nggak mungkin ada yang berubah pikiran dengan cepat. “Wah, hari ini nggak ada rencana beli motor. Ada yang murah, beli ah. Padahal mau bayar bimbel.”

Nggak bisa begitu.

Sopir yang duduk di sebelah gue membaca brosur itu. Dia pun tertawa. “Pantes penumpang makin sepi. DP-nya aja segini.”


Tiga
Sopir yang ketiga gue temui setelah pulang dari bimbel. Beda dengan sopir yang kedua, sopir yang ketiga ini lebih muda. Dari wajahnya, gue perkirakan dia berumur 20-an. Lagu yang dia putar pun cukup gaul. Lagu-lagu Armada menjadi lagu yang gue dengarkan sore itu.

“Baru pulang gawe (kerja)?” tanyanya.
“Oh, nggak. Baru pulang les,” jawab gue.
“Oh gitu. Sekolahnya di mana?”
“Di SMA 33.”

Kemudian hening sampai beberapa menit.

“Kelas berapa? Kelas 3, ya?”
“Iya, bang. Kelas 12.” Gue curiga jangan-jangan ini lagi lebaran. Pertanyaannya persis kayak saudara-saudara gue.
“Tahun depan UN dong,” katanya. “Mau kerja atau lanjut kuliah?”
“Kuliah, bang. Lulusan SMA nggak cocok kerja,” jawab gue.
“Iya, bener. Kita mah dulu lulusan SMA. Sekolahnya bandel,” akunya. Kemudian dia menambahkan dengan tawa yang pecah. “Sekarang, ya... kayak begini. Nyopir angkot.”

Ternyata, selama ini yang sering dipesankan kakak dan mama gue dulu ada bentuk nyatanya. Sekolah bandel = jadi sopir angkot. Tapi, mau gimana pun itu jalan hidup orang lain. Nggak boleh diejek karena sekolahnya nggak bener. Apalagi dia sopir angkot. Salah mengartikan, bisa-bisa kepala gue dijedotin ke dasbor.

Obrolan terhenti berbarengan dengan mobil yang berhenti. Heran, jam segini kenapa sering banget macet.

Di antara kemacetan banyak motor-motor matic selap-selip. Motor bebek pun nggak kalah hebat, terutama mereka yang punya moto “Semakin di depan”.

“Duh, saya seneng ngelihatnya.” Tiba-tiba si sopir ngomong begitu. Gue mulai takut dia senang tanpa sebab. Pikiran-pikiran negatif mulai muncul.

“Ngelihat cowok cewek boncengan motor. Si cewek meluk cowoknya. Apalagi kalau mereka naik sepeda. Ah, pasti keren. Kayak zaman-zaman dulu.” Si sopir rupanya senang melihat orang yang pacaran. Padahal, dia nggak perlu segitunya ngelihat sepasang kekasih pacaran. Apa dia nggak sadar di sebelahnya ada orang yang juga sedang sendiri, tanpa kekasih. Yaitu, gue.

Nggak deh. Jangan sampai.

Gue menanggapi ucapan si sopir. “Hahaha, udah nggak ada malah. Cewek, kan, nggak suka dibonceng sepeda. Maunya motor. Mana ada sekarang cewek yang begitu. Hahaha.”

Kampret. Sempat-sempatnya gue curhat.

“Pasti ada. Cuma jarang aja.”

Kemudian, si sopir nyanyi salah satu lagu Armada. “Mau dibawa ke manaa, hubungan kitaaaa~”

Tiga sopir tadi membuka mata gue. Bahwa tiap-tiap orang punya cerita yang menarik buat dibagi ke orang lain, bahkan ke orang yang tidak dia kenal. Menatap lurus ke jalanan tentu membosankan. Tetapi, dengan hadirnya orang-orang di samping membuat sopir bisa menatap sisi lain dari kehidupan di jalan. Ada yang ingin mereka sampaikan.

Kalau kamu pernah dengar cerita apa di angkot?

12 November 2016

Lagi serius ngetik tugas di laptop, tiba-tiba kepingin nulis blog. Akhirnya buka jendela baru Microsoft Word deh. Hehehe.

Seminggu ini banyak kejadian yang enak buat ditulis di blog. Kayaknya gue udah berulang kali begini: Seminggu nggak ada postingan, sekalinya publish tulisan langsung nyeritain banyak hal. Emang anaknya doyan cerita!

1
Di dunia ini terlalu banyak singkatan. Tujuan sebuah kalimat disingkat adalah agar mudah diucapkan tanpa mengurangi arti sesungguhnya. Lalu, bagaimana dengan singkatan-singkatan yang punya banyak arti?

