Menata Diri Lewat Blog - JURNAL PEMBALIK
02 August 2018

Menata Diri Lewat Blog

Libur semester kadang membuat saya bingung. Terbiasa di kampus disibukkan dengan segudang aktivitas, sesampainya pada liburan malah kebingungan. True story, pada liburan semester sebelumnya saya sempat sakit karena ... liburan. Tekanan yang sudah terbiasa diterima di kampus menghilang ketika liburan. 

Untuk mengisi liburan, saya ikut beberapa kepanitiaan di kampus. Hal ini cukup membuat saya beberapa kali ke kampus. Saya nggak peduli ada teman saya yang bilang, "Ngapain sih, udah liburan masih aja ke kampus?" Ya, kalau boleh saya jawab, saya belajar dari pengalaman. Hitung-hitung mencegah sakit dan tetap membuat tubuh selalu fit. Halah.

Kebetulan saya hari ini tidak ke kampus. Saya berpikir untuk mencari kesibukan lain. Di rumah, saya bisa bantu-bantu orang tua dan main bareng keponakan yang sekarang berumur 2 tahun. Namun, kangen juga rasanya liburan begini untuk ngeblog. Saya pergi ke warnet dan kembali menulis. Maklum, laptop saya sudah pensiun alias rusak.

Mungkin, hal ini penting saya tulis. 

Ada banyak hal yang mulai saya sadari, yang bagi saya selama ini baik, ternyata tidak.

Pertama, saya mulai menyadari bahwa penting untuk memberikan jamuan terbaik kepada tamu. Saya sudah lama menganggap blog ini sebagai rumah dan pembaca saya adalah teman yang sedang bertamu. Saya mulai berpikir, apakah selama ini jamuan saya sudah baik? Saya nggak tahu jawaban pastinya. Namun, sebuah nasihat pernah saya dapat, yaitu kamu tidak pernah bisa membuat semua orang puas atas apa yang kamu kerjakan. Hal itu yang membuat saya cukup tenang sebenarnya. Suka atau tidak suka, saya tetap akan mengerjakan apa yang saya suka. Bedanya, ke depannya saya akan membuat sedikit, atau bisa dibilang perubahan besar, mengenai konten yang akan saya tulis.

Satu hal yang membuat saya ingin mengubah konten adalah karena saya merasa tiga tahun slengean banget dalam menulis. Pada suatu malam, saya baca ulang tulisan saya periode 2014 sampai 2017 awal. Rasanya ... kok serem banget ya? Serem maksud saya adalah bagaimana ketika tulisan ini dibaca siswa saya kelak. Saya dengan pede bilang 'siswa' karena minimal saya akan mengikuti Praktik Keterampilan Mengajar (PKM) ke sekolah. Sekalipun saya nggak jadi seorang guru, saya akan ketemu siswa kelak.
Kedua, berkaitan dengan poin pertama, saya akan menghapus atau mengedit beberapa tulisan lama. Entah dihapus atau dijadikan kembali ke draf, intinya ada beberapa tulisan yang akan menghilang. Saya mohon maaf bila di dalam tulisan tersebut ternyata banyak menyakiti hati kalian. Karena dengan cara ini, saya berikhtiar untuk menata diri lewat blog.

Ketiga, saya mohon doa dari teman-teman untuk ikhtiar saya ini. Agar nantinya tulisan yang saya buat di blog ini dapat membawa manfaat. 

Terima kasih, teman-teman. Semoga kita selalu menjadi orang yang berkesempatan untuk membenahi diri.

5 comments:

  1. Ahhh begitu ya, padahal slengean uda jadi ciri khas blog ini , dulu,

    Slengeannya jg kebilang lucu...

    Tp emang si makin tambah umur, makin ngebenahin model pnulisan, soalnya ntar klo uda jd orang, kali aada yg stalkingin tulisan lama hahaha

    Smangat kmbali menata konten

    ReplyDelete
  2. Pantesan kok ada manis-manisnya gitu. Eh, beda-bedanya, gitu. Gue-nya udah ganti jadi Saya. Berasa aneh karena pas awal-awal baca blog ini pakainya 'Loe Gue Loe Gue', Rob.

    Tapi nggakpapa, ding. Blog kamu ini. Hehehe...

    ReplyDelete
  3. Keputusan itu ya tergantung kamunya juga sih, Rob, karena kamu yang lebih tau apa yg akan kamu hadapi nanti. Kalo dari sudut pembaca kayak saya mah nggak perlu dihapus. Toh nggak ada yang menyinggung merugikan pihak lain juga di tulisan yg pernah saya baca di sini. Ya, naik tingkat menjadi pengajar, nggak harus membuang kenangan saat masih menerima ajaran kan...

    ReplyDelete
  4. Gimana tulisan saya yang pernah kacaunya kelewat batas, ya? Wqwqwq. Perlu merenung lama mengenai hal itu. Beberapa sempet saya kembalikan ke draf, hapus, ada juga yang saya biarkan. Tapi karena terlalu banyak, akhirnya saya cuek. Toh lama-lama ada yang berubah dari tulisan saya. Penilaian buruk dan cap mesum dari pembaca juga perlahan hilang. Hal itu saya anggap bukti, bahwa setiap manusia pola pikirnya bisa bergeser.

    Apa pun keputusanmu, semoga itu yang terbaik dan bisa menulis dengan nyaman~

    ReplyDelete
  5. Konsistensi memang perlu, tapi rebranding sangat perlu jika dirasa perlu. Semangat Rob, calon bapak guru usia muda.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.