Ngomongin Buku: What I Talk About When I Talk About Running - Haruki Murakami

Desember 2019 semangat ngeblog saya naik lagi. Rasa semangat ini harus diimbangi dengan munculnya ide. Saya bingung harus apa. Menulis cerita diri sendiri bosan, menulis fiksi nggak sanggup. Saya buka lemari buku, ada beberapa buku yang bisa saya bahas. Aha!

“Rasa sakit itu tak terelakkan. Tapi penderitaan adalah pilihan.”



Setelah mendedikasikan dirinya untuk menjadi penulis, Haruki Murakami mulai giat berlari supaya tetap fit. Apa yang semula hanya bertujuan sebagai olahraga berubah menjadi kegiatan yang membuatnya terobsesi. Saat berlari, ia tak hanya menemukan kebebasan, tapi juga pemikiran-pemikiran baru. Pada akhirnya, Murakami memutuskan untuk ikut dalam maraton di Kota New York tahun 2005. 

Tak hanya berlatih dan bersiap untuk mengikuti maraton, Murakami pun menuliskan pengalamannya tersebut. Hasilnya adalah memoar yang indah tentang obsesinya terhadap menulis dan berlari. Dan, siapa yang menyangka kalau menulis dan berlari punya banyak kesamaan.


Judul: What I Talk About When I Talk About Running
Penulis: Haruki Murakami
Jumlah halaman: 197
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan kedua: Mei 2016

Awal saya tau Murakami karena Raditya Dika beberapa kali menyebut di tulisannya. Saya kepo dong. Alhasil, saya cari buku-bukunya. Ternyata banyak yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, salah satunya buku ini.

Haruki Murakami (sumber: Wikipedia)

Buku ini adalah sebuah memoar Haruki Murakami tentang perjalanannya mengejar obsesinya mengikuti maraton di usia senja. Biar lebih terbayang apa itu memoar, beginilah pengertiannya  di dalam KBBI:

1. n kenang-kenangan sejarah atau catatan peristiwa masa lampau menyerupai autobiografi yang ditulis dengan menekankan pendapat, kesan, dan tanggapan pencerita atas peristiwa yang dialami dan tentang tokoh yang berhubungan dengannya
2. n catatan atau rekaman tentang pengalaman hidup seseorang

Intinya, buku What I Talk About When I Talk About Running banyak berkisah tentang pengalaman Haruki Murakami yang ditulisnya sendiri.

Murakami menceritakan proses buku ini dibuat. Murakami menulis buku yang berjudul asli Hashiru Koto ni Tsuite Kataru Toki ni Boku no Kataru Koto ini pada musim panas 2005 dan selesai pada musim gugur 2006.

Pria kelahiran Kyoto, 12 Januari 1949 ini memulai berlari pada 1982. Joging setiap hari dan setidaknya ikut satu lomba maraton dalam setahun. Bagi Murakami, tidak peduli baginya menang atau kalah dalam suatu olahraga. Baginya, mencapai suatu target adalah hal penting. Maka, lari jarak jauh lebih cocok baginya.

Karakter-karakter penyendiri yang sering dibangun dalam novel-novelnya merupakan refleksi diri pribadinya. Dalam pengakuannya, dia adalah seorang yang menyukai kesendirian. Olahraga lari cocok bagi pribadinya yang penyendiri karena menurutnya, “Selama berlari aku tidak perlu bicara dengan orang lain. Cukup dengan menikmati pemandangan dan menjadikannya kesempatan untuk introspeksi diri.” (hlm 21)

Satu hal menarik yang saya catat: awal karir Haruki Murakami dalam dunia penulisan sangatlah ajaib.

Baca juga
Menjadi Pribadi Hebat
7 Alasan Mengapa Kita Harus Menulis

Siang itu, pada April 1978, ketika dia menonton baseball sendirian, mendukung tim jagoannya, Yakult Swallow melawan Hiroshima Carp. Salah satu pemain Yakult, Hilton memukul bola teramat keras. Dia keluar dari base I masuk ke base II, lalu terlintas di kepala Murakami, “Ya! Aku harus coba menulis novel!” (hlm 33)

Menarik membandingkan orang lain dengan dirinya. Mungkin, di luar sana, atau bahkan kita sendiri, menjadikan menulis sebagai hobi karena terpengaruh hal-hal yang ada kaitannya dengan buku: buku kesukaan, mengidolai sesosok penulis, atau kebiasaan dongeng sebelum tidur. Murakami berbeda. Dia memulainya dengan menonton baseball.

