Salah satu obat penghilang stres adalah bernyanyi. Nggak sedikit yang setuju dengan cara ini. Apakah dia bisa nyanyi atau nggak, yang senang-senang aja setelah nyanyi pasti setuju. Beberapa orang yang nggak setuju, mungkin pernah punya pengalaman buruk sewaktu nyanyi sehingga trauma. Niatnya mau ngilangin stres malah tambah stres setelah suaranya dikomentarin, “Lu nyanyi apa ngeden?”

Kalau gue, nggak mikirin amat apa kata orang perihal suara sewaktu nyanyi. Termasuk sewaktu nonton konser live. Ini konser, Brother! Nggak ada yang mau dengar suara gue juga. Peduli setan mau nyanyi seancur apa.

Sebelum dimulai


Ceritanya, hari Selasa, 21 Februari 2017 kemarin ada acara Pensi Fair dari Global TV. Acara itu datang khusus ke beberapa sekolah terpilih. Beruntungnya, sekolah gue terpilih dan kebagian jatah. Melihat poster yang tertempel di mading, ada sederetan nama beken di sana: HIVI, Superman is Dead, Rocket Rockers, dan masih banyak lagi. Namun, hanya ada satu bintang tamu yang mengisi pada hari ini, dan ini membuat gue berasumsi setiap sekolah memang kebagian satu bintang tamu. Hari itu, Rocket Rockers menjadi penampil di sekolah gue, SMA Negeri 33 Jakarta.

Awalnya agak disayangkan. Kenapa harus Rocket Rockers? Padahal ada HIVI yang lagu-lagunya lebih banyak gue tahu ketimbang Rocket Rockers. Kan, enak, seandainya hujan-hujanan sambil diiringi lagu “Siapkah Kau ‘Tuk Jatuh Cinta Lagi”, terus berteduh sejaket berdua. Pastinya anjay!

Atau, sekalian aja Superman is Dead. Nyanyi sampai teriak-teriak lebih leluasa karena lagu populer mereka banyak yang gue tahu. Pastinya seru ngikutin vokalis nyanyi di bawah panggung. Namun yang ada, Rocket Rockers. Siapa mereka? Terima aja deh, acara gratisan ini.

Untuk acaranya diawali dengan penampilan band dan tari daerah yang ditampilkan siswa dari sekolah gue. Semuanya tampil bagus kalau dibanding gue yang nggak bisa sama sekali main alat musik dan kaku menari. Yang bikin kaget, sejak kapan banyak banget yang bisa tari daerah? Di sekolah gue memang ada ekskul tari daerah, yaitu tari saman. Nah, kemarin itu tari saman malah nggak tampil. Dugaan gue ternyata salah. Gue kira saking modernnya zaman dan tarian, anak-anak seumuran gue gengsi buat tampil tari daerah.

Acara terakhir diisi band yang dinanti-nantikan, walaupun nggak semua orang nungguin Rocket Rockers dan memilih pulang. Seperti gue, misalnya. Gue sebelumnya memang kurang tahu tentang Rocket Rockers. Cuma satu lagu mereka yang pernah gue dengar. Berhubung ada kata “rockers” di band tersebut, gue mengira-ngira suasana sekolah ini bakal keren nantinya setelah Rocket Rockers naik panggung: suasana bakal menghentak-hentak, rock banget, dan orang mabok berkeliaran.

Ajakan-ajakan moshing mulai muncul dari beberapa lelaki di barisan belakang. Ada hasrat yang harus gue tuntaskan. Gue harus ikutan moshing!

Setelah mikir-mikir sebentar lagi mau Ujian Nasional, gue membatalkan keinginan untuk moshing. Jangan nyari penyakit menjelang UN.

Sampai tiba waktunya Rocket Rockers naik panggung. Gue teriak-teriak histeris, padahal cuma ceksound. Namanya orang nonton konser (apalagi ini gratisan) pastinya harus teriak. Kata sambutan mereka ucapkan sebagai pembukaan acara. Lalu Aska, vokalis Rocket Rockers teriak ke penonton, “Welcome to the Rocket Rockshow!”

“WOHOOOO!” kata gue sambil meninju langit. Penonton bertepuk tangan meriah.

Lagu demi lagu mereka bawakan, yang dengan sukses membuat gue bertanya-tanya apa judulnya. Kerennya, walaupun gue nggak tahu lagu apa yang dinyanyiin, gue tetap lompat-lompat. Nggak jauh di belakang gue, teman gue yang tadi ngajak moshing lompat-lompat bareng teman-temannya membentuk lingkaran. Persis kayak di konser-konser. Nggak mau kalah, gue juga ikutan lompat. Diki, di sebelah gue, ikutan lompat tetapi nggak lebih lama daripada gue.

Gue ngomong ke Diki sambil teriak, “Karena gue nggak punya geng, gue lompat aja sendirian!”

Nggak peduli. Gue mau senang-senang. Mau ngelupain masalah.

Ajaibnya, gue merasa saat nonton ini nggak ada beban sama sekali. Ungkapan “butuh ruang bebas untuk teriak sekeras-kerasnya” kayaknya cocok kalau dilakukan di tengah lapangan saat itu. Gue teriak sebebas-bebasnya dengan volume suara yang pasti kalah dengan speaker. Paling efeknya cuma dilihatin orang di depan.

Apalagi saat Aska nyuruh penonton buat jongkok, kemudian dalam hitungan ketiga kita disuruh lompat. Begitu hitungan ketiga, gue melompat tinggi dan melodi gitar mulai dimainkan.

