Tentunya gue belajar, demi mengejar nilai-nilai yang masih kurang. Udah seharusnya gue belajar, biar naik kelas bukan karena nilai pengasih guru. Semua sekolah kayak gini nggak, sih? Ada murid nilainya ancur, tapi pas di rapor jadi bagus. Cuma karena biar semua nilainya tuntas. Ini pernah gue bahas di podcast tentang tinggal kelas.

Ya udahlah, nggak usah kebanyakan protes. Nanti gue malah nggak dinaikin, bahaya. Hehehe.

Tapi, jangan dikira gue belajar cuma karena ada UKK. Sebenernya gue setiap hari belajar, bedanya cuma pada tingkat keseriusannya. Kira-kira, ada satu... dua... tiga... empat kali dalam satu semester gue belajar dengan serius. Saat UTS ganjil, UAS, UTS genap, UKK. Yak, kira-kira gue masih pantes dibilang anak sekolahan nggak?

Tunggu dulu, gue mau ngasih pembelaan.

Maksudnya belajar serius itu, belajar yang sampe nyalain alarm subuh-subuh, terus bangun dan baca buku. Fokus dari semuanya, termasuk hape dan chat dari gebetan. Kalo setiap hari, gue nggak bisa kayak gitu. Bangun aja setengah enam pagi.

(((Chat dari gebetan)))

Nggak punya.

Semoga saat kelas 12 pola belajar gue makin bagus.

Dari seminggu ini, gue mulai sedikit meninggalkan pola belajar sistem kebut semalam. Gue mulai mikir, stres banget kalo semaleman belajar, nggak tidur. Maka dari itu, sebelum-sebelumnya gue udah nyicil baca-baca materi yang udah pernah dipelajarin. Ya... sepuluh menit cukuplah. Kalo kelamaan ngantuk. Padahal kalo lagi asik baca portal Tribunnews bisa kuat sampe 2 jam.

Kalo ada yang nggak tau di mana serunya baca Tribunnews, sekali-sekali coba baca deh. Jangan nyari berita yang serius, tapi yang judulnya ngawur. Tapi jangan dianggap remeh, bikin berita ngawur itu susah, lho. Kita harus bisa nempatin kebohongan di antara deretan fakta. Nggak bakal ada yang percaya kalo dari judulnya aja: “Robby Haryanto berpacaran dengan Sabina Altynbekova“.

Nggak ada yang tau dia, ya? Pemain voli terkenal padahal.

Sabina lagi pake topeng Robby

Bukan yang itu. Tapi yang ini...


Biar pun aku agak gelap, tapi aku cinta kamu.
Robby love Sabina. Mumumu~
Lalu, apakah selama UKK gue belajar terus-menerus? Nggak dong. Gue butuh refreshing. Hari Minggu lalu, gue tumben-tumbenan ke warnet. Rencananya mau download aplikasi atau lagu-lagu, eh malah nyasar ke Youtube. Biasalah, walaupun di rumah punya Bolt, gue nggak pernah nonton Youtube. Sayang kuotanya. Heran aja kalo denger cerita dari temen gue sesama pengguna Bolt. “Gue aja 5 GB cuma dua minggu.”

Sedangkan gue, 3 GB bisa 3 minggu, bahkan sebulan.

Begitu ketemu koneksi yang mantep di warnet, gue kalap nge-Youtube. Kalo ditonton doang nggak puas, akhirnya gue download. Lalu masalahnya muncul: Gue bingung mau download apa.

Paling, gue bakal download video stand up comedy biar bisa nonton lagi di laptop. Tapi gue bosen kalo nyetel dia-dia terus. Nah, makanya pilihan gue jatuh kepada... GGS.

Sip. Udah keren banget gue.

Ini semua karena mbak-mbak operator warnet yang nyetel GGS di komputernya. Begitu gue denger, langsung gue download.

Eh, tunggu dulu. Bukan GGS yang serigala itu, tapi yang swag. Pasti taulah.

“YOUTUBE... YOUTUBE... YOUTUBE... LEBIH DARI TV (BOOM!)”

Sumpah, ini lagunya bikin fresh. Nggak cuma lagunya, videonya juga mantap. Gue bilang begitu bukan karena di video ini ada cewek yang berpenampilan hot, tapi emang beneran seru. Btw, kalo ada yang penasaran siapa cewek yang ada di video itu, namanya Bee Viona. Hahaha, kali aja ada yang penasaran.

Dari video itu, gue paling suka gayanya Reza 'Arap' Oktovian. Hmmm... gimana cara jelasinnya, ya. Pokoknya dia itu ngingetin gue akan seseorang, yang suka ngomong “Anjing” dan “Bangsat”. Persis temen SD gue yang punya hobi nyolong burung dara.

Sorry, Rap. Lu cuma jadi pengingat gue aja.

Gila, sok akrab banget. Lanjut.

Gimana kalo Young Lex? Hmmm, dia juga keren. Sebelumnya gue tau nama Young Lex di acara show stand up-nya Kemal di Jakarta. Dia jadi MC bareng Tommy Limmm (inget, ‘M’-nya harus tiga). Terus baru tau orangnya di video Ganteng- ganteng Swag. Sama kayak Dycal, yang paling menggemaskan di antara semuanya. (Btw, kata menggemaskan diucapkan nggak pake ekspresi yang terdalam. Cuma ungkapan kata aja. Nanti gue dikira naksir Dycal.)

Oke, bahasan soal Ganteng-ganteng Swag cukup. Takut kebablasan ngomong yang aneh-aneh. Udah mau puasa, #RobbyMauBerubah

*kemudian dikasih jari tengah sama Arap*

Gue berharap UKK ini gue bisa dapet nilai yang bagus. Sebelum-sebelumnya, nilai gue cuma segitu-segitu aja. Bukannya nggak bersyukur, tapi... ya emang ngerasa nggak puas aja sama proses belajarnya. Rasanya aneh aja, banyak orang yang gue nasehatin ketika mereka down, gue suruh belajar lebih giat, tapi gue malah nggak bisa ngasih motivasi buat diri sendiri.

Sekarang-sekarang ini lagi pengen bisa ngasih motivasi diri sendiri. Sayangnya, motivasi yang gue kasih ditolak sama diri gue yang “lain”. Ehm, ngerti nggak? Jadi kayak ada pemblokiran motivasi diri sendiri.

“Daripada dengerin motivasi elu,” kata diri gue yang lain, “mending gue nonton Ganteng-ganteng Swag.”

Sableng emang.

UKK udah selesai, selanjutnya pekan remedial. Hari-hari kemudian hati bakal nggak tenang. Se-nggak-tenangnya hati gue, megang embel-embel “Pelanggan Remedial” di blog ini. Nggak lama lagi bakal gue ganti, deh.

Oh iya, selamat datang bulan Juni dan selamat datang bulan suci Ramadan. (padahal masih seminggu lagi.)
Read More »

thumbnail-cadangan
Aku, lelaki berumur setengah abad, sedang menikmati kopi hitam, hanya mengenakan sarung. Duduk di bangku panjang di depan rumah, memperhatikan tetangga yang sedang menyapu. Sesekali teman-temanku lewat menyapa, sedang mengantarkan anaknya ke sekolah. Sedangkan anakku, sudah berangkat 30 menit yang lalu.

Aku mengambil koran di meja kemudian membacanya. Aku lihat tanggal terbitnya, ah, ini koran sebulan yang lalu. Mungkin itu terakhir kalinya aku membeli koran, dan itu terakhir kalinya aku pulang kerja.

Karena, sebulan yang lalu aku dipecat.

