Bermimpi Jadi Penulis Buku

Lewat beberapa momen di pekan ini, akhirnya saya menulis post ini.

Awalnya, saya membuat sebuah question di Instagram. Saya minta saran kepada kawan-kawan followers yang baik hati, kira-kira saya harus buat tulisan apa. Memang kesannya seperti pesanan. Tapi balik lagi, ini adalah saran. Bisa diambil, bisa ditolak.

Di luar dugaan, ternyata banyak yang memberikan saran. Jelas sangat membantu saya yang sedang berusaha bangkit buat produktif nulis lagi. Hehehe.

Tulisan ini pun akhirnya datang, walaupun dari saran yang telah ditampung nggak ada yang menyinggung soal “menjadi penulis”. Bukan berarti saran kalian nggak dipake ya, gaes.

Topik tentang ini sebenarnya bukanlah topik baru. Sudah beberapa kali saya menulis, baik lewat satu post atau nyelip-nyelip di antara sebuah tulisan lain (semacam curcol). Diperkuat lagi keinginan buat nulis ini setelah melihat satu post di Instagram seperti ini.

saya jawab nomor 6

Ditambah lagi setelah saya baca buku Mahasiswa Upnormal, buku yang digarap oleh beberapa mahasiswa UNJ yang berkisah tentang motivasi serta inspirasi dari mahasiswa berprestasi, aktivis, dan akademisi. Keren bukunya! Cocok buat pemuda yang lagi di bersemangat mengisi masa muda dengan aktivitas bermanfaat. Silakan ditengok di Instagramnya Lingkar Inspirasi UNJ.


***

Semua dimulai karena Raditya Dika. Bagaimana waktu itu buku-bukunya menjadi magic bagi saya. Kenapa bisa segampang ini ya bikin orang ketawa? Gimana caranya hanya lewat tulisan bisa mengaduk-aduk perasaan? Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya akhirnya bermuara pada lahirnya blog ini. Rasanya banyak juga blogger yang mulai ngeblog setelah baca buku Radit.

Sambil menulis di blog, saya mengumpulkan beberapa kisah yang saya anggap “mahal”. Maksud saya, kisah ini bakal keren kalau dibuat di media yang lebih besar. Panggung blog rasanya nggak akan cukup. Hahaha. Saya terlalu pede saat itu.

Setelah dikumpulkan, ternyata kisah itu punya satu tema yang sama, minimal mendekati mirip. Semuanya terjadi saat kelas 10. Tentang saya yang harus beradaptasi di SMA. Sebuah kehidupan baru dengan latar belakang siswa yang kecerdasannya di atas rata-rata. Jauh berbeda dengan SMP. Kisah itu saya kumpulkan menjadi cerita-cerita komedi dan saya ceritakan dengan jujur.

Dalam prosesnya, saat itu saya belum naik ke kelas 11. Naluri saya terus menggila ketika saya punya pengalaman yang berkaitan dengan adaptasi, langsung saya masukkan ke dalam kumpulan cerita tadi. Ujung dari ini semua, saya berhasil mengumpulkan lebih dari 10 cerita. Wah, bisa jadi buku ini mah. Tanpa cerita ke banyak orang, saya mencoba untuk mengumpulkan dan merapikan naskah itu menjadi satu buku dan siap dicetak. Target penerbit sudah jelas, yaitu Bukune, yang pada masanya jadi “rumah” bagi naskah-naskah komedi personal (atau dulu dikenal dengan sebutan personal litterature). Sekitar bulan Desember 2016, saya mengirim naskah ke Bukune.

Nasib naskah
Kata orang yang paham dunia penulisan, untuk penerbit sekelas Bukune mesti tunggu 3-6 bulan baru akan dapat jawaban. Tentu dengan adab mengirim naskah ke penerbit (entah saya tau dari mana), saya tidak mengirim ke penerbit lain. Sampai Desember 2017, naskah saya nggak dapat jawaban. Oh, begini rasanya bertepuk sebelah tangan, begitu kata saya dulu.

Saya menganggap naskah saya masih bisa dikirim ke penerbit lain.

Sekitar bulan Januari 2017, saya mengirim naskah ke penerbit lain. Penerbit Gradien saat itu tengah mencari naskah komedi. Semangat saya naik lagi. Apalagi saat itu Gradien memperbolehkan kirim softcopy (walaupun rawan dengan hal tidak mengenakkan). Nggak perlu cetak lagi. Sedikit merapikan naskah sebelumnya, saya beranikan untuk langsung kirim.

