Pernah ngerasain nggak mata kamu rasanya perih banget? Seolah-olah di mata kamu sama sekali nggak ada cairan, rasanya kering. Nah, begitulah yang lagi gue rasain. Apa mungkin karena kebanyakan natap layar (handphone dan laptop), ya? Ada kemungkinan juga, sih. Makanya setiap kali dikasih pertanyaan lebih suka baca ebook atau buku cetak, gue pilih baca buku cetak. Meskipun sekarang buku-buku harganya udah mahal banget. Buat anak seumuran gue yang doyan beli buku bisa-bisa baru kebeli satu buku Dijah Yellow setelah tiga bulan puasa.

Jangan dicela. Biar pun begitu dia punya karya.

Oke, rasanya post ini bakal gue isi dengan potongan-potongan cerita singkat. Hampir semuanya kejadian di hari yang sama.

***

Satu.
Di rumah, gue punya dua sepeda: sepeda goyang dan sepeda fixie. Keduanya sangat sering gue gunakan buat sepedaan sore. Nah, karena fixie itu terkenal cengeng buat diajak lewat permukaan jalan bebatuan, makanya gue lebih milih sepeda goyang. Kalo nggak tau apa itu sepeda goyang, silakan googling sendiri. Di instagram.com/robby_haryanto, juga pernah di-upload.

Iya, gue tau. Pasti kalian males nyarinya. Gue kasih langsung aja deh.

Ini namanya sepeda goyang

Hari Senin, kebetulan sekali fixie sedang berada dalam kondisi prima: mulus bersih, ban nggak kempes, dan nggak jerawatan. Sore yang agak mendung gue gunakan untuk berkeliling sambil bersepeda dengan fixie. Sekalian lihat dedek-dedek SMP pulang sekolah. Rasanya nostalgia banget. Udah lama juga nggak mem-fixie-kan.

Sepedaan 40 menit ternyata udah cukup terasa efeknya. Pulang-pulang badan gue rasanya lemas. Kaki jadi lebih tegang dari biasanya. Tapi rasanya seneng-seneng aja. Apalagi pas di perjalanan gue balapan sama angkot dan motor, walaupun gue nggak bisa ngebalap motor yang isinya dua mamah muda. Karena digoda mereka, gue jadi semangat pengin ngejar mereka. Siapa tau dikasih bonus.

***

Dua.
Selasa.

Selasa pagi diawali dengan hal menjengkelkan: naik angkot diturunin di tengah perjalanan. Ehm, maksud gue, belum sampai tujuan udah diturunin. Angkotnya malah muter balik karena penumpang tinggal gue sendiri. Bikin kesel. Jadi bayar dua kali untuk naik angkot yang lain.

Dan gue takut, mood pagi ini yang udah dirusak oleh sopir angkot terbawa hingga sepanjang hari. Kan, ada yang bilang, mood pagi hari bisa menentukan mood sepanjang hari. Gue takut mood jadi rusak saat tampil pengambilan nilai bermain musik kontemporer.

Jadi, hari ini ada pengambilan nilai main musik kontemporer. Setelah sekian panjang dijelasin guru dan baca artikel sana-sini, kesimpulan yang gue dapat tentang musik kontemporer: main musik secara asbun alias asal bunyi.

Guru gue pernah nayangin contoh musik kontemporer. Mereka yang main musik kontemporer rata-rata sedikit yang main pakai alat musik benaran. Intinya ada suara yang timbul. Misalnya, scanner barcode di kasir, mukul-mukul galon, dan warga terdaftar sebagai pemilih tetap. Sesederhana itu. Itu juga kan dapat bersuara. Bedanya cuma di pemilu aja.

Tau-tau bahas politik. Apaan coba. Ulangan PPKN aja nggak tuntas.

Selain itu, gue menyimpulkan bahwa, musik kontemporer adalah musik sehari-hari. Nggak jauh dari rutinitas. Kayak musik tongkrongan, cuma lebih gembel lagi. Nggak harus jago main alat musik. Yang penting bisa nyambung sama bunyi yang lain. Udah cukup.

Karena itu, gue sangat antusias. Buat keren nggak perlu harus bisa main gitar.

Kelompok gue terdiri dari empat orang. Prinsipnya, apa yang kita mainkan adalah apa yang biasa kita lakukan sehari-hari. Fachri kerjaannya main laptop, dia main keyboard pake software di laptopnya. Nggak ada perubahan pada Rohim. Si anak marawis ini selalu main markis dan kami percayai dia main markis di tim kami. Diki, entah profesi apa yang cocok, dia bawa-bawa botol buat dipukul ke meja. Mungkin dia tukang minum. Dan terakhir gue, yang seneng banget gendang-gendang meja... akhirnya mukul tumbuk. Contoh gue main tumbuk.

Gue yang baju biru.

Selain main tumbuk, gue juga mengadu tangan yang mengepal koin agar timbul efek suara gemericik.

Kami menampilkan lagu milik The Dance Company yang judulnya Papa Rock n Roll. Di antara kami berempat, nggak ada yang pantes dibilang rockstar—yang identik dengan tampang seram. Paling tampang gue yang mendekati tampang debt collector.

Fachri yang memulai intro. Kemudian pukulan gue mulai masuk ke permainan. Semangat menggebu-gebu sampai gue nyanyi teriak-teriak nggak jelas. Setidaknya usaha gue buat ngerock beda tipis dengan orang kejepit pintu.

Guru gue tersenyum tipis. Entah apa yang membuatnya senyum. Kalo senyum karena semangat gue, itu wajar. Kalo senyum karena suara gue (yang paling mendominasi), itu agak aneh. Nggak ada yang bisa dibanggakan dari suara gue.

Tapi, nggak masalah mau suara kayak apa pun. Nggak masalah juga gue mukul kenceng-kenceng sampai tangan lecet-lecet berdarah. Yang penting seneng. Suasana kelas serasa konser rock, metal, punk, dan dangdut. Pokoknya rusuh dan membara. Jadilah hari itu kami mencampurkan banyak hal di musik kami: musik elektronik, musik dari benda sederhana, dan alat marawis. Ditambah ngebawain lagu rock. Kurang ngegilir kotak amal aja, nih.

Untuk foto, mungkin menyusul. Belum dikasih sama tim dokumentasi. Hehehehe.

***

Tiga.
Selanjutnya, di sekolah, esok, akan ada puncak perayaan Bulan Bahasa. Sekolah gue, selain ada acara hiburan, mengadakan bazar kewirausahaan. Setiap kelas jadi pedagang mengisi stand-stand yang sudah disediakan. Pembelinya datang dari dalam dan lingkungan luar sekolah. Program ini, katanya, baru pertama kali diadakan. Wah, gila. Tahun terakhir gue di sekolah SMA ada acara sekeren ini. Nggak akan disia-siakan pokoknya.

Dari sekian banyak acara tahunan di sekolah, selain pensi dan Maulid Nabi, acara Bulan Bahasa selalu bikin gue antusias. Kayak merasa “ini bulan gue”. Bukannya apa, sejak SMA gue jadi suka sama dunia bahasa. Kecuali bahasa asing, sih. Mungkin karena aktif ngeblog yang bikin gue suka sama bulan Oktober dan Bulan Bahasa.

Setiap Bulan Bahasa, selalu ada bintang tamu yang hadir. Dua tahun lalu Dara ‘Oka’ Prayoga datang ke sekolah gue ngasih wejangan soal nulis. Setahun berikutnya stand up comedian Fico Fachriza (bisa dibilang, Fico “salah panggung” tampil di sekolah gue. Penonton dan guru nggak terbuka sama kata-kata kasar). Tahun ini bintang tamunya Ephy Stand Up Comedy Academy (SUCA). Begitu tau bintang tamunya dia, rasanya kok biasa aja, ya. Apa karena udah pernah nonton dia secara live? Harusnya, kan, jadi tambah penasaran. Dulu sempat nonton dia di Stand up Festival 2015, dan performnya lumayan bagus. Ah, semoga dugaan gue aja yang salah.

***

Empat.
Kesorean bikin kerajinan buat dijual hari Rabu membuat gue nggak les. Pulang pukul 5 sore sampai diusir satpam sekolah. Padahal, pada waktu yang sama, di sekolah lain masih boleh ada kegiatan. Kadang heran sendiri.

Di depan gerbang sekolah, seorang wanita berdiri di pinggir jalan. Ada cowok juga di sana. Gue kenal dengan cewek itu. Setengah tahun yang lalu, dia pernah bicara dengan gue. Duduk berdua. Hanya obrolan empat mata dari hati ke hati. Sebuah pengakuannya yang membuat gue kecewa.

Dia sedang sapa-sapaan sama seorang cowok, yang sering gue lihat di Instagramnya. Mereka layaknya pasangan yang sedang bahagia-bahagianya. Dari perilakunya bisa ditebak mereka ini pacaran. Cewek itu kemudian melanjutkan langkah kakinya, sedangkan si cowok naik ojek.

Dulu, si cewek itu pernah nolak gue.

