thumbnail-cadangan
Pindah rumah pelan-pelan membawa gue menemukan kebahagiaan-kebahagiaan kecil (cenderung remeh). Salah satunya kulkas. Sebegitu remehnya gue bisa bahagia karena kulkas. Begini, karena dulu gue belum sempat punya kulkas sewaktu tinggal di mes. Setelah pindah ke kontrakan, barulah kulkas hadir dalam hidup gue.

Dulu, kalau gue mau minuman dingin harus nyebrang jalan raya, pergi ke warung, beli di sana. Sekarang gue dimudahkan dengan hadirnya kulkas. Tinggal buka kulkas, ambil botol, minum. Nggak perlu capek-capek nyebrang atau ketakutan ketabrak motor yang nggak nyalain lampu.

Sebelum punya kulkas, gue sering membayangkan enaknya orang-orang ngeluarin minuman dari kulkas. Di kulkasnya tersedia macam-macam minuman, yang cuma gue temui di minimarket. Punya sisa sayuran yang belum dimasak bisa disimpan di kulkas. Sampai mama gue pernah bilang, "Nanti kalau Robby punya duit beliin Mama kulkas ya. Biar bisa nyimpen sayuran." Sungguh, gue langsung punya cita-cita beliin kulkas saat itu juga.

Namun, pada akhirnya gue nggak sempat membelikannya karena keduluan bapak gue. Dua minggu pertama punya kulkas, gue bisa mewujudkan impian di masa lalu: bisa minum minuman dingin. Kulkas selalu terisi sari kacang hijau, minuman bersoda, dan lain-lain. Tetapi, semakin ke sini, gue berpikiran, "Kalo tiap minggu minum beginian terus, gue bangkrut dong?"

Untungnya ada kakak gue. Setiap weekend dia, dari Bekasi, mengunjungi kami di Jakarta, sekaligus menengoki anaknya yang diasuh sama mama gue. Dia sering membelikan gue makanan dan minuman. Diam-diam, gue menjulukinya "Bos Perbaikan Gizi". Kulkas selalu penuh dengan makanan yang dibelikannya buat gue dan orang tua.

Sewaktu ketika, dia mengeluarkan tiga botol minuman berwarna cokelat dari plastik Alfamart. Tulisannya Kurma Water. Gue pikir, ini pasti produk baru. Karena penasaran gue ambil satu botol. Kalau ada yang belum pernah coba, rasanya emang kayak kurma (Ya iyalah, namanya juga Kurma Water!). Enak, sih, bagi gue yang jarang minum beginian. Biasanya cuma minum teh manis.

(Ini bukan bagian endorse, ya.)

Seninnya, tiga botol minuman itu telah habis. Mama gue punya kebiasaan selalu mengumpulkan botol bekas minuman. Sewaktu pulang sekolah, gue membuka kulkas. Ada sebotol Kurma Water yang berada di freezer, dan botol serupa di dalamnya. Perasaan kemarin ini udah habis deh. Warnanya persis dengan Kurma Water. Gue minum dari sana, rasanya familiar.

Manis, tapi kayak yang biasa gue minum setiap pagi.


Setelah gue selesai minum, Mama ngomong ke gue. "Tadi Mama isiin teh manis di situ. Enak, kan?" Oke, inilah strategi mama gue yang cukup brilian. Nggak ada yang salah di sini. Gue pun senang-senang aja. Pas banget pulang sekolah minum yang dingin-dingin.

Hal serupa pernah terjadi ketika gue membuka botol Minute Maid rasa jeruk. Gue tertipu pada penampilannya setelah gue minum, tetap rasa jeruk. Tapi nggak ada bulir-bulir yang jatuh ke tenggorokan. "Itu Mama isi Nutrisari."

Jangan tertipu pada penampilan, guys.

Ngomong-ngomong soal isi ulang, gue kira cuma gue doang yang suka ngisi es batu pake air mineral. Waktu zaman-zamannya hobi main bola, gue selalu beli es teh atau apa pun, dengan es batu berlebih. Nanti setelahnya, gue tinggal minta sana-sini. Mau dia minum es teh, es kelapa, atau air mineral biasa, tetap gue tampung.

Gue pernah melihat sepasang kekasih melakukan hal yang sama di dalam bioskop. Minuman mereka telah habis, hanya menyisakan es batunya saja. Si cewek mengeluarkan botol minum dari tasnya. "Ngapain deh?" tanya cowoknya. "Diisi lagi," jawab si cewek, lalu menuang air ke gelas. Cowoknya melongo, dan akhirnya ikut minum juga.

Gue salah menduga terhadap cewek. Abisnya gue nggak pernah ngeliat cewek yang nuang air ke es batu. Buat cowok yang punya pacar kayak gini; pertahankan. Biaya pacaran jadi lebih murah. Cukup sediakan es batu dan air minum segalon, niscaya kalian kembung berdua!
Read More »

thumbnail-cadangan
“Rumah adalah tempat ternyamanmu untuk beristirahat.” Setidaknya kalimat itu jadi bermakna banget bagi gue beberapa hari terakhir. Rumah jadi tempat paling nyaman buat tidur, walaupun pada kenyataannya gue bisa tidur di mana aja, asalkan nggak di atas air. Kena angin di angkot aja bisa bikin gue tidur.

Pernah sekali, gue sampai rumah dalam kondisi benar-benar capek. Pukul 8 malam gue sampai rumah, menaruh tas, melepas sepatu dan kaos kaki, dan tepar di kasur... lalu tidur. Seragam belum dilepas. Diajak ngobrol orang tua nggak gue tanggepin. Baru kali ini ngerasain tidur senikmat-nikmatnya orang tidur. Bangun-bangun pukul 12 malam... kelaperan.

Hal itu pun terjadi beberapa hari kemudian. Rasanya enak, damai, lupa ada PR numpuk. Mungkin karena itulah yang bikin gue mimpi buruk. Gue pernah dengar, semakin stres seseorang di kehidupan nyata, biasanya mimpi buruk sering terjadi. Nah, mimpi gue sebenernya nggak buruk-buruk amat. Cuma, kok ngeri ya, dikejar-kejar bapak sendiri sambil bawa senjata tajam? Mimpi gue bener-bener ngeri. Setau gue, Bapak adalah lelaki terbaik di dunia. Dia rela nungguin handphone atau laptop gue full charge sebelum dia tidur. Meskipun kerjaannya cuma mainan Fruit Ninja di tablet tiap malam.

Pokoknya, makin sibuk kegiatan, makin enak tidurnya.

Saking enaknya, gue kesiangan.

Kesibukan malam sebelumnya adalah gue ngeliatin barang-barang di online shop. Sama kayak mereka yang suka keliling-keliling mal sambil masukin tangan ke kantong jaket, ujung-ujungnya nggak beli. Cuma mupeng ngeliatinnya. Sebenernya, ini sumber motivasi juga, sih. Paling nggak, ada terlitas di pikiran, “Kalo gue mau beli barang itu harus punya duit.”

