thumbnail-cadangan
Rangkaian kegiatan setelah pulang sekolah paling enak: mandi - makan - belajar - tidur. Hari Rabu kemarin, gue nggak bisa begitu. Pola yang ada malah begini: Pulang sekolah jam 3 - solat Asar - tidur di masjid - ke tempat les jam 5 - pulang les jam setengah 8 - sampe rumah jam 8 - tidur. Nggak mandi, nggak makan, nggak ngelepas baju pramuka, dengan damai gue tidur pules. Niat untuk nulis yang gue rencanakan sejak sore sirna semuanya. Untung pas jam kosong di sekolah gue sempet nulis sedikit. 

Tidur gue yang terlalu awal, mungkin, disebabkan karena kegiatan siang hari yang melelahkan (dan menyakitkan).

Hari itu, gue hampir seharian berkutat di luar kelas. Dari pagi sampe siang, gue samasekali nggak masuk kelas. Ke kelas cuma nitip tas, itu pun saat baru sampe sekolah. Bahkan gue meninggalkan pelajaran pertama. Itu karena di sekolah gue lagi ngadain kerja bakti. Nah, gue sebagai anak ekskul KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) menjadi pelopor kalo ada acara-acara kebersihan. Jadilah anak KIR yang paling aktif di acara itu. Kalau mau mensejajarkan kami dengan petugas kebersihan, silakan. Kami cukup kuat mendapat perlakuan seperti itu.

Sekitar jam setengah 11 gue izin sama temen-temen KIR karena gue dipanggil buat ikut pelajaran Penjaskes. Sebentar... mungkin lebih enak nyebut olahraga daripada Penjaskes. Oke, lanjut. 
Gue merasa nggak enak kalo nggak ikut pelajaran untuk kali kedua. Untung aja pelajaran sebelumnya nggak ada guru.

Gue langsung masuk ke barisan, bareng temen-temen yang lain. Kegiatan hari itu cuma latihan senam aerobik per individu. Jadi ada empat orang disatukan dalam satu lagu, tapi gerakannya beda-beda. Gue, yang udah terbiasa random, ngaco abis gerakannya. Padahal sebelum nama gue dipanggil gue udah nyiapin gerakan-gerakan bagus. Seperti misalnya, meniru gerakan wudu dan sexy dancer. Sial, waktu giliran gue, semuanya kelupaan.

Akhirnya gue selesai senam. Begitu ngeliat teman yang main voli, gue langsung ikut-ikutan main. Baru main sebentar, gue dipanggil guru olahraga. Gue langsung duduk di dekatnya.
"Bi, kamu ngapain aja di KIR?" tanya guru olahraga.
"Itu, Bu, lagi milah-milah kertas. Kata Bu itu (menyebut seorang guru), 'jual aja, tuh, kertas-kertas dari ruang guru. Udah nggak kepake.'" 
"Oh, gitu," beliau manggut-manggut. "Ya udah, kalo mau bantuin temen-temen kamu, bantuin aja. Tapi nanti kalo mau keluar kelas, izin dulu sama guru. Biar nggak dikira alpa."
"Oh, iya, Bu," gue mengangguk paham. "Nanti aja deh, Bu, bantuinnya. Mau main bola dulu." Gue lari, kembali ke lapangan voli.

Setelah semuanya selesai latihan senam, kami dibebaskan untuk ngapain aja. Ini biasanya yang bikin pelajaran olahraga jadi menyenangkan. Beberapa cewek main basket dan voli. Cowok-cowok main futsal.  Oh iya, kalau diingat-ingat lagim terakhir kali gue main futsal adalah saat classmeeting, Desember 2015. 4 bulan lamanya gue nggak lari-larian minta dioper bola. Uh, kangen beraaat.

Ada beberapa anak IPS keluar kelas menjelang solat Zuhur. Temen gue ngajak mereka main bareng. Mereka setuju, akhirnya mereka jadi lawan kami tanding. Main biasa doang, sih. Nggak pake taruhan. Apalagi merebutkan piala.

Komposisi tim kami masih sama sewaktu jadi juara 2 classmeeting (ehm, pamer gelar). Mainnya masih sama. Gue masih tetep lari-larian nyari celah kosong, berharap dioper bola. Lawan kami kayaknya nggak terlalu serius. Mungkin karena nggak ada 'sesuatu' yang diperebutkan, jadinya main setengah hati. Buktinya, gue sering ngegolin. Padahal gue jarang dapet bola.

Pola main kami juga masih sama. Gue tetap berlari mencari celah kosong, kemudian antara Wahyu, Giyats, dan Ikhsan pasti akan mengumpan gue. Lalu, gue shoot atau oper balik. Pola itu gue lakukan kembali. Gue berlari, mendapat celah kosong dengan membelakangi pemain lawan. Giyats dalam penguasaan bola, digiringnya, kemudian dengan kaki kirinya dia menendang. Bola melewati lawan yang ada di depan gue, lalu...

DUAAAAAAARRR

Meledak ...

... tetet[1] gue.

Tetet gue kena gebok bola futsal.

Perlahan tangan gue menuju area "rahasia" itu. Rasanya di situ itu masih ada bola futsal yang menimpa. Rasanya tetap membekas.Ibaratnya, kalo orang abis kena tonjok ke muka, muka itu masih terasa tangan si penonjok. Nah, begitu rasanya. Kemudian pelan-pelan gue tumbang. Gue tergeletak di lapangan megangin daerah tetet.

"Ya Allah, kenapa harus kena di sini? Azabmu sungguh pedih, Ya Allah. Padahal aku nggak pernah pamer-pamer tetet di lapangan...."