Pada awalnya pun Murakami belum punya bayangan akan menulis apa. Sampai akhirnya, di awal kepenulisannya, Murakami berhasil menuliskan 200 halaman menjadi sebuah naskah. Dia kirim ke sebuah lomba. Naskah itu berjudul Kaze no Uta o Kike (Hear the Wind Song), yang kini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Dengarlah Nyanyian Angin (Penerbit KPG).

Murakami melanjutkan karya-karyanya dengan menulis 1973-Nen no Pinboru (Pinball, 1973) dan Hitsuji o Meguru Bouken (A Wild Sheep Chase). Setelah menulis buku keduanya, Murakami memulai kebiasaan berlarinya. Kebiasaan itu dimulai kembali setelah dia merasakan hilangnya kebugaran tubuh setelah menjadi penulis. Kondisi demikian ditambah dengan kebiasaannya yang tidak sehat dengan merokok. Baginya, menulis lebih melelahkan daripada mengelola bar, tempatnya menjadi pengusaha dahulu.

Setelah pola hidupnya sedikit membaik dengan berolahraga, Murakami merasa menjadi penulis yang lebih teratur dalam hidupnya. Murakami bisa tidur lebih awal dan bisa bangun lebih pagi. Saya mengutip satu paragraf yang masuk dalam catatan saya:

Aku mendapati bahwa kita harus memiliki prioritas dalam hidup. Bagaimana membagi waktu dan tenaga kita untuk melakukan hal-hal sesuai urutan prioritas. Jika kamu tidak bisa menetapkan sistem semacam itu pada suatu masa dalam hidup, kamu akan kurang terfokus dan hidupmu jadi tidak seimbang.

Baca jug:
Bermimpi Jadi Penulis Buku
Diangkat dari Buku Harian

Karirnya dalam berlari dimulai ketika 1983. Kala itu, Murakami ikut lomba lari di jalan raya dengan jarak 5 km. Murakami terus melakukan latihan dengan berlari setiap hari. Baginya, berlari datang dari minat yang tinggi, terutama lari jarak jauh. Sama halnya dengan menjadi novelis. Di usianya yang menginjak 33 tahun, pada usia ini pula Murakami bersungguh-sungguh menjadi seorang novelis.

Obsesinya dalam berlari nggak main-main. Dalam salah satu catatannya, Murakami berhasil berlari minimal 60 km per minggu. Bulan berikutnya naik menjadi 70 km per minggu, bulan berikutnya pun naik lagi menjadi 80 km per minggu. Saat itu Murakami menargetkan keikutsertaannya dalam Maraton New York.

Kesuksesannya dalam catatan berlari tak lepas dari kondisi cuaca di Kauai yang bagus, serta kondisi fisiknya baik pula. Penting ternyata untuk menjadi sebuah catatan kita semua, menurut Murakami, caranya dalam menjaga kesehatan adalah dengan tidur siang. Badan jadi lebih segar dan pikiran menjadi jernih. Keberhasil pun dia dapat saat menyelesaikan maraton di Yunani.

Membaca buku ini, ada satu bagian yang saya suka, yaitu di bab “Sebagian Besar Cara Menulis Fiksi Kupelajari dari Berlari Setiap Hari”. Hal ini mengingatkan saya pada masa-masa getol cerita di blog.



Saat itu, kebiasaan saya pun nggak beda jauh dengan Murakami, yaitu berolahraga. Bedanya, kalau Murakami berlari, saya bersepeda. Saya bisa banyak mendapatkan banyak ide setelah bersepeda. Setelah berkeliling mendapatkan bahan tulisan dan didukung kondisi tubuh yang segar (bonus: pengalaman berkesan di sekolah), saya bisa produktif menulis.