Rocket Rockers juga sempat ngebawain lagunya Zayn Malik yang “Pillowtalk”. Sebelumnya, Aska ngadain dialog singkat sama seorang penonton lelaki. Ini bukannya dialog singkat kayak yang ada di acara mistis. Tenang.

Vokalis: Kamu punya kecengan?

(Mohon diperhatikan. Kecengan itu gebetan. Gue kemarin ngelihat ke kanan dan kiri, penonton kebingungan setelah mendengar kata “kecengan”)

Penonton: Punya.

Vokalis: Di sini? Atau di sekolah lain?

Penonton: Di sekolah lain.

Vokalis: Oke. Kamu bisa main gitar?

Penonton: Nggak.

Vokalis: Bagus. Kalau bikin puisi bisa?

Penonton: Nggak.

(Dalam hati, heran. Ini anak bisanya apaan dah? Gue nggak bisa main gitar tapi bikin puisi bisa kok. Walau jadinya nggak kayak puisi)

Vokalis: Bagus. Ah, terakhir. Kamu tipe cowok yang romantis kalau bisa beliin pacar kamu bunga atau bisa beliin pacar kamu apartemen?

Gue nggak tahu jawabannya, yang jelas tiba-tiba Aska ngasih tips. “Kamu tipe cowok yang nggak bisa main gitar, nggak bisa bikin puisi, dan beli apartemen aja pasti jauh lah, ya. Sekarang, kamu dengarin saya. Nanti kasih tahu ke gebetan kamu lagu yang saya mau nyanyiin.”

Maka si penyanyi menyanyikan lagu “Pillowtalk”.

Kembali, gue nggak tahu lagu ini.

Pada beberapa daftar lagu akhir, menjelang acara usai, Aska ngasih bridging sedikit sebelum membawakan lagu yang lainnya. “Sekarang waktunya kita pendinginan dulu. Cooling down.” Gue sudah menebak-nebak, pasti lagu itu yang bakal dibawa. Lagu yang pernah gue dengar dua tahun lalu.

Seorang penonton lelaki kelas 12 disuruh naik ke panggung, menyanyikan lagu yang yang akan dibawakan Rocket Rockers nanti.

“Coba nyanyiin sedikit aja,” pinta Aska.

Dia mendekatkan mikrofon ke mulut. Dia bernyanyi, “Di sini, kembali kauhadirkan ingatan yang seharusnya kulupakan. Dan kuhancurkan adanya.”

ITU DIA LAGUNYA!

Rocket Rockers mulai membawakan lagu “Ingin Hilang Ingatan”. Benar, lagu yang dulu sering gue dengar bersamaan dengan lagunya Pee Wee Gaskins – “Sebuah Rahasia” dan Remember of Today - “Pergi, Hilang, dan Lupakan”. Lagi galau-galaunya dulu, sering banget denger lagu-lagu itu. Lagu-lagu yang kayaknya punya kesamaan, tapi sampai sekarang gue nggak tahu di mana kesamaannya.

Mulai memasuki bagian reff, gue ikutan nyanyi. Ngeluarin semua suara dan menurunkan ketegangan dalam jiwa. Melupakan sejenak masalah yang terjadi lebih kurang lima jam sebelum gue berada di sini, di lapangan, menonton Rocket Rockers manggung. Gue nggak ingat apa-apa lagi saat ikutan nyanyi bersama penonton, yang mungkin sama kayak gue—nggak tahu Rocket Rockers, saat mikrofon disodorkan ke bawah panggung.

Masalah itu sepertinya nggak akan gue tulis di blog untuk saat ini. Saat ini, sambil mengetik tulisan terbaru di blog ditemani lagu “Ingin Hilang Ingatan” – Rocket Rockers, gue mengingat-ingat kenyataan pahit itu. Lagu berhenti, kemudian gue putar ulang. Ingin hilang ingatan, rupanya.
Read More »


Yes. Akhirnya ujian praktik selesai. Hari kedua. Berarti masih ada satu, dua, tiga... empat. Ya, empat hari lagi! Kampret. Di jadwal harusnya hari ini masih ujian praktik. Namun berhubung karena ada pilgub DKI Jakarta, maka ujian praktik dijeda sehari, dan dilanjutkan hari esoknya.

Berkaitan dengan pemilihan gubernur, gue nggak terlalu gimana-gimana soal kali pertama ikutan nyoblos. Dibilang seneng, pasti seneng banget. Selama ini gue baru pernah ikutan pemilihan-pemilihan yang diadain di sekolah. Dari yang paling sederhana kayak pemilihan ketua kelompok belajar (yang biasanya berakhir dengan gue jadi ketua gara-gara nggak ada cowok lain). Lebih tinggi lagi tingkatannya, nge-vote di pemilihan ketua OSIS. Setingkat lebih nggak penting, pemilihan menu makan siang di kantin; nasi goreng atau soto mi.

Salah satunya pemilihan yang pernah gue ikuti dan banggakan adalah, pernah nge-vote SMS Limbad di The Master RCTI. Kecewa parah, sih. Kenapa Limbad dulu nggak menang?!

Pilgub DKI Jakarta 2017 ini adalah pemilihan umum pertama di tahun pertama gue punya KTP. Kira-kira bulan Juli 2016, gue berhasil dapat KTP hanya dalam waktu dua minggu setelah pembuatan. Keren. Gue berhasil bikin dengki teman-teman gue yang sampai dua bulan KTP-nya nggak jadi-jadi. Muahaha.

Menghadapi pilgub ini, rasa grogi muncul dalam diri gue. Heran, yang jadi calon gubernur siapa, yang grogi siapa. Gue takut, saking groginya, pas buka lembar surat suara gue malah ngeluarin kertas buram, nulis rumus. Begitu ngelihat isinya cuma ada selembar kertas doang, gue protes ke panitia, “Pak, belum dapet LJK!” Terus, kaget ngelihat pilihan cuma ada tiga, biasanya pilihan jawaban itu sampai E.

