Setahun yang lalu, tepat pada tanggal ini, gue pergi ke warnet tanpa tujuan yang jelas. Seperti biasa, niatnya gue mau nonton video di youtube, tapi entah kenapa tangan gue malah ngetik "Cara membuat blog" di kolom pencarian.

Berawal dari ketertarikan gue dengan blog setelah baca buku dan nonton film KambingJantan, gue jadi berpikir, "Anjrit, kayaknya hidupnya bang Radit seru juga ya ditulis di blog. Kalo gue bikin blog, pasti asik juga kalo nantinya tiap kegiatan yang gue jalani, trus gue tulis, lalu suatu hari nanti bisa gue baca lagi. Kayaknya gue mulai suka sama blog.."

30 Juni adalah hari yang sakral bagi kehidupan blog gue. Karena tepat pada tanggal ini, blog gue genap berumur setahun. Wah, gak nyangka juga bisa curhat di tempat yang bisa betah sampe setahun gini.

Di ulang tahun pertama blog gue, gue mengucapkan terimaksih kepada blog gue. Karena blog, setidaknya gue tau tempat pertama kali buat berkarya lewat tulisan.
Lewat blog, gue bisa nambah teman, di dunia maya maupun dunia nyata. Dan orang-orang yang pernah baca blog gue, kalian semua yang membuat gue semangat nulis. Komentar kalian tentang blog gue mulai dari yang bilang blog gue lucu, gak penting, sampe galau. Semuanya selalu bikin gue semangat nulis, nulis, nulis, dan nulis.

Gue pun sama dengan blogger yang lain, ada saatnya males nulis. Ya, kira-kira bulan Desember 2014 adalah bulan termalas dalam blog gue. Bulan itu, gue cuma menghasilkan 4 tulisan. Emang sih, saat itu gue lagi belajar nulis lebih dari 500 kata, jadinya susah banget mikirin apa yang mau ditulis dalam 500 kata.

Tapi, gue ingat sebuah perkataan saat acara Bulan Bahasa di sekolah gue yang menghadirkan Dara 'Oka' Prayoga sebagai guest star. Katanya, "Yang penting konsisten nulis.." Sebenernya, kalimatnya masih panjang. Selebihnya gue lupa.
Tujuan pertama kali gue bikin blog adalah biar bisa dapat penghasilan. Serius. Gue dulu ngebet banget nyari info adsense, info pasang iklan, sampe info selebriti terhangat. Gue bener-bener nafsu nyari uang lewat blog.

Uang, dengan segala sihirnya, bisa membutakan siapa pun.
Sekitar 4 bulan nge-blog, gue masih dalam pencarian jati diri dan pencarian tujuan "Sebenernya, gue nge-blog buat apa sih?".  Kalau tujuan gue buat nyari uang, kenapa genre tulisan gue adalah personal blog? Kenapa gak buat blog yang sifatnya menjual, seperti blog download game atau video? Mana ada iklan kalau kayak gini terus, batin gue.

Dalam masa pencarian, gue menemukan bacaan yang sangat menampar. Tapi, gue lupa tulisannya gimana. Yang paling gue ingat adalah nge-blog tujuannya buat berbagi, bukan buat yang lain. Maaf, ya. Gue emang lupaan orangnya.

Berkat tulisan itu (yang gue lupa isinya), gue sadar kalau uang bukanlah tujuan dari semuanya. Gue janji sama diri sendiri, kalau gue bakal nge-blog setulus hati. Gue nge-blog buat berbagi, tanpa mengharapkan uang sebagai imbalan.

Setelah gue menerapkan prinsip itu, ada kepuasan tersendiri ketika teman-teman gue baca. Gue-- sebagai orang yang nulis di blog merasa senang kalau teman-teman gue ketawa. Lebih dalam lagi, gue merasa lebih plong kalau abis nulis. Ada sesuatu yang mengganjal dan sukses gue keluarkan. Ya, nge-blog sama boker prinsipnya hampir mirip.

Hal-hal yang bikin minder juga pernah gue alami. Dulu, waktu masih alay (sekarang juga), gue pernah buat post tentang patah hati. Di situ, sama sekali gak ada sensor. Lalu, ada teman gue yang tau kalau gue bikin tulisan yang... hmmm.. najis deh pokoknya. Lalu dia ngebacain di kelas. Kalau diingat lagi, gue nyesel bikin tulisan itu. Akhirnya, gue hapus deh post itu. Bersyukurlah kalian yang sempat baca post nista itu.

Penghambat selanjutnya adalah pertanyaan salah satu teman yang bilang "udah dapet berapa duit dari blog?". Hey bung, hidup gak selamanya bertujuan nyari uang. Begitu pun juga dengan nge-blog. Gak selamanya nge-blog harus menghasilkan uang, tapi yang paling penting adalah kepuasan hati ketika menyelesaikan tulisan, banyak yang baca, terus dikomen "pertamax". Gitu, bung.
Bukan tangan gue, apalagi tangannya De Gea
Sekilas itu aja sih cerita gue setahun. Kalau semuanya diceritain, mending baca semua post gue dari pertama sampai habis, lalu simpulkan sendiri hehehe. Ngetik itu capek tau. *ngomel sama charger laptop*

Yang paling spesial, terima kasih untuk semuanya yang pernah baca blog gue. Tanpa kalian, gue gak akan bisa betah nulis (lebih tepatnya: curhat) sampai setahun lamanya.

Sekarang saatnya, kasih ucapan ke blog gue hehehe. #ngarepabis

Oh iya, 14 hari kemudian yang punya blog ulang tahun juga loh. #LahBodo #GakPeduli #CloseTab.
Read More »

Ada tiga momen yang paling mendebarkan dalam masa-masa sekolah. Pertama, pembagian nilai ulangan. Kedua, pembagian rapor dan ijazah. Ketiga, ketauan guru ngebakar rambut teman di dalam kelas.

Tadi pagi, di sekolah gue ada pembagian rapor. Seperti yang gue bilang sebelumnya, momen ini bener-bener membuat gue deg-degan. "Gue naik kelas gak, ya?" batin gue malam sebelumnya. Tapi, setelah gue pikir-pikir, fenomena gak naik kelas udah jarang ditemui. Apalagi di SMA yang persaingan antar sekolahnya selalu ketat. Gengsi sebuah sekolah dipertaruhkan saat ada salah satu siswanya ada yang gak naik kelas.
Terakhir kali gue dengar ada teman sekelas yang gak naik kelas ketika gue kelas 3 SD. Waktu itu, Yahya-- teman sekelas gue yang gak naik saat itu berstatus jadi kakak kelas gue saat gue masih kelas 2. Jadinya, dia betah berada di kelas 3 selama 2 tahun. Kabar terakhir yang gue dengar tentang Yahya saat gue kelas 9 SMP, dia masih kelas 5 SD. Wah, beri hormat kepada Yahya yang udah mengabdi untuk jadi veteran di SD gue.

Pagi tadi, gue ngambil rapor bareng Mama gue. Iya, sebagai anak yang berbakti kepada nusa bangsa, serta mencintai pengemis bertopeng (emang ada pengemis bertopeng?), gue nemenin Mama gue ngambil rapor. Gue takut kalau gue gak ikut nganterin Mama gue ngambil rapor, nantinya Mama gue malah nyasar gak karuan

"Ummm... bapak wali kelas dari anak saya Robby, ya? Gimana pak tingkah laku anak saya di kelas?"  tanya Mama gue.
"Bukan atuh, Bu. Saya cuma tukang es di sini." kata bapak-bapak yang ngakunya tukang es. "Si Robby siapa sih? Kalo Robby yang saya kenal mah dia tukang jual golok keliling di kampung saya."

Pasti bakal awkward.

Seperti biasa, gue naik angkot ke sekolah bareng Mama gue. Kenangan gue masa kecil menguap kembali ketika tuas gas mulai ditarik ke belakang oleh supir angkot. Dulu ketika gue kecil, gue sering ikut Mama gue beli baju di pasar Cengkareng. Sejak gue kelas 9 SMP udah jarang, bahkan gak pernah naik angkot lagi bareng Mama gue lagi.
Bersama jalannya mobil, semua kenangan itu siap untuk diingat kembali. Bagaimana saat gue masih seneng-senengnya ikut Mama gue beli baju. Lalu ke Ramayana, gue merengek minta naik kereta-keretaan, minta beli bakso yang udah jadi langganan, beli baju bola yang harganya 15 ribu. Huh, indahnya masa kecil gue bareng Mama.

Gak lama, sekitar 10 meter dari tempat kita naik, angkot ini berhenti lagi buat ngangkut penumpang. Penumpang ini orang yang familiar, tapi gue gak kenal namanya. Sebut saja, Bu Anu. Mama gue kenal dengan dia, begitupun sebaliknya.

Mama gue banyak ngobrol dengan Bu Anu. Topik utamanya adalah seputar anak-anaknya. Di mana anaknya bersekolah, sampai udah nikah belum anaknya (tentu ini bukan pertanyaan buat gue). Kedua pertanyaan itu diajukan satu sama lain. Gue-- satu-satunya lelaki, eh ada supir juga deh, cuma nguping mereka ngobrol. Seketika suasana angkot berubah jadi gerobak sayur.

Yang paling gue ingat adalah saat obrolan tentang nikah. "Sekarang anaknya udah nikah, ya?" tanya Bu Anu ke Mama gue.
"Udah." jawab Mama gue cepat. "Baru aja bulan 5 kemarin. Baru sebulan." jelas Mama gue.
"Oh gitu, ya. Enak dong"

Ada jeda obrolan yang terhenti, lalu Bu Anu bertanya lagi ke Mama gue, "Sekarang udah punya istri dong?"

WHAT?? Menurut ngana, gimana? Kakak gue udah nikah, terus masih ditanya "udah punya istri dong?" Gue kagum dengan pertanyaan Bu Anu ini. Pertanyaan yang gak perlu dijawab karena semua orang tau kalau udah menikah, ya berarti dapat bonus yang namanya istri. ((((Bonus))))

"Iya." jawab Mama gue yang singkat dan cepat

Sampai akhirnya Bu Anu turun lebih cepat daripada kita. Bukan karena dia diusir supir gara-gara nyupang leher si supir dari belakang, tapi emang udah sampai tujuan.

