Jalan-jalan ke Pameran Florina

Ada yang pergi ke acara Pameran Florina di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat? Tanggal 8 Mei kemarin, gue pergi ke sana bareng temen-temen KIR. Gue, Ipul (kelas 11), Dian, Iis, dan Pristi (kelas 10) ke sana naik Transjakarta dari halte Rawa Buaya. Sebenernya, gue nggak punya niat dari jauh-jauh hari pergi ke sana. Daripada gue bosen di rumah kemudian tidur-tiduran, mending pergi aja. 

By the way, ada yang tau apa itu Pameran Florina? Kalo ada yang nggak tau, itu adalah acara pameran flora dan fauna (tapi lebih banyak ke flora). Begitu gue jelasin ke Mama sepulang dari acara itu, Mama nanya ke gue. "Berarti ada macan juga dong di sana?"

"Ya... nggak macan juga, Ma."

Nah, daripada salah persepsi, mending sekalian gue jelasin. Tapi nanti, setelah rentetan malapetaka yang gue hadapi di Transjakarta.

Janjian jam 7 pagi, kami baru berangkat jam 8. Yap, ini semua karena budaya ngaret dari temen-temen KIR. Sambil nunggu bus yang mengangkut, gue tanya ke Ipul. "Pul, lu tau nggak Lapangan Banteng itu di mana?" Jujur aja gue nanya begitu karena nggak tau. 
"Nggak." Ipul menggeleng, kemudian cengengesan, "Gue nggak tau."

Ini maksudnya apa? Gue cuma diajak Ipul, tapi dia malah nggak tau jalan.

Kemudian dengan menggunakan sumber pencerahan yang mendunia (baca: buka Google), langkah kami mulai terarah. Bus tujuan Harmoni mengangkut kami berlima. Udah pasti, nggak dapet tempat duduk. Yang penting dapet tempat pegangan deh.

Tinggal beberapa halte lagi menuju Harmoni, gue nanya ke Ipul. "Abis itu transit ke mana?" Ipul menjawab, "Nggak tau. Coba deh ke Sawah Besar." Bener aja, lho, setelah turun dari Harmoni kami langsung ke Sawah Besar. Sampai di Sawah Besar kami nggak tau tujuan selanjutnya. Adik-adik kelas 10 udah nanyain, "Kak, ini ke mana lagi, kak." Harusnya gue jawab, "Saya juga nggak tau, Dek," dengan tatapan penuh kehangatan selayaknya kakak kelas yang bijak.

"Pak, kalo mau ke Lapangan Banteng ke mana, ya?" tanya Ipul ke petugas Transjakarta.
"Dari sini naik ke Harmoni, terus naik yang ke arah Pasar Baru."
"Lah, katanya di Sawah Besar?"
"Bukan. Dari dulu, sih, Lapangan Banteng adanya di Pasar Baru," ujar petugas itu. Umurnya sekitar 40-an tahun. Kayaknya dia bukan orang baru di Jakarta. 

Tunggu,... itu artinya, kita... harus... balik... lagi... ke... Harmoni. Padahal, seperti yang kita semua ketahui, halte Harmoni ke Sawah Besar cuma sebelahan. Ini ada halte Harmoni, nah, selanjutnya halte Sawah Besar (kalau yang menuju Kota). Terkutuklah informasi yang Ipul dapatkan. Kayaknya kita semua tau harus mukul kepala siapa.

Kembali ke Harmoni, halte yang penuh dengan manusia-manusia transit. Bagi pengguna setia Transjakarta mungkin udah biasa dengan ramenya halte Harmoni. Sambil berjalan menuju tempat pemberhentian bus yang menuju Pasar Baru, Ipul menarik tangan gue. "ROBBY! BURUAN SINI!
"Apaan, sih?" tanya gue. 
"LU HARUS LIAT ORANG YANG PAKE BAJU UNGU."
"Mana?" mata gue mencari-cari orang berbaju ungu. Nihil. "Mana, sih?"
"Itu...," Ipul menarik tubuh gue, mengarahkan pandangan ke depan. Gue tetap belum menemukan orang yang Ipul maksud. Barulah beberapa saat kemudian gue melihat orang yang Ipul maksud. Orang itu pakai baju warna ungu dengan strip hitam horizontal. Rambutnya terurai, sangat lurus dan lembut. Mirip kayak iklan shampoo pantene.
"Oh, iya. Gue liat. Emang kenapa dia?"
"Tunggu dia balik badan."
Bener aja, nggak lama kemudian orang yang lagi kita intai menoleh ke belakang. Dan gue mendapatkan suatu kenyataan buruk... MUKA ORANG ITU KEBANYAKAN KUMIS. Gila, men. Dari belakang emang oke, cewek banget, dan pasti cantik kalo menoleh. Eh, ternyata dari depan kayak sopir kopaja. Nggak matching banget, lho. Dari tadi tangannya itu ngebenerin rambut ke kuping mulu. Makanya gue kira dia cewek.

