28 April 2015


Ketemu lagi di hari Selasa, itu tandanya ada tulisan rutin bertema di blog gue hadir di tengah-tengah kalian. Eh, di layar deh. Hmmmm...kalau kalian perhatiin sejak tulisan ini mulai ada, opening gue selalu sama. Hampir persis. Gue belum menemukan kombinasi kata yang tepat.

Nah, kayaknya paragraf tadi beda daripada tulisan gue sebelum-sebelumnya.

Judulnya datang terlambat.

Bagi sebagian orang, datang terlambat ke sekolah adalah hal wajar. Sadar gak, kalau keterlambatan itu menandakan seseorang gak displin, dan orang yang gak disiplin paling enak buat dihukum. Biasanya orang yang telat bakal punya alasan biar gak kena hukum.
Alasan orang datang terlambat ke sekolah menurut pengamatan gue:

1. Macet
Alasan yang paling sering dikatakan saat ditanya 'Kenapa telat' adalah macet. Saat itu juga, kita menyalahkan macet dan gak mau introspeksi diri sendiri. Macet itu kondisi yang gak bisa ditolak, tapi bisa diminimalisir. Gimana cara minimalisirnya? Dengan bangun lebih pagi. Eittsss, bangun pagi aja gak cukup, tapi harus berangkat lebih pagi. Walaupun udah bangun jam 4 pagi, kalau diabisin main PS selama 3 jam juga pasti bakal telat. Gitu loh analisis yang gue dapatkan setelah gue telat sekali karena macet.

2. Kesiangan

Ada lagi yang beralasan kesiangan. Gue membuat sebuah hipotesa sederhana, bahwa semakin banyak orang yang telat dengan alasan kesiangan, semakin ramai timeline socmed di malam harinya dan semakin perih hatinya karena sang mantan punya pacar baru. Orang yang punya alasan kesiangan biasanya adalah stalker tingkat dewa. Gue salah satunya.

3. Ada hajatan
Ya..., ini adalah alasan mengada-ada. Mana ada hajatan yang diadain pagi dan di hari sekolah. Orang juga belum gajian, keless. Pengantinnya mau nuntut ilmu dulu, baru deh nuntut kenikmatan. Kenikmatan dari ilmu yang didapat maksudnya.

4. Ban meledak
Ini alasan yang paling bikin prihatin. Tapi ada aja yang pakai alasan ini buat bertindak curang.  Misalnya, ada anak sekolah datang telat. Terus dia beralasan bannya meledak. Padahal jalan kaki. Nah, orang kayak gini yang calon orang jahat. Disumpahin kakinya meledak baru tau rasa lo.

5. Nyasar
Hanya orang bego yang memakai alasan nyasar saat terlambat. Dan lebih begonya lagi saat satpam percaya kalau lu baru aja nyasar. Makanya kalau sekolah jangan di dalam usus 12 jari. Kan repot belok-belok plus jauh jaraknya.

6. Sekolahnya jauh
Kalau nyari sekolah kira-kira yang deket, lah. Lu tinggal di Jakarta, tapi sekolah di Kutoarjo. Ya...., sebaiknya pindah deh. 

Gue inget ada sebuah kalimat yang sering gue liat di sebuah papan mengenai keterlambatan. Mungkin semua orang tau apa isi dari kalimat tersebut.  Papan itu bertulis 'Yang buang sampah disini anjing.' 

Gak nyambung, ya? Nah ini, akibat dari terlambat imunisasi saat kecil. Jangan terlambat, ya, bu, dalam mengimunisasi anaknya. (Asik, pesan moral pelayanan masyarakat).

Kalimat yang sebenarnya adalah 'Saya malu datang terlambat.'. Mungkin sederhana, tapi gue sangat sependapat dengan pembuat kata-kata itu karena pengalaman masa lalu gue yang terlambat imunisasi yang pernah telat. Jadi orang yang telatan itu gak enak deh.

Selama gue SD, peraturan tentang keterlambatan gak begitu terasa efeknya. Di SD gue, kalau misalnya telat paling cuma berurusan dengan pertanyaan ringan dari satpam. Masuk di SMP, peraturan mulai berjalan, tapi masih sedikit renggang. Dan di SMA, baru lah sanksi diberlakukan saat datang telat. Begonya gue, kenapa pas di SMA gue malah sering telat?

Biasanya ketakutan yang sering terjadi pada pelajar terhadap keterlambatan adalah mereka takut kena poin/sanksi dari sekolah. Atau lebih parahnya lagi sampai orangtua dipanggil. Lebih ngerinya lagi, didrop-out karena nyimeng depan kepala sekolah. Wah, gawat deh!

Oh iya, setelah gue pertimbangkan, kayaknya tulisan rutin ini lebih baik dipindah harinya. Hantunya Pelajar bakal pindah jam tayang menjadi hari Sabtu malam. Itung-itung buat hiburan para jomblo yang meratapi sadisnya malam minggu bwehehehehe. (Gak nyadar kalau gue sendiri jomlo hiksss)

23 April 2015

Kalau kata orangtua yang sering ngelawak, orang pintar itu dibilang dukun. Joke yang sering gue denger dan juga sering bikin gue.. gimana ya..?? Mau ketawa, tapi gak lucu. Kalau gak ketawa, gak enak juga. Yaudah, senyum-senyum sepet aja. Terus juga, katanya kalau mau pintar minum Tolak Angin. Padahal ada kucing di rumah gue minum Tolak Angin gak pintar tuh. Buktinya, si kucing gak bisa jawab soal Trigonometri yang gue kasih.

Kali ini gue bukan mau ngebahas dukun (yang katanya orang pintar) atau juga kucing yang minum Tolak Angin, tapi ngmongin soal temen-temen gue yang pintar di bidang yang mereka kuasai. Gue sering iri sama temen-temen gue yang jauh lebih pintar daripada gue. Mereka lebih sering dicari orang buat bantuin bikin tugas atau PR. Gue beri ilustrasinya:

Temen gue, sebut saja Oky namanya, adalah seorang anak yang pinter di pelajaran bahasa Inggris. Tiap pelajaran bahasa Inggris, temen-temen gue yang lain langsung minta duduk deket dia sebelum pelajaran mulai. Gua penasaran. Setelah gua tanya temen gua yang minta duduk deket Oky, mereka  bilang, 'Duduk deket Oky itu enak. Kalo mau nanya bahasa Inggris gampang'. Yang deketin gak main-main, cewek juga ikut ngedeketin. Oky bak kamus hidup yang bisa bernafas.
Bener kata orangtua jaman dulu. 'Hidup gak usak mikirin tampang. Yang penting pinter sama banyak duit'. Kalo pelajaran bahasa Inggris selesai, mereka (yang menikmati jasa Oky) gak bakal duduk deket Oky lagi. Begitu ya manusia jaman sekarang, datang kalau ada butuhnya.