Menjelang pemilihan gubernur, tepatnya tiga hari sebelumnya, orang yang nggak dikenal datang ke rumah-rumah di kontrakan daerah rumah gue membawa seplastik besar warna merah. Dia mengetuk pintu ke pintu, lalu memberi sesuatu. Karena saat itu gue lagi ada di pintu belakang, jadi yang nerima bingkisan itu bapak gue, yang lagi ada di pintu depan. Sebuah kain hitam tipis Bapak pamerkan di depan gue.

Sebuah kaos partai salah satu paslon.

Tanpa ragu, langsung gue cobain.

Sampai ke minimarket, masih pake kaos itu. Dengan pede gue pake kaos partai untuk pilgub pertama dalam hidup. Rasanya kayak lagi musim Piala Dunia. Bodo amat walaupun gue nggak dukung paslon yang ada di kaos, tapi gue tetep girang pake kaos paslon. Ibarat Piala Dunia, gue dukung Inggris tapi ke mana-mana pake baju Persija. Kira-kira begitulah.

Keluar dari minimarket, di seberang parkiran seorang bapak ingin menyebrang. Dalam gelapnya malam, kaos hitam itu, persis yang sedang gue pakai, dipakai si bapak penyebrang jalan.

Gue ngelihat diri sendiri, lalu ke bapak itu.

Kita couple-an.

Nggak lama setelah itu gue mampir ke tukang fotokopi, ketemu juga dengan orang yang pakai kaos sepaslon. Ada di mana sebenarnya gue ini?

Kalau begini jadinya, gue jadi berasa ada di film Warkop DKI Reborn, saat adegan Dono, Kasino, dan Indro ngejar cewek berbaju merah sampai ke Malaysia, namun yang mereka temukan adalah lautan orang-orang berbaju merah. Persis, nih. Ketemunya orang-orang yang kaosnya sama.

Kemudian di hari pemilihan, gue sengaja bangun lebih pagi. Soalnya kedinginan. Selain itu, gue mau buru-buru keluar rumah nungguin serangan fajar. Siapa tau dapet kaos lagi. Hehehe. Kagaklah! Alasan sebenarnya adalah karena gue ada jadwal latihan nyanyi buat ujian praktik.

Gue bersama Mama berangkat menuju TPS pukul 8 pagi. Disapa orang-orang, Mama gue membalasnya dengan menyapa balik. Sedangkan gue, nggak ada yang ngenalin. Nasib menjadi tetangga yang jarang keluar rumah. Seperti yang biasa kita tonton di TV saat pemilihan umum, para kandidat akan diliput perjalanannya menuju TPS dan disapa warga sekitar. Kondisinya mirip kayak yang gue rasain.

Nah, gue yang jadi asistennya cagub. Diem aja sepanjang jalan.

Di warung penjual sayur, Mama menyapa ibu-ibu yang sedang memilih sayur. “Mbak, saya duluan ya."

Ibu-ibu tadi tetep fokus milih sayur. Nggak ada yang denger mama gue ngomong. Sedih.

Tanpa perlu mengantre, singkatnya gue sudah berada di bilik suara. Di depan gue sudah ada surat suara berisi foto tiga pasang kandidat pemimpin DKI Jakarta. Menimbang-nimbang siapa yang akan gue pilih. Sudah lama gue mantapkan dalam diri untuk memilih... saku sebelah kanan. Lah, dikira ikutan Super Deal!

Setelah memasukkan kertas suara ke dalam kotak suara, jari kelingking gue nyebur ke tinta hitam. Ini yang gue tunggu sejak lama. Tinta yang menjadi bukti kalau gue sudah berhak memilih pemimpin. Gue nyelup jari lama banget, lalu gue keluarkan dan ngomong dalam hati, “Ini kok tebel amat njir?!”

Dan ini yang menjadi perbedaan: pemilih lama dan pemilih baru.

1) Pemilih lama cuma nempelin jari di permukaan tinta;
2) Pemilih baru, kayak gue, nyelupin jari sedalam-dalamnya.

Gue masukin kira-kira seruas jari saja. Lumayanlah, buat bukti (dan pamer di Instagram Stories)



Omong-omong, ada yang kayak gue juga? Warna tintanya berubah jadi kayak ada ijo-ijonya?

Di TPS gue juga ketemu Mas Nova, teman yang dulu sama-sama tinggal di mes, yang sekarang tinggal dan kuliah di Malang. Tadinya gue mau nanya, “Tadi milih siapa?” tapi nggak jadi karena gue memang harus buru-buru ke rumah teman. Akhirnya cuma salam-salaman aja dan ngobrol sebentar.

Ini cerita nyoblosku. Mana cerita kamu saat dicoblos? Eh, maksudnya gimana?
Read More »



Berada di kelas 12 sangat-sangat menguras emosi. Kadang kita bisa dibikin seneng hanya karena ketemu soal yang bisa dikerjain semua waktu try out, sampai yang bikin sedih kayak... tahu kenyataan hari-hari ujian makin dekat. Mohon sabar. Ini ujian.

Oh iya, biar nggak tegang-tegang amat, gue mau bahas film dulu. Yoi, jarang, kan, gue bahas-bahas film. Biasanya juga kalo punya film diumpet-umpetin. Film apakah itu?

