Berfantasi di Dunia Fantasi

Hilang... ragaku melayang... jauh tak terbayang, ke angkasa ku akan terbang.

Tumben-tumbenan sopir angkot nyetel lagu band Kotak. Lagu itu rasanya jadi dekat maknanya buat gue dalam menjalani hari ini.

Turun dari angkot, kami bertiga—gue, kakak gue dan istrinya—melanjutkan perjalanan ke Ancol naik Metromini. Ini adalah pengalaman kedua gue naik Metromini bernomor 84, sekaligus pengalaman kesekian kalinya naik Metromini. Agak kaget sekaligus tambah percaya dengan pengalaman beberapa teman yang mengatakan sopir Metromini suka kebut-kebutan. NGERI BANGET ANJER! Belum ngerasain wahana di Dufan, udah dikasih dosis rendahnya duluan.

Metromini = dosis rendah halilintar.

Ini bukan wahana


Singkat cerita kami telah sampai di depan pintu barat Dunia Fantasi (Dufan). Tempat yang dulunya gue anggap hanya orang kaya (dan bernyali besar) saja yang bisa berlibur ke sini, akhirnya hari itu kesampaian juga menginjakkan kaki di Dufan. Ada rolling door-nya, wah, bisa muter. Gila, gila, gila. Dari jauh kedengaran suara orang teriak-teriak, kayak lagi disiksa di dalam kubur. Gila, gila, gila. Keren banget tempat ini. Mau sujud syukur tapi kok malu ya?

Kami di sana bertemu Rian dan omnya (gue lupa kenalan). Rian adalah adik dari istrinya kakak gue. Jadi, gue punya kakak, dia udah nikah. Nah, istrinya itu punya adik namanya Rian. Nah, kalau kayak begitu, antara gue dengan Rian apa namanya dalam silsilah? AAAAH, MUMET!

Melihat wahana dan suara teriakan berbarengan dengan mesin-mesin yang bekerja membuat muka gue pucat. Sudah dari awal gue nggak berniat berlibur ke sini. Satu-satunya alasan yang membuat gue tetap pergi ke Dufan adalah karena tiketnya gratis dari kakak gue. Sekalian pengalaman berharga seumur hidup (udah kayak naik haji aja!).

“Mau ke mana dulu?”

“Terserah.”

“Udah masuk Zuhur,” kata omnya Rian, “Salat aja dulu.”

Alhamdulillah. Gue bisa berdoa lebih lama buat menghadapi wahana-wahana di Dufan.

^^^

Setelah salat Zuhur, kami langsung masuk ke wahana Arung Jeram. Agak salah sebenarnya dalam penyusunan daftar urutan wahana yang ingin dicoba. Karena wahana ini bakalan membuat basah, menaruh wahana ini di awal berarti harus siap-siap kebasahan selama main wahana lain.

Wahananya sendiri lumayan seru. Kami mengarungi sungai buatan dengan perahu bulat bermuatan delapan orang. Jalannya berkelok-kelok dengan pemandangan gelombang air yang menggulung. Gulungan itu menghantam badan perahu, lalu menciprat ke dalam. Gue kebagian cipratan lumayan banyak. Untungnya hanya basah sedikit.

Muka gue harus begitu ya? Pengin banget kena kamera.


Level ketegangan: 5/10

Selepas bermain di Arung Jeram, kami makan siang untuk mengisi tenaga. Kecuali gue, yang entah kenapa nggak pengin makan, malah ngelihatin wahana Halilintar. Wahananya keren, banyak orang teriak-teriak, dan memancing gue untuk belajar Fisika. Ah, jangan belajar dulu. Ini waktunya liburan.

“Mau main itu, By?”

“Ah, nggg... nggak deh,” tolak gue, cepat. “Hehehe, takut.”

“Udah, nggak apa-apa. Bareng Rian situ.”

“Iya, sekalian ngeringin baju,” tambah omnya Rian. Wah, ngeringin baju mah nggak gini, Om, caranya, batin gue.

Gue mulai mempertimbangkannya. Selagi ada temannya gue masih berani. Oke, Halilintar. Gue siap dan gue nggak takut!

Tanpa perlu mengantre—karena sedang sepi, gue dan Rian langsung masuk ke kereta halilintar. Gue sangat yakin akan sukses melewati wahana ini (ya, kalau nggak sukses status hidup gue dipertanyakan). Mulai sekarang lupakan semua ketakutan demi Halilintar.