Lain lagi dengan temen gua yang lain, Owi namanya. Mirip dengan Oky, tapi pelajaran yang dikuasainya adalah Matematika, yang katanya pelajaran paling ditakuti dan dijauhi. Makanya Owi selalu dibanjiri pertanyaan yang sering jadi kesulitan temen-temen. 

Lain dari temen-temen gua sebelumnya, gua juga termasuk orang pinter. Tapi, gue termasuk orang yang pinter, tap pinter bohong. Bukannya dideketin, malah dijauhin. Jelas gue gak punya banyak temen kalau gini caranya.

Banyak enaknya jadi orang pintar yang bisa gue liat dari temen-temen gue. Contohnya, dicari banyak orang, jadi dikenal guru, dan satu lagi, bisa dengan mudah dapet jajan gratis. Gue dulu pernah ngalamin namanya jajan gratis hasil kerja gue sendiri. Jadi, waktu gue kelas 3 SD, gue punya temen, sebut saja Said. Said adalah seorang anak lelaki yang superrr males (r-nya sampai tiga). Kalo ada tugas, gak pernah ngerjain.

Pernah suatu ketika, di jam istirahat, gue nawarin buat ngerjain tugasnya. Kebetulan, tugas yang mau gue kerjakan adalah tugas matematika yang notabene pelajaran yang cukup gue kuasai saat kelas 3 SD.

'Eh, lu mau nggak tugas lu biar gua yang kerjain' gue mencoba menawarkan jasa ke Said
'Ehhh, boleh tuh. Kebetulan susah nih tugasnya' kata Said sambil nyedot es yang dia bawa dari kantin
'Oke sip. Tapi....' belum sempat meneruskan perkataan, Said langsung memotong pembicaraan
'Masalah duit itu gampang. Lu mau berapa duit?
'AHA! Ini dia yang gua tunggu-tunggu' kata gua dalam hati. 'ehhhh... berapa aja sih gua terima. Gue kan cuma mau niat bantu doang' Padahal dalam hati, 'HAHAHA, enak banget nih anak dibohongin'
'Oke, gini aja. Semua soal kan ada enam, gimana kalau satu soal, gua kasih 1000. Gimana, mau gak?

Gue berpikir dan sedikit menggaruk kepala sambil memikirkan untung ruginya.  Setelah selesai menimbang-nimbang keuntungan dan kerugiannya, gue sepakat buat terima tawaran Said.

'Oke, satu soal dihargai 1000' kata gue yang setuju sambil menjabat tangan Said
'SETUJU. Nanti kalau ada yang susah lagi, gua kasih bonus. Senang berbisnis dengan Anda' 
 
Dengan ini, gue resmi membohongi teman sendiri. Yes!

Ternyata, Said gak langsung membayar 6000 itu secara lunas. Dicicil dulu sampai dua minggu, itupun belum lunas. Sampai suatu hari, gue main ps di daerah rumah Said dengan harapan bertemu Said dan mau melunasi hutang. Saat waktu sewa ps gue abis, datang seorang anak laki-laki dengan kaos berwarna hijau dengan celana boxer yang mukanya familiar. YA, itu Said. Pucuk dicinta, mesin ATM pun tiba, eh Said pun tiba maksudnya. Bisa dibilang, dia adalah mesin ATM pribadi gue saat itu.

Said yang saat itu belum bayar 3000 ke gue, langsung pasang muka polos saat ketemu gue. Entah dia bener-bener polos atau muka aslinya gitu, yang jelas dia ngeselin. Ngeselin karena LAMA BANGET BAYAR UTANGNYA, nyet!

'Woi, mau kemana lu' kata gua yang bertemu Said di rental ps
'Main ps  lah. Masa mau pacuan kuda' jawab dia

Gue sebenernya gak enak juga buat minta hutang ke Said. Tapi gue coba kasih kode ke Said dengan 'lihat isi kantong'.

'Lu kenapa liatin kantong terus' kata Said sambil menekan tombol on PS2
'Duit gue abis nih. Oh iya, kayaknya lu punya hutang deh sama gue. Inget gak?
'Oh itu. Yang 4000 kan?
'Ah, iya mngkin' kata gue heran
'Nih duitnya. Kalau gua butuh lagi, lu jangan nolak ya'

Gue yang masih keheranan dengan uang 4000 tadi, langsung aja nerima tanpa nolak. Dengan ini, gue resmi keheranan dan dapat rejeki lebih.

Tanpa pikir panjang mau mengahabiskan untuk apa uang bonus ini, gua langsung lanjut main PS lagi (entah kenapa gue lebih suka menyebut dengan uang bonus). Tanpa sadar, jam menunjukkan jam 3 sore, itu artinya gue telat pulang 2 jam dari yang gua janijkan ke orangtua. Yang gue ingat, 2 jam itu adalah waktu gue main PS setelah menerima uang haram dari Said tadi. Jelas deh, gue bakal dimarahin orangtua karena telat pulang.

Seperti yang sudah diramalkan, gue diomelin orangtua gara-gara gak sempet shoalt dzuhur, gak makan, dan main PS terlalu lama. Gue nyesel terlalu cepat menghabiskan uang haram itu. Harusnya bisa gue simpan buat besok main PS lagi. Huffftt, penyesalan tiada berakhir.

Pesan moral dari tulisan ini adalah jangan memanfaatkan kelebihan untuk hal yang tidak baik, jangan menipu, berperilakulah jujur, dan jangan pamrih dalam membantu orang lain.

Tumben-tumbenan gue bikin tulisan yang ada pesan moralnya gini, biasanya gak ada. Namanya juga hidup, terlalu singkat kalau hanya diisi dengan main PS.

21 April 2015

Selamat malam para pejuang masa kini dan nanti. Yang masih menanti tambatan hati kapan datang menghampiri. Aku masih disini menunggumu dalam sepi, sambil menyantap segelas pop mie dan minum teh sisri. Yeaah, kamu masih jadi orang yang kunanti, wahai tukang pandai besi.
Selamat memperingati Hari kelahiran R.A Kartini. Semangat emansipasi terus tertancap dalam hati untuk para pemuda-pemudi.

Ceritanya biar keren gitu belakangnya I semua.

Gue memulai sebuah paragraf dengan kalimat-kalimat yang cukup membingungkan. Oke, sekarang gak usah bingung lagi kenapa ada banyak layangan nyangkut di tiang listrik. Gue juga bingung. Pokoknya hari ini kita memperingati hari lahir pahlawan wanita Indonesia, R.A Kartini.

Uhmm.. gue bingung mau mulai dari mana. Oh iya, sekarang adalah hari Selasa. Pasti tau kan apa yang ada di hari Selasa di blog gue. Dan untuk mengingatkan para pembaca, tulisan rutin ini udah masuk minggu kesebelas dan bakal jadi tulisan yang kesepuluh dalam blog gue. Tepuk tangan boleh. Tapi jangan tepuk layar handphone/PC. Bahaya bisa rusak.