Paginya, seperti biasa, gue bangun pukul setengah 6. Berangkat sekolah naik angkot, kena macet. Sialan. Turun dari angkot gue langsung lari. Di depan gerbang sekolah ada satpam nyuruh lebih cepat masuk, tapi gerbang sekolah udah ditutup. Gue masuk lewat pintu kecil di sebelahnya. Udah ada Reni Sensei, guru kesiswaan, di sana.

“Enam tiga tiga,” ucap Reni Sensei singkat. Matanya fokus melihat handphone. Tangan yang satunya menunjuk ke pos satpam. Di sana ada selembar kertas, dan dua orang ngantre di belakangnya. Hebat juga dia. Bisa tau ada anak didiknya telat padahal lagi ngeliatin handphone.

Beruntung gue telat lewat tiga menit. Setidaknya bisa dipamerin ke temen-temen. “Nih, gue dateng ke sekolah pukul 6.33. Walaupun telat gue masih megang unsur sekolah kita!” Sekolah gue adalah SMA Negeri 33.

Gue menulis nama di kertas tadi. Dengan ini, gue resmi kena poin 5. Poin perdana gue sekolah di sini.

Gue langsung bilang kejadian tadi pagi ke Mama. “Ma, tadi telat.”
“Kok bisa? Lagian, sih, bangunnya kesiangan. Besok-besok berangkatnya setengah enam aja.”

Jam segitu, yang ada malah gue nggak ada kerjaan. Kalo udah begitu, repot urusannya. Pasti gue nyari-nyari sapu atau kain pel.

“Nggak ah. Itu tadi kena macet aja makanya telat. Biasanya juga berangkat jam segitu nggak pernah telat, kok.” Gue berusaha membela diri. Padahal gue juga salah karena bangun kesiangan.
“Terus gimana, tuh?” tanya Mama.
“Kena poin,” jawab gue enteng.
“Beneran?!” Mama gue langsung panik. “Jangan sering-sering lah, udah kelas tiga juga.”

Mama ngelanjutin nasehatnya. Gue udah cukup males dinasehatin soal datang tepat waktu. Hmm, mungkin pengaruh kelas tiga memang seperti ini. Bawaannya mau ngebantah terus. Sampai-sampai nggak mau dengerin nasehat orang tua. Kalo gubernur nyuruh bayar pajak, mungkin gue akan membantah. “Kagak mao! Siapa lu nyuruh-nyuruh gue? Gue agit gitu, lho!”

Astaghfirullah.

Gue berusaha mencari-cari bahan pengalih. Gue mengusap dagu.... Aha! Inilah jawaban dari kegundahan gue.

“Ma,” gue memajukan muka ke wajah Mama, tangan kanan memilin sehelai rambut di dagu, “jenggot udah panjang belom?”
“Udah panjang lah.”
Padahal jenggot gue tumbuhnya jarang-jarang. Malah, lebih tepat disebut sebagai rambut-yang-nggak-sengaja-nempel-di-dagu. “Dipelihara aja, ya?”
“Cukur dong! Nanti kena poin!”

Mama mulai panik.
Read More »

Sejak nulis post tentang putusnya Awkarin dengan Gaga di blog, gue mulai sering dihubung-hubungkan dengan Awkarin. Mulai dari dibilang gue penerus Gaga, sampai Awkarin nasibnya sial banget pernah disandingkan fotonya dengan Robby Haryanto, si lelaki-tatapan-kosong-tiap-jam-istirahat.
Suatu hari, di sekolah, pernah ada promosi dari Binus, gue diledekin temen-temen, yang tentunya pernah baca blog gue. "Tuh, Rob. Kuliah di Binus aja, nanti ketemu Awkarin." Dalam hati, itu sebuah motivasi kuliah yang bodoh. Kalau ternyata Awkarin jadi pengasuh di panti jompo, mungkin gue disuruh cepet-cepet jadi tua.




Di kelas yang nggak ada guru ini, gue duduk di barisan terdepan, di dekat pintu dan nyender tembok. Posisi favorit setiap orang. Gue melihat dua barisan paling depan, cuma gue cowok sendiri. Biar nggak terlalu bosen, gue buka buku Kimia. Sebentar lagi, kalau ada yang ngeliat gue buka buku, gue dicap pencitraan belajar.

Belum lama gue membuka buku, ada suara cempreng terdengar. "Awkarin dapet duit berapa, sih, dari YouTube?!" Sebelumnya dari belakang memang sempat terdengar lagu BAD dari Young Lex featuring Awkarin.
Gue menahan diri agar nggak nyebur ke dalam obrolan. Biar nggak dihubung-hubungkan, gue memilih diam... sambil menguping. Kemudian pembahasan semakin dalam. Fokus gue udah nggak ke buku, melainkan ke obrolan mereka. Begitu tersebut nominal uang yang cukup besar, satu orang di antara mereka nyamber, "IH, ENAK BANGET JADI AWKARIN! JADI YUTUBER YUK YUK!"


Namanya cita-cita emang nggak ada yang tau. Bisa berubah kapan pun. Tiba-tiba pengin jadi yutuber.

Si cewek tadi menambahkan, "Bikin aja, vlog-vlog gitu."

Gue tetep nguping. Gatel, pengin nyeletuk, tapi gue bukan tipe orang yang asik dalam nyeletuk. Akhirnya gue cuma memendam pendapat dalam hati: "Masa lu tega nyuruh nontonin kegiatan sehari-hari lu yang, maaf, ngebosenin? Terus lu ngomong di depan kamera, 'Hai, gaes. Hari ini gue lagi kerja kelompok, nih. Nah, ini temen gue, Jessica si anak kapoeira,' kemudian Jessica dadah-dadah. 'Harusnya dikumpulin tadi, sih. Berhubung guru gue ngasih keringanan, akhirnya boleh deh dikumpulin besok. Nggak papa deh telat ngumpulin, asal nggak tattoan, apalagi narkoba'."

Mungkin ide dia bikin vlog akan laku... kalau bikin tutorial pembelajaran. Asal jangan ngikutin zaman sekarang aja: mereka yang laku adalah mereka yang minim bahan baju, mereka yang dapat uang adalah mereka yang berani telanjang.

Dikit-dikit pamer belahan.

Belahan jiwa maksudnya.
Read More »

Di saat teman-teman kelas 12 lainnya sedang memusingkan jurusan kuliah apa yang diambil nanti, gue malah sempat-sempatnya mikirin "kenapa kita harus belajar mata pelajaran sebanyak ini?". Beginilah buah dari nggak punya kerjaan. Ralat. Maksudnya, bingung mau ngapain. Mau latihan soal, baru baca soalnya langsung nggak betah, dan berakhir dengan ngabisin kerupuk setengah kaleng.

Mampus, kena panas dalam deh.

