Pelatihan Menjadi Anak Indekos

Anak kos itu keren. Memang keren setelah dengar beberapa cerita perjuangan mereka. Bagaimana caranya ngatur uang sampai ngatur waktu, anak kos biasanya punya triknya masing-masing. Beda kamar, beda strategi.

Anak kos lebih akrab dengan mahasiswa. Setelah menjadi mahasiswa, gue pengin merasakan jadi anak kos. Walaupun agak aneh rasanya (tapi tidak menutup kemungkinan) kuliah di kota sendiri harus ngekos.

Sebenarnya masuk akal kalau gue ngekos. Rumah di Jakarta Barat sedangkan kampus di Jakarta Timur. Jaraknya lumayan jauh, apalagi letak kami sama-sama di ujung. Barat ke timur. Kalau berangkat kuliah diartikan sama dengan terbitnya matahari dan pulang diartikan terbenam, artinya selama perjalanan gue kuliah artinya MENUJU KIAMAT!

Jangan deh, jangan. Jangan sampai. Kuliah harus terus menyenangkan.

Apalagi setelah gue hitung jumlah waktu perjalanan dari kampus ke rumah menghabiskan paling cepat tiga jam untuk berangkat dan pulang. Itu paling cepat. Mungkin, waktu paling lama bisa-bisa membuat gue berhasil menuliskan tiga laporan praktikum sekaligus. Sudah pasti gue akrab dengan permen selama perjalanan biar nggak ngantuk dan tidak kecurian. Juga dengan balsem, buat ngobatin nyeri di kaki karena harus berdiri terus di bus Transjakarta.

Selama masa pengenalan akademik (MPA) di kampus, gue ngekos untuk beberapa hari. Hampir disebut begitu, walaupun kenyataannya gue cuma numpang di kosan orang.


Perjalanan

Pukul 19.30 gue masih di rumah. Siap-siap mau ngejilid spiral tugas yang dikasih untuk MPA. Pesan broadcast sudah disebar ke grup WhatsApp, isinya tentang informasi jam kedatangan pukul 5.30. Gue nggak menyangka harus sepagi itu.

Gue panik.

Masalahnya, sepagi itu nggak ada angkutan. Bus Transjakarta yang selama ini jadi andalan juga belum beroperasi. Mau naik ojek online pasti nggak sanggup karena lebih dari 25 kilometer. Masa harus naik taksi? Biayanya pasti mahal. Mati gue, mati, kalau gini caranya. Apalagi ini kegiatan semacam ospek, yang artinya: TELAT = HUKUM SIAP MENANTIKU.

Gue langsung kepikiran sebuah rencana: Nanti tengah malam gue berangkat, naik angkot apa pun. Kalau nggak ada, jalan aja sampai kampus. Tidur di SPBU, mandi di sana, lalu sampai sana tepat waktu.

Sewaktu gue jabarkan rencana itu ke kakak pendamping gue di jurusan, dia malah panik. Dia melarang gue untuk melanjutkan rencana. “Jangan begitu, Rob. Banyak kriminal jam segitu. Kamu cari teman kamu yang ngekos dekat kampus deh.” Lalu dia mengirimkan kontak seseorang. “Nah, coba kamu hubungi Agung.”

Agung adalah teman seprodi gue di Pendidikan Kimia.

Tanpa banyak mikir, gue langsung minta tumpangan malam ini—setidaknya sampai besok pagi. Agung langsung mengiyakan dengan syarat gue harus bawa laptop buat dia ngerjain tugas. Gue ngomong dalam hati, “Gila juga ini anak. Tugas buat besok belum dikerjain.”

Gue lihat di jam dinding rumah, waktu menunjukkan pukul 21.15. MALAM. Benar, malam hari. Gue memastikan semua perlengkapan buat MPA sudah masuk ke tas semua. Sebotol teh manis tak lupa menghangatkan tas gue.

Saat beberapa rute bus mulai ditutup, gue baru berangkat.

Orang-orang masuk ke dalam bus dengan suka cita karena baru saja menyelesaikan rutinitasnya yang membosankan, gue sebaliknya. Gue malah murung sekaligus khawatir karena berangkat semalam ini.

Keluarga mereka sudah siap di rumah menyambut kedatangan anggota keluarganya, sedangkan gue baru saja pamit untuk pergi.

Ya Allah, ini kenapa sedih begini?

Rasanya semua kesedihan itu nggak ada apa-apanya setelah gue ketemu seseorang di halte Grogol.

