26 July 2016

Setelah 17 tahun tinggal di mes, akhirnya gue sekarang harus ngontrak. Yang biasanya nggak ngeluarin duit buat bayar sewa, sekarang harus bayar kontrakan. Mulai tercium aroma-aroma pemotongan uang saku, bung.

Perpindahan adalah hal yang gue takuti. Kenapa? Karena pindah rumah membuat gue nggak tenang. Masalahnya, banyak banget barang-barang yang gue anggap berharga, dan takut banget kalo benda itu nggak kebawa. Paling dijaga banget, sih, buku. Selain buku, kumpulan tiket bioskop masih gue simpan di kardus bekas sepatu. Hampir semuanya gue simpan. Tujuannya,... iseng aja, sih. Kenangannya mah nggak ada. Lha, wong nontonnya aja sendirian.

Proses pindah pun nggak segampang yang gue bayangkan. Meskipun jarak rumah yang baru sekitar 100 meter, gue harus bolak-balik bawa tas sambil ngayuh sepeda. Bahkan, di beberapa kesempatan, gue bawa tiga tas sekaligus; dua tas selempang, satu tas gendong. Untung beberapa bulan yang lalu gue sempat rutin latihan sit up. Dua hari. Jadinya bahu gue sanggup.

Oh iya, daripada berlama-lama, mending gue akan memperlihatkan kontrakan yang akan menjadi tempat tinggal gue dan keluarga seterusnya. Sebelumnya, mau ngasih foto ini dulu. Ceritanya, lagi nemu di lemari. Mumpung belum diberesin, minta fotoin Mama deh.


Abaikan orang yang mengintip di balik almamater.
Sebenarnya itu punya kakak gue semasa kuliah di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Berhubung gue juga punya cita-cita kuliah di sana, bolehlah nyoba pake almamaternya. Siapa tau menular aura mahasiswa UNJ-nya.

Oke, dimulai dari ruang depan ya. Di sini nantinya akan menjadi ruang tamu, tempat tidur, tempat makan, tempat ngerjain PR. Pokoknya ini ruang serba guna. Biar nggak gerah, puter daaah.

KIPAS. Pengusir nyamuk level 2
Ini kipas bukan asli punya gue. Ini peninggalan penghuni sebelumnya, yang cukup gue kenal, yaitu sepupu gue. Ya, sepupu gue sebelumnya nempatin kontrakan ini. Sepupu gue pindah ke Yogya, lalu gue tinggal di sini.

Next. Cuuuss kita melipir ke kamar tidur (biar pun namanya kontrakan, kamar tidur itu harus ada). Ups, masih berantakan.

Sarung dan bantal. Penyenyak tidur level 5
Eh, eh, balik lagi yuk ke ruang depan. Kira-kira di sana ada apa ya?


Pekerja keras: Buku berantakan, laptop nyala nggak ada yang make, botol tupperware nggak boleh jauh.


Maaf ya, kamarnya berantakan. Gue janji, nanti bakal diberesin semuanya. Nggak, bukan dibakar biar "beres".

Apa lagi, ya? Nah, ini ada yang spesial: lemari 4 tingkat. Biasanya di situ diisi buku dan pakaian.

Jangan komentar sama urutan kedua dari bawah

Tapi, inilah yang bikin spesial...


Di atasnya masih ada. Gimana cara ngambilnya coba kalo ditaro atas begitu?!

Coba kita buka lemarinya. Wow, ada kardus! (mohon bacanya sambil dibayangkan). Aha! Kita bongkar yuk. Wah, ada benda lucu, nih. Kita geledah, isinya apa, ya?

Surat yang tak tersampaikan. | Jangan nebak-nebak isinya: Surat tanah, BPJS, atau brosur bimbel

Begitu membuka isinya, surat ini membawa gue sedikit ke kenangan kelas 10. Seperti anak-anak baru yang di-MOS, gue juga waktu itu disuruh bikin surat. Kakak-kakaknya nyuruh bikin surat cinta dan surat benci. Terus terang, gue bikin, tapi nggak gue kasih ke orangnya.  Kita semua tau, surat-surat begini cuma buat bercanda. Tapi tetep aja gue nggak berani nyampain. Untuk urusan yang bercanda aja gue takut, apalagi buat ngasih surat cinta yang tujuannya serius? Sejak dulu gue bermental secret admirer.

Rencananya, mau gue tulis ulang di blog. Nanti kapan-kapan gue post deh gimana tulisan gue saat awal masuk SMA.

Apa lagi, sih, yang biasanya dipamerin kalo lagi pindah rumah? Ini gue berusaha membuat nuansa post ini seperti vlog, lho. Tapi, kok, susah ya?

Harapan gue tinggal di sini nggak muluk-muluk. Yang penting bisa istirahat dengan tenang di malam hari, dan jadi tempat yang nyaman setelah letih bertarung di luar seharian.

(Sedang mencoba menulis post di rumah baru)

23 July 2016

Setelah sukses kabur dari sekolahan, gue buru-buru ngasih tau Bapak lewat SMS. Paginya, sebelum berangkat sekolah, gue udah janji, “Kalo bisa pulang cepet, nanti langsung ke rumah,” begitu. Jadi, rencana kabur gue sangatlah direncanakan. Nggak tiba-tiba kepengin pulang, alasannya mau manen gandum di ladang. Jakarta nggak ada ladang gandum.

Sampai di rumah, gue sempet dapat kabar nggak mengenakkan. (Baca post: Kelas 12 Gini Amat)

Bapak gue ke rumah Bu RT buat menanyakan apa aja yang harus dibawa. Kembali ke rumah, dia langsung menggeledah lemari yang isinya dokumen-dokumen penting. Katanya, “Sabar ya, nanti Bu RT ke sini. Tapi dia masak dulu.” Gue hanya mengangguk.

Sekitar setengah jam nunggu di rumah, Bu RT nyamperin ke rumah gue. “Kalo bisa pake kemeja,” kata Bu RT. Gue menyanggupi permintaannya demi kegantengan gue di KTP nanti. Ada beberapa tetangga yang nanyain Bu RT. “Mau ke mana?”

“Ini, mau pacaran sama anak muda,” jawabnya bercanda. Kalo emang iya, gue mulai was-was setelah KTP jadi gue disuruh nikah muda. Oh, tidak. Jangan sampai.

Gue sampai di kantor dengan tatapan penuh penasaran. Di sana banyak orang yang duduk ngantre. Akal gue nggak keabisan ide cemerlang. Pasti yang ngurus KTP bukan cuma gue. Pasti yang hari ini ngurus KTP kira-kira seumuran gue. Itu tandanya, akan ada cewek cakep seumuran yang bakal berkisah dengan gue. Paling nggak, kisahnya akan mirip judul FTV: “Cintaku Sepanjang Antrean Kantor Kelurahan”. Atau, “Cinta Kita = KTP. Berlaku Seumur Hidup”.

Sialnya, kebanyakan cowok di sini.

Nomor antrean di loket 2 nggak kunjung bertambah karena ada seorang lelaki berjaket kuning yang urusannya belum selesai. Dari obrolannya dengan pegawai kelurahan kayaknya mereka membahas masalah tanah. Akibatnya, beberapa orang di antrean merasa geram. “Mas, yang ngantre masih banyak, nih!” seseorang berteriak. Gue nggak berada di tengah-tengah mereka, tapi ikut merasakan ketegangan. Bahkan, ada ibu-ibu berjilbab nyamperin ke loket cuma buat ngeluapin kekesalan. “Mas, itu kasian yang lain masih ngantre! Udah siang!” ucapnya dengan amarah. Entah karena selesai urusannya atau takut durhaka, si lelaki tadi beranjak dari kursi. Dia bawa semua berkasnya, kemudian menunjukkannya ke si ibu. “Saya merasa infonya kurang jelas, Bu. Nanti juga kalo ibu nggak jelas bakal ngerasain yang sama,” ucap lelaki itu. Pengantre yang lain berusaha menyabarkan.