Oke, kembali ke permasalahan. Seorang guru pernah berkata di kelas, "Kasihan juga kalo anak harus menghadapi 14 pelajaran. Kadang ngerjain tugas sampai tidur larut malam." Hmmm, andai semua guru punya pemikiran begini. Yang jadi masalah adalah tugas yang dikasih. Okelah kalau fungsi tugas biar siswa belajar. Tentunya, semua guru mau siswanya belajar, makanya ngasih tugas. Lalu, apa yang kita keluhkan? YAK. Tugasnya ribet.

Sejak SD gue cuma tau tugas itu dalam bentuk mengerjakan soal. Berkembang menjadi membuat rangkuman. Sampai di SMA... bikin video. Emang seru, sih. Tapi tetep ribet segala macam: ribet ngatur waktu, ribet ngumpulin anggota, ribet buatnya.

Di antara banyaknya pelajaran, gue membagi dua kubu, yaitu 1) pelajaran yang di-UN-kan dan 2) pelajaran yang tidak di-UN-kan. Kemudian, gimana nasibnya pelajaran yang tidak di-UN-kan? Sama kayak tugas, sifatnya disepelekan sampai-sampai harus terpaksa diikuti.

Kalau mau main banding-bandingan, nggak terlalu banyak masalah dengan tugas-tugas pelajaran yang di-UN-kan. Gue yang berada di jurusan MIPA, paling-paling bertemu tugas mengerjakan soal, dan nggak jauh-jauh dari menghitung. Ini jauh lebih ringan dibanding tugas mata pelajaran yang tidak di-UN-kan.

(Bukannya gue jago soal pelajaran eksak dan menganggapnya ringan. Tetep aja, yang namanya Integral, Gaya Gerak Listrik, dan Vektor bikin kepala panas.)

Ambil contoh, tugas Seni Musik. Di semester ini, ada pengambilan nilai dengan memainkan alat musik sambil membawakan lagu. Alat musiknya keyboard (bukan keyboard laptop atau komputer). Setiap kali pelajaran itu ada, gue nggak pernah berharap gurunya masuk. Padahal, gue cukup senang dengan gurunya. Dia baik banget. Salah satu kriteria guru yang gue anggap baik banget adalah dia kenal gue, baik nama maupun wajah. Saat kelas 10, setelah selesai pengambilan nilai pergelaran seni, gue dipanggilnya. "Kamu yang tadi stand up, kan?" tanyanya. Gue langsung salah tingkah. Ah, aku memang menyukaimu, tetapi saat tugas main keyboard hadir entah kenapa aku harus menjauhimu~

Maksudnya menyukai cara ngajarnya.

Terus, tugas ini belum selesai juga. Sampai ketika gue beli bakso, kepikiran akan hal ini: "Kalo gue udah bisa main keyboard, bakal kepake nggak ya sampai tua?" Mungkin bakal ingat, tapi, kan, kalau nggak rutin main sama aja bohong. Soalnya gue nggak punya keyboard. Gue pengin mempelajari apa yang bakal kepake terus sampai gue tua. Kalau bisa, ilmunya dibagi-bagi.

Padahal, bisa aja tugas ini tetap ada, hanya dibedakan alat musiknya. Yang gue harapkan adalah gitar. Kan, keren tuh, seandainya gue bisa main gitar apalagi sambil bawain satu lagu, minimal gue bisa nembak cewek sambil nyanyi. Eh, tapi jangan kepikiran kalau gue bakal nembak guru gue sendiri.
Atau, paling nggak gue bisa keliling ke warteg-warteg, lalu menadahkan plastik bekas permen. Ini namanya tugas sekolah berbuah penghasilan.

Tapi, yang namanya keajaiban nggak ada yang tau. Dulu gue belajar marawis, nggak pernah kepikiran bakal kepake lagi atau nggak. Kemarin pas praktik pernikahan di sekolah, gue main marawis. Nah, lho, nggak terduga, kan?


Abang baju biru mukanya nggak santai. Pukul terus, mang~

Mengenai perselisihan dua kubu, pelajaran yang di-UN-kan versus pelajaran yang tidak di-UN-kan, gue bersikap sangat nggak adil dalam memperlakukan salah satu di antaranya. Bisa dibilang berat sebelah. Ibarat poligami, gue udah menelantarkan istri muda (yang gue anggap sebagai pelajaran yang tidak di-UN-kan). Kenapa gue lebih milih istri tua (jangan dulu menganggap gue udah poligami dari muda), ya... karena lebih menjanjikan. Lebih teruji. Lebih sesuai dengan minat. Seperti yang disebutkan di atas: tugasnya nggak terlalu ribet.

Berdasarkan pengalaman, udah terbukti kalau gue nggak adil. Kira-kira saat semester 6 di SMP (kelas 9 semester 2) gue sama sekali nggak menyentuh buku pelajaran yang tidak di-UN-kan. Nggak ada tuh namanya ngapalin kejadian-kejadian penting di sejarah. Buku paket IPS sama sekali nggak tersentuh. Karena tekad gue bulat mau masuk jurusan MIPA. Kerjaan gue cuma ngerjain soal-soal IPA dan Matematika. Hasilnya? Gue nggak dapat peringkat 10 besar. Sedih, sih, itu kali pertama (atau kedua) selama 9 tahun sekolah.

Yah, untuk ke depannya, gue cuma bisa belajar dari pengalaman SMP. Gue pengin masuk Pendidikan Kimia, tentunya nggak harus melulu buka buku Kimia, nguji sampel makanan, atau ngitung derajat keasaman (pH) kuah bakso. Kembali lagi, belajar pelajaran yang lain juga penting.

Terus gue kepikiran, apakah nanti pelajaran yang tidak di-UN-kan satu per satu menghilang dari rancangan kurikulum? Bukti nyatanya udah jelas dari menghilangnya pelajaran Teknonolgi Informasi dan Komunikasi (TIK). Gue belajar itu cuma di SMP. Setelah masuk SMA pelajaran itu dihapus berbarengan dengan pergantian kurikulum menjadi Kurikulum 2013. Alasannya, dengar-dengar, karena anak zaman sekarang udah lebih tau tentang teknologi sebelum diajarin di sekolah. Ya iyalah, dulu pas kelas 7, gue masih ingat, ada pelajaran tentang menggunakan Microsoft Word. Temen-temen gue yang basic-nya anak warnet udah ngerti duluan. Gue, yang ngakunya juga anak warnet, nggak tau apa-apa. Wong ke warnet mainan Point Blank.

Tentunya kasihan guru-guru TIK. Karena pelajarannya dihapus, mereka jadi ngajar pelajaran lain, yang bukan kuasanya. Contohnya, di sekolah gue guru TIK jadi guru Prakarya. Pas belajar, tetap aja nyerempet ke teknologi. Ngomongin aplikasi pembuat soal, bikin resep di blog, dan... ngomongin blog robbyharyanto.com. Buahaha. Ini beneran.

