25 August 2016

Mengenai post sebelumnya, tentang kenaikan harga rokok, banyak yang bilang gue berubah. Dibilang tumben bahas hal-hal berat. Gue pun heran sendiri. Atau mungkin ini karena semangat belajar PPKN gue yang lagi berapi-api, jadinya pengin ngungkapin opini terus. Awalan yang bagus menurut gue. Hehehehe.

Sebenarnya gue pun takut mau membahas topik itu. Pasalnya, sumber keuangan keluarga ada di seorang perokok, yaitu bapak gue. Artinya, tulisan gue kemarin sama dengan ngajak ribut Bapak.
Tapi, dia ngerti kalo seandainya harga rokok naik, dia tau harus menyejahterakan siapa. Bukan petani tembakau, melainkan anaknya yang kepengin makan martabak ketan tiap malam.

Hmmm, oke. Kembali ke kebiasaan gue sebelumnya: nulis kehidupan sehari-hari. Abisnya bingung, malam-malam begini mau curhat ke siapa. Ya udah deh, mending ditulis di blog aja.

Oke. Udah jadi ketentuan dari awal kalau kelas 12 akan menjadi tahun yang menyenangkan sekaligus memusingkan. Jujur aja, gue pusing banget bagi-bagi waktu. Selalu nyelesain sesuatu mepet tenggang waktu terakhir. Belum lagi nanti ujian-ujian menyusul. Butuh stamina yang kuat.

Misalnya, hari Rabu ini, gue ulangan Kimia. Kata teman-teman gue di kelas lain, ulangan nanti bakal ketemu angka-angka yang susah. Lama dihitung pake cara manual. "Pake kalkulator boleh pas 10 menit terakhir," pengakuan seorang teman. Begitu gue melaksanakan ulangan, ternyata dibolehin pake kalkulator, asal kepepet. Begitu kata guru gue.

Hmmm, kalo begitu gue pake aja kalkulator sampai selesai. Bener aja, waktu gue liat soal, angkanya bener-bener kepepet. Andai nggak dibolehin, gue tinggal bilang, "Semua angkanya susah, Pak. Kepepet, nih."

Seharusnya, kalo udah pake kalkulator begini ngerjain jadi cepet. Herannya, itu nggak terjadi pada gue. Gue jadi orang paling terakhir ngerjain soal. 10 menit terakhir gue panik ngelirik orang-orang udah pada asyik ngobrol... sedangkan empat soal belum gue isi. Entah sihir dari mana, gue jadi ngerjain asal-asalan. Gue mendengar suara-suara provokasi biar gue cepet-cepet nyelesain. Padahal sayang banget, waktu masih ada dan kalkulator boleh dipake. Harusnya gue manfaatin waktu tersisa.

Nah, belajar dari sini, penting banget buat manajemen waktu.

Kasus serupa pernah terjadi sewaktu UAS semester 2 kelas 11. Saat itu mata pelajaran Kimia juga. Teman-teman udah selesai. Dari luar mereka sok-sok nyemangatin. "Ayo Robby! Ayo Robby!" Diteriakin begitu gue malah makin panik. Pengawasnya malah bikin keruh suasana. Dia ngomong sambil ngagetin. "Yak, sekian dan terima kasih. Wassalamualaikum."

"Setaaaan! Gue beloman!"

Makin ke sini gue makin ngerti, kenapa cewek nggak mau disuruh cepet-cepet kalo mereka lagi dandan. Misalnya mereka panik, nanti yang ada lipstick dioles ke alis.

Waktu menulis ini, gue masih berpakaian seperti tadi pagi ke sekolah: seragam batik sekolah dan celana putih. Asli, belum sempat mandi atau ganti baju setelah pulang les tadi pukul 8. Pulang les langsung ngejar nyelesain tugas laporan praktikum. Besok mesti diserahin, sedangkan laporan belum gue edit.

Selesai semuanya pukul 10 malam. Gue langsung ke warnet dan untungnya masih buka. Sialnya, mungkin karena beda versi Microsoft Word, laporan gue jadi acak-acakan. Terpaksa mesti dicek ulang. Haduh. Untung mbak-mbaknya mau gue repotin suruh benerin bab-bab yang nggak sesuai. Malem-malem berduaan sama mbak-mbak warnet sambil ngedit laporan, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Nggak ya. Gue nggak akan modus. Tangan sok-sokan megang mouse, padahal megang tangan mbaknya. Duuuh.

Bener-bener stres deh. Makanya gue nulis biar melepas ketegangan. Hahahaha.

Mama gue juga ikutan khawatir dengan perilaku anaknya akhir-akhir ini. Dia selalu ngasih wejangan dari peribahasa. "Nggak papa, ya, Nak. Yang penting berakit-rakit ke hulu."
Gue diam. Menelaah kata-kata terakhir yang diucap Mama.

Kan... peribahasanya kurang lengkap. Jadi nggak sedap.

Kalo begitu, artinya jadi "bersakit-sakit melulu" dong?

"Ma, peribahasanya disambung dong. Nggak enak tuh artinya."
"Oh iya, ya."

Melihat hasil cetakan laporan tadi, gue mengingat satu hal: ini tugas dari minggu lalu. Kenapa baru gue kerjain sekarang, sedangkan besok akan dikumpulkan? Pertanyaan lagi: ke mana aja gue seminggu? 

