29 July 2015

Kadang gue berpikir, kriteria seperti apa yang cocok untuk menjadi seorang pemimpin. Bisa berbicara di depan umum, punya attitude yang baik agar bisa dicontoh oleh orang lain, dan masih banyak lagi. Begitu juga seorang ketua kelas, yang notabene jadi pemimpin di kelas.

Sewaktu kelas 10, gue pernah jadi ketua kelas. Banyak yang udah dibahas di blog gue (Bisa baca di sini, di sini, dan di sini). Lalu, apakah gue termasuk orang yang punya kriteria yang udah gue sebutin di atas? Jawabannya: Nggak.

Semakin ke sini, gue berpikir ada satu kriteria ketua kelas dan gue punya kriteria itu, yaitu gampang disuruh-suruh. Gue termasuk orang yang penurut. Apapun perintah yang bersumber dari orang yang lebih tua dari gue, gue menurutinya. Ya, nggak semua perintah gue turuti sih. Kalau gue disuruh terjun dari lantai tiga sekolah, gue nggak bakal mau.

Banyak teman-teman kelas 10 yang sekarang berbeda kelas dengan gue bilang, "Kelas 11 jadi ketua kelas aja lagi, Rob.". Gue berpikir, jangan-jangan teman gue mau ngeliat kelas gue hancur dan merasa saingan kelasnya berkurang. Gue cuma bilang ke mereka, "Nanti liat aja. Semoga nggak ada yang milih gue."

Sebenarnya, untuk menjadi ketua kelas, gue udah nggak berminat lagi (Lah, pede banget. Emang ada yang mau milih lu?). Tapi, seandainya gue bisa terpilih jadi ketua kelas lagi, gue pasti siap. Tapi ada satu hal yang membuat gue mikir lagi buat jadi ketua kelas, yaitu bertemu dengan orang baru nggak selalu mudah buat berinteraksi.

Suasana di hari kedua sekolah masih sama seperti hari pertama: canggung. Itu karena kelas diacak di kelas 11. Bertemu dengan orang baru yang sebelumnya belum saling kenal, apalagi ngobrol dan menegur jadi alasan yang gue dapatkan dari kecanggungan kelas baru. Tapi, gue yakin, suasana kayak gini cuma sampai seminggu atau paling lama dua minggu. Liat aja kalau udah sebulan. Pasti udah nggk jaim-jaiman lagi. Pokoknya, kalau udah dibentuk kelompok belajar pasti langsung membaur. Percaya sama gue.

Hari itu, wali kelas gue masuk. Gue nggak asing lagi dengan orang ini. Beliau adalah wali kelas gue di kelas 10. Namanya Pak Pras. Pak Pras masuk ke kelas, lalu mengucap salam "Assalamualaikum".

Seisi kelas menjawab salam.

"Ayo, siapkan berdoa." kata Pak Pras di depan kelas. Kemudian, teman-teman gue yang duduk di depan saling melirik ke temannya. Seakan nyuruh buat nyiapin kelas. Ada di antara mereka yang benar-benar main suruh-suruhan. "Si anu aja... si anu aja," Gue diam, berharap nggak ada yang nyuruh gue (Lah, pede banget lu).

Ketakutan gue terjadi. Teman-teman yang dulu pernah sekelas dengan gue di kelas 10 langsung melirik ke gue seakan berkata, "Rob... siapin doa gih," Berhubung gue peka dengan tatapan mereka dan gue termasuk orang yang gampang disuruh-suruh, gue menyiapkan kelas,

"Siap."
"Berdoa."
"Memberi salam."

Orang-orang yang duduk di depan tatapannya langsung tertuju ke gue. Tatapannya mirip kayak orang yang nuduh temennya kentut, "SIAPA NIH PELAKUNYA??!" Gue sumringah.

Setiap kelas pasti ada pengurus kelas. Di hari kedua, pemilihan pengurus kelas dilakukan. Sama seperti di kelas 10, pemilihan dilakukan dengan menulis nama calon. Boleh menulis nama sendiri. Cara yang udah pernah gue rasakan sebelumnya.

Gue menulis nama Mubarok, orang yang jadi wakil gue di kelas 10.

Semua kertas berisi nama calon pengurus kelas sudah terkumpul. Penghitungan suara dimulai. Satu per satu nama disebutkan lalu ditulis di papan tulis. Mirip pemilihan kepada daerah, ya.

Nama Syaiful disebutkan 3 kali oleh Bunga. Lalu, nama Rizky disebutkan sekali. Sejauh ini, gue aman. Belum ada tanda-tanda kehancuran hidup.

Nggak lama kemudian,

"Robby." Bunga menyebutkan nama gue, lalu ditulis di papan tulis.
"Kampret! Siapa nih yang milih gue??!" gerutu gue. Gue mencoba tetap tenang dan berpikir jernih. "Untung cuma satu, mungkin ada orang iseng." pikir gue.

Kemudian nama Syaiful disebutkan lagi sekali. Disusul Rizky sekali. Lalu,
"Robby"

"2 suara??! Siapa lagi nih yang milih gue??!" teriak gue dalam hati. Gue mulai nggak tenang. Kemungkinan terburuk masih bisa terjadi. Seburuk-buruknya, gue jadi bendahara.

Setelah itu, malapetaka mulai datang. Entah ini kerjaan siapa yang milih gue, nama gue disebutin 3 kali berturut-turut. Jumlah suara gue sama kuat dengan Syaiful. Ya ampun, gue mau mati. *lebay

Mungkin karena ini kelas baru, orang-orang yang memilih gue bingung mau memilih siapa. Mungkin, seharusnya mereka menulis nama Syaiful, tapi karena typo jadi menulis nama Robby. Iya, gue tau itu typo maksa banget.

Sampai ketika jumlah suara gue udah berjumlah 10, orang-orang yang duduk di depan gue langsung melirik cowok-gembel-duduk-di-belakang. Yak, mereka ngeliatin gue. Seakan tatapannya berbicara, "ANAK MANA NIH. BISA DAPET 10 SUARA. MAIN DUKUN NIH PASTI,"

Sumpah, gue nggak main dukun.

Mereka kaget melihat nama gue bisa dapat suara sampai segitu banyak. Kalau ada yang curiga gue main money politic, gue bakal membantahnya. Sumpah, gue nggak main curang demi jadi ketua kelas. Gue cuma sebagai underdog (baca: di bawah anjing) dalam pengurus kelas. Gue layaknya sebagai kuda hitam, adalah orang yang nggak diunggulkan.

Setelah selesai, semua suara calon pengurus kelas dijumlah. Gue mendapat 13 suara mengalahkan Syaiful dengan 6 suara. Gue heran kenapa bisa sampai dapat 13 suara. Gue bertanya-tanya siapa aja orang yang merelakan hidupnya untuk menjadikan gue sebagai ketua kelas. Secara kepopuleran, gue sama sekali nggak dikenal di sekolah. Lalu, bagaimana bisa gue mendapat 13 suara?

Logikanya, di kelas gue, ada 8 orang yang kelas 10 MIA 3 (kelas gue dulu) yang notabene pernah merasakan gue jadi ketua kelas. Dikurang satu suara karena gue nggak milih nama gue. Jadi, ada 6 orang yang belum kenal gue yang memilih gue. Itu juga teman-teman yang dulu sekelas belum tentu milih gue. Harusnya mereka menyesal memilih orang yang sesat seperti gue.

Setelah ditentukan dan dipilih jadi ketua kelas, Pak Pras menghampiri gue, lalu bertanya, "Robby siap jadi ketua kelas?"
Gue jawab dengan mantap, "Siap, pak!".

Siap, pak!
Setelah itu, Pak Pras kembali ke tempat duduk. Gue memikirkan hal buruk apa yang selanjutnya bakal terjadi pada gue. YAK, PIDATO! Saat gue jadi ketua kelas 10 MIA 3, gue disuruh pidato. Saat itu, gue benar-benar mau ngomong apa karena belum ada persiapan sama sekali.

"Ummm..., terimakasih telah memilih saya." kata gue grogi.

Lalu, Pak Pras memotong pidato gue, "Jangan berterimakasih kepada teman kamu, tapi sampaikan apa yang akan kamu lakukan nanti ketika jadi ketua kelas."
 
Saat itu, gue ingin menjawab, "Saya ingin sekolah diliburkan dan hanya masuk sekolah dua hari dalam seminggu," tapi, gue sadar kalau permintaan itu bertentangan dan pasti gue bisa masuk penjara. Gue bingung memikirkan mau menjawab apa, tapi teman-teman gue malah tertawa. Gue makin grogi. Gue mulai bersuara, "Nanti saat saya jadi ketua kelas, saya akan mengadakan piket pagi," kata gue dengan jumawa. "Nah, belum pernah ada kan program kayak gitu ha ha ha..." gue makin yakin.

Nyatanya, piket pagi yang dijanjikan itu cuma mitos. Miris.

Tidak mau jatuh ke lubang yang sama, gue menyiapkan kata-kata untuk pidato nanti. Gue siapkan kata-kata yang membuat hati teman-teman gue luluh. Kesannya biar bisa dipercaya gitu. Istilahnya "Buatlah kesan yang baik dalam pertemuan pertama. Setelah itu, barulah timbul malapetaka".