Secara brutal gue langsung mengejar dia, membuntutinya selayaknya psikopat yang sedang mengintai korbannya pelan-pelan, kemudian menikam dengan pisau dapur dari belakang. Bukan itu yang gue ingin sesungguhnya. Gue hanya ingin menyapanya sebagai orang yang pernah menolak gue. Gue cuma mau nunjukin, gue nggak sedih karena ditolak dia.

Sayangnya, langkah kakinya cepet banget. Di dalam dada gue juga campur aduk rasanya. Pengin nyapa, tapi—seperti biasanya—gue malu. Gue makin mempercepat langkah mengimbangi dia. Dia sebentar lagi sampai kampusnya, sedangkan jarak gue dengannya hanya sekitar enam langkah. Beberapa langkah sebelum dia berbelok masuk area kampus, gue lari sambil menahan tas yang terbuka karena jebol, sekaligus menahan kekecewaan terdahulu. Gue harus ikhlas.

***

Ah, terlalu banyak ceritanya. Mata udah perih dan tangan masih lecet. Doain ya, tanggal 26 Oktober nanti semoga barang dagangan punya kelas gue laku banyak. Terima kasih yang udah baca sampai abis post ini.
Read More »

Oh yeah, ada beberapa ritual dalam memulai sesuatu kegiatan: 1) Berdoa; 2) Buka soal; 3) Keluarin sontekan. Ternyata itu adalah tutorial sesat menyelesaikan soal ujian.

Bagaimana dengan ngeblog? Apa yang seharusnya dimulai saat awal ngeblog? Kalau mau ngeluarin sontekan, harus dari mana sontekan itu datang? Terakhir ngecek di OLX belum dijual.

Lalu, timbul pertanyaan. Gimana, sih, awal ngeblog para blogger? Yang ngeblognya lebih dari setahun pasti akan sulit dicari postingan pertamanya. Ada pengecualian di dalamnya: 1) Ada widget arsip; 2) Tulisan di blognya masih kehitung jari; 3) Keluarin sontekan.

Beruntung gue berteman dengan teman-teman blogger di WIRDY. Mereka secara sukarela nyebutin link postingan pertama mereka. Mumpung lagi pengin, gue komentarin aja tulisan pertama mereka. Muahahaha!


Wulan
Yang pertama, kita bahas personel WIRDY asal Pekanbaru. Kalau dilihat dari penulisannya nggak terlalu banyak berubah dengan yang sekarang. Sejak dulu tulisan Wulan udah enak dibaca. Maksudnya, nggak ada bahasa SMS di sana. Nggak kayak gue waktu dulu yang masih ngetik “gue” pake “gw”, "w", "ue", dan "que". 

Di postingan pertamanya, Wulan menulis tentang “dia”. Coba baca di sini: 161 Days.

Kita akan bertanya-tanya, ada apa dengan kata ini. Kata “dia” berturut-turut berada di awal kalimat. Kecuali di kalimat pertama diawali kata “aku" dan kalimat terakhir diawali kata “Ya Allah.”

Aku. Dia. Ya Allah.

Sekali lagi.

Aku. Dia. Ya Allah.

Lebih keraaaas!

Jawaban paling dekatnya adalah, Wulan meminta kepada Allah untuk bertemu dia. Jadi, marilah kita menebak, siapa tokoh dia yang dimaksud.

Dua kalimat dengan kata “dia” yang pertama,
Dia lelaki yang lucu yang pernah ku kenal
Dia yang selalu mengajakku berangkat sekolah bersama
Dugaan pertama: Wulan pengin ketemu bapaknya. Siapa lagi coba, yang ngajak berangkat sekolah. Karena pada zamannya Gojek belum ada. Jadi, bapaknya adalah “dia” yang dimaksud.
Dia yang kemana-mana selalu setia make topi
Dia yang rela manjatin pohon mangga demi aku
Dugaan kedua: Wulan pengin ketemu mas-mas tukang panjat pohon. Antara dugaan pertama dan kedua sudah mulai terlihat benang merahnya. Ayo lebih giat lagi mencari jawaban.
Dia yang memperkenalkan aku sebagai pacarnya saat acara ulang tahunnya
Dugaan terakhir: Wulan pengin ketemu pacarnya. Oke, sudah mulai ketemu jawabannya? Wulan pengin ketemu pacarnya, yang ternyata bapaknya sendiri, yang suka panjat pohon mangga. Tuntas sudah.


Icha
Kalau membaca tulisan pertamanya, Icha ini lebih bisa disimpulkan sebagai anak yang dekat dengan keluarga. Saking dekatnya, dia berani memberi judul “Aku dan Keluarga (abnormal)ku”.

Gue punya kecurigaan, setiap cowok yang berusaha mendekati Icha, pastinya akan membaca tulisan pertamanya. Karena tulisan tersebut memberi sedikit kunci rahasia keluarganya. Paling nggak, bisa jadi referensi bahan obrolan. Suatu saat nanti akan ada percakapan seperti ini:

Gebetan Icha: Kamu punya adik, kan?
Icha: Iya. Kok kamu tahu?
Gebetan Icha: Iya dong. Aku baca blog kamu. Namanya Sadam, kan?
Icha: ....

Makanya, kalo blogwalking dibaca dulu. Jangan asal komen aja.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, apakah Icha sejak dulu sudah menulis dengan gaya mesum? Jawabannya, belum. Setidaknya di postingan pertamanya belum ditemukan hal-hal dewasa. Mungkin yang kedua udah.

Saat tulisan pertama dipublikasikan, Icha masih berumur belasan. Bakatnya masih terpendam. Bakat review film maksudnya. Kan, dia juga hobi review film.

Dari tulisan pertamanya juga, kita bisa tau kalau Icha adalah seorang keturunan campuran Banjar-Bugis. Satu-satunya benang merah dari dua daerah tersebut adalah soto: soto banjar dan soto bugis. Percayalah, dua jenis soto itu berbeda. Masing-masing soto punya pendirian. Bukan seperti ini.


Soto yang tidak berpendirian

Lho, ini kenapa malah bahas soto?

Darma
Mari kita ucapkan selamat kepada Darma yang sekarang berada di Turki. Semoga dia lolos seleksi aktor film Elif season 5.

Dibandingkan dengan kelima orang, tulisan gue dan Darma adalah yang paling sedikit. Coba baca di sini (Introduction), tulisannya sedikit banget. Jadi, kalau gue ngupas tulisannya cuma sedikit, bukanlah sebuah kesalahan dari gue. #NggakMauDisalahin

Post pertamanya
Tuh, kan. Apaan coba? Post blog bisa kena sekali screenshot gitu. Tapi tulisan gue lebih sedikit, sih, kalau dibanding dia. Kelebihannya, dia pake gambar sedangkan gue nggak.

Sambil baca postingannya, coba deh bacanya sambil bayangin MC acara pernikahan.

Ngomong-ngomong, celananya Bang Darma lucu juga ya. Garis-garis vertikal gitu. Kata guru Tata Busana gue, motif garis vertikal dipakai oleh orang yang berbadan gemuk. Nah, itu berarti... mungkin pahanya Bang Darma yang gemuk.


Yoga
Tulisan pertama di blognya Yoga berjudul Kamu Satu. Kamu satu. Aku dua. Dia tiga. Begitulah yang disebutkan dalam komentar post tersebut.

Bakat nyepik sudah terdeteksi
Tulisan ini dibuat tahun 2012. Dalam tulisannya, dia menyebutkan pengin jadi penulis. Oke, lirik lagu Bad-nya Young Lex feat. Awkarin emang cocok buat dia.

2012 mereka bertanya, nanti besar lo itu mau jadi apa
"Penulis!" jawabnya. 

Dari mana gue tau? Dari sini..

“Gue berdoa kelak, entah kapan tulisan gue bisa jadi sebuah buku.”- Yoga Akbar Sholihin, 2012.
Tolong ya, yang ini nggak usah dibercandain. Impian orang nggak bagus buat diketawain.

Tapi, yang bikin sebel dari tulisan ini adalah penafsiran kata “cinta”. Di postingan pertamanya dia bilang CINTA itu Cerita Indah Namun Tiada Artinya. Padahal ada lanjutannya tuh...

Cerita Indah Namun Tiada Artinya. Bergadang boleh saja, kalau ada perlunya~

(Kembali lagi gue tegaskan mencari hal lucu adalah sebuah kesulitan.)

Seperti remaja pada umumnya, Yoga tetap nggak ketinggalan ngutip quote-quote buku tulis: “Practice makes perfect”. Setiap orang yang pernah pake Sidu pasti ngutip quote itu, entah itu buat update status atau ngetwit.

Oh iya, satu lagi. Di postingan pertamanya Yoga ngebahas soal cinta. Sebenarnya udah ketauan arah dan gaya cerita selanjutnya. Pasti bakalan ngomongin senja, kopi, cakrawala, semilir angin, pulang, jenggot Firaun, dan kata-kata puitis lainnya. Begitulah tebakan awal setelah membaca postingan pertamanya.