Duh, bener-bener manajemen waktu gue bener-bener payah. Mati aku diburu waktu.

22 August 2016

Gue bukan seorang perokok. Kalau ditanya pernah atau belum, gue pernah merokok. Pastinya gue menyesal. Tapi kalau diingat lagi kejadian saat itu, gue pasti ketawa-ketawa sendiri.

Ceritanya, gue diem-diem curhat soal pernahnya gue merokok ke seorang teman. Saat itu gue belum mengerti apa enaknya ngerokok. Gue tanya ke teman, “Gue, kan pernah ngerokok, nih. Kok gue nggak tau enaknya di mana, ya?” Dia bilang, “Di filternya itu enak. Manis. Terus kalo asapnya masuk ke tenggorokan rasanya enak. Begitu caranya ngerokok.”
Gue cuma manggut-manggut.

Oh, begitu ternyata. Pantes gue nggak ketemu enaknya. Cara gue ternyata salah. Yang gue lakukan adalah, mengisap kemudian langsung mengeluarkan. Ya sama aja kayak dukun nyembur pasien. Masuk mulut lansgung dikeluarin lagi.

Ya, kira-kira begitulah masa-masa suram gue. Makanya gue nggak akan jengkel atau heran ngeliat anak kecil ngerokok. Gue cuma bisa berharap anak itu cepat disadarkan dan kembali ke jalan yang benar. Konsumsi mereka yang seharusnya adalah choki-choki, bukan rokok.

By the way, karena rokok, ada anak di bawah umur bisa terkenal. Mungkin karena industri musik anak-anak susah ditembus, anak ini menembus pasar yang lebih luas dengan merokok (dan melaporkan guru ke polisi).

Mulut asem, ye, om~

Hehehehe, maap.

Belakangan ini sedang marak berita tentang kenaikan harga rokok. Sebagai minoritas, para perokok dan orang-orang yang terlibat di dalamnya nggak setuju. Dalam hal ini, gue mengambil sikap untuk menyetujui kenaikan harga rokok.

Alasannya banyak.

Paling nggak, semakin mahal rokok, (semoga) semakin sedikit rokok yang beredar karena daya beli masyarakat yang rendah. Nggak, ini nggak bermaksud bilang “KALIAN MISKIN!”. Gue sudah cukup muak dengan asap. Di angkot, di rumah, di jalan terlalu sumpek sama asap.

Alasan lain gue setuju harga rokok dinaikkan adalah biar bapak gue nggak sering beli rokok lagi. Semoga kepikiran di benak beliau: “Daripada ngabisin 50 ribu buat beli rokok mending duitnya dibeliin martabak ketan. Yang nikmatin sekeluarga.” Uuuuh, semoga aja kejadian.

Tapi sebagian lainnya meragukan harga rokok dinaikkan. “Percuma juga kalo dinaikkan jadi 50 ribu. Masih banyak yang mampu”. Bener juga, sih. Sekarang Liga Inggris udah mulai. Belum lagi nanti Liga Champions. Ladang mendapatkan uang dari taruhan bola semakin terbuka lebar. Kalo ada dua orang taruhan dengan nominal 50 ribu, salah satu di antaranya berhasil beli sebungkus rokok.

Nah lho, sungguh dilematis.

Ya, mari kita doakan saja para pemenang taruhan adalah bukan perokok.

Atau nantinya, rokok akan tetap laku, tapi dibeli dengan asas kekeluargaan (baca: patungan). Hal ini bisa saja terjadi. Secara kesolidan antarlelaki dalam hal merokok itu sangat kuat. (Dibuktikan dari kasus pinjem korek sesama perokok walau nggak saling kenal.)

Kalo gitu, mending naikin aja harganya jadi 1 milyar. Berharap nggak bakal ada yang menang kuis Super Deal atau Who Wants to Be a Millioner.

Kita tunggu aja, apakah 50 ribu cukup menekan jumlah perokok atau masih kurang.

Kemudian, kenaikan harga rokok ini akan mengubah setiap kebiasaan banyak orang. Akan dikhawatirkan bila rokok sudah berkurang, para perokok pasif mengalami semacam shock culture. Biasanya nemuin asap rokok, eh udaranya bersih-bersih aja. Akhirnya bakar ban buat dinikmatin asapnya. Sendirian.

Dalam tradisi di masyarakat, kita dengan mudah menemui rokok di acara tahlilan. Biasanya rokok-rokok ditempatkan di sebuah gelas bening. Lalu, ketika harga rokok dibuat mahal, apakah tuan rumah akan tetap menyediakan rokok di gelas-gelas bening itu? Gue rasa bakal diganti milkita deh. 3 buah milkita setara dengan segelas susu.

Rokok yang kita kenal biasanya dijual dalam dua bentuk: per bungkus dan satuan (atau yang lebih dikenal dengan ketengan). Gue memprediksi, metode penjualan ketengan akan lebih populer dibanding per bungkus. Kalau gue ambil satu contoh, misalnya Surya Pro Mild isinya 16. Harga sebungkusnya 50 ribu. Kalau dibeli satuan berarti Rp50.000,00 dibagi 16 = Rp3.125,00 per buah. Masih termasuk murah, kan? Coba bandingkan dengan harga sebuah Soyjoy.

