Begitu tau ada tugas drama musikal gue langsung antusias. Saking antusiasnya, gue sampai meninju angin. Karena ini momennya bagus buat tampil, dan gue, selayaknya anak muda yang ngebet tampil, nggak akan menyia-nyiakan momen ini. Pembagian kelompok pun dilakukan. Beranggotakan 18 orang, gue tergabung di kelompok A. 18 orang lagi di kelompok B. Dua minggu setelahnya dilakukan pengundian giliran tampil. Kelompok A tampil kedua.

***

Oke, gue akan membawa kalian pada perjalanan dari kali pertama latihan hingga selesai penampilan. Dari Januari hingga 24 Maret 2016. Baca juga post dari teman gue, Wahyu: Sukses dengan 2 hari latihan. Bersyukurlah!

Januari
Hari Sabtu sepulang les, gue dan Giyats ke rumah Fellya (yang selanjutnya akan terus-terusan dijadiin tempat latihan). Rumahnya lumayan jauh. Beruntung kami punya petunjuk jalan sehingga kami nggak nyasar. Kalo nyasar, duh..., jadi makin panjang post gue.
Di sana udah ada teman-teman. Artinya, di hari pertama latihan aja gue udah telat. Di sana gue melihat ada seorang lelaki sedang beradu akting dengan teman-teman gue.

"Siapa dia?" batin gue.

Nggak lama, gue kebagian buat menjajal adu akting dengan lelaki itu. Gue dikasih selembar kertas yang isinya dialog. Emang dasarnya gue yang dodol, akting gue nggak ada bagus-bagusnya. Kalo gue ingat-ingat lagi, akting gue kalah bagus sama ibu-ibu yang suka gosip di tukang sayur. Jelas, mereka sangat ekspresif. Lelaki itu cuma ngetes akting buat pemetaan tokoh yang ceritanya nanti akan dia buat.

Pulangnya, seorang teman gue ulang tahun. Kami sekelompok ditraktir es krim. Gue milih es krim yang di atasnya ada rambut nenek berwarna jingga. Ada percakapan begini:

Muti: Ih, ada rambut nenek di es krimnya Robby
Giyats: Itu, mah, rambut neneknya Robby
Gue: (dengan muka murung) ... nenek gue udah meninggal.

Entah apa yang ada di pikiran mereka semua, tiba-tiba suasana langsung pecah. Mereka ketawa. Gue mau nangis. Hari pertama aja udah begini. Gue mulai mencium hal-hal buruk di latihan selanjutnya.

Belakangan gue mengetahui siapa lelaki itu. Dia adalah kakaknya Irma, teman sekelompok gue. Namanya Kak Hery. 

Akhir Januari ada satu kejadian yang paling membekas di benak gue. Gue jadi inget tentang trypophobia. Buat yang udah baca, pasti tau gimana menggelikannya gue saat itu. Kalo ada yang mau baca, silakan klik ini.

Februari
Bukan tanpa hambatan, di kelompok kami ada aja pergesekan antaranggota. Bukan, maksudnya bukan ada yang "saling gesek" di pojokan, tapi lebih pada miskom. Ada yang telat pulang, nggak ada tebengan, kesiangan, yang biasanya ditambah marah-marah antaranggota. Biasalah, semangat anak muda. Selalu mau menampilkan yang terbaik. Gue paham itu. Makanya, gue nggak mau berbuat kesalahan, atau paling nggak, meminimalisir kesalahan. 

Latihan juga udah mulai diadakan setiap weekend. Selalu, setelah pulang les gue dan Giyats ke rumah Fellya untuk latihan. Gue juga udah mulai mengenal Kak Hery. Dia suka share-share pengalaman berseni, khususnya teater. 

Suatu hari, di rumah Fellya belum ada orang. Cuma ada gue, Irma, dan Kak Hery di sana. Kami duduk di bangku semen, di bawah pohon. Irma pergi membeli makanan. "Saya pernah jadi pelatih teater di kampus. Waktu itu sempet ikut lomba, dan itu jadi juara satu," katanya. Wow, itu keren banget buat gue yang cuma pernah juara dua lomba menghias tempat sampah. Itu juga waktu kelas 10.

"Dari kecil saya udah seneng banget sama musik. Kenal musik itu nggak lama. Paling lama itu tiga hari saya udah menguasai." Lagi-lagi perkataannya membuat gue tercengang. Bukan menjadi benci, tapi dia malah membuat gue semangat berseni dan berkarya. Gue juga pernah menguasai alat musik dalam waktu seminggu. Panci bekas namanya. 

"Suka nulis, ya, Rob?" tanya dia.
"Iya, A."
"Nulis apa, tuh?" tanyanya lagi.
"Hmmm," gue menjeda perkataan, "nulis-nulis diari, atau kehidupan sehari-hari gitu, deh. Kadang juga cerpen."
Kak Hery mengangguk. "Saya juga seneng. Selama kita nulis, kita, tuh, dibebasin buat berekspresi. Tanpa beban. Damai. Kadang suka tertawa sendiri setelah menulis kemudian membaca hasil tulisan kita."
Gue tertawa kecil. "Iya, iya. Bener banget."

Baru kali ini gue menemui seseorang yang punya semangat berkarya dan berekspresi sedalam ini. Bisa dibilang, mulai hari itu gue menaruh rasa kagum pada Kak Hery. Dia inspiratif.

Seharusnya di akhir bulan ini kita udah tampil. Berhubung terpotong UTS dan kegiatan kelas 12, terpaksa harus ditunda sampai Maret. Oke, masih banyak waktu untuk dibenahi.

Maret
"Bulan ini harus tampil. Bukan sekadar tampil, tapi harus tampil yang terbaik." Kata-kata itu mulai tertanam di kepala gue. Setiap kali mau latihan, gue ingat beberapa hari lagi akan tampil. Setiap latihan, gue harus ada peningkatan. 

Lucunya, antara bulan Februari atau Maret, kelompok kami baru menemukan judul. The Kingdom dipilih menjadi judul drama kami. Menceritakan tentang kerajaan yang isinya hewan-hewan. Seorang raja Kerajaan Hutan Timur dikutuk menjadi mawar putih. Begitu juga sang Putri, yang berupa merpati, dikutuk penyihir tidak akan mendapat cintanya. Namun, sang Ksatria (yang juga merpati) dari Kerajaan Hutan Barat datang sesuai dengan seperti yang diramalkan untuk menjaga Putri. Penyihir akan musnah jika mawar putih menjadi merah.

Errr... kayaknya nggak harus diceritain, deh. Kalo ada waktu dan kuota, mungkin gue akan upload ke Youtube videonya.

Btw, gue memerankan apa di drama ini? Gue menjadi panglima... yang berupa monyet. Oke, semua jelas.

Dua minggu sebelum hari penampilan, Kak Hery mengusulkan membuat poster. Gila, segitu niatnya, batin gue. Kata Kak Hery, biar lebih banyak yang nonton. Hmmm... bener juga. Makin banyak yang nonton berarti makin rame. Oke, penjelasan yang nggak ngebantu.
Kemudian diadakan sesi pemotretan poster. Setelah pemotretan, poster jadinya begini:

Dibuat oleh Kak Hery alias Negu
Coba tebak gue ada di mana?
Di bawah ini merupakan foto pada sesi pemotretan.  
 
Lihat, betapa gagahnya.
Kemudian yang ini...
Cocok buat jadi kover majalah otomotif, dengan headline:
"Kini para montir berpakaian rapi"
Persiapkan kantong muntah.