"Terimakasih, telah mempercayai saya sebagai ketua kelas. Sungguh ini adalah pengalaman saya yang sangat berarti. Mungkin dengan terpilihnya saya sebagai ketua kelas, merupakan sebagai batu loncatan untuk kepemimpinan yang lebih besar luang lingkupnya. Misalnya, jadi presiden Maroko..."

Wuih, kalian yang baca pasti luluh, kan, dengan kata-kata gue. Gue berlatih pidato dalam hati, berharap bisa pede saat berpidato nanti. Gue membayangkan nantinya gue mendapat tepuk tangan dari teman-teman dan wali kelas. Lalu, ada kepala sekolah yang nggak sengaja lewat kelas gue dan melihat gue berpidato. Beliau pun ikut tepuk tangan dan menganggap pidato gue sebagai... ajakan dari sebuah aliran sesat.

Nyatanya, Pak Pras nggak nyuruh gue pidato. Miris.

Itulah akibatnya kalau terlalu pede.

Terakhir, doakan gue, ya, semoga kuat dalam menjalani tugas sebagai ketua kelas. Dan, semoga nggak ada hal-hal buruk yang menyerang. Aamiin.

27 July 2015

Hari Raya Lebaran merupakan momen bersilaturahmi dengan keluarga besar. Biasanya, ada kebiasaan mudik yang jadi topik utama acara berita di televisi. Macet, kecelakaan, korupsi jadi hal yang paling sering dibahas ketika lebaran. (Nggak tau kenapa, gue pengin nulis korupsi. Biar kesannya kasus korupsi di Indonesia nggak pernah selesai.)

Pemudik didominasi oleh perantau. Para pemudik melakukan perjalanan ke kampung halaman masing-masing untuk bertemu sanak saudara mereka di sana. Seperti para perantau lainnya, Bapak juga mudik tahun ini. Bapak adalah orang asli Grobogan, Jawa Tengah. Seperti kebiasaan setiap lebaran, tahun ini gue ikut mudik ke kampung halaman Bapak. Yes, liburan gue nggak cuma di rumah!

Kampung halaman Bapak benar-benar masih berupa pedesaan. Pohon masih banyak. Nggak ada asap pabrik. Nggak ada sinyal (untuk beberapa provider tertentu). Pokoknya desa banget. Dan bisa dibilang, kampung halaman Bapak adalah desa yang tertinggal. Maksudnya, desa yang belum terlalu maju. Gue memperhatikan, pemuda di sana jarang yang main gadget. Ya, mungkin karena sinyalnya juga susah. Gue yakin, pemuda di sini nggak semua punya Facebook. Serius.

Keadaan serba sulit membuat gue bingung mau ngapain. Praktis, kegiatan gue cuma di rumah. Tidur, bangun, makan, duduk di depan pintu, tidur lagi. Begitu seterusnya. Karena terlalu sering tidur siang, membuat gue susah tidur di malam hari.

4 hari setelah lebaran, tepatnya hari Senin, akan ada acara selamatan yang berlangsung di sore hari. Sebelumnya, ada pemotongan kambing pada pagi hari. 

Hari Minggu, gue berniat nggak tidur siang. Niat itu bertujuan biar gue bisa tidur setelah Isya mepet dikit (sekitar jam 20.00) dan bisa bangun pagi nonton kambing disembelih. Namun, niatan gue nggak sesuai kenyataan. Nyatanya, gue gak bisa tidur sampai jam 21.30

"Ah sial, ini pasti gara-gara tadi siang." kata gue dalam hati.

Gue baru ingat, kalau siangnya gue sempat tidur. Ceritanya, gue lagi bosen banget siang itu. Nah, untuk mengisi kekosongan waktu, gue dengerin musik secara acak. Kampretnya adalah, lagu yang gue dengerin saat itu adalah lagu dari Drive yang judulnya Bersama Bintang. Mungkin ada yang nggak tau lagunya, tapi gue kasih di bagian reff-nya,
Tidurlah, selamat malam
Lupakan sajalah aku
Tidurlah dalam mimpimu
Bersama bintang

Gue tertidur.

Udah jelas dari reff -nya. Tujuannya nyuruh gue tidur. "Tidurlah... tiduuur..." Eh, sebentar. Ini suara Anji kok berubah jadi Jarjit Singh, ya?
Kembali ke permasalahan utama: gue nggak bisa tidur.

Sampai sekitar jam 10 malam, gue tetap nggak bisa tidur. Padahal, suasana saat itu sangat mendukung buat tidur. Gue tidur sendirian, nggak bareng siapapun. Nggak bareng saudara, orang tua, atau Jarjit Singh, apalagi Anji Drive. Untuk mengantisipasi hawa dingin yang menyerang di tengah malam, gue memakai jaket yang Mama beli di Tanah Abang. Asli, gue bukan lagi promosi.

Suasana di rumah saat itu sepi. Hanya dihiasi suara-suara lain yang beriringan. Terdengar suara musik jawa sebagai pengiring kethoprak--pertunjukan drama tradisional daerah Jawa Tengah-- yang diperkirakan bersumber dari desa sebelah. Suara detak jam dinding begitu jelas. Bahkan, kambing yang besok akan dipotong juga ikut meramaikan malam itu.

"MBEKKK... MBEKKK... MBEKKKKK...," suaranya keras, seolah berkata, "TOLONG SAYA! LEPASKAN SAYA DARI TAMBANG PENGIKAT INI! SAYA TAK INGIN JADI KUDAPAN KALIAAAN!"

Tiba-tiba, semua suara tadi sekejap menghilang. Timbul suara lain yang membuat gue penasaran setelah mendengarnya.

"Tuuuuuuuuttt..."

Suaranya halus, sedikit fals, dan terdengar familiar. Sepertinya, ini suara kentut Mama dari kamar sebelah. Ya, nggak salah lagi.
Gue merasa semakin nggak betah dengan suasana ini. Guling kanan, guling kiri, kanan lagi, kiri lagi, kiri lagi, kiri lagi, terus..., sampai gak terasa tubuh gue udah sampai di pintu tol Cikampek. Nggak gitu juga, sih.

Gue mencoba menciptakan sebuah kondisi yang nyaman dengan mengganti celana training biru menjadi celana training hitam dengan warna merah di kedua sisi atasnya. Sebelumnya, gue harus mengambil celana training hitam kesukaan gue di dalam kamar yang ditempati Mama.

Gue membuka pintu tol Cikampek  kamar. Terlihat Mama lagi tidur dengan posisi terlentang. "Mana celana training-nya, ya?" kata gue pelan dengan pandangan mencari-cari. Di saat mencari celana training, tiba-tiba Mama terbangun. Kayaknya, sih, dia bangun karena suara pintu yang gue buka. Mama membuka mata, lalu...

 "ASTAGHFIRULLAH.... ASTAGHFIRULLAH..." teriak Mama sambil menyibakkan kain batik yang sedang dia pakai sebagai selimut ke arah badan gue. Mama kaget melihat penampilan gue.

Sosok yang membuat kegaduhan di malam hari. By the way, jaga hewan ternak kalian dari serangan makhluk ini, ya!

"Ini Robby, Ma," kata gue sambil melihat sebuah benda. Gue ambil benda itu, "Ah, ini dia celana trainingnya."

"NGAPAIN SIH MALEM-MALEM PAKE KUPLUK BEGITU??!" terlihat kalau Mama masih panik.

"Ini... nyari celana training." gue menjawab singkat lalu keluar kamar.
Setelah diselepet pakai kain (hampir mirip dengan perang sarung) sebanyak empat kali, gue balik lagi ke tempat tidur, lalu memakai celana yang tadi gue ambil di kamar.
Rasanya campur aduk ketika tau Mama terlihat begitu kaget melihat gue. Antara mau tertawa atau sedih. tertawa karena melihat Mama begitu panik melihat gue berkupluk. Sedihnya, karena Mama ketakutan dan pasti menganggap gue sebagai orang jahat. Walau udah mengganti celana, gue tetap nggak bisa tidur. Sekitar jam 2 dini hari, barulah gue bisa tidur.

Pagi harinya, setelah bangun sholat Subuh, gue langsung tidur lagi (Mungkin ini kebiasaan lumrah di kalangan orang-orang yang nggak punya kerjaan di pagi hari). Gue nggak sempat nonton acara pemotongan kambing. Padahal, gue pengin banget nonton kambing disembelih. Entah, kebiasaan gue sejak kecil masih terbawa sampai gue dewasa; Pergi keliling ke masjid lain setelah sholat Idul Adha nontonin kambing dipotong. Gaul banget.

Sekitar jam 10, gue bangun. Ada Mama yang jaraknya dekat dengan gue yang lagi ada di tempat tidur. Gue penasaran setengah tertawa bertanya ke Mama. "Ma, kenapa semalem kaget gitu? Ha ha ha," tanya gue.

"Serem banget tau. Kirain siapa," jawab Mama.