Sekarang dia udah jarang bahas soal cinta. Udah punya pacar mah adem ayem aja tiap malam minggu. Nyender terus kayak sepeda fixie nggak dipasangin standar.

Dibandingkan tulisan-tulisan mereka yang sekarang, sangat jauh perkembangannya. Masing-masing orang udah banyak perubahan dan ketemu gayanya masing-masing. Misalnya, Icha yang sekarang udah sering review film dibanding tulisan pertamanya. Yoga yang selalu dicariin orang-orang saat dia vakum ngeblog. Gue nggak pengin bilang dia mesum. Karena, dengar-dengar, dia mau ngelepas bajunya gayanya itu. Darma dan Wulan? Lagi jarang ngeblog. Mungkin urusan dunia nyatanya lebih berat.

Lebih dari setahun ngeblog pasti banyak perubahannya. Percaya, deh.

**

Baca juga komen-komen mereka tentang postingan pertama anggota WIRDY

Wulan Tulisan Pertama WIRDY yang Menginspirasi
Icha: Tulisan Pertama Teman-Teman Grup Pertama
Darma: Ah, dia udah jadi aktor di Turki. Sombong gak mau ikutan nulis. (2)
Yoga: Mengomentari Tulisan Pertama
Read More »

thumbnail-cadangan
Belum terlalu malam menurut gue tidur pukul 11 malam. Itulah yang gue lakukan satu hari di minggu ini, dan malam-malam sebelumnya. Memang sudah biasa tidur jam segitu. Bedanya cuma apa yang gue kerjakan sebelum tidur.

Sebelum tidur, gue mengerjakan rangkuman Biologi. Besok dikumpulkan. Dan gue harus mengerjakan dua bab sisa. Mata udah nggak kuat karena sebelumnya udah dua jam di depan layar laptop, ngerjain tugas yang lain. Sore harinya, kebingungan mikirin mau pulang atau lanjut les. Dengan alasan kejar deadline, gue langsung naik angkot, pulang.

Sebelum pulang, gue berdiri di koridor sekolah. Berdiri tanpa ada alasan jelas. Pikiran kemana-mana. Bercabang. Yang satu minta diselesain besok, yang lainnya juga harus dikumpulin pada hari yang sama, ditambah lagi harus menghapal pasal 20 sampai 34 UUD 1945. Lupa, antara 20 atau 26. Sedangkan rangkuman yang lain harus segera diselesaikan, tiga pelajaran harus presentasi.

Pelan-pelan gue jalan menuju gerbang depan sekolah, sambil mikir, “Banyak amat, ya.”

Herannya, semua itu cuma kepikiran di area sekolah. Setelah di rumah, “Tadi gue mikirin apa ya di sekolah sampai bisa melamun lama banget?”

Makanya, setiap ada tugas gue sering keteteran. Ya, karena, begitu sampai rumah, semua tugas yang udah gue rencanain sejak istirahat kedua (perencanaan gue emang terlalu cepat) tiba-tiba hilang begitu saja. Yang ada, di rumah malah browsing-browsing nggak jelas, ngeliatin Instagram Stories, dan bolak-balik Facebook-Line-Twitter.

Kayaknya manajemen waktu bener-bener jadi PR yang harus gue kejar. Harus paham. Harus diselesaikan. Harus dikuasai. Kalo aja di universitas ada program studi Manajemen Waktu, mungkin itu bisa jadi pilihan studi gue.

Akibat dari bercabangnya rencana, fokus gue jadi kurang. Hanya kepikiran tanpa eksekusi. Mungkin begitulah yang disebut gagalnya sebuah rencana. Mungkin saat ini cuma butuh eksekutor andal seperti Ibrahimovic. Hmmm.

Kembali lagi ke Biologi. Mata pelajaran yang dianggap kontroversial bagi teman sejurusan. Sebenarnya, bukan ke mata pelajarannya, melainkan gurunya. Sampai-sampai di rapat pertama orang tua siswa ada yang mengeluhkan soal guru Biologi. Dibilang ngajarnya terlalu cepat dan ngasih tugas nggak kira-kira banyaknya.

Gue nggak bisa komentar banyak soal itu. Gue cuma bisa ketawa.

Di antara mereka yang semuanya tampak kesusahan dengan Biologi, mungkin gue satu orang yang nggak terlalu memusingkan. Gimana, ya. Lagipula, cara damai dengan pelajaran yang kita nggak sukai adalah lebih baik diabaikan saja, bukan? Syukur-syukur mau dipelajarin biar jadi suka.

Gue nggak terlalu suka Biologi, tapi dibilang mau usaha juga cuma setengah-setengah. Hehehe. Jadinya nggak sepenuh hati.

Kenapa gue tertawa?

Hmmm, ini mungkin opini dari hati gue yang terdalam. Cuma, karena gue nggak berani ngomong di microphone pusat informasi—selain dengan alasan mencegah ketauan gagap dan grogi, makanya gue cuma berani nulis di blog.

Di antara orang yang ngeluh soal Biologi, lucunya, punya ketertarikan jurusan kuliah yang ada kaitannya dengan Biologi. Contoh gampangnya, ada anak yang pengin masuk Kedokteran, tapi dia benci Biologi. Sama aja kayak makan nasi uduk tapi alergi beras. Emang, sih, analogi gue agak nggak nyambung. Tapi pasti tau maksudnya, kan.

Gimana nanti belajar di perkuliahan, yang katanya lebih “jahannam” tugasnya. Lebih keras.

Gue malah bersyukur punya guru begitu. Setidaknya ada gambaran kecil mengenai dunia perkuliahan. Tugas dikumpul sekarang, ya sekarang. Nggak bisa ngerjain ulangan, ya tewas aja mendingan.

Tapi, gimana dong soal gue yang cuek-cuek setengah hati itu? Apakah begitulah nanti gambaran kehidupan perkuliahan gue? Ah, semoga jangan. Nggak mau bikin malu orang tua.

Di hadapan gue ada binder yang di kover depannya tertulis #BIOLOGI. Tugas merangkum ini gue setop sampai gue bisa ngerjain lagi, entah kapan. Dengan meninggalkan tugas yang belum selesai, gue tidur.

Satu hal yang gue terima malam itu adalah, tidur dalam keadaan meninggalkan tugas yang belum selesai adalah salah besar.

Gue mimpi berada di dalam kelas. Duduk sendirian sambil bertanya-tanya, “Apa yang ketinggalan dari gue? Apa? Apa? Apa?” Semua tanya “apa?” terus-terusan nyerang kepala gue, sampai akhirnya jadi kayak kumpulan kapuk yang masuk ke dalam sarung bantal yang besar, lalu menghantam kepala gue dengan keras. Hantamannya emang sekali, tapi bekasnya masih terasa sampai pagi. Dengan kata lain, gue kepikiran tugas sepanjang malam. Rasanya kayak ngelamunin tugas berjam-jam... padahal  tugas itu belum selesai. Nggak ada eksekusi.

Pukul 5 kurang sedikit gue terbangun, melanjutkan tugas merangkum. Masih sisa satu bab lagi. Perjuangan masih bisa gue lancarkan hingga menjelang pukul 5.45. Singkat cerita, kerjaan gue nggak selesai. Peduli setan hari ini gue dihukum gara-gara nggak nyelesain tugas. Usaha gue mentok sampai di situ.

Salah gue sebenarnya dalam manajemen waktu. Belum benar-benar bisa nylesain tugas dua hari sebelum dikumpulkan.

Langit-langit kelas udah tergantung logo-logo perguruan tinggi. Ini dibuat karena dalam rangka lomba menghias kelas di acara Bulan Bahasa. (Aneh, apa hubungannya bahasa dengan menghias kelas?) Walaupun emang kurang nyambung, jujur, suasana kelas jadi lebih bikin betah tinggal di kelas. Apalagi setelah di loker diisi banyak buku dari teman-teman sekelas. Gue bisa baca di situ setiap nggak ada guru! Hahahaha.

Melihat kami sedang rapi-rapi, guru Biologi sempat masuk kelas. Merasa kami sedang tidak siap belajar, beliau keluar dan disambut kebahagiaan teman-teman. Gue juga merasa senang. Artinya, tugas nggak jadi dikumpul hari ini. Nggak tau juga kalau siangnya dikumpul, tapi gue yakin pasti di hari selanjutnya.

Ngantuk rasanya. Mendengar khotbah sambil mendengar derasnya hujan di luar bikin gue ngantuk. Selesai salat Jumat, rasa ngantuk perlahan hilang (ini ajaibnya setelah salat Jumat). Di antara gerimis, gue ingin berteriak kepada semua orang, “Give me one more night, please.”

Yang artinya, “Kasih gue satu malam lagi buat gantiin tidur yang nggak mengenakkan itu!” 
Read More »

thumbnail-cadangan
Mendengar percakapan sekumpulan cewek membuat gue dan Fachri cukup kaget. Sebelum bel masuk UTS berbunyi kami sedang berada di kelas.