“Mau ke mana, Mas?” tanya gue. Mungkin atas dasar senasib (karena nunggu bus malam-malam) membuat gue berani sok akrab.

“Mau ke sana.” Dia menyebutkan sebuah tempat. Gue lupa. Nama tempatnya asing bagi gue.

“Baru pulang kerja?”

“Iya,” jawabnya. “Tadinya mau sekalian nginep aja di tempat kerjaan. Pulang jam segini pasti nyampe tengah malam juga.”

Beginilah waktu nunggu bus

Dia bahkan belum tahu kapan sampai rumah. Gue ikutan sedih. Lebih sedih lagi ada seorang wanita yang nunggu bus ke arah BSD, Tangerang. Dia nunggu bus lebih dulu daripada gue, tapi nggak dapat-dapat. Akhirnya dia keluar halte, lalu nunggu taksi sendirian. Saat itu pukul 11 malam.

Gue bisa menyaksikan bagaimana cemasnya orang-orang saat malam hari. Bingung nyari angkutan umum.

Seharusnya, dari halte ini ada satu bus yang bisa langsung mengantarkan ke kampus. Mungkin pukul 11 malam sudah tidak beroperasi lagi. Semakin panik lagi setelah Agung bilang kosannya cuma buka sampai pukul 11.

“Tungguin dulu,” kata gue.

“Buruan sini. Ibu kosan gue udah marah-marah,” balas Agung.

Setelah naik bus seadanya—tidak langsung sampai tujuan—dan bermodalkan uang Rp17.000 untuk naik Gojek, gue berhasil sampai ke kosan Agung pukul 0.20. Bagus. Nggak ada orang bertamu sepagi ini.

Di balik gerbang sudah ada seorang ibu dan anjing di dalam kandang yang menggonggong. “Dari rumah jam berapa kamu?”

“Jam 9, Bu.”

“Ah, iya. Pantas itu. Nggak mungkin dia berangkat jam 8.” Kayaknya si Agung bohong deh bilang gue berangkat jam 8.

“Mau sampai kapan di sini?” tanyanya. Gue paham betul apa maksud dari pertanyaan itu.

“Sampai pagi aja, Bu. Nanti langsung pulang,” jawab gue agar tidak dimintai uang tambahan, seperti yang diterapkan di beberapa tempat kos. Tak lupa gue meminta maaf dan langsung masuk ke kamar Agung. Berdua. Di dalam kos.

***

Di kosan Agung

Di kosan Agung gue cuma ngerjain beberapa tugas yang belum selesai karena pagi nanti semuanya harus dikumpulkan. Bau-bau deadliner sudah tercium dari tubuh gue. Gue sedikit merasakan haus. Gue melihat seisi kosan Agung, tidak ada tanda-tanda kesegaran di sini. Air di botol minum isinya tinggal setengah. Kalau dihabiskan, gue bakal kehausan. Botol gue simpan ke dalam tas, habiskan di kampus, dan nanti minta sama orang-orang dermawan di kampus. Kalau mendesak, botol ini siap menampung air dari keran masjid.

Punggung udah ngerasain sakit ketusuk-tusuk angin malam. Pukul 2 gue masih melek bareng Agung yang masih sibuk ngetik tugas. Dia lebih deadliner daripada gue. Gue tertidur, bangun lagi pukul 4 untuk segera ke kampus mengikuti briefing MPA.

Permasalahan air minum rasanya jadi terselesaikan setelah gue menemukan seorang teman duduk di samping dispenser. Tanpa ragu dia menekan dispenser dan menadahkan air ke botolnya. Gue ikuti cara dia. Botol kosong tadi kini terisi setengah.

Sungguh indah oase di tengah padang pasir. Sungguh menyejukkan dispenser beserta galonnya di tengah masjid.

Briefing MPA selesai sampai sore dan belum masuk ke acara inti. Keluar dari kampus gue ke rumah Agung untuk mengambil barang, seperti pakaian kotor. Gue langsung pulang untuk menyiapkan tenaga untuk MPA hari selanjutnya. Besok masih ada jeda sekitar tiga hari, barulah sampai ke acara MPA.



Di kosan Rian

Masih ingat Rian? Dia adalah partner seperjalanan gue di Halilintar sewaktu jalan-jalan ke Dufan. Orang yang masih gue bingung, sebenarnya dalam silsilah keluarga antara gue dengan dia itu apa namanya.