Oke, nggak usah lagi menebak. Film yang gue bahas kali ini adalah film pendek yang dibuat oleh seorang blogger yang gue kenal, Rahul Syarif. Bulan Januari akhir kemarin, dia bikin film judulnya “Sandera”. Melihat promosinya dari jauh-jauh hari dan genrenya yang dia bilang misteri, membuat gue menebak-nebak, apa misteri dari film Rahul?

Eniwei, gue nggak ngerti-ngerti amat soal film. Begitu tau Rahul meminta gue untuk mereview filmnya, maka dengan ini gue mengatakan, “Maaf, Rahul. Kamu menemukan orang yang salah.”

Oke, karena keprofesionalan gue sebagai orang ganteng (ada gitu?), maka gue mengiyakan dan mereview ala orang-orang awam. Yeah! Orang awam selalu apa adanya dalam me-review.



Judul : SANDERA
Durasi : 20:37
Genre : Misteri-Komedi
Cast: Rahul Syarif, Krisna Pratama, Tahir Naila, Sangia Elma
Penampilan Khusus: Aditya Bintang
Cameo: Sahir Pratama, Muh Anaqhia, Muh Iskar
Sinopsis:
Sandera, menceritakan tentang Adi (Rahul Syarif) suka sama cewek Bernama Risha (Sangia Elma), namun Harus menyelamatkan Risha Yang has disandera. Dibantu Oleh Bagas (Krisna Pratama) Dan Ogi (Tahir Naila), apakah Adi can menyelamatkan Risha?

Setelah gue tonton, ada hal yang cukup mengejutkan. Membuat gue bertanya-tanya. Siapa sih nama pemeran ceweknya? Ehehe, nggak deng.

Dari segi akting, menurut gue ekspresi dari Rahul, si tokoh utama, kurang dimainkan. Dari dialog-dialognya datar-datar aja gitu. Entah karena karakternya emang begitu atau aslinya emang begitu. Apa Rahul tegang karena lawan mainnya cewek cakep? Biar Rahul aja yang menjawab.

Penceritaannya, lumayan nge-twist, sih. Menurut gue banyak dialog-dialog yang seharusnya bisa dihilangkan. Kayak adegannya yang di rumah itu bisa dibikin padat lagi dialognya, biar cepet.

Kalau dari teknis pencahayaan dan segala macamnya, gue nggak bisa komentar. Nggak ngerti apa-apa soalnya. Dari keberanian Rahul membuat film sendiri patut diacungi jempol. Mantap!

Secara garis besar penilaian, satu kalimat yang mewakili film ini: ENDINGNYA SADIS. Ternyata inilah sisi misteri yang ditunjukkan Rahul, dengan membuat kita tercengang.

Rating: 6.5/10

**

Kembali ke kehidupan kelas 12.

Mari kita mulai dengan kalimat...

KOK GAK TERASA YA?!

Perasaan baru aja kemarin lagi pusing-pusingnya nyusun kalimat di surat cinta ke kakak OSIS. Terus ngerasain dunia berhenti berputar begitu ngerasain pahitnya hidup; lebih nyesek daripada diselingkuhin. Dan baru banget, ngerasain jadi ketua kelas. Semuanya kok kayak terasa baru kemarin gue di sini, eh sekarang udah kelas 12.

Teman blogger yang seumuran dengan gue cerita, kalau ujian praktik di sekolahnya nyeremin.

“Ujian praktek pelajaran IPA dikerjain sendiri-sendiri. Mana materi yang diujikan banyak banget, 7-8 materi. Baru diundi pas hari-H. Gila.”

Gue kaget bacanya. Gimana kalo nanti ternyata di sekolah gue juga begitu? Masalahnya, untuk urusan ujian praktik, terlebih dalam pelajaran peminatan IPA—Fisika, Biologi, dan Kimia—gue sangatlah payah. Yang kelompokan aja gue jarang bantu-bantu, gimana kalo nanti sendiri-sendiri. Salah satu cara menghadapi kebuntuan: nenggak larutan kimia.

Misalnya, dalam ujian Biologi. Ada salah satu praktik memotong kaki katak lalu dikejutkan untuk mengetahui selnya yang masih hidup. Dulu gue, karena baru sembuh dari sakit, langsung mau muntah begitu kaki si katak buntung.

Tetapi, guru Biologi gue memberi sedikit ketenangan perihal ujian praktiknya. Katanya, ujian praktik nanti cuma nguji kandungan makanan aja... yang cuma gue tau. Selebihnya susah semua! Dan kemungkinan gue bisa dapat yang lain, yang lebih susah. 

Kedengarannya emang gampang praktik uji kandungan makanan. Cuma ngebenyekin nasi, telur, atau kentang kemudian ditetesi larutan penguji, terus warnanya berubah. Dari warna itu ketahuan kandungan apa yang ada di makanan tersebut. Masalahnya, ngafalinnya itu yang malesin. Uji kandungan makanan berubah jadi INI UJIAN APA LAGI YA, ALLAH?!

Pelajaran IPA yang lain, Fisika, agak seru secara bayangannya. Gue selalu ngebayangin bisa benerin alat-alat rumah tangga berbekal ilmu Fisika yang gue pelajarin di sekolah. Minimal ngerti rangkaian lampu, deh.

Namun, setelah dicoba ternyata nggak segampang yang gue bayangin. Karena ujian praktik nanti nggak dikasih tau dan nggak diberi kesempatan baca panduan, gue nggak akan kebayang mau ngapain kalau beberapa hari sebelumnya nggak baca-baca dulu. Setidaknya, kalau gue nggak bisa, gue bisa nyelamatin diri dari kesetrum.