Pulang ke rumah dengan langkah gontai, menemui penjual koran langganan. “Mas, ini mungkin terakhir kalinya saya beli koran di tempat, Mas.”

“Memang kenapa, Pak?” tanya penjual koran kepadaku.

“Nggak papa. Mungkin saya akan beli di tempat lain atau membaca berita online. Ini, kan, era digital. Hehehe,” kataku berdalih. Padahal aku samasekali nggak punya handphone.

Aku menyeruput kopi yang mulai mendingin. Ah, rasanya terlalu pahit. Sejak dipecat dari pabrik tempatku berkerja, otomatis kopi yang aku minum terasa pahit. Wajarlah, untuk membeli gula butuh banyak pertimbangan. Lebih baik uangnya dibelikan sebungkus nasi. Tapi tak apa, kopi ini adalah sisa dari persediaan tiga bulan. Memang, aku selalu membeli kopi untuk stok tiga bulan. Biar nggak bolak-balik ke pasar.

Merenung. Mengapa semua terjadi secara mendadak. Di saat keluargaku dalam keadaan baik-baik saja, kenapa pemecatan itu bisa datang? Apakah ini semua adalah balasan dari kebiasaan burukku selama lima tahun terakhir?

Entahlah, tapi aku merasa ini teguran dari Tuhan.

Lima tahun lalu adalah kali pertama aku keluar malam untuk bergadang di poskamling. Sampai larut malam, tak henti-hentinya aku membawa uang banyak, lalu pulang dengan kekecewaan. Berjudi. Melempar dan mengocok kartu. Kalah. Semuanya sudah diketahui keluargaku.

Rasanya malu bila anakku yang sudah berseragam putih abu-abu ditanyai gurunya. “Bapak kamu kerjanya apa?” Anakku menjawab, “Di pabrik. Tapi kalau malam berjudi.”

Sudah puluhan kali aku mendapati anakku menangis di sudut kamarnya. Kutanya kenapa ia menangis, jawabannya, “Aku malu ditertawakan teman-temanku karena aku anak penjudi.”

Malu. Sangat malu.

Dengan dipecatnya aku, berarti segala urusan yang harus mengeluarkan uang harus berhenti. Aku bersyukur akhirnya bisa berhenti berjudi. Aku akan malu bila melihat keluargaku sedang menahan lapar, sedangkan aku menanggung kekalahan di poskamling.

Beruntung aku memiliki istri yang penyabar. Mungkin jika istriku bukan dia, aku sudah ditinggal pergi ke rumah orang tuanya. Dia rela mencari pekerjaan sambilan untuk mencukupi kebutuhan, bahkan untuk sebulan ini dia lah yang menjadi tulang punggung keluarga.

Menjadi seorang suami sekaligus ayah, aku layak mendapat rapor merah.

Latar pendidikan yang rendah membuatku minder untuk mencari pekerjaan. Untuk sekarang ini, minimal pendidikan terakhir untuk mendapat perkerjaan adalah SMA sederajat. Aku hanyalah tamatan SD. Andai saja dulu orang tuaku memiliki uang untuk menyekolahkanku, aku ingin melanjutkan hingga bangku kuliah. Sayang sekali, uang penjualan sawah orang tuaku telah digunakan membayar hutang-hutang kakakku.

Aku bingung dari mana keluargaku bisa mendapatkan uang untuk biaya hidup. Bisa saja sebenarnya bekerja serabutan, tapi belum cukup untuk membayar biaya sekolah ketiga anakku. Beginilah aku, lelaki sarungan yang sedang bingung bagaimana caranya melanjutkan hidup.

Malam hari yang biasanya diisi oleh tawa hangat keluarga, berubah jadi malam perenungan. Masing-masing orang di rumah merenung bagaimana caranya memperbaiki kualitas hidup. Istriku berkata, jangan dibawa pusing, Pak. Lebih baik dibawa senang dan diambil hikmahnya.

Aku melihat anak sulungku sedang belajar. Setahun lagi dia akan mengikuti Ujian Nasional. Hanya semangat dan motivasi yang bisa membuatnya mengubah nasib keluarga ini. “Belajar yang rajin, Nak. Jangan kayak Bapak, yang nasibnya nggak seberuntung kamu. Nggak bisa sekolah, masa tuanya luntang-lantung. Kalau urusan pendidikan, Bapak akan dukung kamu. Terserah kamu mau jadi apa, yang jelas kamu harus jadi orang yang berguna dan bisa membanggakan orang tua kamu. Kamu nggak usah mikirin gimana susahnya keluarga kita, fokus aja ke belajar.”

Aku mengusap kepalanya sambil menahan air mata. Harapanku aku ada pada anak-anakku.
Read More »

Wah, parah banget anak SMA zaman sekarang! Sepertinya remaja masa kini sedang ditimpa krisis moral. Seperti yang kita ketahui di media, berita-berita buruk mengenai generasi muda silih berganti muncul. Mulai dari pelecehan seksual, pemerkosaan berujung pembunuhan, tawuran, sampai beli gorengan tujuh bayarnya satu. DI MANA MORAL MEREKA?! Mau dibawa ke mana masa depan Indonesia? Apa kita harus kayak Armada yang selalu nanya "Mau dibawa ke mana?" ke pasangannya?

Tidak, kawan.

Kembali lagi seorang remaja membuat geger. Salahsatu yang memprihatinkan adalah foto-foto yang baru saja beredar di media internet. Foto-foto itu diunggah sendiri oleh seorang pelajar SMA yang diketahui bernama Robby. Kali ini dia dengan pede memposting foto-fotonya yang sempat heboh dan membuat geram teman sebangkunya. Berikut ini adalah foto-foto dari Robby, seorang anak yang punya hobi kepentok angkot.

Cristiano Robbynaldo
Foto di atas heboh karena kepala Cristiano Ronaldo diganti dengan kepalanya. Di mana moralnya?! Mengganti kepala seseorang dengan seenaknya sangat tidak diperbolehkan dalam dunia medis. Semoga ini nggak menjadi contoh bagi anak-anak seusianya.


Sangat kontroversial! Begitulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan foto di atas. Robby menyebutkan bahwa dia belum keramas 3 minggu. Bayangkan, 3 minggu nggak keramas kemudian menyebabkan pusing? Bagaimana dia bisa bertahan hidup tanpa keramas, sedangan kecoa bisa mati bila kelilipan disengat raket listrik? Masih jadi perdebatan WHO.

Berkuda bersamamu mengajarkanku, apa artinya kehinaan...

Ini sempat heboh karena Robby dianggap sebagai siluman kuda. Memang misterius anak ini. Menurut pengakuan teman (imajinasinya), Robby suka berlari-lari di jalan membawa gerobak delman. Bahkan di sebuah kesempatan, kedapatan Robby sedang diperah susunya oleh masyarakat sekitar.

Tapi tenang, nasibnya nggak setragis teman-teman kuda yang lain--yang berakhir hidupnya di papan catur.



Recehannya, Pak...


Lagi-lagi. Pelajar SMA yang sempat mengenyam bangku Sekolah Dasar selama 6 tahun ini membuat sensasi. Dia mengemis mengenakan kemeja hitam dan kacamata. Belum pernah ada pengemis serapi ini. Lihat saja warna piring yang dibawa, warnanya merah muda. Jelas-jelas sedang mencari sensasi. Atau memang dia sengaja merebut jatah para pengemis. Sungguh tidak bermoral.


Laper, Pak...


Setelah nggak dapet hasil dari mengemis, kondisi perutnya semakin parah. Selagi dia punya kepala, akhirnya dipotonglah sebagian kepalanya untuk lauk makan.


