24 March 2017

Kita nggak pernah tahu sebelumnya, apa yang harus dilakukan sewaktu naksir lawan jenis pada kali pertama.

Kali pertama gue naksir cewek, gue nggak tahu harus ngapain. Bingung. Nyari tahu juga nggak ngerti apa yang mau dicari. Nggak tahu apa istilah yang tepat tentang apa yang lagi dirasakan. Rasanya nggak nyaman sekaligus ada perasaan yang geli-geli lucu. Campur aduk.

“Itu tandanya lagi suka sama seseorang,” ujar seorang teman sewaktu gue membeberkan keluhan. Beberapa hari terakhir seorang cewek berambut panjang sebahu, bintang kelas, dan juga salah satu pesaing gue di kelas membuat gue sering curi-curi pandang kepadanya. Teman gue menambahkan, “Bener banget. Lu lagi suka sama seseorang.”

Tahu, kan, tanda-tanda naksir itu bagaimana? Suka ngelirik-lirik saat dia nggak sadar. Merhatiin setiap gerak-geriknya. Hampir hafal detail kecil yang ada di sekitarnya. Mulai dari pin yang menempel di tas sampai ujung dasi yang warnanya mulai memudar. Lalu, sampai si dia akhirnya sadar sedang diperhatikan, dia melirik balik ke kita. Spontan kita mengalihkan pandangan sambil senyum-senyum tanpa harus ketahuan dia.

Duh, ini gue banget. Sampai sekarang.

Dia menjadi alasan gue untuk melihat jam. Tempat duduknya dekat dengan jam dinding yang menempel di dinding belakang kelas. Gue jadi lebih sering melihat jam, sekalian melirik ke dia untuk waktu yang agak lama. Sampai gue mengkhawatirkan hal-hal yang berlebihan, misalnya gimana kalau jam itu menimpa kepalanya lalu ingatannya berantakan? Sewaktu ditanya namanya siapa, dia jawab, “Saya? Sutrisno.”

Gue masih melirik dia. Akhrinya dia balik melirik gue. Gue kabur sambil senyum-senyum. Rasanya masih geli.

Sampai pada suatu pagi, pukul 9, gue pura-pura menanyakan jam pada orang-orang sekitar. Kalau ibarat dunia maya, gue nanya begini: “Sekarang jam berapa, Tweeps?” Padahal gue bisa melihat jam di handphone sendiri.

“Duh, jam berapa, sih, ini?” tanya gue tanpa jelas kepada siapa. Baru saja gue melihat jam, kemudian melihat dia.

Tanpa diduga, ada sahutan suara cewek yang menyambar ucapan gue. “Jam sembilan lewat lima belas.”

Dia yang menjawab pertanyaan tanpa sasaran itu. Gue berbalik badan. Berusaha nggak kelihatan kalau lagi cengengesan. Senang bukan main. Rasanya jadi beneran geli.

Rahasia ini nggak boleh gue pendam sendiri. Gue cerita ke teman lelaki kalau gue suka sama dia. Bukan, maksud gue bukan lagi suka si teman lelaki, tapi sama dia, yang ngejawab pertanyaan tanpa sasaran itu. Setelah cerita panjang lebar, bukannya dapat sesuatu yang baik, gue malah diciye-ciyein. Ujungnya gue diledekin sehingga membuat gue malah nggak nyaman.

Lain lagi sewaktu SMP. Gue pernah suka sama cewek yang seangkatan dengan gue. Dan seperti pada kebanyakan orang, gue melakukan hal yang sama seperti saat SD: cerita ke teman. Tetap dapat ciye-ciye juga. Tapi sebuah saran cukup menantang dia berikan. “Tembak, Rob, tembak,” katanya.

Hah? Tembak? Ngomong yang romantis-romantis gitu? Gue aja bingung gimana caranya ngucapin “selamat ulang tahun” ke cewek.

“Halo, Mariska. Kamu hari ini ulang tahun ya? Gue mau ngucapin selamat, semoga cepat dapat momongan.”

Sejak saat itu, ketika gue sedang naksir seseorang dan curhat kepada orang yang terdekat, saran mereka selalu sama. Nyuruh gue nembak.
*** 

Selain payah dalam menerka perasaan, gue juga nggak terlalu paham dalam memberikan hadiah. Beberapa kali gue memang pernah membelikan pulsa ke seseorang sebagai hadiah. Tapi, hal itu gue pikir nggak terlalu “ngena”. Oke, mungkin pulsa sangat berharga makanya nggak ada orang yang nolak. Namun semakin ke sini, gue pikir, hadiah jadi penting banget buat menyatukan kenangan dengan seseorang. Hadiah menjadi tanda seseorang untuk dikenang.