Pilih rokok ketengan atau ini?

(Sengaja gue ambil contoh Soyjoy buat perbandingan. Kalo dibandingin sama harga nasi uduk, udah jelas orang lebih milih beli nasi uduk. Karena soyjoy nggak ngenyangin, sama kayak rokok.)

Yang paling pasti, untuk beberapa waktu ke depan rokok nggak akan bisa jadi alat kembalian.

Rasanya nggak asik bila gue kabur tanpa memberi solusi bagi para pengusaha rokok. Berikut dua solusi untuk pemilik perusahaan rokok agar bisa terus berproduksi, tapi tetap laku.

1. Beli rokok bonus kuota
Kebutuhan masyarakat akan internet sangatlah besar. Coba bayangkan, ambil contoh sederhana; saya sendiri. Butuh kuota lebih untuk saya online Facebook—sekadar me-like status teman. Apalagi sekarang yang namanya Instagram Stories lagi rame dipake banyak orang. Pastilah kita membutuhkan kuota lebih.

Sayangnya, dengan naiknya harga rokok membuat para perokok menjadi mempertimbangkan apakah uangnya harus dibelikan rokok atau kuota. Tentu sangat membuat dilema para perokok. Harusnya, pebisnis melihat ketakutan ini sebagai peluang usaha. Menginovasikan rokok bonus kuota sangatlah sebanding bila harga rokok dinaikkan. Perokok pun akan lebih tenang.

2. Metode Cicilan
Gue mempelajari ini dari sebuah produk panci dua sisi, atau merk-nya lebih dikenal dengan “senang memanggil”. Terkesan mahal memang, bila melihat harga tunai produk tersebut. Namun, produk itu bisa dibeli dengan mencicil. Lalu begitu presenter mengumumkan "30 menit lagi pemesanan ditutup!" ibu-ibu langsung memesan via telepon. Sebegitu saktinya kekuatan cicilan. Hebat, bukan?

Bila sebagian masyarakat menganggap sebungkus rokok adalah mahal, pengusaha rokok khususnya pemilik warung bisa menerapkan sistem cicilan. Dengan begitu, harga rokok yang mahal akan menjadi terasa ringan.

YEEEE, APA-APAAN. JANGAN DIPAKE LAH CARA GUE. IDE BRILIAN, TUH! NANTI ROKOK TETEP RAME, MAKIN BANYAK ASAP.

Sekarang, gue akan memberi solusi bagi para perokok yang mungkin dengan kenaikan harga rokok akan menghentikan kebiasaannya.

Selanjutnya, saya harus apa?

Beruntung bagi Anda yang membaca tulisan ini. Gue melihat peluang menjadi blogger adalah pilihan yang tepat bagi para perokok untuk menghilangkan hasrat merokoknya.

Jadilah healthy blogger. Dengan mengangkat tema seperti ini, apalagi latar belakang Anda adalah mantan pecandu rokok, dapat menjadikan Anda sebagai blogger yang disegani para perokok. Selain itu, Anda akan menjadi contoh perokok yang dapat bangkit dari kebiasaan hidup yang tidak sehat. Hidup blogger!

Mungkin itulah opini dari gue. Bila ada yang tidak mengenakkan hati, silakan tulis di kolom komentar.

Yang penting, hidup blogger!

20 August 2016

Sebagai pembukaan, gue mengucapkan Dirgahayu RI ke-71. Semoga Indonesia jaya selalu, pendidikan semakin membaik, dan kesejahteraan segera merata. Aamiin

Kemarin, mungkin akan menjadi upacara kemerdekaan bagi gue yang terakhir di sekolah. Di sekolah gue setelah upacara disambung dengan lomba-lomba. Ralat, maksud gue, lomba-lomba yang hanya bisa diikuti orang tertentu. Yang ikutan cuma orang-orang yang biasa nampang di sekolah, alias terkenal. Orang yang sering tidur di kelas kayak gue mustahil bisa ikut.

Sayangnya, gue baru boleh pulang pukul 10. Menjelang pintu gerbang dibuka, gue bimbang antara pengin ke Gramedia atau langsung pulang. Tapi firasat mengatakan gue harus segera pulang. Selain firasat, uang gue juga lagi nggak mendukung. Di dompet pas banget cuma ada tiga ribu rupiah buat sekali naik angkot. Kalo ditagih bayar lagi, gue harus siap-siap tenaga buat lari sekuat-kuatnya.

Sampai rumah, bapak gue bilang, "Tadi ada Wulan ke sini.”
“Ngapain?” tanya gue penasaran.
“Nggak tau.”

Oke. Ini jawaban yang bagus. Mana ada orang bertamu dengan nggak ada alasan.

Nggak lama kemudian, Wulan chat gue. Katanya di chat, “Ada Mas Nova. Gue otw rumah lu yak.”

Nah, Wulan dan Mas Nova itu salah dua teman gue sewaktu tinggal di mes. Mas Nova lebih dulu pindah ke Malang karena kuliah di sana. Jadi, sewaktu gue denger kabar dia ke sini, gue antusias mau ketemu. Anak kuliahan jarang punya kesempatan gitu, lho.

Sampai di depan rumah gue, keduanya ternyata ngajak main. “Main? Duh, dompet masih mendukung nggak ya?” batin gue.

