14 November 2017

Namanya Juga Belajar

Halo, apa kabar?

Gue kangen membuka postingan seperti itu. Hal yang sama sebelumnya dikatakan Yoga Akbar di grup WhatsApp WIRDY. Setelah gue sadari, apakah perubahan ini menuju ke arah bagus atau jelek? Nggak tau deh.

Gue juga kangen membuka postingan dengan bilang, "aduh mau cerita banyak nih. Kalau kalian nggak mau baca lama-lama mending close tab aja". Makin ke sini gue nggak pernah bilang-bilang dulu kalau mau cerita panjang.

Gue juga kangen, memulai cerita dengan paragraf yang gak penting dulu. Nah, sekarang gue mulai cerita. Tapi mulai dari mana? Oh iya, bagian "bingung mau mulai dari mana" termasuk hal yang gue kangenin.

Begini...

Gue nggak pernah ikut OSIS. Namun, gue pernah ikut LDKS--yang biasanya jadi syarat masuk OSIS. Kelanjutannya gimana? Ya, tentu gue nggak lolos seleksi OSIS setelah LDKS.

Waktu itu, kelas 7, gue cuma nulis nama dan ekskul yang gue ikuti. Semua orang di kelas pun melakukan hal yang sama. Beberapa hari kemudian, secara acak, gue masuk dalam daftar orang yang ikut LDKS. Entah apa pertimbangannya, gue tiba-tiba ikutan LDKS. Yang makin bikin gue bingung waktu itu, GUE NGGAK TAU LDKS ITU APAAN.

Saat LDKS, lebih tepatnya LDKS jilid I karena ada jilid selanjutnya, gue ngelakuin apa aja yang dibilang senior. Disuruh jalan jongkok, hayuk. Makan permen dicelup garem, hayuk. Abis itu permennya digilir dari mulut ke mulut, hayuk! Saking polos dan nurutnya, gue dulu nggak ngerti jijik. 

Seiring dengan perkembangan otak, gue mengingat lagi kegiatan itu dan gue mikir, itu adalah acara aneh yang pernah ada. Nggak jelas dan kejam. Ada satu momen yang rasanya nggak akan pernah gue lupakan. Ketika itu, kelompok gue habis lari. Di ujung gang sudah ada kakak kelas lelaki berbaju batik sekolah. Dia nawarin sebotol air dalam botol 1,5 liter. “Kalian haus?”

“Iya, Kak.”

“Nih.” Dia nyodorin ke gue sambil senyum-senyum. Rasa haus telah menguasai diri, gue tenggak banyak sekali air itu, yang ternyata AIR GARAM! Ini percobaan pembunuhan gue rasa. Tenggorokan gue kena radang seminggu. 

Hah, terkutuk!

Astagfirullah.

Dan LDKS, bagi gue, selalu bikin orang nangis. Hal itu gue simpulkan setelah kakak-kakak OSIS (pura-pura) berantem. Gue hanyut dalam drama mereka. Ikutan nangis deh. Cengeng memang.

Masuk ke SMA, gue pelan-pelan ngerti maksud dan tujuan LDKS. Sesuai dengan namanya, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa, LDKS bertujuan untuk pelatihan kepemimpinan. Namun, di SMA pun gue nggak ikutan karena ... kegiatan tidur di kelas lebih enak.

Di dunia perkuliahan barulah gue merasa selama SMA kegiatan gue kosong. Nggak banyak modal kehidupan yang gue punya. Gue merasa sekolah begitu-begitu aja: datang, ngobrol, dengerin guru, tidur, pulang. Beda banget sama teman gue yang OSIS, misalnya Diki. Dia adalah ketua OSIS pada masanya. Pulangnya selalu Magrib. Hidupnya di sekolah nggak ngebosenin. Keren aja ngelihat dia.

Beberapa hari lalu gue ikut pelatihan kepemimpinan dari prodi di kampus. Salah satu alasan gue untuk ikut adalah banyak temen gue yang ikut. Hahaha. 

Foto-foto seperti ini harus nyelip di blog pribadi

Wajar, tahap-tahap maba masih harus bareng temen dulu.

Bukan hanya itu. Alasan paling mendasar adalah buat lebih tahu gimana caranya menata diri. Gue merasa, setiap kali ada banyak tekanan, gue nggak bisa nyelesain dengan baik. Akhirnya, gue malah kabur dari masalah itu lalu makin kepikiran terus. 

Lokasi acaranya ada di daerah Puncak. Jujur saja, ini baru pengalaman pertama gue ke Puncak. Selama ini, seperti yang gue tahu dari berita, gue taunya Puncak cuma daerah yang sering macet. Sekarang, lebih dari itu. Gue tau Puncak itu ... dingin! Keren juga lagi. Di balik kaca jendela bus, gue terkagum-kagum melihat pemandangan di luar yang isinya vila, pohon, dan kaleng kaca berisi asinan. “Wah, gila. Kenapa gue baru tahu sekarang, ya, kerennya Puncak?” batin gue. Sekaligus sebagai pengakuan kalau gue gagal jadi anak ibukota yang terkenal sering bikin macet Puncak.