Lalu, kembali ke pertanyaan awal: Kenapa kita harus belajar mata pelajaran sebanyak ini? Mungkin jawaban gue saat ini adalah biar nggak sombong dan anggap remeh segala yang ada. Atau, kalau mau ngarep satu-satu pelajaran yang tidak di-UN-kan dihapus, emang nggak kasihan sama guru terkait? Masa harus ngajar Prakarya, terus ngomongin blog robbyharyanto.com?
Read More »

Tidak seperti Kamis biasanya, saat ini saya masih berada di sekolah pada sore hari. Karena ada tugas membuat video Biologi--bukan, ini bukan membuat tutorial reproduksi, saya masih berada di sekolah, sekaligus menunggu waktunya bimbel pukul 17.00 nanti.

Seusai solat Asar langit mulai gelap. Aneh, saya malah terkagum-kagum dengan pemandangan di sekolah saat ini. Pemandangan yang sudah lama tidak saya lihat sejak pindah ke kontrakan. Di kontrakan, ketika hujan, saya belum sempat memandangi mendung secara langsung dari depan rumah.

Dengan kamera seadanya
SMA Negeri 33 Jakarta - sore hari.
Di lapangan sudah ramai orang-orang bermain bola voli dan basket. Saya berdiri di belakang, membelah kedua lapangan. Di kiri saya sedang bermain anak lelaki berbaju batik. Mereka bermain setengah lapangan basket, setengah lapangan yang lain digunakan untuk pemanasan anggota ekstrakurikuler basket. Shooting, passing, blocking saya lihat semua saat ini. Tanpa ada rasa lelah tampak pada wajah mereka. Tiupan angin sore membuat mereka semangat bermain. 

Di setengah lapangan lainnya, ada beberapa anak yang cukup menyegarkan pemandangan. Wanita yang mengikuti kegiatan basket punya daya tarik tersendiri: mereka tinggi. Yang berkulit putih, pasti mereka akan terlihat sebagai wanita keturunan Eropa atau Asia Timur. Entah mereka hebat dalam bermain atau tidak, itu urusan belakangan. Mereka wanita-wanita yang hebat karena berolahraga.

Saya kagum dengan mereka yang berada di lapangan.

Sedangkan, di lapangan sebelah, persaingan sengit sedang terjadi. Walaupun bukan pertandingan resmi bola voli, jual-beli pukulan smash sering terjadi. Angin yang berhembus kencang tidak mampu mengalahkan rasa hangat yang--entah kenapa--muncul di bawah kulit. Ada kobaran semangat baru setelah menonton permainan bola voli.

Saya kembali ke kelompok Biologi. Alat peraga telah selesai dibuat. Tak lama kemudian, hujan turun. Kami sekelompok masuk ke dalam ruang kelas. Beberapa orang masih sibuk berdiskusi untuk melanjutkan pekerjaan atau menundanya. Di sudut lain, saya asyik sendiri duduk di atas meja mengetik tulisan ini di handphone, diiringi rintik hujan di luar.

Sampai saya mengetik paragraf di atas, saya bingung ingin melanjutkan menulis apa. Saya melirik ke kiri dan kanan, semua orang sibuk. Tepat di depan saya, seorang wanita sedang ceria memakan kue berwarna hijau. Seorang lelaki menghampiri wanita itu untuk memintanya. Bila saya tidak sedang mengetik atau sedang melamun, mungkin saya akan mengeluarkan dugaan-dugaan negatif.

Tanpa sadar, di depan saya ada seorang wanita sedang menghias karton. Dia teman sekelompok saya dan sedang mengerjakan bagian-bagian alat peraga yang belum selesai. Saya merasa tidak enak dengannya karena masih asyik-asyikan mengetik tulisan ini, tanpa menawarkan bantuan. Dari belakangnya, saya sibuk memperhatikannya. Kemudian pandangan pindah ke sisi kiri wajahnya, dia masih sibuk menorehkan spidol di atas karton. Wanita memang selalu tampak anggun ketika mengerjakan sesuatu, bahkan ketika mereka mencuci pakaian. Beda ketika mereka menempelkan kepala di meja, ditutupi jaket, sambil di telinganya menggantung headset.

Maaf, kemampuan saya dalam melukis sangatlah buruk. Mungkin, ini cara saya menggambarkan keadaan sekitar. Duduk, mengetik, melihat sekeliling, mengetik lagi, memperhatikan seseorang, mengetik lagi... hingga tulisan ini berakhir, ada debar yang tidak biasa.
Read More »

Untuk urusan patah hati, gue cukup sering mengalaminya. Dalam setahun minimal ada satu cewek yang sukses membuat gue patah hati. Bahkan dimulai pada umur yang terlalu muda: kelas 8 SMP. Itu menjadi patah hati gue yang kedua. Ya, saking membekasnya, gue selalu mencatat setiap orang yang berhasil membuat hati gue patah karena cinta.

Memang, umur segitu seharusnya kehidupan gue dipenuhi dengan hal yang menyenangkan. Kegiatan yang sewajarnya dilakukan oleh anak-anak SMP pada umumnya: berkeringat karena taruhan main bola, bukan air mata karena bertaruh pada permainan cinta.

Namanya Sari, cewek kelas sebelah. Dia tidak terlalu cantik, tetapi suaranya lembut menggemaskan. Kalau memanggil nama gue, senyumnya nggak pernah ketinggalan. Dia selalu berjilbab ke sekolah. Tingginya sedikit melebihi gue. Kadang gue suka minder kalau berdiri di sebelah dia.

Awal kedekatan kami cukup sederhana. Dia mengajak gue berkenalan sewaktu kelas 7. "Hei, nama kamu siapa?" tanya dia dengan ramah.
"Robby."
"Aku Sari." Dia mengulurkan tangan kemudian gue sambut dengan raih tangannya. Halus, kayak tepung terigu. Gue udah menduga dari awal dia adalah anak yang menyenangkan dan ramah.

Kedekatan mulai terjadi saat kelas 8. Awalnya karena curhat-curhatan lewat SMS, lalu jadi cukup sering sms-an. Bahkan kalau tiga hari nggak sms-an, salah satu di antara kita saling menyindir. "Sekarang sombong, nih, nggak pernah sms-an lagi," sindir Sari di suatu siang setelah pulang sekolah.
"Hehehe iya, lagi nggak ada pulsa soalnya." Alasan yang terlalu jujur. Kemudian muncul pemikiran, "Aduh, gimana kalo nanti dia malah beliin gue pulsa karena ngomong begitu? Ah, mati deh gue dicap matre."

Sms-an rutin dimulai seminggu kemudian. Sari nggak beliin gue pulsa. Untung dia nggak kepikiran buat beliin gue pulsa. Padahal kalo dibeliin gue terima-terima aja.