“Ayo, Bi. Kita main-main ke mana gitu,” ajak Mas Nova.
“Ya udah, mau izin dulu ya.” Gue langsung nyamperin Mama. Dengan mudah, gue mendapat izin (dan uang) dari mama gue. Kita bertiga langsung pergi ke mes sebagai titik temu.

Singkatnya, total 6 orang berkumpul: gue, Mas Nova, Sofyan, Wulan, Mbak Ayu, dan Mbak Ema. Tiga cowok dan tiga cewek. Orang-orang akan mengira kita sedang triple dating.

“Emang mau ke mana?”
“Ke Ragunan.”

Saat itu sudah pukul 1. Keraguan muncul di benak gue. Perjalanan paling cepat ditempuh kira-kira 2 jam. Paling nggak, pukul 3 sore baru sampai Ragunan. Jam segitu hewan-hewan di sana kayaknya udah pada tidur deh. Persiapan ronda.

Ada keunikan harga tiket Transjakarta pada hari ini. Biasanya biaya masuk dikenakan Rp3.500,00. Khusus di hari Kemerdekaan, harga tiket Transjakarta menjadi Rp1.708,00. Artinya, 17 Agustus (bulan 8). Ini kan formatnya hari/bulan. Biar lebih spesial harusnya formatnya jadi bulan/hari.

Sampai di halte Grogol, kami kebingungan: Ke mana rute yang bisa menunjukkan ke arah Ragunan?

Gue, sebagai traveler-wannabe, mengusulkan mengganti tujuan menjadi ke Monas. Selain jaraknya dari sini lebih dekat, juga lebih hemat. Muahahaha. Yang penting, kan, ngumpulnya.

“Di Monas lagi ada rame-rame gitu, sih,” kata gue sambil jalan di halte Grogol.
“Ada apaan emang, Bi?” tanya Mas Nova.
“Tadi liat di Facebook ada yang bilang, ‘Ada apa sih di Monas?’. Nah, berarti, kan lagi rame.”
“Iya, rame apaan?”
“Nggak tau. Namanya juga tempat wisata, ya pasti rame.”
“....”

Sampai di Monas, kita bingung mau ngapain selanjutnya. Namanya juga kumpul mendadak dan nggak direncanakan, jadi ala kadarnya deh. Akhirnya, jalan-jalan sambil ngobrol jadi pengisi kegiatan kita hari ini.

Selain ngobrol, foto adalah wajib hukumnya. Ide ini diusulkan oleh Tim Cewek. Sudah ditakdirkan mereka menjadi yang paling ribet dalam urusan foto. Tim Cowok cuma nurut.

Untuk kali pertama, megang tongsis.
(depan-belakang) gue, Mbak Ayu, Sofyan, Mbak Ema, Mas Nova, Wulan.

(kiri ke kanan)
Sofyan - Mas Nova - Tukang Gelembung Sabun
Tim Cowok. *pamer jakun*
Sambil melanjutkan perjalanan, ide-ide diusulkan. Salah satunya adalah usulan untuk naik ke puncak Monas. Tapi setelah melihat antrean yang sangat panjang, ide itu perlahan dibuang. Sofyan, yang usinya lebih muda di antara kami, nyeletuk. “Ah, ngapain naik ke atas. Yang keliatan dari atas, kan, cuma gedung-gedung doang. Mending liat dari Google Maps. Sama-sama keliatan juga.”

Eh, si Sofyan bener juga. Buat apa ngantre lama-lama.

Sembari foto-foto, gue melihat lelaki berkulit hitam sedang berfoto dengan dua orang. Nampaknya dia turis asing. Muncul sebuah keinginan norak: ngajak dia foto bareng. Gue bilang ke Mas Nova, "Mas, foto sama dia yuk." Gue melirik ke belakang, Mas Nova juga. "Tuh, dia aja foto bareng."
"Ya udah. Tapi lu yang ngomong ya."

Gimana ya? Di pikiran gue tentang bahasa Inggris pasti muncul, “Hei, let’s we f*cking now,” atau “Please, f*cking in the right place.” Yang sedang gue hadapi adalah lelaki, sebisa mungkin kalimat itu nggak keluar. Malu sama Indonesia.

Gue berpikir sejenak. "Oke," ucap gue mantap. "Tapi gimana ngomongnya? Kalo bilang 'I want take some photo with you' gimana?"
"Ya udah gitu. Dia pasti ngerti kok," katanya meyakinkan gue.

Dengan keberanian tinggi, gue samperin dia setelah foto dengan dua orang tadi. Si bule menyalami orang itu, kemudian bilang, "I’m from South Africa."

"Hi, mister," sapa gue pede. Padahal dahi udah banjir keringat. Si bule berbalik arah ke gue. Tatapannya ramah. Nggak seperti bayangan gue akan Didier Drogba: suka marah-marah dan mukanya nggak nyantai.

"Uhmmmm...” gue mencoba menyusun kalimat. Sial, gue nge-blank. Cuma satu kata yang keluar dari mulut gue. “Photo?"

"Ok." Si Bule mengangguk. Kayaknya dia seneng-seneng aja diajak foto sama anak SMA, yang bahkan nilai ulangan Bahasa Inggrisnya seringkali nggak tuntas.