Acaranya sendiri padet banget. Bangun sekitar pukul 2.30 pagi untuk salat Tahajud. Karena berada di daerah yang dingin, pertama kali berwudu badan gue langsung gemeteran. Udara dingin bikin gue pengin meluk magic com. Semua dilakukan sambil nahan-nahan ngantuk.

Pelatihan kepemimpinan mahasiswa (PKM), seperti namanya, isinya nggak jauh-jauh dari kepemimpinan, manajemen diri, dan organisasi. Buat gue, hal ini bisa jadi modal buat menghadapi dunia perkuliahan yang ada aja rintangannya. Pelatihan ini adalah ilmu yang aplikatif buat kehidupan sehari-hari. Beda dengan LDKS yang gue ikuti waktu SMP, saat ini gue lebih siap dan lebih ngerti apa makna yang didapat. Nggak sekadar asal dipilih dan ikutan.

---

Hari itu hari Minggu. Pulang dari PKM, di bus, gue mendapat satu pesan dari kakak gue. 

“Ke Puncak ada acara apa, Bi?”

“Pelatihan kepemimpinan, Mas,” jawab gue. 

“Ada tugas nggak buat Senin?”

DUAAARRR!

Sebenarnya gue sudah nyelesain tugas untuk hari Senin. Hanya ada beberapa laporan praktikum saja yang belum di-print. Gue berniat ngeprint di kampus. Denger-denger dari teman, di sana ada tempat ngeprint yang murah. Tapi entahlah. Gue malah ragu buat bisa ngeprint di kampus. Jadwal kuliah mulai dari pukul 7 sampai 9.40, lalu tugas laporan Fisika dikumpul pukul 10. Sepertinya nggak akan keburu ngeprint.

“Ada. Udah selesai, kok.”

Sampai di rumah, gue langsung mindahin file ke flashdisk kemudian pergi ngeprint ke warnet pukul 22.30. Jam-jam segini adalah hal biasa bagi gue untuk ngeprint. Bagusnya, di sana masih buka. Satu laporan telah tuntas. Masih ada satu laporan lagi yang belum dirapiin dan di-print. Nggak apa, kalau besok harus telat, maka telatlah.

Tugas laporan gue belum berhenti sampai di situ. Besok dua laporan praktikum Kimia harus dikumpul. Masih ada sedikit lagi bagian yang belum selesai. Gue membuat rencana bakal bangun tengah malam, sekitar pukul 2, seperti yang biasa dilakukan saat PKM, buat ngerjain laporan. Alarm sudah disetel. Nggak cuma satu, tapi ada tiga alarm dengan jeda masing-masing 15 menit. Gue tidur dengan nyenyak.

... sampai pukul 4.30. 

TUGAS GUE GIMANA DONG?! 

Mau nggak mau gue harus ngerjain di kampus atau di bus. Pukul segitu gue harus siap-siap berangkat. 

Gue mencoba berpikir tenang. Di kelas, gue nggak mau dosen lagi ngejelasin tapi gue malah asyik nulis laporan. Kalau kata pembicara sewaktu Kuliah Umum beberapa waktu lalu, itu namanya nggak here and now. Atau, kata guru Bahasa Inggris di SMP nyebutnya “lagi selingkuh”. Biar nanti aja ngebut ngerjain setelah praktik Fisika sebelum praktik Kimia lalu dikumpulkan.

Rencana gue gagal karena selesai praktikum pukul 12 lewat karena suatu hal (oh tentu, ini adalah bagian yang sensitif buat ditulis di blog muahaha). Praktikum selanjutnya, praktik Kimia, kelas gue harus pindah ke kampus B yang jaraknya sekitar 1,5 km. Butuh waktu paling cepat 15 menit kalau jalan kaki. Keluar dari lab gue berlari di pinggir jalan Rawamangun di antara teriknya panas matahari. Teman gue, Septi, memanggil dari jauh, “Sini bareng aja (sekelas) naik (angkutan). Pakai uang kas.” Gue hanya menggeleng dan terus berlari.

Di kampus B, gue datang lebih dulu daripada teman-teman yang naik Transjakarta atau angkutan lainnya. Dilanjutkan dengan salat Zuhur, kemudian gue ambil kertas laporan yang sudah gue cicil beberapa hari yang lalu. Plastik fotokopian di tas gue keluarkan untuk mengambil laporan dan melanjutkannya. Lembaran-lembaran kertas gue buka satu per satu, ternyata nggak gue bawa.

AAAARRRGH!

Akhirnya gue ngerjain laporan sejadi-jadinya. Nggak tanggung-tanggung, dua laporan gue kerjain dengan ngasal. Analisis dari laporan akhir gue tulis sedikit aja. Kesimpulan dari praktikum minggu kemarin gue tulis cuma tiga poin. Untuk hal paling gampang, yaitu cara kerja, gue lupa menulisnya. Ngaco banget pokoknya.