Gue mencoba untuk bangun. Berhasil, tapi kembali tidur-tiduran. Gue meluruskan kaki dan membentangkan tangan sambil menjerit kesakitan. "HADOOOOH" diiringi dengan guling ke kiri dan kanan. Rasanya kayak ada sesuatu yang "tenggelem" dalam tubuh gue. 

Gue kembali berdiri. Bukan, bukan tetet gue yang berdiri. Tetet masih terasa nyeri, kepala masih pusing. Giyats, sang penggebok, nanya ke gue sambil cengengesan. "Bi, gak papa, kan? Hehehe, sorry, By."
"I-iya... santai a-aja," jawab gue terbata-bata. Padahal mau gue pukul tetetnya pake gagang sapu.

Jujur aja, rasanya lebih nyesek daripada diselingkuhin. Kalo ada cowok yang bilang diselingkuhin itu nyesek, coba sini tetet lu kena gebok bola futsal. Atau sekalian bola basket. 

Dengan sok kuat, gue melanjutkan pertandingan. Padahal kalo diliat dari lantai tiga, langkah kaki gue kayak anak yang baru disunat. Hati-hati banget buat melangkah. Sekitar lima menit kemudian, gue dipanggil guru olahraga. Jangan-jangan nanti dia nanyain KIR lagi, batin gue.

Gue memasang wajah seolah nggak ada kecelakaan apa pun. "Kenapa, Bu?"
“Kenapa tututnya[2]? Masih sakit nggak?" tanya guru olahraga. 
Gue diam sebentar. "Tutut?" tanya gue dalam hati. Mungkin yang beliau maksud adalah tetet. "Ehe... ehehehe," gue cengengesan, "udah nggak sakit, Bu."
"Nggak geser, kan, Bi?"
"Hehehe, nggak, kok, Bu." Kemudian guru gue ngobrol dengan orang lain. Gue langsung lari, melanjutkan permainan. 

Bedanya, gue main lebih hati-hati. Karena gue harus belajar dari pengalaman, waktu ngerebut bola, gue lebih siap siaga. Tangan kanan gue taruh di depan tetet, tangan kiri bawa piso. Nggak, nggak begitu. Cukup tangan kanan aja. Tapi tetep aja, pantat gue kena bola. Aduh, ini depan-belakang kena semua. Gawat.

Masih tetap dengan pola yang sama, gue sempet mencetak gol. Dua kali pula. Hebat, kan. Walaupun tetet gue mengalami sedikit trauma, tapi tetep bisa mencetak gol. Karena main bola itu pake kaki, bukan pake tetet, apalagi duit (Asyik, ceritanya nyindir tim bola kaya raya tapi minim prestasi).

***

 [1] Tetet bukan berarti payudara, tapi alat kelamin pria. Sengaja nggak pake huruf ‘I’ demi menjaga "kerahasiaan". Ehm, kayaknya nggak ngaruh. 
[2] Tutut bukan berarti siput, tapi alat kelamin pria. Istilah yang dibuat guru olahraga gue. Sengaja nggak pake huruf ‘I’ demi menjaga "kerahasiaan". Ehm, kayaknya tetep nggak ngaruh.
Read More »

Buat yang belum tau, gue tinggal di sebuah mes.

Mes tempat gue tinggal letaknya di pinggir jalan raya utama. Setiap jam 4 sore, konsumsi utama pemandangan jalan raya adalah macet. Karena, jam segitu adalah jam pulang karyawan pabrik. Selain letaknya di pinggir jalan raya, mes gue dikelilingi banyak pabrik. Makanya, kalo ada yang bilang muka gue tua, sebenernya itu karena kebanyakan kena asep kendaraan bermotor.

Pesan moral; parameter orang jelek bisa diliat dari daerah tempat tinggalnya. Tinggal di daerah industri = Muka berpolusi.

Nah, karena seringnya macet membuat jalanan jadi terasa sempit. Trotoar bukan lagi dilalui pejalan kaki. tapi udah diambil porsinya oleh pengendara motor yang brutal. Ini yang bikin gue kepengen nyetop mereka (pengendara motor yang melintas di trotoar) kayak Daffa, bocah berani dari Semarang. By the way, ada yang kenal anak ini? Dia sempat masuk berita dan masuk beberapa media online.

Ngomong-ngomong, apa sih yang Daffa lakukan? Tenang, dia masuk media bukan karena ngaku-ngaku anak pejabat, nabrak orang di jalan tol, atau bebas hukuman karena anak pejabat.

Sumber: di sini
Daffa Farros Oktaviarto, bocah asal Semarang yang masih berumur 9 tahun mencegat pengendara motor yang melintas di trotoar. Dengan sepedanya, Daffa memberhentikan pengendara motor yang lagi nuntun motornya di atas trotoar. Daffa mencegat kemudian menegur dengan cara marah-marah versi anak-anak. Mengutip dari sumber, “Pokoknya enggak boleh. Ini trotoar bukan untuk kendaraan bermotor, ini untuk pejalan kaki,” ujar Daffa kepada pengendara yang dimarahinya.

Bayangin, bocah 9 tahun pikirannya udah terbuka begitu. Dia tau kalo trotoar itu tempatnya pejalan kaki, bukan pengendara motor, apalagi pedagang kaki lima. Di sebuah acara TV Daffa pernah bilang kalau ada yang balik memarahinya, tapi dia nggak takut. Sebenernya gampang aja bagi Daffa buat berlindung kalo dia dimarahin. Daffa bisa aja nangis di pinggir jalan saat itu juga.

“Hu hu hu... hiks.” Daffa nangis di trotoar.
“Kamu kenapa, Dek?” tanya seorang pengendara. Tatapannya penuh iba.
“Itu, om yang berkumis melanggar peraturan lalu lintas. Dia naik motor di trotoar.”

Kemudian, hukum alam yang berbunyi "anak kecil yang nangis pasti ada abang-abangan di belakanganya yang siap membela" berlaku. Si pelanggar dikejar, lalu dipukul massa.

