28 October 2017

Bersahabat dengan Tumbuhan

Gue melihat tumbuhan sebagai makhluk yang menyenangkan. Dibanding memelihara hewan, gue lebih jago dalam merawat tumbuhan. Dapat dilihat dari track record, selama memelihara hewan gue lebih sering nyiksa dibanding merawat.

Tetangga gue juga bilang begitu. Dia seringkali mergokin gue sedang nyirem tanaman. Bukan, bukan disiram pake gula merah. Itu mah serabi. Yang ini disiram pakai air sumur.

Seorang tetangga bilang ke Mama sambil memerhatikan gue menyiram tanaman. “Robby ini seneng ngerawat tanaman, ya.” Mama gue cuma mengiyakan. “Ya, begitu deh.”

“Nanti kuliahnya di pertanian aja, tuh. Bagus.”

Waktu itu gue masih kelas 4 SD. Mendengar saran itu dari tetangga, jelas gue sedikit senang sekaligus gondok. Cita-cita gue mau jadi pemain bola!

Belakangan cita-cita itu pudar setelah ngelihat teman yang setiap kali main bola mimisan kegebok bola.

Meskipun nggak bisa gerak ke sana kemari seperti hewan, bagi gue, tumbuhan memberi kesan meneduhkan. Mungkin itu juga alasannya kenapa orang melihara ikan louhan; caranya berenang bikin adem. Coba, apa lagi alasannya kalau bukan yang meneduhkan dan membuat nyaman? Emang pernah denger ada bilang, “Gue melihara louhan biar hubungan keluarga jadi retak dong.”

Dibanding teman-teman seumuran juga, gue termasuk anak yang paling tertarik dengan tumbuhan. Gue pun memikirkan apa sebutan yang cocok untuk hal itu. Mungkin plantosexual. Lho, itu mah orientasi seksual ke tumbuhan dong? Mau kawin sama kaktus?

Bukannya sombong, saat gue merenungkan apa yang pernah gue lakukan saat masa kecil, gue bisa menilai waktu itu gue pencinta tumbuhan banget. Kalau diseriusin mungkin gue bisa jadi aktivis reboisasi. Gue melihat tumbuhan sebagai seorang kawan yang selalu merindukan siraman air sumur dari gue, sedangkan teman-teman gue ngelihat tumbuhan sebagai benda yang layak ditebas, disiksa, dan dipretelin tanpa harus ketakutan bakal melawan.

Padahal, tumbuhan adalah salah satu makhluk yang bisa melawan zombie.

Siap di garda terdepan

Kebetulan rumah gue (dulu) ada sedikit lahan yang diisi berbagai tumbuhan dalam pot. Cabe, pandan, suji, dan daun pecah beling ada di tempat yang gue anggap seperti panti asuhan ini. Tumbuhan-tumbuhan itu berkumpul layaknya anak-anak dalam asuhan gue sebagai kepala pantinya. Halah. Apaan itu.

Beberapa orang juga pernah memanfaatkannya untuk keperluan obat dan masak. Dari situ, gue merasa banyak sekali manfaatnya merawat tumbuhan.

Gue senang bermain-main dengan tumbuhan. Beberapa kali gue membuat eksperimen dari teman-teman gue ini (ya, memang kesannya jahat menjadikan teman sebagai bahan eksperimen).

Beberapa momen yang dengan banyak tumbuhan di lingkungan rumah ada yang masih gue ingat.

Pertama, ilmu menyambung tumbuhan. Gue lupa pernah dapat ilmu ini dari mana. Seingat gue, pada suatu hari gue menonton informasi yang menjelaskan tentang menyambung tumbuhan. Sampai akhirnya gue mengenal metode itu bernama cangkok. 

Guru SD gue saat kelas 6 pernah menyinggung soal mencangkok. “Kan enak ya, kalau kita bisa mencangkok ubi dan padi. Jadi, nanti ada padi yang segede ubi. Bisa sekali makan kenyang.” Mendengar hal itu membuat gue penasaran. Apa lagi waktu itu gue dibilang anaknya polos banget dan gampang percaya. Gue masih ingat betul beliau bilang begini di kelas:

“Kalian tau nggak teroris itu asalnya dari mana? Dari orang-orang yang polos, nanti otaknya dicuci. Nah, di kelas nih kayaknya ada yang begitu.” Dia mencari wajah-wajah muridnya yang sebentar lagi akan lulus SD ini. “Nih, Robby kayaknya, nih.”

Gue jelas nggak terima dibilang polos. Teman-teman gue selalu bilang “Wah, Robby udah nggak polos” sewaktu mereka ngomongin hal-hal jorok. Tuh, kan, teman-teman gue aja bilang begitu. Guru gue salah dong. Tapi waktu itu gue sempet bingung, maksudnya otak dicuci itu kayak gimana.