SAKAU MYLANTA

H-3 penampilan, kami melakukan gladi resik, sekaligus latihan yang terakhir di rumah Fellya. Sedih rasanya. Banyak banget kegitan favorit yang bakal gue kangenin. Kegiatan paling favorit gue di tempat latihan adalah gelar karpet. Eh, bukan favorit juga sebenernya. Cuma, karena sering dilakuin makanya jadi favorit. Tidur di sofa sambil nunggu teman-teman istirahat juga sering gue lakukan. Ya, ini emang kegiatan yang nggak penting... tapi kenapa jadi favorit, ya?

"Ketika drama ini sudah selesai, pasti kalian akan merindukan setiap momen yang ada di sini," kata Kak Hery. Yak, jujur aja, sampai setelah penampilan pun gue masih rindu tempat itu. Bisa dibilang, rumah Fellya menjadi rumah gue di kala weekend. Saking seringnya ke sana.


Hari penampilan
Sampai akhirnya, waktu penampilan itu tiba. Deg-degan setengah hidup. Make up buru-buru karena susah banget merias wajah gue menjadi monyet. Sebenernya nggak usah make up pun gue udah terlihat "monyet". Agak canggung melihat mata penonton, terutama Bu Sihar, guru kami. 

Salah satu adegan gue
Muka gue gelap

Selama sekitar 75 menit kami bersandiwara di kelas. Setiap adegan dilakukan dengan mulus. Gue senang, dan teman-teman terlihat sama senangnya. Apalagi setelah mendengar "Catatan saya bersih" dari mulut Bu Sihar, membuat gue bersorak. Senang bukan main. Seperti berhasil melakukan sebuah misi rahasia dan mendapat bonus yang luar biasa. Tepuk tangan dan senyum penonton seolah membayar lunas semua kerja keras dan tetes keringat dari latihan kami. Bukan masalah masuk nilai rapor, ini lebih dari segalanya. Apresiasi yang membuat gue semakin percaya, sebuah karya nggak bisa dinilai demi nilai di rapor.

***

Bonus foto setelah tampil.

The Kingdom

Macan-macan itu akan mengupas kepala kalian! Rwaaarrr

Yak, kini kami menjadi artis kover majalah Hidayah, dengan headline:
"Berdarah-darah Akibat Menipu Badut Sulap"

Foto bareng tuan rumah.
Fellya dan Keset Kamar Mandi

The Kingdom bersama Bu Sihar

Bonus lagi:

Terjun dari lantai 3 akibat frustrasi remedial terus-menerus

Terakhir, terimakasih kepada:
- Allah SWT, yang telah melancarkan semuanya. Tanpa izin-NYA, penampilan kelompok A nggak bakal berjalan mulus.
- Orang tua para anggota. Ya, tanpa izin beliau latihan bakal terganggu.
- Teman-teman kelompok A. Selama 3 bulan gue belajar banyak tentang arti kekompakan dan kebesaran hati. Dan, mengalahkan ego sendiri demi orang lain.
- Khususnya, Giyats, Ikhsan, Beta, Dian, yang udah rela ditebengi motornya oleh gue. Percayalah, kenangan itu selalu ada, bahkan meninggalkan jejak di punggung berupa kerokan. Hehehe, hasil keanginan gara-gara naik fly over.
- Yang teristimewa, sang pelatih, inspirator, sekaligus teman, Kak Hery yang rela mengorbankan waktunya untuk kelompok A tanpa bayaran. Mungkin secangkir kopi di tiap latihan rasanya sangat kurang untuk membayar semua ini.
Read More »

thumbnail-cadangan

3 bulan terakhir, setiap akhir pekan gue latihan drama musikal. Drama ini seharusnya ditampilkan bulan Februari. Tapi berhubung kepotong acara kelas 12, jadinya baru tampil tanggal 24 Maret.

Niatnya gue mau ceritain semua perjalanan gue dan temen-temen mulai dari Januari sampe hari penampilan. Berhubung Bolt gue belum bener, jadi belum download semua foto yang nantinya gue jadikan bahan cerita. Untuk saat ini, gue kasih bocoran judul terlebih dahulu. Judulnya: The Kingdom.

Semoga bisa cepet-cepet nyeritain semuanya di blog. Jujur, setelah berakhir penampilan kami, gue jadi kangen. Kangen kebiasaan yang ada saat latihan; kangen tidur di sofa nunggu temen-temen selesai makan; kangen diajak ngobrol nggak jelas sama bapak-bapak; kangen gelar karpet; kangen nebeng motor temen; kangen keanginan di fly over; dan masih banyak lagi. Seperti kata Alitt Susanto: "Menghapus perasaan emang susah, tapi lebih susah menghapus kebiasaan". Untuk saat ini, kebiasaan itu belum bisa terhapuskan.

Untuk cerita ini, nanti gue post di lain waktu.

Jadi, apa, sih, maksud dari judul post ini? Gini ceritanya...

Siang ini gue lagi duduk di bangku paling depan dalam acara Program Silaturahim KIR Jakarta Barat (PROGSI KIBAR). Di acara ini gue jadi bagian dalam panitia. Mungkin ini acara terbesar dalam pengalaman gue dalam berorganisasi. Padahal tugas gue nggak susah, cuma ngebenerin kabel proyektor. Itu juga masih dibantuin.

Tiba-tiba, si Gita, yang jadi MC di acara itu, nyuruh gue ngisi acara.
"Nanti, kan, ada waktu 5 menit. Lu stand up, ya."
Gue terkejut. "Eh, apa-apaan, nih? Nggak mau, ah."
"Plis banget. Buat ngisi waktu sebelum break."
"Nggak mau."

Setelah berkali-kali dipaksa, gue harus nyerah. Oke, ini penampilan gue yang nggak terencana. Bener-bener pemaksaan.

"Pokoknya, kalo nanti dia tampil pada ketawa-ketawa aja, ya." Itulah kata-kata terakhir Gita ke penonton sebelum menyambut gue, yang membuat gue tambah deg-degan. Mati aja, deh. Kalo lucu, sih, bagus. Kalo nggak lucu masa mau ketawa terpaksa.

Gue megang mic. Deg-degan. Ini kesekian kalinya gue megang microphone buat stand up dan deg-degannya sama kayak kali pertama,stand up. Bedanya, sekarang lebih gila. Yak, tampil tanpa bayangan apa pun di kepala. Gue bingung mau ngomong apa.

Demi menurunkan ketegangan, gue mencoba ngomong pelan-pelan, sambil nyusun setup dan punchline saat itu juga. Mau gimana lagi, nyuruhnya mendadak. Padahal di stand up comedy harus banget materi itu ditulis, ditulis, dan ditulis. Lah, gue malah baru nyusun bit saat itu juga.

Ya, hasilnya emang asal-asalan. Tapi gue seneng, joke pertama yang pernah gue tulis di buku diari pribadi (sebagai cowok yang kadang pelupa, gue punya buku diari di rumah) berhasil mendapat tawa dari setengah penonton. FYI, audiens sekitar 48 orang. Alhamdulillah, gue seneng. Sisa penampilan, ancur abis. Andai aja gue disuruh stand up dari jauh hari, pasti gue siapin materinya.

Catatan: ini buat pelajaran bagi orang yang mau stand up. Sebelum tampil, tulis dulu materinya.

Maret hampir berakhir, April siap menyambut. Oke, nggak terasa udah mau 17 tahun. Ehm.
(Padahal lahir bulan Juli)

Btw, selamat kepada Kresnoadi dan Febri yang terpilih dalam 11 Blogger Dream Team. Blog yang lain gue lupa namanya, pokoknya dua blog itu yang sering gue kunjungi. Keren gila!

