26 March 2015

Koala Kumal dan Kisah Pilu Di dalamnya

Setelah gue punya cetakan pertama buku koala kumal, gue langsung mengincar target untuk mendapat tanda tangan sang penulis karena gue gak bisa beli pre-order yang bertandatangan. Tau sendiri gimana udiknya gue dalam transfer uang yang membuat gue gak bisa beli buku bertandatangan.

Tanggal 26 Februari berikutnya, gue ke Mall Puri Indah bersama teman gue, Fahrul, buat datang meet n greet Raditya Dika dan berharap bisa dapat tanda tangannya. FYI, gue juga sebelumnya pernah ke Mall Puri Indah bareng Fahrul dan gue tulis disini.
Walau saat itu gue sedang UTS dan gak enak badan, tapi gue tetep gak mengurungkan niat mulia ini (ceilaaah). Mumpung gue pulang cepet dan kesempatan terbuka lebar. Kapan lagi coba ketemu penulis idola.

Segala persiapan udah dilakukan. Malamnya gue BBM Fahrul buat memastikan besok jadi atau tidak.

Gue: Bang, besok jadi gak nih?
Fahrul: Jadi dong. Gue udah siapin semua nih. Helm juga udah siap
Gue: Wah, bagus tuh. Gak sabar nih buat besok
Fahrul: Iya, gue juga. Gue udah cuci sepatu nih
Gue: Niat banget cuma mau ketemu Radit
Fahrul: Iyalah, kapanlagi ketemu idola

Betapa niatnya Fahrul untuk ketemu idolanya. Gue salut dan terharu.

Keeesokan harinya pada jam 3, gue langsung menunggu di halte sekolah SMK 42. Gue nunggu lama kedatangan Fahrul yang saat itu masih di sekolah. Sampai gue tunggu 15 menit, datang juga yang dinanti.

'Lu kemana tadi? gue udah nunggu di halte dari tadi. Makanya gue muter lagi barusan'
'Lah, gue daritadi juga udah nunggu disini'
'Pantes aja nunggu disini, gue nunggi di halte depannya'
'Ah, pantes aja gak ketemu'
'Yaudah ayo buruan naik'

Sambil mengendarai motor, Fahrul sedikit ngobrol dengan gue.

'Kira-kira keburu gak ya? Gue takut gak keburu nih. Udah jam 3 lewat 15 menit'
Gue yag gak terlalu denger Fahrul ngomong apa, gue cuma jawab 'Insha Allah'. Semoga dia tetep nyambung dengan jawaban gue.

Selama di perjalanan, gue masih seneng-seneng aja. Tiba-tiba Fahrul berhenti dan masuk ke rumah warga yang berada di pinggir jalan. Dari pengamatan gue, pemilik rumah merangkap sebagai toko kayu.

'Kenapa bang? Kok berhenti?
'Lu gak liat. DI DEPAN ADA POLISI TUH'

Gue bingung apa hubungannya ada polisi dengan keberhentian ini. Biasanya kalau gue dibonceng temen gue naik motor dan ada polisi di depan, temen gue langsung ngebut aja.
  
'Gue takut kena tilang. Nanti motor gue ditahan'
'Kasih uang aja. 20 ribu mau gak?'
'Gak mau. Minimal 50 ribu. Sayang banget kalau dikasih'

Saat gue dan Fahrul numpang neduh dari tilangan, sang pemilik rumah mempersilahkan kita masuk dan kita duduk. Sang pemilik rumah sedang main PS bersama anaknya. Oke, ini gak terlalu penting.

'Santai aja, ini pasti orang Madura. Gue kenal banget dari ciri rumahnya' kata Fahrul. Fahrul adalah orang Madura dan pantas saja saat dia ngobrol dengan pemilik rumah, mereka mengerti bahasa satu sama lain.

'Tapi kita mau tunggu sampai jam berapa disini. Biasanya razia itu sampai sore'
'Kayaknya gak bakal jadi deh ketemu Radit'

Setelah menunggu sampai pukul 15.45, sang pemilik rumah mengatakan kalau polisi sudah tidak ada lagi. Langsung saja kita melanjutkan perjalanan dengan harapan masih ada Radit disana.