Sampai di sekolah, gue langsung menuju kelas gue yang ada di ruang 17. Mama langsung gue suruh masuk ke kelas. Gue nunggu di luar sambil nyiapin daftar hadir orang tua siswa yang mau ngambil rapor buat anaknya juga. Ini foto gue bareng teman gue, Dian. Kita lagi jaga absen.

Ganteng ya? Gagang pintunya.
Sambil duduk, gue mainin pulpen yang dari tadi gue pegang. Berlalu lalang orang tua lewat depan gue. Ada yang bareng anaknya, ada juga yang kebingungan nanyain ruang kelas anaknya yang gak ikut. Gue pribadi malu kalau ngeliat orang tua gue nanya-nanya ruang kelas kayak gitu. Bukan malu sama orang tua, tapi malu sama diri sendiri. Tinggal ngikut orang tua, terus ngasih tau ruangannya aja males banget. Kan kasian kalau misalnya orangtuanya malah nyasar ke kantin, lebih parah lagi ke kantin sekolah lain.

"Dek, kalo kelas 12 IPS 2 ada di mana ya?" kata Ibu-ibu yang datang nyamperin gue, Mutiara, dan Ansmal.
"Uhmmmm..." gue mau jawab, tapi masih menyiapkan kata yang pas.
"Ada di mana deh, Rob?" kata Mutiara ke gue.
"Di bawah kali."
"Kalo kelas 12 IPS 2 mah bukannya di lantai tiga, ya? Kalo yang di bawah kelas 12 IPA."
"Oh, iya. Iya, bener di lantai tiga."

Ngeliat gue sama Mutiara sibuk debat, Ibu-ibu tadi negor kita.

"Jadi, di mana, Dek."
"Gak tau deh, Bu." jawab gue dan Mutiara yang hampir bareng. Mutiara menambahkan, "Lagian juga kelas 12 udah lama gak masuk, jadinya kita juga gak tau."
"Ih, gimana sih? Anak sini tapi gak tau kelasnya." kesel si Ibu-ibu. "Oh gitu, ya, siswa SMA 33." lalu melengos pergi.

Gue yang dengar perkataan si Ibu-ibu sedikit geram. Gue kesal dengan Ibu-ibu itu mengatakan "Gitu, ya, anak SMA 33.". Kalau gue berani ngoceh depan mukanya, udah gue bilangin, "Anak situ juga anak SMA 33, bu. Kenapa gak bawa anaknya aja? Alasannya males.? Jangan akuin jadi anak kalo gitu mah."
Emang, sih, gue juga ngaku salah sebagai siswa yang gak kenal tempat di sekolahnya. Lagian, emang penting, ya, ngapalin seluruh ruang kelas kalau gue-nya juga gak pernah masuk ke kelas itu.
Masih terbayang kata-katanya, gue masih menganggap si Ibu tadi orang yang bersalah. Dia-- layaknya orang awam pada umumnya langsung menilai sesuatu dari pandangan yang dangkal. Dia menilai kalau semua siswa SMA 33 gak tau ruang kelas 12 IPS 2. Padahal, kebetulan aja ketemu dan nanyanya ke gue. Lain lagi kalau nanya ke guru atau ke satpol pp. Pasti langsung dapat pencerahan.

Sekitar 20 menit di dalam, Mama gue keluar dengan membawa map yang isinya rapor. Untuk kurikulum 2013, bentuk rapornya berupa lembaran. Jadi, kalau misalnya rapornya ada nilai jelek, jangan dikasih ke tukang nasi uduk. Nanti ada konsumen nasi uduk (cielah konsumen) ngeliat nilai rapor yang gak tuntas, malah diketawain, terus tersedak, mati deh. Makanya jangan.

Gue langsung buru-buru masukin map itu ke tas dan langsung pulang. Tentunya, bareng Mama gue. Masa iya gue tinggalin di sekolah. Nanti takutnya dijadiin tukang es di kantin.

Gue lihat nilai rapor, lalu membandingkan dengan rapor semester satu. Alhamdulillah, gak ada nilai yang turun. Paling cuma bertahan, yaitu Matematika. B- tetap jadi B-. Emang dasarnya gak ada peningkatan.
Lembar demi lembar gue buka. Sampai di lembar terakhir, gue melihat sebuah pernyataan yang berada di bagian samping kanan yang hampir menjorok ke bawah. Isinya seperti ini:

Keputusan:
Berdasarkan hasil yang dicapai pada Semester 1 dan 2, peserta didik ditetapkan naik kelas ke kelas XI MIA.

Read More »

Sebelum masuk ke topik bahasan, gue mau mengucapkan Selamat Ulang Tahun ke-488 untuk kota yang membesarkan gue. Kota yang membuat gue selalu nyaman. Kota yang gue tinggali sekarang. Benar, kota Jakarta sedang berulang tahun tepat hari ini. Semoga tetap jadi kota yang bikin warganya nyaman dan makmur. Woah!

Masih dalam nuansa Ramadhan. Gak terasa Ramadhan udah berjalan hampir seminggu. Itu artinya kita udah hampir seminggu  puasa (Menurut lo?).  Dan Alhamdulillah, Ramadhan tahun ini jemaah Sholat Tarawih masih memenuhi masjid di lingkungan rumah gue. Semoga rame sampai minggu ketiga. Iya, gue ngarep cuma sampe minggu ketiga, soalnya minggu keempat pasti udah sepi banyak yang pulang kampung.
Kira-kira, ramenya kayak gini

Di antara banyaknya jemaah Sholat Tarawih, gue suka memperhatikan tingkah laku mereka. Bukan berarti gue suka sama mereka, ya. Tingkah laku mereka bisa gue golongkan ke dalam golongan-golongan tertentu.
Ada beberapa tipe jemaah Sholat Tarawih yang berhasil gue temukan. Biar gak penasaran, langsung deh gue beri.

1. Jemaah "fan hunter"
Sebelumnya, gue minta maaf kalau bahasa Inggrisnya salah. Maksud gue adalah, Jemaah pemburu kipas angin.
Tipe jemaah yang satu ini sangat menggemari kipas angin. Entah karena kecanduan kipas angin di rumah atau memang sering kegerahan. Pokoknya, jemaah ini akan mati-matian nyari tempat di bawah kipas. Jemaah seperti ini adalah tipe jemaah yang tidak sehat. Ya...
.
.
.
Ujung-ujungnya, kena masuk angin deh.

2. Jemaah Siap Perang
Kemerdekaan Indonesia memang sudah diraih, tapi aroma pertempuran masih tercium di lingkungan perkampungan. Biasanya, tipe jemaah ini mayoritas adalah anak-anak. Untuk menemui tipe jemuaah ini sangatlah mudah. Ciri-cirinya adalah mereka bakal duduk di belakang masjid, pake sarung, bawa petasan plus koreknya, dan celana dalem gak kebalik. (Abaikan ciri-ciri yang terakhir).

Ciri-ciri lainnya adalah saat kotak amal mulai digilir, mereka salah masukin benda. Bukannya masukin uang malah masukin petasan korek. Apalagi petasannya udah dinyalain.
Mereka duduk secara berkelompok dan menyusun strategi "perang petasan" saat ada ceramah. 

"Jon, gimana nih persiapan kita buat ngelawan anak kampung sebelah?" tanya Roy ke Joni.
"Tenang. Gue udah bawa amunisi banyak hehe.." Joni menunjukkan petasan teko ke Roy.
"Wooow, mantep nih.." kata Hary.

Saat mereka ngobrol, terdengar suara penceramah yang sedang mengutarakan isi ceramah..

"Saat bulan Ramadhan, tidak baik saling bermusuhan, apalagi perang petasan. Sesungguhnya beli petasan adalah perbuatan mubadzir. Lebih baik uangnya dipakai buat sedekah."

"Tuh, Jon. Gue takut nih. Gue takut masuk neraka." kata Roy yang mulai ketakutan.
"Iya, Jon. Mending petasannya dibuang aja deh." sambung Hary.
"Oke oke. Gue juga sebenernya takut."
"Lu takut kenapa? Lu takut masuk neraka gara-gara mubadzir?"
"Gue takut nyalain korek."

Nah, begitulah kira-kira model anak jaman sekarang. Gaya-gayaan doang.
3. Jemaah jomblo
Nah, inilah saatnya jomblo nyari berkah di bulan Ramadhan. Karena gak ada yang mulai nge-chat atau sekedar ngucapin "Met buka puasa", para jomblo gak punya kerjaan lain dan langsung ke masjid.
Ciri-cirinya sangatlah mudah ditemui. Pokoknya, kalau ada orang celingukan ke arah jemaah wanita, itu pasti jomblo. Percaya deh.
Jangan menyangka mereka maling kotak amal, ya. Tingkahnya mirip, tapi tujuannya beda. Kalau maling kotak amal celingukan tujuannya jelas. Buat nyari kotak amal yang kosong. Kalau jamaah jomblo celingukan, tujuannya nyari hati yang kosong.

4. Jemaah curhat
Mungkin tipe jemaah yang satu ini yang paling doyan curhat. Jadinya curhat gak kenal tempat.
Ada saatnya, kita bakal ketemu temen yang udah lama gak ketemu di masjid pas Sholat Tarawih. Nah, temen bakal nanyain kabar kita gimana, sekolah di mana, udah punya cucu belum, udah makan belum, udah pernah main tenis di tengah hutan belum, dan lain-lain.
Tapi, yang namanya curhat pas Tarawih, pasti bakal gak enak banget. Waktu kosongnya cuma pas pindah rakaat. Itu juga gak ada 5 menit. Jadinya curhatnya sepotong-sepotong.
Misalnya, ada anak bernama Robby, bertemu teman lamanya, Ray.
"Rob, lu sekarang sekolah di mana?" tanya Ray.

Imam udah mulai takbir. "ALLAHU AKBAR"

Robby yang bingung mau jawab, akhirnya nunda obrolan dengan Ray, "Nanti deh nanti."

"ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAH..." Imam mengucap salam pertanda siap pindah rakaat.