Read More »

thumbnail-cadangan

Efek dari nggak enak badan emang lumayan terasa bagi gue. Kuping jadi agak budek seolah kesumpel kapas. Mulut terasa pahit kayak abis dicekokin jamu nafsu makan. Pandangan ikut mengabur. Dikit lagi gue dikira kena penyakit "Sakaumomogist"; dengan gejala si penderita meraung-raung minta momogi.

Pagi ini, berada di jam pelajaran Penjaskes, kelas gue sibuk mengerjakan ulang soal UTS kemarin, ditambah pembahasannya. Di kelas suasana bener-bener sunyi padahal nggak ada guru. Aneh, biasanya kondisi kelas selalu rame bahkan saat UTS dan UAS.

Teman gue, Fellya, masuk ke kelas membawa kabar tugas remedial Bahasa Inggris. Yap, itu kabar yang gue tunggu-tunggu, karena nilai Bahasa Inggris gue udah ketauan... sangat ancur. Kedua paling buruk di kelas gitu, lho.

Fellya nyebutin tugasnya disuruh ngapain. Karena gue nggak denger (mungkin yang lain juga), akhirnya Fellya menyalin catatan di kertas ke papan tulis. Di papan tulis tertulis tugas yang diperintahkan.

Gue melihat ke papan tulis. "Ah, cuma bikin 10 soal. Nggak terlalu berat," batin gue. Tapi gue bingung, disuruh bikin soal pg (pilihan ganda) atau essay (uraian singkat). Soalnya Fellya nggak nyebutin bentuk soal yang disuruh Mrs Devi, guru Bahasa Inggris gue. Sebenernya antara gue yang budek atau Fellya yang nggak ngasih tau.

"Itu, bikin soal pg atau essay?" tanya gue ke Fellya.
"Itu," dia menunjuk papan tulis, "di papan tulis ada."
Mata gue kosong. Gue ngeliat di papan tulis ada tulisan "Bikin 10 soal PG". Mampus. Malu berat.
"Oh...," kata gue, "gue kira... PG itu... Primagama."
Temen-temen gue langsung rame. Ada yang ketawa. Banyakan yang menghujat. "Ngeles aja lu!" kata mereka. Gue cuma ketawa.

Oh yeah. Gue masih sempat-sempatnya ngeles. Bukan, gue bukan ngeles di Primagama, tapi menghindar biar nggak keliatan salah.

Kalo di stand up, yang gue lakukan barusan dinamakan bombslide. Tujuannya sama: biar rasa malunya ketutup.

Besok-besok kalo gue pas banget ketauan malu, tinggal pura-pura angkat telepon aja. "HALO, PRIMAGAMA. SAYA MAU DEH JADI MURID DI SANA!"

*Primagama adalah nama salahsatu bimbel. Asli, bukan lagi dalam sesi promosi.

Read More »

thumbnail-cadangan

Sewaktu menulis ini, gue lagi duduk di anak tangga, menjelang masuk ruangan. Namun, ruang yang ditempati belum jelas adanya karena ruang yang biasa ditempati lagi dipake ujian praktek kelas 12. Dengan keadaan sepeti ini, jadilah gue seperti gembel sekolahan. Terlantar.

Sambil menutupi sebagian tubuh dengan jaket, gue nulis ini. Hari ini gue bener-bener lagi nggak enak badan. Batuk, ingus netes sendiri, dan tenggorokan gatel. Mumpung ada waktu kosong, gue ngeblog lewat hape deh.

Gue takut dengan ketidaksehatan gue membuat penampilan drama musikal terganggu. Ya, hari Kamis ini ada pengambilan nilai drama musikal.

Entah kenapa, setiap kali gue mau menghadapi suatu acara yang sifatnya besar, gue sering mengalami gejala-gejala di atas. Beneran. Misalnya, yang paling sering, menjelang UTS atau UAS, gue pilek seminggu. Giliran ujian udah selesai, pilek gue sembuh. Agak telat, sih, sembuhnya.

Begitu juga waktu Ujian Nasional SMP. Seminggu sebelum UN gue batuk pilek. Untung LJK gue nggak kebasahan karena ketetesan ingus. Gue nutupin hidung pake sapu tangan. Mungkin yang ada dipikiran pengawas saat itu adalah: "Itu anak dekil yang duduk di belakang kayaknya lagi ngelem deh."

Akhirnya hasil ujian gue lumayan bagus. Beberapa ujian yang sebelumnya gue lalui dengan sakit juga selalu bagus, minimal membuat gue puas dengan hasilnya. Semoga ini juga berimbas pada penampilan drama musikal Kamis nanti. Aamiin.

Dari sini, gue menemukan kejanggalan: nilai UTS gue kacau. Memang, sebelumnya gue nggak sakit, sehat-sehat aja. Giliran sekarang, malah sakit karena ngrliat nilai yang amburadul.

Ya, bukannya gue mau sakit aja biar nilai gue bagus pas UTS kemarin, tapi apa semua kebiasaan ini udah terpola dalam hidup gue?

Penuh tanda tanya.

Gue, sih, menganggap seperti ini: dengan gue sakit, secara otomatis gue harus mengurangi kegiatan atau istirahat sejenak agar nggak terlalu tegang menghadapi sesuatu yang besar.

Jadi, yang gue alami sekarang adalah, amanat untuk istirahat.

Read More »

thumbnail-cadangan

Nggak sering gue nonton acara di Trans TV. Terakhir kali gue nonton Trans TV, waktu itu ada acara ... acara apa, ya? Gue lupa. Kalo nggak salah YKS (Yuk Keep Smile). Ya, cuma itu doang yang gue inget.

Tapi, kini gue kembali nonton salahsatu acara Trans, yaitu Katakan Putus. Sebenarnya, gue nggak ngerti dengan reality show ini. Demi menuntaskan hasrat penasaran yang selama ini gue pendam dan cuma baca di blog-blog orang, maka gue nonton acara yang dipandu oleh... siapa deh nama hostnya? Gue lupa.
Oh, iya. Nama hostnya Chiki Komo. Eh, nggak tau deh nama tepatnya. Pokoknya Komo-komo gitu.

Sebelumnya gue nggak pernah merencanakan buat nonton. Bahkan, kepikiran juga nggak buat nyalain TV. Namun sore itu tangan gue mencet tombol on di remot TV. "Ah, jam 3 sore. Ini jam tayangnya Katakan Putus," kata gue. Aneh memang, padahal gue nggak pernah nonton acara itu sebelumnya.

Total, gue udah dua kali nonton Katakan Putus.

Yang pertama, waktu gue pulang sekolah, kebetulan pulang cepet, jam 2 siang.

Episode kala itu, tentang cewek yang mau ngerusak hubungan seseorang. Sebut saja nama cewek itu Sumi. Si Sumi ngejar-ngejar Herman, yang udah pacaran dengan Sri. Akhirnya, Sumi menjalankan cara kotor biar Herman putus dengan menyebarkan foto Herman dengan Gita, temannya Herman. Padahal Herman dan Gita hanya teman kuliah. Selanjutnya gue lupa, pokoknya Sumi bener-bener berhasil membuat Herman putus (sekitar 5 menit waktu tayang) dengan Sri. Tiba-tiba datang Lepay (cowoknya Sumi) yang menjelaskan semua kebusukan Sumi. Akhirnya, Herman dan Sri nggak jadi putus, semuanya maaf-maafan, kecuali Sumi yang kabur karena malu kebusukannya terbongkar.

Yang gue salut, skenario di Katakan Putus selalu bikin penasaran. Iya, gue suka gregetan sendiri kalo nonton acara itu. Apakah selera hiburan gue rendahan? Hmmm, yang penting seru.