Ternyata si lelaki sedang memainkan pola coba-kamu-yang-di-posisi-aku. Pola yang kadang bikin lawan bicara merasa kasihan.

Setelah perdebatan, Bu RT memberikan berkas ke loket. Nggak sampai 10 menit, nama gue dipanggil. Wow, ajaib! Padahal ada banyak yang ngantre lebih dulu dibanding gue. Gue masuk ke dalam bilik seukuran ATM. Ada dua orang bapak sedang duduk, yang satu di depan komputer dan satunya lagi menghadap pintu kemudian dia pindah begitu gue datang. Di sana ada kamera dalam posisi siap mengambil gambar di tripod. Ada semacam karpet warna biru dan merah sebelahan. Pikir gue, yang merah pasti buat KTP. Tapi pas gue liat sekeliling ruang, ini mirip photobox versi besar.

“Robby Sugara,” kata Pak Pegawai berbaju putih yang dari tadi sibuk mengklik mouse.

Temannya ikut-ikutan nyamber, “Robby Darwis.”

Sampai sekarang, gue heran setiap kali ada orang yang nyebut gue dengan Robby Sugara. Siapa, sih, dia? Kalo Robby Darwis gue tau. Dia legenda Persib. Kalo mau plesetin nama gue, pake yang keren sekalian. “Robby Haryanto, ya? Pembalap F1, kan?” Minimal gue akan cengengesan.

“Duduk di sana,” Pak Pegawai menunjuk kursi yang ada karpet merahnya.

Gue duduk rileks, melihat kamera. Sesekali gue merapikan rambut cepak ini. Pak Pegawai siap mengambil gambar. “Liat ke kamera.”

Dengan satu klik dari komputer, gambar gue terambil dan muncul di komputer.

“Sekarang, tanda tangan.”

Gue mengambil benda seperti pulpen yang diikat. Aneh, ini mirip pulpen tapi nggak bertinta. Jadi inget mainan semasa kecil, yang mirip pensil dan diikat di papan kecil bila digoreskan hasilnya seperti goresan pensil.

“Pak,” kata gue. “Ini boleh ulang nggak?”

Untuk tanda tangan aja gue grogi. Karena beberapa bulan sebelumnya gue sempat ditakut-takuti mengenai berharganya tanda tangan. Jangan sampai cacat. Maka, dua jam pelajaran Biologi di kelas gue jadikan latihan tanda tangan.

Pandangan Pak Pegawai beralih dari komputer ke gue. Dia lihat dari kepala hingga kaki. Dia bilang, “Robby gagah ya. Mau jadi apa nanti besar?”

Untuk pertama kalinya, ada orang tua selain kedua orang tua gue yang memuji gue gagah.

“ABRI? Polisi?” tanyanya lagi.

“Guru, Pak....”

“Wah, hebat. Tapi sayang,” nada bicaranya berubah, “sekarang guru nggak boleh hukum murid.”

“Iya, Pak. Kan kasian muridnya,” kata gue pelan, sepertinya nggak terdengar.

“Perasaan zaman kita sekolah dulu sering banget dihukum. Sekarang mah udah beda zamannya." Temannya ikut menyambar.

Langkah selanjutnya gue cuma nempelin tangan ke mesin stempel (nggak tau namanya, pokoknya mirip kayak stempel cap 3 jari). Prosesnya selesai. Sebelum keluar, Pak Pegawai bilang ke gue, “Coba sebentar,” dia menunjukkan ke gue sebuah kertas. Gue lihat kertas itu, isinya biodata. “Coba kamu panggil orang selanjutnya.”

Gue liat di sana, tertera nama perempuan. “Jadi... gue... disuruh... manggil... cewek... nih?” batin gue.

“Ini... beneran saya..., Pak?” tanya gue meyakinkan.

“Oh, iya.”

“Biarin. Dia, kan, lelaki,” kata temannya ngomporin.

Sekali lagi gue liat kertas. Keraguan muncul, tapi berhubung dia nyebut-nyebut lelaki, gue sangat tertantang. Namanya Kholida Nur. Sebelum gue manggil, temannya Pak Pegawai teriak dari dalam bilik. Kayaknya nggak kedengaran. Ah, gue harus berani. Gue membuka pintu, kemudian memanggil, “KHOLIDA NUR.”

Gila, jantan abis.

Keluar bilik gue langsung nunduk cengengesan. Ibu-ibu yang tadi marah-marah memanggil gue. “Kamu kelas berapa, Dek?” tanyanya.

“Kelas 3 SMA, Bu,” jawab gue singkat. Gue liat di sebelahnya ada cowok seumuran gue. Mungkin dia mau ngurus KTP juga. Gue harus buru-buru pulang, sebelum dia mengetahui kalo gue mendahului anaknya.

Sesungguhnya ini bukan keinginan saya, Bu.

19 July 2016


Bagi siswa kelas 12, hal yang paling menyenangkan adalah ketemu adik kelas baru. Rasanya, kayak ada harapan yang tumbuh. “Yes! Akhirnya peluang untuk punya pacar terbuka lebar.”

Sebagai senior yang nggak terlalu dianggap siswa di sekolahnya sendiri, gue sangat bahagia ngeliat anak-anak baru di sekolah, terutama siswi. Penampilan mereka masih lucu-lucu dengan seragam SMP-nya. Ada yang pake rok selutut, ada yang berjilbab, dan nggak kalah hebat, ada yang roknya udah digunting sampai betisnya keliatan. Hmmm, nyari masalah sama guru kesiswaan ini anak.

Setiap kali ngeliat adik kelas, gue merasakan debar yang dahsyat. Debar jantung isyarat untuk memiliki. Ngeces-ngeces nggak karuan. Halah. Kebiasaan deh, nggak bisa ngeliat cewek cantik lewat.

Anehnya, perasaan itu cuma di hari pertama. Di hari kedua Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) semuanya jadi hambar. Sama kayak pasangan yang udah sama-sama bosan, rasa penasaran antara gue dengan adik-adik baru telah hilang. Sekolah jadi ngebosenin. Jadi pengen buru-buru minta kepala sekolah adain Pendalaman Materi secepatnya. Ya, dengan permintaan gue seperti itu, gue akan ditonjokin rame-rame di gudang.

Akhirnya, pukul 8 gue mencoba kabur dari sekolah. Biar nggak terkesan nakal sendirian, gue mengajak satu teman buat kabur. Namanya Rohim.

“Ayolah pulang aja. Di sekolah nggak ngapa-ngapain,” hasut gue ke Rohim. Gue sering pulang bareng dia, jadi gue ngerti mood-nya gimana kalo pengin pulang. Gue optimis dia mau pulang juga.

“Nanti dulu. Gue takut ada pengumuman.” Mukanya tampak khawatir.

Nggak lama, ada seorang anak OSIS lewat. Rohim tanya ke dia, boleh pulang atau nggak, si anak OSIS mengangguk.

Gue dan Rohim berjalan menuju tempat parkir lewat pintu belakang sekolah. Hanya inilah satu-satunya jalan keluar sekolah karena pintu depan ditutup.

Padahal kami berdua nggak ada yang bawa motor.

Sampai di parkiran, nggak jauh dari pintu, Rohim sempet-sempetnya ngobrol sama temennya. Gue gregetan, kenapa dia harus ngobrol dulu. Dia keasyikan ngobrol, akhirnya ada guru dari dalam manggil. “Rohim, kamu ngapain di luar? Masuk sini.”

