Lebih Dari Teguran Dosen

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat teguran dari seorang dosen.

Semuanya disebabkan karena sampah yang berantakan di sekitar ruang sekretariat.

Pada suatu siang, dosen saya datang ke depan sekretariat. Kondisinya cukup ramai dan tempat sampah sudah penuh. Saya berdiri nggak jauh di sekitaran sekret. Beliau menyampaikan teguran kepada saya. Saya kenal dengan beliau, jadi nggak terlalu dingin suasananya. Alhamdulillah, semoga teguran itu jadi masukan untuk kami.

Kondisi di sekitar sekret opmawa, yang berisikan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Badan Legislatif Mahasiswa (BLM), adalah salah satu pusat aktivitas mahasiswa. Posisinya ada di lantai 4 gedung FMIPA. Di sana, banyak ditemui mahasiswa makan dalam bungkusan styrofoam, minum dari botol kemasan, dan sampah-sampah plastik lainnya. Biasanya sampah-sampah itu datang dari anak-anak BEM atau BLM yang suka nongkrong di sekitaran sekret.

Padatnya aktivitas mahasiswa di sana tidak sebanding dengan ukuran tempat sampah yang ada. Sangat sering dijumpai pemandangan nggak enak. Tempat sampah hampir tertutupi sampah-sampah yang sudah menumpuk.

Ilustrasi. Karena saya lupa foto tempat sampahnya, saya ambil gambar dari Pixabay.com

Selain sekret opmawa, di lantai ini ada ruang kelas. Ada pula ruang dosen. Wajar kalau siang itu saya kena tegur. Lingkungan belajar yang seharusnya bersih dan rapi, jadi berkurang indahnya karena dikotori tumpukan sampah.

***

Sore itu, saya lihat lagi tempat sampah kepenuhan muatan. Saya teringat dengan teguran sebelumnya. Saya berinisiatif untuk membereskan. Teguran kemarin lebih saya sikapi sebagai nasihat betapa pentingnya menjaga kebersihan, apalagi di dalam ruang-ruang akademik.

Segera saya mengambil trashbag di dalam sekret. Tidak ingin bekerja sendiri, saya minta tolong seorang adik tingkat untuk membantu memasukkan sampah yang berserakan ke dalam trashbag. Alhamdulillah, dia mau bantu.

Senang saya bisa mengajak orang lain untuk ikut bergerak. Harapannya, banyak orang yang sadar untuk perhatian dengan lingkungan, dalam hal ini dimulai dari kampus. Kecil memang, tetapi saya lihat dia begitu bersemangat. Kakinya dimasukkan ke trashbag, sampahnya diinjak biar padat. Sangat bersemangat.

Sambil memegang trashbag, beberapa saat kemudian, sebuah plastik bekas makanan bersaus terbang mengenai tangan saya. Saya kaget. Seorang melemparnya dari bangku panjang, nggak jauh dari tempat saya berdiri. Orang itu berujar tanpa beban, “Yah, nggak masuk!”

Rasanya campur aduk. Mau marah dan sedih pastinya. Ternyata begini rasanya diperlakukan nggak menyenangkan.

Saya teringat sebuah kisah yang sering saya sampaikan ke adik-adik saya dalam sebuah forum. Sebuah kisah yang populer diceritakan, cerita tentang perjalanan dakwah Rasulullah di Thaif.

Ketika itu, Rasulullah hadir untuk menyampaikan ajaran Islam kepada mereka. Namun, Rasulullah mendapat sambutan yang tidak mengenakkan. Dilemparinya batu dan kotoran kepada Rasulullah, bahkan sampai dihina.

Hal ini sampai-sampai membuat malaikat menawarkan kepada Rasulullah, “Apakah engkau mau aku timpakan gunung kepada mereka untuk membalas perbuatannya? Kalau itu kau inginkan maka akan aku lakukan.”

Namun, apa yang Rasulullah katakan? Beliau bersabar dan mendoakan agar kelak dari bangsa ini lahir keturunan yang beribadah kepada Allah semata.

Mengingat kisah Rasullullah tersebut, saya terdiam. Tertahan sekian detik. Mungkin, andai tidak teringat kisah tersebut, bisa jadi ada kejadian yang tidak terkontrol dari diri saya. Dalam posisi seperti ini, saya bersyukur sebab teringat kisah-kisah penuh hikmah dan teladan dari Rasulullah. Walaupun kondisinya nggak bisa disamakan mau bagaimana pun.

Saya mengurungkan diri untuk melanjutkan kekesalan. Namun, sisa-sisa amarah tetap ada. Karena sudah Magrib, saya pamit, lalu menyalami dan menjabat tangan orang yang melempar saya tadi, kemudian pergi ke masjid.

***

Perasaan campur aduk tadi akhirnya tumpah saat shalat Magrib, tepatnya di rakaat pertama. Baru sampai pada ayat-ayat awal surat Al-Fatihah, mata saya mulai berair.

Ketika surat pendek dibacakan imam shalat, pojok mata saya mulai terasa hangat, lalu mengalir dari sana air-air membasahi pipi saya.

“Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah memperhitungkannya (tentang perbuatan itu) bagimu. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Ketika ayat dari surat Al-Baqarah itu dibacakan, bendungan itu mulai jebol. Alirannya semakin deras dan saya mulai sesenggukan. Hidung pun mulai berair. Apalagi setelah saya tahu, di akhir bacaan ini, biasanya imam akan membacakan ayat terakhir dari surat Al-Baqarah. Sambil membayangkan betapa beratnya hal yang saya terima tadi.