"Lah orang cuma Robby sih yang masuk,"

"Tapi kaget lah," Mama menjawab setengah emosi. "Mama lagi dierep-erep kok, malah ada orang pake kupluk tiba-tiba masuk. Makanya kaget.". Nggak lama kemudian, Mama pergi ke dapur ngebantuin saudara masak kambing yang dipotong tadi pagi.

Gue diam. Gue nggak ngerti apa itu erep-erep.

Gue pernah dengar istilah itu. Kalau nggak salah di buku SGFD 2. Untuk meyakinkan istilah baru itu, gue nanya ke Bapak gue yang kebetulan dekat dengan gue dan mendengar percakapan dengan Mama tadi. "Pak, tadi Mama bilang apa sih?" kata gue dengan tatapan bocah polos.

"Erep-erep," kata Bapak. "Erep-erep itu...," ada jeda yang cukup lama. Belum sempat menjawab, gue udah memotong kalimat yang belum selesai oleh Bapak, "Apaan, Pak?"

Akhirnya, Bapak menjawab, "Pokoknya kayak ada setan yang nindih kita waktu tidur." Kemudian Bapak kabur pergi ke luar rumah. Mungkin, maksud Bapak kabur adalah karena dia juga nggak begitu paham. Tapi, gue masih berpikir, "Ada setan yang nindih?" .Wow, bagaimana ini bisa terjadi? Dalam bayangan gue, seperti ini kejadiannya
ONE... TWO... THREE. PIN FALL!
WELL..., ITS THE BIG SHOW! *Big show theme song*


Yang tau Smackdown pasti tau siapa dia. Tapi, kok bayangan gue ngaco banget?

Gue nggak puas dengan jawaban Bapak. Akhirnya, gue memutuskan bertanya ke Mister Google jalan-jalan, eh, itu mah Mister Tukul.

"Apakah yang dimaksud erep-erep?" Search.

Nggak muncul apa-apa. Seperti yang gue bilang sebelumnya, di kampung Bapak lagi nggak ada sinyal. Rajungan!

Buat yang penasaran mau tau apa itu erep-erep, tapi bernasib menyedihkan kayak gue, gue jelasin deh dari buku SGFD 2. (Ternyata, selain menghibur, buku SGFD 2 ada penjelasan medisnya juga.)

Erep-erep atau sleep paralysis adalah suatu kondisi di mana tubuh tertidur sedangkan otak masih terjaga atau sadar...

Kira-kira begitulah. Jadi kalau ada yang bilang erep-erep itu berkaitan dengan hal mistis, itu salah besar. Ada penjelasan medisnya. Jadi, kita semua sepakat dong mau nyorakin siapa? YAK, BAPAK!
Tapi, seandainya memang benar ada yang menindih Mama, kita semua pasti punya satu pertanyaan yang sama: Siapa sosok yang menindih Mama? Tapi, gue yakin, pasti ada di antara kalian menduga kalau gue lah orang yang menindih Mama. Sumpah, bukan gue! Apalagi kalau yang menduga Big Show sebagai sosok yang dimaksud. Bukan, dia nggak salah apa-apa. Tolong jangan sakiti Big Show.

Dari cerita ini, bisa diambil sebuah pelajaran: Sebelum tidur, jangan lupa ganti celana dalam. Belakangan gue baru mengetahui kalau celana dalam gue adalah sosok yang membuat gue nggak bisa tidur. Udah 3 hari belum diganti.

Seperti kata Bokap bang Radit di film KambingJantan: gantilah celana dalam secara rutin!

PS: Air di sana lagi susah, makanya gue lupa nyuci celana dalam. Cuma kali kni aja kok, biasanya gue selalu rutin ganti celana dalam

22 July 2015

Beberapa orang bisa nulis dengan nyaman di blog pribadinya. Apa aja yang dikeluhkan, pasti langsung ditulis di blog. Gue pun begitu. Setiap ada kejadian yang gue temui di kehidupan sehari-hari, bakal gue tulis di blog dan gue beri sedikit komedi biar menarik tulisannya. Walaupun bebas mau nulis apapun, tapi gue gak asal tulis dari semua kejadian. Misalnya, gue lagi lapar. Terus biar terkesan lucu, gue aneh-anehin jadi begini:

"Hari ini gue laper, tapi bingung mau makan apa. Akhirnya, gue masak mi instan. Tapi karena mau mencari hal baru, gue masak mi instan sekalian sama kardusnya.."

Setelah selesai membuat post, mereka (para blogger) bisa memamerkan tulisannya ke orang-orang terdekat. Tapi, berbeda dari blogger kebanyakan, gue cenderung lebih tertutup. Bukan..., maksudnya tertutup bukan berarti gue pake kerudung. Gue gak berani pamerin tulisan ke beberapa orang. Salah satunya adalah keluarga.

Gue udah punya blog setahun, tapi keluarga gue gak ada yang tau. Gue menamakan diri sebagai "Backstreet blogger". Karena gue malu kalau nantinya ada salah satu keluarga yang abis ngebaca blog gue, lalu gue diledekin. "Ciyee jadi ketua kelas. Sering remedial juga.."

Malu banget.
Kalo ini Backstreet Boys

Gak usah keluarga, minimal gak ketauan kakak gue deh. Soalnya, dia lumayan rese kalau dia tau gue punya blog. Ketemu akun Facebook gue aja dia bilang, "Weh, foto profil facebook lu ganteng juga." Emang sih keliatan kayak pujian, tapi nada sindiran yang terdengar di kuping gue.

Makanya, gue kalau nge-blog gak pernah pas ada kakak gue di rumah. Dia tinggal di Bekasi, tapi seminggu atau dua minggu sekali ke Jakarta. Setiap gue nge-blog atau minimal baca-baca blog gue sendiri (iya, saking gak ada yang baca), history di browser langsung gue hapus. Karena gue takut kalau misalnya kakak gue minjam laptop dia bakal tau kalau adiknya ini punya blog. Sebentar..., kok mau baca blog gue kayak mau nonton video porno sih? Setiap selesai harus dihapus dulu history-nya biar gak ketauan? Yah..., namanya juga backstreet.

Seminggu sebelum lebaran, kakak gue lagi di Jakarta, di rumah gue. Siang itu, gue baru bangun tidur (iya, selama puasa gue sering bangun siang), kakak gue bilang ke gue, "By, nanti pinjem laptop, ya. Mau ngerjain tugas." Gue mengiyakan tanpa ada rasa curiga.

For your info, untuk nge-blog, biasanya gue pake Mozilla daripada Chrome. Gak tau kenapa, mungkin udah terbiasa pake Mozilla sejak jadi pelanggan warnet, kebiasaan itu terbawa sampai punya laptop sendiri.

"Ya udah, gak papa lah. History di Mozilla, kan, udah dihapus. Kalau pun belum dihapus, biasanya dia pake Chrome, jadi gak bakal ketauan deh," kata gue dalam hati. "Tapi, gue ragu, apa iya udah gue hapus history-nya? Ah, perasaan udah deh."

Dalam lamunan itu, gue sedang baca buku di kamar. Eh, bukan kamar juga sih sebenarnya. Lebih tepatnya rumah yang cuma dikasih sekat. Maklum, rumah tipe kontrakan.
Gue menghampiri kakak gue yang lagi berada di luar kamar dan meminjamkannya laptop. Gue balik lagi ke (sebut saja) kamar membaca buku. Beberapa menit kemudian, gue dikagetkan suara kakak gue.

"Robby haryanto dot com apaan nih, By?"

"...." gue diam.

MATI. Berarti gue belum ngapus history yang terakhir kali gue buka laptop. Gue melirik kearah layar laptop, ada sebuah tampilan home Mozilla. Di sana, gue melihat ada gambar header blog gue. Gue panik. Bingung harus ngapain. Gak mungkin gue mukul muka pake buku yang lagi gue pegang sampai pingsan. Bisa-bisa kakak gue yang panik.

Begini tampilannya. Ada header blogku!!
"Website punya lu?" tanya dia ke gue.

"Uhmmm.... ummm,..," gue masih bingung nyari jawaban yang tepat. Gue mau bohong, tapi nanti puasa gue batal. Kalau gue jujur, habislah gue diledekin karena blog gue isinya curhat yang gak penting ini. Dilema banget.

"Gue buka laah...," dengan leluasa, kakak gue ngebuka blog gue. Seharusnya gue berbohong kalau yang blog yang dia buka adalah situs aliran sesat.

"Oh, itu blog punya Robby, Mas." akhirnya gue bicara.

"Keren tulisan, lu." ucap dia.

TOLONG!!!

"Aduh, jangan dilanjutin lah, Mas, Malu banget isinya curhat semua," gue nahan ketawa sekaligus tangis. Rasanya mirip kayak orang yang buku diary-nya direbut orang lain, terus bakal diancam, "gue baca ahh..".

"Gak papa, bagus kok," kata dia. "Ajarin gue dong."

"...." gue diam. Bingung harus merespon seperti apa.

Wow, siang itu menjadi siang yang awkward bagi gue karena akhirnya ketauan punya blog oleh kakak gue. Sekarang, setiap ada postingan baru dan kegiatan, dia bisa baca dari blog gue. Entah harus senang atau malu, tapi gue menikmatinya.