"Tadi lu nanya apa?" kata Robby yang siap menyambung obrolan.
"Gak jadi. Gue udah tau lu sekolah di mana."

Hening.

Robby dan Ray takbiratul ikhram bareng.

Nah, itu gak enaknya curhat pas Tarawih. Curhat, sih, curhat, tapi jangan pas Tarawih juga. Ganggu jemaah yang lain.

5. Jemaah kilat.
Ini tipe jemaah yang paliiinggggg cepet datangnya. Jemaah ini datang sebelum waktu Isya, tapi sejak Ashar. Jadi kalo ditanya, "Udah di masjid dari kapan?", dia bakal jawab, "Sebelum buka puasa juga saya udah di sini. Nih, saya juga belum buka puasa."
Alasan orang ini datang paling cepat adalah biar bisa duduk dimanapun dia mau. Tapi, ujung-ujungnya malah di bawah kipas. Itu juga yang paling belakang.

6. Jemaah Ngantuk
Jemaah ini adalah tipe jemaah yang udah gak kuat ngelanjutin Tarawih. Buat ngelanjutin Tarawih, dia perlu disemangatin kakek-kakek. "Ayo, semangat! Kamu pasti bisa! Tinggal delapan belas rakaat lagi."
Bisa dicoba pas Tarawih
Ciri-cirinya adalah mulutnya udah nguap mulu. Tanda gak kuat ngelanjutin Tarawih. Matanya berair, kayak sapi gelondongan. Pokoknya khas wajah orang ngantuk.

7. Jemaah Bohong
Nah, ini yang gak boleh ditiru, ya, adik-adik pembaca blog kakak Robby. #MendadakSenior
Ingat, kata mama kalian pernah bilang, "Jangan jadi pembohong. Nanti masuk neraka." Dengerin kata orang tua, ya.
Biasanya, jamaah ini punya modus "mau tarawih" buat ngerjain rencana yang lain. Misalnya yang paling klasik, minta izin mau Tarawih, padahal ke rental PS. Udah gitu, minta uang pula. Ada juga yang ngakunya ke masjid, tapi malah gak Sholat Tarawih. Bener ke masjid, tapi malah buka rental PS di dalam masjid.
Yang lebih parah, dari rumah bilangnya ke masjid mau Tarawih, tapi pas udah sampai masjid malah pacaran di tempat wudhu. SIAPA, TUH, YANG KAYAK GITU?

Ya, kira-kira begitulah tipe-tipe jemaah yang gue lihat berdasarkan tingkah lakunya. Karena gue cuma melihat dari sisi luarnya, gak mengupas secara dalam tentang mereka. Karena ibadah itu sifatnya privasi, dan gak perlu dipamerkan. 

Asik. Ngomong apa gue barusan?

Kalau ada tipe jemaah yang lain, bisa tambah dikomentar. Atau, salah satu tipe menunjukkan "gue banget". Pasti ada yang kayak gitu. Gue juga ngarepnya ada, khsusunya yang jemaah jomblo, karena gue juga....

Ya, tau sendiri lah jawabannya. 

Selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Perbanyaklah amal kebajikan di bulan mulia ini.



Read More »

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh rahmat. Gak heran, setiap kedatangannya selalu dinanti umat muslim. Orang-orang akan berlomba-lomba dalam beribadah. Sholat Tarawih, sedekah ke masjid, dan tidur seharian. Kan tidurnya orang puasa juga ibadah. Katanya, sih.

Tanggal 17 Juni kemarin, merupakan malam yang menggembirakan bagi umat islam. Karena malam itu, udah mulai sholat Tarawih. Udah jadi budaya di masyarakat kalau awal Ramadhan masjid selalu penuh dengan orang yang sholat Tarawih. Saking penuhnya, ada yang gelar koran di luar masjid. Ternyata, bukan lagi sholat Tarawih. Malah jualan serabi di luar masjid.

Di malam pertama itu, sangat beda dengan tahun sebelumnya. Gue lagi ada di Bekasi, di kontrakan kakak gue. Ini pertama kalinya gue sholat Tarawih di luar Jakarta. Menurut gue, ini sesuatu banget. Seketika gue merasa jadi musafir.
Malam itu, gue berangkat ke masjid bareng kakak gue. Sebelum masuk ke masjid, gue lepas sendal kesayangan gue. (Oke, gue yakin semua orang tau hal ini). Saat melepas sendal, gue punya feeling yang gak enak. Feeling gue mengatakan, "Gue gak mungkin nikah sama Park Shin Hye".
Ah.., pokoknya feeling gue buruk malam itu.

Selesai sholat Tarawih, gue keluar lewat pintu (Lagi, ini info yang semua orang tau). Sesuai dengan feeling gue, selesai sholat Tarawih, gue tengok ke tempat sendal dan gue gak ngeliat sendal kesayangan gue yang gue pake ke masjid. Merk sendalnya cavril (sengaja typo biar merk-nya gak ketauan).

Entah sendal gue yang bagus atau gue yang terlalu ganteng, tiba-tiba sendal gue hilang gitu aja. Menurut gue, ada salah satu jamaah yang sendalnya ketuker sama sendal gue. Atau ada orang yang sengaja punya pikiran, "Wah, ada sendal bagus. Ambil aja lah, lumayan buat lauk makan sahur." Atau lebih ekstrim lagi, ada mata-mata dari Jakarta memantau pergerakan gue, sampai akhirnya... hap... sendal gue hilang dibawa oleh mata-mata dari Jakarta. Ah, itu cuma khayalan gue. Gak boleh su'uzan, ini bulan Ramadhan.

Gue cari-cari, tetep gak ada. Gue cari di bawah motor orang gak ada, gue cari di bawah pohon tetep gak ada juga. Akhirnya, gue nangis dalam hati, "Tolong lah, saya di sini cuma musafir dari Jakarta. Masa saya harus kehilangan sendal kesayangan saya. Itu sendal pemberian.."

Gue pun pulang ke kontrakan kakak gue dengan keadaan nyeker. Naas. Gue tidur dan mencoba melupakan semuanya.

Bangun sahur, gue merenung dari kejadian semalam. Mungkin, ada hikmah yang gue dapat dari Ramadhan tahun ini. Sesuatu yang kita punya semua hanyalah titipan. Ada kalanya kita harus berpisah dengan sesuatu yang kita sayangi. Jika kita sayang terhadap sesuatu, kita pun harus menyiapkan mental kuat untuk persiapan kehilangannya. Dan, gue harus merelakan sendal cavril kesayangan berpindah ke lain kaki.
Selamat tinggal sendal cavril. Jasamu tak pernah ternilai oleh apapun. Walaupun pernah kena tai kucing, kau adalah sahabat kakiku. Sesuai dengan slogan produknya, Cavril, tetap yang terbaik.

Di waktu sahur, Mama gue nelepon kakak gue buat memastikan kedua anaknya udah bangun sahur atau belum. Mama gue gak mau jadi 'Mama-mama yang lain' yang disalahin anaknya gara-gara gak bangunin anaknya sahur. 

Suara seseorang terdengar dari seberang sana.

"By, udah bangun belum?" tanya Mama gue.

Gue yang masih dalam keadaan setengah sadar dan di hadapan sayur kangkung menjawab, "Udah, Ma," lalu gue menceritakan tentang sendal gue, "Ma, semalem pas tarawih sendalnya ilang."

Dengan santai, Mama gue menjawab, "Ya udah.."

Read More »

Sebentar lagi gue naik kelas (Aamiin). Gak terasa juga sih sebenernya jadi anak kelas 10. Dan gak terasa juga gue udah pake baju putih abu-abu selama hampir setahun. Cepet gede juga ya gue.

Sebelum naik kelas (Aamiin), hari Senin tanggal 15 Juni nanti, gue harus mulai mulangin semua buku paket dari semester 1 sampai semester 2. Buku paket gue-- yang selama ini berperan jadi bantal di kelas-- semua jumlahnya ada 19 buah. Jika semua buku ditumpuk ke atas, buku ini lumayan buat jadi fondasi dasar pembuatan menara yang kelak bisa menyaingi Monas. Sebuah bangunan yang diselipkan pendidikan di dalamnya. Hasek.
Dalam memulangkan buku, ada beberapa ketentuan. Ketentuan itu tertulis di kertas yang Ibu-ibu penjaga perpustakaan kasih ke semua siswa pada hari Rabu. Di situ tertulis, harus mengembalikan semua buku. Jika ada yang hilang, maka wajib menggantinya. Kalo gak diganti, gak bakal dapet surat bebas pinjam. Surat bebas pinjam dipake saat anbil rapor. Artinya, buku paket hilang satu, pupus sudah buat pamer nilai rapor ke orang tua (terlepas dari bagus atau nggaknya nilai rapor).

Hari Kamis, gue nyiapin buku yang nantinya bakal pindah ke tangan adik kelas. Gue jadi prihatin dengan adik kelas yang nantinya dapet buku bekas gue. Di salah satu buku, gue pernah nulis di bagian catatan (biasanya ada di bagian belakang buku). Di situ gue curhat tentang guru yang gak ngenakin cara ngajarnya. Ada juga curhatan tentang gue yang jadi secret admirer. Gue takut mereka jadi gak konsen dan bakal marah-marah, "Anjrit, isinya jadi buku diary ini mah."

Saat menyiapkan buku, gue cek dan hitung, semuanya cuma ada 18. Gue merasa ada yang janggal, "Lho, apa yang salah nih?", pikir gue. Semuanya gak ada yang salah, celana gue pun gak kebalik. Terus juga kelabang kalau bertelur gak pernah sampe pingsan kayak burung maleo. 

Ternyata setelah gue ingat lagi, seharusnya ada 19 buku yang  dipulangkan. Gue cek satu per satu buku apa yang hilang. Dan... gue kehilangan buku Prakarya. 

Saat itu gue mulai panik. Gue takut gak dapet surat bebas pinjam. Dan gue takut rapor gue gak bakal dikasih. Seluruh isi lemari udah gue cek. Gak cuma lemari buku, gue juga cek lemari baju. Syukurlah, ketemu... celana dalem gue yang ada di tumpukan baju paling bawah. Masih tampak seperti baru.