Itu adalah guru olahraga gue saat kelas 11. Kalo sering ngikutin blog gue, beliau sempat masuk ke dalam cerita. Baca ini: Lebih Nyesek Daripada Diselingkuhin

Aduh, kenapa ada beliau di sini? Batin gue. Gue jadi inget, akhir-akhir ini gue seringkali mimpiin orang-orang yang lagi gue kangenin. Dan malam sebelumnya, gue mimpiin beliau. Di mimpi gue, dia nanya, “Robby, kapan kamu nge-post blog lagi?” Buset, segitunya amat deh. Tau blog gue juga nggak.

Gue, Rohim, dan temennya masuk lagi ke dalam sekolah. Dengan kata lain: rencana kabur gagal.

Untuk percobaan kedua, gue berhasil kabur. Jangan tanya gimana caranya, yang jelas gue langsung lari menuju angkot dan sampai rumah. Yippie!

Kaburnya gue ini beralasan. Gue memanfaatkan waktu yang masih pagi ini untuk bikin KTP. Di pikiran gue, kalo ngurusnya besok-besok nggak akan sempet. Soalnya banyak ujian dan gue orangnya ogah banget absen. Motto hidup gue bersekolah adalah: kehadiran yang utama, masalah uang jajan pasti ada jatahnya.

Sampai di rumah, gue sibuk mantengin timeline Twitter, sekalian nungguin berkas-berkas buat ngurus KTP. Gue beralih ke Line untuk nanya ke temen-temen perihal info di sekolah sepulangnya gue. Ada pesan dari Rohim.

“Rob, lo udah pulang?”

“Udah di rumah. Ada info nggak? Kalo ditanya guru, gue lagi bikin KTP ya.”

“Gue juga udah di rumah.”

Nggak lama kemudian, ada banyak pesan masuk di grup angkatan. Setelah dibuka isinya jadwal pelajaran. Gue buka fotonya, di situ tertulis “SELASA”. Berarti... harusnya... sekarang belajar? Demi apa ini semuanya terjadi?

“Rob, belajar, Rob. Gue lagi di jalan mau ke sekolah.” Rohim bilang ke gue.

Mati gue. Gue. Udah. Di. Rumah. Bangkhay. Kenapa nggak dari tadi bilang kalo ada KBM?!

Gue uring-uringan sendiri. Gue lagi di rumah dan siap-siap mau ke kantor kelurahan, mau ngurus KTP. Masa harus balik lagi? Nggak mungkin. Kalo ditunda besok-besok nggak akan sempet. Mengapa ini harus terjadi padaku?!

Akhirnya, gue harus mempersiapkan mental. Apa pun yang terjadi esok hari, apakah gue nggak akan bisa melihat matahari terbenam lagi, akan gue terima. Gue udah membayangkan sebuah percakapan terjadi di ruang BK, antara wali kelas, guru BK, kepala sekolah, dan, tak ketinggalan,... gue.

Guru BK: Saya dengar-dengar, kamu kemarin kabur ya? Kamu, kan, udah kelas 12. Berilah contoh yang baik pada adik-adik barumu.

Wali Kelas: Betul itu. Jangan sampai, kebiasaan kamu ini terbawa ke dunia perkuliahan, lalu menyeret nama sekolah, mencoreng nama baik yang dari tahun ke tahun selalu baik. Malu kamu seharusnya! (gebrak meja)

Kepala sekolah: Baiklah. Saya akan segera menanda tangani surat pemulangan siswa kepada orang tua.

Gue: Pait... pait... pait... pait....

Okelah, gue harap besok nggak akan ada hal buruk menimpa. Tadi, pas gue tanya temen, “Ada guru yang nanyain gue nggak?” Dia jawab, “Ih, ge-er. Nggak ada lah.”

Saya terlalu tua untuk dapat poin skors. Plis, setahun lagi gitu, lho....

17 July 2016

- Melanjutkan dari post sebelumnya -

Baca juga: Mudik Story: Bahasa Masalah Segalanya

Benar aja, firasat gue nggak salah. Minum kopi bikin gue nggak bisa tidur. Terpaksa bergadang sambil nonton semifinal Euro antara Perancis versus Jerman. Subuhnya baru bisa tidur.

Bangun sekitar pukul 10 dengan keadaan pilek. Ini pasti ada hubungannya dengan fanta dingin yang gue minum semalam. Ah, sial. Niat gue untuk pulang kampung salah satunya adalah dengan mengembalikan pola tidur. Nyatanya, nggak berhasil, malah jadi lebih parah. Jadi pengen buru-buru ke Jakarta.

Mama gue merasa ada yang nggak beres pada diri gue; bersin-bersin dan suara bindeng. Dia mulai khawatir. "Sakit kenapa, sih?"

Gue nggak akan mungkin bilang sakit karena suguhan tuan rumah semalam. "Nggak tau, Ma. Kangen Jakarta kayaknya."

Sejujurnya, gue emang kangen. Dan ini nggak bisa ditolak, persis waktu gue disuguhin kopi dan fanta dingin semalam.

"Besoklah pulangnya," kata mama gue singkat. Gue tau mama masih betah di sini.

Akhirnya, gue meninggalkan kampung. Namun sebelum ke Jakarta, gue dan keluarga besar menghadiri acara pernikahan sepupu gue di Pemalang, Jawa Tengah. Di luar dugaan, perjalanan lebih lama karena macet.

Dalam perjalanan gue duduk di depan bersama adik dari bapak gue. Gue berada di tengah-tengahnya dan sopir. Saat macet, sopir memacu mobil dengan kecepatan sekitar 10 km/jam, begitu yang gue liat di speedometer. Entah ngantuk atau gimana, si sopir meleng, dan hampir nabrak. Sebagai orang yang duduk di depan, gue panik. Ngebayangin adegan-adegan di sinetron, setiap kali nabrak yang duduk di depan kepalanya berdarah-darah. Begitu mobil semaki mendekat, gue makin takut. Secara refleks, gue menginjak sendal sangat kuat sambil mata melotot. "LHO, LHO, REM! Injek remnya, Pir!" teriak gue dalam hati. Beruntung sopir segera sadar dan ngerem. Selamat.

Perjalanan hampir 12 jam. Dan selama itu gue nggak bisa tidur. Mata melek ngeliatin jalan terus. Kepala nahan sakit karena jok mobil nggak ada senderan kepala. Sebenernya ada, tapi udah dipake buat adik bapak gue. Sebagai lelaki budiman, gue ngalah.

Ternyata nahan kepala tegak selama hampir 12 jam pegel juga. Udah gitu, rasanya ngantuk berat. Pas orang-orang pada istirahat makan, gue baca buku di dalem mobil. Emang dodol deh, bukannya nge-rileks-in kepala. Sampai di Pemalang, sekitar pukul 10 pagi, gue merasa dibebaskan dari pasung. Begitu disuguhin segelas teh, gue langsung habisin. Soto tauco yang masih panas nggak gue sisain. Walau kata orang-orang pedes, gue nggak ngerasain lagi rasa pedes. Rasanya udah ketutup sama rasa lapar.

Tuan rumah, adik bapak gue yang lain, menunjukkan tempat istirahat kami. Berhubung kami ini datang rombongan, dia udah nyediain satu rumah yang disewa. Hal yang gue cari di rumah ini adalah: tempat tidur. Gue pikir, bisa tidur sekalian nge-charge handphone, mumpung acara akad nikahnya nanti pukul 1 siang. Untuk pulang ke Jakarta, sang tuan rumah minta ke bapak gue untuk pulang besok pagi.