Proses menutupi selama setahun ini akhirnya harus pecah karena lupa ngapus history. Harusnya gue pake incognito. Iya, KENAPA BARU KEPIKIRAN SEKARANG?!!

Semoga kakak gue gak baca postingan kali ini. Takut nantinya jadi star syndrome.

14 July 2015

Stand Up Comedy Indonesia sudah mencapai season 5. Kompetisi stand up comedy yang diselenggarakan Kompas TV. Bersamaan dengan diselenggarakannya pertama kali, itu artinya sudah 5 tahun ini stand up comedy berkembang dan populer di Indonesia. Gue senang bisa menjadi penonton komedi cerdas ini. Berawal dari seringnya nonton SUCI 2, yang saat itu cuma tayangan ulang setiap siang hari, gue mulai menyukai genre komedi yang satu ini. Lalu, gue mulai rutin nonton SUCI 4 dari audisi sampai David Nurbianto juara, walaupun cuma jadi penonton layar kaca.


Masih menjadi penonton layar kaca, gue juga mengikuti SUCI 5 dari audisi sampai Grand Final. Ada beberapa show yang gak gue tonton, tapi gue bayar lunas saat nonton re-runnya. Ya, gue gak pernah se-setia ini menjadi penonton acara tv.

Audisi SUCI 5 diadakan di beberapa kota di Indonesia. Di antaranya adalah Makassar, Pontianak, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Bangkok, dan Kuala Lumpur. Iya, dua kota terakhir abaikan saja. Masih dengan juri yang sama, yaitu Indro Warkop dan Raditya Dika sebagai juri di tahap audisi.

Di babak audisi, banyak peserta yang menarik perhatian. Di Surabaya, ada Dani, peserta yang sebelumnya ikut audisi SUCI 4 dan diundang menjadi bintang tamu saat Grand Final SUCI 4 karena dia memotivasi semua orang dengan ketidakmampuannya. Bukan berarti gagal masuk SUCI 4 dia langsung takut mencoba SUCI 5. Dani mencoba kembali, dan sukses mendapat golden ticket.
Ada juga hal baru yang hadir di SUCI 5. SUCI 5 kedatangan peserta kembar, yaitu Lukman dan Ludfi. Mereka tampil berdua saat audisi. Karena penampilannya memikat juri, mereka mendapat golden ticket.

Dari sekian banyaknya peserta di babak audisi, hanya dipilih 24 komika yang akan masuk ke babak Pre-show. Babak Pre-show dibagi menjadi dua. Dari kedua babak Pre-show nantinya hanya tersisa 14 komika yang akan masuk babak Show. Mereka di antaranya adalah


Di babak Pre-show 1 dan 2, keduabelas komika diberikan tema bebas dengan waktu 5 menit. Firman, Rizal, Yudha, Pawpao, Icky, dan Yoyo  langkahnya harus terhenti karena tidak lolos. Sedangkan di Pre-show 2, Gandhi, Lukman, Popon, dan Wahyu harus pulang lebih awal.

14 finalis yang sudah bertarung di babak Pre-show menyusul dua komika yang lebih dahulu masuk ke babak 16 besar, yaitu Dicky dan Ridho yang mendapat jatah tiket dari Liga Komunitas.

Komposisi juri masih sama seperti SUCI 4: Indro Warkop, Feni Rose, dan Raditya Dika. David yang tahun lalu menjuarai SUCI 4 menjadi host menenmani Pandji Pragiwaksono yang sebelumnya absen menjadi host karena world tour. Biasa lah, komika internasional.

Sama seperti SUCI 4, di SUCI 5 juga ada komika favorit tiap minggunya. Bedanya, kalau di SUCI 4 bisa memilih urutan tampil, sedangkan di SUCI 5 hanya bisa memilih menjadi opener (pembuka) atau headliner (penutup). Selain itu, di SUCI 4 pemilihan komika favorit melalui SMS, sedangkan di SUCI 5 menggunakan sistem vote di website kompas.tv/standupcomedy.

Beragam persona ada di finalis SUCI 5. Beberapa finalis menjadikan profesi sebagai bahan untuk penamipilannya. Misalnya, Rahman yang berprofesi sebagai cleaning service dan Tomy Babap yang berprofesi sebagai crew film. Selain profesi, daerah asal para komika juga diangkat sebagai materi. Rigen, sebagai orang Bima selalu membawakan bit tentang keadaan Bima dan pacuan kuda yang terkenal di sana. Afif, anak Betawi yang membawa keresahan warga Tanah Abang disetiap bit-nya. Lebih istimewa lagi dan yang paling mencolok, ada finalis penyandang disabilitas, yaitu Dani yang selalu membawa keresahan para disabilitas dengan sedikit karakternya yang "nakal".

Persona yang menarik lainnya adalah si anak STM, Rahmat Hidayat atau biasa disebut Rahmet. Rahmet terbilang muda di anatara finalis lainnya. Usianya baru 19 tahun, tetapi observasi materinya sudah setara dengan komika professional lainnya. Dia selalu membawakan cerita seputar anak STM. Didukung oleh semangatnya yang berapi-api khas anak muda, penampilannya selalu mendapat tawa dari penonton.

Yang paling mencuri perhatian adalah Indra Frimawan. Bit-bitnya yang pendek dengan twist yang sangat patah selalu membuat penonton gregetan dengan joke yang unpredictable.
By the way, banyak banget, lho, fansnya Indra. Sampai di blog gue pun, keyword Indra Frimawan menjadi paling tinggi dibanding dengan keyword pemilik blog-nya, Robby Haryanto. Nasib.

Di setiap musim, selalu ada pembeda dan menjadi menyegarkan. Tahun ini, SUCI 5 membuat Webseries yang berisi keseharian para komika. Di beberapa Show menjelang Grand Final, ada yang namanya juri keempat, yaitu juri yang berasal dari penonton. Caranya, dengan meng-upload video yang berisi komentar ke website stand up kompas tv. Selain adanya Webseries dan juri keempat, SUCI 5 juga menghadirkan improvisational comedy atau biasa disebut improv comedy. Para pemain akan bermain sketsa komedi dan mencari punchline bersama dengan sedikit persiapan. Yang gue tangkap dari sini adalah tim kreatif menginginkan para komika setelah selesai berkompetisi menjadi penghibur di segala kondisi dan minim persiapan.

Gue akan mengulas semuanya mulai dari Show 1 sampai Grand Final.

Show 1
Di show 1, para komika diberikan waktu 3 menit dengan tema Born To Be A Star. Di show 1, satu-satunya komika yang berasal dari Balikpapan, yaitu Baim harus close mic meninggalkan panggung SUCI 5.

Show 2
Show 2 peserta diberikan tema mengenai dangdut. Selama 3 menit, komika akan membahas seputar dangdut menurut sudut pandang mereka. Setelah semua tampil, akhirnya Ubai harus close mic karena LPM (laugh per minute) yang rendah.

Show 3
Show 3 kedatangan juri tamu, yaitu H. Bolot. Komentar-komentarnya yang gak nyambung menambah keseruan malam itu. Para komika diberi tema tentang idola. Ridho yang menjadi opener pada show itu harus close mic karena LPM-nya lebih rendah dibanding komika lainnya.

Show 4
Show 4 menjadi show yang paling berbau mistis karena para komika membahas mengenai mitos. Karena terganggu masalah kesehatan yang diderita, Kalis harus close mic di minggu keempat.
 
Show 5
Bertemakan sandiwara, para komika yang masih bertahan tampil dengan act out yang lucu. Sayangnya, Anjas yang meng-impersonate Presiden B.J Habibie harus close mic karena set materinya gak kompleks. (Begitu sih katanya, gue gak paham teknik stand up.)

Show 6
Tema motivasi menjadi topik bahasan para komika untuk menjadikan materi. Setelah minggu lalu Anjas harus close mic, di show 6 Rahman, finalis yang paling tua, harus close mic karena gak pakai teknik Callback yang seharusnya digunakan.

Show 7
Di Show 7, para komika harus bertarung dalam dua babak. Babak pertama yaitu battle antar komika dengan waktu selama 3 menit. Di babak kedua, mereka stand up dengan durasi 3 menit dengan tema bebas. Wira yang di babak pertama melawan Rahmet, melakukan perubahan persona menjadi emosional di babak kedua. Alhasil, penonton jarang tertawa dengan joke yang dibawakannya. Wira harus close mic di Show 7.

Show 8
Show 8 menjadi sebuah penyegaran. Karena ada babak yang bernama Roasting. Jadi, roasting adalah sebuah teknik dengan menjadikan orang lain sebagai materi. Di Show 8 ini, para komika menjadikan para juri sebagai materinya. Setiap komika harus me-roasting satu juri. Durasi tiap komika selama 5 menit.
Masing-masing komika memiliki teknik dalam meroasting. Ada yang elegant dan ada juga yang biasa. Tomy Babap yang saat itu me-roasting Indro Warkop harus close mic karena roastingnya gak se-elegan komika lainnya.