Belakangan ini gue menyadari rasa itu kembali. Gue lagi naksir seorang cewek. Tidak seperti naksir-naksiran sebelumnya, kali ini gue nggak terlalu “ingin”. Kalau disuruh nembak pun, gue belum berani melakukannya dalam waktu dekat. Mau curhat, tapi tahu diri. Gue yakin, saat gue selesai curhat, gue cuma dikasih jawaban, “Tembak aja, tembak.”

Untuk saat ini rasanya sesederhana “cukup melihat dia tertawa, rasanya sudah senang”. Tapi, gue nggak boleh terus begini. Gue ingin dikenangnya karena inilah tahun terakhir sekolah. Keinginan gue bila punya rezeki lebih adalah memberinya sebuah hadiah. Entah bagaimana rupanya, gue masih belum tahu. Masih mencari-cari yang cocok.


Sumber pixabay.com


Untungnya, zaman sudah canggih. Situs belanja online sudah banyak dijumpai. Elevenia salah satunya. Di Elevenia, gue bisa mencari hadiah yang kira-kira cocok untuk dia sebelum lulus-lulusan nanti. Gue tidak terlalu tahu apa yang dia suka. Tetapi, gue cuma ingin memberinya sesuatu untuk dikenang. Kadang berlaku “nggak seberapa mewah bendanya, tetapi momennya yang lebih sering diingat”. Gue bisa membelikannya sebuah jam tangan.



Atau, bila nanti saat lulus-lulusan gue tidak berhasil memberikannya hadiah, bisa saja gue berikan saat dia ulang tahun. Kebetulan nggak lama setelah itu dia berulang tahun. Tentunya gue akan memberi hadiah tanpa perlu mengulangi kesalahan terdahulu. Tidak ada lagi kalimat “semoga cepat dapat momongan” dalam ucapan selamat.

18 March 2017

Kenapa ya, gue sering nemuin orang-orang nutupin mulut dan hidungnya pake masker? Apa mereka semua lagi kena flu? Apa mereka malu lagi kena sariawan segede bola kasti?

Bagi gue, orang yang ke mana-mana pake masker itu meningkatkan sisi misteriusnya. Gue jadi nggak ngenalin siapa dia. Kalau pahlawan bertopeng bisa nggak ketahuan siapa dirinya karena tertutupi dengan topengnya, orang-orang yang lagi masker sama begitu. Setiap kali ngelihat mereka yang pake masker ada sedikit rasa sesal. “Jangan-jangan gue kenal dia. Tapi karena pake masker jadi nggak ngenalin, terus nggak jadi nyapa.”

Hal itu terjadi sewaktu gue pulang sekolah. Suatu sore, gue pulang lewat gerbang belakang sekolah. Di sana memang menjadi akses kedua setelah pintu depan untuk keluar sekolah. Belakang sekolah dipakai untuk parkiran dan tempat menunggu jemputan. Kadang juga diisi mereka yang mau ngumpul-ngumpul sebelum pulang.

Posisinya gue sedang jalan sambil ngobrol. Lagi asyik ketawa-ketiwi, ada seseorang yang manggil gue, “Robbiii!”

Gue ngelihat ke kiri, ada sederet anak cewek sedang duduk di trotoar. Semuanya pake masker. Suaranya gue yakin dari sana, tapi siapa yang manggil?

Mata masih tertuju pada kumpulan cewek tadi, gue berseru, “MANA YANG MANGGIL GUA?! MANA?!”

Mereka tertawa ngelihat gue nyariin siapa yang manggil. Akhirnya gue cuma melambai aja. Bodo amat deh kalau ternyata bukan mereka yang ngomong. Sekalipun itu cuma suara rekaman hape, gue nggak peduli.

Gue kesel. Gue balas dendam aja dengan cara yang elegan: ngebayangin mereka ngelakuin hal yang aneh-aneh.

Pertama, gue ngebayangin salah satu di antara mereka adalah seorang mentalist. Lalu dia manggil gue, kemudian berdiri bersebelahan dengan gue. “Kita udah saling kenal, kan?”

