29 March 2016

Cerita di Balik Layar: The Kingdom

Begitu tau ada tugas drama musikal gue langsung antusias. Saking antusiasnya, gue sampai meninju angin. Karena ini momennya bagus buat tampil, dan gue, selayaknya anak muda yang ngebet tampil, nggak akan menyia-nyiakan momen ini. Pembagian kelompok pun dilakukan. Beranggotakan 18 orang, gue tergabung di kelompok A. 18 orang lagi di kelompok B. Dua minggu setelahnya dilakukan pengundian giliran tampil. Kelompok A tampil kedua.

***

Oke, gue akan membawa kalian pada perjalanan dari kali pertama latihan hingga selesai penampilan. Dari Januari hingga 24 Maret 2016. Baca juga post dari teman gue, Wahyu: Sukses dengan 2 hari latihan. Bersyukurlah!

Januari
Hari Sabtu sepulang les, gue dan Giyats ke rumah Fellya (yang selanjutnya akan terus-terusan dijadiin tempat latihan). Rumahnya lumayan jauh. Beruntung kami punya petunjuk jalan sehingga kami nggak nyasar. Kalo nyasar, duh..., jadi makin panjang post gue.
Di sana udah ada teman-teman. Artinya, di hari pertama latihan aja gue udah telat. Di sana gue melihat ada seorang lelaki sedang beradu akting dengan teman-teman gue.

"Siapa dia?" batin gue.

Nggak lama, gue kebagian buat menjajal adu akting dengan lelaki itu. Gue dikasih selembar kertas yang isinya dialog. Emang dasarnya gue yang dodol, akting gue nggak ada bagus-bagusnya. Kalo gue ingat-ingat lagi, akting gue kalah bagus sama ibu-ibu yang suka gosip di tukang sayur. Jelas, mereka sangat ekspresif. Lelaki itu cuma ngetes akting buat pemetaan tokoh yang ceritanya nanti akan dia buat.

Pulangnya, seorang teman gue ulang tahun. Kami sekelompok ditraktir es krim. Gue milih es krim yang di atasnya ada rambut nenek berwarna jingga. Ada percakapan begini:

Muti: Ih, ada rambut nenek di es krimnya Robby
Giyats: Itu, mah, rambut neneknya Robby
Gue: (dengan muka murung) ... nenek gue udah meninggal.

Entah apa yang ada di pikiran mereka semua, tiba-tiba suasana langsung pecah. Mereka ketawa. Gue mau nangis. Hari pertama aja udah begini. Gue mulai mencium hal-hal buruk di latihan selanjutnya.

Belakangan gue mengetahui siapa lelaki itu. Dia adalah kakaknya Irma, teman sekelompok gue. Namanya Kak Hery. 

Akhir Januari ada satu kejadian yang paling membekas di benak gue. Gue jadi inget tentang trypophobia. Buat yang udah baca, pasti tau gimana menggelikannya gue saat itu. Kalo ada yang mau baca, silakan klik ini.

Februari
Bukan tanpa hambatan, di kelompok kami ada aja pergesekan antaranggota. Bukan, maksudnya bukan ada yang "saling gesek" di pojokan, tapi lebih pada miskom. Ada yang telat pulang, nggak ada tebengan, kesiangan, yang biasanya ditambah marah-marah antaranggota. Biasalah, semangat anak muda. Selalu mau menampilkan yang terbaik. Gue paham itu. Makanya, gue nggak mau berbuat kesalahan, atau paling nggak, meminimalisir kesalahan. 

Latihan juga udah mulai diadakan setiap weekend. Selalu, setelah pulang les gue dan Giyats ke rumah Fellya untuk latihan. Gue juga udah mulai mengenal Kak Hery. Dia suka share-share pengalaman berseni, khususnya teater. 

Suatu hari, di rumah Fellya belum ada orang. Cuma ada gue, Irma, dan Kak Hery di sana. Kami duduk di bangku semen, di bawah pohon. Irma pergi membeli makanan. "Saya pernah jadi pelatih teater di kampus. Waktu itu sempet ikut lomba, dan itu jadi juara satu," katanya. Wow, itu keren banget buat gue yang cuma pernah juara dua lomba menghias tempat sampah. Itu juga waktu kelas 10.