“Taruhan nilai yuk!” seru seorang cewek.
“Ayo dah!” sambut temannya nggak kalah heboh.
Reaksi kami berdua setelah mendengar percakapan mereka: “Wih, gila.”

Sebenarnya, gue nggak terlalu kaget. Obrolan-obrolan seperti ini sering banget gue dengar sejak SD sampai SMP. Setelah di SMA nggak pernah ada lagi yang ngomong kayak begitu. Makanya gue cukup kaget setelah nggak lama mendengar.

Mulut gue tiba-tiba terasa gatal pengin ngomongin sekumpulan cewek tersebut. Gue bilang ke Fachri sambil menunjuk mereka, “Ngeri, ya, mereka berani-beraninya taruhan. Padahal di luar sana, mereka yang dijadiin objek taruhan."

Gue bilang begitu karena sering menemui kasus “menjadikan cewek sebagai objek taruhan”. Cewek dan taruhan sering berkaitan. Nggak usah jauh-jauh deh, ikon judi online selalu diperankan cewek-cewek, kan?

Dalam sebuah negosiasi taruhan dua orang teman SMP, gue fokus mendengar obrolan mereka yang cukup sengit. Yang satu bilang, “Kalo gue bisa macarin si dia (menyebutkan nama gebetannya), lu bayar ke gue. Begitu pun sebaliknya. Setuju nggak?” Dan diiyakan oleh temannya.

Wow, sebuah usaha memperkaya diri bagi mereka yang ganteng. Masalahnya, pas gue liat, mereka biasa-biasa aja. Yang taruhan siapa, yang pesimis siapa. Dasar hidup!

Aturan main mereka sangatlah unik. Mereka menuliskan sebuah perjanjian di dinding kelas dengan pensil. Nominal taruhan ditentukan dari 30 hari dikurang berapa hari dia bisa pacaran setelah perjanjian dibuat, lalu dikali seribu rupiah. Siapa cepat, dia dapat. Singkat cerita, salah satu dari mereka berhasil pacaran setelah 16 hari perjanjian itu dibuat dan yang kalah—yang terlambat pacaran—membayar 14 ribu rupiah.

Kalau ada nama yang tepat untuk taruhan mereka, gue memberi nama “Judi Cepet-cepetan Nggak Jomblo”. Taruhan yang kreatif. Di dalam senyum manis wanita, ada bisnis busuk yang berjalan. Lelaki jahat!

Ngomong-ngomong soal taruhan, gue juga pernah berada dalam masa-masa busuk itu. Beberapa macam taruhan pernah gue coba. Banyak banget. Mulai dari judi tebak skor bola, taruhan tebak pencetak gol, taruhan tanding bola, dan lain-lain. Kecuali judi yang di abang-abang tukang ager, gue nggak pernah. Selama gue tertarik sama sepak bola, sesering itu gue berjudi. Kacau banget deh kehidupan dulu.

Mungkin pergaulan yang bikin gue begini. Buktinya pas di SMA gue bisa berhenti judi. Ya, bisa juga berarti, karena nggak ada yang ngajak.

Pergaulan gue di SMP emang seru. Namanya juga masih dalam fase pencarian jati diri, apa aja kami lakuin biar dianggap keren. Ada satu kegiatan yang diangap keren saat itu, selain adu panco, yang bikin gue harus ikut-ikutan mereka.

Sebelumnya, pasti semuanya tau nomor seri uang, kan? Nomor yang tertulis di uang kertas ini membuat orang bertanya-tanya, “Apa fungsi sebenarnya?” Yang mencetak uang pasti punya alasan adanya nomor seri uang. Tapi, bagi teman-teman gue, nomor seri uang dijadikan lahan mencari uang.

Gimana bisa? Ya, dengan judi.

Pasti di antara kalian bertanya-tanya, gimana bisa nomor seri dipake buat judi. Nomor seri itu dipake sebagai alatnya.

Kalo gue kasih tau nanti malah makin banyak yang nerapin judi nomor seri uang. Jika ada yang udah tau lebih dulu, selamat!

Intinya, gue udah meninggalkan dunia perjudian. Walaupun kesannya paling seribu-dua ribu, gue udah tau banyak kerugiannya. Sempat kepikiran, dengan berjudi, gue bisa dengan mudah menggandakan uang. Punya uang seribu, tinggal main bola aja yang semangat, menang, dapat deh dua ribu. Sejak dulu, kami menggandakan uang dengan usaha kami sendiri, dengan keringat sendiri, bukan minta sama kanjeng-kanjeng yang kerjaannya duduk di kursi, tiba-tiba ngeluarin segepok duit dari belakangnya. USAHA! Ya, emang, sih, usahanya di jalan yang salah. Nggak bagus ditiru.

Mau menggandakan uang, ya ikut aja arisan. Modal sepuluh ribu seminggu, pas giliran dapat kocokan dapat tiga juta.

Dari semua tulisan di atas, ada satu pertanyaan yang mengganjal,

"Berapa orang yang ikut arisan?"
Read More »

Dalam pergaulan gue adalah tipe orang yang independen. Maksudnya, gue nggak terikat sama siapa pun dalam bergaul. Main sama siapa pun, ayo. Orang-orang kayak begini biasanya adalah orang-orang yang seru. Dia nggak pilih-pilih buat bergaul. Namun, gue juga termasuk orang yang mau main sama siapa aja... asal diajak dulu. Kalo nggak ada yang ngajak gue main, gue sulit berbaur. Belum tau caranya, mungkin.

Selain tipe independen, ada pula orang-orang yang terikat. Biasanya mereka punya geng (atau yang lebih kekinian, mereka nggak ingin disebut geng, tetapi fams/keluarga). Geng yang mereka buat tentunya punya anggota. Sejauh ini, anggota geng yang gue temui paling sedikit anggotanya berjumlah 4 orang. Itu idealnya.

Geng tiga orang. Okelah, cukup buat main ular tangga.

Geng dua orang. Itu geng atau main catur?

Biasanya geng-geng tersebut punya nama-nama yang nggak biasa. Nama yang gampang diingat. Nama-nama mereka mentereng. Misalnya, 7 Cewek Lucu, 7 Manusia Harimau, Wahai Para Shohabat, dan lain-lain.

Geng yang paling gue kenal adalah ini.

Sumber http://rudyjobjob.mywapblog.com/download-film-serigala-terakhir-2009-ful.xhtml
Gue punya keinginan membentuk geng. Usaha gue akan seperti ini: gue menyebarkan broadcast message dan pamflet berbentuk ajakan, mempropagandakan visi misi, dan mengajak kaum petani bergabung sebagai pemasok makanan. Geng gue akan menjadi geng yang paling memperhatikan kaum petani. Nama geng gue adalah Koperasi Panca Tani.

Berhubung nggak jago bikin pamflet, nggak bisa orasi, dan nggak jago ngobrol sama petani gue batalkan usaha itu. Salah-salah ngomong nanti malah diacak-acak pake gunting rumput.

Geng-geng seperti itu selalu punya tempat untuk ngobrol. Di dunia nyata maupun dunia maya harus tetap ngobrol. Kalau di dunia maya, mereka punya grup chat yang isinya cuma anggota gengnya. Kalau grup-grupan begitu, gue juga punya. Namanya “Siap SBMPTN 2017”.

Oke, itu bukan geng namanya.

Ngomongin geng-gengan, di dunia blog juga ada gengan. Geng yang cukup terkenal dan disegani adalah Wahai Para Shohabat, yang isinya Kresnoadi DH, Firdaus Ramdhan, Ichsan Ramadhani, dan Yoga Cahya Putra a.k.a Yogaesce. Geng yang paling solid sejauh ini. Kalau diadu tawuran lawan gengster, nggak tau deh bisa menang atau nggak.

Selain WPS, ada WIDY, geng blogger yang isinya rata-rata blogger mesum. Anggotanya adalah sebagai berikut.

Wulan
Sumber instagram.com/rahayuwulanrw
Blogger Pekanbaru ini suka ngasih tutorial.

Eh, sebentar. Itu beda orang.

Nggak banyak yang gue ketahui tentang orang ini. Tapi, seingat gue, di antara anggota WIDY dialah yang pertama kali komen di blog gue. Ibarat orang-orang Portugis yang meninggalkan padrao sewaktu pertama kali ke Nusantara, dia pun langsung ninggalin jejak berupa komen. Rispek!

Foto ini cukup menghebohkan.

Sebuah zina siku
Sumber instagram.com/kusumah.darma

Icha 
instagram.com/ichahrnssa
Blogger yang hobi banget review film ini selalu bikin gue manggut-manggut di setiap blogwalking ke blognya. “Oh gini. Oh gitu. Nggak ngerti.” Ya, begitulah respons setiap kali baca review-review film.

Tapi... satu hal yang paling menjual dari blognya adalah kontennya yang mesum. Paling nggak, gue jadi ngerti apa itu lingerie dari tulisannya yang ini. Nggak ngerti film, tapi jadi ngerti istilah itu.

