12 March 2017

Jadi Anak Jakarta yang Nggak Terlalu Jakarta

Jakarta menjadi lambang kemodernan. Gue pengecualian.

***

Keingintahuan gue akan hal-hal di Jakarta sangatlah tinggi. Hampir semua rasa kepo itu muncul selama 9 tahun belajar Pendidikan Lingkungan Kehidupan Jakarta (PLKJ) di sekolah. Gue yang nggak pernah ke mana-mana, disuruh ngebayangin tempat di mana-mana. Pengetahuan gue akan tempat-tempat di Jakarta hanyalah sekadar “Taman Ismail Marzuki itu di Jakarta Pusat”. Letak sesungguhnya gue nggak pernah ngelihat.

Baru saja gue pergi ke salah satu tempat bersejarah di Jakarta, yaitu Radio Republik Indonesia (RRI). Tempat yang jadi penyiaran proklamasi itu menjadi hal baru bagi gue. Agak kurang pantas rasanya karena selama ini RRI adanya di Jakarta, sedangkan gue nggak pernah tahu di mana RRI. Karena ada sebuah try out SBMPTN, akhirnya gue bisa merasakan main ke sana.

Nggak deh. Ini fokusnya bukan ke main, tapi ke try out.

Diawali dengan berangkat pukul 5.30. Gue pergi menuju halte Rawa Buaya teramat pagi mengingat jadwal ujian dimulai pagi hari. Nggak boleh kesiangan dan terlambat pokoknya. Menurut perkiraan, gue akan sampai di halte pukul 6 dan menempuh 30 menit sampai di RRI. Sampai sana bisa langsung ujian.

Gue sampai di halte Rawa Buaya kurang dari pukul 6. Gue ngecek kartu peserta di tas untuk memastikan nggak ketinggalan. Kalau nggak bawa gue nggak akan bisa ikutan try out. Ternyata ada kertas itu dijepit di papan ujian. Tertulis "pukul 7.30-12.00". Artinya... gue kepagian. Anak Jakarta belum pernah ada yang ngeluh kepagian selama ini.

Mati gaya deh di halte. Tengok kanan-kiri kayak copet, scroll handphone terus-terusan. Mau pake WiFi halte, tapi masih ada kuota bonus. Gue akan terus-terusan begini, duduk sampai gue ketemu temen-temen yang mau ujian juga.

Seorang teman duduk agak jauh di sebelah gue. Gue pun nggak tau sejak kapan dia duduk di sana. Dia tanya, gue mau ke mana. Gue menjawab, mau ikut TO. Sama berarti, balas dia. Ah, syukurlah. Gue bener-bener lagi nyari temen barengan soalnya nggak kayak biasanya, gue nggak ngecek alamat lokasi. Takut nyasar.

Tidak lama setelah itu ada suara orang-orang menyapa teman di sebelah. Teman gue jadi tambah banyak. Mereka semuanya berhijab.

“Geseran dong.”

Gue menggeser pantat, mempersilakannya untuk duduk. Tidak lama setelah itu, gue mengedepankan tas, kemudian gue peluk. Terdengar bunyi retakan. Curiga kalau papan ujian gue yang retak.

“Yah, retak.” Gue buru-buru membuka resleting tas.

“Yah, patah.”

“Eh, nggak deh,” kata gue menghibur diri. Kenyataannya udah retak segaris sampai tengah.

Teman-teman cowok sampai di halte. Nggak lama setelah mereka datang, kami langsung naik bus. Sebenarnya nggak ada janjian sebelumnya. Gue sudah meniatkan diri untuk berangkat sendiri, lalu nungguin mereka. Daripada udah janjian lalu mereka yang telat, gue malah jadi kesel nantinya.

Setelah transit, di dalam bus kedua, sesaat hendak turun Gio, keluar lebih dahulu sendirian. Nggak biasanya pintu bus cepet nutup begini. Nggak lebih dari sepuluh detik, pintu sudah menutup kembali. Kami berempat berpisah dengan Gio yang udah turun duluan. Terpaksa harus ke halte selanjutnya, dan... naik bus yang lainnya. Untungnya nggak terlalu lama.

Selama pelaksanaan try out, semuanya nggak seperti dugaan gue. Strategi gue dalam mengerjakan soal adalah membagi-bagi waktu per mata pelajaran. Nggak enaknya, di sini nggak ada jam. Bisa aja sebenarnya kalau punya jam atau ngelihat handphone. Sedangkan handphone gue mati. Mau nanya temen di sebelah nggak enak, takut ganggu. Mereka lagi asyik-asyiknya ngerjain soal, di lain sisi gue malah asyik-asyikan ngebenerin rambut.