Gue sangat bersyukur bisa tidur. Gue terbangun sendiri dalam kondisi rumah udah sepi. Ke mana mereka semua, batin gue. Gue tengok jam di handphone, pukul 1.30. Masih ada setengah jam lagi, kok udah sepi. Niatnya, gue mau keluar ngeliat kondisi di luar rumah, tapi yang gue temui... pintu udah dikunci. Gue panik. Jangan-jangan gue ditinggal. Apakah ini rencana keluarga besar buat menyesatkan gue? Hmmm, harusnya gue udah menduga sejak perjalanan. Oke, ini udah kejauhan dugaannya. Nggak baik suuzon ke satu keluarga besar.

Firasat gue bilang, acara udah dimulai. Kenapa gue nggak dibangunin? Gue ikut ke sini mau liat acara akad nikah, bukan buat numpang tidur. Aduh, gimana, sih? Padahal tadi tidur gue nggak nyenyak amat. Gue inget ada nenek-nenek minta tolong buat angkatin telepon, terus tidur lagi.

Ah, gue semakin kesal. Jauh-jauh ikut ke Pemalang nggak ikut acaranya... malah keenakan tidur siang. Rencana foto seragaman batik antara gue, bapak, dan kakek pupus sudah.

Begitu ketemu mama dan bapak gue, gue langsung ngambek. “Parah, nih, nggak bangunin,” kata gue ke mama. Dengan begitu gue bisa mengungkapkan kekecewaan ini pada orang tua. Biar mereka yang merasa bersalah.

“Ih, orang udah dibangunin juga. Tiga kali malah,” kata Mama membela diri.

“Tapi, kan, saya ke sini mau ikut acaranya, bukan buat tidur siang.”

“Beneran. Tadi Mama udah bangunin. Yang pertama, mama bangunin Robby buat mandi. Robby bilang, ‘Nggak mau.’ Yang kedua, ‘Robby mau makan nggak?’ Ketiga kalinya, ‘Beneran nggak mau ikut?’ jawabnya, ‘Nggak.’”

Gue diem, lalu cemberut. Gue nggak pernah bertingkah sebocah ini. “Robby nggak merasa jawab begitu.”

Mama melembutkan nada bicaranya. “Lagian, Mama nggak maksa juga. Semalem, kan, Robby nggak tidur. Kasian kalo nanti ikut tapi ngantuk. Ya udah, dibiarin tidur."

Penjelasan yang menampar. Gue salah menduga. Ternyata ada alasan lain di balik kejadian sesungguhnya. Dan, ternyata... semua pertanyaan yang Mama tanyakan, dijawab oleh ketidak sadaran gue. Ajaib, kayak dihipnotis.

“Ya udah, maunya apa sekarang?”

“Mau pulang ke Jakarta.”

“Ya udah, mandi dulu. Nanti pamit.”

Malamnya gue udah duduk di dalam di bus Sinar Jaya kelas ekonomi. Rencana pulang besok pagi dipercepat menjadi pada malam hari yang sama. Gue nempelin kepala di kaca jendela, sambil mikir. Sedamai-damainya kehidupan di kampung, gue tetep kangen kehidupan di Jakarta. Kangen teriakan sopir angkot, sepedaan sambil nyanyi, ngisengin kucing, dan lain-lain.

Perjalanan nggak lama. Sampai di terminal bus Pulogadung pukul 2 pagi. Selanjutnya membingungkan, dari Pulogadung ke Kalideres jam segini harus naik apa? Kopaja atau Metromini nggak ada. Taksi kemahalan. Bapak gue menyarankan ke gue. Dia bilang, “Coba dong, pesen Grebek dulu.”

“Grabbike kali,” kata gue tak acuh.

Singkat cerita, kami naik Transjakarta, lalu menyambung angkot. Kembali lagi ke rumah, dan bersiap menghadapi sekolah. Masuk ke rumah, gue melihat kenyataan pahit: “Ini kok toples wafer pada berantakan, ya? Kerjaan tikus pasti.”

14 July 2016

Langsung bilang aja ya, gue ulang tahun hari ini, tanggal 14 Juli 2016. Tepat hari ini gue berumur 17 tahun.

Pembukaan yang nggak basa-basi.

Kata seorang teman, “Perayaan umur 17 tahun itu paling bermakna dalam hidup, Rob. Apalagi kalo dirayain bareng-bareng.” Lho, kalo gitu kasian dong yang umurnya nggak mencapai 17? Gimana dengan gue, yang temennya sedikit? Jadi, gue nggak akan mempercayai perkataannya. Perayaan ulang tahun, mau keseratus tahun pun, tetep sama aja intinya: bertambah usia dan berkurang durasi hidup. Nggak ada istimewanya.

Setiap ngeliat foto-foto temen di medsos, gue kadang pengen ikut dalam sweet seventeen party. Walau gue anggap biasa aja, tapi kalo dibayangin keren juga. Dalam hati kecil, gue pengen bikin acara begituan saat umur 17. Sayangnya, gue nggak pernah pede kalo didatengin temen ke rumah, atau, anggaplah gue menjadi seorang tuan rumah. Nggak bakal selepas saat menjadi tamu. Mesti jaim segala macem.

Selain itu, temen gue juga sedikit. Ya, sekarang gue nggak mau bilang “nggak punya temen”. Kasian mereka yang udah anggap gue sebagai temannya, tapi nggak gue anggap. Gue tau rasanya nggak dianggap.

Terus, gue ngapain?

Gue sengaja minta pulang ke Jakarta lebih cepat. Alasannya biar bisa nonton di weekday. Kalo udah mepet weekend mahal. Lagian minggu depan udah masuk sekolah. Jangankan weekend, udah ketemu Jumat aja gue males. Harga tiketnya lebih mahal dari weekday. Ketauan, kan, gue orangnya perhitungan. Ya, maklum, belum bisa nyari uang sendiri.

Jadilah, Rabu pagi gue sampai Jakarta. Gue pikir lagi, nggak mungkin, ah, baru pulang mudik langsung nonton. Nanti yang ada malah di bioskop gue ketiduran karena capek di perjalanan semalam. Gue putuskan buat nonton hari Kamis, tepat pada usia yang ketujuh belas. Hari ini gue manfaatkan buat moles sepeda dengan mencat ulang dan mengganti ban dalam. Lagi banyak duit emang begini. Maklum, gue masih dapet persenan dari sodara.

Sepeda goyang, siap menjadi tunggangan ke sekolah

Gue sengaja mencat dengan warna biru biar sesuai sama template blog. Namanya juga udah cinta, apa aja pasti dilakuin.

Kemudian, hari Kamis tiba. Harusnya gue bisa nonton berdua sama temen gue. Sayangnya dia masih di kampung, jadi gue nonton sendirian. Udah biasa kok.

Dengan menggunakan jasa Grabbike untuk kali pertama, gue pergi ke Mal Daan Mogot.

Seperti biasanya, sampai mal gue nggak langsung ke 21. Gue nyempetin ke Gramedia liat-liat buku atau sekadar baca (tetep, nggak beli...). Nggak disangka, banyak banget buku yang udah gue masukin di wishlist di tokbuk online (tetep, nggak beli), ada di sini. Kayak misalnya, 1Q84-nya Haruki Murakami. Bikin gue pengen sujud syukur akhirnya ketemu juga di Gramedia. Untung stok-nya banyak. Jadi masih bisa nabung dan beli bulan depan.

Ngeliat buku-buku persiapan UN juga bikin gue berniat jahat. Rasanya mau gue masukin semuanya ke dalam tas, lalu kabur. Ah, tapi itu nggak mungkin. Masa cuma buat sukses UN (seperti judul-judul bukunya), gue harus berbuat jahat?

(kalimat terakhir sebenernya quote-able, lho.)