Di lain episode, ada cewek yang pacaran demi uang. Akhirnya, terbongkar juga dan ujungnya diputusin cowoknya.

Dari dua episode Katakan Putus, gue bertanya-tanya, apakah semua cewek selalu punya niat busuk dalam menjalin hubungan?

Walaupun sepenuhnya gue nggak percaya kalo cewek-cewek punya niat begitu. Mungkin karena kebetulan gue nonton episode yang jadi antagonis kaum wanita, jadi kepikiran begitu.

Pengen sekali waktu gue nonton Katakan Putus dengan lelaki sebagai peran antagonis. Biar ada rasa gregetan mau nampol cowok pas nonton di TV.

Read More »

thumbnail-cadangan

"Dek, kita sama-sama terus, ya. Kita bareng terus sehidup-semati. Janji?"
"Iya, Mas. Aku janji." Kelingking Sri berpagutan dengan kelingking Sonny.

Keesokan harinya, gelagat Sri mulai aneh. Wajahnya seperti sedang mencari-cari sesuatu. Suara bising motor cukup mengganggu di depan rumah Sri. Sonny datang menjemput Sri.

"Kamu udah siap ke pasar?" tanya Sonny.
"Udah," jawab Sri singkat. Namun kecemasan pada wajahnya masih terlihat. Sri duduk di motor Sonny, memegang besi pegangan motor. "Berangkat, Mas."
"Oke, Dek."

Di perjanan menuju pasar, Sonny dan Sri nggak berbincang samasekali. Hanya suara bising jalan dan mesin yang mengisi kesunyian mereka. Tidak biasanya Sri menjadi pendiam seperti ini di atas motor Sonny.

"Kamu kenapa, toh, diem aja dari tadi?" tanya Sonny.
"Nggak papa, Mas."
"Beneran? Kamu sakit, ya?"
"Nggak, Mas. Aku nggak papa. Kamu fokus nyetir aja." Sri menjawab agak ketus.
"Loh, ya udah. Jangan marah-marah."

Mereka sampai di pasar. Sri turun dari motor, tapi Sonny tidak.
"Aku di sini aja, ya. Nanti pulang ke sini lagi. Aku anterin. Daripada pulang naik angkot, bahaya. Bisa diculik ke rumah sopirnya."
"Iya, Mas. Aku cuma sebentar di pasar. Mau beli terasi," jawab Sri. Kemudian Sri masuk ke dalam pasar.

Di depan warteg, Sonny belum beranjak dari motornya, menunggu Sri. Untuk mengusir kejenuhan, dia mengutik-utik kukunya. Itu juga dilakukannya untuk menahan godaan cewek-cewek yang melewatinya. Hanya Sri yang aku cintai, katanya dalam hati.

Sudah 30 menit Sri belum kunjung kembali. Sonny masih bersabar. Dia tetap berpikiran positif, siapa tau di dalam pasar lagi ada barongsai, dan Sri keasyikan nonton, lupa beli terasi.

Satu setengah jam telah berlalu. Sonny mulai bosan. Matanya mulai berat. Pandangannya mengabur ketika melihat lorong menuju area dalam pasar.

Dua jam. Dua jam setengah. Tiga jam. Sri belum kembali. Sonny akhirnya beranjak dari motornya lalu masuk ke dalam pasar. Ditemuinya satu per satu lapak telah menutup tokonya. Semua dagangan telah rapi dikemas untuk dijual besok. Termasuk tukang bumbu masakan yang menjual terasi.

Sri ke mana?

Sonny langsung menyalakan motornya menuju rumah Sri.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab bapaknya Sri dari dalam rumah, sedang memakai sarung.
"Pak, Sri udah pulang belum?" tanya Sonny.
"Belum," bapaknya Sri menggeleng. "Bukannya pergi bareng kamu tadi?"
"Iya, tadi bareng aku. Tadi bilangnya mau beli terasi."
Kemudian ibunya Sri datang.
"Pak, ada kertas ini di atas meja makan," ibunya Sri memberi secarik kertas ke suaminya.
Bapaknya Sri membaca keras-keras. "INGIN ANAK ANDA LULUS UJIAN NASIONAL DENGAN NILAI TERBAIK?"
"Lho, bukan itu, Pak. Di baliknya," kata ibunya Sri mengkoreksi.
"Ih, si ibu. Bilang dong." Bapaknya  Sri membalik kertas.
"Untuk Mas Sonny.." Bapaknya Sri langsung menyerahkan kertas itu ke Sonny. "Kamu aja deh yang baca. Saya lagi sibuk di dalem, main Solitaire di komputer."
Sonny membaca isi kertas itu perlahan sambil bersandar di dinding.

"Mas Sonny, aku minta maaf atas kehilanganku. Aku tau, aku salah baru ngasih tau ini semua. Aku kesulitan buat bicara jujur. Akhirnya aku cuma ninggalin surat ini buat Mas Sonny.
"Aku mau pergi dari semua ini. Aku mau sendiri. Bahkan aku pergi meninggalkan keluargaku, terutama kamu, calon suamiku. Aku udah pesan tiket pesawat ke Manado. Aku nggak tau mau ngapain di sana. Aku mau, kamu lupain aja aku. Maaf membuat kamu kecewa, Mas."

Air keluar dari ujung mata Sonny. Disekanya menggunakan jari telunjuk. Sonny rubuh di sana. Perasaannya hancur seketika.

Sri, tego temen kowe minggat ninggali aku

***

Cerita ini gue buat setelah bertahun-tahun ngedengerin lagunya Sonny Josz berjudul Minggat. Sejak gue kecil, setiap pulang kampung pasti denger lagu ini.

Terimakasih kepada Sonny Josz yang menginspirasi gue membuat cerita ini. Lagunya juga bikin nagih. Nggak pernah bosen dengerin walaupun udah dari dulu.

Read More »

thumbnail-cadangan

Huah, libur sekolah samasekali nggak gue manfaatin buat tidur seharian. Libur sekolah karena Ujian Sekolah anak kelas 12 malah bikin gue kasian ke mereka. Dikejar jadwal, dianiaya hitungan mundur menuju Ujian Nasional, dan lain-lain yang bagi gue terlihat menakutkan. Gue bersyukur masih kelas 11.

Tapi, ada aja kegiatan gue di luar seharian, yang seakan melarang gue buat tidur. Latihan drama, ngumpul bareng ekskul, bikin gue lupa rasanya tidur siang. Padahal, harusnya liburan itu dinikmati dengan tidur seharian. Ada yang setuju sama gue? Kalau ada, tepuk tangan dulu karena kita malas.

Hmmm... sejujurnya gue mau ngasih tau info, kalo sebenarnya gue lagi susah blogwalking.

Bentar, infonya gue tunda dulu. Gue dan temen-temen ekskul lagi ada di Car Free Day, duduk di trotoar dekat halte Tosari ICBC. Di depan gue pedagang baju sedang beres-beres barang dagangan. Beberapa meter di kiri, ada dua temen gue lagi berantem. Yang satu ngambek, yang satu ngotot. Sedangkan gue, menepi dari mereka. Hehehe.

Oke, kembali ke persoalan susah blogwalking.

Selama ini gue sangat menggantungkan kinerja Bolt. Kalo lagi browsing, blogwalking, dan kebutuhan internet lainnya, gue sangat terbantu dengan adanya Bolt. Ibarat tanaman, Bolt adalah pembuat subur kehidupan gue. Ehm, analogi yang lumayan ngaco.

Ini pun gue ngetik di aplikasi Blogger Android. Ya, lumayanlah buat isi waktu senggang, sambil menunggu mereka (temen-temen ekskul gue) istirahat. Untung ketegangan di antara mereka telah reda.

