Dilema Tengah Malam

Katanya, malam adalah waktu paling tepat untuk menikmati proses kreatif, misalnya menulis. Segala kebuntuan ide di siang hari, tuntas semua ketika malam hari. Sebanding dengan itu, kita tahu, kebanyakan deadline itu waktunya malam. Para deadliner sangat terbantu.
 
Satu hal yang sempat terpikirkan dalam benak saya: katanya malam cocok buat proses kreatif, tapi gimana kalau udah ngantuk?

Ada dua kejadian bagaimana waktu-waktu menjelang tidur jadi menyebalkan.

Pertama, di hari itu memang sudah dimulai proses kreatif.

Misal, saya melihat waktu sudah nggak baik untuk bergadang. Aktivitas menulis dihentikan karena tahu besok aktivitas padat dan nggak baik kalau menjalaninya dengan kekurangan tidur. Namun, ide di kepala meminta untuk segera dieksekusi. Terjadi dilema di sini. Kalau saya lanjut, saya besok ngantuk. Kalau saya cukupkan dan pergi tidur, kemungkinan ide-ide itu terus berteriak meminta dikeluarkan.

Demi kesehatan, saya pilih merebahkan diri di atas kasur.

Baru beberapa saat memejamkan mata, di kepala saya berbisik, "Abis paragraf ini bagusnya bahas apa ya di paragraf berikutnya?"

Nggak bisa tidur.


Dalam hati saya sudah menenangkan. "Tahan, tahan. Kamu butuh tidur, Robby. Mudah saja. Timbun dulu idemu, besok saat ada waktu menulis, tinggal kau keluarkan ide malam ini."

Bisikan selanjutnya datang. "Tadi ada yang kurang nggak ya dari tulisan saya?"

Akhirnya ngecek notes atau laptop (karena lagi sering pake notes buat nulis, saya buka notes di handphone). Yang awalnya buka notes, muncul bisikan lagi, "Coba buka browser. Cari referensi biar makin mantap tulisannya."

Oke, beralih ke Browser. Melihat tab terbuka ada 40-an, saya lihat-lihat semua. "Oh iya," kata saya dalam hati, "kemarin nemu artikel ilmiah bagus. Coba baca dulu ah."

(Catatan: artikel ilmiah bukan termasuk referensi yang dimaksud. Kalian tahu kan, tulisan saya jarang berbau hal-hal ilmiah)

Lima menit baca artikel, jari jemari teralihkan buka aplikasi lain. "Jam segini Tiktok ada video keren apa ya?" Scrolling, scrolling, scrolling. Tiba-tiba sudah 30 menit.

"Aduh, kok bablas. Mana masih seru lagi." Anggaplah saat itu jam menunujukkan pukul 1.22. "Genepin deh sampai 1.30. Abis itu tidur."

Sampai 1.30, masih seru juga. Ah, nyerah deh.

Akhirnya, pagi hari menyesal. Tidur cepat nggak dapat, eksekusi ide nggak selesai. Sambil mengingat-ingat semalam mau nulis apa, di kepala saya mengumpulkan poin-poin ide, lalu merangkainya menjadi runutan sebuah tulisan. Entah siang atau sorenya, saya mencoba mengingat lagi ide yang dirangkai tadi pagi, kemudian mengetiknya di notes. 

"Mulai dari mana ya?"
"Kayaknya semalem nggak begini deh."
Bingung, akhirnya scrolling tiktok lagi.

Kejadian kedua, kurang lebih sama. Bedanya, belum dimulai proses menulisnya. Misal, menjelang tidur terpikirkan mau menulis ini dan itu. Tapi rasa ingin tidur begitu kuat. Ketika merebahkan diri di atas kasur, rangkaian paragraf yang tersusun di kepala terus berteriak meminta ditulis.

Nggak bisa tidur.

Dalam hati saya sudah menenangkan. "Tahan, tahan. Kamu butuh tidur, Robby. Mudah saja. Timbun dulu idemu, besok saat ada waktu menulis, tinggal kau keluarkan ide malam ini."

Bisikan selanjutnya datang. "Tadi ada yang kurang nggak ya dari tulisan saya?"

Akhirnya ngecek notes atau laptop (karena lagi sering pake notes buat nulis, saya buka notes di handphone). Yang awalnya buka notes, muncul bisikan lagi, "Coba buka browser. Cari referensi biar makin mantap tulisannya."

Oke, saya ke Browser. Melihat tab terbuka ada 40-an, saya lihat-lihat semua. "Oh iya," kata saya dalam hati, "kemarin nemu artikel ilmiah bagus. Coba baca dulu ah."

(Catatan: artikel ilmiah bukan termasuk referensi yang dimaksud. Kalian tahu kan, tulisan saya jarang berbau hal-hal ilmiah)

Lima menit baca artikel, jari jemari teralihkan buka aplikasi lain. "Jam segini Tiktok ada video keren apa ya?" Scrolling, scrolling, scrolling. Tiba-tiba sudah 30 menit.