Balik lagi ke pencarian buku. Buku Prakarya gue gak ketemu juga. Gue langsung tanya temen-temen sekelas di grup chat line apakah mereka megang dua buku prakarya. Dua jam berlalu, yang jawab cuma satu orang, itu juga pas chat masih awal. Iya, di sebuah perkumpulan, baik dunia nyata, maupin dunia maya, gue sering merasa terasingkan dan gak dianggep. Oke, gue gak boleh cengeng. Besoknya, gue berniat ke toko buku beli buku prakarya.

Jumat siang, setelah sholat jumat, gue langsung pergi ke Gramedia Mall Daan Mogot. Belum sempat masuk mall, hujan turun menandakan ada sesutau yang gak enak. Iya, tas gue basah.

Momen ini bikin galau

Setelah reda, gue langsung masuk ke dalam mall dan buru-buru ke Gramedia. Setelah gue cari, ternyata gak ada. Perasaan, gue dulu pernah liat buku itu, tapi gue mikir, "Pasti buku di sini cuma ada buku pelajaran pokok. Mana ada buku Prakarya di sini."
Kehilangan fokus, akhirnya gue liat-liat buku yang lain. Akhirnya, gue malah beli buku Back To You dari Dari 'Oka' Prayoga. 

Setelah gue rasa gak bakal ketemu buku Prakarya di Gramedia, gue baca buku yang udah di buka bungkusnya. Nah, ini sebenernya yang bikin gue agak jengkel sebagai konsumen buku. Orang-orang suka buka bungkus buku, tapi gak dibeli. Mungkin udah kepengen baca, tapi lupa bawa duit. Gitu deh kayaknya.
Di tengah-tengah asyiknya baca buku, gue dikagetkan oleh suara seseorang. "Mas, kalo mau baca buku jangan sambil tiduran di lantai gini dong..". Eh, bukan gitu, ya ceritanya. Tiba-tiba aja gue inget kalau deket sekolah gue ada toko buku khusus buku pelajaran.
Setelah gue bayar buku yang (gak sengaja) gue beli, gue langsung ke toko buku deket sekolah. 

Sesampainya di sana, gue tanya ke mbak-mbak penjaganya, "Mbak, buku paket Prakarya kelas sepuluh SMA ada ngga?" 

"Yang penerbitnya apa?" 

Jujur, gue gak terlalu sering buka buku Prakarya. Jadinya gak tau apa penerbitnya. "Saya gak tau, Mbak", lalu gue menyebutkan ciri-ciri buku yang gue ingat samar-samar, "Pokoknya yang ada warna cokelat-cokelatnya gitu."
Penampakannya seperti ini

"Coba deh saya cari dulu." 

Setelah dia nyari-nyari, ternyata gak ada. "Gak ada, De. Adanya yang buat SMK."
"Oh gak ada ya. Ya udah, mbak. Makasih."
 
Keluar dari toko buku barusan, gue tertunduk dan membayangkan banyak hal. Gue membayangkan gimana nantinya nasib rapor gue karena gue gak bisa ngebalikin buku Prakarya. Pasti nasibnya bakal sama kayak koran-koran bekas. Cuma jadi bungkus nasi uduk. Gue gak bisa ngebayangin orang yang makan nasi uduk, terus bungkusnya pake rapor gue. Sambil menikmati kerupuk dan menyuap nasi, dia ngeliat nilai rapor gue, lalu berkomentar pedas, sepedas sambel yang ada di nasi uduk. "Bego amat nih orang. Nilai Biologinya gak tuntas."

Sambil tertunduk pulang menuju angkot, gue juga terbayang gimana penyesalannya kehilangan buku (yang sebenernya gak terlalu penting itu). Betapa sulitnya mengganti suatu hal yang sudah hilang. Padahal, sebenernya gak terlalu penting, tapi kita butuh. Nganggep gak penting, tapi sebenernya butuh. Nah, itu kesalahan gue menyikapi buku Prakarya yang sekarang nasibnya udah gak tau kemana. Ya... aku harap kamu (buku Prakarya) bisa ditemui oleh adik kelas yang bener-bener bisa ngejaga kamu. Semoga belum ada yang jadiin kamu sebagai kertas nasi uduk. Bukan jadi bungkusnya, tapi jadi tissue.

Percayalah, semua yang ada di dunia ini hanyalah titipan. Kita cuma diamanahkan untuk menjaganya. Dan gak perlu disesali saat kita kehilangannya. Karena semua hanya titipan.
Read More »


Hari terakhir UAS bukan berarti perjuangan belajar gue berakhir. Karena masih ada kelas 11 (kalau naik kelas). Inilah saatnya persiapan untuk... free. Ya iyalah, mau libur semester gitu. Kan capek kalau ke sekolah terus. Tapi, gak bakal ada pemasukan selama libur semester. Huft.

Ujian hari ini cuma mengujikan dua mata pelajaran, Bahasa Inggris dan Biologi. Pelajaran yang sama-sama pernah gue jadiin bahan untuk tulisan Hantunya Pelajar. Buat yang penasaran gimana Hantunya Pelajar edisi Biologi dan Bahasa Inggris, bisa klik yang tulisan yang berwarna biru di atas.

Sip. Langsung mulai saja. Nyalakan kembang apinya...

Ujian pertama, Bahasa Inggris.
Ujian Bahasa Inggris sebenernya buat gue adalah pelajaran yang lumayan sulit. Secara, gue adalah keturunan beruang Jerman yang sehari-harinya gak pake Bahasa Inggris. By the way, beruang Jerman kalo bertelur bakal pingsan kayak burung maleo gak?

Sebelum mulai ujian Bahasa Inggris, sebenernya gue udah mengalami gangguan psikis yang cukup berat. Gangguan yang sangat menggangu itu adalah... Gue mau boker.
Di saat gue harus mengerjakan soal yang dikerjakan dengan konsentrasi penuh, gue malah membagi konsentrasi nahan boker biar gak... muncul keluar. (((muncul keluar))).
Orang-orang ngerjain soal cepet-cepet biar bisa belajar di ujian selanjutnya, gue ngerjain cepet-cepet biar bisa mengeluarkan hasrat yang sangat mengganggu ini. Plis, ini udah di ujung.

Kenapa gak izin ke pengawas aja?

Maunya sih gitu. Tapi, kalau gak diselesain langsung, nanti gue malah kelupaan di WC, ketiduran, dan akhirnya... gak selesai deh. Tadinya sih, pengen gue bawa soal dan kertas LJK ke WC, tapi kayaknya gak enak deh kalau harus ngerjain di WC sambil ngeden.

Oke, itu tadi menjijikan. Gue harap gak ada yang lagi makan di sini.

Tentang soal ujiannya, bagi gue gak terlalu mudah. Iya, medium lah tingkatannya. Gue gak ngerti di bagian tenses dan reported speech. Dua materi itu emang bikin gue kebingungan memahaminya.
Selebihnya, gue bisa. Ya... kira-kira 19 dari 50 nomor gue kerjakan dengan lancar. Sisanya, gak tau deh gimana.

Ujian yang selanjutnya, sambutlah sang penutup.. Ini diaaaa.... BIOLOGI.
Legaaa, satu kata yang keluar dari mulut gue setelah keluar dari WC. Biar gak ada gangguan psikis lagi dan lebih konsentrasi ngejain soal.

Biologi kalau belajar sekaligus baca buku paket, gak bakal masuk. Lebih baik, baca contoh soal atau rangkuman. Di dalam bayangan gue mengenai soal Biologi, kayaknya bakal jadi mudah dan soalnya hampir mirip dengan tahun kemarin, secara dari pengalaman semester lalu yang ngambil beberapa soal dari soal tahun kemarin. Ternyata, bayangan gue sangat jauh beda. Soal kali ini... susah.

Ada beberapa yang kebingungan dengan soal ini. Mereka semua punya bayangan yang sama kayak gue. Di antara mereka ada yang nyontek (pasti), googling, buka buku, dan buka celana. Yang terakhir itu gue, ya. Ya... emang sih soal Biologi itu susah, tapi lebih susah lagi ngalahin hasrat untuk berbuat kejahatan. Ini yang dilakukan orang-orang gak jujur. Asik, pesan layanan masyarakat tentang bahaya buka celana di ujian.

Tapi, di dunia ini gak ada yang susah kalau kita punya niat dan usaha. Gue dengan metode mengingat langsung cepat mengerjakan soal. Tapi, belakangan gue baru sadar kalau ingatan gue sedikit rusak. Jadinya gak tau deh dengan nasib jawaban Biologi gue. Semoga tuntas dan gue bisa cepet-cepet.

**

Itulah akhir dari UAS gue. Dan berakhir juga laporan kegiatan gue selama UAS yang gue catat di blog. Sampai berjumpa 6 bulan lagi di tulisan yang paling selau: UAS (Ujian Anak Selau). Muaaahhh.

Semoga gue bisa naik ke kelas 11. Aamiin.
Read More »

Hari ini adalah hari kelima ujian. Itu artinya, besok adalah hari terakhir ujian. Kayaknya terlalu cepet ujian berakhir, begitulah kata orang rajin. Gue sih mending cepet-cepet selesai aja deh. Udah capek ngitemin lembar jawaban terus.


Hari ini, ada 2 pelajaran dan 1 bonus. Apa tuh bonusnya? Makanya baca dulu sampai selesai. Langsung aja deh dimulai.

Ujian pertama, Bahasa Indonesia.
Pelajaran yang paliiiinnng bikin ngantuk. Kalau gue baca novel, blog, atau bacaan ringan lainnya, gue bisa betah berjam-jam baca. Giliran baca soal Bahasa Indonesia, yang panjangnya gak seberapa dari novel, malah cepet ngantuk dan sering pusing. Padahal, sama-sama bahasa Indonesia. Heran deh.

Terbukti tadi pagi. Ketika gue baru mengerjakan 10 soal, tiba-tiba kepala gue pusing, mata gue ngantuk, celana gue kebalik. Mulai saat itu, gue udah gak fokus lagi ngerjain soal gara-gara celana gue kebalik ngantuk. Jujur, semalem gue tidur jam 12 malam. Gue gak bisa tidur gara-gara kepikiran satu hal, "Kok celana gue kebalik, ya?!" Ampun deh, celana kebalik bikin kepikiran.
Tapi dengan kekuatan sepenuh jiwa dan raga, gue bisa menyelesaikan semua soal tanpa sisa. Gak ada hambatan yang gak bisa ditaklukan. Secara, gue adalah seorang ahli dalam beternak ketombe. Apa hubungannya? Gue juga nyerah.