Kami ke CFD bukan tanpa alasan. Bukannya beralasan mau foto di Bundaran HI rame-rame sambil godain bule berkacamata. Melainkan, untuk nyari dana lomba yang mau kami adakan bulan Mei nanti. Gue kira, nyari dana di keramaian di CFD bakalan mudah. Ternyata sama susahnya kayak nawarin buka blog sendiri ke temen-temen gue: sering dikacangin. Ya, emang risikonya pedagang begitu. Dikacangin, dihina calon pembeli, kita harus terima. Apalagi di tempat kayak CFD, masih banyak orang yang mau beli dagangan kami.

Belum lagi harus ketemu pedagang lain. Tapi di situ uniknya. Kami sama-sama dagang di CFD, nggak beli, tapi saling menyemangati dan mendoakan yang terbaik. Kadang gue terharu walaupun kita nggak saling kenal.

Atau, risiko yang paling bahaya: kami diangkut Satpol PP. Untungnya, kami diberi nasihat oleh ibu-ibu penjual minuman. "Kalo ada Satpol PP, umpetin dulu dagangannya. Nanti kalo ketangkep, saya kasian sama kamu." Terimakasih ibu-ibu penjual minuman. Nyatanya, kami melewati banyak petugas Satpol PP tapi nggak diacuhkan mereka.

Ah, CFD udah usai. Banyak mobil mulai bersliweran. Kopaja udah ngebul dengan asap. TransJakarta juga udah banyak yang singgah di halte-halte.

Tunggu...

Yeah, akhirnya gue berhasil naik di TransJakarta jurusan Kalideres, setelah harus transit di halte Harmoni dan diomelin ibu-ibu karena gue main dorong-dorongan menuju pintu masuk bis. Tapi tetep, gue nggak kebagian tempat duduk.

Ternyata ngeblog di hape lebih enak buat ngetik-ngetik ringan kayak gini. Untuk sementara gue bakal ngeblog di hape dulu, sambil nunggu Bolt gue kembali normal dan laptop lumayan sehat buat diketik berlama-lama.

Aduh, pusing juga ngetik sambil berdiri di TransJakarta. Untung gue bisa senderan di pegas sambungan bis.

Gue mau janji ke kalian. Bagi yang blognya mau gue kunjungi, komentar aja di bawah. Setelah Bolt gue bener, gue kunjungi satu per satu blognya, dan gue komen di dua post. Beneran nih. Serius.

Read More »

thumbnail-cadangan
Kalau dihitung sejak awal masuk SMA, entah berapa kali gue mengalami remedial. Artinya, gue sering mengalami kesakitan karena nilai ujian nggak tuntas. Itulah sebabnya, gue jadi terbiasa dengan kesakitan ini. Namun, teman-teman gue terlalu pusing ketika remedial. Andai mereka tau, gue pun sama sakitnya dengan mereka. Tapi gue berusaha mencari hikmah di dalamnya. Karena, gue sudah terbiasa remedial. Padahal, gue mau banget tuntas ujian semua mata pelajaran.

Untuk kalian yang sering, atau minimal pernah remedial, duduklah bersamaku di sini.

***

Kepada orang yang remedial,
kuatkanlah dirimu
dari segala celaan
entah dari guru, lawan, maupun temanmu berikan.

Kepada orang yang remedial,
meratapi nilai yang tak tuntas hanya akan mengiris perasaan
semua keyakinan, tiba-tiba sirna begitu melihat nilai yang ada.
Tak puas, tak terima. Namun begitu nyatanya.

Kepada orang yang remedial,
biasakanlah dirimu
menghadapi sulitnya proses.
Proses yang nantinya membuatmu lebih dewasa dalam menyikapi nilai ujian.

Kepada orang yang remedial,
jadikan nilaimu sebagai cermin
atas segala proses belajar yang telah dilalui
apakah kamu sudah menguasai, atau belum samasekali

Kepada orang yang remedial,
lihatlah dirimu, betapa tidak beruntungnya
padahal kau belajar hingga larut malam
sampai kantung mata mulai menghitam

Kepada orang yang remedial,
tetaplah yakin pada dirimu sendiri
jangan menilai kau tak akan mampu lagi
menghadapi rimba sekolah yang keras

Kepada orang yang remedial,
jangan putus asa, sesungguhnya nilaimu akan tuntas di rapor.

*ditulis ketika meratapi nilai UTS Kimia dan Bahasa Inggris yang kacau abis.
Read More »

Banyak teman-teman gue yang bilang Facebook udah nggak seru. Makin banyak alay, orang-orang pamer, dan lain-lain. Gue, sebagai manusia kesepian, masih menganggap Facebook adalah media sosial yang seru dan rame, walaupun nggak serame dulu. Saking ramenya, dulu di SMP, pernah ada masalah di Facebook kemudian benar-benar dibawa ke dunia nyata. Sampai ngelibatin guru. Gila, bisa dibayangin gimana dulu ramenya Facebook.

Setidaknya, Facebook akan tetap asyik kalau orang tua nggak temenan sama kita. Hahaha, masalah anak sekolah banget. Takut apa-apa yang di-share menjadi bahan pembicaraan di dunia nyata. Atau yang lebih parah, di forum keluarga besar sewaktu perkumpulan. Pasti rasa malunya bukan main.

Mengenai orang tua gue, mereka kayaknya tertutup sama Facebook atau media sosial lainnya. Tapi yang gue ketahui, bapak gue punya Facebook. Bapak benar-benar gue arahkan ke sisi positif dari Facebook sebagai sumber berita. Waktu awal-awal bikin akun, gue like page yang berisi berita, misalnya Tribunnews. Jadi nggak heran, isi timeline-nya berita semua.

Leganya, bapak gue termasuk orang yang selektif berteman di Facebook.
"Pak, itu tuh, si om Anu," kata gue menyebutkan nama seorang teman yang tertulis di layar hape bapak gue,
"Nggak, ah. Biarin dia aja yang nambahin jadi temen," jawab bapak gue memencet keypad arah bawah.

Hmmm, antara selektif sama sok jual mahal beda tipis.

Lain lagi dengan mama gue. Mama gue juga punya hape, tapi jarang digunakan. Paling cuma buat sms atau telepon, seperlunya. Sampai kadang kartunya berkali-kali telah habis masa aktifnya. Akhirnya, hape mama gue diisi pulsa sama bapak gue. Nggak lama kemudian, pulsanya ditransfer ke hape bapak gue. Sama aja cuma ngisi masa aktif.

Mama gue selalu khawatir dengan Facebook. Yang dia tau, Facebook adalah sesuatu yang berbau kejahatan. Setiap mendengar berita mengenai pembunuhan karena Facebook, dia langsung mewanti-wanti gue. Makanya dia takut buat main Facebook.

Tapi, akhirnya dia nanya ke gue malam ini tentang Facebook.
"Bi, emang bisa, orang yang jarang ketemu tau Facebook-nya?"
Gue mau ketawa setelah ditanya seperti itu. Tapi gue nggak boleh kurang ajar.
"Bisa. Tapi harus tau namanya."
Kami diam. Mama kembali fokus ke TV.
"Mama bisa dong tau Facebook-nya musuh Mama? Penasaran sama musuh Mama waktu kecil."
Kemudian gue mikir, "Waduh, jangan sampai mereka kembali musuhan lagi gara-gara Facebook."
"Hahaha, emang dia punya Facebook?"
"Punya kali. Kan, suaminya kerja di rumah sakit."

Iya aja deh, Ma. Apa hubungannya punya Facebook sama punya suami kerja di rumah sakit.