Kondisi perutnya beranjak membaik. Tapi ada keanehan yang terjadi pada Robby. Mulutnya kini selalu membuka. Rambutnya tumbuh memanjang. Dengan tampilan seperti ini, Robby sangat siap dilempar ke kandang singa.

Beruntung nasibnya tidak berakhir di dalam kunyahan singa, melainkan Robby merambah ke dunia tarik suara. Ya, Robby menjadi penyanyi dangdut! Sebuah keajaiban dunia...
 
Pilih yang mana, Bang?

Terlepas dari kontroversinya, Robby hanyalah pelajar biasa. Masih punya impian membuat bangsa ini lebih baik lagi. Bantu dia wujudkan mimpinya. Menerima sumbangan berupa: 1) Shampo Dee-dee; 2) Sebungkus nasi padang.

Lah, malah jadi acara mintain sumbangan.

PS: Gue sedang mempraktikan cara meningkatkan trafik dari Kresnoadi. Katanya, ini cara beneran dan paling gampang. Kalo bohong, gue sumpahin kumisnya numbuh di leher! Btw, boleh dibaca tuh caranya.

PS (lagi): Minggu depan gue akan menghadapi PAT. Apa itu PAT? PAT adalah singkatan dari Penilaian Akhir Tahun. Bahasa merakyatnya: UKK (Ulangan Kenaikan Kelas). Bahasa yang lebih keren: UAS (Ujian Akhir Semester). Sedangkan  TE (Telikés Exetáseis) dalam bahasa Yunani.

Jadi, kalo gue nggak nge-post berarti lagi sibuk belajar. Biasalah, udah mau naik kelas 12. Ehehe, nggak tau juga, sih. Bisa aja lagi mengembara ke Yunani atau ke negeri entah berantah.

See you! Maaf bagi yang ketipu dengan judul.
Read More »

Apa kamu merasa sempurna? Nggak ada yang jawab ya gue rasa. Gue yakin semua orang akan menemui kekurangannya dan mau nggak mau harus mengakuinya. Bedanya, seberapa mampu mereka menerima kekurangan itu. Gimana kalau kekurangan itu malah menghambat kehidupan seseorang? Kita butuh cara mengatasinya. Menerimanya sebagai karunia Tuhan yang nggak bisa kita tolak.

Namun, cara setiap orang berbeda. Gue nggak tau gimana cara seseorang dalam menghadapi kekurangannya. Tapi gue percaya ini: Menerima kekurangan dengan menertawakannya. Dilihat secara kasat mata memang terkesan seperti mengumbar aib sendiri. Nggak papa dong. Toh, ini aib kita, bukan aib orang lain. Sederhananya seperti itu.

Dari refrensi mengenai komedi mengatakan, bahwa lelucon yang paling aman mendapat tawa adalah dengan menertawakan diri sendiri. Gue setuju. Dengan begitu kita punya ketulusan untuk ditertawai dan sudah siap akan hal itu. Bahkan, gue pernah membaca di sebuah media, secara psikologis orang yang berani menertawakan kekurangan diri sendiri punya jiwa besar.

Dalam kasus sehari-hari, orang yang kekurangan memang sering menjadi bahan tertawa. Karena sesungguhnya, orang yang kurang punya kelebihan. Gue menyebutnya selangkah lebih lucu. Dari kenyataan yang sering ditemukan, kekurangan seolah tercipta untuk ditertawakan. Lihatlah gimana lakunya jokes mengenai kaum-kaum kekurangan kasih sayang atau jomblo. Ke mana-mana kerjaannya cuma ngaku jomblo, terus diketawain. Udah ada hasrat pada semua orang untuk mengejek jomblo-jomblo yang ada. Untuk itu, jangan ngaku-ngaku jomblo kalau nggak kuat ditertawai banyak orang. Soalnya orang jomblo pasti diketawain.

Jadilah jomblo yang menghibur. Punya keikhlasan untuk ditertawakan. Siapa tau, setelah punya pasangan, jiwa para jomblo menjadi lebih dewasa.

Sebuah komedi kadang harus bertabrakan dengan batas (biasanya mengenai norma). Ada batas yang membuat kita ragu untuk tertawa. Dalam benak kita muncul perkataan, "Asem. Omongannya dia lucu banget, tapi kok agak riskan?" Akhirnya kita ketawa aja karena emang beneran lucu. Kalo kata Pandji Pragiwaksono, lucu, ya, lucu aja. Nggak bisa membohongi diri untuk nggak ketawa.

Nah, akhir-akhir ini gue lagi seneng nonton stand up comedy yang "nabrak". Walaupun agak susah dicari karena jarang ada di Youtube. Salahsatunya adalah penampilan dari Akim Bagil di Playoff Street Comedy 5. Ini yang paling sinting. Kalo penasaran, coba tonton. Rasanya kayak nonton secara live, dan beda daripada comic yang biasa kita tonton di TV.



Ada beberapa orang yang dalam lingkup masyarakat tidak diperbolehkan untuk ditertawai. Misalnya, orang-orang difabel. Kalau di antara kita ketemu orang yang ke mana-mana pergi naik kursi roda, lalu kita meneertawai orang difabel itu, respon yang pantas kita terima adalah mulut kita ditabok.

Lalu bagaimana dengan orang yang kekurangan sejak lahir? Apakah pantas untuk ditertawakan?

Dani Aditya memberi sudut pandang berbeda. Comic asal Malang ini memberi cara baru dalam melihat orang yang memiliki kemampuan khusus atau difabel (differently able). Ada satu jokes dari Dani yang paling gue ingat.
Saya ini anak yang cacat fisik. Jadi orang cacat fisik itu enak. Kalo gak percaya coba aja sendiri.
Menggelitik, seolah mengajak kita masuk ke dunianya. Dani memberi sudut pandang bahwa orang yang cacat fisik tidak harus selalu dikasihani, tetapi terkadang perlu ditertawakan. Dani nggak ingin dengan ketidaksempurnaannya menjadi penghalang untuk menjadikannya orang-orang normal, seperti kita.

Lalu, bagaimana dengan orang yang enggan berusaha karena takut ditertawakan?

Di setiap kelas, kita sering menemukan orang-orang yang seperti ini. "Saya nggak mau jawab. Malu. Nanti diketawain orang sekelas." Nggak begitu seharusnya. Jangan takut. Jawaban yang salah adalah jawaban yang masih punya kemungkinan untuk benar. Kalau diam aja, bisa jadi jawaban yang dipendam akan salah selamanya, tersesat.

Kalau memang takut ditertawakan orang lain, tertawakan dirimu sendiri. Agar nantinya orang yang menertawakanmu nggak membuat sakit hati. Lebih bijak lagi, ajak orang-orang tertawa bersamamu menertawakan kekurangan masing-masing. Hidup terasa damai tanpa perlu ditutup-tutupi dan ada yang tersakiti.

Oke, sekian pendapat gue mengenai kekurangan. Bagaimana cara kalian dalam menerima kekurangan?

Mohon maaf atas segala kekurangan dalam penyampaian gue di sini.
Read More »

thumbnail-cadangan
Halo! Gimana kabarnya? Kangen gue nggak? Iya, pasti nggak.

Jadi, ceritanya hari Kamis dan Jumat di sekolah gue ada perkemahan, dan gue ikut. Yang gue ambil hikmah dari perkemahan itu bukan ilmu pramukanya, tapi nilai pergaulannya; nyanyi-nyanyi bareng. Sejujurnya, gue nggak ngerti apa-apa soal pramuka. Berhubung kegiatan wajib dari sekolah, ya gue ikut-ikut aja. Pokoknya seru karena bisa nginep di sekolah.