“Lu siapa woy?! Buka dulu maskernyaa.”

Mukanya mendekat ke wajah gue. Maskernya diturunkan. Gue mendelik ke wajahnya... mulutnya nggak ada!

Dia nulis sesuatu di kertas, gue baca pelan-pelan.

“MAU TAHU ADA DI MANA MULUT GUE? SILAKAN CEK DI GEROBAK SIOMAY TERDEKAT”

Pas gue cek ke gerobak siomay, gue melihat di dalam ember ada sebuah mulut menempel di permukaan.

Ternyata dia mulut ember. Pantesan aib orang disebar-sebar.

Ah, ngawur.

***

Mengenai pahlawan bertopeng, gue jadi keingetan akan keinginan gue sejak kecil: menjadi pahlawan. Entah dalam situasi apa pun, gue kepengin “menyelamatkan” nasib seseorang. Sampai-sampai kepikiran “nggak apa tersiksa yang penting orang lain bahagia”. Pengertian pahlawan menurut gue begitu: Menyelamatkan seseorang hingga dia tidak merasa terancam atau bahaya dengan merelakan gue terluka.

Turun dari mobil pada suatu sore sepulang sekolah, gue berjalan di arus yang melawan arah. Karena merasa nggak nyaman berjalan di posisi sekarang, gue menyeberang. Jalanan kosong. Namun, baru dua langkah berjalan tiba-tiba sebuah sebuah motor yang berisi dua orang melaju dengan cepat. Sontak gue kaget dan berlari untuk segera sampai di seberang. Dalam hati gue, hampir aja gue ketabrak. Itu motor kenceng banget.

Beberapa meter kemudian, motor ngebut yang lain melaju di jalan dengan knalpotnya yang berisik. Ada apa sebenarnya, tanya gue dalam hati. Apa jangan-jangan jalan menuju rumah sedang dipakai balapan liar? Langkah kaki membawa gue sebuah musala. Di sana berkerumun kumpulan ibu-ibu sedang salig tanya. Seorang ibu yang tatapannya kosong berkata dengan santai, “Tas saya dicopet.”

Lagi dicopet tapi tetap santai. Asli. Dia nggak keringetan sama sekali. Kagak panik kagak apa.

Gue diam sebentar berdiri dari kejauhan kerumunan itu untuk nguping. Ternyata setelah mendengar pengakuan si ibu, tasnya dicopet oleh dua orang pengendara motor, kemudian ngebut. Berarti motor tadi yang hampir menabrak gue adalah... motor yang berhasil mencopet.

Sampai rumah gue masih kepikiran dengan nasib si ibu. Lalu gue kembali teringat dengan pengertian pahlawan yang gue buat sejak kecil. Berandai-andai, kalau saja gue tertabrak dan pencopet itu berhasil terhenti dan tertangkap setelah menabrak gue, apakah gue berhasil menjadi pahlawan sesuai dengan apa yang gue bayangkan dulu?

12 March 2017

Jakarta menjadi lambang kemodernan. Gue pengecualian.

***

Keingintahuan gue akan hal-hal di Jakarta sangatlah tinggi. Hampir semua rasa kepo itu muncul selama 9 tahun belajar Pendidikan Lingkungan Kehidupan Jakarta (PLKJ) di sekolah. Gue yang nggak pernah ke mana-mana, disuruh ngebayangin tempat di mana-mana. Pengetahuan gue akan tempat-tempat di Jakarta hanyalah sekadar “Taman Ismail Marzuki itu di Jakarta Pusat”. Letak sesungguhnya gue nggak pernah ngelihat.

Baru saja gue pergi ke salah satu tempat bersejarah di Jakarta, yaitu Radio Republik Indonesia (RRI). Tempat yang jadi penyiaran proklamasi itu menjadi hal baru bagi gue. Agak kurang pantas rasanya karena selama ini RRI adanya di Jakarta, sedangkan gue nggak pernah tahu di mana RRI. Karena ada sebuah try out SBMPTN, akhirnya gue bisa merasakan main ke sana.

Nggak deh. Ini fokusnya bukan ke main, tapi ke try out.

Diawali dengan berangkat pukul 5.30. Gue pergi menuju halte Rawa Buaya teramat pagi mengingat jadwal ujian dimulai pagi hari. Nggak boleh kesiangan dan terlambat pokoknya. Menurut perkiraan, gue akan sampai di halte pukul 6 dan menempuh 30 menit sampai di RRI. Sampai sana bisa langsung ujian.