Mas Nova yang menjadi cameraman bersiap mengambil gambar. Kita berlima plus Si Bule menjadi objek. "Yang mana kameranya?" tanya Si Bule dalam bahasa Inggris.

"His camera," gue menunjuk ke Mas Nova. Maklumin kalo gue salah pake bahasanya.
"Coba dong, ganti posisinya,” kata Mas Nova ke kami. “Ngebelakangin Monas."
Gue menyadari kalau gambarnya diambil nggak akan keren karena di belakangnya nggak ada Monas.

"Mister... uhmmmm..."
"Yes?"

Saat ini gue harus memberi tahu apa yang harus dilakukannya, yaitu memutar posisi membelakangi Monas. Dan kenyataannya, gue nggak tau harus ngomong apa. "Uhhhhhh, can you...”
“....” Si Bule ngeliat gue kebingungan.
“Can you,” gue sambil mengarahkan dengan kedua tangan masih mencari kata yang tepat. “... can you... ke sono."

Semuanya ketawa. Sialan, gue malu sendiri. Gue baru aja mengeluarkan kata yang, bahkan, di kamus pun nggak ada. Ke sono, bahasa sehari-hari yang nggak pantas diucap saat bertemu turis luar mancanegara. Pejuang masa lalu nampaknya kecewa bila mendengar ini. 12 tahun belajar bahasa Inggris, ilmu yang baru gue aplikasikan ngucap ke sono. Oke. Ini awal yang memalukan.

Beda tipis lah gue sama Si Bule
Hadiah memalukan diri sendiri
Selanjutnya, secara ajaib Tim Cewek misah. Setelah dicari sama Mas Nova, mereka lagi makan. Dasar cewek-cewek tidak berprinsipil! Sebagai penebusan dosa, mereka membelikan minuman buat Tim Cowok. Es berwarna oranye. Seperti semestinya orang-orang yang suka menganalisis, gue sok-sok meneliti es yang berada di genggaman. "Ini asam sitrat. Ini pasti sirup ABC rasa jeruk dituang 3 gelas takaran."
Mas Nova melepas sedotan dari mulut. "Apaan, sih, Bi. Ini, kan, nutrisari."

Sip. Sotoyku membawa malu.

Tim Cowok dan Tim Cewek misah lagi. Tim Cewek karena lagi nggak salat, mereka milih nonton acara Penurunan Bendera lewat giant screen yang dipasang di area sekitar Monas. Sedangkan Tim Cowok menuju Istiqlal untuk salat Asar dan makan mi ayam.

Karena tanggung menuju waktu Magrib, kami (Tim Cowok) tetap berada di Istiqlal. Kita bertiga nyantai di latar Istiqlal yang luas. Menjelang azan, Sofyan ke kamar mandi, lalu kembali dengan membawa kabar. "Bi, bule yang tadi ketemu ada lagi." Gue langsung penasaran. Cepet-cepet ngambil wudu, kebetulan azan telah berkumandang. Bedanya dia pake sarung. Gue salat sunnah qobliyah di sebelah Si Bule. Pengin negur, cuma takut salah ucap lagi. Saat salat Magrib berjamaah kita nggak sebelahan. Kemudian, gue baru nyesel tentang sesuatu: gue lupa nanya nama dia.

Jadilah dia, Lelaki Tanpa Nama.

Intinya, kegiatan kita kumpul ini bener-bener nggak jelas tujuannya. Tapi ada tujuan tersirat, yaitu tetep bisa ngobrol dan tatap muka. Saking serunya ngobrol sampe ngomongin ke topik-topik remeh. Misalnya, ngomongin air Kali Ciliwung yang dikonsumsi.

“Itu, kan, air keruh banget. Mesti disaring, dimasukin ke pasir, segala macam,” kata Mas Nova.
“Iya. Sama kayak cewek jelek mau upload foto. Mesti difilter berkali-kali biar cakep,” ucap gue enteng.

Sekarang mes udah ditinggal kita semua. Belum tentu setahun-dua tahun lagi kita bisa ketemu. Untuk mengenang sejenak, kami nggak langsung pulang ke rumah masing-masing. Kami ngobrol-ngobrol seru di mes sampai pukul 9 malam sambil ngabisin snack yang dibawa ke Monas tadi. Mengenang kembali. Menengok ke beberapa tahun lalu, saat masih kecil.

“Biasanya jam segini masih main, mama gue bakal nyamperin, nih,” kata gue, kemudian menirukan bicara mama gue. “Eh, kirain lagi ngapain. Pulang yuk, besok, kan, sekolah.”

Ah, selalu seru bila ketemu teman-teman masa kecil. Banyak banget yang mau diceritain. Sebagai penutup, gue akan memberikan sebuah foto mencengangkan.


#UpinGantiPartner #UpinUdahPuber

Terakhir, terima kasih telah membaca kegiatan gue. Semoga kalian nggak lupa sama teman masa kecil kalian.

15 August 2016

Minggu malam, gue mengeluh soal kondisi laptop yang nggak bisa dicas ke Rani, temen curhat gue yang paling setia. Gue berharap dapat saran terbaik darinya.

Gue: Laptop gue baterenya nggak nambah pas dicas
Rani: Yaudah buang laptopnya

Oke, saran yang bagus. Hampir aja gue melakukannya saat itu juga.