Pada bab ini, Murakami membongkar rahasia dalam menulis, khususnya menjadi novelis. Bagi Murakami, hal yang harus dimiliki seorang novelis adalah bakat. “Tak peduli seberapa banyak semangat dan usaha yang dilakukan, jika kamu tidak punya bakat sastra sama sekali, kamu tidak akan bisa menjadi seorang novelis. Dalam hal ini, bakat lebih seperti prasyarat ketimbang semacam kualitas yang dibutuhkan. Semewah apa pun sebuah mobil, jika tidak ada bensinnya, tidak akan bisa jalan.” (hlm. 87)

Selanjutnya adalah fokus. Fokus dalam hal mengumpulkan semua bakat. Bahkan, ketika jumlah bakat itu sedikit, fokus dapat mengimbanginya. Kemudian novelis perlu juga daya tahan yang tinggi. Murakami mengibaratkannya seperti bernapas. “Jika konsentrasi hanyalah proses menahan napas, daya tahan merupakan seni untuk mengeluarkan napas dengan tenang dan pelan-pelan sekaligus sambil mengisi udara ke dalam paru-paru.”

Fokus dan daya tahan dapat dilatih, begitu tulis Murakami. Saya sangat setuju. Pernah saya membandingkan suatu ketika di tengah-tengah orang banyak. Ketika itu, kami di ruangan diminta untuk membuat suatu tulisan. Berkat kebiasaan ngeblog sejak SMA, saya merasa lebih punya stamina lebih dibanding yang lain. Saat dibandingkan, dengan waktu yang sama, tulisan saya lebih banyak. Artinya, fokus dan daya tahan memberikan dampak bagi saya untuk mengeluarkan isi pikiran lebih lancar.

Dari buku What I Talk About, When I Talk About Running, saya merefleksikan tentang kebiasaan menulis yang dulu pernah terbentuk. Hari ini saya merasa bersyukur, dulu pernah banyak melakukan aktivitas mengetik dan bercerita lewat tulisan. Rasanya lebih mudah karena otot-otot itu telah lama terbentuk.

Melihat sudah sejauh ini saya “berlari” dalam dunia menulis, khususnya ngeblog, sepertinya saya sudah terlalu lama beristirahat dalam beberapa tahun—menulis sesempatnya, bukan menjadi momen istimewa harian. Awal tahun ini mungkin jadi latihan kecil saya untuk bersiap menjelajahi trek maraton yang lain. Bukan hanya blog, ke depannya seminar kimia, seminar pra skripsi, dan skripsi itu sendiri yang merupakan “maraton” dalam dunia kuliah.

Lebih fokus lagi ke blog, terutama dengan perbedaan “rasa” dalam konten, baiknya saya jadikan dinamika awal dalam mengawali trek ini. Mari melaju lagi di blog, biarkan ia alami sambil melihat pemandangan sekeliling.

18 comments:

  1. Seminggu bisa lebih dari 50 km itu gila, sih. Gue paling-paling cuma 20 km. Itu pun dalam seminggu harus lari lebih dari tiga kali. Gue enggak akan pernah bisa lari setiap hari. Kasihan tubuh terlalu diforsir. Haha. Apalagi sekarang musim hujan. Cari waktu buat lari susah banget.

    Jika ada tes bikin tulisan ramai-ramai sebagaimana suasana ujian di kampus yang hening itu sih kebiasaan ngeblog bisa diterapkan. Fokus pun bakal terjaga. Tapi kalau yang semacam lomba menulis di tempat acara bloger gitu, sekalipun cuma butuh 500 kata, pasti ada sebagian orang yang betul-betul terganggu--termasuk gue sendiri--karena kondisinya bermasalah. Misalnya, orang di ruangan itu pada berisik dan duduknya berhimpitan. Jadi, ada situasi yang enggak cocok buat penulis yang butuh kesendirian saat menulis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah bang Yog masih ada waktu buat olahraga, lanjutkan :D

      Wah belum pernah ngerasain situasi gitu malah. Ada juga ternyata masanya begitu

      Delete
  2. gue belum menghabiskan buku ini. padahal udah maksa adek buat minjemin.

