thumbnail-cadangan
Sewaktu gue menulis post ini, gue sedang berada di sekolah menyaksikan acara Bulan Bahasa. Kepala sekolah sedang memberi kata sambutan. "Ah, momen yang ngebosenin," kata gue. Gue bener-bener merasa bosen. Apalagi gue sedang duduk di posisi paling belakang, tanpa ada orang yang gue kenal buat diajak ngobrol. Sebelah kiri gue ada anak kelas 12. Pengen gue ajak ngobrol, tapi nggak kenal. Sebelah kanan gue, cuma ada pohon. Masa iya gue ajak ngobrol. Akhirnya gue memutuskan ngambil handphone.
Ketika menekan tombol on, gue ingat sesuatu. Ah iya! Gue punya draf tulisan di blog. Selesein, ah~

Gue langsung buka aplikasi Blogger. Tek... tek.. tek, gue ngetik dengan lihai. Gue benar-benar menikmati kesendirian dalam keramaian ini. Kenikmatan itu tiba-tiba pecah setelah ada tepukan kecil di pundak gue.

"Lagi bales BBM, ya?"
Gue melirik ke belakang. Oh, ternyata dia Pak Rudi, guru Matematika gue.
"Bukan, Pak. Ini..." gue memikirkan sejenak apa yang harus gue katakan. Di sini, gue harus menjawab jujur. "... lagi nulis cerita."
"Cerita porno, ya?"
"...." gue kebingungan. Baru aja kena pertanyaan yang kayak gitu. Buru-buru deh gue klarifikasi kejadian sebenarnya. "Bukan, Pak. Ini cerita kehidupan saya. Pengalaman pribadi"
"Oooh.."

Huh... hampir aja gue dikira penulis cerita porno yang berkedok pelajar. Hampir aja gue mengganti judul blog menjadi Catatan Nakal Pelajar Binal.

Hampir.

***

Gue selalu merinding setiap kali mendengar kata kematian. Apa pun pembicaraan yang berbau kematian gue selalu menghindarinya. Kecuali kalo gue lagi di majelis atau khotbah sholat jumat, gue pasti siap mendengar. Nggak mungkin gue kabur, atau minta ganti tema ke khotib.

Seolah jadi hal yang sensitif bagi gue mendengar hal-hal kematian. Kecuali berita kematian yang ada disiarin di televisi atau koran. Semakin dekat hubungan gue dengan seseorang yang meninggal, gue makin merinding.

Sekitar 3 tahun yang lalu, ketika gue mau berangkat sekolah, handphone bapak gue berdering. Bapak gue bangun dari tidur, mengangkat telepon. Kemudian
"Waalaikumsalam," jawab bapak gue, menjawab salam dari suara di seberang sana.
"Innalillahi," kata bapak gue, kaget.

Gue ikut kaget. Ada apa ini sebenernya?

"Yo, wes. Nanti aku mangkat."

Mama gue bertanya, "Kenapa, Pak?"

"Mbah putri meninggal."
"Innalillahi." Mama menutup mulutnya, kaget tak percaya.

Gue terdiam. Kepalang tanggung udah pake seragam sekolah, gue lanjut berangkat sekolah. Kakak gue ikut Bapak pulang kampung.

Di sekolah, gue nggak konsen belajar. Tiap lembar buku yang gue buka, selalu muncul bayangan Mbah putri (atau nenek). Kebaikan beliau kepada gue, ketika beliau mencium kening gue yang baru turun dari ojek, juga ketika beliau sedang membungkus tempe. Ya, beliau adalah penjual tempe di kampung. Setiap gue pulang ke kampung, pasti dibawain tempe buat dibawa ke Jakarta. Konon, tempe buatan beliau bisa bikin gue gagal move on suasana kampung.

3 tahun itu berlalu, gue baru sekali ziarah ke makamnya. Ketika membacakan Surat Yasin, gue nggak tahan ngeluarin air mata. Betapa kehilangannya gue, masih belum bisa merelakan kepergian beliau.

***

Kematian itu datang kembali, menjemput orang yang lumayan dekat dengan gue.

Senin subuh, sekitar jam setengah 5, gue terbangun dari tidur. Biasanya, gue baru bangun jam 5, itu pun dengan bantuan alarm. Tapi, kali ini speaker masjid membangunkan gue.

"Cek.. cek"
Mata gue masih setengah terbuka. Ah, paling orang adzan, tidur lagi aja, deh. Udah biasa kayak gitu, batin gue. Tapi, gue tetap nggak bisa tidur. 
"Innalillahi wa innailahi rojiun,"
Waduh, siapa nih yang meninggal? Paling orang jauh, pasti gue nggak kenal. Gue masih berusaha tidur lagi.
"Telah meninggal Bapak Ustad Hasanudin Kamal pada jam 3 pagi."
Gue terbangun. Masih nggak percaya orang yang disebutkan tadi adalah sosok yang gue kenal.
"Sekali lagi, Innalillahi wa innailahi rojiun, telah meninggal Bapak Ustad Hasanudin Kamal pada jam 3 pagi."

Gue bener-bener bangun. Gue duduk dan terdiam. Beberapa kali gue menghela napas, tapi nggak kuat. Mata gue basah, membendung air mata yang hendak keluar. Gue sangat shock dengan kabar yang seseorang sampaikan lewat speaker masjid pagi ini.

Antara gue dengan Ustad Hasanudin Kamal memang nggak ada ikatan saudara, tapi gue sangat berat hati dengan kematiannya. Beliau adalah guru dari guru ngaji gue Jadi, ibarat di silsilah keperguruan, beliau adalah kakek gue. Sesekali gue pernah diajar beliau ketika guru gue nggak bisa hadir.