Selesai ujian, semuanya kembali normal, walaupun agak “geser” sedikit. Teman-teman gue yang cowok saling bahas soal yang tadi dikerjakan. Gue nggak ngerjain banyak mau nanya tapi malu. Pengin ikutan ngobrol sama temen-temen cewek juga malu.

Satu setengah jam seusai ujian, nilai telah keluar. Kertas hasil ujian ditempel di dinding dan kaca di sekitar lantai satu. Gue meminjam handphone Owi, teman gue, untuk memotret hasil try out. Nggak perlu desak-desakan lagi jadinya, seperti yang digambarkan di film Rudy Habibie saat B. J. Habibie mau lihat pengumuman lolos masuk RWTH Aachen. Lagian ini cuma try out, bukan pengumuman kelulusan.

Secara ajaib, kami semua jadi berombongan yang berasal dari sekolah yang sama. Tadinya berpisah-pisah, kini jadi ada sepuluh orang. Sebelum pulang, kami sepakat untuk mencari tempat makan. Melihat warung nasi padang, seharusnya kami memilih tempat itu sejak awal... karena ujung-ujungnya nyasar!

Sempat mau nyari makan di daerah Monas. Tapi banyak ini-itunya. Jangan di sana, mahal, begitu katanya. Ya sudah. Perkiraan kami akan mendapat makan di kawasan Istiqlal. Jalan lagi lebih jauh. Namun pintu gerbang keluar Monas banyak yang ditutup. Ini terpaksa membuat kami putar balik dan lapar semakin menggila.

Seorang turis yang nggak jauh dari kami bertanya. Gue perkirakan dia orang Eropa. Menurut tebakan gue, dia orang Belanda atau Swiss. Namanya juga nebak!

“Kalo gue mau ke sana, lewat pintu mana, ya?” tanya dia dengan bahasa Inggris sambil menunjuk kubah Masjid Istiqlal. “Sedangkan pintu ini ditutup.”

Teman-teman yang lain menyimak. Gue hanya menyimak sekilas, kemudian membelakangi mereka. Dede, teman gue yang mahir berbahasa Inggris, menjawab dengan penuh kesabaran. Padahal dia lagi laper dan sama-sama nyari jalan keluar, eh si turis malah nanya-nanya.

“Pintu yang lain ada di sebelah sana,” ujar Dede sambil menunjuk, memberi isyarat tempat yang jauh.

Gue, yang bahasa Inggrisnya kacau, mencoba membantu menjawab dengan nyeletuk, tapi nggak terlalu keras. “You just climbed out.”

Yang denger pasti kesel duluan. Untung sedikit. Padahal, salah gue di mana? Gue hanya memperkenalkan budaya memanjat pagar. Setidaknya lebih baik daripada memanjat sosial.

Setelah mengkonfirmasi semuanya ke penjaga pintu terdekat, memang benar hanya pintu masuk tadi yang bisa digunakan untuk keluar. Si turis geleng-geleng kecewa.

Kami kembali lagi ke pintu tempat pertama masuk ke kawasan Monas. Penyesalan-penyesalan mulai muncul. Kenapa nggak langsung ke warung makan padang aja. Gue melihat turis itu dari kejauhan. Kasihan dia. Liburannya ke Indonesia harus ketemu dengan hal sepele kayak gini.

“Kasihan, tau,” kata gue.

“Ih, kita aja lagi nyari jalan.”

Benar juga. Sama-sama susah.


***

Untungnya, kami dapat tempat makan. Setelah semuanya selesai, maka perjalanan kami telah usai. Di dalam bus Harmoni-Kalideres, gue pamit untuk keluar duluan di halte Grogol untuk melanjutkan ke Matraman nyari diskonan buku.
Mama gue nanya, “Tegalan? Tegal Parang kali.”

Beberapa bulan yang lalu, gue sempat main ke Gramedia Matraman bareng bang Yoga, bang Haris, dan bang (atau mbak?) Dian. Gue udik banget ngelihat Gramedia Matraman yang gede banget. Bang Haris bilang, “Ini toko buku terbesar di Asia Tenggara.” Wow, keren kalau begitu. Dan adegan tadi mirip kayak keponakan yang lagi jalan-jalan sama omnya.

Seingat gue, Gramedia Matraman adanya di depan halte Tegalan. Apa gue salah lihat? Kebetulan pas gue cek di halte Grogol, ada bus tujuan menuju Pinangranti yang melewati halte Tegal Parang. Ah, gampang ini mah.