Setelah selesai liat-liatnya, gue naik ke lantai 3 menuju 21. Gue cuma bisa tercengang melihat antrean 21 yang padat. Bukan panjang lagi, tapi padat. Dari loket sampai pintu masuk penuh. Gue curiga kebanyakan dari mereka nontonnya rame-rame, tapi ikutan antre. Gue melihat lagi lebih dalam, langsung pesimis. Seorang Robby, ke sini sendirian, nggak akan bisa ikutan antre. Kalo gue mati desek-desekan nggak ada yang nolongin.

Niat menonton sejak lama pupus.

Gue stres. Akhirnya memutuskan turun ke bawah. Nggak mungkin ke Gramed lagi, gue ke mushola, pas banget udah adzan Dzuhur. Semoga dapat pencerahan setelahnya mau ke mana.

Selesai sholat, gue terpikirkan satu hal: Gue harus nonton. Bodo amat deh dapet tiket yang malam juga. Ini hari ulang tahun gue, gue harus mengistimewakan diri. Gue memutuskan kembali ke 21.

Dipikir-pikir, nggak salah kalo di 21 penuh. Sekarang masih libur anak sekolah. Banyak banget anak pacaran. Sambil celingak-celinguk, gue memastikan nggak ada orang yang kenal gue di sini, dan menghindari kata-kata “Robby sendirian aja... kayak penjaga pintu tol dong”. Hari ini gue harus bahagia.

Gue sempet nguping percakapan sepasang remaja. Cowoknya bilang, “Kamu maunya nonton apa, Sayang?” Dijawab, “Terserah kamu aja.” Oke, gue berharap mereka nggak nonton film yang sama dengan gue. Kalo sampai sama, mereka musuh.

Sampai di sana, gue lihat, kondisi di 21 nggak sepenuh tadi. Gue memberanikan diri mengantre. Sampai gue berhadapan dengan mbak penjaga loket, gue ngomong dengan jantan, “Koala Kumal, mbak. Satu.”

Gue liat seat display. Atas-bawah rata dengan warna merah, yang artinya tiket sudah terjual. Gue deg-degan.

“Uh, ada nih satu lagi,” ucap mbaknya. “Dua puluh lima ribu.”

Untuk kedua kalinya, gue mau sujud syukur. Manfaat nonton ke bioskop sendirian nambah: Bisa tetep nonton dalam sisa satu seat. Yeah, hidup kesendirian! Hidup calon independen!

Biar sekalian nyerempet ke review, gue mau membahas film-nya sang inspirator dulu.

Asli, itu punya gue. Nggak minjem.

Menurut gue, ada satu perbedaan film ini dengan film terakhirnya, Single. Bang Radit kembali mengeksploitasi ekspresinya lebih banyak. Kalo di film Single kayaknya, kan, jaim gitu. Di Koala Kumal bener-bener diperes muka ngeselinnya.

Sudah jadi kebiasaan gue setiap selesai nonton film akan menganggap film tersebut “gue banget”. Nggak tau di mana poin “gue banget”-nya yang gue dapet, tapi di film ini terasa. Mungkin cuma film porno yang nggak akan gue anggap begitu.

Premisnya agak mirip film Relationshit, yaitu hubungan yang dikecewakan. Kemudian berusaha sembuh dengan datangnya orang-orang yang, entah kebetulan atau nggak, malah terkesan sotoy. Kalo di Relationshit ada Supri, sedangkan di Koala Kumal ada Trisna. Bedanya, di Koala Kumal lebih nyesek konfliknya. Gimana nggak nyesek, udah mau nikah, eh, ditinggal gitu aja. Lebih nyesek daripada diselingkuhin.

Keluar dari studio, gue balik lagi ke Gramedia. Menyadari masih ada duit sisa kembalian nonton, gue mau beli satu buku. Pilihan gue jatuh kepada The Fault in Our Stars-nya John Green. Kayaknya gue ketinggalan banget buat baca buku ini. Sampe-sampe sewaktu ketemu dua teman kelas 10 di kasir, dia bilang, “Yah, Robby baru baca bukunya John Green yang itu. Telat banget.” Gue cuma cengengesan. Grogi kalo udah ketemu temen, apalagi mereka cewek.
“Sama siapa, Rob?” tanya si A.

Yah, udah deh, pasti nyerempetnya bakalan nggak enak.

“Sendiri aja hehehe,” jawab gue cengengesan.
"Robby mana punya pacar. Hahaha. Blognya galau mulu," si B nyeletuk.

Kita ngobrol sampai barang yang mereka beli telah dibungkus. Karena keasyikan, gue lupa tujuan gue pergi ke kasir.

Sampai pukul 3 sore gue pulang. Rasanya bener-bener seneng. Nonton film Koala Kumal, ibarat gue dikasih kado ulang tahun ketujuh belas dari Bang Radit. Sambil menempelkan kepala di kaca jendela angkot, gue mikir, “Kalo sweet seventeen bisa dirayakan sendiri dan tetap bisa bahagia, kenapa nggak?”

Untuk kali ini, sisi individualis gue menonjol.

***

Oh iya, makasih untuk semuanya yang udah ngucapin di medsos gue. Doa dari kalian untuk gue, juga doa untuk kalian. Semoga kita semua sukses dan tetap rendah hati.

Sori, yang tiap tahun ke tahun nanyain "Ada giveaway nggak, Rob?", gue masih belum bisa adain. Mungkin gue akan buat giveaway kalo lagi kesambet. "Mau ngapain ya? Ah, bagi-bagi duit!” Begitu. Doain aja cepet-cepet kesambet. Hehehe.

13 July 2016

Alhamdulillah, tahun ini keluarga gue mudik ke Grobogan, Jawa Tengah. Seperti yang para perantau lakukan di hari lebaran, keluarga kami ikut-ikutan bikin macet jalur pantura. Berangkat dari Jakarta di hari terakhir puasa, sampai sana siang, membuat gue nggak sholat Ied.

Gue kira perjalanan bakal macet parah, ternyata cuma sebentar. Dalam kondisi macet gue udah cemas dan banyak-banyak doa, semoga nggak ada yang muntah. Biar pun nggak ngeliat atraksinya, tetep aja suaranya ganggu. Kalo udah kedenger suara "Hooeeekk.... hoeeeek", gue bakal komat-kamit, "Jangan keluar, jangan keluar."

Yang bikin kesel dalam perjalanan adalah bukan karena macet, tapi kecelakaan. Bus yang kami tumpangi nabrak mobil Avanza hitam di Batang, kota di Jawa Tengah. Dua jam di sana nungguin negosiasi antara pihak bus dan pihak Avanza sangat menguji kesabaran. Mau nonjok, tapi suasana masih lebaran.

Renyek. Kayak cinta yang ditolak.

Sampai di kampung, seperti biasa, nggak ada spesial-spesialnya. Gue kadang ngiri sama orang-orang yang pamer foto dengan background keramaian. Captionnya "Alun-alun (nama kota)". Di kota ini mungkin ada, tapi kayaknya jauuuuuuuuh banget dari rumah. Diliat dari kondisi geografis kampung ini, sangat nggak mendukung buat pergi ke mana-mana. Jaraknya jauh ke area kota. Jalanan masih berupa batu-batu, nggak diaspal dan nggak mulus. Kucing lewat sana mungkin bisa kesandung. Kanan-kiri jalan ada jurang, di depan juga.

Ternyata emang lagi di jurang.


Pokoknya, jalan-jalan adalah hal yang nggak mungkin dilakukan.

Di kampung, kegiatan gue sangatlah membosankan. Kegiatan gue cuma makan, tidur, ngabisin isi toples (toples gula dan teh termasuk), nonton TV, baca buku, denger lagu, tiduran, ngabisin kue. Harusnya, selama lebaran gue menjadi "lebar-an". Pengennya gitu malah. Malu kalo ketemu sodara dibilang kurus mulu.