“Udah pernah main ini?” tanya Rian.

“Belum,” gue menggeleng, lalu menelan ludah. “Baru pertama.”

Saat itu juga gue mulai mengatur napas. Pengaman mulai dipasang, gue mulai membaca surat Al-fatihah. Kereta mulai berjalan. Di belakang gue, sekumpulan remaja 20-an tahun berteriak-teriak, “KITA PASTI BISA!” Gue mempercepat bacaan zikir.

KITA PASTI BISA!

KITA PASTI BISA!

Kereta mulai melaju pada jalur lurus, lalu masuk ke lintasan menanjak. Orang-orang di belakang gue teriak-teriak lagi. “KITA PASTI BISA! WOHOOO! KITA PASTI BISA!”

Gue ikut-ikutan semangat dalam hati,

KITA PASTI BISA! HAHAHA, INI SAMA AJA KAYAK LAGI DI ATAS MOTOR NAIK FLY OVER! HAHAHA.

Kini kereta berada di titik tertinggi, mulai masuk ke lintasan menurun. Orang di belakang gue teriak histeris, “AAAAAAAK.” Rian ikut-ikutan teriak. Gue masih diem. Kereta turun begitu cepat. Tidak ingin ketinggalan momen, gue ikutan teriak, “AAAAAAAK!” sambil menahan mulut agar kata-kata kotor tidak keluar.

ANJER! ANJER! TURUNNYA TAJEM AMAT! FLY OVER NGGAK KAYAK GINI!

Kereta mulai melaju dengan liar. Gue cuma bisa pegangan ke penahan tubuh saja, nggak berani teriak. Masih takut ngeluarin kata-kata kotor, dan nggak ada yang tahu, di depan ada bentuk lintasan seram macam apa lagi, dan gue jatuh, meninggal dalam keadaan ngomong kotor. Tidak, tidak. Gue cuma menutup mata sepanjang perjalanan. Yang gue ingat, gue merasakan kepala gue sudah dekat banget dengan tanah.

Kereta sampai lagi di tempat awal. “Udah ini?” tanya gue ke Rian. Dia menjawab, sudah. “Astagfirullah!” Maksud ingin mengucap syukur, tapi mulut mengucap istigfar. Bisa segitunya efek naik halilintar. Gue memegang bagian baju yang basah, sekarang sudah sedikit mengering. Keluar dari kereta, gue nggak sanggup berdiri. Kaki gue gemeteran.

Hilang... ragaku melayang... jauh tak terbayang, ke angkasa ku akan terbang.

Level ketegangan: 9.9/10

Gak ada hubungannya sama wahana Halilintar, sih. Cuma mau naruh foto di sini aja.

Setelah halilintar, gue berjanji pada diri gue sendiri untuk tidak naik Tornado, Hysteria, dan wahana lain yang bikin badan benyek. Dengar orang lain jerit-jerit gue merasa ngilu duluan.

Wahana selanjutnya nggak terlalu seru, tapi cocok buat orang-orang kayak gue. Wahana Perang Bintang jadi selingan untuk mengurangi ketegangan. Wahananya cuma masuk ke dalam ruangan gelap, naik ke semacam kendaraan, lalu (ceritanya) menembaki lawan yang menempel di dinding dengan pistol mainan. Walaupun sudah ditembak berkali-kali, gue nggak melihat ada perubahan pada lawan gue. YA, TERUS PISTOLNYA BUAT APAAN DEH KALAU NGGAK NGARUH?!

Padahal gue ngarep ada hadiah di ujung rel setelah mengalahkan banyak musuh. Ternyata tidak ada.

Level ketegangan: 1/10. Satu-satunya yang bikin tegang adalah tempat ini gelap. Udah. Tapi cocoklah buat gue yang nggak suka wahana ekstrem.

Sebelumnya ada wahana yang membuat kami penasaran. Kami langsung masuk ke dalam antrean wahana itu, namanya Ice Age. Di dalamnya, kita diajak masuk ke dalam sebuah cerita seekor tupai di kartun Ice Age (gue nggak tau siapa namanya). Yang gue ingat, menjelang permainan selesai ada suara yang menyuruh kami segera keluar karena tempat ini (ceritanya) akan musnah. Lintasan menanjak setinggi empat meter sudah siap di depan. Seperti menaiki halilintar, gue kira wahana ini cuma kayak naik fly over biasa. Ternyata, turunnya kenceng banget! Gue ngerasa ada sesuatu yang menarik gue dan membujuk, “Ayolah, mati suri dulu.”