Selain itu, mama gue membuat sebuah kejutan lain.

Baru-baru ini mes gue kena banjir. Biasalah, setelah banjir akan ada masanya semua hewan keluar dari persembunyiannya, diikuti dajjal di belakangnya. Eh... ya, gitu deh pokoknya.
Paling umum, sih, kecoa dan semut. Pas banget, setelah lumayan cukup surut, semut merah keluar dari dalam tanah, ngerembet ke dalam rumah gue. Alhasil rumah gue dijadiin jalur perambatan semut. Mama gue merasa risih, lalu dia menggoreskan kapur barus ke lantai.

Hasil karya Mamaku

Semoga semutnya nggak buta aksara.
Read More »

Gue tipe orang yang mudah takjub. Kalau ada sesuatu hal yang keren menurut gue, gue langsung bilang, "Gila, keren banget!"
Biasanya setelah itu, gue langsung mengidolai sosok tersebut. Sampai orang itu nggak eksis lagi bikin suatu karya, atau ada karya sejenis yang lebih keren, barulah gue berpaling. Contohnya, dulu gue penggila Killing Me Inside. Setiap lagi nggak ada kerjaan, gue nyanyi-nyanyi: "Biarlaaaaah, kumencoba. Untuk tinggalkan semuaaaa", Atau sesekali gue sok-sokan scream kayak Onadio di lagu Tormented. Setelah dikasih liat video Josaphat (gitaris Killing Me Inside) muter-muterin gitar di leher, gue jadi pengen muterin selang pianika, terus sisa ludah gue nyemprot-nyemprot ke orang. Muehehe

Sampai akhirnya gue mengenal band Last Child. Lagu Last Child paling pertama gue dengarkan adalah Diary Depresiku. Inget banget itu zaman kelas 6 SD. Sok-sok mendalami lagu, memposisikan diri sebagai anak jalanan. Sekarang gue baru sadar... jangan-jangan gue bikin blog (diary) sebagai wujud depresi. Wuah, secara kebetulan.

Setiap les gue selalu bluetooth-an lagu Last Child. Pulangnya, kami membahas satu lagu Last Child.
"Rob, lu udah denger lagu itu belum?" kata teman gue menyebutkan salah satu judul lagu Last Child.
"Udah dong. Yang kemarin lu kasih, langsung gue denger semaleman."
"Wih, gila," sambil menggowes sepedanya, "gue udah hapal lagu itu 3 hari yang lalu."
Gila, temen gue Last Friend (sebutan untuk fans Last Child) banget. Tentu, dalam ukuran anak SD.
"WOYYY! JANGAN NGOBROL DI TENGAH JALAN!" Bapak-bapak berteriak sambil membunyikan klakson.

Hati gue kemudian berpaling, lebih tertarik pada band yang memiliki vokalis bernama Virgoun itu. Lagu-lagu Killing Me Inside jarang gue dengarkan. Setiap malam gue ngedengerin lagu Last Child.
"Engkau yang sedang patah hatiiii" sambil sesekali airmata menetes. Dari dulu gue udah lemah.

Nah, ada beberapa orang seniman yang akhir-akhir ini mendapat respon gila-keren-banget dari gue. Berikut orang-orang yang berhasil membuat gue meraba-raba tubuh sendiri, kemudian menggelinjang (lho?).

1. Humood Alkhuder
Siapa itu Humood Alkhuder?
Tadinya gue juga nanya begitu setelah mendengar teman gue nyanyi lagu Kun Anta. Gue langsung googling lagu Kun Anta, download lagunya, dan kemudian gue tau nama Humood Alkhuder. Tapi, saat itu gue belum gimana orangnya. Hmmm... udah terbayang, sih, gimana orangnya. Pasti ada arab-arabnya gitu. Ternyata begini...

DAEBAK!! | Sumber di sini
Emang, sih, gue baru dengar lagunya Humood cuma yang Kun Anta, tapi itu udah cukup membuat gue berkata gila-keren-banget. Selain orangnya yang ganteng, (ehm, nggak ada maksud lain kok gue ngomong begitu) suaranya juga lumayan. Yang paling membuat gue kagum adalah lirik lagu Kun Anta. Selain easy listening, maknanya dalem banget. Coba baca liriknya, atau kalau ada yang tau lagunya bisa sambil dinyanyiin. Hehehe.

Liujarihim, qoldat tu zohiru ma fihim 
Fabadautu syakhsan aakhar, kai atafaa khar
Ketika ingin bersaing dengan yang lain aku ingin meniru sifat luar dan dalamnya. 
Jadi aku bisa menjadi seseorang lain dengan bangga.

Wa zonan tu ana, anni bizalika huztu ghina
Fawajad tu anni kha-sir, fatilka mazohir
Dan aku kira jika aku lakukan itu aku akan mendapatkan kelebihan, 
tetapi aku hanya mendapat kerugian dari sifatku itu.

La la
La nahtajul ma la 
Kai nazdada jama la
Jauharna huna
Fi qalbi talala
Tidak tidak
kita tidah membutuhkan 
harta untuk kebagusan
mutiara ada di sini
dalam hati ia bersinar

 La la
Nurdhin nasi bima la
Nardhohu la na ha la 
Za ka jamaluna
Yasmu yataa’la
Tidak tidak
Kita tidak perlu memandang pandangan orang lain
yang tiada keadaannyanya tidak sama dengan kita. 
Itulah keelokan kita, 
semakin naik keatas

Kun anta tazdada jamala 
Jadilah diri sendiri, pasti akan menambah keelokanmu

Attaqabbalhum, anna-su lastu qalliduhum 
Illa bima yurdhi-ni, kai urdhi ni
Tidak Tidak Tidak
Aku menerima mereka, tapi aku tidak meniru mereka
Kecuali apa yang telah kuterima dan aku menyukainya

Sa akunu ana, mithli tamaman hazana
Fakona a’ti takfini, za ka yaqi ni 
Aku ingin menjadi diri sendiri, inilah kesempuranaanku
Cukup dengan hal ini, dan aku yakin itu

Intinya, jadilah dirimu sendiri.


2. Isman H. Suryaman
Lebih dulu dikenal sebagai penulis script dan buku komedi, namun gue mengenalnya sebagai peserta Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) season 2. Waktu pertama kali nonton stand up-nya, respon gue biasa aja. Cuma sesekali mengangguk dan bergumam "Oh, iya, bener juga."

Sumber: di sini
Kekuatan dari Kang Isman (sapaan akrabnya) adalah penulisan yang rapi. Bahkan, waktu di SUCA, ada comic (kalau nggak salah Ge Pamungkas) bilang, "Kang Isman ini kuatnya di penulisan. Kalau delivery dia kurang bagus." Gue akui, penulisan dia bener-bener ciamik. Waktu jadi mentor di SUCA, dia mentorin Yudha Keling. Dan perubahan penulisan materi Yudha Keling jadi lebih rapi.

Apa yang membuat gue berkata gila-keren-banget pada Kang Isman? Jawabannya adalah, blog pribadinya.

Akhir-akhir ini gue lagi sering baca blog penulis yang gue suka. Sebenarnya ini imbas dari nggak ada duit buat beli buku. Blog itu di antaranya, Falen Pratama, Raditya Dika, Alitt Susanto, dan Wira Nagara. Semuanya gue baca dari awal mereka bikin blog. Belum sampai habis, sih.
Nggak ketinggalan, blognya Kang Isman ikut jadi daftar blog yang gue baca. Kesan pertama: rapi banget. Seperti yang gue bilang, Kang Isman emang bagus banget penulisannya. Makanya, gue sering ketawa geli setiap baca blognya. Oh iya, silakan kunjungi blognya Kang Isman.