Tidak usahlah mempermasalahkan itu. Intinya, dia adalah saudara yang kebetulan satu kampus. Dan orang yang berbaik hati mau gue tumpangi selama MPA.

Untuk masalah izin, bahkan sampai sekarang gue belum izin ke yang punya kosan tempat Rian tinggal. Licik memang, licik. Demi menghindari dimintai uang tambahan, gue diem-diem aja. Gue masih dihitung tamu, padahal gue numpang di kosan dia sampai tiga hari. Tamu tidak beradab.

MPA dimulai sangat pagi. Pukul 5.00 para maba harus sampai kampus. Masih nggak memungkinkan bila gue berangkat dari rumah untuk sampai pukul segitu. Makanya gue tetap memutuskan untuk menumpang. Kerjaan gue di sini cuma ngerjain tugas dan tidur. Oh iya, di sini enak. Minumnya disediain tuan rumah. Jadi gue nggak perlu pura-pura ke kamar mandi terus ngisi botol pakai air keran.

Satu-satunya masalah adalah asupan. Yang pernah diceritakan kakaknya Rian, sekaligus kakak ipar gue, adalah Rian adalah tipe orang yang pilih-pilih makanan. Gue, selama disediain, nggak pernah pilih-pilih. Paling ada beberapa makanan yang, sekalipun mereka bilang enak, gue nggak akan makan.

Benar saja. Di kosannya, Rian nggak pernah makan. Begitu pun gue. Cocok deh keduanya buat sama-sama kelaparan. Gue mau ke luar nyari makan sendiri, nggak enak. Mau ngajak makan bareng, agak malu karena kami baru banget kenal. Harusnya saat itu gue ajak, sih, biar sekarang akhirnya nggak gue tulis di blog. Lihat sekarang. Jadinya gue ngeluh dan nulis postingan blog. Ah, hidup.

Nggak makan, akhirnya nahan lapar. Nahan nangis juga. Yang ditangisin karena kangen orang-orang di rumah. Heran, meskipun jaraknya nggak jauh-jauh amat—masih satu kota, rasa kangennya jadi dalam banget sewaktu gue menemukan banyak kesulitan di sini. Masih belum bisa tinggal sendiri. Masih selalu harus diingetin makan. Masih ngerasa payah. Abisnya, gue takut kalau nanti semisal sedang sibuk ngerjain tugas, selama nggak ada yang ingetin gue makan, gue tidur dalam keadaan lapar.

Selama gue di kosan dua orang di atas, gue nggak makan nasi. Agak kurang, makanya gue bilang jarang makan. Sebagaimana slogan makan yang berlaku di Indonesia berlaku: Belum disebut makan kalau belum makan nasi.

Begitu selesai rangkaian acara MPA, gue puas-puasin makan di rumah. Terus terang, gue langsung nambah dua kali makan nasi pertama di rumah setelah tiga hari di kosan orang. Setelah makan, Mama nanya ke gue, “Terus jadi mau ngekos?”

Gue menjawab, “Nggak, Ma. Nggak apa-apa deh tua di jalan daripada harus nahan lapar terus.”


Sumber gambar:
http://spongebob.wikia.com/wiki/Rock_Bottom


16 komentar:

  1. Bwahahahahha lemah kamu dek Robi. Masih di Jakarta juga ya padahal, bisa sekangen itu sama keluarga. Apakabar aku yang pulang kamoung cuma satu tahun sekali.

    Mmmm percaya deh sekarang bisa bilang "nga apa-apa tua di jalan juga... "liat aja beberapa bulan ke depan. Ku jamin kamu pasti bakalan lebih milih ngekos.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, tiap orang bakalan berubah cara pandangnya. Gue pun sampai sekarang termasuk orang yang males tua di jalan. Tapi males juga ngekos, karena pemborosan kalau masih sama-sama Jakarta. :)

      Delete
    2. Puti: Aku kan anak rumahan banget. Ke warung bentar aja langsung kangen keluarga. JANGAN BILANG BEGITU. Nanti pengin ngekos betulan. :(

      Yoga: Nah, itu alasannya males ngekos. :D

      Delete
  2. Gila juga pengalaman beberapa hari ngekos, lebih tepatnya numpang. Hidup sendiri emang susah sih, makan susah, tidur susah, segalanya susah. Salut buat orang2 yang ngekos di luar sana.

    Agak geli pada penekanan: Berdua. Di dalam kos.

    ReplyDelete
  3. Belajar hidup nomaden ya Rob.