Beuh, coba ada banyak anak kecil yang punya pikiran begini. Nangis karena masalah bersama, masalah kita semua. Masalah setiap masyarakat dan para pengguna jalan. Masalah yang seharusnya nggak dipikirkan anak-anak seusianya. Bukan nangis karena abis dipelorotin celananya terus tititnya disentil. Eh, nggak. Itu serem.

Gue pun dulu sempat berpikiran kayak Daffa. “Perasaan di sekolah gue diajarin kalo trotoar itu buat pejalan kaki. Kok ini bisa ada tenda pecel lele?” Mau protes, nanti tukang pecel lele nggak jualan lagi. Soalnya enak.

Anak seperti ini yang diharapkan bangsa. Andai di daerah rumah gue ada anak kecil yang berani ngeberhentiin motor yang jalan di trotoar, pasti nggak ada lagi motor-motor bersliweran di trotoar. Sebenernya, anak kecil di rumah gue juga ngeberhentiin, tapi bukan yang jalan di trotoar. Biasanya berhentiin abang-abang naik sepeda yang di belakangnya ada dagangan. Kalo nggak kue putu, ya, es krim.

Gue jadi ngebayangin kalo Daffa juga ngomel-ngomel ke orang pacaran di trotoar.

Di suatu malam, ada sepasang kekasih lagi pacaran. Mereka menepi ke pinggir jalan, memarkir motor di trotoar, standar dua. Si cewek seneng-seneng aja muterin ban motor. Terdengar suara gesekan antara gelas aqua dan ban sepeda. Ternyata itu Daffa dengan sepedanya, menegur pasangan itu.
"Stop... stop! Berhenti dulu." Daffa memberhentikan sepedanya di hadapan pasangan itu. "Lagi ngapain?!"
"Lagi pacaran, Dek," ujar si cowok.
"Nggak boleh!"
"Ih, apaan, sih? Orang lagi pacaran ngeganggu aja. Pulang sana, bantu mama metikin kangkung," si cewek mengusir.
"Pokoknya enggak boleh. Ini trotoar untuk pejalan kaki, bukan buat pacaran."
Mereka pergi meninggalkan motor dan berjalan menghilang. "Ini motornya ditinggal?" tanya Daffa. Tapi nggak ada siapa pun menjawab.

Dari kisah Daffa yang (menurut gue) heroik, gue jadi pengin bisa kayak dia. Negur orang yang lupa apa itu fungsi trotoar. Atau, minimal bisa mengingatkan gue biar nggak naik motor di trotoar.

Naik motor aja nggak bisa. Gimana mau melanggar.
Read More »


Judul: Blogger Baper
Penulis: Komunitas Blogger Energy
Editor: Radiant Afsheen
Desain kover: Tofik Dwi Pandu
Terbit: Januari 2016
Penerbit: Raditeens
Tebal: 172 halaman
Harga: Rp 50.000,-

Bawa perasaan atau yang biasa disebut baper. Setiap orang pasti pernah mengalami hal ini. Hanya saja tingkat kebaperannya yang berbeda. Ada yang bapernya kadang-kadang, ada yang bapernya keseringan. Sampai-sampai saking seringnya, setiap hal yang dilakuin selalu aja dibanding-bandingkan sama masa lalu, susah move on jadinya. 
Baper emang suka datang nggak diundang sih. Misal aja, pas lagi enak-enak makan bareng keluarga, tiba-tiba jadi sedih cuma gara-gara bentuk nasihnya sama kayak yang biasa dimakan bareng mantan. Pas lagi nonton tivi, mendadak sedih, gara-gara bentuk layarnya sama-sama segiempat kayak yang biasa ditonton bareng mantan. 
Ngomongin baper emang nggak ada habisnya. Nah, anak-anak Blogger Energy juga punya kisah bape yang siap kalian tertawa, merenung, dan sapa tau juga bikin kalian ikutan baper karena ceritanya kayak pernah kalian alamin.
Jadi, buat kalian yang rentan baper, siapin dulu hatinya buat baca buku ini, ya!

Daftar isi dari Blogger Baper.



Salahsatu komunitas blogger tempat gue bernaung, Blogger Energy, baru aja menelurkan buku antologi cerpen keduanya pada Januari 2016 lalu. Buat yang belum tau, Blogger Energy sebelumnya pernah menelurkan antologi cerpen berjudul Asem Manis Cinta. Berhubung dulu gue belum gabung BE, makanya gue nggak ikut nyumbang tulisan di buku itu. Begitu tau BE mau bikin antologi yang kedua, gue langsung ambil ancang-ancang buat ikutan.

Dengan tema "ketika blogger jadi baper" ada 16 cerita para Gyerz (sebutan untuk anggota BE) yang dimuat ke buku Blogger Baper. Gue termasuk beruntung bisa ikutan pre-order Blogger Baper, sekaligus ikut menulis untuk buku ini.
Oh iya, mengenai baper, sewaktu melakukan pembayaran buku ini (karena gue beli dengan metode online), gue sempat hampir baper pada mbak-mbak kasir Indomaret. Klik di sini untuk baca ceritanya.

Sewaktu dikasih bocoran line up, gue perhatiin namanya dari atas ke bawah. Hampir semuanya gue ketahui karena kebanyakan orang lama. Untuk Gyerz baru (atau baru muncul) gue nggak ngenalin. Jujur aja, gue udah lama banget nggak ikut ngeramein di BE. jadi kurang paham gimana perkembangannya. Waktu gue cek, kok Gyerz yang gue kenal lama ada yang nggak ikutan. Sayang banget padahal.

