29 July 2015

Jadi Ketua Kelas (Lagi)

Kadang gue berpikir, kriteria seperti apa yang cocok untuk menjadi seorang pemimpin. Bisa berbicara di depan umum, punya attitude yang baik agar bisa dicontoh oleh orang lain, dan masih banyak lagi. Begitu juga seorang ketua kelas, yang notabene jadi pemimpin di kelas.

Sewaktu kelas 10, gue pernah jadi ketua kelas. Banyak yang udah dibahas di blog gue (Bisa baca di sini, di sini, dan di sini). Lalu, apakah gue termasuk orang yang punya kriteria yang udah gue sebutin di atas? Jawabannya: Nggak.

Semakin ke sini, gue berpikir ada satu kriteria ketua kelas dan gue punya kriteria itu, yaitu gampang disuruh-suruh. Gue termasuk orang yang penurut. Apapun perintah yang bersumber dari orang yang lebih tua dari gue, gue menurutinya. Ya, nggak semua perintah gue turuti sih. Kalau gue disuruh terjun dari lantai tiga sekolah, gue nggak bakal mau.

Banyak teman-teman kelas 10 yang sekarang berbeda kelas dengan gue bilang, "Kelas 11 jadi ketua kelas aja lagi, Rob.". Gue berpikir, jangan-jangan teman gue mau ngeliat kelas gue hancur dan merasa saingan kelasnya berkurang. Gue cuma bilang ke mereka, "Nanti liat aja. Semoga nggak ada yang milih gue."

Sebenarnya, untuk menjadi ketua kelas, gue udah nggak berminat lagi (Lah, pede banget. Emang ada yang mau milih lu?). Tapi, seandainya gue bisa terpilih jadi ketua kelas lagi, gue pasti siap. Tapi ada satu hal yang membuat gue mikir lagi buat jadi ketua kelas, yaitu bertemu dengan orang baru nggak selalu mudah buat berinteraksi.

Suasana di hari kedua sekolah masih sama seperti hari pertama: canggung. Itu karena kelas diacak di kelas 11. Bertemu dengan orang baru yang sebelumnya belum saling kenal, apalagi ngobrol dan menegur jadi alasan yang gue dapatkan dari kecanggungan kelas baru. Tapi, gue yakin, suasana kayak gini cuma sampai seminggu atau paling lama dua minggu. Liat aja kalau udah sebulan. Pasti udah nggk jaim-jaiman lagi. Pokoknya, kalau udah dibentuk kelompok belajar pasti langsung membaur. Percaya sama gue.

Hari itu, wali kelas gue masuk. Gue nggak asing lagi dengan orang ini. Beliau adalah wali kelas gue di kelas 10. Namanya Pak Pras. Pak Pras masuk ke kelas, lalu mengucap salam "Assalamualaikum".

Seisi kelas menjawab salam.

"Ayo, siapkan berdoa." kata Pak Pras di depan kelas. Kemudian, teman-teman gue yang duduk di depan saling melirik ke temannya. Seakan nyuruh buat nyiapin kelas. Ada di antara mereka yang benar-benar main suruh-suruhan. "Si anu aja... si anu aja," Gue diam, berharap nggak ada yang nyuruh gue (Lah, pede banget lu).

Ketakutan gue terjadi. Teman-teman yang dulu pernah sekelas dengan gue di kelas 10 langsung melirik ke gue seakan berkata, "Rob... siapin doa gih," Berhubung gue peka dengan tatapan mereka dan gue termasuk orang yang gampang disuruh-suruh, gue menyiapkan kelas,

"Siap."
"Berdoa."
"Memberi salam."

Orang-orang yang duduk di depan tatapannya langsung tertuju ke gue. Tatapannya mirip kayak orang yang nuduh temennya kentut, "SIAPA NIH PELAKUNYA??!" Gue sumringah.