Gue sampai di halte Rawa Buaya kurang dari pukul 6. Gue ngecek kartu peserta di tas untuk memastikan nggak ketinggalan. Kalau nggak bawa gue nggak akan bisa ikutan try out. Ternyata ada kertas itu dijepit di papan ujian. Tertulis "pukul 7.30-12.00". Artinya... gue kepagian. Anak Jakarta belum pernah ada yang ngeluh kepagian selama ini.

Mati gaya deh di halte. Tengok kanan-kiri kayak copet, scroll handphone terus-terusan. Mau pake WiFi halte, tapi masih ada kuota bonus. Gue akan terus-terusan begini, duduk sampai gue ketemu temen-temen yang mau ujian juga.

Seorang teman duduk agak jauh di sebelah gue. Gue pun nggak tau sejak kapan dia duduk di sana. Dia tanya, gue mau ke mana. Gue menjawab, mau ikut TO. Sama berarti, balas dia. Ah, syukurlah. Gue bener-bener lagi nyari temen barengan soalnya nggak kayak biasanya, gue nggak ngecek alamat lokasi. Takut nyasar.

Tidak lama setelah itu ada suara orang-orang menyapa teman di sebelah. Teman gue jadi tambah banyak. Mereka semuanya berhijab.

“Geseran dong.”

Gue menggeser pantat, mempersilakannya untuk duduk. Tidak lama setelah itu, gue mengedepankan tas, kemudian gue peluk. Terdengar bunyi retakan. Curiga kalau papan ujian gue yang retak.

“Yah, retak.” Gue buru-buru membuka resleting tas.

“Yah, patah.”

“Eh, nggak deh,” kata gue menghibur diri. Kenyataannya udah retak segaris sampai tengah.

Teman-teman cowok sampai di halte. Nggak lama setelah mereka datang, kami langsung naik bus. Sebenarnya nggak ada janjian sebelumnya. Gue sudah meniatkan diri untuk berangkat sendiri, lalu nungguin mereka. Daripada udah janjian lalu mereka yang telat, gue malah jadi kesel nantinya.

Setelah transit, di dalam bus kedua, sesaat hendak turun Gio, keluar lebih dahulu sendirian. Nggak biasanya pintu bus cepet nutup begini. Nggak lebih dari sepuluh detik, pintu sudah menutup kembali. Kami berempat berpisah dengan Gio yang udah turun duluan. Terpaksa harus ke halte selanjutnya, dan... naik bus yang lainnya. Untungnya nggak terlalu lama.

Selama pelaksanaan try out, semuanya nggak seperti dugaan gue. Strategi gue dalam mengerjakan soal adalah membagi-bagi waktu per mata pelajaran. Nggak enaknya, di sini nggak ada jam. Bisa aja sebenarnya kalau punya jam atau ngelihat handphone. Sedangkan handphone gue mati. Mau nanya temen di sebelah nggak enak, takut ganggu. Mereka lagi asyik-asyiknya ngerjain soal, di lain sisi gue malah asyik-asyikan ngebenerin rambut.

Selesai ujian, semuanya kembali normal, walaupun agak “geser” sedikit. Teman-teman gue yang cowok saling bahas soal yang tadi dikerjakan. Gue nggak ngerjain banyak mau nanya tapi malu. Pengin ikutan ngobrol sama temen-temen cewek juga malu.

Satu setengah jam seusai ujian, nilai telah keluar. Kertas hasil ujian ditempel di dinding dan kaca di sekitar lantai satu. Gue meminjam handphone Owi, teman gue, untuk memotret hasil try out. Nggak perlu desak-desakan lagi jadinya, seperti yang digambarkan di film Rudy Habibie saat B. J. Habibie mau lihat pengumuman lolos masuk RWTH Aachen. Lagian ini cuma try out, bukan pengumuman kelulusan.

Secara ajaib, kami semua jadi berombongan yang berasal dari sekolah yang sama. Tadinya berpisah-pisah, kini jadi ada sepuluh orang. Sebelum pulang, kami sepakat untuk mencari tempat makan. Melihat warung nasi padang, seharusnya kami memilih tempat itu sejak awal... karena ujung-ujungnya nyasar!