Dan, ada beberapa orang yang emang gue nanti-nanti. "Bakal gimana, nih, dia bawain cerita bapernya di buku Blogger Baper?" Sebagian memuaskan, namun ada beberapa yang mengecewakan. Secara keseluruhan, gue tetep puas.
Kalo milih bagian paling favorit, gue milih bab "Rasanya Baru Kemarin" milih Edotz Herjunotz. Twist ending-nya bener-bener ngagetin. Semuanya emang mengalir, kayak jalan biasa. Tiba-tiba di endingnya kita kayak digonggongin anjing. Bikin kaget.

Hmm... mumpung ini review dari blog gue, gue mau membahas sedikit tentang tulisan gue sendiri. Hahaha, memang agak licik, ya. Lumayan, kan, bisa punya bahasan. Tulisan yang gue sumbangkan judulnya Baper Blackberry Messenger.  Setelah selesai menulis dan menyetor tulisan, gue seneng begitu ada nama gue di line up saat pengumuman Akhirnya tulisan gue ikut dimuat juga, batin gue. Sempat cemas nggak bakal dimasukin ke line up karena gue tau banyak banget yang tulisannya lebih bagus dari gue.

Oh iya, cerita dari bab gue adalah, tentang kisah nyata gue waktu awal-awal megang hape android. Sebagian gue fiksikan biar nggak terlalu ketauan identitas aslinya. Ceritanya tentang gue yang dijodoh-jodohin temen, akhirnya malah suka beneran. Kacau abis. Akar dari masalahnya emang sering gue alami, bahkan sejak SD.

Biar terlihat seperti penulis yang quote-able, gue mau ngasih sebuah kutipan dari bab yang gue tulis.
Sebelum gue punya handphone Android, gue udah sering chatting lewat SMS atau inbox di Facebook. Dari zamnnya orang ngirim SMS broadcast "Kalo hari ini Hari Permen, kamu mau ngasih permen apa ke aku?" sampai sok asyik nginbox "Hy, Leh naL?" di Facebook. Semua zaman kegelapan chatting pernah gue cicipi.
Dan satu bagian yang lumayan berkesan buat gue:
Ledekan teman adalah pintu menuju jadian.
Hmmm... udah, deh, segitu aja bahas tentang bab yang gue tulis. Ternyata nggak seru bahas tulisan sendiri. Gue kembali akan bahas buku ini secara keseluruhan.

Dibuka dengan ceritanya Meykke Santoso. Untuk pembuka, dia cukup keren dan lumayan meningkatkan tensi baper. Pemilihan yang tepat buat opener sebuah antologi. Cieelah, bahasa gue sok kritis. Hebring banget pokok ceritanya.

Untuk kover, gue suka banget pemilihan warnanya. Waktu itu di grup BE ada voting pemilihan kover gitu. Ada jingga, biru, dan gue lupa apa lagi. Gue milih jingga, karena sesuai dengan warna pada logo BE. Akhirnya dipilihlah kover warna jingga. Design-nya udah oke. Dengan kata-kata "Kenapa layar monitor ini kotak? Kayak muka mantan gue" di kover depan, cukup menarik minat juga. Rese banget yang bikin. Mantan gue mukanya nggak kotak, tapi segidelapan! Ingat!

Sekarang ke tata bahasa. Entah ada permasalahan di percetakan atau di editing, gue ngerasa kurang nyaman dengan spasi yang kadang hilang. Terus, ada beberapa typo yang luput dari pengawasan. Mungkin editornya kecapekan atau kurang istirahat. Aduh, jadi kena deh Mbak Radiant Afsheen. Maafkan daku, Mbak. Ini demi kebaikan kita bersama. Hehehe.

Sesuai dengan kalimat di bagian belakang buku, "Siapin dulu hatinya buat baca buku ini" memang terbukti bagi gue. Beberapa cerita memang ada yang menohok gue. Dan gue belum siap saat itu. Tiba-tiba aja hati gue jadi sensitif.

Skala penilaian buku ini, dari 1 - 10 gue memberi nilai 7,9. Not bad-lah. Cukup memuaskan dan tentunya di atas KKM. Yeay, tuntas!
Read More »

thumbnail-cadangan
Menurut gue salah satu hal yang bikin SMA jadi seru dibanding SMP atau SD adalah event-eventnya. Salah satunya adalah pensi. Kalo di SMP dulu, setiap ada pensi paling yang tampil cuma siswa-siswinya. Nyanyi, dance, perkusian, dan lain-lain. Berhubung gue nggak bisa nge-band atau dance, gue nggak pernah tampil di pensi. Tapi di Maulid. Hahaha, anak marawis gitu, lho. Gini-gini gue pernah jadi personil marawis di SMP.

Padahal gue pengen banget bisa main alat musik lainnya, minimal gitar. Biar kalo ada acara atau keperluan pamer gue bisa ngegenjreng gitar dengan cool. Karena menurut gue, cowok yang bisa main gitar kodratnya menjadi cowok hampir sempurna (setelah disunat tentunya). Tapi apalah daya gue, yang ngegenjreng gitar aja udah fals.

Puncak keinginan gue pengen bisa main gitar terjadi pada SMP gara-gara nonton pensi di sekolah. Gue inget dulu ada kakak kelas gue di SMP manggung bawain lagu tipe-X. Gila, waktu itu zamannya gue lagi tergila-gila lagu tipe-X. Makanya gue jadi pengen main gitar, biar bisa tampil juga, batin gue. Ya, meskipun penampilan kakak kelas gue minus saxophone tapi tetep kerenlah bagi gue.

Sadar kalo gue nggak bisa main gitar, akhirnya gue memutuskan buat jadi penikmat aja. Kalo ngomongin pensi, gue jadi ingat setahun lalu. Semuanya gara-gara playlist di hape gue memutarkan lagu Bahagia dari Gamaliel Audrey Cantika atau lebih akrab dikenal GAC. Tahun lalu mereka jadi guest star di pensi sekolah gue. Lagunya selalu bikin gue kepengen gerak, pokoknya jadi semangat.