"Tong, engkong mah udah tua. Lu-lu pada yang bener ngajinya. Jangan males-malesan ngaji." Gue ingat betul kata-kata itu. Kata-kata yang Engkong (sebutan akrab dari beliau) berikan ke gue dan teman-teman ketika Engkong ngajar kami ngaji.

Nggak jarang, ketika kami pulang ngaji, bahan candaan favorit kami adalah ngomongin Engkong. Karena kepikunannya yang sering nanya di mana rumah gue, membuat kami selalu tertawa setiap ngomongin itu. (Gue sempat menulis tentang beliau di postingan ini)

Sebulan yang lalu, gue sempat duduk berdekatan dengan Engkong di selametan tetangga gue. Gue senang bisa ngebantu beliau saat itu. Ternyata, itu adalah kali terkahir gue bisa bertemu Engkong.
Kini, nggak ada lagi yang bakal nanya-nanya ke gue setiap kali gue ke mushola. Orang yang gue hormati, telah tiada. Ajaran-ajaran beliau akan terus gue ingat dan gue kerjakan.

Sambil membaca ulang post ini, gue merenungi cerita orang yang gue sebut di atas. Dua orang yang gue sebutkan di atas adalah orang yang meninggal di usia tua. Lalu bagaimana dengan anak muda seperti gue, yang kadang merasa hidupnya aman-aman aja?

Cepat atau lambat, pasti kita akan menemui kematian. Setiap kali ada ceramah mengenai kematian gue selalu ingin cepat tobat dan rajin ibadah. Tapi, setelah itu, gue merasa "ah, mana mungkin gue meninggal sekarang. Gue masih muda. Umur gue panjang."

Namanya umur siapa yang tau. Nggak ada yang tau kapan kematian itu datang. Semua harus siap jika waktunya tiba. Gue takut kematian menjemput gue pada kondisi yang nggak "seharusnya", misalnya maksiat. Pasti bakal tersiksa. Ralat. Maksudnya sangat tersiksa.

Ah, gue makin merinding ngomongin soal kematian.
Read More »

Sebelum masuk ke postingan utama, gue mau mengucapkan Selamat Hari Blogger Nasional. Nggak nyangka, gue bisa ngerayain lagi untuk kali kedua. Wohooo! Merasa blogger beneran! Seneng banget bisa jadi bagian blogger di Indonesia. Buat yang belum nge-blog, ayo nge-blog! Jangan lupa visit blog gue setiap hari. (Promosi itu penting, guys!)

 ***

Gue sedang mengalami kegundahan yang sangat besar. Gue. Sangat. Menderita. Tolong, seseorang yang baik hati, lepaskan gue dari bencana ini!!

Dua minggu yang lalu, tepatnya hari Jumat, gue pergi ke tukang pangkas rambut untuk memangkas rambut (masa iya gue main bowling di sana). Gue pergi ke sana sekitar jam 7 malam. Gue memutuskan potong rambut jam segitu karena nyari sensasi baru. Biasanya, gue potong rambut sore atau siang, tapi untuk kali gue pilih malam. Menurut gue, potong rambut malam hari lebih menyejukkan kepala. Apalagi waktu guyuran ngebersihin sisa-sisa rambut. Brrrrr.

Singkat cerita, gue berada di tempat pangkas rambut. Sekitar 10 menit ngantre, tiba giliran gue potong rambut. Gue duduk menghadap kaca besar, di depan gue banyak peralatan cukur, seperti gunting dan sisir. Gue tarik nafas dalam-dalam, dan gue siap merelakan rambut untuk dipangkas. Oke, ini persiapan yang terlalu lebay. Sebelumnya, mas-mas pangkas rambut nanya ke gue,

"Mau diapain, nih, Dek?" tanya mas-mas pangkas rambut sambil nunjuk kepala gue. Suaranya agak nggak kedengeran karena dia pake masker.
"Jadi satu senti, mas," jawab gue, singkat.
Mas-mas potong rambut ngambil sisir, kemudian meyakinkan gue. "Beneran, Dek? Ini nggak bercanda?" tanya dia, heran.

Lah, dikira gue bercanda. Emang apa yang janggal dari potong rambut satu senti?

"Bener, mas." Gue menjawab mantap.
"Ya udah. Bismillah dulu ya..."
"Bismillahirrohmanirrohim.."

Sisir itu ditaruh kembali ke tempat semula. Dia ngambil alat potong rambut listrik (gue nggak tau namanya apa). "Srruungg... srrrrungggg... sruuunggg", begitulah bunyi alatnya. Sisi kanan rambut dipotong, kemudian yang kiri. Setelah 15 menit, jadilah rambut gue yang sekarang: potongan satu senti. Ya, gue juga kurang yakin sih kalo rambut ini bener-bener panjangnya satu senti.

Buat yang nggak tau potongan rambut satu senti, model rambut ini seperti botak, tapi masih ada sedikit rambut. Dibilang botak, nggak botak, tapi kalo disebut maling, malah marah-marah (ya, siapa juga yang mau disebut maling)
Bedanya, kalo botak itu licin, kalo satu senti masih nyisa rambut dan nggak alus. Gitu, sih, menurut gue, kalo menurut orang lain nggak ada bedanya. Satu senti sama dengan botak.

Beruntung gue masih nyimpen foto sebelum rambut gue dipotong..

Before: sebelum potong rambut | After: setelah dilindas mesin pemotong rumput
Gimana, apakah foto ini sukses membuat Anda mual? Jangan muntah dulu. Tatap fotonya sekali lagi, lebih dalam, kemudian berlarilah mencari kresek yang ukurannya besar. Sekarang, keluarkanlah semua yang ingin dimuntahkan!