Sampai di bawah airnya menciprat para penumpang. Gue duduk paling depan, kebagian air banyak banget kayak habis mandi. Gue menoleh ke belakang, seseorang tertawa, “Wahaha, yang depan kayak mandi.” Gue teriak seraya melihat dia, “Wohooo!” Nggak ada maksudnya memang.

Level ketegangan: 8/10.


Sebetulnya masih banyak wahana yang belum gue coba. Namun karena keterbatasan keberanian, gue jadi selektif terhadap wahana yang mau gue coba. Di dekat pintu keluar wahana Ice Age ada Tornado. Lebih dekat lagi, ada Bianglala. Atas dasar keberanian yang ada, gue mengusulkan naik Bianglala saja.

Di atas Bianglala, TERNYATA SAMA AJA SEREMNYA!

Ceritanya motret ke bawah. Ini aja takut banget hapenya bakalan jatuh.

Nggak seram sebenarnya kalau gue tidak takut ketinggian. Lha, gue di sekolah aja, di lantai tiga, ngeri ngelihat ke bawah. Menutupi rasa takut ini, gue cuma memandang ke depan. Nggak peduli ada sebuah pepatah “Hidup harus sering melihat ke bawah”. Di atas Bianglala nggak bisa begitu, Pak!

Level ketegangan: 7.8/10.

Sehabis naik Bianglala, kami sempat mengantre untuk naik bom-bom car (di Dufan nama wahananya Baku Toki), kecuali omnya Rian yang ngejagain tas. Namun, di tengah perjalanan mengantre, hanya gue dan Rian saja yang melanjutkan antrean untuk main bom-bom car. Emang dasarnya nggak pernah nyetir, gue kayaknya paling cocok sama wahana ini. Sifat urakan gue tunjukkan, seolah-olah wahana ini menganjurkan untuk mengeluarkan perilaku pengendara selepas mabuk, dengan nabrak-nabrakin mobil ke pengendara lain. Ya, memang begitu tujuannya.

Agak susah memang awalnya untuk main di wahana Baku Toki. Apalagi secara pengalaman gue belum pernah nyetir mobil. SIM juga nggak punya. Akhirnya semua berjalan alami tanpa paksaan. Gue tabrak-tabrakin mobil ke mobil orang lain. Meskipun wahana ini tujuannya memang untuk main tabrak-tabrakan, gue nggak habis pikir dan sulit menahan tawa, setelah melihat ada orang yang sengaja nggak mau nabrakin mobilnya ke mobil orang lain. DIA MALAH BELAJAR NYETIR! Setiap kali mau ditabrak dan menabrak, dia menghindar. Gak apalah. Setiap orang punya alasan sendiri untuk bersenang-senang.

Level ketegangan: 4/10

Puas nabrakin orang tanpa perlu diminta pertanggungjawaban, gue dan Rian melanjutkan ke wahana Niagara-gara. Wahananya mirip-mirip di Ice Age, tapi yang ini outdoor dan tidak terlalu menonjolkan jalan cerita. Pertama, perahu berjalan tenang, sampai kemudian menaiki tanjakan lagi. Di dalam perahu ini, ada gue, Rian, dan dua anak kecil yang duduk di depan gue dan Rian.

Satu di antara anak kecil itu melihat gue. Gue sok-sokan menasihati, “Pegangan, Dek.” Perahu mulai masuk ke lintasan menanjak, air di dalam perahu mengalir ke bawah semua membasahi celana Rian yang duduk paling belakang. Sampai di puncak berjalan perlahan, lalu WUUUUSSSSHH perahu meluncur dengan cepat di bawah rel. “AAAAAAAK!” gue menjerit. Seperti sebelumnya, sama sekali beda dengan naik fly over. Di bawah, perahu menabrak air dan menciprat masuk ke dalam perahu. Anak kecil tadi terlihat lebih bahagia daripada gue yang masih ketakutan.

Wahana Niagara-gara, bagi gue, lebih cocok disebut "Ni nyari gara-gara".

Sebuah usaha menutupi ketakutan

Level ketegangan: 8/10

Langit sudah mulai gelap, petang hampir tiba. Kami masih sempat masuk ke wahana. Wahananya nggak ekstrim, sih. Cuma masuk ke semacam labirin yang di dalamnya berdinding kaca. Kami sempat tersesat, namun Rian berpisah. Keluar dari labirin itu, Rian sudah ada di bawah pohon bermain handphone. Dari mana dia keluar?