Sampai di halte Tegal Parang, gue keluar dari gate halte lalu menuruni tangga. Saking semangatnya mau beli buku murah, gue sampai berlari menuruni tangga. Bunyi hentakan begitu terdengar. Kalau ada orang di dekat gue radius 15 meter pasti menyangka, “Mau ada gempa, nih!”

Di anak tangga terakhir, gue melihat sesuatu yang nggak gue inginkan. 
Kosong. Nggak ada tulisan Gramedia. Nggak ada tenda pecel ayam tempat kami makan dulu. Resmilah gue nyasar.

Gue kembali lagi ke halte dan harus bayar lagi. Harusnya bisa sekali bayar bisa ke mana aja. Karena gue turun, jadi nggak berlaku lagi. Di halte gue melihat peta. Tertulis di sana “TEGALAN”.

Tuh, kan, bener ada Tegalan. Info yang kau berikan salah, Mama! Untung baru nyasar ke Tegal Parang. Gimana kalau nyasarnya beneran ke Tegal. Tapi nggak masalah, sih, kalau nyasarnya ke warung tegal.

Perjalanan panjang dimulai kembali. Harus transit-transitan lagi. Susah juga ya jadi anak Jakarta. Untung gue bisa membaca peta. Alhamdulillah. Beginilah nasib orang-orang yang nggak sempet nyari tau rute menuju suatu tempat.

Di dekat parkiran Gramedia Matraman ada sebuah tenda yang gue perkirakan di sanalah tempat buku-buku murah dijual. Buku-buku di sini rata-rata buku tahun 2015 ke bawah. Buku tahun 2015 salah satunya yang gue temui adalah buku-buku bank soal dan dihargai sepuluh ribu rupiah. Kalau dibandingin dengan yang baru, jelas ini murah. Bisa sepuluh kali lipat.

Sebagai anak yang baru kenal diskonan buku, gue jadi kalap. Ada buku bagus, ambil. Ada buku yang sampulnya ada tulisan “blog” diangkut. Ketemu pengendara motor yang masuk jalur busway bawaannya mau nyumpahin.

Akhirnya, semua buku-buku yang gue angkut kalah dengan buku-buku yang kebetulan gue pengin sejak lama. Buku yang berhasil gue bawa pulang, di antaranya:

- Riva the Explorer – Ferdiriva Hamzah

- Maling Kolor – Roy Saputra

- Doroymon – Roy Saputra

- Bocah Penjinak Angin – William Kamkwamba dan Bryan Mealer

- Super Sad True Love Story - Gary Shteyngart

Khusus dua buku terakhir yang gue sebut, gue beli karena “berjodoh”. Karena selama ini kebiasaan gue membeli buku adalah harus tahu penulisnya terlebih dahulu, barulah beli. Kali ini gue dengan kerennya tertarik setelah melihat kover, membaca blurb, dan membaca halaman pertamanya. Kata orang, sih, kayak gini kalau mau berjodoh sama buku yang dibeli tanpa tahu penulisnya terlebih dahulu.

Tapi karena murah, kalaupun jelek nggak kecewa-kecewa amat. Oh iya, dua buku terakhir itu jumlah halamannya lebih dari 200. Jadi, rasanya istimewa aja dapatin mereka dengan harga di bawah 50 ribu, di saat harga buku lagi mahal-mahalnya. Urusan jelek dikesampingkan sajalah.

Bus untuk perjalanan pulang cukup sepi sehingga gue dapat tempat duduk. Gue bisa dengan nyaman membaca soal yang tadi gue jawab sewaktu try out. Nggak lama. Setelah itu soal gue masukkan kembali karena udah enek. Mata gue tertuju keluar kaca.

Lagu dari Mayumi Itsuwa -“Kokoronotomo” sayup-sayup terdengar di dalam bus. Tumben-tumbenan di dalam bus Transjakarta ada musiknya, atau gue yang baru tahu. Lagu itu menjadi soundtrack malam ini sambil memandangi gedung-gedung bercahaya. Sambil terbayang-bayang kejadian hari ini.

Aku ingin berjalan bersamamu
Dalam hujan dan malam gelap

Teringat juga lirik lagu “Resah” milik Payung Teduh. Tadi siang cuacanya panas. Gue bisa berjalan bersamanya. "Dalam hujan dan malam gelap" gue ganti dengan "Dalam lapar dan siang terik".

Gue memeluk tas yang gue hadapkan ke depan. Memeluknya lalu timbul bunyi “krek” yang lumayan keras. Gue syok. Papan ujian kini benar-benar terbagi dua.

“Yah, patah,” kata gue dalam hati, mengulangi perkataannya.