Setelah pulang dari pangkas rambut, gue langsung berdiri di depan kaca, lalu bergumam sok ganteng sambil ngelus kepala dan menatap kaca, "Ini beneran gue? Ah, masa sih?" Gue nyium ketek, ternyata ini beneran gue.

"Anjrit, gue tambah jelek. Muka gue lebih tua"

Awalnya gue pede dengan gaya rambut ini. Gue berani senyum ke orang-orang sambil mengelus kepala. Itu semua karena sebelumnya gue pernah dua kali potong rambut model serupa. Dapat hinaan? Udah pasti. Gue kebal dengan hinaan orang tentang rambut gue. Tapi, entah kenapa untuk kali ini hinaan orang terasa lebih nyakitin.

Baru masuk kelas, gue membuka topi, lalu ada seorang teman teriak histeris, "ROBBY, ELO BOTAK?!"
"Ya, menurut lu aja gimana," jawab gue, kalem.
"Sejak kapan lu botak?"
"ROBBY BOTAK!" teman gue yang lain meledek.
"Awas jangan deket-deket, gue sundul nanti susuban lu."

Itu baru hari pertama. Esoknya, kepala gue mengalami trauma mendalam. Dielus, dijitak, diemut, begitulah perlakuan orang-orang terhadap kepala gue. Kalo diemut itu bukan ulah teman gue, tapi itu ulah gue sendiri (lah, emang bisa?).

Setiap melihat gue, orang-orang langsung menatap nanar, seolah menganggap gue adalah penjambret. Mereka nganggap gue sebagai narapidana lepas dari penjara. Sakit, men, sakiiiiit.
Dikit-dikit ada yang bilang, "Duh, silau nih. Ada orang botak." Gue kesel, pengin gue sundul mereka yang ngeledek gue.

Belum lagi sikap orang-orang terdekat yang sedikit menjauh. Bahkan, sisir--benda yang paling sering bareng gue di rumah--ikutan menjauh. Setiap kali gue nyisir, rasanya sakiiiit. Sisir itu langsung ngenain kepala, nggak kena rambut.

Apa lagi, ketika gue mau nyebrang. Tatapan orang selalu memendam kecemasan. Mereka menatap gue dengan tatapan berbeda dan aneh. PLIS, GUE BUKAN BEGAL! Ngeliatnya biasa aja dong!

Hal-hal seperti ini membuat gue resah. Orang Indonesia belum siap dengan kehadiran orang botak di tengah-tengah mereka. Hasilnya, orang seperti gue jadi bahan hinaan. Periiiih. Sama perihnya kayak cambang dikerok mas-mas pangkas rambut.

Mau dibilang kayak gimana pun, gue harus terima risiko jadi orang berbeda. Rasanya jadi minoritas di hadapan orang-orang berambut gondrong. Gue selalu ditindas. Ternyata, jadi seorang minoritas itu nggak enak, men! Cobain aja deh jadi botak.

Setiap kali ada yang manggil-manggil gue "Botak... botak", gue diam. Dalam diam itu, gue sumpahin, rambut botak jadi trend rambut tahun 2016. Kemudian orang-orang yang menghina gue akan bernyanyi untuk gue (inspirasi dari lagu Itu Aku - Sheila On 7)

Taukah orang yang kutindas
Taukah orang yang kuhina
Taukah orang yang kujitak
Itu... ROBBY!

Percayalah... itu Robby.

Ah, seandainya hidup bisa seindah itu. Gue rela botak terus-terusan. Lumayan, biar ngirit biaya pangkas rambut.

Intinya, gue mau hidup seperti orang biasa, orang-orang yang berambut gondrong. Gue menuntut akan kesamaan hak dalam hidup berambut. Botak atau gondrong sama saja, yang penting jangan korupsi. HUAHAHAHAHA~

Hidup kaum berambut-adem-ketika-kena-kipas-angin! Allahu Akbar!

*elus-elus kepala*
Read More »

Buat orang genit, nyari pacar adalah hal paling mudah dilakukan baginya. Mereka bakal ngegoda sejadi-jadinya, dengan begitu cewek-cewek bakal tertarik. Padahal kenyataannya, cewek-cewek yang sedang dideketin, bakal merasa risih, bahkan jijik dengan godaan-godaan murahan dari cowok-cowok.

Nyaris mirip kejadiannya dengan yang gue alami pagi ini.
 
Pagi ini, gue naik angkot menuju sekolah. Gue naik, lalu duduk duduk di belakang sopir. Di dalam angkot, cuma ada gue dan sopir (ya iyalah, kalo nggak ada pasti horror banget!). Begitu gue melirik ke depan, oh ternyata, di sebelah sopir, ada cewek yang pake seragam sekolah, berkerudung, dan putih... kerudungnya. Ya, cuma itu aja yang bisa gue liat dari belakang. Mukanya nggak keliatan lewat kaca spion. 
Gue lirik lagi ke samping, ada Tantowi Yahya sedang jadi pembawa acara Who Wants To Be A Millionaire. Lalu dia berkata, "Selamat datang di kursi panas."

Ngawur.

Di tengah perjalanan, angkot berhenti buat ngetem. Di sela-sela ngetem, keadaan sunyi di dalam angkot, sopir ngajak ngobrol cewek yang duduk di sebelahnya. Karena gue persis duduk di belakang sopir, gue bisa denger obrolan mereka.