By the way, bulan ini Kakak Icha ulang tahun yang ke-22. Heran, Ahok lagi seru-serunya ribut malah sempet-sempetnya ulang tahun. Cari kesempatan banget.

Darma 
instagram.com/kusumah.darma

Nggak banyak tau tentang aibnya. Dia orangnya baik selama gue pernah ketemu langsung. Makanya nggak tega mau ngeledekin. Ada alasan tersendiri yang membuat gue segan ngeledekin. Paling cuma ini yang bisa menjawab keresahan.




Yoga 
Pernah baca bio Twitter yang berbunyi seperti ini: “Cuma seorang blogger. Tadinya mau jadi playboy, tapi masih kurang ganteng. Kalo tukang ledeng gak ada syarat ganteng”. Begitulah bio-nya. Lupa.
Nah, ini orangnya yang punya akun Twitter itu. 
Diolah dari berbagai sumber.
(Ini siapa yang punya hubungan, siapa yang mengabadikan memori)

Dia lagi sering-seringnya curhat soal kerjaan. Katanya badannya mejret gara-gara kerja berasa kerja rodi. Kerja rodi apaan, coba? Bangun jalan tol di tengah laut? Bangun jembatan penyeberangan antarnegara? Bangun... sahur?

Ya, begitulah dunia melucu. Terkadang sulit.

Yoga ini satu kotamadya dengan gue. Kita sama-sama tinggal di Jakarta Barat. Sebagai warga Jakbar, kita punya misi memperbaiki nama Jakbar. Biar Jakbar nggak terkenal karena tinggi angka kriminalitas dan surganya pengedar narkoba aja. Ketika ditanya "apa yang bisa ditemui di Jakarta Barat?", jawabannya, "Ada blogger mesum!"

Hidup Jakbar!

Oh iya, dengar-dengar, WIDY udah ganti namanya jadi WIRDY. Gue sebagai fans garis keras cerita Sepotong Hati di Segelas Milkshake Cokelat cukup penasaran. Wah, siapa ya? Siapa ya “R “itu? Jangan-jangan, R itu adalah... Kak Ros, kakaknya Upin dan Ipin.

Kabar pemain baru ini sudah dibocorkan di post milik Kakak Wulan. Suatu malam gue cek WA, ternyata ada grup chat yang namanya WIRDY.

Heuheu.

WIDY telah menaturalisasi gue.

Sebelumnya gue sempat heran. “Kok gue anak baru namanya udah ditempatin di tengah-tengah?” Padahal gue punya saran nama yang lebih cihuy, seandainya mau ganti nama. Usulan gue saat itu adalah “WIDYH” dengan maksud H-nya adalah nama gue, Haryanto. Tapi, berhubung masih tetap terdengar “WIDY”, akhirnya inisial gue ditaro di tengah. Lagian, bakal timbul pertanyaan juga dengan huruf H di belakang. Siapa? Heru Arya? Haris Firmansyah?

Sekalian perkenalan, ini momen yang sempat tertangkap saat peresmian anak baru.


Read More »

Kalo ditanya kapan terakhir kali gue lari pagi, gue lupa. Seingat gue, terakhir kali gue pake celana training di Minggu pagi adalah saat Car Free Day bareng anak-anak KIR. Itu pun nggak lari melainkan jualan.

Nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba minggu ini gue kepengin lari pagi lagi. Keinginan gue berlari ini disebabkan setelah membaca buku Haruki Murakami yang berjudul What I Talk About When I Talk About Running. Bagi gue sangatlah gampang untuk melakukan sesuatu setelah membaca buku. Mungkin untuk membangkitkan keinginan masak sendiri gue harus beli buku resep masakan.

Latar belakang keinginan berlari juga didasari karena ingin menjaga kebugaran tubuh. Gue harus menyiapkan itu semua mengingat sebentar lagi jadwal sekolah makin padat. Itu pasti bakal melelahkan. Lagi pula, selama seminggu gue cuma olahraga dua kali: olahraga di pelajaran Penjaskes dan senam bersama setiap Rabu. Kalo mau sehat gue harus nambahin porsi olahraga.

Jadi inti besarnya adalah, buku What I Talk About When I Talk About Running sangat berpengaruh dalam keinginan gue untuk hidup sehat. Kapan-kapan gue bahas buku itu di blog setelah gue selesai baca. Baru baca 50-an halaman sampai tulisan ini diselesaikan.

Gue langsung keluar rumah dengan menggunakan kaos dan celana training. Karena nggak punya sepatu lari, gue pake sepatu sekolah. Kalo gue nginjek tai kucing, terkucilkanlah gue di pergaulan selama seminggu.

Tempat gue lari adalah sebuah kompleks perumahan, yang baru lewat rumahnya udah digonggongin anjing terus. Sebenarnya bisa aja gue ke Stadion Kamal Muara. Karena perumahan ini yang lebih dekat dari rumah, gue lebih memilih tempat ini. Tempat yang juga sering dikunjungi gue bareng teman-teman mes dulu. Aaaah, sayangnya kita udah misah.

Kesan gue terhadap lari pagi hari ini: nggak terlalu rame.

Setidaknya, emang beneran nggak rame di pintu gerbang. Setelah masuk ke dalam barulah banyak orang. Ngapain juga rame di pintu gerbang. Mau demo?

Tanpa melakukan pemanasan, gue langsung lari di mengelilingi taman rumput yang memang dikhususkan buat lari. Ini yang sempat ditanyakan ketika ulangan Penjaskes di UTS: “Mengapa lintasan lari selalu memutar berlawanan arah jarum jam?”

Gue mikir, “Oh iya ya. Nggak pernah ada lari searah jarum jam.”

Nggak perlu gue bahas, karena jawaban gue udah pasti ngarang.

Sekali-dua kali putaran gue masih sanggup. Di putaran ketiga udah mulai capek. Akhirnya jalan sebentar. Jalan, jalan, jalan tau-tau udah ngelilingin lintasan sekali. Gue lari lagi sejauh setengah lintasan. Capek.

Mungkin olahraga lari nggak banyak peminatnya karena bosenin. Nggak kayak olahraga lain yang mengharuskan banyak gerakan, olahraga lari cuma bisa... lari. Mentok-mentok jalan.

Itulah alasan mengapa sepasang kekasih dianjurkan lari pagi bersama. Biar nggak bosen. Begitu kata artikel di internet yang gue baca. Padahal itu juga bisa ngetes tingkat kebosanan si pacar. Coba tes, udah sejauh apa kalian lari. Itu menandakan kelanggengan hubungan. (Silakan mau percaya atau tidak, yang jelas gue cuma ngarang.)

Ini bisa juga buat nguji gebetan. Kalo dia baru lari sebentar terus minta jalan, itu patut dipertanyakan. Jangan-jangan dia matre. Dikit-dikit minta “jalan”, terus jajan. Tapi, emang ada gitu sebelum pacaran ada tes larinya? Lalu ada interview seperti ini.

“Kamu cuma kuat lari bareng aku dua putaran. Maaf ya, kita nggak cocok.”
“Kamu hebat ya. Nggak ada capeknya. Tapi aku curiga kamu nggak ada capeknya bikin hati aku sakit.”

Tapi bagi gue, lari pagi bareng pacar sangatlah merepotkan. Ini karena gue nggak punya pacar. Kalo udah punya dan mau diajak lari bareng juga pasti iya-iya aja nurutin kemauan pacar, misalnya “Duduk bentar ya”, “Iket tali rambut dulu pake tali sepatu”, dan “Aku capek. Mau mati aja”.

Kenapa gue bilang begitu? Gue udah ngeliat sendiri, kebanyakan cewek-cewek itu ogah-ogahan lari. Pas datang semangat banget. “KUYLAH LARI! YA KALI GAK KUY!” Udah dapat satu putaran, “Capek ya, kayak diselingkuhin.” Hih, apaan!

Cewek yang lari bareng cowoknya juga begitu. Sebentar-sebentar berhenti. Padahal si cowok kelihatannya masih seger, belum ada tampang capek. Dalam hatinya pasti gondok. “Mending gue tinggal kabur aja.”

Balapan sama manusia 4G

Dan kekesalan gue terhadap lari pagi hari ini adalah, hadirnya makhluk berupa cabe-cabean. Gue heran cabe-cabean selalu ada tanpa mengenal tempat. Di mana-mana selalu ada udah kayak gosip. Yang gue sebelin adalah mereka lari, tapi pake make up. Okelah kalo make up-nya tipis, lah ini ketebelan. Kena keringet juga pasti luntur. Muka jadi abu-abu kayak aspal jalan. Aduh, merusak mood pagi.

Udah gitu, mereka emang nggak niat lari. Lebih niat nongkrong, terus ngegenitin mas-mas atletis. Ya, gue kesel nggak digodain!

Tapi yang gue salut dari cabe-cabean itu adalah mereka pergi dengan ceria. Sangat banyak ditemukan orang-orang yang lari dalam kondisi cemberut. Cemberut karena lari dalam arti lain: lari dari rumah alias minggat.