Meskipun gue nggak jalan-jalan ke tempat wisata, tapi paling nggak gue ke rumah sodara. Masa iya mau ngedekem di rumah terus. Kalo bertelur, kan, repot.

Ada satu malam yang gue ingat. Waktu itu gue rumah sodara bersama bapak dan mama gue. Kami bertiga jalan kaki. Kebetulan jaraknya nggak jauh jadi masih lumrah jalan kaki dalam kondisi jalan nggak rata. Banyak perubahan di kampung ini selama setahun. Termasuk lampu penerangan jalan yang dipasang setiap kurang lebih 20 meter. Serius, lho. Tahun kemarin belum ada. Wajar kalo kampung ini dibilang kampung tertinggal. Internet susah. Di sini bakal susah nonton Youtube, lebih gampang nonton tayub.[1]

Sampai di rumah sodara, ngapain lagi kalo bukan ngobrol. Jati diri gue sebagai orang yang suka ngobrol diuji. Kita semua tau, obrolan antara orang dewasa adalah obrolan mengenai kehidupan, keuangan, keluarga, dan lain-lain. Itu topik-topik yang gue senangi daripada ngobrolin game atau segala macem. Itu gue nggak paham. Oh iya, kadang orang dewasa juga suka ngomongin orang,... dan gue suka itu.

Sebenernya apa yang diuji dari kondisi gue saat ini? Ya, bahasa. Orang-orang di sini ngomongnya pake bahasa Jawa. Ngomongnya fasih banget lagi. Pengetahuan gue akan bahasa Jawa cetek banget. Baru ngikuti satu-dua kalimat, gue nggak tau artinya. Masa gue nyuruh orang itu ngomong dari ulang.
Meskipun kedua orang tua gue besar dengan bahasa Jawa, gue jarang ngomong pake bahasa Jawa. Sebagai anak keturunan orang Jawa, gue gagal.

Dan, ini yang paling nggak enak. Gue cuma bisa nyimak setiap orang-orang ngomong. Manggut-manggut cengengesan, sambil bilang "Iya." Padahal nggak diajak ngobrol.

Bahasa Jawa yang gue tau salah satunya adalah tawaran makan. Mau sesusah apa pun tenses-nya, gue pasti ngerti kalo itu lagi nawarin gue makan. Seandainya ditawarin makan, gue bilang "Nggak usah". Lalu, jika gue rasa topik udah mulai berubah, gue bilang, "Tadi di rumah udah makan." Bodo amat deh dia ngomong apa soal nggak jelasnya gue ini. Komunikasi nggak berjalan dua arah. Mereka ngomong, gue diem.

Satu jam berada di rumah saudara, kami nyambung ke rumah kakak dari bapak gue. Di rumahnya, ada tempat makan lontong dan gorengan. Pas gue ke sana, kebetulan lagi rame kumpulan pemuda nongkrong di sana. Ada yang makan lontong sayur, ada yang ngerokok, ada yang nonton TV. Nggak ada yang main hape. Beda sama tongkrongan yang sering gue liat di Sevel.

Seperti biasa, setiap gue ke tempat ini pasti ditawarin makan. Karena dari rumah gue udah makan, gue menolak. Disuruh minum juga gue menolak karena baru aja ngabisin segelas kopi di rumah saudara sebelumnya. Dengan sedikit paksaan, akhirnya gue disuguhin sebotol fanta dengan segelas es batu. Alamat kena pilek ini mah, pikir gue.

Suasana di kedai semakin rame. Mereka ngomongnya kenceng-kenceng, dan tetep... gue nggak ngerti apa yang mereka omongin. Kata bapak gue, sore ini lagi ada rapat karang taruna di balai desa. Ini kenapa anak mudanya pada nongkrong? Tanya gue dalam hati. Sampai sini gue nggak mau mikirin. Takut mikir kejauhan, lalu jadi suuzon.

Menurut pemikiran (positif) gue, mungkin mereka udah pulang. Suasana semakin malam mendadak berubah jadi bar layaknya film-film koboi. Teriakan di sana-sini. Asap rokok mengepul. Apalagi ditambah adegan gue nuang fanta ke gelas berisi es batu, seolah-olah gue lagi nuang alkohol ke gelas, semakin kuat nuansa barat di sini. Tinggal ditambah suara petasan teko aja biar ada efek-efek tembakan.

Ada satu orang anak kecil, gue prediksi sekitar umur 5-8 tahun. Anak ini bercanda sama orang-orang yang lebih tua daripada dia. Sepertinya dia pelanggan lama di sini. Dia menatap satu orang berkaus hijau, yang duduk di belakang gue. Sedari tadi dia nggak bicara, tapi tangannya terus berisyarat.

Si anak kecil memeragakan orang merokok dengan tangannya. Dia ngomong dalam bahasa Jawa, "Kamu nggak beginian?"
Orang itu menggeleng.
Gue melewati banyak percakapan. Nggak lama kemudian, dengan nada meremehkan, si Anak Kecil bilang, "Lah, kamu orang kere! Kamu tuh cuma nerima uang dari orang tua doang."

Gue tersedak. Kaget mendengar anak yang belum berumur dua digit ngomong kayak preman terminal. Untuk kali ini gue sangat mengerti bahasa Jawa.

--BERSAMBUNG-- 

PS: Beberapa hari ke depan, mungkin gue masih akan cerita soal mudik. Seru aja, kayak lagi nulis cerita yang biasanya disuruh waktu awal masuk liburan saat SD. Lebih lepas.

***

[1] Semacam pertunjukan tari dengan iringan musik gambang. Jadi menu wajib di setiap acara hajatan di kampung.

11 July 2016

Masih anget-angetnya orang-orang suka ngomong "fuck bitch!". Nggak mau kalah, gue jadi ikut-ikutan deh. Emang sih, nggak secara terang-terangan gue ngomong gitu. Paling kalo internet lagi loading padahal blogwalking lagi seru-serunya, gue ngomong "bitch!" dalam hati, kemudian mengucap istighfar sekeras-kerasnya. Mama gue dari luar kamar nanya, "Kamu kesurupan, Bi?"

Kata-kata yang meledak karena video dari enam orang sakti, yang salah satunya bilang Youtube lebih dari tivi. Jangan berpikir, enam orang sakti itu Ken Dedes n friends. Bukan itu.
Karena video itu, gue jadi tau siapa Young Lex. Beneran, baru tau sekarang. Karena itu, gue langsung pamer ke temen gue.

Ceritanya, gue chattingan sama seorang temen sekelas. Dia bilang, "Foto di dp gue ganteng nggak?" Dia seorang cewek, tapi pake dp cowok-cowok barat. Nggak mungkin gue jawab "iya" kalo yang nanya cowok, dan ternyata foto dia. Ya, kali... masih gantengan gue lah! (BOOM!)

Untuk kali pertama, gue ngomong begitu. Maafkan.

"Gue nggak tau siapa itu. Emang siapa sih?" jawab gue penasaran.

Lalu dia ngejelasin, kalo cowok itu adalah artis Hollywood. Pantes gue nggak tau, referensi gue seputar artis cuma orang-orang lokal, itu juga nggak semuanya tau. Tiba-tiba terlintas di kepala gue, secara spontan, gue ngetik "Young Lex!" dengan maksud memamerkan artis yang gue anggap lagi hits. Dalam benak gue, "Mampus lu nggak tau. Kali ini gue menang dalam bidang artis lokal."

Nggak lama kemudian dia bales, "Gue tau Young Lex mah pas zaman gue suka reggae. Itu SMP."

Tetep. Mau sesombong apa pun, gue nggak akan pernah menang.

Bukan Young Lex yang mau gue bahas, tapi salah satu orang di video tersebut. Dia adalah Dycal, sosok yang membuat Kakak Icha terpesona. Hahaha, katanya imut banget.