Masih ingat betul atmosfer pensi hari itu. GAC naik panggung jam 3 sore. Penampilan mereka dibuka dengan lagu Ingin Putus Saja, yang sukses bikin gue lompat-lompat. Itu karena aura penampilannya si Gamal yang enerjik bikin semua orang gemes. Sekeliling gue, terutama cewek-cewek, mereka teriak, "GAMAAAAL!" Gue juga ikut-ikutan saking gemesnya. Sore itu Gamal bener-bener jadi bintangnya. Kalo Audrey dan Cantika, cukup oke juga. Mereka cantik. Waduh, penilaian gue mulai ngaco.

Tapi kalo dibanding dengan pensi-pensi SMA yang gue anggap bakal berakhir dengan ricuh, pensi di sekolah gue berjalan cukup aman. Paling ada satu kejadian dari oknum yang ngerusuh. Kejadiannya rada goblok menurut gue.

Jadi, waktu itu ada band tamu yang perform. Band-nya kurang terkenal. Gue pun nggak tau lagu mereka. Mereka bawain lagu yang bit-nya sedang, nggak keras. Di pertengahan lagu, tiba-tiba ada sekitar 4 orang bukan siswa sekolah gue masuk ke area kosong di bawah panggung. Mereka moshing berempat. Saling sikut dan keplak-keplakan. Gue sempat suuzon, kalo mereka ini massa dari band yang lagi manggung, yang khusus diperintah buat ngeramein suasana. Padahal lagu mereka sama sekali nggak cocok buat moshing, tapi kenapa mereka maksa. Goblok banget, kan.

Moshing-nya mereka ibarat atribut dasi di seragam anak sekolah: Kehadirannya nggak ada yang tau maksud dan tujuannya. Coba kalo gue tanya, apa, sih, fungsi dasi pada seragam sekolah? Paling biar keliatan nama sekolahnya. Kalo itu alasannya, kan, bisa pake bordir. Fungsi paling nyata, ya... cuma buat lap ingus. Udah. Tapi kenapa benda seremeh ini bisa jadi masalah besar sewaktu hari Senin? Sampai ada yang mati-matian nyari kalo hilang atau ketinggalan. Biar nggak kena omel waktu upacara.

Balik lagi ke bahasan tentang pensi. Udah pasti kalo acara pensi dipenuhi stan-stan makanan. Waktu itu mental irit gue tetep berkuasa. Gue cuma minum air yang gue bawa dari rumah sepanjang acara. Dari pagi kerjaan gue nggak makan, minum doang. Ya, abisnya gue mikir-mikir buat jajan. Kalo aja pensi ngundang biduan, gue tau apa tujuan gue nggak jajan. Yak, nyawer.

Pensi emang diciptakan buat ngabisin duit. Segala ada photobooth berbayarlah. Man, gue nggak punya duit kalo cuma buat foto-foto dengan background unyu. Kalo patungan, sih, mending, Kayak temen gue yang pacaran. Untung aja mereka pacaran, jadi bayarnya bisa ditanggung sama-sama. Gue, sih, mending nungguin guest star di masjid. Tidur.

Setelah gue selesai nulis ini, gue coba baca-baca ulang. Dalam proses membaca ulang, gue mendengar berita baik dari telepon. Bahwa, gue sekarang punya keponakan. Istri kakak gue dengan selamat melahirkan seorang bayi perempuan. Sekarang, secara resmi orang tua gue punya cucu pertama. Suasananya kayak judul lagunya GAC: Bahagia. Alhamdulillah.
Read More »

thumbnail-cadangan
Gile. Seminggu nggak nulis bikin gue kaku, bingung mau nulis apaan. Karena dalam waktu segitu gue jatuh sakit jadinya gue nolak pelan-pelan kalau ada laptop atau kertas dan alat tulis. Setiap kali ada yang bisikin, "Ayo Robby! Kita nulis," langsung dibales, "Nanti-nanti dulu nulisnya." Begitu terus. Sampe gue liat arsip blog baru tertulis angka dua di total pos bulan April 2016. Terus-terusan nggak produktif nulis bikin hari-hari gue malah kayak kehilangan mentarinya. Beuh.

Sebenernya alasan gue menunda nulis karena seminggu ini gue dihantui rasa mual. Daripada gue paksa nulis kemudian gue muntah di depan kertas atau monitor, mending gue tunda. Repot beresinnya.  
Selain itu, sakit juga membuat gue nggak masuk sekolah. Libur sekolah yang harusnya cuma sampe Selasa, gue lanjutin sampe hari Jumat. Apakah setelah nggak masuk sekolah hampir dua minggu (sebelumnya karena libur UN) bikin gue lupa sekolah? Takutnya pas berangkat sekolah malah nyasar ke Alfamart, terus cium tangan ke kasir. 

Ngomong-ngomong, lebih kurang tinggal dua bulan lagi gue ada di kelas 2 SMA. Berkaitan dengan angka dua, menurut gue, angka dua selalu berkaitan dengan hal-hal spesial. Misalnya lirik lagu:

"Berdua bersamamu, mengajarkanku apa artinya kenyamanan, kesempurnaan cinta"

"Senangnya dalam hati kalau beristri dua"

dan sebagainya.

Selain itu, iklan-iklan juga banyak yang masukin kata dua. Mulai dari "20% lebih besar", "Beli 2 gratis 1", sampe "Beli rumah dapat jandua". Angka dua jadi semakin istimewa.

Kejadian minggu kemarin nggak akan gue lupakan tentang angka dua.