Oh iya, makin deket ujian nih. Apalagi minggu depan udah ujian praktik. Gileee, harus bener-bener jaga pola hidup biar nggak gampang sakit dan lemes. Makan selalu tepat waktu, tentunya tanpa diingetin pacar. Hehehe. Tanpa pacar makan mah tetep makan. Pacaran nggak pacaran yang penting makan!

Cuma, ada sedikit masalah. Mengenai keinginan lari minimal seminggu sekali, itu rasanya kok susah banget. Tiap Minggu abis salat Subuh malah lanjut tidur lagi. Bangun-bangun udah siang, makan nasi uduk dan jajanan pasar. Hidup gue berasa enak banget nggak ngeluarin keringet. Ah, kayaknya udah mulai sekarang gue harus lari.

Masalah cuaca juga jadi perhatian khusus. Akhir-akhir ini hujan lagi sering turun di Jakarta. Sepertinya hujan turun buat meredam atmosfer panas pilkada. Huehehe. Siap-siap tenaga juga sering-sering buat nyuci kaos kaki.

Doakan kelancaran saya di ujian praktik dan ujian selanjutnya! Semoga nggak kesetrum, muntah, dan nenggak larutan kimia secara brutal!
Read More »

thumbnail-cadangan
Udah bulan Februari. Bulan yang tiba-tiba berubah jadi merah jambu, dipenuhi cokelat, dan gombalan-gombalan “bapak kamu pasti tukang ...”. Tetapi, bagi anak kelas 12, inilah garis awal menuju fase dibikin pusing sama ujian. Sudahlah. Gue lagi nggak kepengin bahas ujian-ujian dulu.

Mengenai hari Rabu ini, 8 Februari 2017 menjadi hari yang sangat menyiksa mata. Jadi, di sekolah gue ada semacam psikotes. Ada tes minat juga. Waktu pelaksanaannya dari pukul 1 siang sampai setengah 6 sore. Hampir 5 jam melototin kertas dan bergulat dengan soal yang bikin otak cedera. Tapi, selama pengerjaan nggak tau kenapa, waktunya jadi terasa cepeeet banget. Pukul 1 ke pukul 3 jadi berasa cuma 30 menit.

Pengerjaannya juga padat waktu. Satu jenis soal selesai, lanjut ke jenis soal yang lain. Kemudian, ada sesi mengetahui minat. Tes minat yaitu, tes yang kira-kira bisa ngarahin kita mau ke mana nanti kuliah. Program studi seperti apa yang bisa kita ambil.

Di lembar soal ada kolom vertikal berisi nama-nama program studi, di sebelah kirinya ada kotak kosong untuk diisi nomor. Ada sebelas daftar program studi, lalu kita ditugaskan untuk mengurutkan mana yang paling disuka hingga ke yang nggak disuka. Masalahnya, kolomnya nggak cuma satu, tapi banyak. Sekitar kurang lebih ada lima. Masalah pribadinya... gue nggak banyak tertarik. Prodi yang gue minati cuma itu-itu aja. Sedangkan yang di sini, beragam banget.

Teman sebangku gue, Diki, bilang, “Kalo kayak gini pasti ketahuan deh apa minat lu.”

Kata gue dalam hati, “Ya emang tujuannya, kan, itu.”

Kemudian terjadilah percakapan seperti ini:

Gue: Misalnya, gue paling kuat di Fisika. Nah, kira-kira gue pasti bakal milih Fisika di tempat pertama dan di tempat kedua Teknik Mesin. Gampangnya, kan, begitu. Bedanya tipis. Sama-sama belajar Fisika juga.

Diki: Tapi kalo kayak gitu tuh ketahuan, Bi. Jadi, nanti dia kegampangan nyimpulin ke mana minat kita.

Gue: (mikir)

Diki: Gue mau nyusahin mereka! Gue bikin ngecoh nih.

Gue: (masih mikir) Oh, lu mau bikin minat lu ke macem-macem gitu?

Jadi, maksud si Diki mau ngecoh adalah, di kolom pertama dia bakal nonjolin ke Ekonomi, selanjutnya ke Seni, kemudian ke Agama, Kedokteran, Teknik, dan sebagainya.

Gue: Oh, gue ngerti. Nanti pas dikasih hasil kesimpulannya, tulisannya begini: “Robby Haryanto disarankan untuk MENGUASAI DUNIA. MARUK AMAT, BOS, SEMUANYA DIMINATI!”

Bayangin aja kalo emang yang Diki maksud itu beneran ada. Jadi kayak orang-orang zaman dulu yang super-super banget otaknya. Ambil contoh Michael Faraday. Setahu gue, kontribusi dia ada di bidang Fisika dan Kimia. Namanya juga dijadiin satuan hitung. Gue jadi kepikiran, orang-orang dulu belajarnya gimana ya? Sedangkan dulu internet belum ada (dan hoax juga), kepikiran buat ikut bimbel apalagi. Tapi bisa pinter-pinter. Satu orang bisa jago semua pelajaran. Kalo dibanding gue, sampe sekarang nggak ngerti-ngerti amat sama Akuntansi.

***

Akhir-akhir ini gue lagi suka banget dengerin lagu secara acak. Biasanya gue denger lagu di laptop atau di radio sewaktu naik angkot.

Di laptop gue punya satu folder khusus yang isinya lagu-lagu kesukaan. Atau kalo lagi niat, biasanya gue nyari folder yang isinya satu album penyanyi, kemudian gue putar semua. Album-album itu gue dapat dari download soalnya belum sanggup beli yang original. Cuma kelemahannya, nggak semua lagu dalam satu album jadi lagu favorit gue. Akhirnya harus klik tombol next kalau lagi nggak pengin dengerin.