Gini, ada yang ngerasa nggak, kalo di bulan April hingga Mei ini udah banyak orang yang kena demam berdarah? Gue bener-bener ngerasain. Orang-orang tedekat atau kerabat banyak yang kena penyakit itu. Ngedenger penyakit demam berdarah udah kayak denger orang ngeluh pusing. Bisa  setiap hari. Gue pun sempet takut waktu suhu tubuh gue naik-turun. Dokter sempet bilang, ada kemungkinan gue kena penyakit demam berdarah. Dan sekarang, alhamdulillah gue nggak kena demam berdarah. Ternyata sakit gue saat itu karena makan mi instan dua bungkus plus potongan cabe. Lagian, sih, serakah!

Makanya, Mama sering banget beli jambu biji, yang katanya, bisa jadi obat demam berdarah. Walaupun udah ada yang namanya jus jambu biji dengan kemasan botol, tetep aja gue lebih suka jus jambu yang diblender sendiri. Ada seninya gitu. Gue suka denger bising blender... yang kayaknya bisa jadi hiburan bagi gue. Seperti ada yang mendekap jiwa gue sewaktu duduk di samping blender dan fokus mendengarnya.

Inti dari paragraf kedua: Robby orangnya nggak neko-neko. Denger bising blender aja hati langsung tenang.

Nah, untuk itu keluarga gue sangat menjaga satu sama lain biar nggak kena demam berdarah. Nggak cuma keluarga gue, lingkungan sekitar rumah pun sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Untuk itu diadakanlah fogging. Walaupun sejak kecil gue nggak pernah percaya setelah di-fogging nyamuk demam berdarah langsung mati. Yang ada malah kecoa keluar sarang, kemudian terbang... masuk ke dalam baju. Horor.


Sabtu jam 9 gue udah baca-baca buku, kemudian gue iseng ngecek hape. Siapa tau ada info dari teman gue tentang suatu hal. Ternyata nggak ada notifikasi muncul, lalu gue tidur lagi. Padahal nanti jam 11 gue harus les. Di tengah mimpi, gue bangun karena suara Bapak. "Bi, mau les nggak? Udah mau jam 11," katanya. Gue mencet tombol on di hape, melihat jam. Masih setengah 10.

Ternyata gue dibohongin. Gue tidur lagi.

Nggak lama kemudian, gue dibangunin Mama. "Robby, bangun! Buruan. Mau ada semprotan nyamuk," kata mama gue yang maksudnya; bakal ada fogging.
Gue kembali buka hape, kemudian ke Opera Mini untuk download lagu. Tetangga kanan-kiri udah teriak-teriak ngingetin bakal ada fogging. Gue masih santai-santai di kasur sambil nyari lagu yang layak gue download.

Gue keluar rumah ngeliat udah banyak orang yang siap-siap nutup mulut dan hidung. Gue masih santai aja sambil ngucek-ngucek mata. Mumpung fogging belum dimulai, mending gue mandi dulu deh. Abis itu berangkat les, batin gue. Gue langsung pergi ke sumur untuk mandi. Ini istimewanya tinggal di mes gue. Airnya masih bersumber dari sumur. Asli. Tapi, istimewanya lagi, tinggal di mes gue berarti... mandi di kamar mandi yang terpisah dari rumah. Ibarat kos-kosan, ini kamar mandinya di luar, bukan kamar mandi dalam.

Dengan gembira gue keramas pake sampo mama gue (ini nggak penting....). Dari dalam kamar mandi, gue mendengar suara deru yang bising. Bukan, itu bukan suara blender. Suaranya itu....

NGUUUUUUUNNNNGGGG

Buldoser siap menghancurkan kamar mandi. Ya nggak gitu! Itu suara mesin fogging yang suaranya... makin deket. Makin deket. Sampe gue sadar... gue belum sabunan. Geblek! Gimana ini, belum sabunan tapi mesin fogging udah makin deket. Bisa-bisa  gue kena semprot, soalnya setiap kamar yang ada di mes harus disemprot. Kalo kamar mandi di semprot, otomatis gue kena juga. Asal jangan didobrak aja pintunya. Bisa-bisa orang yang nyemprot langsung gue sembur.

============================
Memasuki area dengan paling banyak memanjatkan doa untuk Robby
============================

Dengan cekatan, gue langsung sabunan. Selesai sabunan, dengan ini gue menyatakan gue selesai mandi. Tapi air masih nyisa, sayang kalo dibuang. Nimba airnya capek. Kemudian gue melihat paku tempat mencanteli celana. Aha! Kayaknya masih ada waktu... buat nyuci kancut. Langsung aja gue sambar kancut itu dan mencucinya. Gerakan kilat gue lakukan dalam mengucek kancut.
Tapi suara mesin fogging makin kenceng. Waduh, bisa mati di kamar mandi gue. Gue liat ke belakang, ah, untung bukan di belakang gue mesin foggingnya. Ya udah, gue ngelanjutin nyuci kancut.


Suara mesin fogging semakin jelas terdengar. Suaranya kayak cuma terbatas beberapa meter. Bener aja lho, mesin fogging itu udah ada di depan kamar mandi. Kemudian asap mulai masuk lewat celah-celah kamar mandi.

AH, TIDAAAAAAK! DI SINI MASIH ADA ORANG. KENAPA DISEMPROT?!

Gue panik. Nggak mau kisah pagi yang damai ini dijadikan buku cerita bersejarah (cukup jadi cerita di blog aja. Hehehe). Apalagi buku cerita untuk anak-anak. Jangan sampe.
Gue buru-buru keluar kamar mandi, menerobos kepulan asap dengan bertelanjang dada. Orang-orang yang ngeliat gue tetep stay cool, karena nggak perlu refleks nutup mulut dan hidung. Karena mereka memang dalam keadaan nutup mulut dan hidung. Paling cuma ngebatin,"Anak siapa itu?"

Gue bingung harus menyalahkan siapa dari kasus tadi pagi. Seandainya ada interogasi kepada pihak-pihak yang membuat gue hampir keabisan napas di kamar mandi, inilah pihak yang patut diajukan pertanyaan:

1. Hape
Dengan tuduhan membuat Robby terbuai dan males mandi.
2. Kancut
Seandainya nggak dicuci dulu, Robby bisa keluar kamar mandi lebih cepat.
3. Robby
Ya, untung aja masih selamat. Bebas deh, nggak jadi diinterogasi.

Kemudian gue sadar, kayaknya gue mandi jadi sia-sia deh. Malah bau bensin jadinya. Tapi nggak papa deh, yang penting nggak digigit nyamuk dan disamperin kecoa.
Read More »

thumbnail-cadangan
Di podcast episode 2 ini gue akan membahas sesuatu yang membuat gue takut. Daripada mengganggu pikiran, maka gue harus ngomongin hal ini.

Apa yang gue bahas di podcast ini:

1. Tentang bunuh diri.
2. Tentang tinggal kelas.

Ya, kedua hal itu emang gue takuti.

Durasi podcast gue kali ini adalah 28 menit. Sesuai dengan perkataan gue di podcast sebelumnya, gue akan membuat podcast lebih dari 10 menit (ini bertolak belakang dengan podcast gue di Soundcloud). Mumpung Mixcloud ngasih kebebasan upload, jadilah gue bikin dengan durasi segitu lamanya. Hahaha, semoga nggak bosen deh




Kalo nggak bisa di-play, klik di sini.
Read More »

Ada yang pergi ke acara Pameran Florina di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat? Tanggal 8 Mei kemarin, gue pergi ke sana bareng temen-temen KIR. Gue, Ipul (kelas 11), Dian, Iis, dan Pristi (kelas 10) ke sana naik Transjakarta dari halte Rawa Buaya. Sebenernya, gue nggak punya niat dari jauh-jauh hari pergi ke sana. Daripada gue bosen di rumah kemudian tidur-tiduran, mending pergi aja. 