Ambil contoh, singkatan “PM”. Dalam bahasa Inggris, PM berarti “post meridiem”, yang artinya pukul 12 siang hingga 12 malam. Di Indonesia, kata PM terlalu banyak arti dan kepanjangan. Dalam pemerintahan, PM dikenal sebagai perdana menteri. Di kalangan anak warnet, PM artinya paket malam.

Di kalangan pelajar tingkat akhir, PM merupakan kepanjangan dari pendalaman materi, yang makna sesungguhnya adalah... SELAMAT DIBUAT BONYOK PELAJARAN UN!

Baru-baru ini gue membuat kepanjangan baru dari PM. Yaitu, pekan melelahkan.

Jelas saja. Alasannya, karena minggu ini, di sekolah gue, baru saja diadakan pendalaman materi. Mendengar cerita dari teman-teman dari sekolah lain, mereka sudah lebih dulu melaksanakan pendalaman materi, bahkan sudah ada yang try out. Salut banget sama sekolahnya.

Jadi, gue merasa memulai pendalaman materi di bulan November termasuk terlambat. Apa pun itu, semoga nggak mengurangi semangat belajar.

Dengan adanya pendalaman materi otomatis membuat gue pulang lebih sore. Niat untuk bolos pun semakin besar. Namun, gue sadar diri. Gue nggak jago loncat pagar dan pura-pura jadi anak kelas 10 atau 11.

Sudah pasti rasa lapar nggak tertahankan. Karena bulan depan domain gue akan habis waktunya, gue harus perpanjang domain blog. Gue harus mengumpulkan uang mulai sebulan sebelumnya. Uang 120-an ribu rupiah adalah nominal yang harus gue kumpulkan sebulan. Gue takut, pas jatuh tempo pembayaran gue dalam keadaan nggak ada uang. Kan, nggak enak kalau jadi blogspot lagi. Udah terlanjur nyaman promosi ke teman-teman, “Alamat blog gue: nama lengkap gue dot com.” Enak diucapnya. Daripada dulu. Robbyskuit. Apaan coba?

Usaha gue menghemat uang jajan adalah dengan membawa bekal. Sudah cukup lama gue nggak bawa makanan dari rumah. Tunggu, bekal yang dimaksud adalah nasi. Kalau bawa-bawa sekadar kue itu mah sering. Terakhir kali gue bawa nasi ke sekolah pas kelas 10. Waktu kaget-kagetnya masuk SMA karena nggak biasa pulang lebih dari pukul 12 siang.

Sempat sembunyi-sembunyi waktu makan di kelas. Apa sebabnya?



Biar masyarakat yang menilai.

2
Hari Selasa diadakan pengambilan nilai lompat tinggi. Gue nggak pernah mempelajari olahraga ini. Yang gue tahu tentang olahraga ini adalah, ini olahraga keren. Sampai gue yang merasakan menjadi keren setelah lompat tinggi.

Sebelumnya, gue melihat anak kelas sebelah yang jam Olahraganya lebih dahulu. Lompatan mereka sangat-sangat enak dilihat (karena mereka cewek). Berlari, tolakan dengan satu kaki, lompat, melewati mistar, jatuh di atas matras. Aduhai. Kemudian orang selanjutnya berlari, berlari, berlari tunggang langgang memegangi perut, belok ke kamar mandi.

Ngapain amat gue ngeliatin orang kebelet.

Giliran kelas gue masuk jam Olahraga. Gue dan teman-teman mencoba melompati mistar. Satu per satu lompat. Semuanya gagal. Pertanda buruk semuanya nggak akan bisa melewati mistar.

Barulah setelah diberi tahu teknik-tekniknya kami bisa melompati mistar. Ada tiga gaya di antaranya; 1) Gaya straddle; 2) Gaya flop; dan 3) Gaya scissors. Yang membedakannya hanya posisi saat melayang di atas mistar. Gue menggunakan gaya straddle dengan posisi melayang menghadap ke bawah saat di atas mistar.

Sumber http://dikatama.com/pengertian-dan-macam-macam-gaya-teknik-lompat-tinggi/

Lompatan pertama, ketinggian 110 cm. Sekali coba langsung lewat.
Lompatan selanjutnya, ketinggian dinaikkan menjadi 115 cm. Sekali coba langsung lewat.
Sampai ketinggian 125, gue sukses dengan sekali percobaan.
Barulah pada ketinggian 130, gue mencoba dua kali.

Ketinggian dinaikkan lagi menjadi 135. Inilah ketinggian terakhir setelah gue gagal tiga kali.
Gue kalah jauh dari cowok-cowok yang lain. Mereka kebanyakan sampai di ketinggian 140 cm. Hebatnya lagi, anak kelas sebelah sampai 160 cm.

Bayangkan. Tinggi kamu 160 cm. Dilompatin dia. Ngeri.