Ekspektasi: ngeliat cewek mirip model iklan shampoo. 
Realita: yah, gitu ternyata. Kayak model iklan shampoo motor. Berperan sebagai shockbreaker. Tapi, Ipul emang bener-bener "shock".

"ANJIR, INI MIMPI BURUK!" seru Ipul ke gue. "Tadi gue berdiri deket dia di dalem."
"Iya, gue juga takut. Kumisnya nggak nahan," kata gue menahan tawa, "padahal dadanya kayak cewek, lho."

Hanya dari kesimpulan sendiri, mungkin ini hadiah bagi Ipul yang nyasar-nyasarin kita ke Sawah Besar.

Ternyata, kita sebus lagi dengan orang itu. Ipul bener-bener mau ketawa terus. Gue, yang ikut-ikutan ngeliat cowok itu, terpaksa harus nahan ketawa. Agak ngeri sebenernya. Sedikit aja nyebut identitas orang itu, kita berdua bisa ditonjokin sama orang itu. Siapa tau, di balik lembutnya rambut dia tersimpan sangarnya urat leher. 


Bus yang kita tumpangi aman-aman aja. Sampai sana gue udah ngebayangin, "Wah, gue nggak sabar mau ketemu ciptaan Allah yang lain. Bosen tiap di rumah ketemunya ciptaan manusia terus -handphone, laptop, TV."

Bus tiba-tiba berhenti. Kemudian timbul suara seperti tumbukan antara besi dengan besi yang lain. JEDEEEEEG. Pelan-pelan bus kami mengeluarkan asap di belakang. Untugnya asap keluar di luar bus. Tapi, asap makin ngebul. Semua penumpang panik termasuk gue. Mereka berhamburan menuju pintu. Gue nggak kalah heboh, ikut-ikutan lari. Gue berusaha nyelip biar cepet-cepet keluar bus. Teriakan seperti "BUKA PINTUNYA!", "BURUAAAN BUKAA!", "AAAAKKKK... GAMAAAAL" (lho, ini fans GAC malah di sini). Sedangkan gue cuma mengucapkan kalimat-kalimat tauhid. Sekalian, siapa tau bisa menghapus dosa-dosa yang pernah ada.

Untungnya bus nggak sampe meledak. Lalu, teori-teori sotoy gue menguap:
1. Bus akan meledak bila orang berbaju ungu cukur rambut.
2. Bus bisa kembali normal karena orang berbaju ungu telah menjadi penyelamat.

Iya, semua teori gue nggak ada landasan kuatnya. Kalo buat diikutkan ke lomba makalah, nggak akan menang. Paling langsung dibakar.

Kondisi setelah kepanikan terjadi di dalam bus.

Tempat duduk wanita pun sepi.

Lagi nunggu bus operan (nggak ada gue di situ)

Lama banget kita nunggu di bus yang hampir meledak itu. Gue kira, kita bakal ngelanjutin perjalanan pake bus ini. Tetapi, kita harus pindah ke bus selanjutnya. Perjalanan dilanjutkan dengan bus yang lain, berpisah dengan cowok baju ungu yang lebih dulu naik bus operan.

Nah, sesuai dengan janji gue di atas, bagaimana acara pameran tersebut? Jelas, seru. Bisa ngeliat tanaman-tanaman dan hewan yang nggak gue punya di rumah.






Tapi, nggak semua hewan ada. Paling cuma hewan-hewan ukuran kecil yang masuk di dalam sangkar ukuran burung, Misalnya, ada bayi buaya, iguana, ayam (tetangga gue pun punya), ular, dan lain-lain. Inget, macan nggak ada. Di bawah ini ada foto yang termasuk liar di pameran ini
Sedikit rapi. Tanamannya.
Yang paling gue suka, sih, tanaman di sini banyak banget. Gue kira, gue bakal bawa satu pohon ke rumah. "Biasanya yang namanya pameran ada gratis-gratisnya gitu," kata Ipul. Ternyata semua yang ada di sini dijual. Bahkan dia lebih parah lagi, ngarep dikasih durian merah gratis. Kan, rugi abangnya.