Saya merasa pede saat itu. Membayangkan punya karya sendiri. Saat itu saya berada di kelas 3 SMA. Teman-teman saya sudah mulai fokus UN atau SBMPTN, bahkan jauh sebelum itu. Saya harus bayar waktu yang harusnya dipakai buat belajar, tapi malah berkutat dengan naskah. Pokoknya naskah ini harus tembus. Harus.

Nggak perlu nunggu setahun tanpa jawaban kayak naskah sebelumnya (bahkan sampai hari ini saya nggak tau naskah saya di mana keberadaannya, semoga nggak dibakar), beberapa minggu setelah saya mengirim naskah akhirnya mendapatkan jawaban. Ah, senang bukan main! Naskah yang disusun dengan penuh cinta ini mendapatkan tanggapan.

Sedikit saya cuplik jawabannya:

...

Naskah ini cukup lucu, garing juga. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman penulis. Agar tidak berkesan menggurui, terlebih mengusung tema komedi, semangat melucunya tidak boleh kendor. 

Kalau cuma satu-dua halaman lucu, lalu lima halaman selanjutnya garing, pembaca akan memilih meletakkan buku. Tidak melanjutkan membaca.

Sayang, itulah yang ditemukan dalam naskah ini. Lucunya tidak merata sempurna di setiap halaman.
Atas dasar tersebut, maka Tim Redaksi belum merekomendasikan naskahmu untuk terbit di Gradien Mediatama. Semoga atas masukan ini bisa menjadi pemicu semangatmu untuk terus berkarya lebih baik lagi. Secara prinsip, kami tetap terbuka untuk karyamu yang lainnya.

Salam kreatif.

***

Sebenarnya saat itu saya menanyakan, apakah naskah saya bisa direvisi. Tapi karena satu dan lain hal (ini bukan karena nggak mau ngasih tau, tapi lupa), saya nggak melanjutkan perjuangan ini.

***

Sambil menulis ini, saya melihat-lihat lagi karya apa saja yang telah saya buat.

Januari 2016 lewat komunitas Blogger Energy, saya bersama teman-teman komunitas berhasil meluncurkan buku antologi cerpen berjudul Blogger Baper. Saya ikut menuliskan satu cerita di sana. Lagi-lagi sebuah cerita tentang masa SMA, masa-masa labil tentang asmara. Pokoknya nggak banget deh, hahaha. Tapi, saya tetap bangga atas proses yang mengiringi sebelumnya.

Setahun kemudian, Januari 2017 meluncur sebuah e-book kolaboratif berjudul Kafe WIRDY. Isinya ada beberapa tema, yaitu tentang kangen, apresiasi kepada Bang Darma (salah satu personel WIRDY), fiksi kilat, dan janji, semuanya ditulis oleh 5 orang. Dari e-book yang disusun dari sekawanan teman ngeblog ini, memberikan saya pelajaran tentang berkolaborasi dalam berkarya. Kembali lagi tentang belajar dari proses yang mengiringinya.

Itu tentang karya bersama. Karya sendiri pun ada.

Sekitar bulan April 2016, saya menyelesaikan kumpulan flash fiction berjudul Lihat! Ada Kilat! Isinya adalah 30 cerita fiksi kilat kurang dari 100 kata, bertemakan tentang cinta.

(iya, bagi yang baru tau, dulu saya sering banget bahas cinta.. sekarang udah bosen)

Saya ingat betul bagaimana proses pengerjaannya. Saya menggembleng diri untuk disiplin. Saya paksa diri saya minimal harus mengeluarkan satu fiksi singkat per hari. Alhasil, semuanya selesai kurang dari 1 bulan karena ada di mana dalam satu hari saya bisa menulis lebih dari 1 cerita.

Sisanya, karya-karya yang lain telah dimuat di blog-blog saya.

Mungkin, yang paling fenomenal buat saya adalah ketika saya menulis di Wattpad.

Saat itu banyak buku terbit yang awalnya dari Wattpad. Waktu itu, saya berpikiran, wah keren ya, bisa pakai cara ini. Karena mungkin latah, saya ikut menulis pula di sana. Hehehe. Pun niat lainnya adalah karena tampilan Wattpad yang oke banget. Cocok buat naruh tulisan panjang.