Satu hal yang gue senangi dari Sari adalah dia usil. Contohnya, sewaktu gue fokus menonton futsal di lapangan, dari belakang mata gue ditutup kemudian dibius. Begitu gue menoleh ke belakang, ternyata itu tangannya Sari. Ingin rasanya gue balas menutup matanya, tapi takut salah nutup, yang ada malah dia tutup usia.

Sampai pada posisi ketika Sari benar-benar dekat dengan gue. Dulu, gue nggak betah bila berada dekat cewek. Namun, rasanya beda ketika Sari ada di dekat gue. Dia pernah menemani gue latihan drama. Anehnya, gue nggak merasa risih. Gue senang-senang aja, bahkan semangat saat Sari melihat gue latihan.

Kedekatan dengan Sari memang cukup membuat kebiasaan gue berubah. Di kalangan keluarga dan teman-teman, gue terkenal sebagai anak yang nggak pernah berani ngomong di telepon. Jangankan orang asing, telepon dari orang tua aja sering gue cuekin. Di rumah, setiap kali bapak gue nelepon, gue cuma mencet tombol hijau, memberikannya ke Mama, lalu lari. Selama proses mendekati Sari gue jadi berani ngomong di telepon. Ini sebuah keajaiban dari pedekate.

Dan ternyata, gue jadi norak setelah teleponan. Seperti kebanyakan anak baru puber, mereka teleponan sama orang yang dia suka dengan menutupi kepalanya dengan bantal agar suaranya nggak terdengar dari luar. Selain itu, seringkali timbul sebuah percakapan yang dibuat-buat:

Sari: Robby, kamu lagi apa?
Gue: (mikir) Mmmm... lagi... kita, kan, lagi teleponan.
Sari: Ih, aku tau kalo itu. Maksudnya, lagi ngapain selain teleponan.
Gue: (sadar kalo lagi nggak ngapa-ngapain) Mmmm... (mengambil satu buku LKS) oh, iya. Aku lagi ngerjain soal TIK, nih. Iseng-iseng aja.

Semakin lama semakin dekat, hasrat untuk memilikinya semakin meningkat. Yang ada di pikiran gue: harus segera ungkapin semuanya. Bagi gue, yang nggak ngerti soal cinta saat itu, modal menjadi penunjang kemajuan pedekate. Tapi, apa yang cocok diberikan saat pedekate? Gue berusaha mencari jawaban sendiri.
Kalau gue beliin bensin, nggak ada romantis-romantisnya. Kasih hadiah boneka, gue nyadar jajan sehari-hari aja nggak pernah cukup. Hmmm, pulsa. Aha! Nggak terlalu mahal. Siapa pun nggak ada yang menolak benda tak berwujud itu. Gue belikan Sari pulsa lima ribu tanpa menyebut gue sebagai pemberi.

Kedekatan gue dan Sari cukup diketahui Beno. Gue sering cerita secara sukarela tentang kedekatan gue dengan Sari. Bisa dibilang Beno adalah konsultan cinta gue. Alasan gue memilih Beno sebagai teman cerita karena gue yakin dia nggak akan nikung.

Selain Beno, ada teman lain yang lebih pengalaman soal pacaran. Namanya Herman. Demi kelancaran bisa berpacaran dengan Sari, gue sering berkonsultasi dengannya.
"Lu harus tembak dia," ucapnya mantap. "Biar gak direbut orang."
"Oke. Nanti malam gue coba."

Malam hari, gue grogi. Rencana yang udah gue susun buyar. Padahal apa susahnya ngetik "aku suka kamu". Besoknya, gue ketemu dengan Beno.
"Lu suka sama Sari? Beneran nggak?" tanya Beno penasaran.
"Iya," gue mengangguk penuh keyakinan.
"Tapi lu kelihatan nggak serius, sih."
Gue diam. Mencerna kalimat yang diucap Beno.
"Nih, begini," lalu dia menjelaskan, "lu cemburu nggak liat gue bareng Sari deketan?" tanya Beno. Gue nggak ngerti apa yang ditanyakan Beno. Setau gue cemburu adalah sesuatu yang buruk. Agar tetap dianggap anak baik, gue menggeleng. "Emang kenapa begitu?"
"Nah, berarti lu gak serius."
"Gue serius kok!" kata gue ngotot
"Makanya lu harus tembak dia."

Beberapa hari kemudian, gue memberi kode untuk mengungkapkan semuanya. Pada zamannya, metode sms "Jika hari ini Hari Permen..." sangat berfungsi dan cukup memberi kemudahan. Jadi, di dalam pesan itu, setiap orang yang menerima akan diberi pilihan mau memilih permen apa. Setiap nama permen memiliki arti tersendiri. Misalnya:


Sebagai anak muda yang nggak ingin ketinggalan zaman, gue mengirim sms itu ke Sari.

Sent.


Bila Sari memilih sebuah permen, minimal gue tau apa yang dirasakan dan diharapkan Sari sekarang.

Sms balasan masuk. Pas gue buka, isi pesan tersebut adalah pesan yang gue kirim sebelumnya. "Robby dulu dong yang kasih aku permen," kata Sari di pesan kedua.

Daripada nunggu dia yang ngaku, lebih baik gue yang memulai. "Robby pilih Kiss."
"Hah? Serius? Robby nembak aku?"
"Hehehe iya."
"Tapi, aku maunya Yuppii."
Gue melihat daftar permen yang tadi. Kenyataannya, dia milih untuk TTM-an. Begitu ditanya apa alasannya, lebih nyaman temenan aja. Teman Tapi Mesra. Apa bedanya sama temenan biasa? Hanya ada tambahan mesra jadi keliatan keren.

Dua hari kemudian gue cerita ke Herman. "Gagal. Dia cuma mau TTM-an."
"Lu nembaknya gimana emang?" tanya Herman.
"Gue ngirim sms itu." Gue menyebutkan SMS "Jika hari ini Hari Permen...".
"Jangan! Lu langsung bilang aja. Jangan ada maksud lain, dan intinya jujur."

Saran Herman ibarat jurus pamungkas. Berbekal jurus itu, gue berhasil mengumpulkan keberanian sebanyak-banyaknya. Dua hari kemudian, di sore hari, gue sms Sari.
"Hi."
"Ini siapa ya?"
"Masak nggak kenal. Ini Robby."
"Oh."

Nggak biasanya Sari membalas pesan seperti ini.

"Ini Sari, kan?" tanya gue memastikan.
"Bukan, ini Pandi."

Pandi? Siapa dia? Ah, jangan-jangan dia kakaknya. Gue nggak boleh kalah sama ketakutan ini.

"Siapa lu?" tanya gue lagi. Andai Pandi adalah kakaknya, gue pasti benar-benar habis karena dianggap nggak sopan.
"Pacarnya Sari. Kemarin gue nembak dia."
"Ah, serius? Beneran nggak lu?"
"Beneran. Tanya aja Sari."

Gue menghentikan sms-an ini. Gue berbaring sambil meletakkan handphone di sebelah kiri kepala. Mata menatap kosong langit-langit rumah. Pelan-pelan, air mata menetes di pipi. Sial, air mata patah hati.