Show 9
Di Show 9, para komika tampil dalam dua babak. Babak pertama para komika bermain improv comedy dan mereka dibagi menjadi dua tim. Tim pertama berisikan Dicky, Afif, Dani, dan Rahmet. Tim kedua diisi oleh Indra, Rigen, Heri, dan Barry. Mereka juga kedatangan Asri Welas dan Sogi yang ikut bermain improv comedy. Di babak pertama, tim kedua menang. Tim pertama harus menjalani babak kedua dengan stand up yang diberi tema buruh dan diharuskan menggunakan teknik Impersonation. Yaitu teknik menirukan tingkah laku seseorang public figure atau orang yang mudah dikenali tingkah lakunya. Sayangnya, Dicky salah menggunakan teknik. Dia menirukan seorang wanita yang gak diketahui banyak orang. Dengan kata lain, Dicky harus close mic di Show 9.

Show 10
Di show 10 gak ada yang close mic, melainkan ada babak Callback. Babak Callback adalah babak yang memanggil kembali peserta yang sudah close mic untuk bisa berkompetisi kembali. Dari vote yang sudah dilakukan di website, terpilihlah Rahman, Wira, dan Kalis yang siap berjuang untuk bisa masuk 8 besar.
Ketujuh finalis lainnya juga tampil dengan membawakan tema persahabatan. Tapi yang jadi fokus adalah tiga finalis yang berjuang di babak Callback. Dari penilaian juri, akhirnya ditentukan kalau Kalis masuk kembali ke 8 besar.

Show 11
Show 11 menjadi spesial karena 8 besar SUCI 5 harus tampil di depan para tentara dalam Military Challenge. Ada dua babak. Babak pertama para finalis harus stand up di markas tentara dan di babak kedua mereka tampil di Balai Kartini. Setelah bertarung dua babak, tibalah pengumuman siapa yang akan close mic. Komika absurd dari Depok harus close mic di Show 11, yaitu Heri.

Show 12
Selain meroasting juri, SUCI 5 kali ini juga kedatangan Agung Hercules yang  dijadikan sebagai objek roasting para komika. Para komika tampil selama 7 menit. Semua tampil apik dalam meroasting Agung Hercules. Tapi, Barry menjadi peserta dengan jumlah tertawa paling rendah dibanding peserta lain. Barry harus close mic.

Show 13
Semakin ke sini, semakin sulit tantangan yang harus dihadapi para finalis. Di babak pertama, para komika bermain improv comedy dengan latar belakang rumah sakit. Lalu di babak kedua, dengan tema hidup sehat dengan durasi 7 menit. Konsentrasi komika bisa saja pecah karena kurang fokus. Begitulah yang terjadi pada Afif, komika asal Tanah Abang yang bermasalah dengan delivery dan susunan kalimat. Show 13 menjadi perjuangan terakhir Afif di panggung SUCI 5.

Show 14
Dua babak masing-masing babak berdurasi 5 menit. Babak pertama para komika diberi tema All about him self. Di babak kedua, para komika diberikan tema bebas dengan menggunakan teknik Callback. Di show 14, Kalis harus terhenti lagi perjuangannya setelah mendapat LPM terendah.

Show 15
Memeriahkan ulang tahun Jakarta ke-488, 4 besar SUCI 5 diberi tema tentang Jakarta. Selain itu, menyambut bulan suci Ramadan yang akan datang, mereka diberi tema mengenai puasa. Masing-masing babak diberikan waktu 4 menit.

Show 16
10 besar komika dikumpulkan dalam Show reuni 10 besar SUCI 5. Walaupun namanya 10 besar, tetapi jumlahnya ada 11. Itu karena Kalis, yang sudah close mic di Show 4 masuk babak Callback dan menjadi juara 5.
Delapan komika tampil (selain grand finalis) dengan tema Media karena bertepatan dengan ulang tahun Kompas TV yang ke-50. Para finalis juga bermain Improv comedy dengan 10 besar. Di malam itu, ada pemilihan Komika Persahabatan yang telah dipilih sebelumnya melalui vote di website Stand up Kompas TV. Terpilihlah Indra Frimawan menjadi komika persahabatan yang sebelumnya diraih oleh Hifdzi di SUCI 4.

Grand final
Berbeda dari Show biasanya, di Grand Final ada 3 host yang akan membawakan acara sampai selesai. Mereka adalah Pandji, David, dan si gendut Hifdzi. Kehadiran Hifdzi membuat suasana tambah lucu ketika di awal dia berpantun mengguakan bahasa Thailand. Gue ngakak dengan pantunnya Hifdzi itu.

Inilah 3 finalis yang tersisa untuk mendapatkan gelar juara SUCI 5 (dan menjadi host SUCI 6 tentunya)



Grand final SUCI musim ini berbeda dengan musim-musim sebelumnya. Kalau kita tahu, musim sebelumnya Grand Final SUCI hanya ada 2 peserta. Tapi berbeda di SUCI 5 dengan 3 peserta yang masuk Grand Final.

Ada Rahmet yang memiliki kekuatan utama act out gokil dan cerita mengenai kehidupan di STM. Ada Indra, komika favorit gue ehehe, yang memiliki jokes one liner yang keren abis dan menghasilkan mind-blowing comedy. Lalu, rekan Indra di Stand up Indo Jakbar, Rigen yang punya story telling ciamik dan membawakan keresahan anak Bima yang merantau ke Jakarta dan hidup nge-kos. Mereka semua sudah berjuang selama 5 bulan lebih untuk mencapai titik puncak, yaitu Grand Final.

Di Grand Final, seperti biasanya komika harus stand up selama 7 menit dengan 3 babak. Babak pertama grand finalis stand up harus me-roasting para grand finalis lainnya. Babak kedua mereka harus stand up dengan properti/media seperti gambar, video, atau benda. Di babak pamungkas, komika harus stand up dengan tema juara dan menggunakan teknik Rule of Three, Impersonation, Riffing, Hackling handling. Ribet juga, ya tekniknya.

Di babak pertama, gue menilai Rigen lebih rileks dibanding yang lainnya. Terbukti dari awal sampai closing punchline penonton tertawa. Inilah keunggulan Rigen dalam teknik roasting.
Di babak kedua, gue menilai Rahmet lebih apik. Semua teman-teman yang pernah Rahmet ceritakan di bit-nya, ditampilkan secara nyata. Tervisualisasi dengan baik.
Babak ketiga, Rigen menggunakan semua teknik yang disyartakan dengan keren.

Tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, pengumuman juara akan disebutkan oleh Pandji Pragiwaksono. Dengan keputusan yang ketat, Pandji menyebut Rigen menjadi juara SUCI 5. Dengan demikian, Rigen akan menjadi host di SUCI 6.

Butuh acara yang menghibur sekaligus menginspirasi? #CARIDIKOMPASTV

Stand up comedy Indonesia, Let's Make Laugh.
Makin kesini, gue semakin tumbuh dewasa. Biasanya, sih, kedewasaan ditandai dengan timbulnya masa pubertas. Eh, tunggu dulu. Ini bukan biasanya, tapi emang HARUS lewat fase itu.
Pubertas adalah....  pasti udah tau semua tentang ginian. Lagi pula ini bukan kelas Biologi dan bukan mau bahas pubertas.


Makin dewasa juga otomatis banyak perubahan pada diri gue dari segi fisik dan kejiwaan. Contoh dari segi fisik, tinggi gue dan Bapak udah hampir sama. Kalau gue berdiri sejajar dengan Bapak gue dan berangkulan, kita seperti teman seperjuangan yang melawan kerasnya Ibukota. Ukuran baju juga udah hampir sama antara gue, kakak, dan Bapak. Suatu ketika, gue pernah gak sadar ternyata lagi pake baju kakak gue. Lebih dari itu, diantara kita bertiga sempat celana dalamnya tertukar! Seandainya dibuat judul sinetron juga kan gak asik. Masa jadinya "Kolor yang tertukar". Kacau dunia akhirat.

Walau gue udah SMA, gue risih kalau lagi beli sesuatu dan gue dipanggil mas. Pernah suatu ketika gue ke tukang fotocopy dan gue dipanggil mas oleh mbak-mbak tukang fotocopy disitu. Padahal, kemarinnya gue ke tempat fotocopy  dan ketemu mbak-mbak yang sama gue dipanggil tong. Sebegitu cepatnya gue tumbuh menjadi besar dengan waktu sehari semalam.
Ini jelas jauh tingkatannya antara mas dan tong. Kalau mas adalah panggilan untuk orang yang dewasa, sedangkan tong adalah panggilan untuk bocah. Itu sih menurut gue.

Lebih gila lagi, ketika gue ke warnet. Ceritanya, gue keluar dari warnet, ada anak kecil mau ngeluarin sepedanya yang terhalang motor. Karena gue satu-satunya orang yang ada di luar warnet, gue diminta menggeser motor itu biar si anak kecil bisa pulang.

"Bang, geserin motor dong," kata si anak kecil.

Gue langsung geser motornya ke arah kanan. Padahal, gue gak pernah ngegeser motor sebelumnya. "Makasih, ya, Bang." kata si anak kecil, sambil ngeluarin uang seribuan, "Nih, Bang."

Gue dikasih seribu. Kampret. Dikira tukang parkir.