Kali ini, gue akan membahas tentang hantunya sebagian pelajar, yaitu nilai buruk. Kenapa gue bilang sebagian? Karena ada sebagian lain yang menganggap nilai bukanlah segalanya dan tidak berpengaruh pada prestasi. Bagi gue, nilai sangatlah berpengaruh pada seberapa suksesnya seorang pelajar dalam kegiatan belajarnya. Mungkin untuk menilai seberapa suksesnya, gak cuma dilihat dari 1-2 nilai ulangannya, tapi nilai rapornya. Asik, gue udah kayak orang yang paling ngerti psikologis pelajar. Namanya juga opini, mas. Bisa bener, bisa juga kurang tepat.

Kalau pelajar udah dapat nilai jelek, gue bisa menyimpulkan ada beberapa faktor yang menyebabkan pelajar dapat nilai buruk.

1. Gak beruntung
Namanya juga manusia, gak selamanya dia untung terus. Kan pepatah pernah bilang Hidup selalu berputar bagai roda. Kadang harus nginjek paku, tai kucing, ngelewatin kubangan, atau dibakar para demonstran. Tinggal kitanya aja kuat atau gak dalam bertahan menghadapi perputaran
Begitu juga dalam nilai, kadang gak selalu pelajar dapat nilai 100. Bisa jadi minggu depannya dia dapat 100 juga dan minggu depannya dia dapat nilai 80 dengan intensitas belajar yang sama. Ini keputusan takdir.

2. Gak belajar
Kalau dapat nilai jelek karena gak belajar, ini bukan takdir, tapi nasib. Kalau nasib kan bisa diubah, dengan cara... tukar nasib. Eh salah, maksudnya berusaha. Usahanya dengan belajar dan diakhiri dengan doa. Bertawakal.
Bukan berarti namanya usaha, terus bisa seenaknya nyewa joki ujian dan dapat nilai bagus. Itu gak fair, guys

3. Gak nyambung
Usaha dan berdoa plus keberuntungan itu perlu, tapi jangan jadi orang sok rajin juga. Misalnya, gue mau ulangan matematika. Udah belajar sampe tengah malem, ternyata nilainya tetep gak bagus. Setelah diselidiki, gue belajar soal olimpiade matematika tingkat Kabupaten. Kan dodol.

Yang membuat pelajar takut dengan nilai buruk adalah mereka bakal merasa tekanan besar. Bukan pada guru, melainkan dengan orangtua mereka. Gue yakin masih ada beberapa keluarga yang berpedoman pada prinsip Kalau gak dapat nilai bagus, kena hantam. Masih ada lho walaupun ini cara jaman kolonial. Eh, gue gak tau juga deh. Gue belum pernah denger kalau Daendels digebukin mamanya karena nilai Fisikanya jeblok.

Harusnya, orangtua macam ini makin berkurang. Mereka harus tau bagaimana kondisi anaknya yang bisa jadi stres duluan di sekolah. Belum lagi kalau dibully teman sekelasnya, lalu kena hantam di rumahnya. Kan kasian. Tolonglah pak, bu, kasian anaknya.

Tapi gue gak bilang semua keluarga begitu. Kalaupun ada, di keluarga itu ada orang yang sangat bijak dan punya jiwa yang putih, seputih So Klin pemutih. Biasanya ibu yang begitu dan itulah ibu yang jadi idaman. Kalau anak kena omel bapaknya karena nilai jelek, sang ibu bakal meredakan emosi dalam keluarga. Misalnya ada peristiwa gini:

'Kamu sih, beli permen sembarangan'
'Ini bukan permen sembarangan. Ini permen Milkiteh'

Oh sorry, salah adegan. Yang bener gini:

Malam hari saat perkumpulan keluarga, sang bapak sedang memegang kertas ulangan Termos (sebut saja untuk nama si anak).  Merasa kecewa atau apa, langsung si bapak marah besar. 
'Kamu ini, nilai gak pernah bagus. Kemarin ulangan Kimia dapet 80, sekarang turun jadi 78. Usahain dong dapat 90. Gimana sih? Kerjaannya baca buku terus, gak pernah main hape. Pokoknya besok semua buku papa sita!'

Lalu datang sang bidadari penyelamat (baca: ibu tercinta). Sang bidadari menghampiri si bapak dan meredakan emosinya.
'Pa, jangan gitulah. Anakmu ini udah usaha susah payah sampai tidur malam. Kadang belajar sampai pagi juga, malah sampai lupa sekolah. Nilai 78 kan masih gak terlalu buruk. Lagian ini juga yang pertama kalinya dia dapat nilai 78.' sang istri menjelaskan dan menambahkan, 'Oh iya, papa gak capek kan? Kita main yuk. Termos minta adik tuh'

'Wah, masa sih? OKE, kita main malam ini. Kita cari dispenser buat adik si termos yang baru. Ayo, tunggu apalagi. Kita ke toko elektronik'

Sihir Ibu tiada tara. Ngalahain mantranya Master Tarno.

Sekian tulisan gue yang mutunya tak sehangat air termos atau dispenser. Tapi yakinlah setelah membaca tulisan gue kali ini, kalau nilai buruk bukan akhir dari segalanya.

Salam hangat sehangat air termos.

18 April 2015

Buat pembaca tulisan gue yang ini, pasti kalian tau kenapa gue jarang nge-blog. Buat yang belum tau, hari Minggu kemarin gue pergi ke Bekasi untuk kekosan kakak gue. Gue udah janji kalau liburan tiga hari ujian nasional gue bakal kesana sendiri. Gue menganggap Jakarta-Bekasi itu deket, gak serem-serem amat lah. Gue ke Bekasi selama 2 hari dan pengalaman yang mau gue ceritakan di Bekasi.... gak ada. Gue cuma ngedekem main PS di rumah kakak gue dan sesekali ngerjain pr.  Kayak ada yang kebalik?

Perjalanan gue ke Bekasi dimulai setelah gue pulang les jam 11 dengan menggunkan TransJakarta. Jujur, ini adalah pengalaman gue yang pertama kali naik TransJakarta sendirian. Iya... sendirian. Bukan maksudnya gue mau pamer kejomloan, tapi gue emang belum pernah naik TransJakarta sendiri.

Gue naik TransJakarta dari halte Rawa Buaya. Mengenai Rawa Buaya, konon katanya disini pernah ada buaya. Tapi tenang, karena ini tidak membahayakan sebab buaya yang dimaksud adalah lidah buaya. Dan buaya adalah salah satu tipe ketawa ngakak. Buayahahaha. Oke, serius.