Kabar baik gue dapat beberapa jam kemudian. Setelah berkali-kali mengutak-atik akhirnya baterai di laptop gue bisa bertambah saat dicas. Mungkin karena sebelumnya bener-bener kosong, jadinya butuh waktu lama buat keliatan baterenya nambah.

Oke, bukan itu bahasan utamanya. Dikhawatirkan laptop gue bakal kenapa-kenapa nantinya (atau gue mengikuti saran Rani), gue harus segera nulis ini. By the way, udah cukup lama, ya, gue nggak ngomongin kegiatan di sekolah. Uuuuh, gue juga kangen. (Silakan keluar rumah untuk muntah.)

Sebelum gue cerita lebih jauh. biar gue buka pengetahuan kalian tentang Nyunyu. Nyunyu adalah sebuah website yang isinya artikel bertemakan anak muda. Alamat website-nya nyunyu.com. Ya, kurang lebih gitu deh.

Sumber di sini


Waktu seneng-senengnya ngepoin website ini, gue pernah punya pikiran, "Kerja di Nyunyu seru ya."

Kebetulan hari ini gue diberi tugas membuat lamaran pekerjaan di sekolah. Sebelum membuat surat, terlebih dahulu temen-temen gue menjelaskan materinya dalam bentuk presentasi. Merasa ada kekurangan dalam penyampaian, Bu Juna membenarkan bahasan-bahasan teman gue yang keliru. Gue bener-bener nyimak setiap poin penting dalam penulisan lamaran pekerjaan. Lumayan, ilmunya bisa kepake di masa mendatang.

Setelah presentasi, guru Bahasa Indonesia, Bu Juna (nama disamarkan) memerintahkan membuat surat lamaran kerja. Gue anggap ini sebagai latihan awal membuat lamaran kerja. Seolah gue benar-benar akan melamar di Nyunyu, gue membuat sepenuh hati dan penuh pengharapan. Benar-benar gue masukin kalimat permohonan buat gabung Nyunyu seolah gue butuh banget duit buat menyambung hidup.

Selesai menulis surat dengan pensil, gue mengajak Diki, teman sebangku, untuk ngumpulin lembar pekerjaan ke meja Bu Juna. Diki, tampak pede, jalan di depan gue yang nggak kalah pedenya. Gue sangat optimis mendapat pujian dari Bu Juna. Minimal, "Yaaa, kamu mah udah layak banget deh dapat kerjaan."

Diki lebih dulu menyerahkan ke Bu Juna, kemudian beliau mengoreksi hasil kerja Diki. Bu Juna perhatikan detail kalimat di kertas Diki. "Masih salah. Ini harusnya begini... begini... begini." Bu Juna mengembalikannya ke Diki, lalu balik ke tempat duduk. Tinggal gue sendiri.

Gue menyerahkan selembar kertas berisi contoh lamaran kerja yang gue tulis dengan keoptimisan tinggi. Bu Juna menatap kertas gue dengan tatapan biasa. Tanpa komentar. 5 detik kemudian...
"SALAH SEMUA!" katanya dengan aksen betawi. Sebagian teman yang duduk di depan ketawa. Dengan tatapan kosong, gue menerima kertas itu dari Bu Juna.
"Sa-saya... salah di mana, Bu? tanya gue gagap.
"SALAH SEMUA! Balik lagi, balik." Lamaran kerja gue ditolak.
Gue kembali ke tempat duduk, tertunduk lemas. Dia nggak jelasin apa salah gue.

Salahku apa, Ya Allah?

Gue kembali berpikir, "Di mana kesalahannya?"

Mikir lagi.

Nggak ada yang lebih sulit dari dicap salah tanpa kita tau apa kesalahan kita. Bukannya nggak peka, tapi bener-bener nggak tau. Perasaan udah dikerjain sesuai dengan apa yang Bu Juna jelaskan. Apa emang sekadar perasaan aja. Entahlah.

Selembar kertas yang udah kena stempel lisan "SALAH SEMUA!" ini gue ratapi. Gue melihat orang lain penuh kehati-hatian menyelesaikannya. Beberapa ada yang benar menurut Bu Juna, bahagia wajah mereka. Gue, masih tetep ngeliatin sekeliling layaknya pengangguran. Nggak punya kerjaan. Kerjaan ada, tapi cuma meratapi kegagalan.

Untung ini cuma latihan. Ya, anggap aja ini nggak ada apa-apanya dibanding terjun di lapangan. Biar mentalku terlatih. Kayak lagu Terlatih Patah Hati-nya The Rain feat Endank Soekamti:

Bertepuk sebelah tangan, sudah biasa.
Disalahkan tanpa alasan, sudah biasa.

Yang kedua itu liriknya diganti sesuai kebutuhan.

Ehm, kalo ngelamar kerja aja ditolak, gimana bisa ngelamar kamu? (Oke, ini ending yang receh)

12 August 2016

Kalo kata Dara Prayoga, para pengagum rahasia--atau yang lebih keren disebut secret admirer, adalah orang yang terlalu cepat bahagia. Biasanya secret admirer rentan terjadi pada anak sekolah. Kasusnya hampir semuanya mirip: Ke sekolah cuma buat ngeliat orang yang ditaksir. Bisa semangat belajar walau cuma ngeliat senyumnya dari jauh. Mau nyapa nggak bisa. Soalnya beda gedung.