"Aduh, kok bablas. Mana masih seru lagi." Anggaplah saat itu jam menunujukkan pukul 1.22. "Genepin deh sampai 1.30. Abis itu tidur."

Sampai 1.30, masih seru juga. Ah, nyerah deh.

Akhirnya, pagi hari menyesal. Tidur cepat nggak dapat, eksekusi ide nggak selesai. Sambil mengingat-ingat semalam mau nulis apa, di kepala saya mengumpulkan poin-poin ide dan merangkainya di dalam kepala menjadi runutan sebuah tulisan. Entah siang atau sorenya, saya mencoba mengingat lagi ide yang dirangkai tadi pagi, mengetiknya di notes.

"Mulai dari mana ya?"
"Kayaknya semalem nggak begini deh."

Akhirnya scrolling tiktok lagi.

Sampai nggak sadar akhir kejadiannya memang sama keduanya. Sampai ditulisnya pun sama. 

---
Kalau anak YouTube bilang, "Mau ngumpulin orang-orang yang nggak bisa tidur karena kepikiran ide nulis"

Yuk cerita~

Post a Comment

4 Comments

  1. Mirip kejadian waktu lagi serunya nonton drakor vincenzo nih haha. Udah jam 12 malem tapi episodenya masih belum habis, nanggung lah untung aja filmnya dibatasi jam nya. Next episode dilanjut besok malam. Kalau soal film agak mendingan bisa di jeda supaya lanjut tidur. Tapi kalo udah soal ide di pikiran memang sulit ya...

    Sejauh ini aku belum pernah berusaha munculin ide disaat weekdays karena jam malam berpacu untuk istirahat supaya besoknya bisa kerja dengan efektif, badan enggak capek dan ngantuk. Ngantuk itu tantangan terbesar yang sulit ditolak soalnya mas robb :( hehe

    ReplyDelete
  2. Wait wait wait jadi ini emang beneran ada beberapa paragraf yang sama persis di tulisan ini? Bukan ketidaksengajaan kan? ✌

    Oyaa btw ini saya juga lagi menerapkan judul tulisan ini yakni "dilema tengah malam". Baru pulang dari rumah dosen (niatnya mau itikaf tapi nyonya besar a. k. a ibunda tertjintah ngga ngizinin ternyata gais). Walhasil minta tolong sama teman2 yg beneran jadi itikaf buat ngebangunin besok pagi, biar bisa vc an atau apa gitu pas tilawah jama'i. Realitanya, saya belum tidur juga jam segini. Malah asik scrolling blog, ngecek2in postingan lama, mampir ke blog orang, berwacana utk nonton anime barang 1-2 episode. Besok awto ribut ngantuk bau2nya nih. Dasar hooman...

    ReplyDelete
  3. Bahahaha.. relate banget 😂.
    Btw aku baca ini berasa deja Vu karena ternyata memang diketik sama ya 😅 aku smpe nggak nyadar..

    Setuju sih kalau malam itu waktu yg tepat untuk menikmati proses kreatif.. haha. Knapa ya?? Soalnya aku ya smpe skrang masih nemuin kesulitan untuk nahan diri biar pikiran nggak kemana2 alias fokus buat tidur. Tapi tetep aja. Wkwk 😂 susah..

    Malah pernah tuh tak batasin smpe jam 11 malam. Udah bela2in masang timer juga.. tapi tetep aja "kadung nanggung" jadi alasan utama. Akhirnya ya Bablas.. padahal besok dituntut bangun dan berangkat pagi 🤭.

    Akhirnya skrang lagi struggling buat ngebiasain proses kreatifnya dipindah ke pagi2 pas abis subuh... it works si!! Tapi masih saja.. kangen sama momen begadang di malam hari.. wk!

    ReplyDelete
  4. Haha sering kejadi yg begini, dan sedang terjadi. Lagi kepikiran terus soal Palestina, dan yg bikin saya marah adalah karena kita tahu konflik itu lagi terjadi tapi kita ga bisa ngapa-ngapain, dalam artian aksi langsung selain berdoa sama ngasih sumbangan dana.

    Pas scroll ketemu yg berargumen kalau untuk ngebantu mengamplifikasi isu ini bisa lewat menerjemahkan referensi, berita, video dari bahasa asing ke bahasa kita sendiri. Ya mungkin ini aksi minimal yg bisa saya lakukan. Maaf malah curcol, ini lagi proses nerjemahin artikel buat di blog, diselingi blogwalking buat hiburan sambil silaturahmi lebaran.

    Oh ya, selamat berlebaran ya. Taqabbalallahu minna wa minkum.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah membaca. Mari berbagi bersama di kolom komentar.
Untuk dapat info tulisan terbaru, yuk berlangganan dengan cara masukkan emailmu di kolom "Berlangganan Gratis".

Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)