Sempat mau nyari makan di daerah Monas. Tapi banyak ini-itunya. Jangan di sana, mahal, begitu katanya. Ya sudah. Perkiraan kami akan mendapat makan di kawasan Istiqlal. Jalan lagi lebih jauh. Namun pintu gerbang keluar Monas banyak yang ditutup. Ini terpaksa membuat kami putar balik dan lapar semakin menggila.

Seorang turis yang nggak jauh dari kami bertanya. Gue perkirakan dia orang Eropa. Menurut tebakan gue, dia orang Belanda atau Swiss. Namanya juga nebak!

“Kalo gue mau ke sana, lewat pintu mana, ya?” tanya dia dengan bahasa Inggris sambil menunjuk kubah Masjid Istiqlal. “Sedangkan pintu ini ditutup.”

Teman-teman yang lain menyimak. Gue hanya menyimak sekilas, kemudian membelakangi mereka. Dede, teman gue yang mahir berbahasa Inggris, menjawab dengan penuh kesabaran. Padahal dia lagi laper dan sama-sama nyari jalan keluar, eh si turis malah nanya-nanya.

“Pintu yang lain ada di sebelah sana,” ujar Dede sambil menunjuk, memberi isyarat tempat yang jauh.

Gue, yang bahasa Inggrisnya kacau, mencoba membantu menjawab dengan nyeletuk, tapi nggak terlalu keras. “You just climbed out.”

Yang denger pasti kesel duluan. Untung sedikit. Padahal, salah gue di mana? Gue hanya memperkenalkan budaya memanjat pagar. Setidaknya lebih baik daripada memanjat sosial.

Setelah mengkonfirmasi semuanya ke penjaga pintu terdekat, memang benar hanya pintu masuk tadi yang bisa digunakan untuk keluar. Si turis geleng-geleng kecewa.

Kami kembali lagi ke pintu tempat pertama masuk ke kawasan Monas. Penyesalan-penyesalan mulai muncul. Kenapa nggak langsung ke warung makan padang aja. Gue melihat turis itu dari kejauhan. Kasihan dia. Liburannya ke Indonesia harus ketemu dengan hal sepele kayak gini.

“Kasihan, tau,” kata gue.

“Ih, kita aja lagi nyari jalan.”

Benar juga. Sama-sama susah.


***

Untungnya, kami dapat tempat makan. Setelah semuanya selesai, maka perjalanan kami telah usai. Di dalam bus Harmoni-Kalideres, gue pamit untuk keluar duluan di halte Grogol untuk melanjutkan ke Matraman nyari diskonan buku.
Mama gue nanya, “Tegalan? Tegal Parang kali.”

Beberapa bulan yang lalu, gue sempat main ke Gramedia Matraman bareng bang Yoga, bang Haris, dan bang (atau mbak?) Dian. Gue udik banget ngelihat Gramedia Matraman yang gede banget. Bang Haris bilang, “Ini toko buku terbesar di Asia Tenggara.” Wow, keren kalau begitu. Dan adegan tadi mirip kayak keponakan yang lagi jalan-jalan sama omnya.

Seingat gue, Gramedia Matraman adanya di depan halte Tegalan. Apa gue salah lihat? Kebetulan pas gue cek di halte Grogol, ada bus tujuan menuju Pinangranti yang melewati halte Tegal Parang. Ah, gampang ini mah.

Sampai di halte Tegal Parang, gue keluar dari gate halte lalu menuruni tangga. Saking semangatnya mau beli buku murah, gue sampai berlari menuruni tangga. Bunyi hentakan begitu terdengar. Kalau ada orang di dekat gue radius 15 meter pasti menyangka, “Mau ada gempa, nih!”

Di anak tangga terakhir, gue melihat sesuatu yang nggak gue inginkan. 
Kosong. Nggak ada tulisan Gramedia. Nggak ada tenda pecel ayam tempat kami makan dulu. Resmilah gue nyasar.

Gue kembali lagi ke halte dan harus bayar lagi. Harusnya bisa sekali bayar bisa ke mana aja. Karena gue turun, jadi nggak berlaku lagi. Di halte gue melihat peta. Tertulis di sana “TEGALAN”.

Tuh, kan, bener ada Tegalan. Info yang kau berikan salah, Mama! Untung baru nyasar ke Tegal Parang. Gimana kalau nyasarnya beneran ke Tegal. Tapi nggak masalah, sih, kalau nyasarnya ke warung tegal.