Dibuatlah sebuah cerpen. Saya kasih judul di karya saya itu “Kedodoran”, yang merupakan singkatan dari “Ketika Doraemon Ditulis oleh Orang Aneh”. Masih dengan genre komedi, saya terinspirasi karena salah satu episode Spongebob yang menceritakan tentang produksi Mermaid Man dan Barnacle Boy  yang dibuat oleh fans. Karena saya suka Doraemon, jadi saya buatlah “versi fans” dari Doraemon. Lebih tepatnya ngacak-ngacak sih, karena saya jadiin tokoh-tokoh itu serba absurd. Hahaha. Pokoknya kacau.

Kalau diingat-ingat, karya-karya yang saya buat itu sangat sederhana (bahkan aneh). Sebuah cerita kurang dari 100 kata, apa susahnya? Bahkan caption Instagram bisa lebih banyak dari itu.

Terus Kedodoran. Dari judulnya aja udah nggak banget, ya? Hahaha. Tapi saya tetep bangga karena pernah berproses di sana. Bisa mikirin singkatan yang sebegitunya butuh proses kreatif. Lalu bagaimana bikin komedi di sana pun termasuk proses juga.

Semuanya adalah tentang mindset. Saya pernah mendengar perkataan ini, “Kuliah itu selain menambah ilmu, juga membentuk mindset. Makanya kenapa ada orang yang tetap sukses walaupun pekerjaannya nggak linier dengan jurusan kuliah. Karena dia punya pola pikir yang matang.” 

Tentang apa-apa yang telah pernah saya lakukan, setidaknya saya berada di jalur orang-orang yang hari ini menjadi penulis buku. Pasti mereka menulis, bereksperimen dengan tulisannya, mencoba kirim naskah ke penerbit, ditolak penerbit, dan hingga akhirnya benar-benar menghasilkan sebuah karya.

Begitu juga untuk kamu yang kini tengah meniti sebuah impian. Apapun impianmu, semangatlah untuk selalu berada di jalan yang tepat. Berusaha dan berdoa.

12 comments:

  1. Samalah, udah di fase nomor enam. Hahaha. Setelah capek sama kegagalan di media lain, ya udah bikin aja di media sendiri. XD

    Pertanyaan gue, apa tulisan komedi emang harus lucu di setiap halaman? Terus kenapa ada buku yang labelnya komedi, tapi bikin nyengir aja jarang banget? Bahkan ada yang sama sekali tidak menimbulkan refleks tawa. Jangan-jangan buku komedi yang tidak lucu justru menjadi komedi itu sendiri~ Wqwqwq.

    Intinya yang gue pelajari sampai hari ini, patokan menulisnya jangan sampai karena uang atau terkenal. Itu enggak salah memang. Tapi kalau enggak kesampaian? Pasti bakalan cepat berhenti. Syukurlah gue setiap menulis seringnya cuma pengin bercerita, curhat, mendongeng. Tanpa peduli bakal banyak yang baca atau enggak. Yang penting hati lega.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ((refleks tawa)) ya ampun, udah lama nggak baca kalimat sakti itu hahaha

      Mantep bang Yogs. Setuju ah tentang tujuan nulisnya

      Delete
  2. waah salut sama perjuangannya semoga bisa menginspirasi banyak oarang ya..

    ReplyDelete
  3. Lanjutkan jalan kebaikan ini, lanjutkan berkarya bang Rob ๐Ÿ‘

    ReplyDelete
  4. perjuangan menulis yang panjang banget ya saya kira cuma saya yang mengalami fase2 kegagalan semacam ini sampai akhirnya memilih penerbit indie untuk menerbitkan buku sendiri (daripada nggak pernah kesampaian hehe)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ini lebih mantep nih sampai ke indie. Keren..

      Delete
  5. Uwah... Keren banget tulisannya. Saya juga pengen banget jadi penulis mas. Tapi ya itu, nggak pede.jadinya sampai sekarang belum coba kirim naskah ke penerbit. Pernah nulis di wattpad cuja tapi sepi pembaca...
    Wakwak...
    Jadi sedih

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.

Follow by Email

Halo!

Robby Haryanto
Memanen hikmah dalam setiap kisah. 

Blog Archive

Teman-teman hebat

Jumlah Tayangan