Untung gue gak ketiduran pas ujian Bahasa Indonesia.

Selanjutnya, Penjasorkes.
Buat yang belum tau, Penjasorkes itu sama kayak PJOK, Penjaskes, atau istilah umumnya Olahraga. Olahraga untuk pelajaran anak SMA biasanya cuma bola basket, bola voli, sepak bola, atau senam lantai. Kalau olahraga mahal kayak panahan, golf, atau rugby kayaknya belum pernah gue temukan di SMA manapun. Kalau ada yang punya pengalaman SMA-nya ada olahraga mahal, kasih tau di kolom komentar, ya!

Biasanya ujian Penjasorkes bakal lebih dipentingin dari pelajaran Bahasa Indonesia dengan alasan lebih banyak hapalannya. Cara memainkan, nama pencipta, ukuran lapangan, dan lain-lain. Beda kalau pelajaran Bahasa Indonesia. Paling persiapannya cuma tidur lebih awal biar gak merasa kurang tidur. Ini adalah pandangan yang salah. Jangan sekali-kali meremehkan Bahasa Indonesia, bung! Gitu aja sih.

Di ujian Penjasorkes, gue mengerjakan ujian paling terakhir. Sedih kalau inget ngerjain soal dengan berkahir disuruh selesain dengan buru-buru. Lagian temen-temen gue udah pada selesai, sedangkan waktu masih sisa 30 menit. Dasar mental anak sekolah pas ujian, Cepet selesai, cepet pulang. Kampret semua lau~

BONUS!!!
Remedial Ekonomi.
Sesuai kata gue kemarin, hari ini gue ada remedial Ekonomi. Remedial yang sebenernya gak gue harapkan, tapi harus dilakukan. Ya... inilah salah satu usaha biar gak kena tampol ortu setelah ngeliat nilai Ekonomi di rapor. Biar gak ketauan kalau nilai gue ancur.

Setelah selesai ujian Penjasorkes, masih ada lagi ujian lintas minat Bahasa Jepang. Karena gue gak ikut lintas minat Bahasa Jepang, jadinya gue harus nunggu mereka (orang yang lintas minat Bahasa Jepang) selesai ujian karena janjiannya gitu sama guru Ekonomi gue.

Hal yang harus gue lakukan pertama kali untuk menghindari kebosenan yang bakal melanda gue, gue nyari temen sependeritaan yang mau remedial juga. Kan lumayan, bisa curhat-curhat. Siapa tau bisa jadian. Orang yang gue cari adalah David, si pemimpin upacara. Gue kenal dia di paskibra waktu semester satu. Sekarang, gue udah gak paskibra lagi karena menurut gue paskibra gak seru.  Dia anak IIS. Dia juga kena remedial setelah nilainya.... Ah, kayaknya gak etis ngasih tau nilai buruk seseorang.

Setelah di dalam ruangan, menuju remedial...

Remedial Ekonomi kali ini digabung dalam satu kelas antara lintas minat Ekonomi (bagi anak MIA) dengan Ekonomi Peminatan (bagi anak IIS). Untuk pertama kalinya, gue satu ruangan dengan anak IIS. Dan kesan pertamanya adalah..., Kampret! Berisik banget!
Kelas gue, X MIA 3, yang menurut guru Biologi adalah kelas MIA paling berisik, kalah berisik dengan ruangan yang saat ini gue rasakan. Ternyata bener, lebih berisik anak IIS atau anak MIA. Bukannya gue mau ngerendahin anak IIS, lho, ya. Tapi, emang gitu.

Metode remedialnya adalah kita dikasih 20 soal yang cuma ditampilkan di layar dan harus buru-buru jawab. Ada dua tipe, soal nomor ganjil dan soal nomor genap. Gue kebetulan kebagian soal nomor  genap. Setelah mulai mengerjakan, gue ngeliat soalnya, "Lah, ini soal yang kemarin udah pernah gue kerjain. Soal ini yang bikin gue remed."
Nomor demi nomor berjalan terus. Setelah selesai semua, gue sangat yakin nilai gue bisa mencapai 80. Lembar jawaban dikumpulkan, lalu dikoreksi.

Semua lembar jawaban yang udah dikoreksi, langsung dikasih ke guru. Guru gue langsung menyebutkan nilai dan siapa aja yang remedial.

"Jeni... 100. Tuntas."

"Timo... remedial. Kamu pasti gak belajar."

"Faiz... tuntas."

"Toprak... kamu kentut, ya? Bau walang sangit. Pergi sana." abaikan ini.

Giliran gue, "Robby Har-yanto... REMEDIAL." Aw, momen yang sangat-sangat kelabang.

Padahal gue udah yakin dengan jawaban-jawabannya. Gue yakin ada konspirasi di dalamnya. Ah.., sudahlah. Terima nasib aja.

Kegiatan gue hari ini cuma sampai sini aja. Gue masih kesel dengan remedial Ekonomi. Waktunya gue galau *nyetel lagu Pedih - Last Child*
Sekian dan Gracias.
Read More »

Senin ini gue diselimuti oleh kabar duka yang sangat menyesakkan. Untuk pertama kalinya, gue gak nonton final liga champions yang malam itu mempertandingkan antara Barcelona vs Juventus.
Padahal, dari 2007 gue selalu nonton final, walaupun bukan jagoan gue yang main, yaitu AC Milan. Mulai dari AC Milan juara liga champions tahun 2007 sampai Real Madrid meraih La Decima, akhirnya tahun ini gue gak nonton final liga champions. Sabar, ya, untuk para Juventini. Tim kalian tetep jadi yang terbaik kok, walaupun cuma di Italia :p

Balik lagi ke kegiatan gue yang udah berjalan 3 hari, yaitu UAS atau orang lain menyebut UKK. Gue sebenernya masih bingung dalam penggunaan UAS atau UKK. Yang mana yang bener? Cuma cewek yang bener -- begitulah kata cowok-cowok.

Untuk urusan UKK atau UAS, kita skip aja. Gak penting juga kan kalau dibahas terus-terusan. Sama gak pentingnya dalam membahas "Kenapa burung maleo selalu pingsan setelah bertelur?" Itu mah urusan mereka lah, gue gak mau mikirn. Kecuali, kalau gue yang ngehamilin burung maleo itu. Oke, semakin kesini semakin gak penting.
   
Agak ngeselin juga kalau UAS harus kepotong libur hari Minggu. Jadinya pengen buru-buru udahan UAS. Tapi, gak pap deh. Ada refreshing dua hari.
UAS hari keempat menyajikan mata pelajaran yang gak terlalu sulit, dan untuk pertama kalinya cuma dua pelajaran. Matematika Peminatan dan Agama. Kenapa gue bilang gak terlalu sulit? Karena keduanya bukan pelajaran Ekonomi atau Biologi. Cuma Biologi dan Ekonomi pelajaran di dunia ini yang gue bilang sulit. Banyak hapalannya.

Sebelumnya, gue juga udah ulangan Matematika Wajib. Nah, di sinilah akan gue jelaskan perbedaannya.

Ujian yang pertama, Matematika Peminatan
Bedanya Matematika Peminatan dengan Matematika Wajib adalah kalau Matematika Peminatan adalah pelajaran yang khusus buat anak IPA. Di IPS gak bakal ditemuin pelajaran Matematika Peminatan, cuma ada Matematika Wajib.

Kalau pelajarannya gimana?

Sama aja. Cuma memperdalam dari Matematika Wajib. Paling bedanya kalau Matematika Peminatan lebih ke 'anak IPA banget'. (Itu istilah yang gue bikin sendiri, gue juga bingung apa bedanya). Kayaknya segitu aja deh... postingan kali ini. "Eh, enak aja lu, Rob. Baru dikit nih."

Maksud gue, segitu aja bahasan tentang Matematika Peminatan-nya. Daripada makin ngaco, terus gue ketauan sama guru gue lalu dikutuk jadi penggaris kayu, kan repot.

Semua soal isinya tentang Trigonometri, mulai dari yang dasar sampai ke pertidaksamaan. Total soal yang diujikan adalah 25 butir soal dengan waktu 90 menit. Kayaknya dikit banget soalnya. Iya, kalau yang tau rumus dan caranya. Kalau bagi gue, yang cuma bisa pake cara masuk-masukin pilihan jawaban, 90 menit adalah waktu yang singkat buat mengerjakan 25 soal. Itulah enaknya soal Trigonometri, bisa nyocokin dengan pilihan jawaban.

Untungnya, soal yang keluar gak susah-susah amat. Gak kebayang kalau soal yang keluar bentuknya begini:

"Gini, dok. Sekarang suami saya jadi jarang pulang ke rumah, padahal kepuasan saya tiap malam gak pernah terpenuhi. Alasannya sih, katanya saya yang jarang tahan lama. Abisnya, suami saya gak kira-kira ngajak main PS sampe jam 4 pagi, pantas kepala saya pusing. Saya gak pernah puas kalau main PS sama suami saya. Saya kalah terus.."

Yang keluar malah persoalan kehidupan rumah tangga yang doyan main PS. Hvft.

Pokoknya.., gue suka dengan pelajaran Matematika Peminatan. I love you, Park Shin Hye.

Selanjutnya, Pendidikan Agama Islam.
Nah, ini ulangan yang paliiiinggg bikin tobat. Gimana nggak, tiap gue baca soal langsung pengen Istighfar.

"Astaghfirullah... susah amat nih soalnyaaaaa.." 