Besoknya, Enda, teman gue yang lain bilang, Sari memang sudah punya pacar. "Tau nggak, Rob, sebenernya Sari nolak lu karena dia cuma mau nerima orang yang punya motor. Biar bisa pergi ke mana-mana."
Gue menyadari, saat itu, bahkan sampai sekarang gue belum bisa mengendarai motor. Gue ke sekolah hanya bermodalkan sepeda. Kalau memang begitu alasannya, pantas gue nggak diterima. Atau, mungkin sejak awal gue telah ditolak dengan alasan TTM-an lebih baik.

Hari Sabtu, gue seperti biasanya ada kegiatan ekskul. Gue melihat Sari bersama lelaki berada di atas motor. Gue kenal cowok itu, dia bukan pacarnya. Dia melihat gue cukup lama, gue membuang pandangan.

---

Tulisan ini diikutsertakan dalam Romeo Gadungan Giveaway. #KuisRomeo

Read More »

thumbnail-cadangan
Dalam seminggu terakhir bulan Agustus sampai tanggal 2 September, setidaknya ada 3 hal yang bagi gue cukup berwarna. Ini bukan tentang sidang kopi sianida yang nggak ada habisnya, virus zika, atau masalah lainnya. Seperti biasa, ini berdasarkan kejadian sehari-hari. Di antaranya:

1.
Sudah jadi kebiasaan gue bila sudah berseragam olahraga akan mengalami perubahan perilaku. Beberapa orang nggak sadar, tapi gue sepenuhnya sadar: gue pecicilan waktu pelajaran olahraga.
Dulu, waktu kelas 10, gue pernah salah jatuh waktu main voli. Bukan karena selesai men-smash atau terkilir, melainkan karena salto. Ceritanya pernah gue tulis di sini.  

Kelas 12 kembali berulah di pelajaran bola voli. Dan gue yakin, ini karena pengaruh angka 30.

Kejadiannya tanggal 30 Agustus. Sudah jadi kebiasaan Pak Tri, guru olahraga gue, menyuruh anak yang bernomor urut sama seperti tanggal hari itu untuk memimpin pemanasan. Nomor urut gue di kelas adalah 30 dan hari itu tanggal 30. Jadilah gue sebagai pemimpin pemanasan.

Gue bingung harus apa.

Singkat kata, gue nggak terlalu berhasil. "Apa motivasi lu melakukan gerakan itu?" tanya teman gue mengkritik gerakan gue yang ngasal. Sejujurnya, gue pernah melihat gerakan itu, entah di mana. Namun, gue belum pernah melihat gerakan itu dilakukan di sekolah. Mungkin mereka belum familiar. Menanggapi pertanyaannya, gue jawab, "Itu tadi senam Kolombia."

Hari itu kami belajar tentang smash. Setelah semua orang mendapat gilirannya, dilakukan permainan yang dimainkan 6 orang dalam satu kelompok. Cara bermainnya, kelompok itu diharuskan mengembalikan bola yang di-passing Pak Tri dari seberang net sendirian. Sebelum mengembalikan, minimal harus ada tiga sentuhan. Pada akhirnya, semua kelompok merasa dibuat cemen oleh Pak Tri--yang cuma sendirian di seberang net.

Kami, yang telah selesai main langsung mengambil bola, bermain bareng tanpa Pak Tri. Tiba-tiba permainan ini diketahui banyak orang. Yang tadinya isinya cuma cowok, datang beberapa cewek ikutan main. Ketika ada bola melambung, gue memukul bola dengan telapak tangan. Gue baru saja mengamalkan pelajaran hari ini, yaitu men-smash. Namun, bola malah melambung tinggi, kemudian... buuuuuuuum. Bola mengenai kepala Pak Tri.

Teman-teman ketawa seolah memojokkan gue, sedangkan gue panik nggak karuan. Takut ditonjok pake bola voli, gue langsung lari, sembunyi di balik pohon.

Setelah kepanikan reda, gue meminta maaf... dari jauh. Minta maaf yang asal-asalan. Cuma bilang, "Maaf ya, Pak. Tadi saya cuma bercanda." Sungguh anak yang tidak beradab. Kemudian, latihan lagi. Bola di-passing teman-teman. Setiap orang bisa memantulkan bola ke arah teman lainnya. Begitu gue memukul kembali, bola mengenai muka Nadien. Dia langsung nutupin mukanya. "Aduuh, alamat bakalan nangis ini mah." Gue panik lagi.

"Robby mainnya anarkis ya. Udah dua orang kena bola. Satu lagi dapet gelas, nih," kata Nadien.

Nggak lama setelah Nadien bilang begitu, gue menendang bola dengan kaki kiri, lalu mengenai Mufi. Astaga! Kena lagi. Gue guling-guling nggak karuan. Heran, apa yang terjadi dengan tangan dan kaki gue sampai bisa mengenai bola ke tiga orang?

Ternyata disuruh mimpin pemanasan, secara tidak sadar, membuat kaki dan tangan jadi sensi. Maunya gebok orang terus.


2.
Kadang over pede bisa berakhir buruk. Gue cukup percaya diri dapat mengerti materi ulangan Fisika. Sehingga, begitu berhadapan dengan 5 soal uraian... mampus! Apaan, nih?! Semua rumus yang pernah gue terima tiba-tiba hilang. Muncul pertanyaan sederhana: Ini soal enaknya diapain?

Akhirnya dengan memanfaatkan sisa-sisa ingatan rumus gue ngisi soal dengan terpaksa. Untungnya ini soal uraian, yang bisa diisi seenaknya. Namun, ada sisi kelemahan ketika mengerjakan soal uraian atau essay tipe eksak, yaitu nggak bisa diisi bebas dengan opini sotoy. Kalau PPKN atau Sejarah masih enak. Kalau Fisika, Kimia, atau Matematika, nggak akan bisa dijawab pake jawaban "Apa gunanya ilmuwan bila tidak mau menghitung soal-soal ini? Coba Bapak berikan soal ini ke mereka".
Selesai ulangan, Rohim berbisik ke gue, "Gue nggak yakin dapat nilai di ulangan ini. Kayaknya nol deh."
Gue mencerna kalimat Rohim. "Iya, gue juga."
 
Seminggu kemudian, lembar jawaban dikoreksi. Gue nggak mengharapkan sesuatu yang bagus. Gue cuma pengin guru gue nggak keabisan kesabaran pas liat nilai anaknya yang menakjubkan. Sangat-sangat hopeless.

Lembar jawaban yang telah dinilai diberikan. Nggak butuh waktu lama buat nama gue dipanggil. Melihat kertas jawaban, di kiri atasnya tertulis nilai bertinta merah.

Nilai gue pas KKM.

Tapi dibagi 5.

KKM Fisika adalah 75.

75 dibagi 5 = 15.