Namun, pada akhirnya, gue malah mendapat pelajaran paling penting dari PKM kemarin. Bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa memimpin dirinya sendiri terlebih dahulu, barulah bisa memimpin orang lain dan memengaruhinya. Dalam kasus gue, untuk memimpin diri sendiri aja gue masih belum maksimal. Laporan nggak selesai, kelabakan nggak jelas, dan tentunya manajemen waktu yang payah, mengingat beberapa hari yang lalu gue lebih milih main game daripada nulis laporan. Dodol emang.

Harapan gue setelah PKM adalah salah satunya biar bisa ngatur diri lebih baik lagi.  Yah, namanya juga belajar. Kayaknya, Nelson Mandela, pemimpin pergerakan Afrika Selatan, bakal bilang begitu kalau denger cerita gue.  

12 comments:

  1. Seharusnya perubahan seperti itu ke arah yang lebih baik, sih. Kalau kata temen saya, basa-basi menyapa pembaca udah kayak yang baca satu kelurahan aja. Alias jangan sok asyik. Wqwq. :))

    Mantan mahasiswa Jurusan Manajemen kayak saya pun masih merasa kalau manajemen waktunya payah. Leyeh-leyeh emang lebih nikmat daripada mengerjakan tugas atau sesuatu~
    Tapi udahannya nyesel. :( Yah, namanya juga proses. Kalau nggak bikin salah kayak gitu, ya nggak belajar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahaha, itu buat impersonate masa lalu aja. :D

      Kadang belajarnya malah kelamaan, sampai nyadar diri ini nggak berubah-ubah. :(

      Delete
  2. Berkat tulisan ini, semua dosa-dosa atas kesalahan masa lalu saya tak begitu membebani sekarang. Ya, namanya juga belajar. Iya kan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, bener. Kalau kata sesesorang, "Terus belajar."

      Delete
  3. Jadi ingat, duly ikut LDKS cuma untuk ngerasain kemah. Jadi osis? Yah, gue orangnya bodo amat. Bisa pulang cepat aja itu anugrah banget­čśé

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau gue, kemah-kemahan gitu ngerasainnya di pramuka. :))

      Delete
  4. Eh template baru ya? Agak kurang nih fontnya rob kalo baca di hp. ._.

    Entah kenapa LDKS selalu di akhiri berantem antar senior lalu nangis nangisan. Dulu gue juga gitu. Pas junior ada yang nangis, eh gak berenti berenti. Terus dia ketawa ketawa sendiri. Ternyata dia kesurupan. Gantian kami para senior yang bingung. XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah iyakah? Nanti coba diutak-atik lagi deh.

      Anjer. Itu malah horor akhirnya. :D

      Delete
  5. Dulu pernah LDKS Pramuka waktu SMA dan kesan pesannya sungguh huwow dan ehehe sekali, Rob.

    1. Di dalam aula besar, lampu dimatikan. Kami disuruh makan nasi, lauk oseng buncis, tempe, dan kecap. Gelap begitu mana tau kecap yang mana, tempe yang mana. Alhasil kami meraba-raba, asal ambil, asal sendok, asal nuang. Dan apesnya, nasi saya banyak banget kecapnya. Waktu makan berasa kayak makan nasi kuah kecap. Manis-manis eneg kayak muka oppa Korea gitu lah. Mau muntah tapi nggak dibolehin.

    2. Waktu outdoor, disuruh bawa dua botol aqua 1,5 liter dikalungin sambil jalan jongkok. Sialan. Sampai rumah, leher saya tegang semua sampai biru-biru. Tapi ternyata justru bisa diceritakan seperti ini ya :')

    Anw, semoga ke depannya Robby bisa lebih mantap dalam mengatur waktu ya. SEMANGAT!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa rasanya makan nasi kebanyakan kecap? Wahaha. Gurih-gurih manis kali ya.

      Mantap! Makasih, Mbak Mayang!

      Delete
  6. Gue udah baca tulisan ini even from the 15 minutes after published. Tapi gue takut komen xD gue rasa, ah.....lu tambah dewasa Rob, segan gue.

    Halah.

    Btw, di foto otu lu di tengah.....kalo di boyband Korea, tandanya lu visual. Uhuy.

    Gue jadi ingat, pernah baca begini,
    ada adek kelas nanya ke kakak kelasnya yg udah kuliah (si adek masih SMA kls 3).

    Adek, 'kak, apa yang paling susah waktu kuliah?'
    Kakak, 'mempertahankan motivasi untuk terus mengembangkan diri'.

    Gue harap segaala hustle bustle lu bakal lu hadapi dg seperti itu. Gak nyerah, lakuin apapun deh asal kelar dan maksimal. Yuhu. Semangat dek!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu karena pengin jadi sentral ceritanya. Bosen dari dulu tiap foto di pinggiran mulu. xD

      Aamiin. Thank you, Mbak Zahrah!

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.