Sebenernya, di antara enam orang itu, gue paling penasaran sama Dycal. Kalo Dovi dan Jovi, gue tau. Jelas, dia Youtuber. Kemal seorang comic. Young Lex (yang baru gue tau akhir-akhir ini) seorang rapper. Arap, tukang main game yang sering ngomong "anjing, bangsat" di Youtube.

Lalu, si Dycal apaan?


Ternyata, Dycal adalah produk kesehatan. Nggak, bukan itu. Ini nih Dycal versi manusia.

sumber: Dycal


Nggak asik rasanya kalo nggak kepo. Ya udah, gue cari deh Dycal di pencarian Youtube, seolah feeling gue mengatakan, besar kemungkinan kalo dia Youtuber juga, bukan komentator bola. Hasilnya: ada banyak. Kebanyakan video dia meng-cover lagu. Tapi ada satu video bikin penasaran.

 
DAB!! Gue tonton deh. Bodo amat deh mau zero quota Bolt, silakan. Yang penting nggak penasaran.

Itu adalah music video dari lagu DAB (Dimana Ada Bitches-Boys). Dan ekspresi gue setelah menonton... gilaaa! Cewek-cewek dengan puser keliatan joget-joget! Penyegaran. Untung gue nonton bukan pas Ramadhan. Aman deh.

Merasa harus nonton berulang-ulang, akhirnya gue download video itu. Nggak biasanya gue mau download video pake Bolt. Levelnya meningkat dari penasaran menjadi KETAGIHAN.

Nggak, sebagai pengamat musik, gue akan membahas lagunya, bukan model di video tersebut. Lirik lagunya sadis. Nonjok. Niban. Bikin tulang rusuk patah. Tunggu, ini denger lagu apa abis ikut smackdown?

Liriknya nempel terus di telinga gue. "Di mana ada bitches, watch me dab... di mana ada bitches, watch me dab." Terus-terusan bikin gue pengen denger lagunya. Ya, meski nggak sepenuhnya denger, sedikit-sedikit melongo liatin cewek-cewek joget. Hahaha, secara gitu, lho, download pake Bolt harus dinikmatin semuanya. Nggak cuma didengerin. Biasanya juga kalo mau nonton video Youtube berulang-ulang harus download dulu di warnet.

Jangan dikira gue akan terus-menerus berpikiran kotor saat menonton ini. Seperti di penggalan lirik lagu tersebut:

Dengkul lemes kamu bikin gemes
Aku mau peres bukannya ngeres

(Peres apanya, bhangk?)

Ambil positifnya aja. Eh, tapi, apa ya positifnya? Belum nemu.

Gue nggak tau nama gerakan yang ada di video tersebut, cuma keliatannya keren. Entah emang karena gue orangnya gampang bilang keren ke suatu hal-hal baru, makanya bisa semudah itu bilang keren. Ngeliat orang naik motor lepas dua tangan aja gue bilang keren, padahal mengundang bahaya.

Gerakan-gerakannya samar-samar gue inget. Kadang, sambil nunggu loading internet gue ngikut-ngikutin gayanya.

Belakangan gue baru tau, namanya itu dab. Pernah dipake dalam selebrasi gol Paul Pogba.



Lalu, bisa aja video ini ketauan banyak orang kemudian jadi kontroversial kayak yang sebelum-sebelumnya. Kalo udah begini, anak-anak kecil yang suka ngomong "fuck bitch" bakal berganti ke "di mana ada bitch" nggak ya?

Intinya, mengutip dari lagu ini, "Yang di bawah umur belum siap tempur".

04 July 2016

Gue sering banget chatting-an, bahkan gue bisa betah berlama-lama chatting dengan orang yang, bahkan gue nggak kenal. Dulu waktu zamannya doyan main Omegle, gue bisa ngabisin waktu sore dengan ngadepin strangers di sana. Biasanya, pola gue seperti ini:

Dia ngaku cewek - ngasih tau nama feminim - gue anggap dia seru - betah berlama-lama. Simpel. Buat chattingan sama orang asing cukup ini aja yang dibutuhkan. Nggak perlu muluk-muluk. Tapi... begitu gue tanya id Line-nya, dia langsung end chat. Berhasil bikin nyaman aja nggak cukup.

Chat-chatan gitu udah sering banget bagi gue. Sampai gue kenal dengan aplikasi Skout, sebuah website dating yang memungkinkan penggunanya bisa ngobrol satu sama lain. Kalo gue bilang, ini perpaduan antara Omegle, Facebook, dan Tinder. Bisa ngobrol dengan orang asing (stranger) layaknya Omegle, bisa ngirim feed kayak Facebook, tapi rentang jarak ngobrolnya kayak Tinder, walaupun tetep bisa ngobrol sama orang luar negeri. Paket komplit bagi orang-orang yang doyan chatting kayak gue.

Aplikasi ini gue ketahui setelah baca buku kumpulan cerpen See You, When I See You karya Falen Pratama. Di salah satu cerita, ada seorang cowok yang memiliki teman cewek chatting di Skout. Cowok itu punya obsesi besar agar bisa ketemu cewek tersebut. Tapi, si cewek merasa nggak akan mungkin ketemu si cowok, karena dia pernah punya trauma kenalan dengan orang asing. Identitasnya pun dijaga kerahasiannya.

Selesai baca cerita itu, gue langsung install Skout. Selain itu, biar gaul, gue mention abang Falen.

Pengalaman gue main Skout udah macem-macem. Ada yang ketemu cuma sekadar "say hi", sampai follow-followan Instagram. Lebih keren lagi, ada yang sempet ngirim voice note nyanyi semenit lebih buat gue. Ya.. waktu itu kita akrab sekitar tiga minggu setelah tukeran id Line. Sampai chattingan kita udah memasuki tahap "norak-noraknya chattingan". Biasanya kalo udah jam 11 malem, nanti dia bilang,

"Lu kok belum tidur? Nanti lu sakit."
"Belum ngantuk. Masih ngerjain PR nih."

Realitanya, gue lagi tidur-tiduran sambil main magnet-magnetan.

Nggak cuma yang seru aja, yang paling hina juga pernah. Adalah, ketika gue say hi ke satu cewek, nggak sampai lima menit nama dia udah nggak ada di chat list. Dia nge-block gue.

Itu semua waktu foto profil Skout gue yang ini:


Gue merasa, foto ini terlalu menakutkan buat ngajak kenalan seseorang.

Entah ada pengaruhnya atau nggak, setelah gue ganti profil dengan foto yang agak mendingan, jadi banyak yang nanggepin chat gue. Ini foto profil gue yang baru


Itu sebenernya foto gue pas kopdar bareng Blogger Jabodetabek. Pas ngeliat ada guenya, gue crop deh. Hwoahahaha.

Di Skout ada yang namanya buzz, sebutan untuk timeline. Di sana banyak orang promo-promo akun media sosialnya. Yang cowok-cowok, kalo beruntung nemu yang mesum, bakal nulis, "Kalo kamu hot, kirim foto kamu dong." Gue nggak mau kalah, gue pernah update gini:
Jarang on Skout. Kalo mau chat, add aja id line: robby_haryanto
Seandainya ada yang nge-add syukur deh. Nggak ada ya nggak papa. Namanya juga usaha.

Gue masih iseng-iseng melanjutkan usaha dengan "say hi" ke orang-orang di Skout. Heran, nggak ada yang bales. Pada sombong-sombong amat, batin gue. Gue memutuskan vakum online Skout beberapa hari. Malah sempat gue hapus aplikasi itu dari handphone. Tapi, beberapa hari setelah gue un-install Skout, ada yang chat gue di Line. Kalo ada yang nggak percaya gambar di bawah asli atau rekaan, ini beneran. Cuma waktu itu gue lagi pake Line Lite, tampilannya agak beda.