Eh, gak gitu. deh. Soalnya gak susah kok. Kan gue orang yang beragama, masa gak bisa ngerjain soal Agama (walaupun pernah nilai ulangan Agama gue cuma dapat 68)
Gue mengapresiasi orang yang membuat soal ini. Soalnya gak terlalu mudah dan gak susah juga. Medium lah. (Kan kalau gue ngomong gini siapa tau nilai gue bisa nambah) Pokoknya, dari segi soal gak ada hambatan. Dan lebih hebatnya lagi, gak ada yang namanya 'asal jawab' pada ujian Agama. Untuk urusan agama, gak boleh asal-asalan #FutureHusband

Ada kejadian awkward saat ujian berlangsung. Suasana sunyi, suasana khas ujian yang sedang berlangsung. Salah satu pengawas ada yang lagi main handphone, tiba-tiba terdengar suara sebuah backsound game. Kata temen gue sih, itu game Candy Crush. Gue juga gak tau game apa yang pasti. Pokoknya, seisi kelas nahan ketawa karena yang mereka hadapi adalah guru killer. Wahahaha~

Selebihnya, hari ini gue mau bersiap buat ulangan yang kedua pelajaran Ekonomi (baca: remedial). Wish me luck dan semoga cepet taken sama Park Shin Hye. Yee... aaa~

Ciao! Sekian dan Gracias.
Read More »

Ujian hari ketiga gak seseru hari kemarin. Bayangkan, hari ini gue bisa ngerjain soal dengan santai. Iya lah, ini gak seru karena gak ada tantangannya. KASIH SAYA SOAL OLIMPIADE!! Minimal soal olimpiade cabang lempar lembing.

Hari ini pelajaran yang diujikan ada 3. Fisika, Seni Musik, dan Prakarya. Pelajaran yang masing-masing gurunya sangat baik bagi gue. Apalagi guru Prakarya yang jarang masuk kelas. Bapak sangat mengerti kemauan kami.

Malam sebelumnya gue udah belajar semua pelajaran itu, walaupun cuma 18 menit (masing-masing pelajaran 6 menit). Gue belajar dengan sungguh-sungguh sebagai bekal masa depan bangsa, kayak janji siswa yang biasa digemakan saat upacara hari Senin. Tapi apa daya, janji cuma  janji tanpa bisa ditepati.

Balik lagi ke belajar. Setelah belajar Fisika, gue masih punya pertanyaan yang belum sempat terjawab sampai sore ini. Di Fisika, ada yang namanya Emisivitas. Emisivitas adalah suatu ukuran seberapa besar pancaran radiasi kalor sebuah benda dibandingkan benda hitam sempurna. Di mana benda berwarna hitam adalah benda yang memiliki kemampuan menyerap kalor yang sempurna. Contoh penerapannya adalah baju warna hitam lebih cepat kering ketika dijemur dibanding baju warna putih.

(Kenapa gue bisa nulis secara ilmiah? Kan ada buku paket Fisika. Gue gak sepinter itu.)

Jadi, pertanyaannya adalah: Bulu ketek juga warnanya hitam. Apakah dia (bulu ketek) termasuk benda yang mampu menyerap kalor dengan baik? Patut gue coba kebenarannya.

Sebelum gue menjadi ilmuwan pertama yang menguji bulu keteknya sendiri, marilah simak laporan kegiatan gue selama seharian di masa UAS (Ujian Anak Selau).

Diselimuti rasa sejuk dan harum air yang baru saja turun ke bumi, tibalah bel pertama ujian. 

Pelajaran pertama, Fisika.
Fisika, fikiran terusik karena banyak problema. Iya, masih pagi aja gue udah punya masalah yang sebenernya sepele. Jadi, ceritanya saat pagi hari, gue mandi dalam keadaan masih setengah ngantuk. Saat mau masuk ke kamar mandi, terdenagar bunyi yang langsung membangunkan gue seutuhnya.

DUAAAAARRRRRR....!!!

Kepala gue nabrak kusen pintu kamar mandi yang tingginya lebih rendah daripada tinggi badan gue. Sakit rasanya kecelakaan di daerah yang sebenernya udah jadi bagian keseharian. Sudahlah lupakan, gue jadi mau nangis kalau inget kejadian itu. *usap-usap kepala*

Ulangan Fisikanya gimana? Aman kok. Cuma ada sedikit soal yang gue gak bisa. Dari total 30 soal, ya.... paling cuma 15 soal. Sedikit kok, biasanya 17 soal. Ada beberapa soal yang bikin emosi, ada yang bikin ketawa sendiri, dan ada juga yang bikin kue lapis legit (lho, siapa yang tahlilan?). Pokoknya, soal Fisika kali ini tingkat kesulitannya 4/5.

Pelajaran selanjutnya, Seni Musik.
Sebagai anak dari musisi tanah air, Hartono bin Sosro Suyoto (nama bapak gue), gue cukup menguasai di bidang seni musik. Gue cukup ahli dalam memainkan beberapa alat musik. Bukannya sombong, gue bisa memainkan alat musik tradisional dan modern. Alat musik tradisional contohnya panci, galon, dan mangkok. Alat musik modern contohnya mangkok listrik, galon listrik, dam panci listrik. Gimana tuh alatnya, gue juga gak tau.

Gue lemah dengan soal pencipta lagu. Agak kesel juga dengan soal tentang pencipta lagu. Karena menurut sebuah sumber (yang gak dipercaya), seorang seniman yang membuat karya tidaklah harus dikenang, tapi dinikmati karyanya dengan tidak membeli karya bajakannya. Serius gue pernah baca ini. Masih gak percaya atau ragu? Nggak. Bagus. Ya iya lah, namanya juga sumber gak dipercaya, ya berarti jangan dipercaya.

Contoh soal yang tadi gue temui adalah "Siapa pencipta lagu Halo-Halo Bandung?". Ya udah jelas ketauan lah siapa penciptanya.... GUE GAK TAU.

Selanjutnya, penutup sebelum Sholat Jumat, Prakarya.
Yang gue suka dari ujian Prakarya adalah soalnya berbentuk essay. Karena kalau misalnya ketemu guru yang baik banget, minimal gue bisa dapet poin hasil dari upah nulis, walaupun jawabannya ngaco. Lebih beruntung lagi, kalau ketemu guru tipe males ngoreksi. Jadi apa yang dia lihat, begitulah adanya. Kalau banyak tulisan, dikasih nilai bagus. Kalau tulisannya sedikit, ya cuma seadanya. Tanpa memperhatikan benar atau salah.
V
Ujian prakarya tadi contohnya. Gue sama sekali gak belajar pelajaran ini. Gue aja baru tau ada ujian Prakarya pas selesai ujian Seni Musik. Yoi, greget.

Soalnya cuma tentang saablon mug, yang sebelumnya udah pernah jadi tugas harian. Jadinya cuma ngulang apa yang pernah dikerjakan sebelumnya. Tapi kadang ada beberapa bagian yang pernah kita jalani, lalu ketemu lagi dengan momen yang pernah dijalani pada waktu sebelumnya. Istilahnya apa deh, de javu kayaknya. Kayak tadi waktu ujian Prakarya yang sebagian besar soalnya udah pernah ditanyakan. Gue lupa dengan langkah-langkah bagaimana cara membuat mug. Kayaknya kalau gue jadi tukang mug gue bakal kehilangan pelanggan karena dituduh sebagai lelaki pikun.

Pokoknya, hari ini adalah ujian yang gak terlalu ekstrim.

***
Pulang sekolah gue naik angkot sendiri. Sedih sih gara-gara gak jadi remedial Ekonomi. (Buat yang belum tau kalau gue pernah ulangan remedial, baca ini). Iya, nilai remedial gue ancur. Pokoknya, nilai gue kalau misalnya jadi sebuat starting line-up sepakbola, cuma bisa jadi 5. Jangan tanya nilai gue berapa, gue serius.

Nah bagian ini yang keren. Saat gue naik angkot lalu menatap depan ke arah supir, gue melihat ada yang membuat de javu. 

"Kok pitaknya sama kayak yang gue lihat tadi pagi?"

Iya! Ternyata supir-yang-kepalanya-pitak ini adalah supir angkot yang tadi pagi gue naiki ketika turun hujan. Ternyata bener kata pepatah, kalau gak kemana emang jodoh.
Turun angkot, lalu gue bayar ke supir-yang-kepalanya-pitak-yang-katanya-jodoh-gue. Di situ tangan kita bersentuhan..., lalu gue kabur setelah dia bilang, "WOI, KURANG SERIBUUU."

***

Sekian dan gracias sudah membaca kegiatan gue selam 3 hari ini. Tenang, masih ada 3 hari lagi waktu yang tersi(k)sa buat gue menghadapi UAS. Dan, masih ada lagi kegiatan yang bikin ujian terasa menyenangkan.

Masih 3 hari lagi... 3 hari lagi... 3 hari lagi.
Read More »

Seperti biasanya, gue pulang sekolah naik angkot. Keadaan jalan sedang macet. Gue berdiri di depan sekolah sekitar 10 menit buat nunggu angkot yang lewat. Sendirian.
Saat ada angkot yang lewat pertama kali, gue langsung buru-buru naik angkot itu tanpa pikir panjang karena gue mau cepet-cepet sampai rumah, terbebas dari kertas LJK dan soal-soal yang bikin meriang.
Sial, di angkot ini penuh sesak dengan mas-mas yang memakai seragam kerja. Dari seragamnya yang kompak, gue menyimpulkan mereka kerja pada satu tempat yang sama. Cuma tersedia dua slot tempat duduk di angkot ini. Gue masuk ke angkot sambil berharap masih bisa hidup setelah turun dari angkot menghadapi bau keringet mas-mas yang lebih mirip bau tembaga.

Beberapa meter jalan, angkot berhenti tandanya ada penumpang yang mau naik. Cukup memaksakan, pikir gue, mengingat udah gak ada lagi tempat untuk bisa mendapatkan kata nyaman di angkot ini. Sesak, bung!
Setelah itu, masuklah seorang cewek di dalam angkot yang makin terasa sesak buat gue. Cewek ini gue perkirakan masih SMP awal. Dia duduk di tempat yang harusnya sempit, tapi cukup untuk tubuh mungilnya. Dia duduk berhadapan dengan gue dan di antara kita berdua sama-sama melihat ke luar angkot dan menatap jalan yang baru aja dilalui. Kita sama-sama melamun melihat motor yang berusaha menyalip angkot yang sedang kita naiki. Momen yang setiap hari gue rasakan.