Jumat minggu kemarin (9/4) gue baru aja melakukan sesuatu istimewa, melibatkan angka dua. Bukan, angka dua bukan yang bikin gue menang togel minggu itu. Tapi karena... gue makan mi rebus dua bungkus! Guriiih. Ditambah irisan cabe rawit. Wow, double guriiih. 

Niat gue malem itu cuma buat melepas rindu karena udah lama nggak makan mi instan. Malam itu emang bener-bener nikmat. Makan mi rebus semangkuk, sendirian. Nggak ada yang minta. Malam itu gue bahagia.

Paginya gue nggak les. Badan gue meriang karena malemnya nggak bisa tidur sampe jam 1.30. Demi mendapat pertolongan pertama, gue langsung minta Bapak buat ngerokin gue, dengan harapan semua angin yang ada di tubuh gue bisa keluar semua setelah kerokan. Setelah 10 menit, jadi deh gambar naga di punggung gue. Ya kagaklah! Bapak gue bukan tukang bikin tatto. Lagian mana bisa bikin tatto pake koin logam. Kecuali tatto dari sosis yang dikerok keluar gambar. 

Kerokan tetep nggak manjur. Badan gue makin nggak enak. Malamnya mama gue mengajak gue pergi ke klinik buat berobat. Pas dicek suhu tubuh gue, ternyata mencapai 39°C. Sampai di rumah, mama gue panik. Dia terus-terusan megangin jidat gue, udah turun belum panasnya. Suhu tubuh gue baru bisa turun setelah gue minum obat penurun panas dari klinik, itu pun panasnya naik lagi pagi hari. Dua hari begitu terus, Sampai gue berinisiatif browsing gimana caranya menurunkan panas. Gue ketemu satu web yang ngejelasin tentang kompres. 

Setelah gue baca tip itu sampai selesai, gue jadi inget, kalo cara mama gue ngompres selama ini salah. Biasanya dia ngompres gue pake air dingin, kemudian ditaruh di jidat. Sedangkan menurut Dokter Google (sekarang panggil dia dokter), ngompres yang bener itu pake lap yang udah dibasahi air hangat, ditaro di lipatan paha dan ketiak. Bener, di ketiak. Mungkin tren Cium Ketek Pacar sebenernya lagi dalam pengobatan demam pacarnya. Jangan salah duga dulu. Bisa jadi cowoknya lagi panas tinggi.

Sekarang gue udah mendingan. Buktinya gue udah nulis blog lagi. Ya, walaupun jadinya cuma sedikit, yang penting ada tulisan. Pelajaran untuk diingat: Nggak baik makan mi rebus dua bungkus sekaligus. Apalagi nggak nawarin.

Dan, sekarang gue tau, angka dua nggak akan baik kalo kita serakah. Misalnya kayak kasus gue. Bisa juga berlaku pada program keluarga berencana. Walaupun punya dua anak, tetep aja nggak baik... kalo anak-anaknya suka makan mi rebus dua bungkus. Sendirian. Nggak nawarin.

Pacar dua juga nggak bagus, lho...
Read More »

Ungkapan sayang kepada seseorang itu berbeda caranya. Seseorang bakal percaya orang lain menyayangi dirinya  kalo orang lain udah melakukan suatu tindakan. Contohnya, gue sayang sama mama gue. Suatu ketika mama gue butuh deterjen. Saat itu juga, gue siap pergi ke Indomaret. Abis itu kembaliannya gue beliin cappucino cincau.

Gue pernah dengar ada orang ngasih solusi ke temannya yang lagi curhat: "Jangan percaya kalo pacar lo cuma bilang sayang tapi tanpa tindakan." Dalam obrolan lain, gue dengar seseorang bilang begini: "Kalo udah terlanjur sayang, kadang kita bisa melakukan hal bego demi pasangan." Dari dua pernyataan tadi, kini gue bisa mengambil kesimpulan: Orang yang pacaran berlama-lama pasti rela disuruh terjun dari jembatan penyebrangan demi kekasihnya. 

Tumben-tumbenan gue bikin opening post yang mikir begini.

Ngomong-ngomong soal aksi menunjukkan rasa sayang, baru-baru ini pengguna Instagram digemparkan oleh foto dengan #CiumKetekPacar. Foto itu sukses dapet banyak like, juga komentar pedas. Tagar ini juga sempat jadi trending topic Twitter. Banyak yang protes dengan fenomena ini. Ya, jelaslah. Ungkapan sayang itu bukan cium ketek pacar, tapi cium tangan calon mertua, terus bilang, "Saya mau nikahin anak Om." Halah, tau apa gue soal beginian. Nilai rapor Fisika aja nggak tuntas.

Ini foto yang sempat ramai.



Tangan gue gatel. Kemudian gue mengungkapkannya di Twitter.

Beberapa reaksi di Twitter gue:






Mau diginiin?

Kayaknya nggak cukup di Twitter, Gue akan membedah post tersebut di blog. Karena banyak hal yang mau gue bahas dari setiap pernyataan yang bikin gue geli sampe ketawa ngakak. Sekarang coba liat lagi di caption foto itu. Mari kita telaah bersama.

Relationship Goals

Orang-orang selain jomblo, eh, maksud gue orang yang punya pasangan pasti suka berandai-andai bagaimana tentang kelangsungan hubungan mereka kelak.

"Nanti kalo kita punya anak, mau kamu namain apa?"

"Pasti menyenangkan waktu kamu pulang kerja, buka pintu rumah, anak kita udah nungguin kamu di meja makan sambil bilang, 'BURUAN, KAMPRET! GUE NUNGGU ELO PULANG DARI TADI!'"

"Kalo kamu nikahin aku, kasih aku uang belanja yang banyak. Aku mau beli tas LV, baju gamis, kulkas tiga pintu. Kan lumayan bisa dikontrakin. Jangan lupa, nanti kita kredit mobil."