"Dari kecil saya udah seneng banget sama musik. Kenal musik itu nggak lama. Paling lama itu tiga hari saya udah menguasai." Lagi-lagi perkataannya membuat gue tercengang. Bukan menjadi benci, tapi dia malah membuat gue semangat berseni dan berkarya. Gue juga pernah menguasai alat musik dalam waktu seminggu. Panci bekas namanya. 

"Suka nulis, ya, Rob?" tanya dia.
"Iya, A."
"Nulis apa, tuh?" tanyanya lagi.
"Hmmm," gue menjeda perkataan, "nulis-nulis diari, atau kehidupan sehari-hari gitu, deh. Kadang juga cerpen."
Kak Hery mengangguk. "Saya juga seneng. Selama kita nulis, kita, tuh, dibebasin buat berekspresi. Tanpa beban. Damai. Kadang suka tertawa sendiri setelah menulis kemudian membaca hasil tulisan kita."
Gue tertawa kecil. "Iya, iya. Bener banget."

Baru kali ini gue menemui seseorang yang punya semangat berkarya dan berekspresi sedalam ini. Bisa dibilang, mulai hari itu gue menaruh rasa kagum pada Kak Hery. Dia inspiratif.

Seharusnya di akhir bulan ini kita udah tampil. Berhubung terpotong UTS dan kegiatan kelas 12, terpaksa harus ditunda sampai Maret. Oke, masih banyak waktu untuk dibenahi.

Maret
"Bulan ini harus tampil. Bukan sekadar tampil, tapi harus tampil yang terbaik." Kata-kata itu mulai tertanam di kepala gue. Setiap kali mau latihan, gue ingat beberapa hari lagi akan tampil. Setiap latihan, gue harus ada peningkatan. 

Lucunya, antara bulan Februari atau Maret, kelompok kami baru menemukan judul. The Kingdom dipilih menjadi judul drama kami. Menceritakan tentang kerajaan yang isinya hewan-hewan. Seorang raja Kerajaan Hutan Timur dikutuk menjadi mawar putih. Begitu juga sang Putri, yang berupa merpati, dikutuk penyihir tidak akan mendapat cintanya. Namun, sang Ksatria (yang juga merpati) dari Kerajaan Hutan Barat datang sesuai dengan seperti yang diramalkan untuk menjaga Putri. Penyihir akan musnah jika mawar putih menjadi merah.

Errr... kayaknya nggak harus diceritain, deh. Kalo ada waktu dan kuota, mungkin gue akan upload ke Youtube videonya.

Btw, gue memerankan apa di drama ini? Gue menjadi panglima... yang berupa monyet. Oke, semua jelas.

Dua minggu sebelum hari penampilan, Kak Hery mengusulkan membuat poster. Gila, segitu niatnya, batin gue. Kata Kak Hery, biar lebih banyak yang nonton. Hmmm... bener juga. Makin banyak yang nonton berarti makin rame. Oke, penjelasan yang nggak ngebantu.
Kemudian diadakan sesi pemotretan poster. Setelah pemotretan, poster jadinya begini:

Dibuat oleh Kak Hery alias Negu
Coba tebak gue ada di mana?
Di bawah ini merupakan foto pada sesi pemotretan.  
 
Lihat, betapa gagahnya.
Kemudian yang ini...
Cocok buat jadi kover majalah otomotif, dengan headline:
"Kini para montir berpakaian rapi"
Persiapkan kantong muntah.

SAKAU MYLANTA

H-3 penampilan, kami melakukan gladi resik, sekaligus latihan yang terakhir di rumah Fellya. Sedih rasanya. Banyak banget kegitan favorit yang bakal gue kangenin. Kegiatan paling favorit gue di tempat latihan adalah gelar karpet. Eh, bukan favorit juga sebenernya. Cuma, karena sering dilakuin makanya jadi favorit. Tidur di sofa sambil nunggu teman-teman istirahat juga sering gue lakukan. Ya, ini emang kegiatan yang nggak penting... tapi kenapa jadi favorit, ya?

"Ketika drama ini sudah selesai, pasti kalian akan merindukan setiap momen yang ada di sini," kata Kak Hery. Yak, jujur aja, sampai setelah penampilan pun gue masih rindu tempat itu. Bisa dibilang, rumah Fellya menjadi rumah gue di kala weekend. Saking seringnya ke sana.


