28 January 2019

Pengalaman Berjualan Buku

Sudah saya sadari sejak lama bahwa lemari buku saya semakin penuh dari tahun ke tahun. Terhitung sejak kelas 9 SMP, diawali dengan memiliki buku Marmut Merah Jambu-nya Raditya Dika, hingga kini buku saya sudah mencapai puluhan jumlahnya. Memang belum sampai 40, tapi rasanya sudah saatnya saya harus menyikapi hal ini. Buku-buku itu kebanyakan hanya dibaca sekali (kecuali buku-buku Raditya Dika yang rata-rata minimal 3 kali baca ulang). Mereka berbaris rapi menempati lemari. Lemari saya kepenuhan.

Terinspirasi dari seorang blogger, saya memberanikan diri menjual buku-buku saya. Saya upload ke Tokopedia semua buku yang sudah lama tidak dibaca, dibaca cuma sekali, atau nggak ada keinginan lagi untuk membacanya ulang. Dapat dipastikan, dengan kriteria seperti itu, buku-buku Raditya Dika nggak saya upload. Sayang banget waktu itu (sekarang sudah masuk ke toko virtual saya di sana).
Awalnya saya ragu. Apa iya ada yang mau beli? Kalaupun ada, nunggu sampai kapan? Namanya anak baru, maunya cepet-cepet laku aja.

Dengan kesabaran akhirnya berbuah hasil. Buku koleksi saya yang pertama kali terjual adalah Dilan 1990. Buku yang belum lama sebelum dijual saya tamatkan itu saya banderol Rp30.000. Saya senang bukan main. Dunia seperti mudah. Nyari uang semenyenangkan ini. Barulah beberapa bulan kemudian terasa. "Si anak baru" itu akhirnya tahu bahwa nyari uang terasa sulit.

Toko saya nggak sepi banget, tapi belum bisa dikatakan ramai. Beberapa kali ada yang mengirim pesan nanya kesediaan stok. Kalau udah begini, hati saya langsung merah jambu. Gampang banget seneng kayaknya selama mencoba jualan buku. Sebagai pelayan yang baik, saya balas pesan itu dengan super cepat. Sampai akhirnya, saya tunggu hingga beberapa hari, buku itu nggak kunjung pindah dari lemari saya. Alias nggak jadi beli. Semoga rasanya nggak kayak di-PHP-in.

Lama kelamaan buku saya satu per satu berkurang. Meskipun bukan menjadi ladang mencari uang yang utama, tapi kegiatan ini membuat saya bahagia. Satu hal yang terpikirkan adalah kalau semua buku di lemari sudah abis, saya mau jual buku siapa lagi? Sudah kepalang tanggung senang, sayang kalau nggak dilanjutkan. Akhirnya saya memutuskan mengambil sedikit tabungan untuk membeli buku-buku murah untuk dijual kembali. Buku-buku itu saya dapatkan dari cuci gudang Gramedia. Tentunya dengan insting dan riset yang sudah dilakukan sebelumnya, saya memilih buku yang sekiranya masih laku di pasaran.

Cara ini berbuah hasil. Beberapa kali buku yang saya beli dapat terjual kembali. Saya semakin bahagia, walaupun buku-buku di lemari malah jadi tambah banyak. Namun, kondisi inilah justru yang membuat saya termotivasi: kalau mau punya toko buku, harus akrab dengan banyak buku. Buku-buku saya yang belum laku malah terlihat seperti perpustkaan di rumah. Satu impian saya ketika punya rumah sendiri kelak.

Saking banyaknya buku-buku itu, beberapa buku yang masih disegel kadang akhirnya saya buka sendiri karena geregetan buku yang sedang saya baca sudah selesai. Justru kadang saya suka tertawa sendiri membayangkannya. Ibarat warung sembako, saya adalah penikmat beras yang saya jual sendiri.

Berdekatan dengan sesuatu yang kita suka adalah hal yang membahagiakan bagi saya. Dari berjualan buku, wawasan saya akan judul buku semakin bertambah. Meskipun belum sampai tahap menseriusi kegiatan ini, saya cukup bahagia menjalaninya.

Pengalaman saya masih terlalu singkat. Toh, baru setahun saya memulai ini. Barangkali pembaca tulisan ini punya cerita serupa, bisa dibagikan di kolom komentar.

Atau mau pesan bukunya sekalian, kak? Hehehe.

4 comments:

  1. Nggak tega kalau di jual, soalnya masih sedikit koleksinya.

    Mantep dah pengalamannya, boleh lah diajarin analisis pasarnya hihi

    ReplyDelete
  2. Gue juga jualan buku di toped, wkwkwk. Susah lakunya emang. Ini lagi mikir buat jualan ginjal aja.

    ReplyDelete
  3. Kalau ga kenal, "sist, masih ada ga stoknya?"

    Hmmm.

    I feel you. Ketika ada nomor tidak dikenal mengirimkan pesan. Wah mau beli yang mana, berapa, COD atau transfer ya?

    Kita beda hal yang dijual sih. Tapi dalam ranah ini, sama-sama penjual yang sayang pembeli. Hehe.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.