Sekesal-kesalnya gue sama cewek saat itu, ada satu cewek berjilbab merah kembang-kembang, berhasil menarik perhatian gue. Dia berlari di depan gue, dan gue perhatikan dia konsisten berlari. Orang itu keliatannya udah niat banget mau lari. Di antara semua orang yang ada di kelilingan taman, cuma dia yang nyeker. Beuh, kuproy!

Lalu muncul getaran dalam dada. Bisikan-bisikan setan mulai terdengar. “Harus balap dia!”

Biar keliatan cowok sporty, gue berusaha membalap dia. Hosh... hosh... hosh, napas gue tersengal. Untungnya jarak di antara kita cukup dekat (Eh, bentar-bentar. Maksudnya jarak di lintasan lari). Gue mengerahkan seluruh kemampuan, dan gue sukses membalap dia. Gue berada cukup jauh di depan dia, kemudian kembali jalan.

Cewek itu sekarang berlari jauh di depan gue.

Nggak kuat ngebalap. Kata gue ke dia dalam hati, “Duduk bentar ya.”
Read More »

thumbnail-cadangan
Bagi orang yang suka mengarang, soal jenis essay seharusnya jadi tipe soal favorit. Karena kebiasaan nulis buat blog, pelan-pelan membuat gue mulai menyukai tipe soal essay. Sebelum SMA, soal tipe ini adalah soal yang gue takuti. Setiap kali dikasih soal essay, biasanya gue menjawab nggak lebih dari dua baris.

Namun, soal essay menjadi laknat ketika ada di pelajaran Fisika. Pelajaran ini—dan pelajaran eksak lainnya—mengharuskan kita untuk hapal rumusnya. Guru pelajaran terkait mengharapkan siswanya mengerjakan secara sistematis. Itu artinya, ngerjain asal-asalan sangatlah dilarang. Lagi buntu-buntunya, tiba-tiba ngubah rumus Relativitas. Kalo Einstein tau, abis lu ditonjokin.

Ya sudahlah. Ulangan essay Fisika gue selalu kacau. Ulangan terakhir gue sama sekali nggak dapat poin alias... nol. Bukan kabar yang menyenangkan tentunya.

Tapi, untuk soal essay yang membutuhkan opini dan mengarang, gue cukup bisa mengerjakannya. Misalnya, ulangan PPKN. Gue bisa menjawab semuanya. Gue pun optimis nilai gue tuntas. Paling kendalanya ada di pertanyaan tentang undang-undang.

Lalu, bagaimana dengan Sejarah?

Ini yang agak sulit. Sejarah, meskipun bisa dijawab dengan mengarang, nggak bisa dijawab seenak jidat. Ada beberapa hal yang memberatkannya. Biasanya berkaitan dengan hapalan.

Nama tokoh
Nama tokoh selalu jadi musuh gue nomor satu dalam mengerjakan soal Sejarah. Gue punya kepercayaan seperti ini: Gue hanya akan mengenal nama yang pernah lewat di dalam hidup gue. Di luar itu nggak bisa. Jadi jangan salahin gue kalo nggak tau nama bokapnya Daendels.

Lagi pula, nama orang-orang dulu sangatlah rumit. Gue sampai sekarang masih kesulitan menghapal nama Ide Anak Agung Gde Agung. Kalau awal-awal baca akan terlihat gampang. Coba kalau ditanya namanya sekali lagi, pasti kebingungan. “Ide Agung Anak Gde. Eh, Gde Ide Anak Agung kali ya?”

(Gue nggak tau aslinya gimana, tapi kebanyakan sumber emang tulisannya begitu. Bukan typo dari gue.)

Selain itu, nama orang Eropa juga sulit.
Coba kalo gue tanya, sebutin legenda sepak bola Polandia tanpa googling. Nggak banyak yang tau. Selain namanya emang susah dihapal, cara penyebutannya juga bikin lidah keselipet. Coba baca: Krzysztof Mączyński, Michał Kucharczyk, dan Adrian Mierzejewski. Buat dijadiin nama blog juga nggak SEO kayaknya. Susah, euy.

Berbeda dengan nama orang sekarang yang cenderung lebih mudah diingat: Awkarin, Dimas Kanjeng, dan (... isi nama mantan di sini).

Sampai-sampai gue lupa, siapa negara yang menjajah Indonesia selama 3,5 abad. Malah bahas-bahas Polandia.

Tahun
Ini sama susahnya kayak ngapalin tanggal-tanggal penting ketika pacaran.

Kembali ke ulangan Sejarah. Gue ingat, ada satu anak dari jurusan IPS mampir ke kelas gue. Dia jalan menghampiri teman gue dengan petantang-petenteng. “Weh, lu mau kunci jawaban ulangan Sejarah nggak? Gue tadi baru ulangan, nih.”

Kebetulan, guru Sejarah kita emang sama. Gue ragu kalau dia beneran terjamin. Setelahnya gue nggak mengikuti perbincangan mereka. Gue milih tiduran di pojokan kelas. Mumpung nggak ada guru.

Nggak lama, gue keluar kelas masih nemuin dua orang itu. Masih ada transaksi di sana.

“Lu mau nggak?” tanya si anak IPS.

Gue kebetulan ada di antara mereka. Teman gue nanya ke gue, “Gimana, Rob? Mau nggak?”
“Mana? Gratis, kan?” tanya gue penasaran.
“Jeh, enak aja!” protes si anak IPS.

Gue memang nggak cocok menjadi pembeli kunci jawaban.

“Goceng dah gue kasih,” sambungnya.
“Mahal amat.”
“Sama kelas lain nggak gue kasih loh,” ucapnya dengan nada merayu, layaknya sales panci dua sisi.

Merasa berada di pasar gelap, gue langsung masuk ke kelas lagi, ngelanjutin tidur.

*** 

Ketika ulangan Sejarah...

5 menit ulangan Sejarah, gue belum menemukan kesulitan. Karena soal masih didikte.

10 menit belum juga. Gue ngerjain soal yang gampang dulu. Tau, kan, soal gampang itu kayak apa. Soal-soal semacam “Sebutkan hikmah yang terjadi pada kejadian....”. Nah, itu soal yang gue kerjain duluan.

Menit-menit selanjutnya, gue banyak-banyak berdoa. Ampun deh, gue nggak tau jalan ceritanya. Ngerjain soal essay Sejarah ibarat lagi di tongkrongan, disuruh nyeritain cerita dua minggu penuh tanpa putus. Nggak boleh ada yang kelewat.

Teman gue pernah berpesan, “Kalo ngerjain soal Sejarah jangan diapalin mentah-mentah ceritanya. Apalin poin-poinnya aja.” Guru gue pun berpesan begitu. Kenyataannya, gue nggak pernah bisa menghapal poin-poin menjadi sebuah cerita yang utuh.

Temen gue juga bilang, “Rob, lu kan blogger. Udah jago lah kalo merangkai kalimat.” Gue kalau nulis blog emang nulis poin-poinnya dulu. Tapi, kan, nggak diapalin! Masa harus ngerjain soal pake cara gue nulis blog alias nyontek pake catatan kecil.

Akhirnya, gue bener-bener ngerjain soal pake cara ngeblog. Ini sebagai bukti kepada teman-teman yang suka nanyain “Selama ngeblog udah dapat apa aja?”. Oh, tentunya, skill mengarang gue semakin lihai. Sampailah pada pertanyaan,

“Tuliskan peristiwa Republik Maluku Selatan.”

Oh, ini sungguh mudah. Sepuluh menit sebelum ulangan gue sempat baca tentang itu. Masih hangat di kepala gue. Dengan semangat menggebu-gebu gue tulis semua yang ada di kepala, takut keburu lupa. Gue menjawab, “Republik Maluku Selatan adalah sebuah gerakan yang terjadi di Maluku Selatan.”

Sialan. Buntu.

Gue panik. Mencari soal yang belum terjawab, udah nggak ada. Inilah soal yang gue sisain paling terakhir buat dikerjakan. Gue mencoba mengingat-ingat lagi. “Ah, apa ya? Apa ya?”

Tercetuslah sebuah nama.

“Gerakan ini dikomandoi oleh Soulokil.”

Setelahnya gue mengarang dengan sukses. Benar atau tidak, biar Allah dan guru Sejarah saja yang menilai.

Selayaknya anak yang baru selesai ulangan, gue dan Rohim berdiskusi tentang ulangan tadi.
“Mampus, gue lupa tentang RMS.”
“Gue juga. Tapi untungnya inget-inget dikit dari materi presentasi kelompok gue,” kata Rohim.
“Ah, gue lupa belajar dari situ,” sesal gue.
“Pertamanya gue lupa. Gue tulis aja, ‘Soumokil adalah seorang blablabla’.” Rohim menjelaskan jawabannya tadi.

Tunggu. Soumokil? Siapa dia sebenarnya.