Hari penampilan
Sampai akhirnya, waktu penampilan itu tiba. Deg-degan setengah hidup. Make up buru-buru karena susah banget merias wajah gue menjadi monyet. Sebenernya nggak usah make up pun gue udah terlihat "monyet". Agak canggung melihat mata penonton, terutama Bu Sihar, guru kami. 

Salah satu adegan gue
Muka gue gelap

Selama sekitar 75 menit kami bersandiwara di kelas. Setiap adegan dilakukan dengan mulus. Gue senang, dan teman-teman terlihat sama senangnya. Apalagi setelah mendengar "Catatan saya bersih" dari mulut Bu Sihar, membuat gue bersorak. Senang bukan main. Seperti berhasil melakukan sebuah misi rahasia dan mendapat bonus yang luar biasa. Tepuk tangan dan senyum penonton seolah membayar lunas semua kerja keras dan tetes keringat dari latihan kami. Bukan masalah masuk nilai rapor, ini lebih dari segalanya. Apresiasi yang membuat gue semakin percaya, sebuah karya nggak bisa dinilai demi nilai di rapor.

***

Bonus foto setelah tampil.

The Kingdom

Macan-macan itu akan mengupas kepala kalian! Rwaaarrr

Yak, kini kami menjadi artis kover majalah Hidayah, dengan headline:
"Berdarah-darah Akibat Menipu Badut Sulap"

Foto bareng tuan rumah.
Fellya dan Keset Kamar Mandi

The Kingdom bersama Bu Sihar

Bonus lagi:

Terjun dari lantai 3 akibat frustrasi remedial terus-menerus

Terakhir, terimakasih kepada:
- Allah SWT, yang telah melancarkan semuanya. Tanpa izin-NYA, penampilan kelompok A nggak bakal berjalan mulus.
- Orang tua para anggota. Ya, tanpa izin beliau latihan bakal terganggu.
- Teman-teman kelompok A. Selama 3 bulan gue belajar banyak tentang arti kekompakan dan kebesaran hati. Dan, mengalahkan ego sendiri demi orang lain.
- Khususnya, Giyats, Ikhsan, Beta, Dian, yang udah rela ditebengi motornya oleh gue. Percayalah, kenangan itu selalu ada, bahkan meninggalkan jejak di punggung berupa kerokan. Hehehe, hasil keanginan gara-gara naik fly over.
- Yang teristimewa, sang pelatih, inspirator, sekaligus teman, Kak Hery yang rela mengorbankan waktunya untuk kelompok A tanpa bayaran. Mungkin secangkir kopi di tiap latihan rasanya sangat kurang untuk membayar semua ini.

21 comments:

  1. Yang nenek lu udah meninggal itu kok malah pada ketawa, sih? Parah! (padahal gue juga nyengir-nyengir).

    Totalitas banget lu, Rob! Anjaaas. Duh, gue malah jadi kangen masa SMP pas tugas kelompok bikin drama begini. Emang bener, menyatukan ego anak-anak remaja itu susah. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hwaaaaah, Neneeeek :'(

      Yoi, bang. Anak remaja semangatnya tsaadeeest :))

      Delete
    2. Ntap!

      Btw, di blogroll atau blogwalking lu tolong ganti blog gue jadi akbaryoga(dot)com yak, Rob. Nuhun. :D

      Delete
  2. Bhahahahaaa kirain beneran saling gesek di pojokan. :'D
    Hmm jadi kamu berperan sebagai panglima yg berupa seekor monyet. Akting lu dapet banget, By. Apalagi yg sakau mylanta. Hahahaa

    Itu pas adegan ngapain, By? Kenapa bahagia penuh pesona gitu?

    Anak anak the kingdom rame juga ya. Salut buat kalian :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, keraaam mulut, tuh. Nahan muka segitu memuakkannya :")

      Huahaha, lagi bersiap melawan musuh. Eh, bukan, deh. (Padahal peran sendiri tapi lupa).

      Wuidih, makasih, kakak~

      Delete
  3. Keknya ini foto di FB kemaren ya rob? Owlah... Lo lagi ikut pementasan rupanya.. Pantesan kok sampe serius gitu Makeupnya.

