15 August 2016

Susahnya Ngelamar Kerja di Nyunyu

Minggu malam, gue mengeluh soal kondisi laptop yang nggak bisa dicas ke Rani, temen curhat gue yang paling setia. Gue berharap dapat saran terbaik darinya.

Gue: Laptop gue baterenya nggak nambah pas dicas
Rani: Yaudah buang laptopnya

Oke, saran yang bagus. Hampir aja gue melakukannya saat itu juga.

Kabar baik gue dapat beberapa jam kemudian. Setelah berkali-kali mengutak-atik akhirnya baterai di laptop gue bisa bertambah saat dicas. Mungkin karena sebelumnya bener-bener kosong, jadinya butuh waktu lama buat keliatan baterenya nambah.

Oke, bukan itu bahasan utamanya. Dikhawatirkan laptop gue bakal kenapa-kenapa nantinya (atau gue mengikuti saran Rani), gue harus segera nulis ini. By the way, udah cukup lama, ya, gue nggak ngomongin kegiatan di sekolah. Uuuuh, gue juga kangen. (Silakan keluar rumah untuk muntah.)

Sebelum gue cerita lebih jauh. biar gue buka pengetahuan kalian tentang Nyunyu. Nyunyu adalah sebuah website yang isinya artikel bertemakan anak muda. Alamat website-nya nyunyu.com. Ya, kurang lebih gitu deh.

Sumber di sini


Waktu seneng-senengnya ngepoin website ini, gue pernah punya pikiran, "Kerja di Nyunyu seru ya."

Kebetulan hari ini gue diberi tugas membuat lamaran pekerjaan di sekolah. Sebelum membuat surat, terlebih dahulu temen-temen gue menjelaskan materinya dalam bentuk presentasi. Merasa ada kekurangan dalam penyampaian, Bu Juna membenarkan bahasan-bahasan teman gue yang keliru. Gue bener-bener nyimak setiap poin penting dalam penulisan lamaran pekerjaan. Lumayan, ilmunya bisa kepake di masa mendatang.

Setelah presentasi, guru Bahasa Indonesia, Bu Juna (nama disamarkan) memerintahkan membuat surat lamaran kerja. Gue anggap ini sebagai latihan awal membuat lamaran kerja. Seolah gue benar-benar akan melamar di Nyunyu, gue membuat sepenuh hati dan penuh pengharapan. Benar-benar gue masukin kalimat permohonan buat gabung Nyunyu seolah gue butuh banget duit buat menyambung hidup.

Selesai menulis surat dengan pensil, gue mengajak Diki, teman sebangku, untuk ngumpulin lembar pekerjaan ke meja Bu Juna. Diki, tampak pede, jalan di depan gue yang nggak kalah pedenya. Gue sangat optimis mendapat pujian dari Bu Juna. Minimal, "Yaaa, kamu mah udah layak banget deh dapat kerjaan."

Diki lebih dulu menyerahkan ke Bu Juna, kemudian beliau mengoreksi hasil kerja Diki. Bu Juna perhatikan detail kalimat di kertas Diki. "Masih salah. Ini harusnya begini... begini... begini." Bu Juna mengembalikannya ke Diki, lalu balik ke tempat duduk. Tinggal gue sendiri.

Gue menyerahkan selembar kertas berisi contoh lamaran kerja yang gue tulis dengan keoptimisan tinggi. Bu Juna menatap kertas gue dengan tatapan biasa. Tanpa komentar. 5 detik kemudian...
"SALAH SEMUA!" katanya dengan aksen betawi. Sebagian teman yang duduk di depan ketawa. Dengan tatapan kosong, gue menerima kertas itu dari Bu Juna.
"Sa-saya... salah di mana, Bu? tanya gue gagap.
"SALAH SEMUA! Balik lagi, balik." Lamaran kerja gue ditolak.
Gue kembali ke tempat duduk, tertunduk lemas. Dia nggak jelasin apa salah gue.

Salahku apa, Ya Allah?

Gue kembali berpikir, "Di mana kesalahannya?"

Mikir lagi.

Nggak ada yang lebih sulit dari dicap salah tanpa kita tau apa kesalahan kita. Bukannya nggak peka, tapi bener-bener nggak tau. Perasaan udah dikerjain sesuai dengan apa yang Bu Juna jelaskan. Apa emang sekadar perasaan aja. Entahlah.

Selembar kertas yang udah kena stempel lisan "SALAH SEMUA!" ini gue ratapi. Gue melihat orang lain penuh kehati-hatian menyelesaikannya. Beberapa ada yang benar menurut Bu Juna, bahagia wajah mereka. Gue, masih tetep ngeliatin sekeliling layaknya pengangguran. Nggak punya kerjaan. Kerjaan ada, tapi cuma meratapi kegagalan.

Untung ini cuma latihan. Ya, anggap aja ini nggak ada apa-apanya dibanding terjun di lapangan. Biar mentalku terlatih. Kayak lagu Terlatih Patah Hati-nya The Rain feat Endank Soekamti:

Bertepuk sebelah tangan, sudah biasa.
Disalahkan tanpa alasan, sudah biasa.

Yang kedua itu liriknya diganti sesuai kebutuhan.

Ehm, kalo ngelamar kerja aja ditolak, gimana bisa ngelamar kamu? (Oke, ini ending yang receh)