Di dalam TJ, terasa sesak penuh orang. Eh, TJ yang dimaksud itu bukan merk madu, tapi TransJakarta. Ini demi menghemat waktu pengetikan. Karena penuh, terpaksa gue berdiri karena gak kebagian tempat duduk. Ah ini terlalu ringan karena gue lelaki jantan dan beberapa hari sebelumnya gue digigit semut rangrang dan gue cuma nangis 20 menit. Cool abis

Gue harus transit dulu sebelum bisa ke halte Cawang UKI dan nantinya gue nyambung lagi dengan naik angkot untuk sampai ke Bekasi. Gue turun dan transit di halte Grogol. Dan satu kalimat dari ke-transitan gue ini: Gue takut nyasar. Gue takut tiba-tiba gue salah jurusan naik TJ jurusan ke Finlandia. Kan repot kalau nyasar gitu.
Gue takut nyasar bukan tanpa alasan. Karena di halte Grogol emang agak ribet buat lanjut ke Cawang UKI atau Pinang Ranti (kalo gak salah). Beruntung ada petunjuk jalannya, setidaknya masih ada satu lagi perasaan yang janggal: Gue takut

Gue berdiri melihat peta jalur TJ sambil sesekali menyeka keringat yang daritadi udah ngumpul saking takutnya buat ngelangkah. Celingak-celinguk gak karuan kayak copet ibukota. Gue beranikan diri buat masuk dan sebelum masuk gue tanya ke petugasnya. Jangan tanya apa yang gue katakan kepada petugasnya, gue kebelet pup.

Singkat cerita gue udah ada di TJ jurusan Pinang Ranti dan gue siap-siap turun di Cawang UKI. Gue minta arahan angkot apa yang harus gue naiki untuk sampai ke kosannya.

'Abis turun di Cawang UKI, naik M19, turun di Komplek BRI' 

Gue langsung cari angkot M19. Gue melihat ada angkot itu berjejer dan langsung gue bergegas ke warung buat beli M-150 BISA! Lho, bukan gini ceritanya.

Setelah gue di angkot, gue mulai khawatir kalau gue nyasar nantinya. Gue celingak-celinguk liat jalan, padahal angkotnya belum jalan. Setelah jalan 10 meter pertama, gue mencoba tenang dan rilex. 50 meter berikutnya ada kekhawatiran, keringat dingin bercucuran, supirnya belekan, tukang ojek pipis sembarangan. 100 meter berikutnya, gue teriak-teriak minta pulang. Ekstrim.

Saking paniknya gue selalu melihat jalan berharap di pinggir jalan ada kakak gue yang nunggu disana. Bentar-bentar gue cek handphone apakah ada sms dari kakak gue kalau sebentar lagi udah sampe tempat kosnya. Dan bener, ada sms dari kakak gue

Mas: Udah sampe mana, by?
Robby: Ini lagi di Kalimalang. Yang ada proyek jalan
Mas: Oh, bentar lagi sampe. Liat aja komplek BRI

Woooh, udah mau sampe dan gue makin panik. Gue makin awas ngeliatin jalan. Tiba-tiba, angkot ini berbelok arah dan gak lewat sepanjang jalan Kalimalang. Gue heran dan mencium sesuatu yang gak enak. Ternyata ada nenek-nenek kentut disebelah gue. Syit
Keheranan gue benar-benar pertanda buruk. Gue udah gak lewat Kalimalang lagi dan saat gue cek handphone ada sms dari kakak gue

Mas: 0856xxxxxxxx
By, bilang kiri. Mas ikutin dari belakang nih

Gue langsung ngeliat ke belakang angkot. Ada kakak gue yang ngikutin pake motornya. Waaah, gue nyaris nyasar dan hampir ke arah Stasiun kereta Kranji.
Gue langsung turun dan langsung ke kakak gue yang masih di motornya. Gue selamat di tangan kakak gue. Alhamdulillah.

Itulah petualangan gue yang pertama kalinya keluar sendiri. Bagi yang suka atau berkomentar, silakan berkomentar di kolom yang sudah disediakan. Inget, kalau mau komentar jangan di kolom pencarian. Nanti malah nyasar kemana-mana.
Oke, sampai jumpa di petualangan gue yang goblok selanjutnya!

17 April 2015

Gue gak bisa naik motor. Emang sih, gue cemen udah SMA gini kalah sama bocah SMP yang malem mingguan bonceng cewek keliling komplek. Atau setidaknya tiap Minggu pagi nganterin mamanya belanja ke pasar. Jujur, gue juga iri sama mereka yang bisa naik motor. Gue bukannya gak bisa, cuma gak lancar karena jarang latihan. Dulu gue pernah latihan motor dan gue sukses menyelesaikan satu putaran, walaupun akhirnya gue mau nabrak tembok. Gak masalah, gue gak trauma dan itu bikin gue ketagihan.

Selain karena jarang latihan, yang membuat gue gak bisa ngendarai motor juga karena mama gue yang orangnya parnoan. Katanya lebih baik pakai sepeda buat pergi kemana-mana. Bener sih, mama gue menerapkan konsep go green, tapi gue yakin bukan itu alasannya. Yang gue yakini alasan sebenarnya adalah mama gue gak pengen kalau gue nanti ngendarai motor terus berakhir dengan mencelakakan orang lain. Mama gue gak mau kalau nasib gue seperti dia latihan motor dulu.
Mama gue juga pernah belajar motor. Semua lancar aja, sampai saat dia salah mencet rem malah nge-gas. Dia hampir nabrak pohon. Beruntung ada kakak gue, yang saat itu duduk di belakang mama gue, bisa menghindari kejadian naas itu. Buah jatuh gak jauh dari pohonnya. Sama-sama mau nabrak

Gue jadi ingat gimana perjuangan gue saat belum bisa naik sepeda. Gue udah punya sepeda saat gue kelas 1 SD. Karena pernah sekali jatuh, gue gak berani lagi buat belajar sepeda. Padahal gue jatuh saat sepeda masih roda empat. Dan akhirnya, gue baru bisa naik sepeda kelas 6 SD. Disini semua perjuangan dimulai.
 
----

Saat kelas 6, gue menyadari kalau UN sangatlah penting mengingat gue harus bisa dapet SMP negeri. Berbagai usaha gue lakukan. Mulai dari rajin ikut pendalaman materi, latihan soal, dan banyak menghapal. Untung aja gue gak sampai melakukan hal-hal musyrik layaknya abege labil demi lulus SD.

Berbagai usaha lakukan, namun terasa belum maksimal. Hal itu ditandai dengan nilai rapor gue yang kacau di semester satu. Gue rasa belajar gue kurang full dan gue memutuskan ikut les tambahan. Dan masalah kembali muncul: Gue berangkat les naik apa?

Di jam-jam istirahat, gue dan temen gue yang juga mau ikut les, Juang, berbincang mengenai rencana kita.