By the way, ada yang tau apa itu Pameran Florina? Kalo ada yang nggak tau, itu adalah acara pameran flora dan fauna (tapi lebih banyak ke flora). Begitu gue jelasin ke Mama sepulang dari acara itu, Mama nanya ke gue. "Berarti ada macan juga dong di sana?"

"Ya... nggak macan juga, Ma."

Nah, daripada salah persepsi, mending sekalian gue jelasin. Tapi nanti, setelah rentetan malapetaka yang gue hadapi di Transjakarta.

Janjian jam 7 pagi, kami baru berangkat jam 8. Yap, ini semua karena budaya ngaret dari temen-temen KIR. Sambil nunggu bus yang mengangkut, gue tanya ke Ipul. "Pul, lu tau nggak Lapangan Banteng itu di mana?" Jujur aja gue nanya begitu karena nggak tau. 
"Nggak." Ipul menggeleng, kemudian cengengesan, "Gue nggak tau."

Ini maksudnya apa? Gue cuma diajak Ipul, tapi dia malah nggak tau jalan.

Kemudian dengan menggunakan sumber pencerahan yang mendunia (baca: buka Google), langkah kami mulai terarah. Bus tujuan Harmoni mengangkut kami berlima. Udah pasti, nggak dapet tempat duduk. Yang penting dapet tempat pegangan deh.

Tinggal beberapa halte lagi menuju Harmoni, gue nanya ke Ipul. "Abis itu transit ke mana?" Ipul menjawab, "Nggak tau. Coba deh ke Sawah Besar." Bener aja, lho, setelah turun dari Harmoni kami langsung ke Sawah Besar. Sampai di Sawah Besar kami nggak tau tujuan selanjutnya. Adik-adik kelas 10 udah nanyain, "Kak, ini ke mana lagi, kak." Harusnya gue jawab, "Saya juga nggak tau, Dek," dengan tatapan penuh kehangatan selayaknya kakak kelas yang bijak.

"Pak, kalo mau ke Lapangan Banteng ke mana, ya?" tanya Ipul ke petugas Transjakarta.
"Dari sini naik ke Harmoni, terus naik yang ke arah Pasar Baru."
"Lah, katanya di Sawah Besar?"
"Bukan. Dari dulu, sih, Lapangan Banteng adanya di Pasar Baru," ujar petugas itu. Umurnya sekitar 40-an tahun. Kayaknya dia bukan orang baru di Jakarta. 

Tunggu,... itu artinya, kita... harus... balik... lagi... ke... Harmoni. Padahal, seperti yang kita semua ketahui, halte Harmoni ke Sawah Besar cuma sebelahan. Ini ada halte Harmoni, nah, selanjutnya halte Sawah Besar (kalau yang menuju Kota). Terkutuklah informasi yang Ipul dapatkan. Kayaknya kita semua tau harus mukul kepala siapa.

Kembali ke Harmoni, halte yang penuh dengan manusia-manusia transit. Bagi pengguna setia Transjakarta mungkin udah biasa dengan ramenya halte Harmoni. Sambil berjalan menuju tempat pemberhentian bus yang menuju Pasar Baru, Ipul menarik tangan gue. "ROBBY! BURUAN SINI!
"Apaan, sih?" tanya gue. 
"LU HARUS LIAT ORANG YANG PAKE BAJU UNGU."
"Mana?" mata gue mencari-cari orang berbaju ungu. Nihil. "Mana, sih?"
"Itu...," Ipul menarik tubuh gue, mengarahkan pandangan ke depan. Gue tetap belum menemukan orang yang Ipul maksud. Barulah beberapa saat kemudian gue melihat orang yang Ipul maksud. Orang itu pakai baju warna ungu dengan strip hitam horizontal. Rambutnya terurai, sangat lurus dan lembut. Mirip kayak iklan shampoo pantene.
"Oh, iya. Gue liat. Emang kenapa dia?"
"Tunggu dia balik badan."
Bener aja, nggak lama kemudian orang yang lagi kita intai menoleh ke belakang. Dan gue mendapatkan suatu kenyataan buruk... MUKA ORANG ITU KEBANYAKAN KUMIS. Gila, men. Dari belakang emang oke, cewek banget, dan pasti cantik kalo menoleh. Eh, ternyata dari depan kayak sopir kopaja. Nggak matching banget, lho. Dari tadi tangannya itu ngebenerin rambut ke kuping mulu. Makanya gue kira dia cewek.

Ekspektasi: ngeliat cewek mirip model iklan shampoo. 
Realita: yah, gitu ternyata. Kayak model iklan shampoo motor. Berperan sebagai shockbreaker. Tapi, Ipul emang bener-bener "shock".

"ANJIR, INI MIMPI BURUK!" seru Ipul ke gue. "Tadi gue berdiri deket dia di dalem."
"Iya, gue juga takut. Kumisnya nggak nahan," kata gue menahan tawa, "padahal dadanya kayak cewek, lho."

Hanya dari kesimpulan sendiri, mungkin ini hadiah bagi Ipul yang nyasar-nyasarin kita ke Sawah Besar.

Ternyata, kita sebus lagi dengan orang itu. Ipul bener-bener mau ketawa terus. Gue, yang ikut-ikutan ngeliat cowok itu, terpaksa harus nahan ketawa. Agak ngeri sebenernya. Sedikit aja nyebut identitas orang itu, kita berdua bisa ditonjokin sama orang itu. Siapa tau, di balik lembutnya rambut dia tersimpan sangarnya urat leher. 


Bus yang kita tumpangi aman-aman aja. Sampai sana gue udah ngebayangin, "Wah, gue nggak sabar mau ketemu ciptaan Allah yang lain. Bosen tiap di rumah ketemunya ciptaan manusia terus -handphone, laptop, TV."

Bus tiba-tiba berhenti. Kemudian timbul suara seperti tumbukan antara besi dengan besi yang lain. JEDEEEEEG. Pelan-pelan bus kami mengeluarkan asap di belakang. Untugnya asap keluar di luar bus. Tapi, asap makin ngebul. Semua penumpang panik termasuk gue. Mereka berhamburan menuju pintu. Gue nggak kalah heboh, ikut-ikutan lari. Gue berusaha nyelip biar cepet-cepet keluar bus. Teriakan seperti "BUKA PINTUNYA!", "BURUAAAN BUKAA!", "AAAAKKKK... GAMAAAAL" (lho, ini fans GAC malah di sini). Sedangkan gue cuma mengucapkan kalimat-kalimat tauhid. Sekalian, siapa tau bisa menghapus dosa-dosa yang pernah ada.

Untungnya bus nggak sampe meledak. Lalu, teori-teori sotoy gue menguap:
1. Bus akan meledak bila orang berbaju ungu cukur rambut.
2. Bus bisa kembali normal karena orang berbaju ungu telah menjadi penyelamat.

Iya, semua teori gue nggak ada landasan kuatnya. Kalo buat diikutkan ke lomba makalah, nggak akan menang. Paling langsung dibakar.

Kondisi setelah kepanikan terjadi di dalam bus.

Tempat duduk wanita pun sepi.

Lagi nunggu bus operan (nggak ada gue di situ)

Lama banget kita nunggu di bus yang hampir meledak itu. Gue kira, kita bakal ngelanjutin perjalanan pake bus ini. Tetapi, kita harus pindah ke bus selanjutnya. Perjalanan dilanjutkan dengan bus yang lain, berpisah dengan cowok baju ungu yang lebih dulu naik bus operan.