Menurut gue, perubahan fisik membuat orang lain sedikit gak mengenali kita. Gue pernah ketika pulang sekolah ketemu teman SMP di angkot. Sebut saja namanya Tari. Ketika gue masuk angkot, Tari ngumpetin mukanya, tapi dia ketawa kecil ngeliatin muka gue. Seakan gak bisa dibendung ketawanya, dia langsung ngeliatin gue.

"Eh, si Robby," kata Tari yang masih terlihat menahan ketawa.
"Eh, Tari," gue membalas.
"EH MONYET!" supir angkot teriak ke luar jalan.

Suasana langsung dingin. Kemudian pecah ketika Tari ngajak gue ngobrol. "Ihh..., Robby sekarang mukanya giu, ya." kata Tari, masih sambil menahan tawa. Gue heran, kenapa si Tari ketawa mulu. Gue jawab, "Begitu gimana maksudnya?"

"Mukanya..., jadi terlihat dewasa,"
"Hahaha..., ini pengaruh lingkungan," entah itu jawaban yang nyambung atau nggak.

Setelah itu, kita diem-dieman lagi. Sampai akhirnya, gue turun lebih dulu. "Gue duluan, ya," kata gue sebelum turun angkot ke Tari. "Hati-hati, Rob."

Setelah turun angkot, gue  ketawa sendiri. Mungkin ini virus yang ditularkan Tari ke gue. Ngga, gue ketawa karena seneng bisa ketemu teman SMP. Gue mengingat-ingat lagi percakapan kita tadi, kok ada yang janggal, ya?

"Mukanya jadi terlihat dewasa"

Gue merenung. Kampret, dengan kata lain muka gue terlihat "tua".

Semakin dewasa juga tanggung jawab yang diemban semakin besar. Apa yang kita lakukan, itu semua harus bisa ditanggungjawabkan. Karena orang tua udah mulai sedikit lepas dari urusan anaknya. Dan, gue belum siap menjadi dewasa. Mengingat gue adalah orang yang gak terlalu bisa mempertanggungjawabkan segala hal yang gue lakukan. Misalnya, kemarin gue main bola. Gue gebok anak kecil dan si anak itu nangis. Karena gue bingung, gue lari. Sungguh tidak gentleman.

Tepat hari ini, umur gue menginjak 16 tahun dan itu artinya tahun depan lagi bakal punya... anak. Eh salah, maksudnya KTP. Gue kadang suka heran sendiri gak terasa bentar lagi punya KTP. Padahal baru punya kartu pelajar, gue senang bukan main, apalagi kalau nanti punya KTP dan bisa nambah ketebelan dompet setelah cuma diisi oleh struk belanja Indomaret.

By the way, gue beneran lagi ulang tahun hari ini. Setelah 14 hari yang lalu, blog gue ulang tahun yang pertama, kini giliran yang punya ulang tahun. Sebenernya enak kalau mau bikin giveaway bisa sekalian. Tapi, maaf banget, gue gak bisa ngadain apa pun.

Yang menyenangkan dari momen ulang tahun adalah ucapan selamat ulang tahun dari teman-teman. Mereka semua ngucapin lewat BBM, Facebook, atau Line. Iya, gak ada ucapan langsung dari mulut. Kasian, ya.

Dari mereka semua yang ngucapin ulang tahun, banyak menurut gue yang menarik dan membuat gue susah tidur. Bawaannya ngakak terus ngeliat ini. Oke, gue menggolongkan menjadi dua. Pertama, orang yang rese di BBM. Kedua, orang yang ngucapin di Facebook.

Yang pertama di BBM. Ternyata, setelah gue ulang tahun, jumlah Robby Haryanto di dunia ini meningkat.
Lihat! Robby Haryanto makin banyak jumlahnya di dunia. Waspadalah!
Bahkan, gue dilindungi. Save Robby!

Sumpah! Gue gak kepengin punya hape yang layar doang.

Setelah gue telusuri, ini kerjaan teman-teman gue. Kalian rese.

Aha! Ketauan, deh
Yang kedua datangnya dari Facebook. Mereka rata-rata membawa blog di doanya. Alhamdulillah, ada yang mau doain kita... *peluk laptop* *cium layar laptop*

Makasih, Afra. Tapi....
Aamiin. Makasih, kak. (Gue bingung mau nyebut kak Rindi atau kak Mira ehehe)

Yos! Makasih, Fitrah.
Sohib gue di Blogger Energy. Thanks, Ari!

Thanks, teman SD dan SMP gue yang satu ini. Ini baru teman seperjuangan!


Makasih, Praz Teguh. Eh, Teguh Praz. Sukses terus di STM!
Dari sekian banyak yang ngucapin, ada satu orang yang paling baik. Dia ngebolehin gue jadi Presiden Maroko!

Andaikan gue punya jin kayak gini yang bisa ngabulin semua permintaan. Eh, sorry, Pul. Gak maksud jahat kok. Makasih, ya!
 Gak cuma teman gue yang ngucapin, Kaskus juga ikut ngucapin! (Gue tau, ini cuma auto)
Kaskus juga ikut ngucapin! Cendol, gan!

Terimakasih kalian yang udah memberi ucapan di BBM, Facebook, atau di Line. Yang di Line gak ada gambarnya, maaf banget. Maaf, gue gak bisa ngasih apa-apa. Karena..., tak ada gading yang tak retak. Emang gak nyambung.

Si yu ba bay~

06 July 2015

Tahun ini, gue baru pertama kali ngerasain yang namanya libur sebulan. Ini terjadi karena libur semester dua berbarengan dengan libur lebaran. Mirip zamannya Presiden Gus Dur gitu deh. 

Pokoknya, dengan kejadian (langka) ini, ngga ada alasan buat ngga punya baju baru, apalagi anak yang baru lulus atau masuk sekolah.
"Baju baru lebaran buat aku udah beli kan, Ma?"
"Udah dong, sayang. Spesial buat tahun ini, baju lebaran kamu ada logo osisnya.."
"...."

Setidaknya, orang tua masih bisa beliin baju buat anaknya. Bersyukurlah sobat.

Libur sebulan emang bikin terlena. Biasanya tiap pagi gue harus sekolah, sekarang gue gak tau waktu. Yang mana pagi, yang mana siang. Pokoknya, kalau gue udah bangun tidur, itu berarti masih pagi. Padahal, udah jam 1 siang.
 
Gue menghabiskan waktu libur dengan hal-hal membosankan. Buka twitter jarang ada notifikasi. Main facebook cuma ngarep ada yang inbox "RL-an yuk..". Ask.fm juga sepi dari pertanyaan. Line dan BBM isinya cuma ajakan bukber yang ujungnya nyakitin. Bukan nyakitin karena gak jadi, tapi keadaan finansial gak mendukung. Buka Instagram sempet dibikin seneng gara-gara nonton videonya Kevin Anggara, Chandra Liow, Aulion dan sekutunya (siapa nih maksudnya?). Tapi, suatu malam, gue baru buka Instagram dan langsung disuguhkan foto yang diupload mantan tentang "doi"-nya. Dan perihnya, GUE TAP DUA KALI GAMBARNYAA. TAP DUA KALI... DUA KALI. DUA KALI BIAR AZEK. AAAAA... RAJUNGAN. Lalu, terdengar nyanyian di kepala gue,

Kau hancurkan aku dengan sikapmu
Tak sadarkah kau telah menyakitiku
Lelah hati ini meyakinkanmu
Cinta ini, membunuhku.

Seketika, dunia lebih gelap dari pada biasanya. Iya lah gelap, gue main hape-nya malem.

Untuk melupakan insiden stalking barusan, gue buru-buru memandangi langit (mungkin bisa dicoba buat korban stalking). Tiba-tiba, gue terpikirkan untuk nulis post ini. Terciptalah sebuah ide mencuri kolak untuk menceritakan "suka-duka gue jadi ketua kelas". Entah kenapa, setiap selesai nge-stalk dan berakhir nyesek, gue selalu dapat ide nge-blog yang brilian. Terimakasih mantan untuk segalanya. Kau berikan lagi, ide brilian. (dibaca dengan nada lagu Terimakasih cinta - Afgan).

Gue ingat, 6 bulan sebelumnya gue diangkat jadi ketua kelas yang meneruskan kekuasaan Ricardo, ketua kelas sebelumnya. Kalau di sebuah film aksi, gue adalah calon pemimpin perang yang datang dari keluarga tidak mampu, bahkan tidak dianggap di sebuah desa. Lalu, gue datang dengan gagah mencalonkan diri, menang di pemilihan, dan berakhir dengan kepala dipenggal karena kepemimpinan yang buruk. Suram.

Setiap pengalaman, banyak suka duka yang bisa dirasakan. Gue pun begitu, selama jadi ketua kelas, gue banyak merasakan manis dan pahit. Tapi, manis dan pahit adalah sebuah kombinasi yang menjadikan suatu hal lebih kaya rasa tanpa ada yang lebih dominan di keduanya. Hidup itu butuh keseimbangan, sob.


Biar kayak minum jamu, gue sebutkan pengalaman yang pahit dulu. Ayo semua, tundukkan kepala.