'Lu juga mau les, by?' kata Juang sambil makan mie
'Iya, gue sih maunya gitu. Tapi gue bingung nanti gue les naik apa.' jawab gue dengan nada pesimis
'Tenang, kan ada gue, Nanti kita bisa boncengan bareng naik sepeda gue ke tempat les'
Dengan nada semangat gue jawab 'Oke, nanti pulang sekolah kita langsung mulai les'
'Gak langsung nanti juga kali, by'

Sampai akhirnya gue udah mulai les tiap sore. Gue ngeliat temen-temen di tempat les, yang mayoritas temen sekelas di sekolah, naik sepeda berangkat les dan gue merasa ngiri dan minder karena gue sendiri yang gak bisa naik sepeda. Ada satu lagi yang membuat gue minder berangkat les: Orang yang gue suka satu tempat les sama gue! Tengsin abis gue ketauan gak bisa naik sepeda.

Mama gue dari dulu gue kelas 3 orangnya kepengen banget kalau gue bisa naik sepeda. Hampir kata-kata ini gue dengar tiap minggunya: Masa kalah sama anak belum sekolah. Dia aja udah bisa naik sepeda lepas tangan, masa kamu sama sekali gak berani naik sepeda. Dan gue cuma bisa jawab 'Itu lagi yang dibahas. Bosen, ma'

Dan setelah gue kelas 6, baru deh terasa kalau gak bisa naik sepeda memang menyakitkan. Gue diejek temen sepergaulan (bocah-bocah SD yang biasa nongkrong di tukang mainan). Dan gue bertekad buat bisa naik sepeda demi gak keliatan cemen di depan siapapun, termasuk gebetan.

---

Gue belajar dengan sepeda yang dulu dibelikan saat gue kelas 1 SD. Iya, saking lamanya gak dipake sepeda ini berubah warna cat dengan sendirinya. Warna karat. Gue belajar tiap pulang sekolah. Jatuh, lutut luka, diketawain tetangga itu udah jadi makanan sehari-hari. Ingat, perjuangan harus ditempuh. Apapun respon orang yang kita terima nantinya, terimalah. Ada jalan yang beriringan dengan niat baik. Yoshh!

Sampai satu minggu gue tekun belajar sepeda, akhirnya gue bisa naik sepeda. Dua hari kemudian, gue langsung dibelikan sepeda buat berangkat les. Woow.. akhirnya gue bisa membuktikan kalau gue bisa naik sepeda. Hai orang yang mencibir gue saat itu, gue udah bisa naik sepeda lepas tangan, nih!

Urusan gue minder dengan gebetan, itu udah selesai. Gue sama sekali gak minder lagi. Walaupun gue masih minder karena gue masih juga belum ganteng.
Yang terpenting, gue belajar sepeda bukan karena pengen keliatan gak minder lagi di depan gebetan, tapi lebih penting dari itu adalah gue gak perlu berangkat les numpang temen lagi. Dan, kini gue siap buat bisa naik motor

14 April 2015

Sore ini, aku iseng buka kotak masuk, sambil berharap ada satu pesan dari seseorang yang biasanya memberikan senyuman sepanjang hari. Tidak lama selesai aku berharap, tiba-tiba ponselku keluar pemberitahuan ada seseorang mengirim pesan. Dan pengirimnya: Kamu

'Aku mau ngomong'

Aku deg-degan untuk menanti apa yang ingin kamu bicarakan. Aku menebak-nebak kalau kamu ingin mengatakan: 'Aku punya berita bagus nih. Aku dapat nilai ulangan 90', ' Kamu tau gak? Ternyata aku terpilih jadi pengurus OSIS yang baru di sekolahku' atau 'Aku seneng banget semalem tim sepakbola favoritku menang'.

Dengan rasa penasaran yang tinggi, aku buka kotak masuk

'Aku mau hubungan kita selesai sampai disini'

Berharap kamu mau memberi sesuatu yang menyenangkan, malah sesuatu yang gak mengenakkan. Ternyata kotak masuk berisi kabar yang membuat hati ini tertusuk.

Seketika tak percaya, aku bertanya-tanya. Apa ini cuma mimpi? Apa ini cuma imajinasi? Ternyata, ini benar terjadi.

Pergi, tanpa peduli rasa sakit ini

Aku bingung harus apa. Karena aku seorang pecandu kopi, aku menyeduh kopi hitam. Setidaknya aku bisa merasakan kalau ada yang lebih pahit dari kata perpisahan dari orang tersayang. Selesai membuat kopi, aku termenung menatap gelas berisi kopi hitam ini karena kopi ini terlalu panas dan sambil sesekali melihat kenyataan yang pahit dan kelam bagai air kopi ini. Kopi panas memang bisa membuat bibir melepuh, tapi patah hati bisa membuat segalanya runtuh.

Termenung lama akhirnya aku minum kopiku sampai habis tanpa sisa agar aku terlatih dan terbiasa menghadapi segalanya yang pahit dengan senyuman. Setelah habis aku baru menyadari kalau kopiku tak terasa pahit, melainkan asin. Bukan karena aku meneteskan air mata di kopiku, tapi aku tak sengaja memasukan garam di kopiku. Aku buta karena cinta.

Selesai menikmati kopi, aku meghibur diri dengan bernyanyi salah satu lagu dari H. Rhoma Irama

'Pertemuan yang kuimpikan, ternyata cuma khayalan'

Liriknya terdengar seperti itu. Persis apa yang tengah aku rasakan. Padahal liriknya bukan seperti itu. Bukan liriknya yang salah, aku yang salah tak bisa melupakan dirinya. Begitu kata kamu.

Bukan maksudku begitu. Tapi itu hanya salah paham. Mungkin kamu terbawa emosi. Menganggapku belum bisa lepas dari kenangannya. Padahal aku sudah lupakan kenangannya berkat seseorang, yaitu kamu.

Mengapa kamu pergi? Mengapa ini terlalu cepat terjadi?

Hei, jawab aku. Apanya dari kita yang salah. Apanya yang terlihat berbeda. Bisakah kita perbaiki bersama. Tapi sepertinya sulit karena kau tak kuasa.

Aku bingung. Aku lemah. Aku belum siap kalau kamu pergi meninggalkan aku yang tengah naik bersama khayalan tingkat tinggi. Karena terlalu tinggi, jadinya terasa sakit saat dijatuhkan. Sama sakitnya dengan kalimat perpisahan yang kau lontarkan. 'Aku mau kita selesai sampai disini'.

Ini sudah terjadi dan kau pun sudah bulat untuk pergi. Aku harap kamu masih punya rasa kasihan kepada aku yang terlanjur mencintaimu.
Jika itu tidak mem  aku juga harus pergi. Meninggalkan orang yang selama ini aku anggap sebagai 'teman hati'. Entah berapa lama aku bisa pergi darimu. Seminggu? Sebulan? Setahun? Sampai ajal datang? Entahlah

Sekarang kau bebas mau pergi kemanapun. Tapi percayalah padaku, kembalilah kesini saat kamu butuh aku menjadi teman hatimu.