(Baca juga: Cerita Tentang Penerang Hati)

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”

Sebuah ayat yang sampai saat ini masih saya selami dan hayati artinya. Kewajiban untuk menyampaikan kebaikan, yang mana merupakan kewajiban setiap manusia, ternyata bukanlah hal yang mudah, melainkan berat dan penuh rintangan. Begitu pula orang lain menyikapinya.

Saya pun jadi ingat kalimat yang sangat membekas di kalangan mahasiswa. “Kita nggak bergerak, ditanya ‘mahasiswa ke mana’. Giliran kita bergerak, pasti ada yang nggak suka.” Kalimat itu jadi benar-benar relate. Kalau sampah-sampah tadi nggak coba saya dan adik tingkat saya bereskan, mungkin sampah tersebut makin tinggi tumpukkannya. Lebih dari itu, malah menambah pekerjaan para cleaning service.

Namun, ketika ikhtiar itu sudah dilakukan, saya malah dilempar sampah—terlepas dari dia bercanda atau nggak.

Di ayat tersebut pula, kita diajarkan untuk berdoa, memohon, dan berserah diri kepada- Nya dalam posisi serendah-rendahnya.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”

Mungkin apa yang saya lakukan sore itu jauh dari apa yang dilakukan Rasulullah di Thaif. Saya hanya melakukan sebagian kecil dalam niat baik, yaitu membereskan sampah yang tertumpuk. Namun, mendapat perlakuan seperti itu saya sedikit merasa berat memikul pekerjaan tersebut. Sebenarnya ringan, tetapi tetap berat rasanya.

(Baca juga: Merawat Niat)

Maka jadilah bendungan di mata saya jebol ketika dibacakan ayat tersebut.

***

Masuk ke rakaat kedua, air itu mulai berhenti mengalir ketika dibacakan surat An-Nasr. Surat yang pendek, hanya tiga ayat. Menjadi begitu mengena bagi saya sore itu.

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Tobat.”

(Baca juga: Beprasangka Baik kepada Allah? Bisa!)

Ketika dibacakan ayat ini, saya merasa optimis kembali. Setelah memohon pertolongan, saya yakin janji Allah akan datang, yaitu kemenangan. Air mata mulai berhenti mengalir.

Tentu, saya pun sedikit teringat cerita bagaimana asal-usul ayat tersebut diturunkan. Ketika itu Makkah tengah menghadapi kondisi Fathu Makkah, yaitu ketika orang-orang Arab berbondong-bondong masuk Islam. Wallahu a’lam.

***

Kadang, saya berpikir, kapan ya terakhir kali saya bisa begini? Dulu saya pernah merasakan hal serupa saat saya baca arti dari suatu ayat.

Mungkin inilah salah satu nikmat yang Allah berikan kepada saya: bisa tersentuh dan bergetar mendengar firman-Nya. Nikmat yang jarang sekali bagi saya merasakan. Bisa jadi saya selama ini kurang dekat hingga akhirnya jarang mendengar ayat-ayat-Nya.

"Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" (Q.S. Al-Qamar: 40)

Semoga dengan adanya tulisan ini bisa membawa manfaat bagi kita semua, menjadi pengingat, mendekatkan kita dengan Al-Quran, dan meningkatkan semangat kita untuk meneladani kisah-kisah Rasulullah serta semangat dalam jalan menuju ketaqwaan. Aamiin.

7 comments:

  1. Fak, kalau gue di posisi lu, Rob, udah berantem sama orang rese yang lempar sampah itu. Sok banget sianjing. Lu juga jadi jangan sabar banget kenapa sih. Ada waktunya lu bisa menendang biji orang biar gak diremehkan mulu. #DukungRobby

    ReplyDelete
  2. Kesel sih pasti digituin. Dilemparin sampah pas lagi beresin sampah. Entah sengaja atau pun enggak ya. Tapi kayak...”lo gak ngehargain gue banget woy”. Huhu.

    Tiap surat, tau artinya Rob?

    Btw kenapa lo yg disuruh beresin sampah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iya. Entah kapan terakhir ke blog ini. Tapi ini pertama kalinya gue blogwalking dan blog lo enak diliat di hp. Hehe

      Delete
    2. Itu nyalin dari terjemahan aja kak. Sedikit menghayati artinya.

      Oh, kalau itu. Kebetulan posisi saya deket sama dosen pas beliau nyamper..

      Delete
  3. salut sama kamu mas :). Semoga yaaaa makin banyaak orang2 yg mau bergerak memulai sesuatu kayak yg kamu lakuin. kadang aku sedih sih ngeluat sampah di negara sendiri ini kayak ga abis2. apalagi kalo ngeliat lgs sampah tersebut dibuang ama orang di depan mata sendiri. Kenapa yaa susah sekali menanamkan disiplin di masyarakat +62 ini :(. Itu baru sampah, kita belum bicara ttg hal2 lainnya kayak disiplin antei, disiplin dlm hal belajar, integritas dll. ntahlah kapan indonesia bisa jd seperti jepang, ato ga ush muluk2, bisa sebersih negara Korea Utara aja, aku udh amazed. mereka yg negaranya ga semaju kita, tp soal kebersihan harus diacungin jempol. Aku baru balik dr sana, dan samasekali ga nemu sedikiiitpun sampah di mana-mana. kenapa indonesia ga bisa seperti itu ya.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.

Follow by Email

Halo!

Robby Haryanto
Memanen hikmah dalam setiap kisah. 

Blog Archive

Teman-teman hebat

Jumlah Tayangan