Yang ketiga itu, relationship atau relationshop?

Mereka yang berpasangan pasti punya tujuan. Hakikatnya, tujuan utama dari menjalin sebuah hubungan adalah agar saling bahagia. Nah, di foto itu, disebutkan "Relationship goals". Apakah mereka saling bahagia? Tergantung yang menjalani.

Kenapa gue bilang begitu?  Kalo gue bilang, "Goblok banget mau-mauan aja nyium ketek. Pasti salahsatunya nggak bahagia", mereka bakal bales, "Yang ngejalanin hubungan ini siapa? Bukan elo, kan?"

Tapi, coba pikir deh. Kalo emang cara bahagiain pasangan itu dengan nyium ketek, ini namanya nggak masuk akal. Kalo ternyata setelah nyium ketek pasangan kita malah kena paru-paru basah, itu yang disebut bikin bahagia? Malah bisa dituntut kena pasal pembunuhan berencana.


Yeaaahh ada yang berani gini ?

Hohoho, kalimatnya provokatif. Kalo nyium ketek pacar bisa bikin masuk surga, gue buru-buru nyari pacar sekarang juga. Kalo gue, jelas nggak berani. Karena sebetulnya gue punya trauma soal ketek. Bentuk trauma gue bukan karena bulu ketek gue nyambung sama cambang, tapi ada hal lain. Kayaknya ini aib, deh. Ah, tapi gue ceritain aja. Oke, ada baiknya gue ceritain. Seserius-seriusnya gue bahas sesuatu di blog, tetep aja ada curhatnya.

Dulu, waktu kakak gue masih tinggal bareng gue, gue sering mengalami dicekokin-ketek-sampe-mau-muntah. Serius. Paling sering motifnya begini: Gue lagi bengong, tiba-tiba bunyi muncul "pret... pret... pret" dari kakak gue yang sebelumnya memposisikan tanga seperti mengepakkan sayap, dengan tangan kiri memegang ketek kanan, kemudian menaruh tangannya di area mulut sampe hidung. Baunya jelas kecut.

Itu yang normal. Ada lagi yang lebih brutal.

Pagi itu gue sengaja bangun agak siang. Begitu mata udah cukup tidur, gue membuka mata. "Tapi kok gelap?" batin gue. Namun gue mencium bau yang familiar, gue langsung teriak, "AAAAAKKK!", kemudian kakak gue ketawa. Ternyata dia naruh keteknya di muka gue! Persis tepat di muka gue.


Kalau pacar kamu berani cium ketek kamu, JANGAN DI LEPAS BROHH !!! Pacar idaman, berani cium Ketek pacar

Satu pernyataan menjanjikan bagi kaum yang sering dikecewakan: Pacar idaman, berani cium ketek pacar.

Mereka yang sering dikecewakan, seringkali kesulitan dengan prinsip pacar idaman. Kalo ditanya "Cowok/cewek idaman lo itu gimana, sih?" sekarang ada varian jawabannya: Berani cium ketek. Sederhana dan cukup menggelitik. Menunjukkan rasa berkorban yang jelas.

"Kalau pacar kamu berani cium ketek kamu, jangan dilepas, broh!"

Gue ngerti dengan alasan "jangan dilepas, broh" itu.  Selain kita sendiri, ternyata ada juga orang yang mau nyium ketek kita. Bagian tubuh yang satu ini emang jarang banget terjamah. Makanya ada sedikit kecemburuan dialami ketek. Begitu tau ada "orang baru" yang menjamah, ketek bakal seneng. Itulah alasannya "jangan dilepas" yang dimaksud pada caption.

dont try this at home

Pernyataan ini menurut gue malah salah besar. Karena tempat teraman dan ternyaman adalah rumah. Kalo mau ngelakuin ini bebas-bebas aja di rumah. Kenapa dia malah nyuruh jangan dicoba di rumah? Justru bahaya kalo di luar rumah, apalagi di tempat umum. Misalnya: di mal.

Kalo ada sepasang kekasih lagi gandengan tangan, mesra-mesraan, pasti ada aja orang yang ngikutin dari belakang. Tutup hidung. Nyemprot parfum. Nenteng jerigen bensin dan korek. "Bakar saja keteknya!"

Apalagi kalo di SPBU. Salah ngirup, bisa-bisa malah ngirup solar.

Sekarang timbul pertanyaan baru. Sampai kapan tren ini bakal bertahan?

Gue prediksi tren ini cuma sensasi sebentar. Karena, kebanyakan orang sekarang udah cerdas ngeliat suatu fenomena, kecuali yang bego. Mereka yang melanjutkan tren ini, menurut gue, adalah orang-orang sakau yang nggak mampu beli lem aibon buat mabok. Dengan pengganti yang "sedikit asam", mereka tetep bisa mabok sekaligus bikin geli pasangan.

Gimana kalo ternyata tren ini bertahan lama?

Mari kita berdoa, agar pabrik deodoran segera gulung tikar dan matahari makin panas. Biar ketek semua orang di dunia bau dan nggak ada lagi yang cium-cium ketek pacar. Kalo emang bau ketek itu sendiri yang jadi sensasi, ya udah, bakar aja keteknya.

Setelah ini, kira-kira cium apa lagi ya? Puser, jakun, ubun-ubun, atau lutut?
Read More »

Wah, udah bulan April. Tanggal 5 pula. Nggak biasanya blog gue melakukan start yang lambat begini. Hmmm, gue mau ngucapin sukses ya untuk kelas 12 yang lagi Ujian Nasional. Adikmu ini percaya, kalian semuanya bisa. 

Tahun depan giliran gue deh ikut UN.