Pergilah dan kembalilah. Aku disini masih berharap kamu mau putar haluan.

Untuk orang yang pergi.
Gue mau sedikit bercerita di awal tulisan ini. Gue sekarang sedang menikmati masa libur hampir seminggu mulai dari hari Kamis. Ya, walaupun guru-guru lebih suka menyebut ini dengan istilah belajar di rumah. Gue libur bukan karena sekolah gue kenajiran, tapi karena kelas 12 sedang menjalani rintangan terakhirnya di masa putih abu-abu (baca: Ujian Nasional).

Tapi liburan terasa hambar kalau gak ada hiburan yang bisa merefresh otak. Gue gak tau harus ngapain buat refreshing otak gue yang terlalu jenuh. Akhirnya, hari Minggu kemarin gue pergi ke tempat yang cukup keren dikalangan warganya. Gue pergi ke Bekasi. Yoi, kota yang sempat dibully beberapa waktu lalu. Gue ke Bekasi bukan tanpa tujuan. Masa iya gue ke Bekasi cuma buat berenang di Kalimalang. Gue ke Bekasi dalam rangka menepati janji gue yang mau berkunjung ke tempat tinggal kakak gue. Udah lama dia nyuruh gue ke kosannya. Lumayanlah, gue bisa main PS disana karena PS gue ada dikosannya.

Gue liburan gak libur begitu aja. Pr tetep jalan, tetep ada dan nyiksa. Di kosan kakak gue, gue tetep ngerjain pr. Biar dikira rajin gitu.
Libur kali ini gue dikasih pr ngerangkum pelajaran biologi. Kalau ngerangkum biologi udah jadi rutinitas tiap minggunya, tapi paling cuma setengah bab. Sekarang ngerangkum satu bab lebih. Oke, ini gak terlalu banyak.

Berkaitan dengan pr merangkum, gue jadi punya sedikit pandangan tentang pr merangkum. Walaupun, kadang pandangan gue ini agak ngawur karena sering kelilipan sewaktu naik sepeda.
 
Buat gue, pr merangkum adalah pr yang paling mudah dari jenis pr manapun. Tinggal liat buku, baca sedikit, ambil inti pokok bahasan, tulis deh. Simple.
Tapi itu gak semudah yang gue harapkan. Ada aja hambatan buat ngerjain pr rangkuman. Mulai dari ngeremehin, males-malesan, sampe harus peregangan tangan karena terlalu lama nulis.

Kenapa gue bilang paling mudah? Karena gak terlalu banyak pikiran yang dibutuhkan. Dari situ gue selalu berharap kalau selalu dikasih pr merangkum, asal nilai rapor gue tinggi semua.

Nah, mengenai nilai, gue menemukan kasus yang entah itu gue dengar atau alami sendiri, bahwa fakta di lapangan rumput yang hijau menyatakan kalau nilai yang diperoleh dari nilai merangkum cuma dipengaruhi oleh dua hal, tulisan bagus dan warna pulpen yang dipakai. Semakin bagus tulisan dan semakin bervariasi warna pulpennya, semakin bagus nilai yang didapat.
Tapi ada beberapa guru yang ngasih nilainya gak niat. Mereka cuma memparaf di atas rangkuman kita. Itu yang membuat temen-temen gue males ngerjain pr rangkuman dan dilema besar dalam hidupnya. Ya, abisnya udah nulis capek-capek cuma diparaf doang, gak ditulis nilainya.

Akhir-akhir ini gue iseng baca buku Koala Kumal karena terlalu males buat baca buku pelajaran (Jangan tiru ini). Di buku itu, ada sebuah kalimat yang bilang kalau pr orang yang merasakan patah hati bisa membuat cara memandang cinta menjadi berubah. Kurang lebih seperti itu.
Karena kalimat itu, gue juga menganggap bahwa pr merangkum membuat cara orang memandang pr menjadi berubah.  Yang tadinya selalu semangat kalau ada pr, giliran dikasih pr merangkum malah males ngerjain.

Intinya, pr merangkum bukan suatu hal yang menakutkan. Sebenernya, merangkum adalah cara termudah mendapat nilai, walau di buku kita cuma dikasih paraf. Gitu aja sebenernya, dan positif thinking aja. Walau tangan harus pegel, pulpen harus abis, jemuran belum diangkat kita harus tetep hargai apapun yang guru tugaskan kepada kita.
Sebenernya ini cuma motivasi gagal. Gue yang ngomong gini aja gak bisa motivasi diri gue sendiri. Namanya juga hidup, gak semudah nyalin buku saat merangkum.

09 April 2015

Banyak orang yang terlalu memasang standar tinggi dalam memilih pasangan. Mereka ingin pasangannya kelak terlihat sempurna. Bahkan, nggak sedikit orang yang begitu. Bagi cewek, ada yang menginginkan pasangannya memiliki wajah setampan Justin Bieber, Iqbal CJR, atau maling sendal di masjid. Sedangkan cowok, mereka mau pasangannya nanti punya wajah seperti Raisa, Nabilah JKT48, atau istri dari maling sendal di masjid tadi.

Cantik Cantik Ngemis
Mungkin ada yang menganggap remeh pengemis. Tapi kalau dipikir-pikir, pengemis itu bisa dijadikan idaman dalam memilih pasangan lhoo. Buat yang bingung, bisa baca penjelasan selanjutnya dibawah ini:

Pengemis itu sering mendoakan
Jangan dikira pengemis cuma bisa minta-minta dengan memasang tampang iba, pengemis juga sering mendoakan. Kebayang dong kalau punya pacar pengemis, gimana rasanya didoain terus. Misalnya kejadian seperti ini:

-Masa-masa PDKT-
Misalnya saat cowok dalam masa pdkt dengan cewek (pengemis).
Cowok: "Hei, apa kabar?" *kasih uang dua ribu*
Cewek: "Baik. Wah terimakasih. Semoga dapat jodoh yang diinginkan"

-Mulai pacaran-
Cowok: "Hei, apa kabar?" *kasih uang dua ribu*
Cewek: "Baik dong sayang. Makasih sayang. Semoga dapat jodoh yang diinginkan"

-Pacaran satu tahun-
Cowok: "Hei, apa kabar? *kasih uang dua ribu*
Cewek: "Yakin nih cuma ngasih dua ribu? PS3 aja sekarang udah 4ribu sejam, masa kamu cuma ngasih aku dua ribu?" -_-

Walaupun tukang minta-minta, pengemis nggak pernah minta tambah

Seperti yang disinggung diatas, walau pengemis kerjanya minta-minta, tapi fakta dilapangan membuktikan kalau pengemis nggak pernah minta tambah. Ini cocok bagi cowok yang tidak terlalu punya banyak modal untuk pacaran. Kalian nggak akan menemukan bantahan dari cewek kalian seperti ini:

Cewek: "Sayang, kamu tau kan kalau peralatan ngemis aku udah lama dan rusak. Mangkok aku udah bolong. Plastik bekas permen aku juga udah gak layak pakai lagi. Kamu mau nggak beliin aku tempat nadah uang yang baru"
Cowok: "Iya, nanti kalau aku beli permen, aku kasih tempatnya ke kamu deh"
Cewek: "Wah, makasih sayang. Semoga dapat jodoh yang diinginkan. Eh tapi, kemarin aku lihat temen aku punya tempat nadah uang yang bagus. Tempatnya itu ada motif bunganya. AKU MAU KAMU BELIIN ITU JUGA"
Cowok: "............"