    rasanya setelah berlari, memang akan mendapatkan ide yang banyak. tapi, berhubung saat ini, gue lebih suka angkat besi di gym, jdi fikiran gue stuck. tapi, masih tetap mencoba untuk mencari sumber ide yang lain.
    mungkin gue kurang setuju dengan pendapat murakami soal nulis itu berawal dari bakat. role model gue Conor mcGregor sih, yg pernah bilang bahwa semua manusia itu sama, mau berbakat atau enggaknya seseorang, selama berusaha keras dan fokus, akan tercapai. ehe
    tahun ini gue juga lagi berusaha untuk bisa rutin nge blog nih

    ReplyDelete
  3. Waaa baru tau ada buu sebagus ini. Kerasa banget sih emang nulis tanpa olahraga itu melemahkan diri. Ku sekarang udah gada matkul di kampus dan mutusin buat aktif nulis lagi. masalahnya kalau lama-lama di kamar itu suka bikin sakit badan dan sakit otak, berassa kepenjara gitu. jadi belakangan ini ku sering maksain diri buat keluar dan lihat dunia sambil olahraga. dan memang bener banget, rasanya ide itu tumpah ruah setelah keluar daripada cuma bengong di kamar. Pan kapan nyari bukunya di Gramedia sepertinya seru hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener kak, pasti jenuh juga ngadepin tulisan terus. Butuh refreshing sekaligus dapetin ide nulis

      Delete
    2. yupyup, semoga istiqomah maraton blognya.

      Delete
  4. Saya baru tahu tentang perjalanan Haruki Murakami dari cerita tentang buku ini.

    Saya juga suka lari, jogging tepatnya. Tapi ga pernah ikutan lomba2 gitu, haha.

    Wah, semoga bisa lancar ya maratonnya di dunia perkuliahan. Hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, terima kasih kak. Semoga diberi kelancaran juga dalam setiap urusan-urusannya

      Delete
  5. Lgs WOW banget seminggu bisa lari 80km :o. Aku palingan cm menargetkan sehari 6000 langkah hahahaha. Jomplang banget dah.

    Tp baca ini, aku jd kepikiran utk mulai bisa seperti itu mas. Mumpung msh suasana tahun baru, resolusi sehat juga ada, dan mengingat umur udh segini. Pengen mulai melatih daya tahan tubuh dengan olahraga rutin..

    Padahal setiap traveling ya, aku biasanya slalu LBH banyak jalan, rekor tertinggi 20 km dalam sehari. Dari pagi Ampe malam.tp pas balik JKT, lgs deh pgnnya naik kendaraan, males jogging.

    Kayaknya aku bakal beli juga buku Haruki ini, biar ttp terinspirasi utk melakukan kebiasaan baru mulai THN ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat mbak untuk memulai rutinitas olahraganya.

      Jauh juga 20 km jalan. Setengahnya jarak lari maraton :D

      Delete
  6. Saya penasaran sekali dengan buku-buku Haruki Murakami. Awal tahunya sih bukan dari Raditya Dika, tapi dari Bernard Batubara. sepertinya saya harus baca juga...

    ReplyDelete
  7. Noted pada bagian ini:

    Aku mendapati bahwa kita harus memiliki prioritas dalam hidup. Bagaimana membagi waktu dan tenaga kita untuk melakukan hal-hal sesuai urutan prioritas. Jika kamu tidak bisa menetapkan sistem semacam itu pada suatu masa dalam hidup, kamu akan kurang terfokus dan hidupmu jadi tidak seimbang.


    Benar banget. Kalau sejak muda tak terbiasa menentukan prioritas, sampai tua hidupnya kayak ngambang. Gitu-gitu aja.

    ReplyDelete
  8. jadi pengen ngebaca bukunya... soalnya jujur aku suka baca buku, lebih tepatnya ke novel tapi yang fiksi dan bergenre fantasy dan sci-fi.. kurang kalo baca buku yang isinya lebih mengutamakan sebuah opini dan ngebahas sesuatu... tapi, mungkin untuk buku ini, aku akan baca... sedikit tertarik dan sempat tau nama haruki-san dari radit....

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.

Follow by Email

Halo!

Robby Haryanto
Memanen hikmah dalam setiap kisah. 

Blog Archive

Teman-teman hebat

Jumlah Tayangan