Untuk kamu yang chat saya, foto kamu nggak akan saya tampilkan. Tenang aja...


Sumpah. Ini pamer banget kalo gue blogger. Maafkan saya.


(Chat selanjutnya mengandung privasi, makanya nggak gue tampilin. Demi keselamatan orang itu, identitasnya tetap gue jaga.)


Wadaaay, apa-apaan ini orang? Masa mau nge-add pilih-pilih. Kacau. Padahal gue nggak termasuk cogan. Gue lebih senang berada pada status colek.


Hmmmmh, alasan!

Paling nggak, gue mulai tau sekarang ada tipe cewek yang begini. Jadi, kalo gue di-add sama cewek, alasannya adalah: 1) Mereka temen sekelas yang lagi butuh gue; 2) Mereka nggak seperti yang gue sebut di atas; 3) Mereka temen gue.

Tips:
Kalo mau install, pilih aplikasi yang namanya Skout. Bukan BoyAhoy. Meskipun sama-sama dibuat oleh Developer yang sama, tapi BoyAhoy dikhususkan untuk gay. Kan nggak lucu kalo mau iseng bikin akun jadi cewek, tapi muncul di forum gay.

Ketika gue tulis lagi di bulan Juli, gue ngerasa chatting kayak gini seru... cuma gampang banget percaya ya? Kalo ternyata orang-orang yang udah chatting sama gue adalah agen penyelundup dari Abu Sayyaf. Gimana nasib gue selanjutnya kalo emang bener begitu? Ah, mulai saat ini harus mengurangi kebiasaan ini. Siapa tau fotonya cakep padahal aslinya bawa-bawa senapan.

(Tulisan ini gue tulis sekitar Januari 2016. Berhubung ketumpuk sama draf yang lain, jadi terlantar.)

01 July 2016

Orang-orang yang masih berstatus pelajar kayak gue, butuh banget sosok inspirasi. Walaupun nggak terlalu berpengaruh dalam hidupnya, senggaknya ada seseorang yang bisa dijadikan panutan. Jujur, gue belum punya sosok itu. Beberapa tokoh mulai gue masukkan ke dalam opsi, seperti Albert Einstein, Steve Jobs, dan Mark Zuckerberg. Setelah gue simpulkan, gue mengidolai orang-orang yang gagal di sekolah. Oke, no problem.



Ceritanya tanggal 30 Juni, gue nonton Rudy Habibie. Sebelumnya gue nggak tau kalau ada film ini. Nonton trailernya aja nggak. Baru tau saat pagi di hari pertama rilis bioskop, ya pas tanggal 30 itu. Mumpung masih ada duit di dompet, langsung aja gue ke Mal Daan Mogot, dan kebetulan harga tiket weekday lebih murah. Takut besok-besok nggak sempet nonton, akhirnya gue nonton sendirian. Sebenernya strategi biar duit gue masih ada saat nonton film Indonesia yang lain. Lebaran ini banyak film Indonesia yang bagus. Harus malakin bocah-bocah yang abis dapet persenan ini mah.


Walau baru tau ada film ini, gue nggak pikir-pikir lagi buat nonton. Karena gue pengen banget nonton aktingnya Reza Rahadian yang udah terkenal sukses memerankan Rudy di film Habibie & Ainun. Di film Habibie & Ainun yang pertama gue udah nonton, walaupun di TV.

Film ini diangkat dari kisah nyata Presiden Republik Indonesia ketiga, Bapak B. J. Habibie. Dimulai dari cerita Rudy yang sejak kecil mulai tertarik dengan pesawat dan ingin tahu seluk-beluk tentang pesawat terbang. Papinya (Donny Damara) sering menjelaskan pada Rudy tentang pesawat. Papinya juga pernah memberi contoh sesuatu yang bisa terbang lainnya, yaitu balon. Hingga ada adegan yang memorable di sini, bikin satu studio ngakak. Lucu banget kepolosan si Rudy kecil di adegan itu.

Hingga saat itu, ia bercita-cita untuk membuat pesawat. Ini jelas berbeda dengan gue semasa kecil yang kalo liat pesawat bakal menebak-nebak.
"Eh, eh, bunyi pesawat udah deket. Menurut lu pesawat apa yang lewat?"
"Garuda."
"Kata gue Lion."
Kemudian pesawat melintas di atas kita. Pesawat yang lewat Sriwijaya air.

Nasihat Papinya yang paling Rudy ingat hingga dewasa adalah: Jadilah mata air, apabila kita baik maka sekelilingnya akan baik. Walaupun nggak mudah menjadi mata air yang jernih karena ia akan selalu muncul dari tanah yang bergejolak. Selama kalimat itu keluar, gue cuma manggut-manggut. 

Rudy melanjutkan studi di RWTH, Aachen, Jerman. Seperti kebanyakan anak Indonesia yang merantau di luar negeri, pasti ketemu teman senegara. Di sana dia ketemu Liem Keng Kie (Ernest Prakasa), Peter (Pandji Pragiwaksono), Poltak (Boris Bokir), dan lain-lain. Di antara mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Jerman, hanya Rudy yang biaya kuliahnya bukan berasal dari beasiswa Negara. Namun, Rudy berteman baik dengan mereka.

Di Jerman, Rudy juga mengenal Illona Ianovska (Chelsea Islan), gadis Jerman berdarah Polandia yang mengenal dan mulai mencintai budaya dan bahasa Indonesia. Dia menjadi cinta pertama Rudy di Jerman. Kisah mereka berdua di film ini nggak kalah bikin baper dengan kisah Rudy dengan Ainun. Gemes-gemes gimana gitu ngeliatnya.

Kalo film ini dibilang melulu tentang politik dan nasionalisme, tenang aja, bakal disuguhin cerita cinta juga. Paket komplit deh pokoknya.

Sumber: id.bookmyshow.com

Rudy benar-benar menginginkan Indonesia agar maju. Dia memikirkan untuk merencanakan pembangunan industri dirgantara di Indonesia. Namun, pemikiran emasnya ini bertentangan dengan pelajar-pelajar yang mendapat beasiswa dari organisasi Laskar Pelajar. Walaupun masih berstatus sebagai mahasiswa, dia terpikir untuk membawa Indonesia lebih maju. Punya harapan yang tinggi.

Iya, jelas beda banget sama gue yang cuma punya harapan semoga besok nggak ada PR. Udah.

Dari film ini banyak banget pesan yang ingin disampaikan khususnya untuk para pelajar yang punya cita-cita sama seperti Pak B. J. Habibie. Nggak cuma "Jadilah orang yang baik". Itu mah jawaban standar anak-anak sekolah yang dikasih tugas Bahasa Indonesia. Nggak cuma itu.

Menurut gue, sasaran film ini mengarah kepada pemuda dan para pelajar Indonesia, baik yang menimba ilmu di luar maupun dalam negeri, terbilang sukses. Contoh dekatnya dari diri gue sendiri, yang tersentuh dengan film ini. Ada keinginan dalam diri ini untuk mengubah nasib keluarga lewat pendidikan. Kenapa gue bisa bilang gitu? Tahun depan gue UN. Sekolah harus bener-bener lah.


Dan, mengutip kalimat dalam film ini yang masih gue ingat: Saya cinta Indonesia. Saya percaya Indonesia. Sebenernya masih ada lanjutannya, cuma gue lupa.

Setelah nonton film berdurasi 142 menit ini, gue tau siapa orang yang pantas dijadikan sosok inspirasi. Nggak usah jauh-jauh, datangnya dari negeri sendiri. Mantap, kan?

By the way, bakal ada Habibie & Ainun yang ketiga. Entah kapan. Siap-siap nonton (sendiri) lagi deh.