Setiap kelas pasti ada pengurus kelas. Di hari kedua, pemilihan pengurus kelas dilakukan. Sama seperti di kelas 10, pemilihan dilakukan dengan menulis nama calon. Boleh menulis nama sendiri. Cara yang udah pernah gue rasakan sebelumnya.

Gue menulis nama Mubarok, orang yang jadi wakil gue di kelas 10.

Semua kertas berisi nama calon pengurus kelas sudah terkumpul. Penghitungan suara dimulai. Satu per satu nama disebutkan lalu ditulis di papan tulis. Mirip pemilihan kepada daerah, ya.

Nama Syaiful disebutkan 3 kali oleh Bunga. Lalu, nama Rizky disebutkan sekali. Sejauh ini, gue aman. Belum ada tanda-tanda kehancuran hidup.

Nggak lama kemudian,

"Robby." Bunga menyebutkan nama gue, lalu ditulis di papan tulis.
"Kampret! Siapa nih yang milih gue??!" gerutu gue. Gue mencoba tetap tenang dan berpikir jernih. "Untung cuma satu, mungkin ada orang iseng." pikir gue.

Kemudian nama Syaiful disebutkan lagi sekali. Disusul Rizky sekali. Lalu,
"Robby"

"2 suara??! Siapa lagi nih yang milih gue??!" teriak gue dalam hati. Gue mulai nggak tenang. Kemungkinan terburuk masih bisa terjadi. Seburuk-buruknya, gue jadi bendahara.

Setelah itu, malapetaka mulai datang. Entah ini kerjaan siapa yang milih gue, nama gue disebutin 3 kali berturut-turut. Jumlah suara gue sama kuat dengan Syaiful. Ya ampun, gue mau mati. *lebay

Mungkin karena ini kelas baru, orang-orang yang memilih gue bingung mau memilih siapa. Mungkin, seharusnya mereka menulis nama Syaiful, tapi karena typo jadi menulis nama Robby. Iya, gue tau itu typo maksa banget.

Sampai ketika jumlah suara gue udah berjumlah 10, orang-orang yang duduk di depan gue langsung melirik cowok-gembel-duduk-di-belakang. Yak, mereka ngeliatin gue. Seakan tatapannya berbicara, "ANAK MANA NIH. BISA DAPET 10 SUARA. MAIN DUKUN NIH PASTI,"

Sumpah, gue nggak main dukun.

Mereka kaget melihat nama gue bisa dapat suara sampai segitu banyak. Kalau ada yang curiga gue main money politic, gue bakal membantahnya. Sumpah, gue nggak main curang demi jadi ketua kelas. Gue cuma sebagai underdog (baca: di bawah anjing) dalam pengurus kelas. Gue layaknya sebagai kuda hitam, adalah orang yang nggak diunggulkan.

Setelah selesai, semua suara calon pengurus kelas dijumlah. Gue mendapat 13 suara mengalahkan Syaiful dengan 6 suara. Gue heran kenapa bisa sampai dapat 13 suara. Gue bertanya-tanya siapa aja orang yang merelakan hidupnya untuk menjadikan gue sebagai ketua kelas. Secara kepopuleran, gue sama sekali nggak dikenal di sekolah. Lalu, bagaimana bisa gue mendapat 13 suara?

Logikanya, di kelas gue, ada 8 orang yang kelas 10 MIA 3 (kelas gue dulu) yang notabene pernah merasakan gue jadi ketua kelas. Dikurang satu suara karena gue nggak milih nama gue. Jadi, ada 6 orang yang belum kenal gue yang memilih gue. Itu juga teman-teman yang dulu sekelas belum tentu milih gue. Harusnya mereka menyesal memilih orang yang sesat seperti gue.

Setelah ditentukan dan dipilih jadi ketua kelas, Pak Pras menghampiri gue, lalu bertanya, "Robby siap jadi ketua kelas?"
Gue jawab dengan mantap, "Siap, pak!".