Sampai gue tahu ada yang namanya fitur autoplay di Youtube. Semua orang tau ini fitur lama, dan gue aja yang udik. Gue selama ini ngira, kebanyakan video di Youtube, kan, ngarahnya ke yang aneh-aneh. Misalnya lagi nonton Smackdown, tiba-tiba di sebelah kanan ada rekomendasi video Tari Ubur-ubur. Kan, yang kayak begini yang malesin. Gue ngira di autoplay juga begitu.

Ternyata setelah beda dengan bayangan sebelumnya, gue jadi ketagihan dengerin lagu di Youtube (tentunya, ini hanya berlaku saat gue ke warnet. Irit kuota). Pokoknya kalo gue udah dengerin lagu di Youtube, terserah deh si Youtube mau autoplay ke lagunya siapa. Biasanya keputar otomatis lagu yang sama bagusnya dengan lagu sebelumnya.

Hobi dengerin lagu model begini (pasrah sama mesin pengacak lagu) sebenernya udah sering gue lakuin dari lama. Paling sering kalo lagi main ke pasar sore, lalu sengaja ngedeketin toko kaset bajakan. Nah, biasanya ada satu atau dua toko yang nyetel lagu kenceng-kenceng. Pake speaker hajatan mungkin itu orang.

Yang disetel, biasanya kaset mp3, yang sebiji kaset isinya ratusan lagu. Kita cuma bisa pasrah sama abang-abang kaset. Lagu yang diputar kadang nggak ketebak. Kalo lagi beruntung kesetel lagu-lagu bagus. Seringnya, sih, lagu-lagu kayak Kerispatih, Samsons, Radja, Kangen Band, Vagetoz, dan lain-lain.

Kalo lagi bener yang kesetel malah lagu qasidah yang liriknya begini: “BILA IZROIL DATANG MEMANGGIL.”

Hati adem.
Read More »

Pertemuan yang kuimpikan, kini jadi kenyataan.

Kira-kira begitulah lirik lagu yang cocok dengan isi post ini. Ehm, tapi kok jadi dangdut begini?

Tanggal 11 Desember 2016 gue ikut kopdar blogger kedua dalam hidup. Tempatnya di Taman Ismail Marzuki. Satu hal yang mengganggu pikiran gue adalah: di mana itu Taman Ismail Marzuki.

yang bikin: instagram.com/tigabumi

Tiga hari sebelum kopdar gue sempat nyari informasi rute ke Taman Ismail Marzuki. Karena gue pengguna Transjakarta sejati, dengan usaha keras gue cari di halaman pertama Google. Hingga akhirnya bertemu sebuah blog yang mencerahkan kegundahan.

Di sana disebutkan bahwa dari halte Kalideres naik bus ke arah Harmoni. Lalu nyambung naik ke arah Blok M, turun di Bank Indonesia. Kemudian di Bank Indonesia ngasih lamaran kerja jalan sebentar sampai perempatan, naik kopaja 502.

Yok, semoga ngangkat. Semoga penjelasan tadi bisa masuk page one. Muehehe. Kali aja ada yang nggak tahu jalan kayak gue. Udah gue jelasin, nih. Huhuy.

Oh, tentunya, niat busuk ini nggak akan sekadar keinginan untuk page one. Tetapi gue akan memberi tips lain, yang pernah gue bahas dulu: naik Transjakarta tanpa kartu.

O iya, untuk orang-orang yang sering mabok naik kopaja, gue menyarankan untuk pake alternatif lain. Seperti gue, yang takut ketiduran dan kepercayaan terhadap kopaja sangatlah minim—rumornya banyak copet, lebih memilih naik ojek online. Mau ngirit? Jalan kaki boleh banget. Sekitar 2 kilometer jaraknya dari halte Bank Indonesia. Namun, biar lebih ngirit, jangan pernah nunggu tank Jerman. Nggak bakal lewat.

Setibanya di perempatan, gue langsung buka aplikasi Grab. Gue cek tarifnya cuma lima ribu. “Murah banget, setan!” pikir gue. Kemudian di layar handphone muncul foto bapak-bapak dengan nama dan nomor plat motornya: AD xxxx BL.

“Posisi di mana, kak?” tanyanya di personal chat.

Gue mengetik, “Di page one Google.” Kemudian gue hapus teks itu. “Saya ada di depan Wisma Mandiri. Menghadap Ravindo.”

Di seberang jalan ada bapak-bapak jaket hijau berplat AD. Jangan-jangan dia... Angkatan Darat. Di ujungnya juga ada huruf L. Jangan-jangan dia.. Angkatan Darat Laut. Platnya mirip sama yang tadi di layar handphone gue.

“Saya ada di Ravindo.”

“Saya bukan di situ, Pak. Di Wisma Mandiri.”

Singkat cerita si Bapak Grab datang. Mukanya kesel. “Tadi saya udah di Ravindo, nggak ada orang.” Pengin banget gue bales, “SIAPA YANG NYURUH KE SITU, BOS!”

Gue langsung naik motor dan memakai helm. “Tadinya mau saya telepon, tapi nggak ada namanya,” kata si Bapak Grab sambil menunjukkan handphone-nya.

Gue nyadar, akun Grab gue nggak ada foto dan namanya. Nomor telepon yang gue pake juga udah mati. Bener aja, si driver Grab agak takut. Ya, siapa tau aja dia mikir lagi ngadepin setan pemesan ojek online.

“Tadi saya udah lihat bapak. Tapi pas saya cocokin kok beda platnya,” bela gue. Setelah gue lihat platnya “AD xxxx QL”.

“Tapi ada AD-nya, kan?”

“Iya.”

“Nah, berarti sama.”

TAPI “Q” SAMA “B” BEDA, YA.