"Bengong aja, neng," goda sopir
Si cewek kaget, "Ah-uh... enggak, kok, bang."
"Biasanya kalo anak muda lagi bengong itu lagi mikiran pacarnya."
"...." si cewek diam.
"Abang juga gitu kok. Kalo lagi bengong pasti mikirin cewek." Lalu, sopir bertanya, "Punya pacar gak, neng?" 
"Gak punya, bang," jawab si cewek, pasrah.
Si sopir merespon dengan penuh penekanan, "Jaman sekarang gak punya pacar, neng?! Cari atuh, neng."
"Gak mau ah. Gak boleh pacaran," jawab si cewek tak acuh.
"Iseng-iseng mah gak papa, neng,"

Si cewek diam.
 
"Kalo gak, mau gak jadi pacar abang aja. Gimana?"
"...."

Seisi angkot langsung awkward. Gue penasaran, langsung memajukan badan gue, melihat apa yang barusan terjadi. Si cewek mukanya shock. Si sopir, mukanya bener-bener nafsu.
Sampai di sini, gue nahan ketawa. Apa yang si sopir lakukan barusan lebih mirip bisnis MLM atau penodongan.
 
"Gimana, neng?" si sopir mencoba meyakinkan.
Si cewek keadaan shock, makin diperparah setelah ditanya seperti itu. Dia menjawab,"Nggak mau, bang."
"Yeeeh, si eneng." Si sopir kecewa.

Angkot nggak nambah penumpang, kemudian jalan lagi.

Beberapa meter kemudian, si sopir ngajak ngobrol si cewek lagi,

"Neng, sekarang kelas berapa?"
Si cewek mulai males nanggepin, "Kelas 10."
"Itu kelas berapa?"
"Kelas 1 SMA."
"Oooh, gitu." Sopir berhenti sejenak kemudian melanjutkan, "Dulu jaman abang sekolah namanya kelas 1."

Kemudian hening lagi. Si sopir kembali bicara,

"Gimana, neng, mau gak jadi pacar abang?"
"Gak mau."
"Bener nih? Nanti tiap berangkat sekolah aku anterin deh. Gimana?"

Di sini mulai menakutkan. Si sopir mulai maksa-maksa si cewek. Udah gitu, pake aku-akuan segala. Seandainya kasus pemerkosaan terjadi, gue siap jadi saksi. 

"Gak mau, bang!" Si cewek udah mulai kesal. Untung aja, dia nggak ngambek kayak cewek-cewek pada umumnya ketika berantem di mobil. "TURUNIN. AKU. DI SINI!" 

"Iya, nanti aku turunin."
"AKU NGGAK MAU TAU, POKOKNYA TURUNIN AKU DI SINI! SEKARANG!"
"Iye! Gue turunin. Tapi bayar dulu lah"
"...."

Akhirnya gue turun lebih dulu daripada si cewek. Gue nggak tau apa kelanjutan dari hubungan mereka. Apakah mereka akhirnya jadian setelah si cewek dibius dengan oli? Atau, si cowok menikah dengan si cewek? Gue nggak tau... dan nggak mau tau. 

Seandainya mereka pacaran, pasti kisah mereka sangat menginspirasi. Siapa tau, karena kisah mereka bisa diangkat jadi FTV. Judulnya "Cintaku Mentok di Sopir Angkot". Atau, "Cinta Kita Tak Direstui Surat Tilang" dengan ending si sopir kena tilang lalu dipenjara. Romantis sekali.

Mana nih modus baru nyari pacar yang elo janjikan di judul?

Bagi yang ngarep tip keren dari gue, maaf, gue nggak bisa ngasih. Jangankan kalian, gue aja yang nulis gini nggak punya pacar.

Gimana buat cowok-cowok, setelah baca posti ini, ada niatan buat bikin SIM, terus ngelamar kerja di Mikrolet biar bisa punya pacar? Coba aja. Namanya jodoh, siapa yang bisa menjamin. Siapa tau, angin keberuntungan sedang berpihak kepadamu. Minimal kalo nggak dapet pacar, biaa dapet uang jajan tambahan.

Boleh juga...
Read More »

thumbnail-cadangan
Cinta-cintaan anak SD dan SMP itu lucu. Mungkin ada yang pernah mengalami masa-masa ini. Ketika kita lagi duduk tenang, tiba-tiba ada teman kita nyamperin, lalu bilang, "Wey, ada yang suka sama lo! Cieee... disukain sama si anu."

Respon kita pun berbeda. Kalo orang yang suka sama kita ternyata cantik/ganteng, kita langsung bilang, "MASA?! SUMPEH LO! YA AMPUUUN!! AAAAHHHH..."

Meleleh.

Kalo orang yang suka sama kita ternyata jelek, respon kita, "Ya elah, buat lo aja lah."

Gue pun dulu pernah merasakan masa-masa seperti itu. Cuma bedanya, gue lebih cool dan sok jual mahal dalam menyikapi seperti itu. Ada temen gue yang bilang, "Rob, ada yang suka sama lo tuh". Ya, gue mau gimana lagi? Gue cuma jawab kepada teman gue dengan senyuman, "Ah biasa itu mah. Cuma suka doang kok."

Besoknya, gue mati-matian nyari nomor telepon si cewek.

Semenjak masuk SMA, gue udah nggak pernah denger kata-kata "ada yang suka sama lo" yang ditujukan ke gue. Bahkan gue lupa kapan terkahir mendengar kalimat itu. Akhirnya, cewek jaman sekarang bisa membedakan mana manusia dan mana pulpen standard.

Tapi, beberapa minggu yang lalu, gue dapat kabar seperti itu lagi.

Kabar pertama datang dari teman SMP gue. Sebut saja namanya Rafia. Nama profil facebook-nya Tali Rafia. Lewat inbox Facebook, dia ng-inbox gue.
Tali Rafia: Di kelas gue ada yang suka sama lu
Robby Haryanto: Lah, gimana bisa?

Pause di sini. Kenapa respon gue kayak ngedenger kabar ada orang jatuh sakit, ya? Play again.