Perjalanan panjang dimulai kembali. Harus transit-transitan lagi. Susah juga ya jadi anak Jakarta. Untung gue bisa membaca peta. Alhamdulillah. Beginilah nasib orang-orang yang nggak sempet nyari tau rute menuju suatu tempat.

Di dekat parkiran Gramedia Matraman ada sebuah tenda yang gue perkirakan di sanalah tempat buku-buku murah dijual. Buku-buku di sini rata-rata buku tahun 2015 ke bawah. Buku tahun 2015 salah satunya yang gue temui adalah buku-buku bank soal dan dihargai sepuluh ribu rupiah. Kalau dibandingin dengan yang baru, jelas ini murah. Bisa sepuluh kali lipat.

Sebagai anak yang baru kenal diskonan buku, gue jadi kalap. Ada buku bagus, ambil. Ada buku yang sampulnya ada tulisan “blog” diangkut. Ketemu pengendara motor yang masuk jalur busway bawaannya mau nyumpahin.

Akhirnya, semua buku-buku yang gue angkut kalah dengan buku-buku yang kebetulan gue pengin sejak lama. Buku yang berhasil gue bawa pulang, di antaranya:

- Riva the Explorer – Ferdiriva Hamzah

- Maling Kolor – Roy Saputra

- Doroymon – Roy Saputra

- Bocah Penjinak Angin – William Kamkwamba dan Bryan Mealer

- Super Sad True Love Story - Gary Shteyngart

Khusus dua buku terakhir yang gue sebut, gue beli karena “berjodoh”. Karena selama ini kebiasaan gue membeli buku adalah harus tahu penulisnya terlebih dahulu, barulah beli. Kali ini gue dengan kerennya tertarik setelah melihat kover, membaca blurb, dan membaca halaman pertamanya. Kata orang, sih, kayak gini kalau mau berjodoh sama buku yang dibeli tanpa tahu penulisnya terlebih dahulu.

Tapi karena murah, kalaupun jelek nggak kecewa-kecewa amat. Oh iya, dua buku terakhir itu jumlah halamannya lebih dari 200. Jadi, rasanya istimewa aja dapatin mereka dengan harga di bawah 50 ribu, di saat harga buku lagi mahal-mahalnya. Urusan jelek dikesampingkan sajalah.

Bus untuk perjalanan pulang cukup sepi sehingga gue dapat tempat duduk. Gue bisa dengan nyaman membaca soal yang tadi gue jawab sewaktu try out. Nggak lama. Setelah itu soal gue masukkan kembali karena udah enek. Mata gue tertuju keluar kaca.

Lagu dari Mayumi Itsuwa -“Kokoronotomo” sayup-sayup terdengar di dalam bus. Tumben-tumbenan di dalam bus Transjakarta ada musiknya, atau gue yang baru tahu. Lagu itu menjadi soundtrack malam ini sambil memandangi gedung-gedung bercahaya. Sambil terbayang-bayang kejadian hari ini.

Aku ingin berjalan bersamamu
Dalam hujan dan malam gelap

Teringat juga lirik lagu “Resah” milik Payung Teduh. Tadi siang cuacanya panas. Gue bisa berjalan bersamanya. "Dalam hujan dan malam gelap" gue ganti dengan "Dalam lapar dan siang terik".

Gue memeluk tas yang gue hadapkan ke depan. Memeluknya lalu timbul bunyi “krek” yang lumayan keras. Gue syok. Papan ujian kini benar-benar terbagi dua.

“Yah, patah,” kata gue dalam hati, mengulangi perkataannya.

03 March 2017


Banyak momen saat kelas 12 yang bikin emosi teraduk. Kita memang nggak bisa senang-senang kayak anak TK yang dengan brutalnya ngejorokin temen dari atas perosotan, tapi ada banyak momen yang maknanya dalem banget. Begitu juga dengan kesedihannya.

Puncak semua ketegangan dalam masa-masa sekolah memang berada di sana. Gue mengamini. Karena pada kelas 12, kita sudah berada di dekat "garis finish" menuju akhir dari kehidupan sekolah, yang artinya... tidak ada lagi upacara hari Senin. Huahahaha.

Bukan cuma itu saja. Kelas 12 juga berarti kita siap keluar dari gerbang sekolah menuju kehidupan yang lebih keras, berat, tajam, setajam silet. Bagi mereka yang udah cukup muak dengan "bangku sekolahan" akan mencari kerja dan peluang untuk mencukupi kebutuhan hidup. Sedangkan bagi mereka yang ingin berkuliah, kelas 12 menjadi ajang pembuktian yang nggak gampang.