Siap, pak!
Setelah itu, Pak Pras kembali ke tempat duduk. Gue memikirkan hal buruk apa yang selanjutnya bakal terjadi pada gue. YAK, PIDATO! Saat gue jadi ketua kelas 10 MIA 3, gue disuruh pidato. Saat itu, gue benar-benar mau ngomong apa karena belum ada persiapan sama sekali.

"Ummm..., terimakasih telah memilih saya." kata gue grogi.

Lalu, Pak Pras memotong pidato gue, "Jangan berterimakasih kepada teman kamu, tapi sampaikan apa yang akan kamu lakukan nanti ketika jadi ketua kelas."
 
Saat itu, gue ingin menjawab, "Saya ingin sekolah diliburkan dan hanya masuk sekolah dua hari dalam seminggu," tapi, gue sadar kalau permintaan itu bertentangan dan pasti gue bisa masuk penjara. Gue bingung memikirkan mau menjawab apa, tapi teman-teman gue malah tertawa. Gue makin grogi. Gue mulai bersuara, "Nanti saat saya jadi ketua kelas, saya akan mengadakan piket pagi," kata gue dengan jumawa. "Nah, belum pernah ada kan program kayak gitu ha ha ha..." gue makin yakin.

Nyatanya, piket pagi yang dijanjikan itu cuma mitos. Miris.

Tidak mau jatuh ke lubang yang sama, gue menyiapkan kata-kata untuk pidato nanti. Gue siapkan kata-kata yang membuat hati teman-teman gue luluh. Kesannya biar bisa dipercaya gitu. Istilahnya "Buatlah kesan yang baik dalam pertemuan pertama. Setelah itu, barulah timbul malapetaka".

"Terimakasih, telah mempercayai saya sebagai ketua kelas. Sungguh ini adalah pengalaman saya yang sangat berarti. Mungkin dengan terpilihnya saya sebagai ketua kelas, merupakan sebagai batu loncatan untuk kepemimpinan yang lebih besar luang lingkupnya. Misalnya, jadi presiden Maroko..."

Wuih, kalian yang baca pasti luluh, kan, dengan kata-kata gue. Gue berlatih pidato dalam hati, berharap bisa pede saat berpidato nanti. Gue membayangkan nantinya gue mendapat tepuk tangan dari teman-teman dan wali kelas. Lalu, ada kepala sekolah yang nggak sengaja lewat kelas gue dan melihat gue berpidato. Beliau pun ikut tepuk tangan dan menganggap pidato gue sebagai... ajakan dari sebuah aliran sesat.

Nyatanya, Pak Pras nggak nyuruh gue pidato. Miris.

Itulah akibatnya kalau terlalu pede.

Terakhir, doakan gue, ya, semoga kuat dalam menjalani tugas sebagai ketua kelas. Dan, semoga nggak ada hal-hal buruk yang menyerang. Aamiin.
06 July 2015

Rasanya Jadi Ketua Kelas

Tahun ini, gue baru pertama kali ngerasain yang namanya libur sebulan. Ini terjadi karena libur semester dua berbarengan dengan libur lebaran. Mirip zamannya Presiden Gus Dur gitu deh. 

Pokoknya, dengan kejadian (langka) ini, ngga ada alasan buat ngga punya baju baru, apalagi anak yang baru lulus atau masuk sekolah.
"Baju baru lebaran buat aku udah beli kan, Ma?"
"Udah dong, sayang. Spesial buat tahun ini, baju lebaran kamu ada logo osisnya.."
"...."

Setidaknya, orang tua masih bisa beliin baju buat anaknya. Bersyukurlah sobat.

Libur sebulan emang bikin terlena. Biasanya tiap pagi gue harus sekolah, sekarang gue gak tau waktu. Yang mana pagi, yang mana siang. Pokoknya, kalau gue udah bangun tidur, itu berarti masih pagi. Padahal, udah jam 1 siang.
 