    Tapi bener sih kayaknya setelah beberapa bulan ke depan lo bakalan lebih milih kos daripada tua di jalan. Gue aja yang ngehabisin waktu sejam di jalan rasanya bosen banget.

    Good luck for your life, anyway!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga kuat aja deh pergi-pulang. Jakarta Barat ke Jakarta Timur harus diperpendek nih jarak dan waktu tempuhnya. :))

      Delete
  4. Mantap jiwa, aduh itu ibu kos nungguin bener dah :v ehm.. berarti kalo ngekos ada orang ikut numpang harus bayar lagi ya?


    Kalo menurut gue sih tua di jalan itu engga baik sih, tapi tergantung orangnya juga

    ReplyDelete
  5. Lumayan juga dari rumah ke kampus, 3 jam perjalanan. Mending ngekos kalau aku mah. Cape di jalan Rob, hahaha.

    Masalah bayar membayar selama nginep di kostan temen itu, ngga berlaku kalau di daerah Solo kayaknya. Iya, habis ibu-ibu kostnya menurutku pada cuek sih. Intinya mah, bebas-bebas aja selama kamu sopan. Insyaallah ngga disuruh bayar :D

    ReplyDelete
  6. ngekos aja enak daripada dirumah gak bisa bobo sendiri, makan sendiri, selalu sendiri :(

    ReplyDelete
  7. lah itumah jarak Sidoarjo-Malang kalo gue naik motor matic (ngebut parah). Kalo pake Honda Astrea keluaran 1997 sih 2 jam.

    Lumayan banget itumah. Ngekos aja dek. Selamat datang di dunia 'mikir duit' hahahahaha. Enak sih, dikasih duit.....nah tantangannya mau dipake buat apa aja duit itu. Hobi gue sih nabung #tsaah. Jadinya punya duit sendiri deh /?/ [hasil nabung duit jajan dr orgtua padahal.

    Eh btw blog nya menghasilkan kan? Jadi duit bkn masalah dong ;)

    ReplyDelete
  8. kayaknya kalau ngeliat medan jaktim jakbar mending ngekos deh, Rob. gapapa, namanya juga baru awal, nanti kalau udah terbiasa cari makan di sekitar kompleks kosan. kalau mau nyari-nyari pasti ada yang murah. dan untuk temen, kan masih awal jadi canggung gitu.

    bukan masalah tua di jalan, tapi efisiensi waktu :( meskipun di rumah dekat dgn keluarga, aman, nyaman, urusan makan beres, tapi kalau bisa memangkas tiga jam perjalanan dan digunakan untuk hal-hal yang lebih fungsional, kenapa enggak?

    ReplyDelete
  9. Dari rumah gue aja ke JakTim itu jauh anjis. Sering 1 jam lebih kalau ditambah macet. Padahal udah naik motor. Gimana yang dari rumah lu. Naik TJ sampai 3 jam begitu. Wuahaha. Tua di jalan kalau dapet duduk bisa sambil baca atau draf tulisan enak. Kalau diri, pengin menangis saja~

    Soal yang orang-orang baru pulang tengah malam sekitar 11 lewat, udah sering gue rasakan waktu proyekan kerjaan ke Cikarang dan Bekasi. Aslilah itu pas ngelihat mereka, orang-orang yang masih nungguin kendaraan umum berjuang untuk pulang, dari dalam mobil entah kenapa sedih banget. Bersyukurnya dari kerjaan gue itu disediakan transport.

    ReplyDelete
  10. Keputusan yang tepat, Rob. Untuk tahun pertama atau semester pertama mending bolak-balik aja dulu. Selama tahun pertama itu nanti kamu bakal kenal ama temen2 baru. di akhir semester 1 biasanya kamu sudah menemukan sahabat2 serta mulai mengenal lingkungan kampus. menafaatkan kesempatan itu untuk mencari info kosan dan lingkungan dari temen angkatan yang ngekos. karena bukan apa, di tahun kedua entar/semester dua biasanya tugasnya udah mulai parah, jadi waktu harus dimanfaatkan maksimal. sednagkan di bus nggak bisa sambil ngerjain laporan.

    semangat Robby...

    ReplyDelete
  11. Kalo menurut gue mending ngekos sih, Rob. Apalagi MABA, biasanya pasti sering banget pulang malem datang pagi, tugas juga numpuk, tapi kalo lo pengin tua di jalan ya gapapa. Mungkin itu jalan lo. Fight Rob. ( '_')9

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.