Sesampainya disana, gue melihat beberapa anak SMP yang bawa buku koala kumal. 'Wah, udah banyak nih yang dateng' pikir gue. Tapi setelah anak SMP itu membuka bukunya, gue melihat sudah ada tanda tangan disana. Mampus, acara udah mulai dan kita gak tau dimana acaranya dilaksanakan.

Muter-muter nyari dimana tempat acaranya, kita melihat ada orang yang membawa buku koala kumal juga.

'Mending ikutin orang itu aja'
'Ayo'

Kita ikuti orang itu dan sampai pada karpet merah yang gue lihat di twitter saat di rumah tukang kayu tadi.

'Nah ini tempatnya, tapi kok kosong. Cuma ada mbak-mbak pake kaos koala kumal'
'Ini kayaknya udah selesai deh acaranya'
 'Yah iya bener. Ini udah selesai acaranya'
'Acara apaan cuma satu jam. Kampret banget'

Gue melihat orang yang tadi gue ikuti terlihat kecewa karena ketinggalan acara meet n greet, sama kayak perasaan kita berdua. Untuk mengobati ini semua, gue ke gramedia yang ada di lantai satu. Dari atas, gue masih melihat karpet merah yang tadinya ada acara meet n greet dan masih banyak juga orang yang kesana. Terlihat wajah yang sama diantara mereka, wajah yang kecewa.

Gue memutuskan beli buku Radikus Makankakus buat mengobati kecewa ini. Tapi, Fahrul masih terlihat kecewa dengan kenyataan ini.

'Ah, kapok gue kesini lagi. Gak dapet tanda tangan, hampir kena tilang polisi lagi' kesal Fahrul

Gue sih gak terlalu sedih karena gue masih bisa dapet tanda tangan buku koala kumal. Gue ingat saat itu, gue sedang mengikuti giveaway yang diadakan seorang blogger dan berhadiah buku koala kumal bertandatangan. Setidaknya gue gak sesedih mereka. Gue harus move on dari kejadian yang lumayan menyakitkan ini.

***

Gue pun mengirimkan tulisan yang gue ikuti untuk giveaway. Yang mau baca, bisa buka disini. Gue buat tulisan itu dengan penuh pengharapan semoga gue menang. Optimis tinggi dan yakin pasti menang.

Senadainya satu buku itu jadi milik gue

Hari demi hari tibalah saatnya pengumuman pemenang. Gue buka dan gue baca sampai bawah. Setengah gak percaya, gak ada nama gue disitu. Sedih rasanya, karena untuk kesekian kali gue ikutan giveaway, gue belum pernah menang. Gagal lah usaha gue untuk punya buku koala kumal bertandatangan.

Saat gue libur sekolah seminggu kemarin, gue merasa bosan cuma makan, tidur, nonton tv. Gue putuskan buat baca buku. Saat gue membuka lemari buku, gue ambil buku koala kumal. Saat buka lembar pertama, gue sedih. Seandainya di lembar ini ada tanda tangan sang penulis, gue gak akan sesedih ini. Saat gue baca pengumuman lagi buat memastikan ada nama gue atau tidak, ternyata bener-bener gak ada. Tampak wajah orang yang gue ikuti saat di Mall Puri Indah, wajah orang kecewa.

Gue harus bisa move on dari kesedihan ini. Bukan berarti gue harus bakar buku koala kumal milik gue demi melupakan kenangan buruk. Mahal tuh harganya. Tapi susah buat move on dari harapan yang berlebihan. Makanya sekarang gue gak mau berharap lebih. Kalau gagal, cuma bikin sakit hati doang.

Kayaknya gue harus move on deh. Akhirnya, gue coba cari-cari artikel tentang bagaimana untuk bisa move on. Gue menemukan sebuah artikel yang bilang gini: Yang paling utama adalah ikhlas dan terima kenyataan. Oke, itu artinya gue harus ikhlas merelakan kemenangan buku koala kumal untuk orang lain dan menerima kenyataan kalau gue belum berhasil menang.