Gue menghabiskan waktu libur dengan hal-hal membosankan. Buka twitter jarang ada notifikasi. Main facebook cuma ngarep ada yang inbox "RL-an yuk..". Ask.fm juga sepi dari pertanyaan. Line dan BBM isinya cuma ajakan bukber yang ujungnya nyakitin. Bukan nyakitin karena gak jadi, tapi keadaan finansial gak mendukung. Buka Instagram sempet dibikin seneng gara-gara nonton videonya Kevin Anggara, Chandra Liow, Aulion dan sekutunya (siapa nih maksudnya?). Tapi, suatu malam, gue baru buka Instagram dan langsung disuguhkan foto yang diupload mantan tentang "doi"-nya. Dan perihnya, GUE TAP DUA KALI GAMBARNYAA. TAP DUA KALI... DUA KALI. DUA KALI BIAR AZEK. AAAAA... RAJUNGAN. Lalu, terdengar nyanyian di kepala gue,

Kau hancurkan aku dengan sikapmu
Tak sadarkah kau telah menyakitiku
Lelah hati ini meyakinkanmu
Cinta ini, membunuhku.

Seketika, dunia lebih gelap dari pada biasanya. Iya lah gelap, gue main hape-nya malem.

Untuk melupakan insiden stalking barusan, gue buru-buru memandangi langit (mungkin bisa dicoba buat korban stalking). Tiba-tiba, gue terpikirkan untuk nulis post ini. Terciptalah sebuah ide mencuri kolak untuk menceritakan "suka-duka gue jadi ketua kelas". Entah kenapa, setiap selesai nge-stalk dan berakhir nyesek, gue selalu dapat ide nge-blog yang brilian. Terimakasih mantan untuk segalanya. Kau berikan lagi, ide brilian. (dibaca dengan nada lagu Terimakasih cinta - Afgan).

Gue ingat, 6 bulan sebelumnya gue diangkat jadi ketua kelas yang meneruskan kekuasaan Ricardo, ketua kelas sebelumnya. Kalau di sebuah film aksi, gue adalah calon pemimpin perang yang datang dari keluarga tidak mampu, bahkan tidak dianggap di sebuah desa. Lalu, gue datang dengan gagah mencalonkan diri, menang di pemilihan, dan berakhir dengan kepala dipenggal karena kepemimpinan yang buruk. Suram.

Setiap pengalaman, banyak suka duka yang bisa dirasakan. Gue pun begitu, selama jadi ketua kelas, gue banyak merasakan manis dan pahit. Tapi, manis dan pahit adalah sebuah kombinasi yang menjadikan suatu hal lebih kaya rasa tanpa ada yang lebih dominan di keduanya. Hidup itu butuh keseimbangan, sob.


Biar kayak minum jamu, gue sebutkan pengalaman yang pahit dulu. Ayo semua, tundukkan kepala.

Ketua kelas juga siswa biasa.
Sebagai ketua kelas, gue merasa dikastakan oleh teman-teman gue. Gue juga manusia biasa. Kadang ada yang bilang gini, "Rob, lu kan ketua kelas. Masa gak ngasih contoh yang baik." Ada kalanya, ketua kelas juga pengen nakal.
Lebih parah lagi, ada yang bilang gini, "Rob, gue tadi ngeliat lu main bola. Gue kagum banget. Tendangan lu keren, apalagi saltonya. Mirip Jackie Chan..". Yoih, dunia (binatang) mengakuinya bwehehe.

Sesekali jadi orang yang hina.
Kadang ada perintah guru yang gak mengenakan teman-teman. Gue mau gak mau harus menyampaikan perintah itu ke mereka. Lalu, respon mereka... menghina dan mencaci gue. Kit ati akuh.

Mereka yang gak seneng, langsung minta yang nggak-nggak ke gue. Mau gak mau, gue harus nolak mereka. Lalu, respon mereka... menghina dan mencaci. Kit ati akuh.