Gue menyebutkan Soulokil kepada Rohim. “Rob, itu siapa yang lu tulis? Yang bener Soumokil. Hahahaha.” Tatapan gue langsung kosong. Rohim ketawa lama banget.

Yeah, gue udah bilang sebelumnya, gue nggak jago ngapal nama orang. Gue baru saja mengubah sejarah. Mengubah nama orang tanpa alasan. Kemudian dicekal para sejarawan, dipenjara di museum.
Read More »

“Pergilah engkau, engkau bukan emakku!” 

Sebuah kutipan dialog dari sebuah cerita terkenal asal kota Padang yaitu Malin Kundang. Cerita yang mengisahkan seorang anak yang durhaka kepada ibunya setelah dia berhasil menjadi orang sukses. Kembali ke kota asalnya, dia tak mengakui saat ada seorang ibu tua renta hadir di hadapannya dan mengaku sebagai emaknya. Melihat hal ini sontak seorang ibu tua itu marah dan mengutuk anaknya bersama para pasukannya menjadi batu dengan berdoa kepada Tuhan.

Setelah itu Malin bersama para pasukannya berubah menjadi batu. Hal ini mungkin terlihat tidak masuk akal di pikiran kita secara logika, tetapi Anda dapat melihat buktinya di kota Padang. Terdapat sebuah pantai bernama Pantai Air Manis yang menyajikan bukti fisik hasil dari kedurhakaan seorang anak terhadap ibunya. Hal ini dapat menjadi pelajaran untuk banyak orang agar selalu menghormati orang tua mereka. Ridho Tuhan juga ridhonya orang tua, dan bencinya Tuhan juga bencinya orang tua.

Sumber: pedomanwisata.com

Itulah salah satu destinasi menarik yang dimiliki oleh Kota Padang dan masih banyak lagi lainnya. Padang dapat menjadi pilihan wisata berlibur Anda. Ditambah lagi dalam menyambut liburan akhir tahun ini, terdapat banyak promo yang ditawarkan oleh perusahaan travel seperti promo tiket pesawat Garuda, Lion Air dan maskapai lainnya. Lalu didukung juga dengan beberapa penawaran menarik untuk sewa kamar per malamnya.

Lalu apa saja tempat menarik lainnya yang dimiliki kota Padang? Inilah beberapa tempat yang dapat kami rekomendasikan untuk Anda.

1. Pantai Nirwana
Berlokasi di Jalan Raya Padang – Painan, Kota Padang, pantai ini berdekatan dengan Pelabuhan Teluk Bayur, sehingga saat kesini Anda dapat menikmati pemandangan aktifitas pelabuhan yang merupakan pintu masuk Indonesia bagian barat. Selain itu di tempat ini Anda dapat menikmati pemandangan sunset petang harinya di atas lembutnya pasir putih. Dan jika Anda ingin bermain air, pantai ini pas karena tidak memiliki ombak yang begitu besar.

Sumber: tourdesingkarakcity.blogspot.com



2. Miniatur Makkah
Jika Anda belum mempunyai niat untuk ibadah haji ke Kota Makkah, Saudi Arabia, semoga dengan mengunjungi Miniatur Makkah ini, Anda akan mulai berikhtiar berangkat haji. Kenapa? Karena di sini Anda akan disuguhkan dengan penampilan mirip kota Makkah. Sehingga di sini sering digunakan untuk persiapan calon haji sebelum berangkat dalam hal pengenalan tata cara ibadah.

Tapi tidak jarang juga dijadikan oleh para wisatawan untuk sekedar jalan-jalan menikmati arsitektur bangunan sambil berfoto bersama keluarga. Lokasi Miniatur Makkah terletak di Lubuk Minturun, Padang, sehingga tidak terlalu jauh dari pusat keramaian.

Sumber: bantarse.mywapblog.com


3. Jembatan Siti Nurbaya
Mendengar nama Siti Nurbaya pasti yang akan terlintas di pikiran kita adalah sebuah cerita perempuan yang dijodohkan oleh orang tuanya. Nah mengambil dari cerita tersebut, jembatan ini pun dinamai dengan Jembatan Siti Nurbaya yang merupakan cerita terkenal asal kota Padang.

Di tempat ini tidak pernah sepi akan pengunjung, dari pagi hingga malam. Segala kalangan pun juga tak absen untuk menikmati pemandangan yang disuguhkan oleh Jembatan Siti Nurbaya, apalagi saat malam harinya yang dihiasi dengan lampu-lampu, sehingga menambah keindahan kota Padang. Selain itu di sini juga dijajakan jajanan berbagai macam kuliner untuk menemani waktu santai Anda.

Lokasi Jembatan Siti Nurbaya terletak Batang Arau, Padang Barat atau hanya berjarak 6 kilometer dari Pantai Air Manis.

Sumber: 45enam.com

4. Museum Adityawarman
Merupakan tempat yang wajib untuk Anda kunjungi jika ingin mengetahui lebih dalam tentang Kota Padang. Di sini Anda akan dapat melihat berbagai macam peninggalan bersejarah masyarakat Padang yang dilestarikan sehingga dapat dilihat oleh anak cucu kita nanti. Sehingga pemerintahan daerah pun membuat tim khusus untuk memperhatiakan hal ini.

Bangunan yang memiliki ciri khas ala Minangkabau ini, berlokasi di Jalan Diponogoro nomor 10 Padang. Nama Adityawarman diambil dari nama seorang raja besar yang bernah berkuasa di Minangkabau pada masa zaman Raja Patih Gaja Mada di Majapahit.

Sumber: anekatempatwisata.com
Itulah beberapa destinasi menarik yang dapat Anda kunjungi saat ke Kota Padang. Semoga dapat menjadi referensi berlibur Anda kali ini.
Read More »

thumbnail-cadangan
Gue sering bilang berkali-kali: “Nggak masalah nonton di bioskop sendirian”, dan banyak orang yang setuju. Kecuali teman-teman gue di sekolah, yang sering mengejek orang-orang yang nonton sendirian.

Pandangan ini semakin diperparah dengan adanya sebuah kejadian yang merusak citra Tim Nonton Sendirian.

Awal tahun ajaran baru, ada seorang teman seangkatan di sekolah gue kakinya patah. Penyebabnya, karena nonton sendirian di bioskop. Kedengarannya cukup aneh. Kata beberapa temannya, dengar-dengar kabar, dia terjatuh, lalu keinjak-injak. Gue nggak tau gimana persisnya, pokoknya kaki dia patah setelah nonton sendiri. Pertanyaannya: dia abis dikeroyok apa gimana sampai kakinya patah keinjak?

Mungkin orang itu butuh ditemani ke bioskop. Nggak kayak gue yang udah kebiasaan nonton sendirian. Hidup Tim Nonton Sendirian!

Nonton sendirian sangat memungkinkan buat gue untuk lirik sana-sini. Itu berarti ada kebebasan ngeliat cewek cantik. Memang, nonton sendirian bisa menjerumuskan seseorang untuk berperilaku bejat.

Seperti Minggu ini, gue kembali nonton sendirian. Itu pun dadakan. Gara-gara buka timeline Twitter, tiba-tiba tangan ngetik website 21, terus ngecek jadwal tayang film. Langsung pergi ke bioskop. Nggak pernah ada rencana. Emang susah ya kalo lagi punya duit. Kapan aja juga jadi. Hehehe.

Singkat cerita, gue berada di dalam studio. Mencari-cari nomor kursi yang sesuai dengan tiket, kemudian duduk di barisan kursi E. Di sebelah kiri gue ada tiga orang sudah duduk melihat layar. Di sebelah gue, persis, ada seorang nenek. Mungkin usianya lebih tua dari mama gue. Sekitar 50-an tahun. Di sebelahnya ada sepasang kekasih umur 20-an tahun, yang gue curigai sebagai anak dan menantunya.

Gue mengeluarkan amunisi perbekalan yang gue bawa dari rumah: sebotol air dan jagung. Bukan, yang gue bawa bukanlah pop corn, melainkan jagung kukus. Entahlah, jagung itu dikukus atau direbus. Yang jelas, jagung itu biasanya ada tambahan gula dan kelapa.

(Kalo ada yang tau namanya boleh kasih tau ya.)

Gue melirik ke kursi si Nenek, ada satu cup pop corn. Gue heran, “Siapa yang anak muda, sih? Kok gue kalah sama nenek-nenek?” Sangat-sangat lintas zaman.

Gue, usia muda selera jadul.
Si Nenek, selera muda usia jadul.

Menjelang film dimainkan, lampu mulai dimatikan. Si Nenek di sebelah gue nyeletuk, “Yah, dimatiin. Jadi gelap. Kayak malam deh.”

Gue mau ketawa, takut dikutuk jadi pop corn.

Gue nggak heran dengan datangnya si Nenek di sini. Adalah karena film yang gue tonton hari itu adalah Warkop DKI Reborn. Dari beberapa bacaan menyatakan, film ini cukup menyita perhatian orang-orang yang ingin bernostalgia. Gue kira, si Nenek ini mau nostalgia waktu zaman-zamannya masih sering nonton layar tancap. Okelah.