Pengemis nggak pernah ngajak malam mingguan
Pernah ketemu pengemis beraksi malam minggu? Walaupun  ada, gak terlalu banyak jumlahnya karena malam minggu biasanya ada penertiban dari satpol pp. Nah itu cukup memberi kesehatan bagi kantong cowok-cowok karena gak ada uang keluar di malam minggu.

Cowok: Sayang, aku abis gajian nih. Malam mingguan yuk?
Cewek: Aduh, gak bisa nih. Kalau kamu sayang sama aku, kamu jangan ajak aku malam mingguan.
Cowok: Loh kok gitu. Emangnya kenapa?
Cewek: Kamu tau kan kalau malam minggu suka ada razia, nanti kalau aku ketangkep terus diamanin, aku pisah sama kamu. Aku gak kuat LDR :'(
Cowok: *yeessss. duit gue aman. CIHUYYYYY!!!*


Pengemis bukan orang yang genit
Semua pasti setuju kalau pengemis bukan orang yang genit. Orang yang gak genit adalah idaman para pasangan. Coba bayangin gimana kalau pengemis genit? Makin parah statusnya di masyarakat. Kalian gak pernah kan nemuin pengemis yang kayak gini kisahnya:

Pengemis: Minta sedekahnya, pak
Om-om: Nih *kasih dua puluh ribu*
Pengemis: Iiiih makasih banyak, om. Om ganteng deh.

5 menit kemudian, pengemis masih tetep di depan om-om

Om-om: Kan udah dikasih uang, kenapa gak pergi? Huuushhh sana pergi
Pengemis: Gak mau. Maunya disini aja
Om-om: Mau apa lagi?
Pengemis:  SUN KENING *muka manja*
Om-om: ............*telepon satpol pp*

Mungkin sekian info sesat dari gue. Bisa diterpakan, tapi sebaiknya jangan. Bagaimanapun, pengemis juga manusia yang layak kita hargai. Jangan pandang sebelah mata penemis. Karena kalau kalian memandang dengan sebelah mata, pasti sering nabrak.

Jangan milih jadi pengemis kalau masih punya tenaga dan otak yang sehat.


07 April 2015


Hari Selasa. Itu artinya tulisan rutin yang sama sekali gak bermanfaat terbit. Isinya berupa cerita ketakutan seorang pelajar yang penakut. Namanya juga penakut, wajar lah. Tanpa berpanjang lebar, mari kita sambut tulisan yang gak ada faedahnya.. ini diaaa... Hantunya Pelajar. *lempar bom molotov*

Malam ini tulisannya emang agak telat. Kalau biasanya jam 20.00, udah terbit sekarang telat.......... menit. Mungkin ini kelalaian gue yang jarang nemu ide buat nulis ini. Ini murni kesalahan gue. Oke, mulai sekarang gue gak bisa menjanjikan kemenangan kalau tulisan rutin tiap Selasa ini bakal terbit setiap jam 8 malem. Intinya, tiap Selasa gue usahakan ada satu tema yang diangkat dan patut diperbincangkan. Dikupas setajaaaam.... SUTET.

Mungkin konsistensi gue dalam nge-blog agak mengendur karena pr yang membuat gue terkena penyakit 'Writter Block', semacam kebuntuan dalam menulis. Gue akui, gue susah mendapat topik yang mau gue bahas di setiap tulisan gue. Dan akhirnya, kegiatan gue yang kadang memuakkan ini bisa dijadikan membuat tulisan. Terimakasih PR! Alapyiuuu~

True story, beberapa minggu yang lalu gue hampir muntah karena terlalu lama memandang layar laptop buat ngerjain pr. Gak biasanya gue begini. Biasanya kalau udah ngeblog sampe 3 jam masih fine aja, tapi tumben-tumbenan bisa begini jadinya. Pr membuat pecah konsentrasi dan linglung.

Ke-linglung-an gue semakin parah semenjak masuk SMA. Gue sering lupa segala hal dan jarang fokus. Gak fokus karena terkadang saat gue asik ngerjain sesuatu, tiba-tiba inget pr dan harus dikumpul BESOK dan jam udah menunjukkan pukul 21.00. Itu membuat gue shock dan harus menunda waktu tidur lebih malam lagi. Akhirnya, gue tidur jam 12. Ok, no problem.

Semua orang hampir pernah lupa pr. Entah disengaja, maupun gak disengaja. Yang sengaja lupa, kayak gue, biasanya ngerjain pr di sekolah biar dapet contekan dan nyalin buku temen. Dan yang gak sengaja lupa, dia gak sengaja lupa buat bilang lupa. Gini maksdunya:

'Bro, lu udah ngerjain pr belum?'
'Pr ya? Oh iya, gue udah dong'
'Gue pinjem dong'

Dia ambil buku. Pas dibuka, ternyata kosong gak ada pr yang tertulis disitu.

'Oh iya, gue lupa. Kalau gue belum'

Itu tergantung bagaimana kalian pribadi mengartikannya. Sesuai selera.

Orang-orang yang ngerjain pr di sekolah itu cuma bisa berharap dua kemungkinan, apalagi saat pr-nya belum selesai. Kemungkinannya adalah; Pertama, sang guru gak masuk. Kedua, ada rapat mendadak. Lebih parah lagi, sekolahnya ditutup karena bangkrut. Harapan siswa yang gak bisa diharapkan bangsa.

Sama seperti saat gue kelas 8 SMP, dimana masa-masa suram dalam sejarah gue sekolah. Waktu itu, pelajaran matematika dan yang gurunya adalah guru killer satu sekolah. Gue inget banget kata dia saat pertama kali masuk kelas 'Kalau gak ngumpulin pr, bakal ada hal buruk terjadi'. Wah, mengingat kata-kata itu gue udah panik duluan. Gue sama sekali gak inget kalau ada pr dan gue makin panik ditambah merinding. Saat pelajaran matematika dimulai, ada kabar bahwa gurunya gak masuk. Waaaah, seneng rasanya. Gak ada hal buruk yang terjadi pada gue dan sekolah gue gak bangkrut karena harapan buruk gue gak dikabulin Tuhan.