Inilah kehidupan angkot. Bau keringet (yang mirip tembaga), tatap-tatapan muka, dan curi-curi pandang udah sering terjadi. Gak ada romantis-romantisnya, cuy.

***


Itulah kisah gue di angkot pada Rabu tanggal 3 Juni kemarin. Di post ini gue bukan mau cerita tentang angkot ataupun mas-mas berkeringet aroma tembaga, tapi gue mau melanjutkan laporan kegiatan tentang UAS yang gue jalani hari ini. 

Hari ini ada 3 mata pelajaran yang diujikan, yaitu Sejarah Indonesia, Bahasa Inggris lintas minat, dan satu lagi..... uhmmmm... Matematiiika. Sebenernya, hari ini pelajarannya sangat sangat kelabang. Bayangkan, pelajaran Sejarah, yang notabene pelajaran anak IPS, bikin gue galau. Gue anak IPA, tapi kena juga pelajaran Sejarah. Ya... bingung lah. 
Terus juga pelajaran Bahasa Inggris gue gak sanggup ngerjain. Gue, yang notabene dilahirkan di Uruguay, gak bisa bahasa Inggris sejak kecil. Bahasa Uruguay juga gue gak ngerti, sih. 
Harapan satu-satunya adalah Matematika. Setidaknya, Matematika adalah pelajaran yang kaitannya lebih nyambung ke anak IPA dibanding anakonda, eh anak jurusan lain maksudnya. Jadilah, gue lebih lancar di pelajaran Matematika dibanding dua pelajaran lain. Yap, dengan cara ngasal.

***

Pelajaran pertama, Matematika (wajib) 
Kenapa ada tulisan wajib? Jadi buat orang-orang yang gak tau kurikulum 2013-nya SMA kayak gimana, gue kasih tau, khususnya yang mau masuk jurusan IPA. Di jurusan IPA (atau sekarang disebut dengan MIA) ada dua pelajaran Matematika, yaitu wajib dan peminatan. Kalau Matematika wajib, semua jurusan bakal dapet. Sedangkan Matematika peminatan cukup anak IPA yang dapet. Asik, kan, jadi anak IPA ketemu Matematika terus. Kalau ada yang punya niatan mau masuk SMA jurusan IPA, coba pikir-pikir lagi deh sebelum hidup berakhir dengan menelan kalkulator karena depresi.

Gimana dengan ulangan Matematika? Seperti yang udah gue katakan sebelumnya, ada beberapa soal yang gue jawab asal, selebihnya gak gue isi. Wow, kayaknya gak mungkin deh.
Mungkin biasanya Matematika adalah pelajaran dengan tingkat mencontek paling tinggi dibanding pelajaran lain, tapi kali ini nggak terlalu banyak. Apalagi gue yang duduk di belakang, paling diawasi pengawas. Gak tanggung-tanggung, pengawasnya duduk di sebelah kiri gue. Gue sih biasa aja ngadepinnya. Toh, gue juga gak bakal nyontek.
Yang bikin horror adalah ketika ibu-ibu pengawas yang duduk di sebelah kiri gue membaca ayat-ayat Al-Qur'an. Mungkin beliau takut karena lagi duduk bersebelahan dengan tuyul Uruguay (baca: Robby Haryanto).

Overall, gue lancar ngerjain soal Matematika. Kan sebelumnya gue udah belajar. #RobbyRajin

***

Lanjut ke pelajaran selanjutnya, Sejarah (wajib)
Kenapa gue bilang wajib? Ya, sama kayak Matematika tadi, semua jurusan dapet pelajaran ini. Makanya, gue mau kasih tau buat calon-calon anak SMA yang mau ngambil jurusan IPS, coba pikir-pikir lagi. Kalian pasti dapet pelajaran Sejarah dua kali. Bayangkan, dua kali kalian harus mengingat-ingat masa lalu. Ayo move on sodara sodara!!

Sejarah emang susah, tapi nggak bagi orang-orang yang punya rencana. Rencana nyontek. Dan semakin mudah ketika didukung dengan pengawas yang gak mengawas (jangan bingung bacanya). Itulah yang terjadi pagi ini. Setelah tau Bu Nining yang akan mengawas, seisi kelas langsung ber-euforia. Kampret, bakal ada contek-contekan nih, pikir gue. 

Dalam keadaan yang sangat kampret, gue nyeletuk asal, "Bu, kok gak sama Bu Loida ngawasnya?" FYI, Bu Loida adalah guru Matematika kelas 11 yang terkenal karena ngajarnya yang semangat. Saking semangatnya, suaranya bisa terdengar dari dua ruang kelas sebelah tempat dia ngajar. Kalau ditanya "UDAH NGERTI ATAU BELUM?" jawab aja dengan teriak "PAHAM, BU". Konon, orang yang gak teriak bakal diomelin sama dia. Aneh? Nggak. Semangat? Pastinya. Serem? Bangeeeet.

Gak lama kemudian, Bu Loida masuk. Kayaknya kata-kata gue udah mulai jadi mantra pemanggil guru nih. Bisa dipake kalau misalnya lagi sendirian di rumah butuh guru privat, gue tinggal bilang aja "Maria Ozawa". Jadilah kita privat party. Sedaaaaaaap.
 
Ternyata, bayangan gue tentang kegalakan Bu Loida gak sama sekali terbukti saat dia ngawas ujian. Dia malah ngobrol sama Bu Nining. Alhasil, masih ada yang nyontek. Momen yang sangat-sangat kelabang. 

*
"Anjrit, soal macam apa ini? Gue gak kenal siapa itu Raja Jayanegara, Sultan Malik As- Saleh, ataupun Yusuf Mahardika." Tunggu, kalau Yusuf Mahardika sih pemeran si Madun. Baru inget.
Gue binguung mau jawab soal-soal Sejarah ini. Dengan berbekal nonton sinetron Raden Kian Santang dan kesotoyan, gue jawab dengan ngasal sepenuh hati. Wowoowow~
Seandainya gue manusia yang hidup dari jaman lampau, gue gak bisa jawab soal-soal Sejarah ini. Yaaa... gak bisa lah. Kan udah jadi fosil duluan.

***

Selanjutnya, Bahasa Inggris lintas minat
"Tadi wajib, sekarang lintas minat. Maunya apa sih?" Maunya kamu jadi pacar aku. (Yang cowok bacanya jangan baper, ya)
Ya... jadi gitu deh. Ada wajib, peminatan, dan lintas minat. Bisa googling aja deh. Aku juga capek, mas~

Bagi gue, ulangan bahasa Inggris kali ini gak terlalu susah. Beneran nih, gue gak ada jawaban asal. Cuma ngisi yang kosong aja. Kalau gak tau masa mau mikir juga sih? Jangan sok-sokan mikir deh kalau udah buntu. #Catet.
Singkat waktu, masalah gue secara keseluruhan adalah pada bagian Song. Bab ini gue emang bener-bener bodo amat. Lagu bahasa Inggris yang gue bisa cuma reff lagu kebangsaan dari tim Manchester United yang judulnya Glory-Glory AC Milan (Yoi, gue kan Milanisti).

Sekian deh laporan kegiatan ujian gue hari ini. Capek nih tangan gue, gak ada yang mijitin *kode keras minta dipijit*. Seharian ngebuletin lembar jawaban, tapi tekad move on gak pernah bulet ciaaaaa~ 


Sekian dan gracias.
Read More »

Seperti yang gue bilang sebelumnya, minggu ini gue sedang menjalani UAS. Buat yang baca post sebelumnya, gue minta maaf kalau jadwal UAS yang sebenarnya adalah hari ini, bukan tanggal 1. Jadi, hari ini adalah hari pertama gue UAS. UAS-nya telat? Banget!

Niatnya, gue mau bikin tulisan setiap hari selama seminggu ini. Semacam laporan kegiatan ujian gue (Niat ini terpikir saat masa-masa kritis ngerjain soal menjelang 5 menit terakhir). Pasti seru kalau nantinya gue baca lagi dan gue bakal inget apa yang gue lakukan selama UAS. Yow, kita mulai saja.

***
3 Juni 2015



Hari ini,  ada 3 mata pelajaran yang diujikan. Semuanya termasuk pelarajan yang gue suka.

Pelajaran pertama: KIMIA

Sebelum ujian dimulai, seisi kelas dikejutkan dengan kedatangan dua pria ganteng. Bukan, yang masuk ke kelas gue bukan personil CJR, tapi dua orang pengawas yang juga sebagai guru di sekolah gue. Banyak yang heran kenapa ujian kali ini diawasi oleh dua pengawas (ganteng). Padahal, biasanya cuma satu pengawas. Bahkan, kadang ada pengawas, tapi kayak gak ada pengawas. Inilah Indonesia, pengawasan ujian pun gak ketat.

Apalah itu, langsung aja deh gue cerita.

Satu kata untuk ujian mata pelajaran Kimia: Kelabang!

(Iya, gue gak tau apa maksud dari kata-kata gue tadi) 

Gue nyaris gak menyelesaikan seluruh soal dengan waktu yang telah disediakan. Gue panik dan lupa rumus. Tapi, setelah gue bersemedi selama sejam, akhirnya bisa mengerjakan dengan lancar (Pantesan hampir gak nyeselain soal)
Dan juga, soal yang gue kerjakan tadi sangat beda jauh dengan contoh soal tahun kemarin yang gue pelajari. Biasanya, sih, soal tahun kemarin bakal sama dengan soal yang bakal diujikan tahun ini. Ternyata, nggak sama sekali. Sangat sangat kelabang.

Mata pelajaran selanjutnya: Kewarganegaraan

(Kalau gak tau apa itu Kewarganegaraan, pelajaran ini sama dengan PPKN atau PKn. Gue juga gak tau apa bedanya.)

Sebelum cerita ke masa-masa mengerjakan soal, gue intermezo dulu.

Malam sebelumnya, gue dilanda kebingungan amat besar. Gue bingung harus belajar apa karena saking besoknya ada 3 mata pelajaran yang diujikan. Ada Kimia, Kewarganegaraan, dan Ekonomi. Setelah mempertimbangkan untung-rugi, gue milih gak belajar semuanya, eh, gue gak belajar Kewarganegaraan.
Kebetulan hari itu ada pertandingan sepakbola SEA GAMES antara Indonesia vs Myanmar. Dengan alasan bela negara, gue lebih milih nonton timnas daripada belajar Kewarganegaraan. Dan kampretnya, Indonesia kalah 4-2. Sungguh, malam yang apes bagi Indonesia dan gue. Indonesia apes karena kalah, sedangkan gue apes karena gak belajar demi nonton bola. Sangat sangat kelabang.