“Hehehe. Yaudah deh, maap ya, Pak.”

Untungnya Grab nggak menerapkan sistem rating untuk konsumen. Bisa-bisa gue nggak dikasih bintang sama si Bapak Grab.

Kemudian, gue bingung. Ini mana cerita kopdarnya, ya? Lima ratus kata cuma buat cerita perjalanan doang. Harusnya kalian skip cerita perjalanan gue. Kalau udah terlanjur baca tak apa. Yang ini nggak boleh di-skip. Muehehe.

Sampai di depan Taman Ismail Marzuki, gue bingung harus ke mana. Mengecek pesan di grup WhatsApp, Bang Yoga bilang, “Ke Planetarium.”

Lah, katanya di Ismail Marzuki?

Gue masuk ke dalam, lalu melihat ada bangunan bertuliskan “Planetarium”. Gue baru sadar kalau Planetarium satu kawasan dengan Taman Ismail Marzuki. Belajar muatan lokal Pendidikan Lingkungan Kehidupan Jakarta (PLKJ) sewaktu SD dan SMP jadi sia-sia rasanya.

Di antara kerumunan ini gue nggak bisa nyari di mana dia. Akhirnya gue ngumpet di belakang mobil yang diparkir di depan Planetarium. Lagi benerin topi, Bang Yoga nyamperin gue bareng satu orang lainnya.

Reza,” katanya seraya menyalami tangan gue.

Kita bertiga langsung nyari-nyari Kak Lulu yang katanya udah sampai. Nggak terlalu lama mencari, kita bisa menemukan dia di kantin, bersama pacarnya.

Sambil ngobrol, kemudian datang secara berurutan Bang Dika, Bang (atau Mbak?) Dian, Kak Feby, dan putri soleha asal UIN, Kak Adibah yang sempat nyasar di perjalanan.

Sekitar pukul 1 Kak Vira datang membawa banyak sekali persediaan air. Katanya, takut pada kehausan. Sungguh baik sekali Kak Vira. Tanduk merah yang dia pakai saat itu jelas beda dengan kepribadian aslinya. Sebenarnya itu bukan tanduk sungguhan, melainkan bando. Bando ya ampun.

Nggak lama kemudian, seorang lelaki yang gagah perkasa datang. Dia adalah Bang Ucup, jagoan lama di blogger. Gue nggak terlalu tau orangnya, tapi seru orangnya!

Kami pergi ke tempat yang entahlah-gue-nggak-tahu-namanya. Belum sempat membuka forum obrolan, kami diusir satpam. Sebelum mencari tempat lain, foto dulu.


Wuhuy~

Siang itu hujan turun, membuat kami berteduh di depan XXI. Dan di situlah kami cerita dan sharing soal kehidupan. Gue cuma dengerin aja. Biar ngerti beratnya hidup. Muahaha.

Oh iya, nggak lupa foto.

Zaman dulu

Lampunya nyala

Sepanjang pertemuan, gue nggak banyak ngomong. Padahal ini kopdar kedua dan gue masih enggan bicara. Jangan ditanya kenapa, emang begini kali anak-anak pendiem. Kalo dipancing dan obrolannya gue ngerti, baru deh nyambung.

Beginilah gue kalo serius nyimak. Padahal nahan haus.

Ancang-ancang mau menyundul


Bang Yoga tiba-tiba pergi. Katanya sebentar. Begitu kembali, dia bersama seorang cewek yang wajahnya seperti anak madrasah. Sepertinya dia bagian dari kelompok ini.

Rizka,” kata si anak madrasah itu. Kemudian dia salam-salaman ke semua orang layaknya halal bi halal di sekolah.

Setelah Asar, acara hanya dilanjutkan delapan orang. Bang Yoga, Kak Adibah, Kak Lulu dan pacarnya, Bang Dika, Bang (atau Mbak?) Dian, Bang Reza, dan gue pergi ke KFC terdekat untuk makan sore.

Gue ke sini, jujur aja, nggak tahu mau mesan apa. Sebabnya, gue jarang ke KFC. Terakhir kali ke KFC itu pas kerja kelompok dan gue nggak beli apa-apa. Akhirnya, jadi kelihatan udik deh.

“Nitip dong. Apa aja deh,” kata gue ke Bang Yoga. Dia mau mesan makanan.

“Maunya apa?”

“Apa ya? Yang murah aja.”

Setelah Bang Yoga menyebutkan beberapa menu yang paling murah, gue setuju dengan nama makanan yang gue lupa sewaktu nulis ini. Lupa beneran. Pokoknya box kecil yang isinya nasi sama semacam tempura. Tempura aja gue nggak ngerti apaan. Biar keren aja.

Maka dari itu, untuk saat ini, gue belum siap jadi culinary blogger. Menu KFC aja nggak tahu. Cemen banget.

Bang Yoga memesan dua lychee float (ini gue ketahui setelah nanya dia di WhatsApp). Dia nawarin gue buat minum lychee float punya dia yang satunya. Lebih dari sekali dia bilang, “Udah, itu minum aja, Rob.” Gue menolaknya karena air yang gue bawa masih ada.

Dan pada hari ini, gue mendapat pelajaran berharga dalam tata cara minum lychee float: jangan pernah mengangkat gelas hanya memegang tutupnya. Itulah yang terjadi pada Bang Yoga. Ketika dia angkat bagian antara penutup dan badan gelas, lychee float tumpah begitu saja.

Tumpah. Berceceran di meja.

Ada sedikit penyesalan dalam diri gue. “Tadi mah mending gue minum aja kalau ujungnya harus terbuang.”