Meskipun cuma dari tiket gratisan, akhirnya gue bisa ngerasain juga main di Dufan. Bakal jadi pengalaman tak terlupakan jerit-jerit di Halilintar sampai mata nggak berani buat melek. Tidak perlu main ke wahana Hysteria, Tornado, dan semacamnya, semuanya sudah terangkum lewat Halilintar.

Wahana Istana Boneka. Satu yang terlewatkan.

Jalan-jalan ke Dufan setidaknya sedikit memberi energi baru. Energi berupa kepercayaan diri untuk berani menghadapi rintangan. Gue jadi lebih tahu bentuk bersenang-senang banyak sekali macamnya. Meskipun, beberapa wahana membuat gue hampir mau pingsan, tapi secara keseluruhan gue senang.

Salah satunya karena tiket gratis.

Gue pulang naik bus Transjakarta. Bus mulai berjalan menanjak di fly over. Gue deg-degan, kemudian bus mulai berjalan menurun, gue refleks meraih mencengkram erat pegangan. Efek Halilintar memang luar biasa.


33 komentar:

  1. dan prestasi ku waktu masuk DUFAN jaman study tour SMP adalaaaaah, masuk ke istana boneka. *apabangetdah* hahaha. udah pas musim liburan semester, antri lama, eee ni wahana juga bener-bener ngabisin waktu. level ketegangan : 0,01/10

    emang metromini masih bisa ugal-ugalan di jalanan jakarta yang macet Rob? penasaran juga pengen ngrasain halilintar dosis rendah ini di flyovernya jakarta wkwk

    boleh juga itu, bombom car buat dijadiin tempat kursus nyetir XD
    lulusan-nya bakal jadi driver urakan macam fast farious

    ReplyDelete
    Replies
    1. O,01/10 = 1/1000 dong? Muahaha. Kecil banget itu nilai ketegangannya. xD

      Kalau lagi sepi, sopirnya suka unjuk kebolehan. Apalagi di fly over atau jalan tol, makin ngeri deh. Soal bom-bom car emang lucu tuh, satu orang yang malah kursus nyetir. Salut juga dia bisa clean driving. xD

      Delete
  2. Jadi pengin ke dufan.

    Lu beneran mahasiswa semester 7 ya? Hafal lagu Kotak yang itu. Hahaha. Eh, metromini sama angkot itu beda ya ternyata? .__.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu lagu yang lumayan favorit. Waktu SD suka ngaku-ngaku Kerabat Kotak. :))
      Metromini termasuk angkot. Apa gimana ya? Sederhananya, angkot, yang kita kenal, mobilnya kecil sedangkan metromini bentuknya bus. Cmiiw.

      Delete
  3. Berarti si rian itu om kamu, rob
    Dy juga adik iparmu rob soalnya kan kakakmu yg nikah sama kakaknya Rian.
    Wah mengarungi sungai, hebat rob ada kemajuan, tapi karungnya bocor Engga pas ngarungin sungai?
    Coba dah kena halilintar/petir level ketegangannya tuh y di atas 10
    Coba j

    ReplyDelete
    Replies
    1. JADINYA OM ATAU ADIK IPAR YA, MAS NIKI? :(

      Bukan karung. Bukan petir. :(

      Delete
  4. Biasanya kalau dengar di angkot suka ngikut tiba2 nyanyi..haha
    Bentar-bentar, ngomong-mongong aku kapan ya terakhir naik angkot. Selama hampir 4 tahun di Jogja juga gak pernah, lah, di Jogja gak ada angkot..hehe

    Duh, dufan, kapan ya bisa kesitu..he
    Kalau ke dufan, temenin ya, Rob :D

    Gak ikut makan sepertinya kamu kenyang sama wahana ya, Rob. Eh, itu foto yang sedang berdiri belakangnya wahana apa ya?

    Kalau aku sepertinya belum berani deh, takut. Tapi suka pengen coba. Kalau udah coba kan bisa nyimpulin mau coba lagi atau gak, yang penting udah tahu rasanya gimana..hehe

    Baru tahu kalau ada level ketegangannya..hehe

    Oh, ya, masuk kuliah masih lama ya, Rob. September, banyak waktu untuk santai ya..hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serius di Jogja nggak ada angkot? Wah, sulit ya mau ke mana-mana.