Kalo Kang Ismet... dia mah rajanya template. Ah, kayaknya nggak ada yang tau beliau, ya?


3. Irvan Kartawiria
Nah, ini dia yang benar-benar membuat gue berkata gila-keren-banget-sumpah-kesamber-geledek. Salah satu finalis SUCI 6 yang gue nanti-nantikan penampilannya, selain Rin Hermana, Indra Jegel, Fajar Nugra, dan Ardit Erwandha. Hehehe, banyak banget yang gue jagoin di SUCI 6. Tapi khusus buat Pak Irvan Karta, ini yang selalu bikin gue nampol tangan sendiri karena gregetan.

Gimana nggak gregetan, dia konsisten membahas materi dengan bumbu sains. Ya, itu karena Pak Irvan Karta adalah seorang dosen, jadi nggak heran kalau bahasannya sekitaran situ. Sejauh ini, sains di mata gue sama sekali nggak menarik menjadi bahan obrolan santai, tapi lewat Pak Irvan Karta semuanya berubah. Sains menjadi seru untuk "dibercandain".

Sumber: di sini
Kata Pandji, "Di saat comic muda bikin punchline yang absurd, Pak Irvan membuat punchline yang selalu logis." Itu hal emas yang dia punya. Gue juga pernah baca di blognya Pandji, mengenai alasan pemilihan opener tour stand up-nya: "Kalau mau jualan, jualanlah sesuatu yang orang itu belum punya." Nah, Pak Irvan ini punya sesuatu yang nggak semua orang punya.

Gue sempat googling, Pak Irvan pernah bikin special stand up comedy show, dengan judul yang kembali nyerempet dengan sains: Scientiae Comedium.  Di dalam poster promosi, ada hal yang bikin gue ngakak. Di sana tertulis "free 100 sertifikat". Buset, ini stand up show kayak seminar aja. Gokil banget :D

Selain itu, dia sering nge-twit tentang JKT48. Oh, gila-keren-banget, mana ada dosen yang begini, sih? Guru-guru di sekolah gue nggak segini gaulnya.

Nah, itu dia tiga orang yang mendapat predikat gila-keren-banget dari gue. Sampai kapan mereka mempertahankan itu semua? Ya, tunggu aja pendatang baru yang bikin gue jatuh cinta lagi. Huahaha #RobbyMudahBerpaling.

Sumber dan refrensi:
https://standupbts.wordpress.com/2015/10/15/scientiae-comedium-2-0/
http://ruangberpikirtablighpermana.blogspot.co.id/2015/11/guru-mapan-juga-pahlawan_22.html
http://lirikterjemahnya.blogspot.co.id/2015/07/kun-anta-humood-alkhudher.html
Read More »

Kemarin sore, gue kembali bisa nonton kartun favorit gue, yaitu Spongebob Squarepants. Jujur aja, selama kartun itu tayang pagi hari, gue cuma bisa nonton tiap Sabtu atau Minggu. Dan sialnya, jam tayangnya bertabrakan dengan jam tidur-setelah-solat-Subuh. Ya, kaum laki-laki banyak yang melakukan ini, kok. Jangan berkilah deh.
Kalau kebetulan gue nggak tidur, gue tetap nggak kebagian. Akhirnya, nonton iklan properti yang sampai sekarang cuma jadi mimpi untuk dimiliki.

Asoy nggak rimanya?

Tiba-tiba tangan gue khilaf nyetel TV. Layar TV langsung muncul opening Spongebob. Oke, mumpung lagi waktu kosong, kata gue. Setelah gue nonton satu episode, gue membatin, "Ternyata sekarang Spongebob lebih lucu." Entah itu cuma perasaan karena udah lama nggak nonton atau emang sekarang lebih fresh. Doraemon juga, setiap gue nonton di Minggu pagi, pasti ada aja hal yang bikin gue ketawa.

Balik lagi ke Spongebob. Ceritanya, Spongebob mau ada tes pidato di depan kelas mengemudi. Di tempat kerjanya, Krusty Krab, Spongebob nggak konsentrasi menggoreng patty. Squidward yang mengetahui ketegangan pada wajah Spongebob, berkata dengan nada menakut-nakuti.

"Ada tiga hal yang membuat manusia merasa ketakutan dalam hidupnya; kematian, pernikahan, dan pidato."

Gue tepuk tangan. Refleks.
Si Hidung Besar benar. Tapi ada satu poin yang ketinggalan. Yaitu, ujian nasional.

Ah, gue nggak mau bahas ujian nasional atau segala macam. Biarkan itu nanti gue ceritakan di tahun pelajaran selanjutnya. Sekarang gue masih kelas 11, belum cocok ngomongin ujian-ujian. Kecuali ujian hidup. Kalau gue bahas sekarang, nanti keabisan stok bahasan buat cerita kelas 12 (Pede banget bisa naik kelas?). Semoga gue bisa naik kelas. Aamiin.

Yang sedang jadi pikiran gue, "Katanya, masa SMA adalah masa yang menyenangkan." Kalimat ini pernah gue rasakan. Tapi, apa tahun depan masih menyenangkan? Gue, sih, masih yakin kalau tahun depan bisa menyenangkan, bahkan lebih. Ngebayangin pendalaman materi (PM) pulang sore, dilanjut ikut bimbel, tidur dalam keadaan baca buku Biologi. Oh gila, itu kebiasaan orang-orang yang pengen gue tiru. Gue, mah, boro-boro tidur dalam keadaan baca Biologi. Yang lebih tepat buat gue: tidur saat pelajaran Biologi di kelas.

Tiba-tiba Robby membayangkan dirinya belajar. Apakah ini tanda-tanda kiamat?

Terus, kalau udah jadi anak kelas 12 selalu diwanti-wanti untuk jaga kesehatan. Jangan pecicilan. Sedangkan gue, walaupun di suatu kondisi gue jadi super pendiam, seringkali melakukan tindakan bodoh di lapangan. Tidur-tiduran sewaktu pelajaran Penjaskes, kadang guling-guling. Ambil contoh gambar ini. Ceritanya gue lagi bikin pertahanan yang sulit ditembus tim manapun, termasuk Barcelona.

Mau jaga gawang atau sesi pemotretan iklan celana training? 

Kemudian ini...

COBA NIH GOLIN KALO BERANI!

Gue pasti mikir-mikir buat melakukan hal yang sama. Kalau gue lakuin, nanti badan gue bisa remek. 

Padahal kalau dilihat-lihat ke belakang, gue pernah mengalami cedera sewaktu Penjaskes. Yang paling sering, jari gue kaget nahan bola basket. Akhirnya jari terasa ketekuk, kayak abis dilindes stoom. Maksimal penyembuhan tiga hari. 

Pernah sekali yang paling sakit, waktu main voli. Pernah gue tulis di blog juga. Bisa dibaca di sini.
Seminggu kemudian, sakit gue belum kunjung sembuh. Namun, materi yang harus dipelajari selanjutnya adalah lompat kangkang. Setiap orang yang mau melewati papan lompat (asal sebut aja. Gue nggak tau namanya), harus membuka kaki selebarnya sambil melompat, sekaligus menahan beban tubuh pada tangan. Tangan gue masih dalam keadaan keseleo, nggak mungkin kuat buat ikutan lompat kangkang. Sebenarnya ini adalah alasan. Kenyataannya, kaki gue nggak bisa membuka lebar-lebar. Nanti selangkangan gue bisa robek.