Selesainya, badan gue rasanya kayak abis ikut UFC. Kaki, leher, bahu kanan, rasanya sakit semua. Ya iyalah, wong kerjaannya dari tadi lompat-lompat aja. Apalagi begitu salah satu bagian tubuh menjadi yang pertama kali kena matras. Itu yang bikin sakit.

Pulang sekolah rasanya mau selonjoran aja.

3
Semenjak suka pelajaran Kimia, seringkali gue bertanya-tanya, “Bahan apa yang digunakan membuat benda ini?” Benda-benda di sekeliling gue, nggak luput dari pertanyaan-pertanyaan itu. Padahal, Kimia nggak sekadar tahu bahan dasar suatu benda. Lebih dari itu, ada juga perhitungan-perhitungan seperti menghitung konsentrasi larutan, mengetahui derajat keasaman (pH), perubahan panas, dan banyak lagi.

Kayaknya pelan-pelan pertanyaan itu harus dijawab oleh gue sendiri, dengan pertanyaan lain—menjawab pertanyaan dengan pertanyaan: “Apakah kita harus tahu semuanya yang ada di dunia ini?” Pertanyaan itu seperti memberi gue pemakluman, bahwa gue nggak akan sanggup mempelajari segalanya tentang materi kimia. Nggak semua hal harus kita ketahui. Misalnya, aib tetangga.

Itu yang menjadi masalah (bagi gue) dalam presentasi Kimia di kelas.

Saat sesi tanya jawab, ada seorang teman bertanya, “Jumlah nitrogen di atmosfer sekitar 78 persen. Pertanyaannya, mengapa harus nitrogen?”

Mendengar pertanyaan tersebut, ingin gue jabat tangannya seraya berkata, “PERTANYAAN BAGUS!”

Gue nggak ngerti dengan pertanyaan dia. Apa yang dia maksud sebenarnya? Tetapi, begitu gue ulang sekali lagi pertanyaannya demi menghindari salah paham, ternyata memang begitu pertanyaannya.

Sampai di titik stres, gue bingung harus menjawab apa. Karena, ya, menurut gue itu bukan porsi anak SMA. Sebagai anak SMA yang suka ke masjid (untuk tidur), gue menjawab dengan penuh kewibawaan.

“Dunia seisinya telah disusun dan ditata sedemikian rupa oleh Sang Pencipta. Mengapa nitrogen lebih banyak di atmosfer, itu telah menjadi KETENTUAN ALLAH SWT.”

Guru gue menutup muka dengan tangan setelah mendengar jawaban gue. Gue jawab begitu karena gue pernah mendengar hadits atau ayat yang menyebutkan serahkanlah kesulitan kepada Allah. Ya, karena terdesak, gue pasrahkan saja kepada Sang Khalik.

“Tetapi, mungkin saya yang nggak tahu,” lanjut gue, biar dikira nggak nyerah begitu aja. “Mungkin di luar sana para ilmuwan belum mempublikasikan hasil temuannya.”

Pesan moral: Inilah saatnya blogwalking. Siapa tahu para ilmuwan lagi iseng nulis daily blog isinya tentang penelitian mengapa nitrogen banyak di atmosfer.

4
Ini sudah masuk November ya? Bau-bau udara segar mulai tercium, sih. Kalau November telah hadir, ingatan gue kembali muncul kepada dua kata yang familiar: November rain. Atau, dalam tafsiran gue artinya “musim hujan yang hadir di bulan November”.

Udara akan menjadi lebih segar. Kecuali, sejak kedatangan kaos kaki busuk itu.

Beberapa kali sepatu gue kena air hujan. Entah itu saat gue lupa minggirin sepatu di masjid, atau gue yang kelupaan main kobakan di kali sambil pake sepatu. Eh, nggak ding. Udah bukan masanya.

Dampaknya kaos kaki gue juga ikut-ikutan basah. Seperti yang kita ketahui bersama, kaos kaki basah adalah aib. Orang-orang akan mengucilkan kita bila mengetahui kita menggunakan kaos kaki basah. Baunya bukan maen!

Kaos kaki gue lagi bau-baunya. Pulang sekolah pukul 4 sore sangat nggak memungkinkan buat nyuci kaos kaki. Bisa-bisa saja sebenarnya, tapi ngelawan rasa malas itu susah. Paling-paling, gue baru ganti kaos kaki di hari Senin karena tahu sudah ada kaos kaki bersih yang dicuci hari Sabtu atau Mingu. Yang nyuci siapa? Tentunya bukan gue!

Hmmm, belum cocok jadi anak kosan berarti kalau nyuci kaos kaki aja ogah.

Bencana minggu ini diawali di hari Senin. Bagi gue, sulit rasanya mengganti kaos kaki di hari lain. Pokoknya hari Senin. Harus. Nah, di Senin ini, gue nggak sempat ganti kaos kaki. Dan Senin yang lalu, belum ganti juga. Artinya, kaos kaki busuk ini siap menemani gue dua minggu berturut-turut. Kalau orang-orang mulai menjauhi gue, gue tahu harus menyalahkan siapa.