      Tidaaak. Kalau mau saya yang temenin, pastikan tiketnya gratis ya. :p

      Delete
    2. Adanya, trans Jogja, Rob. Semacam busway gitu, ada juga bus semacam kopaja.

      Haha.. boleh-boleh :)
      Tapi sampai sana di jamu kan... he

      Delete
  5. Aduh seumur-umur, dari masih zigot sampe udah tumbuh jenggot belom pernah ke dufan *ngenes

    Sip, bisa jadi bahan rujukan kalo kesana meskipun coming soon tak diketahui wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tiket gratis boleh ya kalau mau ngajak saya. :p

      Delete
  6. Hiks, aku belum pernah ke Dufan.. Tralala trilili senangnya rasa hati.. yang iklannya gitu kaaaan...

    ReplyDelete
  7. Gue ke dupan masuk rumah kaca aja udah lemez

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin yang dimasukin rumah kaca yang lain, Kak. Rumah pembuatan kaca, mungkin.

      Delete
  8. Kayaknya, seru2 tuh perjalanannya, apalagi pas naik Halilintar. Musti dua kali itu, Rob, biar bajunya kering.

    Lihat tulisan ini jadi pengen maen ke Jakarta.. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Badan gue juga jadi kering (kurus) nanti. :(

      Ayo Rahul ke Jakarta. Nanti kita syuting film Sandera part 2.

      Delete
  9. sayang bener istana boneka terlewatkan, loe bisa bayangin ada boneka monyet dengan mata melotot dan melambai kaku, menyapa, itu level menegangkan 999999, over menegangkan bro...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lewaaaat. Kata kakak saking gak menegangkannya mending jangan masuk. :(

      Delete
  10. saya juga bingung ini kalo ngomongin silsilah. kalo kakanya rian kan disebutnya kakak ipar, riannya disebut.. oh iya... rian disebut kalo lagi diabsen guru.

    Ketegangan awal2 kalo pergi ke taman hiburan gitu biasanya pas masuk. saat kita lupa bawa dompet, dan temen lainnya gak ada yg pasang muka mau bayarin dulu.

    Lu harus gabung di Gen Halilintar dulu Rob biar nanti kalo naik halilintar lagi udah gak gemeteran. xD Tapi yg naik bianglala kok level ketegangannya sampe 8 sih? kan naik bianglal itu romantis~

    Klao naik bombom car itu emang tegang saih. saya sepakat juga. bukan tegang karena mau tabrakan, tapi tegang karena gatau gerakinnya secara normal, pernah bom bom carnya jalan ke sembarang arah, pojok, sendirian. kayaknya kala itu bom bom carnya baper karena yg naikinnya bego. T.T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bantuin saya pecahin masalah silsilah dong, Bang Haw. :(

      Gen Halilintar kayaknya semacam komunitas nih. Maaf saya nggak tau. :(
      Naik bianglala romantis kalau yang berani-berani aja. Saya takuuuuut.

      Terus bunyi-bunyi kayak pompa air gitu ya? Wahaha, sering tuh yang kayak gitu diketawain sama orang-orang di antrean. :))

      Delete
  11. Dufan itu siapanya Udafanz sih? ._.

    Aku belom pernah ke dufan sih siyaaaal. Yah, orang Jogja yang nda pernah kemana-mana saya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Orangnya nggak baca, kan?

      Ya.. saya orang Jakarta nggak pernah ke Jogja. Seri. :(

      Delete
  12. Robbyyy... Baca ini kyaknya smangatnya berasa bgt yaak. Jd kebawa serunya :D

    Ah, ssungguhnya postingan ini mgingatkanku akan knangan masa SMA pas prtama kali ke dufan.. Pdhal pgn gue bikin postingan jg, tp malah ngendep di draft udh staun lebih. Dan poto2nya udh pda keformat smua. Hiks. Sedih klo diinget2 mah :'(

    Enak ihh, bnyak permainan yg dicobain. Wktu gue kstu niagara2 lg dbetulin.. Untung ada wahana Ice Age. Ampe ngantri 2x loh gue ke Ice age! Awalnya gak nyangka jg, gue kira itu prmainan yg santai2 aja, EH GAK TAUNYA NGERI JG NJIR ENDINGNYA! Gak siap gue pas tau tanjakan turunan gtu. Wahana yg nipu bgt dah itu :( Tp ttep seru sih, rela deh ngantri 2x~. Wkwk