***

Pagi harinya sebelum ulangan Kewarganegaraan....

"Bayang-bayangnya kembali muncul. Baunya kembali tercium. Apakah ini firasat kalau gue harus remedial Kewarganegaraan karena gak belajar semalam?"

Begitulah lamunan gue ketika duduk dan menghadapi kertas LJK kosong. "Errr...., masa iya sih gue udah kalah sebelum bertanding? Gue harus punya jiwa petarung." ucap gue dalam hati. Apapun yang terjadi, ini demi Indonesia! Merdeka! *terdengar lagu Maju Tak Gentar dari kejauhan*

WOW! Gak seperti yang gue bayangkan, soal Kewarganegaraan yang gue prediksi bakal bikin gue jadi siluman buku UUD 1945, ternyata gak susah. Gue dibantu oleh pilihan jawaban yang kadang bikin gue ketawa. Coba bayangkan, ada soal kurang lebih seperti ini...

Dasar negara Indonesia adalah...
A. Pancasila
B. Pancaindra
......

Belum sampai baca ke pilihan selanjutnya, gue langsung pilih jawaban yang kira-kira orang Thailand pun bisa jawab.

***

Ujian selanjutnya: Ekonomi (Lintas Minat)

Sesudah ujian Kewarganegaraan, gue bersiap untuk lanjut ke ujian mata pelajaran selanjutnya, yaitu Ekonomi. Gue jumawa dengan ujian Ekonomi kali ini karena cuma 1 bab yang diujikan. "Wow, gak terlalu sulit, nih." pikir gue.
Sebelum masuk ke jam ujian selanjutnya, kita dibebaskan memilih ruangan. Gue memilih tetep di kelas sebelumnya karena perpindahan adalah hal yang sulit (baca: males keluar kelas).

Beda dari dua ujian yang sebelumnya, kali ini ada anak kelas 11 yang mau ujian lintas minat Sosiologi. Jadinya nyampur ke kelas gue. So, gue yang tadinya duduk sendiri, sekarang harus duduk sebelahan dengan kakak kelas, Lumayanlah, bisa cuci mata..., di kamar mandi maksudnya. 

***

Ternyata, semua pelajar sama aja! suka nyontek kalau ujian. Gue paling panas kalau ngeliat orang nyontek saat ujian. Bukannya gue kesel karena gak dibagi contekan, tapi mereka gak ngehargain orang yang begadang demi belajar. Buktinya,  orang yang duduk di sebelah kanan-kiri gue. Keduanya cewek.
Dari sebelum mulai ujian, dia emang udah janjian bakal mau contek-contekan. Yang bikin kesel lagi, gue harus terlibat dalam aksi mereka. 

***
"Ssst.... sssst." suara bisik terdengar di sebelah kanan gue. Gue pura-pura gak denger.

"Ini pasti orang yang mau nyontek." batin gue.

"Heh...", dia manggil gue, lalu melanjutkan dengan menuliskan sebuah kata di kertas soalnya,

"Bilang ke sebelah lu, tanyain nomor 37, 38, 39."

Gue mikir apa yang harus gue lakukan.

"Tanya aja sendiri." gue menolak.

Usahanya buat nyontek gagal. Gue kasian dengan orang yang duduk disebelah gue dengan niat mau nyontek. Cantik-cantik, sih, nyontek. Pusing pala kelabang.

Entah gregetan atau apa, cewek yang duduk disebelah gue ini nusuk-nusuk tangan gue pake ujung tumpul pensil ke tangan gue. Gue tetep diem. Dua kali dia nusukin pensil ke tangan gue. Lalu dia menuliskan nomor di sebuah kertas buat dikasih ke orang yang disebelah kiri gue.

"Kasih ke sebelah, lu."

Bagaikan kurir kertas contekan, gue langsung mengiyakan dan memberi kertas itu ke orang yang ada di sebelah kiri gue sambil berharap pengawas gak ngeliat gue. Gue, orang asing yang berada di tengah-tengah cewek-cewek nyontek. Gregetan bet~
Gue kesel sama dua orang kakak kelas yang duduk di sebelah kanan dan kiri gue. Untung gak terlalu cakep, kalau cakep gue pacarin juga nih dua orang rese. Gue kalau kesel emang suka gitu, bawaannya pengen macarin orang~

***

Itu tentang orang nyontek di sebelah kanan-kiri gue. Lalu, bagaimana dengan nasib ujian Ekonomi gue? Ya, penuh hambatan. Ternyata satu bab pun susahnya ngelebihin dua pelajaran sebelumnya. Gue sangat kesulitan di pelajaran Ekonomi. Sesekali dalam kebingungan memilih jawaban, gue mengelus dada. Tentunya bukan dada orang yang duduk di sebelah kanan dan kiri gue. Itu bahaya. 50% jawaban gue diperoleh dengan teknik. Biasalah, kalau orang udah mentok gak bisa mikir apa-apa, tang-ting-tung jadi pilihan terbaik.

Banyak juga nih cerita gue hari ini. Masih kesel sama dua orang tadi, mending gue tidur sore biar bisa belajar buat nanti malem. 

Tunggu laporan kegiatan ujian gue besok! Ciao!
Read More »

Selamat Hari Kelahiran Pancasila dan selamat datang bulan Juni, bulan kelahiran blog gue. Yeeey! Tanggal 30 nanti, blog gue berumur setahun. Pastinya, dengan masih proses merangkak untuk belajar berjalan dan akan terus belajar agar bisa lari lebih cepat. Asikkk.


Siang hari ini, di perjalanan pulang sekolah, seperti biasanya di angkot, gue duduk bersebelahan dengan ibu-ibu (berarti ada dua ibu). Salah satu dari ibu tersebut, perawakan wajahnya oriental dan tidak terlalu tua, membawa tas dan sebuah buku. Gue menebak dia baru saja mengantar anaknya yang masih TK pulang sekolah, tapi gue gak melihat anaknya berada di sampingnya. Entahlah, namanya juga menebak. 
Di tengah perjalanan angkot, si Ibu membuka buku latihan anaknya yang dari tadi dia pegang sebelum masuk angkot. Gue kira Ibu ini baru aja pulang sekolah kejar paket C. Gue yang kepo mencoba ngintip buku yang si Ibu ini buka.  Terlihat ada huruf Mandarin dengan bentuk huruf yang khas buatan anak-anak. Mengsong-mengsong. Anehnya, ada angka-angka bagus, yang biasa disebut nilai, dalam bentuk huruf Mandarin yang mengsong-mengsong. 
Kalau gue pikir, "Masih mending anak ini bikin huruf Mandarin mengsong-mengsong, sedangkan gue? Sama sekali gak tau gimana bentuk huruf Mandarin." Satu-satunya kata yang gue tau dalam bahasa Mandarin adalah Wo Ai Ni. Iya, cuma itu doang. Dasar korban pacaran multi-bahasa.

Si Ibu membuka buku dan terdiam lama. Dia terdiam dan menutup wajah dengan buku latihan bahasa Mandarin anaknya tadi. Mungkin, di dalam diamnya, dia berdoa "Semoga kelak anakku bisa jadi orang yang sukses dan membanggakanku."


Lain lagi dengan ibu yang satunya. Ibu yang satunya ini membawa dua orang anak. Yang satu cowok dan satu lagi cewek. Salah satu anaknya, yang cowok, nempel-nempel ke gue dan sangat gak mengenakan sampai beberapa menit yang cukup lama. Gue sedikit terganggu dengan perlakuan makhluk kecil yang menggemaskan ini. Si Ibu yang ngeliat gue terganggu langsung....

PLAK

Si Ibu nabok tangan anaknya yang cowok. Sambil menabok, dia berkata, "Husssh, gak sopan begitu. Yang anteng, le." Dalam hati gue, "Nah, gitu dong, bu. Ganggu banget nih anak lu."
 
***

Dari tindakan si Ibu yang kedua, gue pun pernah merasakannya. Saat itu, ada mama gue lagi ngobrol sama bapak gue. Obrolannya cukup serius dan memang khusus obrolan orang dewasa. Gue yang masih umur 4 tahun gak sengaja mendengar ucapan mereka berdua terlalu dalam. Alhasil, sebagai anak yang polos, gue menyambar perkataan mama gue. Seketika itu, mulut gue ditutup dengan tangan mama gue, lalu berkata, "Kalo orangtua lagi ngomong, jangan ikut-ikutan atau nguping. Masih kecil, belum saatnya. Gak sopan."

Mama gue sudah mengajarkan attitude baik sejak kecil. Mama gue, dan orang tua pada umumnya, pasti menginginkan anak yang punya tingkah laku baik. Untuk itu, wajib mendidik anaknya sejak kecil. Kalau ada seorang anak yang sudah beranjak dewasa gak punya tingkah laku yang baik, perlu dipertanyaakan didikan orang tuanya. 

*** 

"Kalo kamu udah besar dan sukses, keinginan mama cuma satu: yang penting inget Allah dan inget orang yang pernah membesarkan kamu."

Begitulah kata mama gue saat kecil dulu. Keinginan yang mungkin sederhana, tapi belum tentu bisa dilakukan. Kadang ada orang yang udah sukses dalam segala hal, tapi malah melupakan orang-orang yang udah bikin dia sukses, termasuk orang tua. Ada lagi yang lebih kasihan. Udah sukses dalam segala hal, tapi orang tuanya udah gak ada.


***
 
Sebenarnya, harapan orang tua sangatlah sederhana: melihat anaknya bahagia.

Lalu pertanyaannya, saat kita bahagia, apakah kita sudah berbagi kebahagiaan kepada orang tua kita?

Jawabannya, tergantung didikan orang tua. Apakah si anak diajarkan untuk bersyukur atau tidak. Karena berbagi kebahagiaan adalah cara mensyukuri nikmat berbahagia.
Read More »