Tanpa gue dekati kaos ke kaki ke hidung, gue bisa merasakan bau apek itu. Atau, mungkin, selama ini kita tak pernah tau bahwa, selain mata, di kaki kita terdapat... hidung kaki. Mata kaki. Hidung kaki

5
Kamu pernah nggak, sih, melakukan sesuatu yang sebenarnya nggak kalian kehendaki? Misalnya, lagi sibuk nyari materi pelajaran di internet, tiba-tiba buka aplikasi yang lain secara tanpa sadar. Kalian buka profil Instagram mantan, lalu ngelike tiga fotonya. Kamu baru menyadari dua menit kemudian. “TADI NIATNYA NGGAK BEGINI!”

Dasar lemah.

Biasanya, gue dalam melakukan sesuatu dibayangin mau kayak gimana kelanjutannya. Makan – baca buku – cabut chargeran – tidur. Tetapi, satu hari di minggu ini gue ngelakuin hal yang agak aneh. Kayaknya sekrup di otak gue mulai lepas.

Ceritanya, gue baru saja selesai salat Subuh. Gue berdiri di depan kaca menyisir rambut, kemudian ke dapur mengambil piring. Begitu sampai di depan TV (ini tempat multifungsi. Bisa buat salat, nyantai, dan makan), gue menaruh piring di atas karpet, lalu menggelar sajadah.

Takbiratul ihram.

Mulai baca Al-Fatihah.

Mulai nggak khusyuk.

Timbul pertanyaan di hati: “Perasaan gue udah salat?”

Akhirnya gue terusin salat yang kedua.

Salat yang nggak ada niatan sebelumnya juga pernah gue lakukan dulu di kampung orang. Waktu itu kakak gue menikah dan perayaan diadakan di Brebes. Kami rombongan keluarga tidur di sebuah rumah sewaan sang tuan rumah, keluarga dari istri kakak gue. Di sana gue tidur di karpet lebar bersama paman dan sepupu-sepupu. Tengah malam, dalam kondisi gelap, gue terbangun. Gue melebarkan jaket hitam, lalu menggelar di lantai. Gue takbiratul ihram tanpa membaca niat.

KAMPRET! SALAT APAAN GITU?!

Ketidak khusyukan mulai menghinggap. “Perasaan tadi gue nggak ngambil wudu deh? Buseh, main salat-salat aja.”

Belum sampai ruku’, gue kembali tergelepar tidur.

Ini kejadian aneh. Kalau ngigau, sulit rasanya menyadari itu. Antara sadar dan nggak sadar.


Eh, kok... tulisan ini jadi panjang banget? Tadi gue abis ngapain ya?
Kebanyakan lompat tinggi, lompat ke kasur pake gaya straddle ah...

05 November 2016

Selera masyarakat kekinian sudah semakin beragam. Ada orang-orang yang suka kemodernan, dan ada pula yang suka gaya tradisional. Sebagian orang juga menyukai sesuatu hal yang memiliki nilai historis. Misalnya, orang suka pakai sepeda onthel karena nilai sejarahnya tinggi. Dianggap langka dan unik. Alasan yang sama, mungkin, menjadi landasan kenapa ada cewek 20-an tahun mau nikah sama kakek-kakek umur 70-an tahun. Ya, itu tadi: langka dan unik.

Waduh, jangan dikira saya iri sama kakek-kakek tajir. Peace, bercanda.

Tempat wisata pun begitu. Nilai-nilai sejarah menjadi daya tarik sebuah tempat. Jakarta, yang sudah “sibuk” sejak zaman kolonial, punya banyak tempat wisata peninggalan zaman penjajahan. Salah satunya adalah Pasar Baru.

Pasar Baru, pasar yang nggak pernah lama. Selalu disebut baru.





Keinginan gue untuk mengunjungi tempat ini sudah sejak lama dipendam. Ketika itu gue ke tempat ini bersama anak-anak KIR. Nah, bersamaan dengan turun di halte Pasar Baru, gue melihat ada gapura besar bertuliskan “Passer Baroe”. Mungkin suatu saat nanti gue akan ke sana, kata gue saat itu.

Untuk mewujudkannya, satu hari di bulan Oktober 2016 gue ke sana. Hanya dengan bermodalkan kartu Transjakarta dan beberapa lembar dua ribuan, gue nekad ke sana. Sendirian.

Perjalanan dimulai dari halte Rawa Buaya. Gue naik bus tujuan Kalideres-Pasar Baru. Kebetulan di dalam bus nggak ramai, tetapi tetap aja gue nggak kebagian tempat duduk.