Tapi, mental perut gue yang gampang laper bener-bener disiksa. Gila, sepanjang gue jalan ada tukang kerak telor yang pengen gue samperin. Polanya selalu mirip:

Liat kanan kiri ada toko tanaman - jalan beberapa meter masih toko tanaman - tukang kerak telor. 


Karir gue dalam makan kerak telor bisa diitung jari. Cuma dua kali.

Yah, gitu aja jalan-jalan gue Minggu kemarin. Seru dan banyak ketawanya kalo diinget-inget lagi muka si cowok baju ungu.

Pulangnya, kami naik Trasnjakarta dari Pasar Baru. Berhubung halte Pasar Baru adalah halte tempat pemberhentian akhir, waktu kita naik kosong banget. Kami milih duduk di bangku paling belakang, biar nggak disuruh berdiri. Bisa duduk puas sampe halte tujuan.


12 komentar:

  1. Waa, pertama kali tau di jakarta halte sebelahan. Kalau di solo halte satu dengan lainnya udah nggak bisa dibilang sebelahan, meskipun deket.

    Terus, itu kenapa bisnya bisa berasap gitu?

    Buah-buahan disana nggak bisa dibawa pulang ya? nggak ada gratisan gitu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak sebelahan juga. Cuma deketan aja.

      Nggak tau. Mungkin busnya capke kali ya ehehe. Nggak ada gratisan. Mesti beli dulu. :(

      Delete
  2. Hahaha, ekspektasi lo dan Ipul biki ngakak. Apalagi pas si baju ungu balik ada efek slowmotion. Lalu ada hembusan angin. Ngeri abis.

    Gue ngga terlalu suka sama flora. Gue lebih tertarik sama Fauna, sering gue ikutin di Nat Geo Wild. Seru~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anjir, muak gue kalo ngebayangin lagi. Cukup sudah.

      Gak papa, yang penting cinta alam~

      Delete
  3. Lah bahaya. terus akhirya kenapa tuh TJ?

    Ya Allah, itu ngeri pasti manusia berbaju ungu nya. :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sampe sore tetep di situ aja. Nggak dipindahin atau dimusnahin sekalian.

      Ngeri. Banget.

      Delete
  4. wkwkwk gue malah gak tau ada pameran florina heehe
    btw, itu TJ kaco juga =.=

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya kurang diminati, jadi kurang meledak infonya. Hahaha, TJ ngaco parah. Merinding. :')

      Delete
  5. Robiihhh kek nya ga ada hari selain sering apes klo lu naek busway wkwkkk

    Odong juga wkwkkk, sawah besar ma pasar baru ituh jauhh ahaha..
    Klo dah nyampe sawah besar napa ngga sekalian mnuju kota tua apa mangga dua rob

    Wah ini nih uda ngetawain vowok berambut shampoo pantene berbaju ungu mangkenye ntu bus bertuah alias ngebul wkkkkk

    Segala ayam aja ada ya di dalem pameran , ayam apaan
    Biasanya mang tukang kerak telor mang mangkalnya berpola sih klo ada pameran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya kutukan setan busway keramas (sodaranya kuntilanak).

      Hahaha, kan tujuannya bukan ke situ. Kalo ke sono mah sekalian aja ke Glodok. Hahaha, searah nggak sih?

      Nggak tau nih. Lelaki pembawa sial featuring bocah-SMA-tukang-apes. Begitu jadinya.

      Delete
  6. Entah cuma perasaanku aja atau apa ya. Ini postingan ada pencitraannya gitu. Lagi pengen ngeliat ciptaan Allah karena bosen ngeliat ciptaan manusia lagi. Mengucapkan kalimat tauhid. Huahaha. :'D

    Macan yang Mama kamu tanyain itu mungkin maksudnya mamah cantik kali ya, Rob. Mama kamu nggak mau ada Mama lain yang bisa nyaingin beliau. *ini apa dah*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sssssttt... jangan begitu. Ini lagi membangun citra diri. :p

      Eh, bukan gitu kali maksudnya. Mamaku tak pernah berpikir bergitu

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.