Nah, sesuai dengan janji gue di atas, bagaimana acara pameran tersebut? Jelas, seru. Bisa ngeliat tanaman-tanaman dan hewan yang nggak gue punya di rumah.






Tapi, nggak semua hewan ada. Paling cuma hewan-hewan ukuran kecil yang masuk di dalam sangkar ukuran burung, Misalnya, ada bayi buaya, iguana, ayam (tetangga gue pun punya), ular, dan lain-lain. Inget, macan nggak ada. Di bawah ini ada foto yang termasuk liar di pameran ini
Sedikit rapi. Tanamannya.
Yang paling gue suka, sih, tanaman di sini banyak banget. Gue kira, gue bakal bawa satu pohon ke rumah. "Biasanya yang namanya pameran ada gratis-gratisnya gitu," kata Ipul. Ternyata semua yang ada di sini dijual. Bahkan dia lebih parah lagi, ngarep dikasih durian merah gratis. Kan, rugi abangnya.

Tapi, mental perut gue yang gampang laper bener-bener disiksa. Gila, sepanjang gue jalan ada tukang kerak telor yang pengen gue samperin. Polanya selalu mirip:

Liat kanan kiri ada toko tanaman - jalan beberapa meter masih toko tanaman - tukang kerak telor. 


Karir gue dalam makan kerak telor bisa diitung jari. Cuma dua kali.

Yah, gitu aja jalan-jalan gue Minggu kemarin. Seru dan banyak ketawanya kalo diinget-inget lagi muka si cowok baju ungu.

Pulangnya, kami naik Trasnjakarta dari Pasar Baru. Berhubung halte Pasar Baru adalah halte tempat pemberhentian akhir, waktu kita naik kosong banget. Kami milih duduk di bangku paling belakang, biar nggak disuruh berdiri. Bisa duduk puas sampe halte tujuan.
Read More »

... adalah bicara dan bertingkah berlebihan. Semua orang setuju bila kerjaan mereka sangat menyenangkan; makan makanan enak dan gratis, dan jalan-jalan. Berkat acara yang gue tonton tadi pagi, gue jadi pengen nulis tentang host acara kuliner. Untung aja tadi pagi gue nggak nonton acara gosip, kan, bisa-bisa gue ngebahas kehidupan artis di blog ini. Bayangkan isi blog gue kayak gini:

"Hai sahabat-sahabat pembacaaaaaaaaaaa ('A'-nya wajib banyak. Biar lebay). Tahukah kalian, kini Zaskia Gotik menjadi duta pancasila. Sedangkan, Kiki Coboy Junior yang tiap minggunya minimal sekali membaca pancasila di sekolahnya tidak diangkat jadi duta pancasila. Di mana keadilan bernegaraaaaah? Simak liputan selanjutnya."

Sampah.

Di acara kuliner yang gue tonton, si host berada di sebuah kafe bilangan Jakarta, entah di mana tepatnya. Si host, bareng temennya, buru-buru mencicipi es krim yang pelayan sediakan. Dia sok-sokan mengajak pemirsa. "Yuk pemirsa. Kita coba es krimnya." Kemudian, si host mengeluarkan suara sangat nggak penting saat makanan masuk mulut. "AAAAMMMMMM."

Stop. Kemudian kita telaah. Sebagai pemerhati gerak bibir, gue menduga... si host nggak baca doa. Mampus. Es krim lu nggak berkah!

Setelah menciduk dengan sendok beberapa kali, host beralih pada topping di es krimnya. "Pemirsa, kita coba topping coklatnya yuk." Mengikuti perintah si host, pandangan gue beralih ke piring yang ada di hadapan. "Di sini nggak ada coklat. Gue lagi makan daging. Ini alot, lho!"

Es krim beserta butir coklat masuk ke mulut si host. Lagi-lagi, dengan eskpresi yang bener-bener nggak penting setelahnya; kipas-kipas ke mata pake tangan, sambil nunjukin muka kayak kucing minta kawin. Pokoknya, mukanya itu kayak abis mencapai kenikmatan tiada tara. Sedangkan gue, masih dalam rangka menggigit daging yang alot, terpaksa ikut-ikutan masang muka kayak host. "Hmmmpphhh... ALOT! AAAAHHH, MERDEKA ATAU MATI!"

Si host langsung memberi komentar pada suapan terakhirnya. Dia bilang ke temannya, "Eh, ini, ya..., euuummmm... coklatnya meledak di mulut. Enak banget!” Gue langsung mikir, "Jangan. Jangan sampe gue dibohongin sama si host. Di mana-mana coklat itu lumer, bukan meledak. Acara apa ini?! Penuh pendustaan!" Temannya yang penasaran, buru-buru nyendok es krim dan coklat. "Uhhh... iya. Meledak di mulut. Hihihi," kata teman si host sambil menutup mulutnya.

Gue langsung berpendapat: "Kalo emang berniat soft selling, ya, lu cukup bilang lumer dan meleleh kita semua percaya, kok. Kalo emang meledak, gue malah jadi nggak percaya." Atau, gue nggak tau yang sebenarnya terjadi. Siapa tau kejadian sesungguhnya adalah memang ada ledakan di mulut si host dan temannya. Jadi, waktu bulir coklatnya dikunyah, BOOM. Mulutnya ilang. Coklat itu isinya dinamit. Hahahaha, gue jadi inget sesuatu.

Sumber di sini

Kalo ternyata kata "meledak" menjadi mesin penggerak penjualan, gue akan memakainya di restoran gue kelak. Nanti gue akan menambah divisi pada karyawan. Nama bagian itu adalah: divisi peledak.

Kerjanya gampang. Kalo ada pengunjug lagi makan, seseorang dari divisi peledak akan bekerja sesuai tugasnya yang khusus. Gue akan membuat tingkatan “meledaknya”.

1. Meledak dalam artian sesungguhnya
Misalnya, ada konsumen duduk di meja. Dari divisi peledak udah menyiapkan bom tempel di bawah meja jauh dua hari sebelumnya. Bahkan harus dilakukan gladiresik enam kali. Ketika makanan sampai di meja, pelayan berucap, “Selamat menikmati” kemudian pelayan berlari.

BOOM! Meja itu meledak. Itulah kalimat perpisahan dari seorang pelayan. Tabur bunga.


2. Meledak emosinya
Untuk mendapatkan pekerja sepeti ini, sangatlah susah. Pertama, kami (selaku menajamen) harus mengimpor langsung dari tempat-tempat berbahaya. Kami rela blusukan ke pasar-pasar, Indomaret, stasiun, dan terminal. Karena, orang yang kami cari adalah... preman. Ya, dengan ini konsumen akan bergidik ngeri bila melihat pegawai kami.

Pegawai yang bekerja di divisi ini akan ditempatkan di masing-masing meja, berdiri di belakang kursi. Jika konsumen melakukan kesalahan, seperti mengeluarkan dahak di tempat, pegawai langsung menempeleng konsumen. Atau, ini yang akan dilakukan sang pegawai...

Suplex

3. Meledak emosi konsumen
Sedangkan ini, pegawailah yang membuat konsumen meledak emosinya. Kami sengaja untuk mengetes keimanan dan kesabaran para konsumen, khususnya pada bulan Ramadan. Bila ada seorang konsumen makan di tengah hari bolong, pegawai kami akan melayani dengan seburuk-buruknya. Misalnya, menyajikan makanan dari penggorengan langsung. Kalau kurang, si pegawai akan menumpahkan minyak sayur ke muka konsumen. Tenang, pegawai di divisi ini udah siap mati bonyok, kok. Udah terasuransi dan kehidupan keluarganya terjamin... menjadi salahsatu pegawai di restoran gue. Tujuh turunan keluarganya mati di tangan pengunjung.