Dan di kelas 9, banyak temen-temen gue yang sering juga lupa pr. Entah karena mereka peduli nilai atau gimana, banyak diantara mereka, termasuk gue, pacaran sama temen sekelas. Jangan salah, dengan siasat ini, angka siswa yang ngerjain pr di kelas sedikit menurun dibanding sebelumnya. Terbukti dong kalau pacaran gak selamanya buruk. Bisa juga digunakan sebagai alarm pengingat pr. Jika dirasa kurang puas dengan cara ini, pacarilah guru-guru yang terkait dalam tugas pr.

Entah dengan cara apa lagi biar orang-orang yang ngerjain pr di sekolah gak ada lagi, atau minimal berkurang. Atau mungkin mereka pengen sekolah mereka bangkrut karena harapan buruk yang selalu diucapkan saat panik belum mengerjakan pr. Lagi-lagi ini tentang masalah selera mengartikan.

Asik, ada pesan moralnya, gaaizzz. Semoga gak keblinger baca tulisan gue ini. Ayo kerjakan pr-mu!

01 April 2015

Cepet banget rasanya bulan Maret berlalu, gak terasa udah masuk bulan April, bulan dimana orang jail berkumpul buat merayakan April mop. Walau demikian, gue ngerasa bulan Maret kemarin terasa lebih lama dibanding menunggu ketidakpastiaan darinya. Lupakan.

Gue kaget setelah baru-baru ini mendengar pembicaraan orangtua gue di suatu malam. Ketika itu, mereka berdiskusi buat menikahkan gue dengan cewek di kampung sana. Gila men, GUE MAU DINIKAHIN! Gue masih mau ngerasain bangku sekolah, dan gue belum punya KTP. Dan satu lagi yang mengganjal dalam hati gue. Bahwa sebenernya..... APRIL MOP!. Yelah, serius amat bacanya :p

Bulan Maret kemarin adalah bulan yang rasanya campur aduk. Ini dipengaruhi oleh aktivitas keseharian gue sebagai pelajar.  Di minggu-minggu awal, gue banyak libur, pr jarang, ngeblog lancar. Di minggu-minggu akhir banyak bencana datang. Mulai dari pr yang melimpah, pengeluaran yang keluar begitu lancarnya, ngeblog jarang, dan diperparah oleh paket internet Smartfriend yang naik. Gak boleh menyebutkan merk.

Karena paket internet yang udah naik ini, mungkin di bulan April gue gak akan beli paket internet, dan itu berarti... gue jarang ngeblog. Oke, mungkin kalian gak peduli amat.



Oh iya, dari judulnya kalian mungkin masih bertanya-tanya, apa sih blogwalking itu? Apa sih kegunaannya? Apa bedanya Blogwalking sama Moonwalking? Oke, gue akan memberi sedikit penjelasan tentang apa itu blogwalking. Semoga gak sesat.

Blogwalking adalah suatu kegiatan berjalan-jalan ke blog orang lain dengan meninggalkan jejak berupa komentar, dengan mengharapkan feedback dari blogger yang blognya kita beri komentar. (bener gak tuh istilahnya?) Kayaknya sih gitu, kalau gak percaya bisa googling sendiri deh. Gak keberatan kan kalau buat googling sendiri? Atau keberatan juga karena paket internetnya naik?

Ya, gue akui kalau gue adalah orang yang jarang blogwalking. Padahal gue orang yang selalu seneng baca blog orang lain, apalagi kalau bisa ninggalin komentar. Gue jadi suka blogwalikng semenjak ada sebuah komunitas blogger yang terkenal karena blogwalkingnya yaaaang solid. Komunitas yang membuat pageviews gue jadi 100/hari. Komunitas yang orang-orangnya ramah dan asiik. Dan... thanks to Blogger Energy yang udah membuat gue jadi tau betapa pentingnya blogwalking. Dan maaf kalau gue jarang promo atau blogwalking yang gak ngenakin.

Sebenernya, ada beberapa hal yang membuat gue jarang blogwalking, kadang males juga sih. Hal yang membuat gue jarang blogwalking:

1. Koneksi Internet
Buat kalian yang diberkahi modem dengan kecepatan lancar, bersyukurlah. Karena kalian masih satu tingkat di atas gue dalam masalah koneksi internet. Gue gak punya modem, jadi kalau internetan di laptop gue cuma pake hotspot hape Smartfriend gue. Dan ternyata internetan pake hotspot hape itu rasanyaa.... NGGAK ENAK *ala iklan mie syedaap tempo dulu*
Yang gak enak pake hotspot di hape adalah kalau ada bbm masuk, pasti langsung lola. Sering banget kejadian begitu. Makanya, gue lagi usaha ngumpulin duit buat beli BOLOT!, itu tuh WiFi yang iklannya ada adegan adu kecepatan orang masak mie yang dikalahan dengan kecepatan download film. Pasti tau dong

2. Gak fokus
Maksud dari gak fokus adalah ketika gue udah nyampe di sebuah blog dan udah baca setengah, tiba-tiba gue malah pengen ngerjain pr. Ini jelas ngeganggu dalam kegiatan blogwalking gue. Pasti gue bakal komen yang gak jelas dan jatuhnya jadi curcol.

3. Gak ada waktu
Ini jelas banget rasanya saat pr menumpuk. Sebenernya ada aja sih kalau gue nita blogwalking jam 11 malem, tapi nantinya bakal balik lagi ke nomor 2. Udah keburu ngantuk dan udah males buka laptop.

4. Blogwalking di hape = Emosi
Sebenernya, gue lebih suka blogwalking di hape kalau dilihat dari sisi penggunaan alatnya (bingung membhasakannnya). Pokonya kalau blogwalking via handphone itu gak ribet dan gak harus nyalain laptop. Tapi, BW di hape sering banget bikin emosi, apalagi kalau ada bbm masuk. Bbm masuk sih fine aja, tapi loadingnya lama yang bikin emosi. Niat awal mau blogwalking malah jadi niat matahin hape. Pokoknya kalau udah emosi gini, balik lagi ke nomor 2.

Pokoknya gitu deh yang bikin gue jarang BW. Dari pengalaman sebelumnya, BW emang paling paten dalam memajukan blog. Gue rekomendasikan buat para blogger, khususnya personal blogger buat gabung ke komunitas Blogger Energy. Dijamin deh, blog kalian bakal maju dan makin banyak jaringan antara sesama personal blogger.

Sekian dan selamat bulan April. Semoga kita tidak terlalu percaya menghadapi April Mop dan tidak terlalu pusing dengan paketan Smartfriend yang naik.

*Gimana nih para Rangerz, gue udah cocok belum jadi marketer blogger energy? :D