01 July 2016

Pencerahan Setelah Menonton Rudy Habibie

Orang-orang yang masih berstatus pelajar kayak gue, butuh banget sosok inspirasi. Walaupun nggak terlalu berpengaruh dalam hidupnya, senggaknya ada seseorang yang bisa dijadikan panutan. Jujur, gue belum punya sosok itu. Beberapa tokoh mulai gue masukkan ke dalam opsi, seperti Albert Einstein, Steve Jobs, dan Mark Zuckerberg. Setelah gue simpulkan, gue mengidolai orang-orang yang gagal di sekolah. Oke, no problem.



Ceritanya tanggal 30 Juni, gue nonton Rudy Habibie. Sebelumnya gue nggak tau kalau ada film ini. Nonton trailernya aja nggak. Baru tau saat pagi di hari pertama rilis bioskop, ya pas tanggal 30 itu. Mumpung masih ada duit di dompet, langsung aja gue ke Mal Daan Mogot, dan kebetulan harga tiket weekday lebih murah. Takut besok-besok nggak sempet nonton, akhirnya gue nonton sendirian. Sebenernya strategi biar duit gue masih ada saat nonton film Indonesia yang lain. Lebaran ini banyak film Indonesia yang bagus. Harus malakin bocah-bocah yang abis dapet persenan ini mah.


Walau baru tau ada film ini, gue nggak pikir-pikir lagi buat nonton. Karena gue pengen banget nonton aktingnya Reza Rahadian yang udah terkenal sukses memerankan Rudy di film Habibie & Ainun. Di film Habibie & Ainun yang pertama gue udah nonton, walaupun di TV.

Film ini diangkat dari kisah nyata Presiden Republik Indonesia ketiga, Bapak B. J. Habibie. Dimulai dari cerita Rudy yang sejak kecil mulai tertarik dengan pesawat dan ingin tahu seluk-beluk tentang pesawat terbang. Papinya (Donny Damara) sering menjelaskan pada Rudy tentang pesawat. Papinya juga pernah memberi contoh sesuatu yang bisa terbang lainnya, yaitu balon. Hingga ada adegan yang memorable di sini, bikin satu studio ngakak. Lucu banget kepolosan si Rudy kecil di adegan itu.

Hingga saat itu, ia bercita-cita untuk membuat pesawat. Ini jelas berbeda dengan gue semasa kecil yang kalo liat pesawat bakal menebak-nebak.
"Eh, eh, bunyi pesawat udah deket. Menurut lu pesawat apa yang lewat?"
"Garuda."
"Kata gue Lion."
Kemudian pesawat melintas di atas kita. Pesawat yang lewat Sriwijaya air.

Nasihat Papinya yang paling Rudy ingat hingga dewasa adalah: Jadilah mata air, apabila kita baik maka sekelilingnya akan baik. Walaupun nggak mudah menjadi mata air yang jernih karena ia akan selalu muncul dari tanah yang bergejolak. Selama kalimat itu keluar, gue cuma manggut-manggut. 

Rudy melanjutkan studi di RWTH, Aachen, Jerman. Seperti kebanyakan anak Indonesia yang merantau di luar negeri, pasti ketemu teman senegara. Di sana dia ketemu Liem Keng Kie (Ernest Prakasa), Peter (Pandji Pragiwaksono), Poltak (Boris Bokir), dan lain-lain. Di antara mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Jerman, hanya Rudy yang biaya kuliahnya bukan berasal dari beasiswa Negara. Namun, Rudy berteman baik dengan mereka.

Di Jerman, Rudy juga mengenal Illona Ianovska (Chelsea Islan), gadis Jerman berdarah Polandia yang mengenal dan mulai mencintai budaya dan bahasa Indonesia. Dia menjadi cinta pertama Rudy di Jerman. Kisah mereka berdua di film ini nggak kalah bikin baper dengan kisah Rudy dengan Ainun. Gemes-gemes gimana gitu ngeliatnya.

Kalo film ini dibilang melulu tentang politik dan nasionalisme, tenang aja, bakal disuguhin cerita cinta juga. Paket komplit deh pokoknya.

Sumber: id.bookmyshow.com

Rudy benar-benar menginginkan Indonesia agar maju. Dia memikirkan untuk merencanakan pembangunan industri dirgantara di Indonesia. Namun, pemikiran emasnya ini bertentangan dengan pelajar-pelajar yang mendapat beasiswa dari organisasi Laskar Pelajar. Walaupun masih berstatus sebagai mahasiswa, dia terpikir untuk membawa Indonesia lebih maju. Punya harapan yang tinggi.

Iya, jelas beda banget sama gue yang cuma punya harapan semoga besok nggak ada PR. Udah.

Dari film ini banyak banget pesan yang ingin disampaikan khususnya untuk para pelajar yang punya cita-cita sama seperti Pak B. J. Habibie. Nggak cuma "Jadilah orang yang baik". Itu mah jawaban standar anak-anak sekolah yang dikasih tugas Bahasa Indonesia. Nggak cuma itu.

Menurut gue, sasaran film ini mengarah kepada pemuda dan para pelajar Indonesia, baik yang menimba ilmu di luar maupun dalam negeri, terbilang sukses. Contoh dekatnya dari diri gue sendiri, yang tersentuh dengan film ini. Ada keinginan dalam diri ini untuk mengubah nasib keluarga lewat pendidikan. Kenapa gue bisa bilang gitu? Tahun depan gue UN. Sekolah harus bener-bener lah.


Dan, mengutip kalimat dalam film ini yang masih gue ingat: Saya cinta Indonesia. Saya percaya Indonesia. Sebenernya masih ada lanjutannya, cuma gue lupa.

Setelah nonton film berdurasi 142 menit ini, gue tau siapa orang yang pantas dijadikan sosok inspirasi. Nggak usah jauh-jauh, datangnya dari negeri sendiri. Mantap, kan?

By the way, bakal ada Habibie & Ainun yang ketiga. Entah kapan. Siap-siap nonton (sendiri) lagi deh.