Rasa penasaran juga semakin memuncak setelah melihat anak sekolah tetangga ujian praktik IPA melakukan cangkok. Sedangkan gue cuma merangkai lampu secara seri dan paralel. Mana lampunya nggak nyala. Gue makin kesel. Setelah UN, gue mencobanya sendiri di rumah. Tentunya dengan modal kesotoyan.

Langkah awal gue adalah: mencari tumbuhan yang (harapannya) bagus kalau dicangkok. Berkat perkataan guru di sekolah, gue langsung mengambil objeknya adalah pohon pepaya. 

Awal yang bagus. 

Setelah itu, gue harus mencari tumbuhan yang kira-kira tumbuhnya cepat. Di antara tumbuhan yang berhasil tumbuh besar dari mulai benih sampai ke pohon yang pernah gue coba adalah pohon jarak. Pohon yang biasanya diambil buahnya buat bahan bakar ini lumayan banyak ditanam di sekitar rumah gue. Gue segera mencari pohon jarak yang sudah setinggi pinggang untuk disambung ke pohon pepaya.

Sampai sini, gue sudah membayangkan pohon pepaya yang tumbuhnya cepat. Atau, sejelek-jeleknya menjadi pohon pepaya yang buahnya jadi bahan bakar. Penemuan besar! Gue akan jadi ahli botani cilik saat itu.

Gue segera memotong pohon pepaya setinggi pinggang. Bagian atasnya gue sambungkan ke pohon jarak yang batang bagian atasnya gue buang. Gue mengambil gulungan solasi bening untuk menyambung keduanya. Namun, sambungan itu malah letoy. Gue coba berkali-kali disangga dengan kayu, tetap saja lemah sambungannya. Tenang, tenang. Ini langkah awal untuk hal besar. Robby Kecil sangat optimis saat itu.

Seminggu kemudian, kedua tanaman itu layu. Gue mendapati keduanya sudah tergeletak di tanah. Semangat gue juga layu. 

Ah, bener. Mending jadi pemain bola aja, batin gue

***

Mungkin waktu di rumah gue yang dulu pohon jarak adalah primadona. Gue seneng dengan pohon ini karena tumbuhnya cepat dan cara nanamnya lebih gampang. Tinggal diambil buahnya, dipendem di tanah, tunggu beberapa hari, tumbuh deh. 

Lalu tebas.



Di mes, gue bersama Sofyan adalah penggerak penanaman pohon jarak. Gue perintahkan dia buat menanam pohon jarak bersama. Biji yang kami tanam didapatkan dari pohon jarak milik Abah. Suatu malam, gue pernah nguping obrolan seputar buah jarak.
“Buah jarak itu bisa dimakan. Enak. Rasanya kayak kacang. Bijinya dibakar dulu, baru dikupas dalamnya.”

Sebuah info yang menarik. Beberapa hari kemudian, di sore hari, gue mencoba hal itu di antara bakaran sampah. Gue tawarkan buah jarak yang sudah dibakar ke Sofyan. “Lu nggak mau coba nih?” Sudah seharusnya seorang aktivis seperti dia menerima itu.
“Nggak deh. Buat lu aja.”

Gue menggetok batu ke biji itu, kemudian dikupas. Di dalamnya ada bagian daging berwarna putih. Benar-benar mirip kacang, batin gue. Gue mencicipinya, ternyata nggak terlalu buruk rasanya. Memang, sih, rasanya nggak mirip kacang. Setidaknya cukup enak buat dimakan.

Kebiasaan itu ternyata memberi efek candu buat gue. Beberapa kali setiap ada pembakaran sampah gue selalu nebeng api dari sana buat ngebakar buah jarak. Sofyan sesekali ikutan makan. 
Gue ingat malam itu. Sepertinya menjadi malam yang paling keren buat gue karena gue sudah menyiapkan empat buah jarak untuk dikonsumsi malam ini. Gue ke pembakaran sampah, lalu melempar buah jarak seperti biasanya. Satu bijinya gue ambil untuk dikupas kulitnya dan dimakan. Daging putih biji jarak gue makan. Kira-kira sudah melewati kerongkongan, gue mulai merasa mual. 

Akhirnya muntah. 

Sambil nyari tahu tentang buah jarak, untungnya nggak ada efek lebih jauh dari makan buah jarak. Gue baca di salah satu artikel, ceritanya persis tentang dia makan buah jarak. Penulisnya sempat ngerasain pusing. Kalau begini caranya, gue belum layak jadi petualang yang sekitarnya tumbuhan semua. 