Banyak yang nanya
Gue adalah tipe orang yang suka ditanya. Makanya, gue paling senang kalau lagu di jalan, terus ditanya jalan sama pengendara motor yang lewat di depan gue. Tapi, perlahan kebiasaan itu hilang setelah GPS muncul. Jadi gue jarang ditanya lagi.

Tapi, setelah gue jadi ketua kelas, gue lumayan sering ditanya teman-teman. Bukan sekedar pertanyaan "Robby udah makan belum" atau "Robby udah sunat berapa kali", tapi lebih penting dari itu. Karena ketua kelas adalah sumber info paling akurat yang langsung diturunkan oleh guru.

Kebiasaan sering ditanya membuat gue jengah. Gue mulai gak suka ditanya setelah mendapat pertanyaan super gak penting. 

Misalnya, waktu itu ada tugas membuat presentasi dari Pak Roy-- guru Agama gue. Beliau udah memerintahkan pengumpulan tugas dikirim ke alamat email-nya. Tapi, ada salah satu teman sekelas gue nanya di BBM, "Rob, emang tugas Agama kalo udah selesai kirim ke pak roy?"


Respon gue saat itu: Ini pertanyaan  yang gak perlu dijawab.

Kenapa gue bilang gitu? Pertama, udah jelas harus dikirim. Kedua, jelas-jelas guru Agama adalah Pak Roy. Ketiga, pengin gue katain tuh orang, "Bukan. Bukan kirim ke Pak Roy. Tapi kirim ke kantor pos, terus ditujukan ke alamat rumah lu..., biar lu baca sendiri tuh tugas.."

Lagian, ini kan file. Mana bisa kirim via kantor pos. Jadi ketua kelas emang harus punya kesabaran yang tinggi.

Pahitnya udah, kita ke bagian yang manis.

Enaknya jadi ketua kelas adalah..
.
.
.
.
.
.
.
Enaknya coba sendiri deh. Nggak deh, bercanda. Yang bener gini, nih:

Seketika jadi suami-nya anak-anak.

Sering di kelas gue gak ada guru masuk. Makanya, teman-teman sekelas bakal bertingkah liar. Pasti ada aja teman yang izin ke kamar mandi. Karena gak ada guru, mereka bakal izin ke orang yang udah ditanggung jawabkan. Siapa? GUEH.
"Rob, izin ke kamar mandi, ya."
"Rob, gue ke toilet ya."
"Rob, ngapain lu nungging di meja guru? Di belakang lu ada guru tuh.."
Pokoknya, semua bakal izin ke gue. Semua gue anggap sebagai istri dan gue suaminya karena mereka istri harus izin ke suami. Surga kalian berada pada ridho gue nyiahahaha.

Dapat info lebih cepat
Tiap ada info dari guru, siapa yang paling dulu dicari? Iye, KETUA KELAS. Misalnya, ada info ulangan. 
Ketua kelas adalah orang yang pertama tau kapan ada ulangan dan kebenarannya 100%. Jadi, kalau udah dikasih info ulangan, gue bisa belajar lebih dulu dibanding teman yang lain. Istilahnya, nyolong start.

Lihat dong hasilnya... gue tetep remedial


Ngumpulin tugas semaunya.
Salah satu tugas ketua kelas adalah mengumpulkan tugas ke guru. Jadi, gue sering disuruh ngumpulin tugas ke meja guru setiap ada tugas. Dengan ini, gue punya keuntungan, antara lain: 1) Gue yang akan ngumpulin tugas, berarti terserah gue mau ngumpulin tugas kapan karena ujung-ujungnya gue yang ngumpulin tugas. 2) Berarti, gue bebas mau ngerjain tugas kapan pun, karena gue yang ngumpulin tugas.

Terakhir gue ngelakuin hal itu, gue diomelin teman-teman sekelas.


Mungkin segitu aja cerita gue. Ada yang pernah jadi ketua kelas? Kalau ada bisa share cerita tentang ketua kelas di kolom komentar.