Jangan lupa, minta cuciin penggorengan sekalian. Niscaya para pengunjung langsung emosi.


4. Meledak meledek
Lho, bingung, ya? Sesuai dengan namanya, pegawai ini akan meledek para pengunjung yang sedang makan. Sama seperti pegawai tipe nomor 2, orang ini akan tetap memberi kejutan di belakang pengunjung.

“Mbak, mbak. Tebak, saya ini cowok atau cewek?” tanya pegawai pada konsumen.
“Dari penampilan fisik..., cowok, Mas.”
“Huuuh, salah,” pegawai melepas bajunya, “dari penampilan dalam..., saya cewek, Mbak. Saya pake beha, nih,” dengan tangkai manggis menyembul dari sela-sela beha.

Eh, maap. Selera humor gue kenapa jadi begini? Tolonglah. Jorok banget, ya. :(

Sampe lupa kalo gue lagi pengen bahas tentang host acara kuliner, bukan pegawai-pegawai khayalan gue.

Sampai kapan pun, kayaknya gue nggak akan pernah jadi host atau pengkritisi kuliner. Gue kalo dikasih makanan apa pun, pasti dimakan dan bakal bilang enak-enak aja. Asalkan halal. Kayak kukis kokola. Tau, kan, siapa yang ngiklanin.


MAMAH TAU SENDIRI!

Misalnya, dulu Mama gue pernah masak nasi (setiap hari juga masak kali!). Pas banget gue lagi laper-lapernya, gue ciduk nasi dan ditaro di atas piring. Begitu nasi masuk mulut, kedengaran suara berisik di mulut gue. Padahal gue nggak makan pake kerupuk, batin gue.
Nggak lama kemudian, Mama gue ikut makan bareng gue. Dia nanya, “Nasinya enak nggak, Bi?” gue jawab, “Enak.” Mama gue buka magic com, kemudian nanya, “Tadi kamu makan nasi ini?”
“Iya, Ma,” kata gue ngelanjutin makan.
"Ini setengahnya masih beras, lho."
Gue berhenti ngunyah. Pantes keras.

Nggak cuma di situ aja. Pernah sekali dan nggak bakal mau gue ulang kembali, gue makan sayur (sayur apa gue lupa). Selesai gue makan, Mama gue nyodorin hidung ke mangkok berisi sayur yang barusan gue makan. “Bi, tadi makan sayur ini?”
“Iya, Ma.”
“INI UDAH BASI SAYURNYA.”

Gue diem. Menyesali semuanya. “Pantes rada asem. Kirain itu efek jeruk nipis.” Harusnya di saat seperti ini gue buru-buru mencet belakang leher sambil kipas-kipas mata.

Nah, makanya, gue gampang banget dipuasi oleh rasa nafsu perut, sampe rasa makanan aja gue nggak ngerti. Bahkan yang paling buruk sekali pun, gue nggak bisa bedain mana makanan basi dan layak. Gue merasa cocok-cocok aja kalo ada makanan. Kalo lagi laper, langsung samber. Urusan rasa, udah nggak peduli lagi.

Satu lagi yang paling penting bagi host acara kuliner adalah pandai berekspresi. Kita mungkin bisa nggak percaya dengan perkataan “enak” dari host, tapi muka-si-tukang-makan bisa bikin kita kepengen nyicip. Karena kita, cenderung lebih percaya pada apa yang kita lihat, bukan apa yang kita dengar. Halah, sok-sokan nge-quote.

Kondisi perut juga sangat penting. Sebelum makan, para host itu, mungkin, ngabisin waktu berjam-jam di toilet. Dalam benak mereka, “Perut gue harus kosong. Selamat datang makanan enak.”

Oke, sekian pengamatan gue tentang host acara kuliner. Nggak sepenuhnya, sih, tapi lumayanlah. Membuka pengetahuan... kalo gue bener-bener cowok yang doyan nonton TV. Dulu nonton Katakan Putus. Sekarang nonton acara kuliner. Besok apa lagi? Ada saran? Iklan panci happycall kayaknya seru buat dibahas.
Read More »

thumbnail-cadangan
Libur empat hari, ya. Hmmm... paling enak, ya, cuma tidur seharian. Itung-itung nebus kekurangan tidur yang kemarin-kemarin buat ngerjain tugas sampe tengah malem. Mungkin nggak cuma gue yang kayak gitu. Temen-temen gue yang kurang tidur pasti melakukan hal yang sama.

Walaupun sebenernya, gue bisa nebus kekurangan tidur di sekolah. Manfaatin waktu kosong di sekolah dengan tidur adalah cara paling damai daripada melakukan pelecehan seksual di kelas. Padahal ada lagi kegiatan yang bermanfaat selain tidur. Bisa aja belajar di kelompok. Atau bersih-bersih masjid.

Ngomong-ngomong soal masjid, kayaknya gue dosa banget, jadiin masjid sebagai kamar tidur di sekolah. Ya, abis mau gimana lagi, di sana adem. Hawanya sejuk. Itu semua karena gue tidur di bawah kipas.

Udah jadi jadwal rutin gue tidur di masjid setiap setelah Asar. Pokoknya selesai solat Asar gue langsung selonjoran di barisan belakang, kemudian tidur. Hidup damai sentosa. Sejam kemudian bangun langsung ke tempat les yang jaraknya nggak jauh dari sekolah. Kalo lagi nggak les, gue langsung pulang. Tetep tidur, tapi di angkot.

Beberapa hari yang lalu, gue bener-bener merasa nggak ngerti apa yang terjadi pada kepala gue. Segala sesuatu yang harusnya gue lakukan, tiba-tiba aja gue menolak. Dikasih soal Matematika di kelas, pengen banget ngerjain, tiba-tiba langsung males. Praktek Kimia juga begitu. Gue ogah-ogahan, padahal cuma ngambil peralatan. Mana sampe malem gue harus tetep aktivitas—yang disambung les, gue bener-bener nggak ngerti dengan apa yang gue rasa.

Akhirnya, gue berusaha menciptakan solusi. Seperti biasa, setelah solat Asar gue tidur. Sialnya, kejadian yang sama sejak tadi pagi masih terulang. “Kok gue males banget buat tidur ya?” Gue berusaha mencoba tidur, membayangkan hal-hal indah (yang konon bisa jadi obat pengantar tidur buat gue). Sukses. Gue bisa tidur satu jam.

Begitu bangun, gue melihat jam menunjukkan pukul 4.30. Gue harus bangun dan berangkat ke tempat les. Di dalem masjid cuma ada gue dan seorang guru lagi nyender di tembok. Sebelum berangkat, gue ke tempat wudu buat cuci muka, kemudian gue ngambil tas. Guru yang tadi, udah ada di deket pintu mau keluar masjid. Gue langsung nyusul guru itu keluar. Sebagai murid teladan, gue mencium tangan bapak itu.

“Tidurnya nyenyak ya,” ujar bapak itu.

Gue terperangah. Bingung mau ngebela diri kayak gimana. Gue jawab sekenanya. “Iya, Pak. Capek banget saya.”

Untung bapak itu nggak munculin respon marah. Dia santai-santai aja. Soalnya, dia itu guru Ekonomi gue. Guru yang menurut gue paling santai. Bahkan, kalo nggak salah, gue pernah tidur di kelasnya dia. Kata dia, “Udah. Lanjutin aja tidurnya. Bapak ngerti kok kamu semua capek.”