Untuk menempuh itu semua maka cara termudahlah yang diharapkan. Nggak perlu dicari. Itu memang sudah ada. Dengan adanya jalur undangan (atau yang dikenal dengan seleksi nilai masuk perguruan tinggi negeri—SNMPTN) menjadi buah manis yang menggiurkan. Semua orang yang ingin berkuliah dengan syarat mudah benar-benar berharap pada SNMPTN. Dengan kemudahannya dan keistimewaan yang ditawarkan, SNMPTN jadi primadona setiap siswa kelas 12.

Namun, semakin ke sini SNMPTN menjadi sorotan. SNMPTN dinilai sebagai cara yang kurang adil untuk menyeleksi calon mahasiswa karena hanya nilai rapor yang dilihat. Kecurangan manipulasi nilai menjadi alasan utama mengapa SNMPTN semakin ke sini semakin dikurangi kuotanya.

Tahun 2015 (kalau nggak salah) semua orang masih bisa mendaftar SNMPTN. Hanya perlu menginput nilai dan jurusan yang dipilih lalu pengumuman menjawabnya. Namun pada tahun berikutnya jatah jalur undangan berkurang menjadi 75 persen untuk sekolah akreditasi A. Sayangnya (lagi), pada tahun berikutnya, tahun 2017, jatah SNMPTN dikurangi menjadi 50 persen untuk sekolah berakreditasi A. Permasalahnnya: oke, siap-siap kelapangan hati... karena 2017 adalah tahun gue kelas 12.

Jadi, sistemnya begini: input nilai – diseleksi – didapatkan hasil 50 persen dari satu angkatan - pengumuman.

Hasilnya, dari sekian banyak pengharap SNMPTN berujung dengan kekecewaan.
Termasuk gue.

***

Gara-gara sedih nggak dapat kuota SNMPTN, gue hampir kehilangan semangat hidup. Mau makan males (kebetulan lagi nggak laper). Mau belajar rasanya ah-semuanya-percuma. Akhirnya nggak tahu mau ngapain lagi, terus, seperti biasanya, curhat ke blog.

Kebiasaan.

Untuk kali ini, sepertinya patah hati karena urusan sekolah adalah yang terhebat dalam hidup gue. Nggak biasanya gue kecewa sampai harus, ehm, harus banget, nih, gue sebutin kalo gue nangis? HEHEHE NGGAK DONG. Hehe. He. HUAAAAA.

Kalau yang biasanya cuma dapat nilai di bawah 5 udah jadi hal wajar, saking keseringannya. Nah, ini SNMPTN. Penantian dan keinginan sejak kelas 10 gagal diraih. Jelas, ini sedih.

Gara-gara patah hati ini, gue inget sama film "Relationshit". Dari film itu gue tahu model tahap-tahap kedukaan dari Elisabeth K├╝bler-Ross. Ada lima tahapan yang disebutkan di dalamnya, yang kayaknya sedang atau sudah gue jalani.



Penyangkalan (Denial)



Gue buru-buru membuka website SNMPTN, memasukkan nomor induk siswa nasional (NISN) dan password. Loading cukup lama karena memang hari itu adalah hari pertama pengumuman kuota jalur undangan. Di layar menunjukkan tulisan berwarna merah:

“Anda tidak dapat mengikuti SNMPTN 2017. Silakan mengikuti SBMPTN 2017.”

Nggak. Ini nggak mungkin. Ini pasti gara-gara handphone gue yang nggak diganti, makanya jadi ngaco gini hasilnya. Gue terus-terusan mengelak. Teman juga menyarankan untuk mencoba cek ulang. Siapa tahu karena tadi servernya penuh, jadi nggak bener hasilnya, karena dia juga begitu setelah dua kali percobaan muncul kalimat yang berbeda dengan yang gue dapat.

Di bimbel gue nyoba cek lagi.

Tulisan masih tetap sama.

“Coba lagi,” teman gue menyarankan.

Masih nekat mencoba, hasilnya tetap sama. Bahkan hingga tujuh kali mencoba, hasilnya tetap sama. Gue nggak bisa lanjutin SNMPTN. Untuk saat ini, hanya perkataan seorang filsuf—merangkap juga sebagai blogger—yang bisa gue ingat: “Ini bukan jalan gue....”