Biar pun libur, tetep aja guru-guru bilangnya 'belajar di rumah". Hasilnya, selama di rumah gue disibukkan dengan tugas. Liburan ini terasa tak menarik lagi. Teman-teman gue ada yang pergi ke luar kota, gue cuma di depan rumah. Nyari angin. 

Nggak, libur gue nggak melulu soal ngerjain tugas. Gue tau, ini saatnya maraton baca novel yang belum gue tamati. Setidaknya, gue punya satu novel yang belum selesai, bahkan sampai post ini di-publish. Ya, gue mau ngomongin novel ini. Ini dia penampakannya:

Bukan yang di bawah

Judul: Norwegian Wood
Penulis: Haruki Murakami
Penerjemah: Jonjon Johana
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) Cetakan keenam, Agustus 2015
Tebal: 423 halaman.
Bahasa: Indonesia
ISBN: 978-979-91-0835-7

Gue beli buku ini di salahsatu toko buku online. Tumben-tumbenan gue mau beli buku yang nggak komedi begini. Alasannya: Pertama, gue sering penasaran dengan Haruki Murakami, yang sering disebut di blognya Raditya Dika. Katanya, Murakami termasuk penulis idolanya. Kedua, cuma iseng-iseng aja mau ngikutin rekomendasi. Ketiga, dari dulu gue tertarik dengan sesuatu yang berbau Jepang. Begitu mendengar Murakami, gue langsung nyari-nyari di toko buku online. 

Buku ini gue beli bulan Januari 2016, dan sampai sekarang emang belum selesai. Bahkan, kalah cepat sewaktu gue baca ulang buku Babi Ngesot. Sebenernya penundaan ini karena bukunya lumayan tebal. Entah kaget atau gimana, gue agak menjauh sama bukunya.

Dikisahkan seorang lelaki bernama Toru Watanabe, 37 tahun. Begitu mendengar lagu Norwegian Wood dari The Beatles, pikirannya mengawang ke masa mudanya. Watanabe terkenang akan Naoko, sahabat SMA sekaligus cinta pertamanya, yang merupakan kekasih sahabatnya, Kizuki, yang meninggal karena bunuh diri. Selain ditinggal kekasihnya, Naoko juga ditinggal kakaknya yang bunuh diri di rumahnya sejak lama. Sepeninggal dua orang terdekatnya, Naoko menjadi wanita yang depresif. Pada suatu hari, Naoko berjalan-jalan bersama Watanabe. Dia menumpahkan segalanya kemudian tidur bersama Watanabe. Namun, itu menjadi hari terakhir keduanya bersama. Watanabe berpisah dengan Naoko.

Kuliah di Tokyo membawa Watanabe bertemu dengan Midori yang--menurut gue--cerewet, tapi tetap menyenangkan. Berbeda dengan Naoko yang lebih terkesan dingin, Midori sangat ceria. Cerewetnya Midori termasuk yang benar-benar keterlaluan. Dia seringkali penasaran pada imajinasi seksual lelaki karena sewaktu SMA dia kuliah di sekolah wanita.  

Selain bertemu Midori, Watanabe juga berteman dengan Kopasgat. Kopasgat adalah teman lelaki seasrama dengan Watanabe yang suka senam di pagi hari. Kopasgat lebih suka memajang lukisan alam di dinding dibanding teman-temannya yang memajang foto model seksi. Selain Kopasgat, ada juga Nagasawa-san. Kalo boleh disebut, dia ini "bad boy". Dia mengaku selama hidupnya pernah meniduri puluhan wanita. 

Secara isi, gue kagum banget sama Murakami. Walaupun ini buku terjemahan, tapi penerjemahannya ke bahasa Indonesia lumayan bagus. Detail deskripsinya tajam. Gimana cara Murakami menggambarkan situasi sangat patut diacungi jempol. Kadang, ada bagian yang terlalu "membosankan", tapi terbayar dengan kejutan yang ada. Saking detailnya penggambaran yang dituliskan, adegan seks yang Watanabe lakukan pun dijelaskan terang-terangan.

Dengan latar belakang kehidupan remaja Jepang, kita benar-benar seperti akan dihadapkan dengan kondisi Jepang saat itu. Seks bebas, mabuk-mabukan, dan kehidupan malam lainnya. Sampai gue membaca halaman 264, total ada 2-3 kali adegan seks digambarkan. Busyet, ngilu banget.

Kalo ada yang follow Twitter-nya Bernard Batubara, dia sering banget bahas buku Haruki Murakami. Bagaimana tentang tulisan Murakami yang surealis dan absurditas, bikin nalar gue nggak nyampe. "Kok bisa ya?"

Dia juga pernah bilang (di blognya atau di Twitter, gue lupa), "Mengikuti cerita Murakami harus sabar. Alurnya monoton." Kalo gue, jujur aja seneng ngikutin kisahnya Watanabe yang kesepian itu. Contohnya, sewaktu dia pergi menggunakan trem, sendirian. Keluar dari trem, secara kebetulan Watanabe bertemu dengan dua orang wanita. Yang satu akan pergi dan satu lagi hanya menemani. Wanita yang menemani temannya itu akhirnya berkenalan dengan Watanabe. Kemudian diajaknya minum sake, padahal masih pagi. Sampai malam, mereka tidur di sebuah hotel, dan kemudian... adegan seks kembali dimulai. Asem banget dah.

Ah, iya. Baru setengahnya gue baca novel ini. Saatnya menyelesaikan sampai selesai. Mumpung masih banyak waktu kosong. Maaf review gue di sini kebanyakan bahas soal seks. Soalnya jalan cerita yang ekstrim ini membuat gue pengen bahas di blog. Jangan serius baca soal seks-nya, tapi makna kesendirian itu yang nggak selalu menyedihkan.

Untuk gambaran ending, gue sendiri belum tau gimana selesainya. Hahaha, kita sama-sama penasaran jadinya.
Read More »