Menyadari ketidaksanggupan ini, gue lapor ke guru Penjaskes.
"Pak, saya izin nggak ikut lompat kangkang, ya. Tangan saya masih keseleo," kata gue, sambil memelas. Iya, cuma ini jurus gue.
"Mana yang sakit?" tanya guru gue. Kemudian dia meraih tangan gue, dan menekannya. "Yang ini yang sakit?"
"SAMBEEEEEL! Tangan gue lagi sakit malah diteken!" teriak gue dalam hati.
Guru gue terus menekan, tapi gue nggak berani menolak. Lalu dia melepas tangan gue. Setelah pulang sekolah, tangan gue menjadi ringan. Tangan gue sembuh. 

Bayangan gue selanjutnya adalah usia 17 tahun. Hmmm... bulan Juli gue udah punya KTP. Gue belum ada bayangan enak tentang punya KTP. Semua iming-iming orang mengenai KTP selalu sama: biar bisa ikut nyoblos di Pemilu.

Pemikiran yang dangkal. 

Padahal lebih dari itu; bisa daftar kartu perdana dengan milih option "Kartu Tanda Penduduk", bukan "Kartu Pelajar". Abisnya gue bosen, tiap daftar kartu selalu milih pilihan itu.

Mau bagaimana bayangan gue mengenai setahun ke depan, pasti gue udah ngebayangin yang seru-seru. Sekarang yang lagi susah gue bayangin adalah, nilai UTS gue apa kabar, ya? Jangan sampe suram.
Read More »

Huah, laptop gue jadi kurang lincah. Ibarat pemain sepakbola, laptop gue nggak lagi pada masa keemasannya. Atau secara kasar, laptop gue mandul. Susah banget buat diajak kerja sama. Misalnya, setiap mau blogwalking, laptop gue harus nge-hang berkali-kali. Entah berapa kata makian yang udah gue teriaki di layar laptop. Tapi, masih oke juga kok buat nulis, walaupun setiap nge-save dokumen di Word harus "Not Responding" dulu.

Akar permasalahannya nggak gue ketahui. Mungkin dari sini...

Beberapa anak cowok di kelas gue sering bawa laptop ke sekolah. Apakah tujuan utama mereka? Yap, main game! Sebuah tujuan mulia melebihi tugas Tong Sam Cong pergi ke Barat. Biasanya mereka mulai main game setiap pelajaran kosong atau setelah pulang sekolah sambil nunggu ekskul. Gue, yang selalu gagal jadi gamers, kepengen ikut-ikutan kayak mereka.

Akhirnya gue minta file game Battlefield 2 (game perang) ke seorang teman. Sampai rumah, gue langsung ngotak-atik laptop, mencoba meng-install. Hasilnya, nasib file itu berakhir dengan tombol "Delete". Gue cukup kesal, frustasi karena keinginan nggak tercapai. Layaknya seperti seorang pecandu narkoba, gue berusaha keras buat bisa main game di laptop.

Kalau ditelisik lebih jauh, sebelumnya gue pernah nyoba main game PS2 di laptop. Waktu game yang berhasil gue pasang adalah Grand Theft Auto (GTA) San Andreas. Hasilnya, bisa dimainin. Gue senang ngeliat loading selesai. Tapi..., kok gambarnya patah-patah?

Balik lagi ke game Battlefield 2. Setelah percobaan pertama gagal, gue mencoba peruntungan kedua. Sial, padahal udah gue ikuti langkah sesuai prosedur. Hasilnya kembali berakhir pada tombol "Delete". Suatu hari, teman gue menyarankan agar gue mau bawa laptop ke sekolah. Biar gue yang ngakalin, kata dia yang menimbulkan harapan bagi gue. Wah... kebayang deh gimana serunya main Battlefield 2 di malam minggu, sambil ngucapin kata-kata kotor gara-gara mati ketembak. Dunia milik sendiri.

Sayang seribu sayang, setelah gue bawa laptop ke sekolah, teman gue nanya spek dari laptop gue. Setelah dicek, hasilnya seperti ini...


Hasilnyaaa... POSITIF HAMIL!! *eh*



Iya, processor gue cuma segitu. Sebenarnya nggak 998 MHz. Waktu gue cek pertama kali, di situ tertulis 1.0 GHz
Dengan processor segitu, laptop gue nggak direkomendasikan buat main game. Bisa-bisa nge-hang terus, malah bisa rusak. Terus gue mikir, "Iya juga, ya. Gimana bisa buat main game sedangkan tiap gue buka Corel Draw sering nge-lag." Di titik itu, gue nggak mau main game di laptop. Pupus sudah semua kenikmatan Sabtu malam yang gue bayangkan.

Tiba-tiba, otak gue mendapat hasutan. "Mungkin bukan Battlefield 2 yang cocok buat laptop lu. Tapi... Harvest Moon-lah yang bisa menggantikannya."
Gue langsung nyari web yang menyediakan download gratis Harvest Moon PS 1 versi PC. Dapat!

Gue ikuti semua perintah. Meng-oke-kan setiap perintah yang ada. Tiba-tiba...

Mozilla gue kenapa! Mozilla gue keluar sendiri!

Gue pindah ke Chrome. Chrome gue... Chrome gue ikut-ikutan keluar sendiri!

Setelah beberapa menit, Mozilla gue kembali bisa dibuka. Tapi, pada laman utama yang keluar bukan Google (seperti pada umumnya), melainkan Omniboxes. Apaan ini?
Gue langsung googling lewat hape mengenai Omniboxes. Ternyata, itu semacam search engine yang bisa memata-matai apa yang kita lakukan sewaktu browsing. Jadi, kalo browsing pake Omniboxes, semua data bisa diintai. "Waduh, ngeri banget, nih," kata gue. "Nanti Facebook gue dibajak."

Selain itu, Omniboxes juga bikin browser jadi lamat. Sialnya, semua browser di laptop gue kena Omniboxes. Jadilah gue ngotak-atik browser, yang seharusnya gue pake waktunya buat ngotak-atik game.

Gue mendapat hidayah dalam sebuah web. Dikatakan pada web tersebut, hapuslah semua hal yang berkaitan dengan Omniboxes di laptop. Wow, seperti menghilangkan jejak mantan, bantin gue. Gue hapus semuanya. Mengejutkan. File Harvest Moon yang gue download tadi merupakan induk dari Omniboxes ini. Bajingan. Gue dibohongi.

Gue hapus semua file yang tadi gue download, meng-install ulang browser, dan memulai semuanya dengan lembaran baru. Wow, tahap-tahap untuk move on, batin gue. Ternyata, browser gue tetep lambat. Entah masih ada virus yang tertanam atau gimana, browser gue nggak selincah dulu. Padahal, semua antivirus yang ada di laptop udah gue berdayakan.

Sampai sekarang laptop gue masih lambat. Apalagi setiap startup, Masya Allah lama banget. Loading Smadav aja baru hilang setelah 5 menit. Gila, waktu yang nggak lumrah bagi antivirus yang mengutamakan kecepatan dalam men-scan file. Kekesalan gue terhadap Smadav berujung pada pencopotan aplikasi. Selamat tinggal, Smadav. Kamu terlalu baik buat laptop aku--yang lemah dan lambat.

Teman sekelas gue yang laptopnya bermasalah pernah bilang, "Namanya udah cinta sama laptop ini, tiap hari udah nemenin ngisi waktu. Mau diganti sayang banget rasanya." Tadinya gue juga mikir mau ganti laptop, tapi duitnya dari mana.

Biar bagaimanapun keadaan laptop gue sekarang, nge-blog harus tetap jalan. Semoga aja dengan gue nulis ini laptop gue jadi lincah. Iya, emang nggak akan ngaruh sebenarnya.
Read More »