Membahas filmnya, gue cukup senang bisa nonton film ini. Cukup senang aja, nggak ada sesuatu yang bisa gue bawa pulang. Maksudnya, ya, cuma buat senang-senang aja. Tapi emang gitu tujuan gue dari awal. Ah, begitulah pokoknya!

Ibarat nonton pertunjukan stand up comedy, nonton film ini kayak lagi nonton perform-nya Awwe. Ketawanya rapet banget. Terus, gue mencium ada beberapa joke yang Awwe banget. Ya, walaupun sang penulis naskah adalah Bene Dion, tapi Awwe memang ikut terlibat dalam naskah.

Si Nenek juga senang-senang aja. Ketawa mulu dia.

Sedangkan mata gue sempat kemasukan kelapa. Gara-gara mau nyendok jagung tapi ada kelapa yang mental masuk ke mata.

Selesai nonton, gue ke Gramed sebentar lihat-lihat buku. Eh, nggak cuma lihat, baca juga buku yang sekiranya menarik. Nggak lama, gue langsung pulang.

Gue celingak-celinguk, angkot belum juga lewat. Datang angkot berwarna ijo telor asin. Langsung gue naiki. Di dalam, ada cewek yang nunjuk-nunjuk gue. Gue duduk, kemudian ada suara memanggil yang nggak jauh berasal dari tempat duduk seberang. Dia duduk di hadapan gue.

“Eh, elo Tong yang tadi di bioskop,” katanya sambil menunjuk gue.

Ternyata, si Nenek yang tadi duduk di sebelah gue.

“Ehehehe. Iya. Ketemu lagi.” Gue cengengesan sambil nyari-nyari hape di tas. Padahal salah tingkah.
“Elo pulangnya kemana, Tong?” tanya si Nenek.
“Ke Tegal Alur.”
“Oh begitu. Kita ke Kayu Besar,” katanya, menunjuk orang di sampingnya dan orang di sebelah gue: anak dan menantunya.
Dalam hati gue, “Nggak nanya, sob.”

Kembali ke niat awal, bisa bebas melihat cewek cantik, telah sukses gue dapatkan. Walaupun cantiknya 30-40 tahun yang lalu. 
Read More »

Sudah seharusnya anak-anak kelas 12 melepas jabatannya di ekskul. Kelas 12 harus segera melepas itu semua biar fokus Ujian Nasional. Melepas satu beban yang dipikul.

Gue baru saja melepas jabatan di KIR. Meskipun jabatan gue nggak keren-keren amat, tetap sedih rasanya kalo ingat-ingat dulu lagi aktif-aktifnya KIR, pulang sore sampai diusir satpam. Eh, sekarang harus melepas itu.

Ceritanya, kemarin Sabtu ekskul gue mengadakan Training Center (TC). TC ini selalu dijadikan sebagai momen pergantian kepengurusan. Sistemnya post to post; setiap kelompok harus melewati satu pos lalu ke pos selanjutnya untuk menyelesaikan TC.

Sebagai kelas 12, gue kebagian jaga di pos mental. Pos yang dipercaya sebagai pos paling menakutkan. Dari kepercayaan turun temurun, pos mental selalu bikin orang nangis karena sering dibentak-bentak. Pos ini selalu dijaga oleh orang yang suka marah-marah, suaranya keras, dan biasanya, lelaki. Gue, yang pada dasarnya suka cengengesan dan sesekali gagap, merasa penempatan di pos mental adalah kesalahan besar.

Di pos mental, gue nggak sendirian. Gue bareng Dede, teman gue yang emang beneran bisa galak. Paling nggak, kalau gue bingung mau ngapain Dede bisa menutupinya dengan marah-marah. Tapi, kita nggak sekadar marah-marah nggak jelas. Ada banyak yang dikoreksi dari angkatan di bawah gue. Ada banyak pesan yang ingin kami sampaikan. Ada sesuatu yang kami harapkan dari mereka.

Menurut gue, tujuan di pos mental adalah agar setiap orang yang selesai dari pos itu menjadi orang yang lebih berani. Jujur aja, gue pun berada di pos ini menjadi lebih berani... teriak di depan muka orang.

TC dimulai, pos kami langsung kedatangan satu kelompok anak kelas 11. “Ngapain lo ke sini?” tanya Dede.

“Mau ngambil pita, Kak,” jawab seorang cewek dari kelompok itu. Dalam peraturan, pita adalah simbol nyawa. Nggak punya pita tapi mau masuk pos = nyari mati.

“Nggak ada!” jawab Dede.
“Tadi, kan, pita aku diambil Kak Robby.”
“Lho, kok gue?” batin gue. Sebelumnya emang gue yang ambil. Setelah gue ambil langsung gue oper ke teman.
“Di gue nggak ada,” jawab gue cepat. Ini ujian pertama untuk menjadi galak dan cuek.
“Bohong,” potong dia. “Tadi, kan, kakak yang ambil pita aku.”
“BENERAN NGGAK ADA DI GUE!" Tangan gue menunjuk jauh. "SANA CARI DI POS LAIN.”

“Beneran ya. Bohong itu dosa, kak,” ancam dia layaknya anak kecil yang polos.

Gue langsung bertolak pinggang, berlagak marah. “LO NGAJARIN GUE? GUE UDAH 12 TAHUN SEKOLAH, YA! UDAH TAU BEGITUAN!” Mulai saat ini, tenggorokan gue mulai bisa diajak kerja sama. Suara teriakan gue mulai keluar.

Setiap kelompok yang masuk ke pos gue nggak kelewatan gue teriakin. Ada satu kelompok, berisi empat orang, dari kelas 10 yang datang tiba-tiba ngomong, “Kak Dede emang KIR ya? Kok nggak pernah ngeliat sih?”

Gue tau, mereka dikerjain. Ini paling disuruh teman-teman gue yang lain. Mumpung dikasih umpan, lumayan jadi mainan.

“Tau dari mana lu gue bukan KIR? Hah?!” Dede mulai akting marah-marah. Si anak kelas 10 malah ketawa-ketawa. Pokonya sejadi-jadinya gue dan Dede marahin mereka. Emmm... mungkin ini akan dikira bullying, tapi sejujurnya cuma akting.

“Minggir dulu ke sana,” kata gue memerintahkan mereka pindah beberapa meter. “Buta-tuli dulu.”

Buta-tuli adalah menutup mata dan telinga biar nggak mendengar dan melihat keadaan sekitar. Seperti diisolasi sesaat. Cuma, ada beberapa orang yang nggak sebenar-benarnya menutup telinga. Hal ini pernah diceritakan Nasril, teman gue yang ikut OSIS. Dia memberi tahu cara buat ngetes orang yang serius buta-tuli. Gue teringat, langsung menerapkannya.

“Sekarang duduk,” kata gue pelan dari belakang mereka. Suara gue seperti berbisik. Seketika juga empat orang itu duduk.

“WOY, KENAPA LO SEMUA DUDUK?! LO HARUSNYA NGGAK DENGER!” Karena teriakan itu mereka semua berdiri lagi.

Sukses.

Yah, mungkin ini semua kayak tindakan bully. Mungkin semi-bully, ya. Tapi percayalah ini nggak ada maksud dendam. Dan, kata teman gue, itu emang tuntutan TC. Biar nggak lancang, katanya.

Di akhir kegiatan, gue dapat cokelat Silverqueen dari adik kelas. Dengan kategori: kakak tergreget. Anggap aja imbalan dari keringnya tenggorokan gue. Ehehehe.

Agak aneh sebenarnya di balik pemberian cokelat ini. Sebenarnya, ini bukan murni keinginan adik kelas, melainkan keinginan teman-teman gue. Emang benar-benar manfaatin kesempatan banget mereka, nyuruh adik kelas bawa-bawa cokelat.

Tapi, teman-teman gue khawatir akan isu cokelat yang mengandung minyak babi yang sempat beredar. Untuk itu, teman gue memberi clue berupa "cokelat halal". Dengan harapan mereka bawa cokelat yang beneran halal. Syukur-syukur dikasih cokelat arab.

Dan, inilah yang gue dapatkan.

Cokelat halal. Cokelat yang ditulis halal.

Hebat sekali adik-adikku ini. Masih SMA sudah berani mengeluarkan cap halal. Jangan-jangan, di luar sekolah dia kerja di MUI.

Eh, iya. Sekarang bisa senang-senang ngebentak orang. Lalu, apa kabar dengan jadwal padat kelas 12? Dengar-dengar, pendalaman materi sekitar bulan Oktober. Artinya, bulan ini mulai nyiapin stamina lebih banyak lagi. Yeaaaah!

Hikmah pada tulisan ini adalah: Asal jangan kena karma pas ospek nanti. Dibentak mahasiswa lebih ngeri, euy. Presiden aja bisa turun karena mahasiswa.

Foto kita semua. KIR SMAN 33 Jakarta '17 - '18 - '19


Read More »