Awalnya gue agak takut kalau perjalanan kali ini nggak akan menyenangkan. Gue melihat dari balik kaca bus langit sudah gelap. Dan sesampainya di halte busway Pasar Baru hujan turun cukup deras. Gue masih berdiri di jembatan penyeberangan menunggu hujan reda. Hujan belum kunjung berhenti, niat buat ngelanjutin jalan-jalan hampir hilang. Tapi, masa iya gue harus naik bus tujuan Kalideres lagi untuk pulang. Ngapain capek-capek ke sini. Harus banget gue tunggu sampai hujan reda karena akan ada pelangi indah setelahnya~

HUJAN~
Setelah agak reda gue langsung masuk ke area pasar. Gapura yang dulu pernah gue lihat sekarang benar-benar ada di atas kepala gue. Passer Baroe 1820. Gile, bikin merinding coy!

(Ini bukan gapura. Cuma tulisan di pinggir jalan.)

PASSER BAROE 1820

Namun, setelah berada di pasar, yang gue temui adalah... pasar. Ya, emang cuma pasar. P-A-S-A-R. Tempat jual-beli. Di bayangan gue ada semacam museum-museum (atau emang sebenarnya ada tapi gue nggak tau?). Kebanyakan di pasar ini diisi kios-kios penjual perhiasan, busana, tas, dan sepatu. Beberapa penjual makanan juga ada. Tadinya gue mau beli, tapi karena uang yang gue bawa dalam jumlah sedikit niat itu gue batalkan. Perut kenyang tapi nggak bisa pulang sama aja bohong.

Atap Pasar Baru layaknya tenda hajatan.


Terlalu sepi bila disebut pasar

Biarpun gue nggak beli apa-apa, rasanya senang bisa ke tempat ini. Nilai historisnya dapat banget. Pokoknya serasa lagi belanja di luar negeri—seperti yang gue lihat di acara TV. Ya, tetap aja, agak risih sendirian di pasar tanpa ada niatan beli sesuatu. Atau memang ini bawaan sifat introvert? Atau ini karena orang-orang yang lahir hari Rabu Kliwon tidak pernah menyukai keramaian. Tetapi, kok kalau upacara gue nggak pernah masalahin ini ya? Padahal sama-sama ramai. 

Secara tujuan, gue jelas melanggar. Tujuan dasar ke pasar adalah ngabisin duit. Namun, ke Pasar Baru bukan hanya belanja dan ngabisin duit saja. Mungkin bukan pasarnya jadi tujuan utama, tapi pamernya, eh nilai sejarahnya. Kalo cuma diceritain teman mah nggak akan merinding.

Azan Asar berkumandang. Rencananya gue mau ke Masjid Istiqlal yang jaraknya nggak jauh dari Pasar Baru. Namun, gue terus-terusan mencari jalan keluar area pasar. Gue jalan hingga ujung pasar, lalu tidak berjalan mengikuti rute sebelumnya. Gue lewat daerah kompleks perumahan. Gue terlalu percaya kalau kompleks-kompleks di Jakarta disusun sedemikian rupa, cenderung sama di mana saja. Jadi, gue berani-berani aja jalan menyusuri kompleks. Pokoknya, kalau ketemu jalan raya gue selamat. Kalau nggak ketemu, ya nyasar deh.

Dalam perjalanan mencari jalan raya (tujuan gue saat ini), gue dipertemukan sebuah tempat yang nggak asing. Tempat yang masih berada di dalam area pasar. Tempat yang berada di antara jalan kecil. Tempat itu adalah....

Gramedia di dalam gang

YA! Gramedia. Entah kenapa rasanya tenang kalau ngeliat Gramedia. Mau nyasar di Gabon kalau ketemu Gramedia mungkin rasanya sama. Biar kesannya nggak sia-sia ke Pasar Baru, gue memutuskan masuk ke Gramedia. Biar kalo ditanya temen, “Ngapain aja di Pasar Baru?” gue bisa jawab, “Ngadem di Gramedia.”

Tetep, nggak beli apa-apa.

Di Gramedia gue nggak lama-lama. Karena takut kesorean gue langsung keluar area Pasar Baru. Sebelum pulang gue mengambil gambar gapura dengan kamera handphone. Sedang asyik memotret, ada seseorang menghampiri gue.

“Mas, sini saya fotoin,” kata seorang ibu. “Tapi nanti gantian. Mas fotoin kami.”

Gue kaget lalu menoleh ke belakang. Ada seorang ibu, bapak, dan (sepertinya) seorang anaknya yang lebih tua daripada gue. Bingung mau terima atau nggak. Gue sempat menolak, tapi si ibu bilang, “Beneran, Mas? Emang nggak rugi datang ke sini nggak ada foto masnya di depan gapura?”