Para pengagum rahasia pasti pernah menulis surat untuk mengutarakan isi hatinya. Namun, surat-surat itu terlantar, lalu terkumpul menjadi surat-surat yang tak tersampaikan. Padahal kalau disampaikan, bisa aja si dia tau apa yang dirasa.

Ternyata, gue sejak lama berbakat jadi secret admirer. Buktinya ini...


Surat itu adalah surat-suratan pas MOS. Kalo nggak salah, waktu itu diperintahin buat surat cinta dan surat benci buat kakak-kakak OSIS. Gue berhasil menyelesaikan kedua surat itu. Dari rumah gue bawa dengan penuh kehati-hatian biar nggak lecek. Tapi akhirnya, gue nggak pede setelah surat-surat temen gue dibaca di depan. Gue malu. Bahkan buat hal yang bercanda aja gue malu, apalagi yang serius.

Dua tahun kemudian, di sela-sela berberes rumah, gue menemui surat itu kembali. Demi menjaga kenangannya, gue selamatkan mereka dari tangan-tangan nggak bertanggung jawab. Biar nggak langsung dibuang.

Oke, mungkin gue gatel pengen ngebongkar apa yang gue tulis dua tahun lalu. Surat yang ditulis oleh seorang anak kelas 10 yang masih anget dunia SMP-nya. Anak kelas 10 yang nggak ngerti apa-apa. Anak kelas 10 yang meriang setelah duduk di bawah AC di hari pertama sekolah.

Langsung aja gue ungkap tabir ini. Biar lebih seru, nama dan isi akan gue pertahankan seratus persen keasliannya.


Surat 1, niatnya bikin surat cinta.

Bukan cheat Grand Theft Auto. Tulisan tangan asli.


To: Zenna (panggilan buat kakak cewek) Kensiwi Kharismanita.

Saya ingin mengungkapkan perasaan hati saya yang terdalam. Sudah saatnya saya mengungkapkan perasaan ini. Perasaan yang sudah lama terpendam yang membuat saya susah tidur, susah makan, susah buang air besar... apa pun itulah.

Memang berat rasanya mengungkapkan hal ini. Tapi, saya harus mengungkapkan sekarang. Saya ingin mengungkapkan kalo sebenernya........ (penasaran yaaa). Saya ingin mengatakan bahwa saya tidak bisa membuat surat cinta. Saya bukan tipe orang yang romantis. Daripada saya salah kata atau saya meng-copy paste karya orang lain, lebih baik saya mengungkapkan kejujuran hati saya.

Walaupun jadi curhat begini, makasih atas perhatian dan waktunya untuk membaca surat dari saya.

Saya beneran gak bisa buat surat cinta. Jangan hukum saya, kak.

Saya punya quote. Mohon baca baik-baik.

"Jika hari ini hari Rabu, maka besok adalah hari Kamis"

Sekian dari saya, semua kekurangannya mohon dimaafkan.

Surat 2. Niatnya surat benci.

(niatnya) surat benci plus cap bibir


To: Kak Ikhe

Pertama kali menatap wajahmu kak, saya langsung tertarik pada kakak, mungkin karena kutub magnet kita yang berbeda. Kalau diibaratkan, kakak itu seperti bulan Ramadhan, kedatangannya selalu dinantikan. Senyumanmu kak, seperti kolak Mpok Minah, kemanisan, hehehe. Kulitmu putih seperti biji kolang-kaling hehehehe, peace kak, becanda. Jangan marah, kak. Inget, bulan puasa tahan emosi.

Saya ini bukan orang yang romantis. Saya gak bisa buat surat cinta. Saya bingung mau nulis apa lagi, karena kata-kata saya habis buat surar-surat sebelumnya.

Kenapa saya jadi curhat? Bodo amat lah, salah sendiri kakak malah baca terus.

Yaudahlah, saya tau kakak capek baca surat ga penting ini. Sekian dari saya, mohon maaf atas kesalahannya.

* Saya gak kayak yang lain kok, promo-promo Twitter gitu. Tapi kalo mau follow Twitter saya gapapa. Akun Twitter sata @robby_haryanto. Jangan lupa di-follow, pasti di-follback.

Just for fun.

***

Lihat! Sejak dulu, selain bermental cemen untuk urusan mengungkapkan perasaan, gue juga seorang yang doyan curhat-curhat nggak jelas. Andai orang yang gue tuju ini baca, kira-kira nyesel nggak ya bacanya?

Btw, yang namanya Kak Ikhe, dulu di sekolah gue jadi primadona sekolah. Pake rok span, baju dikecilin, khas anak hits SMA. Dia anak tari. Gayanya slengean. Terus, hari Kamis kemarin, kata temen gue dia main di Katakan Putus. Gokil ini orang.

Ada yang pernah bikin surat-surat cinta pas MOS?

06 August 2016

(Kalau di antara kalian yang membaca judul adalah lelaki hidung belang, maaf, ini bukan tulisan tentang menjadi "om-om senang" yang baik.)

Saat masih kecil, gue sering ngoyak-ngoyakin perut mama gue di jam-jam santai keluarga. Terus, yang akan gue lakukan adalah, nempelin kuping ke perutnya, lalu bilang, “Ih, ada suaranya! Ada bayinya ya, Ma?"