Ketua kelas juga siswa biasa.
Sebagai ketua kelas, gue merasa dikastakan oleh teman-teman gue. Gue juga manusia biasa. Kadang ada yang bilang gini, "Rob, lu kan ketua kelas. Masa gak ngasih contoh yang baik." Ada kalanya, ketua kelas juga pengen nakal.
Lebih parah lagi, ada yang bilang gini, "Rob, gue tadi ngeliat lu main bola. Gue kagum banget. Tendangan lu keren, apalagi saltonya. Mirip Jackie Chan..". Yoih, dunia (binatang) mengakuinya bwehehe.

Sesekali jadi orang yang hina.
Kadang ada perintah guru yang gak mengenakan teman-teman. Gue mau gak mau harus menyampaikan perintah itu ke mereka. Lalu, respon mereka... menghina dan mencaci gue. Kit ati akuh.

Mereka yang gak seneng, langsung minta yang nggak-nggak ke gue. Mau gak mau, gue harus nolak mereka. Lalu, respon mereka... menghina dan mencaci. Kit ati akuh.

Banyak yang nanya
Gue adalah tipe orang yang suka ditanya. Makanya, gue paling senang kalau lagu di jalan, terus ditanya jalan sama pengendara motor yang lewat di depan gue. Tapi, perlahan kebiasaan itu hilang setelah GPS muncul. Jadi gue jarang ditanya lagi.

Tapi, setelah gue jadi ketua kelas, gue lumayan sering ditanya teman-teman. Bukan sekedar pertanyaan "Robby udah makan belum" atau "Robby udah sunat berapa kali", tapi lebih penting dari itu. Karena ketua kelas adalah sumber info paling akurat yang langsung diturunkan oleh guru.

Kebiasaan sering ditanya membuat gue jengah. Gue mulai gak suka ditanya setelah mendapat pertanyaan super gak penting. 

Misalnya, waktu itu ada tugas membuat presentasi dari Pak Roy-- guru Agama gue. Beliau udah memerintahkan pengumpulan tugas dikirim ke alamat email-nya. Tapi, ada salah satu teman sekelas gue nanya di BBM, "Rob, emang tugas Agama kalo udah selesai kirim ke pak roy?"


Respon gue saat itu: Ini pertanyaan  yang gak perlu dijawab.

Kenapa gue bilang gitu? Pertama, udah jelas harus dikirim. Kedua, jelas-jelas guru Agama adalah Pak Roy. Ketiga, pengin gue katain tuh orang, "Bukan. Bukan kirim ke Pak Roy. Tapi kirim ke kantor pos, terus ditujukan ke alamat rumah lu..., biar lu baca sendiri tuh tugas.."

Lagian, ini kan file. Mana bisa kirim via kantor pos. Jadi ketua kelas emang harus punya kesabaran yang tinggi.

Pahitnya udah, kita ke bagian yang manis.

Enaknya jadi ketua kelas adalah..
.
.
.
.
.
.
.
Enaknya coba sendiri deh. Nggak deh, bercanda. Yang bener gini, nih:

Seketika jadi suami-nya anak-anak.

Sering di kelas gue gak ada guru masuk. Makanya, teman-teman sekelas bakal bertingkah liar. Pasti ada aja teman yang izin ke kamar mandi. Karena gak ada guru, mereka bakal izin ke orang yang udah ditanggung jawabkan. Siapa? GUEH.
"Rob, izin ke kamar mandi, ya."
"Rob, gue ke toilet ya."
"Rob, ngapain lu nungging di meja guru? Di belakang lu ada guru tuh.."
Pokoknya, semua bakal izin ke gue. Semua gue anggap sebagai istri dan gue suaminya karena mereka istri harus izin ke suami. Surga kalian berada pada ridho gue nyiahahaha.

Dapat info lebih cepat
Tiap ada info dari guru, siapa yang paling dulu dicari? Iye, KETUA KELAS. Misalnya, ada info ulangan. 
Ketua kelas adalah orang yang pertama tau kapan ada ulangan dan kebenarannya 100%. Jadi, kalau udah dikasih info ulangan, gue bisa belajar lebih dulu dibanding teman yang lain. Istilahnya, nyolong start.

Lihat dong hasilnya... gue tetep remedial


Ngumpulin tugas semaunya.
Salah satu tugas ketua kelas adalah mengumpulkan tugas ke guru. Jadi, gue sering disuruh ngumpulin tugas ke meja guru setiap ada tugas. Dengan ini, gue punya keuntungan, antara lain: 1) Gue yang akan ngumpulin tugas, berarti terserah gue mau ngumpulin tugas kapan karena ujung-ujungnya gue yang ngumpulin tugas. 2) Berarti, gue bebas mau ngerjain tugas kapan pun, karena gue yang ngumpulin tugas.

Terakhir gue ngelakuin hal itu, gue diomelin teman-teman sekelas.


Mungkin segitu aja cerita gue. Ada yang pernah jadi ketua kelas? Kalau ada bisa share cerita tentang ketua kelas di kolom komentar.

Si yu, ba bay~

03 July 2015

Gue termasuk orang yang baru dalam penikmat buku. Baru sekitar setahun ini. Dulu, gue emang suka baca, tapi baca koran. Biasanya juga sih, baca rangkuman. Tapi, gue gak suka baca mantra. Tenang aja.

Setahun ini, gue sering ke toko buku, entah itu beli atau sekedar liat-liat cewek cantik buku baru. Karena kebiasaan gue itu, gue jadi tau beberapa buku yang lagi top. Itu juga yang membuat gue tau nama-nama penerbit buku, salah satunya adalah GagasMedia.

Tahun ini, GagasMedia berulang tahun ke-12. GagasMedia memeriahkan ulang tahunnya dengan memberikan kado untuk blogger terpilih dengan menjawab 12 pertanyaan yang ada di bawah ini:

Gak susah, kan? Ayo ikutan. Tapi, jangan nyontek.
Gue pun ikut serta dalam event ini. Setahun sekali, bro. Kapan lagi kalau gak ikutan. Langsung jawab aja deh pertanyaan yang ada di atas.

1. Sebutkan 12 judul buku yang paling berkesan setelah kamu membacanya!
Kebetulan, jumlah koleksi buku gue ada 12 judul gue beli sepanjang tahun 2014 sampai 2015. Semuanya berkesan. Karena pertanyaannya harus 12 judul, maka gue tulis semua judul buku yang gue punya.

1. Marmut Merah Jambu - Raditya Dika
2. KambingJantan - Raditya Dika
3. Manusia Setengah Salmon - Raditya Dika
4. Babi Ngesot: Datang Tak Diundang, Pulang Tak Berkutang - Raditya Dika
5. Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa - Raditya Dika
6. Koala Kumal - Raditya Dika
7. Skripshit - Alitt Susanto
8. Relationshit - Alitt Susanto
9. Student Guidebook For Dummies 2 - Kevin Anggara
10. Analogi Cinta Berdua - Dara Prayoga
11. Back To You - Dara Prayoga
12. Love Rebound - Satria Ramadhan


Iya, kebanyakan buku lama. Gue telat gaul.


2. Buku apa yang pernah membuatmu menangis, kenapa?
Sejujurnya, gue susah menangis karena gue lelaki kuat. Tapi, apa mau dikata, buku Relationshit pernah membuat gue nangis. Emang sih buku ini genrenya komedi, tapi ada beberapa bab yang sukses bikin gue nangis di antaranya adalah Adik Gue Jagoan Gue, Firasat,  dan  Gue Adalah Anak Eyang.


3. Apa quote dari buku yang kamu ingat dan menginspirasinya?
Calon orang sukses itu adalah orang yang mau menunda kesenangan. Asal yang berat-berat udah bisa kita lewati, hal-hal yang menyenangkan pasti bakal mengikuti - dari buku Relationshit.


4. Siapakah tokoh di dalam buku yang ingin kamu pacari? Hayo, berikan alasan kenapa kamu 
cocok menjadi pasangannya.
Mia Mulyasari, di buku Back To You. Sifatnya idaman gue banget. Pendiam, asik, gak banyak nuntut. Aslinya juga bener-bener cantik, loh. Gue udah buktiin di facebook-nya. Kok malah curhat?

Maaf, ya, bang Oka ehhehe
 
5. Ceritakan ending novel yang berkesan dan tak kamu lupakan!
Back To You.

Di akhir cerita, Oka kembali memperjuangkan cintanya ke Mia yang udah lama mati. Berkat dorongan feeling, Oka kembali bersama Mia, orang yang sudah dikenalnya sejak SMA. Lalu, Oka melamar Mia. Keluarga Mia menyetujuinya. Happy ending.


6. Buku pertama GagasMedia yang kamu baca dan kenapa kamu memilih itu?
KambingJantan. Awalnya disuruh beli, tapi karena lagi bokek jadinya ditunda. Dihasut empat kali sama teman katanya, "Lu beli, By. Ini buku lucu banget sumpah. Gue dikira orang gila gara-gara ngakak di rumah." Dengan polos, besoknya gue ngambil uang 30 ribu di celengan, gue beli. Setelah baca, emang bener-bener lucu. Puas deh walau ngambil uang dari celengan.