Sekarang begini: Kalau gue terima tawarannya, nanti ngerepotin si ibu. Kalau nggak diterima sayang banget. Merenung sejenak pada niatan untuk mengupload gambar ke blog, gue mengiyakan juga. Kapan lagi, coy!

“Tapi, Bu, nanti ngerepotin ibu,” ujar gue.
“Nggak, Mas. Santai aja. Nggak ngerepotin, kok,” katanya. “Mau pake kamera saya atau kamera Mas?”

Gue celingak-celinguk melihat si ibu dan dua lelaki yang ikut dengannya. Nggak ada aura mencurigakan. Takutnya selesai foto dia nagih duit.

“Ya udah deh, kalo gitu.”

Gue memberikan handphone ke anaknya. Dia mengambil beberapa gambar.

Hasilnya nggak terlalu bagus. Bukan, ini karena faktor kamera handphone gue yang nggak bagus. Muka mah dari sananya.

Gue langsung menyilangkan tangan di dada, berpose layaknya turis. “Bang, difotoin dulu tuh. Pake handphone Mama aja, deh,” kata si ibu ke anaknya. Bener, emang nggak ngerepotin si ibu. Tetapi ngerepotin si Abang.

Lelaki itu sebelumnya memegang handphone Samsung. Setelah ibunya memberikan handphone, digunakannya handphone si ibu untuk memfoto gue. Ada logo apel tergigit di belakangnya.

“Tenang, Mas. Pake iPhone gambarnya jernih.”

“Hehehehe, iya, Bu.” Gue nyengir. Sampai gue menyadari bahwa iPhone nggak bisa buat bluetooth-an. “Nanti gimana ngirim fotonya?”

Turis Gabon | Pasar Baru atau pacar baru?

“Oh iya, nggak bisa bluetooth.” Ibu itu diam sejenak. “Yaudah, kan ada Wasap.”

Gile, sampai segitunya mau nolong.

Pemotretan dilanjutkan. Si Ibu nanya gue.

“Kamu anak daerah ya?”

Perasaan dandanan gue ke sini udah kayak anak Jakarta: kaos tulisan Indonesia dan tas gendong. Emang keliatan kampung banget apa?

“Euhm, euh, anu... saya dari Cengkareng, Jakarta Barat.”
“Sendirian aja?” tanya anaknya si ibu.
“Iya. Refreshing. Capek belajar terus. Nggak punya temen juga. Hehehehe,” jawab gue sok asik.
“Kamu masih sekolah? Kelas berapa?” tanya si Ibu.
“Kelas 12.”
“Ooh, iya. Anak saya seumuran kamu, Dek, soalnya.”
Dalam hati, “Gue nggak nanya.” Tetapi, timbul rasa ngarep, “Anaknya cewek bukan, Bu? BISA KALEEEE.”

Si ibu melanjutkan. “Nih, kalau mau kerja,” si Ibu menepuk pundak anaknya, “minta aja sama dia. Dia bos, lho.” Anaknya ketawa ringan.

Gokil. Baru saja gue, si anak hilang, difotoin sama seorang bos. Apakah ini pertanda akhir zaman?

Setelah selesai difoto, giliran gue memfoto mereka.

Gue langsung melanjutkan ke Istiqlal. Di jembatan penyeberangan gue cek WhatsApp. Foto yang tadi telah dikirim. Senangnya bukan main!

Selanjutnya ke Istiqlal, jalan kaki. Melewati Gedung Filateli dan Tugu Adipura

Gedung Filateli. Bukan Balotelli
Tugu Adipura
Biar dikira bukan hoax, ini foto diambil di area Masjid Istiqlal. Asli. Nggak nyomot dari Google. Tadinya biar lebih meyakinkan, mau videoin salat Asar. Tapi... jangan deh mendingan.



Setelah ini, ke mana lagi, ya?

01 November 2016

Gue tipe orang yang suka musik secara musiman. Dari dangdut, rap, pop, metal, sampai rock, pokoknya random banget musik-musik yang gue dengar. Dan, gue gampang banget jatuh hati pada pendengaran pertama. Itulah alasan gue tetep suka Kangen Band. Sampai sekarang.

Kalau dihitung-hitung, gue udah cukup lama nggak dengar lagu dengan waktu yang lama. Dulu bisa dengar lagu dua-tiga jam. Sekarang paling cuma 15 menit.

Beberapa hari yang lalu, gue minta kepada Bapak untuk dibelikan earphone baru. Sebenarnya permintaan gue nggak sungguhan. Semacam bercanda, seperti, “Bisa kali earphone baru. Yang lama cuma kedengaran sebelah, nih. Hehehe.” Beberapa menit kemudian, Bapak pulang membawa earphone baru. Kalau udah begini bakal nurut deh disuruh beli rokok sedus.