“Itu bunyi perut. Mama laper, belum makan.”

Sebelum SMP, gue sempat pengin punya adik. Cuma, nggak kayak anak-anak pada umumnya, yang dengan gampang tinggal ngomong, “Ma, minta adek!” gue nggak berani ngomong ke Mama. Keinginan itu gue pendam sendiri sampai akhirnya gue bongkar di sini. Semakin ke sini tampaknya blog ini pelan-pelan menjadi kunci semua rahasia pribadi gue.

Akhirnya, dua minggu lalu, di rumah gue kedatangan bayi. Dia adalah keponakan gue, namanya Ainun. Umurnya masih 3 bulan, masih lucu-lucunya, masih anget-angetnya, masih suka telpon-telponan, masih sayang-sayangnya. Persis lah kayak orang baru pacaran.

Awalnya, gue takut dengan kehadiran dia. Takut ganggu gue tidur, takut ganggu gue belajar, takut diberakin, dan sebagainya. Semua ketakutan itu nggak terbukti. Ainun menjadi bayi yang menyenangkan dalam hidup gue. Setiap gue melihat mukanya terasa hangat kayak lagi pake minyak telon.

Padahal, gue sama sekali nggak jago berinteraksi dengan bayi. Gue heran aja ada ibu-ibu yang ngomong ke anaknya yang masih bayi. Segala bilang, “Anak siapa sih, ini?” Sambil gendong-gendong, lalu dia nyuapin anaknya, terus anaknya nangis. Siapa suruh bayi disuapin sambel.

Interaksi andalan gue setiap ketemu anak kecil adalah ngajak main ciluk-ba. Gerakannya selalu sama: nutupin muka pake tangan, buka, ngomong “ciluk-ba”, masang muka lucu, bayi nangis sejam. Hampir sama begitu terus.

Cara yang sama gue lakukan saat ketemu Ainun di hari pertama. Begitu gue natap mata dia dalam-dalam, dia buang muka. Kalo dia bisa ngomong, pasti dia ngomong, "Siapa lu? Sok asik!" Mungkin dia belum terlalu familiar dengan muka gue. Secara, ini adalah kali pertama dia ngeliat gue.

Ainun tinggal bareng gue dan kedua orang tua gue. Mama-bapaknya di Bekasi, jadi guru. Bapaknya, kakak gue, ngajar di sekolah. Sedangkan mamanya di bimbel. Ainun dimomong sama mama gue. Itung-itung gue juga ikut momong Ainun.

Kalo gue mendengar cerita-cerita keluarga gue yang kariernya sukses, mereka selalu nyempetin belajar setiap kali ada kesibukan. Ada saudara yang lebih tua dari gue, diceritain kakak gue. Katanya, dia rajin banget belajarnya. Jaga warung sambil belajar. Padahal sama-sama main bola, mainnya jago juga. Akhirnya dia tembus STAN. Gue pengin kayak gitu.

Dengan cerita itu, gue menyempatkan ngerjain soal-soal di buku sambil ngayun ayunan Ainun. Ini cara dia biar bisa tidur. Setelah tiga kali ayun, tiba-tiba Ainun ngerengek. Gue bingung. Padahal sebelum-sebelumnya dia diayun sama siapa pun nggak nangis. Kenapa pas gue ayun malah nangis? Dosa apa aku, ya Allah? Aku gagal menjadi om yang baik.

Ngomong-ngomong soal ayunan, bapak gue bilang kalo ngayun ayunan tapi gak ada bayinya bisa bikin pusing si bayi. Katanya, sih, itu mitos, atau yang lebih parah, itu cuma ucapan bercanda bapak gue. Dia, kan, suka ngomong yang aneh-aneh. Tapi pas gue tanya kebenarannya ke Mama, ternyata benar. Fakta atau mitos, silakan nilai sendiri.

Namun, ada kejanggalan. Kalo mitos itu benar adanya, ayunannya bakal gue bacain soal biar si bayi pinter. Siapa tau jadi profesor.

Suatu malam, ketika gue baru pulang sekolah, gue melihat Ainun lagi tidur telentang di kamar depan. Gue dengan pakaian sekolah lengkap, masih menggunakan topi dan dasi SMA, nyamperin dia, berniat ngajak bercanda. Tatapannya mulai ketakutan ngeliat omnya yang dekil karena belum mandi. Dengan posisi jongkok, gue menutup muka dengan topi, lalu membukanya. Ainun ketawa. Gue lakukan terus-menerus, Ainun tetep ketawa. Seharusnya gue nutupin muka bukan pake tangan, tapi pake topi.

Untuk mengakhir post ini, ada tip dari mama gue. Kata mama gue kalo bayi nangis malem-malem nggak bisa tidur, bisa jadi dia kegerahan. Ditandai dengan bayinya rewel nggak diem-diem. Mama gue punya solusi ketika Ainun nangis di tengah malam. Dia mengganti baju Ainun tengah malam. Dia bilang, “Untung Mama inget waktu Robby bayi.” Oh, ternyata begitu ya. Dengan logika yang sama, seseorang akan ganti pasangan karena kegerahan atau pacarnya rewel.
 
***

Ada yang suka baca Wattpad? Gue ikut-ikutan nulis di Wattpad juga. Kamu bisa baca cerita gue di sini, atau klik di bawah header blog ini.