Marah (Anger)



Sampai di rumah gue menyetel lagu-lagu secara acak, sambil bertanya dengan marah, “Kenapa gue bisa nggak dapet kuota undangan? Apanya yang kurang, sih? Kalau ini bukan jalan gue, terus jalannya siapa?!” dan dengan kasarnya gue jawab sendiri, “INI JALAN PEMERINTAH, BROTHER!”

Selain marah-marah, gue juga dengki sama setiap nama yang bersliweran di grup kelas. Dengan satu post bertuliskan “Daftar nama yang dapat kuota 50% SNMPTN”, gue marah-marah sendiri. “Kok gue nggak ada, sedangkan dia malah ada?! NGGAK TERIMA POKOKNYA! Dari zodiak aja dia nggak cocok. Kuota SNMPTN harusnya lebih banyak dikasih ke Cancer, tauk!”

Gue benar-benar menjadi orang yang dengkian.



Menawar (Bargaining)



Hari demi hari gue lalui dengan penuh kekosongan. Gue malas untuk menyalahkan siapa pun dan diri sendiri. Gue lebih memilih berkaca terhadap apa yang telah gue raih selama tiga tahun terakhir. Melihat-lihat lagi nilai rapor, memang benar gue tidak pantas untuk SNMPTN. Keinginan yang sudah seharusnya gue kubur dalam-dalam.

Penyesalan-penyesalan juga muncul. Seperti, “Kenapa gue dulu nggak serajin akhir-akhir ini?”, “Kok gue bisa dapat nilai mata pelajaran dengan ancur? Padahal bisa lebih baik. Buktinya gue bisa lakukan itu di kelas 12. Meskipun nggak nolong-nolong amat”, “Kalau saja dulu gue nggak kecanduan main Omegle, harusnya gue bisa belajar terus”, dan lain-lain.



Depresi (Depression)




Semakin lama, gue semakin merenungi dan lebih menyelami apa saja yang seharusnya gue perbaiki. Gue jadi lebih kaku dalam ngobrol dan semakin menjadi anak yang pendiam.

Tahap ini membuat gue menjadi lebih senang menyendiri. Di kelas sering mojok ngelihatin lapangan di balik kaca jendela. Orang-orang ngagetin dari luar gue nggak peduli. Semuanya kosong. Gue nggak mikirin apa-apa. Benar-benar melamun. Untung aja setan lagi nggak kebagian shift siang, bisa-bisa gue kesurupan saat itu juga.

Selain itu gue lebih memperbanyak waktu tanpa handphone (kebetulan lagi beli paket yang termurah). Lagi nggak pengin sering-sering stalking. Lebih dari itu, gue juga kembali membuka buku-buku lama. Duduk mojok sendirian di kasur sambil baca buku dan berharap bisa ketiduran. Sambil curhat-curhat sendiri di kertas, lewat gambar coret-coretan atau tulisan yang nggak jelas temanya.

Ternyata setelah gue sadari, kalau lagi depresi gue senang banget mojok. Sayang banget, Mojok udah bubar.



Penerimaan (Acceptance)



Gue kembali membuka galeri, melihat foto screenshoot pengumuman SNMPTN beberapa waktu yang lalu. Ada secercah harapan untuk tetap bisa masuk perguruan tinggi negeri lewat jalur tes tulis, SBMPTN dan ujian mandiri. Gue berusaha menerima keadaan yang sudah begitu adanya. Kenyataan yang ada sudah seharusnya gue terima.

Nggak jauh dari tempat gue duduk, ada beberapa teman yang lolos tahap jalur undangan. Nasib mereka lebih beruntung ketimbang gue. Mereka berdiskusi tentang jurusan kuliahnya, sambil satu sama lain menanyakan pilihan apa yang ingin diambil saat pemilihan jurusan nanti. “Gue mau ambil jurusan ini,” kata salah satu di antara mereka.

Dari belakang gue mengucapkan kata dengan lirih. “Aamiin.”


***

Untuk teman-teman di SMAN 33 yang dapat kuota SNMPTN, semoga kalian lolos ke PTN yang kalian pilih. Ingat, setelah kalian lolos jangan sampai dilepas atau ditolak karena kasihan adik-adik kelas kita nantinya yang berisiko kena daftar hitam.

Terima kasih.

Terima kasih juga buat kamu yang sudah baca curahan hati ini. Kamu adalah sumber motivasi untuk saya bangkit kembali.