Jadi pemain bola aja, udah!


Sumber gambar:
http://www.mangyono.com/2014/02/makan-buah-jatropha-curcas-jarak-pagar.html
https://www.bukalapak.com/products/s/buah-tanaman-jarak-pagar

17 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Plot twist: jadi bloger konsisten yang kemudian dapat receh dari tawaran kerja sama.

      Delete
  2. Kalo kamu terus ngembangin minat di dunia botani itu, Rob, saya yakin ketika besar nanti kamu akan berhasil membesarkan malika seperti anak sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh, Malika yang pohon rambutan itu ya?

      Delete
    2. Hawadis: Demi pertanian lebih baik, gapapa deh.

      Mayang: Zayn Malika.

      Delete
  3. Kalo dilihat dari fengshui, kayanya kamu kurang cocok bekerja di dalem air *loh

    Tapi emang bener sih lebih enak memelihara tumbuhan daripada hewan. Tapi lebih enak lagi kalo kita memelihara hubungan antara sesama manusia.

    Wih cita-citanya jadi pemain bola tapi kuliah di jurusan kimia. Apakah akan seperti di film shaolin soccer main bola disuntik pake obat kimia dulu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, bener itu mah. Memelihara hubungan arus pendek listrik gimana tuh, Bang?

      Nggak dong. Nanti main bolanya di belakang gawang, ngerakit bom.

      Delete
  4. saya jadi ingat ibu. ibu suka sekali berkebun. bahkan di saat emak-emak lain marah kala anaknya menghilangkan tutup tuuperware, ibu lebih marah kalau anaknya tanpa sengaja menyenggol daun tanaman Gelombang Cintanya.

    Robby sepertinya cocok menjadi ahli botani. kali ini saya idem dengan Haw. tapi jangan sampai kawin dengan kaktus. kasihan telur kamu, nanti pecah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anaknya kalau disenggol bakal marah-marah juga nggak ya?

      Kalau udah pecah diceplok aja, Mbak.

      Delete
  5. ((PLANTOSEXUAL))

    Ooooh jadi selama ini kamu berjuang sekuat tenaga buat melunturkan citra anak polosmu gara-gara singgungan guru kamu, Rob? Hasilnya sekarang malah jadi anak baru lulus SMA bertampang mahasiswa semester 5 ya. Terlalu tidak polos. :(

    Aku ngebayangin buah jarak jadi kayak buah kuldi. Efeknya mayan tuh walaupun nggak separah kuldi sih. Hem.... kalau kamu berminat buat menumbuhkan semangat menjadi ahli botani lagi, kamu pasti tau harus datang ke siapa. Yak, benar. Datang ke alumni sarjana pertanian kebanggaan negeri dongeng junjungan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmmm, kok, masuk akal juga ya? Huahahha. :D

      Tidak hanya menjadi ahli botani, tetapi juga akan dibisikin job.

      Delete
  6. Bisa bisaaaa :))

    Rob, gue yakin lu bisa jadi pesepakbola terkenal.
    Ketika ada musuh akan me-nyleding-tekel, tatap aja matanya dalam2, sentuh pundaknya perlahan, lalu ucapkan, 'kenapa reaksi kimia antara oksigen dan tanah menjadikan hidup ini indah?'

    Gue yakin...gue yakin.....

    Lu bakal jadi pesepakbola yang berbobot, cerdas, dan gak cuma modal tampang :)

    ReplyDelete
  7. mirip kayak kakak pertama gue nih. kata ibu gue, dia pinter soal tumbuhan. nanam apa aja pasti tumbuh, kalo gue... seminggu paling layu, terus mati. :"

    itu zaman gue SD banget nyangkok huahahahaha. untungnya dulu di halaman rumah ada pohon mangga dan jadilah dia sebagai bahan eksperimen demi nilai. :')

    ReplyDelete
  8. Sejauh ini, eksperimen tumbuhan yg pernah atau sering gue lakukan adalah memantulkan cahaya matahari mggunakan lup, buat ngebakar tumbuhan. Terkesan jahat ya? :(

    Cangkoknya ditambel pake solasi.... Dikira kabel kali, putus trs disambung pke solasi. Wkwk. Parah, robby telah mnghilangkan 2 nyawa tmbuhan tdak berdosa sbgai eksperimen :( wuahaha. Stau gue nyangkok itu pake kaen2an tp di dlm kaen itu dksh tanah, trs diiket ke btangnya. Gtu bukan? Haha. Gapenah nyba jg si.

    Eh, cba piara tmbuhannya kyak di plants zombie smua ya? Ntr bunga mataharinya bsa mghasilkan matahari sndiri.. Luat biasa smua tmbuhan2 di game itu yah..

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.