Tali Rafia: Gak tau. Tadi dia bilang dia suka sama lu.
Robby Haryanto: Hahaha ada-ada aja. Kok bisa kenal gue ya?
Tali Rafia: Nah, justru gue juga bingung kenal dari mana. Entah lah dia kenal lu dari mana

Akhirnya kita sama-sama bingung.

Setelah hari itu, Tali Rafia udah nggak ngasih kabar apa pun. Tetapi, sekitar seminggu berikutnya, Tali Rafia ng-inbox gue lagi.

Tali Rafia: Rob, ada yang ngefans banget sama lu, sampe2 dia nyimpen foto lu

JEGER! Membaca pesan tersebut, seketika gue mau banting handphone. Ya ampun, foto panas milik gue bakal tersebar luas nih. Gue panik.

Bentar, gue pake celana dulu. Oke, lanjut baca pesan.

Robby Haryanto: Heleh, mana ada yang kayak gitu hahaha
Tali Rafia: Ada buktinya. Di saat gue iseng2 buka hapenya, eh ada foto lu :D cie cie robby

Satu-satunya respon gue saat itu adalah membantah kalo itu bukan gue.

Robby Haryanto: Cuma mirip kali, bukan gue. Gue kan jarang upload foto
Tali Rafia: Gak mungkin, gue tanya dia katanya itu foto lu.

Wow, gue kaget dengan kabar ini. Sejauh ini gue jarang upload foto gue di socmed. Pernah sih, tapi entah kamera yang jelek atau muka gue yang jelek, di foto itu banyak komentar buruk.
Gue malah lebih sering upload fito yang nggak jelas. Gue pernah upload foto pulpen. Mungkin orang yang "katanya" suka sama gue ngira,"Robby ganteng juga. Warnanya biru"

***

Kabar berikutnya datang dari teman SMP gue yang lain. Dia bilang, kalo di sekolahnya ada yang suka sama gue. Gue tersanjung. Cuma orang yang satu ini lebih waras, dia nggak nyimpen-nyimpen foto gue. Dan kabar yang teman gue berikan jaraknya berdekatan. 
Gue heran, kenapa kabar ini datang bersamaan. Kalo emang orangnya sama, kayaknya iya. Tapi, kalo orangnya beda, gue curiga.. ada yang nempelin susuk ke tubuh gue. Aduh, berlebihan

Bukannya gue mau pamer tentang (ehem) betapa menawannya gue di kalangan remaja putri, tapi gue udah lama nggak denger kalimat "ada yang suka sama lo". Kalimat yang bikin gue ketawa-ketawa sendiri, sekaligus geli. Mana ada orang yang suka sama gue.

Hmmm... biarkan gue pamer sejenak. Kali ini aja deh, besok nggak lagi kok. Janji.

Peace.
Read More »

Sudah berapa hari gue nggak nge-blog? *ngecek recent post*
Yak, 7 hari yang lalu, adalah postingan terakhir gue di blog. Bukan kabar yang mengenakkan bagi seseorang yang menulis kata "Blogger" di bio segala akun socmednya.

Maafkan aku.

Biar gue perjelas kenapa blog ini konsistensinya mulai turun. Pertama, gue sering ketiduran. Kedua, gue lagi getol ngurusin ekskul. Gue, sebagai orang yang dipercaya sebagai pemegang socmed ekskul, harus sering-sering mantau timeline, buat ngasih info ke teman-teman gue. Apa lagi, sekarang lagi musimnya perlombaan bagi anak-anak sekolah. Ya, intinya gue seneng ngurusin info-info semacam ini. Karena gue bangga, jadi bagian KIR SMAN 33!

Oke, makasih tepuk tangannya. Nggak, itu biasa aja, kok.

Intinya, gue berdosa. Penginnya, gue bisa ngeluarin post terbaru setiap Selasa dan Sabtu. Ya, doain aja semoga keinginan gue tercapai.
  
Semua tulisan yang ada di draf terlantar. Gue pun lupa mau ngelanjutin nulis ini. Baru gue tulis poin-poinnya, udah gue tinggal ke tulisan yang lain. Akhirnya, sekarang bisa gue lanjutin kembali.

Gue nggak pernah puas setiap nonton dangdut di TV. Biarpun gue nggak terlalu fanatik dengan musik dangdut, gue seneng setiap dengar lagu dangdut. Nggak peduli dibilang kampungan atau cemen, gue bakalan joget kalo denger lagu dangdut. Ya, itupun kalo lagi sendiri, kalo lagi di keramaian gue nggak bakal joget. Yang ada malah nanti gue disawer. Emangnya gue biduan?

Sayangnya, keinginan gue buat nonton dangdut secara live menghadapi banyak ganjalan. Alasan gue jarang, bahkan hampir nggak pernah, nonton dangdut secara live adalah sebagai berikut:

Pertama, pandangan orang kekinian terhadap dangdut sangatlah tidak bersahabat. "MAKSUDNYE APE?!". Gini, menurut gue, seseorang yang abis nonton konser dangdut bakal merasa direndahkan dibanding dengan orang yang abis nonton konser jazz, rock, atau idol group (kenapa harus ada ini?).
Perbandingannya gini:

Orang yang baru selesai nonton konser idol group (demi keamanan, gue samarkan namanya menjadi JKT48).

"Bro, tadi malem gue abis nonton JKT48! LIVE!"
"Ah, masa, sih? Trus lu ngapain aja?"
"Gue yakin lu nggak bakal percaya. Gue salaman sama oshi gue dong!"
"Wih, mantep! Gue salut!"

Dianggap keren.

Beda ketika selesai nonton dangdut.