    Tapi, bagian Sakau itu pendalaman banget. Sebenarnya ada fakta yang lo harus akui, rob. Lo gak putih. Jadi, dengan cahaya secukupnya, lo harus nerima kalo lo GELAP Hahaha.

    Sukses juga acaranya.. Salam buat temen2 dari pangeran wortel.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bang. Mesti makeup total demi performa maksimal. Hehehe

      Iya, bang, iya. Udah banyak yang bilang... dan udah sadar sendiri :(

      Asyik dapet salam dari bandar wortel. Muehehe. Makasih, Pak Sarjana. :))

      Delete
  4. AIH KEREN ROBB, MERINDINGG!!
    Btw aa nya Irma emg anak seni banget, gua juga salut sama dia wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Merinding. Hmmm... karena liat foto gue, ya, Rin?

      Iya bener. Andai aja lu kelompok A, pasti sering bilang "Subhanallah" terus.

      Delete
    2. Foto lu ngedalemin peran sbg sakau mylanta banget. fix

      Delete
  5. Bahahahaha. Duh, yang Nenek itu sedih sih sebenarnya. Tapi kok aku malah ngakak ya. Langsung kebayang muka kamu yang murung di tengah-tengah teman-teman kamu yang tawanya menggelegar, Rob. (Halah, kayak tau aja muka murung Robby itu kayak gimana, Cha!)

    Yang soal gesek itu, aku jadi ingat sama pergesekan yang sempat aku alamin juga dulu waktu di ekskul teater. Masalahnnya mirip-mirip juga. Huhu. Baca ini jadi bikin kangen sama masa-masa waktu ikut teater :')

    Itu kamu bisa ekspresif juga akhirnya. Apalagi pas sakau Mylanta. Itu karena kamu belajar sama ibu-ibu penggosip pas beli sayur, Rob? Atau sama ibu-ibu yang hobi nonton Uttaran?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sumpah, ini sedih banget. Minta dikasihanin :(

      Hahaha, masih muda emang begitu. Kalo udah dewasa mungkin udah berkurang kali, ya.

      Heeett, nggak pernah ngerumpi sama ibu-ibu. Pernahnya sama bapak-bapak sambil main remi.

      Delete
  6. hohoho... keren sih, pas gue ada tugas beginian ndak semeriah ini xD

    ReplyDelete
  7. Ya Allah.
    ntap lah Rob. :D
    dandannya niat banget, totalitas. Gua dulu juga pernah drama, di properti nya pake ayam ampe beli ayam warna-warni beneran, terus seharian sekelas melihara ayam di sekolahan. :')
    nikmatin masa SMA mu Rob. demi apa SMA bener-bener ngangenin :') percaya deh sama kakak.

    itu yang nenek meninggal, aku kok ketawa :(, kebayang wajah datarmu Rob. :'D buruan deh diaplod penasaran. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah wah, kangen masa-masa SMA juga. Balik lagi ke SMA deh. Huehehe.

      Ya Allah, malah diketawain. Kusedih :(

      Delete
  8. Trus mawar putih, merpati sama monyetnya diajak juga engga pas manggung
    Kalo diajak wah keren tuh rob, jadi seakan2 beneran
    Merpati, monyet sama mawar putihnya ikut main
    Itu keren dah posternya
    Tapi kok mawar putih, merpati sama monyetnya engga ada y?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kelas langsung jadi kebun binatang.

      Ya, kan diumpetin dulu, bang. Biar surprise. Hehehe

      Delete
  9. Rob, pernah menang ngehias bsk sampah juga prestasi kok, terus nguasain alat musik panci bekas, itu juga bguma, stidaknya buat bangunin orang sahur haha
    Wihh setelah mendapat petuah kak herry kalian ngebikin poster..padahal ini drama di kelas kan? Wow hebat, segitu niatnya

    Btw perang panglima monyetnya knapa ga pke kostum monyet rob..,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, akhirnya ada yang mengakui itu sebagai prestasi :')

      Errr... sebenernya yang bikin poster belia sendiri. Kita mah apa atuh.

      Kemahalan kalo pake kostum beneran. Bisa nggak makan sebulan.

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.