Nilai ulangan Fisika < umur.

MALU WOY!

Pasti nilainya karena hasil upah nulis. Untung sempat nulis jawaban (meskipun jawabannya ngaco). Untuk pihak terkait: Mama, Bapak, Pak Guru, Einstein, Lorentz, Awkarin maafkan saya.

3.
Salah satu keinginan gue di umur 17 tahun adalah pengin punya rekening sendiri. Kebetulan, organisasi yang gue ikuti menyarankan untuk memiliki rekening segera. Alasan lain gue pengin punya rekening adalah biar kalau sewaktu-waktu gue mendapat penghasilan lewat blog bisa pake rekening sendiri. Ini yang jadi masalah saat gue dapat tawaran lalu gue tolak.

Ciye, nolak tawaran. Bukannya sombong kok, karena nggak punya rekening aja. Mau pinjam rekening orang tua nggak dibolehin.

Atas dasar itu, Jumat kemarin gue pergi ke bank. Kebetulan, setelah salat Jumat nggak ada lagi proses KBM. Hanya ada kegiatan Pramuka. Awalnya agak bimbang, mau langsung ke bank atau ikut Pramuka. Tapi mengingat lebih cepat lebih baik, gue harus ke bank

Sudah jadi jadwal rutin setiap Jumat kelas 12 ada kegiatan Pramuka setelah selesai salat Jumat. Pramuka adalah kegiatan wajib di setiap sekolah. Nggak ikut Pramuka = kena poin. 

Keluar dari masjid, gue melakukan survei kepada anak-anak kelas 12 yang gue temui. Gue mengajukan pertanyaan: "Lu ikut pramuka nggak?" Sebenarnya buat nyari teman bolos aja. Sialnya, kebanyakan jawab ikut Pramuka. Kalau gue ketauan bolos, gue siap ke ruang BK sendirian.

Gue cuek-cuek aja jalan menuju pintu gerbang depan sekolah. Udah dekat pos satpam, ada yang memanggil gue. "Robby! Robby! Jangan kabur Pramuka! Ada Pramuka hari ini." Sialan. Siapa sih yang manggil? Gue tetap cuek. Namun suara itu makin kencang. Gue berbalik ke belakang, ternyata orang itu adalah Ipul dan Pak Roy, guru kesiswaan.

Ipul adalah teman gue juga di organisasi yang gue maksud di atas. Gue lagi mau buat rekening, eh dijegal sama anak ini. Hmmm, orang-orang kayak gini enaknya dimusuhin dari pergaulan, sih.

"Pak, saya mau buat rekening. Saya izin Pramuka," mohon gue ke Pak Roy.
Ipul tiba-tiba nyamber. "Wuih, kuylah buat rekening."
Gue memberi isyarat wajah seakan berkata, "Taik lo! Cukup tau aja. Dasar cepu (kalau kata cabe-cabean). Kompor. Lelaki kardus."
"Jangan bohong kamu, Robby," kata Pak Roy. "Kan, kalo mau buat rekening harus pake KTP, mana KTP kamu?"
Sekarang gue merasa seperti lagi ditilang. Dicek kelengkapan surat.
"Terus, harus bawa duit juga. Emang bawa duit?"
"Bawa, Pak." Gue membuka tas, menunjukkan isi dompet. Ada 200 ribu lebih.
"Oh ya udah. Nanti Senin, Bapak mau lihat rekening kamu."
"Iya, Pak. Santai aja." Gue cium tangan ke Pak Roy dan bilang makasih.


Sampailah gue ke bank. Di sini nggak terlalu ramai. Prosesnya baik-baik aja. Kendalanya hanya gue merasa lebih tegang. Menghadapi mbak-mbak teller bikin gue deg-degan, melebihi deg-degannya sebelahan sama orang yang disukai pas upacara.

Nggak disangka, mbak-mbaknya cukup asyik. Dia ngasih beberapa pertanyaan. Misalnya, "Sekolah di mana, Mas?", "Sekarang kelas berapa?", dan "SMA Negeri 33 (sekolah gue) itu di mana, ya?". Heran, katanya sekolah favorit, tapi masih aja ada yang nggak tau. Dan herannya lagi, kok gue dipanggil "mas", sih? Gue yakin dia lebih tua dari gue, harusnya panggil "Dek". Oke, Robby banyak mau.

Begitu selesai, gue menunggu proses selanjutnya, yaitu pencetakan tabungan. Nggak terlalu lama nama gue dipanggil. "Tabungan baru atas nama Bapak Robby Haryanto," kata seseorang dari balik meja.

"Itu, gue yang dipanggil?" tanya gue dalam hati, heran.

Gue menghampiri sumber suara. "Atas nama Bapak Robby Haryanto. Betul?"
"Iya," ucap gue pasrah. Bisa-bisanya dia manggil gue "Bapak" untuk yang kedua kalinya. Padahal gue masih berseragam sekolah.


---

Kayaknya gue nggak bisa lepas dari nulis tentang kegiatan sehari-hari deh. Ya, mau diapain lagi, emang nyamannya di situ kali ya. Hehehe. Maaf kepanjangan jadinya.
Read More »

thumbnail-cadangan
Suara petir menggelegar di luar menjadi sebuah elegi malam ini. Anehnya, sudah lima jam sejak sore tadi hujan tidak kunjung turun. Aku masih menantikan turunya hujan sebagai tanda bahwa sebotol bir boleh dibuka. Membaca “After Dark” karya Haruki Murakami, mendengar alunan suara instrumental gitar dari tape yang kubeli semasa kuliah menjadi kegiatan menyenangkan malam ini.

Hujan akhirnya turun. Beruntung bagiku karena tidak perlu repot-repot mengairi sawah besok. Sejak Ayah meninggal setahun lalu, hanya sawah 1 hektare dan gubuk tua ini menjadi peninggalannya. “Hasil dari sini, kuliahmu bisa selesai,” begitu katanya kepadaku dua bulan sebelum meninggal.

Teman-teman—yang berasal dari daerah desa—sempat kaget mendengar aku memiliki sawah. “Mustahil di Jakarta ada sawah,” kata seorang teman. Aku menjawab tanpa ragu. “Tentu saja ada. Tidak ada yang tidak bisa kamu temukan di Jakarta. Jangankan sawah, kemiskinan pun masih bisa kamu temukan di kota itu.”

Pagi hari, aku melihat banyak sekali bangkai katak berserakan di depan gubuk. Belakangan kuketahui dari gosip yang beredar, daerah Jakarta sekitarnya mengalami hujan katak semalam. Untungnya, ular-ular di sini jadi tidak kekurangan makanan sehingga aku terbebas dari target mangsanya.

Hari ini, seperti biasanya, aku menghabisi hari di sawah. Agak tidak adil bila melihat titel sarjana pertanian yang kuraih, lalu hanya bekerja di sawah. Seharusnya aku sekarang berada di pabrik industri pupuk atau sedang membuat rekayasa perkawinan silang antara ubi dengan singkong. Sampai malam tiba, rutinitas masih sama seperti kemarin: membaca buku, mendengarkan musik, meneguk bir.