"Bro, tadi malem gue abis nonton dangdut! LIVE!"
"Dibayar berapa?"
"Ye, kagak lah. Gue anti gitu-gituan"
"Ngapain aja lu di sana?"
"Gue yakin lu nggak bakal percaya. Gue salaman, cium tangan, sama bunda Rita Sugiarto."
"Ah, elah.."

Kedua, image musik dangdut dianggap murahan dan mengundang maksiat. Iya, sih, tapi justru bagi gue itulah sisi menarik dari musik dangdut. Misalnya, ada sesi nyawer. Cuma di dangdut yang ada sesi nyawer. Gue nggak pernah tuh, ngedenger ada berita WOTA naik panggung ngibas-ngibasin duit cebanan ke oshi-nya. Asli, itu nggak keren.

Ketiga, berhubungan dengan menyawer, gue paling nggak bisa nyawer. Ya, tau sendiri lah, gue masih sekolah dan gue belum punya penghasilan. Masa iya, gue nyawer naik ke panggung ngibas-ngibasin kertas ulangan atau buku PR.

***

Akhirnya, gue bisa nonton dangdut lagi..

Ini semua terjadi  karena tetangga gue ngadain hajatan dan mengundang dangdut sebagai hiburan. Gue nggak tau persisnya, apa itu dangdut atau organ tunggal, yang jelas lagu-lagu yang disuguhkan adalah lagu-lagu dangdut. Kenapa gue tau? Musiknya kenceng banget. Kedengeran sampe rumah gue.

Sayangnya, gue nggak bisa nonton dari siang karena ada kerja kelompok.Ya udah, karena ini event yang langka, gue usahain nonton. Jam 20.0 gue keluar rumah. Sebelumnya, gue janjian dengan Sofyan via inbox facebook. Agak aneh, karena rumah Sofyan nggak jauh-jauh amat dari rumah gue. Ya, namanya juga jaman serba canggih, mau nyamper aja harus pake kuota.

Tiba di hajatan, gue langsung ambil tempat duduk paling depan. Dekat panggung. Mumpung sepi, ujar gue. Ternyata, gue melihat ada Sofyan sekitar 5 meter dari tempat gue duduk, sedang mantengin handphone.

"Woy, sini!" kata gue
Sofyan nggak nengok.
"WOYY!"
Sofyan tetap nggak nengok.

Gue lupa, ini acara dangdut dan ini di depan speaker. Pantes nggak kedengeran, pasti si Sofyan jadi budek gara-gara deket speaker. Gue langsung nyamperin Sofyan.

"Duduk di situ aja," kata gue menunjuk 3 kursi di belakang, setelah kita sebelumnya salaman terlebih dahulu.
"Oke."

Lagu dangdut mulai dinyanyikan. Gue nikmatin banget. Tapi, gue malu joget di sini, mengingat ada bapak gue lagi duduk nggak jauh dari sini. Gue takut kena gampar.
Penyanyinya rehat sejenak. Gue ngobrol-ngobrol bareng Sofyan. Di tengah obrolan, gue kepikiran, "Kenapa momen ini nggak gue masukin ke blog aja?"

Asik, hiburan yang bikin produktif menulis. Akhirnya ada pemecah kebuntuan ide.

Biar nyata kalo momen ini pernah terjadi, gue langsung ngambil handphone buat ngambil beberapa gambar. Ini gambarnya:



Iya, gue lagi mabok sabun colek

Gue sempat ingat lagu yang gue dengar waktu itu. Ada kata "layang-layang"-nya. Jujur, lagu itu enaaaak banget. Setelah gue googling, ternyata itu adalah lagu dari Rita Sugiarto. Begini reff-nya:

Dirimu bagaikan layang-layang
Kulepas tali benang ku genggam
Semakin melayang kau di awan
Semakin aku takut kehilangan
Acara selesai jam 22.00. MC dangdut pamit undur diri. Semua peralatan di bereskan. Tapi, gue masih pengin nyari gambar lagi. Gue ngeliat ada gelas quavit ada di atas kursi. Nggak sengaja gue ambil gambarnya. Tiba-tiba, ada setan mana yang ngebisikin gue, gue ngejepret lagi, tapi posisi gelasnya berpindah. Kenapa nggak sekalian aja bikin video stop motion? Oke, gue bikin nih.

Share video stop motion


Jika nggak muncul, klik ini https://www.youtube.com/watch?v=trsdFs46dHQ

Oke, gitu aja sih yang bisa gue tulis. Sengaja gue nge-blog, karena sebenarnya ini adalah pelarian. Gue lagi diteror dengan target menulis yang menggila. Mulai dari nulis drama buat lomba bulan bahasa, sampai nulis cerpen yang nggak nambah-nambah. Pengin hidup seperti penulis produktif :') Masa iya harus ada dangdut tiap hari biar gue bisa produktif nulis.

Ngasih tau aja, gue mau usaha rutin ada satu postingan setiap Selasa dan Sabtu. Selalu pantau blog gue, ada kejadian atau pemikiran apa yang berhasil gue tulis di blog ini.

Terakhir, Selamat Tahun Baru Islam 1437 H.
Read More »

thumbnail-cadangan
Makin ke sini, gue ngerasa makin banyak perubahan dalam hidup. Seperti perubahan pola kehidupan, kebiasaan masa lalu yang berganti jadi lebih serius, dan singlet-singlet yang harus diganti karena udah nggak muat. Dari banyaknya perubahan yang ada, gue merasakan ada beberapa perbedaan dialog... pada kondisi yang sama.

Sederhananya, ketika kita nyamper teman buat main bareng.
Dulu, ketika kecil, pasti di antara kita ada yang pake cara ini: datang ke rumah teman - berdiri di depan pintu - manggil nama teman sambil teriak-teriak "MAIN YUK! MAIN YUK!"