Presentasi pelajaran Bahasa Inggris juga seiringan. Kelompok gue kebagian membahas tentang song (lagu). Sudah bisa dipastikan, gue akan memutar lagu-lagu barat. Sekalian belajar bahasa Inggris juga. Dan, sepertinya, earphone ini bakal jadi teman gue di rumah mengusir kesepian.

Pola-pola ini sepertinya memaksa gue untuk mendengarkan lagu lebih lama lagi.

Tetapi, gue nggak tahu harus mulai dengar lagu barat yang mana. Mau dengar musik aliran rock atau metal, gue belum bisa menentukan mana yang cocok didengar. Genre pop terdengar menarik, sekaligus bikin gue rajin bolak-balik kamus (walaupun udah ada kamus online, gue tetap sayang kuota).

Ada baiknya, gue mendengar lagu dari mereka. Euhm, mungkin lebih tepat disebut musik

Sumber nationmultimedia.com

Musik mereka enak banget didengar sambil nulis, terutama saat gue nulis pos ini.

Norak banget nggak, sih, baru tahu Depapepe sekarang? Sebenarnya gue udah tahu lama. Tahun 2015. Daripada Kakak Icha yang baru tahu akhir-akhir ini.

Depapepe ini grup musik yang isinya dua orang. Dua-duanya main gitar akustik. Instrumental, tanpa vokal. Yang jadi pertanyaan: Depapepe disebut grup band bukan?

Gue jadi kepikiran gimana awal mulanya Depapepe terbentuk.

Kemungkinan 1
Ceritanya, dua personel Depapepe, Miura Takuya dan Tokuoka Yoshinari, adalah anak-anak tongkrongan. Selazimnya anak tongkrongan, mereka suka gitaran sampai Subuh di poskamling. Di luar dugaan tongkrongan mereka ternyata dianggap seru oleh seorang pemuda, namanya Doraemon. (Berhubung latar tempatnya di Jepang, anggap aja Doraemon dulunya anak tongkrongan.)

Bergabunglah Doraemon ke tongkrongan Miura dan Yoshinari. Di antara mereka, cuma Doraemon yang nggak bisa main alat musik. Setelah dirundingkan, untuk sementara, Doraemon kebagian jadi vokalis tongkrongan karena dianggap punya suara seperti om-om yang sempurna.

Tiga bulan aktif nongkrong, mereka berniat menciptakan lagu. Iseng-iseng mereka mulai diseriusi.

“Gimana kalau kita buat lagu. Ambil tema remaja yang suka ngomong kasar aja. Lagi naik daun!” tawar Doraemon kepada Depa—sapaan Miura dan Pepe—sapaan Yoshimura.
“Jangan tema itu, Mon. Itu udah jatahnya rapper,” sanggah Depa. Gigi tonggosnya seolah ingin ikut dalam pembicaraan.
Pepe sependapat dengan Depa. “Betul, tuh. Susah juga sebenarnya. Gue nggak cukup puitis buat bikin lirik lagu keren.”

Akhirnya, setelah perundingan yang ketat, melebih sidang kopi sianida Jessica, Doraemon dipercaya menjadi vokalis, drummer (lebih tepatnya mukul kentongan), dan pencipta lirik. Pemain gitar diserahkan Depa dan Pepe.

Dua minggu setelah kesepakatan itu, Doraemon jadi jarang nongol. Depa mendapat pesan via WhatsApp dari Doraemon. Isinya seperti ini:

Dep, sori banget, nih. Gue nggak bisa kongkow bareng kalian lagi. Lu tau, kan. Jadwal syuting gue padet banget. Dari pagi sampai malam nemenin Nobita terus. Belum lagi harus terbang ke sana ke mari pake baling-baling bambu. Masuk angin mulu. Dorami nggak ada di rumah. Nggak ada yang ngerokin gue deh. Akhirnya gue jadi takut keluar malam. Maap banget, nih, jadi nge-PHP-in kalian. Salam juga, ya, buat Pepe. Percayalah, kalian teman setongkrongan yang asik.

Mendengar kabar dari Doraemon membuat Depa dan Pepe menemui jalan buntu. Tidak ada lagi dari mereka yang bisa membuat lirik. Dengan keberanian, Depa dan Pepe membuat grup musik yang isinya cuma akustikan gitar. Tanpa vokalis. Padahal mereka bisa saja mengajak Awkarin untuk duet.

Kemungkinan 2
Depa dan Pepe sedang menyusuri malam di tengah kota. Turun dari satu Metromini ke Metromini lain. Berdesak-desakan di dalam bus. Tanpa menyanyikan lagu dan hanya memainkan gitar. Dan, tanpa hasil apa pun untuk dibawa ke rumah. Hanya lelah dan pegal-pegal.