Sangat guru idaman.

Untungnya, gue berhadapan dengan guru yang santai. Beda dengan Fachri yang harus berhadapan dengan wali kelas. Oh iya, ngomong-ngomong ada yang inget siapa itu Fachri? Dia adalah jelmaan HOS Cokroaminoto di kuis kelas Sejarah. Baca ceritanya di sini: Cerita Jumat Budek dan Kuis Menegangkan

Waktu itu lagi pelajaran Bahasa Indonesia. Guru gue yang sekaligus wali kelas duduk di barisan belakang. Gue dan Fachri duduk sebelahan di barisan depan, dekat meja guru. Ada presentasi materi dari temen-temen gue. Suasana kelas bener-bener ngebosenin.

Merasa udah menguasai pelajaran, kita berdua nyantai nggak merhatiin orang di depan. Gue baca ebook di handphone sedangkan Fachri tidur. Keasyikan dengan kegiatan kami masing-masing, kami lupa diri. Guru gue beranjak dari kursi, menanyakan siapa yang punya spidol. Kemudian beliau menulis sesuatu di papan tulis. Mendengar langkah kakinya, gue langsung buru-buru matiin handphone. Sedangkan Fachri? Masih tidur.

“Itu siapa yang tidur?” kata guru gue. Perkataannya dimaksudkan buat Fachri yang anteng-anteng aja tidur. Gue buru-buru mengetuk pelan tangannya, berusaha membangunkan. Fachri bangun dengan keadaan kaget.

“Aduh, itu tidur. Kamu kenapa? Pusing?” pertanyaan guru gue bernada seperti menginterogasi maling ayam. Fachri tidak menjawab. Namun, ada cairan yang membasahi buku di atas mejanya. “Aduh, tidurnya ngiler lagi,” kata guru gue. Fachri kelagapan dan bilang, "Ah, sue. Nggak ada yang bangunin."

Yap, maafkan sifat ngantukan kami, Pak.

Antara beneran ngantuk atau doyan tidur.

Oke, segitu aja. Sekarang saatnya promosi. Gue kembali lagi bikin podcast. Tapi bedanya, gue pindah platform dari Soundcloud ke Mixcloud. Katanya kalo di Mixcloud bebas, unlimited pokoknya. Sekarang juga gue menambah durasi di podcast, nggak cuma kurang dari 10 menit.

Selamat menimati libur 4 hari. :)


Read More »

thumbnail-cadangan
(Tulisan di bawah akan menjadi post yang "nggak banget")

Tepat hari ini, 2 Mei 2016, kami sebagai pelaku pendidikan di Indonesia mengucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional. Semoga dengan pendidikan generasi penerus bangsa bisa melanjutkan cita-cita para pahlawan di masa lalu dan mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju. Minimal bisa ikut World Cup, deh.

Oke, cukup basa-basinya. Saya cukup pusing mikir dan memilih kata-kata yang tepat. Ini pun harus nyari refrensi dari pembina upacara tadi pagi.

Saya, selaku perwakilan siswa yang selalu membuang sampah pada tempatnya dan tidak suka menempel upil di bawah meja, ingin menyampaikan aspirasi dalam bentuk surat terbuka untuk aspek utama pelopor pembangunan bangsa, pilar penting pendidikan Indonesia, yaitu bapak/ibu guru di seluruh Indonesia.

Judulnya: "Aib di Antara Kita".

Ehm, izinkan saya memperkenalkan diri kembali. Karena ada pepatah Slovenia yang berbunyi, "Tak kenal maka tak sayang. Bila sudah kenal jangan langsung menggerayang." 
Saya Robby Haryanto, pelajar Jakarta yang paling berpresatsi dalam bidang mencemarkan nama baik sekolah. Saya cinta damai, anti narkoba, dan tidak suka makan beling. Saya menulis ini karena ada hasrat pribadi untuk mengungkapkan segala sesuatu dengan jujur dan terbuka. Percayalah, ini akan membuat bapak/ibu kaget dan seketika mengelus dada seraya menyebut doa-doa penenang.

Mari kita mulai.

Sadar atau tidak, kami selaku murid suka menjadikan segala tentangmu sebagai bahan guyonan, terutama kekuranganmu. Kebiasaan jelekmu saat mengajar, logat dan gaya berbicaramu yang aduhai, dan cara berjalanmu yang kadang lunglai, membuat kami puas tertawa saat jam istirahat atau waktu senggang sepulang sekolah. Tak jarang kami bisa sampai sakit perut karena mentertawakan kekurangan-kekuranganmu itu. Sungguh, kami tidak layak disebut sebagai siswa. 

Manusia memang tak pernah luput dari kesalahan. Begitu juga seorang guru yang yang perkataannya tidak selalu benar dan sempurna dalam penyampaiannya. Kadang, kesalahanmu berbicara sewaktu mengajar membuat kami terpingkal-pingkal. Di sela dirimu bicara, kami suka menceletukimu dengan sebutan-sebutan aneh. Si kumis tebel, Si celana melorot, Si penguin pidato. Ya, begitulah. Mungkin bisa lebih sadis lagi.

Lagi, kekuranganmu menjadi bahan candaan kami sampai sepulang sekolah. 

Tak ketinggalan, kelebihanmu kadang kami tertawakan bersama di tongkrongan. Cara mengajarmu yang kadang terlalu halus membuat kami kadang mempertanyakan kebenaranamu menjadi seorang guru. Bahkan, kami suka meninggikan derajat melebihimu. Bagi kami, Anda yang paling tepat di-bully daripada anak lelaki yang belum disunat di kelas 10. Saking rendahnya, kami tidak ingin mencium tanganmu saat bertemu di koridor sekolah, tapi tos-tosan ala anak tongkrongan futsal. Namun sejujurnya, bila cara mengajarmu berubah sungguh sangat menakutkan. Kami tak ingin bila bapak/ibu guru kehilangan cara mengajar yang lembut dan sabar.

Bila bapak/ibu menyuruh kami mengerjakan tugas, kami suka meminta keringanan. Sesungguhnya, itu berarti kami malas berhadapan dengan tugas yang Anda berikan. Kami cuma berharap agar terus tertunda, tertunda, tertunda, sampai akhirnya bapak/ibu bilang, "Ya udah. Nggak usah dikumpul. Nilai rapor semua aman."

Seisi kelas standing applause.

Ketika waktunya pengumpulan tugas, kami selalu punya dalih untuk tetap tidak mengumpulkan. Alasan ketinggalan mungkin sudah biasa bagimu, namun kami sebagai anak muda punya seribu alasan licik lainnya. Misalnya, dengan beralasan, "Tugas saya dimakan anjing sewaktu berangkat ke sekolah."

Mungkin naluri anak muda, kami akan sangat bahagia bila tak diawasi. Contoh nyatanya bila tak ada guru di dalam kelas. Apalagi jika saat itu tak ada guru yang mondar-mandir mengawasi. Kami akan sangat bahagia, Menonton film di laptop teman, menggendang-gendang meja, menyalakan jangwe di dalam kelas, merupakan bentuk perayaan kekosongan hadirmu.

Padahal kau sedang berbaring di rumah sakit, dalam waktu yang lama. Sakit cukup parah.

Sungguh, kami tak layak disebut sebagai generasi penerus bangsa.

Demikian sekelumit aib yang kami lakukan di belakangmu. Semoga bapak/ibu guru tetap bertahan dan ikhlas mengajar kami yang nakal tak tertolong Kak Seto. Kami mohon maaf atas semua kesalahan.

Selamat Hari Pendidikan Nasional.

Dari siswa paling gembel,

Robby Haryanto.
Read More »