    Temen gue wktu itu kbnyakan pda naik kora2 sih. ampe 8x. Gue aja gumoh ngeliatnya :( gue naik kora2 3x doang. Kbnyakan meremnya pula. Serem pas ngayun ke bawahnya. Kok lu ga naik kora2? Wahana hello kitty ga ksana jg rob? :'D

    Halilintar klo diliat2 mah "Ah, cuman sgtu doang! Cetek" tp gue ttep gak naik sih. Wkwk.
    Seruuu ihhhh... Mau ke dupaan lagiiiiii.... Bisanya cuma ke dupan pintu doang sih :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aha, untung udah ditaruh di blog. Lumayan mengenang soalnya, pertama kali. Aihihihi.

      Setuju kan, Ice Age itu dibawa pelan dulu, baru dibanting. Hm, meluncur maksudku. Naik kora-kora sampe delapan kali. Manjiw!

      Delete
  13. Gue sampai kudu nginget-nginget itu lagu Kotak yang mana. Setelah tahu yang "Terbang", terus langsung nyanyiin. Wq. :D

    Nggak pernah ke Dufan lagi pas gede, kalau nggak salah pas masih SD apa SMP dulu, ya. Lupa rasanya. Lagian udah males ke Dufan. Entahlah, naik angkot aja muntah. Takutnya naik wahana-wahana gitu bakalan lebih mabuk. :(

    Lemah sekali.

    Fly over perasaan nggak serem. Apa segitunya efek Halilintar? :|

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akhirnya tahu juga, bang Yog. :D

      Huahaha, itu bukan lemah. Manusiawi. Organ pencernaan masih bagus. Hehehe. Naik fly over emang nggak serem, gue aja yang over. :D

      Delete
  14. Metromini = dosis rendah halilintar.
    ahh biasa tuh bro,lu belum cobain naik bus AKAP dari surabaya kan? kalau saya nilai level ketegangannya unlimited. Ngalahin halilintar deh. Sepanjang perjalanan sumpahlu gak bakal bisa tidur dengan tenang apalagi duduk manis.

    Enakan yah kalau di jakarta banyak wahana seru,lha di kota saya yang ada hanya Trans Studio, seru sih permainannya tapi indoor.

    Sumpah nih saya ngakak parah soal nyamain naik halilintar dengan fly over. Asem tetangga pada liatain pagi-pagi gini. saya ngebayangin pas naik fly over terus teriak kayak gitu gimana yah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow, sebuah tantangan bila ke Surabaya. :))

      Hmmm, naik fly over terus teriak ya? Oke, jangan bilang-bilang. Saya pernah sekali.

      Delete
  15. Wah. Setelah ngereview lagu Akad, sekarang Robby ngereview tempat bersenang-senang yaitu Dufan. INI TULISANNYA BIKIN NGAKAK HAHAHA. Apaan wey keterbatasan keberanian! Di mana-mana adanya keterbatasan waktu. Hahahaha. Dan aku paling ngakak pas di bagian bom-bom car. Belajar nyetir, bangsat! HAHAHAHAHAHA.

    YA ALLAH AKU NGOMONG KOTOR DI BLOGNYA ROBBY :(((

    Nggak kebayang kalau aku bersenang-senang di Dufan. Aku juga punya keterbatasan keberanian sih. Ngeliat orang naik kereta gantung aja udah merinding sendiri. Satu-satunya hal yang kubanggakan adalah aku berani naik perosotan (bener nggak sih ini namanya) tinggi dan panjang di waterboom dalam keadaan luka-luka di kaki, karena di perjalanan sebelum nyampe waterboom-nya, aku jatoh dari motor dan lukanya nggak sempat diobatin. Kenorakan dan keudikan main di waterboom pertama kalinya membuatku lupa sama rasa perih di kaki. Huhuhuhu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum bisa mereview sekaligus mbaperin film seperti Kak Icha, nih. Hehehe.

      Tapi enakan waterboom deh. Lebih seger. Dufan juga enak, tapi.. hehehe merinding saya mah. :))

      Delete
  16. Aku malah mau cobak Tornado sama Hysteria, Rob! Tapi berhubung Teto gak berani, yakali masa aku sendirian maen. Ntar maboknya jugak sendirian :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mesti ditemenin sih naik itu, biar sama-sama tau gimana reaksinya. :))

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.