Secara tidak sengaja, mereka bertemu dengan Tokichi, pemilik Spin Cobra


Juga si Kembar Tachibana...


Didampingi Roberto Hongo...



Depa dan Pepe ikut bergabung dalam tongkrongan itu. Mereka semua sedang bernyanyi sambil memukul-mukul kentongan di poskamling.

“Hei, apa boleh kami ikut?” tanya Depa.
“Kamu bisa apa?” tanya Roberto Hongo.
“Mereka berdua bawa gitar. Kayaknya mereka bisa main,” ucap Kembar Tachibana serempak.

Singkat cerita, Depa dan Pepe diterima dalam tongkrongan mereka. Namun, Tokichi merasa kedatangan Depa dan Pepe menjadi sebuah gangguan. Dia takut kalau ternyata mereka adalah seorang pawang kobra, lalu menaklukan Spin Cobra.

“Heh, lo berdua!” kata Tokichi ke Depa dan Pepe. “Coba nyanyi sambil main gitar.”
“Nggak bisa, Om.” Mereka menjawab.
“Halah! Pantes aja nggak bisa. Yang satu tonggos, yang satunya diem aja.”
“Lu, kan, juga tonggos, Ci?” sergah Roberto Hongo.
“Halah! Bodo amat.”

Depa dan Pepe merasa ucapan Tokichi benar adanya. Mereka kembali melanjutkan perjalanan untuk mencari tongkrongan yang bisa menerima mereka tanpa harus menyanyi. Sampai di titik stres, mereka ketemu Doraemon, lalu di-PHP-in, ngamen di Metromini ketemu Tokichi dkk., ketemu Doraemon lagi. Begitu terus hingga akhirnya mereka sadar diri.

**

Ya, begitulah kemungkinan-kemungkinan yang ada. Kemungkinan gue ngaco, itu benar adanya.

Menurut gue Depapepe unik banget. Cuma modal main akustikan aja bisa digilai cewek-cewek. Jangankan cewek, gue aja takjub. Mereka belum nyanyi padahal. Gue, harusnya bisa begitu setiap kali mukul-mukul meja di kelas. Tanpa menonton Depapepe, gue juga bisa takjub bila lagu-lagunya dimainkan orang lain yang bisa main gitar, tentunya.

Sore itu, ada dua orang teman memainkan gitar di kelas. Satu orang fokus menggenjreng dan yang lain memainkan melodi. Dari alunan musiknya, gue kenal, ini lagunya Depapepe. Gue nggak tahu judulnya apa, karena, mungkin, Depapepe menciptakan lagu tidak untuk diingat judulnya, melainkan musiknya. Pokoknya gue dengar mereka main berdua akustikan dan gue berhasil menebak, bahwa itu lagunya Depapepe.

Mereka cukup sukses bikin gue dengki. Bawaannya pengin marah-marah. “KAPAN GUE BISA MAIN GITAR?” Boro-boro kunci C, kunci rumah aja kadang lupa naruh di mana.

Omong-omong soal judul, kepikiran juga, sih, waktu mereka menentukan judul lagu. Setiap lagu yang mereka buat pasti selalu ada judul, tapi nggak ada lirik. Pertanyaannya: Gimana cara nentuin judul kalau lirik aja nggak ada?

Sulit. Benar-benar sulit.

Salah satu judul yang bikin gue bertanya-tanya adalah “Kiss”. Emang ada yang kepikiran, pas orang dengar melodi “TING TINGTING TINGTING TING... TIRINTINGTING.. TERENGTERENG TENG TENG TENG... TING TING” langsung pengin ciuman? Bener-bener aneh. Mungkin inspirasi mereka datang dari dalam toples kaca bekas selai, yang di dalamnya ada pasangan ikan cupang. Mereka berdua telah selesai menyusun lagu, tinggal menentukan judul. Salah satu dari mereka melihat kedua cupang tersebut berciuman.

Mungkin gitu kali, ya.

Kalau emang segampang itu, mending gue bikin grup musik juga. Kebetulan gue suka gendang-gendang meja di kelas. Akan sangat seru bila gue memukul meja, menghasilkan nada “DUNG... DUNG DUNG DUDUDUNGDUNG... DUDUDUNGDUNG”, kemudian dari belakang gue ada orang-orang beratribut lengkap suporter bola, selendang dan kaos warna oranye hitam, sambil mengibarkan bendera Slank dan Persija.

Ternyata emang lagi nonton Persija.

Kemudian, judulnya apa? Kasih aja judul “Kresek”. Bingung dah lu apa maksudnya.

Ngedengar alunan gitar dari Depapepe itu ibarat kecemplung sungai: hanyut terbawa arus. Seru deh. Kalau lagi bosan dengar lagu yang liriknya nggak sesuai, mungkin bisa dengar lagu Depapepe.