Dan sesekali mengingat potongan-potongan peristiwa masa lalu.

***

Aku senang mendengar Martha lolos di jurusan Sastra Rusia di salah satu universitas di Bandung. Sudah sejak lama dia ingin berkuliah di jurusan itu. Sempat kutanya apa motivasi dia mengambil jurusan Sastra Rusia, jawabnya dengan ringan, “Gue mau ngajak ngobrol Grigori Rasputin.”

Martha pribadi seringkali memamerkan kemampuannya dalam berbahasa Rusia. Saat dia berbicara lancar, aku hanya mengangguk saja. Martha jadi mirip presenter berita bahasa Mandarin yang sering kutonton di televisi. Meskipun tidak kupahami bahasanya, tapi tetap cantik dan menggemaskan.

Bisa dibilang Martha orang yang kukenal pertama kali di sekolah ini. Aku masih ingat dia duduk menyendiri di sudut kelas, sibuk membaca kamus Rusia. Aku memberanikan diri mengajak berkenalan. “Martha,” ucapnya singkat saat itu.

Seiring berjalannya waktu Martha menjadi teman dekatku. Setiap kali dia mengalami kebimbangan, aku memberinya solusi—aku anggap itu solusi terbaik yang diterima Martha. Minimal mendengar keluh kesahnya tentang “mengapa gue dianggap aneh karena suka bahasa Rusia?”.

Sejak pandangan pertama, aku cukup penasaran dengan anak ini. Rambutnya sebahu, pipinya yang bulat, dan matanya dilindungi kacamata minus membuat “si anak Rusia” terlihat anggun. Hingga rasa penasaran itu membawa aku jatuh lebih dalam.

Setelah pengumuman masuk universitas, aku menghampiri dia. Martha tidak sendiri lagi. Sekarang dia punya banyak teman di sekolah. Mereka sedang asyik membicarakan masa-masa SMA yang sebentar lagi akan ditinggalkan menuju bangku perkuliahan.

“Martha.”
“Iya, Zi. Ada apa?” tanya Martha. Dia menyingkir dari kerumunan gengnya.
“Besok ada acara nggak?” tanyaku agak ragu.
“Nggak ada.” Dia menjentikkan jarinya. “Oh iya, gue baru ingat. Lo dulu pernah janji mau traktir gue es krim, kan? Mana sini es krim gue.”
Aku menggaruk kepala belakang. “Nah, itu dia. Besok gue ke rumah lo sore.”

Keesokan harinya, aku mengajaknya ke mal. Sedari tadi Martha terus-menerus melihat kios es krim yang tersebar di sepanjang jalan. Sepertinya dia malu menagih janjiku. Aku mengajaknya duduk di sebuah bangku di taman.

“Martha, sejujurnya gue suka sama lo. Mungkin tidak saat pandangan pertama. Tapi gue merasa menjadi orang yang bisa membuat lo nyaman saat bimbang.”
“Lo nembak gue?” tanya Martha tidak percaya. “Kita lebih cocok jadi teman curhat tau. Gue nggak bisa nerima orang buat jadi pacar sampai lulus kuliah. Lo tau, kan, gue sering main sama cowok-cowok. Gue takut, saat udah punya pacar nanti, cowok gue jadi sering posesif, membatasi gue bergaul, dan lain-lain.”

Aku terdiam cukup lama. Mengiyakan kalimat terakhir yang terucap oleh Martha. Kalau dipikir, kadang seorang cowok bisa cemburu tidak beralasan. Menganggap ceweknya selingkuh, berpaling cintanya, atau alasan-alasan yang dibuat-buat oleh kendali posesif.

“Heh? Lo bengong aja,” tegur Martha membuyarkan lamunanku.
“Oh iya. Gue lupa mau traktir lo es krim.”
“Ya udah, ayo!”

Pelan-pelan aku melupakan kecewa yang kudapat tadi. Menyembunyikan runtuhnya perasaan yang sudah terbangun sejak tiga tahun terakhir. Aku harus mentraktirnya sebelum dia pergi ke Bandung. Sampai kami di sebuah kedai es krim. Dia memesan es krim rasa stroberi. “Lo tau nggak, kenapa gue pilih rasa stroberi?”

Aku menggeleng.

“Karena warnanya merah,” jawabnya. Kemudian dia menjelaskan, “Ya, meskipun es krim ini warna merah muda, sih.” Lalu dia mengeluarkan buku tulis bergambar pemain sepak bola Rusia. “Soalnya, merah warna kesukaan gue. Dan warna jersey Rusia juga merah.”
“Oke, gue paham. Sebenarnya, warna jersey Rusia itu merah marun.”
“Yang penting merah."

Aku ikut-ikutan memesan es krim rasa stroberi. Seumur hidupku baru kali ini mencicipi es krim rasa stroberi. Dulu, ibu tidak pernah membelikan aku. Sekarang, aku merasakannya. Kesan pertama dariku tentang es krim rasa stroberi ini: hambar. Mungkin, manisnya telah hilang tertutup kekecewaan penolakan.

***

Setahun setelah lulus SMA, Martha dikabarkan berpacaran dengan Jordi, ketua OSIS dulu. Ucapannya dulu saat menolakku terasa tidak punya arti lagi. Dasar pembohong.

Dua tahun kemudian, secara mengejutkan Martha meninggal. Kabar ini kudengar dari teman kuliah yang dulu satu sekolah di SMA. Martha gantung diri di tempat tinggalnya karena frustrasi, tidak sanggup mengikuti mata kuliah yang ada di jurusan Sastra Rusia. Hidupnya merasa berantakan setelah sering keluar malam lalu pola belajar yang kacau, dan banyak meninggalkan tugas, begitulah yang tertulis di sebuah kertas yang ditemukan tidak jauh dari tempat Martha menggantungkan diri.

Begitu tau kabar tersebut, aku tidak mengerti harus bersikap apa. Sangat disayangkan teman dekatku semasa SMA telah meninggal dengan cara yang tragis.

***

Besok adalah 7 tahun kematian dia. Aku sengaja pulang dari sawah lebih cepat karena ingin mempersiapkan mental untuk besok.

Aku mengirimkan doa, lalu menabur bunga di atas makamnya. Ini kali pertama aku mengunjungi makamnya. Setelah berziarah, aku pergi ke mal untuk membeli buku baru. Di sana masih ada kedai es krim tempat aku mentraktir Martha tujuh tahun yang lalu. Pegawainya pun masih sama, tapi kini wajahnya terlihat lebih matang dengan berewok yang menutupi pipi belakangnya.

“Mas, rasa coklat satu,” kataku ke sang pegawai.

Mencari rasa baru yang tidak hambar, setelah cinta tak terbalas kurang lebih 10 tahun.
Read More »