Sekarang (ketika dewasa), nggak mungkin lagi pake cara itu. Selain dianggap nggak sopan, juga pasti dianggap orang gila yang berkeliaran ke pemukiman.
Akhirnya, kita pake cara lebih sopan: datang ke rumah teman - berdiri di depan pintu - ketuk pintu  rumah - pintu dibuka - teman kita nyuruh masuk - disuruh duduk - manggil nama pembantu sambil teriak "KOPI! KOPI, MANA KOPI?!"

Abis itu, disirem pake kopi panas. Badan langsung melepuh.

Itu contoh karangan buatan gue. Contoh nyatanya, ketika gue sedang makan malam bareng orangtua.

Momen ini, biasanya diisi oleh obrolan-obrolan hangat. Pasti ada obrolan-obrolan yang ingin disampaikan anggota keluarga. Topik yang dibicarakan juga disesuaikan dengan lawan bicaranya. Misalnya, ketika gue masih kecil, Mama bakal cerita apa yang terjadi dengan anak-anak seusia gue. Contoh:

Waktu kecil:
"Bi, kamu tau nggak anaknya Bu Atun?"
"Err... aku kan anaknya Bu Atun. Itu kan nama Mama."
"Oiyah."

Nggak, bukan gitu dialognya. Gini nih yang bener:

"Kamu kenal anaknya Bu Atun nggak, Bi?"
"Oh, yang itu. Si Feli (nama disamarkan) kan?"
"Iya."
"Kenapa dia, Ma?"
"Kemarin, main sepeda jatuh, kecemplung ke got."
"Wow."
"Makanya kalo naik sepeda hati-hati, ya."
"Gimana mau naik sepeda, bisa juga nggak."

Dialog sederhana. Semua orang bisa menerima dialog ini.

Beda ketika gue udah beranjak dewasa. Topik yang dibicarakan agak berat, tapi masih dalam jangkauan orang-orang seusia gue.

Dialog sekarang:

"Kamu kenal anaknya Bu Atun nggak?"
"Iya, si Feli kan, yang dulu waktu kecil pernah kecebur got"
"Nah itu."
"Kenapa, Ma?"
"Dia.. HAMIL!"

Gue tersedak, lalu batuk.

"YANG BENER, MA?!" kata gue, heboh.
"Beneran! Kata orang-orang udah hamil sebulan."

Gue kaget. Gimana nggak kaget, orang yang masih seusia gue... harus udah punya anak. Ngeri, kan? Hmmm... mungkin ada yang belum tau usia gue sesungguhnya. Gue masih 16 tahun, dan yang ngira gue udah berusia 34 tahun, itu salah besar. Oke, lupakan. Intinya, gue masih muda dan bergairah.

Gue nggak bisa bayangin kalo orang yang masih seumuran gue udah punya anak. Gimana ngatur keuangannya, sedangkan nyari kerja itu susahnya setengah mati. (Kenapa gue tau? Denger cerita dari orang doang sih, kalo nyari kerja itu susahnya setengah mati). Belum lagi, kalo misalnya si cowok (yang menghamili) ternyata kurang punya tanggung jawab. Iya kalo misalnya udah punya kerjaan tetap, punya apartemen di mana-mana, punya perusahaan Facebook. Bentar, oh jadi pelakunya MARK ZUCKERBERG??! Ck, gue kecewa dengan lo, Mark!
Maksud gue, kalo misalnya si cowok ternyata belum kerja gimana? Anak itu mau dikasih makan apa? Lumut kran masjid? Ya, jelas nggak mungkin. Kalo ternyata si cowok umurnya masih 9 tahun gimana? Ya, nggak mungkin lah. Belum puber kali~
Perbedaan dialog yang gue rasakan lainnya adalah dialog ketika belajar di kelas. Contoh, ketika pelajaran sedang berlangsung, guru selesai ngasih materi.

Ketika SD:
"Kamu kenapa nggak bisa?"
"Saya nggak ngerti, Bu"
"Oh.. sini ibu ajarin"

Bu gurunya ngajarin dengan sabar, anaknya bisa. Kelar urusan.

Beda ketika gue di SMA. True story, suatu hari di mata pelajaran Kimia di kelas gue.

"Yang di belakang paham nggak?" kata guru Kimia.
Seisi kelas diam.
"WOYY! YANG DI BELAKANG PAHAM GAK?!"
Seisi kelas diam lagi.
"KALO ULANGAN GAK BISA, GUA SURUH LARI LO, YA!" kata guru Kimia sambil mengacungkan jari telunjuknya di udara, menunjuk kami yang duduk di belakang.

Tetep diem.. bukan karena kita nggak bisa ngomong, tapi karena ketakutan. Ujung-ujungnya, belum tentu bisa materi yang diajarin, malah itu guru jadi bahan gunjingan murid-muridnya karena sikapnya yang mirip Hitler.

Begitupun ketika di kelas lain. Kalo ini, nggak true story.

"Yang di belakang paham nggak?"
Seisi kelas diam.
"WOYY! YANG DI BELAKANG PAHAM GAK?!"
Seisi kelas diam lagi.
"KALO ULANGAN GAK BISA, GUA SURUH LARI LO, YA!"
Diam juga.
Ternyata, di kelas itu cuma ada dia doang. Sendiri. Yang dari tadi dia tunjuk adalah gelas kimia dan timbangan. 
Segitu aja sih contohnya. Pasti kalian juga pernah ngerasain perbedaan dialog pada kondisi yang sama. Kalo bisa, coba share di kolom komentar. 
Ciao! Sekian dan gracias~
Read More »

thumbnail-cadangan
Minggu ini, dimulai dari hari Selasa kemarin, gue sedang berhadapan dengan Ujian Tengah Semester (UTS). Ada sesuatu yang beda dari tahun-tahun sebelumnya, minggu ini gue menghadapi upacara di tengah-tengah minggu UTS. Bayangkan, ada upacara saat UTS? Banyak yang ngeluh? Pasti.