Sehabis makan, Kak Lulu dan pacarnya pulang lebih dulu. Kami masih melanjutkan di sini untuk main games. Dari dalam tasnya, Bang Yoga mengeluarkan dua bungkusan. Yang satu di dalam tote bag, satu lagi dibungkus koran. Katanya itu buku sebagai hadiah main games nanti.

Sebagai yang punya hadiah, dia ngasih permainan berupa tebak apa yang ada di pikirannya. Oh, tentu saja kami tidak akan kuat menebak pikirannya yang mesum aneh itu. Dia punya satu kata yang diketik di handphone-nya, lalu kami menebak dengan clue yang hanya dia jawab “bisa jadi”, “ya”, atau “tidak”. Jawaban “nggak papa” dan “terserah” nggak ada. Pokoknya mirip permainan Indonesia Pintar di Eat Bulaga.

Clue pertama: nama band.

Putaran jawaban dimulai. Kami berlima nggak bisa menjawab.

“Band indie?” salah satu dari kami menyebutkan clue lanjutan.

“Bisa jadi,” jawab Bang Yoga.

Mampus. Gue nggak tau apa-apa.

Saking frustrasinya gue sempat menjawab Kangen Band dan Vagetoz. Semakin ketahuan bahwa selera musik gue adalah band menye-menye.

“Apaan nih? Nggak tau lagi, ah.”

Kesempatan kami untuk menjawab telah habis. Layar handphone ditunjukkan, tertulis “Killing Me Inside” di sana.

Yaelah. Itu mah gue tau.

Belum ada pemenang.

Clue kedua: hewan

Mendengar clue tersebut, gue sangat terpacu untuk menang. Sudah banyak nama hewan beserta nama latin yang pernah gue hafal, karena gue anak IPA. Jadi, kesempatan untuk menang semakin tinggi. Semangat!

“Amfibi?”

“Bisa jadi.”

Oke. Amfibi. Yang gue pelajari di sekolah ada dua. Kalo nggak kodok, ya salamander.

“Salamander?” jawab gue.

“Bukan.”

Gue nggak tau mau jawab apa lagi. Sempet jawab “Bison” karena gue kepikiran merek kuaci saat itu.

Sampai semuanya udah bingung, Bang Dika menjawab, “Kuda nil.”

“Bener.”

Bener dari mananya, woy! Kuda nil itu hewan darat. Kebetulan aja berendem. #RobbyGakTerima

Satu hadiah telah berpindah tangan. Saat itu juga buku yang dari tote bag dibuka. Tak lupa, pesan wasiat dari sang pemberi dibacakan juga. Fyi, Bang Yoga, katanya, kalau ngasih buku selalu ngasih wasiat. Entah itu nyuruh jaga buku dia atau salam kenal biasa.

Kini tersisa buku yang dibungkus koran. Merasa permainannya terlalu susah, maka untuk mendapatkan hadiah, permainannya diubah. Kali ini harus menyebutkan urutan bilangan, dengan kelipatan tiga dan bilangan yang punya angka tiga harus menyebut kata ****** (sengaja disensor karena ini merupakan rahasia. Clue: sayuran. CARI TAU SENDIRI, YA!)

Misalnya, begini:

“Satu.”

“Dua.”

“******.”

“Empat.”

“Lima.”

“******.”

“Sepuluh.”

“Sebelas.”

“******.”

“******.”

“Empat belas.”

Begitu seterusnya.

Bila salah menyebut angka, misalnya nyebut tiga, enam, sembilan, dua belas, tiga belas, dan seterusnya, maka dia harus keluar dari grup WhatsApp. Ya kagaklah. Sadis amat. Cuma keluar dari permainan aja.

Lalu, bila ditelusuri, sebenarnya dari siapa usulan angka tiga muncul?

Itu berkat usulan gue.

Kenapa juga harus tiga?

Pertanyaan bagus!

Karena gue sudah pernah main ini di kelas saat jam pelajaran Sejarah. Muahahaha. #RobbyLicik

Kali ini Bang Yoga ikut main. Di antara kami berenam, Kak Rizka kalah duluan. Gue masih terus bertahan sampai tersisa dua orang: gue dan Bang Yoga. Otomatis gue yang menang karena nggak mungkin dia yang menang. Nanti hadiahnya buat dia dong? O, tentu diprotes massa.

Setelah main games, sesi selanjutnya adalah menceritakan buku atau bacaan yang berkesan. Karena agak malu juga mau nyebutin blog sendiri, gue milih cerpen terjemahannya Haruki Murakami yang judulnya Manusia Es. Gue nggak ngerti-ngerti amat gimana cara nyeritainnya. Jadi, pas disuruh cerita gue cuma bilang, “Ya, jadi... ceritanya... Manusia Es... itu... manusia... yang dari es.”

Sekitar pukul 7 malam, gue harus pulang karena takut bakal nyampe rumah kemaleman. Nggak lama sebelum gue pulang ada Pak Guru SD, Bang Dicky. Dia tetep lucu orangnya. Walaupun nggak ngobrol lama, yang penting gue udah sempet cium tangan sama dia. Penting dong hormat sama yang lebih tua.

Ya, intinya (ini kebanyakan banget kampret!) gue seneng banget bisa main-main bareng blogger. Apaan gue mah, anaknya gampang seneng.

Oh iya, karena gue dapat buku dari Bang Yoga, itu berarti gue dapat wasiat darinya. Isinya kurang lebih begini:


Wasiat dari sang blogger konsisten

(p.s: gue liat file ini tertulis “15/01/2017”. Gila, ini udah sebulan yang lalu hampir selesai. Baru kelar di-publish sekarang. Hahaha. Semoga nggak telat-telat amat.)
Read More »