7. Dari sekian banyak buku yang kamu punya, apa judul yang menurutmu menarik? Kenapa?
Love Rebound. Padahal gue gak suka basket, tapi tergugah buat beli buku itu.
Awalnya, ketika main basket di sekolah diajak teman. Lalu teman gue bilang, "Tugas lu nge-rebound aja, By." Gue yang ngga ngerti mengiyakan aja.
Di suatu malam, gue ngecek timeline Twitter, lalu ada buku yang baru liris judulnya Love Rebound. Akhirnya, sebulan kemudian gue beli. Tanpa ngambil uang dari celengan. 

8. Sekarang lihat rak bukumu, cover buku apa yang kamu suka? Kenapa?
Love Rebound. Karena modelnya di cover lagi merem. Aneh bin unik.

9. Tema cerita apa yang kamu sukai? Kenapa?
Sejauh ini, gue suka dengan tema patah hati. Entah kenapa, setiap ada cerita patah hati, gue merasa terwakili. Maklum, gue terlalu sering menelan kekecewaan jadinya begini.

10. Siapa penulis yang ingin kamu temui? Kalau sudah bertemu, kamu mau apa?
Dara Prayoga, Satria Ramadhan, Raditya Dika dan Alitt Susanto.
Sebenarnya, dulu pernah ketemu Oka di sekolah gue. Tapi, dulu gue gak terlalu kenal orangnya, jadi bodo amat deh.
Kalau gue ketemu mereka semua, gue mau minta foto dan minta diajarin menulis komedi pakai hati yang superrr keren seperti mereka semua.


11. Lebih suka baca e-book atau buku cetak?
Buku cetak. Mungkin udah terbiasa dari TK baca di buku cetak jadinya gak terbiasa di e-book. Lagi pula, kalau baca di e-book terlalu lama membuat mata sakit.

12. Sebutkan 12 kata untuk GagasMedia menurutmu!
Penerbit yang selalu tampil dengan buku-buku hebat yang menginspirasi dan menghibur.


Dan yang terakhir, selamat ulang tahun GagasMedia. Semoga terus menjadi penerbit penghasil buku yang top!

02 July 2015

"Liat deh penulis itu. Bukunya selalu best seller. Gue mana mungkin bisa buat buku sebagus dia.."

Begitulah ungkapan pesimis dari seseorang yang punya cita-cita ingin jadi penulis, tapi sama sekali belum pernah menulis.

"Gimana sih biar mudah dan lancar dalam menulis?"

Di dunia ini, gak ada yang selalu lancar-lancar aja. Pasti di tengah-tengah usaha menulis, ada aja hambatannya. Sebelum penghambat datang menyerang, perlu diperhatikan hal-hal berikut. Here we go..

1. Ada ide, langsung catat

Pasti sering deh mengalami muncul ide nulis secara mendadak dan tak terduga. Misalnya, lagi main sama teman, lagi diomelin guru, atau bahkan lagi ngerjain pr. Pokoknya yang kayak gitu gak pernah terduga.

Dan saat itu juga, kita mikirnya "Wah, dapet ide nulis nih. Pokoknya, ide ini harus gue ingat. Kalau udah ada mood nulis, nanti keluar sendiri deh idenya.."

Itu pemikiran yang salah.

Gak semuanya bisa diingat, apalagi dengan kegiatan yang menyibukkan membuat kita bisa aja lupa ide. Hilang begitu aja dimakan kucing (Emang kucing makan ide?). Kan sayang kalau hilang begitu aja, padahal kita yakin ide itu kalau dijadikan tulisan bakal keren banget.

Gimana caranya biar ide gak lewat gitu aja? Buruan catat. Bisa pake handphone atau buku catatan. Catat inti dari yang kamu tulis. Misalnya, kita lagi sekolah. Lalu, saat ulangan Fisika, kita ngeliat ada teman kita nyontek. Sebagai pelajar teladan, pastinya kita bakal geram dengan tingkah teman kita. Langsung catat kejadian tadi dengan menuliskan inti cerita. Ambil kertas coret-coretan rumus Fisika, tulis deh,

"2 temen gue nyontek pas ulangan Fisika. Nyontek seenaknya, gak mikirin perasaan orang yang udah belajar. Lebih parah lagi, gue minta jawaban gak dikasih... Gue minta jawaban ke kepala sekolah.."

Tapi kalau misalnya lagi di jalan dan gak bawa handphone atau buku catatan gimana?

Pinjam pulpen ke warung, cari kertas bekas bungkus rokok, tulis deh. Tapi kertasnya jangan dibakar yaa. Nanti malah hangus tuh idenya.

2. Lawan rasa malas

Setelah mencatat ide yang masuk, langsung buru-buru tulis secara utuh. Ide-ide yang didapat, bisa langsung dikembangkan jadi beberapa paragraf. Sejalan dengan kegiatan menulis, pasti ada ide yang tiba-tiba datang. Nah, itu juga bisa langsung ditulis. Pokoknya, tulis dulu. Masalah bagus atau ngga, ada saatnya buat memperbaiki.

"Gue mau nulis, tapi nunggu mood bagus."

Kenapa harus nunggu mood bagus? Kalau moodnya gak akan pernah bagus gimana? Harus nunggu pacaran sama artis Korea baru mood-nya bagus? Impossible.

Bahkan, menulis di mood yang buruk juga harus dibiasakan. Gak papa nulis cuma satu paragraf saat mood buruk. Yang penting ada tulisan yang dihasilkan per hari. Istilahnya, One Day One Paragraph.

Ingat, rasa malas itu harus dilawan, bukan dimanjakan.

3. Jangan kebanyakan mikir
"Kok gue udah nulis, tapi gak pernah selesai, ya?"

Ini alasannya kenapa jangan kebanyakan mikir kalau mau nulis. Mikir jadwal yang tepat buat nulis, mikir kata-kata yang bagus, atau mikirin kenapa Monas gak pernah kecapekan walaupun harus berdiri bertahun-tahun. Lagian, mana ada Monas selonjoran? Abaikan saja.

Pokoknya, singkirkan pikiran-pikiran yang mengganggu proses menulis. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, ada saatnya buat memperbaiki. 

4. Mulai nulis

"Udah belajar sana-sini, tetep aja susah buat mulai nulis."
 
Menulis bukanlah sekedar teori, melainkan keterampilan yang akan semakin membaik jika diasah terus-menerus. Jadi, mulailah menulis. Jangan langsung memulai yang sulit, mulailah dengan yang mudah.

5. Editing 
Menurut gue, tahap ini adalah yang paling seru. Setelah tulisan kita selesai, tinggal kita edit semau kita, tapi tetap masuk akal ceritanya. Saat editing, jangan jadikan diri kita sebagai penulis, tapi posisikan diri sebagai pembaca, kalau bisa haters. Karena haters adala orang yang paling bisa ngasih komentar bagus, tapi caranya yang gak bagus. Nah, untungnya ini adalah tulisan kita. Kita, sebagai haters pada tulisan kita, bisa bebas mengedit, mengganti, bahkan membuang kalimat-kalimat yang yang kurang pentng.

Alur cerita harus tetap masuk akal walaupun sudah diganti kalimatnya berkali-kali. Baca berulang-ulang sampai cerita benar-benar "nyambung".

Perhatikan juga hal-hal yang sangat dasar dalam sebuah tulisan, seperti tanda baca, typo, dan susunan kalimat. Karena dengan tulisan yang enak dibaca, alurnya masuk akal, minim typo, bisa membuat pembaca betah. 
 
6. Rutin

Nulis, nulis, nulis. Ya, emang itu aja kerjaannya penulis. Namanya juga penulis, artinya orang yang menulis. Jadikan menulis sebagai rutinitas keseharian. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, yang penting minimal ada satu paragraf per hari (saat mood buruk). Dengan begitu, kebiasaan kita menulis akan jadi terbiasa dan kemampuan menulis akan terus terasah.

Banyak orang yang udah punya strategi menulis yang bagus, tapi sayangnya dia gak rutin. Jadikan menulis seperti kebutuhan wajib lainnya. Masa nge-stalk mantan aja rutin, tapi nulisnya jarang-jarang? Malu sama mantan, dia aja udah punya pacar baru, sedangkan kita cuma memandangi mereka bahagia. Buktiin ke mantan, kalau kita bisa bikin buku. Biar mantan kita nyesel dan bilang, "Anjrit, mantan gue udah punya buku. Kenapa dulu gue putusin ya.. Nyesel banget deh.." 

(Curhat bos?)

7. Banyak berdoa
Segala usaha udah dilakukan, tinggal satu step lagi yang kurang. Berdoa. Minta kepada Tuhan agar selalu diberi kesehatan, umur yang panjang, dan juga kesempatan menulis. Karena hanya Tuhan yang bisa menghendaki setiap kegiatan kita.

Mungkin itu beberapa tips mudah menulis yang bisa gue berikan. Semuanya akan mudah jika langsung ada tindakan. Ayo, menulis!

**

Robby Haryanto, orang baru di dunia tulis-menulis lahir dan sekarang menetap di Jakarta 14 Juli 1999. Seorang blogger, pelajar SMA, dan manusia. Seperti reamja lainnya, Robby juga punya akun social media yang "gaul". Bisa ditemui di Twitter, Instagram, dan Ask.fm dengan username @robby_haryanto. Alamat email robbyharyanto1@gmail.com.

Salam gaul!