Upacara itu dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila tanggal 1 Oktober kemarin. Gue sempat kesal, kenapa ada upacara di tengah-tengah UTS? Bahkan, saking kesalnya, gue menyebut upacara ini sebagai Hari Kesaktian Siswa; hari di mana siswa yang sedang ujian tetap disuruh upacara. 
Belum lagi, seragam yang gue pake saat itu adalah Baju Muslim, yang bagi gue, nggak cocok banget sama kegiatan upacara. Mending nggak usah upacara, atau tetap upacara tapi UTS diliburkan.

Wow, dua paragraf yang sangat tidak gue banget; terkesan antagonis. Plis, jangan diambil hati..

Ini yang sebenarnya ingin gue ceritakan...

Jumat, 2 Oktober 2015

Hari ini ada ujian mata pelajaran Biologi, Seni Musik, dan Prakarya. Pokok cerita hanya terjadi ketika ujian mata pelajaran pertama.

Seperti UTS sebelumnya, aturan duduk para peserta dibuat selang-seling dengan kelas yang lain. Kelas gue dicampur dengan kelas 10 IPS 1. Satu barisan ke samping ada empat kursi. Gue duduk bersebelahan dengan anak kelas 10 IPS 1, kemudian di sampingnya teman sekelas gue, selanjutnya anak kelas 10 IPS 1.

Jam pertama, gue ujian mata pelajaran Biologi. Gue bingung. Masalahnya, materi Biologi itu banyak banget, menumpuk, dan satu per satu materi seakan berteriak, "AYO! HAPALKAN AKU SEKARANG!"

Sedangkan, anak kelas 10 lagi ujian Matematika. Mereka anak IPS, dan biasanya mereka nggak suka dengan hitung-hitungan. Akhirnya, jadilah sebuah kombinasi ruangan yang diisi oleh orang-orang bingung (kalo belajar, sih, nggak bakal bingung, ye~ :p)

Ujian dimulai. Sebelum ngisi data di lembar jawaban, gue ngeliatin orang-orang di sekitar. Terutama anak kelas 10, yang bener-bener nunjukin muka-orang-mau-ulangan-Matematika pada umumnya. Bener-bener muka stres. Gue prihatin.

Begitu juga dengan gue ketika melihat soal Biologi. Gue nge-blank sesaat, dan meninggalkan soal-soal sulit. Soal sulit masih bisa ditaklukan selagi masih ada teman pintar. Nggak, gue nggak ada maksud buat nyontek, kok.

Pengawas sempat keluar sebentar. Begitu keluar, anak-anak kelas 10 langsung berisik, nanyain jawaban ke temannya. Gue cuma bisa merhatiin mereka.
"Ssssttt..." kata seorang cowok anak kelas 10, sambil membuka jari telunjuk dan jari tengahnya.
Ada yang terang-terangan nyebut nomor soalnya. "Nomor 2, 3, 5, 6 apaan woy?!"

Seperti nggak mau kalah, anak kelas 10 yang duduk di sebelah gue juga ikutan nanya. Gue cuma ngeliatin tingkahnya. Dia cewek, cantik, cute, pake kerudung. Tapi gue nggak nyangka dia ikutan nyontek.
Dalam usahanya, dia nggak dapet respon dari temen-temennya. Mukanya bingung, akhirnya....

"Kak, ini apa jawabannya?"

Gue kaget. Gue lagi merhatiin dia, tiba-tiba ditanyain jawaban. Di sini gue punya dua opsi menguntungkan dalam merespon pertanyaan dia. Gue bakal jawab,

1. "Saya kasih tau, tapi kamu merem dulu." Lalu, gue cium pipinya. 

Opsi ini terlalu liar... dan kriminal. Bisa-bisa gue ditampar pake papan jalan.
 
2. "Saya kasih tau nih jawabannnya, tapi kamu jadi pacar saya ya?"

Opsi ini membuat gue terkesan murahan. Nanti gue malah dikira mas-mas penggoda.


Sebelum gue jawab, gue liat sebentar soalnya. Dia nunjukin sebuah soal, di situ ada sebuah gambar grafik. Gue baru ingat dengan sebuah kenyataan pahit: Gue nggak terlalu jago Matematika. Gimana caranya biar bisa ngasih tau si dedek gemes ini?

"Hmmmm... nggak tau, Dek," kata gue ke dia, dengan pasrah. 

"Yaaah..." mukanya jauh lebih pasrah dan kecewa. Salah satu teman sekelas ketawa dengan melihat dialog kita.

"Kamu bertanya kepada orang yang salah, Dek," kata gue dalam hati.

Akhirnya pengawas masuk lagi ke dalam kelas. Pengawas geleng-geleng ngeliat keramaian yang baru aja terjadi. Mungkin pengawas ini udah merhatiin dari luar kelas. 

Gue nyesel nggak bisa ngasih tau dedek gemes yang duduk di sebelah gue. Sekarang, gue bakal punya pembelaan ketika ada orang yang nanya "Buat apa lo belajar Matematika terlalu dalam, sedangkan ilmu itu belum tentu lo pake dalam kehidupan sehari-hari". Gue bakal jawab, "Siapa tau bisa buat ngajak cewek kenalan."

Sebelum nyesel nggak ngerti Matematika, ayo rajin-rajin belajar Matematika... biar bisa masuk UI atau UGM. Jangan cewek dulu dong!
Read More »